• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB II LANDASAN TEORI"

Copied!
19
0
0

Teks penuh

(1)

5 BAB II

LANDASAN TEORI

2.1 Kajian Terdahulu

(Asmaroni & Fendi, 2020) melakukan penelitian dengan judul “Analisis Percepatan Durasi Terhadap Pekerjaan Proyek Konstruksi Time Cost Trade Off Methode (Studi Kasus Pembangunan Gedung Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kab. Sampang). Dalam penelitiannya (Asmaroni & Fendi, 2020) melakukan analisa penjadwalan ulang dengan metode time cost trade off untuk melakukan percepatan durasi pekerjaan. Dari analisa tersebut didapat hasil durasi akibat percepatan adalah 113 hari, lebih cepat 17 hari dari durasi normal yaitu 150 hari. Sedangkan akibat percepatan durasi, terjadi kenaikan dari biaya normal sebesar Rp. 1.227.823.795 menjadi Rp. 1.256.929.349.

Pada penelitian yang berjudul “Analisis Percepatan Proyek Menggunakan Metode Time Cost Trade Off dengan Penambahan Jam Kerja Lembur dan Jumlah Alat”, (Kisworo et al., 2017) melakukan studi pada proyek Tol Semarang-Solo Ruas Bawean-Solo Seksi II dengan panjang 1,3 km. Pada penelitian tersebut dilakukan percepatan dengan metode time cost trade off, alternatif yang digunakan adalah penambahan jam kerja lembur (alternatif satu) dan kapasitas alat optimum (alternatif dua). Dari kedua alternatif tersebut akan dibandingkan untuk mencari alternatif yang lebih efisien dilaksanakan. Pada kondisi normal dibutuhkan waktu 245 hari dengan biaya sebesar Rp. 39.349.097.164,38, setelah dilakukan analisa percepatan dengan alternatif penambahan jam kerja lembur menghasilkan durasi crashing 191 hari dan biaya yang dibutuhkan sebesar Rp. 39.236.409.113,12.

Sedangkan dengan alternatif penambahan kapasitas alat menghasilkan waktu optimal 212 hari dan biaya akibat percepatan sebesar Rp. 39.342.963710,11. Dari hasil tersebut maka alternatif penambahan jam kerja lembur dianggap lebih efektif karena mampu menghemat waktu selama 54 hari dengan selisih biaya sebesar Rp.

112.688.051,04 dibandingkan dengan penambahan jumlah alat yang hanya menghemat waktu 33 hari dengan selisih biaya sebesar Rp. 6.133.454.27.

(2)

(Patrisius et al., 2018) dalam penelitiannya yang berjudul “Analisa Dampak Optimalisasi Waktu Terhadap Biaya Pekerjaan Struktur Pembangunan Hotel Amaris-Taman Apsari Surabaya” menggunakan metode time cost trade off untuk melakukan analisa percepatan durasi pekerjaan proyek. Pada penelitian tersebut percepatan durasi dilakukan dengan menambahkan jam kerja (lembur) selama 3 jam dan 5 jam. Pada kondisi normal waktu yang dibutuhkan sebesar 117 hari dengan biaya sebesar Rp. 8.000.080.361,56. Setelah dilakukan analisa percepatan dengan penambahan jam kerja (lembur) 3 jam didapatkan durasi crashing 98 hari dengan biaya sebesar Rp. 8.147.282.633,64. Sedangkan pada penambahan jam kerja (lembur) 5 jam didapat durasi crashing 95 hari dengan biaya sebesar Rp.

8.157.344.186,22.

Dalam penelitian (Setiawan & Tamtana, 2020) yang berjudul “Analisis Percepatan Durasi Pekerjaan Basement Semi Top Down Dengan Metode Time Cost Trade Off ”. Alternatif yang digunakan untuk mempercepat durasi adalah dengan menambah jumlah pekerja sebagai (alternatif satu) dan menambah jam kerja (lembur) sebagai (alternatif dua). Dari kedua alternatif tersebut akan dibandingkan mana yang lebih murah, dengan waktu percepatan yang sama yaitu pada pekerjaan galian zona C dapat dipercepat sebanyak tujuh hari dan pada pekerjaan penulangan kolom zona C dapat dipercepat dari durasi normal 54 hari menjadi 47 hari. Pada pekerjaan galian zona C, dengan alternatif satu menghasilkan biaya percepatan sebesar Rp. 11.927.090, dan dengan alternatif dua menghasilkan biaya percepatan sebesar Rp. 45.796.186. selanjutnya pada pekerjaan penulangan kolom zona C, dengan alternatif satu menghasilkan biaya percepatan sebesar Rp. 15.271.375 dan dengan alternatif dua menghasilkan biaya percepatan sebesar Rp. 65.019.330. pada penelitian tersebut dipilih alternatif satu dikarenakan berdasarkan hasil analisa didapat alternatif satu biaya percepatan yang dibutuhkan lebih murah.

Dari kajian beberapa jurnal di atas dapat diketahui bahwa penggunaan metode time cost trade off cukup banyak digunakan dalam analisa percepatan durasi pekerjaan proyek konstruksi. Menurut penulis metode time cost trade off sangat efektif digunakan dalam analisa percepatan durasi proyek. Karena dari beberapa

(3)

jurnal diatas durasi yang dihasilkan akibat percepatan menjadi lebih cepat sehingga proyek dapat diselesaikan tidak melebihi target waktu yang telah ditetapkan saat perencanaan, walaupun akan ada tambahan biaya akibat dari percepatan tersebut.

Namun dalam kondisi tertentu seperti proyek yang harus diselesaikan tepat waktu atau akan dikenakan denda apabila proyek terlambat. Oleh karena itu perlu diperhatikan dalam menentukan alternatif percepatan saat menganalisa agar didapat durasi yang sesuai dan kenaikan biaya seminimal mungkin.

2.2 Pengertian Optimasi

Optimasi adalah proses untuk menemukan satu atau lebih solusi terkait dengan nilai fungsi objektif untuk mendapatkan nilai optimal dalam suatu permasalahan yang terjadi. Optimasi juga dapat diartikan sebagai upaya pencarian nilai terbaik (maksimum atau minimum) tergantung tujuan atau objek yang ingin dicapai. Jika persoalan yang ingin dicapai adalah mencari nilai maksimumnya, maka tujuan dalam model matematikanya berupa maksimmasi. Begitu juga sebaliknya jika tujuan optimasi adalah untuk mencari nilai minimum, maka model matematikanya berupa minimasi (Sari, 2015).

Dalam penelitian ini pengertian optimasi yang digunakan adalah proses analisa percepatan durasi proyek untuk menentukan percepatan durasi yang paling baik (optimum) dari beberapa alternatif ditinjau dari segi biaya. Sehingga diharapkan dapat menemukan alternatif dengan percepatan durasi yang maksimum dan dengan penambahan biaya akibat percepatan seminimum mungkin. Maka optimasi disini dapat diartikan mencari nilai maksimum dari segi waktu percepatan dan mencari nilai minimum dari segi biaya.

2.3 Proyek dan Manajemen Proyek

Karena proyek adalah kegiatan sementara yang telah ditetapkan sesuai dengan rencana kerja awal dan waktu penyelesaiannya, jadi dapat dikatakan bahwa suatu proyek memiliki batasan waktu pengerjaan dan alokasi sumber daya tertentu.

(Nurhayati, 2010) mengatakan bahwa proyek adalah usaha/kegiatan yang kompleks, serta dibatasi oleh waktu, anggaran, sumber daya, dan spesifikasi kinerja yang dirancang untuk memenuhi kebutuhan konsumen.

(4)

Dalam aktivitas-aktivitas proyek untuk memenuhi persyaratan, maka diperlukan manajemen proyek yaitu penerapan pengetahuan (knowledges), keterampilan (skills), alat (tools) dan teknik (techniques). Tahapan dalam proses manajemen proyek yaitu memulai, merencanakan, melaksanakan, mengawasi, dan mengendalikan serta mengakhiri keseluruhan kegiatan proyek tersebut. Dalam pelaksanaannya, setiap proyek dibatasi oleh kendala-kendala yang sifatnya saling mempengaruhi dan biasa disebut segitiga project constraint yaitu biaya, waktu, dan mutu. Dimana kualitas suatu proyek ditentukan oleh keseimbangan ketiga konstrain tersebut. Karena jika terjadi perubahan pada salah satu faktor atau lebih faktor akan mepengaruhi setidaknya satu faktor lainya. Oleh karena itu perlu dilakukan suatu pengaturan yang baik agar ketiga faktor tersebut dapat berjalan sesuai yang diinginkan. (Santoso, 2013)

Manajemen proyek dapat dianggap sukses jika dapat mencapai tujuan yang diinginkan dengan memenuhi syarat sebagai berikut:

a. Dalam waktu yang dialokasikan b. Dalam biaya yang dianggarkan

c. Pada performansi atau spesifikasi yang ditentukan d. Diterima customer

e. Dengan perubahan lingkup pekerjaan yang di setujui f. Tanpa menggangu pekerjaan utama organisasi g. Tanpa mengubah budaya (positif) perusahaan 2.4 Pengendalian Proyek

Pengendalian proyek merupakan salah satu elemen manajemen proyek yang harus dilakukan dalam suatu proyek konstruksi. Tujuan pengendalian proyek adalah mengontrol suatu proyek selama masa pelaksanaannya agar setiap elemen pekerjaan proyek dikerjakan sesuai dengan spesifikasi dan dapat mencapai terget yang telah ditetapkan, tanpa banyak penyimpangan yang mungkin akan mengakibatkan terganggunya pelaksanaan proyek konstruksi.

Usaha pengendalian proyek perlu dilakukan untuk menentukan standar yang sesuai dengan spesifikasi perencanaan, menciptakan sistem informasi

(5)

perkembangan proyek, dan untuk membandingkan pelaksanaan di lapangan dengan standar perencanaan proyek. Sehingga apabila selama pelaksanaan proyek terjadi penyimpangan maka dapat segera dilakukukan tindakan pembenahan agar tidak mengganggu pekerjaan lainnya dan sumber daya dapat digunakan seefektif dan seefisien mungkin agar tercapai tujuan yang telah ditentukan, yaitu lingkup biaya, jadwal, dan mutu (Soeharto, 1999).

2.5 Biaya Proyek

Dalam sebuah proyek konstruksi pastinya akan memerlukan berbagai jenis sumber daya selama masa konstruksi. Sumber daya tersebut biasanya dikenal dengan (4M) meliputi tenaga kerja (man), bahan baku (materials), metode (methods) dan peralatan (machines). Pada suatu proyek aspek keuangan meliputi pembiayaan proyek dan juga pendapatan sangat dipengaruhi oleh sumber daya yang dibutuhkan. Pada pembiayaan proyek terdapat biaya langsung dan biaya tidak langsung. Dari penjumlahan keduanya akan didapat biaya total proyek.

2.5.1 Biaya Langsung (Direct Cost)

Biaya langsung adalah biaya yang berkaitan erat dengan kegiatan proyek yang sedang berlangsung dan dikeluarkan secara langsung. Besarnya biaya langsung tergantung dari metode dan waktu pelaksanaan proyek. Biaya langsung akan berpotensi lebih besar ketika dilakukan pengurangan durasi dibandingkan biaya untuk durasi waktu normal. Total waktu dari semua aspek kegiatan dalam proyek menunjukkan total biaya langsung untuk keseluruhan proyek (Santoso, 2013). Biaya langsung terdiri dari:

a. Biaya Bahan dan Material

Biaya yang digunakan untuk keperluan membeli bahan dan material yang akan digunakan dalam proyek. Harga bahan dan material kemungkinan terjadi perbedaan di setiap daerah. Hal ini dipengaruhi oleh biaya pengiriman, ketersediaan bahan dan material, serta kondisi georafis di tiap daerah.

(6)

b. Biaya Upah Tenaga Kerja

Biaya yang digunakan untuk membayar upah tenaga kerja. Besarnya dapat berbeda-beda, hal ini dipengaruhi berdasarkan skill dan juga standar upah yang berada pada masing-masing daerah. Karena setiap daerah memiliki kebijakan terkait upah minimum yang berbeda. Di dalam upah pekerja juga termasuk asuransi kesehatan dan asuransi kecelakaan kerja.

c. Biaya Alat

Biaya yang dikeluarkan untuk penyewaan atau pembelian alat dalam proyek konstruksi memerlukan pertimbangan terlebih dahulu. Karena dengan pertimbangan dan analisa yang tepat dapat menekan biaya peralatan.

d. Biaya Sub-Kontraktor

Biaya yang dikeluarkan apabila dalam suatu proyek terdapat kerja sama dengan sub-kontraktor untuk menyelesaikan suatu bagian pekerjaan tertentu dalam proyek tersebut. Sub-kontraktor dipekerjakan oleh kontraktor utama sehingga bertanggung jawab dan dibayar oleh kontraktor utama.

2.5.2 Biaya Tidak Langsung (Indirect Cost)

Biaya tidak langsung adalah biaya yang diperlukan untuk setiap kegiatan proyek konstruksi yang dihitung dari awal sampai akhir proyek konstruksi, tetapi tidak berkaitan langsung dengan kegiatan proyek. Biaya tidak langsung akan menjadi lebih besar atau membengkak dari perencanaan awal apabila waktu penyelesaian akhir proyek mundur atau mengalami keterlambatan dari waktu yang sudah direncanakan. Sehingga itu akan mengurangi keuntungan bagi kontraktor atau bahkan mengalami kerugian dalam kondisi tertentu (Yoni et al., 2013). Biaya tidak langsung terdiri sebagai berikut:

a. Biaya Overhead

Biaya overhead adalah biaya tambahan yang tidak berkaitan langsung dengan proses berjalannya proyek. Atau juga dapat diartikan sebagai biaya operasional penunjang pelaksanaan pekerjaan selama proyek berlangsung serta dibebankan pada proyek tetapi diluar biaya material, upah kerja, atau peralatan. Biaya ini biasa dikeluarkan untuk fasilitas sementara, perizinan

(7)

bangunan, biaya operasional personil, biaya untuk K3 (Kesehatan dan Keselamatan Kerja) (Nurdiana, 2015).

b. Biaya Tak Terduga (Contigencies)

Biaya tak terduga adalah biaya tambahan yang dikeluarkan untuk kegiatan atau kejadian tidak terduga yang mungkin akan terjadi selama kegiatan proyek berlangsung.

c. Keuntungan (Profit)

Keuntungan adalah biaya yang didapat kontraktor sebagai keuntungan selama mengerjakan suatu proyek konstruksi. Keuntungan yang didapat biasanya ditetapkan dan ditulis dalam kontrak kerja sesuai kesepakatan.

Besarnya keuntungan yang direkomendasikan pada kontak kerja adalah sebesar 10%. Bagi seorang kontraktor besarnya keuntungan sangat dipengaruhi seberapa efektif dan efisiensi yang dapat dilakukan kontraktor tersebut tetapi tidak mengurangi kualitas, spesifikasi dan waktu pelaksanaan proyek.

2.6 Penjadwalan Proyek

Penjadwalan proyek adalah elemen hasil perencanaan yang di dalamnya terdapat informasi perihal progress proyek yang terdiri dari biaya, tenaga kerja, peralatan, material dan waktu serta jadwal rencana dari awal sampai akhir proyek.

Penjadwalan atau schedulling adalah pembagian ketersediaan waktu yang ada untuk menyelesaikan setiap pekerjaan hingga tercapainya hasil yang optimal pada akhir masa konstruksi dengan adanya keterbatasan-keterbatasan pada proyek (Husen, 2011).

Untuk membantu memudahkan pelaksanaan evaluasi proyek maka penyusunan kegiatan dan keterkaitan antar pekerjaan di dalam penjadwalan dibuat lebih lengkap dan sangat detail. Kerugian seperti keterlambatan waktu pekerjaan dan, pembengkakan biaya dapat dihindarkan dengan perencanaan sistem penjadwalan proyek yang tepat (Norman, 2018).

(8)

2.6.1 Manfaat Penjadwalan Proyek

Menurut (Husen, 2011) penjadwalan proyek memiliki manfaat sebagai berikut:

1. Menjadi pedoman bagi unit pekerjaan/kegiatan untuk mengetahui batasan pada setiap kegiatan sehingga tahu kapan harus memulai atau mengakhiri setiap pekerjaan proyek.

2. Memudahkan manajemen untuk melakukan koordinasi secara sistematis dan realistis dalam pemilihan skala prioritas pada sumber daya dan waktu yang ada.

3. Memberikan informasi perihal progress proyek.

4. Mencegah sumber daya digunakan secara berlebihan, sehingga menjadi tidak efektif dan diharapkan proyek dapat selesai sesuai waktu yang ditetapkan.

5. Waktu pelaksanaan pekerjaan dapat diketahui secara pasti.

6. Menjadi salah satu unsur penting saat melakukan controll pada proyek.

2.6.2 Metode Penjadwalan Proyek a. Metode Gantt Chart atau Barchart

Metode ini ditemukan oleh Gantt dan Fredick W. Tailor. Dalam metode ini informasi disajikan dalam bentuk balok dan durasi setiap kegiatan digambarkan dengan panjang balok tersebut. Pada metode ini terdapat sumbu Y dan Sumbu X dalam penggunaannya, sumbu Y menyatakan jenis kegiatan proyek, sedangkan sumbu X menyatakan waktu durasi pada proyek (Husen, 2011).

b. Metode Curva S atau Hannum Curve

Kurva S adalah grafik yang menginformasikan perkembangan proyek berdasarkan kegiatan, waktu, dan bobot kegiatan yang digambarkan ke dalam bentuk persentase gabungan dari seluruh aktivitas yang ada di proyek. Curva S sendiri dibesarkan oleh Warren T. Hannum dengan melakukan pengamatan dari proyek dimulai sampai akhir proyek pada sejumlah proyek (Husen, 2011). Secara grafis kurva S merupakan penggambaran kemajuan kerja (bobot %) kumulatif dengan indek 0 sampai 100 % pada sumbu Y (vertikal),

(9)

terhadap waktu proyek pada sumbu X (horisontal), yang nantinya dari hubungan kedua sumbu tersebut akan terbentuk kurva berbentuk seperti huruf S sehingga disebut kurva S. Bobot pekerjaan didapat dari pendekatan berupa perhitungan biaya pada masing-masing item pekerjaan dibagi dengan nilai total anggaran proyek dan dirubah dalam bentuk persentase.

c. Metode Networking / Network planing

Metode ini adalah bentuk penjadwalan kegiatan proyek dengan menggunakan logika jaringan guna memberikan gambaran pada seriap kegiatan proyek yang diurutkan secara logis, ketergantungan antar kegiatan dan waktu kegiatan melalui lintasan kritis (Mandiyo Priyo, 2017).

2.7 Mempercepat Waktu Pelaksanaan Proyek

Dalam sebuah proyek konstruksi, pada suatu kondisi tertentu terkadang diperlukan usaha percepatan waktu pelaksanaan proyek untuk memenuhi target pekerjaan sesuai jadwal yang telah ditetapkan. Usaha untuk mempercepat waktu pelaksanaan proyek ini biasa disebut crashing. Dalam usaha mempercepat waktu pelaksanaan proyek (crashing) diperlukan proses yang terstuktur dan beraturan yang dengan cara memfokuskan kegiatan yang berada pada lintasan kritis setelah dilakukan pengujian (Ervianto, 2004).

Percepatan durasi proyek biasa dilakukan dengan alasan sebagai berikut:

a. Terjadinya keterlambatan selama proyek berlangsung yang dapat berpotensi mengganggu kegiatan lain dan waktu keseluruhan penyelesaian proyek.

b. Manajamen atau owner meminta kegiatan proyek yang bersangkutan untuk segera diselesaikan karena suatu alasan tertentu (Kisworo et al., 2017).

2.7.1 Pelaksanaan Percepatan Durasi

Dalam kondisi tertentu, jika ingin melaksanakan percepatan pada suatu aktivitas konstruksi maka terdapat beberapa cara yang dapat dilakukan yaitu:

a. Penambahan Jam Kerja (Lembur)

Penambahan jam kerja (lembur) sering dilakukan untuk mempercepat selesainya suatu pekerjaan. Cara ini dapat diaplikasikan dengan menambahkan jam lembur setiap harinya dengan memakai sumber daya

(10)

yang ada, sehingga tidak diperlukan tambahan tenaga kerja. Dengan tujuan agar meningkatkan produktivitas harian sehigga pekerjaan konstruksi dapat diselesaikan lebih cepat. Tetapi dalam menambahankan jam kerja juga harus diperhatikan lamanya waktu bekerja, karena semakin lama seseorang bekerja maka akan semakin menurun produktivitasnya. Penerapan penambahan jam kerja (lembur) selama 2 jam perhari dapat menurunkan sekitar 10% produktivitas pekerja dan semakin lama durasi lembur, maka penurunan produktivitas akan semakin tajam (Sumarningsih, 2015).

Penurunan produktivitas ini disebabkan karena para pekerja yang sudah kelelahan bekerja dari pagi, berkurangnya jarak pandang dan kondisi cuaca yang dingin saat malam hari. Pada gambar 2.1. dapat dilihat nilai penurunan produktivitas akibat penambahan jam kerja (lembur) dengan jumlah sumber daya yang sama.

Gambar 2.1. Grafik Indikasi Penurunan Produktivitas Karena Kerja Lembur (Sumber : Soeharto, 1999)

(11)

Koefisien penurunan produktivitas pada jam kerja juga dapat dilihat pada tabel 2.1 dibawah ini:

Tabel 2.1 Koefisien Penurunan Produktivitas Jam Lembur (Jam) Penurunan Indeks

Produktivitas Prestasi Kerja (%)

1 0.1 90

2 0.2 80

3 0.3 70

4 0.4 60

Sumber: (Soeharto, 1997)

Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa setiap penambahan 1 jam lembur terjadi penurunan prestasi kerja sebesar 10%. Sehingga perlu diperhatikan dalam melakukan penambahan jam kerja lembur, agar produktivitas pekerja tetap efektif dan pekerja tidak mengalami kelelahan yang berat.

b. Penambahan Tenaga Kerja

Dilakukan menambahkan jumlah pekerja dalam suatu unit kegiatan agar dapat diselesaikan lebih cepat dengan jam kerja normal. Namun yang harus diperhatikan adalah penambahan jumlah pekerja dapat meningkatkan produktivitas pekerja jika jumlahnya optimum, tetapi jika terlalu banyak penambahan jumlah pekerja juga kurang efektif karena produktivitas pekerja akan turun akibat terbatasnya lahan untuk untuk bergerak. Pada dasarnya pemakaian jumlah tenaga kerja dalam suatu kegiatan dan kegiatan lainnya tidak boleh saling mengganggu saat kegiatan berlangsung pada waktu yang bersamaan karena dapat menurunkan produktivitas tenaga kerja. Oleh karena itu sebelum menambah jumlah tenaga kerja sebaiknya mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut:

1. Apakah luas lahan mampu menampung jumlah pekerja.

2. Leluasa dalam bekerja.

3. Pengamatan pada para tenaga kerja.

4. Menjamin keamanan saat bekerja.

(12)

c. Penambahan dan Pemakaian Peralatan berat

Penambahan dan pemakaian peralatan berat merupakan usaha untuk meningkatkan produktivitas pekerjaan dan mencapai ketepatan pekerjaan yang lebih tinggi dengan pemakaian tenaga kerja yang dibatasi. Sehingga dapat menyelesaikan pekerjaan lebih cepat tanpa menambah jumlah pekerja. Namun ada faktor yang harus diperhatikan sebelum menggunakan alat berat, yaitu:

1. Pengadaan operator dan mekanik peralatan.

2. Kapasitas tempat dan akses jalan di lokasi proyek konstruksi.

3. Biaya dan waktu yang dibutuhkan untuk mobilitas alat berat.

d. Pengubahan Metode Konstruksi di Lapangan

Didalam sebuah proyek konstruksi terdapat metode-metode pekerjaan yang digunakan. Namun jika suatu metode yang digunakan sudah tidak efektif dan dinilai terlalu lambat maka pihak kontraktor atau pelaksana akan melakukan perubahan metode kerja. Pengubahan metode kerja diperlukan agar pekerjaan kembali efektif dan tidak mengganggu aktivitas pekerjaan lainnya secara keseluruhan.

2.7.2 Hubungan Waktu dan Biaya

pada proyek konstruksi terdapat biaya langsung dan biaya tidak langsung, penjumlahan dari keduanya akan menghasilkan biaya total proyek yang dikeluarkan saat proyek tersebut berlangsung. Besarnya biaya total sangat tergantung dari lamanya waktu pelaksanaan proyek. Keduanya akan berubah sesuai dengan waktu dan kemajuan proyek walaupun tidak dapat dihitung dengan rumus tertentu, akan tetapi umumnya semakin lama proyek berjalan maka semakin tinggi kumulatif biaya tidak langsung yang diperlukan (Soeharto, 1999).

Hubungan antara biaya langsung, biaya tidak langsung dan biaya total dengan waktu pelaksanaan proyek dapat ditunjukkan pada gambar grafik dibawah ini.

(13)

Gambar 2.2. Grafik Hubungan Antara Biaya Langsung, Biaya Tak Langsung dan Biaya Total Dengan Waktu

(Sumber : Soeharto, 1999)

Gambar 2.2 menunjukkan hubungan dari biaya langsung, biaya tak langsung dan biaya total dengan waktu, terlihat bahwa biaya optimum didapat dengan mencari total biaya proyek yang terkecil.

Dengan menggunakan crash schedule, tentunya akan menyebabkan biayanya meningkat dan lebih besar dibandingkan dengan normal schedule. Oleh karena itu saat dalam penggunaan crash schedule hanya akan dipilih kegiatan-kegiatan kritis yang akan dilakukan percepatan dalam pelaksanaanya agar biayanya tidak mengalami kenaikan terlalu tinggi.

(14)

Gambar 2.3. Grafik Hubungan Waktu-Biaya Normal dan Dipercepat Untuk Suatu Kegiatan (Sumber : Soeharto, 1999)

Pada Gambar 2.3 dapat dilihat titik A menunjukkan kondisi normal, sedangkan titik B menunjukkan kondisi setelah dipercepat. Garis yang menghubungkan antara titik A dan titik B disebut dengan kurva waktu biaya.

Menurut (Soeharto, 1999), besar slope (sudut kemiringannya) dapat kita ketahui seandainya bentuk kurva waktu biaya suatu kegiatan juga diketahui.

Sehingga dapat dihitung berapa biaya yang dibutuhkan untuk mempersingkat waktu satu hari (cost slope). Perhitungan cost slope dapat dirumuskan sebagai berikut:

Cost slope =

a. Normal Duration

Waktu normal untuk menyelesaikan suatu pekerjaan menggunakan sumber daya normal sesuai dengan yang direncanakan.

b. Crash Duration

Waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan suatu pekerjaan dalam usaha untuk mempercepat durasi agar lebih pendek dari durasi normal.

(15)

c. Normal Cost

Biaya yang dibutuhkan dalam suatu pekerjaan proyek konstruksi dengan durasi normal. Normal cost adalah biaya yang sesuai dengan perencanaan di awal proyek.

d. Crash Cost

Biaya yang dibutuhkan untuk melaksanakan suatu pekerjaan proyek sesuai dengan durasi percepatannya. Crash cost dapat menjadi lebih besar dari biaya normal, dikarenakan pelaksanaan percepatan durasi proyek akan menyebabkan peningkatan biaya untuk meningkatkan produktivitas kerja.

2.8 Analisa Pertukaran Biaya dan Waktu (Time Cost Trade Off)

Analisa pertukaran biaya dan waktu (time cost trade off) merupakan analisa yang digunakan untuk melakukan penekanan atau kompresi pada durasi proyek yang dapat diterima dan meminimalisir biaya total proyek akibat percepatan durasi.

Karena semakin minim biaya yang dikeluarkan maka kemungkinan keuntungan yang didapat menjadi lebih besar. Ataupun juga untuk meminimalkan kemungkinan kerugian akibat keterlambatan waktu pelaksanaan proyek konstruksi. Oleh karena itu percepatan durasi proyek hanya dilakukan pada beberapa kegiatan tertentu.

Dalam analisa time cost trade off percepatan durasi pekerjaan difokuskan pada kegiatan yang berada di lintasan kritis. Proses kompresi durasi pekerjaan dimulai dari kegiatan yang berada di lintasan kritis dengan nilai cost slope terendah (Ervianto, 2004).

Menurut (Soeharto, 1999) prosedur untuk mempercepat durasi pekerjaan proyek diuraikan sebagai berikut :

1. Menghitung waktu penyelesaian proyek dan mengidentifikasi float dengan memakai kurun waktu normal.

2. Menentukan biaya normal masing-masing kegiatan.

3. Menentukan biaya dipercepat masing-masing kegiatan.

4. Menghitung cost slope masing-masing komponen kegiatan.

5. Melakukan kompresi (penekanan durasi kegiatan), dimulai dari kegiatan kritis yang mempunyai cost slope terendah.

(16)

6. Bila dalam proses mempercepat waktu terbentuk jalur kritis baru, maka percepat kegiatan-kegiatan kritis yang mempunyai kombinasi slope biaya terendah.

7. Meneruskan mempersingkat waktu kegiatan sampai titik proyek dipersingkat.

8. Membuat tabulasi biaya versus waktu, gambarkan dalam grafik dan hubungan titik normal (biaya dan waktu normal), titik yang terbentuk setiap kali mempersingkat kegiatan sampai dengan Titik Proyek Dipersingkat (TPD).

9. Hitung biaya langsung dan biaya tidak langsung proyek dan gambarkan pada sebuah grafik.

10. Menjumlahkan biaya langsung dan biaya tidak langsung untuk mendapatkan nilai biaya total proyek.

11. Lakukan periksaan pada grafik biaya total untuk mencapai waktu optimal yaitu kurun waktu penyelesaian proyek dengan biaya terendah.

Dalam upaya crashing durasi proyek perlu adanya pengendalian biaya agar biaya akibat crashing didapat seminimal mungkin. Yang perlu diperhatikan adalah proses penekanan durasi hanya dilakukan pada kegiatan yang ada di lintasan kritis.

2.9 Lintasan Kritis (Critical Path)

Lintasan kritis (critical path) merupakan lintasan yang ada dalam network diagram dan merupakan lintasan terpanjang dalam hal total waktu diantara lintasan yang ada. Kegiatan-kegiatan yang ada pada lintasan kritis sangat berpengaruh terhadap keseluruhan pekerjaan proyek konstruksi. Apabila tertunda atau terhambat pada lintasan kritis maka akan menyebabkan keterlambatan waktu penyelesaian proyek. Oleh karena itu kegiatan pada lintasan kritis harus diselesaikan tepat waktu sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan (Sulistyo & Al Fikri, 2021).

2.10 Biaya Tambahan Kerja (Lembur)

Dengan adanya penambahan jam kerja (lembur) maka akan ada biaya tambahan yang harus dibayarkan. Sesuai dengan Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik Indonesia Nomor KEP. 102/MEN/VI/2004 pasal 3, pasal 7 dan pasal 11 diperhitungkan bahwa upah penambahan jam kerja bervariasi.

Untuk penambahan satu jam pertama, pekerja akan mendapatkan upah tambahan

(17)

1,5 kali upah perjam waktu normal. Pada penambahan jam kerja berikutnya, pekerja akan mendapat upah tambahan 2 kali upah per jam waktu normal. Perhitungan untuk biaya tambahan kerja dapat dirusmuskan sebagai berikut:

a. Normal upah pekerja perhari = prod. Harian x harga satuan upah pekerja b. Normal upah pekerja perjam = prod. Per jam x harga satuan upah pekerja c. Biaya lembur pekerja = 1,5 x upah sejam normal + (2 x n x upah sejam normal)

untuk jam lembur selanjutnya

d. Crash cost tenaga kerja perhari = upah kerja perhari + upah kerja lembur perhari

e. Crash cost total = crash cost perhari x crash duration Dimana :

n = jumlah penambahan jam kerja 2.11 Microsoft Office Project

Microsoft office project merupakan salah satu produk perangkat lunak yang dikembangkan serta dijual oleh microsoft, Perangkat lunak ini berguna untuk membantu memanajemen dalam mengembangkan rencana, menetapkan sumber daya, dan menganalisa beban kerja pada proyek konstruksi (Sulistyo & Al Fikri, 2021).

Pada penelitian ini, penulis akan menggunakan Microsoft office Project 2016 sebagai acuan untuk mengetahui kegiatan yang berada di lintasan kritis. Untuk mengetahui lintasan kritis, dimulai dengan mengatur calender selanjutnya inputkan data kegiatan, durasi dan predecessor tiap kegiatan kedalam Microsoft office Project 2016. Dari lintasan kritis yang diketahui inilah nantinya akan dilakukan analisa atau identifikasi dalam perhitungan biaya akibat percepatan. Dalam microsoft office project terdapat beberapa istilah yang biasa digunakan, yaitu:

1. Task adalah jenis item atau pekerjaan atau kegiatan dalam proyek.

2. Duration merupakan lama waktu untuk menyelesaikan suatu pekerjaan, misalnya: 1 hari, 1 minggu, 1 bulan dan sebagainya.

3. Start adalah tanggal dimulainya suatu pekerjaan.

(18)

4. Finish adalah tanggal berakhirnya suatu pekerjaan.

5. Predecessor merupakan suatu hubungan antara satu pekerjaan dengan pekerjaan yang lain.

6. Resources adalah sumber daya yang terlibat dalam proyek konstruksi, baik sumber daya manusia ataupun material.

7. Cost adalah biaya yang digunakan dalam menjalankan proyek.

8. Gantt Chart adalah tampilan bentuk grafik batang horisontal hasil kerja dari microsoft project.

9. Pert Chart adalah grafik pekerjaan dalam bentuk kotak atau juga bisa disebut node. Didalam node ini terdapat keterangan nama pekerjaan, start, finish, serta hubungan antar pekerjaan.

10. Baseline adalah rancangan atau anggaran tetap proyek.

11. Tracking adalah peninjauan hasil kerja proyek lapangan dengan rencana semula dalam microsoft project.

Prosedur penggunaan Microsoft Office Project

1. Mengatur tanggal mulai proyek sesuai calender pada kondisi proyek.

2. Memasukkan daftar pekerjaan proyek yang dikerjakan pada kolom Task Name.

3. Kemudian inputkan data durasi setiap pekerjaan pada kolom Duration.

4. Selanjutnya adalah memasukkan keterkaitan antar pekerjaan yang saling berhubungan pada kolom Predecessors. Beberapa jenis hubungan yang biasa terjadi adalah:

a. Finish to Start (FS)

Suatu pekerjaan (B) dimulai setelah pekerjaan lain (A) selesai.

b. Start to Start (SS)

Suatu pekerjaan (B) dimulai bersamaan dengan pekerjaan lain (A) dimulai

c. Finish to Finish (FF)

Suatu pekerjaan (B) diselesaikan bersamaan dengan pekerjaan lain (A) diselesaikan

(19)

d. Start to Finish (SF)

Suatu pekerjaan (B) diselesaikan bersamaan dengan pekerjaan lain (A) dimulai.

5. Menampilkan Lintasan Kritis

Referensi

Dokumen terkait

menunjukkan bahwa agresi pada anak dapat terbentuk karena setiap hari anak sering melihat dan menyaksikan kekerasan dalam rumah tangga baik secara langsung atau

Teknik pengolahan data yang dilakukan yaitu pemeriksaan (editing), (coding), dan tabulasi. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis tabel frekuensi

PEMBANGUNAN DAN PENINGKATAN FASILITAS LLAJ DI JALUR MARGONDA RAYA 137.518.000,00... PEMBUATAN SEPARATOR JALUR

1) Hasil yang dilaporkan hanya terdiri dari dua angka yaitu angka pertama didepan koma dan angka kedua di belakang koma. Jika angka yang ketiga.. sama dengan atau lebih

Deteksi Gelatin Babi pada Sampel Permen Lunak Jelly Menggunakan Metode Fourier Transform Infrared (FTIR) dan Kemometrik; Annisa Rahmawati, 102210101050; 2014; 53

Bagi Pemerintah Provinsi Bali dan Nusa Tenggara Timur dpelaksanaan Survei Monitoring Jenis Ikan Terancam Punah, dilindungi/tidak dilindungi (Pari Manta) dapat menjadi masukan

Soft Copy Selama Berlaku 8 DPA Murni Bidang Persandian dan Statistik Tahun 2020 SEKRETARIS DINAS KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA PROV.. KALBAR Kabid Persandian dan

Dari Gambar 2.3 di atas, dapat diperkirakan hubungan antara resistansi sensor Rs dengan resistansi sensor pada saat mengukur H2 1000 ppm dengan suhu 20o C dan RL=20 KΩ adalah