• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

BAB 3

METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Gambaran Umum

Kredit Pemilikan Rumah (KPR) merupakan salah satu program pemerintah penyedia kredit untuk cicilan rumah di Indonesia. Kredit Pemilikan Rumah dikenal sebagai salah satu program yang sangat membantu masyarakat dalam mencicil rumah dengan murah dan aman.

Sejarah awal dari KPR adalah ditunjuknya Bank BTN oleh Pemerintah Indonesia pada tanggal 29 Januari 1974, melalui Surat Menteri Keuangan RI No.

B-49/MK/I/1974 sebagai wadah pembiayaan proyek perumahan untuk rakyat.

Sejalan dengan tugas tersebut, maka mulai 1976 mulailah realisasi KPR (Kredit Pemilikan Rumah) pertama kalinya oleh BTN. Kredit Pemilikan Rumah (KPR) pertama kali disalurkan pada tahun 1976, tepatnya pada tanggal 10 Desember 1976 yang diprakarsai oleh Bank Tabungan Negara (BTN), dan dilakukan di Kota Semarang, Jawa Tengah. Realisasi tersebut untuk melaksanakan kebijakan pemerintah dalam bidang pembangunan perumahan untuk masyarakat menengah kebawah. Penunjukan BTN sebagai wadah pembiayaan perumahan rakyat menghantarkan BTN saat itu sebagai lembaga keuangan dengan fungsi menyiapkan pendanaan pembiayaan pembangunan perumahan tersebut melalui fasilitas Kredit Pemilikan Rumah atau KPR. (sumber: kreditgogo.com, 2016)

3.2 Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan untuk menunjukkan adanya hubungan antara Word Of Mouth terhadap Purchase Intention dengan Brand Image dan Perceived Service Quality sebagai variabel intervening adalah penelitian kausal.

Penelitian kausal merupakan penelitian yang bertujuan mendapatkan bukti mengenai hubungan sebab – akibat untuk menentukan apakah satu atau lebih

(2)

variabel menyebabkan atau berpengaruh terhadap perubahan variabel lainnya (Malhotra, 2004).

Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif, dimana pendekatan ini menekankan pada keluasan informasi, (bukan kedalaman) sehingga metode ini cocok digunakan untuk populasi yang luas dengan variabel yang terbatas, sehingga data atau hasil riset dianggap merupakan representasi dari seluruh populasi (Sugiyono, 2007). Metode yang digunakan adalah metode survey kuesioner terstruktur yang diberikan kepada sampel dari sebuah populasi dan didesain untuk memperoleh informasi yang spesifik dari responden (Malhotra, 2004).

3.3. Populasi dan Sampel 3.3.1 Populasi

Populasi adalah gabungan seluruh elemen yang memiliki serangkaian karakteristik serupa, yang mencakup semesta untuk kepentingan masalah riset pemasaran (Malhotra, 2004). Pendapat lainnya mengatakan bahwa populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri dari obyek atau subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang diterapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono, 2009). Populasi dalam penelitian ini adalah calon pelanggan dari KPR bersubsidi pada Bank UOB, Standard Chart, HSBC, OCBC dan Bank ANZ di Surabaya.

3.3.2. Sampel

Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut (Sugiyono, 2009). Dengan melakukan penelitian kepada sebagian dari populasi, diharapkan bahwa hasil yang didapat mampu menggambarkan populasi yang bersangkutan. Syarat utama sampel yang baik yaitu mampu mewakili ciri dan karakteristik populasi dengan bias yang terlalu kecil.

(3)

Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan teknik non probability sampling, dimana semua populasi tidak memiliki peluang yang sama untuk menjadi responden dan pengambilan sampel didasarkan pada pertimbangan peneliti (Simamora, 2002). Jenis non probability sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah purposive sampling dimana peneliti melakukan penilaian untuk memilih anggota populasi yang dinilai paling tepat sesuai dengan kriteria tertentu. Pengguna yang menjadi sampel sebagai responden dalam penelitian ini adalah calon pelanggan berusia 21 hingga 50 tahun yang memiliki minat untuk mengambil program KPR bersubsidi serta berdomisili di Surabaya.

Penentuan ukuran sampel adalah menentukan jumlah sampel yang digunakan dalam penelitian sedemikian rupa sehingga dapat mewakili populasinya. Dalam menentukan jumlah minimum sampel, penulis menggunakan rumusan Slovin (Sugiyono, 2007), yaitu:

𝑛 = (𝑍𝛼2)

2

𝑝 (1 − 𝑝) 𝑒2

𝑛 =(1,96)2 0,5(1 − 0,5) 0,102

𝑛 = 96,04 → dibulatkan menjadi 100

Dimana :

n = Jumlah sampel

𝑍𝛼2 = Angka yang menunjukkan suatu penyimpangan nilai variabel dari Mean dihitung dalam satuan deviasi standar tertentu (1,96) p = Probabilitas (0,5)

e = Taraf kesalahan, disarankan 10%

Jumlah sampel yang digunakan adalah 96,04 responden. Untuk memudahkan perhitungan maka jumlah responden dibulatkan menjadi 100. Oleh karena itu, kuesioner akan disebarkan kepada 100 responden.

(4)

3.4. Jenis dan Sumber Data

Sumber data yang diperoleh terdapat dua kategori, yaitu data primer dan data sekunder.

3.4.1 Data Primer

Data primer adalah data yang dibuat oleh peneliti untuk maksud khusus menyelesaikan masalah riset (Malhotra, 2004). Data primer dalam penelitian ini adalah data yang diperoleh langsung berupa jawaban terhadap pertanyaan dalam kuisioner yang disebarkan bagi calon pelanggan program KPR Bank UOB, Standard Chart, HSBC, OCBC dan Bank ANZ di Surabaya.

3.4.2 Data Sekunder

Data sekunder adalah data yang telah dikumpulkan untuk maksud selain untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi (Malhotra, 2004). Data sekunder dalam penelitian ini adalah data yang diperoleh dari literature, studi pustaka, dan media online sebagai informasi pendukung penelitian ini. Data sekunder dalam penelitian ini digunakan sebagai dasar untuk menyusun dan mengembangkan dasar pemikiran atas hipotesis yang terdapat pada rumusan masalah penelitian ini.

3.5 Metode dan Prosedur Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data adalah metode yang digunakan dalam mengumpulkan sumber data. Dalam penelitian ini digunakan metode pengumpulan data berupa studi kepustakaan dan studi lapangan.

3.5.1 Studi Kepustakaan

Studi kepustakaan merupakan salah satu metode yang dilakukan peneliti untuk mendapatkan informasi, dimana penulis mencoba menggali informasi dari text book dan jurnal serta mencari artikel dan kutipan dari berbagai sumber, seperti media cetak dan media internet untuk mendapatkan informasi yang

(5)

berkaitan dengan topik (Sugiyono, 2009). Studi kepustakaan menjadi jembatan hubungan antara teori yang sudah ada sebelumnya dengan temuan yang ada di lapangan.

3.5.2 Studi Lapangan

Studi lapangan merupakan metode yang digunakan oleh peneliti untuk mengumpulkan data secara langsung di lapangan terhadap obyek yang bersangkutan. Pengumpulan data dilakukan dengan cara menyebarkan kuisioner kepada calon pelanggan program KPR bersubsidi pada Bank UOB, Standard Chart, HSBC, OCBC dan Bank ANZ. Pemahaman dari kuisioner adalah teknik pengumpulan data melalui formulir yang berisi pertanyaan – pertanyaan yang diajukan secara tertulis kepada seseorang atau sekumpulan orang untuk mendapatkan jawaban atau tanggapan informasi yang diperlukan oleh peneliti (Malhotra, 2004).

Kerangka kuisioner dalam penelitian ini dibagi menjadi dua bagian yaitu profil responden untuk melihat karakteristik responden serta bagian pertanyaan untuk memperoleh pendapat responden mengenai variabel – variabel yang digunakan dalam penelitian ini. Ukuran atau skala yang digunakan pada opsi jawaban untuk mencapai tujuan adalah dengan menggunakan skala likert. Skala likert adalah pengukuran yang mengharuskan responden untuk menunjukkan sikap setuju atau tidak setuju mereka mengenai serangkaian pertanyaan yang diberikan yang memiliki lima kategori skala mulai dari “sangat tidak setuju”

hingga “sangat setuju” (Malhotra, 2004). Bentuk jawaban dari kuisioner ini, adalah:

1. Sangat Tidak Setuju (STS) = skor 1 2. Tidak Setuju (TS) = skor 2

3. Netral (N) = skor 3

4. Setuju (S) = skor 4

5. Sangat Setuju (SS) = skor 5 3.6 Definisi Operasional Variabel

Definisi operasional variabel yang digunakan terdiri dari 4 variabel, yaitu:

(6)

1. Variabel independen

Variabel Independen atau variabel eksogen yaitu variabel yang mempengaruhi atau yang menjadi sebab atau timbulnya variabel dependen/endogen (Sugiyono, 2009). Variabel Independen dalam penelitian ini yaitu:

A. Word Of Mouth (X1)

Word of mouth adalah proses yang dilakukan oleh perusahaan ataupun konsumen untuk menyampaikan informasi atau mempromosikan barang atau jasa kepada masyarakat umum. Dimensi dari word of mouth adalah sebagai berikut:

a. Attribute of the source merupakan kemampuan dari pemberi informasi untuk meyakinkan target word of mouth. Dimensi ini dapat diukur dengan indikator sebagai berikut:

X.1.1.1 Informasi dari keluarga sangat berpengaruh X.1.1.2 Informasi dari teman sangat berpengaruh

b. Rate of Activity merupakan kemampuan dari pemberi informasi untuk memberikan informasi secara rutin. Dimensi ini dapat diukur dengan indikator sebagai berikut:

X.1.2.1 Saya sering mencari informasi terbaru sendiri

X.1.2.2 Saya sering mendengar informasi terbaru dari pameran c. Personal Relevance merupakan kemampuan dari pemberi informasi untuk

memberikan informasi yang relevan dan persuasif. Dimensi ini dapat diukur dengan indikator sebagai berikut:

X.1.3.1 Pemberi informasi dapat dipercaya

X.1.3.2 Informasi yang diberikan konsumen mampu mempengaruhi Polarity merupakan kemampuan dari pemberi informasi untuk memberikan informasi yang positif atau negatif. Dimensi ini dapat diukur dengan indikator sebagai berikut:

X.1.4.1 Sering mendengar hal-hal positif tentang KPR Kelas Atas X.1.4.2 Informasi yang didengar membentuk persepsi tentang KPR Kelas Atas

(7)

2. Variabel Intervening

Variabel intervening adalah variabel yang mempengaruhi hubungan antara variabel independen dan dependen menjadi hubungan yang tidak langsung dan dapat diamati serta diukur (Sugiyono, 2009). Variabel intervening dalam penelitian ini yaitu:

A. Brand Image (Y1)

Brand image adalah gambaran atas suatu merek tertentu yang muncul di pikiran masyarakat dalam bentuk persepsi atau pendapat masing-masing orang. Dimensi brand image adalah sebagai berikut:

a. Brand Strength merupakan seberapa kuat merek tersebut berada di benak konsumen. Dimensi ini dapat diukur dengan indikator sebagai berikut:

Y.1.1.1 KPR Kelas Atas memiliki citra yang baik Y.1.1.2 KPR Kelas Atas mudah dijangkau

b. Brand Favorability merupakan rasa suka terhadap suatu merek tertentu.

Dimensi ini dapat diukur dengan indikator sebagai berikut:

Y.1.2.1 Saya tertarik dengan KPR Kelas Atas dibanding program- program lain

Y.1.2.2 KPR Kelas Atas sangat disenangi

c. Brand Uniqueness merupakan perbedaan atau keunikan yang dimiliki masing-masing merek yang tidak dimiliki merek lain. Dimensi ini dapat diukur dengan indikator sebagai berikut:

Y.1.3.1 KPR Kelas Atas memiliki value lebih dibanding program lain

Y.1.3.2 KPR Kelas Atas memiliki pelayanan yang berbeda dibanding program lain

B. Perceived Service Quality (Y2)

Perceived service quality adalah persepsi yang muncul di benak konsumen terhadap keseluruhan kualitas layanan yang diharapkan oleh konsumen.

Dimensi perceived service quality adalah sebagai berikut:

a. Kualitas Interaksi adalah kualitas yang diberikan pada saat proses pelayanan dari perusahaan kepada konsumen. Dimensi ini dapat diukur dengan indikator sebagai berikut:

(8)

Y2.1.1 Pelayanan yang diberikan KPR Kelas Atas ramah Y.2.1.2 Pelayanan yang diberikan KPR Kelas Atas lengkap

b. Kualitas Lingkungan fisik adalah kualitas yang ada pada lingkungan ketika proses pelayanan sedang dilaksanakan. Dimensi ini dapat diukur dengan indikator sebagai berikut:

Y.2.2.1 Lingkungan Rumah KPR Kelas Atas aman Y.2.2.2 Lingkungan Rumah KPR Kelas Atas bersih

c. Kualitas Hasil adalah suatu hal yang didapatkan konsumen ketika pelayanan telah selesai diberikan. Dimensi ini dapat diukur dengan indikator sebagai berikut:

Y.2.3.1 Informasi yang diberikan KPR Kelas Atas jelas Y.2.3.2 Informasi yang diberikan KPR Kelas Atas lengkap 3. Variabel Dependen

Variabel dependen atau variabel endogen adalah variabel yang dipengaruhi atau menjadi akibat karena adanya variabel independen atau variabel eksogen (Sugiyono, 2009). Variabel dependen dalam penelitian ini yaitu:

A. Purchase Intention (Z1)

Purchase intention adalah suatu sikap yang muncul ketika seseorang tertarik untuk melakukan pembelian atas suatu barang atau jasa. Dimensi purchase intention adalah sebagai berikut:

a. Transactional Interest yaitu kecenderungan konsumen untuk membeli suatu produk. Dimensi ini dapat diukur dengan indikator sebagai berikut:

Z.1.1.1 Saya memiliki minat untuk menggunakan KPR Kelas Atas Z.1.1.2 Saya langsung memilih KPR Kelas Atas tanpa

pertimbangan pada program lainnya

b. Preferential Interest yaitu perilaku konsumen yang mempunyai pembanding lain sebelum melakukan pembelian. Dimensi ini dapat diukur dengan indikator sebagai berikut:

Z.1.2.1 Saya membandingkan dengan KPR Kelas Atas sejenis sebelum memutuskan pilihan

Z.1.2.2 Saya memilih KPR Kelas Atas dengan program lain

(9)

c. Exploratory Interest yaitu perilaku konsumen yang selalu mencari informasi terlebih dahulu tentang produk yang diminatinya. Dimensi ini dapat diukur dengan indikator sebagai berikut:

Z.1.3.1 Saya mencari informasi di Kantor KPR Kelas Atas

Z.1.3.2 Saya mencari informasi melalui orang terdekat tentang KPR Kelas Atas

3.7 Teknik Analisa Data

Analisis didasarkan pada data yang diperoleh dari instrumen penelitian yaitu dari hasil kuesioner yang disebarkan, kemudian diolah dengan metode statistik.

3.7.1 Path Analysis

Pengujian hipotesis yang ada pada penelitian ini dilakukan dengan menggunakan teknik path analysis untuk menujukkan adanya hubungan yang kuat dengan variabel – variabel yang diuji. Teknik path analysis digunakan untuk melukiskan dan menguji model hubungan antar variabel yang berbentuk sebab akibat (Sugiyono, 2007). Teknik ini merupakan pengembangan korelasi yang diurai menjadi beberapa interpretasi akibat yang ditimbulkannya.

Pengujuan statistik pada model path analysis dilakukan dengan menggunakan metode partial least square. Partial Least Square (PLS) adalah bagian dari SEM. PLS merupakan teknik terbaru yang banyak diminati karena tidak membutuhkan distribusi normal atau dapat dikatakan sebuah penelitian dengan jumlah sampel yang sedikit. Salah satu kelebihan PLS-SEM adalah mampu menangani model yang kompleks dengan multiple variabel eksogen dan endogen dengan banyak indikator, dapat digunakan pada sampel dengan jumlah kecil, dan data distribusi yang condong (Abdillah & Hartono, 2015).

3.7.2 Indikator Reliability dan Internal Consistency Reliability

Pengukuran reliabilitas dan validitas dilakukan menggunakan beberapa teknik pengukuran. Untuk mengukur seberapa reliable indikator yang digunakan, maka digunakan pengukuran indicator reliability dan internal consistency

(10)

reliability. Evaluasi reliability ini dilakukan untuk melihat apakah data yang digunakan didalam penelitian ini konsisten atau tidak, karena hal ini dapat berpengaruh besar terhadap output data yang akan diuji selanjutnya.

Sebuah indikator dinyatakan memiliki reliable yang cukup baik apabila indicator reliability nilai 0,40 – 0,70 dan dikatakan baik apabila lebih besar dari 0,70. Kemudian, nilai internal consistency reliability didapat dari composite reliability (Abdillah & Hartono, 2015). Latent variabel akan dinyatakan reliabel apabila nilai composite reliability lebih besar dari 0,70.

3.7.3 Convergent Validity & Discriminant Validity

Evaluasi validitas data dengan menggunakan convergent validity dan discriminant validity, dimana evaluasi ini bertujuan untuk melihat apakah variabel yang digunakan didalam penelitian ini akurat dalam melakukan pengolahan data.

Validitas konvergen berhubungan dengan prinsip bahwa pengukur (manifest variable) dari suatu konstruk seharusnya berkorelasi tinggi. Rule of thumb yang biasanya digunakan untuk menilai validitas konvergen adalah nilai loading factor yang harus lebih dari 0.7 atau nilai AVE yang harus lebih dari 0.5 untuk dikatakan valid. Variabel akan dinyatakan valid apabila nilai AVE yang telah diakar pangkat dua lebih besar(>) dari korelasi setiap latent variabel yang berhubungan.

Discriminant validity berhubungan dengan prinsip bahwa pengukur atau manifest variable konstruk yang berbeda seharusnya tidak berkorelasi dengan tinggi. Cara untuk mengujinya yaitu dengan melihat nilai cross loading untuk tiap variabel yang harus lebih besar dari 0.7 (Abdillah & Hartono, 2015). Discriminant validity dapat juga diukur dengan membandingkan akar kuadrat dari nilai AVE masing-masing variabel latent. Nilai ini harus lebih besar dari korelasi variabel laten lainnya agar dikatakan memiliki nilai discriminant validity yang baik.

3.7.4 Inner Model atau Model Struktural

Inner model atau model structural menggambarkan hubungan antara variabel laten berdasarkan teori subtantif. Inner model dievaluasi dengan menggunakan R-square untuk konstruk dependen, Q-Square predictive relevance

(11)

untuk model struktural, dan uji t serta signifikansi dari koefisien paremeter jalur struktural.

Melihat R-square untuk setiap variabel laten dependen (laten endogen).

Interpretasinya sama dengan interpretasi pada regresi. Perubahan nilai R-square dapat digunakan untuk menilai pengaruh variabel laten independen (laten eksogen) tertentu terhadap variabel laten dependen (laten endogen) apakah mempunyai pengaruh yang subtantif. Pada model PLS melihat nilai R-square dengan melihat Q-square prediktif relevansi untuk model konstruktif. Apabila nilai R2 berada diantara 0.25 – 0.50, maka dinyatakan lemah, jika nilai R2 berada diantara 0.50 – 0.75 dikatakan sedang , jika > 0.75 maka dinyatakan substansial.

Q-Square predictive relevance mengukur seberapa baik nilai observasi dihasilkan oleh model dan juga estimasi parameternya. Nilai Q-square > 0 menunjukkan model memiliki predictive relevance, sebaliknya jika nilai Q- Square ≤ 0 menunjukkan model kurang memiliki predictive relevance.

Perhitungan Q-Square dilakukan dengan rumus:

Q2 = 1 – ( 1 – R12) ( 1 – R22) ... ( 1- Rp2)

dimana R1 2 , R22 ... Rp2 adalah R-square variabel endogen dalam model persamaan. Besaran Q2 memiliki nilai dengan rentang 0 < Q2 < 1, dimana semakin mendekati 1 berarti model semakin baik. Stabilitas dari estimasi ini dapat dievaluasi melalui T-test (Abdillah & Hartono, 2015).

3.7.5 T-test

Di dalam penelitian ini terdapat variabel intervening yaitu penghubung antara variabel dependen dan variabel independen. Pengujian hipotesis mediasi (variabel intervening) dapat dilakukan dengan prosedur t-test. Pengujian t-test digunakan untuk mendapatkan nilai t-statistik yang diperlukan apabila peneliti ingin melakukan uji hipotesis, sehingga peneliti dapat mengatakan pengaruh sebuah variabel dapat dikatakan memiliki pengaruh yang signifikan atau tidak. T- test dilakukan dengan menggunakan metode bootstrapping.

(12)

Metode bootstrapping adalah suatu proses pengujian re-sampling yang dilakukan oleh sistem komputer untuk mengukur akurasi pada sample estimate.

Bootstraping digunakan untuk mengukur akurasi pada sample. Apabila nilai bootstrap lebih dari (>) 1.96 maka dinyatakan bahwa variabel tersebut memiliki pengaruh yang signifikan sedangkan apabila nilai bootstrap lebih rendah (<) dari 1.96, maka dinyatakan pengaruh variabel tersebut lemah (Abdillah, 2015)

3.7.6 Statistik Deskriptif

Statistik deskriptif digunakan untuk menyajikan data secara deskriptif yang menggambarkan karakteristik responden serta jawaban-jawaban responden sehingga mampu digunakan sebagai kesimpulan dari hasil kuisioner yang sudah disebarkan selama penelitian ini.

Referensi

Dokumen terkait

Contoh dari penerimaan asli daerah adalah penerimaan dari pungutan pajak daerah, dari retribusi daerah, hasil dari perusahaan daerah, dan lainnya yang merupakan sumber

Penelitian kuantitatif adalah pendekatan penelitian yang menekankan pada keluasan informasi (bukan kedalaman) sehingga metode ini cocok digunakan untuk populasi yang

meningkatkan keaktifan dan hasil belajar siswa SMP Negeri 2 Banyudono Tahun Pelajaran 2011/2012, sedangkan berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Sudrajad

Jawab: “Memberikan bimbingan dan nasehat, Memberikan pengawasan yang maksimal, Memberitau bagaimana mengatur jadwal kegiatan belajart, Menyediakan fasilitas belajar

Riset dalam penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif yang diartikan sebagai pendekatan penelitian yang menekankan pada keluasan informasi

Hasil penelitian menunjukkan ada hubungan yang signifikan antara pretest dengan posttest keterampilan berpikir kritis siswa yang membentuk persamaan Y = 1.397x + 17.315

untuk menemukan dan memcahkan masalah pembelajarn di kelas, proses pemecahan dilakukan secara bersiklus, dengan tujuan untuk meningkatkan kualitas dan hasil belajar di

Perseroan mempunyai keyakinan bahwa dengan menciptakan dan membangun satu budaya yang kokoh dimana setiap orang di Perusahaan membuat perbedaan, membentuk opini konsumen &amp; sales