• Tidak ada hasil yang ditemukan

THE EFFECT OF METHODS AND TYPES OF MORDAN ON DYEING COTTON FABRICS WITH NATURAL DYES FROM THE ONION PEEL (Allium cepa Linneus) BY IMMERSION

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "THE EFFECT OF METHODS AND TYPES OF MORDAN ON DYEING COTTON FABRICS WITH NATURAL DYES FROM THE ONION PEEL (Allium cepa Linneus) BY IMMERSION"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH METODE DAN JENIS ZAT MORDAN PADA PENCELUPAN KAIN KAPAS DENGAN EKSTRAK KULIT BAWANG BOMBAY (Allium cepa Linneus) SECARA RENDAMAN

THE EFFECT OF METHODS AND TYPES OF MORDAN ON DYEING COTTON FABRICS WITH NATURAL DYES FROM THE ONION PEEL (Allium cepa Linneus) BY IMMERSION

Erika Pangesti 1 , Ainur Rosyida 2

1,2 Prodi Kimia Tekstil, Sekolah Tinggi Teknologi Warga Surakarta Jalan Raya Solo Baki Km.2, Kwarasan, Solo Baru – Sukoharjo

Korenspondesi Penulis

Email : [email protected]

Kata kunci: pencelupan, kulit bawang bombay, kain kapas, jenis mordan, dan metode mordan.

Keywords: Dyeing, onion peel, cotton fabric, mordant type, and mordant method.

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh variasi jenis zat mordan dan metode mordan pada hasil pencelupan kain kapas dengan zat warna alam dari kulit bawang Bombay (Allium cepa Linnaeus) secara rendaman pada ketuaan warna (K/S) serta ketahanan luntur warna terhadap pencucian dan gosokan. Pencelupan dilakukan secara perendaman pada suhu kamar selama 1 jam. Pada penelitian ini, faktor yang diteliti adalah variasi jenis zat mordan, yaitu: Aluminium Sulfat, Poly Aluminium Chloride, dan Kapur Tohor serta variasi metode mordan, yaitu: pre-mordan, simultan, dan post-mordan. Untuk mengetahui kualitas hasil pencelupan, dilakukan pengujian ketuaan warna, ketahanan luntur warna terhadap pencucian, dan gosokan. Hasil analisa data dengan anova ganda diketahui bahwa faktor jenis zat dan metode mordan mempunyai pengaruh yang signifikan pada nilai ketuaan warna dan ketahanan luntur warna terhadap pencucian. Faktor mordan tidak berpengaruh pada nilai uji gosokan kering dan basah tetapi faktor metode mordan berpengaruh pada nilai gosokan kering dan basah. Pencelupan kain kapas dengan kulit bawang bombay dapat diperoleh hasil ketuaan warna dan ketahanan luntur warna yang baik sehingga zat warna alam ini sangat direkomendasikan untuk digunakan pada pencelupan produk tekstil.

ABSTRACT

This study aims to determine the effect of variations of the mordant substance type and mordant method on the results of dyeing cotton cloth with natural dyes from the skin of Bombay onions (Allium cepa Linnaeus) by immersion on colour aging (K/S) and colour fastness to washing and rubbing.

Immersion was carried out by immersion at room temperature for 1 hour. In this study, the factors studied were the type variations of mordant substance, namely: Aluminum Sulfate, Polyaluminium chloride, and Lime Tohor and variations in the mordant method, namely: pre-mordant, simultan, and post-mordant. To determine the quality of the dyeing results, testing of color aging, color fastness to washing, and rubbing was carried out. The results of data analysis with Two-Way Anova showed that the types and methods of mordant had a significant effect on the value of color strength and color fastness to washing. The mordant factor had no effect on the dry and wet rubbing test values, but the mordant method had an effect on the dry and wet rubbing values. Dyeing cotton fabric with onion skin can produce good color aging and color fastness, so this natural dye is highly recommended for use in dyeing textile products.

(2)

Prosiding Seminar Nasional Industri Kerajinan dan Batik

Membangun Industri Kerajinan dan Batik yang Tangguh di Masa Pandemi

Yogyakarta, 6-7 Oktober 2021 eISSN 2715-7814

PENDAHULUAN

Industri tekstil pada umumnya menggunakan zat warna sintetis sebagai pewarna bahan tekstil, namun dalam penggunaannya menimbulkan limbah yang dapat merusak lingkungan dan bahkan berbahaya bagi kesehatan manusia. Solusi untuk mengatasi pencemaran lingkungan oleh penggunaan zat warna sintetik yaitu dengan menggantikannya dengan zat warna alam. Salah satu bahan pewarna alam bisa diperoleh dari limbah dapur, yaitu dari kulit bawang bombay. Limbah kulit bawang bombay yang dihasilkan dari UMKM yang memproduksi makanan cukup banyak sebagai sampah yang menimbulkan pencemaran lingkungan seperti: bau busuk dan mencemari saluran air. Untuk itu penulis mencoba memanfaatkan limbah kulit bawang bombay sebagai zat warna dalam proses pencelupan kain kapas karena pada kulit bawang bombay mengandung quercetin (Vankar & Shanker, 2009).

Pada penelitian yang telah dilakukan oleh Vankar (2009) diketahui kulit bawang bombay dapat mewarnai kain kapas dengan ketuaan warna yang tinggi dan ketahanan luntur warna yang baik, proses ekstrak dilakukan dengan etanol 60% pada suhu 90 C selama 3 jam.

Sebelum dicelup kain kapas di proses dengan asam tanin dengan cara direndam selama 2 jam, kemudian di

pre-mordan

dengan konsentrasi mordan 2% pada suhu 40 C selama 1 jam.

Setelah itu kain dicelup pada larutan ekstrak kulit bawang bombay secara perendaman pada suhu 30-40 C selama 3 jam. Hasil pencelupan dengan mordan Aluminium sulfat diperoleh nilai ketuaan (K/S): 67,20, ketahanan luntur warna terhadap pencucian yang baik (grey scale (GS): 4) serta nilai gosokan kering dan basah yang sama, yaitu dengan nilai yang cukup baik (staining scale (SS): 3-4).

Tahapan yang panjang dan waktu yang lama pada proses ekstrak dan pencelupan kain kapas dengan kulit bawang bombay yang telah dilakukan sebelumnya membuat penulis ingin mendapatkan proses pencelupan yang lebih mudah, murah, singkat dengan hasil yang baik.

Perbaikan hasil pencelupan dapat diupayakan dengan meneliti faktor-faktor yang mempengaruhi hasil pencelupan diantaranya metode mordan dan jenis zat mordan. Hasil penelitian sebelumnya menunjukkan penggunaan jenis zat mordan mempengaruhi nilai ketuaan warna, kecerahan, kestabilan dan ketahanan luntur warna (Rosyida and Subiyati, 2018) (Siva, 2007; Sanjeda, 2014; Failishnur dkk, 2018, Rosyida, 2018). Metode mordan juga mempunyai pengaruh pada hasil pencelupan (Cardon 2007) (Baaka, N., Mahfoudhi, A., Haddar, W., Mhenni, M 2017). Selain itu berbagai jenis mordan dapat diaplikasikan pada bahan tekstil untuk meningkatkan serapan zat warna alam (Samanta A. K. 2011).

Untuk itu penulis melakukan penelitian dengan memvariasikan jenis mordan dan metode mordan pada proses pencelupan kain kapas dengan ekstrak kulit bawang bombay agar dapat diketahui pengaruhnya terhadap nilai ketuaan warna dan ketahanan luntur warna, khususnya terhadap pencucian dan gosokan. Jenis mordan yang digunakan adalah Aluminium sulfat (Al2(SO4)3) polialuminium khlorida (Aln(OH)mCl3n-m), dan kapur tohor (CaO). Pemilihan garam logam aluminium sebagai mordan yang digunakan dalam penelitian, diantaranya aluminium sulfat karena sampai saat ini jenis mordan tersebut paling banyak digunakan dalam pencelupan zat warna alam dan potensi pencemarannya paling rendah (Rosyida, A.,

(3)

Prosiding Seminar Nasional Industri Kerajinan dan Batik

Membangun Industri Kerajinan dan Batik yang Tangguh di Masa Pandemi

Yogyakarta, 6-7 Oktober 2021 eISSN 2715-7814

Suranto., Masykuri, M. 2021). Variasi metode mordan yang digunakan dalam penelitian adalah:

pre-mordan

, simultan, dan

post-mordan

. Selain itu menjadi alternatif cara untuk pemanfaatan limbah kulit bawang bombay agar dapat mengurangi pencemaran lingkungan.

Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan metode mordan dan jenis mordan yang berbeda pada hasil pencelupan kain kapas dengan ekstrak kulit bawang bombay, khususnya nilai ketuaan warna, ketahanan luntur terhadap pencucian dan gosokan.

METODOLOGI PENELITIAN Bahan Dan Alat

Bahan yang digunakan adalah kain kapas/cotton 100 % (siap celup), kulit bawang bombay

(Allium cepa Linnaeus), polyaluminium khlorida

(PAC), aluminium sulfat/tawas (Al2(SO4)3), dan kapur tohor (CaO), teepol, sabun netral, dan air untuk ekstrak pewarna alam dan proses pencelupan.

Alat yang digunakan dalam pencelupan adalah timbangan analitik, beker glass, kompor gas, gelas ukur, bunsen, pengaduk, penyaring, thermometer, dan pH Meter. Alat untuk evaluasi hasil pencelupan adalah Spectrophotometer, Laundry-O-meter, Crockmeter, Grey scale, dan Staining scale.

Prosedur Kerja 1. Persiapan

a. Pembuatan larutan mordan polyaluminium khlorida (PAC), aluminium sulfat, dan kapur tohor. Ambil air sesuai kebutuhan, masukan pembasah 1 cc/L dan mordan 20 g/L kemudian aduk sampai larut, kemudian diendapkan selama 30 menit sebelum digunakan.

b. Ekstrak zat warna.

Pembuatan larutan Ekstrak kulit bawang bombay dilakukan dengan menyiapkan dan timbang kulit bawang bombay dalam air dengan perbandingan (1:20). Panaskan ekstrak kulit bawang bombay pada suhu 80-90°C selama 30 menit, lakukan pengadukan selama proses ekstrak berlangsung; Setelah ekstrak, dinginkan larutan ekstrak; Lakukan penyaringan pada larutan ekstrak menggunakan alat penyaring agar kotoran dapat dipisahkan dari larutan ekstrak; dan endapkan larutan ekstrak sebelum digunakan.

2. Proses Pencelupan

Proses pencelupan yang dilakukan dengan metode mordan yang berbeda menggunakan prosedur yang berbeda, yaitu:

a. Metode

pre-mordan

: Menyiapkan kain yang akan dicelup dengan melakukan proses

pre-mordan

pada suhu kamar selama 60 menit, kemudian dikeringkan. Selanjutnya kain dicelup pada larutan ekstrak pencelupan dengan suhu kamar selama 60 menit, setelah selesai kain dilakukan pencucian (panas, sabun dan panas), kemudian kain dikeringkan dengan cara diangin-anginkan.

(4)

Prosiding Seminar Nasional Industri Kerajinan dan Batik

Membangun Industri Kerajinan dan Batik yang Tangguh di Masa Pandemi

Yogyakarta, 6-7 Oktober 2021 eISSN 2715-7814

b. Metode

simultan-mordan

: Menyiapkan larutan pencelupan dengan mencampurkan larutan ekstrak dan mordan, kemudian masukkan kain pada larutan pencelupan pada suhu kamar selama 60 menit. Selanjutnya kain dilakukan pencucian (panas, sabun dan panas), kemudian kain dikeringkan dengan cara diangin-anginkan.

c. Metode

post-mordan

: Menyiapkan kain yang akan dicelup dan larutan pencelupan, kemudian kain pada suhu kamar dicelup selama 60 menit. Selanjutnya kain diperas dan dimasukkan dalam larutan mordan pada suhu kamar selama 15 menit, kemudian kain dilakukan pencucian (pencucian panas, sabun dan panas), kain yang telah dimordan kemudian dikeringkan dengan cara diangin-anginkan.

Pengujian ketuaan warna (K/S)

Pengujian nilai ketuaan warna (K/S) pada kain hasil pencelupan dilakukan menggunakan alat uji

Spectrophotometer

Data

Color

600 dan dihitung menggunakan rumus Kubelka tahun 1954. Nilai uji beda warna dilakukan berdasarkan dari nilai kecerahan (

lightness

) terhadap kejenuhan warna (

chromal

) dan corak/arah warna (

hue

) dengan notasi L*, a* dan b*. Nilai L*

menunjukkan tingkat kecerahan warna hasil pencelupan. Nilai a* menunjukkan arah warna kain hasil pencelupan pada warna merah dan hijau, jika nilai a* positif (+) maka menunjukkan arah warna merah dan nilai a* negatif (-) menunjukkan arah warna hijau. Nilai b* menunjukkan arah warna kain hasil pencelupan mengarah pada warna kuning dan biru, jika nila b* positif (+) maka menunjukkan arah warna kuning, sedangkan apabila nilai b* negatif (-) maka menunjukkan arah warna biru (CIE, 1976).

Pengujian ketahanan luntur warna terhadap pencucian

Pengujian ketahan luntur warna terhadap pencucian rumah tangga dan pencucian komersial adalah metoda pengujian tahan luntur warna bahan tekstil dalam larutan pencucian dengan menggunakan salah satu kondisi pencucian komersial yang dipilih, untuk mendapatkan nilai perubahan warna dan penodaan pada kain pelapis. Alat uji Laundry O- Meter berdasarkan standar uji tekstil SNI ISO 105-C06:2010 terhadap nilai penodaan warna dan perubahan warna pada kain hasil pencapan yang diukur menggunakan skala

Grey Scale

dan

Stanning Scale.

Pengujian ketahanan luntur warna terhadap gosokan

Pengujian ketahanan luntur warna terhadap gosokan dilakukan pada kondisi basah dan kering menggunakan alat uji

Crockmeter

berdasarkan standar uji tekstil SNI ISO 105-X12:2012 terhadap nilai penodaan warna dan perubahan warna pada kain hasil pencapan yang diukur menggunakan skala

Stanning Scale.

(5)

Prosiding Seminar Nasional Industri Kerajinan dan Batik

Membangun Industri Kerajinan dan Batik yang Tangguh di Masa Pandemi

Yogyakarta, 6-7 Oktober 2021 eISSN 2715-7814

HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil

Hasil uji ketuaan warna terdapat pada tabel 1.

Tabel 1. Nilai uji ketuaan warna

No. Jenis Mordan K/S L a* b* Warna Hasil Pencelupan Pre-mordan

1 PAC 5,8769 66,3 14,63 48,27

2 Aluminium

Sulfat 6,6508 65,03 13,49 45,12

3 Kapur Tohor 3,6994 72,7 12,12 22,57

Simultan

4 PAC 0,0844 81,87 3,59 31,05

5 Aluminium

Sulfat 2,7135 74,04 8,14 41,59

6 Kapur Tohor 2,338 75,43 9,56 21,5 Post-mordan

7 PAC 3,0874 73,48 8 41,75

8 Aluminium

Sulfat 5,3105 69,96 9,79 49,97

9 Kapur Tohor 4,8832 71,34 12,33 23,86

Keterangan:

Nilai L* menunjukkan tingkat kecerahan warna hasil pencelupan, Nilai a* positif (+) maka menunjukkan arah warna merah, Nilai a* negatif (-) menunjukkan arah warna hijau, Nilai b* positif (+) maka menunjukkan arah warna kuning, Nilai b* negatif (-)

maka menunjukkan arah warna biru

(6)

Prosiding Seminar Nasional Industri Kerajinan dan Batik

Membangun Industri Kerajinan dan Batik yang Tangguh di Masa Pandemi

Yogyakarta, 6-7 Oktober 2021 eISSN 2715-7814

Hasil Uji Ketahanan Luntur Warna Terhadap Pencucian terdapat pada tabel 2.

Tabel 2. Hasil uji ketahanan luntur warna terhadap pencucian Metode

Mordan Jenis Mordan Perubahan warna Penodaan warna

GS CD SS CD

Pre-mordan

PAC 4 2,1 4 4,86

Aluminium Sulfat 4 1,68 4 5,01

Kapur Tohor 4 1,32 4 5,15

Simultan- mordan

PAC 3 3,45 3 8,67

Aluminium Sulfat 3 3,18 3 8,75

Kapur Tohor 3-4 2,91 3-4 6,96

Post-mordan

PAC 4 3,45 4 5,15

Aluminium Sulfat 4 3,18 4 4,87

Kapur Tohor 3-4 2,91 3-4 5,22

Keterangan:

GS: grey scale, SS: staining scale, CD: colour difference

nilai 1 = jelek, 1-2 = jelek, 2 = kurang, 2-3 = kurang, 3 = cukup, 3-4 = cukup baik, 4 = baik, 4-5 = baik, dan 5 = baik sekali.

Hasil Uji Ketahanan Luntur Warna Terhadap Gosokan terdapat pada tabel 3.

Tabel 3. Hasil uji ketahanan luntur warna terhadap gosokan Metode

Mordan Jenis Mordan Gosokan Kering Gosokan Basah

SS CD SS CD

Pre-mordan

PAC 4 2,2 4 4,3

Aluminium Sulfat 4 2,2 4-5 4,0

Kapur Tohor 5 0,6 4-5 3,5

Simultan- mordan

PAC 5 0,6 4-5 3,0

Aluminium Sulfat 5 0,8 4-5 3,0

Kapur Tohor 5 0,6 4-5 3,1

Post-mordan

PAC 5 1,4 4-5 3,5

Aluminium Sulfat 5 0,6 4-5 2,5

Kapur Tohor 5 0,8 4-5 3,0

Keterangan:

GS: grey scale, SS: staining scale, CD: colour difference

nilai 1 = jelek, 1-2 = jelek, 2 = kurang, 2-3 = kurang, 3 = cukup, 3-4 = cukup baik, 4 = baik, 4-5 = baik, dan 5 = baik sekali

Pembahasan Ketuaan Warna

Nilai ketuaan pencelupan kain kapas dengan ekstrak kulit bawang bombay dapat dilihat dari nilai K/S yang secara numerik dapat menunjukkan banyaknya zat warna yang terkandung dalam serat serta menentukan konsentrasi warna pada serat dari banyaknya serapan dan

(7)

Prosiding Seminar Nasional Industri Kerajinan dan Batik

Membangun Industri Kerajinan dan Batik yang Tangguh di Masa Pandemi

Yogyakarta, 6-7 Oktober 2021 eISSN 2715-7814

hamburan cahaya oleh senyawa-senyawa penyerap cahaya pada serat (Bhuiyan, M.A.R., Shaid, A., Bashar, M.M., Sarkar 2016). Hasil uji ketuaan warna dengan menggunakan metode dan jenis zat mordan yang berbeda diperoleh nilai ketuaan warna (K/S), kecerahan (L) dan arah warna (a) dan (b) yang berbeda. Data hasil uji spektrofotomer pada Tabel 1. Uji ketuaan warna, menunjukkan bahwa nilai ketuaan warna pada hasil pencelupan dengan metode

pre-mordan

dengan mordan aluminium sulfat diperoleh nilai yang lebih tinggi dibanding metode simultan dan

post-mordan

dengan jenis zat mordan dari PAC dan Kapur.

Hasil analisa data dengan faktorial ganda menunjukkan bahwa metode mordan dan jenis mordan mempengaruhi nilai ketuaan warna. Metode mordan mempengaruhi sedikit banyaknya kandungan mordan (unsur aluminium) yang terserap pada serat/kain. Menurut Vankar (Vankar & Shanker, 2009) dan Fitriana (Fitrihana, 2007), mordan dapat meningkatkan afinitas zat warna alam terhadap serat. Ini berarti semakin banyak kandungan aluminium pada serat/kain dapat meningkatkan afinitas zat warna pada serat serta pembentukan jembatan kimia antara zat warna alam dengan serat sehingga zat warna yang berikatan dengan serat jumlahnya lebih banyak sehingga hasil celupan diperoleh warna yang lebih tua.

Nilai ketuaan pada hasil pencelupan dengan metode

pre-mordan

lebih tinggi dibanding metode simultan dan

post-mordan

karena sebelum dicelup, kain dalam kondisi bersih di proses mordan terlebih dulu sehingga kain dapat menyerap zat mordan lebih banyak.

Banyaknya kandungan mordan pada serat dapat menambah afinitas zat warna pada serat sehingga zat warna dapat terserap masuk ke dalam serat dan berikatan dengan serat dengan jumlah yang lebih banyak sehingga diperoleh warna hasil pencelupan yang lebih tua. Pada metode simultan, warna hasil celupan paling muda dibanding

pre

dan

post-mordan

. Ini disebabkan dalam proses pencelupan ada pembentukan senyawa antara zat warna/

quercetin

dengan mordan sehingga terjadi penggumpalan sebagian zat warna yang menyebabkan zat warna mengendap dalam larutan pencelupan. Pada metode

post-mordan

, warna hasil pencelupan lebih muda dibandingkan pada

pre-mordan

. Ini karena pada proses

post-mordan

, kain di celup pada larutan zat warna terlebih dahulu setelah itu baru di mordan sehingga zat warna yang terserap pada serat jumlahnya terbatas. Tanpa adanya zat mordan pada kain menyebabkan zat warna yang diserap oleh kain lebih sedikit karena afinitas zat warna pada serat sellulosa terbatas sehingga diperoleh hasil pencelupan dengan warna yang lebih muda.

Jenis zat mordan mempengaruhi nilai ketuaan warna, penggunaan aluminium sulfat memberikan hasil pencelupan yang lebih tua dibanding PAC dan kapur. Penggunaan PAC dalam proses pencelupan dengan ekstrak kulit bawang bombay diperoleh ketuaan warna yang lebih rendah karena PAC adalah polimer garam logam aluminium yang mudah membentuk ikatan dengan molekul zat warna sehingga dimungkinkan dalam penggunaannya PAC lebih banyak mengikat zat warna diluar serat sehingga zat warna mudah lepas kembali dari serat saat dilakukan pencucian. Pada penggunaan kapur diperoleh nilai ketuaan yang lebih rendah dibanding aluminium sulfat karena logam Kalsium (Ca) yang terkandung pada kapur merupakan logam alkali tanah yang sangat reaktif dan mudah bereaksi dengan zat lain membentuk senyawa. Pada pencelupan Ca akan mudah bereaksi dengan H2O membentuk

(8)

Prosiding Seminar Nasional Industri Kerajinan dan Batik

Membangun Industri Kerajinan dan Batik yang Tangguh di Masa Pandemi

Yogyakarta, 6-7 Oktober 2021 eISSN 2715-7814

basa (Chang, 2012) sehingga fungsinya sebagai mordan berkurang yang menyebabkan tidak banyak molekul zat warna yang dapat diikat oleh Ca dalam serat. Ini menyebabkan ketuaan warna yang dihasilkan lebih rendah dibanding pada penggunaan aluminium sulfat.

Nilai K/S tertinggi: 6,6508 diperoleh pada pencelupan dengan metode

pre-mordan

menggunakan aluminium sulfat. Pada metode simultan mordan, nilai K/S tertinggi diperoleh dari hasil celupan dengan mordan alumunium sulfat sedangkan nilai K/S: 2,71. Pada metode post mordan, nilai K/S tertinggi diperoleh dari hasil celupan dengan mordan alumunium sulfat sedangkan nilai K/S: 5,11.

Ketahanan luntur warna terhadap pencucian

Hasil uji ketahanan luntur warna terhadap pencucian, baik pada nilai perubahan dan penodaan warna ditunjukkan pada Tabel 2. Hasil uji ketahanan luntur warna terhadap pencucian dan hasil analisa data dengan analisa faktorial ganda menunjukkan bahwa variasi metode mordan dan jenis zat mordan memiliki pengaruh terhadap nilai perubahan warna dan penodaan warna pada kain hasil pencelupan dengan ekstrak kulit bawang bombay

(Allium cepa Linnaeus).

Pada metode

pre-mordan

diperoleh nilai perubahan dan penodaan yang lebih baik dibanding metode simultan dan

post-mordan

. Pada metode simultan mordan diperoleh nilai perubahan dan penodaan yang paling rendah karena ikatan molekul zat warna dengan serat banyak terjadi dipermukaan serat. Hal ini disebabkan telah terjadi pembentukan senyawa kompleks logam antara molekul zat warna dengan mordan sehingga dengan ukuran yang besar molekul zat warna tidak dapat masuk ke dalam serat melalui pori serat. Senyawa kompleks logam yang ada dipermukaan serat akan berikatan dipermukaan serat dan pada saat dilakukan pencucian akan terlepas kembali sehingga terjadi perubahan warna pada kain hasil pencelupan dan menodai kain putih pada sampel uji pencucian. Pada metode

post- mordan

diperoleh nilai perubahan dan penodaan yang baik (hampir sama dengan

pre- mordan

kecuali pada mordan kapur). Hal ini disebabkan pada pencelupan dengan metode

post-mordan

, proses pemordanan dilakukan di akhir proses pencelupan. Dalam proses pencelupan selama 60 menit, molekul zat warna mempunyai kesempatan untuk difusi dan terabsorbsi kedalam serat sehingga ikatan hidrogen yang mudah putus oleh pencucian menyebabkan saat dilakukan uji pencucian masih ada sedikit zat warna yang keluar dari serat antara zat warna dengan serat terbentuk di dalam serat. Ini menyebabkan molekul zat warna yang ada di dalam serat sulit keluar dari serat walaupun dilakukan uji pencucian.

Metode mordan berpengaruh pada nilai perubahan dan penodaan warna kain hasil pencelupan karena metode mordan dapat mempengaruhi sedikit banyaknya mordan yang terserap pada kain. Banyaknya logam mordan yang terserap pada kain mempengaruhi banyaknya zat warna yang terserap dan berikatan dengan serat. Semakin banyak logam mordan akan semakin banyak senyawa kompleks logam yang terbentuk dalam serat.

Pembentukan senyawa kompleks logam yang stabil dalam serat menyebabkan serat dapat mempertahankan molekul zat warna yang ada di dalam serat dari pengerjaan basah dan

(9)

Prosiding Seminar Nasional Industri Kerajinan dan Batik

Membangun Industri Kerajinan dan Batik yang Tangguh di Masa Pandemi

Yogyakarta, 6-7 Oktober 2021 eISSN 2715-7814

kimia (Gordon & Gregory, 1983). Namun karena ikatan yang terbentuk antara serat dengan zat warna hanyalah ikatan hidrogen yang mudah putus oleh pencucian menyebabkan saat dilakukan uji pencucian masih ada sedikit zat warna yang keluar dari serat. Adanya gerakan mekanis pada uji pencucian juga dapat menyebabkan ikatan zat warna dengan serat yang lemah dapat putus kembali sehingga menodai kain putih yang digunakan sebagai kain pelapis dalam pengujian.

Ketahanan luntur warna terhadap gosokan

Hasil uji ketahanan luntur warna terhadap uji gosok ditunjukkan pada Tabel 3. Pada tabel tersebut dapat dilihat bahwa hampir semua kain hasil pencelupan memiliki gosokan kering dengan nilai yang sangat baik sedangkan pada gosokan basah mempunyai nilai yang baik. Ini menunjukkan bahwa pada kain hasil pencelupan mempunyai ketahanan luntur yang baik – sangat baik terhadap gosokan. Hasil analisa data dengan anova ganda menunjukkan bahwa faktor jenis mordan tidak berpengaruh terhadap nilai uji gosokan kering dan basah tetapi faktor metode mordan berpengaruh terhadap nilai uji gosok kering dan basah pada kain hasil pencelupan.

Penggunaan jenis mordan yang berbeda ternyata tidak berpengaruh terhadap nilai gosokan kering dan basah pada kain hasil pencelupan zat warna alam dari ekstrak kulit bawang Bombay. Ini karena ketiga jenis mordan yang digunakan merupakan jenis mordan yang dapat menjembatani terbentuknya semakin besarnya gaya ikatan yang terjadi antara serat dan zat warna oleh adanya mordan menyebabkan zat warna mempunyai kekuatan mekanik pada permukaan kain sehingga zat warna mempunyai ketahanan yang lebih baik ketika diberikan gosokan pada permukaan kain (Moiz, A., Alen, A. M., Kausar, N., Ahmed, K., &

Sohail 2010).

Penggunaan metode mordan yang berbeda ternyata mempengaruhi nilai gosokan kering dan basah pada hasil pencelupan zat warna alam dari ekstrak kulit bawang bombay.

Penggunaan metode mordan yang berbeda menyebabkan jumlah mordan yang dapat terserap dan berikatan dengan serat berbeda. Semakin banyak mordan yang terserap pada serat/kain akan semakin banyak mordan yang dapat berikatan dengan molekul zat warna membentuk senyawa kompleks logam dengan ukuran yang lebih besar di dalam serat.

Semakin banyak senyawa kompleks logam di dalam serat menyebabkan zat warna mempunyai kekuatan mekanik yang semakin besar pada permukaan kain sehingga ketahanan gosokan pada permukaan kain akan berbeda.

Nilai penodaan pada uji gosokan basah lebih rendah dibanding gosokan kering karena pada kondisi basah, serat akan mengalami penggelembungan sehingga pori-pori serat menjadi lebih terbuka. Pembasahan juga dapat menyebabkan zat warna dalam serat larut dan keluar kembali dari serat oleh gosokan mekanik yang diberikan pada permukaan kain/serat saat uji gosokan dilakukan sehingga dapat menodai kain putih yang digunakan dalam pengujian.

(10)

Prosiding Seminar Nasional Industri Kerajinan dan Batik

Membangun Industri Kerajinan dan Batik yang Tangguh di Masa Pandemi

Yogyakarta, 6-7 Oktober 2021 eISSN 2715-7814

KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan

Faktor metode mordan dan jenis mordan pada pencelupan kain kapas dengan ekstrak kulit bawang bombay berpengaruh terhadap nilai ketuaan warna nilai K/S tertinggi: 6,6508 diperoleh pada pencelupan dengan metode

pre-mordan

menggunakan aluminium sulfat dan ketahanan luntur warna terhadap pencucian nilai terbaik pada metode

pre-mordan

aluminium sulfat dengan nilai 4. Metode mordan berpengaruh terhadap nilai gosokan basah dan kering tetapi jenis mordan tidak berpengaruh terhadap nilai gosokan kering dan basah pada kain hasil pencelupan nilai pada gosokan kering dan basah terbaik yaitu 5 dan 4-5 pada metode

post- mordan

aluminium sulfat.

Saran

Pada penelitian berikutnya sebaiknya digunakan mordan alam untuk dapat dibandingkan hasilnya dengan penggunaan mordan kimia.

KONTRIBUSI PENULIS

Semua penulis memiliki kontribusi yang sama dalam melakukan penelitian dan penulisan naskah ini.

UCAPAN TERIMA KASIH

Terima kasih disampaikan kepada Manajemen PT. Dan Liris yang telah memberikan izin untuk melakukan pengujian ketuaan warna di Laboratorium Evaluasi Departemen

Dyeing Printing

PT. Danliris

.

Ucapan terimakasih juga kami sampaikan kepada Bapak Ahmad Priyanto yang telah membantu dalam pengujian spektrofotometer.

DAFTAR PUSTAKA

Baaka, N., Mahfoudhi, A., Haddar, W., Mhenni, M, F. 2017. “Green Dyeing Process of Modified Cotton Fibres Using Natural Dyes Extracted from Tamarix Aphylla (L.” Natural Product Research 31(1):22–

31.

Bhuiyan, M.A.R., Shaid, A., Bashar, M.M., Sarkar, P. 2016. “Investigation on Dyeing Permormance of Basic and Reactive Dyes Concerning Jute Fiber Dyeing.” Journal of Natural Fibers 13:492–501.

Cardon, D. And Chaenetgidu. 2007. Natural Dyes : Sources, Tradition, Technology and Science. London:

Archetype.

Chang, R. 2012. Chemistry.

Fitrihana, N. 2007. “Teknik Eksplorasi Zat Pewarna Alami Dari Tanaman Di Sekitar Kita Untuk Pencelupan Bahan Tekstil.” Universitas Negeri Yogyakarta.

Gordon, P. F., & Gregory, P. (1983). Organic Chemistry in Colour. New York: Springer-Verlag.

Moiz, A., Alen, A. M., Kausar, N., Ahmed, K., & Sohail, M. 2010. “Study The Effect Of Metal ION On Wall Fabric Dyeing With Tea As Natural Dye.” Journal of Saudi Chamical Society 69–76.

Padma S. Vankar, Rakhi Shanker, Samudrika Wijayapala. 2009. “Pencelupan Kapas, Wol Dan Sutra Dengan Ekstrak Allium Cepa.” Pigment & Resin Technology 38(4):242 – 247.

Rosyida, A., Suranto., Masykuri, M., &. Margono. (2021). 2021. “Minimisation of Pollutionin the Cotton Fabric Dyeing Process with Natural Dyes by the Selection of Mordan Type.” Journal of Textile and

(11)

Prosiding Seminar Nasional Industri Kerajinan dan Batik

Membangun Industri Kerajinan dan Batik yang Tangguh di Masa Pandemi

Yogyakarta, 6-7 Oktober 2021 eISSN 2715-7814

Apparel.

Rosyida, Ainur, and Subiyati. 2018. “Teknik Pewarnaan Kain Batik Sutera Dengan Zat Warna Alam Beserta Proses Penyempurnaannya Untuk Meningkatkan Kwalitas Dan Daya Saing Batik Indonesia.”

Akademi Teknologi Warga Surakarta.

Samanta A. K., and Konar A. 2011. “Dyeing of Textiles with Natural Dyes, Natural Dyes.” P. ISBN: 978- 953-307-783-3 in Dr. Emriye Akcakoca Kumbasar (Ed.).

(12)

Prosiding Seminar Nasional Industri Kerajinan dan Batik

Membangun Industri Kerajinan dan Batik yang Tangguh di Masa Pandemi

Yogyakarta, 6-7 Oktober 2021 eISSN 2715-7814

LEMBAR TANYA JAWAB

Judul Makalah : Pengaruh Metode Dan Jenis Mordan Pada Pencelupan Kain Kapas Dengan Ekstrak Kulit Bawang Bombay (Allium Cepa Linneus) Secara Rendaman

Moderator : Irfa’ina Rohana Salma, S.ST. M.Sn. (Balai Besar Kerajinan dan Batik) Notulen : Novita Ekarini, S.ST. (Balai Besar Kerajinan dan Batik)

1. Penanya Pertanyaan

Jawaban : :

:

Irfa’ina Rohana Salma (Balai Besar Kerajinan dan Batik)

Jelaskan alasan pemilihan mordan polyaluminium clorida (PAC) dan jelaskan jenis mordanya asam atau basa? Apakah limbah PAC ini aman di buang ke lingkungan dan apakah Senyawa PAC ini mudah di dapatkan?

Alasan menggunakan mordan polyaluminium clorida (PAC) karena senyawa tersebut adalah polimer yang mengandung jumlah aluminium (AL ) yang banyak.

Zat tersebut bersifat alkali dengan Ph asam.

Senyawa PAC ini aman saat di buang ke lingkungan karena bersifat koagulan.

PAC ini mudah di dapatkan di toko kimia dengan harga 40.000/kg

Gambar

Tabel 1. Nilai uji ketuaan warna
Tabel 3. Hasil uji ketahanan luntur warna terhadap gosokan  Metode

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam bentuk empisris terhadap teori manajemen keuangan yang berhubungan dengan pengaruh manajemen modal kerja

L., 2019, Effect of Red Onion (Allium cepa var ascalonicum) Skin Ethanolic Extract on the Motility and the Adhesion Index of Pseudomonas aeruginosa and Macrophage Phagocytosis

Rugi Periode Berjalan Yang Dapat Diatribusikan Kepada Pemilik Perusahaan: meningkat sebesar 471,3% dibandingkan 9B 2012 yang utamanya disebabkan oleh meningkatnya rugi selisih

Dari hasil Uji Kecukupan Data tersebut perlu dilakukan pengamatan lagi hingga data yang diambil mencukupi , sehingga perlu dilakukan pengamatan selanjutnya dan hasil

Karena itu sebagaiman penulisan sebelumnya yang dilkukan oleh Suntoko melalui skripsinya dengan tujuan mengangkat nilai-nilai dalam pendidikan adat Kambik dengan

Diperolehnya nilai gosokan kering yang baik sekali pada kain hasil proses pencapan karena daun marenggo termasuk zat warna mordan, dimana mordan yang digunakan

Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan variasi konsentrasi mordan dan metode mordan yang berbeda pada hasil pencelupan kain kapas