PENGARUH METODE MORDAN ALAM DAUN SIMPLOKOS PADA PENCAPAN KAIN KAPAS DENGAN ZAT WARNA ALAM DAUN MARENGGO (
Chromolaena odorata L
)The effect of the natural mordant methods symplocos leaves on cotton fabric printing with natural dyes of marenggo leaves
Aji Indras Laksono¹, Subiyati²
¹ ² Prodiki Kimia Tekstil Sekolah Tinggi Teknologi Warga Surakarta Jl. Raya Solo-Baki Km. 2, Kwarasan, Grogol, Solo Baru, Sukoharjo
Korenspondesi Penulis
Email : [email protected]
Kata kunci: zat warna alami, daun marenggo, mordan alami, daun simplokos, pencapan Keywords: natural dyes, marenggo leaf, bio-mordant, symolocos leaf, printing
ABSTRAK
Penggunaan mordan kimia dalam pewarnaan zat warna alami dapat mencemari lingkungan karena mordan mengandung logam berat sehingga perlu dicari jenis mordan alam yang bersifat lebih ramah lingkungan. Proses pencapan kain kapas dengan zat warna alami dari ekstrak daun marenggo (Chromolaena odorata L) menggunakan biomordan dari daun simplokos (Symplocos fasciculata Z).
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh metode mordan terhadap hasil pencapan.
Metode pencapan dilakukan dengan air hanging menggunakan pengental PVA. Variabel bebasnya adalah metode mordan (pre, meta, dan post-mordan) sedangkan variabel terikatnya adalah ketuaan warna, ketahanan luntur warna terhadap gosokan dan penyetrikaan. Hasil analisa data dengan Anova tunggal menunjukkkan bahwa metode mordan mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap nilai ketuaan warna (K/S), tetapi tidak berpengaruh pada ketahanan luntur warna terhadap gosokan dan penyetrikaan. Hasil percobaan terbaik diperoleh pada pencapan dengan metode post-mordan dengan nilai K/S: 7,7, nilai gosokan basah dan kering (SS: 5), nilai penyetrikaan basah dan lembab (GS: 4-5 dan SS: 4-5), dan nilai penyetrikaan kering (GS: 4-5 dan SS:5). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan biomordan daun simplokos dapat meningkatkan kualitas hasil pencapan zat warna alami sehingga sangat direkomendasikan pengunaannya sebagai pengganti mordan kimia.
ABSTRACT
The use of chemical mordant in natural dyeing can pollute the environment because mordant contains heavy metals, so it is necessary to find a type of bio mordant that is more environmentally friendly to replace it. In this study, the process of printing cotton fabric with natural dyes from marenggo leaf extract (Chromolaena odorata L) using bio mordant from simplokos leaves (Symplocos fasciculata Z). This study aims to determine the effect of the mordant method on the printing results.
The printing method was carried out by air hanging using a PVA thickener. The independent variable studied was the mordant method (pre, meta, and post-mordants) while the dependent variables were color strength and color fastness to rubbing and ironing. The results of data analysis with One-Way Anova showed that the mordant method had a significant effect on the value of color strength (K/S) but had no effect on color fastness to rubbing and ironing. The best experimental results were obtained on printing using the post-mordant method with K/S values: 7.7, wet and dry rubbing values (SS: 5), wet and damp ironing values (GS: 4-5 and SS: 4-5), and dry ironing value (GS: 4-5 and SS:5).
The results showed that the use of symplocos leaf bio mordant could improve the quality of the natural dye printing results, so it is highly recommended to use it as a substitute for chemical mordant.
C.05 | 2 PENDAHULUAN
Proses pencapan pada serat alam maupun serat buatan banyak menggunakan zat warna sintetis karena mudah dilakukan juga mudah didapatkan. Penggunaan zat warna sintetis di Indonesia yang mendominasi pewarnaan bahan tekstil menyebabkan banyak pencemaran lingkungan. Zat warna sintetis dengan gugus azo, mengandung senyawa amino aromatis dan diduga menyebabkan penyakit kanker kulit atau karsinogenik (Lestari 2002). Pewarna alami merupakan pewarna yang tidak toksik, dapat diperbaharui (
renewable
), mudah terdegradasi, dan ramah lingkungan (Yernisa, Sa’id, dan Syamsu, 2013). Sebagian besar zat pewarna alami termasuk dalam zat warna mordan, sebagai contoh zat warna dari daun jati memerlukan mordan dari aluminium sulfat yang berfungsi sebagai mordan (Visalakshi dan Jawaharlal, 2013). Untuk itu pada pewarnaan dengan zat warna alam diperlukan penguat warna (mordan) yang dapat mencegah warna agar tidak luntur dari kain. Aluminium sulfat, kapur tohor, cupri sulfat, kalium dikromat, dan ferro sulfat merupakan jenis mordan kimia yang sering digunakan oleh industri tekstil. Pemakaian mordan kimia yang berlebihan ini dapat meracuni biota yang hidup di perairan seperti sungai karena mordan kimia mengandung logam berat. Logam-logam dari mordan kimia ini sangat berbahaya walaupun kadarnya relatif kecil karena mudah diserap dan terakumulasi secara biologis oleh biota air.Logam-logam tersebut bila terserap dan terakumulasi pada tubuh manusia dapat mengganggu kesehatan hingga ada beberapa kasus hingga menyebabkan kematian (Pranoto dan Mawahib, 2003).
Tumbuhan Marenggo (
Chromolaena odorata L
) merupakan tumbuhan liar yang mudah tumbuh dalam waktu singkat dan dapat diambil daunnya, tumbuhan ini belum mempunyai nilai ekonomis dan belum ada yang memanfaatkan. Daun marenggo mengandungflavonoid
(Andika, Halimatussakdiah, dan Amna 2020; Hidayatullah, 2018; Panjaitan, 2017). Adanya kandunganflavonoid
yang mempunyai warna pigmen kuning (Arifin dan Ibrahim, 2018) menyebabkan daun marenggo dapat digunakan sebagai bahan pewarna alami. Suheryanto, (2014) telah melakukan penelitian pencelupan kain kapas/katun primissima menggunakan ekstrak daun marenggo dengan cara pencelupan pada kain kapas yang diprosespre- mordan
dengan aluminium sulfat lalu dilakukan proses pencelupan dengan larutan ekstrak daun marenggo, selanjutnya kain yang telah dicelup dilakukan proses iring dengan larutan kapur. Hasil pencelupan diperoleh warna kuning pada kain.Penggunaan mordan kimia yang dilakukan secara terus-menerus akan menyebabkan pencemaran lingkungan terutama pada perairan, oleh sebab itu perlu adanya inovasi untuk menggantikan mordan kimia dengan mordan alam yang lebih ramah lingkungan, salah satu dengan daun simplokos/Loba (
Symplocos fasciculata
Z). Hasil penelitian terdahulu bahwa daun simplokos dapat digunakan sebagai campuran dalam pewarnaan kain tenun dengan hasil warna yang cerah dan tajam di Lombok, NTT (Hadi dan Pamungkas, 2012) dan di desa Pejeng, Gianyar, Bali (Hanum, Darma, dan Sumerta 2012). Siswadi danC.05 | 3 Hadi (2011) mengatakan bahwa daun simplokos banyak mengandung logam aluminium (Al) yang terdeteksi sebesar 49.775 ppm sehingga dapat digunakan sebagai pengikat warna alam yang ramah lingkungan karena mengandung unsur aluminium dengan konsentrasi yang tingginya. Hanum
et al.
(2012) mengatakan bahwa penggunaan mordanSymplocos fasciculata
ini bersamaan dengan proses pewarnaan, dengan cara daun yang kering ditumbuk kemudian dicampur dengan adonan pewarna alami.Berbeda dengan penelitian terdahulu, tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh metode mordan alami menggunakan daun simplokos terhadap kualitas warna khusunya nilai ketuaan, ketahanan luntur warna terhadap gosokan, dan penyetrikaan pada kain.
METODOLOGI PENELITIAN Bahan dan Alat
Bahan yang digunakan dalam penelitian adalah warna alam dari ekstrak daun marenggo (
Chromolaena odorata L
), pengentalPolyvinil Alchohol
(PVA), dan mordan alam dari bubuk daun simplokos (Symplocos fasciculata
Z). Selain itu proses pencapan ini menggunakan kain katun siap cap (primissima), dengan zat pembantu yaituTukish Red Oil
(TRO) dan sabun lerak. Peralatan yang digunakan untuk pencapan yang digunakan adalahscreen
dan rakel.Sedangkan peralatan untuk ektraksi zat warna adalah alat ekstraksi, termometer,
beaker glass,
saringan, pengaduk, timbangan analitik, kompor. Alat untuk membuat pengental dan pasta cap adalah gelas plastik danmixer,
dan alat untuk pengujian ketuaan warna (spektrophotometer
), ketahanan luntur warna terhadap gosokan AATCCrockmeter
dan panas penyetrikaan dengan setrika.Metode
Pencapan dilakukan pada kain kapas dengan metode fiksasi
air hanging
menggunakan pengental PVA. Variabel bebas yang diteliti adalah metode mordan (pre
,meta
, danpost- mordan
) sedangkan variabel terikatnya adalah ketuaan warna, ketahanan luntur warna terhadap gosokan dan panas penyetrikaan.Prosedur Kerja
Persiapan Larutan Ekstrak Daun Marenggo
Bahan pewarna alam dari daun marenggo, diekstrak dengan perbandingan 1:2, artinya setiap 1 kg daun marenggo diektrak dalam 2 L air dengan cara pemanasan sampai mendidih.
Pada saat awal mendidih, ditambahkan 10 gr daun simplokos ke dalam ekstrak daun marenggo dan direbus bersama selama 20 menit sampai volume larutan ekstrak menjadi 0,8
L.
Larutan ekstrak kemudian disaring dan didiamkan semalam, kemudian endapan pada larutan ekstrak dipisahkan dan larutan ekstrak siap digunakan.C.05 | 4 Persiapan Kain
Mempersiapkan kain katun primissima 100% siap cap dengan melakukan tes kanji menggunakan larutan Kalium Iodida (KI). Kain katun primissima ditetesi larutan KI dan dilihat warna pada kain, bila berwarna selain kuning berarti kain masih mengandung kanji.
Melakukan uji netralitas pada kain dengan menetesi kain menggunakan indikator
Phenolphtlein
(PP) dan MethylOrange
(MO), bila indikator PP diteteskan dan berubah menjadi merah muda berarti kain mengandung alkali, sedangkan kain ditetesi larutan MO dan berubah warna menjadi merah berarti kain mengandung asam. Selain itu, kain dicelupkan pada 3 g/L larutanTurkish Red Oil
(TRO) selama 12 jam kemudian dikeringkan dengan caraair-hanging
hingga sedikit lembab selama 1,5 jam.Persiapan pengental dan pasta cap
Pembuatan pengental induk
Polivinyl Alcohol
(PVA) dengan menggunakan viskositas sedang (8%) dilakukan dengan menimbang 16 g PVA kemudian dilarutkan dalam 184 g air dan diaduk hingga rata. Pembuatan pasta cap untuk metodepre-mordan
danpost-mordan
dengan tahapan sebagai berikut: menimbang pengental induk PVA 60 g dan ekstrak daun marenggo 40 g, diaduk hingga rata, dan pasta cap siap digunakan. Pembuatan pasta cap untuk metodemeta-mordan
dilakukan dengan menimbang pengental induk PVA sebesar 50 g, ekstrak daun marenggo 40 g, dan bubuk daun simplokos 10 g kemudian diaduk hingga rata.Pembuatan larutan mordan
Pembuatan larutan mordan, dilakukan dengan cara sebagai berikut: Menimbang 10 g bubuk daun simplokos, dimasukkan ke dalam 0,5 L air dan diamkan selama satu malam atau 12 jam, diperoleh larutan mordan berwarna coklat kekuningan. Pisahkan endapan bubuk daun simplokos dengan larutan mordan sehingga larutan mordan siap digunakan.
Proses pencapan kain dengan metode
pre-mordan
Proses
pre-mordan
dilakukan dengan cara: kain katun primissima direndam pada larutan mordan dengan suhu kamar selama 30 menit dengan larutan mordan, kemudian kain dikeringkan dengan caraair-hanging
selama 1,5 jam (sampai diperoleh kain yang sedikit lembab). Kain kapas yang telah dipre-mordan
dilakukan proses pengeringan hingga sedikit lembab, kemudian kain dilakukan proses pencapan dengan pasta cap. Kain dicap dengan kasa datar digesut sebanyak 7 kali, lalu dikeringkan selama 6 jam dan kemudian kain dicuci.Proses pencapan kain dengan metode
meta-mordan
Kain kapas dilakukan proses pencapan dengan pasta cap yang telah ditambahkan dengan mordan. Kain dicap dengan kasa datar digesut sebanyak 7 kali, lalu dikeringkan dengan cara
air-hanging
selama 6 jam dan kemudian kain dicuci.Proses pencapan kain dengan metode
post-mordan
Kain kapas dilakukan proses pencapan dengan pasta cap. Kain dicap dengan kasa datar digesut sebanyak 7 kali, lalu dikeringkan dengan cara
air-hanging
selama 1 jam. SelanjutnyaC.05 | 5 kain dilakukan proses pemordanan (
post-mordan)
dengan cara mencelupkan kain pada larutan mordan selama 30 menit pada suhu kamar dan dikeringkan secaraair-hanging
selama 6 jam dan kemudian kain dicuci.Pengujian
Pengujian kain katun hasil pencapan meliputi uji nilai ketuaan warna (K/S), ketahanan luntur warna terhadap gosokan dan panas penyetrikaan. Uji ketuaan warna dilakukan untuk mengetahui arah warna dengan alat
Spectrophotometer
DataColor
600 dan dihitung dengan menggunakan rumus dari Kubelka (1954). Pengujian ini melihat dari nilai L*bermakna semakin cerah dan semakin rendah nilai L* warna mengarah ke hitam/gelap. Nilai a* mengarah ke merah atau hijau, apabila nilai a* bernilai positif (+) menunjukkan ke arah warna merah dan apabila bernilai negatif (-) cenderung ke arah warna hijau. Untuk nilai b*
mengarah ke warna kuning atau warna biru, apabila b* bernilai positif (+) cenderung ke arah kuning dan nilai negatif (-) cenderung ke arah biru (CIE, 1976).
Pengujian terhadap gosokan basah dan kering berdasarkan SNI Tekstil yaitu SNI 08- 0288-1989 yang dinyatakan dengan adanya penodaan warna pada kain putih yang digunakan untuk menggosok kain hasil pencapan. Ketahanan luntur warna terhadap panas penyetrikaan dinyatakan dengan adanya perubahan warna dan penodaan warna pada kain hasil pencapan dengan berdasarkan SNI ISO 105-XII:2010.
HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil
Tabel 1. Nilai K/S uji ketuaan warna No Metode
Mordan Nilai Warna Kain Hasil Pencapan
K/S L* a* b*
1 Pre-
mordan 5,321 77,84 -1,09 37,26
2 Meta-
mordan 5,448 74,56 -1,19 40,07
3 Post-
mordan 7,732 76,27 -2,08 43,44
Keterangan:
K/S = Nilai ketuaan warna, L* = Lightness, a*+ = Arah warna merah, a*- = Arah warna hijau, b*+ = Arah warna kuning, b*- = Arah warna biru.
C.05 | 6 Tabel 2. Nilai rata-rata Staining Scale (SS) pada ketahanan luntur warna
terhadap gosokan kering dan basah.
Kondisi Pre-mordan Meta-mordan Post-mordan
SS CD SS CD SS CD
Kering 5 0,44 5 0,44 5 0,44
Basah 3-4 5,32 4 4,64 5 0,88
Keterangan:
1 = Sangat Jelek, 1-2 = Jelek, 2 = Kurang, 2-3 = Kurang, 3 = Cukup, 3-4 = Cukup baik, 4 = baik, 4-5 = Baik, 5 = Baik Sekali
Tabel 3. Nilai rata-rata Staining Scale (SS) pada ketahanan luntur warna terhadap penyletikaan kering, lembab, dan basah.
Kondisi Pre-mordan Meta-mordan Post-mordan
SS CD SS CD SS CD
Kering 4-5 1,32 4-5 1,32 5 0,88
Lembab 3-4 5,32 4 4,56 4-5 2,2
Basah 3 6,4 3-4 5,66 4-5 2,62
Keterangan:
1 = Sangat Jelek, 1-2 = Jelek, 2 = Kurang, 2-3 = Kurang, 3 = Cukup, 3-4 = Cukup baik, 4 = baik, 4-5 = Baik, 5 = Baik Sekali
Tabel 4. Nilai rata-rata Grey Scale (GS) pada ketahanan luntur warna terhadap panas penyetrikaan kering, lembab, dan basah.
Kondisi Pre-mordan Meta-mordan Post-mordan
GS CD GS CD GS CD
Kering 4-5 0,48 4-5 0,98 4-5 0,32
Lembab 3-4 2,18 4 2,02 4-5 0,82
Basah 3 2,88 3-4 2,18 4-5 0,98
Keterangan:
1 = Sangat Jelek, 1-2 = Jelek, 2 = Kurang, 2-3 = Kurangv, 3 = Cukup, 3-4 = Cukup baik, 4 = baik, 4-5 = Baik, 5 = Baik Sekali
Pembahasan
Pengujian Ketuaan warna/Arah Warna (L*, a*, dan b*)
Berdasarkan data hasil uji spektrofotometer pada Tabel 1 dan hasil perhitungan anova tunggal menunjukkan bahwa nilai ketuaan warna (K/S) pada kain hasil pencapan diperoleh nilai yang berbeda pada penggunaan metode mordan yang berbeda. Nilai K/S tertinggi yaitu 7,721 ditunjukkan pada penggunaan metode
post-mordan
karena pada prosespost-
mordan
, ikatan yang terjadi antara molekul zat warna, serat, dan mordan terjadi dalamC.05 | 7 jumlah yang lebih banyak. Hal ini terjadi karena setelah terjadi proses pencapan dan diikuti dengan pengeringan secara
air-hanging
dengan waktu 1 jam menyebabkan molekul zat warna mempunyai kesempatan untuk dapat terpenetrasi ke dalam serat dalam jumlah yang lebih banyak sebelum dilakukan proses pemordanan. Pada saat proses mordan dilakukan maka molekul zat warna alam yang sudah ada di dalam serat akan diikat oleh mordan pada serat dalam jumlah yang lebih banyak sehingga nilai ketuaan warna pada metodepost- mordan
menjadi paling tinggi.Metode
meta-mordan
didapatkan hasil yang baik dengan nilai K/S 5,448 lebih rendah dari pada metodepost-mordan
. Hal ini disebabkan karena zat warna dan mordan (daun simplokos) yang telah tercampur dalam pasta cap dapat menyebabkan terjadinya ikatan antara zat warna dengan mordan sebelum zat warna terserap oleh serat. Ikatan antara mordan dengan beberapa molekul zat warna menyebabkan terbentuknya senyawa kompleks dengan ukuran yang lebih besar ukurannya. Hal ini menyebabkan zat warna tidak dapat terpenetrasi dan berikatan dengan serat dalam jumlah yang banyak di dalam serat karena dengan ukuran yang besar sulit untuk masuk ke dalam serat melalui pori serat. Sebagian molekul zat warna yang telah membentuk senyawa kompleks akan berikatan diluar serat menyebabkan zat warna mudah larut dan terlepas kembali saat dilakukan pencucian.Metode
pre-mordan
didapatkan nilai ketuaan warna yang paling rendah karena pada awal proses, kain dilakukan pemordanan. Murniati dan Takandjandji (2015) mengatakan bahwa daun simplokos juga dimanfaatkan sebagai pewarna alami. Selain itu, larutanpre- mordan
berwarna coklat kekuningan. Hal ini menyebabkan saat dilakukan pemordanan, selain kain menyerap larutan mordan kain juga akan menyerap pigmen dari daun simplokos dan sekaligus akan terikat oleh mordannya. Ketika dilakukan proses cap menyebabkan pengental PVA dan molekul zat warna daun marenggo akan lebih banyak berikatan dengan mordan yang berada di permukaan kain. Hal ini menyebabkan sebagian molekul zat warna juga akan banyak yang berikatan di permukaan serat, sehingga mengurangi jumlah molekul zat warna yang dapat masuk dan berikatan di dalam serat karena di dalam serat sudah terisi penuh oleh mordan dan warna dari daun simplokos. Ikatan yang terbentuk antara molekul zat warna di permukaan serat menyebabkan zat warna mudah terlarut oleh air dan mudah hilang oleh pencucian sehingga diperoleh nilai ketuaan yang paling rendah.Pengujian Ketahanan Luntur Warna (KTLW) Gosokan kering dan basah Gosokan kering
Hasil uji ketahanan luntur wana pada gosokan kering ditunjukkan pada Tabel 2. Pada tabel tersebut dapat dilihat bahwa penggunaan variasi metode mordan pada proses pencapan didapatkan nilai rata-rata gosokan kering yang sama yaitu nilai
Staining Scale
(SS):5. Ini artinya pada kain putih yang digunakan dalam pengujian tidak terdapat penodaan warna dari sampel kain yang diuji. Berdasarkan hasil perhitungan anova tunggal, dapat
C.05 | 8 ditunjukkan bahwa metode mordan tidak berpengaruh pada nilai KTLW gosokan kering pada hasil pencapan dengan zat warna alam daun marenggo. Diperolehnya nilai gosokan kering yang baik sekali pada kain hasil proses pencapan karena daun marenggo termasuk zat warna mordan, dimana mordan yang digunakan dalam pencapan mengandung logam aluminium dapat mengikat zat warna membentuk senyawa kompleks yang besar dan berikatan dengan serat. Terbentuknya senyawa kompleks tersebut dapat membantu serat untuk menahan zat warna untuk tidak keluar atau diikat dari serat saat dikenai gosokan pada permukaannya. Ini menyebabkan zat warna pada kain hasil pencapan tidak menodai kain uji pada saat dilakukan uji ketahanan luntur warna terhadap gosokan kering.
Gosokan basah
Berdasarkan Tabel 2 dan hasil perhitungan anova tunggalmenunjukkan bahwa metode mordan berpengaruh pada nilai KTLW gosokan basah pada hasil pencapan dengan zat warna alam daun marenggo. Metode
post-mordan
diperoleh nilai rata-rataStaining Scale
(SS): 5 yang artinya sangat baik, sedangkan untuk metodemeta-mordan
diperoleh dengan nilai rata-rata SS: 4 yang artinya baik, dan untuk metodepre-mordan
didapatkan nilai rata- rata SS: 3-4 yang artinya cukup baik. Pada kondisi basah serat tekstil yang dicelupkan dalam air akan mengalami penggelembungan sehingga pori-pori serat dapat terbuka. Pada saat yang sama dimungkinkan ada zat warna alam yang larut dan keluar kembali dari dalam serat sehingga pada saat dikenai gosokan dapat menodai kain putih yang digunakan dalam pengujian.Metode
post-mordan
diperoleh nilai ketahanan luntur warna terhadap gosokan basah yang lebih baik karena proses pemordanan dilakukan di akhir setelah pencapan. Kain yang telah dicap dikeringkan terlebih dahulu dengan caraair hanging
selama 1 jam. Selama pengeringan, molekul zat warna yang ada pada permukaan kain yang telah dicap dapat terpenetrasi masuk ke dalam serat. Proses pemordanan yang dilakukan setelah pencapan menyebabkan molekul zat warna yang telah ada di dalam serat dapat berikatan dengan mordan membentuk senyawa kompleks logam yang besar dan stabil di dalam serat. Ikatan yang stabil antara zat warna dengan serat yang terbentuk di dalam serat menyebabkan molekul zat warna di dalam serat akan sulit keluar dari serat walaupun dilakukan gosokan mekanik pada kondisi basah.Metode
meta-mordan
diperoleh hasil uji gosokan basah yang baik (SS: 4) dan lebih rendah dibanding post mordan dikarenakan adanya zat warna dan mordan yang telah tercampur dalam pasta cap akan bereaksi dan menyebabkan terbentuknya ikatan antara zat warna berikatan dengan mordan dalam pasta cap. Adanya senyawa kompleks logam dengan ukuran yang lebih besar dalam pasta cap menyebabkan senyawa kompleks tersebut tidak dapat masuk ke dalam serat dan terikat pada permukaan serat saja karena zat warna sulit terpenetrasi. Ikatan antara molekul zat warna dan mordan yang terjadi diluar serat menyebabkan ketika dilakukan uji gosokan basah, akan terjadi pembasahan pada kain danC.05 | 9 melarutkan zat warna pada permukaan serat sehingga dapat menodai kain putih yang digunakan sebagai sampel uji.
Pada metode
pre-mordan
diperoleh nilai gosokan basah yang paling rendah karena proses pemordanan dilakukan di awal sebelum pencapan dilakukan. Hal ini menyebabkan kain yang akan dicap telah banyak menyerap dan mengandung unsur aluminium. Pada saat proses pencapan dilakukan maka mordan yang ada dipermukaan serat akan langsung berikatan dengan molekul zat warna sehingga akan lebih banyak molekul zat warna yang berikatan dengan mordan di permukaan serat. Ini menyebabkan pada kondisi basah, molekul zat warna yang ada dipermukaan serat dapat larut oleh air yang diberikan dalam pengujian sehingga pada saat dilakukan gosokan mekanik zat warna dapat melunturi/menodai kain putih sebagai sampel uji.Pengujian KTLW Panas Penyetrikaan kering, lembab, dan basah Panas penyetrikaan kering
Berdasarkan Tabel 3, Tabel 4, dan hasil perhitungan anova tunggalmenunjukkan bahwa metode mordan tidak berpengaruh pada nilai KTLW penyetrikaan kering baik pada nilai
staining scale
(SS) maupungrey scale
(GS) pada hasil pencapan dengan zat warna alam daun marenggo.Hasil pencapan dengan variasi metode mordan didapatkan nilai rata-rata yaitu SS: 5 dan GS: 4-5 pada metode
post-mordan
. Nilai SS dan GS: 4-5 pada metodepre-mordan
danmeta-mordan
yang artinya pada kain putih yang digunakan dalam pengujian terdapat sedikit penodaan warna dari sampel kain yang diuji dan warna pada contoh uji sedikit memudar.Diperolehnya nilai SS dan GS tersebut pada metode
post-mordan
kain hasil proses pencapan karena proses permordanan yang dilakukan pada akhir proses. Pada proses pencapan yang diikuti dengan pengeringan selama 1 jam menyebabkan zat warna dapat terpenetrasi dengan maksimal yang kemudian larutan mordan dapat mengikat zat warna untuk membentuk senyawa kompleks yang besar dan berikatan dengan serat sehingga molekulnya menjadi stabil. Terbentuknya senyawa kompleks tersebut dapat membantu serat untuk menahan zat warna untuk tidak keluar dari serat saat dikenai tekanan dan panas pada permukaannya. Ini menyebabkan zat warna pada kain hasil pencapan tidak melunturi kain uji pada saat dilakukan uji ketahanan luntur warna terhadap panas penyetrikaan.Metode
meta-mordan
danpre-mordan
diperolehnya nilai penyetrikaan kering yang baik (SS dan GS: 4-5) pada kain hasil proses pencapan karena daun marenggo termasuk zat warna mordan, dimana mordan yang digunakan dalam pencapan mengandung logam aluminium dapat mengikat zat warna membentuk senyawa kompleks yang besar dan berikatan dengan serat. Terbentuknya senyawa kompleks tersebut dapat membantu serat untuk menahan zat warna untuk tidak keluar atau diikat dari serat. Pada kedua metode ini,C.05 | 10 terdapat zat warna yang terikat dengan mordan pada permukaan serat yang menyebabkan saat dikenai penyetrikaan pada permukaannya menyebabkan zat warna pada kain hasil pencapan sedikit menodai kain uji dan menyebabkan hilangnya molekul zat warna dan mordan yang ada pada permukaan akibat adanya panas penyetrikaan pada saat dilakukan uji ketahanan luntur warna terhadap penyetrikaan kering sehingga warna sedikit memudar.
Panas penyetrikaan lembab
Berdasarkan hasil pengujian ketahanan luntur warna terhadap panas penyetrikaan lembab pada Tabel 3 dan Tabel 4 berpengaruh terhadap nilai SS maupun GS pada hasil pencapan dengan zat warna alam daun marenggo.
Pada metode
post-mordan
diperoleh nilai baik (SS dan GS: 4-5), hal ini terjadi karena zat warna yang sudah masuk ke dalam serat dalam jumlah yang besar karena diikuti oleh pengeringan akan diikat oleh mordan di dalam serat saat dilakukan proses pemordanan yang akan membentuk senyawa kompleks lebih besar dan stabil. Hal ini menyebabkan zat warna sulit untuk keluar dari serat. Kain uji yang lembab saat dikenai pada contoh uji menyebabkan sedikit terbukanya pori-pori serat dan ketika ditekan oleh setrika menyebabkan zat warna dapat keluar dari serat sehingga yang menyebabkan molekul zat warna yang sudah diikat terlarut oleh air dan sedikit menodai kain putih. Selain itu, karena adanya panas dari setrika menyebabkan beberapa molekul zat warna dapat terbakar yang mengakibatkan volume zat warna yang berada di dalam serat sedikit berkurang yang menyebabkan perubahan warna sedikit menurun.Metode
meta-mordan
didapatkan hasil yang baik (SS dan GS: 4) dikarenakan zat warna terikat terlebih dahulu oleh mordan dalam pasta cap membentuk senyawa kompleks yang lebih besar sehingga menyulitkan zat warna untuk terpenetrasi ke dalam serat dalam jumlah yang besar namun sebagian hanya terikat pada permukaan serat saja. Adanya kain uji yang lembab akan melarutkan zat warna yang terikat pada permukaan serat sehingga menodai kain putih dan adanya tekanan panas dari setrika menyebabkan beberapa molekul zat warna yang ada pada permukaan serat dapat terbakar sehingga volume zat warna yang berada di dalam maupun di permukaan serat berkurang yang menyebabkan perubahan warna.Metode
pre-mordan
didapatkan nilai paling rendah karena pada awal proses, kain dilakukan pemordanan. Pemordanan yang dilakukan sebelum pencapan menyebabkan pengental PVA akan lebih banyak berikatan dengan mordan yang berada di permukaan kain.Hal ini menyebabkan berkurangnya jumlah mordan yang akan mengikatkan molekul zat warna pada serat. Selain itu sebagian molekul zat warna juga akan banyak yang berikatan di permukaan serat, sehingga mengurangi jumlah molekul zat warna yang dapat masuk dan berikatan dengan serat. Ikatan tersebut akan mengakibatkan zat warna mudah terlarut oleh air pada kain yang lembab sehingga kain putih akan ternodai dan dengan zat warna yang
C.05 | 11 hanya terikat di permukaan serat akan terbakar oleh panas setrika yang menyebabkan volume zat warna pada kain berkurang sehingga warnanya turun.
Panas penyetrikaan basah
Berdasarkan hasil pengujian pada Tabel 3 dan Tabel 4 serta perhitungan anova tunggal diperoleh bahwa nilai ketahanan luntur warna terhadap panas penyetrikaan basah berpengaruh terhadap nilai SS maupun GS pada hasil pencapan dengan zat warna alam daun marenggo.
Pada metode
post-mordan
diperoleh nilai baik (SS dan GS: 4-5), hal ini terjadi karena setelah kain dicap dan diikuti oleh pengeringan selama 1 jam akan menyebabkan zat warna yang masuk ke dalam serat dalam jumlah yang besar yang kemudian diikat oleh mordan di dalam serat saat dilakukan proses pemordanan untuk membentuk senyawa kompleks lebih besar dan stabil. Hal ini menyebabkan zat warna sulit untuk keluar dari serat, namun kain uji yang basah pada kedua sisi saat dikenai pada contoh uji menyebabkan sedikit terbukanya pori-pori serat dan ketika ditekan oleh setrika menyebabkan zat warna dapat keluar dari serat sehingga yang menyebabkan molekul zat warna yang sudah diikat terlarut oleh air dan sedikit menodai kain putih. Selain itu, karena adanya panas dari setrika menyebabkan beberapa molekul zat warna dapat terbakar yang mengakibatkan volume zat warna yang berada di dalam serat sedikit berkurang yang menyebabkan perubahan warna sedikit menurun.Metode
meta-mordan
didapatkan hasil yang baik (SS dan GS: 3-4) dikarenakan zat warna terikat terlebih dahulu oleh mordan dalam pasta cap membentuk senyawa kompleks yang lebih besar sehingga menyulitkan zat warna untuk terpenetrasi ke dalam serat dalam jumlah yang besar namun sebagian hanya terikat pada permukaan serat saja. Ikatan yang ada pada permukaan serat ini akan mudah terlarut oleh kain putih yang basah pada kedua sisi contoh uji akan melarutkan zat warna yang terikat pada permukaan serat dengan mudah sehingga menodai kain putih dan adanya tekanan panas dari setrika menyebabkan beberapa molekul zat warna yang ada pada permukaan serat dapat terbakar sehingga volume zat warna yang berada di dalam maupun di permukaan serat berkurang yang menyebabkan penurunan perubahan warna.Metode
pre-mordan
didapatkan nilai paling rendah (SS dan GS: 3) yang artinya warna sudah berubah. Hal ini terjadi karena pada awal proses, kain dilakukan pemordanan.Pemordanan yang dilakukan sebelum pencapan menyebabkan mordan mengikat pengental PVA yang berada di permukaan kain. Hal ini menyebabkan zat warna hanya terikat dalam jumlah yang sedikit. Selain itu sebagian molekul zat warna juga akan banyak yang berikatan di permukaan serat yang mengurangi jumlah molekul zat warna yang dapat masuk dan berikatan dengan serat. Ikatan yang ada pada permukaan serat ini akan mudah terlarut oleh air dalam jumlah yang besar oleh kain putih yang basah pada kedua sisi contoh uji sehingga
C.05 | 12 menodai kain putih. Selain itu, adanya tekanan panas dari setrika menyebabkan beberapa molekul zat warna yang ada pada permukaan serat dapat terbakar sehingga volume zat warna yang berada di permukaan serat berkurang dalam jumlah yang sangat besar dan menyebabkan penurunan perubahan warna.
KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan
Variasi metode mordan pada pencapan kain kapas dengan zat warna alam dari ekstrak daun marenggo berpengaruh terhadap nilai ketuaan warna terbaik pada perlakuan metode mordan
post-mordan
dengan nilai ketahanan luntur warna terhadap gosokan kering dan basah 5, dan nilai GS dan SS pada ketahanan luntur warna terhadap panas penyetrikaan lembab dan basah 4-5. Tetapi variasi metode mordan tidak berpengaruh pada nilai ketahanan luntur warna terhadap gosokan kering dan panas penyetrikaan kering.Saran
Pada penelitian selanjutnya dapat diteliti mengenai cara penggunaan mordan dari daun simplokos berikut dengan metode fiksasi dalam pencapan .
KONTRIBUSI PENULIS
Semua penulis memiliki kontribusi yang sama dalam penelitian dan penulisan.
DAFTAR PUSTAKA
Andika., Bayu, Halimatussakdiah., & Ulil Amna. 2020. “Analisis Kualitatif Senyawa Metabolit Sekunder Ekstrak Daun Gulma Siam (Chromolaena Odorata L.) Di Kota Langsa, Aceh.” QUIMICA: Jurnal Kimia Sains Dan Terapan 2(2):1–6. doi: 10.33059/jq.v2i2.2647.
Arifin, Bustanul., & Ibrahim., Sanusi. 2018. “Struktur, Bioaktivitas Dan Antioksidan Flavonoid.” Jurnal Zarah 6(1):21–29. doi: 10.31629/zarah.v6i1.313.
Hadi, Dani Sulistyo., and Pamungkas, Dani. 2012. 20 Seri 3 IPTEK Kehutanan. edited by D. dan P. S. B. P.
dan P. K. Bagian Evaluasi. Kupang: BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN KEHUTANAN.
Hadi, Dani Sulistyo., & Siswadi. 2011. “Aluminum Levels On Leaves , Bark , And Root Of Two Loba Species : Aluminum Levels On Leaves , Bark , And Root Of Two Loba Species : Loba Wawi ( Symplocos Fasciculata Zoll . ) And Loba Manu ( Symplocos Cochinchinensis ) By : Dani Sulistiyo Hadi And Siswadi.” Pp. 672–74 in Strenghtening Forest Science and Technology for Better Forestry Development, edited by P. Parthama, A. F. Mas’ud, and N. Mindawati. Bogor.
Hanum, S. F., I. D. P. Darma, & Sumerta., I Md. 2012. “Pemanfaatan Pohon Loba (Symplocos Fasciculata Zoll.) Sebagai Pembangkit Warna Alam Pada Kerajinan Tenun Di Desa Pejeng, Tampak Siring, Gianyar, Bali.” Berita Biologi 11(3):367–72.
Hidayatullah, Muhammad Eka. 2018. “Potensi Ekstrak Etanol Tumbuhan Krinyuh (Chromolaena Odorata) Sebagai Senyawa Anti-Bakteri.” Pp. 39–40 in The 7th University Research Colloqium 2018, edited by H. Siswanto, Sugihartiningsih, and I. Nuryanti. Surakarta.
C.05 | 13 Lestari, WF Kun. 2002. Pencelupan Zat Warna Nila Untuk Batik Dengan Proses Ekstraksi Dingin,
Laporan Rutin Balai Besar Penelitian Dan Pengembangan Industri Kerajinan Dan Batik. Yogyakarta.
Murniati., & Mariana Takandjandji. 2015. “Tingkat Pemanfaatan Tumbuhan Penghasil Warna Pada Usaha Tenun Ikat Di Kabupaten Sumba Timur.” Jurnal Penelitian Hutan Tanaman 12(3):223–37.
doi: 10.20886/jpht.2015.12.3.223-237.
Panjaitan, Yeni Rori. 2017. “Uji Kombinasi Ekstrak Etanol Daun Putihan (Chromolaena Odorata) Dengan Siprofloksasin Terhadap Pertumbuhan Bakteri Staphylococcus Aureus Dan Pseudomonas Aeruginosa.” Fakultas Farmasi Universitas Sumatra Utara.
Pranoto, Maskyur A., & Mawahib, S.A.S. 2003. “Penurunan Kadar Timbal Dan Zat Warna Tekstil Dalam Larutan Dengan Menggunakan Karbon Aktif Bagasse.” Enviro 2(1):9–16.
Suheryanto, Dwi. 2014. “Indonesian Textile Conference Textiles : Clothing & Beyond.” P. 71 in Optimalisasi Hasil Celupan Kain Batik Katun dengan Ekstrak Daun Marenggo Menggunakan Larutan Iring Kapur, edited by M. Ichwan. Bandung.
Visalakshi, M., & M. Jawaharlal. 2013. “Healthy Hues – Status and Implication in Industries – Brief Review.” Research & Reviews: Journal of Agriculture and Allied Sciences 2(3):42–51.
Yernisa, E. Gumbira Sa’id, and Khaswar Syamsu. 2013. “Aplikasi Pewarna Bubuk Alami Dari Ekstrak Biji Pinang (Areca Catechu L.) Pada Pewarnaan Sabun Transparan.” Journal Teknologi Industri Pertanian 23(3):190–98.
C.05 | 14 Lembar Tanya Jawab
Moderator : Irfa’ina Rohana Salma Notulis : Novita Ekarini
1. Penanya Pertanyaan Jawaban
: : :
Agus Haerudin ( Balai Besar Kerajinan dan Batik )
Apa yang menyebabkan
post-mordan
pada penggunaan mordan daun simplokos hasilnya menjadi lebih tua?Pada tahap persiapan kain dikerjakan menggunakan TRO yang berfungsi menurunkan tegangan antar muka pada larutan proses dan kain agar pada saat dilakukan proses pencapan atau print pada permukaan kain zat warna mudah masuk. Selain itu karena kain belum mendapatkan perlakuan penambahan zat lain seperti mordan maka kondisi serat dalam kain masih kosong sehingga pada saat proses pewarnaan zat warna bisa masuk kedalam serat dengan jumlah yang sangat besar dan diikuti dengan pengeringan selama 1 jam, dan Ketika dilakukan proses fiksasi dengan menggunakan larutan mordan simplokos itu mordan akan masuk juga dan akan mengikat zat warna dengan serat dimana ikatan yang stabil ini akan membentuk molekul yang sangat besar. Molekul yang besar dan kompleks ini menyebabkan zat warna sulit untuk keluar saat dilakukan proses pencucian sehingga didapatkan ketuaan warna paling tinggi.
2. Penanya Pertanyaan Jawaban
: : :
Suryawati Ristiani (Balai Besar Kerajinan dan Batik )
Bagaimana kondisi daun simplokos yang digunakaan? Dalam kondisi daun segar atau daun kering?
Daun simplokos yang digunakan adalah daun dalam kondisi kering karena pada beberapa penelitian menunjukan daun simplokos kering memiliki AL yang banyak sehingga bisa digunakan. Proses pembuatan larutan mordan simplokos dengan cara di tumbuk hingga halus dan dilarutkan 20 gr/liter air. Cara penumbukan ini merupakan juga cara untuk mengawetkan daun simplokos. Proses pembuatan mordananya yaitu dengan menimbang 20 gr simplokos dan dilarutkan dengan 1 liter air kemudian larutan didiamkan selama 12 jam atau satu malam sehingga larutan akan berubah menjadi berwarna coklat kekuningan sedangkan bubuk simplokos akan mengendap. Kemudian pisahkan larutan dengan endapanya, maka larutan siap digunakan untuk mordan.
3. Penanya Pertanyaan Jawaban
: : :
Renung Reningtyas (Universitas Pembangunan Nasional “Veteran”
Yogyakarta)
Apakah bubuk simplokos memberikan warna lain pada kain? Misal menambah warna coklat?
Daun simplokos akan memberikan efek warna coklat pada kain karena banyak mengandung logam, tetapi tidak berpengaruh terhadap proses pewarnaan.