• Tidak ada hasil yang ditemukan

THE EFFECT OF THE FIXATION METHOD ON THE RESULTS OF COTTON FABRIC PRINTING WITH NATURAL DYES OF COSMOS FLOWERS (Cosmos caudatus Kunth)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "THE EFFECT OF THE FIXATION METHOD ON THE RESULTS OF COTTON FABRIC PRINTING WITH NATURAL DYES OF COSMOS FLOWERS (Cosmos caudatus Kunth)"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

WARNA ALAM BUNGA KENIKIR

(Cosmos caudatus Kunth)

THE EFFECT OF THE FIXATION METHOD ON THE RESULTS OF COTTON FABRIC PRINTING WITH NATURAL DYES OF COSMOS FLOWERS (Cosmos caudatus Kunth)

Lestari Sheptiyaningsih1, Subiyati2

1,2Prodi Kimia Tekstil Sekolah Tinggi Teknologi Warga Surakarta

Korespondesi penulis

Email: [email protected]

Kata kunci: Pencapan, zat warna alam, bunga kenikir, metode fiksasi, alumininium sulfat Keywords: Printing, natural dye, cosmos flower, fixation method, aluminium sulfate

ABSTRAK

Kandungan pigmen karotenoid pada bunga kenikir (Cosmos caudatus K) menghasilkan warna kuning sebagai pewarna pecapan tekstil. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh metode fiksasi terhadap ketuaan warna serta ketahanan luntur warna terhadap penyetrikaan dan gosokan pada hasil pencapan kain kapas dengan zat warna alam bunga kenikir. Faktor yang diteliti adalah metode fiksasi dalam pencapan, yaitu: steaming, baking, dan air hanging. Proses pencapan dilakukan dengan menggunakan mordan aluminium sulfat melalui tahapan: cap, pengeringan awal, pengeringan, pada mordan, fiksasi dan pencucian. Hasil analisa data dengan Anova Tunggal menunjukkan bahwa metode fiksasi berpengaruh pada nilai ketuaan warna (k/s) serta nilai ketahanan luntur warna terhadap gosokan basah, penyetrikaan lembab dan basah, tetapi tidak berpengaruh terhadap nilai uji gosokan kering dan penyetrikaan kering. Hasil pencapan yang paling baik diperoleh pada fiksasi metode steaming dengan nilai K/S: 2,54, nilai ketahanan luntur warna terhadap gosokan basah SS: 3-4, gosokan kering SS: 5 serta ketahanan luntur terhadap penyetrikaan basah (GS: 4 dan SS: 4), penyetrikaan lembab (GS: 4-5 dan SS: 4-5) dan penyetrikaan kering (GS: 4-5 dan SS: 4-5). Hasil penelitian menunjukkan ekstrak bunga kenikir dapat digunakan sebagai zat warna pada pencapan kain kapas dengan hasil yang baik sehingga dapat diterapkan dalam skala industri.

ABSTRACT

The content of carotenoid pigment of kenikir flower (Cosmos caudatus K)can produce a yellow color in textile materials. This study aims to determine the effect of the fixation method on the results of cotton fabric printing with natural dyes of cosmos flowers, especially on color strength and color fastness to ironing and rubbing. The factors studied were fixation methods in printing, namely:

steaming, baking, and air hanging. The printing was carried out with aluminum sulfate mordant with stages: printing, pre-drying, drying, pad mordant, fixation, and washing. The results of data analysis with One-Way Anova showed that the fixation method influenced the values of color strength (k/s) and color fastness to wet rubbing and damp and wet ironing, but it had no effect on the dry rubbing and dry ironing test values. The best printing results were obtained in steam fixation with K/S values:

2.54, value of color fastness to wet rubbing SS: 3-4, dry rubbing SS: 5 and fastness to wet ironing (GS:

4 and SS: 4), damp ironing (GS: 4-5 and SS: 4-5) and dry ironing (GS: 4-5 and SS: 4-5). The results showed that cosmos flower extract can be used as a dye in cotton fabric printing with good results so that it is applicable for an industrial scale.

(2)

C.08 | 2 PENDAHULUAN

Proses pencapan adalah proses pemberian warna atau mewarnai kain secara setempat, dengan menimbulkan corak tertentu, pada umumnya dapat dilakukan pada serat alam maupun serat buatan menggunakan zat warna sintesis. Zat warna sintesis mudah didapatkan, lebih praktis, warna yang dihasilkan beragam dan lebih stabil dalam pemakaiannya tetapi limbahnya menyisakan berbagai macam pencemar seperti fenol, senyawa organik sintesis, dan logam berat sehingga dapat menyebabkan pencemaran lingkungan (Irawati, U. & Umi 2011). Untuk itu perlu diupayakan agar dapat mengurangi bahaya dari penggunaan zat warna sintetis, salah satunya dengan menggantikan penggunaannya dengan zat warna alam yang lebih ramah lingkungan.

Menurut Handelman (2001) salah satu tumbuhan yang dapat dijadikan sebagai zat warna alam adalah bunga kenikir

(Cosmos caudatus K)

karena bunga kenikir merupakan sumber pigmen karotenoid berwarna kuning seperti karoten yaitu alfa dan beta karoten dan xantofil yaitu lutein dan zeaxantin. Warna kuning dari bunga kenikir disebabkan oleh dua pigmen utama yaitu pigmen dari golongan karotenoid dan flavonoid. Ekstrak bunga kenikir mengandung sekitar 27% pigmen karotenoid (Ni Putu Puspandi Aristyanti, Ni Made Wartini 2017; Prihandini 2018; Wicaksono, Intan Maharani dan Irma 2020). Keunggulan dari pewarna alam bunga kenikir adalah pertumbuhan bunga kenikir yang terbilang cepat, karena hanya dalam beberapa minggu bunga kenikir sudah bisa dipanen dan digunakan sebagai pewarna alam.

Penelitian mengenai zat warna alam dari bunga kenikir sebelumnya telah dilakukan oleh Sari, Trie. (2020) menunjukkan bahwa faktor jenis pengental tidak berpengaruh terhadap ketahanan luntur warna pencucian dan gosokan sedangkan metode mordan berpengaruh terhadap nilai perubahan warna pada uji pencucian dan uji gosokan basah namun tidak berpengaruh terhadap gosokan kering.

Berbeda dengan penelitian yang telah dilakukan sebelumnya, maka pada penelitian ini dilakukan proses pencapan pada kain kapas dengan menggunakan zat warna alam dari ekstrak bunga kenikir, dengan variabel bebas penggunaan variasi metode fiksasi yaitu:

steaming, baking

dan

air hanging

. Penggunaan metode fiksasi yang berbeda akan memberikan hasil pencapan yang berbeda, karena kondisi metode fiksasi yang digunakan akan menentukan banyaknya ikatan antara zat warna dengan serat. Mordan yang digunakan adalah aluminium sulfat/tawas karena aluminium sulfat mempunyai potensi pencemaran yang paling kecil dibanding mordan dari garam aluminium (Prabhu, K.H & Bhute 2012;

Rosyida, dkk. 2021). Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh variasi metode fiksasi terhadap nilai ketuaan warna serta ketahanan luntur warna terhadap panas penyetrikaan dan gosokan. Hasil penelitian ini diharapkan dapat mendorong pemanfaatan zat warna alam sebagai upaya pengurangan pencemaran lingkungan oleh penggunaan zat warna sintetis pada industri tekstil dan produk tekstil.

(3)

C.08 | 3 METODOLOGI PENELITIAN

Bahan dan Alat

Bahan yang digunakan adalah kain kapas siap cap (primisima), zat warna alam ekstrak bunga kenikir (

Cosmos caudatus K

), dan zat kimia berupa: Aluminium sulfat, Manutex F, sabun netral (lerak). Peralatan yang digunakan berupa: timbangan analitik,

beakker glass,

pengaduk, bak ekstraksi, mesin

padder,

thermometer, mesin

baking, screen,

rakel,

steammer,

dan mixer. Peralatan uji yang digunakan adalah

Spectrophotometer

;

Crockmeter,

setrika,

Grey Scale,

dan

Stanning Scale.

Metode

Metode yang digunakan dalam penelitian ini metode eksperimental dengan melakukan variasi metode fiksasi pada proses pencapan yaitu: metode fiksasi sistem

steming, baking

dan

air hanging

dengan menggunakan zat fiksator aluminium sulfat/ Al2(SO4)3.

Prosedur kerja

1. Persiapan kain

Mempersiapkan kain kapas 100% siap cap dengan melakukan pengujian hilang kanji dan tingkat kebersihan kain terlebih dahulu. Pengujian hilang kanji dilakukan dengan meneteskan larutan Kalium Iodida (KI) diatas kain kapas, kemudian diamati perubahan warna pada tetesan KI tersebut, apabila kain kapas sudah bersih dari dari kanji maka akan berwarna kuning. Tingkat kebersihan kain dilakukan dengan uji daya serap metode kapiler yaitu dengan cara memotong kain uji serah lusi dengan ukuran 2,5 x 5 cm dan ditandai dibagian bawahnya dengan ukuran 2,5 x 4 cm, kemudian ditandai lagi tepat diatasnya dengan ukuran 2,5 x 1 cm lalu kain dicelupkan pada larutan kalium bikromat atau dengan zat warna gelap sampai pada batas tanda strip pertama dan kemudian hitung waktu larutan bisa mencapai 1 cm berikutnya. Apabila kain sudah bersih maka akan diperoleh rata-rata daya serap kain detik per cm sebesar 2-3 detik/cm.

2. Persiapan larutan ekstrak zat warna alam

Pembuatan ekstrak zat warna bunga kenikir dengan tahapan sebagai berikut: 500 gr bunga kenikir diekstrak dengan air sebanyak 2,5 liter atau dengan perbandingan 1:5 pada suhu 90OC atau pada saat air mendidih selama 20 menit. Setelah itu dinginkan ekstrak zat warna alam dan saring sebelum digunakan.

3. Persiapan larutan fiksator

Pembuatan larutan fiksator dengan tahapan sebagai berikut: timbang aluminium sulfat sebanyak 25 gr, kemudian dilarutkan dalam 1 liter air pada suhu 80ºC dan lakukan pengadukan hingga alumunium sulfat larut sempurna, kemudian diamkan kurang lebih selama 2 jam hingga zat fiksator mengendap di bawah, saring terlebih dahulu larutan fiksasi sebelum digunakan.

(4)

C.08 | 4 4. Persiapan pengental dan pasta cap

Pembuatan pengental induk Manutex F dengan viskositas 12% yaitu dengan tahapan sebagai berikut: timbang manutex F sebanyak 12 g dan timbang air sebanyak 88 g, kemudian diaduk hingga larut sempurna. Pembuatan pasta cap dengan tahapan sebagai berikut: mencampurkan 65 g pengental iduk yang sudah dibuat dengan 35 g larutan ekstraksi lalu diaduk hingga homogen.

5. Pencapan

Proses pencapan dengan tahapan sebagai berikut: melakukan pencapan pada kain kapas dengan menggunakan

screen

dan rakel, kemudian dilakukan proses

pre-dry

pada suhu 70-80ºC selama 5 menit lalu proses

dry

pada suhu 100ºC selama 2 menit, selanjutnya kain dicelupkan pada larutan fiksator (aluminium sulfat) dan dilewatkan pada rol

padder,

kemudian dilakukan proses fiksasi dengan tiga metode yang berbeda, yaitu metode fiksasi

steaming

dengan suhu 100ºC selama 20 menit, metode fiksasi secara

baking

dengan suhu 100ºC selama 3 menit dan metode fiksasi secara

air hanging

yang dilakukan dengan menjemur kain ditempat yang tidak terkena sinar matahari secara langsung selama 4 jam, setelah itu dilakukan pencucian dan pengujian.

Pengujian kain hasil pencapan

1. Pengujian ketuaan warna (K/S) kain hasil pencapan

Pengujian nilai ketuaan warna (K/S) pada kain hasil pencapan dilakukan menggunakan alat uji

Spectrophotometer

Data

Color

600 dan dihitung menggunakan rumus Kubelka tahun 1954. Nilai uji beda warna dilakukan berdasarkan dari nilai kecerahan (

lightness

) terhadap kejenuhan warna (

chromal

) dan corak/arah warna (

hue

) dengan notasi L*, a* dan b*. Nilai L* menunjukkan tingkat kecerahan warna hasil pencapan. Nilai a* menunjukkan arah warna kain hasil pencapan mengarah pada warna merah dan hijau, jika nilai a* positif (+) maka menunjukkan arah warna merah dan nilai a* negatif (-) menunjukkan arah warna hijau.

Nilai b* menunjukkan arah warna kain hasil pencapan mengarah pada warna kuning dan biru, jika nila b* positif (+) maka menunjukkan arah warna kuning, sedangkan nilai b* negatif (-) maka menunjukkan arah warna biru (CIE, 1976).

2. Pengujian ketahanan luntur warna terhadap panas penyetrikaan

Pengujian ketahanan luntur warna terhadap panas penyetrikaan dilakukan pada kondisi kering, lembab dan basah menggunakan alat uji setrika tangan berdasarkan standar uji tekstil SNI ISO 105 XII: 2010 terhadap nilai penodaan warna dan perubahan warna pada kain hasil pencapan yang diukur menggunakan skala

Grey Scale

(GS)dan

Stanning Scale

(SS)

.

3. Pengujian ketahanan luntur warna terhadap gosokan

Pengujian ketahanan luntur warna terhadap gosokan dilakukan pada kondisi basah dan kering menggunakan alat uji

Crockmeter

berdasarkan standar uji tekstil SNI 08-0288-1989 terhadap nilai penodaan warna pada kain hasil pencapan yang diukur menggunakan skala

Stainning Scale

(SS)

.

(5)

C.08 | 5 HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil

Tabel 1. Nilai ketuaan warna pada hasil pencapan

No Metode

Fiksasi

Nilai Warna Kain Hasil

Pencapan

K/S L a* b*

1 Steaming 2,544 69,17 23,37 39,20

2 Baking 2,121 70,30 19,78 34,35

3 Air Hanging 2,029 71,69 18,39 34,96

Keterangan tabel :

a+ : Menunjukkan arah warna merah a- : menunjukkan arah warna hijau b+ : Menunjukkan arah warna kuning b- : Menunjukkan arah warna biru λ : 360 – 740 nm

Gambar 1. Nilai ketuaan warna

(6)

C.08 | 6 Tabel 2. Nilai rata-rata grey scale (GS) pada ketahanan luntur warna panas penyetrikaan kering,

lembab, dan basah.

Kondisi Steaming Baking Air Hanging

GS CD GS CD GS CD

Kering 4-5 0,48 4-5 0,98 5 0,32

Lembab 4-5 1,16 4 2,02 4-5 0,48

Basah 4 2,02 3-4 2,18 4-5 1,16

Keterangan: nilai 1 = jelek, 1-2 = jelek, 2 = kurang, 2-3 = kurang, 3 = cukup, 3-4 = cukup baik, 4 = baik, 4-5 = baik, dan 5 = baik sekali. CD = Color Different

Gambar 2. Nilai grey scale (GS) terhadap panas penyetrikaan

Tabel 3. Nilai rata-ratastainning scale (SS) pada ketahanan luntur warna panas penyetrikaan kering, lembab, dan basah.

Kondisi Steaming Baking Air Hanging

SS CD SS CD SS CD

Kering 4-5 1,32 4-5 1,32 5 0

Lembab 4-5 1,32 4 4,14 4-5 1,76

Basah 4 4,98 3-4 5,66 4-5 3,04

Keterangan: nilai 1=jelek, 1-2=jelek, 2=kurang, 2-3=kurang, 3=cukup, 3-4=cukup baik, 4=baik, 4- 5=baik, dan 5=baik sekali. CD = Color Different

(7)

C.08 | 7 Gambar 3. Nilai stainning scale (SS) terhadap panas penyetrikaan

Tabel 4. Nilai rata-rata staining scale (SS) pada ketahanan luntur warna gosokan kering dan basah.

Kondisi Steaming Baking Air Hanging

SS CD SS CD SS CD

Kering 5 0,88 4-5 1,32 5 0,88

Basah 3-4 5,32 3-4 5,32 4 3,88

Keterangan: nilai 1 = jelek, 1-2 = jelek, 2 = kurang, 2-3 = kurang, 3 = cukup, 3-4 = cukup baik, 4 = baik, 4-5 = baik, dan 5 = baik sekali. CD = Color Different

Gambar 4. Nilai stainning scale (SS) terhadap gosokan

Pembahasan

1. Ketuaan warna

Nilai uji ketuaan warna (K/S) menunjukkan bahwa variasi metode fiksasi memiliki pengaruh terhadap nilai K/S pada kain hasil pencapan. Dari data yang disajikan pada Tabel 1 serta dari hasil perhitungan anova tunggal, Proses fiksasi secara

steaming

menghasilkan nilai ketuaan warna paling tua/baik yaitu K/S: 2,544. Hal ini saat proses

steaming

menggunakan suhu uap panas akan membantu terbukanya pori-pori serat,

(8)

C.08 | 8 sehingga menyebabkan zat warna lebih mudah terpenetrasi dan terfiksasi ke dalam serat sehingga warna yang dihasilkan menjadi tua. Selain itu, uap akan terkondensasi pada permukaan lapisan pasta cap, dimana kondensat akan membantu melarutkan zat warna yang ada dipermukaan serat untuk berdifusi secara merata kebagian dalam serat sehingga diperoleh ketuaan warna yang paling tinggi (Lubis, dkk 1998).

Pada metode fiksasi

baking

diperoleh nilai KS yang lebih rendah dibandingkan metode

steaming

karena pemberian suhu tertentu akan mengakibatkan putusnya rantai ikatan antara molekul pada larutan zat warna (Hasanudin, dkk, 2001). Akibat dari putusnya rantai molekul ini menyebabkan ikatan anatara zat warna dengan serat melemah dan pada saat dilakukan pencucian banyak zat warna yang ikut terlarut. Pada proses fiksasi

air hanging

diperoleh nilai ketuaan warna terendah dibandingkan dengan metode

steaming

maupun

baking,

karena pada proses ini tidak menggunakan uap maupun udara panas yang membantu terbukanya pori-pori serat dan mendorong zat warna masuk kedalam serat, proses penetrasi zat warna ke dalam serat membutuhkan waktu lama, zat warna yang terpenetrasi dan terfiksasi ke dalam serat sedikit sehingga warna yang dihasilkan lebih muda.

2. Uji ketahanan luntur warna terhadap panas penyetrikaan a) Panas penyetrikaan kering

Berdasarkan hasil pengujian ketahanan luntur warna terhadap panas penyetrikaan kering pada kain hasil pencapan yang ditunjukkan pada Tabel 2 dan 3 serta dari hasil perhitungan anova tunggal, diketahui bahwa penggunaan metode fiksasi yang berbeda tidak berpengaruh terhadap nilai

grey scale

(GS) maupun

stainning scale

(SS). Ini artinya hampir tidak ada perubahan warna pada kain hasil pencapan serta hanya sedikit terjadi penodaan pada kain putih yang digunakan dalam pengujian. Nilai GS dan SS pada uji panas penyetrikaan kering diperoleh nilai yang baik sekali pada kain hasil pencapan bunga kenikir, yaitu pada metode fiksasi

steaming

GS: 4-5 dan SS: 4-5;

baking

GS: 4-5 dan SS: 4-5;

air hanging

GS: 5 dan SS:

5. Hal ini dikarenakan zat fiksator yang digunakan dalam pencapan mempunyai afinitas sehingga dapat mengikat zat warna untuk membentuk senyawa kompleks yang besar dan dapat berikatan dengan serat. Terbentuknya senyawa kompleks tersebut dapat membantu serat untuk menahan zat warna agar tidak keluar dari serat pada saat dikenai tekanan dan panas dari setrika. Oleh sebab itu tidak ada perubahan warna pada kain hasil pencapan dan zat warna pada kain hasil pencapan tidak melunturi kain putih pada saat dilakukan uji ketahanan luntur warna terhadap panas penyetrikaan kering.

b) Panas penyetrikaan lembab

Berdasarkan hasil pengujian ketahanan luntur warna terhadap gosokan lembab pada kain hasil pencapan yang ditunjukkan pada Tabel no 2 dan 3 serta dari hasil perhitungan anova tunggal diketahui bahwa penggunaan variasi metode fiksasi berpengaruh terhadap nilai GS dan SS. Ini karena metode fiksasi yang

(9)

C.08 | 9 digunakan menentukan apakah ikatan yang terjadi antara zat warna dengan serat terjadi di dalam atau di luar serat.

Nilai hasil uji penyetrikaan lembab lebih rendah dari pada nilai hasil uji penyetrikaan kering, karena pada uji penyetrikaan lembab salah satu kain kapas putih yang digunakan dicelupkan dalam air sehingga akan membuat serat menggelembung dan pori-pori serat dapat terbuka. Pada saat kain putih dan sampel kain uji ditempelkan, dikenai panas, dan tekanan dimungkinkan ada zat warna yang larut dan keluar kembali dari dalam serat sehingga dapat melunturi dan menodai kain putih yang digunakan sebagai kain pelapis dalam pengujian.

Metode fiksasi

steaming

dan

air hanging

diperoleh nilai rata-rata yang sama yaitu GS: 4-5 dan SS: 4-5 yang artinya baik atau hampir tidak ada perubahan warna pada kain hasil pencapan dan hanya terjadi sedikit penodaan pada kain putih yang digunakan dalam pengujian. Hal ini disebabkan hanya sedikit zat warna yang larut kembali dan keluar dari serat saat dilakukan uji penyetrikaan lembab. Suhu uap panas yang digunakan menyebabkan terbukanya pori-pori serat sehingga menyebabkan zat warna dapat terpenetrasi dalam serat. Adanya kondensat akan membantu melarutkan zat warna yang ada dipermukaan serat untuk berdifusi secara merata kebagian dalam serat. (Lubis, dkk 1998).

Sedangkan pada metode fiksasi

air hanging

, saat proses fiksasinya tanpa menggunakan suhu uap maupun udara panas sehingga zat warna tidak banyak yang rusak karena pada dasarnya zat warna alam tidak tahan terhadap suhu panas.

Namun proses penetrasi zat warna kedalam serat membutuhkan waktu lama, tetapi dengan waktu ini justru dapat membuat zat warna dan zat fiksator lebih banyak yang terpenetrasi ke dalam serat sehingga dapat berikatan dengan serat lebih maksimal. Oleh sebab itu ketika dilakukan pengujian penyetrikaan lembab hanya sedikit zat warna yang keluar dari serat dan melunturi kain putih serta hanya terjadi sedikit perubahan warna pada kain hasil pencapan dari warna aslinya.

Metode fiksasi

baking

diperoleh nilai rata-rata lebih rendah dari metode

air hanging

dan

steaming

yaitu GS: 4 dan SS: 4. Hal ini disebabkan pemberian suhu tertentu akan mengakibatkan putusnya rantai ikatan antara molekul pada larutan zat warna (Hasanudin, dkk, 2001). Maka dengan putusnya rantai ikatan zat warna/rusaknya zat warna menyebabkan zat warna akan mudah larut kembali dan keluar dari serat, sehingga dapat menodai kain putih dan menyebabkan terjadinya perubahan warna pada kain hasil pencapan.

c) Panas penyetrikaan basah

Berdasarkan hasil pengujian ketahanan luntur warna terhadap penyetrikaan basah pada kain hasil pencapan yang ditunjukkan pada Tabel 2 dan 3 serta dari hasil perhitungan anava tunggal diketahui bahwa penggunaan variasi metode fiksasi berpengaruh terhadap nilai perubahan warna (GS) dan penodaan warna (SS).

(10)

C.08 | 10 Nilai hasil uji penyetrikaan basah lebih rendah dari pada nilai hasil uji penyetrikaan kering dan lembab karena pada uji penyetrikaan basah, kain uji ditempelkan dengan kain kapas putih yang dicelupkan dalam air, sehingga akan membuat serat menggelembung dan pori-pori serat dapat terbuka. Pada saat kain putih dan contoh uji ditempel dimungkinkan ada zat warna yang ikut larut dan keluar kembali dari dalam serat sehingga pada saat dikenai panas dan tekanan mengakibatkan zat warna yang keluar dari serat dapat menodai kain putih sebagai sampel uji.

Pada metode fiksasi

air hanging

diperoleh nilai rata-rata yang paling baik yaitu GS: 4-5 dan SS 4-5. Hal ini disebabkan saat proses penetrasi zat warna kedalam serat membutuhkan waktu lama karena pada saat proses fiksasinya tanpa menggunakan suhu uap maupun udara panas. Namun, zat warna tidak banyak yang rusak, sehingga banyak zat warna yang dapat terpenetrasi serta terfiksasi didalam serat.

Metode fiksasi

steaming

diperoleh nilai rata-rata GS:4 dan SS: 4 yang artinya baik atau ada sedikit perubahan warna pada kain hasil pencapan dan terjadi sedikit penodaan pada kain putih yang digunakan dalam pengujian. Hal ini terjadi karena adanya sedikit zat warna yang keluar dari kain hasil pencapan dan melunturi kain putih yang digunakan dalam pengujian. Dengan adanya zat warna yang keluar dari kain hasil pencapan ini, maka menyebabkan adanya sedikit perubahan warna pada kain hasil pencapan dari warna aslinya. Dimana dengan adanya uap panas dalam proses fiksasinya akan terkondensasi pada permukaan lapisan pasta cap dan kondensat akan membantu melarutkan zat warna yang ada dipermukaan serat untuk berdifusi serta terfiksasi secara merata kebagian dalam serat (Lubis, dkk 1998).

Metode fiksasi

baking

diperoleh nilai rata-rata GS: 3-4 dan SS: 3-4 yang berarti lebih rendah dari metode

air hanging

maupun

steaming

. Hal ini disebabkan ada beberapa zat warna yang rusak karena terkena suhu panas pada saat proses fiksasi, karena pada dasarnya zat warna alam tidak tahan dengan suhu panas, sehingga walaupun zat warna sudah difiksasi, ketika ditempelkan dengan kain putih yang basah dan terkena tekanan serta panas dari setrika, maka zat warna akan larut dengan air yang dibawa oleh kain putih. Oleh sebab itu, banyak zat warna yang keluar dari kain hasil pencapan dan melunturi kain putih yang digunakan dalam pengujian, serta menyebabkan adanya perubahan warna pada kain hasil pencapan.

3. Uji ketahanan luntur warna terhadap gosokan a) Gosokan kering

Berdasarkan hasil pengujian ketahanan luntur warna terhadap gosokan kering pada kain hasil pencapan yang ditunjukkan pada Tabel 4 serta dari hasil perhitungan anava tunggal, diketahui bahwa penggunaan metode fiksasi pada pencapan zat warna alam bunga kenikir tidak berpengaruh terhadap nilai ketahanan

(11)

C.08 | 11 luntur warna pada uji gosokan kering. Nilai SS pada uji gosokan kering diperoleh nilai yang baik-baik sekali pada kain hasil pencapan bunga kenikir yaitu pada metode fiksasi

steaming

SS: 5;

baking

SS: 4-5; dan

air hanging

SS: 5. Diperolehnya nilai gosokan kering yang baik-baik sekali pada kain hasil pencapan bunga kenikir, dikarenakan zat fiksator yang digunakan dalam pencapan dapat mengikat molekul zat warna membentuk senyawa kompleks yang besar dan dapat berikatan dengan serat, sehingga zat warna tidak mudah keluar dari serat saat dikenai gosokan mekanik pada permukaan serat.

b) Gosokan basah

Berdasarkan hasil pengujian ketahanan luntur warna terhadap gosokan basah pada kain hasil pencapan yang ditunjukkan pada tabel no 4 serta dari hasil perhitungan anava tunggal, penggunaan variasi metode fiksasi berpengaruh terhadap nilai penodaan warna pada uji gosokan basah. Pengaruh pada nilai penodaan warna pada gosokan basah dikarenakan metode fiksasi yang digunakan akan menentukan apakah ikatan yang terjadi antara zat warna dengan serat terjadi di dalam atau di luar serat. Nilai hasil uji gosokan basah lebih rendah dari pada nilai hasil uji gosokan kering karena pada uji gosokan basah, kain kapas putih murni (kain untuk penggosok) serat tekstil dicelupkan dalam air. Kondosi basah ini akan membuat serat menggelembung sehingga pori-pori serat dapat terbuka dan pada saat yang sama dimungkinkan ada zat warna yang ikut terbawa oleh air/larut dan keluar kembali dari dalam serat, sehingga pada saat dikenai gosokan terjadi ikatan hidrogen yang terbentuk antara atom hidrogen pada zat warna dengan gugus hidroksil yang ada pada kain putih, sehingga kain putih ternodai oleh zat warna.

Pada metode fiksasi

air hanging

diperoleh nilai rata-rata yang paling baik yaitu GS: 4 dan SS: 4. Hal ini dikarenakan pada saat proses fiksasinya tanpa menggunakan suhu uap maupun udara panas, maka zat warna tidak banyak yang rusak karena pada dasarnya zat warna alam tidak tahan terhadap suhu panas.

Namun proses penetrasi zat warna kedalam serat membutuhkan waktu lama, tetapi dengan waktu ini justru dapat membuat zat warna dan zat fiksator lebih banyak yang terpenetrasi ke dalam serat sehingga dapat berikatan dengan serat secara lebih maksimal. Oleh sebab itu ketika dilakukan pengujian penyetrikaan basah hanya sedikit zat warna yang keluar dari serat dan melunturi kain putih serta hanya terjadi sedikit perubahan warna pada kain hasil pencapan dari warna aslinya.

Metode fiksasi

steaming

dan

baking

diperoleh nilai rata-rata penodaan yang sama yaitu SS: 3-4, yang artinya ada perubahan warna pada kain hasil pencapan dan terjadi penodaan pada kain putih yang digunakan dalam pengujian. Hal ini disebabkan adanya zat warna yang rusak karena terkena suhu panas pada saat proses fiksasi sehingga ketika ditempelkan dengan kain putih yang basah dan terkena tekanan serta panas dari setrika maka zat warna dapat larut kembali.

Adanya molekul zat warna yang larut dan keluar kembali dari serat ini menyebabkan

(12)

C.08 | 12 kain putih yang digunakan sebagai sampel uji ternodai serta menyebabkan adanya perubahan warna pada kain hasil pencapan.

KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan

Dari penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa variasi metode fiksasi pada pencapan kain kapas dengan zat warna alam bunga kenikir berpengaruh terhadap nilai ketuaan warna, nilai ketahanan luntur warna terhadap gosokan basah, penyetrikaan lembab dan penyetrikaan basah tetapi tidak berpengaruh terhadap nilai ketahanan luntur terhadap gosokan kering dan penyetrikaan kering.

Saran

Pencapan zat warna alam dengan ekstrak bunga kenikir dapat dilakukan pada jenis kain, jenis mordan, dan jenis pengental yang berbeda agar dapat diketahui pengaruhnya terhadap hasil pencapan.

KONTRIBUSI PENULIS

Penulis memiliki kontribusi yang sama dalam melakukan penulisan naskah ini.

UCAPAN TERIMAKASIH

Penulis mengucapkan terimakasih kepada PT. Dan Liris yang telah memberikan izin pada penulis untuk melakukan pengujiaan ketuaan warna menggunakan

Spectrofotometer

di Laboratorium Evaluasi Departemen

Dyeing Printing

.

DAFTAR PUSTAKA

Handelman, G. .. 2001. “The Evolving Role of Carotenoids in Human Biochemistry.” Pp. 818–

22 in

nutrition

. Vol. 17.

Hasanudin, M., Widijiyati., Sumardi., Mudjini., Setioleksono, H. & Pamungkas, W. 2001.

“Penelitian Penerapan Zat Warna Alam Dan Kombinasinya Pada Produk Batik Dan Tekstil Kerajinan Yogyakarta.”

Balai Besar Penelitian Dan Pengembangan Industri Kerajinan Dan Batik, Yogyakarta

.

Irawati, U. & Umi, B. L. U. 2011. “Pengolahan Limbah Cair Sasirangan Menggunakan Filter Arang Aktif Cangkangkang Kelapa Sawit Berlapiskan Kitosan Setelah Koagulasi Dengan FeSO4.”

Sains Dan Terapan Kimia

2(1):57–73.

Lubis, Arifin, S.Teks., Agus Suprapto, S.Teks, M.Si. dan Elina Hasyim, S. Teks. 1998.

Teknologi Pencapan Tekstil

. Bandung: Sekolah Tinggi Teknologi Tekstil. Bandung.

Ni Putu Puspandi Aristyanti, Ni Made Wartini, Ida Bagus Wayan Gunam. 2017. “Rendaman Dan Karakteristik Pewarna Bunga Kenikir (Tagetes Erecta L) Pada Perlakukan Jenis Pelarut Dan Lama Ekstraksi.”

Rekayasa Dan Manajemen Agro Industri

5(3):13–23.

Prabhu, K.H & Bhute, A. .. 2012. “Plant Based Natural Dyes and Mordants.”

Journal of Natural Production Plant Resouse

02(6):649–64.

Prihandini, Scaskita. 2018. “Efektifitas Ekstrak Kelopak Kenikir (Cosmos Caudatus K)Sebagai Pewarna Alami Pada Mie Basah.” STIKES ICME. Jombang.

Rosyida, A., Suranto., Masykuri, M., &. Margono. 2021. “Minimisation of Pollutionin the

(13)

C.08 | 13 Cotton Fabric Dyeing Process with Natural Dyes by the Selection of Mordan Type.”

Journal of Textile and Apparel.

doi: https://doi.org/10.1108/RJTA-08-2020-0098.

Sari, Trie., H. P. 2020. “Pengaruh Variasi Jenis Pengantal Dan Metode Mordan Pada Pencapan Kain Kapas Dengan Zat Warna Alam Daun Kenikir (Cosmos Cudatus).” Sekolah Tinggi Teknologi Warga Surakart, Kimia Tekstil.

Wicaksono, Intan Maharani dan Irma, R. 2020. “Pengaruh Jenis Fiksator Terhadap Hasil Jadi Pewarnaan Alami Dengan Air Rebusan Kenikir Pada Busana Anak.”

E- Journal, Program

Studi S1 Tata Busana Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya

09(01):34–38.

(14)

C.08 | 14 Lembar Tanya Jawab

Moderator : Irfa’ina Rohana Salma, S.ST. M.Sn.

Notulen : Novita Ekarini, S.ST.

1. Penanya Pertanyaan

Jawaban

: :

:

Irfa’ina Rohana Salma ( Balai Besar Kerajinan dan Batik)

Bagaimana kondisi daun kenikir yang digunakan untuk pencelupan? Dan bagaiman proses pencelupanya?

Daun kenikir yang digunakan untuk membuat larutan pewarna adalah daun kenikir segar, proses pembuatanya dengan cara dicacah terlebih dahulu lalu di masukan kedalam tungku panas.

Proses pencelupanya dengan direndam didalam larutan pewarna selama 1 jam tanpa pencelupan ulang.

2. Penanya

Pertanyaan

Jawaban

:

:

:

Renung Reningtyas (Universitas Pembangunan Nasional

“Veteran” Yogyakarta )

Apa nama alat yang di gunakan untuk melakukan pengujian uji ketuaan warna? dimana dilakukan pengujian dan berapa biayanya?

Pengujian dilakukan di PT. Danliris Solo dengan alat uji yang digunakan yaitu spectofotometer data 600

Gambar

Tabel 1. Nilai ketuaan warna pada hasil pencapan
Tabel 3. Nilai rata-rata stainning scale (SS)   pada ketahanan luntur warna panas penyetrikaan kering,  lembab, dan basah
Tabel 4. Nilai rata-rata  staining scale  (SS) pada ketahanan luntur warna gosokan kering dan basah

Referensi

Dokumen terkait

Proses pengolahan data dilakukan untuk memahami sisi kebutuhan jumlah armada, pola operasi dengan rute optimal untuk operasional kapal berdasarkan kondisi permintaan layanan

Dengan demikian, tujuan penelitian ini adalah untuk mengukur pengurangan skala nyeri pasca pemberian kombinasi vitamin B1, B6, dan B12 pada pasien neuropati diabetika.. BAHAN

Berdasarkan latar belakang tersebut, penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang koping atau cara yang digunakan oleh mahasiswa bidikmisi unnes yang

Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui implementasi standar pembiayaan pendidikan oleh kepala Sekolah Dasar Negeri se Kecamatan Sungai Raya Kepulauan

Aisyah (2012:93) dalam penelitiannya tentang Meningkatkan Kemampuan Representasi Dan Pemecahan Masalah Matematis Melalui Matematical Modelling Dalam

Diperolehnya nilai gosokan kering yang baik sekali pada kain hasil proses pencapan karena daun marenggo termasuk zat warna mordan, dimana mordan yang digunakan

Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan variasi konsentrasi mordan dan metode mordan yang berbeda pada hasil pencelupan kain kapas

[r]