• Tidak ada hasil yang ditemukan

ELGAVRIANTI HAMDI G111 14 038

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "ELGAVRIANTI HAMDI G111 14 038"

Copied!
66
0
0

Teks penuh

(1)

PENGAYAAN SENYAWA ORGANIK KOMPLEKS AIR KELAPA DAN EKSTRAK TAOGE PADA MEDIA KULTUR JARINGAN

KRISAN (Chrysanthemum morfolium L.)

ELGAVRIANTI HAMDI G111 14 038

PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI DEPARTEMEN BUDIDAYA PERTANIAN

FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS HASANUDDIN

MAKASSAR 2018

(2)

ii

PENGAYAAN SENYAWA ORGANIK KOMPLEKS AIR KELAPA DAN EKSTRAK TAOGE PADA MEDIA KULTUR JARINGAN

KRISAN (Chrysanthemum morfolium L.)

SKRIPSI

Diajukan untuk menempuh Ujian Sarjana pada Program Studi Agroteknologi Departemen Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian

Universitas Hasanuddin

ELGAVRIANTI HAMDI G111 14 038

PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI DEPARTEMEN BUDIDAYA PERTANIAN

FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS HASANUDDIN

MAKASSAR 2018

(3)

iii

PENGAYAAN SENYAWA ORGANIK KOMPLEKS AIR KELAPA DAN EKSTRAK TAOGE PADA MEDIA KULTUR JARINGAN

KRISAN (Chrysanthemum morfolium L.)

ELGAVRIANTI HAMDI G111 14 038

Skripsi sarjana lengkap

Disusun sebagai salah satu syarat untuk Memperoleh gelar sarjana

Pada

Program Studi Agroteknologi Departemen Budidaya Pertanian

Fakultas Pertanian Universitas Hasanuddin

Makassar

Makassar, Mei 2018 Menyetujui:

Pembimbing I Pembimbing II

Prof. Dr. Ir. Kaimuddin, M.Si Abdul Mollah Jaya, S.P., M.Si.

NIP. 19600512 198903 1 003 NIP. 19740615 200604 1 001

Mengetahui:

Ketua Departemen Budidaya Pertanian

Prof. Dr. Ir. Elkawakib Syam’un, MP NIP. 19560318 198503 1 001

(4)

iv

PENGESAHAN

JUDUL : PENGAYAAN SENYAWA ORGANIK KOMPLEKS AIR KELAPA DAN EKSTRAK TAOGE PADA MEDIA KULTUR JARINGAN KRISAN (Chrysanthemum morfolium L.)

NAMA : ELGAVRIANTI HAMDI NIM : G 111 14 038

Skripsi ini telah diterima dan dipertahankan pada Hari Jum’at Tanggal 04 Mei Tahun 2018 dihadapan pembimbing/penguji berdasarkan Surat Keputusan N0.028/UN4.41.1.1/PP.32/2018 dengan susunan sebagai berikut:

Prof. Dr. Ir. Kaimuddin, M.Si. (Ketua Sidang)

Abdul Mollah Jaya, S.P., M.Si. (Sekretaris)

Dr. Ir. Hj. Feranita Haring, MP. (Anggota)

Dr. Ir. Fachirah Ulfa, MP. (Anggota)

Dr. Ifayanti Ridwan Saleh, SP., MP. (Anggota)

Mengetahui:

Ketua Departemen Budidaya Pertanian

Prof. Dr. Ir. Elkawakib Syam’un, MP NIP. 19560318 198503 1 001

(5)

v

RINGKASAN

ELGAVRIANTI HAMDI (G11114038). Pengayaan Senyawa Organik Kompleks Ekstrak Taoge dan Air Kelapa pada Media Kultur Jaringan Krisan (Chrysanthemum morfolium L.). Dibimbing oleh KAIMUDDIN dan ABDUL MOLLAH JAYA

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui respon pertumbuhan planlet krisan melalui pengayaan senyawa organik kompleks air kelapa dan ekstrak taoge serta mengetahui konsentrasi air kelapa dan ekstrak taoge yang paling efektif dalam kultur jaringan krisan. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Kultur Jaringan, UPTD Balai Benih Hortikultura, Kecamatan Bonto-Bonto, Kabupaten Gowa, Provinsi Sulawesi Selatan. Penelitian berlangsung dari Agustus sampai Desember 2017. Penelitian ini dilaksanakan dalam bentuk percobaan dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang kemudian dilanjutkan dengan uji kontras. Penelitian ini dilakukan dengan 7 perlakuan yang masing-masing terdiri dari 3 ulangan, setiap perlakuan terdiri dari 3 unit sehingga total botol kultur yang digunakan dalam penelitian ini berjumlah 63 botol. Adapun perlakuan yang digunakan terdiri atas penambahan hormon sintetik BAP 1 ppm, air kelapa (50;

75; 100) ml/l dan ekstrak taoge (20; 40; 60) ml/l ke dalam media kultur MS (Murashige dan Skoog). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan air kelapa dan ekstrak taoge dalam media kultur memberikan pengaruh yang nyata pada parameter waktu muncul tunas, tinggi planlet, jumlah daun, jumlah akar dan panjang akar, namun tidak berpengaruh pada parameter waktu muncul akar dan jumlah tunas. Penambahan air kelapa sebanyak 75 ml/l menunjukkan hasil terbaik berdasarkan parameter waktu muncul tunas. Sedangkan penambahan ekstrak taoge dengan konsentrasi 40 ml/l menunjukkan hasil terbaik berdasarkan parameter waktu muncul akar, tinggi planlet, jumlah daun dan panjang akar.

Kata kunci : Krisan, Media MS, Air kelapa, Ekstrak taoge

(6)

vi

KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya kepada hamba-Nya. Salam dan shalawat tak lupa kita kirimkan kepada Rasulullah Muhammad SAW beserta para keluarga, sahabat dan para pengikutnya. Syukur Alhamdulillah manakala penulisan skripsi yang berjudul “Pengayaan Senyawa Organik Kompleks Air Kelapa dan Ekstrak Taoge pada Media Kultur Jaringan Krisan (Chrysanthemum morfolium L.)” dapat terselesaikan dengan baik yang sekaligus menjadi syarat

untuk menyelesaikan studi di Fakultas Pertanian Universitas Hasanuddin.

Penulis menyadari bahwa dalam penulisan skripsi ini jauh dari kata sempurna, namun penulis berharap skripsi ini bermanfaat bagi semua pihak yang membutuhkan, Amin.

Makassar, Mei 2018

Penulis

(7)

vii

UCAPAN TERIMA KASIH

Puji syukur senantiasa penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas Rahmat dan Hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian dan penyusunan skripsi ini. Tulisan skripsi ini dimaksudkan untuk memberikan informasi tentang respon pertumbuhan planlet krisan dengan pengayaan senyawa organik kompleks melalui kultur jaringan sehingga dapat dijadikan acuan untuk penelitian lebih lanjut.

Penulis menyadari bahwa tanpa bantuan dan dukungan dari beberapa pihak, penulisan skripsi ini tidak akan terselesaikan dengan baik, karena itu pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih yang tulus kepada :

1. Ayahanda Zaal Hamdi, S.E dan ibunda Wahidah Ibrahim, S.E yang telah membesarkan dan mendidik penulis dengan penuh kasih sayang, memberi nasehat dengan segala kesabaran, atas jerih payah serta doanya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Untuk kakak dan adikku tersayang Muhammad Ersyan, S.Pi dan Achmad Khatami yang menjadi motivasi dan membuat penulis lebih semangat.

2. Bapak Prof. Dr. Ir. Kaimuddin, M. Si dan Abdul Mollah Jaya, SP. M. Si selaku pembimbing dan ibu Dr. Ir. Hj. Feranita Haring, MP., Dr. Ir.

Fachirah Ulfa, MP., dan Dr. Ifayanti Ridwan Saleh M., SP, MP. selaku penguji yang memberikan banyak saran dan masukan kepada penulis sejak awal penelitian sampai selesainya skripsi ini.

(8)

viii

3. Pihak UPTD Balai Benih Hortikultura, Bonto-Bonto, Kabupaten Gowa, Provinsi Sulawesi Selatan, khususnya Kepala Balai UPTD Balai Benih Hortikultura Dr. Ir. A. Hasanuddin, M. Si, Kepala Tata Usaha UPTD Balai Benih Hortikultura Ir. Ali Imran, Pimpinan Laboratorium Kultur Jaringan UPTD Balai Benih Hortikultura Idharni Tenri Pada Badwi, S.P, dan seluruh staf maupun pegawai Laboratorium Kultur Jaringan UPTD Balai Benih Hortikultura yang penulis tidak bisa sebutkan satu per satu, atas bantuannya kepada penulis semasa menjalankan penelitian hingga skripsi ini selesai.

4. Sahabat Happiness Group Fazya Nabilah Salman, Nur Husnul Khotimah, Andi Nadia Nurul L H, Adhe Riany Rahman, Sri Hardiyanti Saad, Devi Yusnita, Lusiana Faradilla, dan Nur Reskiana, dan teman-teman Agroteknologi 2014, Agroteknologi A, SINTESIS 2014, HIMAGRO, KKN UPSUS Takalar 2017, serta teman-teman Big Family IPA 1 SMA Negeri 3 Makassar (Einstein) Safitri, Arwita Irawati, Arham, Alfian atas semua bantuan, semangat, dan kebersamaan yang diberikan kepada penulis mulai dari awal perkuliahan hingga skripsi ini selesai.

Penulis berharap semoga apa yang terdapat dalam tugas akhir ini dapat bermanfaat bagi yang membutuhkannya. Amin.

Makassar, Mei 2018

Penulis

(9)

ix DAFTAR ISI

Halaman

DAFTAR TABEL ... xi

DAFTAR GAMBAR ... xiii

BAB I. PENDAHULUAN ... 1

1.1. Latar Belakang ... 1

1.2. Hipotesis ... 4

1.3. Tujuan dan Kegunaan ... 4

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA ... 6

2.1. Tanaman Krisan ... 6

2.2. Kultur Jaringan ... 8

2.3. Media dan Zat Pengatur Tumbuh ... 9

2.4. Senyawa Organik Kompleks Air Kelapa dan Ekstrak Taoge ... 12

BAB III. METODOLOGI ... 15

3.1. Tempat dan Waktu ... 15

3.2. Alat dan Bahan ... 15

3.3. Metode Penelitian ... 15

3.4. Pelaksanaan Penelitian ... 16

3.5. Parameter Pengamatan ... 20

BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN ... 21

4.1. Hasil ... 21

4.2. Pembahasan ... 28

(10)

x

BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN ... 32

5.1. Kesimpulan ... 32

5.2. Saran ... 32

DAFTAR PUSTAKA ... 33

LAMPIRAN ... 34

(11)

xi

DAFTAR TABEL

Nomor Teks Halaman

1. Hasil Uji Kontras Waktu Muncul Tunas (HST) ……….. 21

2. Hasil Uji Kontras Tinggi Planlet (cm) ……..………... 23

3. Hasil Uji Kontras Jumlah Daun (helai) ……… 25

4. Hasil Uji Kontras Jumlah Akar ……… 26

5. Hasil Uji Kontras Panjang Akar (cm) ……….. 27

Lampiran 1a. Rata-Rata Waktu Muncul Tunas Planlet Krisan ………. 38

1b. Sidik Ragam Waktu Muncul Tunas Planlet Krisan ……..………... 38

2a. Rata-Rata Waktu Muncul Akar Planlet Krisan ……… 39

2b. Sidik Ragam Waktu Muncul Akar Planlet Krisan ………... 39

3a. Rata-Rata Jumlah Tunas Planlet Krisan 30 HST ………. 40

3b. Sidik Ragam Jumlah Tunas Planlet Krisan 30 HST………. 40

4a. Rata-Rata Tinggi Planlet Krisan 30 HST ……… 41

4b. Sidik Ragam Tinggi Planlet Krisan 30 HST ……… 41

5a. Rata-Rata Jumlah Daun Planlet Krisan 30 HST ……….. 42

5b. Sidik Ragam Jumlah Daun Planlet Krisan 30 HST ……..………... 42

6a. Rata-Rata Jumlah Akar Planlet Krisan 30 HST ………... 43

6b. Sidik Ragam Jumlah Akar Planlet Krisan 30 HST ……..………... 43

7a. Rata-Rata Panjang Akar Planlet Krisan 30 HST ………. 44

7b. Sidik Ragam Panjang Akar Planlet Krisan 30 HST ……..……….. 44

8. Komposisi Bahan Kimia dalam Larutan Stok MS ….………. 45

(12)

xii

9. Deskripsi Tanaman Krisan Varietas Aiko ………... 46 10. Analisis Kandungan Kimia Air Kelapa ….……….. 47 11. Komposisi dan Nilai Gizi Biji Kacang Hijau dan Kecambah Kacang

Hijau (taoge) dalam 100 gram Contoh ….………...

48

(13)

xiii

DAFTAR GAMBAR

Nomor Teks Halaman

1. Diagram Batang Rata-Rata Waktu Muncul Akar Krisan (HST)……….. 22

2. Diagram Batang Rata-Rata Jumlah Tunas Krisan 30 HST………... 23

Lampiran 1. Denah Percobaan di Laboratorium ……….. 49

2. Kondisi planlet krisan 7 HST ……….. 50

3. Kondisi planlet krisan 14 HST ……… 51

4. Kondisi planlet krisan 21 HST ……… 52

5. Kondisi planlet krisan 30 HST ……… 53

(14)

1 BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Tanaman hias (ornamental plants) merupakan produk pertanian yang memiliki prospek agribisnis yang sangat menjanjikan. Tanaman hias banyak dibudidayakan karena bernilai ekonomi tinggi akibat dari nilai estetika yang dimilikinya. Adanya nilai estetika yang dimiliki oleh tanaman hias menyebabkan banyak dibudidayakan sebagai objek taman untuk perumahan, perkantoran, restoran, dan sebagianya. Selain itu, juga dibutuhkan sebagai hiasan atau bahan dekorasi ruangan baik untuk indoor maupun outdoor.

Salah satu tanaman hias yang banyak diminati oleh masyarakat adalah krisan. Krisan (Chrysanthemum morfolium L.) adalah tanaman bunga hias berupa herba dengan sebutan lain seruni atau bunga emas (Golden Flower). Tanaman krisan memiliki bentuk dan warna yang beragam serta unik dan menarik sehingga banyak diminati oleh masyarakat. Selain sebagai penghias, juga sebagai tanaman pengusir nyamuk dan tanaman obat. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS, 2017), produksi tanaman krisan di Indonesia terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun untuk memenuhi permintaan konsumen yang juga semakin meningkat. Pada tahun 2013, produksi krisan sebesar 387.208.754 tangkai dan meningkat hingga mencapai 427.248.059 tangkai (meningkat 10,43 %) pada tahun 2014 dan 442.698.194 tangkai pada tahun 2015. Permintaan pasar yang tinggi menjadikan tanaman krisan mempunyai prospek yang cerah untuk dikembangkan baik pada saat ini maupun yang akan datang.

(15)

2

Bibit yang baik dan bermutu merupakan salah satu syarat penentu keberhasilan dalam setiap usaha budidaya tanaman krisan. Banyaknya permintaan untuk tanaman krisan tidak sebanding dengan sediaan induk tanaman. Jumlah tanaman induk belum cukup untuk memenuhi ketersediaan bibit untuk perbanyakan krisan. Masalah lain adalah degenerasi bibit, yaitu penurunan mutu bibit sejalan dengan bertambahnya umur tanaman induk, dan rendahnya mutu bibit yang dihasilkan. Hal ini dikarenakan tanaman krisan diperbanyak dengan setek pucuk maupun anakan (konvensional).

Perbanyakan dengan cara tersebut mudah dilakukan karena tidak diperlukan tenaga ahli, peralatan modern dan biaya yang tidak terlalu mahal. Namun dengan cara perbanyakan demikian, tingkat multiplikasinya sangat rendah dan waktu yang dibutuhkan untuk perbanyakan terhitung lama, serta peluang untuk teserang hama dan penyakit masih sangat besar. Untuk menghindari atau mengurangi degenerasi bibit, produsen dituntut agar dapat menerapkan teknik perbanyakan yang tepat untuk mengatasi masalah tersebut. Perbanyakan benih tersebut dapat dilakukan melalui teknik kultur jaringan.

Perbanyakan tanaman krisan kini tidak hanya dapat dilakukan melalui stek saja namun dapat menggunakan cara kultur jaringan. Perbanyakan tanaman krisan yang dilakukan dengan cara kultur jaringan diharapkan dapat menghasilkan kualitas bibit krisan yang unggul dan seragam, tahan terhadap penyakit, tingkat produksi tinggi serta waktu yang relatif lebih singkat jika dibandingkan dengan perbanyakan secara konvensional. Perbanyakan secara kultur jaringan merupakan perbanyakan dengan menggunakan bagian kecil tanaman, media tanam berupa

(16)

3

media buatan aseptik yang diletakkan didalam wadah kecil seperti tabung reaksi atau botol selai. Investasi awal untuk fasilitas ini cukup mahal namun potensial untuk perbanyakan secara massal.

Salah satu faktor yang mempengaruhi keberhasilan dalam pembiakan tanaman secara kultur jaringan adalah komposisi media yang digunakan. Media kultur tidak hanya mengandung unsur hara makro dan mikro, tetapi juga karbohidrat sebagai sumber karbon atau bahan organik lainnya. Zat pengatur tumbuh merupakan komponen media yang sangat diperlukan untuk pertumbuhan dan diferensiasi. Tanpa penambahan zat pengatur tumbuh dalam medium, pertumbuhan eksplan sangat terhambat bahkan mungkin tidak terjadi pertumbuhan sama sekali.

Aplikasi penambahan hormon sintetik pada media dalam kultur jaringan merupakan salah satu faktor yang menyebabkan tingginya biaya produksi. Hal ini dikarenakan harga hormon sintetik cukup mahal dan tidak selalu ready stock.

Oleh karenanya diperlukan adanya hormon alami yang dapat digunakan untuk menggantikan peran hormon (sitokinin maupun auksin) sintetik. Hormon alami dapat diperoleh dari berbagai buah-buahan maupun sayuran, beberapa diantaranya adalah air kelapa dan ekstrak taoge.

Hasil analisis Kristina dan Syahid (2012), menyatakan bahwa kandungan kimia air kelapa muda menunjukkan komposisi ZPT kinetin (sitokinin) sebesar 273,62 mg/l dan zeatin 290,47 mg/l, sedangkan kandungan IAA (auksin) adalah 198,55 mg/l. Selain kandungan ZPT, kandungan vitamin dalam air kelapa dapat dijadikan tambahan vitamin yang terkandung pada media MS. Berdasarkan

(17)

4

penelitian Surachman (2011) menunjukkan bahwa penggunaan media MS ditambah dengan air kelapa 10% pada perbanyakan nilam secara in vitro menunjukkan respon terbaik dengan prosentase tunas hidup rata-rata 100%, jumlah tunas 3 dan daun sebanyak 9,10 serta tinggi tunas 1.61 cm.

Pengayaan ekstrak taoge juga dapat mempengaruhi keberhasilan pembiakan tanaman secara kultur jaringan. Ekstrak tauge mengandung asam amino esensial seperti triptofan yang merupakan prekusor dalam proses biosintesis IAA (Indole Acetic Acid). Auksin berfungsi dalam memacu pertumbuhan akar serta

pertumbuhan akar menjadi lebih baik sehingga air dan unsur hara dalam tanah yang diserap akar lebih banyak. Berdasarkan hasil penelitian Amilah dan Astuti (2006), penggunaan ekstrak taoge dalam media kultur jaringan dapat memacu pertumbuhan akar anggrek bulan (Phalaenopsis amabilis L.) dibandingkan tanpa penggunaan ekstrak taoge.

Berdasarkan uraian diatas maka penulis terdorong untuk melakukan penelitian dengan pengayaan senyawa organik kompleks air kelapa dan ekstrak taoge pada media kultur jaringan krisan (Chrysanthemum morfolium L.).

1.2 Hipotesis

Hipotesis dalam penelitian ini yaitu terdapat konsentrasi senyawa organik kompleks air kelapa dan ekstrak tauge yang dapat memberikan pengaruh terbaik pada pertumbuhan planlet krisan.

1.3 Tujuan dan Kegunaan

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui respon pertumbuhan planlet krisan melalui pengayaan senyawa organik kompleks air kelapa dan ekstrak taoge

(18)

5

serta mengetahui konsentrasi air kelapa dan ekstrak taoge yang paling efektif dalam kultur jaringan krisan.

Kegunaan dari penelitian ini yaitu sebagai informasi terkait pemanfaatan senyawa organik kompleks air kelapa dan ekstrak taoge terhadap pertumbuhan planlet krisan (Chrysanthemum morfolium L.) yang dapat digunakan untuk pengembangan penelitian selanjutnya.

(19)

6 BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Tanaman Krisan

Krisan merupakan salah satu tanaman semusim yang memiliki habitus berupa semak setinggi 30-200 cm. Umumnya masyarakat Indonesia mengenal krisan dengan nama seruni atau bunga emas (golden flower). Tanaman ini memiliki sistem perakaran tunggang dengan pertulangan daun menyirip. Batang krisan berupa herba yang tumbuh agak tegak dan umumnya jarang membentuk percabangan. Bunga krisan termasuk bunga majemuk lengkap terminalis yang terdiri atas bungan pita dan bunga tabung (Wediyanto et al.2007).

Kedudukan krisan secara taksonomi menurut National Chrysanthemum Society (NCS) (2012) adalah sebagai berikut:

Kingdom : Plantae

Sub divisi : Angiospermae Divisi : Magnoliophyta Kelas : Magnoliopsida Ordo : Asterales Famili : Asteraceae Genus : Chrysanthemum

Spesies : Chrysanthemum morfolium L.

Akar tanaman krisan menyebar ke segala arah pada radius dan kedalaman 50- 70 cm atau lebih. Batang tanaman krisan tumbuh agak tegak dengan percabangan yang agak jarang, berstruktur lunak, dan berwarna hijau, tetapi bila

(20)

7

dibiarkan akan tumbuh terus, batang berubah menjadi keras (berkayu) dan berwarna hijau kecoklatan, serta berdiameter satu bonggol bunga terdapat bunga cakram (Rukmana dan Mulyana, 1997).

Krisan varietas Aiko merupakan silsilah turanan esensial dari varietas Garden dan Swarna memiliki umur mulai berbunga 40-50 hari setelah tanam, tinggi tanaman 24,5 - 27,5 cm, tipe bunga spray, bentuk bunga ganda, jumlah kuntum bunga per tangkai 7-23 kuntum, diameter kuntum bunga 2,99 - 3,22 cm, hasil bunga 35-115 tangkai/pot, lama kesegaran bunga 14-21 hari, diameter batang 0,23 - 0,36 cm. Beradaptasi dengan baik di dataran tinggi dengan ketinggian 700 - 1200 m dpl (Balai Penelitian Tanaman Hias, 2014).

Tingkat keminatan masyarakat terhadap bunga krisan berdasarkan atas beberapa hal diantaranya adalah warna, bentuk dan ukuran bunga, produktivitas tanaman, penanganan pasca panen, serta ketahanan tanaman terhadap hama dan penyakit. Pasar potensial penjualan bunga krisan Indonesia antara lain Jerman, Inggris, Italia, Swiss, Australia, Amerika Selatan, Swedia, Denmark, Jepang dan beberapa negara Eropa lainnya (Bety dan Suhardi, 2009).

Pengamatan di lapangan menunjukkan bahwa fluktuatifnya harga jual krisan merupakan salah satu masalah yang belum dapat teratasi. Hal ini dikarenakan kualitas tanaman yang tidak seragam dan suplai bunga yang tidak tetap. Berbagai cara telah dilakukan oleh petani untuk menjaga stabilitas bibit krisan yang akan diproduksi. Salah satunya adalah perbanyakan bibit secara sederhana. Umumnya, metode perbanyakan yang dilakukan adalah stek pucuk. Walaupun biasa digunakan sebagai metode perbanyakan, stek pucuk dianggap belum

(21)

8

menyelesaikan masalah karena krisan memiliki sifat degenerasi kualitas bibit sejalan dengan bertambahnya usia vegetatif tanaman. Oleh karenanya diperlukan pembaruan bibit secara kontinyu agar produktivitas dan kualitas bunga yang dihasilkan dapat seragam dan konsisten (Muhit 2007).

2.2 Kultur Jaringan

Kultur jaringan adalah teknik perbanyakan tanaman dengan memperbanyak jaringan tanaman yang ditumbuhkan secara in-vitro menjadi tanaman yang sempurna dalam jumlah sangat banyak. Dasar kultur jaringan adalah teori totipotensi sel, yaitu setiap sel organ tanaman tersebut mampu tumbuh menjadi tanaman sempurna bila ditempatkan di lingkungan yang sesuai bagi pertumbuhannya (Yuliarti, 2010).

Tujuan utama dalam teknik kultur jaringan adalah perbanyakan tanaman secara masal dalam waktu yang singkat. Teknik kultur jaringan pun bermanfat dalam hal lain, yaitu perbanyakan klon secara cepat, keseragaman genetik, kondisi aseptik, seleksi tanaman, stok tanaman mikro, lingkungan terkendali, pelestarian plasma nutfah, produksi tanaman sepanjang tahun, dan memperbanyak tanaman yang sulit diperbanyak (Zulkarnain, 2009).

Teknik kultur jaringan mengenal 3 jenis media yang digunakan, yaitu media padat, semi padat, dan cair. Media kultur yang memenuhi syarat adalah media yang mengandung nutrisi makro dan mikro dalam kadar dan perbandingan tertentu, serta sumber tenaga yang umumnya adalah sukrosa. Media kultur jaringan seringkali mengadung vitamin dan zat perangsang tumbuh. Pemilhan

(22)

9

media untuk kultur jaringan tergantung pada spesies, jaringan atau organ yang akan digunakan, dan tujuan dilakukan kultur jaringan (Watimena et al., 2001).

Faktor yang paling menentukan laju pertumbuhan dan mutu tanaman yang diregenerasikan adalah eksplan awal. Eksplan adalah bagian jaringan atau organ tanaman yang digunakan sebagai bahan inisiasi kultur. Hampir seluruh bagian dari tanaman dapat digunakan sebagai eksplan, tergantung pada tujuan dan spesies tanaman yang dikulturkan. Kultur jaringan yang bertujuan untuk mendapatkan tanaman bebas virus, maka menggunakan bagian yang sangat kecil yaitu bagian ujung dari pucuk tanaman yang dipisahkan secara aseptik (Watimena et al., 2001).

Kegiatan kultur jaringan tidak lepas dari kendala yang membuat kultur menjadi gagal. Menurut Yuliarti (2010), kendala yang sering terjadi dalam kultur jaringan adalah kontaminasi, pencoklatan (browning), vitrifikasi, variabiltas genetik, stagnasi, pra perlakuan, dan lingkungan mikro. Keberhasilan kultur dipengaruhi oleh bentuk regenerasi dalam kultur, eksplan, media, zat pengatur tumbuh, dan lingkungan tumbuh.

2.3 Media dan Zat Pengatur Tumbuh

Media kultur jaringan adalah media tanam yang terdiri dari berbagai komposisi dan macam unsur hara dan sebagainya. Media tanam pada kultur jaringan berisi kombinasi dari asam amino essensial, garam-garam anorganik, vitamin-vitamin, larutan buffer, dan sumber energi (glukosa). Media kultur jaringan merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan dalam perbanyakan tanaman secara in vitro. Untuk membuat media dengan jumlah zat seperti yang ditentukan, diperlukan penimbangan dan penakaran bahan secara tepat.

(23)

10

Ketidaktepatan ukuran dapat menyebabkan terjadinya proses yang tidak dikehendaki (Yusnita, 2003).

Media tanam kultur jaringan terdiri dari dua jenis yaitu, media cair dan media padat. Media cair digunakan untuk menumbuhkan eksplan sampai terbentuk PLB (protocorm like body) yaitu eksplan yang akan tumbuh jaringan seperti kalus berwarna putih. Media padat digunakan untuk menumbuhkan PLB sampai terbentuk planlet (Rahardja dan Wahyu, 2003).

Salah satu media dasar yang banyak digunakan dalam kultur jaringan yaitu media dasar Murashige dan Skoog (1962). Keistimewaan medium MS adalah kandungan nitrat, kalium dan ammoniumnya yang tinggi, dan jumlah hara anorganiknya yang layak untuk memenuhi kebutuhan banyak sel tanaman dalam kultur jaringan (Widyastuti dan Donowati, 2001).

Zat pengatur tumbuh (ZPT) adalah senyawa organik bukan hara yang dalam jumlah sedikit dapat mendukung, menghambat dan dapat merubah proses fisiologis tumbuhan. Zat pengatur tumbuh (ZPT) mempengaruhi pertumbuhan dan morfogenesis kultur sel, organ, dan jaringan. Ada 2 jenis hormon tanaman (auksin dan sitokinin) yang sekarang banyak dipakai dalam propagasi secara in vitro.

Auksin adalah zat yang memiliki sifat khas, yaitu mendorong perpanjangan sel pucuk. Meskipun dapat mempengaruhi proses lain namun pengaruh utamanya adalah memperpanjang sel pucuk. Zat pengatur tumbuh lain selain auksin adalah sitokinin. Sitokinin adalah zat pengatur tumbuh yang ditemukan oleh Haberlandt tahun 1913. Sitokinin mempunyai peranan dalam proses pembelahan sel. Bentuk dasar dari sitokinin adalah adanya gugus adenin (6-amino purine) yang

(24)

11

menentukan kerja sitokinin yakni meningkatkan aktivitas dalam proses fisiologis tanaman. Dalam penelitian kultur jaringan, apabila konsentrasi sitokinin lebih besar dari auksin, maka akan terjadi stimulasi pertumbuhan tunas dan daun, sebaliknya bila sitokinin lebih rendah daripada auksin, maka terjadi stimulasi pertumbuhan akar. Sebaliknya, bila perbandingan sitokinin dan auksin berimbang, maka pertumbuhan tunas, akar dan daun akan berimbang pula (Abidin, 1994).

Pengaruh sitokinin di dalam kultur in vitro antara lain berhubungan dengan proses pembelahan sel, proliferasi tunas ketiak, dan penghambatan pertumbuhan akar tanaman. Salah satu jenis ZPT dari golongan sitokinin yang sering dipakai dalam kultur jaringan yaitu BAP (6-benzylaminopurine). 6-Benzilaminopurine (BAP) merupakan salah satu sitokinin sintetik yang aktif dan daya merangsangnya lebih lama karena tidak mudah dirombak oleh enzim dalam tanaman. BAP memiliki struktur yang mirip dengan kinetin dan juga aktif dalam pertumbuhan dan proliferasi kalus sehingga BAP merupakan sitokinin yang paling aktif. Selain itu kultur tunas pada medium MS, baik yang mengandung sitokinin (BAP) tunggal maupun kombinasi menunjukkan respon yang bervariasi. Walaupun konsentrasi BAP 1-2 mg/L paling aktif menginduksi tunas, kombinasi dari BAP (2 mg/L) dan IAA (0,5 mg/L) memberikan penggandaan tunas maksimum (Widyastuti dan Donowati, 2001).

Penggunaan zat pengatur tumbuh di dalam kultur jaringan tergantung pada tujuan atau arah pertumbuhan tanaman yang diinginkan. Zat pengatur tumbuh BA (benzyl adenin) paling banyak digunakan untuk memacu penggandaan tunas karena mempunyai aktivitas yang kuat dibandingkan dengan kinetin. BA

(25)

12

mempunyai struktur dasar yang sama dengan kinetin tetapi lebih efektif karena BA mempunyai gugus benzil. Respon terbaik terhadap proliferasi tunas yang berasal dari node Chrysanthemum morifolium, adalah dengan menggunakan media MS + 1,0 mg/l BA (Karim, et al., 2003).

2.4 Senyawa Organik Kompleks Air Kelapa dan Ekstrak Taoge

Salah satu faktor yang mempengaruhi keberhasilan dalam pembiakan tanaman secara kultur jaringan adalah komposisi media yang digunakan. Untuk memperoleh hasil yang lebih baik, media kultur jaringan perlu ditambahkan antara lain vitamin-vitamin, asam amino, zat pengatur tumbuh atau bahan-bahan alami yang mengandung senyawa di atas. Media kultur tidak hanya mengandung unsur hara makro dan mikro, tetapi juga karbohidrat sebagai sumber karbon atau bahan organik lainnya. Bahan-bahan alami yang sering digunakan adalah air kelapa dan ekstrak taoge (Rachmatullah, 2009).

Air kelapa merupakan salah satu bahan alami yang mengandung hormon sitokinin 5,8 mg/l, auksin 0,07 mg/l, giberelin dan senyawa lain. Senyawa lain yang terdapat dalam air kelapa adalah protein, lemak, mineral, karbohidrat, bahkan lengkap dengan vitamin C dan B kompleks. Protein dan karbohidrat dibutuhkan tanaman sebagai cadangan makanan, lemak dibutuhkan tanaman sebagai cadangan energi, mineral sebagai bahan penyusun tubuh tanaman, dan vitamin C dan B kompleks berperan di dalam proses metabolisme. Dengan demikian, air kelapa dapat dimanfaatkan untuk memacu pertumbuhan baik pertunasan maupun perakaran pada berbagai jenis tanaman (Ningsih et al. 2010).

(26)

13

Air kelapa adalah salah satu diantara beberapa persenyawaan kompleks alamiah yang digunakan dalam kultur jaringan. Morel (1974) mengatakan bahwa air kelapa menstimulir pembelahan epidermis dan mengarah pada pembentukan protocorn jaringan supaya bergenerasi lebih lanjut dan lebih cepat. Air kelapa yang baik untuk campuran medium kultur jaringan anggrek yaitu air kelapa muda yang manis rasanya dengan daging buah yang manis, putih, serta masih mudah dikerok dengan sendok (Soeryowinoto, 1974 dalam Parera 1997). Penggunaan air kelapa pertama kali dilaporkan Van Overbeek (1941) dalam kultur embrio Stramonium. Para peneliti mendapatkan bahwa zat pengatur tumbuh tertentu dapat

digantikan dengan penambahan air kelapa dalam medium.

Jenis kelapa dalam penggunaannya tidak memberikan efek yang berbeda terutama antara kelapa varietas genjah kuning dan varietas genjah hijau. Sesuatu yang perlu diperhatikan adalah tingkat ketuaan buah kelapa. Penambahan air kelapa umur muda dan umur sedang sebanyak 150 ml/L media dapat mendorong pertumbuhan tinggi, panjang, dan lebar daun serta panjang dan jumlah akar planlet anggrek Dendrobium, sedangkan pemberian kelapa tua tidak memberikan efek yang berbeda dengan media tanpa air kelapa (Widiastoety et al., 1997).

Menurut Sandra (2003) bahwa air kelapa biasanya ditambahkan ke dalam media dengan konsentrasi 2 sampai 15 %. Sedangkan Sriyanti dan Wijayani (1994) menyatakan bahwa konsentrasi air kelapa yang baik ditambahkan berkisar antara 100 sampai 200 ml/l. Air kelapa yang biasa digunakan adalah yang berasal dari kelapa hijau yang dicirikan dengan volume air masih memenuhi buah dan keadaan endosperm padat (daging kelapa) yang belum menebal.

(27)

14

Penambahan ekstrak taoge juga dapat mempengaruhi keberhasilan pembiakan tanaman secara kultur jaringan. Menurut Amilah dan Astuti (2006), taoge merupakan jenis sayuran yang umum dikonsumsi, mudah diperoleh, ekonomis, dan tidak menghasilkan senyawa yang berefek toksik. Taoge memiliki kandungan asam amino tryptophan yang merupakan zat organik terpenting dalam biosintesis auksin, juga memiliki kandungan mineral seperti kalsium, besi, magnesium, fosfor dan seng. Vitamin yang ditemukan dalam taoge adalah vitamin C, thiamin, riboflavin, niasin, asam pantothenik, vitamin B6, folat, kolin, vitamin A, vitamin E, dan vitamin K. Hal yang sama dinyatakan oleh Campbell et al (2003) bahwa kacang hijau dalam bentuk kecambah mempunyai kandungan vitamin lebih banyak dari bentuk bijinya. Dibandingkan dalam biji, kadar vitamin B meningkat jumlahnya 2,5 – 3 kali lebih besar dalam bentuk kecambah dan vitamin C dalam bentuk kecambah meningkat menjadi 20 mg/100 g kacang hijau.

Nilai gizi dari biji kacang hijau dan kecambah kacang hijau (taoge) dalam 100 g disajikan dalam tabel lampiran 10.

Berdasarkan hasil penelitian Amilah dan Astuti (2006), penggunaan ekstrak taoge 150 g/l dalam media kultur jaringan dapat memacu pertumbuhan anggrek bulan (Phalaenopsis amabilis L.) dibandingkan tanpa penggunaan ekstrak taoge.

Hasil penelitian yang dilakukan Mahanani (2003) menunjukkan bahwa pemberian ekstrak kecambah kacang hijau (taoge) dengan konsentrasi 40% pada tanaman kentang varietas granola yang diberikan dua kali menunjukkan pertumbuhan dan hasil yang terbaik dibandingkan dengan zat pengatur tumbuh alami lain atau tanpa zat pengatur tumbuh.

(28)

15 BAB III METODOLOGI

3.1 Tempat dan Waktu

Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Kultur Jaringan, UPTD Balai Benih Hortikultura, Kecamatan Bonto-Bonto, Kabupaten Gowa, Provinsi Sulawesi Selatan. Penelitian ini berlangsung dari bulan Agustus sampai dengan bulan Desember 2017.

3.2 Alat dan Bahan

Alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini yaitu cawan petri, pisau kultur, pinset, Laminar Air Flow (LAF), aluminium foil, plastik wrapping, botol kultur, tabung reaksi, masker, sarung tangan, hot plate, autoklaf, oven, lemari pendingin, timbangan analitik, spatula, gelas ukur, gelas baker, pipet tetes, panci, pH meter, bunsen, rak kultur, erlemeyer, kertas saring, tray, kertas milimeter dan kamera.

Bahan yang digunakan dalam penelitian ini yaitu tanaman krisan varietas Aiko, larutan stok media MS, agar-agar, gula pasir, air, aquades, BAP, air kelapa, ekstrak taoge, twin, klorin, dan alkohol.

3.3 Metode Penelitian

Metode penelitian ini menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) yang kemudian dilanjutkan dengan uji kontras. Penelitian ini dilakukan dengan 7 perlakuan yang masing-masing terdiri dari 3 ulangan, setiap perlakuan terdiri dari 3 unit sehingga total botol kultur yang digunakan dalam penelitian ini berjumlah 63 botol. Adapun perlakuannya yaitu sebagai berikut :

(29)

16 M0 = Media MS + BAP 1 ppm

M1 = Media MS + Air kelapa 50 ml/l M2 = Media MS + Air kelapa 75 ml/l M3 = Media MS + Air kelapa 100 ml/l M4 = Media MS + Ekstrak tauge 20 ml/l M5 = Media MS + Ekstrak tauge 40 ml/l M6 = Media MS + Ekstrak tauge 60 ml/l 3.4 Pelaksanaan Penelitian

3.4.1 Sterilisasi Alat

Alat-alat yang digunakan dalam penanaman harus dalam keadaan steril.

Alat-alat logam dan gelas dapat disterilisasikan dengan menggunakan autoklaf.

Alat-alat dan kertas saring dibungkus rapi dengan kertas tebal atau plastik sebelum dimasukan ke dalam autoklaf. Temperatur yang digunakan untuk sterilisasi adalah 121oC selama satu jam. Alat tanam seperti pinset dan gunting dapat disterilkan dengan dicelupkan dalam alkohol dan dibakar. Aquades juga disterilkan dalam autoklaf.

3.4.2 Sterilisasi Lingkungan Kerja

Lampu ultraviolet pada Laminar Air Flow (LAF) dinyalakan selama 30-60 menit, agar kontaminan pada laminar dapat hilang. Sebelum memulai kerja, permukaan Laminar Air Flow (LAF) dilap dengan menggunakan tisu yang telah disemprotkan alkohol 70%. Setelah melakukan kerja, permukaan Laminar Air Flow (LAF) dibersihkan kembali dengan alkohol 70% atau dengan lampu ultra violet selama 30-60 menit.

(30)

17

3.4.3 Pembuatan Larutan Stok Media MS dan Zat Pengatur Tumbuh Percobaan menggunakan media Murashige dan Skoog (MS) yang mengandung hara makro, mikro, dan vitamin. Dalam membuat larutan stok, dilakukan penimbangan terhadap bahan-bahan dalam pembuatan media. Semua bahan untuk media MS ditimbang sesuai dengan konsentrasi yang digunakan dengan memisahkan antara zat makro, zat mikro, FeEDTA, dan vitamin (tabel lampiran 8). Setelah itu bahan-bahan yang telah ditimbang dimasukkan ke dalam erlemeyer lalu cukupkan dengan aquades hingga 500 ml. Setelah itu setiap larutan ditutup rapat, kemudian diberi label lalu disimpan dalam lemari pendingin.

Larutan stok zat pengatur tumbuh BAP dibuat dengan cara menimbang BAP sebanyak 1 gram lalu cukupkan dengan 1000 ml aquades. Untuk perlakuan ekstrak taoge dibuat dengan cara menimbang taoge sebanyak 100 gram lalu dihaluskan dan disaring. Taoge kemudian dilarutkan dengan 500 ml aquades.

Taoge yang digunakan berasal dari biji kacang hijau yang dikecambahkan dengan panjang hipokotil ± 1 cm dan telah dipisahkan dari kulitnya. Taoge selanjutnya direndam selama 24 jam, kemudian ditiriskan dan dilembabkan. Kelembabannya dijaga dengan memercikkan air sesuai kebutuhan dan menempatkan di tempat gelap selama 2-3 hari. Dua hari berselang, biji kacang hijau mulai berkecambah dan siap untuk diekstrak.

3.4.4 Pembuatan Media

Pembuatan media dimulai dengan menyiapkan aquades sebanyak 500 ml dalam labu ukur. Setelah itu masukkan 100 ml stok MS makro, 10 ml stok MS mikro, 10 ml stok FeEDTA, 1 ml stok vitamin, gula 7 gr/L dan agar-agar 30 gr/L

(31)

18

ke dalam labu ukur yang telah berisi aquades 500 ml tersebut lalu tambahkan BAP 1 ppm (M0) yang telah diukur sebelumnya lalu cukupkan hingga 1 liter. Untuk media perlakuan, dengan tahapan yang sama tambahkan air kelapa dengan masing-masing 50 ml (M1), 75 ml (M2), 100 ml (M3) pada larutan media MS pada labu ukur lalu dicukupkan volumenya hingga 1 liter, begitu pula pada ekstrak tauge dengan masing-masing 20 ml (M4), 40 ml (M5), dan 60 ml (M6).

Larutan media dipindahkan ke dalam panci lalu dipanaskan dengan menggunakan hot plate sambil diaduk. Selanjutnya ukur pH media berkisar antara 5,8 sampai 6,0 lalu tuang larutan media yang telah dipanaskan tersebut ke dalam botol kultur steril sebanyak 20 ml per botol. Botol kemudian ditutup rapat dengan plastik dan karet lalu diberi label, kemudian disterilisasi dalam autoklaf dengan suhu 121oC selama 15 menit.

3.4.4 Persiapan Eksplan

Eksplan yang digunakan dalam penelitian ini berasal dari Balai Benih Hortikultura, Bonto-Bonto, Kabupaten Gowa, yaitu tanaman induk krisan varietas Aiko yang berumur 2 bulan dan masih berada pada vase vegetatif. Bagian yang dijadikan eksplan yaitu batang krisan. Batang krisan dibersihkan dengan menggunakan air mengalir. Daun-daun terluar batang dibuang pada saat pencucian. Pencucian dengan air hanya membersihkan eksplan dari kotoran tanah.

3.4.5 Sterilisasi Eksplan

Sterilisasi eksplan dimulai dengan pencucian dan pembuangan bagian- bagian yang kotor bekas tanah dan hewan kecil dibawah pancuran air bersih sekitar 15 menit. Eksplan yang sudah dibersihkan diletakkan di dalam erlemeyer

(32)

19

yang telah berisi larutan sabun atau detergen halus lalu digojok selama 30 menit.

Setelah itu eksplan dibilas sebanyak tiga kali menggunakan air steril. Sterilisasi dilanjutkan dengan perendaman eksplan menggunakan 2 tetes twin 20 + clorox 10% selama 15 menit lalu dibilas dengan aquades steril sebanyak 5 kali masing- masing selama 5 menit lalu tiriskan.

3.4.6 Penanaman

Penanaman dilakukan di Laminar Air Flow. Eksplan steril diletakan di atas cawan petridish steril, Sebelum penanaman dilakukan, bagian batang dipotong dengan menyisakan satu buku sepanjang 1,5 cm. Potongan batang tersebut kemudian ditanam langsung pada media yang telah disiapkan dengan 2 eksplan dalam satu wadah tanam. Setelah penanaman selesai, botol media ditutup dengan menggunakan plastik wrapping. Botol tanam kemudian disimpan di ruang penyimpanan.

3.4.7 Multiplikasi

Multiplikasi bertujuan untuk melakukan perbanyakan calon tanaman. Jika eksplan yang telah diinisiasi sebelumnya telah mengalami pertumbuhan yang baik, eksplan dikeluarkan dari botol kultur dan disimpan di cawan petri dengan bantuan pinset. Daun dan akar dibuang dan hanya mengambil bagian batang lalu potong sepanjang 1,5 cm. Eksplan ditanam pada media perlakuan. Botol media dibakar menggunakan bunsen sebelum dan sesudah ditanam eksplan. Botol ditutup menggunakan plastik dan dieratkan dengan plastik wrapping. Botol hasil kultur diletakkan di ruang inkubasi.

(33)

20 3.5 Parameter Pengamatan

Parameter pengamatan yang dilakukan untuk mengetahui pengaruh perlakuan kultur jaringan krisan ini yaitu :

1. Waktu Muncul Tunas (HST), diamati setiap hari sejak penanaman dengan menghitung hari tunas yang pertama terbentuk.

2. Waktu Muncul Akar (HST), diamati setiap hari sejak penanaman dengan menghitung hari akar yang pertama terbentuk.

3. Jumlah tunas, diamati pada akhir pengamatan dengan menghitung jumlah tunas yang ada pada setiap planlet.

4. Tinggi planlet (cm), diamati pada akhir pengamatan dengan mengukur tinggi planlet krisan.

5. Jumlah daun (helai), diamati pada akhir pengamatan dengan menghitung jumlah daun yang ada pada setiap planlet.

6. Jumlah akar, diamati pada akhir pengamatan dengan menghitung jumlah akar yang ada pada setiap planlet.

7. Panjang akar (cm), diamati pada akhir pengamatan dengan mengukur panjang akar yang ada pada setiap planlet.

(34)

21 BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil

4.1.1. Waktu Muncul Tunas (HST)

Tabel 1. Hasil uji kontras waktu muncul tunas (HST) berdasarkan nilai rata-rata Contras Nilai Rata-Rata F. Hitung

F. Tabel 0.05 0.01 C1 = M0 vs M1-6 2.67 Vs 3.11 3.28 tn 4.75 9.33 C2 = M1-3 vs M4-6 2.94 Vs 3.28 3.23 tn

C3 = M1 vs M2,3 3.50 Vs 2.67 8.97 * C4 = M2 vs M3 2.67 Vs 2.67 0.00 tn C5 = M4 vs M5,6 3.00 Vs 3.42 2.24 tn C6 = M5 vs M6 3.50 Vs 3.33 0.27 tn

KK 12.91%

Keterangan : tn = tidak nyata ; * = nyata .

Rata-rata serta sidik ragam waktu muncul tunas disajikan pada Tabel Lampiran 1a dan 1b. Sidik ragam menunjukkan bahwa berbagai perlakuan berbeda nyata pada parameter waktu pembentukan tunas krisan.

Hasil uji kontras pada Tabel 1 menunjukkan bahwa C3 yaitu perlakuan M2

dan M3 berbeda nyata dan lebih baik jika dibandingkan dengan perlakuan M1 dengan rata-rata M2 dan M3 yaitu 2,67 sedangkan rata-rata M1 yaitu 3,50.

Perlakuan M0, M4, M5, dan M6 tidak berbeda nyata terhadap berbagai parameter pengamatan. Hal ini menunjukkan bahwa perlakuan air kelapa dapat mempercepat waktu pembentukan tunas pada eksplan krisan.

(35)

22 4.1.2. Waktu Muncul Akar (HST)

Tabel rata-rata serta sidik ragam waktu jumlah akar disajikan pada Tabel Lampiran 2a dan 2b. Sidik ragam menunjukkan bahwa berbagai perlakuan tidak berbeda nyata pada parameter waktu muncul akar.

Gambar 1 menunjukkan pada parameter waktu muncul akar perlakuan ekstrak tauge 40 ml/l (M5) memiliki rata-rata terbaik yaitu 10,00 HST. Hal ini menunjukkan bahwa perlakuan M5 dapat memberikan respon terbaik pada perrtumbuhan akar khususnya pada waktu muncul akar.

Gambar 1. Nilai rata-rata parameter waktu muncul akar (HST) pada berbagai konsentrasi air kelapa dan ekstrak taoge

4.1.3. Jumlah Tunas

Rata-rata serta sidik ragam jumlah tunas disajikan pada Tabel Lampiran 3a dan 3b. Sidik ragam menunjukkan bahwa berbagai perlakuan tidak berbeda nyata pada parameter jumlah tunas.

(36)

23

Gambar 2 menunjukkan pada parameter jumlah tunas perlakuan BAP 1 ppm (M0) memiliki rata-rata terbaik yaitu 2,67. Hal ini menunjukkan bahwa perlakuan M0 dapat memberikan respon terbaik pada pertumbuhan tunas krisan khususnya pada parameter jumlah tunas.

Gambar 2. Nilai rata-rata parameter jumlah tunas planlet krisan pada berbagai konsentrasi air kelapa dan ekstrak taoge

4.1.4. Tinggi Planlet (cm)

Tabel 2. Hasil uji kontras tinggi planlet (cm) berdasarkan nilai rata-rata

Contras Nilai Rata-Rata F. Hitung

F. Tabel 0.05 0.01 C1 = M0 vs M1-6 4.83 Vs 4.90 0.15 tn 4.75 9.33 C2 = M1-3 vs M4-6 4.92 Vs 4.89 0.04 tn

C3 = M1 vs M2,3 4.50 Vs 5.13 9.49 **

C4 = M2 vs M3 5.08 Vs 5.17 0.13 tn C5 = M4 vs M5,6 4.25 Vs 5.21 22.31 **

C6 = M5 vs M6 5.50 Vs 4.92 6.20 *

KK 5.86%

Keterangan : tn = tidak nyata ; * = nyata ; ** = sangat myata.

(37)

24

Rata-rata serta sidik ragam tinggi planlet disajikan pada Tabel Lampiran 4a dan 4b Sidik ragam menunjukkan bahwa berbagai perlakuan berpengaruh sangat nyata pada parameter tinggi planlet krisan.

Hasil uji kontras pada Tabel 2 menunjukkan bahwa C3 yaitu perlakuan M2-3 berbeda sangat nyata dan lebih baik jika dibandingkan dengan perlakuan M1

dengan rata-rata M2-3 yaitu 5,13 cm sedangkan rata-rata M1 yaitu 4,50 cm. Pada C5 yaitu perlakuan M5-6 berbeda sangat nyata dan lebih baik jika dibandingkan dengan perlakuan M4 dengan rata-rata M5-6 yaitu 5,21 cm sedangkan rata-rata M4

yaitu 4,25 cm. Pada C6 yaitu perlakuan M5 berbeda nyata dan lebih baik jika dibandingkan dengan perlakuan M6 dengan rata-rata M5 yaitu 5,50 cm sedangkan rata-rata M6 yaitu 4,92 cm. Hal ini menunjukkan bahwa perlakuan air kelapa maupun ekstrak taoge dapat mempengaruhi tinggi planlet krisan.

4.1.5. Jumlah Daun (helai)

Rata-rata serta sidik ragam jumlah daun disajikan pada Tabel Lampiran 5a dan 5b. Sidik ragam menunjukkan bahwa berbagai perlakuan berpengaruh sangat nyata pada jumlah daun planlet krisan.

Hasil uji kontras pada Tabel 3 menunjukkan bahwa C2 yaitu perlakuan M4-6

berbeda nyata dan lebih baik jika dibandingkan dengan perlakuan M1-3 dengan rata-rata M4-6 yaitu 11,36 sedangkan rata-rata M1-3 yaitu 10,94. Pada C5 yaitu perlakuan M5-6 berbeda sangat nyata dan lebih baik jika dibandingkan dengan perlakuan M4 dengan rata-rata M5-6 yaitu 11,92 sedangkan rata-rata M4 yaitu 10,25.Hal ini menunjukkan bahwa perlakuan ekstrak taoge dapat mempengaruhi jumlah daun pada planlet krisan.

(38)

25

Tabel 3. Hasil uji kontras jumlah daun (helai) berdasarkan nilai rata-rata

Contras Nilai Rata-Rata F. Hitung

F. Tabel 0.05 0.01 C1 = M0 vs M1-6 11.00 vs 11.15 0.38 tn 4.75 9.33 C2 = M1-3 vs M4-6 10.94 vs 11.36 4.89 *

C3 = M1 vs M2,3 11.00 vs 10.92 0.09 tn C4 = M2 vs M3 10.83 vs 11.00 0.26 tn C5 = M4 vs M5,6 10.25 vs 11.92 34.78 **

C6 = M5 vs M6 12.00 vs 11.83 0.26 tn

KK 3.59%

Keterangan : tn = tidak nyata ; * = nyata ; ** = sangat myata.

4.6. Jumlah Akar

Rata-rata serta sidik ragam jumlah akar disajikan pada Tabel Lampiran 6a dan 6b. Sidik ragam menunjukkan bahwa berbagai perlakuan berpengaruh sangat nyata pada jumlah akar planlet krisan.

Hasil uji kontras pada Tabel 4 menunjukkan bahwa C1 yaitu perlakuan M1-6 berbeda sangat nyata dan lebih baik jika dibandingkan dengan perlakuan M0

dengan rata-rata M1-6 yaitu 11,19 sedangkan rata-rata M0 yaitu 9,67. Pada C2 yaitu perlakuan M4-6 berbeda sangat nyata dan lebih baik jika dibandingkan dengan perlakuan M1-3 dengan rata-rata M4-6 yaitu 11,78 sedangkan rata-rata M1-3 yaitu 10,61. Pada C3 yaitu perlakuan M2,3 berbeda nyata dan lebih baik jika dibandingkan dengan perlakuan M1 dengan rata-rata M2,3 yaitu 11,17 sedangkan rata-rata M1 yaitu 9,50. Pada C4 yaitu perlakuan M3 berbeda nyata dan lebih baik jika dibandingkan dengan perlakuan M2 dengan rata-rata M3 yaitu 12,00

(39)

26

sedangkan rata-rata M2 yaitu 10,33. Pada C5 yaitu perlakuan M5,6 berbeda sangat nyata dan lebih baik jika dibandingkan dengan perlakuan M4 dengan rata-rata M5,6 yaitu 12,67 sedangkan rata-rata M4 yaitu 10,00. Hal ini menunjukkan bahwa perlakuan ekstrak taoge dapat mempengaruhi jumlah akar pada planlet krisan lebih baik dibandingkan perlakuan BAP dan air kelapa.

Tabel 4. Hasil uji kontras jumlah akar berdasarkan nilai rata-rata

Contras Nilai Rata-Rata F. Hitung

F. Tabel 0.05 0.01 C1 = M0 vs M1-6 9.67 vs 11.19 9.82 ** 4.75 9.33 C2 = M1-3 vs M4-6 10.61 vs 11.78 10.02 **

C3 = M1 vs M2,3 9.50 vs 11.17 9.09 * C4 = M2 vs M3 10.33 vs 12.00 6.82 * C5 = M4 vs M5,6 10.00 vs 12.67 23.27 **

C6 = M5 vs M6 12.00 vs 13.33 4.36 tn

KK 7.12%

Keterangan : tn = tidak nyata ; * = nyata ; ** = sangat myata.

4.7. Panjang Akar (cm)

Rata-rata serta sidik ragam panjang akar disajikan pada Tabel Lampiran 7a dan 7b. Sidik ragam menunjukkan bahwa berbagai perlakuan berpengaruh sangat nyata pada panjang akar planlet krisan.

Hasil uji kontras pada Tabel 5 menunjukkan bahwa C2 yaitu perlakuan M4-6 berbeda nyata dan lebih baik jika dibandingkan dengan perlakuan M1-3

dengan rata-rata M4-6 yaitu 8,98 cm sedangkan rata-rata M1-3 yaitu 8,47 cm.Pada

(40)

27

C3 yaitu perlakuan M2,3 berbeda sangat nyata dan lebih baik jika dibandingkan dengan perlakuan M1 dengan rata-rata M2,3 yaitu 8,83 cm sedangkan rata-rata M1 yaitu 7,75 cm. Hal ini menunjukkan bahwa perlakuan ekstrak taoge dan air kelapa dapat mempengaruhi panjang akar pada planlet krisan lebih baik dibandingkan perlakuan BAP.

Tabel 5. Hasil uji kontras panjang akar (cm) berdasarkan nilai rata-rata

Contras Nilai Rata-Rata F. Hitung

F. Tabel 0.05 0.01 C1 = M0 vs M1-6 8.24 vs 8.73 3.05 tn 4.75 9.33 C2 = M1-3 vs M4-6 8.47 vs 8.98 5.89 *

C3 = M1 vs M2,3 7.75 vs 8.83 12.01 **

C4 = M2 vs M3 9.17 vs 8.50 3.41 tn C5 = M4 vs M5,6 8.60 vs 9.17 3.29 tn C6 = M5 vs M6 9.50 vs 8.83 3.41 tn

KK 5.11%

Keterangan : tn = tidak nyata ; * = nyata ; ** = sangat myata.

(41)

28 4.2 Pembahasan

Hasil penelitian menunjukkan bahwa beberapa perlakuan berpengaruh nyata pada hampir semua parameter pengamatan (waktu muncul tunas, tinggi planlet, jumlah daun, jumlah akar dan panjang akar). Hal ini menunjukkan bahwa perlakuan yang diberikan memiliki peran yang berpengaruh sehingga dapat menghasilkan pertumbuhan yang baik pada planlet krisan. Akan tetapi hasil penelitian menunjukan bahwa setiap perlakuan dalam pengaruhnya terhadap jumlah tunas dan waktu muncul akar tidak berbeda nyata antar perlakuan. Artinya bahwa setiap perlakuan yang diberikan dalam media tidak memberikan peran yang berbeda. Jadi semuanya sama perannya dalam merangsang pertambahan jumlah tunas dan waktu muncul akar pada planlet krisan.

Dari beberapa parameter pengamatan yang dilakukan, perlakuan ekstrak taoge 40 ml/l (M5) adalah perlakuan yang memberikan respon lebih baik pada hampir semua parameter (waktu muncul akar (HST), tinggi planlet (cm), jumlah daun (helai) dan panjang akar (cm). Hal ini disebabkan karena taoge mengandung hormon auksin dan senyawa-senyawa yang dapat memacu pertumbuhan tanaman.

Prihartini, et al., (2007) menyatakan bahwa taoge kacang hijau mengandung hara makro, hara mikro, vitamin, asam amino, serta gula yang dibutuhkan bagi pertumbuhan tanaman. Hal ini diperkuat dengan pernyataan Amilah dan Astuti (2006) yang menyatakan asam amino esensial bermakna yang terkandung dalam taoge antara lain triptofan, treonin, fenilalanin, metionin, lisin, leusin, isoleusin, dan valin.

(42)

29

Sedangkan pada perlakuan air kelapa, konsentrasi 75 ml/l (M2) adalah konsentrasi yang memberikan respon baik pada parameter waktu muncul tunas (HST) meskipun tidak berbeda nyata dengan perlakuan BAP 1 ppm (M0). Hal ini berkaitan dengan fungsi sitokinin pada air kelapa yang berperan dalam proses pembelahan sel khususnya pada pertumbuhan tunas. Sitokinin dan auksin dalam air kelapa sama-sama memberikan pengaruh interaksi terhadap diferensiasi jaringan. Pemberian auksin dengan kadar yang relatif tinggi diferensiasi jaringan cenderung ke arah pembentukan akar. Sedangkan pemberian sitokinin dengan kadar yang relatif tinggi diferensiasi jaringan cenderung ke arah pembentukan batang atau tunas (Hendaryono dan Wijayani, 1994).

Berdasarkan gambar diagram batang nilai rata-rata pada parameter waktu muncul akar (Gambar 1) diketahui bahwa perlakuan ekstrak taoge 40 ml/l (M5) memiliki waktu muncul akar tercepat dibandingkan dengan perlakuan pembanding lainnya. Perlakuan ekstrak taoge 40 ml/l (M5) juga berpengaruh sangat nyata pada parameter tinggi planlet (cm), jumlah daun (cm) dan panjang akar (cm). Ekstrak taoge memiliki kandungan asam amino tryptophan yang merupakan zat organik terpenting dalam biosintesis auksin, juga memiliki kandungan mineral seperti kalsium, besi, magnesium, fosfor dan seng. Abidin (1994) mengatakan bahwa magnesium merupakan unsur pokok pembentuk klorofil yang berperan sebagaicadangan makanan untuk pertumbuhan tanaman seperti batang, daun dan akar, Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Apriska (2015), bahwa ekstrak taoge sebagai pengganti zat pengatur tumbuh sintetik

(43)

30

sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan anggrek bulan secara in-vitro pada variabel tinggi tanaman, panjang dan jumlah daun, serta panjang dan jumlah akar

Berdasarkan gambar diagram batang nilai rata-rata pada parameter jumlah tunas (Gambar 2) diketahui bahwa perlakuan yang diberi zat pengatur tumbuh sintetik BAP 1 ppm (M0) memiliki jumlah tunas terbanyak dibandingkan dengan perlakuan air kelapa maupun ekstrak taoge. Dalam hal ini, perlakuan zat pengatur tumbuh sintetik masih lebih besar pengaruhnya daripada zat pengatur tumbuh alami dari bahan organik yang ditambahkan pada media MS karena kandungan hormon sitokinin BAP sesuai dalam memacu pertumbuhan tunas pada planlet krisan. Hal ini sesuai dengan pendapat Campbell et al (2003) yang menyatakan bahwa hormon sitokinin dapat mengakibatkan sel-sel cepat membelah dalam memacu pembentukan tunas.

Berdasarkan hasil penelitian, penggunaan BAP tunggal (M0) kurang efektif untuk memacu pertumbuhan planlet krisan, yaitu terlihat dari parameter waktu muncul tunas (Tabel 1), waktu muncul akar (Gambar 1), tinggi planlet (Tabel 2), jumlah daun (Tabel 3), jumlah akar (Tabel 4) dan panjang akar (Tabel 5) . Hal ini diduga pada media dan eksplan yang digunakan mampu menghasilkan sitokinin endogen yang dapat memacu pembelahan sel, sehingga adanya penambahan sitokinin eksogen menyebabkan kelebihan kandungan sitokinin yang juga dapat menyebabkan pertumbuhan tanaman menjadi terhambat. Selain itu pertumbuhan pada akar lebih lambat. Hal ini diduga karena pembentukan akar pada perlakuan tersebut membutuhkan waktu yang cukup lama jika dibandingkan dengan perlakuan lainnya. Menurut Alitalia (2008) penggunaan BAP dalam konsentrasi

(44)

31

rendah atau tidak ditambahkan BAP cukup efisien untuk menghasilkan daun.

Arnita (2008) menjelaskan hormon sitokinin dan auksin bekerja sama untuk memacu pembelahan sel dan mempengaruhi diferensiasi sel.

(45)

32 BAB V KESIMPULAN

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil yang diperoleh maka dapat disimpulkan bahwa :

1. Perlakuan ekstrak tauge 40 ml/l memberikan respon lebih baik pada hampir semua parameter (waktu muncul akar yaitu 10 HST, tinggi planlet yaitu 5,50 cm, jumlah daun yaitu 12 helai dan panjang akar yaitu 9,50 cm).

2. Perlakuan air kelapa 75 ml/l adalah konsentrasi yang memberikan respon baik pada parameter waktu muncul tunas yaitu 2,67 HST.

5.2 Saran

Berdasarkan dari hasil penelitian, maka untuk memperoleh pertumbuhan planlet krisan yang baik sebaiknya menggunakan senyawa organik kompleks ekstrak taoge dengan konsentrasi 40 ml/l dan air kelapa 75 ml/l. Selain itu penulis menyarankan agar penelitian sebaiknya dilanjutkan dengan tahap aklimatisasi agar diketahui hasil produksi yang lebih maksimal.

(46)

33

DAFTAR PUSTAKA

Abidin, Z. 1994. Dasar-Dasar Pengetahuan Tentang Zat Pengatur Tumbuh.

Penerbit Angkasa. Bandung.

Alitalia, Y, 2008, Pengaruh Pemberian BAP dan NAA Terhadap Pertumbuhan dan Perkembangan Tunas Mikro Kantong Semar (Nepenthes mirabilis) Secara In vitro, IPB, Bogor

Amilah & Astuti, Y, 2006, ‘Pengaruh Konsentrasi Ekstrak Taoge dan Kacang Hijau pada Media Vacin dan Went (VW) terhadap Pertumbuhan Kecambah Anggrek Bulan (Phalaenopsis ambilis L.)’, Bulletin Penelitian no. 9, Hal. 2-7. Jakarta

Apriska, F., A. I. Lantunra., Baharuddin, dan A. Masniawati. 2015. Respon Pertumbuhan Propagul Pisang Barangan (Musa Acuminata Colla.) Pada Beberapa Konsentrasi Ekstrak Kecambah Kacang Hijau Secara In Vitro. Universitas Hasanudin. Makasar. 12 hlm.

Arnita, R, 2008, Pengaruh Konsentrasi Sitokinin dan Takaran Pupuk Organik Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Pule Pandak (Rauwolfia serpentine (L.)Benth.Ex Kurz), Skripsi, Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret, Surakarta.

Badan Pusat Statistika (ID). 2017. Luas Panen, Produksi dan Produktivitas Tanaman Krisan, 2013-2016.

Balai Penelitian Tanaman Hias. 2014. Deskripsi Klon-Klon Unggul Krisan Tipe Spray dan Standar. Balai Penelitian Tanaman Hias. 30 hlm.

Bety Y.A dan Suhardi. 2009. Keragaman tanaman dan respons pengguna terhadap varietas unggul nasional krisan di kabupaten Magelang. Agrosains 11 (2) : 52-57.

Budiman, S., dan Saraswati, D., 2008. Berkebun Stroberi Secara Komersial.

Penebar Swadaya. Jakarta.

Campbell, et al. 2003.Biologi Jilid I. Erlangga. Jakarta.

Direktorat Gizi Departemen Kesehatan RI. (1981). Daftar Komposisi Bahan Makanan: Jakarta

Herdaryono, D.P.S. dan A. Wijayani. 1994. Teknik Kultur Jaringan: Pengenalan dan Petunjuk Perbanyakan Tanaman secara Vegetatif-Modern.

Kanisius, Yogyakarta.

(47)

34

Istianingrum, Putri dan Damanhuri. 2013. Keragaman dan Heritabilitas Sembilan Genotip tomat (Lycopersicum esculentum Mill.) pada Budidaya Organik. Universitas Brawijaya. Malang. Agroekotek 8 (2) : 70-81.

Karim, M.Z., M.N. Amin., Assaduzzaman., S. Islam., F. Hossin., dan R. Alam., 2003. Rapid multiplication of Chrysanthemum morifolium through in vitro culture. Pakistan Journal Of Biologi Science 5 (11) : 1170-1172.

Kristina, Nova dan Syahid. 2012. Pengaruh air kelapa terhadap multiplikasi tunas in vitro, produksi rimpang. Jurnal Littri 18(3), Hlm. 125-134. Bogor Mahanani, A., 2003. Pengaruh Macam Sumber ZPT Alami Dan Frekuensi

Pemberiannya Terhadap Pertumbuhan Dan Hasil Kentang Solanum Tuberosum L. Varietas Granola. Hal 22-26. Jakarta

Morel, G. 1974. Clonal Multiplication of Orchids. Scientific Studies. John Wiley and Sons. New York. 169 222.

Muhit A. 2007. Teknik Produksi Tahap Awal Benih Vegetatif Krisan (Chrysanthemum morifolium R.). Buletin Teknik Pertanian, 12(1),14- 18.

Murashige T, Skoog F. 1962. A revised medium for rapid growth and bioassays with tobacco tissue cul- tures. Physiologia Plantarum. 15: 473-497.

National Chrysanthemum Society. 2012. Chrysanthemum classes. USA

Ningsih, EMN, Nugroho, YA & Trianitasari 2010, ‘Pertumbuhan setek nilam (Pogostemon cablin Benth.) pada berbagai komposisi media tumbuh dan dosis penyiraman limbah air kelapa’, Agrika, vol. 4, no.1, hlm.

37-47.

Parera DF. 1997. Pengaruh Tingkat Konsentrasi Air Kelapa terhadap Pertumbuhan dan Perbanyakan Tanaman Anggrek Dendrobium spp.

melalui Teknik Kultur Jaringan. Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Universitas Pattimura 2 : 57-64.

Prihatini NB, Dini B, Ratna Y. 2007. Pengaruh konsentrasi medium ekstrak tauge (MET) terhadap pertumbuhan Scenedesmus isolat subang. Jurnal Makara Sains. 11(1):1-9.

Rachmatullah. 2009. Penggunaan Hyponex dan bubur papaya dalam Pembesaran planlet Anggrek Dendrobium “Kanayo” secara In vitro dan perlakuan Media aklimatisasi. Skripsi. Fakultas Pertanian . Institut Pertanian Bogor

Rahardja, P. C., dan Wahyu, W. 2003. Aneka Cara Memperbanyak Tanaman.

Agromedia Pustaka. Jakarta.

(48)

35

Rukmana, R. dan A. E. Mulyana. 1997. Krisan: Seri Bunga Potong. Yogyakarta : Penerbit Kanisius

Sandra, E. 2013. Cara Mudah Memahami dan Menguasai Kultur Jaringan.

Bogor: IPB Press.

Soeryowinoto, S.M. 1974. Merawat Anggrek. Kanisius. Yogyakarta.

Surachman, Dedi. 2011. Teknik Pemanfaatan Air Kelapa Untuk Perbanyakan Nilam Secara In Vitro. Buletin Teknik Pertanian Vol 16. No 1. Hal:

31-33

Sriyanti, D. H. dan A, Wijayani. 1994. Teknik Kultur Jaringan “Pengenalan dan Petunjuk Perbanyakan Tanaman Secara Vegetatif Modern”. Kanisius.

Yogyakarta.

Van Overbeek, J., M. E. Concklin dan A. F. Blakeslee. 1941. Factors in coconut milk essential for growth and development of very young Datura embryos. Science 94: 350-351.

Vigliar, R., V.L. Sdepanian, and U. Fagundes-NETO. 2006. Biochemical profile of coconut water from coconut palms planted in an inland region. J. de Pediatria. 82(4): 308-312.

Watimena G.A, Nurhajati A.M, Wiendi N.M, Purwito A, Efendi D, Purwoko B.S, Khumaida N. 2001. Bioteknologi dalam Pemulian Tanaman. Bogor (ID): IPB Pres

Wediyanto, A., B. Marwoto, R.G. Rochalia, M. Syai, F. Nuraini, D. Gandasari, K.

Lesmana, dan S. Ernawati. 2007. Standart Operasional Prosedur Budidaya Krisan Potong. Jakarta : Departemen Pertanian.

Widiastoety, D., S. Kusumo, dan Safni. 1997. Pengaruh Tingkat Ketuaan Air Kelapa dan Jenis Kelapa terhadap Pertumbuhan Planlet Anggrek Dendrobium. J. Hort. 7(3):768-772

Widyastuti, N., dan Donowati T. 2001. Peranan Beberapa Zat Pengatur Tumbuh (ZPT) Tanaman Pada Kultur In Vitro. Jurnal Sains dan Teknologi Indonesia. 3 (5) : 55-63.

Yuliarti N. 2010. Kultur Jaringan Tanaman Skala Rumah Tanga. Yogyakarta (ID): Lily Publisher

Yusnita. 2003. Kultur jaringan Cara Memperbanyak Tanaman Secara Efisien.

Agro Media Pustaka. Jakarta.

Zamora, A.B; C.N. Paet and E. C. Altoveros. 1994. Micropropagation and Elimination procedures in potato conservation, dissimination and production in humid tropic. IPBUNiv. of Phill. Los Banos – SAPPRAD. 103 pp.

(49)

36

Zulkarnain. 2009. Kultur Jaringan Tanaman Solusi Perbanyakan Tanaman Budidaya. Jakarta (ID): Bumi Askara

(50)

37

LAMPIRAN

(51)

38

Tabel Lampiran 1 a. Waktu Muncul Tunas Planlet Krisan Perlakuan

Ulangan

Total Rata-rata

I II III

M0 3.00 2.50 2.50 8.00 2.67

M1 3.50 4.00 3.00 10.50 3.50

M2 3.00 2.50 2.50 8.50 2.67

M3 2.00 3.00 3.00 8.00 2.67

M4 3.00 3.00 3.00 9.00 3.00

M5 3.00 4.00 3.50 10.50 3.50

M6 3.50 3.25 3.25 10.00 3.33

Total 21.00 22.25 21.25 64.50 3.07

Tabel Lampiran 1 b. Sidik Ragam Waktu Muncul Tunas Planlet Krisan

SK DB JK KT F Hitung

F. Tabel

0.05 0.01

Ulangan 2 0.18 0.09 0.60 tn 3.89 6.93

Perlakuan 6 2.79 0.46 3.00 * 3.00 4.82

Galat 12 1.86 0.15

Total 20 4.83

KK 12.91%

Keterangan : tn : Tidak Nyata

* : Nyata

(52)

39

Tabel Lampiran 2 a. Waktu Muncul Akar Planlet Krisan

Perlakuan

Ulangan

Total Rata-rata

I II III

M0 12.00 12.00 13.00 37.00 12.33

M1 11.00 12.00 10.00 33.00 11.00

M2 10.00 12.00 10.00 32.00 10.67

M3 10.00 10.00 11.00 31.00 10.33

M4 12.00 10.50 9.00 31.50 10.50

M5 10.00 10.00 10.00 30.00 10.00

M6 10.00 11.00 11.00 32.00 10.67

Total 75.00 77.50 74.00 226.50 10.79

Tabel Lampiran 2 b. Sidik Ragam Waktu Muncul Akar Planlet Krisan

SK DB JK KT F Hitung

F. Tabel

0.05 0.01

Ulangan 2 0.93 0.46 0.54 tn 3.89 6.93

Perlakuan 6 10.12 1.69 1.98 tn 3.00 4.82

Galat 12 10.24 0.85

Total 20 21.29

KK 8.56%

Keterangan : tn : Tidak Nyata

(53)

40

Tabel Lampiran 3 a. Jumlah Tunas Planlet Krisan 30 HST

Perlakuan

Ulangan

Total Rata-rata

I II III

M0 3.00 2.00 3.00 8.00 2.67

M1 2.50 1.50 2.00 6.00 2.00

M2 2.00 2.00 2.00 6.00 2.00

M3 2.00 2.00 2.00 6.00 2.00

M4 2.50 1.50 2.00 6.00 2.00

M5 2.00 2.00 2.00 6.00 2.00

M6 2.00 2.00 2.00 6.00 2.00

Total 16.00 13.00 15.00 44.00 2.10

Tabel Lampiran 3 b. Sidik Ragam Jumlah Tunas Planlet Krisan 30 HST

SK DB JK KT F Hitung

F. Tabel

0.05 0.01

Ulangan 2 0.67 0.33 4.00 * 3.89 6.93

Perlakuan 6 1.14 0.19 2.29 tn 3.00 4.82

Galat 12 1.00 0.08

Total 20 2.81 KK 13.78%

Keterangan : tn : Tidak Nyata

* : Nyata

Referensi

Garis besar

Dokumen terkait

Persamaan penelitian yang diacu dengan penelitian sekarang adalah sama- sama menggunakan rasio Net Profit Margin dalam mengukur kinerja keuangan perusahaan sebelum dan

Tinggi rendahnya lama penyalaan sampai menjadi abu disebabkan karena ukuran partikel dari serbuk limbah arang serbuk gergajian kayu yang lebih halus sehingga

Tantangan pendidikan pada era milineal yang dihadapi guru berupa Melek Digital, Guru sebagai pembelajar sepanjang hayat, Menyuguhkan Pembelajaran yang Menyenangkan

melakukan uji warna bertujuan untuk mengidentifikasi ada atau tidaknya merkuri dalam sampel krim pemutih wajah yaitu digunakan larutan KI 0,5 N, dan hasil

Penerapan Hukum Lotka dapat digunakan pada Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (JSP) Universitas Gadjah Mada pada tahun 2016 hingga 2018 di mana tiap volume/tahun

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan mengenai pemanfaatan batu apung, pasir, tepung ketan, poliester dan thinner dalam pembuatan beton polimer, maka dapat

Lemahnya kontrol sosial di tengah-tengah masyarakat di topang dengan kemajuan teknologi yang memudahkan para pelajar mengakses situs porno yang berakibat para

Yang melatar belakangi surah Al-Maidah ayat 54-56 ini dengan fenomena kemurtadan yang ada di Desa Durian Banggal Kecamatan Raya Kahean Kabupaten Simalungun adalah