• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. ini menjadi sebuah masalah yang harus dihadapi oleh pemerintah dalam

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB II TINJAUAN PUSTAKA. ini menjadi sebuah masalah yang harus dihadapi oleh pemerintah dalam"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

20 BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Penelitian Terdahulu

Permasalahan yang terjadi dalam penataan kota memang begitu kompleks.

Mulai dari masalah wilayah kumuh, masyarakat yang tidak ingin dipindahkan karena merasa memiliki hak atas tempat tinggal mereka dan lain sebagainya. Hal ini menjadi sebuah masalah yang harus dihadapi oleh pemerintah dalam menjalankan penataan kota. Masalah penataan kota tanpa kumuh ini tentu saja memerlukan waktu yang tidak sebentar. Penelitian ini tidak lepas dari beberapa penelitian sebelumnya dengan tema yang hampir sama. Penelitian sebelumnya dijadikan sebagai bahan penulis untuk dijadikan sebagai suatu perbandingan antara penelitian dulu dan sekarang.

Adapun penelitian pertama adalah The Implementation of Collaborative Urban Governance in City Without Slums Program (Kotaku) in Pasuruan yang ditulis oleh Tri Sulistyaningsih, Mukhammad Yusuf Putra Pamungkas, Indah Dwi Maulana dan Asep Nurjaman. Hasil dari penelitian ini adalah Program KOTAKU dapat dilakukan melalui Model Kolaborasi Tata Kelola Kota. Tiga institusi yang harus berkolaborasi adalah pemerintah daerah, swasta, dan masyarakat yang tinggal di daerah kumuh. Pelaksanaan Program KOTAKU terdiri dari empat tahap, yaitu tahap persiapan, tahap perencanaan, tahap implementasi, dan keberlanjutan fase.

Masing-masing tahapan ini harus memberikan hasil yang baik untuk pelaksanaan program KOTAKU.

Penelitian ke dua adalah Implementasi Program Kota Tanpa Kumuh di Kecamatan Semarang Timur yang ditulis oleh Stevanni Imelda Christianingrum

(2)

21

dan Titik Djumiarti dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Diponegoro. Hasil dari penelitian ini adalah program KOTAKU di Kecamatan Semarang Timur jika di lihat dari kesesuaian program dengan kelompok sasaran sudah sesuai, implementasi program sudah dijalankan dengan baik. Adapun faktor penghambat dalam program ini adalah kurangnya partisipasi masyarakat secara aktif pada saat proses pendataan lingkungan dikarenakan kurangnya proses sosialisasi dari pihak pemerintah terkait mengenai program KOTAKU.

Penelitian ke tiga yaitu Implementasi Program Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU) dalam Mengatasi Permukiman Kumuh di Kota Bandar Lampung yang ditulis oleh Chintia Martceli Putri. Adapun hasil dari penelitian ini adalah Pelaksanaan Program KOTAKU tidak sepenuhnya berjalan dengan sempurna.

Pelaksanaan suatu Program tidak hanya menghasilkan dukungan, tetapi juga ada beberapa hal yang dapat menjadi penghambat dalam pelaksanaan Program Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU). Dari penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa implementasi program dari pemerintah mengenai KOTAKU selalu mendapatkan kendala seperti kurangnya koordinasi antar pemerintah dan masyarakat, anggaran yang sulit untuk dicairkan, adanya bangunan ilegal, kurangnya partisipasi masyarakat dan pola pikir masyarakat yang tidak maju.

Penelitian ke empat berjudul Analisis Implementasi Pembangunan Partisipatif dalam Program Kota Tanpa Kumuh di Desa Bligo, Kecamatan Candi Kabupaten Sidoarjo. Penelitian ini ditulis oleh peneliti Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU) merupakan salah satu program pembangunan yang memiliki tujuan untuk mengentaskan pemukiman kumuh hingga 0%. Salah satu wilayah yang mendapatkan apresiasi publik dalam pelaksanaan program pembangunan KOTAKU adalah Kabupaten Sidoarjo, karena adanya satu wilayah yang memiliki

(3)

22

progress yang baik. Dari 11 Desa yang mengikuti program KOTAKU, Desa Bligo merupakan desa yang memiliki progress paling baik. Keberhasilan desa Bligo dipengaruhi oleh partisipasi warga yang memasuki tahapan citizen control, yakni masyarakat berperan sepenuhnya pada pengambilan keputusan dalam program pembangunan. Bentuk partisipasi yang dilakukan warga desa bligo berupa: pikiran, tenaga, keahlian dan uang. Adanya self of belonging dari warga dipengaruhi oleh faktor kesiapan warga dalam pelaksanaan program, kondisi kumuh yang merata dari RW 01-RW 08, aktifnya lembaga kemasyarakat, SDM yang berkualitas, dan letak geografis desa Bligo yang berdekatan dengan kota.

Penelitian Ke lima berjudul Partisipasi Masyarakat Dalam Implementasi Program Kotaku / Pnpm Di Kecamatan Ciawi yang di tulis oleh Dadan Rohimat, Rita Rahmawati, G. Goris Seran. Berdasarkan hasil penelitian ditemukan hasil perhitungan indikator- partisipasi masyarakat Kecamatan Ciawi memperoleh nilai 3.72 dengan kategori Baik. Dengan kondisi kecamatan ciawi yang begitu luas, potensi yang cukup besar dengan masyarakat yang agamis, namun masih tinggi angka kemiskinan dengan indikator masih banyak yang perlu dilakukan perbaikan, namun pada program ini tidak lepas dari peranserta atau partisipasi masyakarat dalam membangun wilayahnya. Namun ada beberapa hal yang harus di tingkatkan diantaranya sebagai berikut : (1) Sosialisasi program harus lebih ditingkatkan, agar maksud dan tujuan dapat dilaksanakan dan sesuai dengan sasaran, (2) Mengoptimalkan organisasi-organisasi masyarakat yang berada di masing-masing desa / kelurahan, dan (3)Transparansi anggaran sangat di butuhkan, demi menjaga kepercayaan publik. Dapat di simpulkan dari penelitian di atas bahwa partisipasi dalam sebuah program Kotaku mempunyai dampak yang signifikan untuk program yang berjalan meski ada beberapa kendala yang harus di tingkatkan.

(4)

23

Penelitian ke enam Implementasi Program Kotaku (Kota Tanpa Kumuh) Sebagai Model Pembangunan Infrastruktur Berbasis Masyarakat Di Kelurahan Negeri Olok Gading Kecamatan Teluk Betung Barat Kota Bandar Lampung yang di tulis oleh Dewi Zulyanti. Hasil dari penelitian ini ialah Implementasi program KOTAKU di Negeri Olok Gading dilaksanakan dalam 4 tahap utama pembangunan yaitu, tahap persiapan dalam tahap ini terdiri dari sosialisasi sekaligus pembentukan LKM melalui pemilihan dari masyarakat setempat dan musyawarah kelurahan yang membahas hasil dari sosialisasi, Tetapi tidak seluruh masyarakat di daerah tersebut ikut dalam mengimplementasikan program KOTAKU, terlalu dominan campur tangan pemerintah dalam segala bentuk kegitan yang dilaksanakan. Dari penelitian tersebut dapat di simpulkan bahwa masyarakat sekitar tentunya turut hadir dalam berjalannya program kotaku yang tidak lain juga sebagai pekerja ataupun pengawas di lapangan tempat program berjalan.

Penelitian ke tujuh Implementasi Kebijakan Program Kotaku (Kota Tanpa Kumuh) Dalam Upaya Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat yang di tulis oleh Nurhasanah. Hasil dari penelitian ini Pada tahap implementasi program KOTAKU di Kelurahan Merjosari dilaksanakan dalam beberapa tahap utama yaitu pertama, tahap perencanaan dalam tahap ini program KOTAKU direncanakan sedemikian rupa kegiatan apa saja yang nantinya akan dilaksanakan di Kelurahan Merjosari.

Kedua, tahap survei lokasi dalam tahap ini kegiatan survei lokasi dilakukan oleh pihak faskel Kelurahan Merjosari. Dengan adanya tahap survei lokasi ini pihak faksel nantinya akan mengetahui keadaan lingkungan yang ada di Kelurahan Merjosari yang layak atau tidaknya dikatakan pemukiman kumuh dan dengan adanya surbvei lokasi. Lalu untuk faktor penghambat berasal dari masyarakat itu sendiri dimana masih ada masyarakat yang kurang menjaga proyekproyek yang

(5)

24

sudah di laksanakan. Dalam faktor pendukung ini berasal dari masyarakat bahwasanya masih ada masyarakat yang masih sukarela ikut berpartisipasi dalam pelaksanaan program bahkan masyarakat ada yang sukarela menyumbangkan dana, tenaga, dan bahan-bahan bagunan untuk pelaksanaan program. Dari penelitian tersebut dapat di simpulkan bahwa ada kaitannya dengan masyarakat sekitar entah itu sebagai pekerja dalam program itu maupun sebagai ikut serta dalam melakukan rapat awal dalam perencanaan program

Berdasarkan hasil dari tujuh penelitian di atas, maka peneliti kali ini akan membahas topik mengenai implementasi program tanpa kumuh (KOTAKU) berbasis partisipasi masyarakat yang berlokasi di Kabupaten Trenggalek Jawa Timur. Program ini di dasari oleh Peraturan Presiden Nomor 2 Tahun 2015 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2015-2019 mengamanatkan pembangunan dan pengembangan kawasan perkotaan melalui penanganan kualitas lingkungan permukiman, yaitu: meningkatkan kualitas kawasan kumuh, mencegah pertumbuhan dan pembangunan permukiman kumuh baru, serta penghidupan yang berkelanjutan. Implementasi Program KOTAKU di daerah-daerah di Indonesia di dasari oleh Surat Edaran Kementerian PUPR Ditjen Cipta Karya No. 40 tahun 2016 tentang Pedoman Umum Kota Tanpa Kumuh.

Adapun program KOTAKU ini akan di implementasikan di wilayah Kabupaten Trenggalek, yakni Kelurahan Tamanan,. Karena, wilayah tersebut di nilai sangat tidak tertata dan memiliki banyak titik kumuh. Program KOTAKU ini sudah di imlementasikan di banyak daerah di Indonesia, terutama di Jawa Timur.

Permasalahan Kota Kumuh ini tidak hanya terjadi di sebagian kecil saja, tetapi kota kumuh ini selalu ada di setiap wilayah di Indonesia.

(6)

25 2.2 Implementasi

Implementasi merupakan sebuah kata yang digunakan untuk mendefinisikan penerapan suatu kebijakan yang telah di buat untuk direalisasikan.

Implementasi juga memiliki artian atau makna sebagai penyediaan sarana dalam melaksanakan sebuah rencana yang dapat menimbulkan berbagai dampak atau akibat terhadap sesuatu. Rancangan atau rencana tersebut dilakukan untuk menghasilkan produk-produk seperti undang-undang, peraturan pemerintah, keputusan peradilan dan kebijakan yang dibuat oleh lembaga-lembaga pemerintah dalam kehidupan kenegaraan. Implementasi kebijakan dilaksanakan dalam sekuensi manajemen implementasi kebijakan (Suardika et al., n.d.). Dalam mengimplementasikan suatu kebijakan, terdapat dua cara yakni dengan cara langsung mengimplementasikan dalam bentuk program atau bisa juga melalui formulasi kebijakan. Hal ini dikemukakan oleh Riant Nugroho dalam (Garis, 2017).

Implementasi juga dapat dikatakan sebagai suatu bentuk nyata atau hasil dari sebuah karya atau perencanaan yang sudah disusun dan dirancang jauh dari sebelum melaksanakan suatu rencana atau kebijakan. Namun, jika implementasi tidak berjalan dengan baik dan semestinya, maka tentu akan sangati berdampak pada hasil pencapaian yang telah ditentukan dan menjadi sebuah kendala yang akan dihadapi

Penyelenggaraan dari sebuah aktivitas yang sebelumnya telah dicantumkan di dalam sebuah regulasi atau Undang Undang dan telah mendapatkan persetujuan dari berbagai pihak dan ditetapkan sebagai kesepakatan bersama di antara para pemangku kepentingan merupakan suatu penilaian dari sudut pandang yang berbeda mengenai implementasi. (Prof. Dr. H. Solichin Abdul Wahab, 2012).

(7)

26

Kenyataannya, implementasi ini tidak jarang turut melibatkan kerjasama antara pemerintah dengan lembaga-lembaga swadaya masyarakat yang dapat dikatakan sebagai sebuah hubungan yang begitu rumit, hal ini karena melibatkan banyak pihak di dalamnya. Implementasi dan kebijakan sudah sepatutnya menjadi dua kata yang tak akan bisa dipisahkan.

Model implementasi kebijakan yang dirumuskan oleh Van Meter dan Van Horn disebut dengan A model of The Policy Implementation. Proses dari implementasi ini dapat dikatakan sebagai sebuah abstraksi suatu paham kebijakan yang pada dasarnya secara sengaja dilakukan dengan tujuan untuk mencapai kinerja implementasi kebijakan yang tinggi yang berlangsung dalam hubungan berbagai variabel. (Aneta, 2012). Implementasi kebijakan ini diuraikan secara linier dari keputusan politik. Implementasi kebijakan ini dipengaruhi oleh beberapa variabel, diantaranya adalah:

a. Standar dan sarana kebijakan dan tujuan kebijakan

Kinerja implementasi kebijakan dapat diukur berdasarkan tingkat keberhasilannya yang bisa di lihat dari ukuran dan tujuan kebijakan tersebut yang bersifat realistis dengan sosio kultur yang ada di level pelaksana sebuah kebijakan.

b. Sumber daya

Berhasilnya suatu implementasi kebijakan dapat di lihat dari faktor kemampuan sumber daya yang tersedia. Sumber daya yang paling penting dalam sebuah implementasi kebijakan adalah manusia. Kualitas sumber daya manusia sangat penting dalam menjalankan implementasi kebijakan. Selain sumber daya manusia, sumber daya finansial dan waktu juga menjadi perhitungan penting dalam keberhasilan implementasi kebijakan.

(8)

27 c. Karakteristik organisasi pelaksana

Karakter dari sebuah organisasi pelaksana juga menjadi salah satu variabel dari berhasilnya implementasi kebijakan itu sendiri. Kebijakan yang akan diimplementasikan, pelaksana kebijakan dituntut untuk disiplin dan tepat. Dapat dikatakan bahwa organisasi yang mengimplementasikan kebijakan harus demokratis dan persuasif.

d. Sikap para pelaksana

Sikap penerimaan atau penolakan dari agen pelaksana kebijakan sangat mempengaruhi berhasil atau gagalnya implementasi kebijakan publik.

Hal seperti ini bisa saja terjadi karena kebijakan yang dilaksanakan bukanlah sebuah hasil dari formulasi masyarakat setempat yang sudah pasti mengenal permasalahan yang dirasakan.

e. Komunikasi antar organisasi terkait dan kegiatan-kegiatan pelaksanaan Menurut Van Meter dan Van Horn, agar kebijakan publik dapat dilaksanakan secara efektif, maka pelaksana kebijakan tersebut harus memahami terlebih dahulu apa yang menjadi standar dan tujuan dari kebijakan tersebut.

f. Lingkungan sosial, ekonomi dan sosial politik

Variabel terakhir yang perlu diperhatikan dalam menilai kinerja implementasi kebijakan adalah sejauh mana lingkungan eksternal dapat turut mendorong berhasilnya sebuah kebijakan publik.

Selain implementasi kebijakan yang dirumuskan oleh Van Meter dan Van Horn, ada juga teori tentang implementasi kebijakan dari Marilee S. Grindle.

Menurut Marilee S. Grindle, keberhasilan implementasi kebijakan telah dipengaruhi oleh dua faktor yaitu isi kebijakan (context of implementation). Yang

(9)

28

mana, cakupan faktor tersebut adalah sudah sampai sejauh mana isi kebijakan tersebut memuat tentang kepentingan kelompok sasaran atau target, sejauh mana kebijakan tersebut akan memberikan sebuah dampak untuk memberikan perubahan, apakah program tersebut sudah bisa dikatakan tepat sasaran atau apakah sudah terpenuhi sumberdaya dari kebijakan tersebut. (Subarsono, 2005).

2.3 Program

Program merupakan sebuah cara yang dapat dikatakan sah dalam mencapai tujuan. Dalam hal ini, program pemerintah dapat diartikan sebagai sebuah bentuk upaya dalam mewujudkan seluruh kebijakan yang telah ditentukan. (Cakrawijaya, 2013). Program KOTAKU yang di rancang oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat dan di implementasikan di seluruh daerah-daerah dengan kategori kumuh di Indonesia, bermaksud untuk mengentaskan wilayah kumuh perkotaan. Program Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU) merupakan salah satu upaya strategis Direktorat Jenderal Cipta Karya Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat untuk mempercepat penanganan permukiman kumuh di perkotaan dan mendukung “Gerakan 100-0-100”, yaitu 100 persen akses air minum layak, 0 persen permukiman kumuh, dan 100 persen akses sanitasi layak. Program Kotaku dalam pelaksanaannya menggunakan platform collaboration government antara pemerintah pusat, pemerintah provinsi,

kota/kabupaten, seluruh tokoh lapisan masyarakat dan semua stakeholder lainya dengan memposisikan masyarakat dan pemerintah kabupaten/kota sebagai pelaku utama (nakhoda).

Berdasarkan Permen PUPR No. 14 Tahun 2018 Mengenai pencegahan dan Peningkatan Kualitas Perumahan Kumuh dan Permukiman Kumuh, yang terdiri

(10)

29

dari 7 aspek dan 16 kriteria permukiman kumuh. Adapun beberapa aspek dan kriteria tersebut adalah:

1. Kondisi Bangunan Gedung

a) Bangunan yang tidak teratur

b) Tingkat kepadatan bangunan yang begitu tinggi dan tidak sesuai dengan rencana tata ruang

c) Kualitas bangunan yang tidak lagi memenuhi standar kelayakan

2. Kondisi Jalan Lingkungan

a) Kondisi jaringan dan lingkungan yang tidak bisa melayani seluruh lingkungan Perumahan atau Permukiman

b) Kualitas jalanan permukiman yang tidak layak 3. Kondisi Penyediaan Air Minum

a) Akses air minum bersih yang tidak tersedia

b) Tidak terpenuhinya kebutuhan air minum setiap individu 4. Kondisi Drainase Lingkungan

a) Tidak tersedianya drainase lingkungan

b) Drainase lingkungan yang tidak layak sehingga menimbulkan banyak genangan

c) Buruknya kualitas konstruksi drainase 5. Kondisi Pengelolaan Air Limbah

a) Tidak terpenuhinya pengelolaan air limbah secara teknis b) Sarana dan prasarana pengelolaan air limbah yang tidak

memenuhi persyaratan teknis

(11)

30 6. Kondisi Pengelolaan Persampahan

a) Sarana dan prasarana persampahan tidak memenuhi persyaratan teknis

b) Sistem pengelolaan persampahan tidak memenuhi persyaratan teknis

7. Kondisi Pengamanan (Proteksi) Kebakaran

a) Tidak tersedianya prasarana proteksi kebakaran

b) Sarana proteksi kebakaran yang tidak tersedia. (PUPR, 2018)

2.4 Kebijakan

Dalam pemerintahan, setiap instansi wajib memiliki program kerja dan setiap program kerja akan terdiri atas beberapa program kegiatan. Dalam program kerja yang dijalankan oleh Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Kabupaten Trenggalek yakni KOTAKU atau Kota Tanpa Kumuh memiliki program kegiatan menentaskan kawasan kumuh dengan cara memperhatikan kembali tata kota juga membangun daerah-daerah kumuh menjadi daerah yang asri dan memiliki nilai budaya dan ekonomi. (Nurbaiti & Bambang, 2017). Kebijakan merupakan keputusan akhir yang menjadi sebuah solusi untuk permasalahan yang terjadi. Para ilmuwan juga banyak yang mendefinisikan kebijakan publik sebagai tindakan atau pernyataan sikap pemerintah tentang masalah yang sedang terjadi untuk diimplementasikan kepada masyarakat. (Prof. Dr. H. Solichin Abdul Wahab, 2012).

Pada dasarnya, kebijakan selalu berkaitan antara satu dengan lainnya yang mengarah ke satu tujuan yang dilakukan oleh pejabat publik dan hal ini bisa dikatakan sebagai produk pemerintah karena lahir dari gagasan-gagasan atau ide dari para pejabat publik. Pembuatan Undang-Undang bukanlah satu satunya produk

(12)

31

pemerintah, melainkan ada banyak hal, seperti mengatur perdagangan yang biasanya kebijakan dikeluarkan oleh pejabat setempat. Produk pemerintah yang lain juga tentang penghapusan kemiskinan yang disertai dengan program-program pendukungnya, juga ada pemberantasan korupsi yang tentu saja disertai dengan Undang-Undang, dan lain sebagainya. (Ali et al., 2012).

2.5 Kota tanpa Kumuh (KOTAKU)

Program KOTAKU (Kota Tanpa Kumuh) adalah program yang dilaksanakan secara nasional di 271 kabupaten/kota di 34 Provinsi yang menjadi “platform kolaborasi” atau basis penanganan permukiman kumuh yang mengintegrasikan berbagai sumber daya dan sumber pendanaan, termasuk dari pemerintah pusat, provinsi, kabupaten/kota, donor, swasta, masyarakat, dan pemangku kepentingan lainnya. Program tersebut lalu direalisasikan di masing-masing daerah di Indonesia dan salah satu daerah yang menjalankan program KOTAKU adalah Kabupaten Trenggalek. Program ini bermaksud untuk membangun sistem yang terpadu untuk menangani persoalan permukiman kumuh, yang mana pemerintah daerah sebagai pemimpin akan berkolaborasi dengan para pemangku kepentingan dalam proses perencanaan dan juga dalam proses implementasinya. Permukiman kumuh ini terjadi akibat ketidakmampuan masyarakat dalam bersaing untuk memiliki semua kebutuhan yang digunakan untuk menunjang kehidupan. Program ini diharapkan mampu untuk mengatasi masalah-masalah seperti permukiman kumuh di perkotaan.

Implementasi pencegahan dan peningkatan kualitas permukiman kumuh, dimulai dari tahap (a) pendataan; (b) perencanaan; (c) pelaksanaan, (d) pemantauan dan evaluasi dan (e) keberlanjutan. Setiap tahapan dilakukan secara partisipatif

(13)

32

dengan melibatkan masyarakat, pemerintah kabupaten/kota dan pemangku kepentingan lainnya (stakeholder). Disadari bahwa kegiatan pencegahan dan peningkatan kualitas permukiman kumuh berkaitan erat dengan masyarakat dan sebagai implementasi dari prinsip bahwa pembangunan yang dilakukan (termasuk pencegahan dan peningkatan kualitas permukiman kumuh) tidak boleh merugikan masyarakat, maka dalam pelaksanaan Program Kotaku selalu menerapkan penapisan (pengamanan) lingkungan dan sosial.

Sumber pembiayaan Program Kotaku berasal dari pemerintah pusat, pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten/kota, swadaya masyarakat dan pemangku kepentingan lainya (stakeholder) serta dari lembaga mitra pembangunan pemerintah (World Bank-WB; Asian Infrastructure Investment Bank-AIIB dan Islamic Development Bank-IsDB). Berdasarkan kebutuhan total pembiayaan, sumber dari mitra pembangunan pemerintah (Loan) sekitar 45%.

Tujuan umum program ini adalah meningkatkan akses terhadap infrastruktur dan pelayanan dasar di permukiman kumuh perkotaan dan mencegah timbulnya permukiman kumuh baru dalam rangka untuk mendukung terwujudnya permukiman perkotaan yang layak huni, produktif, dan berkelanjutan. Untuk mewujudkan tujuan diatas, dilakukan melalui kegiatan:

a. Pembangunan/rehabilitasi infrastruktur permukiman baik skala lingkungan maupun skala kawasan

b. Penguatan kapasitas masyarakat dan pemerintah daerah serta

c. Pembangunan infrastruktur pendukung penghidupan (livelihood) masyarakat

(14)

33 2.6 Partisipasi Masyarakat

Partisipasi masyarakat dapat dikatakan sebagai turut andilnya masyarakat setempat dalam mendukung dan mensukseskan kebijakan-kebijakan yang dijalankan oleh pemerintah. Adanya partisipasi masyarakat dalam penerapan sebuah kebijakan akan sangat membantu, karena masyarakat tersebut sangat paham dengan masalah yang terjadi di lingkungan mereka sehingga mereka bisa membantu dan memberikan masukan mengenai kebijakan apa yang tepat sasaran untuk sebuah masalah.

Referensi

Dokumen terkait

Dan menurut hasil penelitian (Setiono, 2010 ) diperoleh dengan menggunakan model Pembelajaran Berdasarkan Masalah Dapat meningkatkan aktivitas siswa,hasil belajar siswa

Dari latar belakang yang diutarakan diatas maka penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui implementasi strategi pembelajaran metakognitif dalam meningkatkan

Toolbox adalah sebuah panel yang menampung tombol-tombol yang berguna untuk membuat suatu desain animasi mulai dari tombol seleksi, pen, pensil, Text, 3D

tahun akan mendapatkan potongan harga sebesar '5; dari harga paket... Rajawali Emas Perkasa Secure Keamanan Absolut 3; Bagi perusahaan yang akan menggunakan jasa kami selama tiga.

kegiatan mempraktikkan), melakukan koordinasi dengan guru BK MAN Yogyakarta 1 selaku pembina kegiatan PIK R di sekolah dan guru BK MAN Yogyakarta 1 selaku pelatih

Hasil analisis data menjelaskan bahwa responden pasien yang menyatakan kualitas keperawatan onkologi: kenyamanan baik sebesar 68% terhadap perawat dengan tingkat

Kelimpahan mikroplastik dari setiap zona di tiga stasiun, tiga transek, dan dua kedalaman yang diamati menunjukkan bahwa zona 1 memiliki kelimpahan mikroplastik tertinggi

Perlakuan kombinasi antara variasi media dan jenis bakteri dengan nilai absorbansi tertinggi pada hari ketiga adalah kombinasi antara Bacillus subtilis dengan