• Tidak ada hasil yang ditemukan

1. Kemampuan Penalaran Matematis

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "1. Kemampuan Penalaran Matematis"

Copied!
5
0
0

Teks penuh

(1)

4 A. KAJIAN PUSTAKA

1. Kemampuan Penalaran Matematis

Penalaran matematis diartikan sebagai suatu kegiatan atau proses aktivitas berfikir untuk membuat kesimpulan atau membuat sebuah pernyataan baru berdasarkan pernyataan yang dibuktikan melalui fakta-fakta yang ada (Wulandary, 2020). Pendapat yang lain dari Dana (2019) menyatakan bahwa penaralan matematis diartikan sebagai proses berfikir matematik dalam memperoleh kesimpulan matematis berdasarkan fakta atau data, konsep serta metode yang ada. Sehingga dari sini dapat disimpulkan bahwa penalaran matematis didefinisikan sebagai suatu proses atau kegiatan berfikir matematis yang digunakan untuk menarik kesimpulan berdasarkan bukti, fakta, data serta metode yang ada.

Wulandari (2020) mengemukakan beberapa indikator penalaran matematis, yakni 1) mengajukan dugaaan, 2) membuat manipulasi matematika, 3) menyusun bukti dan memberikan alasan, 4) membuat kesimpulan, 5) memeriksa keshahihan argumen, serta 6) menentukan pola/sifat dari gejala mateamatis untuk membuat generalisasi. Penelitian yang dilakukan oleh Jami dan Wijayanti (2020) memuat indikator penalaran matematis sebagaimana tersaji dalam tabel 1 berikut.

Tabel 1 Indikator Penalaran Matematis

Indikator Deskripsi

Menyajikan pernyataan matematika baik secara tertulis, diagram atau gambar

Siswa mampu menuliskan pernyataan baik secara tertulis, diagram atau gambar berdasarkan apa yang diketahui dalam sebuat permasalahan

Melakukan manipulasi matematika Siswa mempu memanipulasi

matematika dalam mengerjakan suatu permasalahan dengan berbeda-beda Menyusun dan memberikan alasan

terhadap kebenaran solusi

Siswa mampu menyusun bukti atau alasan berupa rangkaian solusi dari permasalahan yang ada

Menarik kesimpulan pernyataan logis Siswa mampu menarik kesimpulan atau alasan yang logis berdasarkan susunan bukti/solusi dari permasalahan

(Adopsi: Jami dan Wijayanti .2020) Empat indikator penalaran matematis pada Tabel 1. digunakan oleh peneliti sebagai pedoman dalam mendeskripsikan kemampuan penalaran matematiks siswa.

2. Soal Non Rutin

(2)

5

Di dalam matematika terdapat dua jenis soal, yaitu tentang masalah rutin dan non rutin (Putri, 2018). Masalah rutin biasanya mancakup aplikasi suatu prosedur matematika yang sama pada yang dipelajari (Tarhadi et al, 2016). Masalah rutin adalah masalah yang prosedur penyelesaiannya hanya sekedar mengulang secara algoritmik (Suandito, 2013). Permasalahan yang sering muncul dalam sebuah pembelajaran matematika yang terkandung dalam kurikulum disebut sebagai masalah rutin(Sumartini, 2015). Masalah rutin juga dapat diselesaikan dengan mudah oleh siswa (Thamsir, 2019).

Soal non-rutin ialah suatu persoalan yang tidak dapat diselesaikan seacara langsung karena tidak memiliki aturan atau prosedur penyelesaian tertentu (Thamsir, 2019). Soal non rutin merupakan strategi yang dapat digunakan untuk menggali, menganalisis dan menyelidiki aspek-aspek masalah non-rutin dalam upaya merumuskan solusi yang dituju (Yeliz, 2015).

Soal non-rutin cenderung mendorong siswa untuk berfikir logis, ,meningkatkan pemahaman konsep, kekuatan nalar matematis, kemampuan berfikir abstrak dan mengubah kemampuan matematika dalam situasi yang tidak biasa terjadi(Hidayat, 2020).

Permasalahan non-rutin adalah masalah yang sulit diselesaikan oleh siswa dan permasalahan ini perlu diselesaikan dengan menggunakan ketrampilan tertentu (Thamsir, 2019). Masalah non-rutin disebut juga sebagai masalah yang prosedur penyelesaiannya membutuhkan perencanaan penyelesaian, dan tidak hanya sekedar menggunakan rumus, teorema, bahkan dalil (Suandito, 2013). Soal non rutin fokus pada level tertinggi dari interpretasi dan mengorganisasi masalah (Aisyah, 2018).

Soal non rutin memenuhi karakteristik yang baik, diantaranya 1) menantang dan menarik, 2) memiliki analisis kritis serta kemampuan pengamatan, 3) menumbuhkan siswa untuk berdiskusi dan berinteraksi, 4) dalam penyelesaian soal melibatkan kemampuan penalaran matematika, 5) berdasarkan prinsip matematik/generalisasi dan 6) memberikan solusi yang bervariasi (Sri, 2015). Berikut ini merupakan indikator kemampuan penyelesaian masalah non rutin yaitu : 1) mengidentifikasi unsur-unsur yang sudah diketahui, 2) membuat rumusan masalah yang matematis atau menyusun model sistematis, 3) menerapkan strategi untuk menyelesaikan masalah dan 4) menjelaskan atau menginterpretasikan hasil penyelesaian masalah (Dwi, 2016).

3. Gaya Belajar

Gaya belajar merupakan suatu cara dalam menerima, mengolah, mengingat dan menerapkan informasi dengan mudah, dimana melalui pendekatan akan menggambarkan

(3)

6

bagaimana seseorang belajar (Widayanti, 2013 ; Febi 2015). Gaya belajar diartikan sebagai suatu karakteristik yang mencakup kognitif, afektif dan prikomotorik dimana dijadikan sebuat indikator untuk bertindak dalam proses pembelajaran dengan lingkungan belajar (Mar’ah, 2015). Pendapat lain mengatakan bahwa, gaya belajar adalah cara yang lebih kita sukai dalam meryerap informasi atau berfikir (Junierissa, 2015).

Gaya belajar merupakan cara yang sifatnya individu untuk menyerap dan meperoleh suatu informasi dari lingkungannya dengan menangkap stimulus atau informasi (Karim, 2015;

Abdullah, 2017). Gaya belajar merupakan metode yang dimiliki individu untuk mendapatkan informasi, yang pada prinsipnya gaya belajar merupakan bagian integral dalam siklus belajar aktif (Syofyan dan Yuliati, 2017). Sehingga berdasarkan beberapa penjabaran tentang gaya belajar, dapat disimpulkan bahwa gaya belajar adalah suatu pendekatan atau cara yang digunakan masing-masing individu dalam mengolah, mendapatkan, memahami serta mengingat suatu informasi.

Ada tiga macam gaya belajar dibagi berdasarkan modalitas yang digunakan setiap individu dalam memperoses informasi, yaitu: gaya belajar visual (melihat), gaya belajar auditori (mendengar) dan gaya belajar kinestetik (melakukan) (Wahyuni, 2017). Gaya belajar visual akan lebih maksimal melalui sebuah pengamatan atau gambar, sedangkan gaya belajar auditori melalui pendengaran atau berbicara dan gaya kinestetik melalui pergerakan fisik secara langsung (Wahyudin, 2016).

a. Gaya Belajar Visual

siswa dengan gaya belajar ini cenderung mengandalkan indra penglihatan yaitu mata (Mufidah, 2017). Dimana siswa yang memiliki gaya belajar visual akan cenderung lebih suka mencoret-coret ketika berbicara/ditelpon, berbicara dan lebih suka melihat gambar dari pada mendengarkan suatu informasi serta akan cenderung memperhatikan bahasa tubuh dan ekspresi wajah dari pada mendengarkan penjelasan. (Hartati, 2017 ; Aulia, 2019).

1) mementingkan penampilan saat tampil didepan orang banyak, 2) lebih mudah pengingatannya melalui gambar, 3) lebih suka membaca dari pada mendengarkan orang baca, 4) membaca dengan teliti, 5) meningat dengan asosiasi sosial,6) perencanaan dan pengatur jangka panjang yang baik, 7) biasanya tidak terganggu oleh keributan, 8) membutuhkan pandangan dan tujuan yang menyeluruh dan bersikap waspada sebelum secara mental merasa pasti tentang suatu masalah, 9) cenderung lebih sering menjawab jawaban singkat seperti ya atau tidak dan 10) selalu mengadakan kontak mata (Halim, 2012).

Gaya belajar visual merupakan gaya belajar yang lebih banyak memanfaatkan penglihatan. Orang dengan gaya belajar visual akan melihat atau membayangkan apa yang

(4)

7

sedang dibicarakan. Selain itu, ia memiliki kepekaan yang kuat terhadap warna, disamping mempunyai pemahaman yang cukup terhadap masalah artistic (Sirait, 2018). Sehingga diperlukan tes secara tertulis untuk membangun penalaran siswa dengan gaya belajar visual agar siswa melihat secara langsung soal atau tes yang diberikan

b. Gaya Belajar Auditori

gaya belajar ini siswa akan cenderung belajar berdasarkan apa yang mereka dengar daripada apa yang mereka lihat (Chania, 2017). Orang yang bergaya belajar auditori lebih suka berbicara sendiri, lebih menyukai ceramah atau seminar dari pada menulis, biasanya juga disebut sebagai pendengar karena mereka mengandalkan indera pendengaran (telinga) dalam menyerap informasi (Halim, 2012; Karim, 2015). Pada umumnya gaya belajar auditori kecenderungan mereka akan memperlihatkan ketertarikan suara dan kata-kata (Nurhasanah, 2014)

Adapun ciri-ciri atau karakteristik yang dimiliki oleh seseorang dengan gara belajar auditori yaitu: 1) lebih suka berbicara sendiri ketika bekerja, 2) mudah terganggu jika da keributan, 3) menggerakan bibir saat membaca sesuatu, 4) lebih senang membaca dengan keras dan mendengarkan, 5) bisa mengulangkembali apa yang didengar, 6) kesulitan dalam menulis tapi hebat dalam bercerita, 7) berbicara dengan variansi intonasi, 8) suka musik dan berdiskusi, 9)suka berbicara (Kartieka, 2014).

Beberapa strategi dalam menghadapi siswa dengan gaya belajar auditori yaitu: 1) mengajak siswa berdiskusi, 2) mendorong siswa untuk membaca pelajaran dikelas , 3) menggunakan suara/musik dalam pembelajaran , 4) berdiskusi dengan siswa melalui verbal, 5) membiarkan siswa merekam materi pembelajaran baik melalui kaset dan lain-lainnya (Ika, 2017).

Anak atau siswa yang memiliki gaya belajar auditori merupakan anak yang menggunakan pendengarannya untuk menerima informasi, sehingga siswa akan mengingat apa yang guru jelaskan atau katakan dikelas (Sari & Sufri, 2015). Sehingga dilakukanlah tes pemberian soal untuk mengetahui tingkat kemampuan penalaran terhadap siswa dengan gaya belajar auditori yang memiliki pendengaran dan ingat terhadap penjelasan dari guru saat pembelajaran di kelas

c. Gaya Belajar Kinestetis

Gaya belajar kinestetik biasanya disebut juga sebagai gaya belajar penggerak (Widayah, 2016). Hal ini disebabkan karena siswa yang memiliki gaya belajar ini senantiasa

(5)

8

menggunakan dan memanfaatkan anggota gerak tubuhnya dalam berproses pembelajaran atau dalam usaha memahami sesuatu (Halim, 2012). Seseorang akan maksimala dalam menyerap informasi jika diberkan kesempatan untuk memanipulasi media seperti bergerak sesuai yang mereka inginkan dalam mengelola informasi daripada disuruh duduk berjam-jam(Marpaung, 2015).

Adapun ciri-ciri atau karakteristika dari gaya belajar kinestetik yaitu: 1) bicara dengan pelan, 2) memiliki perhatian fisik, 3) menyentuh orang untuk mendapatkan perhatian orang lain, 4) berdiri lebih dekat pada orang yang berbicara, 5) berorientasi pada fisik dan banyak gerak, 6) mempunyai perkembangan otot-otot besar, 7) belajar melalui praktik, 8) menggunakan jari dan isyarat tubuh saat membaca, 9) tidak bisa duduk diam terlalu lama (Kartieka, 2014).

Berdasarkan penjelasan gaya belajar diatas, gaya belajar diklasifikasikan menjadi tiga yaitu gaya belajar visual, auditori, dan kinestetik (Hartati, 2013). Siswa dengan gaya belajar visual akan lebih cepat menyerap informasi melalui gambar, diagram dan lainnya sedangkan siswa dengan gaya belajar auditori akan lebih mudah menyerap informasi melalui pendengaran dan siswa dengan belajar kinestetik akan cenderung belajar dengan bergerak, bekerja dan sentuhan langsung karena keunikan tipe belajar ini membuat seseorang aktif bergerak secara langsung (Nurhasanah, 2014). Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan 3 gaya bahasa yaitu gaya belajar visual, audio dan kinestetis.

Gambar

Tabel 1 Indikator Penalaran Matematis

Referensi

Dokumen terkait

Subjek dengan gaya kognitif Field Independent lebih cenderung mandiri dan percaya diri, sedangkan subejk dengan gaya kognitif Field Dependent cenderung mengandalkan kondisi

Berdasarkan hasil observasi lapangan diperoleh informasi bahwa dalam pembelajaran dilakukan tidak hanya mengandalkan materi yang terdapat pada buku guru dan buku siswa saja

Siswa yang bergaya belajar visual, yang memegang peranan penting adalah mata/penglihatan (visual), mereka cenderung belajar melalui apa yang mereka lihat. Siswa yang

Nilai Tes Kemampuan Representasi Matematis Siswa Ditinjau dari Gaya Belajar Gaya Belajar Nilai Kategori Visual 33,33 Sedang Auditorial 50 Tinggi Kinestetik 41,66 Sedang

Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa dengan gaya belajar visual dan kinestetik menguasai dua indikator kemampuan penalaran matematis, yaitu: mampu menggeneralisasikan permasalahan

...55 Tabel 4.2 Data siswa dengan gaya berpikir sekuensial konkret pada kelas VIII.1 dan kelas VIII.2 ...56 Tabel 4.3 Data siswa dengan gaya berpikir sekuensial abstrak pada kelas

Siswa dengan gaya berpikir sekuensial abstrak mampu menjawab ketiga soal dengan tepat, siswa dengan gaya berpikir sekuensial konkret hanya mampu memenuhi 4 indikator kemampuan penalaran

Kemampuan literasi numerasi siswa ditinjau dari gaya belajar visual Berdasarkan hasil analisis pekerjaan yang dilakukan subjek dengan gaya belajar visual, kedua subjek cenderung