1 BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Rendahnya cakupan ASI eksklusif merupakan gambaran dari kegagalan pemberian ASI yang disebabkan oleh beberapa faktor. Salah satu penentu keberhasilan pemberian ASI adalah kondisi ibu seperti percaya diri atau keyakinan diri ibu untuk memberika ASI pada bayinya. Berdasarkan data WHO tahun 2016, menunjukkan cakupan ASI eksklusif pada bayi usia 0 - 6 bulan di seluruh dunia sebesar 39 % (Kemenkes, 2017) . Capaian ASI eksklusif di Indonesia masih tergolong rendah. Pada tahun 2013 capaian ASI eksklusif Indonesia adalah 54, 3% (Kemeskes RI, 2014). Sedangkan pada tahun 2016 capaian ASI eksklusif di Indonesia adalah sebesar 55,7% (Kemenkes, 2017). Jika dilihat dari persentase capaian ASI eksklusif pada tahun 2013 ke 2016 tersebut, Indonesia belum mencapai target sesuai rekomendasi WHO untuk minimum peningkatan capaian ASI eksklusif yaitu 1,2%
per tahun (Kemenkes RI. Pusat Data dan Informasi Situasi dan Analisis ASI Eksklusif, 2014).
Di Kabupaten/Kota diketahui bahwa cakupan bayi yang mendapat ASI Eksklusif di Jawa Timur tahun 2017 sebesar 75,7 %. Cakupan tersebut mengalami kenaikan dibandingkan dengan tahun 2016 yaitu 74,5 % (Kemenkes, 2017). Di RS UMM Jumlah pelaksanaan rawat gabung dan pemberian ASI Eksklusif pada Triwulan II Tahun 2019 sebanyak 186 bayi. Jumlah rawat gabung dan pemberian ASI Eksklusif tertinggi pada bulan Mei sebanyak 71 bayi dan terendah pada bulan April sebanyak 57 bayi.
Banyak kendala yang dapat mempengaruhi wanita dalam memulai, melaksanakan proses menyusui, dan mempertahankan praktek ASI eksklusif.
Kendala tersebut antara lain adalah faktor demografi, sosial, ekonomi, usia ibu, tingkat pendidikan, status pernikahan, dan dukungan sosial. Faktor lainnya adalah kurangnya produksi ASI, nyeri atau lecet pada nipel, bayi yang kesulitan menyusui dan bayi tidak puas dengan ASI ibu. Pada akhirnya kendala-kendala yang dialami ibu mempengaruhi kepercayaan diri dan keyakinan diri ibu dalam memberikan ASI atau disebut dengan breastfeeding self-efficacy (Gonzales Jr., 2020).
Di Indonesia terjadi fenomena bahwa presentase ibu yang memberikan ASI terus menurun seiring dengan bertambahnya usia bayi, ini dapat dibuktikan dengan data Kemenkes RI pada tahun 2014 yang menunjukan bahwa presentase ibu menyusui eksklusif terus menurun seiring bertambanya usia bayi. Pada kelompok 0 bulan terdapat 39,8% ibu menyusui eksklusif, kemudian pada kelompok umur 1 bulan menurun menjadi 32, 5%, selanjutnya pada kelompok umur 2 bulan menurun menjadi 30,7%, pada kelompok umur 3 bulan menurun menjadi 25,2%, pada kelompok umur 4 bulan ibu menyusui eksklusif adalah 26,3%, dan pada kelompok umur 5 bulan menurun cukup jauh menjadi 15,3% saja.
Fenomena ini menunjukkan bahwa setiap ibu memiliki resiko untuk mengalami kegagalan dalam memberikan ASI ekslusif meskipun ibu sudah menginisiasi pemberian ASI pada awal kehidupan. Dimana resiko ini tidak dapat terdeteksi sejak awal sehingga tidak mendapatkan intervensi apa-apa. Dampaknya dikemudian hari ibu mengalami kegagalan dalam memberikan ASI ekslusif sehingga persentase ibu yang menyusui ekslusif menjadi menurun seiring dengan bertambahnya usia bayi (Boateng et al., 2019) . Keberhasilan dalam memberikan ASI secara eksklusif harus ditunjang dengan tindakan menyusui yang efektif. Tindakan menyusui efektif
merupakan proses interaktif antara ibu dan bayi dalam rangka pemberian ASI secara langsung dari payudara ibu ke bayi dengan cara yang benar dan kuantitas yang memadai untuk memenuhi kebutuhan ibu dan bayi. Konsep proses menyusui yang efektif didefinisikan sebagai sesi menyusui individu dalam jangka waktu yang pendek, misalnya dalam 24 jam pertama, atau durasi menyusui dalam minggu atau bulan pertama pada ibu postpartum (Agustin, 2018).
Penelitian yang dilakukan oleh (Boateng et al., 2019) menunjukkan bahwa Breastfeeding self-efficacy mempengaruhi inisiasi menyusui, tercapainya ASI eksklusif dan
durasi menyusui. Dimana semakin tinggi breastfeeding self-efficacy seorang Ibu maka akan semakin tinggi pula tingkat keberhasilan ASI eksklusif pada Ibu postpartum. Menurut penelitian yang dilakukan oleh (Boateng et al., 2019) Breastfeeding selfefficacy merupakan faktor yang paling kuat yang dapat mempengaruhi proses menyusui dan tercapainya keberhasilan ASI eksklusif dikemudian hari. Penelitian membuktikan bahwa breastfeeding self-efficacy pada periode postpartum dapat menjadi prediktor pencapaian ASI eksklusif 6
bulan kedepan (Merdikawati & Choiriyah, 2019). Jika perawat mengukur tingkat breastfeeding self-efficacy ibu pada periode postpartum, permasalahan potensial dalam
menyusui dapat diketahui lebih awal.
Self efficacy memiliki pengaruh dalam pemberian ASI eksklusif. Self efficacy disebut
dengan keyakinan diri dimana menggambarkan keyakinan seseorang akan kemampuannya untuk melakukan suatu tindakan tertentu agar dapat mewujudkan hasil hasil yang diharapkan atau diinginkan (Aminah et al., 2018). Menurut Dennis Breastfeeding Self Efficacy (BSE) adalah keyakinan seorang ibu terkait kemampuannya untuk menyusui
bayinya dan memperkirakan apakah ibu memilih untuk menyusui atau tidak, berapa banyak usaha yang dikeluarkan, kemampuan untuk meningkatkan atau tidak, dan bagaimana menanggapi kesulitan menyusui secara emosional (Bobak, 2019).
Upaya untuk meningkatkan breastfeeding self efficacy pada ibu dengan pengalaman pertama menyusui perlu untuk dilakukan agar ibu dapat menyusui secara efektif dan pada akhirnya berhasil memberikan ASI secara eksklusif. Edukasi laktasi dapat diberikan saat prenatal atau postnatal, tetapi edukasi laktasi lebih baik diberikan sejak prenatal karena praktik menyusui harus dilakukan sesegera mungkin setelah bayi lahir, selain itu ibu juga dapat melakukan persiapan menyusui dengan lebih baik. Pada masa postnatal, ibu mengalami adaptasi fisik dan psikologis yang dapat mengganggu fokus ibu dalam menerima edukasi. Dengan edukasi ASI prenatal diharapkan keempat sumber pembentuk self efficacy akan memberikan nilai positif terhadap peningkatan tingkat self efficacy (Saputra et al., 2019).
Berdasarkan hasil studi pendahuluan yang dilakukan pada pasien di Ruang Kamar Bersalin di wilayah kerja RSU UMM, didapatkan data kunjungan ibu di kamar bersalin dari bualn mei sampai bulan juli ada 174 persalinan baik sesar maupun normal. Hasil wawancara terhadap 5 ibu post partum baik primipara maupun multipara terdapat 4 ibu yang memiliki keinginan untuk dapat memberikan ASI eksklusif kepada bayinya namun kurang yakin yang disebabkan karena ibu dengan persalinan secara sesar masih mengalami kesulitan bergerak karena nyeri luka operasi, ASI ibu belum keluar dan ibu bingung karena puting susu tidak muncul. Melihat fenomena diatas, sehingga peneliti tertarik untuk meneliti “Breastfeeding Self Efficacy Pada Ibu Post Partum Hari 1-3 di RSU UMM”.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan fenomena yang terjadi, penulis menarik sebuah rumusan masalah sebagai berikut ; “Bagaimanakah Tingkat Breastfeeding Self Efficacy pada ibu post partum hari 1-3 di RSU UMM”.
1.3 Tujuan Penelitian 1.3.1 Tujuan Umum
Mengetahui Tingkat Breastfeeding Self Efficacy Pada Ibu Post Partum Hari 1-3 di RSU UMM.
1.3.2 Tujuan Khusus
1) Mengetahui karakteristik ibu post partum di RSU UMM.
2) Mengidentifikasi Breastfeeding Self Efficacy pada ibu post partum hari 1-3 di RSU UMM.
1.4 Manfaat Penelitian 1.4.1 Bagi Peneliti
Penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan serta mengembangkan wawasan peneliti serta menjadi bahan acuan sehingga dapat menjadi sumber bagi penelitian berikutnya.
1.4.2 Bagi Institusi Pendidikan
Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi institusi pendidikan yaitu untuk pengembangan ilmu dan referensi tentang Breastfeeding Self Efficacy pada ibu post partum hari 1-3.
1.4.3 Bagi Rumah Sakit
Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat menjadi sumber dan referensi bagi keperawatan tentang Breastfeeding Self Efficacy pada ibu post partum hari 1-3.
1.4.4 Bagi Masyarakat
Penelitian ini diharapkan mampu meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang Breastfeeding Self Efficacy pada ibu post partum hari 1-3.
1.5 Keaslian Penelitian
1. (Siti Aminah, Ida Samidah, Mirawati, Delta Aprianti, 2018). Dalam
“Hubungan Karakteristik dan Dukungan Suami Dengan Breastfeeding Self Efficacy Dalam Meberikan ASI Ekslusif Di Rs Dr. Sobirin Kab. Musi Rawas”.
Dalam penelitian tersebut meneliti adanya hubungan karakteristik dan dukungan suami dengan breasfeeding self efficacy dalam memberikan ASI ekslusif. Pada penelitian tersebut disebutkan tidak ada hubungan karakteristik dan dukungan suami dengan Self Efficacy menyusui di RS Dr. Sobirin. Yang membedakan penelitian ini dengan penelitian saya adalah bvariabel independennya, yaitu karakteristik dan dukungan suami, sedangkan variabel independen pada penelitian saya adalah breastfeeding self efficacy.
2. (Andesma Saputra, Ariani Arista Putri Pertiwi, Wenny Aitanty Nismah, 2019).
Dalam “Pengaruh Breastfeeding Self Efficacy Treatment Terhadap Perlekatan Dan Respon Ibu Bayi Selama Proses Menyusui”. Dalam penelitian ini peneliti melakukan penelitian tentang pengaruh Breastfeeding Self Efficacy Treatment terhadap perlekatan dan respon bayi bayi selama proses menyusui. Pada hasil penelitian tersebut disebutkan ada pengaruh Breastfeeding Self Efficacy Treatment terhadap perlekatan dan respon ibu-bayi selama proses menyusui. Yang membedakan penelitian ini dengan penelitian saya adalah variabel dependen nya, yaitu perlekatan dan respon ibu-bayi selama proses menyusui, sedangkan variabel dependen pada penelitian saya adalah keberhasilan pemberian ASI pertama.
3. (Lutfiana puspitasari, Lusinta agustina, 2019). “Dalam Pengaruh Kecemasan Dan Breastfeeding Self Efficacy Terhadap Produksi ASI Pada Ibu Post Partum”.
Dalam penelitian ini peneliti menggunakan metode penelitian deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional (potong lintang), semua variabel yang diteliti baik variabel dependen maupun independen diukur pada saat yang sama. Hasil dari penelitian tersebut adalah ada pengaruh yang signifikan antara efikasi diri menyusui pada jumlah produksi ASI pada ibu post partum.
Yang membedakan penelitian ini dengan penelitian saya adalah variabel dependen nya, yaitu produksi ASI pada ibu post partum, sedangkan variabel dependen pada penelitian saya adalah keberhasilan pemberian ASI pertama.
4. (Godfred O Et Al., 2019). Dalam “Adaptation And Psychometric Evaluation OfThe Breastfeeding Self-Efficacy Scale ToAssess Exclusive Breastfeeding”.
Penelitian ini memodifikasi dan menambahkan item dari Dennis-Menyusui Self-Efficacy Scale-Short Form (BSES-SF).kemudian diimplementasikan dalam kohort observasional di Gulu, Uganda pada 1 (n = 239) dan 3 (n = 238) bulan postpartum(clinicaltrials.gov NCT02925429).kemudian menilai reliabilitas skala dan melakukan tes validitas prediktif dan diskriminan. Perbandingan kelompok yang diketahui dibuat berdasarkan status primipara dan pengetahuan menyusui yang benar. Hasil penelitian Versi skala Self-Efficacy Menyusui ini, Skala BSES- EBF, valid dan dapat diandalkan untuk mengukurefikasi diri pemberian ASI eksklusif di Uganda utara, dan siap untuk adaptasi dan validasi untuk klinis danpenggunaan terprogram di tempat lain.
5. (Safiya, Hamdia, 2019). Dalam “Impacts Of Antenatal Nursing Interventions On Mothers’ Breastfeeding Self-Efficacy: An Experimental Study”. Untuk penelitian ini dibagi menjadi 2 kelompok, kelompok ekperimen menerima
dua sesi pendidikan kelompok menyusui 60-90 menit berdasarkan pada teori self-efficacy menyusui bersama perawatan rutin. Kelompok kontrol tidak diberikan pendidikan dan perawatan rutin. Hasilnya kepercayaandiri pada kelompok eksperimen secara signifikan lebih tinggi. Kelompok eksperimen memiliki tingkat pengetahuan dan sikap yang lebih tinggi dibandingkan dengan subyek dalam kelompok kontrol. Penelitian ini menunjukkan bahwa pendidikan menyusui antenatal adalah cara yang efektif untuk meningkatkan tingkat efikasi diri menyusui, yang meningkatkan praktik pemberian ASI eksklusif.