Perpustakaan Nasional : Katalog Dalam terbitan (KDT) Mazhab Hambali (Profil Umum)
Penulis : Ahmad Sarwat, Lc.,MA 26 hlm
Hak Cipta Dilindungi Undang-undang. Dilarang
mengutip atau memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku ini tanpa izin tertulis dari penerbit.
Judul Buku Mazhab Hambali (Profil Umu) Penulis Ahmad Sarwat, Lc. MA
Editor Fatih Setting & Lay Out Fayyad & Fawwaz Desain Cover Faqih Penerbit Rumah Fiqih Publishing Jalan Karet Pedurenan no. 53 Kuningan
Setiabudi Jakarta Selatan 12940
Daftar Isi
Daftar Isi ... 4
Bab 1 : Pendiri ... 6
A. Nama dan Kelahiran ... 6
B. Pendidikan ... 6
1. Masa Kecil ... 6
2. Masa Remaja ... 7
C. Gur u ... 8
D. Menjadi Imam Muhaddits ... 11
E. Karya ... 13
F. Murid ... 13
G. Kondisi Politik di Baghdad Masa Imam Ahmad . 14 H. Wafat ... 18
B. Ushul Mazhab dan Banyak Ikhtilaf ... 20
A. Dekat Dengan Mazhab Syafi’i ... 20
B. Lima Landasan Versi Ibnul Qayyim ... 20
1. Nashush ... 20
2. Fatwa Sahabat Yang Tidak Ada Perselisihan Di Antara Mereka ... 21
3. Fatwa Sahabat Yang Diperselisihkan Di Antara Mereka ... 21
4. Hadis Mursal dan hadis dha'if ... 21
5. Qiyas ... 21
C. Tambahan ... 21
6. Ijma’ ... 22
7. Mashalih Al-Mursalah ... 22
8. Saddu Adz-Dzariah ... 22
9. Istihsan ... 22
10. Istishab ... 23
11. Syar’u man qablana ... 24
D. Banyak Ikhtilaf ... 24
Bab 1 : Pendiri
A. Nama dan Kelahiran
Lengkapnya bernama Ahmad bin Hanbal Asy Syaibani. Beliau adalah pendiri mazhab Hanbali.
Sering disapa dengan Abu Abdillah. Beliau dilahirkan di Baghdad pada tahun 164 hijriyah dan tumbuh besar disana.
Nasab Imam Ahmad bin Hanbal bertemu dengan silsilah Nabi Muhammad SAW sampai pada Nizar, karena yang menurunkan Nabi Muhammad saw ialah Mudhar bin Nizar; yaitu kakek Beliau yang kedelapan belas.
Bahdad adalah ibukota pemerintahan Bani Abbasiyyah ketika itu, di masa pemerintahan Khalifah Muhammad al-Mahdi, diteruskan dengan Al- Mu’tasim billah dan Al-Watsiq.
B. Pendidikan
Masa kecil Imam Ahmad bin Hanbal seorang yatim, ayahandanya meninggal tatkala usianya masih sangat kecil, hingga tanggung jawab pendidikan dan membesarkannya menjadi tangung jawab penuh sang ibunda.
1. Masa Kecil
Kota Baghdad kala itu menjadi tempat
kediaman para ahli dalam berbagai bidang, termasuk
bidang agama. Banyak sekali para ulama besar yang hidup dan tinggal di kota Baghdad. Fakta ini tak ubahnya menjadi daya tarik tersendiri bagi para penuntut ilmu dari berbagai tempat.
Akses yang begitu mudah untuk menimba ilmu, ratusan majlis ilmu digelar siang dan malam, banyak perpustakaan yang tersebar di seantero kota menjadikan kota Baghdad mendapat julukan sebagai kota gudang ilmu.
Setidaknya mazhab-mazhab fiqih bermunculan di Baghdad, mulai dari mazhab Hanafi, Syafi’i, Hambali, Abu Tsaur, Daud Azh-Zhahiri, dan Ibnu Jarir Ath-Thabari.
2. Masa Remaja
Di usia 16 tahun, beliau berangkat menuntut ilmu pengetahuan keluar kota dan bahkan keluar negeri seperti ke Kufah, Basrah, ke Syam Yaman dan ke kota Mekah dan Madinah.
Di tiap-tiap kota atau daerah yang disinggahinya, beliau tidak segan-segan untuk belajar kepada para ulama setempat, terutama ilmu pengetahuan hadits.
Imam Ibnul Jauzi menyebut dalam kitab Manaqib Imam Ahmad bahwa total guru beliau ada sekira 414 guru.
Sejarah mencatat, bahwa Imam Ahmad banyak belajar hadits dan meriwayatkan dari banyak tokoh, diantaranya :
▪ Basyar bin al-Mufadhdhal
▪ Ismail bin ‘Aliyyah
▪ Sufyan bin Uyainah
▪ Jarir bin Abdil Hamid
▪ Yahya bin Said al-Qaththan
▪ Abu Dawud at-Thoyalisi
▪ Abdullah bin Namir
▪ Abdurrazaq
▪ Ali bin Ayyas
▪ Imam asy-Syafi’i
▪ Mu’tamir bin Sulaiman C. Guru
a. Abu Yusuf (113-182 H)
Dalam bidang hadis, guru pertama Imam Ahmad bin Hanbal ialah Imam Abu Yusuf, seorang murid senior Imam Abu Hanifah.
Dengan demikian, Ahmad bin Hanbal pastilah memahami hadits lewat konsep mazhab Hanafi, setidaknya di awal-awal pelajarannya tentang hadits.
Tetapi jalinan antar guru dan murid ini tidaklah berlangsung lama, karena Abu Yusuf wafat tahun 182 H.
b. Husyaim bin Basyir
Dari pangkuan Imam Abu Yusuf pendidikan hadis beliau berpindah ke Imam Husyaim bin Basyir;
seorang ahli hadis kenamaan pada zaman itu, hingga Imam Malik, Syu’bah dan ats-Tsauri pun mengambil riwayat hadis darinya, padahal kedudukan mereka lebih tinggi dibanding Imam Husyaim.
Pertama kali duduk di majelis ilmu gurunya ini
pada tahun 179 H, Imam Ahmad barulah menginjak
usia 16 tahun. Imam Ahmad bermulazamah dengan
sang guru hingga beliau wafat kembali pada Allah swt
pada tahun 183 H, maka total masa belajar Imam
Ahmad dengan Imam Husyaim selama kurang lebih
empat tahun.
Setelah kepergian sang guru yang amat dikasihinya, Imam Ahmad melanjutkan pengembaraan mencari dan memperlajari ilmu hadis hingga ke pelosok negeri.
c. Asy-Syafi’i
Ketika mengunjungi kota suci Mekkah al- Mukarramah, bertemulah Beliau dengan Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullah. Kejadiannya pada tahun 187 hijriyah. Itulah pertama kali pertemuannya dengan sang guru yang nantinya sangat besar pengaruhnya.
Saat itu di kota Mekah ada majelis hadis yang diajarkan oleh Imam Sufyan bin Uyainah (107-198 H).
Namun Imam Ahmad kalau terpaksa harus memilih bentrokan jadwal di antara kedua, tetap akan memilih ikut majelis Asy-Syafi’i ketimbang majelis Sufyan bin Uyaynah.
Karena menurut beliau kalau seandainya beliau terluput dari mendapat sanad hadis yang tinggi, beliau masih bisa mendapatkan hadis tersebut meski dengan sanad yang rendah.
Namun kala itu As-Syafi’i belum lagi menjadi imam mazhab. Meski sudah punya banyak sekali ilmu.
Pertemuan berikutnya dengan As-Syafi’i ketika
sang guru memutuskan untuk pindah Baghdad pada
tahun 195 hijriyah dan mendirikan mazhab qaul
qadim. Al-Imam Ahmad pun semakin berkonstrasi
mendalami hampir semua ilmu yang diajarkan Asy-
Syafi'i.
Yang paling utama beliau pelajari dari Al-Imam Asy-Syafi'i adalah Ilmu Fiqih, ilmu ushul fiqih dan juga tentunya ilmu hadits. Selain juga tentang ilmu nasikh dan mansukh.
Komentar beliau atas gurunya yang amat masyhur antara lain :
نكا هقف أ سانلا في باتك الله ةن سو لوسر
Beliau (Al-Imam Asy-Syafi'i) adalah orang paling mengerti kitabullah dan sunnah rasul-Nya.
نمام سم دح أ
هديب ةبرمح امَلقو لا ا يعفاشللو في
ة نم هقنع
Tidaklah ada seseorang yang memegang tinta dan pena, kecuali dia telah berhutang kepada Al-Imam Asy-Syafi'i.
Imam Ahmad begitu kagum dengan kecerdasan dan kefakihan sang guru; Imam asy-Syafi’i. beliau sendiri berujar,
Dahulu kami sering merendahkan para ahli ra’yi, hingga datanglah Imam asy-Syafi’i yang menguraikan masalah dan memahamkan pada kami bahwa yang tepat adalah berpegang teguh pada atsar yang sahih dengan mendukungnya dengan penalaran yang benar.”
Dalam riwayat yang lain disebutkan bahwa Imam Ahmad adalah termasuk murid khusus Imam asy-Syafi’i. Beliau tak pernah meninggalkan mulazamah pada gurunya itu sampai sang guru meninggalkan Baghdad.
Al-Hasan bin Muhammad az-Za’farani
mengisahkan, “tidak aku datangi majlisnya Imam asy- Syafi’i kecuali Ahmad bin Hanbal juga sudah duduk di dalamnya.”
Sehingga akhirnya beliau menjadi ulama paling pandai di Baghdad sepeninggal sang guru yang pindah ke Mesir. Imam Syafi’i berkata ketika melakukan perjalanan ke Mesir :
لبنح نبا نع هقف أ لاو ىقت أ ابه تفلخ امو دادغب نم تجرخ
Saya keluar dari Baghdad dan tidaklah saya tinggalkan disana orang yang paling bertakwa dan paling faqih melebihi Ibnu Hanbal (Imam Ahmad).
Hingga sampai Imam asy-Syafi’i telah tiada pun, tersebab kecintaan beliau yang besar kepada para ahli ilmu yang telah berjasa dalam perjalanan pendidikannya, Imam Ahmad senantiasa mendoakan guru besarnya itu. beliau mengatakan sendiri,
ني ا وعد ل الله يعفاشلل
في تيلاص ذنم ينعبر أ
،ةن س لوق أ مهللا
ليرفغا يلداولو
دملمحو نب سيرد ا يعفاشلا
“Sungguh aku mendoakan Imam Syafi’i dalam shalatku selama empat puluh tahun. Aku berdoa,
‘Ya Allah ampunilah aku, kedua orang tuaku, dan Muhammad bin Idris As-Syafi’i.”
D. Menjadi Imam Muhaddits
Al-Imam Ahmad sangat menonjol dalam ilmu hadis dan menghafal begitu banyak hadits. Sehingga beliau dianggap sebagai imamul muhadditsin di jamannya. Imam Ahmad adalah seorang pakar hadis dan fiqih.
Bahkan ada sebagian kalangan yang
menggolongkan beliau bukan sebagai ahli fiqih, melainkan sebagai ahli hadits saja. Alasannya karena beliau memang tidak menulis kitab fiqih secara khusus sebagaimana Al-Imam Asy-Syafi'i. Yang kita dapati beliau malah menyusun kitab hadis yang bernama Al-Musnad.
Namun yang rajih bahwa beliau adalah juga ahli fiqih. Salah satunya dasarnya adalah pengakuan Al- Imam Asy-Syafi'i di atas bahwa beliau orang paling taqwa dan paling faqih.
ةثلاث نم ءملعلا نم بئاعج امزلا ن : بيرع لا برعُي
؛ةم َكَ
وهو وبَأ
،روَث يمعجَأو لا ئطيخ في
؛ةمكَ
وهو نسلحا
،نيارفع زلا يرغ َصو
مكَ
لاق اائيش هقدص
؛رابكلا وهو
دحمَأ لبنَح نب
“ada tiga ulama yang menjadi keajaiban zaman;
Abu Tsaur; seorang arab yang tak fasih berbicara arab. Al-Hasan az-Za’farani seorang ‘ajam (farisi) yang tak pernah salah ucap dalam bertutur arab.
Dan Ahmad bin Hanbal; seorang belia yang omongannya didengar dan dibenarkan para tetua.”
Abdullah bin Abi Dawud berkata :
Ayahku pernah berkata bahwa jika kau lihat seseorang mencintai Imam Ahmad bin Hanbal, maka ketahuilah bahwa orang itu ahlu sunnah.
Imam Abu Zur’ah pernah ditanya manakah yang lebih kuat hafalannya, engkau atau Imam Ahmad?
“Imam Ahmad lebih kuat hafalannya.” Jawab beliau.
Imam Ahmad bin Said ar-Razi berkata,
Aku belum melihat seorang yang hitam kepalanya yang lebih hafal pada hadis-hadis Nabi SAW, yang lebih pandai tentang fiqihnya dan artinya daripada Imam Ahmad bin Hanbal.”
Tentang koleksi hafalan hadits Imam Ahmad, ada kesaksian dari puteranya yang bernama Abdullah bin Ahmad bin Hanbal :
Ayahku telah mencatat sepuluh juta hadis Nabi SAW. Dan tidaklah beliau mencatatnya hitam diatas putih melainkan telah dihafalnya luar kepala.
E. Karya
Diantara karya Imam Ahmad bin Hanbal, ialah;
▪ Kitab al-Musnad, karya yang paling menakjubkan karena kitab ini memuat lebih dari dua puluh tujuh ribu hadits.
▪ Kitab at-Tafsir
▪ Kitab an-Nasikh wa al-Mansukh
▪ Kitab at-Tarikh
▪ Kitab Hadits Syu'bah
▪ Kitab al-Muqaddam wa al-Mu'akkhar fi Al- Qur`an
▪ Kitab Jawabah Al-Qur`an
▪ Kitab al-Manasik al-Kabir
▪ Kitab al-Manasik as-Saghir
▪ Fadhail as-Shohabah F. Murid
Murid-murid beliau yang mempelajari fiqih dan
ushul fiqihnya mereka nantinya menjadi pembesar
madzhab Hanbali di kemudian hari.
Diantara mereka yang paling terkenal ialah dua putra beliau sendiri yaitu Solih dan Abdullah. Akan tetapi Solih lebih banyak meriwayatkan fiqih dari ayahnya dibanding saudaranya Abdullah.
Sedangkan Abdullah sedikit diatas Solih dalam hal periwayatan hadis yang diambil dari ayahnya.
Adapula diantara murid beliau yang terkenal ialah anak paman beliau sendiri yaitu
▪ Hanbal bin Ishaq bin Hanbal.
▪ Ishaq bin Manshur al-Maruzi,
▪ Abu Dawud as-Sijistani,
▪ Ibrahim bin Ishaq an-Naisaburi,
▪ Abu Bakar Ahmad bin Muhammad al-Atsram,
▪ Abu Zur’ah ar-Rozi
▪ Abu Hatim ar-Rozi, dan masih banyak lagi.
Adapun murid-murid beliau yang secra khusus meriwayatkan hadis dari beliau diantaranya ialah :
▪ Dua putra beliau Abdullah dan Solih,
▪ al-Hasan bin ash-Shobah al-Bazzar,
▪ Ahmad bin al-Hasan at-Tirmidzi,
▪ Al-Imam Al-Bukhori,
▪ Al-Imam Muslim
▪ Abu Zur’ah, dan yang lainnya.
G. Kondisi Politik di Baghdad Masa Imam Ahmad Al-Imam Ahmad bin Hanbal mengalami hidup di tiga rezim berbeda di zaman Bani Abbasiyah, yaitu Al- Makmum, Al-Mu’tasim billah dan Al-Watsiq.
Di masa itu terjadi kepentingan politik yang
berbalut dengan aliran paham aqidah. Dimana para
penguasa ikut terlibat membawa-bawa masalah
aliran aqidah dalam kebijakan mereka.
Lalu memaksakan para ulama untuk mendukung aliran aqidah yang digagar penguasa. Sebagian ulama ada yang dengan terpaksa ikut kemauan penguasa, sebagian lagi ada yang menghindari konfrontasi lalu pindah ke negeri lain yang lebih kondusif, seperti Al- Imam Asy-Syafi’i yang pindah ke Mesir.
Namun ada sebagian lagi yang siap bertabrakan dan menentang penguasa, meski dengan resiko yang teramat berat. Dan Al-Imam Ahmad termasuk mereka yang punya pilihan ketiga. Isu utama terkait tema apakah Al-Quran itu makhluk atau bukan.
Kisahnya di awali pada masa pemerintahan khalifah Harun ar-Rasyid, ada seorang bernama Basyar al-Marisi yang berkeyakinan bahwa Al-Quran adalah makhluk. Pada saat itu oleh sang Khalifah orang yang memiliki pendapat demikian mendapat ancaman dan hukuman serius dari negara.
Sang Khalifah sampai berkata, “Kalau Allah swt memberiku panjang umur, dan aku bersua dengan Basyar, niscaya akan aku bunuh dia dengan pembunuhan yang belum pernah aku jatuhkan atas orang lain.”
Begitulah, demi mendengar ancaman berat dari Khalifah itu, Basyar bersembunyi beberapa lama meskipun tampuk kepemimpinan telah berganti ke Khalifah al-Amin yang mengantikan ayahnya yang wafat.
Namun Basyar tetap tak mampu berbuat banyak, Khalifah al-Amin juga meneruskan jejak sang ayah yang akan menghukum berat sesiapa yang mengatakan bahwa Al-Quran adalah makhluk.
Kemudian musim seakan berganti, tatkala
jabatan kepala negara itu jatuh ke tangan al-Makmun (saudara al-Amin), maka pendukung aliran muktazilah seakan mendapat angin segar dengan dekatnya mereka ke pihak pemerintah, sehingga mudah sekali bagi mereka memengaruhi pusat untuk terus mengkampanyekan paham bahwa Al-Quran adalah makhluk dan menghukum siapa saja yang berani menentang pemikiran tersebut.
Pada masa itu, Imam Ahmad bin Hanbal ialah termasuk segelintir ulama yang berani secara tegas menentang argumen menyimpang itu. Dalam kacamata ahlus sunnah wal jama’ah, Al-Quran bukanlah makhluk, Imam Ahmad dengan lantang mengatakan bahwa Al-Quran ialah Kalamullah (firman Allah swt).
Solih, putra Imam Ahmad menyebutkan bahwa semua ulama di masanya terpaksa mengakui bahwa Al-Quran adalah makhluk kecuali empat orang:
▪ Ayahku (Imam Ahmad)
▪ Muhammad bin Nuh
▪ Al-Qawariry
▪ al-Hasan bin Hammad Sajadah.
Akhirnya, Al-Qawariry dan Al-Hasan bin Hammad bersedia mengakui bahwa Al-Quran adalah makhluk. Tersisa ayahku dan Muhammad bin Nuh di penjara selama berhari-hari. Hingga datang surat keputusan dari Thorsus agar dua orang yang tersisa ini dipindahkan kesana dalam keadaan tangan dirantai.
Sejak saat itulah kehidupan Imam Ahmad bin
Hanbal dihabiskan di dalam penjara. Menerima
siksaan yang silih berganti, namun beliau tetap
bergeming dan bersikukuh mempertahankan pendapat yang diyakini kebenarannya.
Hingga Al-Makmun wafat dan kemudian digantikan oleh Al-Mu’tashim billah pun keadaannya masih seperti sebelumnya. Khalifah yang baru ini hanya melanjutkan apa yang sudah dimulai pendahulunya dan tetap berkeyakinan bahwa AL- Quran ialah makhluk.
Demikianlah selanjutnya, beliau tetap di dalam penjara menerima hukuman yang pedih hingga pada saat Khalifah al-Mu’tashim wafat, yaitu pada awal bulan Muharram tahun 227 H yang kemudian digantikan oleh putranya al-Watsiq Billah. Keadaan juga tidak berubah sama sekali hingga al-Watsiq wafat dan kemudian diganti oleh al-Mutawakkil Billah.
Singkat kata, selama dua tahun masa pemerintahannya, ujian tentang kemakhlukan Al- Quran masih dilangsungkan.
Kemudian pada tahun 234 H, beliau menghentikan ujian tersebut. Sang Khalifah mengumumkan ke seluruh wilayah kerajaannya larangan atas pendapat tentang kemakhlukan Al- Quran dan ancaman hukuman mati bagi yang melibatkan diri dalam hal itu.
Dia juga memerintahkan kepada para ahli hadits
untuk menyampaikan hadits-hadits tentang sifat-
sifat Allah swt. al-Mutawakkil pun juga dikenal
sebagai Khalifah yang menghidupkan kembali
sunnah-sunnah Nabi saw. Maka demikianlah, orang-
orang pun bergembira pun dengan hal itu. Mereka
memuji-muji khalifah atas keputusannya yang bijak
itu.
Atas perintah Khalifah, semua ulama yang mendekam dalam penjara karena badai fitnah ini;
dibebaskan.
Diantara para ulama yang bebas itu ialah Imam Ahmad bin Hanbal. Beliau dipulangkan ke kediamannya meskipun dengan bekas luka parah di sekujur tubuh beliau.
Sebagai konsekuensinya, Khalifah memburu para tokoh yang menjadi dalang fitnah selama ini.
Para pembesar muktazilah itu diseret dan dihukum dengan tegas dalam penjara.
H. Wafat
Beliau meninggal di hari Jumat, tanggal 12 Rabi`ul Awwal, tahun 241 H (855 M), di usia beliau yang ke-77 tahun dan dikuburkan di Bab Harb di kota Baghdad. Ketika beliau meninggal, banyak orang yang menyalati jenazah beliau.
Diceritakan oleh adz-Dzahabi dari Bunan bin Ahmad al-Qashbani bahwa beliau menghadiri salat jenazah untuk Imam Ahmad, sementara yang ikut menyalati jenazah Imam Ahmad adalah sekira delapan ratus ribu orang dari kalangan laki-laki dan sekira enam puluh ribu orang dari kalangan perempuan.
Dalam riwayat yang lain dari Abu Zur’ah, beliau mendapat kabar bahwa Khalifah al-Mutawakkil memerintahkan seseorang untuk menghitung jejak kaki manusia yang menyalati jenazah Imam Ahmad.
Dikabarkan bahwa dari jumlah telapak kaki tersebut
diketahui lebih dari dua setengah juta manusia yang
menyalati jenazah Imam Ahmad bin Hanbal.
Bahkan ada riwayat yang menyebut bahwa pada
hari wafatnya Imam Ahmad bin Hnbal tersebut, ada
sepuluh ribu orang dari golongan yahudi, nasrani dan
majusi yang masuk dan mengikut agama Islam.
B. Ushul Mazhab
A. Dekat Dengan Mazhab Syafi’i
Secara umum, dasar-dasar mazhab yang dibangun oleh Al-Imam Ahmad sangat berdekatan dengan mazhab mazhab Asy-Syafi’iyah. Dan hal itu wajar, karena pada dasarnya Al-Imam Ahmad memang murid langsung Al-Imam Asy-Syafi’i, dan awalnya memang bermazhab dengan mazhab sang guru.
Namun kemudian setelah menjadi mujtahid mutlak mustaqil, maka jadilah apa yang diajarkan beliau berbeda dengan mazhab gurunya. Apalagi setelah sang guru kemudian merevisi mazhabnya dan berevolusi menjadi mazhab baru, yaitu qaul jadid, yang berbeda dengan qaul qadim.
B. Lima Landasan Versi Ibnul Qayyim
Ibnu Qayyim dalam kitabnya I'lam al-Muqqi'in menjelaskan lima dalil yang menjadi dasar istimbath hukum Ahmad adalah :
1. Nashush
Maksudnya adalah Al-Quran dan hadits.
Sehingga apabila ada nash Quran atau hadits,
digunakan dalil itu sepenuhnya tanpa berpaling ke
sumber yang lain yang sekiranya bertentangan
dengan nash Quran dan Hadits.
2. Fatwa Sahabat Yang Tidak Ada Perselisihan Di Antara Mereka
Apabila shahabat berfatwa dan tidak ada yang menolak fatwa itu, maka fatwa shahabat itu dijadikan dasar dalam fiqih mazhab Hambali.
3. Fatwa Sahabat Yang Diperselisihkan Di Antara Mereka
Di level ketiga masih terkait fatwa shahabat, yaitu meski pun para shahabat punya pendapat yang saling berbeda, namun mazhab ini tetap akan merujuk kepada fatwa shahabat yang dianggap paling dekat dengan Al-Quran dan Sunnah.
4. Hadis Mursal dan Hadis Dha'if
Mazhab Hambali lebih mengedepankan hadits mursal atau hadits dhaif ketimbang menggunakan akal. Namun hadits dhaif yang dimaksud bukan hadits batil atau hadits munkar. Karena pengertian hadits dhaif di kalangan mazhab ini sesungguhnya bila hadits itu bukan shahih.
5. Qiyas
Apabila dalam penetapkan fatwa tidak ditemukan nash Quran Sunnah, juga tidak ditemukan fatwa shahabat baik yang mereka sepakati atau tidak mereka sepakati, kemudian juga tidak terdapat hadits mursal atau dhaif, maka barulah dalam keadaan darurat dijalankan qiyas.
Jadi posisi qiyas adalah pintu darurat ketika semua alternatif sudah tidak mungkin dijalankan.
C. Tambahan
Hanya sampai disitu saja yang disebutkan Ibnul
Qayyim dalam kitabnya. Namun sesungguhnya kalau
mau diteruskan setidaknya masih ada enam ushul lagi, yaitu :
6. Ijma’
Kesepakatan dari semua mujtahid dari umat Nabi Muhammad SAW pada suatu masa setelah masa kenabian pada suatu urusan syar’i.
7. Mashalih Al-Mursalah
Dr. Wahbah az-Zuhaili mendefinisikannya dengan “sifat-sifat yang sesuai dengan tindakan dan tujuan pembuat syari’at, tetapi tidak ada dalil khusus yang menetapkan atau membatalkannya, dan dengan penetapan hukum dari sifat-sifat tersebut akan tercapai kemaslahatan dan terhindar kerusakan pada manusia.”
Dr. Muhammad Husain ‘Abdullah mendefinisikannya dengan “maslahat yang tidak terdapat dalil khusus tentangnya dari pembuat Syari’at, baik yang menunjukkan disyari’atkannya atau tidak disyari’atkannya maslahat tersebut.”
8. Saddu Adz-Dzariah
Sadd adz-dzari'ah artinya menutup jalan atau perantara menuju perbuatan yang diharamkan.
Meskipun jalan atau perantara tersebut pada awalnya tidak haram, namun karena ia mengantarkan kepada perbuatan yang diharamkan, ia menjadi haram juga.
9. Istihsan
Istihsan adalah tindakan meninggalkan satu
hukum kepada hukum lainnya disebabkan karena
ada suatu dalil syara' yang mengharuskan untuk
meninggalkannya.
Misal yang paling sering dikemukakan adalah peristiwa ditinggalkannya hukum potong tangan bagi pencuri di zaman khalifah Umar bin Al-Khattab ra.
Padahal seharusnya pencuri harus dipotong tangannya. Itu adalah suatu hukum asal. Namun kemudian hukum ini ditinggalkan kepada hukum lainnya, berupa tidak memotong tangan pencuri. Ini adalah hukum berikutnya, dengan suatu dalil tertentu yang menguatkannya.
Mula-mula peristiwa atau kejadian itu telah ditetapkan hukumnya berdasar nash, yaitu pencuri harus dipotong tangannya. Kemudian ditemukan nash yang lain yang mengharuskan untuk meninggalkan hukum dari peristiwa atau kejadian yang telah ditetapkan itu, pindah kepada hukum lain.
Dalam hal ini, sekalipun dalil pertama dianggap kuat, tetapi kepentingan menghendaki perpindahan hukum itu.
10. Istishab
Ibnu al-Qayyim al-Jauziyah (w. 751 H) menyebutkan bahwa istishab adalah menetapkan berlakunya suatu hukum yang telah ada atau meniadakan sesuatu yang memang tidak ada, sampai ada yang mengubah kedudukannya atau menjadikan hukum yang telah di tetapkan pada masa lampau yang sudah kekal menurut keadaannya sampai terdapat dalil yang menunjukkan perubahannya.
ُتبَث َن َكااَم اات ب َثَ
ُيفَنَو َنَكااَم اًّي فنَم هُماَدخ ت س ا
Mengukuhkan/menetapkan apa yang pernah di
tetapkan dan meniadakan apa yang sebelumnya tiada.
11. Syar’u man qablana