How to cite Septiani, R., Nurchairina, Trinovadela, N. I, & Herlina (2021). Terapi Herbal Jinten Hitam dalam Peningkatan Haemoglobin pada Ibu Menyusui dengan Anemia14(2), 137-145. DOI: http://dx.doi.org/10.26630/jkm.v14i2.2961 Published by Politeknik Kesehatan Tanjung Karang, Indonesia. Open Acess
The Published Article is Licensed Under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License
Terapi Herbal Jinten Hitam dalam Peningkatan Haemoglobin pada Ibu Menyusui dengan Anemia
Black Cumin Herbal Therapy in Increasing Haemoglobin in Nursing Mothers With Anemia Ranny Septiani 1, 1 Nurchairina Nurchairina1, Nora Isa Trinovadela1, Herlina Herlina1
1 Politeknik Kesehatan Tanjungkarang, Indonesia
Corresponding: [email protected]
Article Information Received November 2021 Reviced November 2021 Accepted December 2021 Keyword:
Anemia; Breastfeeding mothers; Nigella sativa.
Kata kunci:
Anemia; Ibu menyusui;
Jinten hitam.
Abstracts
Background: One of the world's health problems in developing countries is anemia.
Nationally, anemia is common in women. Anemia is very dangerous for both mother and baby. Anemia in breastfeeding mothers will affect the quality of breast milk so that it affects the nutritional fulfillment of their babies. Purpose: To determine the effectiveness of giving black cumin to breastfeeding mothers with anemia in Bandar Lampung City at 2020.
Methods: This study is a quasi-experimental study with pre and post test designs. The treatment in this study was giving black cumin. While the variables to be studied are hemoglobin levels in the blood of breastfeeding mothers before and after the intervention.
The sample in this study were breastfeeding mothers who suffered from anemia in Bandar Lampung City. Bivariate data analysis used the T-test to determine the difference in hemoglobin levels before and before offering black cumin. Results: This study showed that the administration of black cumin had an average hemoglobin level before administration of black cumin < the average hemoglobin level after administration of black cumin (p=0,001), resulting in an increase in the average hemoglobin level of 1.84 dl/gr. Conclusion: The use of black cumin as an effective complementary therapy (complementary) in the treatment of anemia in lactating mothers with anemia.
Abstrak
Latar Belakang : Salah satu masalah kesehatan di dunia pada negara berkembang adalah anemia. Secara nasional anemia banyak terjadi pada perempuan.Anemia sangat berbahaya bagi ibu dan bayinya. Anemia pada ibu menyusui akan mempengaruhi kualitas ASI sehingga mempengaruhi pemenuhan nutrisi bayinya. Tujuan: mengetahui efektifitas pemberian jinten hitam pada ibu menyusui dengan anemia di Kota Bandar Lampung tahun 2020. Metode:
Penelitian ini merupakan penelitian quasi eksperimen dengan desain pre dan post test.
Perlakuan dalam penelitian ini adalah pemberian jinten hitam. Sedangkan variabel yang akan diteliti adalah kadar hemoglobin dalam darah ibu menyusui sebelum dan setelah diintervensi. Sampel pada penelitian adalah ibu meyusui yang menderita anemia di Kota Bandar Lampung. Analisis data bivariat menggunakan uji T untuk mengetahui beda kadar haemoglobin sebelum dan sesudah pemberian jinten hitam. Hasil : Penelitian ini didapat hasil pemberian jinten hitam mempunyai nilai rata-rata kadar hemoglobin sebelum pemberian jinten hitam < rata-rata kadar hemoglobin setelah pemberian jinten hitam (p=0,001). Sehingga, terjadi peningkatan rata-rata kadar hemoglobin sebesar 1,84 dl/gr.
Simpulan: Penggunakan jinten hitam efektif sebagai terapi komplementer (pelengkap) dalam pengobatan anemia pada ibu menyusui dengan anemia.
Copyright Holder © Ranny Septiani, et al. (2021).
First Publication Righ:Jurnal Kesehatan Metro Sai Wawai.
Pendahuluan
Salah satu masalah kesehatan di dunia karena ditemukan hampir 30% penduduk di dunia menderita anemia. Negara-negara yang sedang berkembang diantaranya Asia Tenggara merupakan dengan prevalens tinggi besarnya anemia pada ibu menyusui. Secara global prevalensi anemia pada ibu menyusui adalah 52,5% di Asia Selatan, 60% di Myanmar, 20% di Nepal, 63% di India, dan 28,3%
di Ethiopia (Tusa et al., 2021)Anemia dapat terjadi pada siapa saja sejak bayi hingga lansia dan angka
tertinggi terjadi pada remaja dan ibu. Tingginya prevalensi anemia pada ibu menyusui khususnya
138
negara berkembang, informasi tentang angka anemia dan faktor penentunya pada ibu menyusui masih belum jelas dan lengkap (Tusa et al., 2021).Menurut Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Tahun 2018, angka kejadian anemia secara nasional adalah 21,7%, 18,4% terjadi pada laki-laki dan 23,9% terjadi pada perempuan (Balitbangkes, 2018). World Health Organization (WHO) menetapkan upaya pencegahan dan penanganan anemia harus dipusatkan pada kelompok risiko spesifik terutama anemia yang disebabkan oleh kekurangan zat besi yaitu anak-anak, perempuan remaja wanita usia reproduksi, serta wanita hamil dan ibu menyusui (Milman, 2011)
Anemia pada masa menyusui merupakan salah satu masalah gizi di Indonesia, ditandai dengan rendahnya kadar hemoglobin dalam darah. Ibu menyusui yang mengalami anemia dapat disebabkan oleh kondisi anemia saat kehamilan dan kehilangan banyak darah pada saat persalinan (Milman, 2015).
Menyusui merupakan proses alamiah yang dilakukan ibu setelah melalui masa kehamilan dan persalinan. Pemberian Air Susu Ibu (ASI) dianjurkan selama 6 bulan tanpa pemberian makanan tambahan lain (MP-ASI) kecuali obat terapi. ASI yang diproduksi banyak dipengaruhi oleh asupan gizi dari ibunya (Nursari Abdul Syukur, Widyani Utami, 2018). Anemia dapat disebabkan oleh kurangnya asupan zat besi yang terdapat dalam makanan sehari-hari yang ibu konsumsi yang dikarenakan adanya gangguan penyerapan zat besi dalam tubuh (Hosseini & Hosseinzadeh, 2020). Kejadian anemia pada ibu menyusui juga akan mempengaruhi produksi ASI, menurunkan kualitas dan kuantitas ASI. Kualitas ASI akan berpengaruh secara signifikan apabila terjadi ketidakseimbangan asupan yang didapat dari ibu (Hosseini & Hosseinzadeh, 2020).
Ibu menyusui harus memperhatikan kesehatan dan asupan gizi dirinya agar bayi dapat menerima nutrisi terbaik dari ASI yang dihasilkan. Anemia yang tidak tertangani sejak masa kehamilan sangat berbahaya bagi ibu dan bayinya karena dapat menyebabkan depresi postpartum, respon imun ibu menurun, meningkatnya risiko anemia pada bayi yang diberi ASI sehingga dapat berisiko mengalami gangguan pertumbuhan dan perkembangan (Stunting) (Shekar, M., Kakietek, J., Eberwein, J. D., & Walters, 2017)
.Dampak buruk yang dapat ditimbulkan oleh anemia pada ibu menyusui sangat berpengaruh terhadap kecukupan gizi bayi maka dilakukan berbagai upaya untuk pencegahan anemia pada ibu menyusui.
Penyebab secara umum anemia adalah kehilangan darah secara kronis, asupan zat besi yang tidak cukup dan penyerapan yang tidak adekuat dan meningkatnya zat besi (EL Achadi, 2010).Anemia yang diderita ibu menyusui banyak disebabkan oleh kurang memadainya asupan zat besi (defisiensi zat besi) dalam makanan yang dikonsumsi serta meningkatnya kebutuhan Fe saat menyusui (EL Achadi, 2010). Untuk mengatasi masalah anemia defisensi zat besi ibu menyusui perlu mendapatkan asupan makanan yang banyak mengandung zat besi seperti sayur-sayuran yang berwarna hijau, namun zat besi dalam makanan tersebut lebih sulit penyerapannya. Dibutuhkan porsi yang besar untuk mencukupi kebutuhan zat besi dalam sehari. Sehingga dianjurkan untuk memberikan suplemen Fe kepada ibu menyusui. Namun Suplemen Fe yang tidak alami dapat menimbulkan beberapa keluhan seperti masalah pencernaan seperti mual, diare, konstipasi, menurunkan nafsu makan serta menimbulkan rasa pusing dan sakit kepala (Sudikno & Sandjaja, 2016).
Upaya mengatasi anemia, selain pemenuhan makanan dan tambahan suplemen Fe, banyak juga
masyarakat menggunakan berbagai macam bahan herbal yang dipercaya mampu menaikan kadar
hemoglobin darah atau mengatasi anemia diantaranya adalah jinten hitam (Hosseini & Hosseinzadeh,
2020). Seiring peningkatan kepercayaan masyarakat pada pengobatan alamiah, maka ketiga bahan
tersebut menjadi pilhan banyak masyarakat karena merupakan bahan-bahan herbal yang
ketersediaannya mudah didapat di lingkungan masyarakat, dipercaya memiliki khasiat atau manfaat
139
yang lebih banyak selain mengatasi satu masalah kompleks selain itu lebih murah dalam hal pembiayaan. komponen utama dari biji jinten hitam adalah thymoquinone, thymohydroquinone, thymol, carvacrol, nigellicine, nigellimine, 13 nigellimine-N-oxide, nigellidine, dan alpha hedrin (Burits
& Bucar, 2000). Senyawa aktif, Thymoquinone, Fe, Cu, Zn dan Vitamin C serta efek anti oksidan kuat yang mampu menekan stres oksidatif pada proses penyerapan zat besi dengan menekan pembentukan Fe2+ sehingga pembentukan Fe3+ meningkat (Baskoro & Setyawati, 2016).
Jintan hitam bermanfaat atau terdapat pengaruh terhadap peningkatan produksi ASI pada ibu nifas dan menyusui (Amelina, & Wahyuni, 2020; Hidayati, 2019; Siregar, & Yanti, 2021). Sementara hasil penelitian pada hewan ayam pedaging telah dilakukan oleh Melia, Siswanto, Santosa, & Suharyati (2021) memperlihatkan terdapat peningkatan pada kadar hemoglobin dan nilai hematokrit pada hewan tersebut setelah pemberian Nigella sativa, walaupun pada setiap perlakuan masih dalam batas normal. Penelitian ini mengkaji manfaat jintan hitam untuk meningkatkan haemoglobin pada ibu menyusui yang anemia, sehingga diperoleh juga manfaat lain untuk kesehatan ibu namun tidak masuk efek yang diteliti.
Anak umur 6 bulan yang mendapatkan ASI ekslusif berdasarkan SDKI tahun 2012 dan 2017 terjadi peningkatan, berjumlah 42% pada SDKI 2012 menjadi 52% pada SDKI 2017. Angka ibu menyusui ekslusif di Provinsi Lampung tahun 2019 sebesar 69,3% dan angka ini masih dibawah target yang diharapkan yaitu 80% namun tidak ditemukan secara spesifik jumlah ibu menyusui yang menderita anemia di Provinsi Lampung (Dinkes Provinsi Lampung, 2020). Penelitian ini untuk mengkaji efek pemberian jinten hitam pada ibu menyusui yang mengalami anemia.
Metode Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian pra-eksperiment dengan rancangan One Group Pretest – posttest, sehingga tanpa kelompok kontrol dilaksanakan di kota Bandar Lampung. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu menyusui pada periode bulan September sampai Nopember 2020 dengan sampel ibu menyusui yang anemia berjumlah 20 sebagai kelompok intervensi. Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini non probability sampling jenis consecutive sampling, yaitu mengambil seluruh sampel yang memenuhi kriteria inklusi dan ekslusi selama penelitian berlangsung.
Setiap ibu menyusui yang anemia yang memenuhi kriteria penelitian dimasukkan kedalam sampel.
Kriteria inklusi sampel antara lain: (1) Ibu menyusui secara Eksklusif; (2) Ibu yang menyusui bayi usia 0-6 bulan; dan (3) Ibu dengan hasil pemeriksaan kadar Hemoglobin 8 – 11.9 gr/dL. Sedangkan, kriteria eklusi sampel adalah sakit kronis dan Ibu menyusui yang mengalami bendungan ASI atau mastitis.
Variabel intervensi dalam penelitian ini adalah konsumsi jintan hitam, sedangkan variabel efek adalah kadar hemoglobin. Prosedur penelitian dimulai dengan pemeriksaan kadar hemoglobin ibu menyusui sebelum intervensi (pre test) menggunakan alat mengukur hemoglobin merek Easy Touch GCHb terstandar. Intervensi kepada ibu menyusui dilakukan dengan pemberian jinten hitam sedian kapsul 500 mg frekuensi 1 x 1 kapsul per hari diminum sebelum tidur selama 14 hari. Efek intervensi pada Ibu menyusui diukur kembali kadar haemoglobin dengan alat sama (post test) pada hari ke-15.
Analisa univariat dilakukan untuk mendeskripsikan berbagai variabel yaitu: data-data
karakteristik responden, hasil pemeriksaan kadar hemoglobin pre dan post intervensi dengan
menggunakan tabel distribusi frekuensi. Analisis bivariat, dilakukan untuk menguji perbedaan kadar
haemoglobin pre intervensi, kadar hemoglobin post intervensi pada masing-masing kelompok
intervensi yaitu kelompok jinten hitam. Apabila data terdistribusi normal, maka uji beda yang
digunakan untuk analisis adalah uji Paired samples T-Test dengan bantuan aplikasi SPSS.25. Penelitian
140
ini dilaksanakan dengan menerapkan nilai-nilai etik penelitian dan telah mendapatkan persetujuan kaji etik dari Panitia Etik Penelitian di Poltekkes Tanjungkarang No. 274/KEPK-TJK/VI/2020.
Hasil
Karakteristik Responden
Karakteristik responden memperlihatkan dari 20 responden yang terbanyak adalah mempunyai umur reproduksi sehat (20 – 35 tahun) sebanyak 17orang (85%), pendidikan menengah (SMP-SMA) sebanyak 10 orang (50 %), ibu tidak bekerja sebanyak 12orang (60%), paritas lebih dari 1 anak yaitu 15 orang (75 %), sebagian besar bersalin dengan jenis persalinan normal sebanyak 18 orang (90%), responden yang menyatakan masih menyusui anaknya terbanyak dengan usia anak kurang dari 6 bulan sebanyak 18 orang (90%). Sebagian besar responden pada saat kehamilan mengalami anemia sebanyak 15 orang (75%). Dan 11 orang (55%) responden mengatakan merasakan gejala anemia.
Sebanyak 12 orang atau 60% responden mengaku hanya menghabiskan tablet Fe selama kehamilan kurangdari 90 tablet. Dalam kategori konsumsi tablet Fe selama menyusui sebanyak 18 orang atau 90%
tidak mengkonsumsi tablet fe selama menyusui (tabel 1).
Tabel 1. Karakteristik Responden
Variabel Kategorik Frekuensi
(n=20)
Persentase (n=100%)
Umur 20 – 35 Tahun
< 20 / > 35 Tahun
17 8
85 15
Pendidikan Dasar
Menengah (SMP/SMA) Tinggi (DI/DIII/S1/S2)
3 10 7
15 50 35
Status Bekerja Tidak bekerja
Bekerja
12 8
60 40
Paritas 1
> 1
5 15
25 75
Jenis Persalinan Normal
SC
18 2
90 10
Umur anak yang menyusui ≤ 6 Bulan
7 – 24 Bulan
18 2
90 10
Anemia saat hamil Ya
Tidak
15 5
75 25
Gejala anemia (5L) Ya
Tidak
11 9
55 45 Jumlah konsumsi tablet Fe selama kehamilan ≥ 90 tablet
< 90 tablet
8 12
40 60 Konsumsi tablet Fe selama menyusui Ya
Tidak
2 18
10 90
Hasil Analisis
Kadar Hemoglobin sebelum dan sesudah Pemberian Jinten Hitam
Hasil analisis memperlihatkan dari 20 orang responden, didapat adanya kenaikan kadar Hb pada
seluruh responden saat pre intervensi dan post intervensi dengan kadar hemoglobin tertinggi post
intervensi adalah 13,5 Selisih rata-rata kadar Hb sebelum dan sesudah intervensi sebesar 1,84 (Tabel
2). Rata-rata kadar hemoglobin sebelum pemberian jinten hitam < rata-rata kadar hemoglobin setelah
pemberian jinten hitam yaitu nilai 10,990 <12,825 sehingga terjadi peningkatan rata-rata kadar
hemoglobin sebesar 1,84 dl/gr. ada perbedaan rata-rata kadar hemoglobin sebelum dan sesudah
pemberian jinten hitam (Tabel 3).
141
Tabel 2. Distribusi Selisih Rata-Rata Haemoglobin Sebelum dan Sesudah Pemberian Jinten Hitam
Nilai N Min Max Rata-Rata Selisih Rata-Rata Std. Deviation
Pre Intervensi 20 9 11.8 10.99
1.84 0.704
Post Intervensi 20 12 13.5 12.83 0.444
Tabel 3. Hasil Uji Beda Kadar Hemoglobin Sebelum dan Sesudah Intervensi Pada Kelompok Jinten Hitam
Kelompok Jinten Hitam Rata-Rata t hitung ttabel Sig
Pre Intervensi 10,990
10,230 2.093 0.000
Post Intervensi 12.825