• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

4

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Komposit

2.1.1 Sejarah Komposit

Penggunaan material komposit telah dikenal selama ribuan tahun pada alam sekitar kita. Pada jaman mesir kuno, jerami digunakan pada dinding untuk meningkatkan performa struktur. Kayu merupakan komposit alami yang sering digunakan selama ini. Para pekerja kuno telah mengenal istilah komposit dengan menggunakan ter untuk mengikat alang-alang untuk membuat kapal komposit 7000 tahun yang lalu (Rosad, 1998).

Perkembangan dari material komposit tidak terbatas hanya pada material bangunan dan hal ini dapat dilihat pada abad pertengahan. Di Asia tengah, busur dibuat dari otot binatang, getah kayu dan benang sutera dengan bahan perekat sebagai pengikat. Hasil dari komposit yang berlapis2 (laminated) mimiliki daktilitas dan kekerasan (hardness) dari unsur pokoknya namun kekuatan merupakan efek sinergi dari gabungan sifat material. Beton merupakan material yang digunakan oleh seluruh dunia dan juga material berbasis semen lainnya juga merupakan suatu komposit.

Perilaku dan sifat dari beton dapat dimengerti dan direncanakan, diprediksi dengan lebih baik bila dilihat sebagai komposit dan begitu pula dengan beton bertulang (Fajri, 2013).

Material komposit akan bersinergi bila memiliki sebuah “sistem” yang mempersatukan material penunjang untuk mencapai sebuah sifat material baru tertentu. Seperti yang dikatakan oleh Aristotle pada 350SM “The Whole is more than just the sum of components”. Aristoteles berkeyakinan bahwa skema konseptual secara keseluruhan dari alam perlu untuk dipersatukan dan tidak dapat ditinjau dari segi komponen yang terpisah-

(2)

5

pisah. Hal ini yang penting untuk diperhatikan dalam perencanaan struktur oleh seorang engineer (Rosad,1998).

2.1.2 Defenisi Komposit

Komposit atau materi komposit merupakan suatu materi yang tersusun atas lebih dari dua elemen penyusunnya. Komposit bersifat heterogen dalam skala makroskopik. Bahan penyusun komposit tersebut masing- masing memiliki sifat yang berbeda, dan ketika digabungkan dalam komposisi tertentu terbentuk sifat-sifat baru yang disesuaikan dengan keinginan pada umumnya dalam proses pembuatannya melalui pencampuran yang homogen, sehingga kita leluasa merencanakan kekuatan material komposit yang kita inginkan dengan jalan mengatur komposisi dari material pembentuknya. Komposit merupakan gabungan antara bahan matriks atau pengikat dengan penguat (Fajri, 2013).

Tinggi rendahnya kekuatan komposit sangat tergantung dari serat yang digunakan karena tegangan yang diberikan pada komposit pertama diterima oleh matriks dan diteruskan ke serat, sehingga serat akan menahan beban sampai beban maksimum. Oleh karena itu, serat harus mempunyai tegangan tarik dan modulus elastisitas yang lebih tinggi daripada matriks penyusun komposit (Sriwita, 2014).

2.1.3 Jenis-jenis Komposit

Menurut Vendik (2012), secara garis besar ada 3 macam jenis komposit berdasarkan penguat yang digunakannya, yaitu:

1. Fibrous Composites (Komposit Serat).

Merupakan jenis komposit yang hanya terdiri dari satu laminat atau satu lapisan yang menggunakan penguat berupa serat atau fiber. Fiber yang digunakan bisa berupa glass fibers, carbon fibers, aramid fibers (poly aramide), dan sebagainya. Fiber ini bisa disusun secara acak

(3)

6

maupun dengan orientasi tertentu bahkan bisa juga dalam bentuk yang lebih kompleks seperti anyaman.

2. Laminated Composites (Komposit Laminat).

Merupakan jenis komposit yang terdiri dari dua lapis atau lebih yang digabung menjadi satu dan setiap lapisnya memiliki karakteristik sifat sendiri.

3. Particulalate Composites (Komposit Partikel).

Merupakan komposit yang menggunakan partikel/serbuk sebagai penguatnya dan terdistribusi secara merata dalam matriksnya.

Sehingga komposit dapat disimpulkan adalah sebagai dua macam atau lebih material yang digabungkan atau dikombinasikan dalam sekala makroskopis (dapat terlihat langsung oleh mata) sehingga menjadi material baru yang lebih berguna.

2.1.4 Bahan Komposit

Bahan komposit adalah suatu jenis bahan baru hasil rekayasa yang terdiri dari dua atau lebih bahan dimana sifat masing-masing bahan berbeda satu sama lainnya baik itu sifat kimia maupun fisikanya dan tetap terpisah dalam hasil akhir bahan tersebut (bahan komposit). Menurut Jepri (2016) bahan material komposit terdiri dari dua bahan, yaitu:

1. Serat (fiber)

• Sebagai unsur utama pada komposit.

• Menentukan karakteristik bahan komposit, seperti kekuatan, dan sifat mekanik lainnya.

• Menahan sebagian besar gaya yang bekerja pada material komposit.

• Bahan yang dipilih harus kuat dan getas, carbon, glass, boron, dll.

(4)

7 2. Matrik (resin)

• Melindungi dan mengikat serat agar dapat bekerja dengan baik.

• Bahan yang dipilih bahan yang lunak.

Dari pengertian di atas dan unsur-unsur utamanya, maka dapat diamati bahwa sebagian besar struktur alami yang terdapat di alam adalah dalam bentuk komposit, contohnya:

• Daun padi, terdiri dari serat daun yang dibungkus oleh matrik yaitu lychin.

• Batang bambu, terdiri dari bahan serat yang diikat oleh matrik dengan kuat sehingga kaku dan ringan.

Pada umumnya komposit yang dibuat manusia dapat dibagi kedalam tiga kelompok utama (Jepri, 2016) yaitu:

1. Komposit Matrik Polimer (Polymer Matrix Composites – PMC) 2. Komposit Matrik Logam ( Metal Matrix Composites – MMC) 3. Komposit Matrik Keramik (Ceramic Matrix Composites – CMC)

1. Komposit Matrik Polimer (Polymer Matrix Composites – PMC).

Merupakan bahan komposit yang sering digunakan disebut, Polimer Berpenguatan Serat ( Fibre Reinforced Polymers or Plastics – FRP) bahan ini menggunakan suatu polimer berdasarkan resin sebagai matriknya dan suatu jenis serat seperti kaca, karbon dan aramid (Kevlar) sebagai penguatannya.

2. Komposit Matrik Logam (Metal Matrix Composites – MMC)

Ditemukan telah berkembang pada industri otomotif, dimana bahan ini menggunakan suatu bahan logam seperti aluminium yaitu sebagai matrik dan penguatnya dengan serat seperti silikon karbida.

(5)

8

3. Komposit Matrik Keramik (Ceramic Matrix Composites – CMC) Digunakan pada lingkungan bertemperatur sangat tinggi, bahan ini menggunakan keramik sebagai matrik dan diperkuat dengan serat pendek, atau serabut-serabut (whiskers) dimana terbuat dari silikon karbida atau boron nitrida.

Secara umum, sifat-sifat komposit ditentukan oleh:

1. Sifat-sifat serat 2. Sifat-sifat resin

3. Rasio serat terhadap resin dalam komposit 4. Geometri dan orientasi serat pada komposit

Bahan komposit dibentuk pada saat yang sama ketika struktur tersebut dibuat. Hal ini berarti orang membuat struktur, menciptakan sifat-sifat bahan komposit yang dihasilkan dan juga proses manufaktur yang digunakan biasanya merupakan bagian yang kritikal yang berperan menentukan kinerja struktur yang dihasilkan (Hutasuhut, 2013).

2.1.5 Produk Hasil dari Komposit

Kegunaan bahan komposit menurut Wicaksono (2018) adalah:

1. Angkasa luar

Komposit digunakan sebagai Komponen kapal terbang, Komponen Helikopter, Komponen satelit.

2. Automobile

Komposit digunakan sebagai Komponen mesin, Komponen kereta 3. Olahraga dan rekreasi

Digunakan sebagai Sepeda, Stick golf, Raket tenis, Sepatu olahraga.

4. Industri Pertahanan

Komposit digunakan sebagai Komponen jet tempur, Peluru, Komponen kapal selam.

5. Industri Pembinaan

(6)

9

Komposit digunakan sebagai Jembatan, Terowongan, Rumah.

6. Kesehatan

Komposit digunakan sebagai Kaki palsu, Sambungan sendi pada pinggang.

7. Marine atau Kelautan

Komposit digunakan sebagai Kapal layar.

2.2 Natural Komposit (Komposit Alam)

Serat alam yaitu serat yang berasal dari alam (bukan buatan ataupun rekayasa manusia). Serat alam atau bisa dibilang sebagai serat alami ini yang biasanya didapat dari serat tumbuhan (Pepohonan) seperti pohon bambu, pohon kelapa, pohon pisang serta tumbuhan lain yang terdapat serat pada batang maupun daunnya. Serat alam yang berasal dari binatang antara lain sutera, ilama dan wool (Rindrawan, 2016).

1. Tanaman Sagu

Tanaman sagu dengan bahasa latin(Metroxylon sp) berarti tanaman yang menyimpan patipada batangnya. Pohon sagu memiliki batang silindris mirip pohon kelapa, tetapi ukuran diameter batangnya cukup besar sehingga apabila telah dewasa batangnya tidak terpeluk oleh manusia. Secara keseluruhan, pohon sagu lebih terlihat sebagai palem yang gemuk dengan daun-daun yang besar memanjang. Pembentukan batang terjadi pada umur 3 tahun dan pada umur 15-20 tahun sagu mencapai puncak pertumbuhannya sehingga dapat segera dipanen.

Dengan perawatan yang baik, pohon ini bisa dipanen dalam waktu yang lebih singkat sekitar 10-12 tahun. Dibawah umur itu pati yang dihasilkan belum maksimum. Flora ini memiliki daun panjang menyirip, ujungnya meruncing dan dapat melukai.

(Manaroinsong, 2018)

(7)

10 2. Serbuk Gergaji

Serbuk gergaji merupakan salah satu limbah yang dapat diperoleh dari hasil menggergaji yang biasa di lakukan di tukang kayu. Biasanya serbuk gergaji dapat dihasilkan setelah melakukan proses penggergajian kayu ataupun proses penghalusan dari kayu dan dilakukan dengan menggunakan alat penghalus kayu. Biasanya, hasil dari serbuk gergaji akan langsung dibuang. Namun ternyata, serbuk kayu hasil proses penggergajian ataupun limbah dari penghalusan kayu ternyata memilki berbagai manfaat. Seperti sudah disebutkan sebelumnya, bahwa serbuk gergaji ternyata memiliki banyak sekali manfaat yang sangat baik untuk kehidupan kita (Komarayati, 1996).

3. Tandan Kosong kelapa Sawit

Untuk penguat komposit digunakan partikel tandan kosong kelapa sawit yang akan dicampurkan kedalam matriks. Tiap kandungan partikel tandan kosong kelapa sawit secara fisik mengandung bahan- bahan partikel seperti lignin (16,19 %), selulosa (44,14%) dan hemi selulosa (19,28%) yang mirip dengan bahan kimia penyusun kayu . Sedangkan penelitian yang dilakukan oleh sebuah institusi komersial terhadap komposisi bahan kimianya diketahui bahwa kandungan bahan partikel tandan kosong kelapa sawit merupakan kandungan terbesar.

Maka terlihat bahwa kandungan yang sangat dominan adalah partikel, sehingga akan mampu memberikan sifat mekanik yang cukup baik terhadap material komposit yang akan dibentuk (Rahmasita, 2017).

Sifat mekanik dari tandan kosong kelapa sawit (TKKS) dapat dilihat pada tabel 2.1.

Tabel 2.1. Nilai Propertis Tandan Kosong Kelapa Sawit

Parameter Nilai

Diameter (µm) 150 – 500

Micrifibliar angle (o) 46

Density (gr/cm3) 0,7 – 500

(8)

11

Tensile strength (Mpa) 50 – 400

Young’s modulus (Gpa) 0,57 – 9

Elongation at break (%) 4 – 18

Tensile strain (%) 13,71

Length-weighted fiber length (mm)

0,99

Cell-wall thickness (µm) 3,38

Fiber coarseness (mg/m) 1,37

Sumber : Rahmasita, 2017

4. Serat Kaca

Fiberglass adalah serat kaca yang berasal dari kaca cair yang ditarik menjadi serat tipis. Serat ini lalu dipintal menjadi benang atau ditenun menjadi seperti kain. Lalu, diresapi dengan resin sehingga menjadi bahan yang kuat dan tahan korosi (Nugroho, 2016).

Banyak orang yang menganggap fiberglass ini mudah pecah karena bahannya dari kaca. Namun, setelah diolah dengan berbagai macam proses penekanan, cairan atau bubuk kaca berubah menjadi serat.

Proses inilah yang membuat kaca menjadi serat yang kuat dan tidak mudah pecah (Nugroho, 2016).

Fiberglass ini mempunyai sejarah, yang di gunakan untuk keperluan perang. Tapi, seiring dengan perkembangan jaman, teknologi, dan inovasi sudah mulai mengalami peningkatan fungsi sebagai bahan pembuatan atap, mobil, perahu, tangki air, perahu, payung promosi, dan sejenisnya. Sifat mekanik fiberglas tergantung dari beberapa faktor, seperti jenis serat, orientasi, dan desainnya.

Serat kaca terdiri atas:

• Resin, adalah bahan kimia yang berbentuk cair, yang menyerupai minyak goreng tapi berbentuk kental.

• Katalis, cairan ini bisa di bilang pendamping setia resin, cairan ini biasanya berwarna bening dan berbau sengak. Semakin banyak

(9)

12

katalis, maka akan semakin cepat adonan mengeras. Caran ini jika mengenai kulit akan terasa panas.

• Kalsium Karbonat, bahan ini berbentuk bubuk yang berwarna putih menyerupai tepung terigu. Bahan ini berfungsi sebagai pengental adonan fiberglas utama (resin, katalis, dll) Semakin banyak campuran Kalsium Karbonat pada adonan, maka hasil fiberglass akan menjadi lebih tebal dan berat. Bahan ini dapat diganti dengan Talc, tetapi warna Talc agak lebih gelap.

• Met/ Matt, bahan ini merupakan bahan serat kaca. Bahan ini berfungsi sebagai serat penguat adonan fiberglass ketika akan dicetak, agar hasilnya menjadi lebih kuat dan tidak mudah pecah.

Bentuk met bermacam-macam, ada yang mirip bihun, kain, karung dan sarang lebah. Tetapi yang sering kita jumpai di pasar yang berbentuk seperti bihun.

• Kobalt, adalah bahan kimia yang berbentk cair, berwarna biru mirip tinta dan mempunyai aroma tidak sedap. Cairan ini digunakan untuk tambahan campuran adonan resin dan katalis, agar adonan lebih merekat pada met dan mempercepat pengerasan adonan fiber. Terlalu banyak menambahkan Kobalt dapat mengakibatkan hasil fiber yang getas (rapuh).

• Wold (Mold Release), Bahan ini berbentuk seperti mentega/keju ketika masih di dalam wadahnya, yang berfungsi sebagai pelicin pada tahap pencetakan yang menggunakan mal/molding, agar antara molding dengan hasil cetakan tidak saling merekat, sehingga dengan mudah dapat dilepaskan.

• Resin Polyster BTQN-157 ex, merupakan resin cair dengan viskositas rendah dan akan mengeras pada suhu kamar dengan penggunaan katalis. Resin ini selain harganya murah, resin ini mempunyai karakteristik yang khas yaitu dapat dibuat kaku dan fleksibel, transparan, tahan air, tahan kimia dan tahan cuaca,dapat diwarnai. Polyster dapat digunakan pada suhu kerja mencapai 79oC

(10)

13

atau lebih tinggi tergantung partikel resin dan keperluannya, berat jenis 1,3 – 1,4 g/cm3 dan kekuatan tarik 55 – 60 N/mm2. Keuntungan lain matriks polyster adalah mudah dikombinasikan dengan serat dan dapat digunakan untuk semua bentuk penguatan plastic. Matriks unsaturated polyster resin merupakan jenis resin thermostat. Resin ini banyak digunakan pada proses hand-lay up dan proses mold. Resin ini banyak digunakan dalam aplikasi komposit pada dunia industry dengan pertimbangan fluditas tinggi, warna jernih, kestabilan dimensional dan mudah penggunaannya.

(Nugroho, 2016)

2.3 Uji Impak

Pengujian impak merupakan suatu pengujian yang mengukur ketahanan bahan terhadap beban kejut. Pengujian ini merupakan suatu upaya untuk mensimulasikan kondisi operasional material yang sering ditemui dalam perlengkapan transportasi atau konstruksi dimana beban uji mengalami deformasi (Rahman, dkk, 2011).

Pada pengujian impak ini, kita mengukur energi yang diserap untuk mematahkan benda uji. Kita mengunakan pendulum beban yang berayun dari suatu ketinggian tertentu dan menmbu benda uji hingga mengakibatkan perpaahan. Setelah benda uji patah, bandul akan berayun kembali. Dan banyaknya energi yang diserap oleh bahan untuk terjadinya perpatahan merupakan ukuran ketahanan impak atau ketangguhan bahan tersebut. Pada gambar di atas dapat dilihat setelah benda uji patah akibat deformasi, bandul pendahuluan melanjutkan ayunan hingga posisi

(Prawira, dkk, 2015).

(11)

14

Gambar 2.1. Uji impak

Sumber: ASTM INTERNASIONAL, 2016

Bila bahan tersebut tangguh yaitu makin mampu menyerap energi lebih besar maka makin rendah posisi h'. Suatu material dikatakan tangguh bila memiliki kempuan menyerap suatu beban kejut yang besar tanpa terjadinya retak atau deformasi dengan mudah (Putranto, 2011).

2.3.1 Metode Charpy dan Izod

Pada pengujian impak energi yang diserap oleh benda uji biasanya dinyatakan dalam satuan joule dan dibaca langsung pada skala (dial) penunjuk yang telah dikalibrasi yang terdapat pada mesin penguji. Harga impak (HI) suatu bahan yang diuji dengan metode Charpy:

𝐻𝐼 =𝐸 𝐴 Dimana: E = energi yang diserap (joule)

A = luas penampang di bawah takik ( ) E = P (Ho-H1)

P = beban yang diberikan (newton) Ho = ketinggian awal

H1= ketinggian akhir bandul

(12)

15

Benda uji dikelompokan menjadi 2 golongan standar (ASTM E-23) yaitu batang uji Charpy (Metode Charpy – USA) dan batang uji Izod (Metode Izod – Inggris dan Eropa) (ASTM INTERNASIONAL, 2016).

Secara umum benda uji impak dikelompokkan ke dalam dua golongan sampel standar yaitu: batang uji Charpy yang biasanya digunakan di Amerika sedangkan batang uji Izod digunakan di Inggris dan Eropa.

Benda uji Charpy memiliki luas penampang lintang bujur sangkar (10 X 10 mm) dan panjang 55 mm memiliki takik (notch) berbentuk V dengan sudut 45o, jari-jari dasar 0,25 mm dan kedalaman 2 mm. Benda uji diletakan pada tumpuan dalam posisi mendatar dan bagian yang tidak bertakik diberi beban impak dengan ayunan bandul ( kecepatan impak sekitar 16ft/detik ). Benda diuji akan melengkung dan patah pada laju rengangan yang tinggi kira – kira 10³ detik-¹ Benda uji Izod mempunyai penampang lintang bujur sangkar atau lingkaran dengan bentuk takik V di dekat ujung yang dijepit, ukurannya untuk Izod 10 x 10 x 75 mm (tinggi x lebar x panjang). Perbedaan pembebanan antara metode Charpy dan Izod seperti gambar di bawah (Surdia. dkk, 1985).

Gambar.2.2 Skema Pembebanan impak pada benda uji charpy (a) dan Izod (b)

Sumber: ASTM INTERNASIONAL, 2016

Beban impak

(13)

16 2.3.2 Jenis Perpatahan

Takik (nocth) dalam benda uji standar ditunjukkan sebagai suatu konsentrasi tegangan sehingga perpatahan diharapkan akan terjadi di bagian tersebut. Selain bentuk V dengan sudut 45o, takik dapat pula berbentuk lubang kunci (key hole). Menurut Zuchry (2012) perpatahan dibagi tiga yaitu:

1. Perpatahan Berserat (Fibrous Fracture)

Melibatkan mekanisme pergeseran bidang-bidang kristal di dalam bahan yang ulet (ductile). Ditandai dengan permukaan patahan berserat yang berbentuk dimpel yang menyerap cahaya dan berpenampilan buram.

2. Perpatahan Granular (Kristalin)

Dihasilkan oleh mekanisme pembelahan (cleavage) pada butir-butir dari bahan yang rapuh (brittle). Ditandai dengan permukaan patahan yang datar yang mampu memberikan daya pantul cahaya yang tinggi (mengkilat).

3. Perpatahan Campuran (Berserat dan Granular)

Merupakan kombinasi dua jenis perpatahan yaitu gabungan dari perpatahan Berserat (Fibrous Fracture) dengan perpatahan Granular (Kristalin).

2.3.3 Temperatur Transisi

Temperatur transisi merupakan temperature yang merupakan temperatur yang menunjukkan transisi perubahan jenis perpatahan suatu bahan uji bila diuji pada terperatur yang berbeda beda. Pada Temperatur tinggi maka material akan bersifat ulet, sedangkan pada temperature rendah material bersifat rapuh (Zuchry, 2012).

(14)

17

Gambar 2.3 Diagram Ductile to Brittle Temperature Transition Sumber: Prawira, dkk, 2015

Gambar 2.3. menjelaskan bahwa suhu peralihan bahan dapat digolongkan menjadi tiga yaitu bahan fcc materials, low strength bcc materials dan high-strength materials. Dasar pemikiran penggunaan kurva suhu peralihan terpusatkan pada penentuan suhu, patah getas terendah untuk level tegangan elastis. Sehingga makin rendah suhu peralihan, makin besar ketangguhan patah suatu bahan (Muhammad, 2014).

2.4 Sifat-sifat Mekanik Bahan Tehnik

Sifat – sifat dari bahan tersebut harus dikenali dengan baik agar dapat menggunakan dan memilih bahan untuk digunakan secara keteknikan dengan tepat. Sifat – sifat ini tentunya sangat banyak macamnya, karena sifat ini dapat ditinjau dari berbagai bidang keilmuan, misalnya ditinjau dari ilmu kimia, akan diperoleh sifat – sifat kimia, demikian juga bila ditinjau dari segi fisika, maka akan diperoleh pula sifat – sifat fisika dari suatu bahan tersebut, dan lain sebagainya (Rusianto, 2009).

Secara garis besar material mempunyai sifat-sifat yang mencirikannya, pada bidang teknik mesin umumnya sifat tersebut dibagi menjadi tiga sifat. Sifat –sifat itu akan mendasari dalam pemilihan material, menurut Simanjuntak (2015) sifat tersebut adalah:

(15)

18 1. Sifat Mekanik

Merupakan salah satu faktor terpenting yang mendasari pemilihan bahan dalam suatu perancangan. Sifat mekanik dapat diartikan sebagai respon atau perilaku material terhadap pembebanan yang diberikan, dapat berupa gaya, torsi atau gabungan keduanya. Dalam prakteknya pembebanan pada material terbagi dua yaitu beban statik dan beban dinamik. Perbedaan antara keduanya hanya pada fungsi waktu dimana beban statik tidak dipengaruhi oleh fungsi waktu sedangkan beban dinamik dipengaruhi oleh fungsi waktu.

Untuk mendapatkan sifat mekanik material, biasanya dilakukan pengujian mekanik. Pengujian mekanik pada dasarnya bersifat merusak (destructive test), dari pengujian tersebut akan dihasilkan kurva atau data yang mencirikan keadaan dari material tersebut.

Setiap material yang diuji dibuat dalam bentuk sampel kecil atau spesimen. Spesimen pengujian dapat mewakili seluruh material apabila berasal dari jenis, komposisi dan perlakuan yang sama. Pengujian yang tepat hanya didapatkan pada material uji yang memenuhi aspek ketepatan pengukuran, kemampuan mesin, kualitas atau jumlah cacat pada material dan ketelitian dalam membuat spesimen. Sifat mekanik tersebut meliputi antara lain: kekuatan tarik, ketangguhan, kelenturan, keuletan, kekerasan, ketahanan aus, kekuatan impak, kekuatan mulur, kekuatan leleh dan sebagainya.

Sifar-sifat mekanik material yang perlu diperhatikan:

Tegangan yaitu gaya diserap oleh material selama berdeformasi persatuan luas.

Regangan yaitu besar deformasi persatuan luas.

Modulus elastisitas yang menunjukkan ukuran kekuatan material.

(16)

19

Kekuatan yaitu besarnya tegangan untuk mendeformasi material atau kemampuan material untuk menahan deformasi.

Kekuatan luluh yaitu besarnya tegangan yang dibutuhkan untuk mendeformasi plastis.

Kekuatan tarik adalah kekuatan maksimum yang berdasarkan pada ukuran mula.

Keuletan yaitu besar deformasi plastis sampai terjadi patah.

Ketangguhan yaitu besar energi yang diperlukan sampai terjadi perpatahan.

Kekerasan yaitu kemampuan material menahan deformasi plastis lokal akibat penetrasi pada permukaan.

2. Sifat Fisik

Sifat penting yang kedua dalam pemilihan material adalah sifat fisik. Sifat fisik adalah kelakuan atau sifat-sifat material yang bukan disebabkan oleh pembebanan seperti pengaruh pemanasan, pendinginan dan pengaruh arus listrik yang lebih mengarah pada struktur material. Sifat fisik material antara lain : temperatur cair, konduktivitas panas dan panas spesifik Struktur material sangat erat hubungannya dengan sifat mekanik. Sifat mekanik dapat diatur dengan serangkaian proses perlakukan fisik. Dengan adanya perlakuan fisik akan membawa penyempurnaan dan pengembangan material bahkan penemuan material baru.

3. Sifat Teknologi

Selanjutnya sifat yang sangat berperan dalam pemilihan material adalah sifat teknologi yaitu kemampuan material untuk dibentuk atau diproses.

Produk dengan kekuatan tinggi dapat dibuat dibuat dengan proses pembentukan, misalnya dengan pengerolan atau penempaan. Produk dengan bentuk yang rumit dapat dibuat dengan proses pengecoran. Sifat- sifat teknologi diantaranya sifat mampu las, sifat mampu cor, sifat mampu mesin dan sifat mampu bentuk. Sifat material terdiri dari sifat mekanik

(17)

20

yang merupakan sifat material terhadap pengaruh yang berasal dari luar serta sifat-sifat fisik yang ditentukan oleh komposisi yang dikandung oleh material itu sendiri.

2.5 Papan Komposit

Papan komposit adalah papan buatan yang bahan bakunya dapat berupa potongan kayu solid (utuh), partikel dan serat. Papan komposit cenderung lebih berat dari kebanyakan material kayu lainnya karena konten lemnya cenderung lebih banyak dan memiliki serat yang panjang. Papan komposit memiliki banyak keunggulan salah satunya adalah dapat menghasilkan ukuran papan yang lebih lebar dan panjang sesuai dengan yang diperlukan dan bahan bakunya dapat menggunakan semua tanaman yang mengandung lignin dan selulosa (Pramono, 1989).

Produk-produk papan komposit banyak digunakan masyarakat antara lain adalah papan lamina, papan partikel dan papan serat. Produk-produkpapan komposit dapat dibuat secara manual dan mekanis.

Referensi

Dokumen terkait

Bahan komposit adalah suatu jenis bahan baru hasil rekayasa yang berdiri dari dua atau lebih di mana sifat masing-masing bahan berbeda satu sama lainnya baik itu sifat kimia

Komposit adalah kombinasi dari dua bahan atau lebih yang tersusun dengan fasa matrik dan penguat [11] yang dipilih berdasarkan kombinasi sifat mekanik dan fisik

Sehingga dapat disimpulkan bahwa bahan komposit adalah suatu jenis bahan baru hasil rekayasa yang terdiri dari dua atau lebih bahan dimana sifat masing-masing

Komposit adalah suatu material yang terbentuk dari kombinasi dua atau lebih material, dimana sifat mekanik dari material pembentuknya berbeda beda [2], karena bahan

Sehingga dapat disimpulkan bahwa bahan komposit adalah suatu jenis bahan baru hasil rekayasa yang terdiri dari dua atau lebih bahan dimana sifat masing-masing bahan berbeda satu

Komposit Matrik Logam (KML) adalah kombinasi rekayasa material yang terdiri dari dua atau lebih bahan material (salah satunya logam sehingga menghasilkan suatu material baru

Komposit adalah suatu jenis material baru hasil rekayasa yang terdiri dari dua atau lebih bahan (dalam level makroskopis) dimana sifat masing-masing bahan berbeda satu sama

Resin komposit merupakan tumpatan sewarna gigi yang merupakan gabungan atau kombinasi dua atau lebih bahan kimia yang berbeda dengan sifat- sifat unggul atau lebih