4 BAB 2
TINJAUN PUSTAKA 2.1 Sejarah Komposit
Komposit sudah ada sejak zaman dahulu, ini dapat kita lihat manusia dulu telah berubah mencapaikan berbagai produk yang terdiri dari gabungan dari satu bahan dengan bahan lainnya untuk menhasilkan satu bahan dengan bahan lainnya untuk menghasilkan suatu bahan yang lebih kuat, contohnya penggunaan jerami pendek untuk menguatkan batu bara mesin dan pedang samurai jepang yang terdiri dari banyak lapisan oksidasi besi yang berat dan liat (Widiartha 2012).
Tetapi dengan kemajuan zaman maka manusia mulai berfikir untuk mengoftimalkan nilai efisiensi terhadap suatu produk, maka para ahli mulai menyadari bahwa material tunggal ( homogen ) memiliki keterbatasan baik dari sisi mengadopsi desain yang dibuat maupun kondisi pasar. Kebanyakan teknologi modern memerlukan bahan dengan kombinasi sifat-sifat yang luar biasa yang tidak boleh dicapai oleh bahan-bahan lazim seperti logam besi, keramik dan bahan polimer. Ini dapat kita lihat dari bahan yang diperkuat untuk penggunaan dalam bidang angkasa lepas, perumahan, perkapalan, kendaraan dan industri pengangkutan (Widiartha 2012).
2.1.1 Pengertian Komposit
Komposit adalah suatu material yang terbentuk dari kombinasi dua atau lebih material, dimana sifat mekanik dari material pembentukannya berbeda-beda.
Dikarenakan karakteristik pembentukannya berbeda-beda, maka akan dihasilkan material baru yaitu komposit yang mempunyai sifat mekanik dan karakteristik gabungan dari material-material pembentuknya (Fahmi 2018).
5
Komposit terdiri dari matriks dan penguat. Matriks dalam komposit berfungsi sebagai bahan mengikat serat menjadi sebuah unit struktur, melindungi dari kerusakan eksternal, meneruskan atau memindahkan bahan eksternal pada bidang geser antara serat dan matriks, sehingga matriks dan serat saling berhubungan. Pembuatan komposit serat membutuhkan ikatan permukaan yang kuat antara serat dan matriks (Fahmi 2018).
Adapun beberapa faktor menurut (Panggabean 2015) untuk menentukan sifat- sifat dari material komposit antara lain:
1. Material pembentuk
Material pembentuk memegang peranan yang sangat penting terhadap pengaruh sifat kompositnya.
2. Susunan komponen
Susunan komponen bentuk serta orientasi dan ukuran tiap komponen merupakan faktor penting yang memberi kontribusi dalam penampilan komposit secara keseluruhan.
3. Interaksi antara komponen
Interaksi antara komponen penyusun komposit merupakan campuran atau kombinasi komponen-komponen yang berbeda baik dalam hal bahannya maupun bentuknya, maka sifat kombinasi yang diperoleh pasti akan berbeda.
2.1.2 Defenisi Komposit
Komposit atau materi komposit merupakan suatu materi yang tersusun atas lebih dari dua elemen penyusunnya. Komposit bersifat heterogen dalam skala makroskopik. Bahan penyusun komposit tersebut masing-masing memiliki sifat yang berbeda, dan ketika digabungkan dalam komposisi tertentu terbentuk sifat-sifat baru yang disesuaikan dengan keinginan pada umumnya dalam proses pembuatannya melalui pencampuran yang homogen, sehingga kita leluasa merencanakan kekuatan material komposit yang kita inginkan dengan
6
jalan mengatur komposisi dari material pembentuknya. Komposit merupakan gabungan antara bahan matriks atau pengikat dengan penguat (Fajri, 2013).
2.1.3 Jenis-jenis Komposit
Secara garis besar ada 3 macam jenis komposit berdasarkan penguat yang digunakannya, yaitu:
1. Fibrous Composites (Komposit Serat).
Merupakan jenis komposit yang hanya terdiri dari satu laminat atau satu lapisan yang menggunakan penguat berupa serat atau fiber. Fiber yang digunakan bisa berupa glass fibers, carbon fibers, aramid fibers (poly aramide), dan sebagainya.
Fiber ini bisa disusun secara acak maupun dengan orientasi tertentu bahkan bisa juga dalam bentuk yang lebih kompleks seperti anyaman.
2. Laminated Composites (Komposit Laminat).
Merupakan jenis komposit yang terdiri dari dua lapis atau lebih yang digabung menjadi satu dan setiap lapisnya memiliki karakteristik sifat sendiri.
3. Particulalate Composites (Komposit Partikel).
Merupakan komposit yang menggunakan partikel/serbuk sebagai penguatnya dan terdistribusi secara merata dalam matriksnya.
Sehingga komposit dapat disimpulkan adalah sebagai dua macam atau lebih material yang digabungkan atau dikombinasikan dalam sekala makroskopis (dapat terlihat langsung oleh mata) sehingga menjadi material baru yang lebih berguna.
2.1.4 Bahan Komposit
Bahan komposit adalah suatu jenis bahan baru hasil rekayasa yang terdiri dari dua atau lebih bahan dimana sifat masing-masing bahan berbeda satu sama lainnya baik itu sifat kimia maupun fisikanya dan tetap terpisah dalam hasil
7
akhir bahan tersebut (bahan komposit). Menurut Jepri (2016) bahan material komposit terdiri dari dua bahan, yaitu:
1. Serat (fiber)
Sebagai unsur utama pada komposit.
Menentukan karakteristik bahan komposit, seperti kekuatan, dan sifat mekanik lainnya.
Menahan sebagian besar gaya yang bekerja pada material komposit.
Bahan yang dipilih harus kuat dan getas, carbon, glass, boron, dll.
2. Matrik (resin)
Melindungi dan mengikat serat agar dapat bekerja dengan baik.
Bahan yang dipilih bahan yang lunak.
Dari pengertian di atas dan unsur-unsur utamanya, maka dapat diamati bahwa sebagian besar struktur alami yang terdapat di alam adalah dalam bentuk komposit, contohnya:
Daun padi, terdiri dari serat daun yang dibungkus oleh matrik yaitu lychin.
Batang bambu, terdiri dari bahan serat yang diikat oleh matrik dengan kuat sehingga kaku dan ringan.
Pada umumnya komposit yang dibuat manusia dapat dibagi kedalam tiga kelompok utama (Jepri, 2016) yaitu:
1. Komposit Matrik Polimer (Polymer Matrix Composites – PMC) 2. Komposit Matrik Logam ( Metal Matrix Composites – MMC) 3. Komposit Matrik Keramik (Ceramic Matrix Composites – CMC)
8
1. Komposit Matrik Polimer (Polymer Matrix Composites – PMC).
Merupakan bahan komposit yang sering digunakan disebut, Polimer Berpenguatan Serat ( Fibre Reinforced Polymers or Plastics – FRP) bahan ini menggunakan suatu polimer berdasarkan resin sebagai matriknya dan suatu jenis serat seperti kaca, karbon dan aramid (Kevlar) sebagai penguatannya (Jepri, 2016).
2. Komposit Matrik Logam (Metal Matrix Composites – MMC)
Ditemukan telah berkembang pada industri otomotif, dimana bahan ini menggunakan suatu bahan logam seperti aluminium yaitu sebagai matrik dan penguatnya dengan serat seperti silikon karbida (Jepri, 2016).
3. Komposit Matrik Keramik (Ceramic Matrix Composites – CMC) Digunakan pada lingkungan bertemperatur sangat tinggi, bahan ini menggunakan keramik sebagai matrik dan diperkuat dengan serat pendek, atau serabut- serabut (whiskers) dimana terbuat dari silikon karbida atau boron nitride (Jepri, 2016).
Secara umum, sifat-sifat komposit ditentukan oleh:
1. Sifat-sifat serat 2. Sifat-sifat resin
3. Rasio serat terhadap resin dalam komposit 4. Geometri dan orientasi serat pada komposit
Bahan komposit dibentuk pada saat yang sama ketika struktur tersebut dibuat. Hal ini berarti orang membuat struktur, menciptakan sifat-sifat bahan komposit yang dihasilkan dan juga proses manufaktur yang digunakan biasanya merupakan bagian yang kritikal yang berperan menentukan kinerja struktur yang dihasilkan (Hutasuhut 2013).
9 2.1.5 Produk Hasil dari Komposit
Kegunaan bahan komposit menurut Hutasuhut pada tahun 2013 adalah:
1. Angkasa luar
Komposit digunakan sebagai Komponen kapal terbang, Komponen Helikopter, Komponen satelit.
2. Automobile
Komposit digunakan sebagai Komponen mesin, Komponen kereta 3. Olahraga dan rekreasi
Digunakan sebagai Sepeda, Stick golf, Raket tenis, Sepatu olahraga.
4. Industri Pertahanan
Komposit digunakan sebagai Komponen jet tempur, Peluru, Komponen kapal selam.
5. Industri Pembinaan
Komposit digunakan sebagai Jembatan, Terowongan, Rumah.
6. Kesehatan
Komposit digunakan sebagai Kaki palsu, Sambungan sendi pada pinggang.
7. Marine atau Kelautan
Komposit digunakan sebagai Kapal layar.
2.2 Serat Alam
Serat alam yaitu serat yang berasal dari alam (bukan buatan ataupun rekayasa manusia). Serat alam atau bisa dibilang sebagai serat alami ini yang biasanya didapat dari serat tumbuhan (pepohonan) seperti pohon bambu, pohon kelapa, pohon pisang serta tumbuhan lain yang terdapat serat pada batang maupun daunnya. Serat alam yang berasal dari binatang, antara lain sutera, ilama dan wool. Serat alam sudah ada sejak lama dan mulai digunakan akhir abad 20, sebagai pengganti serat sintesis yang telah diaplikasikan pada komposit. Salah satu alasannya yaitu berkaitan dengan ketersediaan yang cukup melimpah di
10
alam dan dapat dibudidayakan oleh manusia (renewable) terutama di daerah yang cocok untuk tumbuh berbagai tanaman (Nyoman Arya Wigraha 2016).
2.2.1 Serat Batang Pisang
Batang pisang merupakan bahan berpori yang dapat digunakan sebagai peredam suara, batang pisang merupakan limbah pertanian yang belum banyak dimanfaatkan. Pelepah pisang juga memiliki jaringan selular dengan pori-pori yang saling berhubungan, serta apabila telah dikeringkan akan menjadi padat menjadikannya suatu bahan yang memiliki daya serap yang cukup bagus.
Maharani dalam penelitiannya membuat bahan peredam suara dari serat batang pisang kepok dan mampu meredam bunyi lebih tinggi dari pada pisang raja, pisang susu dan pisang batu yaitu sebesar 63% untuk frekuensi 200 Hz, kemampuan serat batang pisang kepok dalam meredam bunyi pada rendah 125 Hz hingga 51 %, tetapi pada frekuensi 160 Hz tidak sampai meredam 21%.
Sedangkan pada frekuensi tinggi 2.000 Hz, bisa meredam sampai 55 %, dan pada frekuensi 1.600 Hz hanya 40% (Harry Soeprianto 2014).
2.2.2 Partikel Kayu
Serbuk gergaji adalah butiran kayu yang dihasilkan dari proses menggergaji.
Serbuk-serbuk gergaji ini dapat diperoleh dari beragam sumber, seperti limbah pertanian dan perkayuan. Jumlah serbuk gergaji yang dihasilkan dari eksploitasi/pemanenan dan pengolahan kayu bulat sangat banyak. Produksi total kayu gergajian Indonesia mencapai 2,6 juta m3 per tahun, dengan asumsi bahwa jumlah limbah yang terbentuk 54,24% dari produksi total. Oleh karena itu, maka dihasilkan limbah penggergajian kayu sebanyak 1,4 juta m3 per tahun dan angka ini cukup besar karena mencapai sekitar separuh dari produksi kayu gergajian. Balai Penelitian Hasil Hutan (BPHH) pada kilang penggergajian di Sumatera dan Kalimantan serta Perum Perhutani di Jawa menunjukkan bahwa rendemen rata-rata penggergajian adalah 45%, sisanya 55% berupa limbah.
11
Sebanyak 10% dari limbah penggergajian tersebut merupakan serbuk gergaji (Harry Soeprianto 2014).
2.2.3 Abu Boiler
Abu boiler kelapa sawit yang merupakan limbah dari sisa pembakaran cangkang dan serabut buah kelapa sawit di dalam dapur atau tungku pembakaran (boiler) dengan suhu 700oC sampai dengan 800oC. Abu cankang kelapa sawit merupakan salah satu material sisa proses pengolahan yang selama ini diangggap sebagai limbah. Limbah terbuat masih belum dimanfaatkan secara maksimal penggunaannya. Saat ini pemanfaatan Abu boiler banyak mengandung unsur hara yang sangat bermanfaat dan dapat diaplikasikan pada tanaman sawit sebagai pupuk tambahan atau pengganti pupuk anorganik. Unsur hara yang terkandung dalam abu boiler adalah N sebesar 0,74%, P2O5 sebesar 0,84%, K2O sebesar 2,07%, Mg sebesar 0,62% (Harry Soeprianto 2014).
2.2.4 Serat Kaca
Fiberglass adalah serat kaca yang berasal dari kaca cair yang ditarik menjadi serat tipis. Serat ini lalu dipintal menjadi benang atau ditenun menjadi seperti kain. Lalu, diresapi dengan resin sehingga menjadi bahan yang kuat dan tahan korosi.
Banyak orang yang menganggap fiberglass ini mudah pecah karena bahannya dari kaca. Namun, setelah diolah dengan berbagai macam proses penekanan, cairan atau bubuk kaca berubah menjadi serat. Proses inilah yang membuat kaca menjadi serat yang kuat dan tidak mudah pecah (Nugroho, 2016).
Bahan dasar pembuatan fiberglass :
Resin, resin adalah bahan kimia yang berbentuk cair, yang menyerupai minyak goreng tapi berbentuk kental.
12
Katalis, cairan ini bisa di bilang pendamping setia resin, cairan ini biasanya berwarna bening dan berbau sengak. Semakin banyak katalis, maka akan semakin cepat adonan mengeras. Caran ini jika mengenai kulit akan terasa panas.
Kalsium Karbonat, Bahan ini berbentuk bubuk yang berwarna putih menyerupai tepung terigu. Bahan ini berfungsi sebagai pengental adonan fiberglass utama (resin, katalis, dll) Semakin banyak campuran Kalsium Karbonat pada adonan, maka hasil fiberglass akan menjadi lebih tebal dan berat. Bahan ini dapat diganti dengan Talc, tetapi warna Talc agak lebih gelap.
Met/ Matt, bahan ini merupakan bahan serat kaca. Bahan ini berfungsi sebagai serat penguat adonan fiberglass ketika akan dicetak, agar hasilnya menjadi lebih kuat dan tidak mudah pecah. Bentuk met bermacam-macam, ada yang mirip bihun, kain, karung dan sarang lebah. Tetapi yang sering kita jumpai di pasar yang berbentuk seperti bihun
Kobalt, Kobalt adalah bahan kimia yang berbentk cair, berwarna biru mirip tinta dan mempunyai aroma tidak sedap. Cairan ini digunakan untuk tambahan campuran adonan resin dan katalis, agar adonan lebih merekat pada met dan mempercepat pengerasan adonan fiber. Terlalu banyak menambahkan Kobalt dapat mengakibatkan hasil fiber yang getas (rapuh).
Wold (Mold Release), Bahan ini berbentuk seperti mentega/keju ketika masih di dalam wadahnya, yang berfungsi sebagai pelicin pada tahap pencetakan yang menggunakan mal/molding, agar antara molding dengan hasil cetakan tidak saling merekat, sehingga dengan mudah dapat dilepaskan.
2.2.5 Jenis-Jenis Serat Kaca
Serat gelas (glass fiber) adalah bahan yang tidak mudah terbakar. Serat jenis ini biasanya digunakan sebagai penguat matrik jenis polimer. Komposisi kimia serat gelas sebagian besar adalah SiO2 dan sisanya adalah oksida-oksida
13
aluminium (Al), kalsium (Ca), magnesium (Mg), natrium (Na), dan unsur-unsur lainnya. Menurut Nugroho (2016), serat gelas dapat dibedakan menjadi beberapa macam antara lain:
Serat E-glass, yaitu salah satu jenis serat gelas yang dikembangkan sebagai penyekat atau bahan isolasi, dan serat ini mempunyai kemampuan bentuk yang baik,
Serat C-glass, yaitu jenis serat gelas yang mempunyai ketahanan yang tinggi terhadap korosi.
Serat S-glass, yaitu jenis serat gelas yang mempunyai kekakuan yang tinggi.
2.3 Uji Tekan
2.3.1 Definisi uji Tekan
Mengenai fungsi pengujian tarik adalah (1) untuk mengetahui sifat mekanis dari suatu logam terhadap tarikan dimana sifat mekanis tersebut antara lain mengetahui titik luluh, titik tarik maksimum, titik putus, dan karakter bahan (ulet, getas), terutama untuk keperluan perencanaa konstuksi rancangan dasar kekuatan suatu bahan, (2) untuk melengkapi informasi rancangan dasar kekuatan suatu bahan, dan (3) sebagai data pendukung bagi spesifikasi bahan.
Kekuatan tekan dan kekuatan tarik sebenarnya hampir sama, sehingga fungsinya hampir sama. Pada beberapa bahan uji yang dibuat sesuia panjang, spesimen akan melengkung jika diuji menggunakan pengujian tekan. Namun pengujian tekan ini masih diperlukan karena ada beberapa bahan yang memiliki perbedaan sehingga bahan tersebut berbeda pula sifat bahan dalam menerima pengujian tekan. Umumnya, pengujian tekan ini dilakukan pada logam yang bersifat getas, karena bahan uji yang demikian memiliki titik hancur yang terlihat jelas saat dilakukan pengujian tekan.
14
2.3.2 Rumus Yang Berlaku Pada Pengujian Kuat Tekan
Kuat tekan uji kayu material pengganti kayu dihitung dengan beban per satuan luas bidang tekan dengan rumus;
Fc =
Keterangan;
Fc = kuat tekan, Mpa
P = benda uji maksimum, N b = lebar benda uji, mm h = tinggi benda uji, mm 2.4 Sifat-Sifat Mekanik Bahan Tekan
Macam-macam kebutuhan sifat mekanik yang dibutuhkan oleh suatu material tersebut ialah berbeda-beda. Sifat mekanik tersebut terutama meliputi kekerasan, keuletan, kekuatan, ketangguhan, serta sifat mampu mesin yang baik. Dengan sifat pada masing-masing material berbeda, maka banyak metode untuk menguji semua sifat yang dimiliki oleh suatu material tersebut. Berikut ini beberapa sifat mekanis yang dapat menjelaskan bagaimana bahan merespon beban yang bekerja dan deformasi yang terjadi. Sifat-sifat tersebut adalah : a. Stiffness (kekakuan)
Sifat bahan yang mampu renggang pada tegangan tinggi tanpa diikuti regangan yang besar. Ini merupakan ketahanan terhadap deformasi.
Kekakuan bahan merupakan fungsi dari Modulus elastisitas E. Sebuah material yang mempunyai nilai E tinggi seperti baja, E = 207.000 Mpa, akan berdeformasi lebih kecil terhadap beban (sehingga kekuatannya lebih tinggi) daripada material dengan nilai E lebih rendah, misalnya kayu dengan E = 7000 Mpa atau kurang.
15 b. Strength (kekuatan)
Sifat bahan yang ditentukan oleh tegangan paling besar material mampu renggang sebelum rusak (failure). Ini dapat didefinisikan oleh batas proposional, titik mulur atau tegangan maksimum. Tidak ada satu nilai yang cukup bisa untuk mendefinisikan kekuatan, karena perilaku bahan berbeda terhadap beban dan sifat pembebanan.
c. Elasticity (elastisitas)
Sifat material yang dapat kembali ke dimensi awal setelah beban dihilangkan. Sangat sulit menentukan nilai tepat elastisitas. Yang bisa dilakukan adalah menentukan rentang elastisitas atau batas elastisitas.
d. Ductility (keuletan)
Sifat bahan yang mampu deformasi terhadap beban tarik sebelum benar- benar patah (rupture). Material ulet adalah material yang dapat ditarik menjadi kawat tipis panjang dengan gaya tarik tanpa rusak. Keliatan ditandai dengan persen perpanjangan panjang ukur spesimen selama uji tarik dan persen pengurangan luas penampang.
e. Brittleness (kegetasan)
Menunjukkan tidak adanya deformasi plastis sebelum rusak. Material yang getas akan tiba-tiba rusak tanpa adanya tanda terlebih dahulu. Material getas tidak mempunyai titik mulur atau proses pengecilan penampang (necking down process) dan kekuatan patah = kekuatan maksimum. Material getas, misalnya : Besi cor, batu, dan semen cor, yang umumnya lemah dalam uji tarik, sehingga penentuan kekuatan dengan menggunakan uji tekan.
16 f. Malleability (kelunakan)
Sifat bahan yang mengalami deformasi plastis terhadap beban tekan yang bekerja sebelum benar-benar patah. Kebanyakan material yang sangat liat adalah juga cukup lunak.
g. Toughness (ketangguhan)
Sifat material yang mampu menahan beban impack tinggi atau beban kejut.
Jika sebuah benda mendapat beban impack, maka sebagian energi diserap dan sebagian energi dipindahkan. Pengukuran ketangguhan = luasan di bawah kurva tegangan-regangan dari titik asal ke titik patah.
h. Resilience (kelenturan)
Sifat material yang mampu menerima beban impack tinggi tanpa menimbulkan tegangan lebih pada batas elastis. Ini menunjukkan bahwa energi yang diserap selama pembebanan disimpan dan dikeluarkan jika material tidak dibebani. Pengukuran kelenturan sama dengan pengukuran ketangguhan.
2.4.1. Sifat Mekanik
Merupakan salah satu faktor terpenting yang mendasari pemilihan bahan dalam suatu perancangan. Sifat mekanik dapat diartikan sebagai respon atau perilaku material terhadap pembebanan yang diberikan, dapat berupa gaya, torsi atau gabungan keduanya. Dalam prakteknya pembebanan pada material terbagi dua yaitu beban statik dan beban dinamik. Perbedaan antara keduanya hanya pada fungsi waktu dimana beban statik tidak dipengaruhi oleh fungsi waktu sedangkan beban dinamik dipengaruhi oleh fungsi waktu.
Untuk mendapatkan sifat mekanik material, biasanya dilakukan pengujian mekanik. Pengujian mekanik pada dasarnya bersifat merusak (destructive test),
17
dari pengujian tersebut akan dihasilkan kurva atau data yang mencirikan keadaan dari material tersebut.
Setiap material yang diuji dibuat dalam bentuk sampel kecil atau spesimen.
Spesimen pengujian dapat mewakili seluruh material apabila berasal dari jenis, komposisi dan perlakuan yang sama. Pengujian yang tepat hanya didapatkan pada material uji yang memenuhi aspek ketepatan pengukuran, kemampuan mesin, kualitas atau jumlah cacat pada material dan ketelitian dalam membuat spesimen. Sifat mekanik tersebut meliputi antara lain: kekuatan tarik, ketangguhan, kelenturan, keuletan, kekerasan, ketahanan aus, kekuatan impak, kekuatan mulur, kekuatan leleh dan sebagainya
Sifar-sifat mekanik material yang perlu diperhatikan:
Tegangan yaitu gaya diserap oleh material selama berdeformasi persatuan luas.
Regangan yaitu besar deformasi persatuan luas.
Modulus elastisitas yang menunjukkan ukuran kekuatan material.
Kekuatan yaitu besarnya tegangan untuk mendeformasi material atau kemampuan material untuk menahan deformasi.
Kekuatan luluh yaitu besarnya tegangan yang dibutuhkan untuk mendeformasi plastis.
Kekuatan tarik adalah kekuatan maksimum yang berdasarkan pada ukuran mula.
Keuletan yaitu besar deformasi plastis sampai terjadi patah.
Ketangguhan yaitu besar energi yang diperlukan sampai terjadi perpatahan.
Kekerasan yaitu kemampuan material menahan deformasi plastis lokal akibat penetrasi pada permukaan.
18 2.4.2. Sifat Fisik
Sifat penting yang kedua dalam pemilihan material adalah sifat fisik. Sifat fisik adalah kelakuan atau sifat-sifat material yang bukan disebabkan oleh pembebanan seperti pengaruh pemanasan, pendinginan dan pengaruh arus listrik yang lebih mengarah pada struktur material. Sifat fisik material antara lain : temperatur cair, konduktivitas panas dan panas spesifik (Simanjuntak 2015).
Struktur material sangat erat hubungannya dengan sifat mekanik. Sifat mekanik dapat diatur dengan serangkaian proses perlakukan fisik. Dengan adanya perlakuan fisik akan membawa penyempurnaan dan pengembangan material bahkan penemuan material baru (Simanjuntak 2015).
2.4.3. Sifat Teknologi
Selanjutnya sifat yang sangat berperan dalam pemilihan material adalah sifat teknologi yaitu kemampuan material untuk dibentuk atau diproses. Produk dengan kekuatan tinggi dapat dibuat dibuat dengan proses pembentukan, misalnya dengan pengerolan atau penempaan. Produk dengan bentuk yang rumit dapat dibuat dengan proses pengecoran. Sifat-sifat teknologi diantaranya sifat mampu las, sifat mampu cor, sifat mampu mesin dan sifat mampu bentuk.
Sifat material terdiri dari sifat mekanik yang merupakan sifat material terhadap pengaruh yang berasal dari luar serta sifat-sifat fisik yang ditentukan oleh komposisi yang dikandung oleh material itu sendiri (Simanjuntak 2015).
2.5 Papan Komposit
Papan komposit adalah papan buatan yang bahan bakunya dapat berupa potongan kayu solid (utuh), partikel dan serat. Papan komposit cenderung lebih berat dari kebanyakan material kayu lainnya karena konten lemnya cenderung lebih banyak dan memiliki serat yang panjang. Papan komposit memiliki banyak keunggulan salah satunya adalah dapat menghasilkan ukuran papan
19
yang lebih lebar dan panjang sesuai dengan yang diperlukan dan bahan bakunya dapat menggunakan semua tanaman yang mengandung lignin dan selulosa.
Produk-produk papan komposit banyak digunakan masyarakat antara lain adalah papan lamina, papan partikel dan papan serat. Produk-produk papan komposit dapat dibuat secara manual dan mekanis.