• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI. Crites (dalam Brown, 2002) mendefinisikan kematangan karir sebagai tingkat di mana

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB II LANDASAN TEORI. Crites (dalam Brown, 2002) mendefinisikan kematangan karir sebagai tingkat di mana"

Copied!
26
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

LANDASAN TEORI A. Kematangan Karir

1. Pengertian kematangan karir

Crites (dalam Brown, 2002) mendefinisikan kematangan karir sebagai tingkat di mana individu telah menguasai tugas perkembangan karirnya, baik komponen pengetahuan maupun sikap, yang sesuai dengan tahap perkembangan karir. Levinson, Ohler, Caswell, & Kiewra, (2001) mengemukakan bahwa kematangan karir merupakan kemampuan individu untuk membuat pilihan karir yang tepat, termasuk kesadaran tentang hal yang dibutuhkan untuk membuat keputusan karir dan tingkat dimana pilihan individu tersebut realistik dan konsisten.

Super (dalam Savickas, 2001) menjelaskan bahwa individu dikatakan matang atau siap untuk membuat keputusan karir jika pengetahuan yang dimilikinya untuk membuat keputusan karir didukung oleh informasi yang adekuat mengenai pekerjaan berdasarkan pencarian yang telah dilakukan.

Super (dalam Winkel & Hastuti, 2006) menyatakan bahwa kematangan karir adalah keberhasilan individu menyelesaikan tugas perkembangan karir yang khas pada tahap perkembangan karir. Kematangan karir juga merupakan kesiapan afektif dan kognitif dari individu untuk mengatasi tugas-tugas perkembangan yang dihadapkan kepadanya, karena perkembangan biologis, sosial dan harapan dari masyarakat yang telah mencapai tahap perkembangan tersebut. Kesiapan afektif terdiri dari perencanaan karir dan eksplorasi karir sementara kesiapan kognitif terdiri dari kemampuan mengambil keputusan dan wawasan mengenai dunia kerja.

(2)

Berdasarkan beberapa pengertian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa kematangan karir adalah kemampuan individu dalam menguasai tugas perkembangan karir sesuai dengan tahap perkembangan karir, dengan menunjukkan perilaku-perilaku yang dibutuhkan untuk merencanakan karir, mencari informasi, memiliki wawasan mengenai dunia kerja dan memiliki kesadaran tentang apa yang dibutuhkan dalam membuat keputusan karir.

2. Dimensi kematangan karir

Menurut Super (dalam Watkins & Campbell, 2000) kematangan karir terdiri dari:

a. Career planning

Dimensi ini mengukur tingkat perencanaan melalui sikap terhadap masa depan. Individu memiliki kepercayaan diri, kemampuan untuk dapat belajar dari pengalaman, menyadari bahwa dirinya harus membuat pilihan pendidikan dan pekerjaan, serta mempersiapkan diri untuk membuat pilihan tersebut. Nilai rendah pada dimensi career planning menunjukkan bahwa individu tidak merencanakan masa depan di dunia kerja dan merasa tidak perlu untuk memperkenalkan diri atau berhubungan dengan pekerjaan. Nilai tinggi pada dimensi career planning menunjukkan bahwa individu ikut berpartisipasi dalam aktivitas perencanaan karir yaitu belajar tentang informasi karir, berbicara dengan orang dewasa tentang rencana karir, mengikuti kursus dan pelatihan yang akan membantu dalam menentukan karir, berpartisipasi dalam kegiatan ekstrakulikuler dan bekerja paruh waktu.

b. Career exploration

Dimensi ini mengukur sikap terhadap sumber informasi. Individu berusaha untuk memperoleh informasi mengenai dunia kerja serta menggunakan kesempatan dan sumber informasi yang berpotensial seperti orangtua, teman, guru, dan konselor. Nilai rendah pada

(3)

dimensi career exploration menunjukkan bahwa individu tidak perduli dengan informasi tentang bidang dan tingkat pekerjaan.

c. Career decision making

Dimensi ini mengukur pengetahuan tentang prinsip dan cara pengambilan keputusan.

Individu memiliki kemandirian, membuat pilihan pekerjaan yang sesuai dengan minat dan kemampuan, kemampuan untuk menggunakan metode dan prinsip pengambilan keputusan untuk menyelesaikan masalah termasuk memilih pendidikan dan pekerjaan. Nilai rendah pada dimensi career decision making menunjukkan bahwa individu tidak tahu apa yang harus dipertimbangkan dalam membuat pilihan. Hal ini berarti individu tidak siap untuk menggunakan informasi pekerjaan yang telah diperoleh untuk merencanakan karir. Nilai tinggi pada dimensi career decision making menunjukkan bahwa individu siap mengambil keputusan.

d. World of word information

Dimensi ini mengukur pengetahuan tentang jenis-jenis pekerjaan, cara untuk memperoleh dan sukses dalam pekerjaan serta peran-peran dalam dunia pekerjaan. Nilai rendah pada dimensi world of work information menunjukkan bahwa individu perlu untuk belajar tentang jenis-jenis pekerjaan dan tugas perkembangan karir. Individu kurang mengetahui tentang pekerjaan yang sesuai dengannya. Nilai tinggi pada dimensi world of work information menunjukkan bahwa individu dengan wawasan yang luas dapat menggunakan informasi pekerjaan untuk diri sendiri dan mulai menetapkan bidang serta tingkat pekerjaan.

(4)

3. Tahap perkembangan karir

Menurut Super (dalam Savickas, 2002) tahap perkembangan karir terdiri dari:

a. Growth (4-13 tahun)

Pada tahap ini individu ditandai dengan perkembangan kapasitas, sikap, minat, dan kebutuhan yang terkait dengan konsep diri. Konsep diri yang dimiliki individu terbentuk melalui identifikasi terhadap figur-figur keluarga dan lingkungan sekolah. Pada awalnya, anak-anak mengamati lingkungan untuk mendapatkan informasi mengenai dunia kerja dan menggunakan rasa penasaran untuk mengetahui minat. Seiring berjalannya waktu, rasa penasaran dapat mengembangkan kompetensi untuk mengendalikan lingkungan dan kemampuan untuk membuat keputusan. Disamping itu, melalui tahap ini, anak-anak dapat mengenali pentingnya perencanaan masa depan dan memilih pekerjaan. Tahap ini terdiri dari 3 sub tahap yaitu:

1) Sub tahap fantasy (4-10 tahun)

Pada sub tahap ini ditandai dengan minat anak berfantasi untuk menjadi individu yang diinginkan, kebutuhan dan menjalani peran adalah hal yang penting.

2) Sub tahap interest (11-12 tahun)

Individu pada sub tahap ini menunjukkan tingkah laku yang berhubungan dengan karir mulai dipengaruhi oleh kesukaan anak. Hal yang disukai dan yang tidak tersebut menjadi penentu utama aspirasi dan aktifitas.

3) Sub tahap capacity (13-14 tahun)

Individu yang berada pada sub tahap ini mulai mempertimbangkan kemampuan pribadi dan persyaratan pekerjaan yang diinginkan.

(5)

b. Exploration (14-24 tahun)

Pada tahap ini individu banyak melakukan pencarian tentang karir apa yang sesuai dengan dirinya, merencanakan masa depan dengan menggunakan informasi dari diri sendiri dan dari pekerjan. Individu mulai mengenali diri sendiri melalui minat, kemampuan, dan nilai.

Individu akan mengembangkan pemahaman diri, mengidentifikasi pilihan pekerjaan yang sesuai, dan menentukan tujuan masa depan yang sementara tetapi dapat diandalkan. Individu juga akan menentukan pilihan melalui kemampuan yang dimiliki untuk membuat keputusan dengan memilih di antara alternatif pekerjaan yang sesuai. Tahap ini terdiri dari 3 sub tahap, yaitu : 1) Sub tahap tentative (14-17 tahun).

Tugas perkembangan pada tahap ini adalah menentukan pilihan pekerjaan. Individu mulai menggunakan pilihan tersebut dan dapat melihat bidang serta tingkat pekerjaan yang sesuai dengan dirinya. Hal-hal yang dipertimbangkan pada masa ini adalah kebutuhan, minat, kapasitas, nilai dan kesempatan.

2) Sub tahap transition (18-21 tahun).

Sub tahap ini merupakan periode peralihan dari pilihan pekerjaan yang bersifat sementara menuju pilihan pekerjaan yang bersifat khusus. Tugas perkembangan pada masa ini yaitu mengkhususkan pilihan pekerjaan dengan memasuki pasar pekerja, pelatihan profesional, bekerja sambilan dan mencoba mewujudkan konsep diri.

3) Sub tahap trial (22-24 tahun).

Tugas perkembangan pada masa ini adalah melaksanakan pilihan pekerjaan dengan memasuki dunia kerja.

(6)

c. Establishment (25-44 tahun)

Pada tahap ini individu mulai memasuki dunia kerja yang sesuai dengan dirinya dan bekerja keras untuk mempertahankan pekerjaan tersebut. Masa ini merupakan masa paling produktif dan kreatif. Tahap ini terdiri dari 2 sub tahap, yaitu:

1) Sub tahap trial with commitment (25-30 tahun)

Pada tahap ini individu merasa nyaman dengan pekerjaan, sehingga ingin terus mempertahankan pekerjaan yang dimiliki. Tugas perkembangan pada masa ini adalah menstabilkan pilihan pekerjaan.

2) Sub tahap stabilization (31-44 tahun).

Pada tahap ini pola karir individu menjadi jelas dan telah menstabilkan pekerjaan. Tugas perkembangan yang harus dipenuhi oleh individu pada masa ini adalah menetapkan pilihan pekerjaan agar memperoleh keamanan dan kenyamanan dalam bekerja serta melakukan peningkatan dalam dunia kerja dengan menunjukkan perilaku yang positif dan produktif dengan rekan kerja.

d. Maintenance (45-64 tahun)

Individu pada tahap ini telah menetapkan pilihan pada satu bidang karir, fokus mempertahankan posisi melalui persaingan dengan rekan kerja yang lebih muda dan menjaga posisi tersebut dengan pengetahuan yang baru. Tugas perkembangan yang harus dipenuhi oleh individu pada tahap ini, yaitu:

1) Holding

Pada tahap ini individu menghadapi tantangan dengan berkompetisi bersama rekan kerja, perubahan teknologi, memenuhi tuntutan keluarga, dan berkurangnya stamina.

(7)

2) Updating

Individu pada tahap ini harus bekerja keras dalam mengerjakan tugas dengan lebih baik melalui memperbarui pengetahuan dan keterampilan.

3) Innovating

Pada tahap ini individu melakukan pekerjaan dengan cara yang berbeda, melakukan pekerjaan yang berbeda, dan menghadapi tantangan baru.

e. Decline (lebih dari 65 tahun)

Individu pada tahap ini mulai mempertimbangankan masa pra-pensiun, hasil kerja, dan akhirnya pensiun. Hal ini dikarenakan berkurang kekuatan mental dan fisik sehingga menyebabkan perubahan aktivitas kerja. Tahap ini terdiri dari 2 sub tahap, yaitu:

1) Sub tahap decelaration (65-70 tahun).

Tugas perkembangan pada sub tahap ini adalah mengurangi tingkat pekerjaan secara efektif dan mulai merencanakan pensiun. Hal ini ditandai dengan adanya penyerahan tugas sebagai salah satu langkah mempersiapkan diri menghadapi pensiun.

2) Sub tahap retirement (lebih dari 71 tahun).

Sub tahap ini ditandai dengan masa pensiun dimana individu akhirnya mulai menarik diri dari lingkungan kerja.

(8)

4. Faktor-faktor yang mempengaruhi kematangan karir

Menurut Naidoo (1998) terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi kematangan karir individu, yaitu:

a. Educational level

Kematangan karir individu ditentukan dari tingkat pendidikannya. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh McCaffrey, Miller, dan Winstoa (dalam Naidoo, 1998) pada siswa junior, senior, dan alumni terdapat perbedaan dalam hal kematangan karir. Semakin tinggi tingkat pendidikan semakin tinggi pula kematangan karir yang dimiliki. Hal ini mengindikasikan kematangan karir meningkat seiring tingkat pendidikan.

b. Race ethnicity

Kelompok minoritas sering dikaitkan dengan kematangan karir yang rendah yang berhubungan dengan orang tua. Jika orang tua mendukung anaknya walaupun mereka berasal dari kelompok minoritas, anak tersebut tetap akan memiliki kematangan yang baik.

c. Locus of control

Hasil penelitian Dhillon dan Kaur (2005) menunjukkan bahwa individu dengan tingkat kematangan karir yang baik cenderung memiliki orientasi locus of control internal. Taganing (2007) juga menambahkan bahwa individu dengan locus of control internal, ketika dihadapkan pada pemilihan karir, maka akan melakukan usaha untuk mengenal diri, mencari tahu tentang pekerjaan dan langkah-langkah pendidikan, serta berusaha mengatasi masalah yang dihadapi.

Hal tersebut akan membuat kematangan karir individu menjadi tinggi.

(9)

d. Social economi status

Individu yang berasal dari latar belakang sosial ekonomi menengah ke bawah menunjukkan nilai rendah pada kematangan karir. Hal ini ditandai dengan kurangnya akses terhadap informasi tentang pekerjaan, figur teladan dan anggapan akan rendahnya kesempatan kerja.

e. Work salience

Pentingnya pekerjaan mempengaruhi individu dalam membuat pilihan, kepuasan kerja yang merujuk pada komitmen kerja, serta kematangan karir pada siswa SMU dan mahasiswa.

f. Gender

Wanita memiliki nilai kematangan karir yang lebih rendah dibandingkan dengan laki- laki. Hal ini disebabkan karena wanita lebih rentan dalam memandang konflik peran sebagai hambatan dalam proses perkembangan karir, dan kurang mampu untuk membuat keputusan karir yang tepat dibandingkan dengan laki-laki.

B. Kecerdasan Adversitas

1. Definisi kecerdasan adversitas

Kecerdasan adversitas menurut Stoltz (2000) adalah kecerdasan untuk menghadapi kesulitan dan kemampuan bertahan dalam berbagai tantangan yang dihadapi. Kecerdasan adversitas merupakan gambaran kebiasaan individu dalam merespon kesulitan dan ukuran pola bawah sadar yang konsisten yang telah dikembangkan selama bertahun-tahun. Kecerdasan adversitas menjadi variabel yang menentukan apakah individu tetap menaruh harapan dan terus memegang kendali dalam situasi yang sulit. Kecerdasan adversitas juga merupakan kemampuan individu untuk menggerakkan tujuan hidup ke depan.

(10)

Kecerdasan adversitas merupakan pemahaman penting tentang apa yang dibutuhkan untuk mencapai kesuksesan. Stoltz (2000) mengatakan bahwa sukses tidaknya individu dalam kehidupan ditentukan oleh kecerdasan adversitas, dimana kecerdasan adversitas dapat memberitahukan: (1) Sejauh mana individu mampu bertahan dan mengatasi kesulitan yang dihadapi; (2) Individu mana yang mampu mengatasi kesulitan dan yang tidak mampu; (3) Individu mana yang akan memenuhi harapan dan potensi serta yang akan gagal; dan (4) Individu yang akan menyerah dan yang akan bertahan.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa kecerdasan adversitas adalah kemampuan yang dimiliki individu untuk dapat mengatasi suatu kesulitan, dengan karakteristik perilaku mampu mengontrol situasi sulit, menganggap sumber – sumber kesulitan berasal dari luar diri, memiliki tanggung jawab dalam situasi sulit, mampu membatasi pengaruh situasi sulit dalam aspek kehidupan, dan bertahan saat menghadapi situasi sulit.

2. Dimensi kecerdasan adversitas

Menurut Stoltz (2000), kecerdasan adversitas terbagi menjadi empat dimensi yaitu:

a. Control

Dimensi ini berfokus pada kendali yang dirasakan individu terhadap peristiwa yang menimbulkan kesulitan. Nilai tinggi pada dimensi control mengindikasikan bahwa individu mampu mengendalikan peristiwa yang terjadi dalam hidupnya, menemukan cara untuk menghadapi kesulitan, pantang menyerah, dan cepat tanggap dalam mencari penyelesaian.

Sementara nilai rendah pada dimensi control mengindikasikan bahwa individu menganggap peristiwa buruk yang terjadi berada di luar kendali, tidak mampu saat menghadapi kesulitan, dan mudah menyerah.

(11)

b. Origin dan ownership

Dimensi ini berfokus pada dua hal, yaitu penyebab kesulitan serta pengakuan terhadap akibat yang ditimbulkan oleh kesulitan dan mau bertanggung jawab. Semakin tinggi nilai kecerdasan adversitas yang dimiliki individu pada dimensi ini mengindikasikan bahwa individu tersebut memandang kesuksesan sebagai pekerjaan dan kesulitan sebagai hal yang berasal dari pihak luar. Semakin rendah nilai kecerdasan adversitas yang dimiliki individu pada dimensi ini mengindikasikan bahwa individu menganggap kesuksesan sebagai hal yang berasal dari pihak luar dan menganggap diri sebagai penyebab peristiwa buruk.

1) Origin

Dimensi ini berfokus pada penyebab kesulitan. Origin berkaitan dengan rasa bersalah.

Rasa bersalah memiliki dua fungsi penting. Pertama, rasa bersalah membantu individu untuk belajar yang mengarah pada perbaikan. Kedua, rasa bersalah menjurus pada penyesalan. Rasa bersalah merupakan motivator yang sangat kuat jika digunakan secara wajar. Ukuran yang tepat dari rasa bersalah akan mengarahkan individu untuk mengambil tindakan. Namun jika ukuran tersebut terlalu banyak akan menurunkan semangat. Nilai tinggi pada dimensi origin mengindikasikan bahwa setiap individu mengalami masa-masa sulit, menganggap kesulitan berasal dari pihak luar dan belajar dari kesalahan yang telah dilakukan. Sementara nilai rendah pada dimensi origin mengindikasikan bahwa individu merupakan individu yang gagal, penyebab munculnya kesulitan dan terus menyalahkan diri sendiri.

2) Ownership

Dimensi ini berfokus pada pengakuan terhadap akibat-akibat yang ditimbulkan oleh kesulitan dan mau bertanggung jawab. Kecerdasan adversitas mengajarkan individu untuk meningkatkan rasa tanggung jawab sebagai salah satu cara memperluas kendali, pemberdayaan

(12)

dan motivasi dalam mengambil tindakan. Nilai tinggi pada dimensi ownership mengindikasikan bahwa individu bersedia bertanggung jawab dan mengakui akibat dari tindakan yang dilakukan.

Sementara nilai rendah pada dimensi ownership mengindikasikan bahwa individu menolak untuk bertanggung jawab dan tidak mau mengakui akibat-akibat dari suatu kesulitan.

c. Reach

Dimensi ini berfokus pada sejauh mana kesulitan akan mempengaruhi sisi lain dari kehidupan individu. Nilai tinggi pada dimensi reach mengindikasikan bahwa kesulitan yang dihadapi tidak akan mempengaruhi sisi lain kehidupan, merespon peristiwa buruk sebagai hal yang khusus dan terbatas. Sementara nilai rendah pada dimensi reach mengindikasikan bahwa kesulitan yang dihadapi akan mempengaruhi sisi lain kehidupan, merespon peristiwa baik sebagai hal yang khusus dan terbatas.

d. Endurance

Dimensi ini berfokus pada berapa lama kesulitan dan penyebab kesulitan tersebut akan berlangsung serta kemampuan individu bertahan saat menghadapi kesulitan. Nilai tinggi pada dimensi endurance mengindikasikan bahwa individu optimis, menganggap kesulitan dan penyebab kesulitan sebagai hal yang bersifat sementara, cepat berlalu, dan kecil kemungkinan akan terjadi lagi serta memandang kesuksesan sebagai hal yang berlangsung terus menerus atau bahkan permanen. Sementara nilai rendah pada dimensi endurance mengindikasikan bahwa individu pesimis, menganggap kesulitan dan penyebab kesulitan sebagai peristiwa yang berlangsung terus menerus dan kesuksesan sebagai hal yang bersifat sementara yang dapat memunculkan perasaan tidak mampu ataupun kehilangan harapan.

(13)

3. Tipe- tipe individu

Stoltz (2000) membagi tiga tipe individu dalam melakukan usaha berdasarkan teori kecerdasan adversitas, yaitu:

a. Quitters

Quitters merupakan tipe individu yang menghentikan usaha, memilih untuk keluar, dan menghindari kewajiban. Individu pada tipe ini menolak, mengabaikan, dan menutup kesempatan untuk berusaha, serta meninggalkan banyak hal yang ditawarkan dalam kehidupan. Quitters menjalani kehidupan yang tidak menyenangkan karena memilih jalan yang dianggap lebih mudah. Seiring dengan berjalannya waktu, quitters mengalami kesulitan yang lebih besar karena menghindari masalah yang dihadapi. Hal ini yang kemudian mengarahkan individu menjadi sinis, murung, pemarah, frustrasi, menyalahkan individu yang ada disekitarnya dan membenci individu yang terus berusaha. Tipe ini mengabaikan potensi yang dimiliki, memperlihatkan ambisi, semangat, dan kualitas di bawah standar. Quitters mencari pelarian untuk menenangkan perasaan dan pikiran serta cepat menemukan cara untuk menyatakan bahwa hal tersebut tidak dapat dilaksanakan. Quitters mempunyai kemampuan yang kecil atau bahkan tidak mempunyai kemampuan sama sekali dalam menghadapi kesulitan.

b. Campers

Campers merupakan tipe individu yang menunjukkan sejumlah usaha dan inisiatif tetapi cepat puas dalam mencapai kesuksesan sehingga mengakhiri usaha yang telah dilakukan. Tipe ini akan bekerja keras dalam hal apa pun agar merasa aman hingga mencapai tingkat tertentu tetapi tidak mau mengembangkan diri dan mempunyai kemampuan terbatas dalam menghadapi kesulitan. Campers juga menjalani kehidupan yang tidak menyenangkan karena merasa sudah cukup puas dengan apa yang telah dicapai dan mengorbankan kemungkinan untuk melihat atau

(14)

mengalami apa yang masih mungkin terjadi. Campers melepaskan kesempatan untuk maju, yang sebenarnya dapat dicapai jika usaha yang dimiliki mampu diarahkan dengan semestinya dan tidak memanfaatkan potensi yang dimiliki sehingga kurang berhasil dalam berprestasi. Motivasi tipe ini adalah rasa takut dan kenyamanan.

c. Climbers

Climbers merupakan individu yang selalu melakukan usaha, tanpa memperhitungkan keuntungan atau kerugian, dan nasib buruk atau baik. Tipe ini adalah individu yang selalu memikirkan kemungkinan-kemungkinan dan tidak membiarkan usia, jenis kelamin, ras, cacat fisik atau mental, atau hambatan lain yang menghalangi usahanya. Climbers menjalani kehidupan yang menyenangkan. Tipe ini benar-benar memahami tujuan atas apa yang akan dikerjakan, tahu bahwa terdapat manfaat jangka panjang dan usaha yang dilakukan sekarang ini akan memberikan keuntungan di kemudian hari. Climbers selalu menerima tantangan yang diberikan dan yakin bahwa segala hal dapat dan akan terlaksana, meskipun individu lain bersikap negatif dan sudah memutuskan bahwa hal tersebut tidak mungkin terjadi.

Climbers adalah individu yang gigih, ulet, tabah, introspeksi diri dan terus bertahan sehingga dapat menghadapi kesulitan dengan keberanian dan disiplin. Tipe ini juga menyambut baik kesempatan untuk bergerak maju dalam setiap usaha, terbiasa menghadapi situasi sulit karena mengerti bahwa kesulitan adalah bagian dari hidup sehingga menghindari kesulitan sama saja dengan menghindari kehidupan. Climbers dapat memotivasi diri sendiri, memiliki semangat tinggi, berjuang untuk mendapatkan yang terbaik dari hidup dan cenderung membuat segala hal terwujud. Tipe ini bersedia mengambil resiko, menghadapi tantangan, mengatasi rasa takut, mempertahankan visi, memimpin, dan bekerja keras hingga pekerjaan tersebut selesai.

(15)

4. Faktor-faktor yang mempengaruhi kecerdasan adversitas

Menurut Stoltz (2000) terdapat beberapa faktor yang dapat mempengaruhi kecerdasan adversitas individu dalam merespon kesulitan, yaitu :

a. Bakat

Bakat adalah keterampilan, kompetensi, pengalaman, dan pengetahuan individu tentang apa yang diketahui dan mampu dikerjakan.

b. Kemauan

Kemauan menggambarkan motivasi, antusiasme, dorongan, ambisi dan semangat.

c. Kecerdasan

Setiap individu memiliki kecerdasan linguistik, kinestetik, spasial, logika matematis, musik, interpersonal dan intrapersonal namun tentu saja ada yang paling dominan. Kecerdasan yang paling dominan akan mempengaruhi karir yang ingin dicapai, pelajaran yang dipilih, dan hobi-hobi yang diminati.

d. Kesehatan

Kesehatan emosi dan fisik juga dapat mempengaruhi kemampuan dalam menggapai kesuksesan. Jika individu sakit, maka penyakit dapat mengalihkan perhatian untuk dapat mencapai kesuksesan.

e. Karakteristik kepribadian

Karakteristik kepribadian individu seperti kejujuran, keadilan, kebaikan, keberanian dan kedermawanan penting untuk meraih kesuksesan.

f. Genetik

Faktor genetik merupakan salah satu faktor yang sangat mendasari setiap perilaku dalam diri individu.

(16)

g. Pendidikan

Pendidikan akan mempengaruhi kecerdasan, pembentukan kebiasaan yang sehat, perkembangan watak, keterampilan, hasrat dan kinerja yang dihasilkan.

h. Keyakinan

Keyakinan adalah ciri umum yang dimiliki sebagian individu sukses dan merupakan unsur penting bagi keberlangsungan hidup masyarakat.

5. Karakteristik kecerdasan adversitas

Menurut Stoltz (2000), setiap individu memiliki kecerdasan adversitas yang tinggi dan rendah. Adapun karakteristik individu yang memiliki kecerdasan adversitas tinggi antara lain:

a. Optimis, gigih, dan ulet dalam menghadapi masalah.

b. Berpikir dan bertindak secara matang dan bijaksana.

c. Dapat memotivasi diri sendiri.

d. Berani mengambil risiko dalam menghadapi tantangan dan perubahan hidup.

e. Bekerja dengan semangat tinggi.

f. Berorientasi pada masa depan dan memiliki komitmen untuk maju.

g. Disiplin.

h. Mengatakan hal-hal yang optimis dalam menghadapi masalah.

Stoltz (2000) juga mengungkapkan karakteristik individu yang memiliki kecerdasan adversitas rendah, yaitu:

a. Pesimis dan mudah frustrasi dalam menghadapi masalah.

b. Berpikir dan bertindak cenderung tidak kreatif dan tidak berani mengambil resiko.

c. Menyalahkan orang lain sebagai penyebab suatu masalah atau kesulitan.

(17)

d. Cenderung lari dari masalah yang dihadapi.

e. Bekerja dengan tidak bersemangat dan tidak ambisius.

f. Cenderung emosional dalam melakukan pekerjaan.

g. Tidak berorientasi pada masa depan dan menghindari tantangan.

h. Mengatakan hal-hal yang pesimis dalam menghadapi masalah.

C. Mahasiswa bekerja

1. Pengertian mahasiswa bekerja a. Mahasiswa

Monks (2002) menyatakan bahwa sebagian mahasiswa masuk ke dalam kategori remaja akhir (18-21 tahun). Masa remaja merupakan masa peralihan antara masa kanak-kanak ke masa dewasa yang ditandai dengan perubahan-perubahan pada diri individu, baik secara psikologis, fisiologis, seksual, sosial dan kognitif serta adanya berbagai tuntutan dari masyarakat dan perubahan sosial yang menyertai untuk menjadi dewasa yang mandiri (Papalia, Old, & Feldman, 2008). Menurut Hurlock (2004) terdapat beberapa tugas perkembangan yang harus dipenuhi pada masa remaja akhir, antara lain:

1) Mencapai hubungan baru dan lebih matang dengan teman sebaya baik pria maupun wanita.

2) Mencapai peran sosial pria dan wanita.

3) Menerima keadaan fisik dan menggunakan tubuh secara efektif.

4) Mengharapkan dan mencapai perilaku sosial yang bertanggung jawab.

5) Mencapai kemandirian emosional dari orangtua dan orang-orang dewasa lainnya.

6) Mempersiapkan karir ekonomi.

7) Mempersiapkan perkawinan dan keluarga.

(18)

8) Memperoleh perangkat nilai dan sistem etis sebagai pegangan untuk berperilaku mengembangkan ideologi.

Morgan (1986) menyatakan bahwa mahasiswa adalah suatu periode yang disebut dengan masa belajar yang terjadi hanya pada individu yang memasuki post secondary education dan sebelum masuk ke dalam dunia kerja yang menetap. Selanjutnya, Ismail (2004) menambahkan bahwa mahasiswa adalah kaum terpelajar yang dinamis, penuh dengan kreativitas dan merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari masyarakat.

Menurut Sukadji (2001) mahasiswa adalah sebagian kecil dari generasi muda yang mendapatkan kesempatan untuk mengasah kemampuan yang dimiliki di perguruan tinggi.

Sejalan dengan pengertian tersebut, Salim dan Salim (2002) menyebutkan bahwa mahasiswa adalah individu yang terdaftar dan menjalani pendidikan di perguruan tinggi.

b. Bekerja

Menurut Badan Pusat Statistik Indonesia (2000) bekerja adalah melakukan pekerjaan dengan maksud memperoleh/membantu memperoleh pendapatan/keuntungan dengan durasi bekerja paling sedikit 1 jam dalam seminggu (termasuk pekerja keluarga tanpa upah yang membantu dalam kegiatan ekonomi). Sejalan dengan hal tersebut Mantra (2000) menyatakan bahwa bekerja adalah melakukan suatu kegiatan untuk menghasilkan/membantu menghasilkan barang/jasa dengan maksud untuk memperoleh penghasilan berupa uang/barang dari kurun waktu tertentu.

Shimmin (dalam De Klerk, 2005) menyatakan bahwa kerja sering diidentifikasikan dengan employment yaitu aktivitas yang dilakukan untuk individu lain dengan baris kontrak. Hal ini

(19)

menyangkut hubungan pertukaran dimana individu memberikan talenta yang dimilikinya kepada majikan untuk mendapatkan imbalan.

Menurut Winkel & Hastuti (2006) bekerja merupakan suatu bidang yang sangat pokok, yang mengisi sebagian besar waktu, menuntut sebagian besar pikiran, dan menyentuh sebagian besar perasaan. Melalui pekerjaan, individu melayani kebutuhan masyarakat, mendapat imbalan untuk memenuhi kebutuhan ekonomi, menciptakan identitas diri, dan menumbuhkan rasa harga diri.

Cohen (dalam Ronen, 1981) menyatakan bahwa pekerjaan yang paling banyak dilakukan oleh mahasiswa adalah jenis pekerjaan paruh waktu. Hal ini disebabkan karena jadwal kerja paruh waktu lebih fleksibel daripada jadwal kerja penuh sehingga mahasiswa dapat menyesuaikan jadwal kerja dengan jadwal kuliah. Menurut Ronen (1981) pekerjaan paruh waktu merupakan jadwal kerja yang dilaksanakan minimal 20 jam dalam seminggu dan maksimal 40 jam dalam seminggu.

c. Manfaat bekerja

Anoraga (2001) mengemukakan bahwa melalui bekerja, individu memperoleh uang yang dapat digunakan untuk memenuhi berbagai kebutuhan. Kebutuhan-kebutuhan tersebut dapat dibagi menjadi:

1. Kebutuhan fisiologis dasar.

Kebutuhan ini menyangkut kebutuhan fisik/biologis seperti makan,minum, tempat tinggal, dan kebutuhan lain yang sejenis.

2. Kebutuhan sosial

Manusia dikatakan sebagai makhluk sosial karena memerlukan persahabatan dan tidak akan bahagia apabila tinggal sendiri untuk jangka waktu yang lama. Pekerjaan seringkali

(20)

memberikan kepuasan kebutuhan sosial, tidak hanya dalam arti memberikan persahabatan, tetapi juga dalam aspek lain, seperti menjadi anggota kelompok tertentu yang memberikan rasa identifikasi diri dan rasa memiliki. Kebutuhan sosial lainnya dapat diperoleh dari hubungan antara atasan dan bawahan.

3. Kebutuhan egoistic 1) Prestasi

Salah satu kebutuhan manusia yang paling penting adalah kebutuhan berprestasi untuk merasa bahwa ia melakukan sesuatu dan pekerjaan tersebut penting. Individu akan bersemangat dan tidak mengeluh dalam menjalankan pekerjaan karena pekerjaan tersebut dianggap penting.

2) Otonom

Pekerja menginginkan adanya kebebasan, kreativitas dan variasi dalam menjalankan pekerjaan serta adanya inisiatif dan imajinasi yang mencerminkan individu untuk mandiri dan bebas menentukan apa yang diinginkan.

3) Pengetahuan

Keinginan akan pengetahuan menjadi dorongan dasar dari setiap manusia. Manusia tidak hanya ingin mengetahui apa yang terjadi tetapi juga ingin mengetahui mengapa sesuatu terjadi.

Menjadi ahli dalam suatu bidang memberikan kepuasan bagi individu dan merupakan salah satu bentuk pemuasan kebutuhan egoistik.

Manfaat lain yang diperoleh dari bekerja dikemukakan oleh Calhoun & Acocella (1990) yaitu:

1. Bekerja dapat membentuk pola kehidupan individu.

2. Bekerja menyediakan jaringan hubungan tidak resmi.

3. Bekerja memberikan individu identitas yang menyatakan siapa dan apa statusnya.

(21)

4. Pekerjaan menjadi dasar untuk menunjukkan harga diri.

5. Pekerjaan memungkinkan individu untuk menunjukkan kemampuan dan keterampilan yang dimiliki.

Berdasarkan beberapa pendapat dari tokoh-tokoh tersebut, dapat disimpulkan bahwa mahasiswa bekerja adalah individu berusia 18-21 tahun yang memiliki kesempatan untuk belajar di perguruan tinggi dan melakukan aktivitas kerja di luar jam perkuliahan selama 20-40 jam dalam seminggu untuk memperoleh penghasilan dan memenuhi kebutuhan baik fisik, sosial, prestasi dan pengetahuan.

2. Alasan mahasiswa bekerja

Alasan umum individu bekerja adalah karena uang (Anoraga, 2001). Keinginan untuk mempertahankan hidup merupakan salah satu alasan yang dapat menjelaskan mengapa individu bekerja. Begitu pula halnya dengan mahasiswa bekerja. Menurut Motte & Schwartz (2009) alasan utama mahasiswa bekerja adalah untuk mendapatkan sumber penghasilan. Selain itu Motte & Schwartz (2009) mengemukakan alasan lain mahasiswa bekerja, yaitu:

a. Bekerja untuk membantu orangtua dan membiayai kuliah.

Alasan ini banyak dikemukakan oleh mahasiswa yang berasal dari latar belakang ekonomi rendah yang hanya mendapatkan sedikit dukungan finansial dari keluarga sehingga tidak mampu menutupi seluruh biaya perkuliahan.

b. Bekerja untuk membiayai kegiatan waktu luang

Alasan ini banyak dikemukakan oleh mahasiswa yang berasal dari latar belakang ekonomi menengah ke atas. Tujuan bekerja adalah untuk mendapatkan tambahan guna membayar segala aktivitas waktu luang yang tidak berhubungan dengan biaya pendidikan.

(22)

c. Bekerja sebagai cara hidup mandiri

Alasan ini dikemukakan oleh mahasiswa yang bekerja untuk mendapatkan kemandirian ekonomi dan tidak ingin bergantung pada penghasilan orangtua meskipun orangtua mampu membiayai perkuliahan.

d. Bekerja untuk mencari pengalaman

Alasan mahasiswa bekerja adalah untuk dapat merasakan secara langsung hal yang berhubungan dengan dunia kerja yang sesungguhnya. Dengan pengetahuan dan pengalaman langsung, mahasiswa akan lebih mudah memahami isi perkuliahan tersebut.

D. Hubungan antara Kecerdasan Adversitas dengan Kematangan Karir pada Mahasiswa Bekerja

Menurut Papalia (2003) mahasiswa termasuk dalam tahap pencapaian yaitu tahap dimana individu menggunakan pengetahuan yang dimiliki untuk mencapai kemandirian dan kompetensi, misalnya dalam hal karir. Tugas mahasiswa adalah menuntut ilmu setinggi-tingginya di perguruan tinggi guna mempersiapkan diri untuk memiliki karir yang mempunyai konsekuensi ekonomi dan finansial. Bentuk persiapan karir yang dapat dilakukan oleh mahasiswa adalah dengan bekerja sambilan (Rice, 2008).

Hawadi & Komandyahrini (2008) menyatakan bahwa salah satu keputusan penting yang harus dibuat oleh mahasiswa adalah memilih pekerjaan. Mahasiswa dapat memilih karir yang tepat dengan memiliki kematangan karir. Menurut Super (dalam Winkel & Hastuti, 2006) kematangan karir merupakan keberhasilan individu dalam menyelesaikan tugas-tugas perkembangan karir yang khas pada tahap perkembangan karir tertentu.

(23)

Super (dalam Syahrul & Jamaluddin, 2007) mengemukakan bahwa terdapat ciri-ciri individu dengan kematangan karir yang tinggi, yaitu memiliki pilihan karir yang relatif konsisten dan realistik, mandiri dalam melakukan pilihan karir dan memiliki sikap memilih karir yang positif. Sedangkan, ciri-ciri individu dengan kematangan karir yang rendah adalah pemikiran tentang karir yang relatif berubah dan tidak realistik, belum mandiri dalam mengambil keputusan karir, dan ragu dalam mengambil keputusan karir.

Penelitian yang dilakukan oleh Syahrul & Jamaluddin (2007) menemukan bahwa mahasiswa memiliki tingkat kematangan karir yang tinggi dan terdapat pengaruh efikasi diri, pengalaman, serta prestasi akademik terhadap kematangan karir mahasiswa. Penelitian ini juga menemukan bahwa untuk meningkatkan kematangan karir dapat dilakukan dengan meningkatkan efikasi diri, memperbanyak pengalaman, dan meningkatkan prestasi akademik.

Hal ini menunjukkan bahwa mahasiswa dengan efikasi diri yang tinggi lebih berhasil dalam menyelesaikan pekerjaan dan merencanakan masa depan daripada individu dengan efikasi yang rendah. Mahasiswa yang mempunyai pengalaman umumnya memperoleh wawasan dan keahlian dalam bidang tertentu. Mahasiswa dengan prestasi akademik yang tinggi memiliki aspirasi pekerjaan dan merencanakan jenjang pendidikan apa yang harus ditempuh. Sementara itu, mahasiswa dengan prestasi akademik rendah cenderung dipengaruhi orang lain, bingung, bahkan tidak memiliki aspirasi pekerjaan ataupun pendidikan lanjutan.

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Sumari, Louis dan Sin (2009) menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara pola interaksi keluarga dengan kepercayaan karir dan kematangan karir pada mahasiswa. Mahasiswa yang dibesarkan dalam keluarga yang sehat dan fungsional akan memiliki kepribadian yang baik dan gigih yang dapat mempengaruhi perkembangan karir. Hal ini dikarenakan mahasiswa dari keluarga yang sehat lebih fleksibel

(24)

dalam memilih karir dan tahu apa yang diinginkan dari karir tersebut. Pernyataan tersebut sejalan dengan Berk (dalam Dariyo, 2004) yang menyatakan bahwa orangtua ikut berperan dalam menentukan arah pemilihan karir mahasiswa, walaupun pada akhirnya keberhasilan selanjutnya sangat tergantung pada keprofesionalan mahasiswa tersebut saat menjalani karir.

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Patton dan Creed (2002) menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif antara kematangan karir dengan komitmen kerja. Hal ini menunjukkan bahwa individu dengan kematangan karir yang tinggi juga memiliki komitmen kerja yang tinggi.

Sebaliknya, siswa yang memiliki kematangan karir yang rendah juga memiliki komitmen kerja yang rendah. Individu yang telah merencanakan karir akan mencari informasi yang untuk menambah wawasan mengenai karir tersebut lalu mewujudkan dengan mengambil keputusan dan pada akhirnya individu tersebut akan memiliki komitmen kerja yang tinggi.

Mahasiswa yang kuliah sambil bekerja memiliki keinginan untuk menunjukkan bahwa dapat bertanggung jawab, mandiri, memperoleh pengalaman kerja dengan orang dewasa dan belajar menjadi pekerja yang baik (Monks, 2002). Pernyataan tersebut sesuai dengan hasil penelitian Singg (2005) menyatakan bahwa mahasiswa yang bekerja sambilan memiliki kematangan karir dan tanggung jawab yang tinggi.

Menurut Stoltz (2000) tanggung jawab termasuk dalam salah satu dimensi kecerdasan adversitas yaitu ownership yang merupakan pengakuan terhadap akibat-akibat yang ditimbulkan oleh kesulitan dan tanggung jawab, selain control, origin, reach dan endurance. Kecerdasan adversitas adalah kecerdasan menghadapi kesulitan dan kemampuan individu untuk bertahan dalam berbagai kesulitan hidup serta tantangan yang dihadapi.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Hasibuan (2003) mengenai gambaran adversity quotient pada mahasiswa bekerja menunjukkan bahwa mahasiswa yang kuliah sambil

(25)

bekerja memiliki kecerdasan adversitas yang tinggi. Dimensi kecerdasan adversitas yang tergolong tinggi pada mahasiswa yang kuliah sambil bekerja adalah origin dan ownership serta reach. Hal ini menunjukkan bahwa mahasiswa yang kuliah sambil bekerja mampu menempatkan rasa bersalah pada tempat yang tepat dan mampu memikul tanggung jawab ketika mengalami kesulitan. Sementara, dimensi control dan endurance pada mahasiswa yang kuliah sambil bekerja tergolong sedang. Hal ini menunjukkan bahwa mahasiswa yang kuliah sambil bekerja masih kurang mampu mengontrol situasi sulit dan kurang memiliki daya tahan saat menghadapi situasi sulit.

Ulfasari (2004) menemukan bahwa terdapat perbedaan kreativitas jika ditinjau dari tipe- tipe kecerdasan adversitas. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kreativitas tipe climbers lebih tinggi dari tipe campers dan quitters. Sehingga untuk menjadi kreatif dituntut adanya kemampuan untuk menghadapi serta mengatasi kesulitan pada diri individu. Individu yang tidak mampu untuk menghadapi serta mengatasi kesulitan tidak akan pernah mampu untuk menjadi kreatif. Individu yang kreatif tidak takut akan kegagalan, senang mencoba hal baru dan pantang menyerah yang mana merupakan ciri-ciri dari individu dengan kecerdasan adversitas tinggi.

Penelitian yang dilakukan Tarigan (2006) menunjukkan terdapat perbedaan kecerdasan adversitas jika ditinjau dari gaya kelekatan. Individu dengan gaya kelekatan aman memiliki kecerdasan adversitas yang tinggi daripada individu dengan gaya kelekatan cemas dan menghindar. Hal ini dikarenakan individu dengan gaya kelekatan aman cenderung mudah untuk beradaptasi dan berhubungan dengan orang lain. Individu dengan gaya kelekatan cemas memiliki keyakinan diri yang rendah dalam menghadapi masalah dan tergantung dengan orang lain.

Individu dengan gaya kelekatan menghindar cenderung sulit berhubungan dengan orang lain.

(26)

Berdasarkan penjelasan di atas maka peneliti berasumsi bahwa terdapat hubungan positif antara kecerdasan adversitas dengan kematangan karir pada mahasiswa bekerja.

E. Hipotesa

Hipotesa dari penelitian ini adalah terdapat hubungan positif antara kecerdasan adversitas dengan kematangan karir pada mahasiswa bekerja. Semakin tinggi kecerdasan adversitas maka semakin tinggi pula kematangan karir. Sebaliknya, semakin rendah kecerdasan adversitas maka semakin rendah pula kematangan karir.

Referensi

Dokumen terkait

Kesimpulan dari penelitian ini adalah, perlindungan hukum bagi perwakilan diplomatik di wilayah perang telah diatur oleh hukum internasional khususnya dalam Konvensi Wina 1961

evaluasi yang ada menentukan tindakan keperawatan berikutnya , setelah di lakukan evaluasi pada hari pertama perkembangan status sakit klien makan akan di lanjutkan

6.5.1 Pengurusan perniagaan merupakan salah satu faktor yang menyumbang kepada kejayaan sesebuah perniagaan. Pengurusan yang sistematik dan dinamik dapat memastikan

Berdasarkan analisis bioarkeologi pada rangka manusia dari Situs Caruban menunjukkan bahwa terdapat tiga individu dengan Rangka I memiliki jenis kelamin perempuan

Dukungan informasi seperti diskusi-diskusi dan pemberian saran atau nasihat yang mungkin dapat membantu dalam memecahkan masalah dalam pengambilan keputusan siswa

Kematangan vokasional adalah kematangan karir kemampuan siswa dalam memilih, memasuki, tahap pendidikan yang dicapai yaitu: kesesuaian antar individu dengan

judul : Resiko Kejang Berulang Pada An .D dengan Kejang Demam di Ruang.. Kanthil RSUD Banyumas adalah hasil karya sendiri dan bukan

Probabilitas terbesar seseorang untuk memilih dan membeli ponsel merek China adalah 86.07% yaitu mahasiswa berusia lebih dari 20 tahun dan menganggap faktor nama