• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "HASIL DAN PEMBAHASAN"

Copied!
37
0
0

Teks penuh

(1)

HASIL DAN PEMBAHASAN

Karakteristik Lahan DAS Ketahun Hulu

Das Ketahun Hulu seluas 115.998 hektar terdiri beberapa jenis penggunaan lahan yaitu kebun campuran, hutan primer, hutan sekunder, rawa dan sawah. Penggunaan lahan hutan primer dan kebun campuran mendominasi dengan luas 52.524 hektar (45,28%) dan 50.987 hektar (43,95%). Penggunaan lahan hutan sekunder seluas 8.260 hektar (7,12%) dan rawa 155 hektar (3,51%). Penggunaan lahan sawah tersebar pada lahan yang relatif datar seluas 4.072 hektar (3,51%).

Jenis tanah di DAS Ketahun Hulu terdiri dari 4 macam yaitu Dystropepts, Humitropepts, Paleudults dan Tropudults. Jenis tanah Dystropepts mendominasi tanah yang ada di DAS Ketahun Hulu seluas 98.979 hektar (85,35%). Jenis tanah Humitropepts seluas 9.348 hektar (8,06%), Paleudults 1.476 hektar (1,27%) dan Tropudults 6.185 hektar (5,33%).

Kelas lereng DAS Ketahun Hulu dikelompokkan menjadi 5 kategori yaitu kelas lereng 0% – 8% seluas 9.152 hektar (7,89%), kelas lereng 8% - 15% seluas 32.488 hektar (28%), kelas lereng 15% - 30% seluas 54.110 hektar (46,64%), kelas lereng 30% - 45% seluas 18.582 hektar (16,01%) dan kelas lereng > 45% seluas 1.665 hektar (1,43%).

Berdasarkan overlay peta penggunaan lahan, kelas lereng dan jenis tanah (Lampiran 1, 2 dan 3) DAS Ketahun Hulu terdiri dari 388 satuan lahan. Satuan-satuan lahan ini menggambarkan karakteristik lahan yang seragam sesuai dengan penggunaan lahan, jenis tanah dan kelas lereng pada setiap satuan lahan. Satuan-satuan lahan DAS Ketahun Hulu dapat di lihat pada Lampiran 5 dan Gambar 8.

Karakteristik Satuan Lahan Pengamatan Intensif

Satuan lahan pengamatan intensif dipilih dari peta satuan lahan DAS Ketahun Hulu sebanyak 18 satuan lahan yang terdapat pada salah satu sub DAS seluas 14.844 hektar (Tabel 9 dan Gambar 8). Kriteria yang dilakukan dalam pemilihan satuan lahan intensif ini adalah bahwa sub DAS tersebut karakteristik satuan lahannya dapat mewakili karakteristik lahan (penggunaan lahan, kelas lereng dan jenis tanah) dominan yang ada di DAS Ketahun Hulu .

(2)

Tabel 9. Karakteristik Satuan Lahan Pengamatan Intensif DAS Ketahun Hulu SL Penggunaan Lahan Jenis Tanah Kelas Lereng Luas (Ha)

61 Kebun campuran Dystropepts 15%-30% 1.922

79 Sawah Tropudults 0%-8% 2.225

81 Kebun campuran Tropudults 0%-8% 593

152 Kebun campuran Dystropepts 8%-15% 2.335

154 Kebun campuran Paleudults 15%-30% 711

157 Kebun campuran Tropudults 15%-30% 231

173 Kebun campuran Humitropepts 15%-30% 2.020

174 Kebun campuran Dystropepts 0%-8% 1.164

183 Hutan primer Humitropepts 15%-30% 1.823 186 Kebun campuran Humitropepts 15%-30% 124

197 Kebun campuran Humitropepts 8%-15% 31

203 Kebun campuran Dystropepts 15%-30% 101

213 Kebun campuran Humitropepts 8%-15% 392

234 Kebun campuran Humitropepts 30%-45% 256

236 Hutan primer Humitropepts 30%-45% 474

247 Kebun campuran Dystropepts 30%-45% 93

249 Kebun campuran Humitropepts 15%-30% 276

250 Kebun campuran Dystropepts 15%-30% 74

Jumlah 14.844

Penggunaan lahan kebun campuran mendominasi satuan lahan pengamatan intensif dengan 15 satuan lahan yang memiliki karakteristik yang berbeda-beda dalam hal kelas lereng dan jenis tanah. Jenis penggunaan lahan hutan primer sebanyak 2 satuan lahan adalah hutan yang belum terganggu oleh aktifitas manusia. Jenis penggunaan lahan sawah sebanyak 1 satuan lahan pengamatan intesif.

Jenis tanah pada satuan lahan pengamatan intensif terdiri dari 4 jenis tanah yaitu : Dystropepts, Humitropepts, Paleudults dan Tropudults. Jenis tanah Dystropepts ini terdapat pada 7 satuan lahan pengamatan intensif. Sedangkan jenis tanah Humitropepts pada 8 satuan lahan, Paleudults pada 1 satuan lahan dan Tropudults pada 3 satuan lahan.

Kelas lereng yang ada di satuan lahan pengamatan intensif terdiri dari 4 kelas lereng yaitu 0 – 8 %, 8 – 15 %, 15 – 30 % dan 30 – 45 %. Satuan lahan pengamatan intensif dengan kelas lereng 0 – 8 % sebanyak 3 satuan lahan, kelas lereng 8 – 15 % sebanyak 3 satuan lahan, kelas lereng 15 – 30 % sebanyak 9 satuan lahan dan kelas lereng 30 – 45 % sebanyak 3 satuan lahan.

(3)
(4)

Identifikasi Penggunaan Lahan

Penggunaan lahan di satuan lahan pengamatan intensif secara umum terdiri dari 3 jenis yaitu kebun campuran, sawah dan hutan primer (Tabel 10). Penggunaan lahan dominan yang terdapat di satuan lahan pengamatan intensif adalah kebun campuran sebanyak 15 satuan lahan dengan luas 10.321 hektar (69,53%), diikuti oleh hutan primer sebanyak 2 satuan lahan dengan luas 2.298 hektar (15,48%) dan sawah sebanyak 1 satuan lahan dengan luas 2.225 hektar (14,99 %).

Tabel 10. Luas Penggunaan Lahan Satuan Lahan Pengamatan Intensif DAS Ketahun Hulu

No Penggunaan Lahan Satuan Lahan Luas (Ha) % 1 Kebun campuran 61, 81, 152, 154, 157, 173, 174, 186, 197, 203, 213, 234, 247, 249 dan 250 10.321 69,53 2 Sawah 79 2.225 14,9 9

3 Hutan Primer 183 dan 236 2.298 15,48

Jumlah 14.844 100,00

Sumber : BPDAS Ketahun 2007

Penggunaan lahan kebun campuran didominasi oleh kebun kopi dengan campuran tanaman lainnya. Jenis penggunaan lahan sawah adalah padi sawah yang ditanam sebanyak 1 (satu) kali dalam setahun. Jenis penggunaan lahan hutan adalah hutan alam dengan jenis tanaman beragam seperti meranti, kruing, dan pohon-pohonan lainnya. Permukaan tanah ditutup tanaman bawah dan serasah. Strata tajuk beragam dari tingkat semai, pancang, tiang dan pohon. Umumnya tutupan lahan ini terdapat pada lahan dengan kemiringan yang tinggi.

Tabel 11. Jenis Penutupan Lahan Dan Tanaman Satuan Lahan Pengamatan Intensif DAS Ketahun Hulu

No Penggunaan Lahan

Jenis Penutupan Lahan

Jenis Tanaman Luas

(Ha) 1 Kebun

campuran

Tanaman tahunan

Kopi robusta, sengon, gamal, karet, durian, kemiri, kayu bawang pinang, nangka, pisang dan nilam

10.321

2 Sawah Sawah Padi 2.225

3 Hutan Primer

Hutan alam Pohon dengan strata tajuk lengkap, tanaman bawah rapat dan serasah banyak

2.298

14.844 Sumber : Diolah dari pengamatan lapangan

(5)

Berdasarkan pengamatan dilapangan penggunaan lahan kebun campuran pada satuan lahan pengamatan intensif didominasi kebun campuran kopi robusta yang ditumpangsarikan dengan tanaman lain yang dimaksudkan sebagai naungan tanaman kopi. Beberapa jenis tanaman yang dijadikan sebagai campuran tanaman kopi antara lain adalah sengon (Paraserianthes sp), gamal (Gliricidia sepium), karet (Hevea brasiliensis), durian (Durio zibethinus), kemiri (Aleurites mulucana), kayu bawang (Azadirachta excelsa), pinang (Areca Catechu), nangka(Artocarpus heterophyllus) dan nilam (Pogostemon cablin).

Penggunaan Lahan Kebun Campuran

Penggunaan lahan kebun campuran di satuan lahan pengamatan intensif DAS Ketahun Hulu ternyata seluruhnya berbasis kopi robusta. Sebagian besar dari kebun kopi tersebut menyertakan tanaman-tanaman lain dengan luas lahan usahatani yang diusahakan rata-rata seluas 1,5 hektar. Tanaman campuran ini dimaksudkan sebagai naungan tanaman kopi dan untuk mendapatkan tambahan penghasilan selain dari kopi. Berdasarkan pengalaman petani dari hasil wawancara, kopi dapat tumbuh dengan baik jika diberi tanaman naungan.

Tipe usahatani yang dilakukan oleh petani setempat di satuan lahan pengamatan intensif terdiri dari 6 tipe yaitu : Monokultur kopi (UT1), Kopi dan sengon (UT2), Kopi dan tanaman kayu-kayuan (UT3), Kopi dan tanaman buah-buahan (UT4), Kopi, karet dan nilam (UT5), Kopi, pinang dan kemiri (UT6). Karakteristik penggunaan lahan kebun campuran di satuan lahan pengamatan intensif DAS Ketahun Hulu dapat dilihat pada Tabel 12 dan Lampiran 11.

Tabel 12. Karakteristik Penggunaan Lahan Kebun Campuran Satuan Lahan Pengamatan Intensif DAS Ketahun Hulu.

Kode. Tipe Usahatani Populasi/ha Satuan Lahan Luas (Ha) % UT1 Monokultur kopi 1600 kopi 81 593 5,74 UT2 Kopi dan sengon 1600 kopi dan sengon 25

batang

152, 174, 203 dan 234

3.855 37,35 UT3 Kopi dan tanaman

kayu-kayuan

1600 kopi, 25 gamal, 20 kayu bawang dan sisa-sisa tanaman hutan.

61, 157, 173, 197 dan 247

4.296 41,63

UT4 Kopi dan tanaman buah-buahan

1600 kopi, 25 durian, 10 nangka dan 10 pisang

213 392 3,80 UT5 Kopi, Karet dan

Nilam

1600 kopi, 100 karet dan nilam (30% lahan)

154, 186 835 8.09 UT6 Kopi, pinang dan

kemiri

1600 kopi, 80 pinang dan 25 kemiri

(6)

Jumlah 10.321 100,00

Monokultur kopi (UT1)

Tipe usahatani monokultur kopi adalah pola usahatani kopi dengan jarak tanam 2,5 x 2,5 m. Usahatani kopi monokultur dilakukan tanpa menyertakan tanaman lain, hanya terlihat beberapa batang gamal yang baru ditanam. Penyiangan dilakukan secara teratur hingga permukaan tanah relatif terbuka, hanya ditutupi sedikit rumput-rumput pendek dan daun-daun kopi yang gugur. Tipe usahatani ini disertai tindakan pemupukan dan pemberantasan hama penyakit tanaman seperlunya. Pola usahatani ini umumnya dilakukan pada lahan-lahan dengan kemiringan yang relatif datar dan dekat dengan pemukiman penduduk. Tipe usahatani kopi monokultur ini memiliki nilai faktor C sebesar 0,2 sesuai dengan nilai faktor C kopi yang sudah ada (Lampiran 7).

Kopi dan sengon (UT2)

Tipe usaha tani kopi dan sengon adalah pola usahatani kopi dengan jarak tanam 2,5 x 2,5 m dengan jumlah tanaman 1600 batang/hektar. Pola usahatani ini menyertakan sengon sebagai tanaman naungan kopi. Sengon ditanam dengan jarak tanam 20 x 20 m atau 25 batang/hektar. Terlihat beberapa batang gamal yang ditanam diantara kopi dan sengon. Penyiangan dilakukan secara teratur hingga permukaan tanah relatif terbuka, hanya ditutupi sedikit rumput-rumput pendek dan daun-daun kopi yang gugur. Tipe usahatani ini tidak disertai tindakan pemupukan dan pemberantasan hama dan penyakit tanaman. Tipe usahatani kopi dan sengon ini memiliki nilai faktor C sebesar 0,15 yaitu nilai C yang berada diantara nilai C kebun campuran dengan kerapatan tinggi dan nilai C kopi yang sudah ada (Lampiran 7).

Kopi dan Tanaman Kayu-kayuan (UT3)

Tipe usahatani kopi dan tanaman kayu-kayuan adalah pola usahatani kopi dengan jarak tanam 2,5 x 2,5 m dengan jumlah tanaman 1600 batang/hektar. Pola usahatani ini menyertakan tanaman kayu-kayuan sebagai campuran kopi yaitu gamal dan kayu bawang. Gamal ditanam disela-sela tanaman kopi dengan jarak tanam tidak teratur sejumlah 25 batang/hektar. Kayu bawang ditanam dipinggir-pinggiran kebun sejumlah 20 batang/hektar. Tanaman kayu bawang ini dapat memberikan penghasilan tambahan bagi petani apabila sudah mencapai masa

(7)

panennya. Selain tanaman gamal dan kayu bawang terdapat beberapa batang kayu-kayuan sisa tumbuhan hutan tersebar tidak merata yang dibiarkan tetap tumbuh oleh petani. Kerapatan tanaman pada tipe usahatani ini cukup tinggi, secara visual dari kejauhan terlihat seperti hutan muda. Tipe usahatani ini tidak disertai tindakan pemupukan dan pemberantasan hama penyakit tanaman. Kondisi permukaan tanah tertutup rumput, semak dan serasah sisa daun-daunan yang gugur. Tipe usahatani kopi dan tanaman kayu-kayuan ini memiliki kerapatan tanaman yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan kopi monokultur sehingga nilai faktor C sebesar 0,1 sesuai dengan nilai faktor C kebun campuran dengan kerapatan tinggi yang sudah ada (Lampiran 7).

Kopi dan Tanaman Buah-buahan (UT4)

Tipe usahatani kopi dan tanaman buah-buahan adalah pola usahatani kopi dengan jarak tanam 2,5 x 2,5 m dengan jumlah tanaman 1600 batang/hektar. Durian ditanam disela-sela tanaman kopi dengan jarak tanam 20 x 20 m atau 25 batang/hektar. Selain tanaman durian petani juga menanam tanaman lain yaitu nangka dan pisang di pinggiran kebun sebagai tanda batas kebun masing-masing sejumlah 10 batang/hektar. Durian, nangka dan pisang ini dapat memberikan penghasilan tambahan petani dari hasil panennya. Penyiangan dilakukan secara teratur hingga permukaan tanah relatif terbuka, hanya ditutupi sedikit rumput-rumput pendek dan daun-daun kopi yang gugur. Tipe usahatani ini tidak disertai tindakan pemupukan dan pemberantasan hama penyakit tanaman. Tipe usahatani kopi dan tanaman buah-buahan ini memiliki nilai faktor C sebesar 0,1 sesuai dengan nilai faktor C kebun campuran dengan kerapatan tinggi (Lampiran 7). Kopi, karet dan nilam (UT5)

Tipe usahatani kopi, karet dan nilam adalah pola usahatani kopi dengan jarak tanam 2,5 x 2,5 m dengan jumlah tanaman 1600 batang/hektar. Pola usahatani ini menyertakan tanaman karet sebagai naungan kopi. Karet ditanam disela-sela tanaman kopi dengan jarak tanam 10 x 10 m atau 100 batang/hektar. Selain tanaman karet petani juga menanam tanaman lain yaitu nilam yang ditanam disela-sela tanaman kopi. Nilam ditanam seluas 30% lahan. Karet dan nilam ini dapat memberikan penghasilan tambahan petani dari hasil panennya. Penyiangan dilakukan secara teratur hingga permukaan tanah relatif terbuka, hanya ditutupi

(8)

sedikit rumput-rumput pendek dan daun-daun kopi yang gugur. Tipe usahatani ini tidak disertai tindakan pemupukan dan pemberantasan hama penyakit tanaman. Tipe usahatani kopi, karet dan nilam ini memiliki nilai faktor C sebesar 0,1 yaitu nilai C kebun campuran dengan kerapatan tinggi yang sudah ada (Lampiran 7). Kopi, pinang dan kemiri (UT6)

Tipe usahatani kopi, pinang dan kemiri adalah pola usahatani kopi dengan jarak tanam 2,5 x 2,5 m dengan jumlah tanaman 1600 batang/hektar. Pola usahatani ini menyertakan tanaman kemiri sebagai naungan kopi. Kemiri ditanam disela-sela tanaman kopi dengan jarak tanam tidak teratur sejumlah 25 batang/hektar. Pinang ditanam dipinggir-pinggir kebun sebagai tanaman pembatas kebun dengan jumlah tanaman 80 batang/hektar. Tanaman kemiri dan pinang ini dapat memberikan penghasilan tambahan petani dari hasil panennya. Kondisi permukaan tanah tertutup rumput dan serasah sisa daun-daunan yang gugur. Tipe usahatani ini tidak disertai tindakan pemupukan dan pemberantasan hama penyakit tanaman. Tipe usahatani kopi pinang dan kemiri ini memiliki nilai faktor C sebesar 0,1 sesuai dengan nilai faktor C kebun campuran dengan kerapatan tinggi yang sudah ada (Lampiran 7).

Evaluasi Kemampuan Lahan

Evaluasi kemapuan lahan di DAS Ketahun Hulu dilakukan pada satuan lahan pengamatan intensif yang telah ditentukan sebelumnya dan mewakili DAS Ketahun Hulu secara keseluruhan. Pengumpulan data-data yang digunakan untuk melakukan penilaian kemampuan lahan dilakukan dengan pengamatan, pengukuran, analisa sampel tanah dan wawancara dilapangan.

Berdasarkan hasil yang diperoleh kelas kemampuan lahan pada satuan lahan pengamatan intensif DAS Ketahun Hulu didominasi oleh kelas kemampuan lahan IV, kemudian diikuti oleh kelas kemampuan lahan III, VI, II, dan I. Beberapa faktor penghambat yang terdapat di satuan lahan pengamatan intensif ini antara lain adalah : lereng (l) dan erosi (e). Hasil evaluasi kemampuan lahan pada satuan lahan pengamatan intensif di DAS Ketahun Hulu dapat dilihat pada Tabel 13 dan Lampiran 10.

Secara umum penggunaan lahan yang diterapkan oleh masyarakat setempat pada satuan lahan pengamatan intensif telah sesuai dengan kemampuan lahannya

(9)

kecuali 2 satuan lahan yang tidak sesuai yaitu pada satuan lahan 234 dan 247. Satuan lahan ini mempunyai kelas kemampuan lahan VI dengan faktor penghambat kemiringan lereng. Lereng pada satuan lahan ini di kategorikan agak curam atau bergunung dengan kelas lereng 30 – 45% sehingga akan sangat menyulitkan untuk dilakukan usaha pertanian dan tingkat degradasi lahan disebabkan oleh ancaman erosi yang dipicu oleh lereng tersebut yang sangat tinggi. Penggunaan lahan pada satuan lahan dengan kemampuan lahan VI ini disarankan untuk penggunaan lahan selain pertanian seperti hutan lindung, hutan produksi, cagar alam atau padang penggembalaan.

Tabel 13. Hasil Evaluasi Kemampuan Lahan Satuan Lahan Pengamatan Intesif DAS Ketahun Hulu

SL Penggunaan Kelas Faktor Kesesuaian

Lahan Kemampuan Pembatas Penggunaan

Lahan Lahan

61 Kebun campuran IV Lereng 15 – 30% Sesuai

79 Sawah I Tidak ada Sesuai

81 Kebun campuran II Lereng 3 – 8% dan erosi ringan

Sesuai

152 Kebun campuran III Lereng 8 – 15 % dan erosi sedang

Sesuai

154 Kebun campuran IV Lereng 15 – 30% Sesuai 157 Kebun campuran IV Lereng 15 – 30% Sesuai 173 Kebun campuran IV Lereng 15 – 30% Sesuai 174 Kebun campuran II Lereng 3 – 8% dan

erosi ringan Sesuai 183 Hutan primer IV Lereng 15 – 30% Sesuai 186 Kebun campuran IV Lereng 15 – 30 Sesuai 197 Kebun campuran III Lereng 8 – 15 % dan

erosi sedang

Sesuai

203 Kebun campuran IV Lereng 15 – 30% Sesuai 213 Kebun campuran III Lereng 8 – 15 % dan

erosi sedang

Sesuai

234 Kebun campuran VI Lereng 30 – 45% Tidak Sesuai 236 Hutan primer VI Lereng 30 – 45% Sesuai 247 Kebun campuran VI Lereng 30 – 45% Tidak Sesuai 249 Kebun campuran IV Lereng 15 - 30% Sesuai 250 Kebun campuran IV Lereng 15 - 30% Sesuai

Lahan dengan kelas kemampuan II pada satuan lahan 81 dan 174 telah sesuai dengan penggunaan lahannya yaitu kebun campuran. Faktor penghambat pada satuan lahan ini adalah lereng 3 – 8 % dan erosi ringan. Lahan kelas kemampuan II membutuhkan tindakan pengawetan tanah tingkat sedang.

Kelas kemampuan lahan III di satuan lahan pengamatan intensif sebanyak 3 satuan lahan yaitu pada satuan lahan 152, 197 dan 213. Faktor penghambat utama

(10)

adalah kemiringan lereng 8 – 15 % dan erosi sedang. Penggunaan lahan yang diterapkan oleh masyarakat pada satuan lahan ini telah sesuai dengan kemampuannya yaitu kebun campuran. Akan tetapi penggunaan lahan pada kelas kemampuan lahan III dengan faktor penghambat lereng dan erosi memerlukan tindakan-tindakan konservasi tanah dan air yang baik agar pertanian dapat lestari.

Kelas kemampuan lahan IV terdapat pada 9 satuan lahan yaitu : satuan lahan 61, 154, 157, 173, 183, 186, 203, 249 dan 250 dengan faktor penghambat lereng 15 – 30% dan erosi agak berat pada satuan lahan 186. Lahan dengan kelas kemampuan lahan IV jika digunakan untuk tanaman pertanian memerlukan pengelolaan yang lebih hati-hati dan tindakan konservasi tanah yang lebih sulit disamping tindakan untuk memelihara kesuburan dan kondisi fisik tanah. Penggunaan lahan oleh masyarakat setempat pada satuan lahan ini sebagai kebun campuran masih dikategorikan sesuai dengan kemampuan lahannya.

Kelas kemapuan lahan VI terdapat pada 3 satuan yaitu satuan 234, 236 dan 247 dengan faktor pembatas kemiringan lereng 30 – 45%. Faktor penghambat yang sangat berat menyebabkan lahan dengan kelas kemapuan VI ini tidak sesuai untuk penggunaan pertanian. Penggunaannya terbatas untuk tanaman rumput atau padang penggembalaan, hutan produksi, hutan lindung dan cagar alam. Penggunaan lahan yang dilakukan pada satuan lahan pengamatan intensif 234 dan 247 tidak sesuai dengan kelas kemampuan lahannya sehingga diperlukan perubahan penggunaan lahan. Penggunaan lahan yang terbaik pada satuan lahan tersebut adalah hutan. Sedangkan penggunaan lahan hutan pada satuan lahan 236 telah sesuai dengan kemampuan lahannya.

Evaluasi Pola Tanam dan Agroteknologi Aktual

Penerapan pola tanam dan agroteknologi yang dilakukan oleh petani dalam mengelola lahan usahatani berbasis kopi di satuan lahan pengamatan intensif masih sangat sederhana karena umumnya belum menerapkan tindakan-tindakan konservasi tanah yang diperlukan dan pemupukan yang sesuai dengan standar yang telah ditetapkan sehingga memicu terjadinya erosi yang lebih besar dari erosi yang dapat ditoleransikan dan produktifitas kopi yang rendah.

Salah satu indikator sistem pertanian yang berkelanjutan adalah erosi yang terjadi harus lebih kecil atau sama dengan erosi yang dapat ditoleransikan. Untuk

(11)

itu dalam penelitian ini dilakukan prediksi erosi dengan menggunakan suatu model parametrik untuk memprediksi erosi yang dikembangkan oleh Wischmeier dan Smith yang dikenal dengan nama USLE (Universal Soil Loss Equation).

Berdasarkan hasil prediksi yang dilakukan, prediksi erosi pada pola tanam dan agroteknologi aktual di satuan lahan pengamatan intensif umumnya lebih besar dari erosi yang dapat ditoleransi berkisar antara 2,47 – 683,18 ton/hektar/tahun (Tabel 14). Erosi yang tinggi rata-rata terdapat pada satuan lahan dengan penggunaan lahan usahatani berbasis kopi. Selain faktor erosivitas hujan yang tinggi, kepekaan tanah dan lereng semakin memicu terjadinya erosi. Pengelolaan lahan tanpa tindakan konservasi tanah menyebabkan laju terjadinya erosi semakin besar karena tidak adanya upaya untuk mengurangi terjadinya erosi. Tabel 14. Prediksi Erosi dan ETol Pola Tanam dan Agroteknologi Aktual

Satuan Lahan Pengamatan Intensif DAS Ketahun Hulu.

SL Tipe R K LS C P Prediksi ETol Usahatani Erosi (ton/ha/thn (ton/ha/thn) 61 UT3 2048,85 0,153 6,75 0,1 1 211,32 13,45** 79 Sawah 2048,85 0,137 0,88 0,01 1 2,47 31,10** 81 UT1 2048,85 0,071 2,44 0,2 1 71,33 13,45** 152 UT2 2048,85 0,222 3,61 0,15 1 245,98 13,45** 154 UT5 2048,85 0,191 5,51 0,1 1 215,15 13,45** 157 UT3 2048,85 0,408 5,29 0,1 1 442,60 22,18** 173 UT3 2048,85 0,281 6,25 0,1 1 359,83 18,70** 174 UT2 2048,85 0,289 1,89 0,15 1 167,81 21,24** 183 Hutan 2048,85 0,435 6,22 0,001 1 5,54 36,38** 186 UT5 2048,85 0,361 4,77 0,1 1 352,69 17,92** 197 UT3 2048,85 0,098 3,05 0,1 1 61,24 13,45** 203 UT2 2048,85 0,415 3,23 0,15 1 412,39 20,52** 213 UT4 2048,85 0,411 3,86 0,1 1 325,14 15,96** 234 UT2 2048,85 0,204 10,92 0,15 1 683,18 22,80** 236 Hutan 2048,85 0,123 11,10 0,001 1 2,80 27,30** 247 UT3 2048,85 0,152 12,73 0,1 1 396,89 21,12** 249 UT6 2048,85 0,150 5,84 0,1 1 179,13 13,45** 250 UT6 2048,85 0,190 8,71 0,1 1 338,26 18,18** Keterangan :

UT1 : Monokultur kopi, UT2 : Kopi dan sengon (1600 kopi dan 25 sengon), UT3 : Kopi dan tanaman kayu-kayuan (1600 kopi, 25 gamal dan 20 kayu bawang dan sisa tanaman hutan), UT4 : Kopi dan tanaman buah-buahan (1600 kopi, 25 durian, 10 nangka dan 10 pisang), UT5 : Kopi, Karet dan Nilam (1600 kopi, 100 karet dan nilam 30% lahan), UT6 : Kopi, pinang dan kemiri (1600 kopi, 80 pinang dan 25 kemiri).

* ditentukan dengan menggunakan metoda Hammer ** ditentukan dengan menggunakan metoda Tompson

Secara umum hasil prediksi erosi ini berada diatas erosi yang dapat ditoleransi (ETol) kecuali satuan lahan 79, 183 dan 236 dengan penggunaan lahan sawah dan hutan primer. ETol setiap satuan lahan pengamatan intensif bervariasi

(12)

antara 13,45 – 36,38 ton/hektar/tahun. Perbedaan ETol setiap satuan lahan tersebut disebabkan oleh perbedaan jenis tanah, kedalaman tanah, kedalaman minimum perakaran dan bobot isi. Kedalam tanah di satuan lahan pengamatan intensif DAS Ketahun Hulu berkisar antara 80 – 150 cm dengan faktor kedalaman berkisar antara 0,80 – 1. Kedalaman tanah minimum untuk tanaman menggunakan kedalaman tanah minimum yang dibutuhkan untuk tanaman campuran kopi yaitu kayu-kayuan seperti sengon, gamal, kayu bawang dan tanaman buah-buahan sedalam 90 cm. Dengan menggunakan nilai kedalaman tanah minimum tanaman kayu-kayuan ini maka tanaman kopi sebagai tanaman pokok tetap dapat tumbuh dengan baik karena kedalaman tanah minimum yang dibutuhkannya lebih dangkal yaitu 50 cm. Bobot isi tanah yang bervariasi antara 0,82 – 1,18 gr/cm3

Prediksi erosi pada tutupan lahan hutan pada satuan lahan 183 dan 236 lebih kecil dari ETol. Tutupan vegetasi hutan primer dengan kerapatan yang tinggi,

sehingga memberikan pengaruh terhadap bervariasinya nilai ETol. Hasil analisis nilai ETol pada satuan lahan pengamatan intensif DAS Ketahun Hulu dapat dilihat pada Lampiran 18.

Erosi yang dapat ditoleransi untuk lahan-lahan yang memiliki kedalaman tanah yang lebih rendah dari kedalaman tanah minimum ditentukan dengan menggunakan metoda Tompson yaitu erosi yang dapat ditoleransikan untuk tanah yang dalam sebesar 13,45 ton/hektar/tahun.

Prediksi erosi yang tertinggi pada satuan lahan 234 sebesar 683,18 ton/hektar/tahun sementara ETolnya hanya 22,80 ton/hektar/tahun. Satuan lahan lain pada kebun campuran kopi menunjukkan erosi yang melebihi ETol antara lain pada satuan lahan 61, 81, 152, 154, 157, 173, 174, 197, 203, 213, 234, 247, 249 dan 250. Erosi yang lebih tinggi dari ETol ini disebabkan nilai erosivitas hujan, erodibilitas tanah dan lereng yang cukup tinggi serta agroteknologi yang belum menerapkan tindakan konservasi tanah yang baik.

Prediksi erosi pada lahan sawah dan hutan menunjukkan erosi lebih kecil ETol. Hal ini disebabkan sawah umumnya terdapat pada lahan yang relatif datar dan tutupan tanah pada sawah yang rapat dan tergenang air dapat mengurangi erosi yang terjadi. Berdasarkan hasil prediksi, sawah pada satuan lahan 79 mempunyai erosi 2,47 ton/hektar/tahun dengan ETol 31,10 ton/hektar/tahun.

(13)

strata tajuk yang lengkap dari tingkat pohon, tiang, pancang dan semai. Tanaman bawah yang rapat dan serasah sisa tanaman yang jatuh dan menutupi tanah banyak sehingga dapat mengurangi erosi. Walaupun erosivitas hujan, erodibilitas tanah dan faktor lereng tinggi pada penggunaan lahan hutan ini, prediksi erosi tetap rendah karena dapat dikurangi dengan tutupan vegetasi yang rapat tersebut.

Curah hujan sebagai salah satu faktor penyebab erosi memegang peranan yang sangat besar dalam hal pelepasan butir-butir tanah dan sekaligus membawa butiran-butiran tersebut ketempat yang lebih rendah sebagaimana yang terjadi di DAS Ketahun Hulu. Curah hujan di DAS Ketahun Hulu tergolong tinggi dengan rata-rata curah hujan bulanan minimum 102 mm dan curah hujan bulanan maksimum 351 mm. Curah hujan rata-rata tahunan di wilayah ini adalah 2.834 mm (Lampiran 12).

Selain curah hujan, jumlah hari hujan juga memberikan pengaruh terhadap besarnya nilai erosivitas hujan. Jumlah hari hujan di DAS Ketahun hulu berkisar antara 10 – 21 hari (Lampiran 13). Arsyad (2006) menyebutkan bahwa suatu sifat hujan yang sangat penting dalam mempengaruhi erosi adalah energi kinetik hujan tersebut, oleh karena merupakan penyebab pokok dalam penghancuran agregat-agregat tanah. Berdasarkan data dari stasiun pengamat curah hujan stasiun BPP Tes, nilai erosivitas hujan (nilai R) yang dihitungkan menggunakan metoda Bols di DAS Ketahun Hulu adalah 2048,85. Analisis nilai R dapat dilihat pada Lampiran 14. Nilai R yang cukup tinggi tersebut mengindikasikan bahwa curah hujan di DAS Ketahun Hulu berpotensi menyebabkan erosi yang tinggi.

Berbagai tipe tanah mempunyai kepekaan erosi yang berbeda-beda. Arsyad (2006) mendefinisikan kepekaan erosi tanah yaitu mudah atau tidaknya tanah tererosi adalah fungsi berbagai interaksi sifat-sifat fisik dan kimia tanah. Sifat-sifat fisik dan kimia tanah yang mempengaruhi erosi adalah (1) Sifat-Sifat-sifat tanah yang mempengaruhi infiltrasi, permeabilitas dan kapasitas menahan air, dan (2) sifat-sifat tanah yang mempengaruhi ketahanan struktur tanah terhadap dispersi dan penghancuran agregat oleh tumbukan butir-butir hujan dan aliran permukaan.

Nilai K pada satuan lahan pengamatan intensif dihitung berdasarkan contoh tanah yang diambil pada saat melakukan survey lapangan. Contoh tanah ini kemudian dianalisis di Laboratorium Departemen Ilmu Tanah dan Sumber Daya

(14)

Lahan Institut Pertanian Bogor. Beberapa parameter yang dianalisis untuk menentukan nilai K adalah tekstur tanah, kelas struktur dan kelas permeabilitas tanah. Nilai K pada satuan lahan pengamatan intensif berkisar antara 0,071 – 0,435. Sifat fisik tanah dan analisis nilai K pada satuan lahan pengamatan intensif dapat dilihat pada Lampiran 15 dan 16.

Nilai LS ditentukan oleh faktor kemiringan lereng dan panjang lereng. Kemiringan lereng pada satuan lahan pengamatan intensif bervariasi dari datar sampai dengan sangat curam. Semakin besar persen kemiringan lereng dan panjang lereng pada suatu wilayah nilai LS akan semakin besar yang berarti potensi erosi akan semakin besar. Kemiringan lereng, panjang lereng dan analisis nilai LS di satuan lahan pengamatan intesif dapat dilihat pada Lampiran 17.

Kegiatan pengelolaan tanah secara terus-menerus tanpa tindakan-tindakan yang diperlukan untuk menjaga kondisi tanah tersebut tetap produktif menyebabkan tanah semakin hari akan semakin terdegradasi. Nilai tindakan konservasi tanah atau nilai P ditentukan dengan melihat tindakan konservasi tanah yang sudah dilakukan kemudian membandingkannya dengan hasil penelitian nilai P yang telah ada (Lampiran 8). Berdasarkan pengamatan yang dilakukan penggunaan lahan usahatani berbasis tanaman kopi di lokasi pengamatan intensif belum menerapkan tindakan konservasi tanah. Pengelolaan lahan masih dilakukan dengan cara yang tradisional dan tanpa pemupukan. Demikian juga pada penggunaan lahan yang lain sehingga nilai P umumnya adalah 1 atau tanpa tindakan konservasi tanah.

Hasil analisa prediksi erosi menunjukkan bahwa umumnya pola tanam dan agroteknologi aktual setiap tipe usahatani yang masih sangat sederhana dan belum menerapkan tindakan-tindakan konservasi tanah dan air yang baik dapat memicu terjadinya erosi yang lebih besar dari erosi yang dapat ditoleransi. Upaya-upaya untuk mengendalikan erosi harus segera dilakukan dengan menerapkan tindakan-tindakan konservasi tanah dan air yang dapat mengurangi erosi sampai batas yang dapat ditoleransikan.

Analisa Usahatani Pola Tanam dan Agroteknologi Aktual

Analisa data usahatani dilakukan untuk menilai pendapatan petani dari lahan yang dikelola dengan analisis anggaran arus uang tunai (cash flow analysis).

(15)

Analisis ini meliputi penerimaan usahatani, biaya dan pendapatan bersih usaha tani. Penerimaan usahatani dianalisis dengan hasil produksi semua komoditi yang diusahakan oleh petani di lahan garapannya selama satu tahun kemudian dirupiahkan sesuai dengan harga komoditi tersebut. Analisis biaya yang dilakukan terdiri dari analisis input usahatani berupa komponen tenaga kerja, bibit/benih, peralatan pupuk dan pestisida. Pendapatan usahatani diperoleh setelah penerimaan usahatani dikurangi dengan biaya yang telah dikeluarkan. Analisa usahatani ini dilakukan pada masing-masing pola tanam sesuai dengan luas lahan usahatani rata-rata petani per KK di lokasi pengamatan intensif DAS Ketahun Hulu yaitu 1,5 hektar. Hasil analisis pendapatan petani pada berbagai pola tanam usahatani aktual berbasis kopi di DAS Ketahun Hulu dapat dilihat pada Tabel 15.

Tabel 15. Hasil Analisis Pendapatan Pola Tanam dan Agroteknologi Aktual Berbasis Kopi Seluas 1,5 Hektar Satuan Lahan Pengamatan Intensif DAS Ketahun Hulu

Tipe Penerimaan Total Biaya Pendapatan

Usahatani Usahatani Dikeluarkan Usahatani

(Rp/KK/thn) (Rp/KK/thn) (Rp/KK/thn) UT1 14.400.000 3.870.000 10.530.000 UT2 13.350.000 3.020.000 10.330.000 UT3 15.150.000 4.285.000 10.865.000 UT4 19.650.000 5.275.000 14.375.000 UT5 18.150.000 5.045.000 13.105.000 UT6 19.950.000 4.700.000 15.250.000 Keterangan :

UT1 : Monokultur kopi, UT2 : Kopi dan sengon (1600 kopi dan 25 sengon), UT3 : Kopi dan tanaman kayu-kayuan (1600 kopi, 25 gamal dan 20 kayu bawang dan sisa tanaman hutan), UT4 : Kopi dan tanaman buah-buahan (1600 kopi, 25 durian, 10 nangka dan 10 pisang), UT5 : Kopi, Karet dan Nilam (1600 kopi, 100 karet dan nilam 30% lahan), UT6 : Kopi, pinang dan kemiri (1600 kopi, 80 pinang dan 25 kemiri).

Berdasarkan hasil analisa yang telah dilakukan penerimaan usahatani setiap pola tanam aktual disatuan lahan pengamatan intensif berkisar antara Rp. 13.350.000,-/KK/tahun - Rp. 19.950.000,-/KK/tahun. Total biaya yang dikeluarkan untuk usahatani berkisar antara Rp. 3.020.000,-/KK/tahun – Rp. 5.275.000,-/KK/tahun. Pendapatan petani dari usahatani yang dilakukan berkisar antara Rp. 10.330.000,-/KK/tahun – Rp. 15.250.000,-/KK/tahun.

Pedapatan usahatani tertinggi adalah pada tipe usahatani UT6 yaitu usahatani kopi dengan campuran pinang dan kemiri. Produktifitas tanaman kopi pada satuan lahan ini adalah 675 kg/hektar/tahun dengan harga biji kopi Rp.

(16)

12.000,-/kg. Pinang dan kemiri sebagai tanaman campuran dan ditujukan sebagai naungan tanaman kopi dapat memberikan penghasilan tambahan dari hasil panen buah pinang dan buah kemiri setiap tahunnya.

Pendapatan usahatani terendah terdapat pada pola tanam UT2 yaitu tipe usahatani campuran kopi dengan sengon. Tipe usahatani UT2 memberikan penghasilan tambahan bagi petani dari penjualan kayu sengon jika sudah mencapai masa panennya. Berdasarkan hasil wawancara tanaman sengon ini dapat dipanen jika sudah mencapai umur 5 – 6 tahun. Pendapatan petani pada tipe usahatani UT1 adalah Rp. 10.530.000,-/KK/tahun. Produktifitas tanaman kopi pada UT1 adalah 800 kg/hektar/tahun dengan harga biji kopi Rp. 12.000,-/kg. Produktifitas kopi pada pola tanam UT1 lebih tinggi karena petani menerapkan pemupukan. Beberapa tipe usahatani lain yang terdapat di satuan lahan pengamatan intensif memberikan pendapatan tambahan selain tanaman kopi sebagai tanaman pokok dari tanaman campuran yaitu kayu bawang pada UT3, durian, nangka dan pisang pada UT4, karet dan nilam pada UT5.

Berdasarkan hasil wawancara dan kuesioner yang dilakukan di lokasi pengamatan intensif, secara umum pendapatan petani di DAS Ketahun Hulu hanya bergantung dari hasil pertanian yang diusahakan mereka untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Hasil analisa usahatani menunjukkan pendapatan petani di lokasi pengamatan intensif masih berada dibawah standar kebutuhan hidup layak (Rp. 18.000.000,-/KK/tahun). Pendapatan petani yang masih berada dibawah standar hidup layak ini disebabkan oleh luas lahan yang dikelola oleh petani yang sempit, dan rendahnya produktifitas tanaman yang diusahakan. Pertumbuhan perekonomian masyarakat pedesaan yang lambat menyebabkan semakin sedikitnya sumber pendapatan lain sebagai tambahan penghasilan.

Hasil analisa usahatani menyimpulkan bahwa pendapatan petani dari pola tanam dan agroteknologi aktual masih lebih rendah dari kebutuhan hidup layak di DAS Ketahun Hulu (Rp. 18.000.000,-/KK/tahun) sehingga indikator pertanian berkelanjutan belum terpenuhi. Upaya-upaya untuk meningkatkan pendapatan petani perlu disusun dan direkomendasikan agar petani dapat memperoleh pendapatan yang layak. Upaya-upaya peningkatan pendapatan petani agar dapat memenuhi kebutuhan hidup layak bisa dilakukan dari sektor lain seperti usaha

(17)

ternak, apabila pendapatan dari usahatani sudah maksimal. Alternatif Pola Tanam dan Agroteknologi

Erosi yang lebih kecil dari ETol adalah salah satu indikator suatu sistem pertanian yang berkelanjutan. Berdasarkan hasil prediksi erosi pada lahan pertanian berbasis kopi yang umumnya lebih tinggi dari ETol, maka diperlukan perencanaan agroteknologi yang dapat memperkecil erosi sehingga pertanian dapat berkelanjutan. Yang perlu dilakukan adalah rekayasa sistem pertanian dan agroteknolgi yang dapat memperkecil nilai C dan P, karena faktor tersebut yang dapat diintervensi oleh manusia dengan menerapkan tindakan-tindakan konservasi tanah dan air. Sementara rekayasa terhadap faktor lain seperti erosivitas hujan dan erodibilitas tanah tidak mungkin dilakukan. Kalaupun dipaksakan, akan membutuhkan biaya yang sangat tinggi untuk melakukan hal tersebut. Untuk itu altenatif agroteknologi disusun berdasarkan nilai CP maksimum dan simulasi menggunakan metoda USLE untuk mengetahui apakah erosi sudah lebih kecil dari ETol. Beberapa pertimbangan lain untuk menentukan alternatif agroteknologi adalah faktor biaya dan kemampuan masyarakat untuk menerapkan teknologi.

Berdasarkan hasil wawancara dan kuesioner yang dilakukan dilokasi pengamatan intensif, petani menyadari bahwa kondisi lahan yang diusahakannya semakin lama mengalami kemerosotan kualitas diakibatkan pengelolaan tanah terus menerus. Mereka memberikan respon yang cukup baik setelah ditawarkan beberapa tehnik konservasi tanah untuk diterapkan. Beberapa tehnik-tehnik konservasi tanah yang ditawarkan antara lain pembuatan strip rumput, mulsa serasah, mulsa jerami, teras gulud, teras bangku, tanaman penutup tanah rendah, dan rorak. Responden yang menyatakan setuju dengan penerapan tindakan konservasi tanah sebanyak 80% dari responden yang diwawancarai. Tetapi karena modal yang dimiliki oleh petani terbatas, mereka menginginkan agar tehnik konservasi tanah yang diterapkan tidak membutuhkan modal yang besar dan sumberdaya yang digunakan untuk tindakan konservasi tanah tersedia di lokasi sehingga mampu mereka terapkan.

Petani setempat menginginkan agar diadakannya pelatihan untuk menambah pengetahuan mereka tentang pembuatan dan pemeliharaan bangunan konservasi tanah sehingga pelaksanaannya dapat mereka lakukan dengan baik dan benar.

(18)

Bantuan pemerintah setempat sangat mereka harapkan baik dari sisi bantuan permodalan maupun pelatihan untuk meningkatkan pengetahuan mereka tentang konservasi tanah dan air.

Meskipun beberapa alternatif agroteknologi sudah ditawarkan kepada petani, alternatif agroteknologi tersebut harus tetap dianalisa terlebih dahulu keefektifannya dalam mengendalikan erosi. Analisa ini penting dilakukan sehingga dari beberapa alternatif agroteknologi tersebut dapat dipilih yang terbaik. Seperti halnya pada pola tanam dan agroteknologi aktual, prediksi erosi pada alternatif agroteknologi menggunakan metoda USLE. Alternatif agroteknologi yang efektif mengurangi erosi ditetapkan dengan simulasi USLE.

Alternatif agroteknologi disusun sebanyak 2 (dua) tipe yaitu dengan menerapkan tindakan-tindakan konservasi tanah dan air yang berbeda. Penyusunan 2 (dua) alternatif agroteknologi ini dimaksudkan agar petani dapat memilih tindakan konservasi tanah dan air yang akan diterapkan sesuai dengan keinginan dan kemampuannya.

Alternatif Agroteknologi 1

Alternatif agroteknologi 1 adalah menerapkan tindakan konservasi tanah dengan pembuatan strip rumput disertai dengan pemberian mulsa serasah sisa tanaman. Strip rumput adalah barisan rumput dengan lebar 0,5 – 1 meter dan jarak antar strip 4 – 10 meter yang ditanam sepanjang garis ketinggian (kontur). Jenis rumput yang umum digunakan antara lain: bahia (Paspalum notatum), bede (Brachiaria decumbens), rumput palisade (Brachiaria brizantha), rumput ruzi (Brachiaria ruziiensis), rumput gajah (Pennisetum purpureum), rumput raja (Pennisetum sp), serai (Cymbopogon citratus), setaria (Setaria sphacelata, Setaria anceps dan vetiver (Viteveria zizanioides). Mulsa serasah sisa tanaman adalah sisa tanaman atau tumbuhan yang telah dipotong-potong disebarkan merata di atas permukaan tanah. Mulsa ini berfungsi mengurangi erosi dengan cara meredam energi hujan yang jatuh sehingga tidak merusak struktur tanah, mengurangi kecepatan dan jumlah aliran permukaan sehingga dapat mengurangi daya kuras aliran permukaan. Tindakan konservasi tanah yang diterapkan disertai dengan pemberian pupuk untuk tanaman utama yaitu kopi. Pupuk yang diberikan sesuai

(19)

dengan standar Balitbang Pertanian (2008) yaitu 100 gr Urea, 50 gr TSP dan 50 gr KCL.

Lahan dengan kelas kemampuan lahan VI atau lebih tinggi dengan faktor pembatas kelas lereng > 30 % diperuntukkan sebagai hutan. Penghijauan atau reboisasi diterapkan pada lahan pertanian yang memiliki kelas lereng diatas 30% untuk meningkatkan kerapatan tanaman kayu-kayuan sehingga dapat kembali berfungsi seperti hutan.

Nilai P ditentukan berdasarkan nilai P strip rumput yaitu 0,4 (Lampiran 8) dikalikan dengan nilai P mulsa serasah atau jerami yang sudah ada yaitu 0,096 (Lampiran 7) sehingga nilai P alternatif agroteknologi 1 dengan menerapkan tindakan konservasi tanah teras gulud disertai penanaman tanaman penutup tanah adalah 0,04. Penghijauan atau reboisasi yang dilakukan dengan tujuan untuk meningkatkan kerapatan tanaman agar dapat berfungsi seperti hutan kembali dengan nilai P adalah 0,005 sesuai dengan nilai P hutan sekunder yang sudah ada.

Berdasarkan hasil simulasi prediksi erosi dengan USLE, alternatif agroteknologi 1 yaitu penerapan tindakan konservasi tanah dan air strip rumput disertai dengan pemberian mulsa serasah sisa tanaman dan pemupukan pada lahan usahatani berbasis kopi dan tindakan penghijauan atau reboisasi pada lahan dengan kemiringan diatas 30% dapat mengurangi erosi menjadi lebih kecil dari erosi yang dapat ditoleransi berkisar antara 2,45 – 22,77 ton/hektar/tahun dengan erosi yang dapat ditoleransi berkisar antara 13,45 – 36,38 ton/hektar/tahun (Tabel 16). Salah satu indikator sistem pertanian berkelanjutan yaitu erosi yang lebih kecil dari erosi yang dapat ditoleransi tercapai, sehingga alternatif agroteknologi 1 direkomendasikan untuk diterapkan pada lahan-lahan usahatani berbasis kopi di DAS Ketahun Hulu.

Alternatif Agroteknologi 2

Alternatif agroteknologi 2 adalah menerapkan tindakan konservasi tanah dengan membuat teras gulud dengan tanaman penguat teras dan menambahkan mulsa serasah sisa tanaman. Teras gulud adalah tumpukan tanah yang dibuat memanjang menurut arah garis kontur atau memotong lereng. Tinggi tumpukan tanah berkisar 25 – 30 cm dengan lebar 30 – 40 cm. Beberapa tanaman penguat teras yang dapat digunakan antara lain adalah Althenanthera amoena Voss,

(20)

Indigofera endecaphylla jacq, Ageratum conyzoides L, Erechtites valerianifolia Rasim, Borreria latifolia Schum, Oxalis corymbosa DC dan beberapa jenis tanaman lainnya seperti rumput bede, rumput banggala, akar wangi dan rumput gajah. Mulsa serasah sisa tanaman adalah sisa tanaman atau tumbuhan yang telah dipotong-potong disebarkan merata di atas permukaan tanah. Mulsa ini berfungsi mengurangi erosi dengan cara meredam energi hujan yang jatuh sehingga tidak merusak struktur tanah, mengurangi kecepatan dan jumlah aliran permukaan sehingga dapat mengurangi daya kuras aliran permukaan. Tindakan konservasi tanah yang diterapkan disertai dengan pemberian pupuk untuk tanaman utama yaitu kopi. Pupuk yang diberikan sesuai dengan standar Balitbang Pertanian (2008) yaitu 100 gr Urea, 50 gr TSP dan 50 gr KCL.

Lahan dengan kelas kemampuan lahan VI atau lebih tinggi dengan faktor pembatas kelas lereng > 30 % diperuntukkan sebagai hutan. Penghijauan atau reboisasi diterapkan pada lahan yang memiliki kelas lereng diatas 30% dengan dengan tujuan meningkatkan kerapatan tanaman kayu-kayuan sehingga dapat kembali berfungsi seperti hutan.

Nilai P ditentukan berdasarkan nilai P teras gulud dengan tanaman penguat teras yaitu 0,5 (Lampiran 8) dikalikan dengan nilai P mulsa serasah atau jerami yang sudah ada yaitu 0,096 (Lampiran 7) sehingga nilai P alternatif agroteknologi 2 dengan dengan menerapkan tindakan konservasi tanah teras gulud disertai pemberian mulsa serasah sisa tanaman adalah 0,048. Nilai P penghijauan atau reboisasi adalah 0,005.

Berdasarkan hasil simulasi prediksi erosi dengan USLE, alternatif agroteknologi 2 yaitu penerapan tindakan konservasi tanah dan air teras gulud dengan tanaman penguat teras disertai pemberian mulsa serasah sisa tanaman dan pemupukan pada setiap tipe usahatani berbasis kopi serta tindakan penghijauan atau reboisasi pada lahan dengan kemiringan diatas 30% dapat mengurangi erosi menjadi lebih kecil dari erosi yang dapat ditoleransi berkisar antara 2,47 – 22,77 ton/hektar/tahun dengan erosi yang dapat ditoleransi berkisar antara 13,45 – 36,38 ton/hektar/tahun (Tabel 17). Salah satu indikator sistem pertanian berkelanjutan yaitu erosi yang lebih kecil dari erosi yang dapat ditoleransi tercapai, sehingga alternatif agroteknologi 2 ini direkomendasikan menjadi alternatif pilihan lain

(21)

selain alternatif agroteknologi 1 untuk diterapkan pada lahan-lahan usahatani berbasis kopi di DAS Ketahun Hulu.

(22)

Tabel 16. Prediksi Erosi dan ETol Alternatif Agroteknologi 1 Satuan Lahan Pengamatan Intensif DAS Ketahun Hulu.

SL Tipe Tindakan R K LS C P Prediksi ETol

Usahatani Koservasi Erosi (ton/ha/thn)

Tanah (ton/ha/ thn) 61 UT3 SR + Mulsa + PPK 2048,85 0,153 6,75 0,1 0,04 8,45 13,45** 79 Sawah Tetap 2048,85 0,137 0,88 0,01 1 2,47 31,10** 81 UT1 SR + Mulsa + PPK 2048,85 0,071 2,44 0,2 0,04 2,85 13,45** 152 UT2 SR + Mulsa + PPK 2048,85 0,222 3,61 0,15 0,04 9,84 13,45** 154 UT5 SR + Mulsa + PPK 2048,85 0,191 5,51 0,1 0,04 8,61 13,45** 157 UT3 SR + Mulsa + PPK 2048,85 0,408 5,29 0,1 0,04 17,70 22,18** 173 UT3 SR + Mulsa + PPK 2048,85 0,281 6,25 0,1 0,04 14,39 18,70** 174 UT2 SR + Mulsa + PPK 2048,85 0,289 1,89 0,15 0,1 6,71 21,24** 183 Hutan Tetap 2048,85 0,435 6,22 0,001 1 5,54 36,38** 186 UT5 SR + Mulsa + PPK 2048,85 0,361 4,77 0,1 0,04 14,11 17,92** 197 UT3 SR + Mulsa + PPK 2048,85 0,098 3,05 0,1 0,04 2,45 13,45** 203 UT2 SR + Mulsa + PPK 2048,85 0,415 3,23 0,15 0,04 16,50 20,52** 213 UT4 SR + Mulsa + PPK 2048,85 0,411 3,86 0,1 0,04 13,01 15,96** 234 UT2 Penghijauan/Reboisasi 2048,85 0,204 10,92 0,005 1 22,77 22,80** 236 Hutan Tetap 2048,85 0,123 11,10 0,001 1 2,80 27,30** 247 UT3 Penghijauan/Reboisasi 2048,85 0,152 12,73 0,005 1 19,84 21,12** 249 UT6 SR + Mulsa + PPK 2048,85 0,150 5,84 0,1 0,04 7,17 13,45** 250 UT6 SR + Mulsa + PPK 2048,85 0,190 8,71 0,1 0,04 13,53 18,18** Keterangan :

UT1 : Monokultur kopi, UT2 : Kopi dan sengon (1600 kopi dan 25 sengon), UT3 : Kopi dan tanaman kayu-kayuan (1600 kopi, 25 gamal dan 20 kayu bawang dan sisa tanaman hutan), UT4 : Kopi dan tanaman buah-buahan (1600 kopi, 25 durian, 10 nangka dan 10 pisang), UT5 : Kopi, Karet dan Nilam (1600 kopi, 100 karet dan nilam 30% lahan), UT6 : Kopi, pinang dan kemiri (1600 kopi, 80 pinang dan 25 kemiri), ), SR : Strip Rumput, Mulsa : Mulsa Serasah Sisa Tanaman, PPK : Pupuk.

* ditentukan dengan menggunakan metoda Hammer ** ditentukan dengan menggunakan metoda Tompson

(23)

Tabel 17. Prediksi Erosi dan ETol Alternatif Agroteknologi 2 Satuan Lahan Pengamatan Intensif DAS Ketahun Hulu.

SL Tipe Tindakan R K LS C P Prediksi ETol

Usahatani Koservasi Erosi (ton/ha/thn)

Tanah (ton/ha/ thn) 61 UT3 TG + Mulsa + PPK 2048,85 0,153 6,75 0,1 0,048 10,14 13,45** 79 Sawah Tetap 2048,85 0,137 0,88 0,01 1 2,47 31,10** 81 UT1 TG + Mulsa + PPK 2048,85 0,071 2,44 0,2 0,048 3,42 13,45** 152 UT2 TG + Mulsa + PPK 2048,85 0,222 3,61 0,15 0,048 11,81 13,45** 154 UT5 TG + Mulsa + PPK 2048,85 0,191 5,51 0,1 0,048 10,33 13,45** 157 UT3 TG + Mulsa + PPK 2048,85 0,408 5,29 0,1 0,048 21,24 22,18** 173 UT3 TG + Mulsa + PPK 2048,85 0,281 6,25 0,1 0,048 17,27 18,70** 174 UT2 TG + Mulsa + PPK 2048,85 0,289 1,89 0,15 0,048 8,06 21,24** 183 Hutan Tetap 2048,85 0,435 6,22 0,001 1 5,54 36,38** 186 UT5 TG + Mulsa + PPK 2048,85 0,361 4,77 0,1 0,048 16,93 17,92** 197 UT3 TG + Mulsa + PPK 2048,85 0,098 3,05 0,1 0,048 2,94 13,45** 203 UT2 TG + Mulsa + PPK 2048,85 0,415 3,23 0,15 0,048 19,79 20,52** 213 UT4 TG + Mulsa + PPK 2048,85 0,411 3,86 0,1 0,048 15,61 15,96** 234 UT2 Penghijauan/Reboisasi 2048,85 0,204 10,92 0,005 1 22,77 22,80** 236 Hutan Tetap 2048,85 0,123 11,10 0,001 1 2,80 27,30** 247 UT3 Penghijauan/Reboisasi 2048,85 0,152 12,73 0,005 1 19,84 21,12** 249 UT6 TG + Mulsa + PPK 2048,85 0,150 5,84 0,1 0,048 8,60 13,45** 250 UT6 TG + Mulsa + PPK 2048,85 0,190 8,71 0,1 0,048 16,24 18,18** Keterangan :

UT1 : Monokultur kopi, UT2 : Kopi dan sengon (1600 kopi dan 25 sengon), UT3 : Kopi dan tanaman kayu-kayuan (1600 kopi, 25 gamal dan 20 kayu bawang dan sisa tanaman hutan), UT4 : Kopi dan tanaman buah-buahan (1600 kopi, 25 durian, 10 nangka dan 10 pisang), UT5 : Kopi, Karet dan Nilam (1600 kopi, 100 karet dan nilam 30% lahan), UT6 : Kopi, pinang dan kemiri (1600 kopi, 80 pinang dan 25 kemiri), TG : Teras Gulud dengan tanaman penguat teras, Mulsa : Mulsa Serasah Sisa Tanaman, PPK : Pupuk.

* ditentukan dengan menggunakan metoda Hammer

(24)

Analisa Usahatani Alternatif Agroteknologi

Analisis pendapatan usahatani pada aternatif agroteknologi dilakukan sama dengan metoda analisa yang dilakukan terhadap pola tanam dan agroteknologi aktual. Analisa ini meliputi penerimaan usahatani, biaya yang dikeluarkan dan pendapatan usahatani. Perhitungan biaya dilakukan terhadap tenaga kerja dan sarana produksi termasuk biaya yang dikeluarkan untuk tindakan konservasi tanah yang diterapkan pada setiap pola tanam dan agroteknologi. Analisa penerimaan juga memperhitungkan kenaikan produktifitas tanaman akibat diterapkannya alternatif agroteknologi tersebut. Hasil dari analisa pendapatan usaha tani pada alternatif agroteknologi dapat dilihat pada Tabel 18 dan Tabel 19.

Tabel 18. Hasil Analisis Pendapatan Alternatif Agroteknologi 1 Berbasis Kopi Seluas 1,5 Hektar Satuan Lahan Pengamatan Intensif DAS Ketahun Hulu

Tipe Tindakan Penerimaan Total Biaya Pendapatan Usahatani Konservasi Usahatani Dikeluarkan Usahatani

Tanah (Rp/KK/thn) (Rp/KK/thn) (Rp/KK/thn) UT1 SR + Mulsa + PPK 14.400.000 4.520.000 9.880.000 UT2 SR + Mulsa + PPK 15.600.000 4.580.000 11.020.000 UT3 SR + Mulsa + PPK 17.400.000 5.845.000 11.555.000 UT4 SR + Mulsa + PPK 21.900.000 6.835.000 15.065.000 UT5 SR + Mulsa + PPK 20.400.000 6.605.000 13.795.000 UT6 SR + Mulsa + PPK 22.200.000 6.260.000 15.940.000 Keterangan :

UT1 : Monokultur kopi, UT2 : Kopi dan sengon (1600 kopi dan 25 sengon), UT3 : Kopi dan tanaman kayu-kayuan (1600 kopi, 25 gamal dan 20 kayu bawang dan sisa tanaman hutan), UT4 : Kopi dan tanaman buah-buahan (1600 kopi, 25 durian, 10 nangka dan 10 pisang), UT5 : Kopi, Karet dan Nilam (1600 kopi, 100 karet dan nilam 30% lahan), UT6 : Kopi, pinang dan kemiri (1600 kopi, 80 pinang dan 25 kemiri), SR : Strip Rumput, Mulsa : Mulsa Serasah Sisa Tanaman dan PPK : Pupuk.

Tabel 18 memperlihatkan hasil analisis pendapatan dengan diterapkannya alternatif agroteknologi 1. Tindakan konservasi tanah strip rumput ditambah mulsa serasah dan pemupukan yang diterapkan pada alternatif agroteknologi 1 ini menyebabkan peningkatan biaya yang harus dikeluarkan untuk tindakan-tindakan konservasi tanah dan pemupukan yang dilakukan pada setiap tipe usahatani sehingga menyebabkan kenaikan total biaya yang dikeluarkan yaitu berkisar Rp. 4.520.000,-/KK/tahun sampai Rp. 6.845.000,-/KK/tahun. Produktifitas tanaman terutama pada tanaman kopi meningkat dengan diterapkannya pemupukan sesuai dengan rekomendasi yang dikeluarkan oleh Balitbang pertanian yaitu 100 gr Urea, 50 gr TSP dan 50 gr KCL. Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan dengan

(25)

petani yang telah menerapkan pemupukan, produktifitas kopi setelah dilakukan pemupukan bisa mencapai 800 kg/hektar/tahun. Penerimaan petani dari hasil panen tanaman berkisar antara Rp. 14.400.000,-/KK/tahun – Rp. 22.200.000,-/KK/tahun. Pendapatan bersih usahatani yang diperoleh petani dengan menerapkan alternatif agroteknologi 1 ini berkisar antara Rp. 9.880.000,-/KK/tahun – Rp. 15.940.000,-/KK/Tahun.

Tabel 19. Hasil Analisis Pendapatan Alternatif Agroteknologi 2 Berbasis Kopi Seluas 1,5 Hektar Satuan Lahan Pengamatan Intensif DAS Ketahun Hulu

Tipe Tindakan Penerimaan Total Biaya Pendapatan Usahatani Konservasi Usahatani Dikeluarkan Bersih

Tanah (Rp/KK/thn) (Rp/KK/thn) (Rp/KK/thn) UT1 TG + Mulsa + PPK 14.400.000 4.740.000 9.660.000 UT2 TG + Mulsa + PPK 15.600.000 4.800.000 10.800.000 UT3 TG + Mulsa + PPK 17.400.000 6.065.000 11.335.000 UT4 TG + Mulsa + PPK 21.900.000 7.055.000 14.845.000 UT5 TG + Mulsa + PPK 20.400.000 6.825.000 13.575.000 UT6 TG + Mulsa + PPK 22.200.000 6.480.000 15.720.000 Keterangan :

UT1 : Monokultur kopi, UT2 : Kopi dan sengon (1600 kopi dan 25 sengon), UT3 : Kopi dan tanaman kayu-kayuan (1600 kopi, 25 gamal dan 20 kayu bawang dan sisa tanaman hutan), UT4 : Kopi dan tanaman buah-buahan (1600 kopi, 25 durian, 10 nangka dan 10 pisang), UT5 : Kopi, Karet dan Nilam (1600 kopi, 100 karet dan nilam 30% lahan), UT6 : Kopi, pinang dan kemiri (1600 kopi, 80 pinang dan 25 kemiri), TPT : Tanaman Penutup Tanah, TG : Teras Gulud dengan tanaman penguat teras, Mulsa : Mulsa serasah sisa tanaman dan PPK : Pupuk.

Tabel 19 diatas menunjukkan bahwa total biaya yang harus dikeluarkan untuk melakukan usahatani dengan menerapkan alternatif agroteknologi 2 berkisar antara Rp. 4.740.000,-/KK/tahun – Rp. 7.055.000,-/KK/tahun. Seperti halnya pada alternatif agroteknologi 1, alternatif agroteknologi 2 dengan menerapkan pembuatan teras gulud ditambah mulsa serasah dan pemupukan mengakibatkan kenaikan total biaya usahatani secara keseluruhan. Kenaikan biaya ini disebabkan dengan adanya upah tenaga kerja dan bahan-bahan yang digunakan untuk tindakan-tindakan koservasi tanah dan pemupukan. Produktifitas tanaman terutama pada tanaman kopi meningkat dengan diterapkannya pemupukan sesuai dengan rekomendasi yang dikeluarkan oleh Balitbang pertanian. Penerimaan petani dengan menerapkan alternatif agroteknologi 2 ini berkisar antara Rp. 14.400.000,-/KK/tahun – Rp. 22.200.000,-/KK/tahun. Pendapatan bersih yang diperoleh petani dengan menerapkan alternatif agroteknologi 2 berkisar antara Rp. 9.660.000,-/KK/tahun – Rp. 15.720.000,-/KK/tahun.

(26)

Pendapatan petani dengan menerapkan alternatif agroteknologi 1 dan 2 ini masih tetap berada dibawah standar kebutuhan hidup layak di DAS Ketahun Hulu yaitu Rp. 18.000.000,-/KK/tahun. Upaya peningkatan pendapatan petani perlu dilakukan agar kebutuhan hidup layak dapat dipenuhi. Karena pendapatan dari sektor usahatani sudah maksimal, maka perlu direncanakan usaha dari sektor lain yang dapat menambah pendapatan petani pertahunnya sehingga mampu mencapai atau lebih tinggi dari standar kebutuhan hidup layak di DAS Ketahun Hulu.

Peningkatan Pendapatan Petani

Sinukaban (2007) menyatakan bahwa sistem pertanian koservasi adalah sistem yang mengintegrasikan tindakan/tehnik konservasi tanah dan air kedalam sistem pertanian yang telah ada dengan tujuan untuk meningkatkan pendapatan petani, meningkatkan kesejahteraan petani dan sekaligus menekan erosi sehingga sistem pertanian tersebut dapat berlanjut secara terus menerus tanpa batas waktu (sustainable). Jadi tujuan utama pertanian konservasi bukan menerapkan tindakan/tehnik konservasi tanah dan air saja tetapi untuk meningkatkan kesejahteraan petani dan mempertahankan pertanian yang lestari.

Alternatif-alternatif agroteknologi yang direkomendasikan perlu ditambah dengan usaha-usaha lain yang mungkin dilakukan dan dapat memberikan penghasilan tambahan bagi petani karena berdasarkan analisa yang dilakukan pendapatan petani belum memenuhi kebutuhan hidup layak. Upaya peningkatan pendapatan petani yang direkomendasikan adalah dengan usaha ternak karena dapat dilakukan oleh petani di lahan usaha taninya.

Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan, wilayah DAS Ketahun Hulu memiliki potensi yang cukup baik untuk dikembangkan usaha peternakan. Beberapa faktor yang mendukung dikembangkan usaha ini antara lain adalah pakan ternak yang cukup tersedia seperti rumput-rumputan dan daun-daunan. Sawah yang tersedia cukup untuk menyediakan dedak untuk pakan unggas. Lahan untuk menggembalakan ternak masih sangat luas tersedia di daerah ini. Tenaga kerja yang dibutuhkan juga tersedia. Dari hasil wawancara dan kuesioner dengan beberapa petani di lokasi pengamatan intensif, masyarakat di DAS Ketahun Hulu belum mengembangkan usaha peternakan secara baik sehingga belum banyak membantu meningkatkan perekonomian masyarakat petani.

(27)

Usaha ternak yang disusun terbagi menjadi 3 kelompok antara lain T1 yaitu ternak ayam sebanyak 30 ekor dengan penambahan pendapatan sebesar Rp. 5.125.000,-/KK/tahun, T2 yaitu ternak ayam sebanyak 30 ekor dan kambing sebanyak 4 ekor dengan penambahan pendapatan sebesar Rp. 8.275.000,-/KK/tahun dan T3 yaitu ternak ayam sebanyak 30 ekor dan kambing sebanyak 5 ekor dapat memberikan tambahan penghasilan bagi petani sebesar Rp. 8.975.000,-/KK/tahun. Hasil analisa peningkatan pendapatan petani dengan menambahkan usaha ternak ditunjukkan pada Tabel 20 dan Tabel 21.

Tabel 20. Hasil Analisis Pendapatan Alternatif Agroteknologi 1 Berbasis Kopi Seluas 1,5 Hektar Dan Usaha Ternak Satuan Lahan Pengamatan Intensif DAS Ketahun Hulu

Tipe Usahatani Tindakan Pendapatan Pedapatan Total Prediksi ETol dan Usaha Konservasi Usahatani Ternak Pendapatan Erosi (ton/ha/

Ternak Tanah (Rp/kk/thn) (Rp/kk/thn) (Rp/kk/thn) (ton/ha/th) th UT1 + T1 SR+Mulsa+PPK 9.880.000 5.125.000 15.055.000 2,85 13,45 + T2 SR+Mulsa+PPK 9.880.000 8.275.000 18.155.000 2,85 13,45 + T3 SR+Mulsa+PPK 9.880.000 8.975.000 18.855.000 2,85 13,45 UT2 + T1 SR+Mulsa+PPK 11.020.000 8.275.000 16.145.000 9,84 13,45 + T2 SR+Mulsa+PPK 11.020.000 8.275.000 19.295.000 9,84 13,45 + T3 SR+Mulsa+PPK 11.020.000 8.975.000 19.995.000 9,84 13,45 UT3 + T1 SR+Mulsa+PPK 11.555.000 8.275.000 16.680.000 17,70 22,18 + T2 SR+Mulsa+PPK 11.555.000 8.275.000 19.830.000 17,70 22,18 + T3 SR+Mulsa+PPK 11.555.000 8.975.000 20.530.000 17,70 22,18 UT4 + T1 SR+Mulsa+PPK 15.065.000 5.125.000 20.190.000 13,01 15,96 + T2 SR+Mulsa+PPK 15.065.000 8.275.000 23.340.000 13,01 15,96 + T3 SR+Mulsa+PPK 15.065.000 8.975.000 24.040.000 13,01 15,96 UT5 + T1 SR+Mulsa+PPK 13.795.000 5.125.000 18.920.000 8,61 13,45 + T2 SR+Mulsa+PPK 13.795.000 8.275.000 22.070.000 8,61 13,45 + T3 SR+Mulsa+PPK 13.795.000 8.975.000 22.770.000 8,61 13,45 UT6 + T1 SR+Mulsa+PPK 15.940.000 5.125.000 21.065.000 13,53 18,18 + T2 SR+Mulsa+PPK 15.940.000 8.275.000 24.215.000 13,53 18,18 + T3 SR+Mulsa+PPK 15.940.000 8.975.000 24.915.000 13,53 18,18 Keterangan :

UT1 : Monokultur kopi, UT2 : Kopi dan sengon (1600 kopi dan 25 sengon), UT3 : Kopi dan tanaman kayu-kayuan (1600 kopi, 25 gamal dan 20 kayu bawang dan sisa tanaman hutan), UT4 : Kopi dan tanaman buah-buahan (1600 kopi, 25 durian, 10 nangka dan 10 pisang), UT5 : Kopi, Karet dan Nilam (1600 kopi, 100 karet dan nilam 30% lahan), UT6 : Kopi, pinang dan kemiri (1600 kopi, 80 pinang dan 25 kemiri), T1 : Ternak ayam 30 ekor, T2 : Ternak ayam 30 ekor dan kambing 4 ekor, T3 : Ternak ayam 30 ekor dan kambing 5 ekor, SR : Strip Rumput, Mulsa : Mulsa serasah sisa tanaman, , PPK : Pupuk.

Berdasarkan hasil analisa pendapatan kombinasi alternatif agroteknologi 1 dan usaha ternak pada setiap tipe usahatani (Tabel 20), dipilih kombinasi yang memberikan hasil yang paling maksimal untuk direkomendasikan. Kombinasi alternatif agroteknologi 1 dengan usaha ternak yaitu penerapan strip rumput (SR)

(28)

ditambah mulsa serasah (Mulsa) , pemupukan (PPK) dan T3 (usaha ternak 30 ekor ayam dan 5 ekor kambing) pada setiap tipe usahatani memberikan pendapatan yang paling maksimal sehingga dapat direkomendasikan untuk diterapkan oleh petani. Penerapan alternatif agroteknologi 1 yaitu strip rumput ditambah mulsa serasah, pemupukan dan T3 (ternak 30 ekor ayam dan 5 ekor kambing) yang direkomendasikan dapat meningkatkan pendapatan petani sehingga dapat memenuhi standar kebutuhan hidup layak di DAS Ketahun Hulu (Rp. 18.000.000/KK/Tahun) dengan pendapatan berkisar antara Rp. 18.855.000,-/KK/tahun – Rp. 24.915.000,-18.855.000,-/KK/tahun. Pendapatan yang paling tinggi dari semua tipe usahatani dengan menerapkan alternatif agroteknologi 1 ini adalah pada UT6 + T3 +SR + Mulsa + PPK yaitu Rp. 24.915.000,- /KK/tahun.

Tabel 21. Hasil Analisis Pendapatan Alternatif Agroteknologi 2 Berbasis Kopi Seluas 1,5 Hektar Dan Usaha Ternak Satuan Lahan Pengamatan Intensif DAS Ketahun Hulu

Tipe Usahatani Tindakan Pendapatan Pedapatan Total Prediksi ETol dan Usaha Konservasi Usahatani Ternak Pendapatan Erosi (ton/ha/

Ternak Tanah (Rp/kk/thn) (Rp/kk/thn) (Rp/kk/thn) (ton/ha/thn) th UT1 + T1 TG+Mulsa+PPK 9.660.000 5.125.000 14.785.000 3,42 13,45 + T2 TG+Mulsa+PPK 9.660.000 8.275.000 17.935.000 3,42 13,45 + T3 TG+Mulsa+PPK 9.660.000 8.975.000 18.635.000 3,42 13,45 UT2 + T1 TG+Mulsa+PPK 10.800.000 5.125.000 15.925.000 11,81 13,45 + T2 TG+Mulsa+PPK 10.800.000 8.275.000 19.075.000 11,81 13,45 + T3 TG+Mulsa+PPK 10.800.000 8.975.000 19.775.000 11,81 13,45 UT3 + T1 TG+Mulsa+PPK 11.335.000 5.125.000 16.460.000 21,24 22,18 + T2 TG+Mulsa+PPK 11.335.000 8.275.000 19.610.000 21,24 22,18 + T3 TG+Mulsa+PPK 11.335.000 8.975.000 20.310.000 21,24 22,18 UT4 + T1 TG+Mulsa+PPK 14.845.000 5.125.000 19.970.000 15,61 15,96 + T2 TG+Mulsa+PPK 14.845.000 8.275.000 23.120.000 15,61 15,96 + T3 TG+Mulsa+PPK 14.845.000 8.975.000 23.820.000 15,61 15,96 UT5 + T1 TG+Mulsa+PPK 13.575.000 5.125.000 18.700.000 10,33 13,45 + T2 TG+Mulsa+PPK 13.575.000 8.275.000 21.850.000 10,33 13,45 + T3 TG+Mulsa+PPK 13.575.000 8.975.000 22.550.000 10,33 13,45 UT6 + T1 TG+Mulsa+PPK 15.720.000 5.125.000 20.845.000 16,24 18,18 + T2 TG+Mulsa+PPK 15.720.000 8.275.000 23.995.000 16,24 18,18 + T3 TG+Mulsa+PPK 15.720.000 8.975.000 24.695.000 16,24 18,18 Keterangan :

UT1 : Monokultur kopi, UT2 : Kopi dan sengon (1600 kopi dan 25 sengon), UT3 : Kopi dan tanaman kayu-kayuan (1600 kopi, 25 gamal dan 20 kayu bawang dan sisa tanaman hutan), UT4 : Kopi dan tanaman buah-buahan (1600 kopi, 25 durian, 10 nangka dan 10 pisang), UT5 : Kopi, Karet dan Nilam (1600 kopi, 100 karet dan nilam 30% lahan), UT6 : Kopi, pinang dan kemiri (1600 kopi, 80 pinang dan 25 kemiri), T1 : Ternak ayam 30 ekor, T2 : Ternak ayam 30 ekor dan kambing 4 ekor, T3 : Ternak ayam 30 ekor dan kambing 5 ekor, TG : Teras gulud dengan tanaman penguat teras, Mulsa : Mulsa serasah sisa tanaman, , PPK : Pupuk.

(29)

dan usaha ternak pada setiap tipe usahatani (Tabel 21), dipilih kombinasi yang memberikan hasil yang paling maksimal untuk direkomendasikan. Kombinasi alternatif agroteknologi 2 dengan usaha ternak yaitu penerapan teras gulud (TG) ditambah mulsa serasah (Mulsa) , pemupukan (PPK) dan usaha ternak T3 (30 ekor ayam dan 5 ekor kambing) pada setiap tipe usahatani memberikan pendapatan yang paling maksimal sehingga dapat direkomendasikan untuk diterapkan oleh petani. Penerapan alternatif agroteknologi 2 yaitu teras gulud ditambah mulsa serasah, pemupukan dan T3 (ternak 30 ekor ayam + 5 ekor kambing) yang direkomendasikan dapat meningkatkan pendapatan petani sehingga sudah memenuhi standar kebutuhan hidup layak di DAS Ketahun Hulu (Rp. 18.000.000/KK/Tahun) dengan pendapatan berkisar antara Rp. 18.635.000,-/KK/tahun – Rp. 24.695.000,-18.635.000,-/KK/tahun. Pendapatan yang paling tinggi dari setiap tipe usahatani dengan menerapkan alternatif agroteknologi 2 ini adalah pada UT6 + T3 + TG + Mulsa + PPK yaitu Rp. 24.695.000,- /KK/tahun.

Pendapatan petani meningkat setelah dilakukan penambahan usaha ternak pada ke 2 (dua) alternatif agroteknologi yang direkomendasikan. Pendapatan petani yang diperoleh dengan menerapkan alternatif agroteknologi 1 yaitu tindakan konservasi tanah strip rumput ditambah mulsa serasah, pemupukan dan usaha ternak berkisar antara Rp. 18.855.000,-/KK/tahun – Rp. 24.915.000,-/KK/tahun. Pendapatan petani yang diperoleh dengan menerapkan alternatif agroteknologi 2 yaitu tindakan konservasi tanah teras gulud ditambah mulsa serasah, pemupukan dan usaha ternak berkisar antara Rp. 18.635.000,-/KK/tahun – Rp. 24.695.000,-/KK/tahun. Secara keseluruhan setiap usahatani dengan menerapkan semua alternatif agroteknologi yang direkomendasikan telah memenuhi indikator pertanian yang berkelanjutan yaitu pendapatan petani yang lebih tinggi dari kebutuhan hidup layak di DAS Ketahun Hulu (Rp. 18.000.000,-/KK/tahun) dan erosi yang lebih kecil dari ETol.

Rekomendasi Penggunaan Lahan dan Pengembangan Usahatani

Berdasarkan hasil evaluasi kemampuan lahan yang dilakukan, satuan lahan pengamatan intesif DAS Ketahun Hulu terdiri kelas kemampuan I, II, III, IV dan VI. Lahan-lahan dengan kelas kemampuan I, II, III dan IV bisa digunakan untuk budidaya pertanian. Lahan-lahan yang memiliki kelas lereng diatas 30% dengan

(30)

kelas kemampuan lahan VI berdasarkan evaluasi kelas kemampuan lahan lebih baik diperuntukkan dan dipertahankan sebagai hutan. Tindakan yang dilakukan pada lahan-lahan usahatani dengan kelas lereng diatas 30% ini adalah mengembalikan fungsinya sebagai hutan dengan melakukan penghijauan atau reboisasi. Penghijauan atau reboisasi ini dimaksudkan untuk melakukan penanaman kembali dan menambah kerapatan tanaman kayu-kayuan sehingga dapat mengembalikan fungsi lahan-lahan tersebut menjadi hutan. Penggunaan lahan sawah dan hutan tetap dipertahankan sebagai sawah dan hutan.

Usahatani berbasis kopi yang dilakukan oleh petani terdiri dari 6 tipe yaitu monokultur kopi (UT1), kopi dan sengon (UT2), kopi dan kayu-kayuan (UT3), kopi dan tanaman buah-buahan (UT4), kopi, karet dan nilam (UT5) dan kopi, pinang dan kemiri (UT6) masih dilakukan secara tradisional dan belum menerapkan tindakan konservasi tanah yang baik. Prediksi erosi pada lahan-lahan usahatani berbasis kopi tersebut lebih besar dari erosi yang dapat ditoleransi dan pendapatan petani belum mencukupi untuk hidup layak. Alternatif-alternatif agroteknologi yang diperlukan direkomendasikan agar dapat memenuhi indikator-indikator sistem pertanian berkelanjutan.

Rekomendasi alternatif agroteknologi yang dipilih adalah agroteknologi yang memberikan pendapatan paling optimal dan memenuhi kebutuhan hidup layak, penerapan tindakan konservasi tanah yang dapat mengurangi erosi sampai batas yang dapat ditoleransikan dan alternatif agroteknologi tersebut dapat diterima dan dilakukan oleh petani dengan sumberdaya lokal yang dimilikinya. Rekomendasi alternatif-alternatif agroteknologi berbasis kopi di satuan lahan pengamatan intensif DAS Ketahun Hulu dapat dilihat pada Tabel 22.

Alternatif agroteknologi 1 adalah dengan menerapkan tindakan konservasi tanah pembuatan strip rumput ditambah dengan mulsa serasah sisa tanaman, pempukan sesuai rekomendasi Balitbang Pertanian (100 gr Urea, 50 gr TSP dan 50 gr KCL) dan usaha ternak T3 (30 ekor ayam dan 5 ekor kambing). Alternatif agroteknologi 2 adalah dengan menerapkan tindakan konservasi tanah pembuatan teras gulud dengan tanaman penguat teras ditambah mulsa serasah sisa tanaman, pemupukan sesuai rekomendasi Balitbang Pertanian (100 gr Urea, 50 gr TSP dan 50 gr KCL) dan usaha ternak T3 (30 ekor ayam dan 5 ekor kambing).

(31)

Tabel 22. Rekomendasi Alternatif Agroteknologi Berbasis Kopi Seluas 1,5 Hektar Satuan Lahan Pengamatan Intensif DAS Ketahun Hulu

Tipe Usahatani Tindakan Total Prediksi ETol dan Usaha Konservasi Tanah Pendapatan Erosi (ton/ha/thn)

Ternak (Rp/KK/thn) (ton/ha/thn) Alternatif Agroteknologi 1 UT1 + T3 SR+Mulsa+PPK 18.855.000 2,85 13,45 UT2 + T3 SR+Mulsa+PPK 19.995.000 9,84 13,45 UT3 + T3 SR+Mulsa+PPK 20.530.000 17,70 22,18 UT4 + T3 SR+Mulsa+PPK 24.040.000 13,01 15,96 UT5 + T3 SR+Mulsa+PPK 22.770.000 8,61 13,45 UT6 + T3 SR+Mulsa+PPK 24.915.000 13,53 18,18 Alternatif Agroteknologi 2 UT1 + T3 TG+Mulsa+PPK 18.635.000 3,42 13,45 UT2 + T3 TG+Mulsa+PPK 19.775.000 11,81 13,45 UT3 + T3 TG+Mulsa+PPK 20.310.000 21,24 22,18 UT4 + T3 TG+Mulsa+PPK 23.820.000 15,61 15,96 UT5 + T3 TG+Mulsa+PPK 22.550.000 10,33 13,45 UT6 + T3 TG+Mulsa+PPK 24.695.000 16,24 18,18 Keterangan :

UT1 : Monokultur kopi, UT2 : Kopi dan sengon (1600 kopi dan 25 sengon), UT3 : Kopi dan tanaman kayu-kayuan (1600 kopi, 25 gamal dan 20 kayu bawang dan sisa tanaman hutan), UT4 : Kopi dan tanaman buah-buahan (1600 kopi, 25 durian, 10 nangka dan 10 pisang), UT5 : Kopi, Karet dan Nilam (1600 kopi, 100 karet dan nilam 30% lahan), UT6 : Kopi, pinang dan kemiri (1600 kopi, 80 pinang dan 25 kemiri), T1 : Ternak ayam 30 ekor, T2 : Ternak ayam 30 ekor dan kambing 4 ekor, T3 : Ternak ayam 30 ekor dan kambing 5 ekor, SR : Strip Rumput, TG : Teras Gulud dengan tanaman penguat teras, Mulsa : Mulsa serasah sisa tanaman, , PPK : Pupuk.

Berdasarkan hasil analisis yang dilakukan, secara keseluruhan penerapan alternatif-alternatif agroteknologi yang direkomendasikan telah memenuhi indikator pertanian berkelanjutan yaitu pendapatan yang memenuhi kebutuhan hidup layak, erosi yang lebih kecil dari erosi yang dapat ditoleransi dan agroteknologi dapat diterima dan dilakukan oleh petani dengan sumber daya lokal yang dimilikinya. Tabel 22 menunjukkan bahwa tipe usahatani UT6 dengan menerapkan alternatif agroteknologi 1 dan 2 memberikan pendapatan yang paling maksimal jika dibandingkan dengan tipe usahatani lainnya.

Rekomendasi penggunaan lahan dan pengembangan usahatani berbasis kopi di satuan lahan pengamatan intensif dilakukan dengan memperuntukkan lahan sesuai dengan kemampuannya berdasarkan hasil evaluasi kemampuan lahan dan menerapkan alternatif-alternatif agroteknologi yang direkomendasikan pada lahan-lahan usahatani berbasis kopi dan digambarkan dalam bentuk peta (Gambar 9 dan Gambar 10).

(32)

Gambar 9. Peta Rekomendasi Penggunaan Lahan dan Pengembangan Usahatani Berbasis Kopi Dengan Alternatif Agroteknologi 1 Satuan Lahan Pengamatan Intensif

(33)

Gambar 10. Peta Rekomendasi Penggunaan Lahan dan Pengembangan Usahatani Berbasis Kopi Dengan Alternatif Agroteknologi 2 Satuan Lahan Pengamatan Intensif

(34)

Rekomendasi penggunaan lahan dan pengembangan usahatani berbasis kopi untuk sistem pertanian berkelanjutan yang disusun di satuan lahan pengamatan intensif diekstrapolasi untuk seluruh DAS Ketahun Hulu sesuai dengan kemampuan lahan dan menerapkan alternatif-alternatif agroteknologi yang sudah ditentukan pada lahan-lahan usahatani berbasis kopi. Alternatif-alternatif agroteknologi berbasis kopi yang sudah memenuhi indikator pertanian berkelanjutan diterapkan pada semua penggunaan lahan kebun campuran yang terdapat di DAS Ketahun Hulu sesuai dengan karakteristik lahan.

Alternatif agroteknologi yang direkomendasikan pada dasarnya dapat ekstrapolasikan di seluruh satuan lahan DAS Ketahun Hulu dengan penggunaan lahan kebun campuran yang memiliki kelas kemampuan lahan I sampai dengan IV (kelas lereng < 30%) dan semua jenis tanah. Berdasarkan prediksi erosi yang dilakukan di lokasi pengamatan intensif, alternatif agroteknologi 1 yang menerapkan tindakan konservasi tanah strip rumput ditambah mulsa serasah, pemupukan dan ternak T3 (30 ekor ayam dan 5 ekor kambing) pada satuan lahan dengan semua kelas lereng dibawah 30 % (0% – 8%, 8% – 15% dan 15% – 30%) dan semua jenis tanah sudah dapat mengurangi erosi sampai dibawah ambang batas erosi yang dapat ditoleransikan. Demikian pula dengan alternatif agroteknologi 2 yang menerapkan tindakan konservasi tanah teras gulud ditambah mulsa serasah, pemupukan dan ternak T3 (30 ekor ayam dan 5 ekor kambing).

Tipe usahatani yang diterapkan pada penggunaan lahan kebun campuran di seluruh DAS Ketahun Hulu dapat disesuaikan dengan tipe usahatani yang diinginkan oleh petani, karena tipe usahatani yang sudah diterapkan pada satuan lahan di luar lokasi pengamatan intensif belum diketahui. Semua tipe usahatani berbasis kopi bisa menjadi pilihan untuk diterapkan oleh petani di DAS Ketahun Hulu. Berdasarkan Tabel 22, tipe usahatani dengan menerapkan alternatif agroteknologi 1 dan 2 yang memberikan pendapatan paling maksimal adalah UT6. Tipe usahatani ini yang paling disarankan untuk diterapkan pada lahan-lahan usahatani berbasis kopi di DAS Ketahun Hulu dengan menerapkan alternatif agroteknologi yang direkomendasikan karena memberikan pendapatan yang tertinggi dan erosi dibawah erosi yang dapat ditoleransikan.

Gambar

Gambar 8. Peta Satuan Lahan DAS Ketahun Hulu dan Satuan Lahan Pengamatan Intensif  43
Gambar 9. Peta Rekomendasi Penggunaan Lahan dan Pengembangan Usahatani Berbasis Kopi Dengan Alternatif Agroteknologi 1 Satuan                     Lahan Pengamatan Intensif
Gambar 10. Peta Rekomendasi Penggunaan Lahan dan Pengembangan Usahatani Berbasis Kopi Dengan Alternatif Agroteknologi 2 Satuan                       Lahan Pengamatan Intensif
Gambar 11. Peta Rekomendasi Penggunaan Lahan dan Pengembangan Usahatani Berbasis Kopi Dengan Alternatif Agroteknologi 1 DAS                       Ketahun Hulu
+2

Referensi

Dokumen terkait

Hasil penelitian penanaman nilai budi pekerti melalui pembelajaran tari di Paud Ibunda Kecamatan Gringsing Kabupaten Batang, menunjukan yaitu: Pertama, penanaman sikap sopan

Meneladani nilai- nilai juang para tokoh yang berperan dalam proses perumusan Pancasila sebagai Dasar Negara dalam kehidupan sehari-hari.  Menerapkan nila- nilai juang para

Hal ini dikarenakan pada konsentrasi tersebut pemberian zat pengatur tumbuah IAA mampu bekerja aktif di dalam merangsang tanaman dan lebih dapat dimanfaatkan oleh

Metode pengabuan basah dapat dikatakan lebih baik dibandingkan dengan pengabuan kering, karena tidak banyak bahan yang hilang dengan suhu pengabuan yang tinggi seperti

1) Hormon Thymic : Hormon dari kelenjar timus (thymus), berperan untuk mempengaruhi perkembangan sel limfosit B menjadi sel plasma, yaitu sel penghasin antibodi.

Variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah Jumlah Alokasi Kredit Modal Kerja sebagai variabel dependen sedangkan Suku bunga kredit modal kerja dan

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan struktur yang membangun novel Orang Miskin Dilarang Sekolah , nilai pendidikan moral para tokoh, dan

Pembuluh nadi atau arteri adalah pembuluh darah berotot yang membawa darah dari jantung. Fungsi ini bertolak belakang dengan fungsi pembuluh balik yang membawa