• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN HUKUM ISLAM TERHADAP TERHALANGNYA HAK KEWARISAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "TINJAUAN HUKUM ISLAM TERHADAP TERHALANGNYA HAK KEWARISAN"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

16 e-ISSN: 2656-9442 p-ISSN: 2550-0627 TINJAUAN HUKUM ISLAM TERHADAP TERHALANGNYA

HAK KEWARISAN

Dwi Dasa Suryantoro Email [email protected]

Prodi Ahwal Asy syakhsiyyah, STAI Nurul Huda Kapongan Situbondo

Abstrak

Ahli waris menurut kompilasi hukum islam merupakan orang yang memiliki hubungan keluarga darah dan adanya hubungan pernikahan dengan pewaris dan pewaris merupakan orang yang sudah meninggal dan meninggalkan harta peninggala/harta waris kepada ahli. Dalam hal ini penulis melakukan analisa mengenai bagaimana tinjauan hukum islam terhadap terhalangnya hak kewarisan. artikel penelitian ini kami menganlisanya dengan menggunakan jenis pendekatan yuridis normatif dengan kajian literatur, kepustakaan sebagai bahan hukum dan perundang-undangan. Kompilasi hukum islam menginginkan adanya persyaratan terhadap ahli waris agar tidak melakukan ketentuan seperti yang diatur dalam ketentuan pasal 173 KHI (kompilasi Hukum Islam) yang menyebabkan terhalangnya mewarisi. Adapun hal - hal yang menyebabkan seseorang ahli waris dinyatakan terhalang menerima warisan dari harta yang ditinggalkan pewaris. Dalam fiqh klasik ulama sunni ditentukan bahwa ada empat faktor yang menyebabkan seseorang terhalang menerima warisan dari pewaris, yaitu (a) perbudakan, (b) pembunhan, (c) berbeda agama/kafir , (d) mati misterius.

Keywods : terhalangnya hak mewarisi, Hukum

Abstract

The heirs according to the compilation of Islamic law are people who are related by blood and there is a marriage relationship with the testator and the heir is a person who has died and left the inheritance / inheritance to the expert. In this case the authors do an analysis of how the Islamic legal review of obstruction of inheritance. this research article we analyze it by using a type of normative juridical approach with the study of literature, literature as legal material and legislation. The compilation of Islamic law wants the requirements of the heirs not to carry out the provisions as stipulated in the provisions of article 173 KHI (compilation of Islamic Law) which causes obstruction of inheritance. As for the things that cause an heir to be declared prevented from receiving an inheritance from the assets left by the testator. In the classical fiqh of Sunni scholars it is determined that there are four factors that cause a person to be prevented from inheriting from an heir, namely (a)

(2)

e-ISSN: 2656-9442 p-ISSN: 2550-0627

17 slavery, (b) murder, (c) different religions / infidels, (d) mysterious death.

Keywods: obstruction of inheritance rights, Law PENDAHULUAN

Hukum waris merupakan salah satu bagian dari hukum perdata yang merupakan bagian dari hukum kekeluargaan. Dalam kehidupan manusia tidak terlepas dari adanya hukum kewarisan karena hukum waris merupakan ruang lingkup dari kehidupan manusia. Manusia pasti akan mengalami adanya kematian oleh karenanya akibat dari peritiwa tersebut maka akan timbul adanya kepengurusan hak-hak dan kewajiban-kewajiban dalam hukum kewarisan. Adanya Penyelesaian kewajiban-kewajiban dan hak – hak sebagai akibat pewaris meninggal dunia diatur oleh hukum waris. Allah telah berfirman dalam surat al-Nisa’ ayat 7 :

“Bagi seorang laki-laki mempunyai hak bagian dari harta peninggalan bapak dan ibu serta kerabatnya dan seorang wanita juga mempunyai hak bagian (pula) dari harta peninggalan bapak dan ibu serta kerabatnya, baik banyak atau sedikit menurut bahagian yang telah ditetapkan”. pada ayat ini menjelaskan bahwasanya Allah telah memberikan bagian hak sendiri-sendiri kepada laki-laki dan perempuan dari harta peninggalan orang tuanya maupun kerabatnya.

Oleh karenya hukum kewarisan merupakan hukum yang mengatur tentang peralihan hak kepemilikan harta waris dan menentukan siapa saja yang berhak atas harta warisan tertsebut serta mengatur tentang bagian-harta waris masing-masing ahli warisnya. Salah satu asas yang menjadi prinsip dalam hukum waris islam adalah asas ijbari yang mempunyai arti bahwa adanya harta peninggalan yang beralih dari seseorang yang meninggal dunia kepada ahli warisnya berlaku dengan sendirinya dan tidak mengantungkan kehendaknya kepada pewaris atau kehendak ahli warisnya. Oleh karenanya ketika seseorang yang mempunyai harta dan meninggal dunia maka harta tersebut dikatakan sebagai harta peninggalan yang secara hukum harta tersebut sebagai harta warisan pewaris terbuka dan dapat beralih menjadi hak milik dari para ahli warisnya, dimana Rosulullah SAW menganjurkan untuk menyegerakan adanya pembagian harta peninggalan/harta warisan kepada hali waris.

Dalam pasal 171 huruf (c) Kompilasi Hukum Islam ahli waris merupakan orang yang mempunyai hubungan perkawinan atau hubungan darah dengan pewaris, agamanya islam dan tidak ada halangan waris karena hukum sebagai ahli waris. Dari definisi tersebut ada dua aspek yang perlu mendapatkan penekanan yang pertama bahwa adanya hubungan hukum antara pewaris dengan ahli warisnya, ketentuan yang ideal dalam hukum waris islam bahwa hubungan hukum antara pewaris dengan ahli waris hanya ditentukan dua jalur yaitu kekerabatan karena hubungan perkawinan dan kekerabatan

(3)

18 e-ISSN: 2656-9442 p-ISSN: 2550-0627 melalui hubungan nasab, sebagaimana dasar pada nash al-Qur`an surat an- Nisa`(4) : 11 dan 12. Kedua Kompilasi hukum islam mempunyai persyaratan untuk ahli waris tidak melakukan ketentuan sebagaimana yang telah diatur dalam ketentuan pasal 173 KHI yang menyebabkan terhalangnya mewarisi.

Berangkat dari persoalan ada ketentuan hukum yang mengatur tentang terhalangnya hak mewarisi maka penulis ingin mengetahui bagaimana tinjauan secara hukum islam mengenai terhalangnya hak mewarisi bagi hali waris.

METODE PENELITIAN

Metode penelitian merupakansuatu tahapan dalam melakukan suatu kegiatan penelitian sebagaimana nantinya dapat menjalankan fungsi peneiltian, dimana fungsi penelitian untuk mendapatkan suatu kebenaran.1

Suatu kebenaran harus bersumber pada ilmu pengetahuan yaitu darimana sumber-sumber pengetahuan itu diperoleh, apakah sumber pengetahuan tesebut dapat dipercaya atau tidak.2 Untuk itu perlu adanya suatu metode dalam kegiatan penelitian setidaknya dengan menggunakan teknik pendekatan baik normatif maupun empiris.

Dengan demikian tanpa adanya suatu metode penelitian, peneliti tidak akan pernah mendapatkan sumber-sumber pengetahua dalam penelitiannya sehingga kebenaran yang dicari sebagaimana fungsi dari penelitian itu sendiri tidak akan pernah mendapatkan kebenaran.

Bahwa dalam penelitian hukum terdapat dua model jenis pendekatan yaitu pendekatan penelitian hukum empiris dan penelitian hukum normatif.

Penelitian ini menggunakan penelitian hukum yuridis normatif dimana penelitian ini mempunyai sifat Deskriptif, yang maksudnya pendekatan berdasarkan peraturan perundang-undangan serta hukum yang berkaitan erat dengan masalah yang akan diteliti yang bersumber pada fakta yang sebenarnya di dalam masyarakatdan bahan pustaka atau data sekunder. 3

Pedekatan yang penulis lakukan ini berdasarkan peraturan perundang- undangan dan teori-teori yang berkaitan dengan terhalangnya hak mewarisi dalam tinjauan hukum islam..

1.Peter Mahmud Marzuki, Penelitian Hukum (Jakarta: Kencana Perdana Media Group, 2013) hlm. 20

2Ibid

3SoerjonoSoekanto, Op. Cit, h. 52.

(4)

e-ISSN: 2656-9442 p-ISSN: 2550-0627

19 PEMBAHASAN

Seseorang yang mendapatkan harta warisan pewaris karena 3 (tiga) hal, yaitu sebab hubungan kerabat atau nasab, perkawinan, wala’ (memerdekakan budak) dan hubungan sesama Islam 4:

1. Hubungan Kekerabatan atau Nasab

Kekerabatan ialah adanya hubungan nasab antara pewaris (orang yang mewariskan) dengan orang yang mewarisi yang disebabkan oleh kelahiran.

Oleh karenanya Kekerabatan dapat dikatakan sebab untuk mendapatkan hak mewarisi yang paling kuat, karena adanya unsu causalitas dalam kekerabatan seseorang yang tidak bisa dihilangkan.5

Ajaran islam mengatur bahwa hubungan kekerabatan melalui pertalian darah merupakan faktor penyebab antara seseorang dengan orang lain saling waris mewarisi. Kekerabatan melalui hubungan darah dapat dalam bentuk hubungan kekerabatan dalam garis lurus ketas atau kekerabatan dalam garis lurus ke bawah serta kekerabatan dalam garis menyamping.

Didalam ilmu nasab ada klasifikasi atau pengelompokan status nasab seseorang :

a. Shohihun Nasab, adalah nasab yang statusnya dinyatakan dapat berhak untuk didaftarkan pada buku induk melalui adanya pengecekan dan penelitian serta penyelidikan yang hasilnya sesuai dengan buku rujukan.

b. Masyhurun Nasab, adalah seseorang yang status nasabnya dapat diakui kebenarannya, dalam hal ini status tersebut didapat tidak melalui adanya buku rujukan melainkan karena tidak dapat dimasukkan dalam buku induk, oleh karenanya di dapat dengan melalui keterangan secara langsung dari pihak keluarganya serta didukung dengan bahan-bahan literature/buku yang sekiranya dapat diyakini dan diakui kebenarannya oleh para ahli yang berkopenten dibaidang silsilah waris terdahulu ditambah informasi dari orang yang dapat diakui secara sikap keperibadian diwaktu masanya.

c. Majhulun Nasab, adalah nasab seseorang yang statusnya setelah diadakannya masa penyelidikan / pengecekan dan penelitian ternyata tidak didapatkan jalur nasabnya, hal ini dapat disebabkan adanya beberapa kemungkinan sebab terjadinya status ini antara lain: karena adanya kebodohan, ketidaktahuan, kurangnya pengetahuan tentang nasabnya ataupun niat untuk melakukan pemalsuan nasab.

4Otje Salman &Mustofahaffas, 2002.Hukumwarisislam, Jakarta, PT Raja GrafindoPersada, h.

5FatchurRahman, IlmuWaris, PT Al-Ma`arif Jakarta, 1975, h. 115

(5)

20 e-ISSN: 2656-9442 p-ISSN: 2550-0627 d. Maskukun Nasab, adalah nasab seseorang yang statusnya dapat diragukan tentang benar atau tidaknya, karena susunannya terjadi adanya kesalahan dalam lompatan beberapa nama. Hal ini disebabkan karena adanya kelalaian yang berdampak pada tidak tercatatanya nama-nama dalam generasi tertentu.

e. Mardudun Nasab, adalah nasab seseorang yang statusnya dilakukan kesengajaan untuk memalsukan status nasab, yakni mencamtum nama- nama yang tidak mempunyai hubungan dengan jalur nasab yang ada, atau namanya dinisbahkan melalui cara qabilah yang ada berdasarkan dengan cerita tentang ilmu nasab hanya untuk demi kepentingan secara komersial saja.

f. Tahtal Bahas, adalah nasab seseorang yang statusnya terdapat adanya simpang siur dalam susunan nama-namanya. Hal tersebut dapat disebabkan oleh beberapa hal anatar lain tidak adanya komunikasi dengan keluarganya, sejak kecil kelaurganya sudah meninggalkannya, adanya kesalahan dalam penulisan urutan nama – namanya.

g. Math`unun nasab, adalah nasab seseorang yang statusnya ditolak karena terlahir dari hasil perkawinan diluar syariat islam, ditolaknya nasab ini melalui adanya penelitian dan dilakukan pengecekan serta menegskan pula beberapa orang saksi yang dipercaya, hal ini juga dikenal dengan cacat nasab.

Dalam hukum islam ikatan adanya hubungan darah atau keluarga ini mempunyai dampak yang luas, apalagi jika ada suatu permasalahan yang berdampak hukum, moral dan sosial, maka dari itu menjadi penting mengetahui adanya status nasab seseorang agar jelas dan terang.

2. Hubungan Perkawinan

Antara kelurga dan perkawinan sangat erat kaitannya karena keluarga hanya akan lahir dari suatu perkawinan, tidak akan ada keluarga tanpa adanya perkawinan, dan juga tidak ada perkawinan yang tidak membentuk keluarga.

Perkawinan ialah ikatan lahir batin antara seseorang laki-laki dengan seorang perempuan sebagai suami isteri dengan tujuan membentuk keluarga yang kekal dan bahagia berdasarkan ketuhanan yang maha esa.

Perkawinannya dapat dikatakan sah jika pelaksanaanya sesuai hukum agama dan kepercayaannnya masing-masing. Tiap-tiap perkawinan dicatat menurut aturan hukum yang berlaku. Dalam kehidupan bermsayarakat perkawinan adalah Peristiwa penting karena bukan hanya kepentingan atau urusan pribadi saja melainkan juga merupakan kepentingan bersama dalam bekeluraga dan bermsayarakat.

Dilihat dari aspek social arti penting dalam suatu perkawinan yaitu dapat diketahuai dari penilaian secara umum karena jika dilihat dari pandangan

(6)

e-ISSN: 2656-9442 p-ISSN: 2550-0627

21 msecara umum seseorang yang melakukan perkawinan dan membentuk keluarga yang harmonis mempunyai tingkat kedudukan yang lebih dihormati dan dihargai dalam lingkungan masyarakat daripada yang belum menikah.

Sedangkan kedudukan bagi wanita mempunyai tingkat kedudukan sosial yang tinggi karena wanita tersebut adalah sebagai isteri, dimana seorang isteri tentunya akan mendapatkan hak-haknya sebagai isteri yang disayangi dan dipenuhi hak-haknya oleh suami dan bukan menjadi tanggunga jawab orang tuanya.

Aspek agama dalam perkawinan ialah, bahwa dalam islam mempunyai pandangan bahwa perkawinan itu sebagai basis masyarakat yang baik dan teratur, sebab pertalian perkawinan buakn hanya dikat secara lahir saja namun perkainan dikat juga dengan ikatan batin. dalam ajaran islam suatu perkawinan bukan hanya berbicara tentang kesucian cinta sebagai suatu persetujuan suci, dimana kedua belah pihak dihubungkan menjadi pasangan hidupnya dengan mempergunakan nama Allah.

Hubungan perkawinan yang sah walaupun belum melakukan hubungan suami isteri, maka orang tersebut mempunyai hak bagian waris dari harta peninggalan dari pasangannya bukan dari ashabah. dengan demikian, seorang suami dapat menjadi pewaris dan isterinya dapat menjadi ahli waris daris suaminya dan sebaliknya demikian juga.

3. Hubungan Sebab Al-Wala’

Hubungan sebab wala’ adalah hubungan antara seorang tuan dengan budaknya, dimana tuan mempunyai hak atas harta peninggalan dari budak yang dimerdekakannya baik dengan merdekakan secara bertahap, syara`, ataupun secara langsung seperti memerdekakan orang tua kepada anaknya.

Mantan tuan mendpatkan harta peninggalan/harta warisan dari budak secara ashabah, berdasarkan sabda Nabi “Wala` adalah segenggam daging sebagaimana segenggam daging nasab”6 wala` disamakan dengan nasab

Hubungan waris-mewarisi tersebut diatas merupakan hubungan waris yang timbul karena adanya pembebasan budak atau seorang tuan mememerdekakan, walaupun antara tuan dan budak tidak mempunyai hubungan darah. Namun sekarang ini hubungan wala’ hanya terdapat dalam tataran wacana saja, karena perbudakan pada masa sekarang sudah tidak ada.

3. Hubungan Sesama Islam

Hubungan Islam di sini terjadi apabila ada orang yang tidak memiliki ahli waris kemudian orang tersebut meninggal duniadanemliki harta peninggalan/harta warisan, maka harta tersebut dapat dilakukan penyerahan

6 . Wahbah zuhaili,2010 Fiqih Imam Syafi`i mengupas masalah fiqhiyah berdasarkan Alqur`an dan hadits, jakarta, almahira, hal. 81

(7)

22 e-ISSN: 2656-9442 p-ISSN: 2550-0627 harta warisannya kepada baitulmaal yang nantinya diperuntukkan kepentingan umat Islam. Dengan demikian, harta orang Islam yang tidak mempunyai ahli waris itu diwarisi oleh umat islam.

Ada beberapa hal yang menyebabkan seseorang ahli waris dinyatakan terhalang menerima warisan dari harta yang ditinggalkan pewaris. Dalam fiqh klasik ulama sunni ditentukan bahwa ada empat faktor yang menyebabkan seseorang terhalang menerima warisan dari pewaris, yaitu (a) perbudakan, (b) pembunhan, (c) berbeda agama/kafir , (d) mati misterius.7

Halangan mewarisi adalah suatu perbuatan yang dapat menimbulkan adanya hal-hal yang dapat menghalangi adanya hak kewarisan dari ahli waris untuk mendapatkan hak warisnya karena adanya suatu sebab yang membuat seseorang tidak dapat menerima hak waris dari pewaris untuk mewarisi karena adanya sebab penghalang mewarisi, adapaun hal-hal yang menyebabkan ahli waris kehilangan hak mewarisi atau terhalang mewarisi adalah sebagai berikut :

1. Perbudakan

Seorang budak tidak mempunyai hak untuk mewariskan dan tidak memiliki hak untuk mendapatkan warisan karena budak tidak mempunyai hak milik.

Di negara-negara Islam dewasa ini, begitupun dunia internasional termasuk indonesia telah melarang adanya perbudakan dan perbudakan sebagai penghalang kewarisan di Indonesia tidak diatur dalam Kompilasi Hukum Islam.

2. Pembunuhan

Membunuh yaitu perbuatan ahli waris yang melakukan adanya suatu tindakan kejahatan dengan melakukan pembunuhan kepada pewaris sehingga pewaris meninggal dunia, apapun cara melakukan pembunuhannya dengan alasan dan cara apapun, baik pembunuhan itu karena hudud, menjalankan qishas, dan selainnya, lupa atau sengaja secara langsung atau menggunakan penyebab lain, sehingga dengan perbuatan ahli waris tersebut maka ahli waris tidak mempunyai hak untuk mendapatkan harta warisan dari pewaris.

Adapun dalilnya sabda Rosulullah “pembunuh tidak berhak mendapatkan warisan dari orang yang dibunuh” sebab jika ahli waris melakukan pembunuhuhan masih tetap mendapatkan harta warisan, maka yang akan terjadi tidak menutup kemungkinan jika ahli waris tersebut berusaha untuk melakukan pembuhuhan kepada pewaris, agar pewaris cepat meninggal

7. Wahbah zuhaili,2010, Ibid, hal. 85

(8)

e-ISSN: 2656-9442 p-ISSN: 2550-0627

23 dunia dan harta warisannya dapat dibagikan kepada ahli waris. Oleh karenanya adanya larangan tersebut diatas guna untuk kemaslahatan bersama.8

Yang menjadi pertanyaan adalah apakah semua jenis pembunuhan menyebabkan seseorang ahli waris terhalang menerima warisan dari pewaris.

Sebab sebagaimana diketahui bahwa tindakan pembunuhan dengan sengaja, pembunhan semi sengaja, pembunuhan karena tersalah/tidak sengaja. Ternyata imam mazhab berbeda pendapat dalam hal ini. Mazhab hanafi dan mazhab Syafi`i berpendapat bahwa semua macam pembunuhan sebagaimana tersebut diatas menghalangi seseorang untuk mendapatkan warisan dari pewarisnya.

Mazhab maliki berpendapat bahwa pembunuhan yang dapat menggugurkan hak mewaris hanyalah pembunuhan yang dilakukan ahli waris dengan sengaja, sedangkan dua macam pembunuhan laiinya tidak menggugurkan hak waris ahli waris. Menurut mazhab hambali setiap pembunuhan yang dihukum dengan hukuman qishahas, diyat, atau kafarat saja yang mengugurkan hak waris. Pembunuhan yang tidak diancam dengan hukuman tersebut tidak mengugurkan hak waris.

Pada dasarnya seluruh fuqoha menetapkan, bahwasannya pembunuhan adalah suatu penghalang mewarisi. Tetapi yang menjadi adanya perbedaan pendapat disini oleh para fuqoha adalah bentuk-bentuk pembunuhan yang mana saja yang dapat dikategorikan sebagai penghalang mewarisi, dalam masalah ini dapat kita simpulkan sebagai berikut:

1. Menurut golongan Hanafiyah

Adapun pada golongan hanafiyah yang dimaksud dengan pembunuhan yang dapat terhalangnya mendaptakan warisan yaitu pemubuhan yang dilakukan dengan kesengajaan (secara langsung) yang dapat mengakibatkan adanya qishas atau pembunuhan yang dilakukan baik dengan sengaja maupun tidak sengaja ataupun dianggap sebagai suatu kesengajaan yang semuanya diwajibkan untuk membayar kafarat atau diat apabila orang yang melakukan pembunuhan tersebut dengan tanpa alasan yang membenarkan perbuatan itu dan orang yang melakukannya adalah orang yang cakap atau dewasa dan berakal sehat.

Jadi perbuatan seseorang yang tidak diberikan sanksi qishos masih memiiki hak untuk mewarisi, seperti perbuatananak kecil atau dibawah umur yang melakukan pembunuhan dan lain sebagainya.

2. Menurut golongan Syafi’iyah

Apapun bentuk pembunuhan baik secara mutlak dan dalam bentuk seperti apapun merupakan penghalang untuk mewarisi, baik dalam kedaan ada alasan ataupun tidak ada alasan, secara langsung maupun tidak langsung dan

8 . Wahbah zuhaili,2010. Ibid, hal. 86

(9)

24 e-ISSN: 2656-9442 p-ISSN: 2550-0627 yang melakukannya baik cakap maupun tidak. Oleh karena itu pelaku pembunuhan yang diberikan sanksi qishos tidak mempunyai hak untuk mewarisi harta peninggalan orang yang dibunuh.

Apapun bentuk dan cara pelaksanaan pembunuhannya dilakukan oleh ahli waris kepada pewaris, baik dengan alasan apapun, cara apapun, baik karena adanya qishas, hudud, lupa atau dengan kesengajaan secara langsung atau melakukan dengan sebab apapun. Oleh karenanya apabila pelaku pembunuhan dalam hal ini adalah ahli waris dan yang dibunuh adalah pewaris dari ahli waris tersebut maka ahli waris tidak dapat mempunyai hak kewarisan dari si pewaris yang dibunuhnya.9

Adapun Imam Syafi’i dalam hal memberikan contohnya mengenai terhalangnya hak mewarisi sebagai berikut:

a) orang yang memberikan kesaksian palsu dengan dibawah sumpah, dalam hal ini orang tersbut tidak dapat mewarisi harta waris dari orang yang menjadi korban kesaksian palsunya.

b) Hakim yang menjatuhkan putusan pidana mati, maka hakim tersebut tidak dapat mewarisi harta orang yang telah dijatuhi pidana mati tersebut.

c). Seorang Algojo atau eksekutor yang melaksanakan tugas membunuh tidak dapat mewarisi harta orang peninggalan pesakitan yang dibunuhnya

adapun pendapat ulama pendukung syafi’iyah ini dikuatkan oleh sebuah analisa bahwa pembunuhan yang dilakukan dengan cara apapun dapat memutuskan tali perwalian yang menjadi dasar saling mewarisi.

3. Menurut golongan Malikiyah

Menurut golongan malikiyah pembuhan yang dilakukan dengan kesengajaan yang dapat menghalangi hak waris.

4. Menurut golongan Hambaliyah

Menurut golongan hambaliyah, apapun bentuk dari pembunuhan yang akibatnya mendapatkan sanksi qishsos atau yang akibatnya kaffarat dapat menjadikan adanya terhalang hak mewarisinya. Sedangkan pembunuhan yang lainnya dengan tidak mengakibatkan apapun, semacami pembunuhan yang dapat dibenarkan maka tidak menghalangi dalam mewarisi.

Sedangkan dalam Kompilasi Hukum Islam tidak melihat kepada berat ringannya hukuman yang dijatuhkan terhdap pembunuh sehingga menyebabkan gugurnya hak pembunuh untuk mewarisi harta warisan pewaris sebagaimana pendapat mazhab Imam Hambali, tetapi lebih dekat kepada pendapat mazhab Imam Hanafi dan Imam Syafi`i bahwa semua macam pembunuhan dapat menyebabkan gugurnya hak mewarisi. Hal ini dapat dilihat dari ketentuan pasal 173 huruf a KHI yang berbunyi “ seorang terhalang

9 . Wahbah zuhaili,2010, ibid, hal. 85

(10)

e-ISSN: 2656-9442 p-ISSN: 2550-0627

25 menjadi ahli waris apabila dengan putusan hakim yang telah mempunyai kekuatan hukum yang tetap dihukum karena : a. Dipersalahkan telah membunuh atau mencoba membunuh atau menganiaya berat pewaris”.

Pemahaman rumusan pasal 173 KHI bahwasanya bentuk pembunhan yang mengalangi kewarisan adalah segala bentuk pembunuhan, baik pembunhan dengan berencana sebagimana pasal 340 KUHP maupun pembunuhan biasapasal 338 KUHP ataupun melakukan percobaan pemunuhan.

3. Berbeda Agama/kafir

Berlainan agama/kafir adalah berbeda iman dimana antara pewaris dan ahli waris berbeda agama, mereka mempunyai kepercayaan agama yang berbeda. Hal ini didasarkan pada hadits Rosulullah SAW yang artinya “orang muslim tidak mewarisi orang kafir, demikian juga orang kafir tidak mewarisi orang muslim” (Mut-afaq `alaih).

Dalam hadits tersebut Rosulullah SAW menegaskan bahwa faktor perbedaan iman antara pewaris dan ahli waris menyebabkan adanya tidak saling mewarisi. Sebaliknya kesamaan iman merupakan prasyarat utama saling mewarisiantara ahli waris dengan pewaris, jumhur ulama sepakat dalam hal ini.10

Demikian juga orang murtad (orang yang meninggalkan agama Islam) mempunyai kedudukan yang sama, yaitu tidak mewarisi harta peninggalan keluarganya. Orang yang murtad tersebut berarti telah melakukan tindak kejahatan besar yang telah memutuskan syariat Islam, sebagaimana firman Allah dalam surat Al-Baqarah ayat 217:

“Barang siapa yang murtad di antara kamu dari agamanya lalu diamati dalam keadaan kekafiran maka mereka itulah yang sia-sia amalanya di dunia dan akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya”.

Orang islam tidak boleh merima warisan dari orang kafir begitu juga sebaliknya, menurut pendpaat yang masyur kafir harbi (orang kafir yang berperang dengan kaum muslimin) tidak boleh mewariskan kepada kafir harbi atau kafir dzimmi (orang kafir yang hidup berdampingan dan dibawah kekuasaan pemerintahan islam).11 Orang murtad tidak boleh mewarisi dan mewariskan. Dalam hadits yang diriwayatkan dari abu burdah dikatakan

“Rosulullah memerintahkan aku untuk menghukum mati orang yang mengawini ibu tirinya, kemudian membagai lima hartanya karena dia termasuk orang yang telah murtad”

10 . Anshary, 2013. Ibid, hal. 45

11 . Wahbah zuhaili,2010, Ibid, Hal. 86

(11)

26 e-ISSN: 2656-9442 p-ISSN: 2550-0627 Orang kafir boleh mewarisi orang yang kafir pula, seperti kafir mu`ahid, dzimmi, dan musta`min walaupun keduanya berbeda agama, seperti yahudi dari nasrani dan juga sebaliknya: nasrani dan majusi.

Dalam pasal 171 huruf b dan c Kompilasi Hukum Islam dipertegas lagi bahwa adanya hak saling mewaris apabila pewaris dan ahli waris mempunyai iman dan akidah yang sama. Apabila mereka tidak seiman dan tidak seakidah maka mereka tidak saling mewarisi.

4. Mati misterius

Apabila ada dua orang saudara meninggal dunia karena tenggelam, tertimpa sesutau, atau raib serta tidak diketahui aiapa yang meninggal lebih dulu, maka salah satunya tidak berhak menerima warisan dari yang lain, harta yang ditinggalkan oleh mereka berdua diberikan kepada ahli waris lainnya.

Sedangkan pelaksanaan pembagian warisan untuk orang yang dipenjara atau orang hilang (mafqud) untuk sementara dilakukan penangguhan sehingga didapat informasi yang jelas dan akurat tentang keberadaan mereka, jikalau mereka sudah jelas dan akurat bahwa telah meninggal dunia dengan dibuktikan adanya saksi-saksi atau dengan perkiraan orang pada saat semasanya dengan orang yang hilang sudah meninggal dunia maka Hakim dapat mepertimbangkan hal tersebut dan dapat memutuskan kematiaanya.

Apabila hakim menjatuhkan putusan bahwasanya orang tersebut telah meninggal dunia terhdap orang hilang tersebut, maka harta peninggalan/ harta warisan dapat dibagikan kepada ahli waris yang berhak pada saat dia dinyatakan meninggal, bukan pada saat dia dinyatakan hilang, namun apabila orang hilang itu memiliki hak waris maka hak warisnya ditangguhkan dahulu sebelum didapatnya informasi yang jelas dan akurat bahwa apakah orang hilang tersebut masih hidup disaat orang yang mewariskannya meninggal atau telah meninggal lebih dulu.

Penulis berpendapat bahwa orang hilang (mafqud) merupakan penghalang bagi ahli waris untuk mendapatkan bagian warisnya dan tidak boleh menerima warisan hingga keberadaannya ditemukan, untuk itu harus ada kejelasan secara terang yaitu apabila ahli waris berkurang pembagiannya karena mafqud masih hidup, maka perkirakanlah bahwa mafqud masih hidup.

Namun apabila ahli waris berkurang pembagian warisnya karena mafqud sudah mati, maka perkirakanlah bahwa mafqud sudah meninggal dunia.

Sedangkan ahli waris yang bagian warisnya tidak terpengaruh oleh hidup dan matinya mafqud maka berikanlah haknya.

PENUTUP

Bahwa hubungan hukum antara pewaris dengan ahli waris hanya ditentukan dua jalur yaitu kekerabatan karena hubungan perkawinan dan kekerabatan melalui hubungan nasab, hal ini didasarkan pada nash al-Qur`an

(12)

e-ISSN: 2656-9442 p-ISSN: 2550-0627

27 surat an-Nisa`(4) : 11 dan 12. Dalam Kompilasi hukum islam menghendaki persyaratan bagi seorang ahli waris tidak melakukan ketentuan sebagaimana yang diatur dalam ketentuan pasal 173 KHI yang menyebabkan terhalangnya mewarisi.

Ada beberapa hal yang menyebabkan seseorang ahli waris dinyatakan terhalang menerima warisan dari harta yang ditinggalkan pewaris. Dalam fiqh klasik ulama sunni ditentukan bahwa ada empat faktor yang menyebabkan seseorang terhalang menerima warisan dari pewaris, yaitu (a) perbudakan, (b) pembunhan, (c) berbeda agama/kafir , (d) mati misterius.

DAFTAR PUSTAKA

Anshary, 2013. Hukum kewarisan Islam dalam teoari dan praktek,Yogyakarta, Pustaka Pelajar, cetakan I.

Fatchur Rahman, 1975. Ilmu Waris, Jakarta, PT Al-Ma`arif

Marzuki Mahmud Peter, 2013, Penelitian Hukum, Jakarta:kencana prenada media group.

Otje Salman & Mustofa haffas, 2002. Hukum waris islam, Jakarta, PT Raja Grafindo Persada.

Zuhaili. W, 2010. Fiqih Imam Syafi`i mengupas masalah fiqhiyah berdasarkan al qur`an dan hadits, jakarta, Almahira.

Buku II Kompilasi Hukum Islam.

Referensi

Dokumen terkait

Peniltian ini bertujuan untuk merancang Aplikasi Jadwal Kerja Karyawan Berbasis Website, Alat bantu desain sistem yang digunakan dalam menganalisis sistem adalah

Pengukuran geolistrik konfigurasi schlumberger di Pulau Gili Ketapang telah dilakukan pada 8 titik pengukuran dengan dengan kedalaman pengukuran 100 meter di bawah

Nahiz eta, gure ustez, argi dagoen Fredulforen eta Valpuestaren arteko lotura (jarraikortasun bat duena bere familiako kideen artean eta Joanen dohaintza

Cilj SMED sustava je pretvoriti što više koraka promjene opreme u eksterne aktivnosti, odnosno u one aktivnosti koje se mogu odvijati tijekom rada opreme.. SMED alat i

layanan juga merupakan bukti fisik dari semua pelayanan yang diberikan selama proses pemberian pelayanan di Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu

Tanaman kakaopetani di Desa Timbang Jaya Kecamatan Bahorok diberikan pengendalian hama PBK secara biologis dengan memasang sarang sarang semut hitam permanen

Pemangkasan di dua blok pada bulan Januari dan Maret 2011 dapat selesai dalam waktu kurang dari 30 hari dengan kapasitas pemangkas melebihi kapasitas standar yang

Berdasakan hasil penelitian diketahui dari 139 remaja dengan status gizi normal, sebanyak 11 (7,9%) remaja dengan usia menarche tidak baik, hal ini