• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS VARIAN BELANJA TIDAK LANGSUNG DAN VARIAN BELANJA LANGSUNG DI SATUAN KERJA PERANGKAT KOTA (SKPK) BANDA ACEH

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "ANALISIS VARIAN BELANJA TIDAK LANGSUNG DAN VARIAN BELANJA LANGSUNG DI SATUAN KERJA PERANGKAT KOTA (SKPK) BANDA ACEH"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

29 - Volume 3, No. 1, Februari 2014

ANALISIS VARIAN BELANJA TIDAK LANGSUNG DAN VARIAN BELANJA LANGSUNG DI SATUAN KERJA

PERANGKAT KOTA (SKPK) BANDA ACEH

Nova Rahayu1, Darwanis2, Syukriy Abdullah2

Magister Akuntansi Program Pascasarjana Universitas Syiah Kuala Banda Aceh

2)Fakultas Ekonomi Universitas Syiah Kuala Banda Aceh

Abstract: This research aims to view how the variance magnitude of indirect expenditure (variance of officer expenditure) and variance of direct expenditure (variance expenditures of officer, goods and service, and capital) which impacted in rest of budget in City Task Force (SKPK). The research population was all of SKPK Banda Aceh, and target population was 70 Budget Realization Reports (LRA) SKPK period 2009-2011. Secondary data was gotten from Qanun of APBD Accountability. Data analysis done descriptively in form of narrative to describe the magnitude of variances of indirect expenditure, direct expenditure, officer expenditure, goods and service expenditure, and capital expenditure that producing the rest of budget. Processing the data was using SPSS, i.e. statistic descriptive to getting the average value of variance of expenditure, minimum value and maximum value, and standard deviation.

The result showed that percentage of magnitude average of direct expenditure was greater than indirect expenditure. Then, expenditure variances of goods and service were the highest in producing the rest of budget in SKPK Banda Aceh of the officer variance and capital variance.

Keywords : Variance of Indirect Expenditure, Variance of Direct Expenditure, and The Rest of Budget.

Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk melihat bagaimana besaran varian belanja tidak langsung (varian belanja pegawai) dan varian belanja langsung (varian belanja pegawai, varian belanja barang/jasa dan varian belanja modal) yang berdampak terhadap sisa anggaran pada Satuan Kerja Perangkat Kota (SKPK) Banda Aceh. Populasi penelitian adalah seluruh SKPK Kota Banda Aceh, dan populasi sasaran adalah 70 LRA SKPK Banda Aceh tahun anggaran 2009-2011. Data sekunder penelitian diperoleh dari Qanun Pertanggungjawaban APBD kota Banda Aceh untuk tahun anggaran 2009-2011. Analisis data dilakukan secara deskriptif dalam bentuk uraian untuk menggambarkan besaran varian belanja tidak langsung, besaran varian belanja langsung, besaran varian belanja pegawai, besaran varian belanja barang/jasa dan besaran varian belanja modal yang menghasilkan sisa anggaran.

Pengolahan data menggunakan SPSS, yakni analisis statistik deskriptif untuk mendapatkan nilai rata- rata besaran varian anggaran belanja, nilai varian belanja tertinggi dan terendah serta standar deviasi.

Hasil penelitian menunjukkan persentase besaran rata-rata varian belanja langsung lebih besar dibandingkan dengan persentase besaran rata-rata varian belanja tidak langsung dalam menghasilkan sisa angggaran pada seluruh SKPK kota Banda Aceh, dan besaran rata-rata varian belanja barang dan jasa merupakan besaran varian jenis belanja yang paling tinggi menghasilkan sisa anggaran di seluruh SKPK, dari pada varian belanja pegawai dan varian belanja modal.

Kata Kunci : Varian Belanja Tidak Langsung, Varian Belanja Langsung dan Sisa Anggaran.

PENDAHULUAN

Reformasi pengelolaan keuangan daerah di Indonesia telah memberikan ruang yang besar bagi pemerintah daerah dalam mengelola daerahnya.

Propinsi dan kabupaten/kota di Indonesia mempunyai kesempatan yang lebih luas untuk

merencanakan dan mengelola pembangunan di daerahnya.

Konsepsi otonomi daerah dijabarkan dalam pasal 1 angka 5 dan angka 6 UU No. 32/2004. Pasal 1 angka 5 menyatakan bahwa otonomi daerah adalah hak, wewenang dan kewajiban daerah

(2)

Volume 3, No. 1, Februari 2014 - 30 otonom untuk mengatur dan mengurus sendiri

urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat sesuai dengan peraturan perundang- undangan (termasuk yang diatur sendiri adalah pengelolaan keuangan daerah).

Dalam praktiknya, penyusunan anggaran secara otonom menimbulkan varian anggaran dan sisa anggaran. Baru-baru ini, dari data yang publikasikan oleh Tim Public Expenditure Analysis and Capacity Strengthening Program (PECAPP), diperkirakan Sisa Lebih Perhitungan Anggaran (SILPA) Pemerintah Aceh untuk 2013 dapat meningkat menjadi Rp.2 triliun. Menurut Abdullah (2013) penyebab besarnya SILPA Aceh setiap tahun dikarenakan oleh lemahnya daya serap Satuan Kerja Pemerintah Aceh (SKPA), terlambatnya pengesahan anggaran, terlambatnya pelaksanaan tender dan perubahan iklim/musim.

Mahmudi (2010:174) menyatakan ada tidaknya dan besar kecilnya SILPA sangat tergantung pada tingkat belanja yang dilakukan serta kinerja pendapatan. Jika tingkat belanja relatif rendah atau terjadi efisiensi anggaran maka dimungkinkan diperoleh SILPA lebih tinggi, begitu sebaliknya. Oleh karena itu, varian belanja adalah salah satu penyumbang angka SILPA.

SILPA/sisa anggaran merupakan dampak dari adanya varian pada anggaran daerah.

Seperti yang dinyatakan oleh Abdullah (2012), varian anggaran akan menghasilkan sisa anggaran pada akhir tahun dan sisa anggaran di akhir tahun akan menjadi saldo awal kas pada awal tahun anggaran berikutnya. Penelitian sebelumnya mengenai sisa anggaran dan varian

anggaran telah dilakukan oleh Andalia (2012), yakni pengkajian tentang pengaruh varian pendapatan dan varian belanja terhadap sisa anggaran di kabupaten/kota di Aceh yang menunjukkan keduanya berpengaruh positif terhadap sisa anggaran, dan varian belanja merupakan yang paling besar pengaruhnya terhadap sisa anggaran.

Varian anggaran adalah selisih antara target dengan realisasi anggaran, varian hampir selalu terjadi untuk semua komponen anggaran, yakni pendapatan, belanja, dan pembiayaan, (Abdullah, 2012).

Varian anggaran juga terkait dengan motivasi untuk melakukan korupsi. Niskanen (dalam Kuncoro, 2008) menyatakan bahwa para birokrat berperilaku memaksimalisasi anggaran (budget maximation) sebagai proksi atas kekuasaannya.

Model birokratik ini menegaskan selisih anggaran sebagai hasil dari perilaku birokrat (atau politisi lokal) dalam memaksimalisasi anggaran sehingga lebih leluasa menggunakan anggaran. Abdullah (2012) menyebut adanya “kesengajaan” untuk menaikan anggaran belanja di atas kebutuhan karena adanya self-interest yang ingin dicapai. Self- interest ini dapat berupa enjoyment di tempat kerja yang nyaman, dapat memanfaatkan fasilitas kantor untuk kepentingan pribadi, dan privelege sebagai pejabat yang dihormati.

Laporan keuangan Pemerintah Kota Banda Aceh adalah konsolidasi dari Laporan Keuangan Satuan Kerja Perangkat Kota (LK- SKPK), termasuk komponen belanja dan varian belanja. Oleh Karena varian belanja merupakan salah satu penyebab besarnya sisa anggaran

(3)

31 - Volume 3, No. 1, Februari 2013 Pemda (Andalia, 2012), maka varian belanja SKPK dapat disebut sebagai prediktor untuk SILPA sebuah Pemko.

Dalam kurun waktu 2009-2011, Kotamadya Banda Aceh memiliki SILPA dalam laporan keuangannya sebesar Rp.13.651.721.836 (2009), Rp.16.224377.081 (2010) dan Rp.21.386.329.168 (2011), dimana angka SILPA merupakan akumulasi dari sisa anggaran seluruh SKPK kota Banda Aceh.

Sesuai dengan data observasi awal berdasarkan Laporan Realisasi Anggaran (LRA) SKPK Kota Banda Aceh tahun 2009-2011 yang ada dalam Qanun Pertanggungjawaban APBD, ada beberapa SKPK yang mempunyai angka sisa anggaran cukup besar.

Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis lebih spesifik mengenai besaran varian dalam APBD, khususnya besaran varian belanja (belanja tidak langsung dan belanja langsung), dengan tujuan untuk mengetahui kelompok belanja dan jenis belanja manakah apa yang paling dominan menghasilkan sisa anggaran di Satuan Kerja Perangkat Kota (SKPK) Banda Aceh.

Pembahasan hasil penelitian ini dibagi menjadi beberapa sub bab. Sub bab pertama membahas kajian pustaka, kerangka pemikiran dan hipotesis. Pada sub bab kedua membahas tentang metodelogi penelitian yang digunakan dan sub bab ketiga adalah pembahasan mengenai hasil penelitian. Sub bab terakhir mengenai kesimpulan, keterbatasan dan saran.

KAJIAN KEPUSTAKAAN

Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah

(APBD)

Menurut Freeman (dalam Nordiawan, dkk., 2007:19) anggaran adalah sebuah proses yang dilakukan oleh organisasi sektor publik untuk mengalokasikan sumber daya yang dimilikinya pada kebutuhan-kebutuhan yang tidak terbatas (the process of allocating resources to unlimited demands). Pasal 1 angka 9 Permendagri No.

13/2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah menyatakan bahwa Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) adalah rencana keuangan tahunan pemerintah daerah yang dibahas dan disetujui bersama pemerintah daerah dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD), dan ditetapkan dengan peraturan daerah.

Varian Anggaran

Menurut Coan (1986), varian adalah alat bagi manajemen untuk tujuan yang luas dalam rangka menginformasikan tingkat varian yang tepat atas operasi tertentu, dengan biaya yang dapat diterima untuk ekonomi perusahaan/ organisasi. Di Louisiana (salah satu negara bagian di Amerika Serikat) besaran varian anggaran pemerintah diatur dalam Peraturan Daerah, yakni Louisiana Local Government Budget Act.

Varians anggaran berbeda dengan kesenjangan anggaran (budget slack).

Kesenjangan anggaran merupakan selisih antara target yang ditentukan dengan potensi atau kemampuan yang sesungguhnya, sedangkan varians anggaran adalah selisih antara target anggaran dengan realisasi yang sesungguhnya (Abdullah, 2012).

Selisih realisasi belanja dengan anggaran

(4)

Volume 3, No. 1, Februari 2014 - 32 yang cukup signifikan memberikan dua

kemungkinan, pertama menunjukkan adanya efisiensi anggaran, dan kedua sebaliknya, jika terjadi selisih kurang maka sangat mungkin telah terjadi kelemahan dalam perencanaan anggaran sehingga estimasi belanja kurang tepat (Mahmudi, 2010:137).

Belanja Daerah

Dalam pasal 20 angka 3 PP No. 58/2005 dinyatakan belanja daerah meliputi semua pengeluaran dari rekening kas umum daerah yang mengurangi ekuitas dana lancar, yang merupakan kewajiban daerah dalam satu tahun anggaran yang tidak akan diperoleh pembayarannya kembali oleh daerah. Sementara itu Mahmudi (2010:155) menyatakan belanja dapat dipahami sebagai kewajiban pemerintah daerah yang mengurangi kekayaan bersih yang terjadi akibat transaksi masa lalu.

Pasal 24 angka 2 Permendagri No. 13/2006 menyatakan bahwa belanja daerah dirinci menurut urusan pemerintahan daerah, organisasi, program, kegiatan, kelompok, jenis, obyek dan rincian obyek belanja. Permendagri No. 13/2006 juga mengklasifikasikan belanja dalam APBD menurut kelompok, yakni (1) belanja tidak langsung dan (2) belanja langsung. Struktur belanja dalam pertanggungjawaban APBD berbeda dengan struktur belanja dalam penyusunan APBD. Struktur belanja dalam laporan keuangan-Laporan Realisasi Anggaran (LRA) tidak berdasarkan program dan kegiatan, melainkan dibuat berdasarkan jenis belanja.

Belanja Tidak Langsung

Belanja tidak langsung adalah belanja yang penganggarannya tidak dipengaruhi secara langsung oleh adanya usulan program atau kegiatan.

Belanja tidak langsung merupakan belanja yang dianggarkan setiap bulan dalam satu tahun anggaran sebagai konsekuensi dari kewajiban pemerintah daerah secara periodik kepada pegawai yang bersifat tetap (pembayaran gaji dan tunjangan) dan/atau kewajiban untuk pengeluaran belanja lainnya yang umumnya diperlukan secara periodik (Darise, 2008:42-43).

Dalam pasal 37 Permendagri No. 13/2006 diatur bahwa kelompok belanja tidak langsung dibagi menurut jenis belanja, yang terdiri dari: (a) belanja pegawai, (b) bunga, (c) subsidi, (d) hibah, (e) bantuan sosial,(f) belanja bagi Hasil, (g) bantuan keuangan dan (h) belanja tidak terduga.

Belanja Langsung

Belanja langsung adalah belanja yang penganggarannya dipengaruhi secara langsung oleh adanya program atau kegiatan. Menurut pasal 50 Permendagri No. 13/2006, kelompok belanja langsung dari suatu kegiatan dibagi menurut jenis belanja, yang terdiri dari: (1) belanja pegawai, (b) belanja barang dan jasa dan (c) belanja modal.

Pasal 51-53 Permendagri No.13/2006 memberikan pengertian kompnen belanja langsung sebagai berikut: (a) belanja pegawai, digunakan untuk pengeluaran honorarium/upah dalam melaksanakan program dan kegiatan pemerintahan daerah, (b) belanja barang dan jasa, digunakan untuk pengeluaran pembelian atau pengadaan barang yang nilai manfaatnya kurang dari 12 (duabelas) bulan dan/atau pemakaian jasa dalam

(5)

33 - Volume 3, No. 1, Februari 2013 melaksanakan program dan kegiatan pemerintahan daerah, dan (c) belanja modal, digunakan untuk pengeluaran yang dilakukan dalam rangka pembelian/pengadaan atau pembangunan aset tetap berwujud yang mempunyai nilai manfaat lebih dari 12 (dua belas) bulan.

Sisa Anggaran

Menurut Abdullah (2012) sisa anggaran adalah dana milik Pemda yang belum terpakai selama satu tahun anggaran atau masih tersisa pada akhir tahun anggaran dan dalam konsep anggaran berbasis kas sisa anggaran sama dengan jumlah uang atau kas Pemda yang belum terpakai. Sisa anggaran terjadi karena pelampauan target Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan kecilnya realisasi belanja dari anggaran yang telah ditetapkan (Abdullah, 2013).

Lebih lanjut Abdullah (2013) menyatakan

“penghematan” belanja terjadi karena (1) tidak terserapnya seluruh belanja meskipun target kinerja tercapai sesuai target, biasanya terjadi karena adanya “mark-up” pada tahap penyusunan dan penetapan anggaran, (2) adanya kegiatan yang tidak selesai selama satu tahun anggaran dan anggaran belum terserap seluruhnya karena target kinerja belum tercapai (luncuran), dan (3) adanya kegiatan yang batal atau tidak jadi dilaksanakan. Dalam teori keagenan sisa anggaran adalah pengingkaran atas kebutuhan masyarakat yang tidak mampu dilayani oleh pemerintah (Abdullah, 2013).

Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan sisa anggaran SKPK adalah jumlah

uang atau uang kas SKPK yang belum terpakai.

Sisa anggaran seluruh SKPK terkonsolidasi dalam sisa anggaran Pemda (SILPA), yang terangkum dalam laporan keuangan Pemda kabupaten/kota.

Kerangka Pemikiran

Menurut Abdullah (2012) dalam melakukan analisis atas pencapaian target-target anggaran di pemerintahan daerah (APBD), salah satu hal yang penting untuk diperhatikan adalah varians anggaran (budget variance).

Penelitian Andalia (2012) tentang pengaruh varian pendapatan dan varian belanja terhadap sisa anggaran pada kabupaten/kota se Aceh menunjukkan kedua varian tersebut berpengaruh positif terhadap sisa anggaran, dan pengaruh terbesar berasal dari varian belanja.

Berdasarkan uraian di atas disimpulkan varian anggaran berdampak terhadap SILPA, dimana SILPA suatu pemerintah daerah merupakan akumulasi dari sisa anggaran seluruh SKPD. Varian belanja merupakan salah satu komponen anggaran. Penelitian ini menganalisis besaran varian belanja tidak langsung dan besaran varian belanja langsung yang berdampak terhadap sisa anggaran di SKPK kota Banda Aceh. Jenis belanja tidak langsung dalam penelitian ini dibatasi pada belanja pegawai dikarenakan jenis belanja lain tidak terdapat dalam LRA SKPD.

METODE PENELITIAN

Penelitian ini bersifat studi lapangan pada Laporan Realisasi Anggaran (LRA) seluruh SKPK kota Banda Aceh. Pengambilan data

(6)

Volume 3, No. 1, Februari 2014 - 34 dilakukan dengan kombinasi antara Cross

Sectional dan Time Series Study. Populasi dalam penelitian ini adalah Laporan Realisasi Anggaran (LRA) seluruh SKPK Kota Banda Aceh periode 2009-2011. Populasi sasaran penelitian ini adalah LRA SKPK kota Banda Aceh periode 2009-2011 yang memiliki sisa anggaran positif. SKPK yang tidak mempunyai sisa anggaran/sisa anggaran minus, tidak diikut sertakan dalam penelitian ini sehingga populasi penelitian menjadi 70 unit.

Sumber dan Teknik Pengumpulan Data Data sekunder untuk penelitian ini diperoleh dari Laporan Realisasi Anggaran seluruh SKPD kota Banda Aceh yang terangkum dalam Qanun Pertanggungjawaban APBD kota Banda Aceh untuk tahun anggaran 2009-2011.

Metode Analisis

Data dalam penelitian ini dianalisis secara deskriptif dalam bentuk uraian untuk menggambarkan besaran varian belanja tidak langsung, besaran varian belanja langsung, besaran varian jenis belanja pegawai, besaran varian belanja barang/jasa dan besaran varian belanja modal yang menghasilkan sisa anggaran pada SKPK kota Banda Aceh. Analisis deskriptif bertujuan untuk menjelaskan distribusi data dari satu atau lebih variabel yang diteliti, dan ukuran yang digunakan adalah tendensi sentral dan dispersi (Indriantoro dan Supomo, 1999:88).

Analisis juga dilakukan dengan mengkaji hasil penelitian dengan teori-teori mengenai

varian anggaran dan sisa anggaran. Pengolahan data menggunakan software Statistical Package for Social Science (SPSS), yakni analisis statistik deskriptif untuk mendapatkan nilai rata-rata besaran varian anggaran, nilai varian tertinggi dan terendah serta nilai standar deviasi.

HASIL PEMBAHASAN Hasil Statistik Deskriptif

Tabel 1. Besaran Varian Belanja Tidak Langsung dan Besaran Varian Belanja Langsung

VBTL VBL

Min. -Rp.3.016.381.332 Rp.8.432.910 Max. Rp. 16.477.617.529 Rp.4.825.863.742 Mean Rp.692.083.797,25 Rp.841.975.772,80,

% 45% 55%

Berdasarkan data pada Tabel 1 dapat disimpulkan bahwa varian belanja langsung merupakan varian yang paling besar menghasilkan sisa anggaran pada seluruh SKPK kota Banda Aceh dibandingkan dengan varian belanja tidak langsung.

Statistik Deskriptif

Tabel 2. Besaran Varian Belanja Pegawai, Varian Belanja Barang dan Jasa dan Varian Belanja Modal

V. BPgw (Rp) VBB/J (Rp) VBM (Rp) Min.

0

Max : 3.048.977.446

Mean:

242.840.497,51

Persentase:

29%

Min.

5.186.910

Max : 1.929.797.947

Mean:

453.653.651,25

Persentase:

54%

Min.

0

Max : 3.327.177.206

Mean:

145.481.624,02

Persentase:

17%

Dari Tabel 2 dapat disimpulkan bahwa varian belanja barang dan jasa merupakan jenis varian belanja yang paling besar menghasilkan

(7)

35 - Volume 3, No. 1, Februari 2013 sisa anggaran pada seluruh SKPK kota Banda Aceh dibandingkan dengan varian belanja pegawai dan varian belanja modal.

Besaran Varian Belanja Tidak Langsung dan Besaran Varian Belanja Langsung

Persentase nilai rata-rata varian anggaran kelompok belanja langsung sebesar 55%

menjelaskan bahwa SKPK kota Banda Aceh masih kurang baik dalam membuat perencanaan anggaran yang tekait langsung dengan pelayanan publik. Artinya dengan besarnya varian anggaran (yang memunculkan sisa anggaran) yang ditimbulkan oleh varian belanja langsung, maka besar pula jumlah program dan kegiatan untuk pelayanan publik yang belum direalisasikan. Seyogianya SKPK Kota Banda Aceh menjadikan varian anggaran sebagai alat untuk merencanakan, melaksanakan dan mengawai pelaksanaan anggaran, sehingga jumlah sisa anggaran dapat diminimalisir (Coan, 1986).

Di sisi lain besarnya nilai rata-rata varian anggaran belanja langsung mengindikasikan praktek budget maximizer terjadi pada kelompok belanja ini. Seperti yang dinyatakan oleh Niskanen (dalam Kuncoro, 2008), bahwa para birokrat berperilaku memaksimalisasi anggaran (budget maximation) sebagai proksi atas kekuasaannya.

Jumlah varian belanja langsung dalam periode 2009-2011 cenderung merata, sementara jumlah varian belanja tidak langsung berfluktuasi dan cenderung meningkat. Rincian pergerakan besaran varian jenis belanja

langsung dapat di lihat pada tampilan Gambar 1.

Gambar 1. Rincian pergerakan besaran varian jenis belanja langsung

Dapat disimpulkan bahwa meskipun besaran rata-rata varian belanja tidak langsung lebih kecil dari varian belanja langsung, namun dapat juga diindikasikan terjadinya budget slack dalam pembuatan anggaran kelompok belanja tidak langsung.

Besaran Varian Belanja Tidak Langsung dan Besaran Varian Belanja Langsung

Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari jenis belanja, belanja barang dan jasa adalah yang paling besar menghasilkan sisa anggaran pada seluruh SKPK kota Banda Aceh, yakni 54% dari total sisa anggaran. Hal ini dapat dinyatakan SKPK kota Banda Aceh masih kurang baik dalam membuat perencanaan anggaran untuk program dan kegiatan jangka pendek, karena varian belanja barang/jasa merupakan pengeluaran yang nilai manfaatnya kurang dari 12 bulan.

Persentase 54% juga menunjukkan tingginya asimetri informasi dalam penyunan anggaran jenis belanja barang/jasa. Seperti yang dinyatakan oleh Kuncuro (2008), bahwa dari aspek teori keagenan pemunculan selisih

(8)

Volume 3, No. 1, Februari 2014 - 36 anggaran sekaligus menunjukkan terjadinya

asimetri informasi pada laporan keuangan, dimana pihak pemerintah daerah (SKPK) selaku agen memiliki informasi lebih dari masyarakat (prinsipal) atas anggaran dan laporan keuangannya. Besaran varian belanja barang dan jasa yang dihasilkan terlalu besar juga mengindikasikan tingginya political interest pada jenis belanja tersebut. Seperti yang dinyatakan oleh Mayper et.al, (1991) bahwa varian anggaran tidak terjadi secara acak, namun sistematik dalam bentuk yang konservatif, dan faktor politik juga mempunyai andil dalam memunculkan varian anggaran Pemda.

Di sisi lain, persentase besaran rata-rata varian belanja modal sebesar 17% terhadap sisa anggaran menunjukkan bahwa, kinerja SKPK kota Banda Aceh telah baik dalam membuat anggaran kegiatan yang mempunyai nilai manfaat jangka panjang bagi publik. Meskipun demikian varian belanja modal cenderung mengalami kenaikan setiap tahun dalam periode 2009-2011, sementara varian belanja barang dan jasa dan varian belanja pegawai berfluktuasi. Oleh karena itu praktek maksimalisasi anggaran, meskipun tidak tinggi, juga terjadi pada jenis belanja modal. Rincian pergerakan besaran varian jenis belanja langsung dapat di lihat pada tampilan Gambar 2.

Gambar 2. Rincian pergerakan besaran varian jenis belanja langsung

Seperti telah diuraikan di atas bahwa besaran varian belanja tidak langsung dan besaran varian belanja langsung telah menimbulkan sisa anggaran pada SKPK kota Banda Aceh. Dimana varian anggaran muncul karena adanya upaya-upaya memaksimalisasi anggaran oleh SKPK/Pemerintah (Niskanen dalam Bartle at al., 1996). Implikasinya adalah satuan kerja akan membuat biaya yang tidak efisien atau jumlah yang dianggarkan lebih besar dari yang dibutuhkan oleh konstituennya.

KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh, maka kesimpulan yang dapat diambil adalah:

1. Besaran rata-rata varian belanja tidak langsung (belanja pegawai) adalah 45% dari total varian anggaran. Sementara besaran rata-rata varian belanja langsung (belanja pegawai, belanja barang/jasa, belanja modal) sebesar 55% dari total varian anggaran. Oleh karena varian anggaran akan menghasilkan sisa anggaran, maka besaran sisa anggaran yang dihasilkan oleh SKPK Banda Aceh

(9)

37 - Volume 3, No. 1, Februari 2013 pada akhir tahun anggaran sama dengan besaran varian anggaran.

2. Varian belanja langsung merupakan varian belanja paling besar, dengan nilai rata-rata varian 55% dari total varian anggaran. Dari jenis belanja, varian belanja barang/jasa merupakan yang paling tinggi jumlah varian anggarannya dibandingkan dengan varian belanja pegawai dan varian belanja modal, yakni 54% dari total varian belanja langsung.

Saran

1. Bagi pemerintah Kotamadya Banda Aceh, DPRK dan SKPK dapat menjadi masukan dan pertimbangan dalam membuat perencanaan dan pengelolaan anggaran, antara lain dengan menghindari praktek budget maximazer, budget slack dan political interest dalam pembuatan anggaran, serta membuat regulasi tentang toleransi besaran varian anggaran.

2. Bagi peneliti selanjutnya dapat meneliti penyebab-penyebab terjadinya sisa anggaran, dikarenakan penelitian ini sebatas pada kajian aspek hasil (ex post) belum menyentuh pada penyebab terjadinya (ex ente).

3. Bagi peneliti selanjutnya dapat menggunakan statistik inferensi untuk memprediksi dan mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi jumlah varian belanja dan sisa anggaran, serta mengambil data pada SKPK dibeberapa kabupaten/kota, dan memperpanjang periode waktu pengamatan,

sehingga hasil penelitian lebih komperhensif.

DAFTAR KEPUSTAKAAN

Abdullah, S., 2012. Varians Anggaran Pendapatan

dan Varians Belanja

Daerah:Sebuah Pengantar.

http://syukriy.wordpress.com/2012/10/16/vari ans-anggaran-pendapatan-daerah/

Abdullah, S., 2013. SiLPA Aceh Membengkak Karena Serapan Anggaran Lemah.

http://theglobejournal.com/ekonomi/silpa- aceh-membengkak-karena-serapan- anggaran-lemah/index.php

Andalia, D., 2012. Pengaruh Varian Pendapatan dan Varian Belanja terhadap Sisa Anggaran di Kabupaten/Kota Se Aceh. Tesis. Pasca Sarjana, Universitas Syiah Kuala.

Coan, N., 1986. Variances Must Be Forged Into Familiar Tools. NACA Bulletin. Vol. 31, Hal:

1223-1223.

Darise, N., 2008. Pengelolaan Keuangan pada Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD).

Jakarta: PT. Macanan Jaya Cemerlang.

Indriantoro, N., dan Bambang S., 1999. Metodelogi Penelitian Bisnis: Untuk Akuntansi dan Manajemen. Yogyakarta: Penerbit BPFE.

Kuncoro, H., 2008. Variansi Anggaran dan Realisasi Anggaran Belanja Studi Kasus Pemerintahan Daerah Propinsi DKI. Jurnal Manajemen Teori dan Terapan. Tahun 1, No. 2, Hal: 127- 128.

Mahmudi., 2010. Analisis Laporan Keuangan Pemerintah Daerah, Edisi Kedua.

Yogyakarta: Sekolah Tinggi Ilmu Manajemen YKPN.

Republik Indonesia. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah.

Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005, Nomor 124. Sekretariat Negara. Jakarta.

Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 59 Tahun 2007 dan Perubahan Kedua dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 21 Tahun 2011.

Gambar

Tabel 2.  Besaran  Varian  Belanja  Pegawai,  Varian  Belanja  Barang  dan  Jasa  dan  Varian  Belanja Modal  V
Gambar  1.  Rincian  pergerakan  besaran  varian  jenis  belanja langsung
Gambar  2.  Rincian  pergerakan  besaran  varian  jenis  belanja langsung

Referensi

Dokumen terkait

Nilai rata-rata ini tidak mempunyai makna tertentu, melainkan hanya menunjukkan bahwa pria mempunyai orientasi perilaku belanja yang lebih rendah dibandingkan dengan

Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini untuk mengetahui pengaruh Belanja Langsung, Belanja Tidak Langsung dan Investasi terhadap Jumlah Penduduk Miskin di Kota

Langkah pertama dalam penerapan aplikasi register belanja dak langsung berbasis web pada Satuan Kerja Pengelola Keuangan Daerah (SKPKD) Kota Pekanbaru ini yaitu dengan

Analisis korelasi belanja daerah dalam perubahan APBK Kabupaten/Kota di Aceh, dilakukan terhadap jenis belanja yang dianggarkan, yaitu belanja tidak langsung,

program/kegiatan pada SKPK Pemerintah Kota Sabang mengalami hambatan, karena harus menunggu pengesahan APBK oleh DPRK, baik APBK murni maupun APBK perubahan.

Berdasarkan hasil analisis penelitian dapat disimpulkan bahwa nilai R-square sebesar 93 persen, yang berarti bahwa kemampuan variabel belanja tidak langsung, belanja

program/kegiatan pada SKPK Pemerintah Kota Sabang mengalami hambatan, karena harus menunggu pengesahan APBK oleh DPRK, baik APBK murni maupun APBK perubahan.

RINCIAN PERUBAHAN ANGGARAN BELANJA LANGSUNG PROGRAM DAN PER KEGIATAN SATUAN KERJA PERANGKAT