• Tidak ada hasil yang ditemukan

LISWATI HARAHAP /IKM

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "LISWATI HARAHAP /IKM"

Copied!
104
0
0

Teks penuh

(1)

HUBUNGAN PENGETAHUAN, SIKAP, SARANA DAN PRASARANASERTA DUKUNGAN PETUGAS KESEHATAN DENGAN PENCEGAHAN

PENYAKIT CHIKUNGUNYA MENGGUNAKAN METODE PEMBERANTASAN SARANG NYAMUK (PSN) OLEH

KEPALA KELUARGA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS NURUSSALAM

KABUPATEN ACEH TIMUR

T E S I S

Oleh

LISWATI HARAHAP 097032143/IKM

PROGRAM STUDI S2 ILMU KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

2012

(2)

HUBUNGAN PENGETAHUAN, SIKAP, SARANA DAN PRASARANA SERTA DUKUNGAN PETUGAS KESEHATAN DENGAN PENCEGAHAN

PENYAKIT CHIKUNGUNYA MENGGUNAKAN METODE PEMBERANTASAN SARANG NYAMUK (PSN) OLEH

KEPALA KELUARGA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS NURUSSALAM

KABUPATEN ACEH TIMUR

T E S I S

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat

untuk Memperoleh Gelar Magister Kesehatan (M.Kes) dalam Program Studi S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat

Minat Studi Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku pada Fakultas Kesehatan Masyarakat

Universitas Sumatera Utara

Oleh

LISWATI HARAHAP 097032143/IKM

PROGRAM STUDI S2 ILMU KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

2012

(3)

Judul Tesis : HUBUNGAN PENGETAHUAN, SIKAP, SARANA DAN PRASARANA SERTA DUKUNGAN PETUGAS KESEHATAN DENGAN PENCEGAHAN PENYAKIT

CHIKUNGUNYA MENGGUNAKAN METODE PEMBERANTASAN SARANG NYAMUK (PSN) OLEH KEPALA KELUARGA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS NURUSSALAM KABUPATEN ACEH TIMUR

Nama Mahasiswa : Liswati Harahap Nomor Induk Mahasiswa : 097032143

Program Studi : S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat

Minat Studi : Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku

Menyetujui Komisi Pembimbing :

(Dr. Yeni Absah, S.E, M.Si)

Ketua Anggota

(Ir. Evi Naria, M.Kes)

Dekan

(Dr. Drs Surya Utama, M.S)

Tanggal Ujian : 4 Februari 2012

(4)

Telah diuji

Pada Tanggal : 4 Februari 2012

PANITIA PENGUJI TESIS

Ketua : Dr. Yeni Absah, S.E, M.Si Anggota : 1. Ir. Evi Naria, M.Kes

2. Prof. dr. Sori Muda Sorumpaet, M.P.H 3. Dra. Syarifah, M.S

(5)

PERNYATAAN

HUBUNGAN PENGETAHUAN, SIKAP, SARANA DAN PRASARANASERTA DUKUNGAN PETUGAS KESEHATAN DENGAN PENCEGAHAN

PENYAKIT CHIKUNGUNYA MENGGUNAKAN METODE PEMBERANTASAN SARANG NYAMUK (PSN) OLEH

KEPALA KELUARGA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS NURUSSALAM

KABUPATEN ACEH TIMUR

T E S I S

Dengan ini saya menyatakan bahwa dalam tesis ini tidak terdapat karya yang pernah diajukan orang lain untuk memperoleh gelar kesarjanaan disuatu Perguruan Tinggi dan sepengetahuan saya tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan orang lain, kecuali secara tertulis diacu dalam naskah ini dan disebutkan dalam daftar pustaka.

Medan, Februari 2012

(Liswati Harahap)

(6)

ABSTRAK

Chikungunya merupakan sebuah penyakit yang disebabkan oleh virus Chikungunya (CHIKV) yang berasal dari benua Afrika. Di Provinsi Nangroe Aceh Darusalam (NAD) kasus chikungunya terjadi pada tahun 2000, dan menyebar ke daerah Kabupaten Aceh Timur pada tahun 2009 dengan kejadian luar biasa yakni terdapat 4403 kasus selama 8 bulan (April – November 2009). Kasus chikungunya menyebar di seluruh kecamatan yang ada di Kabupaten Aceh Timur, dengan kasus terbanyak terdapat di Puskesmas Nurus Salam yakni sebanyak 1493 kasus, dan paling sedikit terdapat di Puskesmas Sungai Raya sebanyak 32 kasus.

Penelitian ini bertujuan untuk untuk menganalisis hubungan pengetahuan, sikap, sarana dan prasarana serta dukungan petugas kesehatan terhadap pencegahan penyakit Chikungunya dengan metode pemberantasan sarang nyamuk (PSN) oleh kepala keluarga. Lokasi penelitian di wilayah kerja Puskesmas Nurus Salam dengan jumlah populasi sebanyak 3981 KK dan yang dijadikan sampel sebanyak 217 KK.

Data primer diperoleh dengan melalui wawancara dengan menggunakan kuesioner.

Analisis data dilakukan dengan menggunakan uji regresi logistic.

Hasil penelitian dengan uji regresi logistik diperoleh hasil bahwa variabel pengetahuan, sikap dan peran petugas kesehatan berpengaruh terhadap pemberantasan sarang nyamuk chikungunya melalui metode PSN.. Dan yang paling dominan adalah variabel peran petugas kesehatan.

Disarankan kepada Dinas Kesehatan Kabupaten Aceh Timur agar mengaktifkan Kelompok Kerja Operasional (Pokjanal) Chikungunya dengan mengikut sertakan sektor pendidikan (sekolah, universitas), organisasi kepemudaan (karang taruna), organisasi sosial (PKK, Dharma Wanita), tokoh-tokoh baik masyarakat maupun agama. Meningkatkan peranserta masyarakat melalui pembentukan kader-kader pemberantasan sarang nyamuk yang bersumber dari masyarakat, yang bertugas untuk melakukan survei jentik, pembagian abate, dan berbagai kegiatan pemberantasan lainnya.

Kata Kunci : Chikungunya, PSN

(7)

ABSTRACT

Chikungunya is a disease cause by Chikungunya virus originated from Africa.

In the province of Nanggroe Aceh Darussalam the case of Chikungunya appeared in 2000 and spread to Aceh Timur District in 2009 with extraordinary 4403 cases for 8 months (April – November 2009). Chikungunya cases then spread in all of the subdistricts of Aceh Timur District, the most of them (1493 cases) were found in Nurus Salam Puskesmas (Community Health Center), and the least cases (32 cases) were found in Sungai Raya Puskesmas.

The purpose of this study was to analyze the influence of knowledge, facility, and infrastructure and the support of health workers on the prevention of Chikungunya using the method of mosquito breeding site eradication by heads of families. This study was conducted in the working area of Nurus Salam Puskesmas with the population of 3981 heads of families and 217 of them were selected to be the samples for this study. The primary data for this study were obtained through questionnaire-based interviews. The data obtained were analyzed through logistic regression test.

The result of logistic regression test showed that the variables of knowledge, attitude and the role of health workers on the eradication of Chikungunya mosquito breeding site using the method of mosquito breeding site eradication. And the most dominant variable was the role of health workers.

The management of Aceh Timur District Health Service is suggested to activate the Chikungunya Operational Working Group by involving the education sector (schools, universities), youth organization (karang taruna), social organization (PKK, Dharma Wanita), community leaders and religious leaders and to increase community participation by establishing the cadres recruited from the community members themselves to eradicate the mosquito breeding sites such as doing a survey on larvae, distributing abate, and doing the other mosquito breeding site eradication activities.

Keywords: Chikungunya, Mosquito Breeding Site Eradication

(8)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena HidayahNyalah penulis dapat menyelesaikan tesis berjudul: “Hubungan Pengetahuan, Sikap, Sarana dan Prasarana serta Dukungan Petugas Kesehatan dengan Pencegahan Penyakit Chikungunya Menggunakan Metode Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) oleh Kepala Keluarga di Wilayah Kerja Puskesmas Nurussalam Kabupaten Aceh Timur”.

Dalam penulisan tesis ini penulis banyak mendapat bantuan dari berbagai pihak. Pada kesempatan ini penulis juga menyampaikan rasa terimakasih kepada :

1. Prof. Dr. dr. Syahril Pasaribu, DTM&H, M.Sc (CTM), Sp.A(K), selaku Rektor Universitas Sumatera Utara.

2. Dr. Drs. Surya Utama, M.S, selaku Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara.

3. Prof. Dr. Dra. Ida Yustina, M.Si selaku Ketua Program Studi S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat, dengan kearifannya tesis ini dimungkinkan untuk diuji dan disempurnakan.

4. Dr. Ir. Evawany Aritonang, M.Si selaku Sekretaris Program Studi S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara.

5. Dr. Yeni Absah, S.E, M.Si dan Ir. Evi Naria, M.Kes, selaku komisi pembimbing yang telah meluangkan watu, pikiran dan tenaga untuk

(9)

membimbing penulis mulai dari pembuatan proposal hingga selesainya penulisan tesis ini.

6. Prof. dr. Sori Muda Sorumpaet, M.P.H dan Dra. Syarifah, M.S, selaku komisi penguji tesis yang telah memberikan masukan dan saran demi kesempurnaan penilisan tesis ini.

7. Seluruh Staf Pengajar dan Staf Administrasi yang telah memberikan pengajaran, bimbingan dan pengarahan serta bantuan selama pendidikan.

8. H. T. Zainal Abidin, S.K.M selaku Kepala Puskesmas Nurus Salam yang telah memberikan izin kepada penulis untuk melakukan penelitian.

9. Selanjutnya penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu proses penyusunan tesis ini hingga selesai.

Karya ini penulis persembahkan kepada kedua orang tua tercinta Alm. Amir Tua Harahap dan Almh. Hj. Numelan, serta Suami tersayang Tuafik HS ZA, S.E.

Kepada Keluargaku Sultan Edinur, Irwan Pandia, Emiwati Hrp, S.H, Ir.Erniwati Hrp dan dr. Sondang Bandayani, serta keponakanku Clara Ardia. Mereka adalah sumber inspirasi dan pemberi dorongan kepada penulis dalam menjalani liku kehidupan.

Sesungguhnya penulis telah maksimal dalam menyelesaikan tesis ini dan menyadari bahwa tesis ini masih sangat jauh dari sempurna, karenanya saran untuk perbaikan sangat diharapkan. Semoga penelitian ini bermanfaat bagi kita semua.

Medan, Februari 2012

Penulis

(Liswati Harahap)

(10)

RIWAYAT HIDUP

Penulis bernama Liswati Harahap, dilahirkan di Blang Pidie, Provinsi Nangroe Aceh Darussalam pada tanggal 13 November 1970, beragama Islam.

Tinggal di Komp. BTN Alur Berawe Gg. Merak nomor 43 Kota Langsa.

Penulis menamatkan Sekolah Dasar pada tahun 1983 di SD Negeri 21 Banda Aceh, pada tahun 1986 menamatkan Sekolah Menengah Pertama di SMP Negeri 4 Banda Aceh, tahun 1988 menamatkan Sekolah Menengah Atas di SMA Negeri 3 Medan, tahun 2002 menamatkan program dokter di Fakultas Kedokteran Univesitas Islam Sumatera Utara (UISU).

Pengalaman kerja penulis, pada tahun 2003 bekerja sebagai dokter PTT di Kabupaten Aceh Timur. Tahun 2006 diterima sebagai pegawai negeri sipil (PNS) di Kabupaten Aceh Timur dan di tempatkan di Puskesmas Rantau Selamat hingga sekarang.

Tahun 2009 penulis mengikuti pendidikan lanjutan di Program Studi S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat Minat Studi Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku, Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara.

(11)

DAFTAR ISI

ABSTRAK ... i

ABSTRACT ... ii

KATA PENGANTAR ... iii

RIWAYAT HIDUP ... v

DAFTAR ISI ... vi

DAFTAR TABEL ... ix

DAFTAR GAMBAR ... xi

DAFTAR LAMPIRAN ... xii

BAB 1. PENDAHULUAN ... 1

1.1. Latar Belakang ... 1

1.2. Permasalahan ... 9

1.3. Tujuan Penelitian ... 9

1.4. Hipotesis ... 9

1.5. Manfaat Penelitian ... 9

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA ... 11

2.1. Definisi Chikungunya ... 11

2.1.1. Penyebab ... 11

2.1.2. Gejala ... 11

2.1.3. Pemeriksaan Laboratorium ... 13

2.1.4. Tempat Nyamuk Berkembang Biak ... 13

2.1.5. Diagnosa ... 13

2.1.6. Pengobatan ... 13

2.1.7. Pencegahan ... 14

2.1.8. Penanganan Kasus ... 15

2.1.9. Krakteristik Penyakit Chikungunya ... 16

2.1.9.1. Cara Penularan ... 16

2.1.9.2. Faktor Penyebab Chikungunya ... 16

2.1.9.3. Pencegahan dan Pengendalian Chikungunya ... 17

2.1.9.4. Proteksi Diri dengan Salep atau Gunakan Kawat Nyamuk18 2.1.10. Mata Rantai Infeksi Chikungunya ... 18

2.1.11. Peran Keluarga dalam Pencegahan Chikungunya ... 20

2.1.12. Penanggulangan KLB Chikungunya ... 20

2.2. Pemberantasan Nyamuk Penular Demam Chikungunya ... 22

2.2.1. Jenis Kegiatan Pemberantasan Nyamuk ... 24

2.3. Perilaku ... 26

2.3.1. Pengertian perilaku ... 26 Halaman

(12)

2.3.2. Pengetahuan ... 27

2.3.3. Sikap atau Attitude ... 33

2.3.4. Tindakan ... 35

2.4. Faktor yang Memengaruhi Perilaku ... 36

2.5. Tenaga Kesehatan ... 39

2.6. Sarana dan Prasarana ... 41

2.7. Landasan Teori ... 42

2.8. Kerangka Konsep ... 44

BAB 3. METODE PENELITIAN ... 45

3.1. Jenis Penelitian ... 45

3.2. Lokasi dan Waktu Penelitian ... 45

3.3. Populasi dan Sampel ... 46

3.4. Metode Pengumpulan Data ... 47

3.4.1. Data Primer ... 47

3.4.2. Data Sekunder ... 47

3.4.3. Uji Validitas dan Reliabilitas ... 48

3.5. Variabel dan Definisi Operasional ... 48

3.5.1. Variabel Dependen ... 49

3.5.2. Variabel Indenpenden ... 50

3.6. Metode Pengukuran ... 50

3.6.1. Pengukuran Variabel Dependen ... 50

3.6.2. Pengukuran Variabel Indenpenden ... 51

3.6.2.1. Tingkat Pengetahuan ... 51

3.6.2.2. Sikap ... 52

3.6.2.3. Dukungan Sarana Pelayanan Kesehatan ... 52

3.6.2.4. Upaya Petugas Kesehatan ... 53

3.7. Metode Analisis Data ... 53

BAB 4 HASILPENELITIAN ... 55

4.1. Gambaran Umum Lokasi Penelitian ... 55

4.2. Hasil Uji Univariat ... 56

4.2.1. Karakteristik Responden ... 56

4.2.2. Pengetahuan ... 57

4.2.3. Sikap ... 60

4.2.4. Dukungan Sarana Pelayanan Kesehatan ... 63

4.2.5. Dukungan Petugas ... 64

4.2.6. Pemberantasan Sarang Nyamuk Chikungunya ... 66

4.3. Uji Bivariat ... 69

4.4. Uji Multivariat ... 72

(13)

BAB 5 PEMBAHASAN ... 74

5.1. Pengetahuan ... 74

5.2. Sikap ... 76

5.3. Dukungan Sarana ... 78

5.4. Dukungan Petugas ... 79

BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN ... 84

6.1. Kesimpulan ... 84

6.2. Saran ... 84

DAFTAR PUSTAKA ... 86

LAMPIRAN ... 89

(14)

DAFTAR TABEL

3.1. Jumlah KK sebagai sampel penelitian di Setiap Desa di Wilayah Kerja Puskesmas Nurul Salam Kabupaten Aceh Timur tahun

2010 ... 46 3.2. Aspek Pengukuran Variabel Dependen dan Independen ... 49 4.1 Distribusi Karakteristik Kepala Keluarga di wilayah Kerja

Puskesmas Nurul Salam Kabupaten Aceh Timur Tahun 2011 ... 57 4.2. Distribusi Indikator Pengetahuan Kepala Keluarga tentang

Pemberantasan Sarang Nyamuk di wilayah kerja Puskesmas

Nurul Salam Kabupaten Aceh Timur Tahun 2011 ... 59 4.3 Distribusi Berdasarkan Kategori Pengetahuan Kepala Keluarga

tentang Pemberantasan Sarang Nyamuk di wilayah kerja

Puskesmas Nurul Salam Kabupaten Aceh Timur Tahun 2011 ... 60 4.4 Distribusi Berdasarkan Sikap Kepala Keluarga tentang

Pemberantasan Sarang Nyamuk di wilayah kerja Puskesmas

Nurul Salam Kabupaten Aceh Timur Tahun 2011 ... 62 4.5 Distribusi Berdasarkan Kategori Sikap Kepala Keluarga tentang

Pemberantasan Sarang Nyamuk di wilayah kerja Puskesmas

Nurul Salam Kabupaten Aceh Timur Tahun 2011 ... 62 4.6 Distribusi Berdasarkan Dukungan Sarana Pelayanan Kesehatan

di wilayah kerja Puskesmas Nurul Salam Kabupaten Aceh Timur

Tahun 2011 ... 63 4.7 Distribusi Berdasarkan Kategori Dukungan Sarana Pelayanan

Kesehatan di wilayah kerja Puskesmas Nurul Salam Kabupaten

Aceh Timur Tahun 2011 ... 64 4.8 Distribusi Berdasarkan Dukungan Petugas di wilayah kerja

Puskesmas Nurul Salam Kabupaten Aceh Timur Tahun 2011 ... 65 Halaman

Nomor Judul

(15)

4.9 Distribusi Berdasarkan Kategori Dukungan Petugas di wilayah kerja Puskesmas Nurul Salam Kabupaten Aceh Timur Tahun

2011 ... 66 4.10 Distribusi Pemberantasan Sarang Nyamuk Penular Chikungunya

di wilayah kerja Puskesmas Nurul Salam Kabupaten Aceh Timur

Tahun 2011 ... 68 4.11 Distribusi Berdasarkan Kategori Pemberantasan Sarang Nyamuk

Penular Chikungunya di wilayah kerja Puskesmas Nurul Salam

Kabupaten Aceh Timur Tahun 2011 ... 69 4.12 Hubungan Pengetahuan, Sikap, Dukungan Sarana dan Dukungan

Petugas dengan Pemberantasan Sarang Nyamuk Penular Chikungunya di wilayah kerja Puskesmas Nurul Salam

Kabupaten Aceh Timur Tahun 2011 ... 71 4.13 Hasil Analisis Multivariat Regresi Logistik antara Variabel

Independen dengan Variabel Dependen ... 72

(16)

DAFTAR GAMBAR

2.1. Skema Penyelenggaraan SKD-KLB Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan ... 21 2.2. Gambar Teori Perilaku Model Green ... 42 2.3. Kerangka Konsep Penelitian ... 44 Halaman

Nomor Judul

(17)

DAFTAR LAMPIRAN

1. Kuesioner ... 88

2. Surat Izin Penelitian dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara ... 93

3. Surat Keterangan Selesai Penelitian dari Puskesmas Nurus Salam Kabupaten Aceh Timur ... 94

4. Peta Wilayah penelitian ... 95

5. Hasil Uji Validitas ... 96

6. Hasil Uji Reliabilitas ... 100

7. Hasil Pengolahan Data dengan Menggunakan SPSS ... 101 Halaman

Nomor Judul

(18)

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Pada era globalisasi yang serba cepat seperti sekarang ini, seseorang hari ini dapat berada di Eropa atau Afrika, dan esok harinya sudah berada di tempat lainnya seperti di Bali atau Jakarta. Dengan pola perpindahan penduduk yang sangat cepat ini, sangat potensial terjadi penyebaran berbagai macam penyakit termasuk virus.

Orang yang tertular penyakit di suatu negara bisa saja membawanya ke Indonesia.

Penyakit yang dibawa ada yang dapat hilang dengan sendirinya, namun dapat pula berlanjut siklusnya bila faktor pendukungnya ada (Depkes RI, 2007).

Chikungunya merupakan sebuah penyakit yang disebabkan oleh virus berasal dari benua Afrika. Chikungunya merupakan bahasa Shawill berdasarkan gejala pada penderita, yang berarti (posisi tubuh) meliuk atau melengkung, mengacu pada postur penderita yang membungkuk akibat nyeri sendi hebat (arthralgia). Nyeri sendi ini terjadi pada lutut pergelangan kaki serta persendian tangan dan kaki. Demam Chikungunya disebabkan oleh virus Chikungunya (CHIKV). CHIKV termasuk keluarga Togaviridae, Genus alphavirus, dan ditularkan oleh nyamuk Aedes Aegypti (www.medicastore.com diakses pada hari Kamis, 31 Januari 2008).

Penyebab demam Chikungunya masih belum diketahui pola masuknya ke Indonesia. Sekitar 200-300 tahun lalu CHIKV merupakan virus pada hewan primata di tengah hutan atau savana di Afrika. Satwa primata yang dinilai sebagai pelestari

(19)

virus adalah bangsa baboon (Papio sp), Cercopithecus sp. Siklus di hutan (Sylvatic cycle) di antara satwa primata dilakukan oleh nyamuk Aedes sp (Ae africanus,

Aeluteocephalus, Ae opok, Ae. furciper, Ae taylori, Ae cordelierri). Pembuktian ilmiah yang meliputi isolasi dan identifikasi virus baru berhasil dilakukan ketika terjadi wabah di Tanzania 1952-1953 (Depkes RI, 2007).

Hasil penelitian terhadap epidemiologi penyakit Chikungunya di Bangkok Thailand dan Vellore Madras, India menunjukkan bahwa terjadi gelombang epidemi dalam interval 30 tahun. Satu gelombang epidemi umumnya berlangsung beberapa bulan, kemudian menurun dan bersifat ringan sehingga sering tidak termonitor.

Gelombang epidemi berkaitan dengan populasi vektor (nyamuk penular) dan status kekebalan penduduk. Pengujian darah (serologik) penyakit Chikungunya sering tidak mudah karena serum Chikungunya mempunyai reaksi silang dengan virus lain dalam satu keluarga (Depkes RI, 2007).

Dari beberapa literatur tampak ada kecenderungan gelombang epidemi 20 tahunan. Fenomena ini sering dikaitkan dengan perubahan iklim dan cuaca. Antibodi yang timbul dari penyakit ini membuat penderita kebal terhadap serangan virus selanjutnya. Perlu waktu panjang bagi penyakit ini untuk merebak kembali. Masa inkubasi terjadinya penyakit sekitar dua sampai empat hari, sementara manifestasinya timbul antara tiga sampai sepuluh hari. Gejala utama terkena penyakit Chikungunya adalah: Tiba-tiba tubuh terasa demam diikuti dengan linu di persendian, Timbulnya rasa pegal-pegal, ngilu, juga timbul rasa sakit pada tulang-tulang, ada yang menamainya sebagai demam tulang atau flu tulang (gejala yang khas), Dalam

(20)

beberapa kasus didapatkan juga penderita yang terinfeksi tanpa menimbulkan gejala sama sekali atau silent virus Chikungunya (Depkes RI, 2007).

Virus yang ditularkan oleh nyamuk Aedes Aegypti ini akan berkembang biak di dalam tubuh manusia. Virus menyerang semua usia, baik anak-anak maupun dewasa di daerah endemis. Secara mendadak penderita akan mengalami demam tinggi selama lima hari, sehingga dikenal pula istilah demam lima hari (Depkes RI, 2007).

Demam Chikungunya termasuk ”Self Limiting Disease” atau penyakit yang sembuh dengan sendirinya. Tak ada vaksin maupun obat khusus untuk penyakit ini.

Pengobatan yang diberikan hanyalah terapi simtomatis atau menghilangkan gejala penyakitnya. Seperti, obat penghilang rasa sakit atau demam seperti golongan paracetamol, sebaiknya dihindarkan penggunaan obat sejenis asetosal. Antibiotika tidak diperlukan pada kasus ini. Penggunaan antibiotika dengan pertimbangan mencegah infeksi sekunder tidak bermanfaat. Untuk memperbaiki keadaan umum penderita dianjurkan makan makanan yang bergizi, cukup karbohidrat dan terutama protein serta minum sebanyak mungkin. Perbanyak mengkonsumsi buah-buahan segar atau minum jus buah segar (Depkes RI, 2008).

Sampai saat ini masih belum ditemukan obat dan vaksin yang efektif untuk penyakit Chikungunya. Mengingat penyebar penyakit ini adalah nyamuk Aedes aegypti maka cara terbaik untuk memutus rantai penularan adalah dengan memberantas nyamuk tersebut, sebagaimana sering disarankan dalam pemberantasan penyakit demam berdarah dengue (Depkes RI, 2007). Pemberantasan Sarang Nyamuk

(21)

(PSN) merupakan cara pengendalian vektor sebagai salah satu upaya yang dilakukan untuk mencegah terjadinya penularan penyakit Chikungunya. Kampanye PSN sudah digalakkan pemerintah dalam hal ini Departemen Kesehatan dengan semboyan 3M, yakni menguras tempat penampungan air secara teratur, menutup tempat-tempat penampungan air dan mengubur barang-barang bekas yang dapat menjadi sarang nyamuk.

Kegiatan tersebut sekarang berkembang menjadi 3M plus yaitu kegiatan 3M diperluas dengan mengganti air vas bunga, tempat minum burung atau tempat lainnya yang sejenis seminggu sekali, memperbaiki saluran dan talang air yang tidak lancar, menutup lubang lubang pada potongan bambu/pohon, menaburkan bubuk larvasida, memelihara ikan pemakan jentik, memasang kawat kassa, mengupayakan pencahayaan dan ventilasi ruangan yang memadai. Kegiatan 3M plus juga diperluas dengan upaya meningkatkan kebiasaan pada masyarakat untuk menggunakan kelambu pada saat tidur siang, memakai obat yang dapat mencegah gigitan nyamuk, dan menghindari kebiasaan menggantung pakaian dalam ruangan rumah.

Dalam setiap persoalan kesehatan, termasuk dalam upaya penanggulangan Chikungunya, faktor perilaku senantiasa berperan penting. Perhatian terhadap faktor perilaku sama pentingnya dengan perhatian terhadap faktor lingkungan, khususnya dalam hal upaya pencegahan penyakit. Selain kegiatan pemberantasan sarang nyamuk, upaya lain dalam pengendalian vektor untuk mencegah kejadian Chikungunya dilakukan dengan menghindari terjadinya kontak dengan nyamuk dewasa. Pencegahan ini dapat dilakukan dengan memperhatikan faktor kebiasaan

(22)

keluarga diantaranya kebiasaan tidur siang, penggunaan kelambu siang hari, pemakaian anti nyamuk siang hari dan kebiasaan menggantung pakaian bekas pakai yang dapat diubah atau disesuaikan untuk mengurangi kemungkinan terjadinya kasus Chikungunya terhadap salah satu anggota keluarga.

Kejadian luar biasa penyakit Chikungunya pernah terjadi di Yogjakarta (1983), Muara Enim (1999), dan Aceh (2000). Pada tahun 2001 KLB Chikungunya di Jawa Barat terjadi serentak di beberapa RW/desa di Bogor, Bekasi, dan Depok. Pada tahun 2002, Palembang, Semarang, Idramayu, Manado, DKI, Banten dan beberapa daerah lainnya melaporkan adanya KLB Chikungunya. Pada tahun 2003 KLB Chikungunya terjadi juga di beberapa wilayah di pulau Jawa, NTB dan Kalimantan Tengah (Depkes RI, 2007).

Di Provinsi Nangroe Aceh Darusalam (NAD) kasus Chikungunya terjadi pada tahun 2000, dan menyebar ke daerah Kabupaten Aceh Timur pada tahun 2009 dengan kejadian luar biasa yakni terdapat 4.403 kasus selama 8 bulan (April – November 2009). Dimana kasus Chikungunya menyebar di seluruh kecamatan yang ada di Kabupaten Aceh Timur, dengan kasus terbanyak terdapat di Puskesmas Nurus Salam yakni sebanyak 1.493 kasus, dan paling sedikit terdapat di Puskesmas Sungai Raya sebanyak 32 kasus (Dinkes Kab. Aceh Timur, 2009).

Kondisi di wilayah kerja Puskesmas Nurus Salam, menurut data yang ada petugas yang bertanggungjawab dalam program penaggulangan Chikungunya ini terlihat masih kurang baik dalam menjalankan tugasnya. Hal ini dapat diamati dari kurangnya promosi yang diberikan kepada masyarakat dimana petugas hanya

(23)

memberikan penyuluhan satu kali selama kasus demam Chikungunya terjadi, ataupun tidak adanya media promosi yang baik seperti poster atau leaflet yang disebarkan ke masyarakat. Petugas melakukan foging sebanyak satu kali, dan tidak membegikan bubuk abate kepada masyarakat. Di lain pihak masyarakat juga kurang berpartisipasi dalam penanggulangan wabah ini. Masyarakat hanya tahu pengasapan sebagai jalan satu-satunya untuk mencegah wabah ini. Bahkan jika terjadi wabah sangat jarang masyarakat yang melaporkan ke petugas kesehatan, petugas mendapatkan data jika seseorang telah dirawat beberapa hari di rumah sakit. Selain daripada itu jika petugas mengadakan penyuluhan kesehatan, kehadiran masyarakat masih rendah.

Menurut penelitian Fatmi (2006), dalam penelitiannya tentang faktor sosiodemografi dan lingkungan yang mempengaruhi kejadian luar biasa Chikungunya di Kelurahan Cinere Kecamatan Limo Kota Depok menyebutkan bahwa faktor sosiodemografi mempunyai pengaruh yang signifikan yaitu p = 0,03 dan faktor lingkungan juga mempunyai pengaruh yang signifikan yaitu dengan nilai p = 0,00.

Jika kita bandingkan dengan kasus demam berdarah maka berdasarkan penelitian Hutapea (2007) dalam penelitiannya tentang perilaku masyarakat mengenai Demam Berdarah Dengue di Kelurahan Gung Negeri Kecamatan Kabanjahe Kabupaten Karo tahun 2007, menunjukkan bahwa masyarakat melakukan pemberantasan sarang nyamuk jika petugas melakukan penyuluhan terlebih dahulu tentang DBD.

Perilaku pencegahan seperti di atas sangat dipengaruhi oleh tingkat pengetahuan masyarakat. Perilaku merupakan suatu aktivitas atau kegiatan manusia baik yang dapat diamati secara langsung maupun yang tidak dapat diamati secara

(24)

langsung oleh orang lain. Sedangkan pengetahuan merupakan hasil tahu manusia yang sekedar menjawab pertanyaan “what”. Apabila pengetahuan mempunyai sasaran tertentu dan mempunyai pendekatan untuk mengkaji obyek tersebut akan memperoleh hasil pengakuan secara umum (Notoatmodjo, 2005).

Seseorang yang memiliki pengetahuan terhadap suatu penyakit dan mereka sadar bahwa penyakit tersebut dapat mempengaruhi kesehatan mereka menjadi lebih buruk, maka mereka pun tahu bagaimana harus bersikap yaitu mereka akan melakukan usaha-usaha pencegahan agar tidak terkena penyakit tersebut. Sikap merupakan respon atau reaksi seseorang yang masih tertutup, bukan merupakan reaksi tingkah laku yang terbuka terhadap stimulus atau obyek. Misalnya seseorang yang mengetahui bahwa penyakit Chikungunya dapat mengakibatkan kelumpuhan yang bersifat sementara maka ia akan berusaha mencegah terkena penyakit tersebut dengan melakukan 3M (menguras, mengubur dan menutup). Sebaliknya seseorang yang tidak tahu akan penyakit Chikungunya maka kesadaran dan sikap pun juga tidak akan ada sehingga tidak ada usaha-usaha pencegahan penyakit tersebut. Hal ini sesuai dengan yang dikemukakan oleh Notoatmodjo (2003), bahwa perilaku yang didasari oleh pengetahuan, kesadaran, dan sikap yang positif, maka perilaku tersebut akan bersifat langgeng (long lasting), sebaliknya apabila perilaku itu tidak didasari oleh pengetahuan, kesadaran dan sikap maka tidak akan berlangsung lama. Sehingga pengetahuan, kesadaran dan sikap mempunyai peranan yang sangat penting dalam menentukan perilaku seseorang.

(25)

Saat ini mungkin masih terdapat masyarakat yang belum mengetahui apa itu Chikungunya, sehingga mereka tidak tahu bagaimana harus bersikap dalam melakukan pencegahan penyakit tersebut. Sebagian orang mengetahui penyakit ini setelah mereka terkena penyakitnya. Berbeda dengan orang yang sudah tahu, maka mereka tahu sikap apa yang harus dilakukan untuk pencegahan sejak dini.

Pengetahuan tentang kesehatan sangat penting dalam kehidupan sehari-hari untuk mencegah timbulnya suatu penyakit.

Perilaku warga sehari-hari juga dapat mempengaruhi kesehatan. Cara hidup mereka, makanan yang mereka makan, air yang digunakan, dan usaha menjaga kebersihan lingkungan. Lingkungan yang kotor dapat menimbulkan penyakit, misalnya kaleng-kaleng bekas yang berserakan dapat digunakan nyamuk sebagai tempat tinggal sehingga dapat mengakibatkan seseorang tertular Chikungunya dari nyamuk tersebut. Hal ini sangat dipengaruhi oleh pengetahuan mereka, semakin mereka tahu seberapa besar bahaya suatu penyakit maka akan semakin banyak pula usaha pencegahan yang mereka lakukan (Hendrawan, 2009).

Berdasarkan latar belakang tersebut di atas, maka peneliti tertarik untuk meneliti tentang pengetahuan, sikap, sarana dan prasarana serta dukungan petugas kesehatan terhadap pencegahan penyakit Chikungunya dengan metode pemberantasan sarang nyamuk (PSN) oleh kepala keluarga di wilayah kerja puskesmas Nurus Salam Kabupaten Aceh Timur.

(26)

1.2. P ermasalahan

Belum diketahuinya hubungan pengetahuan, sikap, sarana dan prasarana serta dukungan petugas kesehatan terhadap pencegahan penyakit Chikungunya dengan metode pemberantasan sarang nyamuk (PSN) oleh kepala keluarga di wilayah kerja puskesmas Nurus Salam Kabupaten Aceh Timur.

1.3. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis hubungan pengetahuan, sikap, sarana dan prasarana serta dukungan petugas kesehatan terhadap pencegahan penyakit Chikungunya dengan metode pemberantasan sarang nyamuk (PSN) oleh kepala keluarga di wilayah kerja puskesmas Nurus Salam Kabupaten Aceh Timur.

1.4. Hipotesis

Ada hubungan pengetahuan, sikap, sarana dan prasarana serta dukungan petugas kesehatan terhadap pencegahan penyakit Chikungunya dengan metode pemberantasan sarang nyamuk (PSN) oleh kepala keluarga di wilayah kerja puskesmas Nurus Salam Kabupaten Aceh Timur.

1.5. Manfaat Penelitian

Adapun manfaat penelitian ini nantinya adalah :

1. Sebagai masukan bagi Dinas Kesehatan Kabupaten Aceh Timur dalam upaya penanggulangan penyakit Chikungunya.

(27)

2. Sebagai masukan bagi institusi kesehatan swasta maupun Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang menangani penyakit Chikungunya.

3. Sebagai pengembangan ilmu tentang pencegahan dan pengendalian penyakit Chikungunya sehingga dalam penanggannya akan lebih mudah dan terarah.

4. Sebagai masukan bagi peneliti lain yang ingin melakukan penelitian ini selanjutnya.

(28)

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Definisi Chikungunya

Departemen Kesehatan Republik Indonesia (2007), menyebutkan bahwa Chikungunya berasal dari suatu penyakit yang disebabkan oleh virus chikungunya, ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes Aegypti, Aedes Albopictus dengan gejala utama demam mendadak, bintik-bintik kemerahan, nyeri sendi terutama sendi lutut dan pergelangan kaki sehingga orang tersebut tidak dapat berjalan untuk sementara waktu. Biasanya menyerang sekelompok orang dalam suatu wilayah tertentu.

2.1.1. Penyebab

Demam Chikungunya disebabkan oleh virus Chikungunya (CHIKV). CHIKV termasuk keluarga Togaviridae, Genus alphavirus, dan ditularkan oleh nyamuk Aedes Aegypti (Depkes RI, 2007).

2.1.2. Gejala

Gejala utama terkena penyakit Chikungunya adalah tiba-tiba tubuh terasa demam diikuti dengan linu di persendian. Bahkan, karena salah satu gejala yang khas adalah timbulnya rasa pegal-pegal, ngilu, juga timbul rasa sakit pada tulang-tulang, ada yang menamainya sebagai demam tulang atau flu tulang. Dalam beberapa kasus didapatkan juga penderita yang terinfeksi tanpa menimbulkan gejala sama sekali atau silent virus chikungunya. Untuk lebih rinci gejala penyakit chikungunya antara lain, yaitu (Depkes RI, 2007):

(29)

a. Demam. Biasanya demam tinggi, timbul mendadak disertai mengigil dan muka kemerahan. Panas tinggi selama 2-4 hari kemudian kembali normal.

b. Sakit persendian. Nyeri sendi merupakan keluhan yang sering muncul sebelum timbul demam dan dapat bermanifestasi berat, nyeri, sehingga kadang penderita ” merasa lumpuh ” sebelum berobat . Sendi yang sering dikeluhkan: sendi lutut, pergelangan, jari kaki dan tangan serta tulang belakang.

c. Nyeri otot. Nyeri bisa pada seluruh otot atau pada otot bagian kepala dan daerah bahu. Kadang terjadi pembengkakan pada pada otot sekitar mata kaki.

d. Bercak kemerahan ( ruam ) pada kulit. Bercak kemerahan ini terjadi pada hari pertama demam, tetapi lebih sering pada hari ke 4-5 demam. Lokasi biasanya di daerah muka, badan, tangan, dan kaki. Kadang ditemukan perdarahan pada gusi.

e. Sakit Kepala: sakit kepala merupakan keluhan yang sering ditemui.

f. Kejang dan Penurunan Kesadaran. Kejang biasanya pada anak karena panas yang terlalu tinggi, jadi bukan secara langsung oleh penyakitnya.

g. Gejala lain. Gejala lain yang kadang dijumpai adalah pembesaran kelenjar getah bening di bagian leher.

Demam chikungunya sering rancu dengan penyakit demam dengue. Pada demam berdarah dengue terjadi perdarahan hebat, renjatan (shock) maupun kematian sedangkan pada Chikungunya tidak, namun chikungunya memiliki gejala nyeri sendi yang tidak terjadi pada penderita demam berdarah dengue.

(30)

2.1.3. Pemeriksaan Laboratorium

Untuk memastikan penyakit ini dilakukan pemeriksaan laboratorium dengan teknik ELISA, maupun pemeriksaan virusnya (Depkes RI, 2007).

2.1.4. Tempat Nyamuk Berkembang Biak

Nyamuk Aedes berkembang biak di tempat penampungan air bersih didalam rumah maupun di sekitar rumah seperti bak mandi, tempayan, vas bunga, tempat minum burung, ban bekas, drum, kaleng, pecahan botol, potongan bambu dan lain- lain. Pada musim hujan lebih banyak lagi tempat-tempat yang menampung air (Depkes RI, 2007).

2.1.5. Diagnosa

Untuk memperoleh diagnosis akurat perlu beberapa uji serologik antara lain uji hambatan aglutinasi (HI), serum netralisasi, dan IgM capture ELISA. Tetapi pemeriksaan serologis ini hanya bermanfaant digunakan untuk kepentingan epidemiologis dan penelitian, tidak bermanfaat untuk kepentingan praktis klinis sehari-hari (Depkes RI, 2007).

2.1.6. Pengobatan

Menurut Depkes RI (2007) demam Chikungunya termasuk penyakit yang sembuh dengan sendirinya. Tak ada vaksin maupun obat khusus untuk penyakit ini.

Pengobatan yang diberikan hanyalah terapi simtomatis atau menghilangkan gejala penyakitnya, seperti obat penghilang rasa sakit atau demam seperti golongan parasetamol. Antibiotika tidak diperlukan pada kasus ini. Penggunaan antibiotika dengan pertimbangan mencegah infeksi sekunder tidak bermanfaat. Untuk

(31)

memperbaiki keadaan umum penderita dianjurkan makan makanan yang bergizi, cukup karbohidrat dan terutama protein serta minum sebanyak mungkin. Perbanyak mengkonsumsi buah-buahan segar atau minum jus buah segar.

Pemberian vitamin peningkat daya tahan tubuh mungkin bermanfaat untuk penanganan penyakit. Selain vitamin, makanan yang mengandung cukup banyak protein dan karbohidrat juga meningkatkan daya tahan tubuh. Daya tahan tubuh yang bagus dan istirahat cukup bisa mempercepat penyembuhan penyakit. Minum banyak juga disarankan untuk mengatasi kebutuhan cairan yang meningkat saat terjadi demam.

2.1.7. Pencegahan

Menurut Departemen Kesehatan RI (2007), cara menghindari penyakit ini adalah membasmi nyamuk pembawa virusnya. Nyamuk ini, senang hidup dan berkembang biak di genangan air bersih seperti bak mandi, vas bunga, dan juga kaleng atau botol bekas yang menampung air bersih.

Nyamuk bercorak hitam putih ini juga senang hidup di benda-benda yang menggantung seperti baju-baju yang ada di belakang pintu kamar. Selain itu, nyamuk ini juga menyenangi tempat yang gelap dan pengap. Mengingat penyebar penyakit ini adalah nyamuk Aedes Aegypti maka cara terbaik untuk memutus rantai penularan adalah dengan memberantas nyamuk tersebut, sebagaimana sering disarankan dalam pemberantasan penyakit demam berdarah dengue.

Insektisida yang digunakan untuk membasmi nyamuk ini adalah dari golongan malation, sedangkan themopos untuk mematikan jentik-jentiknya.Malation

(32)

dipakai dengan cara pengasapan, bukan dengan menyemprotkan ke dinding. Hal ini karena Aedes Aegypti tidak suka hinggap di dinding, melainkan pada benda-benda yang menggantung. Namun, pencegahan yang murah dan efektif untuk memberantas nyamuk ini adalah dengan cara menguras tempat penampungan air bersih, bak mandi, vas bunga dan sebagainya, paling tidak seminggu sekali, mengingat nyamuk tersebut berkembang biak dari telur sampai menjadi dewasa dalam kurun waktu 7-10 hari.

Halaman atau kebun di sekitar rumah harus bersih dari benda-benda yang memungkinkan menampung air bersih, terutama pada musim hujan. Pintu dan jendela rumah sebaiknya dibuka setiap hari, mulai pagi hari sampai sore, agar udara segar dan sinar matahari dapat masuk, sehingga terjadi pertukaran udara dan pencahayaan yang sehat. Dengan demikian, tercipta lingkungan yang tidak ideal bagi nyamuk tersebut.

Pencegahan individu dapat dilakukan dengan cara khusus seperti penggunaan obat oles kulit (insect repellent) yang mengandung DEET atau zat aktif EPA lainnya.

Penggunaan baju lengan panjang dan celana panjang juga dianjurkan untuk dalam keadaan daerah tertentu yang sedang terjadi peningkatan kasus.

2.1.8. Penanganan Kasus

Bila menemukan kasus chikungunya lakukan (Depkes RI, 2005) : a. Segera laporkan ke Puskesmas/Dinas Kesehatan setempat.

b. Hindari penderita dari digigit nyamuk (tidur memakai kelambu) agar tidak menyebarkan ke orang lain.

c. Anjurkan penderita untuk beristirahat selama fase akut.

d. Pada keadaan KLB perlu dilakukan penyemprotan/pengasapan.

(33)

e. Lakukan Pemeriksaan Jentik di rumah dan sekitar rumah.

2.1.9. Karakteristik Penyakit Chikungunya 2.1.9.1. Cara Penularan

Penyakit chikungunya boleh dikatakan ‘bersaudara’ dengan penyakit demam denggi dan demam denggi berdarah karena dibawa oleh pembawa yang sama yaitu nyamuk Aedes Aegypti maupun albopictus. Masa inkubasi virus ini ialah dua sampai empat hari, sementara manifestasinya tiga sampai sepuluh hari. Bedanya, jika virus denggi menyerang pembuluhdarah, virus chikungunya menyerang sendi dan tulang.

Nyamuk aedes lazimnya akan menggigit seseorang yang telah dijangkiti oleh virus chikungunya dan memindahkan darah berkenaan kepada seorang mangsa lain yang sehat (Dwitagama, 2008).

Seperti yang sudah dibicarakan sebelumnya, penyakit ini ditularkan melalui gigitan nyamuk yang berperan sebagai vektor/pembawa, seperti Aedes Aegypti (merupakan vektor utama CHIKV), Aedes Albopticus yang mungkin juga berperan dalam penyebaran penyakit di kawasan Asia. Kera dan beberapa binatang buas lainnya juga diduga dapat sebagai perantara penyakit ini karena hewan-hewan inilah yang sebenarnya menjadi target awal penyakit ini.

2.1.9.2. Faktor Penyebab Chikungunya

Penyebab penyakit ini adalah sejenis virus, yaitu Alphavirus dan ditularkan lewat nyamuk Aedes Aegypti. Nyamuk yang sama juga menularkan penyakit demam berdarah dengue. Meski masih “bersaudara” dengan demam berdarah, penyakit ini

(34)

tidak mematikan. Penyakit Chikungunya disebarkan oleh nyamuk Aedes Aegypti (Dwitagama, 2008).

2.1.9.3. Pencegahan dan Pengendalian Chikungunya

Satu-satunya cara menghindari gigitan nyamuk Chikungunya adalah dengan mencegah digigit nyamuk Aedes Aegypti. Selain itu bisa dilakukan pemberantasan vektor nyamuk dewasa maupun membunuh jentik nyamuk. Pemberantasan vektor nyamuk dewasa bisa dilakukan dengan racun serangga atau pengasapan/fogging dengan malathion sedangkan abatisasi digunakan untuk memberantas jentik pada TPA (tempat penampungan air). Sarang nyamuk diberantas dengan cara PSN (Dwitagama, 2008).

a. Abatisasi

Tujuan abatisasi agar kalau sampai telur nyamuk menetas, jentik nyamuk tidak akan menjadi nyamuk dewasa. Semua TPA yang ditemukan jentik Aedes Aegypti ditaburi bubuk abate sesuai dengan dosis satu sendok makanan peres (10 gram) abate untuk 100 liter air. Bubuk abate juga dituang di bak mandi.

b. Pemberantasan Sarang Nyamuk

PSN adalah kegiatan yang dilakukan oleh masyarakat dalam membasmi jentik nyamuk Aedes dengan cara 3M, yaitu sebagai berikut :

1. Menguras secara teratur, terus-menerus seminggu sekali, mengganti air secara teratur tiap kurang dari seminggu pada vas bunga, tempat minum burung, atau menaburkan abate ke TPA

(35)

2. Menutup rapat-rapat TPA

3. Mengubur atau menyingkirkan kaleng-kaleng bekas, plastik dan barang- barang lainnya yang dapat menampung air hujan sehingga tidak menjadi sarang nyamuk.

4. Khusus di tempat pasca-kebakaran harus segera dibersihkan dari wadah- wadah yang bisa menampung air.

2.1.9.4. Proteksi diri dengan salep atau gunakan kawat nyamuk

Tidak seperti nyamuk-nyamuk yang lain, nyamuk itu menggigit pada siang hari. Untuk mencegahnya kita bisa menggunakan salep atau minyak yang dioles di bagian tubuh yang terbuka. Selain menggunakan salep untuk mencegah gigitan nyamuk, bisa juga menggunakan minyak sereh. Cara lain adalah dengan menggunakan kawat nyamuk di pintu-pintu dan jendela rumah (Dwitagama, 2008).

Dengan melakukan hal-hal di atas, sebenarnya sudah dilakukan perlindungan tidak hanya pada demam Chikungunya tetapi juga demam berdarah yang lebih fatal dan mematikan. Tidak mustahil penyakit Demam Chikungunya datang bersama-sama dengan penyakit demam berdarah.

2.1.10. Mata Rantai Infeksi Chikungunya

Berdasarkan penjelasan oleh Dwitagama (2008)Dalam penularan penyakit Chikungunya dipengaruhi oleh beberapa faktor, yakni :

(36)

a. Agen

Agen dalam penyakit chikungunya adalah nyamuk Aedes Aegypti betina (dominan) dan Aedes Albopictus. Arbovirus famili Togaviridae genus Alpha virus, dengan perantaraan nyamuk Aedes.

b. Reservoir

Habitat berkembang biak di genangan air bersih seperti bak mandi, vas bunga, dan juga kaleng atau botol bekas yang menampung air bersih. Kedua, Serangga bercorak hitam putih ini juga senang hidup di benda-benda yang menggantung seperti baju-baju yang ada di belakang pintu kamar. Ketiga, nyamuk ini sangat menyukai tempat yang gelap dan pengap. Mengingat penyebar penyakit ini adalah nyamuk Aedes Aegypti maka cara terbaik untuk memutus rantai penularan adalah dengan memberantas nyamuk tersebut, sebagaimana sering disarankan dalam pemberantasan penyakit demam berdarah dengue. Insektisida yang digunakan untuk membasmi nyamuk ini adalah dari golongan malation, sedangkan themopos untuk mematikan jentik- jentiknya. malation dipakai dengan cara pengasapan, bukan dengan menyemprotkan ke dinding. Hal ini karena Aedes Aegypti tidak suka hinggap di dinding, melainkan pada benda-benda yang menggantung.

c. Portal of exit

Penderita penyakit chikungunya seharusnya dirawat di rumah sakit agar kondisinya selalu dikontrol.

(37)

d. Portal of entry

Lingkungan harus dibersihkan terutama pada barang-barang yang dapat digenangi air. Hindari gigitan nyamuk pada pagi sampai dengan sore hari karena nyamuk penyebab chikungunya aktif pada saat itu.

e. Kerentanan penjamu

Daya tahan tubuh yang lemah dan kekebalan tubuh yang lemah saat terkena gigitan nyamuk.

2.1.11. Peran Keluarga dalam Pencegahan Chikungunya

Keluarga adalah sekumpulan orang yang memiliki hubungan melalui ikatan perkawinan, adopsi atau kelahiran. Keluarga memiliki peran yang sangat pentingdalam upaya pencegahan penyakit chikungunya. Keluarga berperan dalam hal menjaga pola hidup agar tetap bersih dan sehat. Selain itu, makanan yang dimakan pun harus memenuhi 4 sehat 5 sempurna agar tubuh tetap sehat dan tidak mudah terkena penyakit. Lingkungan rumah pun harus bersih. Lakukan gerakan 3 M secara teratur yaitu menutup tempat penampungan air, mengubur barang bekas agar tidak digenangi air dan menguras bak secara teratur agar terhindar dari nyamuk penyebab chikungunya ini (Dwitagama, 2008).

2.1.12. Penanggulangan KLB Chikungunya

Penyakit Chikungunya seringkali menjadi permasalahan tersendiri jika menyerang masyarakat, Chikungunya menjadi salah penyakit yang terjadi dengan cara KLB (kejadian luar biasa), hal ini dikarenakan jika salah satu masyarakat terjangkit Chikungunya maka dalam waktu dekat akan terjadi kasus yang lebih besar.

(38)

Sehingga untuk menanganinya dilakukan berdasarkan metode berikut (Depkes RI, 2005).

Gambar 2.1. Skema Penyelenggaraan SKD-KLB Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan

Sumber : Depkes RI, 2005. Ditjen PPM & PL. Jakarta.

Jejaring SE STP

Kajian Epidemiologi

Peringatan Kewaspadaan dini

KLB

Peningkatan Kewaspadaan &

Kesiapsiagaan KLB

Upaya Pencegahan (Program)

Upaya Pencegahan (Sektor)

Upaya Pencegahan (Masyarakat)

Kewaspadaan Prov/Nasional

Kewaspadaan Antar Daerah

Deteksi Dini Kondisi Rentan

KLB

Deteksi Dini KLB

Kewaspadaan Masyarakat

Kesiapsiagaan Menghadapi KLB

Penanggulangan KLB Cepat & Tepat

Advokasi &

Asistensi SKD-KLB

Pengembangan teknologi SKD-

KLB &

Penangulangan KLB

Identifikasi Kasus berpotensi KLB

PWS Penyakit berpotensi KLB

Penyelidikan dugaan KLB

(39)

2.2. Pemberantasan Nyamuk Penular Demam Chikungunya

Pemberantasan nyamuk demam Chikungunya seperti penyakit menular lainnya, didasarkan atas pemutusan rantai penularan. Beberapa cara untuk memutuskan rantai penularan penyakit demam Chikungunya yaitu (Depkes RI, 2002):

a. Melenyapkan virus dengan cara mengobati semua penderita dengan obat anti virus.

b. Solusi penderita agar tidak menjadi sumber penularan bagi orang lain c. Mencegah gigitan nyamuk/vektor.

d. Immunisasi terhadap orang sehat.

e. Membasmi/ memberantas sarang nyamuk.

Cara yang biasa dipakai adalah memberantas sumber nyamuk, penyehatan lingkungan ataupun chemical control. Penyehatan lingkungan merupakan cara terbaik. Untuk mencapai tujuan ini di perlukan usaha yang terus - menerus secara berkesinambungan. Hasil yang diharapkan memang tidak tampak dengan segera.

a. Pemberantasan Nyamuk Dewasa

Pemberantasan terhadap nyamuk dewasa dilakukan dengan cara pengasapan (fogging) dengan insektisida. Hal ini dilakukan mengingat kebiasaan nyamuk yang hinggap di benda-benda tergantung karena itu tidak dilakukan penyemprotan di dinding rumah seperti pada pemberantasan nyamuk penular penyakit demam Chikungunya (Depkes RI, 2002).

(40)

Insektisida yang digunakan adalah insektisida golongan organophospat misalnya malathion dan feritrothion, pyrectic syntetic misalnya lamda sihalotrin dan parmietrin, dan karbamat. Alat yang digunakan untuk menyemprot ialah mesin fog

atau mesin ultra low volume (ULV), karena penyemprotan dilakukan dengan cara pengasapan, maka tidak mempunyai efek residu (Suroso, 2003).

Penyemprotan insektisida dilakukan interval 1 minggu untuk membatasi penularan virus Chikungunya. Penyemprotan siklus pertama semua nyamuk mengandung virus Chikungunya (nyamuk inaktif) dan nyamuk-nyamuk lainnya akan mati. Penyemprotan insektisida ini dalam waktu singkat dapat membatasi penularan akan tetapi tindakan ini perlu diikuti dengan pemberantasan jentik agar populasi nyamuk dapat ditekan serendah-rendahnya (Suroso, 2003).

b. Pemberantasan Larva (Jentik)

Pemberantasan terhadap jentik A. Aegypti dikenal dengan istilah Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dilakukan dengan tiga cara yaitu kimia, biologi dan fisik.

a). Cara kimia

Cara pemberantasan jentik A. Aegypti secara kimia dengan menggunakan insektisida pembasmi jentik (larva) atau dikenal dengan abatisasi. Larvasida yang biasanya digunakan adalah temephos. Dosis yang digunakan adalah 1 ppm atau 10 gram (lebih kurang atau satu sendok makan rata) untuk tiap 100 liter air. Bentuk fisik temephos yang digunakan ialah granula (sand granula). Abatisasi dengan temephos ini mempunyai efek residu tiga bulan (Depkes RI, 2004 dan Soedarmo, 1988).

(41)

b). Cara Biologi

Pemberantasan cara biologi dengan memanfaatkan predator alami seperti memelihara ikan pemakan jentik misalnya ikan kepala timah, ikan gufi, ikan nila merah dan ikan lega. Selain itu dapat pula dengan golongan serangga yang dapat mengendalikan pertumbuhan larva (Depkes RI, 2004).

c). Cara Fisik

Pemberantasan cara fisik melalui kegiatan 3 M + 1 T yaitu mengubur atau memusnahkan barang-barang bekas yang dapat menjadi tempat terisinya air hujan, menguras tempat penampungan air minimal 1 kali seminggu, menutup tempat penampungan air, dan menelungkupkan barang – barang yang dapat menjadi tempat perindukan nyamuk Aedes Aegypti (Depkes RI, 2004).

Keberhasilan pemberantasan sarang nyamuk hanya dapat diperoleh dengan peran serta masyarakat untuk melaksanakannya. Oleh karena itu dilakukan usaha penyuluhan dan motivasi kepada masyarakat secara kontinu dalam waktu lama, sebab keberadaan jentik nyamuk berkaitan erat dengan perilaku masyarakat (Depkes RI, 1992).

2.2.1. Jenis Kegiatan Pemberantasan Nyamuk

Jenis kegiatan pemberantasan nyamuk penular demam Chikungunya meliputi:

a. Penyemprotan massal

Desa/kelurahan rawan dapat merupakan sumber penyebarluasan penyakit ke wilayah lain. Kejadian luar biasa/wabah demam Chikungunya sering kali dimulai dari peningkatan jumlah kasus demam Chikungunya di wilayah lain. Biasanya di

(42)

desa/kelurahan ini, pada tahun-tahun berikutnya akan terjadi kasus demam Chikungunya. Oleh karena itu penularan penyakit di wilayah ini diperlukan segera diatasi dengan penyemprotan insektisida dan diikuti PSN oleh masyarakat untuk membasmi jentik-jentik penular demam Chikungunya. Penyemprotan ini dilaksanakan sebelum musim penularan penyakit demam Chikungunya di desa rawan agar sebelum terjadi puncak penularan virus Chikungunya, populasi nyamuk penular dapat ditekan serendah-rendahnya sehingga KLB dapat dicegah (Depkes RI, 2004).

b. Pemantauan Jentik Berkala (PJB)

Pemantauan jentik berkala adalah pemeriksaan tempat penampungan air dan tempat perkembangbiakan nyamuk A. aegypti untuk mengetahui adanya jentik nyamuk yang dilakukan di rumah dan di tempat umum secara teratur sekurang- kurangnya tiap 3 bulan untuk mengetahui keadaan populasi jentik nyamuk penular penyakit demam Chikungunya.

c. Pemberantasan Sarang Nyamuk

Pencegahan yang dilaksanakan oleh masyarakat di rumah dan di tempat tempat umum dengan melaksanakan PSN meliputi:

a) Menguras tempat penampungan air sekurang kurangnya seminggu sekali atau menutupnya rapat-rapat.

b) Mengubur barang bekas yang dapat menampung air.

c) Menaburkan racun pembasmi jentik (abatisasi).

d) Memelihara ikan dan cara-cara lain untuk membasmi jentik (Soedarmo, 1988).

(43)

2.3. Perilaku

2.3.1. Pengertian Perilaku

Dari aspek biologis, perilaku merupakan suatu kegiatan atau aktivitas organisme atau makhluk hidup yang bersangkutan. Mulai dari binatang sampai manusia mempunyai aktivitas masing-masing (Notoatmodjo, 2007).

Secara singkat aktivitas manusia dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu : a. Aktivitas-aktivitas yang dapat diamati oleh orang lain, misal: berjalan, bernyanyi,

tertawa, dan sebagainya.

b. Aktivitas yang tidak dapat diamati oleh orang lain, misalnya: berfikir, berfantasi, bersikap, dan sebagainya.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa yang disebut perilaku (manusia) adalah semua kegiatan atau aktivitas manusia, baik yang dapat diamati langsung maupun yang tidak dapat diamati pihak luar (tidak langsung) (Notoatmodjo, 2003).

Menurut Skiner (1938) dalam Notoatmodjo (2005), perilaku kesehatan (healthy behavior) adalah merupakan respon seseorang terhadap stimulus atau obyek yang berkaitan dengan sehat-sakit, penyakit, dan faktor-faktor yang mempengaruhi sehat-sakit (kesehatan) seperti lingkungan, makanan, minuman, dan pelayanan kesehatan. Dengan kata lain perilaku kesehatan adalah semua aktivitas atau kegiatan seseorang baik yang dapat diamati (observable) maupun yang tidak dapat diamati (unobservable), yang berkaitan dengan pemeliharaan dan peningkatan kesehatan.

Pemeliharaan kesehatan ini meliputi mencegah atau melindungi diri dari penyakit dan

(44)

masalah kesehatan lain, meningkatkan kesehatan, dan mencari penyembuhan apabila sakit atau terkena masalah kesehatan.

Dilihat dari bentuk respon terhadap stimulus ini, maka perilaku dapat di bedakan menjadi dua, yaitu :

a. Perilaku tertutup (covert behavior)

Respon seseorang terhadap stimulus dalam bentuk tertutup (covert). Respon ini masih terbatas pada perhatian, persepsi, pengetahuan/ kesadaran, dan sikap yang terjadi pada orang yang menerima stimulus tersebut, dan belum dapat diamati dengan jelas oleh orang lain.

b. Perilaku terbuka (overt behavior)

Respon seseorang terhadap stimulus dalam tindakan yang nyata atau terbuka.

Respon ini sudah jelas dalam tindakan atau praktek (practice), yang dapat diamati oleh orang lain dengan jelas.

2.3.2. Pengetahuan

Pengetahuan dapat diartikan secara luas mencakup segala sesuatu yang diketahui (Tim Penyusun, 2005). Pengertian lain menjelaskan bahwa pengetahuan adalah segenap apa yang kita ketahui tentang suatu objek tertentu (Suriasumantri, 2007).

Pengetahuan merupakan hasil “tahu” setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui pancaindra manusia, yakni: indra penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa, dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga (Notoatmodjo, 2003). Hal

(45)

ini sejalan dengan pernyataan Soekanto (2003) bahwa pengetahuan merupakan hasil penggunaan panca indera dan akan menimbulkan kesan dalam pikiran manusia.

Menurut Bakhtiar (2006) dalam Afdhal (2009), pekerjaan tahu tersebut adalah hasil dari kenal, sadar, insaf, mengerti, dan pandai. Pengetahuan itu adalah semua milik atau isi pikiran. Dengan demikian pengetahuan merupakan hasil proses dari usaha manusia untuk tahu. Menurut Notoatmodjo (2003) pengetahuan yang dicakup didalam domain kognitif mempunyai 6 tingkat, yakni:

a. Tahu (know)

Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya. Termasuk ke dalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali (recall) terhadap suatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima. Oleh sebab itu, “tahu” ini adalah merupakan tingkat pengetahuan yang paling rendah.

b. Memahami (comprehension)

Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui, dan dapat menginterpretasi materi tersebut secara benar.

c. Aplikasi (application)

Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi riil (sebenarnya).

(46)

d. Analisis (analysis)

Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek dalam ke dalam komponen-komponen, tetapi masih di dalam suatu struktur organisasi tersebut, dan masih ada kaitannya satu sama lain.

e. Sintesis (synthesis)

Sintesis menunjuk kepada suatu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru.

f. Evaluasi (evaluation)

Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau objek. Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau angket yang menanyakan tentang isi materi yang ingin diukur dari subjek penelitian atau responden. Kedalaman pengetahuan yang ingin kita ketahui atau kita ukur dapat kita sesuaikan dengan tingkat-tingkat tersebut di atas.

Menurut Notoatmodjo (2005), dari berbagai macam cara yang telah digunakan untuk memperoleh kebenaran pengetahuan sepanjang sejarah, dapat dikelompokkan menjadi dua, yakni:

a. Cara tradisional untuk memperoleh pengetahuan

Cara kuno atau tradisional ini dipakai orang untuk memperoleh kebenaran pengetahuan, sebelum ditemukannya metode ilmiah atau metode penemuan secara sistematik dan logis. Cara-cara ini antara lain:

(47)

a) Cara coba-coba (Trial and Error)

Melalui cara coba-coba atau dengan kata yang lebih dikenal “trial and error”.

Cara coba-coba ini dilakukan dengan menggunakan kemungkinan dalam memecahkan masalah, dan apabila kemungkinan tersebut tidak berhasil, dicoba kemungkinan yang lain.

b) Cara kekuasaan atau otoritas

Pengetahuan yang diperoleh berdasarkan pada otoritas atau kekuasaan, baik tradisi, otoritas pemerintah, otoritas pemimpin agama, maupun ahli ilmu pengetahuan.

c) Berdasarkan pengalaman pribadi

Dengan cara mengulang kembali pengalaman yang diperoleh dalam memecahkan permasalahan yang dihadapi pada masa yang lalu.

d) Melalui jalan pikiran

Kemampuan manusia menggunakan penalarannya dalam memperoleh pengetahuannya. Dalam memperoleh kebenaran pengetahuan manusia menggunakan jalan pikirannya.

b. Cara modern dalam memperoleh pengetahuan

Cara ini disebut “metode penelitian ilmiah”, atau lebih popular disebut metodologi penelitian (research methodology). Menurut Deobold van Dalen, mengatakan bahwa dalam memperoleh kesimpulan pengamatan dilakukan dengan mengadakan observasi langsung, dan membuat pencatatan-pencatatan terhadap

(48)

semua fakta sehubungan dengan objek yang diamati. Pencatatan ini mencakup tiga hal pokok, yaitu:

a. Segala sesuatu yang positif, yakni gejala yang muncul pada saat dilakukan pengamatan.

b. Segala sesuatu yang negatif, yakni gejala tertentu yang tidak muncul pada saat dilakukan pengamatan.

c. Gejala-gejala yang muncul secara bervariasi, yaitu gejala-gejala yang berubah-ubah pada kondisi-kondisi tertentu.

Menurut Syah (2003) ditinjau dari sifat dan cara penerapannya, pengetahuan terdiri dari dua macam, yakni : declarative knowledge dan procedural knowledge.

Declarative knowledge lazim juga disebut propositional knowledge. Pengetahuan

deklaratif atau pengetahuan prososisional ialah pengetahuan mengenai informasi faktual yang pada umumnya bersifat statis-normatif dan dapat dijelaskan secara lisani atau verbal. Sebaliknya pengetahuan prosedural adalah pengetahuan yang mendasari kecakapan atau keterampilan perbuatan jasmaniah yang cenderung bersifat dinamis.

Menurut Notoatmodjo (2003), pengetahuan seseorang dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu :

a. Pengalaman

Pengalaman dapat diperoleh dari pengalaman sendiri maupun orang lain.

Pengalaman yang sudah diperoleh dapat memperluas pengetahuan seseorang.

(49)

b. Tingkat Pendidikan

Pendidikan dapat membawa wawasan atau pengetahuan seseorang. Secara umum, seseorang yang berpendidikan lebih tinggi akan mempunyai pengetahuan yang lebih luas dibandingkan dengan seseorang yang tingkat pendidikannya lebih rendah.

c. Keyakinan

Biasanya keyakinan diperoleh secara turun temurun dan tanpa adanya pembuktian terlebih dahulu. Keyakinan ini bias mempengaruhi pengetahuan seseorang, baik keyakinan itu sifatnya positif maupun negatif.

d. Fasilitas

Fasilitas-fasilitas sebagai sumber informasi yang dapat mempengaruhi pengetahuann seseorang, misalnya radio, televisi, majalah, koran, dan buku.

e. Penghasilan

Penghasilan tidak berpengaruh langsung terhadap pengetahuan seseorang.

Namun bila seseorang berpenghasilan cukup besar maka dia akan mampu untuk menyediakan atau membeli fasilitas-fasilitas sumber informasi.

f. Sosial Budaya

Kebudayaan setempat dan kebiasaan dalam keluarga dapat mempengaruhi pengetahuan, persepsi, dan sikap seseorang terhadap sesuatu.

Piaget menyatakan bahwa proses dasar yang terjadi pada penyusunan pengetahuan adalah adaptasi (assimilasi dan akomodasi) yang diatur oleh ekuilibrasi (Harahap, 1999). Assimilasi adalah pengambilan pengalaman dari lingkungan dan

(50)

menggabungkannya dengan cara berpikir yang dimiliki sehingga pengalaman baru dapat digabungkan ke dalam struktur kognitif. Akomodasi adalah komponen lain dari proses adaptasi. Ekuilibrasi meregulasi proses berpikir individu pada tiga arah fungsi kognitif yang berbeda, ketiganya adalah hubungan antara (1) asimilasi dan akomodasi dalam kehidupan individu sehari-hari, (2) sub-sub sistem pengetahuan yang timbul pada diri individu dan (3) bagian-bagian dari pengetahuan individu dan sistem pengetahuan sosial.

2.3.3. Sikap atau Attitude

Sikap merupakan reaksi atau respon seseorang yang masih tertutup terhadap suatu stimulus atau objek. Manifestasi sikap tidak dapat dilihat secara langsung, tetapi hanya dapat ditafsirkan terlebih dahulu dari perilaku yang tertutup. Newcomb salah seorang ahli psikologi sosial menyatakan bahwa sikap itu merupakan kesiapan atau kesediaan untuk bertindak, dan bukan merupakan pelaksana motif tertentu. Sikap belum merupakan suatu tindakan atau aktivitas, akan tetapi merupakan pencetus (predisposisi) tindakan atau perilaku. Lebih dapat dijelaskan lagi bahwa sikap merupakan reaksi terhadap objek di lingkungan tertentu sebagai suatu penghayatan terhadap objek (Notoatmodjo, 2003).

Dalam bagian lain, menurut Allport (1954) dalam Notoadmodjo (2003), menjelaskan bahwa sikap itu mempunyai 3 komponen pokok, yakni:

a) Kepercayaan (keyakinan), ide, dan konsep terhadap suatu objek.

b) Kehidupan emosional atau evaluasi emosional terhadap suatu objek.

c) Kecenderungan untuk bertindak (trend to behave).

(51)

Ketiga komponen ini secara bersama-sama membentuk sikap yang utuh (total attitude). Dalam penentuan sikap yang utuh ini, pengetahuan, berpikir, keyakinan, dan emosi memegang peranan penting. Menurut Notoatmodjo (2003) sikap juga terdiri dari berbagai tingkatan yaitu:

a. Menerima (Receiving)

Menerima, diartikan bahwa orang (subjek) mau dan memperhatikan stimulus yang diberikan (objek). Misalnya sikap orang terhadap gizi dapat dilihat dari kesediaan dan perhatian terhadap ceramah-ceramah.

b. Merespons (Responding)

Memberikan jawaban apabila ditanya, mengejakan, dan menyelesaikan tugas yang diberikan adalah suatu indikasi dari sikap. Karena dengan suatu usaha untuk menjawab pertanyaan atau mengerjakan tugas yang diberikan, lepas pekerjaan itu benar atau salah adalah berarti orang menerima ide tersebut.

c. Menghargai (Valuing)

Mengajak orang lain untuk mengerjakan atau mendiskusikan dengan orang lain terhadap suatu masalah adalah suatu indikasi sikap tingkat tiga.

d. Bertanggung jawab (Responsible)

Bertanggung jawab atas segala sesuatu yang telah dipilihnya dengan segala risiko adalah merupakan sikap yang paling tinggi.

Pengukuran sikap dilakukan secara langsung dan tidak langsung. Secara tidak langsung dapat ditanyakan bagaimana pendapat atau pernyataan responden terhadap

(52)

suatu objek, secara langsung dapat dilakukan dengan pernyataan- pernyataan hipotesis, kemudian ditanyakan pendapat responden (Notoadmodjo, 2003).

2.3.4. Praktek atau Tindakan (Practice)

Suatu sikap belum otomatis terwujud dalam suatu tindakan (overt behavior.) Untuk terwujudnya sikap menjadi suatu perbuatan nyata diperlukan faktor pendukung atau kondisi yang memungkinkan, antara lain: fasilitas. Disamping fasilitas juga diperlukan faktor dukungan dari pihak lain (Nototmodjo, 2003).

Menurut Notoadmodjo (2003) tingkat- tingkat praktek sebagai berikut:

a. Persepsi (Perception)

Mengenal dan memilih berbagai objek sehubungan dengan tindakan yang akan diambil adalah merupakan praktek tingkat pertama.

b. Respon Terpimpin (Guided Respons)

Dapat melakukan sesuatu sesuai dengan urutan yang benar sesuai dengan contoh adalah merupakan indikator praktek tingkat kedua.

c. Mekanisme (Mechanism)

Apabila seseorang telah dapat melakukan sesuatu dengan benar secara otomatis, atau sesuatu itu sudah merupakan kebiasaan maka ia sudah mencapai praktek tingkat tiga.

d. Adaptasi (Adaptation)

Adaptasi adalah suatu praktek atau tindakan yang sudah berkembang dengan baik. Artinya tindakan itu sudah dimodifikasinya sendiri tanpa mengurangi kebenaran tindakannya tersebut.

(53)

Pengukuran perilaku dapat dilakukan secara tidak langsung, yaitu dengan wawancara terhadap kegiatan-kegiatan yang telah dilakukan beberapa jam, hari, atau bulan yang lalu (recall). Pengukuran juga dapat dilakukan secara langsung yaitu dengan mengobservasi tindakan atau kegiatan responden.

2.4. Faktor yang Memengaruhi Perilaku

Menurut Notoatmodjo (2005), perilaku terbentuk di dalam diri seseorang dari dua faktor utama , yaitu :

a. Faktor eksternal

Faktor eksternal atau stimulus adalah faktor lingkungan, baik lingkungan fisik maupun nonfisik dalam bentuk sosial, ekonomi, budaya, dan sebagainya.

a) Sosial

Setiap individu sejak lahir berada di dalam suatu kelompok, terutama kelompok keluarga. Kelompok ini akan membuka kemungkinan untuk dipengaruhi dan mempengaruhi anggota-anggota kelompok lain. Setiap kelompok memiliki aturan dan norma sosial tertentu, sehingga perilaku setiap individu anggota kelompok berlangsung dalam suatu jaringan normatif.

b) Ekonomi

Keadaan ekonomi juga berpengaruh terhadap suatu penyakit. Misalnya, angka kematian lebih tinggi di kalangan masyarakat yang status ekonominya rendah dibandingkan dengan masyarakat dengan status ekonomi tinggi. Hal ini disebabkan karena masyarakat dengan ekonomi rendah tidak memiliki biaya

(54)

untuk berobat sehingga tidak ada suatu penanganan yang baik dalam menghadapi suatu penyakit.

c) Budaya

Setiap daerah pasti memiliki budaya yang berbeda-beda. Misalnya dalam suatu komunitas yang masyarakatnya menganut agama islam, tidak akan mau memakan daging babi karena bagi mereka daging babi adalah haram, dan tidak baik bagi kesehatan. Maka dari itu mereka tidak akan mau memakan daging babi tersebut demi menjaga kesehatan mereka.

b. Faktor internal

Faktor internal yang menentukan seseorang itu merespon stimulus dari luar yaitu:

a. Perhatian

Ada dua batasan tentang perhatian, yaitu energi psikis yang tertuju pada suatu obyek dan banyak sedikitnya kesadaran yang menyertai suatu aktivitas yang sedang dilakukan.

b. Pengamatan

Pengamatan adalah pengenalan obyek dengan cara melihat, mendengar, meraba, membau, dan mengecap. Sedangkan mendengar, meraba, membau, dan mengecap itu sendiri disebut sebagai modalitas pengamatan.

c. Persepsi

Setelah melakukan pengamatan maka akan terjadi gambaran yang tinggal dalam ingatan. Gambaran yang tinggal dalam ingatan inilah yang disebut persepsi.

Gambar

Gambar 2.1. Skema Penyelenggaraan SKD-KLB Penyakit Menular dan  Penyehatan Lingkungan
Gambar 2.2. Teori perilaku model Green Faktor Predisposisi - Pengetahuan - Sikap - Keyakinan - Nilai-nilai kehidupan - Kepercayaan  Perilaku Masyarakat Faktor Reinforcing - Upaya Petugas  - Dukungan Kelurga - Teman sebaya - Dukungan Guru - Tokoh Masyarakat
Gambar 2.3. Kerangka Konsep Penelitian Faktor Reinforcing (pendorong)

Referensi

Dokumen terkait

Hal tersebut dikarenakan rekan kerja adalah yang paling dekat dalam hal pekerjaan karena rekan kerja dapat memberikan bantuan berupa informasi dan lainnya yang berkaitan

Tujuan dari penulisan tugas akhir ini adalah untuk memperoleh gambaran mengenai penerapan SVLK yang berdampak pada volume ekspor CV Kayu Manis, serta untuk

Selanjutnya untuk mengisi setiap butir pernyataan dalam insrumen penelitian, responden dapat memilih salah satu jawaban dari 5 alternatif jawaban yang telah disediakan

disimpulkan bahwa Gaya Kepemimpinan berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja karyawan. Karena probabilitas signifikansi lebih kecil dengan sig. 0,05 maka model

Reliabilitas merupakan penerjemahan dari rely dan ability. Istilah reliabilitas sering diartikan sebagai keterpercayaan, keterandalan, keajegan, kestabilan maupun konsistensi.

Serta diperoleh hasil koefisien determinasi sebesar 31,36%, hal ini menunjukkan bahwa variabel X1 (minat belajar) dalam hal ini adalah upaya peningkatan minat

Menurut Tambunan (2006), faktor-faktor yang mempengaruhi kondisi iklim investasi adalah: (1) Stabilitas politik, sosial dan ekonomi; (2) Kondisi infrastruktur

Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh kondisi fundamental (rasio lancar, rasio tingkat pengembalian aset, rasio hutang terhadap ekuitas dan rasio perputaran