BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA
2.3. Perilaku
2.3.3. Sikap atau Attitude
Sikap merupakan reaksi atau respon seseorang yang masih tertutup terhadap suatu stimulus atau objek. Manifestasi sikap tidak dapat dilihat secara langsung, tetapi hanya dapat ditafsirkan terlebih dahulu dari perilaku yang tertutup. Newcomb salah seorang ahli psikologi sosial menyatakan bahwa sikap itu merupakan kesiapan atau kesediaan untuk bertindak, dan bukan merupakan pelaksana motif tertentu. Sikap belum merupakan suatu tindakan atau aktivitas, akan tetapi merupakan pencetus (predisposisi) tindakan atau perilaku. Lebih dapat dijelaskan lagi bahwa sikap merupakan reaksi terhadap objek di lingkungan tertentu sebagai suatu penghayatan terhadap objek (Notoatmodjo, 2003).
Dalam bagian lain, menurut Allport (1954) dalam Notoadmodjo (2003), menjelaskan bahwa sikap itu mempunyai 3 komponen pokok, yakni:
a) Kepercayaan (keyakinan), ide, dan konsep terhadap suatu objek.
b) Kehidupan emosional atau evaluasi emosional terhadap suatu objek.
c) Kecenderungan untuk bertindak (trend to behave).
Ketiga komponen ini secara bersama-sama membentuk sikap yang utuh (total attitude). Dalam penentuan sikap yang utuh ini, pengetahuan, berpikir, keyakinan, dan emosi memegang peranan penting. Menurut Notoatmodjo (2003) sikap juga terdiri dari berbagai tingkatan yaitu:
a. Menerima (Receiving)
Menerima, diartikan bahwa orang (subjek) mau dan memperhatikan stimulus yang diberikan (objek). Misalnya sikap orang terhadap gizi dapat dilihat dari kesediaan dan perhatian terhadap ceramah-ceramah.
b. Merespons (Responding)
Memberikan jawaban apabila ditanya, mengejakan, dan menyelesaikan tugas yang diberikan adalah suatu indikasi dari sikap. Karena dengan suatu usaha untuk menjawab pertanyaan atau mengerjakan tugas yang diberikan, lepas pekerjaan itu benar atau salah adalah berarti orang menerima ide tersebut.
c. Menghargai (Valuing)
Mengajak orang lain untuk mengerjakan atau mendiskusikan dengan orang lain terhadap suatu masalah adalah suatu indikasi sikap tingkat tiga.
d. Bertanggung jawab (Responsible)
Bertanggung jawab atas segala sesuatu yang telah dipilihnya dengan segala risiko adalah merupakan sikap yang paling tinggi.
Pengukuran sikap dilakukan secara langsung dan tidak langsung. Secara tidak langsung dapat ditanyakan bagaimana pendapat atau pernyataan responden terhadap
suatu objek, secara langsung dapat dilakukan dengan pernyataan- pernyataan hipotesis, kemudian ditanyakan pendapat responden (Notoadmodjo, 2003).
2.3.4. Praktek atau Tindakan (Practice)
Suatu sikap belum otomatis terwujud dalam suatu tindakan (overt behavior.) Untuk terwujudnya sikap menjadi suatu perbuatan nyata diperlukan faktor pendukung atau kondisi yang memungkinkan, antara lain: fasilitas. Disamping fasilitas juga diperlukan faktor dukungan dari pihak lain (Nototmodjo, 2003).
Menurut Notoadmodjo (2003) tingkat- tingkat praktek sebagai berikut:
a. Persepsi (Perception)
Mengenal dan memilih berbagai objek sehubungan dengan tindakan yang akan diambil adalah merupakan praktek tingkat pertama.
b. Respon Terpimpin (Guided Respons)
Dapat melakukan sesuatu sesuai dengan urutan yang benar sesuai dengan contoh adalah merupakan indikator praktek tingkat kedua.
c. Mekanisme (Mechanism)
Apabila seseorang telah dapat melakukan sesuatu dengan benar secara otomatis, atau sesuatu itu sudah merupakan kebiasaan maka ia sudah mencapai praktek tingkat tiga.
d. Adaptasi (Adaptation)
Adaptasi adalah suatu praktek atau tindakan yang sudah berkembang dengan baik. Artinya tindakan itu sudah dimodifikasinya sendiri tanpa mengurangi kebenaran tindakannya tersebut.
Pengukuran perilaku dapat dilakukan secara tidak langsung, yaitu dengan wawancara terhadap kegiatan-kegiatan yang telah dilakukan beberapa jam, hari, atau bulan yang lalu (recall). Pengukuran juga dapat dilakukan secara langsung yaitu dengan mengobservasi tindakan atau kegiatan responden.
2.4. Faktor yang Memengaruhi Perilaku
Menurut Notoatmodjo (2005), perilaku terbentuk di dalam diri seseorang dari dua faktor utama , yaitu :
a. Faktor eksternal
Faktor eksternal atau stimulus adalah faktor lingkungan, baik lingkungan fisik maupun nonfisik dalam bentuk sosial, ekonomi, budaya, dan sebagainya.
a) Sosial
Setiap individu sejak lahir berada di dalam suatu kelompok, terutama kelompok keluarga. Kelompok ini akan membuka kemungkinan untuk dipengaruhi dan mempengaruhi anggota-anggota kelompok lain. Setiap kelompok memiliki aturan dan norma sosial tertentu, sehingga perilaku setiap individu anggota kelompok berlangsung dalam suatu jaringan normatif.
b) Ekonomi
Keadaan ekonomi juga berpengaruh terhadap suatu penyakit. Misalnya, angka kematian lebih tinggi di kalangan masyarakat yang status ekonominya rendah dibandingkan dengan masyarakat dengan status ekonomi tinggi. Hal ini disebabkan karena masyarakat dengan ekonomi rendah tidak memiliki biaya
untuk berobat sehingga tidak ada suatu penanganan yang baik dalam menghadapi suatu penyakit.
c) Budaya
Setiap daerah pasti memiliki budaya yang berbeda-beda. Misalnya dalam suatu komunitas yang masyarakatnya menganut agama islam, tidak akan mau memakan daging babi karena bagi mereka daging babi adalah haram, dan tidak baik bagi kesehatan. Maka dari itu mereka tidak akan mau memakan daging babi tersebut demi menjaga kesehatan mereka.
b. Faktor internal
Faktor internal yang menentukan seseorang itu merespon stimulus dari luar yaitu:
a. Perhatian
Ada dua batasan tentang perhatian, yaitu energi psikis yang tertuju pada suatu obyek dan banyak sedikitnya kesadaran yang menyertai suatu aktivitas yang sedang dilakukan.
b. Pengamatan
Pengamatan adalah pengenalan obyek dengan cara melihat, mendengar, meraba, membau, dan mengecap. Sedangkan mendengar, meraba, membau, dan mengecap itu sendiri disebut sebagai modalitas pengamatan.
c. Persepsi
Setelah melakukan pengamatan maka akan terjadi gambaran yang tinggal dalam ingatan. Gambaran yang tinggal dalam ingatan inilah yang disebut persepsi.
d. Motivasi
Motivasi adalah suatu dorongan dari dalam diri seseorang yang menyebabkan orang tersebut melakukan kegiatan-kegiatan tertentu guna mencapai suatu tujuan.
Motif tidak dapat diamati. Yang dapat diamati adalah kegiatan atau mungkin alasan-alasan tindakan tersebut.
e. Fantasi
Fantasi adalah kemampuan untuk membentuk tanggapan-tanggapan yang telah ada. Tanggapan baru ini tidak harus sama dengan tanggapan yang telah ada.
Menurut Green (1991) dikutip oleh Notoatmodjo (2003), faktor perilaku ditentukan oleh tiga faktor utama, yaitu :
a). Faktor-faktor predisposisi (disposing factors)
Merupakan faktor-faktor yang mempermudah dan mempredisposisi terjadinya perilaku seseorang atau masyarakat, adalah pengetahuan dan sikap atau masyarakat tersebut terhadap apa yang dilakukan. Misalnya perilaku warga untuk mencegah penularan Chikungunya akan lebih mudah apabila warga tersebut tahu apa manfaat dari pencegahan tersebut.
Disamping itu, kepercayaan, tradisi, system nilai di masyarakat setempat juga sangat mempengaruhi terbentuknya perilaku.
b). Faktor-faktor pemungkin (enabling factors)
Merupakan faktor-faktor yang memungkinkan atau yang memfasilitasi perilaku atau tindakan. Maksud faktor pemungkin adalah sarana dan prasarana atau fasilitas untuk terjadinya perilaku kesehatan seseorang atau
masyarakat. Dari segi kesehatan masyarakat, agar masyarakat mempunyai perilaku sehat harus terakses (terjangkau) sarana dan prasarana atau fasilitas pelayanan kesehatan.
c). Faktor-faktor penguat (reinforcing factors)
Merupakan faktor-faktor yang mendorong atau memperkuat terjadinya perilaku. Kadang-kadang meskipun seseorang tahu dan mampu untuk berperilaku sehat, tetapi ia tidak melakukannya. Dalam hal ini dukungan atau dorongan dari orang lain sangat dibutuhkan untuk pencegahan suatu penyakit. Selain itu sikap dan perilaku petugas kesehatan juga menjadi panutan bagi seseorang atau masyarakat.
2.5. Tenaga Kesehatan
Tenaga Kesehatan adalah setiap orang yang mengabdikan diri dalam bidang kesehatan serta memiliki pengetahuan dan/ atau keterampilan melalui pendidikan di bidang kesehatan yang untuk jenis tertentu memerlukan kewenangan untuk melakukan upaya kesehatan (Wijono, 1999).
Tenaga kesehatan terdiri dari tenaga medis, tenaga keperawatan, tenaga kefarmasian, tenaga kesehatan masyarakat, tenaga gizi, tenaga keterapian fisik, dan tenaga keteknisian medis (Wijono, 1999).
Secara terperinci, tenaga medis adalah tenaga dokter spesialis, dokter umum dan dokter gigi. Tenaga keperawatan adalah perawat dan bidan. Tenaga kefarmasian meliputi apoteker, analis farmasi dan asisten apoteker. Tenaga Kesehatan Masyarakat
meliputi epidemiolog kesehatan, entomolog kesehatan, mikrobiologi kesehatan, penyuluh kesehatan, administrator kesehatan dan sanitarian. Tenaga Gizi meliputi nutrisionis dan dietisien. Tenaga keterapian fisik meliputi fisioterapis, okupasiterapis dan terapis wicara. Tenaga keteknisian medis meliputi radiografer, radioterapis, teknisi gigi, teknisi elektromedis, analis kesehatan, refraksionis optisien, otorik prostetik, teknisi transfusi dan perekam medis (Wijono, 1999).
Menurut Wijono seorang tenaga kesehatan harus memenuhi syarat-syarat, yakni:
a. Tenaga kesehatan wajib memiliki pengetahuan dan keterampilan di bidang kesehatan yang dinyatakan dengan ijazah dari lembaga pendidikan.
b. Tenaga kesehatan hanya dapat melakukan upaya kesehatan setelah tenaga kesehatan yang bersangkutan memiliki izin dari Menteri.
c. Dikecualikan dari pemilikan izin sebagaimana dimaksud, bagi tenaga kesehatan masyarakat. Ketentuan lebih lanjut mengenai perizinan, diatur oleh Menteri.
d. Selain izin sebagaimana yang dimaksud, tenaga medis dan tenaga kefarmasian lulusan dari lembaga pendidikan di luar negeri hanya dapat melakukan upaya kesehatan setelah yang bersangkutan melakukan adaptasi. Ketentuan lebih lanjut mengenai adaptasi, diatur oleh Menteri (Wijono, 1999).
2.6. Sarana dan Prasarana
Salah satu komponen penting dalam penyelenggaraan pembangunan adalah sarana kesehatan yang mampu menunjang berbagai upaya pelayanan kesehatan baik pada tingkat individu maupun masyarakat. Untuk masa mendatang kebutuhan sarana kesehatan akan disusun dengan memperhatikan beberapa asumsi dasar, yaitu :
a) Terjadinya pergeseran peran pemerintah dari penyelenggara pelayanan yang dominan, menjadi penyusunan kebijakan dan regulasi dengan tetap memperhatikan kebutuhan pelayanan bagi penduduk miskin.
b) Makin meningkatnya potensi sektor swasta dalam penyediaan pelayanan kesehatan, khususnya yang bersifat kuratif dan rehabilitatif
c) Teratasinya krisis ekonomi dan politik dalam waktu yang tidak terlalu lama (Rencana Pembangunan Kesehatan Menuju Indonesia Sehat 2010, 1999) Pembangunan sarana dan prasarana kesehatan ke depan akan diselenggarakan secara bersama-sama oleh pemerintah dan swasta dengan memperhatikan faktor efisiensi dan ketercapaian bagi seluruh penduduk. Selain itu langkah peningkatan kuantitas pembangunan sarana dan prasarana kesehatan harus diikuti dengan peningkatan kemampuan manajerial yang professional dan didukung oleh peningkatan kemampuan teknis tenaga pemberi pelayanan untuk menjamin keberhasilan dan kelestrian upaya pelayanan kesehatan secara menyeluruh.
2.7. Landasan Teori
Berangkat dari analisis penyebab masalah kesehatan, Green membedakan adanya dua determinan masalah kesehatan tersebut, yakni behavioral factors (faktor perilaku), dan non behavioral factors atau faktor non perilaku, selanjutnya perilaku ditentukan atau terbentuk oleh 3 faktor yaitu Predisposing, Reinforcing and Enabling.
Teori model Lawrence Green ini dapat tercantum pada gambar berikut.
Gambar 2.2. Teori perilaku model Green Faktor Predisposisi
- Pengetahuan - Sikap
- Keyakinan
- Nilai-nilai kehidupan - Kepercayaan
Perilaku Masyarakat
Faktor Reinforcing - Upaya Petugas - Dukungan Kelurga - Teman sebaya - Dukungan Guru - Tokoh Masyarakat - Pelayanan Kesehatan - Pengambil Kebijakan Faktor Enabling - Sarana dan Prasarana - Perundang-undangan - Prioritas Kesehatan - Keterampilan Petugas
Berdasarkan gambar diatas dapat dilihat bahwa kesehatan dipengaruhi oleh perilaku. Untuk membangun perilaku dipengaruhi oleh tiga faktor utama yakni faktor predisposing, enabling dan reinforcing. Faktor predisposing meliputi pengetahuan,
sikap, keyakinan, nilai-nilai kehidupan, dan keyakinan. Faktor enabling meliputi ketersediaan sarana, kemudahan sarana, perundang-undangan. prioritas kesehatan, dan keterampilan petugas. Sedangkan untuk faktor reinforcing meliputi dukungan petugas, dukungan keluarga, teman sebaya, guru, tokoh masyarakat, pelayanan kesehatan dan pengambil kebijakan.
Jika mengacu pada teori Lawrence Green diatas dalam proses pencegahan penyakit chikungunya oleh petugas kesehatan, maka dalam proses penangulangannya tidak terlepas dari pembentukan perilaku petugas kesehatan itu sendiri. Dalam pencegahan penyakit chikungunya di masyarakat dipengaruhi oleh faktor predisposing, enabling dan reinforcing, yang meliputi pengetahuan, sikap, ketersediaan sarana dan dukungan petugas.
2.8. Kerangka Konsep Penetian
Kerangka konsep penelitian ini dapat digambarkan seperti gambar dibawah ini:
Variabel independen Variabel dependen
Gambar 2.3. Kerangka Konsep Penelitian Faktor Reinforcing (pendorong)
− Dukungan petugas kesehatan
Faktor Predisposing (predisposisi)
− Pengetahuan
− Sikap
Faktor Enabling (pendukung)
− Sarana & prasarana
Pemberantasan Sarang Nyamuk Chikungunya oleh
kepala keluarga
BAB 3
METODE PENELITIAN
3.1. Jenis Penelitian
Rancangan penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional menggunakan metode cross sectional yakni variabel independen dan variabel dependen dilakukan pengamatan secara bersamaan. Observasi atau pengukuran variabel dilakukan hanya satu kali dan dalam waktu yang bersamaan.
3.2. Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian dilakukan di Kabupaten Aceh Timur Nangroe Aceh Darussalam, dengan pertimbangan di Provinsi Nangroe Aceh Darusalam (NAD) kasus chikungunya terjadi pada tahun 2000, dan menyebar ke daerah Kabupaten Aceh Timur pada tahun 2009 dengan kejadian luar biasa yakni terdapat 4403 kasus selama 8 bulan (April – November 2009). Kasus chikungunya menyebar di seluruh kecamatan yang ada di Kabupaten Aceh Timur, dengan kasus terbanyak terdapat di Puskesmas Nurus Salam yakni sebanyak 1493 kasus, dan paling sedikit terdapat di Puskesmas Sungai Raya sebanyak 32 kasus. Waktu penelitian di laksanakan selama 13 (dua belas) bulan terhitung bulan Oktober 2010 sampai dengan Oktober tahun 2011.
3.3. Populasi dan Sampel
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh kepala keluarga di wilayah kerja Puskesmas Nurul Salam Kabupaten Aceh Timur yang berjumlah 3981 kepala keluarga (KK). Pengambilan sampel ditentukan dengan menggunakan sistem clusters sampling, yakni pengambilan sampel dimana pemilihan mengacu pada kelompok
bukan pada individu dengan alasan tidak adanya daftar/list lengkap dari anggota populasi. Sampel diambil dari 31 Desa, dimana setiap desa dinggap sebagai cluster.
Diambil sebanyak 7 KK dari setiap cluster sehingga diperoleh 217 KK. Pengambilan sampel dimulai dari titik pusat kluster yakni kantor kepala desa, kemudian 7 KK dipilih sesuai dengan arah mata angin yang di random untuk mengambil KK dari setiap cluster. Untuk banyaknya sampel yang diambil dari setiap desa maka dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 3.1. Daftar cluster Desa di Wilayah Kerja Puskesmas Nurul Salam Kabupaten Aceh Timur tahun 2010
No Nama Desa Jumlah KK Sampel/desa
Tabel 3.1. Lanjutan
3.4. Metode Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data dilakukan dengan dua cara berdasarkan jenis data yang dikumpulkan dalam penelitian ini yaitu:
3.4.1 Data Primer
Data primer yaitu data yang diperoleh langsung dari responden melalui kuesioner yang telah disusun secara sistematis yang diberikan kepada responden.
3.4.2 Data Sekunder
Data sekunder diperoleh dari Dinas Kesehatan Kabupaten Aceh Timur berupa data laporan kejadian chikungunya dan jumlah petugas pencegahan chikungunya serta penyebaran penyakit chikungunya di Kabupaten Aceh Timur.
3.4.3 Uji Validitas dan Reliabilitas
Uji validitas bertujuan untuk mengetahui sejauhmana suatu ukuran atau nilai yang menunjukkan tingkat kehandalan atau kesahihan suatu alat ukur dengan cara mengukur korelasi antara variabel dengan skor total variabel dengan nilai item correct correlation pada analisis reliability statistic. Jika skor r hitung > r tabel, maka
dinyatakan valid dan jika skor r hitung < r tabel, maka dinyatakan tidak valid (Tjiptono,dkk, 2004).
Selain itu sekaligus dilakukan uji reliabilitas alat ukur. Reliabilitas merupakan indeks sejauhmana suatu alat ukur dapat menunjukkan ketepatan dan dapat dipercaya menggunakan metode cronbach’s alpha, yaitu menganalisis reliabilitas alat ukur dari satu kali pengukuran, dengan ketentuan (Helmi, 2009). Koefisien yang akan dihasilkan akan bervariasi antara 0 hingga 1, jika nilai alpha menunjukkan lebih besar dari 0,6 maka dapat dikatakan bahwa alat ukur dalam hal ini kuesiner dinyatakan reliabel, dan jika kurang dari 0,6 maka alat ukur dinyatakan tidak reliabel. Uji validitas dan reliabilitas dilakukan pada 30 KK (Kepala Keluarga) yang terdapat di wilayah kerja Puskesmas Rantau Seulamat Kabupaten Aceh Timur.
Setelah dilakukan uji Validitas dan Reliabilitas maka diperoleh bahwa nilai yang diperoleh dari setiap item soal lebih besar dari 0,361 maka dapat disimpulkan bahwa keseluruhan soal dikatakan valid. Dan nilai reliabel yang diperoleh adalah 0,8291, maka kuesioner dapat dikatakan reliabel.
3.5. Variabel dan Definisi Operasional
Variabel dan definisi operasional dapat dilihat dalam tabel dibawah ini : Tabel 3.2. Aspek Pengukuran Variabel Dependen dan Independen
Variabel Jumlah
3.5.1 Variabel Dependen
Pemberantasan Sarang Nyamuk Chikungunya adalah upaya yang dilakukan oleh kepala keluarga dalam membasmi nyamuk Aedes mulai dari telur, jentik, kepompong hingga nyamuk dewasa pada tempat perkembangiakannya.
3.5.2. Variabel Independen
Variabel independen dalam penelitian ini mencakup faktor pemudah, faktor pendukung dan faktor pendorong.
a. Pengetahuan adalah pengertian kepala keluarga tentang penyakit chikungunya, gejala, cara penularan, tempat perindukan & peristirahatan nyamuk, pencegahan dan penanganan penderita chikungunya.
b. Sikap adalah respon kepala keluarga terhadap pernyataan yang diajukan tentang pemberantasan chikungunya yang meliputi penyuluhan, kebersihan rumah &
lingkungan, penanganan anggota keluarga yang sakit chikungunya. Sikap dilihat dari sangat setuju, setuju, kurang setuju, tidak setuju atau sangat tidak setuju terhadap pernyataan.
c. Dukungan Sarana adalah pendapat responden tentang keadaan sarana pelayanan kesehatan, mencakup jarak, alat transportasi, keterjangkauan, informasi yang ada tentang chikungunya.
d. Dukungan petugas kesehatan adalah pendapat kepala keluarga tentang upaya yang telah dilakukan oleh petugas kesehatan untuk pemberantasan chikungunya yaitu penyuluhan, himbauan gotong royong, pembersihan rumah dan lingkungan.
3.6. Metode Pengukuran
3.6.1. Pengukuran Variabel Dependen
Untuk mengetahui tingkat pemberantasan sarang nyamuk chikungunya diukur melalui 12 pertanyaan, dengan menggunakan metode skor dengan pilihan jawaban :
5 : Sering Sekali 4 : Sering
3 : Kadang-kadang 2 : Jarang
1 : Tidak pernah
Masing-masing pertanyaan mempunyai nilai tertinggi 5 dan terendah 1, sehingga total skor tertinggi untuk kuesioner motivasi berprestasi adalah 60 dan skor terendah adalah 12. Berdasarkan jumlah skor yang diperoleh, maka dapat dikategorikan sebagai berikut :
1. Baik apabila bobot nilai yang dicapai > median (37-60) 2. Buruk apabila bobot nilai yang dicapai < median (12-36) 3.6.2. Pengukuran Variabel Independen
3.6.2.1. Tingkat pengetahuan
Untuk mengukur tingkat pengetahuan digunakan skala ordinal dengan dua kategori yaitu baik dan kurang. Untuk mengukur variabel pengetahuan didasarkan pada 7 pertanyaan, dimana dari ke-7 pertanyaan secara terdiri dari 20 pilihan jawaban. Untuk setiap pilihan jawaban diberikan skor 1 jika menjawab “ya” dan skor 0 jika menjawab “tidak”. Maka skor tertinggi adalah 1 x 20 Pilihan jawaban = 20, kemudian diakumulasi dan dikategorikan berdasarkan nilai median, sehingga menjadi :
1. Baik apabila bobot nilai yang dicapai > median (11-20) 2. Buruk apabila bobot nilai yang dicapai < median (0-10)
3.6.2.2. Sikap
Pengukuran sikap dilakukan dengan mengajukan 10 pernyataan dan masing-masing pernyataan diberikan 5 pilihan jawaban sikap, dengan total skor sebesar 50.
Kriteria pilihan jawaban sikap adalah sebagai berikut :
Setiap pernyataan diberikan skor untuk masing-masing pilihan jawaban sikap yaitu :
a. Sangat Setuju diberikan skor 5 (lima) b. Setuju diberikan skor 4 (empat) c. Kurang setuju diberikan skor 3 (tiga) d. Tidak Setuju diberikan skor 2 (dua).
e. Sangat Tidak Setuju diberikan skor 1 (satu).
Berdasarkan total skor jawaban sikap dari 10 pernyataan yang diajukan, maka sikap responden digolongkan dalam 2 kategori yaitu :
1. Positif, apabila bobot nilai yang dicapai > median (31-50) 2. Negatif, apabila bobot nilai yang dicapai < median (10-30) 3.6.2.3. Dukungan Sarana Pelayanan Kesehatan
Dukungan sarana pelayanan kesehatan diukur dengan menggunakan pertanyaan yang telah diberi bobot. Jumlah pertanyaan yang diajukan sebanyak 5 dan masing-masing pertanyaan diberikan 2 pilihan jawaban dengan total skor adalah 5.
Kriteria pilihan jawaban adalah sebagai berikut : 1. Jawaban a diberikan skor 1 (satu) 2. Jawaban b diberikan skor 0 (nol)
Berdasarkan total skor dari 5 pertanyaan yang diajukan, dukungan sarana pelayanan kesehatan diklasifikasikan dalam 2 kategori yaitu :
1. Baik, apabila bobot nilai yang dicapai > median (4-5) 2. Buruk, apabila bobot nilai yang dicapai < median (1-3) 3.6.2.4. Upaya Petugas Kesehatan
Variabel upaya petugas kesehatan diukur berdasarkan 6 pertanyaan, dengan total skor adalah 6. Masing-masing pertanyaan mempunyai 2 pilihan jawaban dengan kriteria sebagai berikut :
1. Jawaban a diberikan skor 1 (satu) 2. Jawaban b diberikan skor 0 (nol)
Berdasarkan total skor dari 6 pertanyaan yang diajukan, upaya petugas kesehatan diklasifikasikan dalam 2 kategori yaitu :
1. Baik apabila bobot nilai yang dicapai > median (4-6) 2. Buruk apabila bobot nilai yang dicapai < median (1-3)
3.7. Metode Analisis Data
Data yang sudah dikumpulkan kemudian diolah dengan menggunakan bantuan perangkat lunak komputer. Analisa univariat digunakan untuk mendiskripsikan faktor pemudah, faktor pendukung dan faktor penguat dan tindakan kepala keluarga berkaitan dengan pemberantasan sarang nyamuk chikungunya.
Analisa bivariat digunakan untuk mengetahui hubungan antara masing-masing variabel independen dengan variabel dependen digunakan Chi–Square Test
(Sutanto,2001). Analisa multivariat untuk mengetahui faktor yang paling dominan mempengaruhi tindakan masyarakat dalam memberantas sarang nyamuk Chikungunya digunakan uji regresi logistik.
BAB 4
HASIL PENELITIAN
4.1. Gambaran Umum Lokasi Penelitian
Puskesmas Nurussalam merupakan salah satu Puskesmas yang ada di Kabupaten Aceh Timur, dengan luas wilayah 11.876 ha (118.760.000 meter). Jumlah penduduk yang ada di wilayah kerja Puskesmas Nurussalam adalah 16.962 Jiwa yang terdiri dari laki-laki berjumlah 8.470 Jiwa dan perempuan berjumlah 8.492 Jiwa.
Batas-batas wilayah kerja puskesmas Nurussalam adalah : - Sebelah Timur Berbatasan dengan Kec. Darul Aman - Sebelah Barat Berbatasan dengan Kec. Julok
- Sebelah Selatan Berbatasan dengan Kede Gerubak - Sebelah Utara Berbatasan dengan Selat Malaka
Sarana kesehatan yang ada di wilayah kerja puskesmas Nurussalam adalah 4 (empat) puskesmas pembantu yakni Pustu Gampong Lhee, Pustu Salek, Pustu Ulee Ateung, dan Pustu Seuneubok Rambong. Polindes yang tersedia sebanyak 1 (satu) sarana yakni Polindes Matang Neuheun. Poskesdes yang ada adalah sebanyak 5 (lima) unit yakni Poskesdes Seuneubok Rambong, Poskesdes Bantayan, Poskesdes Buket Panyang, Poskesdes Paya Enjee, dan Poskesdes Asan Tanjong.
4.1. Hasil Uji Univariat
4.1.1. Karakteristik Responden
Dalam penelitian ini diteliti karakteristik responden berupa umur, pekerjaan, jumlah anggota keluarga, pendidikan, dan penghasilan. Umur responden kepala keluaga (KK) dibagi kedalam lima kategori, paling banyak berumur 41-50 tahun sebanyak 28,6% (62 KK), dan paling sedikit pada kelompok umur > 61 tahun sebanyak 6,5% (14 KK).
Pekerjaan kepala keluarga pada responden diketahui ada tiga kelompok pekerjaan yakni petani, pegawai negeri sipil (PNS) dan wiraswasta. Pekerjaan terbanyak diketahui pada kelompok pekerja petani yakni sebanyak 47,0% (102 KK).
Anak yang dimiliki oleh kepala keluarga adalah mulai dari 1-4 orang dan paling banyak kepala keluarga memiliki 2 orang anak sebanyak 47,5% (103 KK).
Pendidikan kepala keluarga paling besar adalah kepala keluarga yang berpendidikan SD yakni sebanyak 38,2% (83 KK), dan paling sedikit pada pendidikan diploma atau sarjana sebanyak 11,5% (25 KK). Penghasilan kepala keluaga sebagian besar memiliki penghasilan > 1.250.000 sebanyak 67,3% (146 KK).
Untuk data yang lebih rinci tentang karakteristik responden dapat dilihat pada Tabel
Untuk data yang lebih rinci tentang karakteristik responden dapat dilihat pada Tabel