BAB 3. METODE PENELITIAN
3.7. Metode Analisis Data
Data yang sudah dikumpulkan kemudian diolah dengan menggunakan bantuan perangkat lunak komputer. Analisa univariat digunakan untuk mendiskripsikan faktor pemudah, faktor pendukung dan faktor penguat dan tindakan kepala keluarga berkaitan dengan pemberantasan sarang nyamuk chikungunya.
Analisa bivariat digunakan untuk mengetahui hubungan antara masing-masing variabel independen dengan variabel dependen digunakan Chi–Square Test
(Sutanto,2001). Analisa multivariat untuk mengetahui faktor yang paling dominan mempengaruhi tindakan masyarakat dalam memberantas sarang nyamuk Chikungunya digunakan uji regresi logistik.
BAB 4
HASIL PENELITIAN
4.1. Gambaran Umum Lokasi Penelitian
Puskesmas Nurussalam merupakan salah satu Puskesmas yang ada di Kabupaten Aceh Timur, dengan luas wilayah 11.876 ha (118.760.000 meter). Jumlah penduduk yang ada di wilayah kerja Puskesmas Nurussalam adalah 16.962 Jiwa yang terdiri dari laki-laki berjumlah 8.470 Jiwa dan perempuan berjumlah 8.492 Jiwa.
Batas-batas wilayah kerja puskesmas Nurussalam adalah : - Sebelah Timur Berbatasan dengan Kec. Darul Aman - Sebelah Barat Berbatasan dengan Kec. Julok
- Sebelah Selatan Berbatasan dengan Kede Gerubak - Sebelah Utara Berbatasan dengan Selat Malaka
Sarana kesehatan yang ada di wilayah kerja puskesmas Nurussalam adalah 4 (empat) puskesmas pembantu yakni Pustu Gampong Lhee, Pustu Salek, Pustu Ulee Ateung, dan Pustu Seuneubok Rambong. Polindes yang tersedia sebanyak 1 (satu) sarana yakni Polindes Matang Neuheun. Poskesdes yang ada adalah sebanyak 5 (lima) unit yakni Poskesdes Seuneubok Rambong, Poskesdes Bantayan, Poskesdes Buket Panyang, Poskesdes Paya Enjee, dan Poskesdes Asan Tanjong.
4.1. Hasil Uji Univariat
4.1.1. Karakteristik Responden
Dalam penelitian ini diteliti karakteristik responden berupa umur, pekerjaan, jumlah anggota keluarga, pendidikan, dan penghasilan. Umur responden kepala keluaga (KK) dibagi kedalam lima kategori, paling banyak berumur 41-50 tahun sebanyak 28,6% (62 KK), dan paling sedikit pada kelompok umur > 61 tahun sebanyak 6,5% (14 KK).
Pekerjaan kepala keluarga pada responden diketahui ada tiga kelompok pekerjaan yakni petani, pegawai negeri sipil (PNS) dan wiraswasta. Pekerjaan terbanyak diketahui pada kelompok pekerja petani yakni sebanyak 47,0% (102 KK).
Anak yang dimiliki oleh kepala keluarga adalah mulai dari 1-4 orang dan paling banyak kepala keluarga memiliki 2 orang anak sebanyak 47,5% (103 KK).
Pendidikan kepala keluarga paling besar adalah kepala keluarga yang berpendidikan SD yakni sebanyak 38,2% (83 KK), dan paling sedikit pada pendidikan diploma atau sarjana sebanyak 11,5% (25 KK). Penghasilan kepala keluaga sebagian besar memiliki penghasilan > 1.250.000 sebanyak 67,3% (146 KK).
Untuk data yang lebih rinci tentang karakteristik responden dapat dilihat pada Tabel 4.1 berikut :
Tabel 4.1. Distribusi Karakteristik Kepala Keluarga di Wilayah Kerja Puskesmas Nurussalam Kabupaten Aceh Timur Tahun 2011
No Karakteristik Responden Jumlah (orang) Persentase (%) 1 Umur
Untuk menganilisis pengetahuan kepala keluarga maka digunakan tujuh indikator, yang terdiri dari 20 pertanyaan. Pada pertanyaan penyebab penyakit Chikungunya akibat oleh virus responden yang menjawab “tahu” sebanyak 162 orang
(74,4%) dan yang menjawab “tidak tahu” sebanyak 55 orang (25,3%). Gejala Demam Chikungunya, pada jawaban adanya demam dan nyeri sendi lebih dari 70%
responden menjawab “tahu”, dan pada jawaban bintik-bintik merah pada kulit hanya 59 % responden manjawab “tahu”
Penyakit chikungunya disebabkan oleh gigitan Nyamuk adalah sebanyak 131 orang (60,4%) menjawab “tahu” dan sebanyak 86 orang (39,6%) menjawab “tidak tahu”. Kepala keluarga yang menyatakan bahwa nyamuk Penyebab Penyakit Chikungunya adalah A. Aegipty adalah sebanyak 118 orang (54,4%), dan dikarenakan oleh nyamuk A. Albokviktus adalah sebanyak 112 orang (51,6%).
Ciri-ciri Nyamuk Penyebab Penyakit Chikungunya adalah warna hitam berbintik-bintik putih sebagian besar responden menjawab “tahu” sebanyak 102 orang (47,0%) dan menjawab “tidak tahu” sebanyak 115 orang (53,0%). Telur nyamuk A. Aegipty menetas setelah dua hari terendam air sebagian besar responden menjawab “tidak tahu” sebanyak 126 orang (58,1%) dan yang menjawab “ tahu” 91 orang (41,9%).
Pada pertanyaan tentang Pengendalian Sarang Nyamuk, dari beberapa alternatif jawaban, sebagian besar responden yang menyatakan tahu adalah pada mengubur barang-barang bekas (73,3%), menutup bak penampungan air (72,4%), menelungkupkan barang yang menampung air (77,4%), pengasapan/fogging (59,95) dan menggunakan ikan pemakan jentik (58,5%). Untuk lebih jelas dapat dilihat pada tabel 4.2. berikut:
Tabel 4.2. Distribusi Indikator Pengetahuan Kepala Keluarga tentang Pemberantasan Sarang Nyamuk di wilayah kerja Puskesmas Nurussalam Kabupaten Aceh Timur Tahun 2011
NO Indikator Pengetahuan Tahu Tidak
tahu
n % n %
1 Penyakit Chikungunya disebabkan oleh virus 162 74,7 55 25,3 2 Gejala Demam Chikungunya
a. Demam b. Nyeri Sendi
c. Bintik-bintik merah pada kulit
162 3 Penyakit chikungunya disebabkan oleh gigitan Nyamuk 131 60,4 86 39,6 4 Nyamuk Penyebab Penyakit Chikungunya
a. A. Aegipty 5 Ciri-ciri Nyamuk Penyebab Penyakit Chikungunya adalah warna
hitam berbintik-bintik putih 102 47,0 115 53,0
6 Telur nyamuk A. Aegipty menetas setelah dua hari terendam air 91 41,9 126 58,1 7 Pengendalian Sarang Nyamuk
a. Menguras penampungan air b. Mengubur barang-barang bekas c. Menutup bak penampungan air
d. Menelungkupkan barang yang menampung air e. pengasapan/ fogging
f. ikan pemakan jentik
g. Mengurangi tempat gantungan pakaian h. obat anti nyamuk oles disiang hari i. kawat kasa
j. Membersihkan pekarangan rumah
k. Membuat pencahayaan yang cukup di dalam rumah
90
Jawaban responden yang berkaitan dengan pengetahuan pada Tabel 4.2.
kemudian dikategorikan yang hasilnya terdapat pada Tabel 4.3. Dari 217 KK 56,2%
KK termasuk kategori pengetahuan baik dan 43,8% termasuk dalam kategori pengetahuan tidak baik.
Tabel 4.3. Distribusi Berdasarkan Kategori Pengetahuan Kepala Keluarga tentang Pemberantasan Sarang Nyamuk di wilayah kerja Puskesmas Nurussalam Kabupaten Aceh Timur Tahun 2011
No Kategori Pengetahuan Jumlah Persentase (%) 1.
Untuk menganilisis sikap kepala keluarga maka digunakan sepuluh pernyataan dengan jawaban sangat setuju, setuju, kurang setuju, tidak setuju dan sangat tidak setuju. Membersihkan penampungan air satu kali seminggu sebanyak 15,7% menyatakan sangat setuju, dan 24% setuju, dan hanya 7,8% menyatakan sangat tidak setuju.
Menutup tempat penampungan air sebagian besar kepala keluarga memiliki sikap yang kurang setuju yakni sebanyak 33,2%, 25,3% menyatakan setuju dan 6,0%
memiliki sikap sangat tidak setuju. Mengubur barang-barang bekas sebagian besar menyatakan setuju sebanyak 37,3% dan kurang setuju sebanyak 32,7%, dan ada yang menyatakan sangat tidak setuju sebanyak 9,7%. Untuk menelungkupkan peralatan yang masih dipakai mayoritas kepala keluarga memiliki sikap setuju yakni sebanyak 25,8% dan yang paling rendah kepala keluarga memiliki sikap sangat tidak setuju yakni sebanyak 4,1%.
Kepala keluarga mayoritas memiliki sikap kurang setuju dan tidak setuju pada penggunaan obat oles untuk menghindari gigitan nyamuk yakni sebanyak 27,2%,
yang memiliki sikap setuju sebanyak 23%. Sedangkan pada penggunaan obat oles ketika keluar rumah pada siang dan sore hari mayoritas kepala keluarga memiliki sikap kurang setuju dan setuju yakni masing-masing sebesar 28,6% dan 27,2%.
Menjaga kebersihan rumah dan lingkungan sekitar dapat mengurangi sarang dan tempat perkembangan nyamuk, sebesar 30,4% kepala keluarga bersikap kurang setuju dan 26,7% memiliki sikap setuju dan ada 6,5% menyatakan sangat tidak setuju.
Untuk mengurangi tempat penggantungan baju sebagian besar kepala keluarga menyatakan tidak setuju yakni sebesar 28,6%, bersikap kurang setuju sebanyak 28,1%
. Menebarkan bubuk abate ditempat penampungan air sebagian besar kepala keluarga memiliki sikap yang setuju yakni sebanyak 29,5%, dan sikap sangat tidak setuju sebanyak 6,9%. Perlunya penyuluhan Chikungunya sebagian besar kepala keluarga bersikap kurang setuju kemudian tidak setuju, bahkan sebanyak 5,5%
menyatakan sangat tidak setuju. Lebih jelasnya besaran dari setiap distribusi jawaban kepala keluarga dapat dilihat pada tabel 4.4 berikut :
Tabel 4.4. Distribusi Berdasarkan Sikap Kepala Keluarga tentang Pemberantasan Sarang Nyamuk di Wilayah Kerja Puskesmas Nurussalam Kabupaten Aceh Timur Tahun 2011
No SIKAP SS S KS TS STS
n % n % N % N % n % 1 Membersihkan tempat penampungan air minimal
satu kali seminggu
34 15,7 52 24,0 53 24,4 61 28,1 17 7,8 2 Menutup tempat penampungan air 27 12,5 55 25,3 72 33,2 50 23,0 13 6,0 3 Mengubur barang-barang bekas 19 8,8 81 37,3 71 32,7 25 11,5 21 9,7 4 Menelungkupkan peralatan yang masih digunakan
dan bisa menampung air
47 21,7 56 25,8 55 25,3 50 23,0 9 4,1 5 Menggunakan obat oles anti nyamuk menghindari
gigitan nyamuk chikungunya.
36 16,6 50 23,0 59 27,2 59 27,2 13 6,0 6 Anggota keluarga yang bekerja atau keluar rumah
pagi dan sore hari perlu menggunakan obat nyamuk oles.
31 14,8 59 27,2 62 28,6 50 23,0 14 6,5
7 Memelihara kebersihan rumah dan lingkungan dapat mengurangi sarang dan tempat perkembangbiakan nyamuk.
35 16,1 58 26,7 66 30,4 44 20,3 14 6,5
8 Mengurangi tempat penggantungan pakaian dalam rumah
24 11,1 59 27,2 61 28,1 62 28,6 11 5,1 9 Menebarkan bubuk abate di tempat penampungan
air bersih merupakan salah satu upaya pencegahan penyakit chikungunya.
45 20,7 64 29,5 44 20,3 49 22,6 15 6,9
10 Penyuluhan chikungunya di desa perlu untuk meningkatkan kesadaran, pemahaman dan partisipasi masyarakat dalam pemberantasan chikungunya.
23 10,6 49 22,6 69 31,8 64 29,5 12 5,5
Jawaban responden yang berkaitan dengan sikap pada Tabel 4.4. kemudian dikategorikan yang hasilnya terdapat pada Tabel 4.5. dari 217 KK 64,1% memiliki kategori sikap positif dan 35,9% KK termasuk dalam kategori sikap negatif.
Tabel 4.5. Distribusi Kategori Sikap Kepala Keluarga tentang Pemberantasan Sarang Nyamuk di Wilayah Kerja Puskesmas Nurussalam Kabupaten Aceh Timur Tahun 2011
No Kategori Sikap Jumlah Persentase (%)
1.
4.1.4. Dukungan Sarana Pelayanan Kesehatan
Berdasarkan Tabel 4.6 diketahui bahwa sebanyak 155 KK (71,4%) responden menyatakan bahwa terdapat puekesmas di daerahnya, 136 KK (62,7%) menyatakan puskesmas sulit dijangkau, 121 KK (55,8%) menyatakan sarana transportasi sulit untuk menuju ke puskesmas, 121 KK (55,8%) menyatakan tidak ada poster tentang chikungunya di puskesmas, dan 139 KK (64,1%) menyatakan bahwa di puskesmas tidak terdapat brosur Chikungunya. Untuk lebih jelas dapat dilihat pada Tabel 4.6 berikut :
Tabel 4.6. Distribusi Dukungan Sarana Pelayanan Kesehatan di Wilayah Kerja Puskesmas Nurussalam Kabupaten Aceh Timur Tahun 2011
No Dukungan Sarana Jumlah Persentase (%)
1. Puskesmas di daerah tempat tinggal a. Ada
2. Puskesmas dijangkau apabila bapak/ibu membutuhkan pelayanan kesehatan
3. Sarana transportasi umum ke Puskesmas a. Lancar
5. Di Puskesmas tersedia brosur tentang chikungunya dan pencegahanya
Jawaban responden yang berkaitan dengan dukungan sarana pada Tabel 4.6.
kemudian dikategorikan yang hasilnya terdapat pada Tabel 4.7. dari 217 responden menyatakan dukungan sarana baik sebanyak 37,3% dan 62,7% menyatakan dukungan sarana tidak baik.
Tabel 4.7. Distribusi Kategori Dukungan Sarana Pelayanan Kesehatan di Wilayah Kerja Puskesmas Nurussalam Kabupaten Aceh Timur Tahun 2011
No Dukungan Sarana Jumlah Persentase (%)
1.
2.
Baik Tidak Baik
81 136
37,3 62,7
Total 217 100,0
4.1.5. Dukungan Petugas
Sebesar 135 KK (62,2%) menyataan petugas tidak pernah melakukan penyuluhanChikungunya, 141 KK (65,0%) penyuluhan tidak dilakukan secara teratur, dan 116 KK (53,5%) menyatakan dalam 6 bulan terakhir tidak pernah dilakukan penyuluhan di desanya. Sebanyak 113 KK (52,1%) menyatakan pernah dilakukan penyemprotan dan dilakukan berkala, sebanyak 125 KK (57,6%) menyatakan tidak pernah mendapatan bubuk abate dari petugas, dan sebanyak 119 KK (54,8%) menyataan petugas belum menghimbau atau mengajak masyarakat untuk mencegah penyakit chikungunya. Lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 4.8 berikut :
Tabel 4.8. Distribusi Dukungan Petugas di Wilayah Kerja Puskesmas Nurussalam Kabupaten Aceh Timur Tahun 2011
No Dukungan Petugas Jumlah Persentase (%)
1. Petugas kesehatan pernah melakukan penyuluhan tentang chikungunya
2. Penyuluhan chikungunya oleh petugas kesehatan dilakukan secara teratur setiap bulan atau setiap 3 bulan
a. Ya
3. 6 bulan terakhir dilakukan penyemprotan rumah oleh petugas kesehatan
4. Penyemprotan tersebut dilakukan secara berkala setiap 6 bulan a. Ya
5. Petugas kesehatan membagikan bubuk abate kepada warga masyarakat
6. Petugas kesehatan yang ada di desa menghimbau atau mengajak masyarakat (bapak/ibu) untuk melakukan pembersihan rumah dan lingkungan dari tempat perindukan dan peristirahatan nyamuk
Jawaban responden yang berkaitan dengan dukungan petugas pada Tabel 4.8.
kemudian dikategorikan yang hasilnya terdapat pada Tabel 4.9. Dari 217 responden menyatakan dukungan petugas baik sebanyak 122 KK (43,8%) dan 98 KK (56,2%) menyatakan dukungan petugas tidak baik.
Tabel 4.9. Distribusi Kategori Dukungan Petugas di Wilayah Kerja Puskesmas Nurussalam Kabupaten Aceh Timur Tahun 2011
No Dukungan Petugas Jumlah Persentase (%)
1.
4.2.5. Pemberantasan Sarang Nyamuk Penular Chikungunya
Untuk menganilisis pemberantasan sarang nyamuk (PSN) oleh kepala keluarga maka digunakan 12 pernyataan dengan jawaban sangat sering, sering, kadang-kadang, jarang dan tidak pernah. Membersihan tempat penampungan air minimal satu kali seminggu diketahui bahwa sebanyak 77 KK (35,5%) menjawab tidak pernah dan 54 KK (24,9%) sangat sering, 60 KK (27,6%) memiliki kebiasaan sering.
Sebanyak 71 KK (32,7%) tidak pernah menutup penampungan air, 64 KK (29,5%) menyataan sering, 36 KK (16,6%) menyatakan jarang. Kegiatan mengubur barang-barang bekas yang bisa menampung air, sebanyak 89 KK (41,0%) menyatakan tidak pernah, 53 KK (24,2%) menyatakan sering, 49 KK (22,6%) menyatakan sangat sering.
Tindakan Kepala keluarga menelungkupkan peralatan yang masih dipergunakan dan bisa menampung air diketahui bahwa sebagian besar kepala keluarga menyatakan tidak pernah yakni sebanyak 74 KK (34,1%), yang sering melakukan adalah sebanyak 69 KK (31,8%) dan yang menyatakan sangat sering malakukannya adalah sebanyak 26 KK (12,0%). Kebiasaan memelihara ikan sebagai
pemakan jentik maka sebagian besar kepala keluarga menyatakan tidak pernah yakni sebanyak 83 KK (38,2%), yang menyataan sering adalah sebanyak 53 KK (24,2%) dan yang paling sedikit adalah kepala keluarga yang menyatakan kadang-kadang yakni sebanyak 6 KK (2,8%).
Kepala keluarga yang menggunakan abate untuk mencegah pertumbuhan jentik adalah sebanyak 80 KK (36,9%) menyatakan tidak pernah menggunakan, 53 KK (24,4%) menyataan sangat sering dan sering. Untuk kepala keluarga yang menggunakan obat oles pada siang hari mereka menyatakan bahwa sebanyak 71 KK (32,7%) menyatakan tidak pernah, 57 KK (26,3%) menyatakan sering menggunakan, dan 51 KK (23,5%) menyatakan jarang.
Menjaga kebersihan rumah dan lingkungan sekitar, mayoritas kepala keluarga menyatakan tidak pernah melakukannya yakni sebanyak 85 KK (39,2%). Melakukan penyemprotan pada penampungan air mayoritas KK menyatakan tidak pernah yakni sebanyak 80 KK (36,9%) dan paling sedikit adalah kepala keluarga yang menyatakan kadang-kadang yakni sebanyak 8 KK (3,7%). Mengurangi tempat penggantungan pakaian mayoritas responden 70 KK (32,2%) menyatakan sering, sebanyak 53 KK (24,4%) menyataan sangat sering, dan sebanyak 56 KK (25,8%) menyatakan tidak pernah.
Memasang kawat kasa sebagai tindakan PSN yakni sebanyak 84 KK (38,7%), yang menyataan sering dan menyatakan tidak pernah sebanyak 62 KK (28,6%).
Mengupayakan pencahayaan memadai untuk PSN adalah sebanyak 39 KK (18,0%) menyatakan sangat sering, 44 KK (20,3%) menyatakan sering dan yang paling
banyak adalah kepala keluarga yang menyatakan tidak pernah yakni sebanyak 51 KK (23,5%). Lebih jelasnya distribusi dari setiap jawaban yang diberikan oleh kepala keluarga dapat dilihat pada Tabel 4.10 :
Tabel 4.10 Distribusi Pemberantasan Sarang Nyamuk Penular Chikungunya di Wilayah Kerja Puskesmas Nurussalam Kabupaten Aceh Timur Tahun 2011
No PSN Chikungunya SS S KK J TP
N % n % N % n % n % 1 Membersihkan tempat penampungan air minimal
satu kali seminggu
54 24,9 60 27,6 7 3,2 19 8,8 77 35,5 2 Menutup tempat penampungan air 30 13,8 64 29,5 16 7,4 36 16,6 71 32,7 3 Mengubur barang-barang bekas yang bisa
menampung air
49 22,6 53 24,2 2 0,9 24 11,1 89 41,0 4 Menelungkupkan peralatan yang masih
digunakan dan bisa menampung air
26 12,0 69 31,8 8 3,7 40 18,4 74 34,1 5 Memelihara ikan pemakan jentik di
kolam/bak-bak penampungan air
61 28,1 53 24,2 6 2,8 14 6,5 83 38,2 6 Menggunakan Abate untuk mencegah
pertumbuhan jentik nyamuk aides aigipty
53 24,4 53 24,4 17 7,8 14 6,5 80 36,9 7 Menggunakan obat oles anti nyamuk
menghindari gigitan nyamuk chikungunya.
24 11,1 57 26,3 14 6,5 51 23,5 71 32,7 8 Memelihara kebersihan rumah dan lingkungan
dapat mengurangi sarang dan tempat perkembangbiakan nyamuk.
75 34,6 39 18 0 0,0 18 8,3 85 39,2
9 Penyemprotan penampungan air bersih dengan insektisida dilakukan untuk mencegah gigitan nyamuk.
26 12,0 64 29,5 8 3,7 39 18,0 80 36,9
10 Mengurangi tempat penggantungan pakaian dalam rumah
53 24,4 70 32,3 23 10,6 15 6,9 56 25,8 11 Memasang kawat kasa 53 24,2 84 38,7 9 4,1 9 4,1 62 28,6 12 Mengupayakan pencahayaan dan ventilasi ruang
yang memadai.
39 18,0 44 20,3 41 18,9 42 19,4 51 23,5
Jawaban responden yang berkaitan dengan pemberantasan sarang nyamuk pada Tabel 4.10. kemudian dikategorikan yang hasilnya terdapat pada Tabel 4.11.
Dari 217 KK sebanyak 93 KK (42,9%) termsuk kategori pemberantasan sarang nyamuk baik dan 124 KK (57,1%) termsuk kategori pemberantasan sarang nyamuk buruk.
Tabel 4.11 Distribusi Kategori Pemberantasan Sarang Nyamuk Penular Chikungunya di Wilayah Kerja Puskesmas Nurussalam Kabupaten Aceh Timur Tahun 2011
No PSN Chikungunya Jumlah Persentase (%)
1.
Analisis bivariat dimaksud untuk mengetahui pengaruh masing-masing variabel independen dan dependen. Untuk mengetahui ada tidak adanya pengaruh antara variabel independen (pengetahuan, sikap, dukungan sarana, dan dukungan petugas) terhadap variabel dependen (pemberantasan sarang nyamuk), maka dilakukan uji statistik dengan chi-square . Suatu variabel independen dinyatakan mempunyai pengaruh yang bermakna jika hasil uji statistiknya memperoleh nilai p <
0,05.
Berdasarkan hasil tabulasi silang pada Tabel 4.12, dari 217 responden diperoleh bahwa sebanyak 122 responden memiliki pengetahuan baik dan sebanyak 95 responden memiliki pengetahuan buruk. Dai 122 KK dengan kategori pengetahuan baik yang melakukan pemberantasan sarang nyamuk sebanyak 60 KK (49,2%) dan yang tidak melakukan sebanyak 62 KK (50,8%). Sedangkan kategori pengetahuan tidak baik sebanyak 95 KK yang melakukan PSN baik adalah sebanyak 33 KK (34,7%) dan yang tidak melakukan PSN sebanyak 53 KK (65,3%).
Dari 217 responden diperoleh bahwa sebanyak 139 responden memiliki sikap positif dan sebanyak 78 responden memiliki sikap negatif. Dari 139 responden yang
memiliki kategori positif yang melakukan pemberantasan sarang nyamuk adalah sebanyak 68 orang (48,9%) dan tidak melakukan sebanyak 71 KK (51,1%).
Sedangkan variabel sikap yang memiliki kategori negatif sebanyak 78 KK, dimana sebanyak 53 KK (67,9%) memiliki kebiasaab PSN buruk dan 25 KK (32,1%) melakukan pemberantasan sarang nyamuk dengan baik.
Dari 217 responden menunjukkan bahwa 81 responden menyatakan dukungan sarana baik dan 136 responden menyatakan dukungan sarana buruk. Dari 81 responden dengan kategori dukungan sarana baik yang melakukan PSN dengan baik adalah sebanyak 28 KK (34,6%) dan yang melakukan PSN dengan buruk adalah sebanyak 53 KK (65,4%). Sedangkan sebanyak 136 responden dengan kategori dukungan sarana buruk yang melakukan pemberantasan sarang nyamuk sebanyak 65 KK (47,8%) dan yang melakukan PSN dengan buruk sebanyak 71 KK (52,2%).
Dari 217 responden menunjukkan bahwa sebanyak 95 responden menyatakan dukungan petugas baik dan 122 responden menyatakan dukungan petugas buruk. Dari 95 responden dengan variabel dukungan petugas pada kategori baik yang melakukan pemberantasan sarang nyamuk baik sebanyak 50 KK (52,6%) dan melakukan PSN dengan buruk sebanyak 45 KK (47,4%). Sedangkan sebanyak 122 KK dengan variabel dukungan petugas kategori buruk yang melakukan pemberantasan sarang nyamuk dengan baik sebanyak 43 KK (35,2%) dan yang PSN buruk adalah sebanyak 79 KK (64,8%).
Berdasarkan hasil uji chi-square diperoleh bahwa antara variabel pengetahuan dengan pemberantasan sarang nyamuk diperoleh nilai p = 0,046 (< α 0,05), variabel
sikap dengan pemberantasan sarang nyamuk diperoleh nilai p = 0,023 (< α 0,05), variabel dukungan sarana dengan pemberantasan sarang nyamuk diperoleh nilai p = 0,078 (> α 0,05), variabel dukungan petugas dengan pemberantasan sarang nyamuk diperoleh nilai p = 0,015 (< α 0,05). Artinya ada hubungan yang signifikan antara variabel pengetahuan, sikap dan dukungan petugas terhadap pemberantasan sarang nyamuk. Sedangkan untuk variabel dukungan sarana tidak ada hubungan yang signifikan terhadap pemberantasan sarang nyamuk. Secara rinci dapat dilihat pada Tabel 4.12 berikut :
Tabel 4.12 Hubungan Pengetahuan, Sikap, Dukungan Sarana dan Dukungan Petugas dengan Pemberantasan Sarang Nyamuk Penular Chikungunya di Wilayah Kerja Puskesmas Nurussalam Kabupaten Aceh Timur Tahun 2011
No
4.4. Uji Multivariat
Untuk mengetahui pengaruh antara semua variabel yang bermakna pada pemberantasan sarang nyamuk Chikungunya, maka dilakukan analisis multivariat.
Sesuai dengan tujuan dan hipotesa penelitian, maka dilakukan uji statistik regresi logistic. Tahap pertama adalah dengan melakukan pemilihan model untuk uji
multivariat (regresi logistic). Berdasarkan analisis bivariat diperoleh bahwa variabel pengetahuan, sikap, dukungan sarana dan dukungan petugas memenuhi syarat untuk masuk kedalam model pengujian multivariat karena mempunyai nilai p < 0,25.
Berikutnya adalah pemilihan model yang dilakukan dengan cara semua variabel dimasukkan kedalam model, kemudian variabel dengan nilai signifikannya >
0,05 dikeluarkan secara bertahap. Pada uji multivariat dilakukan dalam dua kali uji.
Pada uji yang pertama variabel dukungan sarana memiliki nilai signifikan > 0,05 maka untuk uji yang kedua variabel dukungan sarana dikeluarkan dari model. Hasil akhir analisis multivariat uji regresi logistic dapat dilihat pada Tabel 4.13 berikut : Tabel 4.13. Hasil Analisis Multivariat Regresi Logistik antara Variabel
Independen dengan Variabel Dependen
Variabel B Exp (B) p
Pada Tabel diatas merupakan hasil akhir analisis multivariat dengan uji regresi logistik dan variabel pengetahuan (p=0,033), sikap (p=0,020) dan dukungan
petugas kesehatan (p=0,010), dengan demikian telah diperoleh nilai p ketiga variabel
< 0,05, artinya variabel tersebut tidak dikeluarkan dari model dan merupakan variabel yang berpengaruh terhadap pemberantasan sarang nyamuk chikungunya.
Berdasarkan nilai B yang tertinggi adalah variabel dukungan petugas yaitu 0,741. Ini menunjukkan bahwa variabel tersebut merupakan variabel yang paling dominan memengaruhi pemberantasan sarang nyamuk chikungunya. Besar pengaruh variabel tersebut dapat dilihat dari nilai Exp (B), yaitu 2,099, artinya variabel dukungan petugas mempunyai pengaruh 2 kali terhadap pemberantasan sarang nyamuk pada responden.
BAB 5 PEMBAHASAN
5.1. Pengetahuan
Pengetahuan adalah hasil penginderaan manusia, atau hasil tahu seseorang terhadap objek melalui indera yang dimilikinya (mata, hidung, telinga, dan sebagainya). Pengetahuan seseorang terhadap objek mempunyai intensitas atau tingkatan yang berbeda-beda (Notoatmodjo, 2005).
Penelitian ini menunjukkan tingkat pengetahuan tentang chikungunya pada kategori baik, yakni sebanyak 122 kepala keluarga (56,2%) dari 217 KK. Hal ini menunjukkan bahwa pada dasarnya kepala keluarga memiliki pengetahuan tentang cara pemberantasan sarang nyamuk dengan baik, dan tahu bahwa gigitan nyamuk yang menjadi sumber penularan penyakit ini.
Pengetahuan responden tentang pemberantasan sarang nyamuk memang tidak benar-benar lengkap atau sempurna. Hal ini terlihat pada Tabel 4.2. bahwa pada pertanyaan yang berkaitan dengan lama telur nyamuk menetas, menguras tempat penampungan air, membersihkan pekarangan rumah dan pencahayaan yang cukup, kepala keluarga menjawab kurang dari 50%, ini menunjukkan bahwa kepala keluarga sebagian besar kurang paham.
Secara uji multivariat diperoleh bahwa pengetahuan memiliki nilai α < 0,05.
Ini menunjukkan tingkat pengetahuan kepala keluarga memiliki hubungan yang signifikan terhadap pelaksanaan pemberantasan sarang nyamuk. Hal ini sejalan
dengan penelitian yang dilakukan oleh Budiyanto (2005), menunjukkan adanya hubungan pengetahuan responden dengan kegiatan PSN DBD dengan p = 0,000 dan OR : 3,97. Penelitian ini juga sama dengan penelitian yang dilakukan oleh Yudhastuti, (2005), yang menunjukkan adanya hubungan yang bermakna antara pengetahuan responden dengan keberadaan jentik Aedes dengan hasil uji square menunjukka p = 0,001.
Pendapat Notoatmodjo (2003) bahwa pengetahuan terdiri dari berbagai tingkatan, yaitu tahu, memahami, aplikasi, analisis, sintesis, dan evaluasi. Mengacu pada tingkatan pengetahuan yang disebutkan di atas dapat dijelaskan bahwa tingkatan pengetahuan kepala keluarga tentang Chikungunya dapat dikelompokkan pada tingkatan mengetahui dan mampu untuk memahami, namun secara keseluruhan tingkat pengetahuan ini belum mencapai tahap aplikasi, analisis, sintesis dan evaluasi.
Kegiatan penggerakkan PSN pada dasarnya adalah upaya memotivasi keluarga sebagai anggota masyarakat untuk menjaga rumah dan lingkungannya agar selalu bebas dari jentik dan nyamuk Aedes aegypti. Kegiatan ini perlu dilakukan secara terus-menerus dengan melibatkan unsur-unsur dalam masyarakat seperti kader kesehatan, PKK, guru, petugas kesehatan, tokoh masyarakat, lintas sektor dan sebagainya.
Untuk dapat memberantas penyakit demam berdarah maka tindakan yang dilakukan adalah memutuskan rantai penularan dengan melakukan pemberantasan pada vektor. Menurut Soedarmo (2005), cara yang dapat digunakan yaitu:
1. Perlindungan perorangan untuk mencegah gigitan nyamuk Aedes aegypti yang dapat dilakukan dengan jalan meniadakan sarang nyamuk dalam rumah. Cara terbaik ialah pemasangan kasa penolak nyamuk. Cara lain yang dapat dilakukan ialah: a) menggunakan anti nyamuk semprot/spray ; b) menuangkan air panas pada saat bak mandi berisi air sedikit; c) memberikan cahaya matahari langsung lebih banyak ke dalam ruangan.
2. Pemberantas vektor jangka panjang. Cara yang dapat dilakukan secara terusmenerus adalah membuang secara baik kaleng, botol, ban, dan semua
2. Pemberantas vektor jangka panjang. Cara yang dapat dilakukan secara terusmenerus adalah membuang secara baik kaleng, botol, ban, dan semua