BAB 5 PEMBAHASAN
5.3. Dukungan Sarana
Berdasarkan hasil uji chi-square antara variabel dukungan sarana dengan pemberantasan sarang nyamuk diperoleh nilai p = 0,078 (> α 0,05), artinya tidak ada pengaruh yang signifikan antara variabel dukungan sarana terhadap pemberantasan sarang nyamuk. Dan setelah dilakukan uji multivariat dan mengikutsertakan variabel dukungan sarana diperoleh bahwa dukungan sarana tetap tidak memengaruhi kegiatan PSN.
Sebanyak 71,4% responden menyatakan bahwa terdapat puskesmas di daerahnya. Hal ini menunjukkan bahwa sarana kesehatan tersedia di wilayah ini, tetapi tidak semua masyarakat mengetahui keberadaan puskesmas tersebut karena tidak semua mereka mengaksesnya. Hasil penelitian menyatakan 62,7% puskesmas sulit dijangkau, hal ini bisa dikarenakan jarak yang jauh atau bahkan ketersediaan sarana transportasi tidak memadai sehingga tidak semua kepala keluarga mampu menjangkau fasilitas kesehatan tersenut. Sarana transportasi untuk menuju ke puskesmas sulit, hal ini sesuai dengan hasil penelitian yakni sbanyak 55,8% sulit menjangkau puskesmas karena sulitnya kendaraan.
Pernyatakan tidak ada poster tentang chikungunya di puskesmas sebanyak 55,8%, dan 64,1% menyatakan tidak ada brosur tentang cikungunya dan pencegahannya, menunjukkan kurangnya informasi tentang penyakit itu kepada masyarakat. Sarana pelayanan kesehatan yang baik semestinya dapat memberikan semua informasi tentang kesehatan kepada masyarakat tidak hanya terbatas pada lingkungan puskesmas atau sarana kesehatan lainnya. Tetapi juga dapat ditempatkan
di sarana kegiatan masyarakat lain, misalnya balai desa atau meunasah-meunasah yang ada di lingkungan sekitar.
5.4. Dukungan Petugas
Berdasarkan hasil tabulasi silang pada Tabel 4.16, menunjukkan bahwa variabel dukungan petugas dengan kategori baik yang melakukan pemberantasan sarang nyamuk sebanyak 52,6% dan tidak melakukan sebanyak 47,4%, sedangkan variabel dukungan petugas kategori buruk yang melakukan pemberantasan sarang nyamuk sebanyak 35,2% dan yang tidak melakukan sebanyak 64,8%. Berdasarkan hasil uji chi-square antara variabel dukungan petugas dengan pemberantasan sarang nyamuk diperoleh nilai p = 0,015 (< α 0,05), artinya ada pengaruh yang signifikan antara variabel dukungan petugas terhadap pemberantasan sarang nyamuk.
Sebesar 62,2% responden menyataan petugas tidak pernah melakukan penyuluhan Chikungunya, 65,0% penyuluhan tidak dilakukan secara teratur, dan 53,5% menyatakan dalam 6 bulan terakhir tidak pernah dilakukan penyuluhan di desanya, dan sebanyak 52,1% menyatakan pernah dilakukan penyemprotan dan dilakukan berkala, sebanyak 57,6% menyatakan tidak pernah mendapatan bubuk abate dari petugas, dan sebanyak 54,8% menyataan petugas belum menghimbau atau mengajak masyarakat untuk mencegah penyakit chikungunya.
Dan setelah dilakukan uji multivariat diketahui bahwa dukungan petugas tetap memengaruhi kegiatan PSN dengan p =0,010. Berdasarkan nilai B yang tertinggi pada variabel dukungan petugas yaitu 0,741. Ini menunjukkan bahwa
variabel tersebut merupakan variabel yang paling dominan memengaruhi pemberantasan sarang nyamuk chikungunya dengan nilai Exp (B), yaitu 2,099, artinya variabel dukungan petugas mempunyai peluang sebanyak 2 kali untuk dilakukannya pemberantasan sarang nyamuk oleh responden dibandingkan dengan yang tidak mendapat dukungan dari petugas.
Dukungan dari petugas tetap merupakan komponen yang sangat berarti dalam pelaksanaan PSN. Pengetahuan dan sikap masyarakat yang baik tentang PSN tidak menjadikan pedoman bahwa pelaksanaannya akan berjalan dengan baik. Masyarakat masih tetap harus diingatkan kembali bahwa PSN sangat penting sebagai bagian dari pola hidup sehat dari segi lingkungan. Terlebih kondisi cuaca tidak menentu sehingga dalam perkembangbiakan nyamuk pun mengalami perubahan.
Kegiatan yang dilakukan petugas untuk kegiatan pemberantasan nyamuk penular demam Chikungunya meliputi (Depkes RI, 2004):
1. Penyemprotan massal
Desa/kelurahan rawan dapat merupakan sumber penyebarluasan penyakit ke wilayah lain. Kejadian luar biasa/wabah demam Chikungunya sering kali dimulai dari peningkatan jumlah kasus demam Chikungunya di wilayah lain.
Biasanya di desa/kelurahan ini, pada tahun-tahun berikutnya akan terjadi kasus demam Chikungunya. Oleh karena itu penularan penyakit di wilayah ini deperlukan segera dibatasi dengan penyemprotan insektisida dan diikuti PSN oleh masyarakat untuk membasmi jentik-jentik penular demam Chikungunya. Penyemprotan ini dilaksanakan sebelum musim penularan
penyakit demam Chikungunya di desa rawan agar sebelum terjadi puncak penularan virus Chikungunya, populasi nyamuk penular dapat ditekan serendah-rendahnya sehingga KLB dapat dicegah (Depkes RI, 2004).
2. Pemantauan Jentik Berkala (PJB)
Pemantauan jentik berkala adalah pemeriksaan tempat penampungan air dan tempat perkembangbiakan nyamuk A. aegypti untuk mengetahui adanya jentik nyamuk yang dilakukan di rumah dan di tempat umum secara teratur sekurang-kurangnya tiap 3 bulan untuk mengetahui keadaan populasi jentik nyamuk penular penyakit demam Chikungunya.
Petugas memiliki fungsi ganda, selain menjalankan perannya untuk melakukan PSN secara langsung, petugas juga memiliki fungsi yang lain yakni mengajak masyarakat untuk ikut serta melakukan pembangunan kesehatan. Menurut Slamet (2003), tindakan seseorang dalam proses pembangunan dalam berbagai sektor sangat dipengaruhi oleh besar kesempatan yang diberikan kepada masyarakat.
Munculnya tindakan dalam partisipasi dikelompokkan menjadi tiga golongan, yaitu:
pertama, adanya kesempatan untuk berpartisipasi dalam pembangunan; kedua, adanya kemampuan untuk memanfaatkan kesempatan itu; dan ketiga, adanya kemauan untuk berpartisipasi.
Kenyataan yang terjadi adalah minimnya kesempatan yang diberikan pemerintah kepada masyarakat dalam hal partisipasi dalam penanggulangan penyakit Chikungunya. Kenyataan di lapangan, program pemberantasan Chikungunya kurang memperoleh partisipasi masyarakat khususnya keluarga, karena kurangnya
kesempatan yang diberikan kepada masyarakat. Di lain pihak, juga dirasakan kurangnya informasi yang disampaikan kepada masyarakat mengenai kapan, dan dalam bentuk apa mereka dapat untuk berpartisipasi dalam pemberantasan Chikungunya (Depkes, 2007).
Upaya penanggulangan penyakit Chikungunya banyak bentuknya, antar lain:
kesempatan dalam proses analisa situasi dan lingkungan, perencanaan, sampai pada tindakan pemberantasan sarang nyamuk. Namun, sering sekali masyarakat hanya dijadikan sebagai objek bukan subjek dalam sebuah pelaksanaan program kesehatan.
Hal inilah yang menjadi pemicu rendahnya tingkat partisipasi masyarakat terhadap tindakan pencegahan penyakit Chikungunya (Depkes, 2007).
Ditjen PP & PL Depkes RI (2005), mengemukakan bahwa pelaksanaan program pencegahan menular seharusnya melibatkan masyarakat, sehingga dengan adanya keterlibatan masyarakat dalam tim pelaksanaan kegiatan akan dapat menggerakkan masyarakat lainnya untuk melakukan pencegahan terhadap penyakit menular.
BAB 6
KESIMPULAN DAN SARAN
6.1. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian, dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:
1. Analisis multivariat dengan uji regresi logistik diperoleh hasil bahwa variabel pengetahuan, sikap dan peran petugas kesehatan berpengaruh terhadap pemberantasan sarang nyamuk chikungunya melalui metode PSN.
2. Variabel Dukungan Sarana tidak berpengaruh terhadap pemberantasan sarang nyamuk chikungunya.
3. Variabel yang dominan berpengaruh terhadap sarang nyamuk chikungunya, adalah variabel peran petugas.
6.2. Saran
1. Diharapkan kepada Dinas Kesehatan Kabupaten Aceh Timur agar mengaktifkan Kelompok Kerja Operasional (Pokjanal) Chikungunya dengan mengikut sertakan sektor pendidikan (sekolah, universitas), organisasi kepemudaan (karang taruna), organisasi sosial, tokoh-tokoh baik masyarakat maupun agama.
2. Diharapkan Dinas Kesehatan bekerjasama dengan Lembaga Swadaya Masyarakat yang fokus pada penyakit menular dengan cara melakukan penyuluhan dan pelatihan yang ditujukan untuk meningkatkan pengetahuan
keluarga yang akan berdampak pada peningkatan kemampuan keluarga dalam tindakan pencegahan Chikungunya.
3. Kepada Puskesmas Aceh Timur diharapkan untuk memberikan atau membagikan brosur maupun leaflet yang berkaitan dengan informasi penyakit Chikungunya, sehingga masyarakat yang memiliki akses sulit dan tidak dijangkau oleh puskesmas dapat mengetahui dan memahami bahaya penyakit Chikungunya.
4. Perlu memberikan kesempatan untuk berpartisipasi yang lebih banyak kepada masyarakat dalam upaya penanggulangan penyakit Chikungunya. Kesempatan tersebut melibatkan masyarakat dalam hal memberikan abate, gotong royong, juga memberikan respon yang baik kepada masyarakat jika terjadi kasus sehingga masyarakat tidak bingung.
DAFTAR PUSTAKA
Achmad H, 1997. Variabel Yang Mempengaruhi Partisipasi Ibu Rumah Tangga Dalam Pelaksanaan Pemberantasan Sarang Nyamuk, Hasil Penelitian, Subdirektorat Arbovirosis Direktorat Jenderal PPM PLP Departemen Kesehatan RI, Jakarta (Online), http://www.cerminduniakedokteran.com Diakses 1 Maret 2011.
Alderfer, C. P., Existence, Relatedness, and Growth; Human Needs in Organizational Settings, New York: Free Press, 1972.
Arif Amien, Faktor-faktor yang Mempengaruhi Partisipasi Masyarakat dalam Penanggulangan Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kelurahan Lubang Buaya, Kecamatan Cipayung, Jakarta Timur (Online), http://www.adln. lib.unair.ac.id. Diakses 12 Maret 2011.
Asngari, P.S. 2001. Peranan Agen Pembaruan/ Penyuluh Dalam Usaha Memberdayakan (Empowerment) Sumber daya Manusia Pengelola Agribisnis. Orasi Ilmiah Guru Besar Tetap Ilmu Sosial Ekonomi. Fakultas Peternakan. Institut Pertanian Bogor.
Azwar, 2003. Sikap Manusia Teori dan Pengukurannya. Pustaka Belajar.
Yogyakarta.
Dwitagama, Dedi, 2008. Demam Chikungunya, http://www.infeksi.com/ articles.php?
lng=in&pg=31, diakses tanggal 12 Juli 2011
Depkes RI,2007. Penatalaksanaan Program Pencegahan Chikungunya, Jakarta.
________, 2007. Profil Kesehatan Indonesia, Jakarta.
_____, 2006. Pencegahan Dan Pemberantasan Demam Berdarah Dengue di Indonesia, Ditjen PPM & PL. Jakarta.
_____, 2005. Penyelidikan Epidemiologis, Penanggulangan Fokus dan Penanggulangan Vektor Pada Kejadian Luar Biasa Demam Berdarah Dengue di Indonesia, Ditjen PPM & PL. Jakarta.
_____, 2004. Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Demam Berdarah Dengue.
Jakarta.
_____, 2002. Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Demam Berdarah Dengue.
Jakarta.
Dinkes Prov NAD, 2007. Profil Kesehatan Provinsi NAD. Banda Aceh.
Dinas Kesehatan Kota Banda Aceh, 2007. Profil Kesehatan Kota Banda Aceh.
_____, 2007. Sub Dinas P2P Dinas Kesehatan Kota Banda Aceh, Banda Aceh Dinkes Medan, 2006. Profil Kesehatan Kota Medan. Sumatera Utara, Medan.
Dinkes NAD, 2008. Profil Kesehatan Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. NAD.
Dinkes Langsa, 2008. Profil Kesehatan Kabupaten Aceh Timur. NAD Kota Langsa.
Foster/ Anderson, 2005, Antropologi Kesehatan, Jakarta : UI-Press
Green, LW., Kreuter, M.W. 1993. Health Education Planning An Educational and Enviromental Approach, Second Edition Mayfield Publishing. California.
Hasibuan, H. 2003. Organisasi dan Motivasi. Jakarta. PT Bumi Aksara
Hendra, 2003. Faktor Yang Berhubungan Dengan Partisipasi Keluarga Dalam Pencegahan Penyakit DBD Di Kecamatan Pancoran Mas, Kabupaten Bogor (Online), http://www.adln.lib.unair.ac.id. Diakses 1 Maret 2011.
Lemeshow, 1997. Besar Sampel Dalam Penelitian Kesehatan. Gadjah Mada University Press.Yogyakarta. Alih Bahasa
Makmur, 2008. Pemberdayaan Sumber Daya Manusia dan Efektifitas Organisasi, PT Raja Grafindo Persada, Jakarta.
Notoatmodjo, S., 2005, Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku, Cetakan Pertama, Reneka Cipta, Jakarta.
_____, 2003. Pendidikan dan Perilaku Kesehatan. Cetakan Pertama, PT Rineka Cipta, Jakarta.
_____, 2005. Promosi Kesehatan Teori dan Aplikasi. Cetakan Pertama, PT Rineka Cipta, Jakarta.
_____, 2003. Metode Penelitian Kesehatan, Rineka Cipta, Jakarta.
_____, 2005. Promosi Kesehatan Teori dan Aplikasi, Rineka Cipta, Jakarta.
_____, 2007. Promosi Kesehatan dan Ilmu perilaku, Edisi Ketiga, Rineka Cipta, Jakarta
Rakhmat J, 2005, Psikologi Komunikasi, Bandung : Penerbit PT. Remaja Rosdakarya.
Pandjaitan W, 2000. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Partisipasi Masyarakat Dalam Penyelenggaraan Program Inpres Bantuan Pembangunan desa di Kecamatan Tambun Kabupaten Daerah Tingkat II Bekasi (Online).
http://www.adln.lib.unair.ac.id. Diakses 12 Maret 2011.
Pratomo, H, 1986. Pedoman Pembuatan Usulan Penelitian Bidang Kesehatan Masyarakat, Depdikbud RI, Jakarta.
Robbinson, Stephen. P. 2001. Perilaku Organisasi : Konsep, kontroversi, aplikasi.
Jakarta. Prenhallindo
Sarwono,S, 1997. Sosiologi Kesehatan, Tarsido Bandung, 1997
Sastropoetro, Santoso. 1998. Partisipasi, Komunikasi, Persuasi dan Disiplin Dalam Pembangunan Nasional. Bandung. Penerbit Alumni
Slamet, M. 2003. Membentuk Pola Perilaku Manusia Pembangunan. IPB. Press.
Bogor.
Soemarmo, Poorwo, 2005. Masalah Demam Berdarah Dengue di Indonesia, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta.
Soetomo, 2006. Strategi-strategi Pembangunan Masyarakat, Pustaka Pelajar, Yokyakarta.
Sudarmo, sumarmo. 1988. Demam Berdarah (Dengue) Pada Anak. Cetakan II.
Penerbit Universitas Indonesia. Jakarta.
Suroso, T. 2003. Dasar - dasar Pemikiran Dalam Pemberantasan DBD di Indonesia.
Majalah Kesehatan Masyarakat.
Yustina I, 2003. Membentuk Pola Perilaku Manusia Dalam Pembangunan, IPB Press, Bogor