• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENANGANAN UMPAN HIDUP DI ATAS KAPAL POLE AND LINE KM. SARI USAHA 07 PT. SARI USAHA MANDIRI BITUNG, SULAWESI UTARA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PENANGANAN UMPAN HIDUP DI ATAS KAPAL POLE AND LINE KM. SARI USAHA 07 PT. SARI USAHA MANDIRI BITUNG, SULAWESI UTARA"

Copied!
24
0
0

Teks penuh

(1)

PENANGANAN UMPAN HIDUP DI ATAS KAPAL POLE AND LINE KM. SARI USAHA 07

PT. SARI USAHA MANDIRI BITUNG, SULAWESI UTARA

TUGAS AKHIR

OLEH : NURSAL AFANDI

11 22 088

JURUSAN PENANGKAPAN IKAN

POLITEKNIK PERTANIAN NEGERI PANGKAJENE DAN KEPULAUAN 2014

(2)

HALAMAN PENGESAHAN

PENANGANAN UMPAN HIDUP DI ATAS KAPAL POLE AND LINE KM.SARI USAHA 07 PT. SARI USAHA

MANDIRI, BITUNG SULAWESI UTARA

TUGAS AKHIR

OLEH :

NURSAL AFANDI NIM. 11 22 088

Sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan studi pada Politeknik Pertanian Negeri Pangkep

Telah diperiksa dan disetujui :

Ir. Sultan Alam, M.Si Husniati, S.Pi., M.Si

Pembimbing I Pembimbing II

Mengetahui :

Ir. Andi Asdar Jaya, M.Si Adam, S.Pi., M.Si

Direktur Ketua Jurusan

(3)

HALAMAN PERSETUJUAN PENGUJI

Judul : Penanganan Umpan Hidup di Atas Kapal Pole and Line KM. Sari Usaha 07, PT. Sari Usaha Mandiri,

Bitung Sulawesi Utara Nama : Nursal Afandi

Nim : 11 22 088

Jurusan : Penangkapan Ikan Tanggal Lulus :

Disahkan oleh:

Komisi Penguji

1. Ir. Sultan Alam, M.Si (……….)

2. Husniati, S.Pi., M.Si (……….)

3. Dr. Ir. Muh. Ali Yahya, M.Si (……….)

4. Lendri, S.St.Pi ., M.Si (……….)

(4)

i RINGKASAN

NURSAL AFANDI 11 22 088 Penanganan Umpan Hidup di Atas Kapal Pole and Line KM. Sari Usaha 07 PT Sari Usaha Mandiri, Bitung Sulawesi Utara (di bawah bimbingan SULTAN ALAM dan HUSNIATI).

Umpan hidup memegang peranan penting dalam perikanan pole and line, salah satu bentuk rangsangan atau stimulus yang bersifat fisik maupun kimiawi dan dapat menimbulkan respon bagi ikan tertentu. Menurut kondisinya umpan dibedakan menjadi umpan hidup dan umpan mati. Berdasarkan sifat asalnya umpan dibedakan sebagai umpan alami dan umpan buatan. Berdasarkan penggunaannya umpan dibedakan atas umpan yang dipasang pada alat tangkap dan umpan yang tidak dipasang pada alat tangkap. Umpan yang digunakan pada pole and line adalah umpan hidup, sehingga penangkapan ikan dengan pole and line dikenal dengan life bait fishing. Adapun tujuan dari penulisan tugas akhir ini yakni : Untuk mengetahui faktor-faktor yang berpengaruh terhadap ketahanan hidup ikan umpan. dan penanganan umpan hidup di atas kapal KM. Sari Usaha 07. Metode pengambilan data ini berlangsung selama kurang lebih tiga bulan mulai 05 Februari sampai 28 April 2014 yang bertempat di PT. Sari Usaha Mandiri, Bitung, Sulawesi Utara. Metode pengambilan data antara lain : Interview atau wawancara langsung saat PKPM, observasi, dokumentasi berupa foto-foto dan tulisan, dan data sekunder di ambil melalui bahan-bahan literatur. Faktor- faktor yang berpengaruh terhadap ketahanan hidup ikan umpan meliputi: sirkulasi air dalam bak umpan (menggunakan belahan besi dan mesin pompa), kecepatan kapal (maksimal 8 knot), tingkat kepadatan umpan (bak depan 40 ember dan bak belakang 60 ember). Penanganan umpan hidup pada siang hari, boi-boi hanya mengontrol sirkulasi air dengan melihat lubang sirkulasi di dasar bak umpan dan mengambil umpan hidup yang sudah mati dari dalam bak baik yang terapung maupun yang di dasar bak agar tidak mengganggu ikan umpan yang masih hidup.

Sedangkan pada malam hari hanya memasangkan lampu pijar pada bak penampungan, yang setiap baknya dipasang lampu 20 watt. Untuk mempertahankan ikan umpan hidup harus memperhatikan : Sirkulasi air dalam bak penampungan ikan umpan hidup, kecepatan kapal, tingkat kepadatan umpan dan penanganan umpan hidup pada siang dan malam hari.

Kata kunci : Penanganan, Umpan Hidup, Kapal Pole and Line.

(5)

ii KATA PENGANTAR

Alhamdulilahi Rabbil Alamin, Dengan segala puji dan syukur kehadirat Allah SWT atas rahmat-Nya, sehingga penulisan Tugas Akhir dengan judul“Penanganan Umpan Hidup di atas kapal Pole and Line KM. Sari Usaha 07 PT. Sari Usaha Mandiri Bitung, Sulawesi Utara ” ini dapat diselesaikan dengan baik. Tugas Akhir ini sebagai salah satu persyaratan untuk menyelesaikan studi pada Politeknik Pertanian Negeri Pangkep Jurusan Penangkapan Ikan.

Tugas akhir ini ditulis berdasarkan panduan penulisan tugas akhir Politeknik Pertanian Negeri Pangkep sesuai dengan hasil Praktek Kerja Pengalaman Mahasiswa (PKPM). Dalam penulisan tugas akhir ini terdapat banyak kendala yang dihadapi sehingga memerlukan bantuan dari pihak lain baik dalam bentuk pemikiran, moril maupun materi terutama kepada kedua orang tua sehingga penulis banyak mendapat bimbingan dari berbagai pihak, untuk itu penulis haturkan terima kasih kepada :

1. Bapak Ir. Andi Asdar Jaya, M.Si selaku Direktur Politeknik Pertanian Negeri Pangkep.

2. Bapak Adam Rahman, S.Pi., M.Si selaku Ketua Jurusan Penangkapan Ikan Politeknik Pertanian Negeri Pangkep.

3. Bapak Ir. Sultan Alam, M.Si selaku pembimbing I dan Ibu Husniati,S.Pi.,M.Si selaku pembimbing II.

(6)

iii 4. Bapak Arnold Tamasoleng selaku Nakhoda KM. Sari Usaha 07 sekaligus

pembimbing lapangan.

5. Rekan-rekan mahasiswa yang telah memberikan sumbangsih selama penyusunan Tugas Akhir ini.

Penulis menyadari bahwa dalam penulisan Tugas Akhir ini masih ada kekurangan yang memerlukan penyempurnaan sehingga sumbang saran dari pembaca sangat diharapkan. Semoga Tugas Akhir ini memberi manfaat bagi semua pihak yang membutuhkannya. Amin

Pangkep, 18 Agustus 2014

Penulis

(7)

iv DAFTAR ISI

Halaman

RINGKASAN……….. i

KATA PENGANTAR………. ii

DAFTAR ISI……… iv

DAFTAR TABEL……… vi

DAFTAR GAMBAR……… vii

DAFTAR LAMPIRAN……… viii

I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang... 1

1.2 Tujuan dan Kegunaan... 3

II. TINJAUN PUSTAKA 2.1 Kapal Huhate... 4

2.2 Umpan Hidup... 7

2.3 Penanganan Umpan Hidup... 10

III. METODOLOGI 3.1 Waktu dan Tempat ... ... 12

3.2 Alat dan Bahan ... ... 12

3.3 Metode Pengambilan Data ... ... 13

(8)

v IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Faktor Yang Berpengaruh Terhadap Kelangsungan Hidup Ikan

Umpan ... ... 14

4.1.1 Sirkulasi Dalam Bak Umpan ... ... 14

4.1.2 Kecepatan Kapal.... ... 17

4.1.3 Tingkat Kepadatan Umpan.. ... ... 18

4.2 Penanganan Umpan Hidup Pada Siang Hari... ... ... 21

4.3 Penanganan Umpan Hidup Pada Malam Hari... ... 21

V. KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan ... 23

5.2 Saran ... ... 23 DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

RIWAYAT HIDUP

(9)

vi DAFTAR TABEL

No Teks Halaman

1. Spesifikasi dan Kapasitas Umpan Hidup (Teri)...15 2. Spesifikasi dan Kapasitas Umpan Hidup (Layang, Tembang, Bete-bete)..15 3. Pengambilan Umpan Hidup per Trip...18

(10)

vii DAFTAR GAMBAR

No Teks Halaman

1. Pipa Pembantu Sirkulasi Air Dalam Bak.……….. 11 2. Sirkulasi Air dengan Mesin Pompa………... 16 3. Belahan Besi Pendek Pembantu Sirkulasi Air..……….… 17

(11)

viii DAFTAR LAMPIRAN

No Teks Halaman

1. Alur proses Penanganan Umpan Hidup ………...……… 26 2. Alat-alat yang Digunakan Dalam Penanganan Umpan Hidup...………… 28 3. Jenis dan Lokasi Pengambilan Umpan... 30 4. Jadwal Kegiatan ………...………. 31

(12)

1 BAB I

PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Usaha perikanan huhate (pole and line) telah lama dikenal di Kawasan Timur Indonesia untuk tujuan penangkapan ikan cakalang (Katsuwonus pelamis) agar dapat memproduksi ikan cakalang yang sangat memenuhi

standar mutu ekspor, maka salah satu alat tangkap yang bisa digunakan adalah pole and line yang menggunakan umpan hidup. Umpan ini merupakan salah satu faktor pembatas dalam operasi penangkapan.

Kurang tersedianya umpan hidup dalam jumlah yang memadai dapat mengakibatkan turunnya hasil tangkapan atau gagalnya usaha penangkapan cakalang dengan menggunakan pole and line, karena umpan adalah merupakan faktor penting dan menentukan keberhasilan dalam perikanan huhate (pole and line) (Gafa dan Merta,1987). Oleh karena itu umpan hidup menjadi pertimbangan dalam setiap kegiatan perikanan huhate.

Penangkapan cakalang dengan pole and line, menggunakan umpan hidup yang ditebarkan disekitar kapal ketika menemui kelompok ikan cakalang, menyebabkan gerombolan ikan cakalang mendekati kapal, sehigga dapat dipancing dengan mudah. Keberhasilan dalam penangkapan cakalang sangat ditentukan oleh ketersedian umpan hidup yang cukup, baik kualitas maupun kuantitasnya. Umpan hidup sangat berperan dalam perikanan pole and line, sehingga untuk meningkatkan produksi ikan cakalang perlu pula

meningkatkan penangkapan dan penanganan terhadap umpan hidup.

(13)

2 Penanganan terhadap umpan hidup sebelum dipindahkan ke kapal pole and line adalah sangat penting. Jika penanganan awal dilakukan secara

baik, maka mortalitas umpan bisa ditekan seminimal mungkin. Ikan umpan hidup menjadi tidak tenang pada saat dipindahkan ke wadah yang lain, terutama jika kurang memperhitungkan kepadatan mereka di dalam kurungan penampungan (FAO,1980), Selanjutnya dilaporkan pula, bahwa mortalitas ikan-ikan kecil berawal dari luka-luka, goncangan, getaran, dan stress yang menyeluruh sejak dari hari pertama mereka ditangkap.

Penanganan umpan hidup yang optimal dapat dicapai melalui pengelolaan berbagai faktor eksternal dan faktor internal maupun faktor penanganan sebagai suatu keterkaitan yang sangat menentukan survival rate ikan umpan, sehingga perlu dicari berbagai alternatif dari faktor-faktor tersebut untuk mendapatkan umpan hidup yang secara kualitas, kuantitas maupun kontinuitas cukup memadai.

(14)

3 1.2 Tujuan Dan Kegunaan

a. Tujuan

1) Untuk mengetahui faktor-faktor yang berpengaruh terhadap ketahanan umpan hidup.

2) Untuk mengetahui penanganan umpan hidup di atas kapal KM. Sari Usaha 07.

b. Kegunaan

Kegunaan laporan tugas akhir ini adalah sebagai bahan informasi kepada pihak-pihak yang memerlukan informasi yang berkaitan dengan penanganan umpan hidup di atas kapal pole and line.

(15)

4 BAB II

TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Kapal Huhate (Skipjack Pole and Liner )

Kindangen (2010), Pole and line adalah jenis kapal yang digunakan untuk menangkap ikan cakalang (Katsuwonus pelamis), tipe kapal jenis ini memerlukan palka ikan, bak umpan hidup, serta sistem sirkulasi airnya, pipa, selang dan pompa untuk menyemprotkan air, tempat duduk untuk pemancing serta geladak kapal untuk tempat menjatuhkan ikan hasil pemancingan.

Jenis kapal yang digunakan dalam operasi penangkapan ikan cakalang adalah pole and line tipe Skipjack fishing boat kapal ini memiliki persyaratan tertentu yaitu pada haluan kapal dibuat anjungan yang mencuat kedepan untuk tempat pemancingan (tempat duduk), memiliki bak untuk umpan hidup, tempat penyimpanan hasil tangkapan, mempunyai sistem semprotan air, dan palka yang dapat menampung ikan hasil tangkapan.

Huhate adalah jenis alat pancing penangkapan ikan yang terdiri dari

bambu sebagai joran dan tali sebagai tali pancing. Pada tali pancing ini dikaitkan mata pancing yang tidak berkait. Penggunaan mata pancing yang tidak berkait dimaksudkan agar ikan yang ditangkap dapat mudah lepas.

- Bentuk kapal Huhate mempunyai beberapa pengkhususan, antara lain : 1) Dibagian atas dek kapal bagian depan terdapat pelataran dimana pada

tempat tersebut para pemancing melakukan pemancingan.

2) Dalam kapal harus tersedia bak-bak untuk menyimpan ikan umpan hidup.

(16)

5 3) Kapal Huhate perlu dilengkapi dengan sistem semprotan air yang

dihubungkan dengan mesin pompa.

- Alat tangkap Huhate terdiri dari bagian-bagian sebagai berikut : 1) Joran/galah yang terbuat dari bambu dengan panjang 2,8 - 3,6 meter.

2) Tali banting dari bahan sintetis, multifilamen dengan panjang 1,7 - 2,5 meter.

3) Tali pancing monofilamen/sener yang panjangnya 50cm dengan No.

1500-2000.

4) Mata pancing (Hook) yang terbuat dari besi stenlistis 3 - 5cm.

Kapal pole and line adalah kapal dengan bentuk yang strem line dan mampu berolah gerak, lincah dan tergolong kapal yang mempunyai speed service yaitu di atas 10 knot dengan stabilitas yang baik untuk mengejar

gerombolan ikan, yakni kapal tersebut sambil olah gerak menangkap ikan (Direktorat Jenderal Perikanan,1994).

Sudirman dan Mallawa (2004) menyatakan bahwa Pole and line biasa juga disebut dengan “Huhate”. Sebagai penangkap ikan alat ini sangat sederhana desainnya. Hanya terdiri dari joran, tali dan mata pancing tetapi sesungguhnya sangat kompleks karena dalam pengoperasiannya memerlukan umpan hidup untuk merangsang kebiasaan menyambar mangsa pada ikan.

Deskripsi pole and line adalah sebagai berikut :

a) Joran atau galah, bagian ini terbuat dari bahan bambu yang cukup tua dan memiliki tingkat elastisitas yang tinggi atau baik. Pada umumnya bambu yang digunakan berwarna kuning atau fibre glass. Panjang joran berkisar 2

(17)

6 – 3,5 meter dengan diameter pada bagian pangkal 3 – 4cm dan bagian ujung sekitar 1 – 1,5cm. Sebagaimana telah banyak digunakan joran dari bahan sintetis plastik atau fiber.

b) Tali sekunder, dari bahan kawat baja (wire leader) dengan panjang berkisar 5 - 15cm yang terdiri 2 – 3 untai yang dipintal dengan diameter 1,2mm. Hal ini dimaksudkan untuk mencegah terputusnya tali utama dengan mata pancing sebagai akibat dari gigitan ikan.

c) Tali utama (main line), terbuat dari bahan sintetis polyethylene (PE) monofilament atau multifilament dengan panjang sekitar 1,5 – 2,5 meter

yang disesuaikan dengan panjang joran yang digunakan, cara pemancingan, tinggi haluan kapal dan jarak penyemprotan air. Diameter tali utama 0,2 – 0,5cm.

d) Mata pancing (hook) dimana ujungnya tidak berkait balik dengan ukuran menggunakan nomor mata pancing adalah 2,5 – 3. Pada bagian atas mata pancing terdapat timah berbentuk silinder dengan panjang sekitar 2cm dengan diameter 8mm dan dilapisi nikel sehingga berwarna mengkilap sebagai daya tarik atau menarik perhatian ikan cakalang (Katsuwonus pelamis). Pada pangkal tali silinder terdapat kili-kili (swivel) sebagai

pengikat untuk menghindari kekusutan pada tali. Dibagian mata pancing potongan dari tali-tali rafia berwarna merah yang membungkus rumbai - rumbai tali merah juga berwarna dalam hal ini sebagai umpan tiruan.

Pemilihan warna merah ini disesuaikan dengan warna ikan umpan yang berwarna merah perak sehingga menyerupai umpan hidup yang digunakan.

(18)

7 2.2 Umpan Hidup

Ikan umpan memegang peranan penting dalam perikanan pole and line. Ruivo (1959) vide Laksono (1983) menjelaskan bahwa umpan adalah

salah satu bentuk rangsangan atau stimulus yang bersifat fisik maupun kimiawi dan dapat menimbulkan respon bagi ikan tertentu. Menurut kondisinya umpan dibedakan menjadi umpan hidup dan umpan mati.

Berdasarkan sifat asalnya umpan dibedakan sebagai umpan alami dan umpan buatan. Berdasarkan penggunaannya umpan dibedakan atas umpan yang dipasang pada alat tangkap dan umpan yang tidak dipasang pada alat tangkap.

Umpan yang digunakan pada pole and line adalah umpan hidup, sehingga penangkapan ikan dengan pole and line dikenal dengan life bait fishing.

Subani, (1973) dalam Hamzah Priyantoro (2000) menjelaskan bahwa alat tangkap yang paling baik untuk mengusahakan ikan umpan adalah alat tangkap yang tidak menggunakan jaring kantong berbentuk kerucut, seperti payung, karena ikan umpan yang tertangkap akan mengumpul dalam satu tempat yang menyempit dan akhirnya akan berhimpit serta cepat mati. Alat tangkap yang paling baik digunakan adalah jenis jaring angkat, termasuk bagan, soma dampar dan tipe jaring yang bila dioperasikan membentuk suatu lingkaran seperti tudung saji terbalik.

Umpan hidup yang telah dipindahkan ke dalam kurungan penampungan, jika tidak pernah diberikan cahaya lampu (penerangan) maka laju mortalitasnya melampaui 50%, sedangkan jika diberikan cahaya lampu, laju mortalitas kurang dari 10% (FAO, 1980).

(19)

8 Hamzah Priyantoro (2000) mengemukakan bahwa ikan umpan mengalami shock yang pertama pada saat jaring bagan diciutkan untuk mempersempit ruang geraknya. Pada saat ini ikan bergerak kesegala arah.

Ruang lingkup yang sempit serta adanya lipatan pada jaring membuat ikan bergerak ke dalam lipatan jaring, sehingga ikan akan terjepit, terluka atau mati. Untuk menghindari hal tersebut maka penarikan jaring harus disesuaikan dengan jumlah ikan yang tertangkap. Jika ikan umpan yang tertangkap banyak, maka jaring sisa penarikan harus dibuat agak besar dan jaring dibentuk sedemikian rupa agar air yang ada di dalam jaring tidak terlalu sedikit sehingga ikan umpan memiliki ruang gerak yang cukup.

Jenis ikan yang digunakan sebagai umpan hidup umumnya ikan pelagis kecil. Kelompok ikan pelagis kecil merupakan ikan yang hidup dilapisan permukaan suatu perairan, berenang dalam gerombolan dan menyenangi daerah yang terlindung seperti daerah pantai dan teluk. Banyak jenis ikan umpan yang dapat digunakan untuk penangkapan cakalang dengan pole and line, namun hanya beberapa jenis yang disenangi oleh cakalang,

antara lain teri (Stolephorus spp), tembang (Sardinella sp), kembung (Rastrelliger sp) (Gafa dan Subani, 1987 dalam Hamzah Priyantoro 2000).

Menurut Tampubolon (1980) dalam Hamzah Priyantoro (2000), proses kematian ikan umpan hidup terjadi karena dua hal, yaitu :

1. Perlakuan fisik (physical mortality) adalah kematian yang diakibatkan oleh suatu perlakuan;

(20)

9 2. Sifat alam ikan umpan ( natural mortality) adalah kematian yang terjadi karena sifat alami, terjadi secara wajar dalam batas ketahanan tertentu dari satu jenis ikan.

Menurut Monintja (1968) dalam Hamzah Priyantoro (2000), pengurungan umpan dalam tempat penyimpanan adalah untuk :

1. Penyimpanan ikan umpan sampai diangkut oleh kapal motor.

2. Pengumpulan ikan umpan sampai cukup untuk diangkat.

3. Sebagai tempat penyipanan ikan umpan bila tidak habis dipakai dan sebagai persediaan untuk hari-hari selanjutnya.

4. Tempat menenangkan ikan umpan yang liar, karena bila terus dimasukkan ke dalam bak umpan kapal motor ikan akan berenang dengan liar dan saling menabrak atau menabrak dinding bak umpan, sehingga menimbulkan kematian.

5. Tempat menyeleksi jenis–jenis ikan umpan yang baik serta memindahkan ikan umpan yang luka maupun lemah.

Menurut S.M, Tampubolon (1980), dalam Hamzah Priyantoro (2000) ada beberapa ikan umpan yang memiliki sifat-sifat yang digunakan sebagai umpan hidup pada penangkapan ikan cakalang dengan alat penangkap ikan huhate yaitu ikan umpan tersebut memilki sifat atau tingkahlaku memberi refleksi yang baik dipermukaan air, bila ditebarkan cenderung untuk kembali mendekati kapal (untuk berlindung) antara lain ikan :

1. Puri (Stolephorus devisi ), yang memiliki kepala berwarna merah dengan ukuran panjang antara 6,5 - 72 mm.

(21)

10 2. Puri gelas (Stolephorus indikus) dengan ukuran panjang 73 mm.

Walaupun jenis-jenis ikan umpan dapat digunakan penangkapan/pemancingan cakalang namun perlu diperhatikan terutama dalam pemeliharaan agar dapat mempertahankan ikan umpan tetap hidup dan mutunya hingga waktu penggunaan dalam operasi penangkapan dengan Pole and line. Hal ini umpan hidup yang baik umumnya :

1. Warna terang/mengkilat putih/perak yang menimbulkan refleksi yang baik di air.

2. Dapat hidup lama dalam bak penampungan.

3. Memiliki sisik tidak mudah lepas (mengurangi mortalitas kematian) 4. Ukuran panjang umumnya berkisar antara 10-12,5cm, atau tergantung

dari jenis yang digunakan. (Balai Penelitian Perikanan Laut, 1983) 5. Berenang cepat menuju permukaan air.

2.3 Penanganan Umpan Hidup

Menurut FAO (1980), bahwa penanganan awal terhadap ikan umpan setelah ditangkap dan dipisahkan ke suatu kurungan penampungan adalah penting ikan umpan berada pada suatu kondisi agitasi yang hebat dengan mudah membuat mereka cedera dalam jaring, terutama mereka dalam keadaan lebih padat. Selanjutkan dianjurkan agar sebaiknya setelah ikan ditangkap tidak langsung dipindahkan ke wadah lain, tetapi memberikan waktu kepada mereka untuk memperoleh ketenangan yaitu 5-10 menit idealnya, mereka diharapkan sanggup dapat berenang di dalam jaring kurungan tanpa ada sesuatu goncangan, kekejutan dan getaran pada jaring

(22)

11 atau saat ikan dipindahkan dengan ember/gayung. Alat untuk memindahkan ikan ke dalam jaring penampungan sebaiknya menggunakan bahan yang terbuat dari aluminium atau anti karat.

Umumnya kehidupan kebanyakan spesis dari ikan umpan hidup tergantung pada sejumlah faktor utama yaitu :

1. Kondisi eksternal pada saat penangkapan, misalnya waktu penangkapan siang atau malam, lokasi dan cara penangkapan, suhu perairan, serta karakteristik dasar perairan;

2. Jenis dan kondisi ikan itu sndiri, misalnya umur, ukuran, tingkat kematangan gonad dan sifat kegemukan;

3. Alat dan metode yang digunakan dalam penangkapan ikan umpan;

4. Keadaan ikan setelah penangkapan

5. Perlu dikontrol agar ikan umpan yang ditangkap selalu dalam siklus penanganan (FAO, 1980).

Suady (2012) ,mengemukakan bahwa penanganan umpan hidup dilakukan dengan cara pipa yang terbelah dua dengan diameter 10 cm dimasukkan ke dalam lubang sirkulasi yang berada di dasar kapal hingga tembus keluar melewati bagian bawah kapal yang membuat air naik ke atas melewati lubang sirkulasi akibat tekanan dari air.

Gambar 1. Pipa Pembantu Sirkulasi Air dalam Bak

(23)

12 BAB III

METODOLOGI

3.1 Waktu Dan Tempat

Penulisan tugas akhir ini mulai 02 Juni sampai 18 Agustus 2014 setelah mengikuti kegiatan Pengalaman Kerja Praktek Mahasiswa (PKPM) yang dilakukan kurang lebih 3 bulan bertempat di Bitung, Sulawesi Utara.

Fishing Base di Pelabuhan Perikanan Samudera Bitung dengan titik koordinat

01°28’023’’ LU – 125°11’039’’ BT. Sedangkan Fishing Ground di perairan Laut Maluku dengan titik koordinat 00°21’236” LU – 125°19’112” BT sampai 01º05’347” LS ˗ 124º06’736” BT.

3.2 Alat dan Bahan

Adapun alat dan bahan yang digunakan dalam tugas akhir ini dalam menangani umpan hidup adalah sebagai berikut :

1. Bak umpan 2. Ember 3. Sibu-sibu

4. Belahan besi berbentuk T 5. Lampu pijar 20 watt 6. Jala-jala bundar 7. Jaring/Soma

8. Bak penebaran umpan

9. Karet sumbat/penutup lubang

(24)

13 3.3 Metode Pengambilan Data

Metode pengambilan data dilakukan dengan dua cara yaitu :

a. Data primer : Interview atau wawancara langsung dengan pembimbing lapangan, observasi atau pengamatan, dan dokumentasi berupa foto-foto.

b. Data sekunder : bahan-bahan literature, daftar pustaka yang berhubungan dengan tulisan.

Referensi

Dokumen terkait