BAB III
PELAKSANAAN KERJA MAGANG
3.1 Kedudukan dan Koordinasi
Penulis mendapatkan tugas untuk kerja magang di Seksi Pengelolaan Media Komunikasi Publik pada Dinas Komunikasi dan Informatika Provinsi Kalimantan barat. Seksi Pengelolaan Media Komunikasi Publik bertugas untuk membantu Kepala Seksi Pengelolaan Media Komunikasi Publik dalam pengelolaan media komunikasi publik. Koordinasi dilakukan secara vertikal terhadap KASI.
Pengelolaan Media Komunikasi Publik dan secara horizontal terhadap pegawai lainnya dalam seksi yang sama.
3.2 Tugas yang Dilakukan
Tugas utama penulis yaitu membantu KASI Pengelolaan Media Komunikasi Publik dalam mengelola media komunikasi publik seperti akun media sosial dan situs resmi KOMINFO KALBAR. Output tugas diantaranya adalah infografis dan video mengenai peraturan pemerintah daerah dan sosialisasi KOMINFO KALBAR terkait pandemi COVID-19 dan vaksinasi. Kegiatan penulis diantaranya yaitu analisis infografis penduduk Kalimantan Barat terkait perkembangan pandemi COVID-19 dan vaksinasi. Hal ini dilakukan sebagai analisis pendahuluan dalam sosialisasi vaksinasi masyarakat Kalimantan Barat sehingga target sosialisasi dapat tergambar dengan jelas dan proses sosialisasi dapat berjalan dengan efisien. Aktivitas ini menggambarkan seberapa signifikan sosialisasi dapat berdampak terhadap penanggulangan pandemi COVID-19.
Penulis juga menganalisis program kesehatan terkait mekanisme pendaftaran
vaksinasi untuk lansia di Kalimantan Barat. Hal ini dilakukan sebagai langkah
pendahuluan perencanaan vaksinasi dan distribusi vaksin tahap ketiga yaitu
terhadap masyarakat di Kalimantan Barat menggunakan media sosial. Selanjutnya
penulis melakukan perencanaan vaksinasi dan distribusi vaksin tahap ketiga melalui
media sosial. Hal ini dilanjutkan oleh kegiatan pelaksanaan vaksinasi dan distribusi
Penulis juga melakukan sosialisasi melalui berupa postingan media sosial yang meliputi Instagram, Facebook, YouTube, dan lain-lain.
Berikut merupakan rincian tugas yang penulis lakukan selama kegiatan kerja magang pada Seksi Pengelolaan Media Komunikasi Publik pada Dinas Komunikasi dan Informatika Provinsi Kalimantan barat:
Tabel 3.1 Pekerjaan yang dilakukan dalam Praktik Kerja Magang
No. Pekerjaan yang Dilakukan
Februari Maret April Mei
2 3 4 1 2 3 4 1 2 1
1
Dokumentasi terkait protokol kesehatan dan surat edaran pemerintah 2 perancangan infografis 3
Pendataan perkembangan COVID-19 di Kal-Bar
dan vaksinasi 4 Analisis perkembangan
vaksinasi tahap I-III 5
Pengumpulan data konten timeline
#TakKenalMakatakKebal 6
Pembuatan video satu menit sosialisasi
vaksinasi
7 Upload konten infografis dan video 8 Revisi konten
Sumber: Data Olahan Laporan, 2021.
3.3 Uraian Pelaksanaan Kerja Magang 3.3.1 Dokumentasi
Pada pelaksanaan kerja magang, penulis melakukan dokumentasi data terkait protokol kesehatan dan surat edaran Gubernur Provinsi Kalimantan Barat dalam rangka mengumpulkan informasi dasar dan mendapatkan esensi utama dari kebijakan tersebut. Penulis juga mengumpulkan informasi terkait perkembangan pandemi COVID-19 di Kalimantan Barat dan vaksinasi.
Menurut Fatoni (2011, p. 112), dokumentasi merupakan suatu teknik
pengumpulan data yang dilakukan dengan mempelajari data-data seperti buku,
dokumen atau catatan baik cetak maupun digital. Penulis memperoleh data dari
situs resmi Kementerian Kesehatan Republik Indonesia dan Dinas KOMINFO sendiri.
3.3.2 Perancangan
Menurut Newman dalam Manullang (2012, p. 39) planning atau perencanaan merupakan tindakan menentukan terlebih dahulu apa yang hendak dikerjakan.
Perencanaan menurut Hasibuan (2011, p. 91) merupakan suatu fungsi fundamental atau mendasar dalam manajemen, dimana perencanaan ditujukan untuk masa depan yang penuh dengan ketidakpastian dikarenakan adanya perubahan dan situasi.
Penulis merencanakan tahapan pengolahan input informasi yang telah didapatkan melalui dokumentasi untuk menjadi output dalam bentuk konten infografis imbauan penerapan protokol kesehatan dan video singkat sosialisasi vaksin. Tahapan perancangan tersebut adalah sebagai berikut:
1. Penentuan tujuan konten, target audiens, time frame penerbitan konten.
Tujuan konten yaitu untuk menyampaikan informasi kepada masyarakat di Kalimantan Barat tentang penerapan protokol kesehatan dan vaksinasi.
Penetapan tujuan dilakukan agar proses pembuatan konten menjadi lebih terarah.
2. Pengumpulan informasi dari sumber kredibel. Seluruh informasi yang disajikan dalam konten harus dapat dipertanggungjawabkan. Informasi diperoleh dari situs resmi Satuan tugas Penanganan COVID-19 dengan alamat covid19.go.id.
3. Pengumpulan stock imagery untuk disusun menjadi konten. Stock imagery dikumpulkan dari berbagai situs gratis penyedia stock imagery dan disesuaikan dengan tujuan konten.
4. Konsepsi desain konten, dengan memerhatikan aspek komunikatif, efektif,
efisien, terpola, dan terpadu agar informasi dapat diterima dengan baik oleh
target audiens. Penulis menggunakan referensi dari Buku Saku #InfoVaksin
yang diterbitkan oleh Satuan tugas Penanganan COVID-19. Berikut
merupakan Referensi gambar yang penulis gunakan.
Gambar 3.1 Referensi Desain Infografis
Sumber: Komite Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (2020, p. 16).
Sumber: Komite Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi
Nasional (2020, p. 17)
Sumber: Komite Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (2020, p. 18)
Penulis mengekstrak informasi pada referensi tersebut dan menuangkannya pada desain penulis berdasarkan pengalaman dalam mendesain infografis.
5. Pembuatan konten, yaitu proses penyusunan elemen-elemen sehingga
dihasilkan konten yang memuaskan secara estetik dan informatif. Berikut
merupakan hasil desain penulis.
Gambar 3.2 Output Desain Infografis Penulis pada Instagram
@diskominfo.kalbar
Sumber: instagram.com/diskominfo.kalbar
Sumber: instagram.com/diskominfo.kalbar
Sumber: instagram.com/diskominfo.kalbar
Sumber: instagram.com/diskominfo.kalbar
Sumber: instagram.com/diskominfo.kalbar
Pada gambar 3.2, penulis mengatur elemen warna, tata letak dan tipografi sehingga memudahkan audiens dalam memahami informasi yang disampaikan.
Penggunaan kelompok warna hijau memiliki kaitan dengan alam, ketentraman, dan kesehatan yang menyiratkan bahwa tujuan vaksinasi adalah untuk mengatasi persebaran pandemi sehingga keadaan menjadi lebih baik dan sehat.
Pemilihan diksi dilakukan dengan hati-hati sehingga dapat menjangkau masyarakat dengan lebih efektif dan tidak menimbulkan ambiguitas.
Gambar 3.3 Hasil Desain Penulis tentang Peraturan Pemerintah Daerah terkait Pembatasan Jam Operasional Kegiatan Usaha
Sumber: Hasil Praktek Kerja Magang, 2021.
Gambar 3.2 dan 3.3 merupakan infografis yang penulis desain untuk kemudian diunggah ke berbagai media sosial melalui akun resmi DISKOMINFO KAL-BAR sehingga pelaku usaha mendapatkan informasi lebih akurat dan mengikuti jadwal operasional usahanya sesuai peraturan yang berlaku. Pada gambar 3.3, penulis meringkas peraturan Gubernur Kalimantan Barat sehingga poin-poin penting dapat dimengerti oleh masyarakat secara cepat. Kalimat yang digunakan juga bersifat universal sehingga menutup celah multi tafsir.
Output lainnya adalah infografis mekanisme pendaftaran vaksinasi
masyarakat lanjut usia, ucapan selamat tahun baru Imlek 2572 pada tanggal 12 Februari 2021, serta poster edukasional sosialisasi vaksinasi. Penulis juga merancang dan mempublikasikan video terkait slogan
#TakKenalMakaTakKebal pada platform YouTube sebagai sarana sosialisasi masyarakat agar mematuhi peraturan pemerintah terkait pencegahan persebaran pandemi.
6. Pengunggahan pada media sosial Instagram dan YouTube Dinas KOMINFO Provinsi Kalimantan Barat. Penulis melakukan publikasi berkala pada media sosial Instagram @diskominfo.kalbar sebagaimana terlihat pada gambar 3.2 yang bertujuan mengedukasi masyarakat terkait informasi pandemi COVID-19 serta vaksinasi sehingga diharapkan kewaspadaan masyarakat terhadap penularan pandemi dan kepercayaan masyarakat terhadap vaksinasi meningkat. Tidak terdapat ketentuan khusus dalam pembuatan konten. Kebebasan dalam membuat konten diberikan selama relevan dengan kondisi pandemi, vaksinasi, dan kebijakan pemerintah.
3.3.3 Kendala yang Dihadapi dalam Proses Kerja Magang
Kendala yang penulis alami selama proses praktik kerja magang diantaranya
yaitu keterbatasan sarana komputer untuk proses penyusunan dan editing konten,
sehingga penulis harus membawa laptop sendiri agar konten dapat dibuat tepat
kegiatan sosialisasi vaksin dimana jumlah orang yang ditugaskan dinilai terlalu sedikit. Begitu pula pada proses pengumpulan input dan pembuatan output, dimana penulis melakukan seluruh proses sendirian. Apabila terdapat pembagian kerja pada tahapan desain, maka pengerjaan dapat dilakukan dengan lebih efektif.
Kendala dari sisi audiens adalah menyebarnya stigma negatif terhadap vaksin, dimana sebagian masyarakat cenderung mempercayai sumber informasi yang lemah dibanding sumber kredibel, sehingga menghambat proses sosialisasi di Kalimantan Barat secara khusus dan Indonesia secara umum.
3.3.4 Solusi dari Kendala yang Ditemukan dalam Proses Kerja Magang
Menurut penulis, solusi dari masalah pertama yang dipaparkan adalah penambahan unit komputer sehingga proses pembuatan konten dan pengunggahan dapat dilakukan secara efisien. Spesifikasi minimal yang penulis sarankan adalah prosesor Intel Core i3 generasi ke sepuluh dengan kartu grafis Nvidia MX250 atau yang setara sehingga mendukung proses editing dan rendering dengan lebih kuat.
Solusi untuk masalah kedua adalah menambah jumlah pegawai tetap ataupun yang bersifat internship dan melakukan pembagian kerja pada proses desain sehingga beban kerja pegawai tidak melebihi kemampuannya dan pembagian tugas berjalan dengan lebih baik. Adapun untuk menanggulangi stigma negatif terkait vaksin, maka dibutuhkan upaya pemerintah dan kelompok masyarakat untuk mengedukasi masyarakat agar tidak mempercayai informasi yang tidak jelas sumbernya.
3.3.5 Kritik Terhadap Institusi Pemerintah (KOMINFO) terkait Kebijakan dan Regulasi dari Aktivitas Penyuluhan Vaksinasi pada Pandemi Covid-19
Penyebaran konteks informasi yang dilakukan KOMINFO KALBAR
berupa campaign dan edukasi mengenai aktivitas vaksinasi yang dilakukan di
Provinsi Kalimantan Barat tentu berbeda dengan konteks penyampaian pada
masyarakat Ibukota Jakarta. Khususnya pada Tenaga Kesehatan (NAKES)
harusnya berbeda dalam konteks penyampaian dan penginformasian kepada
masyarakat umum dan berbagai sasaran lainnya. Idealnya, penyebaran informasi yang dilakukan memiliki bagian-bagian serta jangkauan yang berbeda karena sasaran-sasaran aktivitas vaksinasi yang dilaksanakan pemerintah memiliki jangkauan yang luas dan sasaran prioritas berbeda. Penginformasian kebijakan dan regulasi dalam yang dilakukan Provinsi Kalimantan Barat khususnya Kota Pontianak pada institusi KOMINFO dinilai kurang efektif karena penginformasian terkait aktivitas vaksinasi disamaratakan secara menyeluruh (massive) kepada berbagai sasaran vaksinasi yang tentunya sasaran tersebut memiliki skala prioritas yang berbeda dan tantangan terhadap sasaran penerima vaksin tentunya berbeda pula.
Tantangan pada campaign dari aktivitas penyuluhan vaksinasi yang terjadi khususnya masyarakat umum belum memiliki awareness yang tinggi terkait pentingnya vaksinasi. Karena masyarakat umum sangat mudah terdistraksi oleh berita bohong atau hoaks tentang bahaya dari vaksinasi sehingga sebagian masyarakat enggan melakukan vaksinasi. Kinerja KOMINFO sangat diharapkan untuk mengatasi dan meminimalisir hoaks yang beredar di masyarakat terhadap vaksinasi di masa pandemi Covid-19. Karena Banyak mitos dan hoaks yang beredar di masyarakat tentang Vaksin COVID-19 yang juga menjadi faktor yang menimbulkan keraguan masyarakat untuk menjalani Vaksinasi, seperti mengapa Vaksin dari China? Aman atau tidak? sampai pada ketakutan Vaksin tidak Halal (Iman, 2020). Sehingga masih banyak masyarakat yang merasa takut untuk melakukan Vaksinasi karena beredarnya hoax di masyarakat. Ketakutan ini semakin menyebar hingga efek yang dirasakan setelah Vaksinasi. Sebenarnya, efek yang muncul setelah Vaksinasi tidak perlu dikhawatirkan (Susilo, et., al, 2021).
Penelitian Susilo, et., al (2021) memiliki temuan bahwa informasi yang
disampaikan terkait dengan kualitas dan keamanan Vaksin, hingga proses
pengembangan Vaksin. Sehingga Vaksinasi dapat melindungi diri sendiri, dan juga
melindungi negara. Sebaiknya berfokus pada pakar medis daripada influencer
media sosial, pada Kementerian Kesehatan salah satunya telah memberikan rincian
tentang keterlibatan orang dalam hubungan saling percaya. Pendekatan konservatif
digital natives, tetapi sebagian besar orang yang terus-menerus berada di media