VI. KESIMPULAN DAN SARAN. Berdasarkan hasil penelitian, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa implementasi

Teks penuh

(1)

VI. KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa implementasi Program Keluarga Harapan (PKH) dalam upaya penanggulangan kemiskinan di Kabupaten Lampung Timur, dapat dilihat dari enam indikator sebagai berikut:

a. Standar dan sasaran kebijakan

Implementasi kebijakan tidak dapat berjalan dengan baik jika standar dan sasaran kebijakan kabur dan tidak terukur, dalam pelaksanaan PKH di Kabupaten Lampung Timur standar yang digunakan untuk menetapkan sasaran kebijakan adalah buku pedoman umum pelaksanaan PKH. Penentuan sasaran kebijakan PKH dengan close system yang tidak disesuaikan dengan keadaan data di lapangan menyebabkan sasaran kebijakan belum tercover secara keseluruhan. Hal ini dapat diminimalisir dengan cara pemerintah pusat dan daerah bekerjasama dan koordinasi dalam menentukan sasaran kebijakan, apabila pemerintah pusat dan daerah dapat bekerjasama adanya close system tidak menjadi kendala justru menjadikan PKH, program yang benar-benar tepat sasaran dan tidak adanya intervensi dari pihak manapun. Sehingga jika dilihat dari indikator ini implementasi PKH dalam upaya penanggulangan kemiskinan di Kabupaten Lampung Timur belum dapat berjalan efektif

(2)

b. Sumber daya kebijakan

Sumber daya kebijakan adalah hal yang utama agar implementasi dapat berjalan dengan baik, tanpa adanya sumber daya kebijakan implementasi tidak akan berjalan. Sumber Daya Manusia (SDM), dalam pelaksanaan PKH di Kabupaten Lampung Timur dari segi kuantitas yang tersedia sudah ideal dengan peraturan yang berlaku. Sedangkan untuk kualitas masih terdapat implementor yang memiliki kualitas yang kurang memadai, kurangnya kualitas implementor diakibatkan karena sebagian besar implementor memiliki double job sehingga tidak terfokus dengan pekerjaan PKH. Selain Sumber daya manusia, sumber daya finansial sangat dibutuhkan agar kebijakan dapat berjalan efektif dan efisien, sumber daya non manusia (finansial) yang terdapat di Kabupaten Lampung Timur, masih belum terpenuhi seperti, seragam bagi pendamping dan operator, Perangkat Komputer (PC) atau Laptop bagi operator, ATK. Sarana dan prasarana tersebut seharusnya sudah terpenuhi sebelum kebijakan PKH dilaksanakan di Kabupaten Lampung Timur, namun kenyataannya walaupun PKH sudah diterapkan sejak tahun 2014 sarana dan prasarana tersebut belum terpenuhi, dilihat dari indikator ini, implementasi PKH di Kabupaten Lampung Timur belum dapat berjalan efektif dan efisien.

c. Hubungan antar organisasi

Suatu kebijakan tidak dapat berjalan jika instansi dan lembaga terkait tidak dapat bekerjasama dengan baik. Hubungan antar organisasi dalam pelaksanaan PKH di Kabupaten Lampung Timur sangat dibutuhkan, agar proses implementasi dapat berjalan sesuai dengan tujuan. Hubungan antar

(3)

organisasi pelaksanaan PKH belum dapat dikatakan baik, hal ini dapat dilihat kurangnya koordinasi dan kerjasama antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah dalam menetapkan sasaran penerima PKH. Sedangkan untuk kerjasama antar instansi di daerah sudah cukup baik, terlihat dari kerjasama yang dilakukan oleh dinas-dinas terkait yang bersedia memberikan data dan informasi dalam proses pelaksanaan PKH di Kabupaten Lampung Timur, selain itu dinas terkait juga membantu dalam menyelesaikan permasalahan di lapangan. Implementasi PKH di Kabupaten Lampung Timur jika dilihat dari hubungan antar organisasi belum berjalan dengan baik.

d. Karakteristik agen pelaksana

Karakteristik agen pelaksana yang berupa SOP dan Struktur merupakan hal yang penting agar implementasi dapat mencapai tujuan yang telah ditetapkan, dalam pelaksanaan PKH di Kabupaten Lampung Timur struktur dan SOP sudah tersedia, tetapi tidak adanya pembagian wewenang yang jelas serta kurangnya koordinasi antara pemerintah pusat dan daerah menimbulkan permasalahan dalam pelaksanaan PKH, selain itu implementor sebagian belum sepenuhnya menjalankan tugas sesuai dengan struktur dan SOP yang berlaku, seperti tidak menyelesaikan tugas tepat waktu, sebagian pendamping tidak menggumpulkan laporan bulanan, tidak menghadiri kegiatan rapat bulanan, permasalahan tersebut terjadi karena kurangnya komitmen implementor dalam menajalankan tugas. Dilihat dari karakteristik agen pelaksana implementasi PKH di Kabupaten Lampung Timur belum efektif.

(4)

e. Kondisi sosial, politik, dan ekonomi

Kondisi sosial, politik, dan ekonomi yang mendukung akan mempermudah suatu kebijakan diterapkan dan mencapai tujuan, dalam pelaksanaan PKH di Kabupaten Lampung Timur, Kondisi sosial, politik, dan ekonomi sangat mendukung yang terlihat dari segi sosial masayarakat di Kabupaten Lampung Timur yang belum sadar akan pentingnya pendidikan dan kesehatan, sehingga PKH sangat cocok diterapkan dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat, keadaan ekonomi masyarakat yang masih berada dalam garis kemiskinan sehingga PKH mudah diaplikasikan di masyarakat dan bermanfaat bagi masyarakat, sedangkan dari segi politik dapat dilihat pelaksanaan PKH di Kabupaten Lampung Timur tidak diintervensi dari pihak manapun bahkan pemerintah daerah bersedia dalam memberi anggaran untuk pelaksanaan PKH, dilihat dari segi sosial, ekonomi dan politik sangat mendukung diterapkanya PKH.

f. Disposisi implementor

Implementor merupakan ujung tombak dalam sebuah kebijakan, pengetahuan, dan respon implementor akan berpengaruh terhadap kemauannya dalam menjalankan tugasnya. Para pendamping, operator serta dinas terkait sudah memahami apa itu PKH, dan sangat mendukung dengan dilaksanakan PKH di Kabupaten Lampung Timur, tetapi kurangnya komitmen, kejujuran implementor untuk menjalankan tugas dengan baik, serta terdapat implementor yang memiliki double job menyababkan implementasi PKH tidak dapat berjalan dengan baik.

(5)

B. Saran

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, saran yang dapat peneliti berikan dalam “Implementasi Program Keluarga Harapan( PKH) dalam upaya penanggulangan kemiskinan di Kabupaten Lampung Timur, adalah sebagai berikut:

1. Kelemahan dalam implementasi PKH di Kabupaten Lampung Timur adalah data yang digunakan untuk menentukan sasaran penerima bantuan, menggunakan data tahun 2011, sehinga banyak data yang sudah tidak sesuai dengan keadaan di lapangan, tidak adanya penambahan jumlah penerima bantuan ( close system) membuat sasaran kebijakan PKH tidak semuanya terpenuhi. Permasalahan tersebut dapat diminimalisir dengan cara pemerintah daerah dan pusat harus bekerjasama dan koordinasi dalam menentukan sasaran kebijakan PKH, sehingga tidak adanya open system tidak akan menjadi permasalahan apabila data yang digunakan adalah data terbaru, selain itu sebaiknya para pendamping harus taat masalah administrasi sehingga penyaluran dapat sesuai dengan jadwal yang sudah ditentukan oleh Kementerian RI.

2. Implementor sebagai ujung tombak keberhasilan pelaksanaan PKH di Kabupaten Lampung Timur, justru masih memiliki kualitas yang rendah, hal tersebut terjadi karena terdapat implementor yang memiliki double job hal ini membuat implementor tidak fokus dalam melaksanakan tugas di PKH.

Sehingga perlu adanya peraturan yang jelas untuk menindak implementor yang memiliki double job agar pelaksanaan PKH di Kabupaten Lampung Timur dapat mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

(6)

3. Implementasi PKH di Kabupaten Lampung Timur masih terkendala dengan belum terpenuhinya sarana dan prasarana seperti seragam bagi pendamping dan operator, Perangkat Komputer (PC) atau Laptop bagi operator, ATK, belum terpenuhinya sarana dan prasarana tersebut menjadi penghambat pelaksanaan PKH, untuk itu sebaiknya pemerintah daerah segera memenuhi sarana dan prasarana agar pelaksanaan PKH dapat berjalan dengan baik dan tidak mengalami kendala dari segi sarana dan prasarana.

4. Hubungan antar instansi menjadi sangat penting agar suatu kebijkan dapat mencapai tujuan yang telah ditetapkan, dalam pelaksanaan PKH di Kabupaten Lampung Timur hubungan antar organisasi belum dapat berjalan dengan baik, maka perlu adanya koordinasi dan kerjasama baik antara pemerintah pusat dengan daerah maupun seluruh instansi di daerah Kabupaten Lampung Timur.

5. Program Keluarga Harapan dilaksanakan di Kabupaten Lampung Timur pada tahun 2014, PKH merupakan program baru sehingga banyak masyarakat, lembaga atau instansi belum mengetahui sistem pelaksanaan PKH, hal ini menyebabkan banyak terjadi permasalahan dan salah pemahaman di masyarakat, oleh karena itu perlu adanya sosialisasi yang lebih luas kepada seluruh instasnsi terkait, dan masyarakat tentang PKH sehingga permasalahan yang terjadi di masyarakat dapat diminimalisir.

(7)

6. Kurangnya komitmen para implementor serta instansi terkait dalam menjalankan tugas dengan baik dan jujur, seperti masih terdapat implementor yang tidak menyelesaikan tugas tepat waktu, pendamping yang double job.

instansi yang tidak memberikan data sesungguhnya, sehingga perlu ada peraturan yang jelas dan tegas untuk menindak para implementor yang tidak taat administrasi agar tidak menghambat jalannya pelaksanaan PKH. Selain itu perlunya pengawasan bagi implementor agar menjalankan tugas dengan baik.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :