• Tidak ada hasil yang ditemukan

JURNAL KOMUNIKASI HUKUM Volume 9 Nomor 1, Februari 2023

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "JURNAL KOMUNIKASI HUKUM Volume 9 Nomor 1, Februari 2023"

Copied!
25
0
0

Teks penuh

(1)

P-ISSN: 2356-4164, E-ISSN: 2407-4276

Open Access at : https://ejournal.undiksha.ac.id/index.php/jkh

Program Studi Ilmu Hukum Fakultas Hukum dan Ilmu Sosial

Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja

704

IMPLEMENTASI RATIFIKASI PARIS AGREEMENT OLEH INDONESIA DAN PENGARUHNYA TERHADAP KEBIJAKAN PEREKONOMIAN INDONESIA

Natalia Yeti Puspita, Aloysius Deno Hervino

Fakultas Hukum, Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya

E-mail: [email protected], [email protected] Info Artikel Abstract

Masuk: 1 Desember 2022 Diterima: 15 Januari 2023 Terbit: 1 Februari 2023 Keywords:

Implementation,

Ratification of the Paris Agreement, Climate Change, Economic Policy, Indonesia

Indonesia as a country that ratified the Paris Agreement through Law Number 16 of 2016, has committed to voluntarily setting a target to reduce greenhouse gas emissions in Indonesia. This certainly affects economic policy in Indonesia. This study aims to analyze the implementation of the ratification of the Paris Agreement by Indonesia and its effect on Indonesia's economic policy. This research is an empirical juridical or socio-legal research, which is analyzed with the approach of law and economics.

The results of the study show that the implementation of the Paris Agreement by Indonesia in the 2016-2020 period has not met the expected target, which can be seen from the absence of a significant reduction in greenhouse gas emissions due to the increasing volume of exports and the use of coal in Indonesia.

The lack of harmonization between environmental policies and economic policies is one of the root causes of the failure to achieve the target of reducing greenhouse gas emissions in Indonesia. In other words, the implementation of the ratification of the Paris Agreement by Indonesia has not been in line with economic policies in Indonesia.

(2)

705 Abstrak

Kata kunci:

Implementasi, Ratifikasi Paris Agreement, Perubahan Iklim, Kebijakan Perekonomian, Indonesia.

Corresponding Author:

Natalia Yeti Puspita, e-mail : [email protected]

Indonesia sebagai negara yang meratifikasi Paris Agreement melalui Undang-Undang Nomor 16 tahun 2016, telah berkomitmen secara sukarela menetapkan target untuk menurunkan emisi gas rumah kaca di Indonesia. Hal ini tentu berpengaruh terhadap kebijakan perekonomian di Indonesia.

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tentang pelaksanaan ratifikasi Paris Agreement oleh Indonesia dan pengaruhnya terhadap kebijakan perekonomian Indonesia. Penelitian ini merupakan penelitian yuridis empiris atau sosio legal, yang dianalisis dengan pendekatan ilmu hukum dan ilmu ekonomi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan Paris Agreement oleh Indonesia pada periodesasi tahun 2016-2020 belum sesuai dengan target yang diharapkan terlihat dari belum adanya penurunan emisi gas rumah kaca yang signifikan akibat meningkatnya volume ekspor dan penggunaan batubara di Indonesia. Belum adanya harmonisasi antara kebijakan lingkungan dan kebijakan ekonomi menjadi salah satu akar permasalahan dalam kegagalan pencapaian target penurunan emisi gas rumah kaca di Indonesia.

Dengan kata lain pelaksanaan ratifikasi Paris Agreement oleh Indonesia belum sejalan dengan kebijakan perekonomian di Indonesia.

@Copyright 2023.

PENDAHULUAN

Permasalahan perubahan iklim telah menjadi permasalahan global terkait lingkungan hidup dan kehidupan manusia. Berdasarkan laporan dari Intergovernmental of Panel on Climate Change IPCC ke-5 diketahui bahwa perubahan iklim merupakan peristiwa yang nyata dan dampaknya terus mengkawatirkan.1 Perubahan iklim diakui sebagai sebuah akibat dari naiknya suhu permukaan bumi karena meningkatnya emisi gas rumah kaca (selanjutnya disebut GRK) yang dibuang ke atmosfer sebagai residu dari kegiatan manusia.2 Salah satu bukti nyata dapat dilihat dari naiknya kosentrasi CO2 di atmosfer melewati 400 pmm pada

1 Direktorat Jenderal Pengendalian Perubahan Iklim- Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan

“Amanat Perubahan Iklim”, 2017, http://ditjenppi.menlhk.go.id/kcpi/index.php/tentang/amanat- perubahan-iklim/amanat, diakses 21 Mei 2022.

2 Ibid.

(3)

706 bulan Juni 2013 sejak pertama kalinya selama periode 800.000 tahun.3 Adapun kenaikan suhu global telah mencapai 0.850 Celsius dibandingkan dengan kondisi rata-rata pada masa pra-industri. Jika hal ini terus terjadi, maka pada tahun 2100 konsentrasi CO2 di atmosfer akan di atas 1000 ppm.4 Kerugian baik materiil maupun imateriil akibat perubahan iklim akan semakin besar, sehingga pada akhirnya membuat biaya rehabilitasi maupun rekonstruksi menjadi semakin mahal dan tentu saja dapat mengganggu stabilitas perekonomian negara.

Dalam rangka mengatasi permasalahan dampak perubahan perubahan iklim, PBB pada tahun 1992 menginisiasi terbentuknya United Nations Framework Convention on Climate Change (untuk selanjutnya disebut sebagai UNFCCC).5 Tujuan dibentuknya UNFCCC adalah untuk mencapai kestabilan GRK di dalam atmosfer bumi sehingga mencapai titik aman dan tidak berdampak negatif pada makhluk hidup khususnya manusia. Selain itu UNFCCC juga diproyeksikan menjadi aturan dalam rangka memperbaiki kondisi lingkungan yang sejalan dengan laju pembangunan yang berkelanjutan.6 UNFCCC memberikan rekomendasi kepada para pihak dan menyediakan lembaga untuk menjamin perlindungan dari dampak perubahan iklim.7 UNFCCC terus aktif bergerak menyuarakan pentingnya penanganan perubahan iklim. Salah satu hasil yang terlihat adalah diadopsinya Protokol Kyoto pada tahun 1997 dalam the Third Session of the Conference of Parties (COP-3). Adapun isi Protokol Kyoto tersebut antara lain mewajibkan para pihak untuk mengurangi emisi yang ditimbulkan oleh gas rumah kaca yang dimulai pada negara-negara industri. Hasil penting lainnya juga diperoleh pada tahun 2015 yaitu pada COP-21 dengan diadopsinya Paris Agreement. COP-21 dihadiri oleh 195 negara yaitu antara lain Indonesia, Jepang, Australia, Amerika Serikat dan Belanda.8

Paris Agreement berisi ketentuan tentang kontribusi yang ditetapkan secara nasional yang pada waktu dibentuk pada tahun 2015 diharapkan dapat dilaksanakan pada tahun 2020. Selain itu Paris Agreement juga diakui sebagai sebuah persetujuan bersama negara-negara untuk menahan laju peningkatan suhu permukaan bumi di bawah 20 Celsius di atas suhu pada saat zaman sebelum revolusi industri dan meneruskan usaha untuk membatasi peningkatan suhu hingga 1.50 di atas suhu periode sebelum revolusi industri.9

Indonesia adalah salah satu negara yang terdampak akibat adanya perubahan iklim. Perubahan iklim telah mengancam keberlangsungan hidup masyarakat Indonesia. Wilayah Indonesia terdiri dari ribuan pulau dan banyak masyarakat

3 BPHN, “RUU Ratifikasi Paris Agreement”,

https://www.bphn.go.id/data/documents/na_ruu_ratifikasi_paris_agreement.pdf, diakses 21 Mei 2022.

4 Ibid.

5Anak Agung Made Ngurah Panca Septiadi dan Made Maharta Yasa, “Kekuatan Mengikat Paris Agreement Kepada Negara-Negara Anggotanya”, Jurnal Kertha Desa, Vol. 9 No. 8, 2021, hlm 14.

6 Ibid.

7 Desi Arisanti, “Politik Indonesia dalam Isu Lingkungan: Studi Kasus Kepentingan Indonesia dalam KTT Perubahan Iklim di Paris Tahun 2015”, Proceeding 6th University Research Colloquium, hlm.

269-280, https://journal.unimma.ac.id/index.php/urecol/article/view/1427, diakses 16 Mei 2022.

8 Anak Agung Made Ngurah Panca Septiadi dan Made Maharta Yasa, Op. Cit., hlm 14.

9BPHN, Loc.cit.

(4)

707 Indonesia yang tinggal di pesisir pantai. Naiknya permukaan laut telah menyebabkan beberapa pulau kecil Indonesia tenggelam, rusaknya ekosistem pesisir pantai, terganggunya mata pencaharian masyarakat pesisir pantai, sampai dengan rusaknya infrastruktur yang menunjang terhubungnya masyarakat antar pulau. Di sisi lain, perubahan iklim juga telah menyebabkan kemarau panjang dan gagal panen bagi para petani sehingga menggangu stabilitas pangan dalam negeri.

Oleh karena itu, Pemerintah Indonesia memandang perlu untuk terus terlibat dalam penanganan perubahan iklim, salah satunya dengan ikut serta menandatangani dan mengesahkan Paris Agreement menjadi peraturan perundang- undangan sebagai landasan hukum yang kuat dalam upaya mitigasi dan adaptasi dampak perubahan iklim di Indonesia. Paris Agreement diratifikasi oleh Indonesia melalui Undang-Undang Nomor 16 tahun 2016 tentang Pengesahan Paris Agreement to the United Nations Framework Convention on Climate Change pada tanggal 24 Oktober 2016. Dalam ketentuan tersebut disebutkan bahwa pengendalian perubahan iklim merupakan mandat dari Pasal 28 H UUD 1945 yang menyatakan bahwa setiap orang berhak hidup sejahtera, lahir dan batin, bertempat tinggal dan mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat serta berhak memperoleh pelayanan kesehatan.10 Ratifikasi yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia menunjukkan bentuk tanggung jawab perlindungan negara terhadap warga negaranya.

Berdasarkan ketentuan Paris Agreement yang telah diratifikasi oleh Indonesia, Indonesia tidak mempunyai kewajiban seperti negara maju yang tergabung dalam Annex 1 untuk mengurangi emisi GRK, akan tetapi Indonesia berkomitmen secara sukarela dengan menetapkan target untuk ikut serta menurunkan emisi GRK. Selain itu Indonesia mempunyai kewajiban untuk menyampaikan Nationally Determined Contribution (selanjutnya disebut NDC). NDC Indonesia meliputi mitigasi dan adaptasi yang ditetapkan secara berkala. Pada periode pertama Indonesia berkomitmen mengurangi emisi sebesar 29% melalui usaha sendiri.11 Apabila ada kerja sama internasional melalui dukungan dana, transfer teknologi dan peningkatan kapasitas negara maka target pengurangan emisi ditetapkan menjadi 41% pada tahun 2030.12 Penurunan laju emisi ini difokuskan pada bidang energi termasuk transportasi, kehutanan, limbah proses industri dan penggunaan produk, serta bidang agraris.13 Usaha mitigasi dan adaptasi dampak perubahan iklim yang dilakukan oleh Indonesia meskipun dimungkinkan adanya bantuan internasional, akan tetapi tetap membutuhkan anggaran keuangan nasional yang tidak sedikit. Hal ini tentu saja dapat berdampak pada stabilitas keuangan negara. Di sisi lain ketergantungan Indonesia pada energi batubara sebagai salah satu sumber devisa

10 Lihat isi Pasal 28 H UUD 1945.

11 Indra Adi Permana Girsang, “Konsekuensi Hukum bagi Indonesia tentang Penurunan Emisi gas Rumah Kaca Pasca Ratifikasi Paris Agreement”, Skripsi, Universitas Brawijaya, Malang, 2018, hlm. 3, http://repository.ub.ac.id/id/eprint/161764/1/Indra%20Adi%20Permana%20Girsang.pdf diakses 21 Mei 2022

12 Ibid.

13 Dida Migfr ridha, dkk., “Perubahan Iklim Perjanjian Paris, dan Nationally Determined Contribution”, Direktorat Jenderal Pengendalian Perubahan Iklim- Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Jakarta, 2016, hlm. 33.

(5)

708 negara menjadikannya dilema, karena ada adanya target yang harus dicapai untuk menurunkan emisi GRK, salah satu caranya dengan bentuk pengurangan volume ekspor batubara atau bahkan menghapuskan penggunaan batubara sebagai sumber energi. Penggunaan batubara sebagai sumber energi adalah salah satu penyumbang terbesar terjadinya perubahan iklim. Pelaksanaan ratifikasi Paris Agreement oleh Indonesia memiliki pengaruh dan sudah seharusnya sejalan dengan kebijakan perekonomian di Indonesia.

Berdasarkan hal tersebut tulisan ini akan menganalisi lebih dalam mengenai pelaksanaan ratifikasi Paris Agreement oleh Pemerintah Indonesia dan implikasinya terhadap kebijakan perekonomian Indonesia. Penelitian ini adalah penelitian yuridis empiris atau sosio legal. Penelitian sosio legal merupakan penelitian interdisipliner. Tujuannya adalah menggabungkan beberapa aspek perspektif disiplin ilmu khususnya dalam hal ini adalah lmu hukum dan ilmu ekonomi menjadi pendekatan tunggal, hal ini sebagai upaya untuk mengatasi beberapa keterbatasan teoritis dan metodologis dari disiplin ilmu yang bersangkutan. Penelitian ini menggunakan analisis data kualitatif yang bersifat diskriptif analitis.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Dampak global perubahan iklim telah menjadi isu global, termasuk Indonesia.

Indonesia yang merupakan negara kepulauan dan memiliki sumber daya alam yang beragam sangat mungkin terkena dampak perubahan iklim. Oleh karena itu Indonesia dapat berperan penting dalam upaya mitigasi dan adaptasi terhadap dampak perubahan iklim. Mengelola dan mengatasi dampak perubahan iklim merupakan kewajiban negara, salah satunya dengan menjadikannya sebagai agenda kerja pembangunan nasional. Berdasarkan hal tersebut, Indonesia kemudian meratifikasi beberapa Multilateral Environmental Agreement (MEA) sebagai bentuk komitmen untuk berperan aktif dalam menyelesaikan isu perubahan iklim.

Beberapa diantaranya adalah UNFCCC, Kyoto Protocol, dan Paris Agreement. Seiring dengan peningkatan kerusakan lingkungan dan peningkatan suhu global, Indonesia juga turut berperan aktif dalam perundingan terbaru UNFCCC yaitu COP-26 pada tahun 2021. Penelitian ini akan lebih menitikberatkan pada pelaksanaan Paris Agreement sebagai panduan mitigasi dan adaptasi perubahan iklim yang dilakukan oleh negara peserta dan pengaruhnya terhadap kebijakan perekonomian Indonesia.

A. Keterikatan Indonesia terhadap Multilateral Environmental Agreement Sebelum Pemberlakuan Paris Agreement

1. Keterikatan Indonesia terhadap UNFCCC

Isu pemanasan global yang mendorong terjadinya perubahan iklim dan menyebabkan dampak di berbagai bidang telah menggerakkan negara-negara di dunia mengadakan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Bumi di Rio de Janeiro Brazil pada tahun 1992. Pertemuan tersebut menghasilkan Konvensi Kerangka Kerja Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Perubahan Iklim (United Nations Framework

(6)

709 Convention on Climate Change/ UNFCCC).14 Lebih lanjut Pasal 2 UNFCCC menyebutkan tentang tujuan dibentuknya UNFCCC yaitu sebagai berikut:

The ultimate objective of this Convention and any related legal intruments that the Conference of the Parties may adopt is to achieve, in accordance with the relevant provisions of the Convention, stabilization of greenhouse gas concentrations in the atmosphere at a level that would prevent dangerous anthropogenic interference with the climate system.15

Merujuk pada Pasal 2 UNFCCC di atas dapat diketahui bahwa UNFCCC dibentuk dengan tujuan untuk menstabilkan konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer pada suatu tingkat yang dapat mencegah tindakan atau intervensi manusia yang dapat membahayakan terhadap sistem iklim. 16 sehingga pada akhirnya ekosistem dapat memberikan jaminan pada produksi pangan dan keberlanjutan pada pembangunan ekonomi.

Menilik lebih lanjut isi ketentuan UNFCCC dapat diketahui terdapat dua prinsip penting terkait perlindungan lingkungan yang harus dilaksanakan oleh para pihak yaitu prinsip Common but Differentiated Responsibilities and respective capabilities dan Prinsip Precautionary. Prinsip Common but Differentiated Responsibilities and respective capabilities terdapat dalam Pasal 3 ayat (1) UNFCCC yang menyatakan bahwa,

The Parties should protect the climate system for the benefit of present and future generations of humankind, on the basis of equity and in accordance with their common but differentiated responsibilities and respective capabilities. Accordingly, the developed country Parties should take the lead in combating climate change and the adverse effects thereof.17

Prinsip Common but Differentiated Responsibilities and respective capabilities sesuai dengan Pasal 3 tersebut di atas menjelaskan bahwa para pihak perjanjian harus melindungi sistem iklim untuk kepentingan generasi saat ini dan generasi mendatang dengan dasar keadalian/kesamaan akan tetapi dengan tanggung jawab dan kemampuan yang berbeda. Prinsip ini bermaksud mengatur tanggung jawab bersama negara-negara untuk melindungi lingkungan dan juga tanggung jawab yang berbeda disesuaikan dengan kemampuan masing-masing negara.18 Prinsip ini merupakan wujud perhatian pada negara berkembang karena perubahan sistem iklim adalah akibat tindakan negara maju di masa lampau. Oleh karena itu negara maju mempunyai tanggung jawab untuk membantu negara berkembang dalam proses penanganan dampak perubahan iklim. Salah satunya adalah komitmen

14 Direktorat Jenderal Pengendalian Perubahan Iklim- Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Loc.cit..

15 Lihat Pasal 2 UNFCCC.

16 http://scholar.unand.ac.id/42670/2/BAB%20I%20PENDAHULUAN%20aja.pdf, diakses 20 Mei 2022.

17 Lihat Pasal 3 UNFCCC dan Martin Dixon, Textbook on International Law, Fourth Edition, Blackstone Press Limited Aldine Place, London, hlm. 25.

18 Paul G. Harris, “Common but Differentiated Responsibility: The Kyoto Protocol and United States Policy, “ N.Y.U. Environtmental Law Journal, volume 27 , 1999, hlm.31.

(7)

710 untuk menyediakan dana, alih teknologi, dan bimbingan/pelatihan kepada negara berkembang untuk melakukan mitigasi dan adaptasi terhadap perubahan iklim. 19

Adapun Prinsip Precautionary diatur dalam Pasal 3 ayat (3) UNFCCC yang menyatakan bahwa, “The Parties should take precautionary measures to anticipate, prevent or minimize the causes of climate change and mitigate its adverse effects.... .”20 Merujuk isi Pasal 3 ayat (3) UNFCCC tersebut diketahui bahwa para pihak perjanjian harus melakukan tindakan pencegahan untuk mengantisipasi, mencegah atau mengurangi dampak perubahan iklim dan melakukan mitigasi.

Lebih lanjut UNFCCC juga mengatur tentang penggolongan negara peserta perjanjian yaitu dibedakan menjadi dua golongan yaitu :

a. Negara-negara Pihak Annex 1 yaitu beranggotakan negara-negara industri yang merupakan anggota Organization for Economic Co- operation and Development (OECD) pada tahun 1992 dan juga termasuk dalam negara-negara Economies in Transition/EIT. Negara ini adalah penyumbang emisi gas rumah kaca sejak revolusi industri.

b. Negara-negara Pihak Non-Annex 1. Negara ini beranggotakan negara yang memiliki kontribusi terhadap emisi gas rumah kaca jauh lebih sedikit dibanding negara Annex 1 dan memiliki pertumbuhan ekonomi yang jauh lebih rendah. Termasuk dalam golongan ini adalah negara- negara berkembang dan negara yang tergolong Less-Developed Countries. Negara berkembang merupakan negara yang rentan terhadap dampak perubahan iklim, baik dari dari sisi geografis maupun perekonomiannya. Negara Indonesia merupakan negara yang tergabung dalam negara non-annex 1.

Terkait kewajiban para pihak peserta perjaniian, UNFCCC mengaturnya dalam Pasal 4 ayat (3) yaitu menentukan bahwa negara maju dan negara yang termasuk dalam Annex I diharuskan mempersiapkan dan memberikan bantuan finasial untuk mendukung pembiayaan terkait pengendalian dampak perubahan lingkungan yang dikeluarkan oleh negara berkembang untuk memenuhi kewajiban yang diamanatkan oleh Pasal 12 ayat (1). Selain itu negara maju juga diwajibkan untuk mentransfer teknologi yang dibutuhkan oleh pihak negara berkembang.

Selanjutnya merujuk pada Pasal 4 ayat (5) UNFCCC, negara maju dan negara yang termasuk dalam Annex I diwajibkan melaksanakan semua tahapan seperti mempromosikan, memfasilitasi, dan membiayai akses terhadap transfer teknologi dan pengetahuan yang ramah lingkungan kepada negara berkembang agar negara berkembang dapat melaksanakan kewajiban yang diamanatkan oleh UNFCCC.

Adapun Kewajiban pihak non-Annex 1 yaitu negara berkembang diatur dalam Pasal 12 ayat (1) UNFCCC yang menyatakan bahwa semua negara termasuk pihak negara berkembang diwajibkan menginformasikan dalam Conference of the Parties (COP) mengenai langkah-langkah yang diambil oleh negaranya untuk melaksanakan konvensi.

19 Sukanda Husin, Hukum Lingkungan Internasional, PT. Rajagrafindo Persada, Jakarta, 2016, hlm. 84.

20 Lihat Pasal 3 ayat (3) UNFCCC.

(8)

711 UNFCC juga mengatur mengenai mekanisme pengambilan keputusan.

Pertemuan para pihak (Conference of the Parties/COP) adalah badan tertinggi dalam UNFCCC untuk mengambila keputusan. COP diadakan setiap tahun di negara yang ditunjuk sebagai tuan rumah. Dalam COP dibicarakan mengenai pelaksanaan konvensi dan kewajiban para pihak, selain itu juga mempromosikan serta memfasilitasi pertukaran informasi dan membuat rekomendasi bagi para pihak.

Tanggung jawab Pemerintah Indonesia untuk memberikan penghidupan yang layak bagi warga negaranya termasuk diantaranya bertempat tinggal, mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat, serta memperoleh pelayanan kesehatan dan pendidikan, mendorong Pemerintah Indonesia turut terlibat aktif dalam usaha pengendalian dampak perubahan iklim. Untuk itu Pemerintah Indonesia telah meratifikasi Konvensi Perubahan Iklim melalui Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1994 tentang Pengesahan United Nations Framework Convention on Climate Change (Konvensi Kerangka Kerja Perserikatan Bangsa-Bangsa Mengenai Perubahan Iklim). Indonesia tergabung dalam negara-negara yang tidak tercantum dalam Annex I. Komitmen dan kontribusi Indonesia dalam upaya pengendalian perubahan iklim dilaksanakan dengan sukarela serta mempertimbangkan kemampuan dan kedaulatan negara berdasarkan prinsip common but differentiated responsibilities-respected capabilities.21 Negara memberikan pedoman dan arahan agar pembangunan yang dilaksanakan untuk memenuhi kesejahteraan rakyat tetap memperhatikan perlindungan lingkungan dan sosial. Dengan melakukan ratifikasi UNFCCC Indonesia akan memperoleh manfaat sebagai berikut:

a. Di dalam negeri, akan menambah lagi perangkat hukum yang lebih menjamin terselenggaranya pembangunan yang berwawasan lingkungan dan berkelanjutan. Ketentuan-ketentuannya akan menjadi bagian dari hukum nasional yang mengatur masalah iklim dan lingkungan, sebagaimana yang sudah secara konsisten dilakukan oleh Negara Republik Indonesia.

b. Di luar negeri, akan menunjukkan bahwa Indonesia turut bertanggung jawab terhadap masalah lingkungan global, khususnya pada masalah perubahan iklim bumi yang dampaknya akan menimbulkan keprihatinan bersama umat manusia. Kita menyadari bahwa kegiatan manusia telah meningkatkan konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer dan peningkatan ini akan memperbesar efek gas rumah kaca yang pada gilirannya berakibat naiknya rata-rata pemanasan permukaan bumi dan atmosfer yang dapat mengganggu ekosistem.

c. Manfaat lain, lebih terbuka kesempatan yang sangat luas bagi Indonesia untuk selalu bekerja sama dan berkomunikasi dengan negara-negara lain dan organisasi-organisasi internasional melalui komunikasi informasi yang dilembagakan oleh Konvensi. Di antara Komunikasi tersebut yang penting ialah berupa pertukaran ilmiah dan teknologi karena Konvensi

21 Direktorat Jenderal Pengendalian Perubahan Iklim, “Komitmen Indonesia Dalam Pengendalian Perubahan Iklim”, http://ditjenppi.menlhk.go.id/kcpi/index.php/tentang/amanat-perubahan- iklim/komitmen-indonesia, diakses 16 Mei 2022.

(9)

712 juga membentuk Badan Pendukung untuk nasihat ilmiah dan teknologi yang terbuka bagi semua pihak dan multidisiplin. 22

Dengan meratifikasi UNFCCC, Indonesia tidak akan kehilangan kedaulatan atas sumber alam karena UNFCCC mengakui hak berdaulat negara berdasarkan Piagam PBB dan prinsip hukum internasional. Hak berdaulat adalah hak negara untuk memanfaatkan dan mengekspoitasi sumber daya alamnya secara penuh tanggung jawab dengan tidak merusak lingkungan.

2. Keterikatan Indonesia terhadap Protokol Kyoto

Protokol Kyoto merupakan sebuah protokol dibawah naungan UNFCCC yang dimaksudkan untuk melaksanakan UNFCCC dengan mengatur secara detail tahapan yang wajib dan dapat diambil oleh berbagai negara yang meratifikasinya untuk mencapai tujuan penstabilan konsentrasi Gas Rumah Kaca (GRK).23 Protokol ini merupakan mandat dari Pasal 17 UNFCCC. Lebih lanjut tujuan dikeluarkannya Protokol Kyoto termuat dalam Pasal 3 ayat (1) Protokol Kyoto yang menyatakan bahwa,

The Parties included in Annex I shall, individually or jointly, ensure that their aggregate anthropogenic carbon dioxide equivalent emissions of the greenhouse gases listed in Annex A do not exceed their assigned amounts, calculated pursuant to their quantified emissions limitation and reduction commitments inscribed in Annex B and in accordance with the provisions of this Article, with a view to reducing their overall emissions of such gases by at least 5 per cent below 1990 levels in the commitment period 2008-2012.24

Merujuk Pasal 3 ayat (1) tersebut di atas dapat diketahui bahwa negara maju mempunyai kewajiban untuk mengendalikan dan mengurangi emisi GRK secara keseluruhan sampai 5% di bawah tingkat tahun 1990 dalam periode komitmen tahun 2008-2012. Adapun negara berkembang berdasarkan Pasal 3 ayat (8) juga mempunyai kewajiban untuk mencantumkan dalam agenda kerja pembangunan nasionalnya komitmen dan kontribusi pengendalian dampak perubahan iklim.

Protokol Kyoto berisi aturan mengenai prosedur penurunan emisi GRK yang wajib dilakukan oleh negara maju yaitu sebagai berikut:

a. pelaksanaan bersama (joint implementation), yaitu upaya dan tindakan bersama negara-negara maju untuk mengurangi emsis GRK dengan melakukan proyek bersama.

22 Lihat isi UU No 6 Tahun 1994,

https://jdih.bumn.go.id/lihat/UU%20Nomor%206%20Tahun%201994#:~:text=Undang-

Undang%20UU%20Nomor%206%20Tahun%201994%20tanggal%2001,Kerja%20Perserikatan%20B angsa-Bangsa%20Mengenai%20Perubahan%20Iklim%29%20Unduh%20Detail diakses 28 Mei 2022.

23 Philippe Sands and Paolo Galizzi, Documents in International Environmental Law, Cambridge University Press, Cambridge, 2004, hlm. 153.

24 Lihat Pasal 3 ayat (1) Protokol Kyoto.

(10)

713 b. perdagangan emisi (emission trading), merupakan mekanisme perdagangan emisi antar negara industri. Negara yang memiliki kelebihan jatah emisi karbon dapat menjual kepada negara yang melampui penggunaan jatah emisinya.

c. mekanisme pembangunan bersih (clean development trading), yaitu kerja sama antara negara maju dengan negara berkembang untuk mengurangi emisi GRK.

Protokol Kyoto diadopsi pada COP ketiga pada tahun 1997 yaitu setelah tiga tahun negara pihak menegosiasikan langkah pengendalian perubahan iklim melalui penurunan emisi GRK. Negara-negara yang meratifikasi protokol ini berkomitmen untuk berkontribsi mengurangi emisi GRK. Merujuk isi ketentuan Pasal 25 Protoko Kyoto, Protokol ini akan enter into force 90 hari setelah diratifikasi oleh sedikitnya 55 negara. Protokol ini pada akhirnya memenuhi ketentuan tersebut setelah Rusia resmi melakukan ratifikasi pada tanggal 18 November 2004. Protokol Kyoto mulai diberlakukan pada 16 Februari 2005.

Mekanisme ratifikasi yang diatur dalam Protokol Kyoto ditujukan bagi tiga golongan negara yaitu golongan negara Annex I, Annex II, dan non-Annex. Negara yang meratifikasi Protokol Kyoto telah menyatakan komitmen mereka soal target penurunan emisi, target waktu dan menerima pembatasan pembatasan yang dianggap rasional.25 Negara Annex I adalah negara-negara maju yang dibebankan tanggung jawab yang lebih besar berdasarkan prinsip “common but differentiated responsibility and respective capabilities” yang dinyatakan dalam Pasal 3 UNFCCC.26 Prinsip ini diterapkan mengingat tanggung jawab historis dan berusaha untuk mengakui bahwa para negara majulah yang bertanggung jawab atas sebagian besar tingkat emisi GRK yang tinggi di atmosfer saat ini.27

Indonesia sebagai negara berkembang merupakan negara yang tergabung dalam pihak “non-annex I” sehingga tidak memiliki tanggung jawab secara hukum dalam pemenuhan komitmen penurunan emisi gas rumah kaca seperti yang diwajibkan bagi negara Annex I.28 Indonesia meratifikasi Protokol Kyoto-1997 dengan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2004 tentang Pengesahan Protokol Kyoto Atas Konvensi Kerangka Kerja Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Perubahan Iklim tanggal 3 Desember 2004. Adapun Protokol Kyoto dinyatakan mulai berlaku (enter into force) pada tanggal 16 Februari 2005.

Dengan meratifikasi Protokol Kyoto, kepentingan Indonesia secara tidak langsung dijamin perlindungannya oleh The Marrakesh Accords. Isi ketentuan The Marrakesh Accords khususnya dalam Decision II menyatakakan bahwa Global Environment Facility harus mempercepat mekanisme finansial untuk mensupport negara berkembang dalam melaksanakan Protokol Kyoto.29 Dengan meratifikasi

25 Lihat Kyoto Protocol to the United Nations Framework Convention on Climate Change, 1998.

26 Lihat Pasal 3 ayat (1) United Nations Framework Convention on Climate Change, 1992.

27 Harald Winkler & Lavanya Rajamani , “CBDR&RC in a Regime Applicable to All”, Climate Policy, Volume 14 No 1, 2014, hlm. 106, DOI: 10.1080/14693062.2013.791184.

28 Lihat Pasal 3 ayat (2) United Nations Framework Convention on Climate Change, 1992.

29 UNFCCC, ‘Report of the Conference of the Parties on its Seventh Session, held at Marrakesh from 29 October to 10 November 2001’, FCCC/CP/2001/13/Add.1 (21 January 2002), Decision 2/CP.7. Para.

5-6.

(11)

714 Protokol Kyoto maka Indonesia telah terikat untuk ikut melaksanakan pengendalian dampak perubahan iklim.

B. Keterikatan Indonesia terhadap Paris Agreement

Keberadaan Paris Agreement ditenggarai sebagai respon atas kurang efektifnya pelaksanaan Protokol Kyoto. Walaupun pada awalnya Protokol Kyoto digadang-gadang sebagai Multilateral Environmental Agreement (MEA) pertama yang akan serius dalam pengendalian dampak perubahan iklim, akan tetapi dalam praktik terdapat permasalahan dalam pelaksanaannya.30 Hingga pada akhirnya pada pertemuan COP 21 di Paris tanggal 30 November – 12 Desember 2015 disepakati untuk mengadopsi Paris Agreement sebagai hasil utama COP 21.

Paris Agreement merupakan kesepakatan negara-negara dalam COP 21 untuk mengendalikan kenaikan suhu jauh di bawah 2 derajat Celsius di atas tingkat periode pra industrialisasi serta meneruskan usaha untuk mencegah kenaikan suhu 1,5 derajat Celsius di atas tingkat periode sebelum industrialisasi. Kesepakatan ini menggambarkan kedudukan yang sama dan adanya prinsip Common but Differentiated Responsibilities and respective capabilities, yaitu bahwa setiap negara memiliki tanggung jawab bersama yang dibedakan sesuai dengan kemampuan masing-masing negara. Oleh karena itu Paris Agreement mempunyai misi utama untuk meningkatkan kapabilitas dan ketahanan negara dalam merespon dampak perubahan iklim, mempersiapkan bantuan finansial untuk menciptakan pembangunan yang ramah lingkungan. Berkaitan dengan hal tersebut maka setiap pihak perjanjian diwajibkan untuk melaporkan Nationally Determined Contribution (NDC) yang pertama setidaknya pada saat menyampaikan dokumen ratifikasi.

Berikut ini adalah isi dari Paris Agreement:

1. Persetujuan Paris ditujukan untuk membatasi kenaikan suhu global di bawah 2 °C dari tingkat pre-industri dan melakukan upaya membatasinya hingga di bawah 1.5 °C (Pasal 2).

2. Kewajiban masing-masing Negara untuk menyampaikan Kontribusi yang Ditetapkan Secara Nasional (Nationally Determined Contributions). Kontribusi penurunan tersebut harus meningkat secara periodik, dan negara berkembang perlu mendapatkan dukungan untuk meningkatkan ambisi tersebut (Pasal 3).

3. Komitmen Para Pihak untuk mencapai titik puncak emisi gas rumah kaca secepat mungkin dan melakukan upaya penurunan emisi secara cepat melalui aksi mitigasi (Pasal 4).

4. Pendekatan kebijakan dan insentif yang positif untuk aktivitas penurunan emisi dari deforestasi dan degradasi hutan serta pengelolaan hutan berkelanjutan, konservasi dan peningkatan cadangan karbon hutan termasuk melalui pembayaran berbasis hasil (Pasal 5).

30 Meinhard Doelle, “Compliance and Enforcement in the Climate Change Regime’”, Climate Change and The Law , hlm. 172.

(12)

715 5. Pengembangan kerja sama sukarela antarnegara dalam rangka

penurunan emisi termasuk melalui mekanisme pasar dan nonpasar (Pasal 6).

6. Penetapan tujuan global adaptasi untuk meningkatkan kapasitas adaptasi, memperkuat ketahanan, dan mengurangi kerentanan terhadap perubahan iklim sebagai pengakuan bahwa adaptasi merupakan tantangan global yang membutuhkan dukungan dan kerja sama internasional khususnya bagi negara berkembang (Pasal 7).

7. Pengakuan pentingnya meminimalkan dan mengatasi kerugian dan kerusakan (loss and damage) akibat dampak buruk perubahan iklim (Pasal 8).

8. Kewajiban negara maju menyediakan sumber pendanaan untuk membantu Para Pihak negara berkembang dalam melaksanakan mitigasi dan adaptasi. Selain itu, pihak lain dapat pula memberikan dukungan secara sukarela (Pasal 9).

9. Peningkatan aksi kerja sama seluruh negara dalam hal pengembangan dan alih teknologi (Pasal 10).

10. Perlunya kerja sama Para Pihak untuk memperkuat kapasitas negara berkembang dalam implementasi Persetujuan Paris dan kewajiban negara maju untuk memperkuat dukungan bagi peningkatan kapasitas di negara berkembang (Pasal 11).

11. Kerja sama Para Pihak dalam upaya penguatan pendidikan, pelatihan, kesadaran publik, partisipasi publik, dan akses publik terhadap informasi mengenai perubahan iklim (Pasal 12).

12. Pembentukan dan pelaksanaan kerangka kerja transparansi dalam rangka membangun rasa saling percaya dan meningkatkan efektivitas implementasi, meliputi aksi maupun dukungan dengan fleksibilitas bagi negara berkembang. Kerangka ini merupakan pengembangan dari yang sudah ada di bawah Konvensi (Pasal 13).

13. Pelaksanaan secara berkala inventarisasi dari implementasi Persetujuan Paris untuk menilai kemajuan kolektif dalam mencapai tujuan Persetujuan Paris (Global stocktake) dimulai tahun 2023 dan selanjutnya dilakukan setiap lima tahun (Pasal 14).

14. Pembentukan mekanisme untuk memfasilitasi implementasi dan mendorong kepatuhan terhadap Persetujuan Paris (Pasal 15).

15. Persetujuan Paris berlaku pada hari ke-30 setelah 55 negara yang mencerminkan 55% emisi global telah menyimpan piagam ratifikasi kepada depositari (Pasal 21).

16. Tidak ada pensyaratan (reservations) yang dapat dibuat terhadap Persetujuan Paris (Pasal 27).31

31 Nur Masripatin, “Strategi Implementasi NDC”, Direktorat Jenderal Pengendalian Perubahan Iklim, hlm. 4.,

http://ditjenppi.menlhk.go.id/reddplus/images/adminppi/dokumen/strategi_implementasi_ndc.pdf, diakses 22 Juni 2022. Dan lihat juga https://www.dpr.go.id/dokakd/dokumen/K7-26-

95de9302de9c819023b357f43d0422a7.pdf

(13)

716 Paris Agreement lebih bersifat umum dibandingkan Protokol Kyoto, selain itu Paris Agreement memiliki prinsip applicable to all oleh karenanya terdapat perhatian terhadap peran serta negara berkembang meskipun tetap menitiberatkan pada kewajiban negara maju.32 Paris Agreement memandatkan perlunya kerja sama bilateral dan multilateral yang lebih efektif dan efisien untuk melaksanakan aksi mitigasi dan adaptasi perubahan iklim dengan dukungan pendanaan, alih teknologi, peningkatan kapasitas yang didukung dengan mekanisme transparansi serta tata kelola yang berkelanjutan.

Indonesia adalah negara berkembang yang terletak pada wilayah yang sangat rentan akan dampak perubahan iklim. Secara umum kenaikan suhu rata-rata di wilayah Indonesia diperkirakan sebesar 0,5 – 3,92 °C pada tahun 2100 dari kondisi periode 1981-2010.33 Dengan jumlah pulau lebih dari 17.000, dan sebagian besar ibu kota provinsi serta hampir 65 % penduduk tinggal di wilayah pesisir,34 Indonesia merupakan wilayah yang rentan terhadap dampak perubahan iklim, khususnya yang disebabkan oleh kenaikan muka air laut serta banjir di wilayah pesisir atau rob. Negara harus hadir untuk melindungi warga negaranya dari dampak perubahan iklim, hal ini tertuang dalam Pasal 28 H UUD 1945 yang menyatakan bahwa setiap orang berhak hidup sejahtera, lahir dan batin, bertempat tinggal, dan mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat serta berhak memperoleh pelayanan kesehatan.

Indonesia di era kepemimpinan Presiden Jokowi telah menetapkan sembilan aksi prioritas pembangunan nasional yang dituangkan melalui Nawa Cita.

Dalam Nawa Cita dijabarkan mengenai pentingnya pengendalian perubahan iklim yaitu terletak pada:

1. Berdaulat dalam bidang politik, tercantum dalam Nawa Cita ke-1

“membangun wibawa politik luar negeri dan merespon peran Indonesia dalam isu-isu global” huruf b. 5). “Mengintensifkan kerjasama internasional dalam mengatasi masalah-masalah global yang mengancam umat manusia seperti…perubahan iklim”.

2. Berdikari dalam bidang ekonomi, tercantum dalam Nawa Cita ke-3

“membangun daulat energi berbasis kepentingan nasional” huruf h. 3).

“Merancang isu perubahan iklim bukan hanya untuk isu lingkungan semata melainkan untuk perekonomian nasional”.35

Sesuai dengan Nawa Cita, pada tahun 2015 Presiden Joko Widodo dalam COP ke 21 di Paris menyatakan komitmen Indonesia untuk mengurangi emisi gas rumah kaca (GRK) 29% di bawah Business as Usual (29%) pada tahun 2030 dan sampai 41%

dengan bantuan internasional.36 Indonesia melakukan persetujuan terhadap Paris Agreement pada tanggal 12 Desember 2015 dan menandatanganinya pada tanggal

32 Lihat Pasal 4 ayat (4) Paris Agreement (2015).

33 BPHN, “RUU Ratifikasi Paris Agreement”,

https://www.bphn.go.id/data/documents/na_ruu_ratifikasi_paris_agreement.pdf, diakses 21 Mei 2022.

34 Ibid.

35 Nur Masripatin, Op.cit, hlm. 1.

36 Ibid.

(14)

717 22 April 2016. Proses pengikatan Indonesia terhadap Paris Agreement dilanjutkan dengan cara ratifikasi Paris Agreement melalui pembentukan Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2016 pada tanggal 24 Oktober 2016 dan diundangkan pada tanggal 25 Oktober 2016. Dengan meratifikasi Paris Agreement, Indonesia menjalankan perannya sebagai negara berkembang. Indonesia menyadari bahwa kehutanan dan pemanfaatan lahan adalah sektor yang paling signifikan dalam pengendalian perubahan iklim, terutama karena kawasan hutan yang luasnya mencapai 65% dari luas wilayah negara Indonesia 187 juta km2 yang juga merupakan tempat yang kaya akan keanekaragaman hayati.37 Topik ini menjadi penting karena Indonesia terhitung sebagai salah satu negara dengan kawasan kehutanan terbesar yang menyumbang baik oksigen maupun polusi bagi dunia, hal tersebut memperkuat pertimbangan Indonesia untuk berperan serta secara maksimal dalam perjanjian ini.38 Paris Agreement akan berlaku efektif apabila terdapat 55 negara yang merepresentasikan 55% dari total emisi GRK global telah menyampaikan instrumen ratifikasinya kepada Sekretariat Jenderal PBB.39 Pada tahun 2016 telah terpenuhi persyaratan tersebut dan mulai tanggal 4 November 2016 Paris Agreement dinyatakan berlaku.

Kekuatan mengikat Paris Agreement didasarkan pada prinsip hukum internasional pacta sunt servanda,40 yang bersifat mengikat secara hukum dan diterapkan oleh semua negara dengan prinsip tanggung jawab bersama yang dibedakan dan berdasarkan kemampuan masing-masing. Pelanggaran terhadap ketentuan Paris Agreement dianggap sebagai non-compliance. Penerapan NDC Indonesia dianggap bukan sebagai pelaksanaan obligasi untuk mencapai suatu target (obligation to achieve) tetapi merupakan pelaksanaan kewajiban perilaku (obligation of conduct).41 Indonesia tidak mempunyai kewajiban untuk menurunkan emisi GRK akan tetapi Indonesia berkomitmen secara sukarela untuk ikut serta dalam penurunan emisi GRK dengan menentukan target yang akan dicapai. Akan tetapi Indonesia mempunyai kewajiban untuk menyampaikan Nationally Determined Contribution (NDC). Dokumen NDC merupakan bagian yang tidak bisa dipisahkan dari Paris Agreement yang disusun berdasarkan Prinsip Common but differentiated responsibilities and respective capabilities.42 Penyampaian NDC ke sekretariat UNFCCC merupakan salah satu bentuk pelaksanaan Paris Agreement terutama merujuk pada Keputusan 1/CP.21 paragraf 22. Prinsip clarity- transparency-understanding merupakan core principles dan isu strategis yang akan terus dirujuk dalam mengelaborasi First NDC Indonesia ke dalam rencana implementasinya di setiap bidang.43

37Djati Witjaksono Hadi, “Indonesia Menandatangani Perjanjian Paris Tentang Perubahan Iklim”, http://ppid.menlhk.go.id/siaran_pers/browse/298# , diakses 6 Juni 2022.

38 Ibid.

39 Ibid.

40 Lihat Pasal 26 Vienna Convention on the Law of Treaties (1969).

41 Daniel Bodansky, “The Legal Character of the Paris Agreement”, Review of European, Comparative, and International Environmental Law, 2016, https://ssrn.com/abstract=2735252, diakses 1 Juni 2022.

42 Ibid.

43 Ibid.

(15)

718 Pada tahun 2016 bersamaan dengan diratifikasinya Paris Agreement oleh Indonesia, Pemerintah Indonesia menyampaikan dokumen NDC pertama ke Sekretariat UNFCCC yang merupakan penjabaran lebih lanjut dan menggantikan dokumen Intended Nationally Determined Contribution (INDC) yang disampaikan oleh Indonesia sebelum COP-21 Paris.44 Sebagai bagian dari komitmen Indonesia sebelum 2020, Indonesia telah membuat upaya penurunan emisi GRK secara sukarela dengan menuangkan target penurunan emisi GRK sebesar 26% dari BaU di tahun 2020.45 Pembelajaran dan implementasi komitmen tersebut menjadi salah satu pertimbangan dalam menentukan target sampai dengan tahun 2030 yaitu menurunkan emisi GRK sebesar 29% dengan kemampuan sendiri dan sampai 41%

jika dengan dukungan internasional. 46

NDC Indonesia mencakup aspek mitigasi dan adaptasi. Sesuai dengan ketentuan Paris Agreement, NDC Indonesia akan ditinjau secara berkala dan dilakukan penyesuaian sesuai kebutuhan. NDC Indonesia terdiri dari lima sektor:

sektor kehutanan 17,2%, sektor energi 11%, sektor pertanian 0,32%, sektor industri 0,10% dan sektor limbah 0,38%. Kegiatan REDD+ juga merupakan bagian dari sektor kehutanan untuk mencapai NDC.47 Usaha-usaha tersebut sesuai dengan Pasal 5 Paris Agreement, dimana negara-negara diwajibkan untuk mengambil langkah-langkah perlindungan lingkungan untuk meningkatkan penyerapan dan penyimpanan karbon.48

Pelaksanaan Paris Agreement menjadi momentum Indonesia untuk lebih meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui upaya yang lebih intensif seperti dalam menjaga hutan, melindungi lingkungan, mengembangkan penerapan energi baru dan terbarukan, meningkatkan transportasi yang berkelanjutan, pertanian yang rendah emisi dan meningkatkan ketahanan pangan, industri yang ramah lingkungan, bangunan yang ramah lingkungan, dan pengelolaan limbah yang terpadu.49 Pelaksanaan NDC Indonesia dapat dikategorikan dalam tiga tahap yaitu:

1, Tahap pertama yaitu penyiapan prakondisi yang diselesaikan sebelum tahun 2020, terdiri dari: pengembangan ownership dan komitmen, pengembangan kapasitas, enabling environment, penyusunan kerangka kerja dan jaringan komunikasi, kebijakan satu data GRK, penyusunan kebijakan, rencana dan program KRP intervensi, dan penyusunan pedoman implementasi NDC termasuk review kesiapan memasuki periode komitmen 2020-2030;

2. Tahap kedua yaitu implementasi pada periode komitmen 2020- 2030;

44 Nur Masripatin, Op.cit., hlm.2.

45 Ibid, hlm. 8.

46 Ibid.

47 Ibid.

48 Lihat Pasal 5 Paris Agreement (2015).

49 Nur Masripatin, Loc.cit.

(16)

719 3. Tahap ketiga yaitu pemantauan dan review NDC selama periode

komitmen yang mencaku target baik dari sisi pengurangan emisi dan peningkatan kapasitas adaptasi.50

Salah satu tahap awal pelaksanaan Paris Agreement di tingkat nasional adalah mendorong penyelarasan NDC dalam program dan kegiatan kementerian terkait untuk Rencana Kegiatan pemerintah di tahun 2018 yang diarahkan menuju pencapaian target sepuluh Prioritas Nasional Pembangunan. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan ditunjuk oleh Presiden sebagai pusat atau badan utama negara yang bertanggung jawab atas perubahan iklim.

Indonesia mempunyai peraturan perundang-undangan yang berkorelasi dan bersinergi mendukung implementasi Paris Agreement. Peraturan yang dimaksud adalah sebagai berikut:

1. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria;

2. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya;

3. Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1994 tentang Pengesahan United Nations Framework Convention on Climate Change (Konvensi Kerangka Kerja Perserikatan Bangsa Bangsa Mengenai Perubahan Iklim);

4. Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan;

5. Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas;

6. Undang Undang Nomor 17 Tahun 2004 tentang Pengesahan Kyoto Protocol to the United Nations Framework Convention on Climate Change (Protokol Kyoto atas Konvensi Kerangka Kerja Perserikatan Bangsa Bangsa tentang Perubahan Iklim);

7. Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2007 tentang Energi;

8. Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah;

9. Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara;

10. Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2009 tentang Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika;

11. Undang Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup;

12. Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2009 tentang Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan

13. Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2013 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Perusakan Hutan.

14. Undang-undang Nomor 37 Tahun 2014 tentang Konservasi Tanah dan Air;

15. Undang-undang Nomor 38 Tahun 2014 tentang Perkebunan.51

50 Ibid.

51 https://www.dpr.go.id/dokakd/dokumen/K7-26-95de9302de9c819023b357f43d0422a7.pdf

(17)

720 Apabila dilihat praktik di lapangan dalam periode sebelum tahun 2020 (khususnya lima tahun sejak Paris Agreement diratifikasi Indonesia) dapat diketahui bahwa kosentrasi gas rumah kaca terutama penggunaan energi fosil (batubara) belum menunjukkan penurunan yang ditargetkan. Sejak tahun 1990- 2019 emisi penggunaan energi fosil mencapai 38M GT Co2, kemudian naik rata-rata 0.9% pertahun antara tahun 2010-2019. 52Pada tahun 2020 emisi penggunaan energi fosil turun 7% dari jumlah emisi pada tahun 2019 karena faktor pandemi covid 19. Meski demikian secara umum emisi gas rumah kaca belum menunjukkan akan mencapai puncak dan konsisten menurun setelahnya. Di sisi lain komitmen para pihak NDC belum cukup ambisius menahan suhu bumi di bawah 1.50 Celsius, justru komitmen NDC dari seluruh negara termasuk Indonesia akan mengarah pada meningkatnya suhu bumi mencapai 3-4 derajat Celsius.53 Merujuk pada data yang dikeluarkan oleh WALHI dapat diketahui bahwa pelaksanaan Indonesia terhadap ratifikasi Paris Agreement adalah sebagai berikut54:

1. Kebijakan Pemerintah Indonesia terkait penanganan dampak perubahan iklim belum memberdayakan penggunaan ilmu pengetahuan secara maksimal. Komitmen penurunan emisi GRK sampai 29% belum cukup untuk menahan suhu bumi tidak melewati 1.5 derajat celsius.

2. Kebijakan iklim Indonesia lebih didasarkan pada bidang kehutanan, lahan gambut, pertanian, dan alih fungsi lahan. Sementara penurunan emisi dari bidang energi belum diperhatikan secara maksimal, padahal penggunaan energi fosil merupakan penyumbang terbesar yang mengakibatkan perubahan iklim. Hal ini mengindikasikan belum adanya harmonisasi antara kebijakan lingkungan dan kebijakan ekonomi.

3. Kebijakan penanganan dampak perubahan iklim belum memberikan solusi yang tepat, sebagai contohnya menggantikan ketergantungan terhadap minyak bumi dan batu bara dengan penggunaan biofuel dari kelapa sawit dan pengunaan gasifikasi. Perluasan lahan kelapa sawit justru akan mengakibatkan banyaknya perluasan lahan yang menyebabkan kebakaran hutan sehingga makin memperparah naiknya emisi GRK.

4. Kebijakan penanganan dampak perubahan iklim yang tidak terintegrasi dengan baik, tumpang tindih dan kontradiksi dengan peraturan perundang-undangan lainnya seperti revisi UU Minerba dan UU Cipta Kerja.

5. Kebijakan penanganan dampak perubahan iklim yang tidak berfokus pada pemenuhan hak hidup dan hak atas lingkungan yang bersih dan sehat.

Berdasarkan hal tersebut dapat diketahui bahwa pelaksanaan Paris Agreement sangat berkorelasi dengan kebijakan perekonomian Indonesia terutama terkait penggunaan anggaran pengendalian dampak perubahan iklim dan juga ketergantungan perekonomian (penerimaan) negara dari energi karbon seperti

52 Walhi, “Lima Tahun Perjanjian Paris: Kebijakan Iklim Indonesia Tidak Serius dan Ambisius”, https://www.walhi.or.id/lima-tahun-perjanjian-paris-kebijakan-iklim-indonesia-tidak-serius-dan- ambisius, diakses 22 Juni 2022.

53 Ibid.

54 Ibid.

(18)

721 batu bara. Berikut ini akan dipaparkan lebih lanjut mengenai pengaruh ratifikasi Paris Agreement oleh Indonesia terhadap kebijakan perekonomian Indonesia.

c. Pengaruh Ratifikasi Paris Agreement oleh Indonesia terhadap Kebijakan Perekonomian Indonesia

Pelaksanaan ratifikasi Indonesia terhadap Paris Agreement diitunjukkan dengan komitmen sukarela Indonesia untuk menetapkan target penurunan emisi GRK di Indonesia. Komitmen Indonesia tersebut seharusnya selaras dan didukung oleh kebijakan ekonomi yang diberlakukan. Akan tetapi ternyata dalam praktik terdapat tantangan/hambatan untuk melaksanakan komitmen ini. Penurunan emisi GRK berarti harus menurunkan/mengendalikan pencetus /penyebab terbesar perubahan iklim yaitu salah satunya berasal dari penggunaan energi fosil (batubara). Hal ini tentu saja menjadi berdampak negatif pada kondisi perekonomian dalam negeri. Hal ini dapat dimengerti karena Indonesia adalah negara penghasil batubara terbesar keempat di dunia. Kontribusi pertambangan dan industri batubara dalam pembentukan Pendapatan Domestik Bruto (PDB) Indonesia relatif besar yakni secara rerata masing-masing sebesar 2,57% dan 2,72%. Berdasarkan laporan, kontribusi pertambangan dan industri batubara sebelum tahun 2015 masing-masing sebesar 2,69% dan 3,29%, adapun setelah tahun 2015 terjadi penurunan masing-masing sebesar 2,45% dan 2,14%.55 Kondisi tersebut dapat dilihat dalam Gambar 1.

Gambar 1. Kontribusi Batubara terhadap PDB Indonesia

Sumber: Statistik Ekonomi dan Keuangan Indoensia, Bank Indonesia

Penurunan kontribusi pertambangan dan industri batubara terhadap pembentukan PDB Indonesia bukan disebabkan oleh pengurangan produksi batubara akan tetapi lebih banyak disebabkan menurunnya harga komoditas batubara di pasar global.

Kondisi ini dapat terlihat dari selalu meningkatnya volume ekspor batubara

55 Cantika Adinda Putri, CNBC Indonesia, “Atasi Perubahan Iklim Pemerintah Habiskan Dana Rp 307 T, https://www.cnbcindonesia.com/news/20210330132332-4-233958/atasi-perubahan-iklim-

pemerintah-habiskan-dana-rp-307-t diakses 20 Juni 2022.

2,34

3,23 3,14 2,96

2,46 2,00 1,87 2,38 2,70 2,33

1,83 3,41 3,63 3,46 3,29 3,19 3,55

2,78 2,31 2,28 2,24 2,13 1,99 1,89

0,00 1,00 2,00 3,00 4,00

2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 2021 Pertambangan Batubara dan Lignit Industri Batubara dan Pengilangan Migas

(19)

722 Indonesia (lihat Gambar 2), sedangkan nilai ekspor batubara Indonesia selalu berfluktuasi (lihat Gambar 3).

Gambar 2. Volume Ekspor Batubara Indonesia

Sumber: Statistik Ekonomi dan Keuangan Indoensia, Bank Indonesia

Berdasarkan Gambar 2, tiga periode volume ekspor batubara tertinggi justru terjadi pada periode setelah ratifikasi Paris Agreement berturut-turut yaitu tahun 2019, 2021, dan 2018. Merujuk pada kondisi tersebut, maka dapat diketahui bahwa meskipun Indonesia sudah meratifikasi Paris Agreement dan berkomitmen akan mengurangi emisi GRK akan tetapi kebijakan ekonomi belum sejalan. Belum terealisasikannya alternatif pengganti energi batubara dan didukung makin naiknya permintaan ekspor batubara menyebabkakan kebijakan ekonomi Indonesia lebih condong pada keuntungan material yang menaikkan PDB negara. Naiknya volume ekspor juga menunjukkan bahwa negara lain (negara industri) masih mempunyai tingkat ketergantungan/kebutuhan yang tinggi terhadap penggunaan energi batubara. Dengan kata lain jika tidak ada permintaan/pasar tentu Indonesia tidak akan mengekspor atau bahkan menaikkan volume ekspornya. Oleh karenanya, perlu ada penegakan komitmen bersama bagi semua negara terutama negara pihak Annex 1 sebagai negara industri yang paling banyak menggunakan energi fosil batubara untuk melaksanakan kewajiban Paris Agreement dengan sungguh- sungguh.

Gambar 3. Nilai Ekspor Batubara Indonesia

0 50.000 100.000 150.000 200.000 250.000 300.000 350.000 400.000 450.000 500.000

2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 2021 286.856

348.056385.421422.637408.345

367.041370.308389.338429.047459.127

406.138433.401

(20)

723

Sumber: Statistik Ekonomi dan Keuangan Indoensia, Bank Indonesia

Lebih lanjut apabila melihat pada nilai ekspor batubara berdasar harga berlaku maka penerimaan ekspor batubara tertinggi dalam 12 tahun terakhir ada di tahun 2021, seperti tertera dalam Gambar 3. Hal tersebut menunjukkan bahwa pasca ratifikasi Paris Agreement, penerimaan pendapatan negara dari sektor energi batubaru mengalami fluktuasi dengan kecenderungan naik. Pada tahun 2020 sempat mengalami penurunan karena pengaruh pandemi Covid-19 tetapi satu tahun setelahnya naik kembali dengan pesat. Keuntungan dari sektor energi batubara yang cukup besar baik bagi pengusaha maupun negara telah menjadi hambatan paling besar untuk melalukan pembatasan di bidang perdagangan energi batu bara.

Apabila berbicara mengenai kebutuhan dana untuk pengendalian dampak perubahan iklim, maka kebutuhan dana yang diperlukan oleh Pemerintah Indonesia untuk mengendalikan dampak perubahan iklim dari tahun 2018 hingga 2030 adalah sebesar Rp. 3.461 triliun.56 Dari kebutuhan tersebut, alokasi dana yang digunakan untuk menurunkan emisi karbon adalah sebesar 29% atau sekitar Rp.266,2 triliun per tahun.57Adapun Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) secara rerata yang dialokasikan untuk perbaikan perubahan iklim adalah sebesar 4,1% dari PDB atau sekitar Rp. 86,7 triliun.58 Hal ini tentu saja masih jauh dari yang dibutuhkan.

Pada periode tahun 2018 - 2020 Pemerintah Indonesia telah mengalokasikan anggaran terkait perubahan iklim sebesar Rp.307,84 triliun.59 Masih rendahnya anggaran untuk pengendalian dampak perubahan iklim dari tahun 2019 hingga 2020 disebabkan karena adanya pandemi Covid-19 yang membuat pemerintah memfokuskan anggaran untuk menanggulangi pandemi tersebut. Selama tiga tahun tersebut, rerata penyerapan anggaran sebesar 93,5%,

56 Ibid.

57 Ibid.

58 Ibid.

59 Ibid.

0 5.000.000 10.000.000 15.000.000 20.000.000 25.000.000 30.000.000 35.000.000

2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 2021 17.801.230

26.924.58426.248.270 24.359.167

20.818.030 16.004.035

14.563.340 20.473.795

23.967.604 21.687.266

16.443.057 31.505.219

(21)

724 penyerapan terbesar ada pada tahun 2020 yaitu sebesar 100% sedangkan terendah ada pada tahun 2019 sebesar 85,5% (lihat Gambar 4).

Gambar 4. Alokasi dan Realisasi Anggaran Perubahan Iklim

Sumber: Kementerian Keuangan

Realisasi belanja pemerintah digunakan untuk mitigasi dan adaptasi perubahan iklim yaitu untuk infrastruktur fisik seperti limbah, energi, transportasi, dan pertanian.

Anggaran pengendalian dampak perubahan iklim di Indonesia terdiri dari jenis yaitu anggaran untuk mitigasi dan adaptasi perubahan iklim. Anggaran tersebut mengacu pada Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN), perencanaan pembangunan rendah karbon, roadmap NDC mitigasi, dan buku pedoman penentuan aksi mitigasi perubahan iklim. Perencanaan pembangunan rendah karbon (PPPK) maupun NDC akan memfokuskan pada sektor kehutanan dan lahan, pertanian, energi dan transportasi, limbah dan Industrial Processes and Product Use (IPPU). Dalam mitigasi perubahan iklim, sektor pertama yang ditangani adalah sektor berbasis lahan melalui pengelolaan lahan yang berkelanjutan. Mitigasi ini dilakukan untuk meningkatkan produktivitas lahan dan efisiensi pertanian dengan indikator jumnlah optimal lahan pertanian. Adapun dana yang dianggarkan digunakan untuk membiayai proyek teknologi mitigasi perubahan iklim, optimasi lahan, hijauan pakan ternak, unit pengolahan pupuk organik (UPPO), desa pertanian organik berbasis komoditas perkebunan, lahan konversi dan rehabilitasi, serta rekomendasi perlindungan dan antisipasi alih fungsi lahan. Atas dasar itu, output dari Kementerian Pertanian adalah berupa teknologi mitigasi perubahan iklim, penanganan area dampak perubahan iklim, dan pencegahan kebakaran lahan dan kebun, dan penghijauan pakan ternak.

Di bidang energi, pengendalian perubahan iklim dilakukan melalui penggunaan energi terbarukan untuk supply listrik, penerapan teknologi bersih, penambahan jaringan gas dan stasiun pengisian bahan bakar gas (SPBG). Alokasi

(22)

725 anggaran untuk bidang energi berasal dari Kementerian ESDM, Kementerian Perhubungan, dan Kementerian PUPR. Sektor transportasi meliputi pembangunan energi baru terbarukan untuk keperluan sarana dan prasarana sektor transportasi termasuk penggunaan bahan bakar nabati, pemanfaatan teknologi dan energi baru terbarukan untuk layanan dan peningkatan manajemen lalu lintas. Output yang diharapkan pada bidang transportasi adalah pengembangan sistem angkutan massal perkotaan dan subsidi angkutan massal perkotaan.

Merujuk pada pengalaman di awal masa ratifikasi Paris Agreement yang masih lemah pelaksanaannya dan juga keterbatasan anggaran keuangan negara untuk mengatasi dampak perubahan iklim, maka untuk meningkatkan pendanaan penanggulangan dampak perubahan iklim dan sekaligus melaksanakan komitmen sukarela Indonesia terhadap Paris Agreement berdasarkan Prinsip Common but Differentiated Responsibilities and respective capabilities Principles, pada tahun 2021 Pemerintah Indonesia mengeluarkan kebijakan ekonomi berupa penetapan nilai ekonomi karbon (carbon pricing ~ NEK) melalui Peraturan Presiden nomor 98 tahun 2021 yang meliputi perdagangan karbon dan pungutan atas karbon. Selain itu, dalam upaya mitigasi perubahan iklim dan pertumbuhan ekonomi berkelanjutan, pemerintah mulai memperkenalkan pajak karbon yang merupakan mandat Undang-Undang Nomor 7 tahun 2021 tentang Harmonisasi Peraturan Perpajakan.

Implementasi pajak karbon dan penerapan perdagangan karbon bertujuan untuk menciptakan pasar karbon yang berkelanjutan. Penerimaan pajak karbon dapat digunakan sebagai dana pembangunan, investasi teknologi ramah lingkungan, dan program sosial sebagai kompensasi atas dampak lingkungan bagi masyarakat.

Kebijakan pajak karbon merupakan paket kebijakan komprehensif untuk menurunkan emisi dan sekaligus stimulus untuk perekonomian yang berkelanjutan.

Pajak karbon ini mulai diterapkan pada pembangkit berbahan bakar batubara pada tanggal 1 April 2022.60 Hal ini bisa menjadi sebuah langkah untuk mengurangi ketergantungan penggunaan batubara pada pembangkit listrik. Untuk itu diperlukan sebuah transisi energi, dan untuk ini pemerintah Indonesia telah bekerja sama dengan Bank Pembangunan Asia (Asian Development Bank ~ ADB) melalui investasi menuju energi bersih.61 Selain itu pemerintah juga memberikan insentif berupa tax holiday kepada mereka yang mau berinvestasi pada energi terbarukan.62 PENUTUP

Ratifikasi Indonesia terhadap Paris Agreement membuat Indonesia terikat untuk melaksanakan ketentuan yang diamanatkan oleh Paris Agreemen, meskipun dalam hal ini kedudukan Indonesia adalah sebagai negara yang berkomitmen secara sukarela. Kekuatan mengikat Paris Agreement didasarkan pada prinsip hukum

60 ESDM, “Carbon Tax diterapkan di Pembangkitan per-1 April 2022”, https://www.esdm.go.id/id/berita- unit/direktorat-jenderal-ketenagalistrikan/carbon-tax-diterapkan-di-pembangkitan-per-1-april-2022, diakses 2 Juni 2022.

61 Badan Kebijakan Fiskal, Laporan Anggaran Mitigasi dan Adaptasi Perubahan Iklim., 2020, https://fiskal.kemenkeu.go.id/files/buku/file/CBT-NATIONAL-2018-2020.pdf, diakases 2 Juni 2022.

62 Cantika Adinda Putri, Loc.cit.

(23)

726 internasional pacta sunt servanda, yang bersifat mengikat secara hukum dan diterapkan oleh para pihak dengan prinsip tanggung jawab bersama yang dibedakan dan berdasarkan kemampuan masing-masing (Common but Differentiated Responsibilities and respective capabilities Principles). Indonesia meratifikasi Paris Agreement melalui Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2016 pada tanggal 24 Oktober 2016 dan diundangkan pada tanggal 25 Oktober 2016. Dengan meratifikasi Paris Agreement, Indonesia menjalankan perannya sebagai negara berkembang dan menjadi momentum bagi Indonesia untuk lebih meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Upaya yang dilakukan adalah dengan cara menjaga hutan, melindungi lingkungan, mengembangkan penerapan energi baru dan terbarukan, meningkatkan transportasi yang berkelanjutan, pertanian yang rendah emisi dan meningkatkan ketahanan pangan, industri yang ramah lingkungan, bangunan yang ramah lingkungan, serta pengelolaan limbah yang terpadu.

Berdasarkan Keputusan 1/CP21 Paragaraf 22 Paris Agreement, meskipun Indonesia tidak mempunyai kewajiban untuk menurunkan emisi GRK seperti negara yang tergabung dalam Annex 1, akan tetapi Indonesia tetap mempunyai kewajiban untuk menyampaikan dokumen Nationally Determined Contribution (NDC) ke sekretariat UNFCCC. Dokumen NDC merupakan bagian yang tidak bisa dipisahkan dari Paris Agreement yang disusun berdasarkan prinsip Common but differentiated responsibilities and respective capabilities. Selain itu prinsip clarity-transparency- understanding juga merupakan core principles dan isu strategis yang akan terus dirujuk dalam mengelaborasi First NDC Indonesia ke dalam rencana implementasinya di setiap bidang. Pada tahun 2016 bersamaan dengan diratifikasinya Paris Agreement oleh Indonesia, Pemerintah Indonesia menyampaikan dokumen (NDC) pertama ke Sekretariat UNFCCC yang merupakan penjabaran lebih lanjut dan menggantikan dokumen Intended Nationally Determined Contribution (INDC) yang disampaikan oleh Indonesia sebelum COP-21 Paris. Sebagai bagian dari komitmen Indonesia sebelum 2020, Indonesia telah membuat upaya penurunan emisi GRK secara sukarela dengan menuangkan target penurunan emisi GRK sebesar 26% dari BaU di tahun 2020.

Di sisi lain, kebijakan Indonesia dalam pengendalian dampak perubahan iklim tersebut ternyata mempunyai pengaruh di bidang perekonomian Indonesia.

Indonesia adalah produsen batubara terbesar keempat dunia yang berkontribusi relatif besar terhadap Pendapatan Domestik Bruto (PDB) Indonesia. Komitmen sukarela Indonesia untuk mencapai target penurunan emsisi GRK sebelum 2020 tidak terpenuhi karena justru terjadi kenaikan volume ekspor batubara dengan volume tertinggi pada tahun 2019. Penggunaan energi fosil merupakan penyumbang terbesar yang mengakibatkan perubahan iklim. Hal ini mengindikasikan belum adanya harmonisasi antara kebijakan lingkungan dan kebijakan ekonomi. Selain itu alokasi anggaran dari APBN Indonesia untuk pengendalian dampak perubahan iklim belum mencukupi dari anggaran yang dibutuhkan. Untuk mengatasi permasalahan tersebut Pemerintah Indonesia pada tahun 2021 kebijakan ekonomi berupa penetapan nilai ekonomi karbon (carbon pricing ~ NEK) melalui Peraturan Presiden nomor 98 tahun 2021 yang meliputi perdagangan karbon dan pungutan atas karbon, serta mengeluarkan Undang- Undang Nomor 7 tahun 2021 tentang Harmonisasi Peraturan Perpajakan. Kebijakan

Referensi

Dokumen terkait

Kandungan unsur hara makro pada pupuk kompos yang dihasilkan dari serasah daun bambu dan blotong secara umum memenuhi standar yang telah ditentukan oleh SNI 19-7030- 2004

Dari hasil analisa nilai selisih pengukuran koordinat menggunakan Totat Station Spectra Fokus 8” dengan GPS Geodetik Spectra SP80 adalah 0,009 m, selisih pengukuran

Program pendidikan Doktor tidak mudah dilakukan karena menyangkut berbagai hal: topik, waktu, kemampuan intelektual, semangat, dan dana pendukung. Berbagai hal

Supranto dan Nandun (2011) dan Swastha (2008) menjelaskan bahwa konsep penjualan dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain: (1) Kualitas Barang, dimana turunnya

Bahan baku utaam yang digunakan dalam pembuatan pempek adalah ikan, tapioka, air dan garam Pempek merupakan makanan tradisional masyarakat Palembang yang terbuat dari bahan

Sebuah film yang berbau illuminati dapat dilihat dari perusahaan yang memproduksi film tersebut, sekilas memang rumah produksi atau production house

b) Klien adalah orang atau organisasi yang meminta audit. Klien dalam kegiatan AMAI ini adalah Rektor, Dekan, atau Ketua Program Studi yang meminta sistem mutu

[r]