• Tidak ada hasil yang ditemukan

LAPORAN KEUANGANAN PER 31 DESEMBER 2016

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "LAPORAN KEUANGANAN PER 31 DESEMBER 2016"

Copied!
59
0
0

Teks penuh

(1)

LAPORAN KEUANGANAN

PER 31 DESEMBER 2016

2016

DINAS PERTANIAN PERKEBUNAN

DAN PETERNAKAN

(2)

PENGANTAR

Dengan mengucap puji syukur kehadirat Allah SWT, atas segala rahmat dan karunia-Nya Laporan Keuangan Dinas Pertanian, Perkebunan dan Peternakan yang terdiri dari Neraca, Laporan Perubahan Ekuitas, Laporan Operasional, Laporan Realisasi Anggaran dan Catatan Atas Laporan Keuangan per 31 Desember 2016 telah selesai disusun. Laporan Keuangan disusun sebagai pertanggungjawaban keuangan Dinas Pertanian, Perkebunan dan Peternakan atas amanah yang diemban sesuai Peraturan Perundang-undangan yang berlaku sebagaimana diatur dalam Undang-undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara, Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah, Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2010 tentang Standaar Akuntansi Pemerintahan, Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2005 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan, Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 21 Tahun 2011 tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah.

Neraca Dinas Pertanian, Perkebunan dan Peternakan per 31 Desember 2016 ditutup dengan jumlah asset sebesar Rp. 16.132.644.102,50 dan jumlah kewajiban dan ekuitas dana sebesar Rp. 16.132.644.102,50. Dalam jumlah asset sebesar Rp. 16.132.644.102,50 nilai terbesar adalah asset tetap sebesar Rp. 15.270.499.233,00 atau 94,66 %.

Laporan Perubahan Ekuitas Dinas Pertanian, Perkebunan dan Peternakan per 31 Desember 2016 ditutup dengan jumlah Ekuitas Akhir sebesar Rp. 16.122.239.340,50 atau 89,84 % jika dibandingkan dengen Ekuitas Awal sebesar Rp. 14.484.168.120,52. Laporan Opreasional tahun anggaran 2016 menunjukkan jumlah pendapatan-LO sebesar Rp 384.313.625,00 atau 60,24 % jika dibandingkan dengan realisasi tahun 2015 (Rp. 638.000.000,00 ), beban-LO sebesar Rp. 11.584.091.858,76 atau 168,44 % jika dibandingkan dengan realisasi tahun 2015 ( Rp. 6.877.230.255,56 ), dan Surplus/Defisit

(3)

dari LO tahun 2016 sebesar (Rp. 11.199.778.233,76) atau 179,51 % jika dibandingkan dengan Surplus/Defisit LO tahun 2015.

Laporan Realisasi Anggaran tahun anggaran 2016 menunjukkan jumlah pendapatan sebesar Rp 0,00 atau 0,00 % dari anggaran sebesar Rp. 25.235.000,00 atau (0,00 %) jika dibandingkan dengan realisasi tahun 2015 (Rp. 0,00 ), dan belanja sebesar Rp. 10.345.795.545,00 atau 76,36 % dari anggaran sebesar Rp. 13.548.251.750,00 atau (115,43 %) jika dibandingkan dengan realisasi tahun 2015 ( Rp. 8.962.860.899,00 ).

Demikian penyajian laporan keuangan ini, semoga dapat menjadi bahan evaluasi bagi pengambil keputusan dalam menentukan kebijakan keuangan yang akan datang.

Muntok, 31 Desember 2016 Pengguna Anggaran,

Dinas Pertanian, Perkebunan dan Peternakan

AZMAL AZ,SP.,M.EP Pembina Tingkat I / IV.b NIP. 19690419 199903 1 001

(4)

PERNYATAAN TANGGUNG JAWAB

Laporan Keuangan SKPD Dinas Pertanian, Perkebunan dan Peternakan yang terdiri dari (a) Neraca; (b) Laporan Perubahan Ekuitas (LPE); (c) Laporan Operasional (LO); (d) Laporan Realisasi Anggaran; (e) Catatan atas Laporan Keuangan Tahun Anggaran 2016 sebagaimana terlampir adalah tanggungjawab kami.

Laporan Keuangan tersebut telah disusun berdasarkan sistem pengendalian intern yang memadai, dan isinya telah menyajikan informasi pelaksanaan anggaran, posisi keuangan dan catatan atas laporan keuangan secara layak sesuai dengan Standar Akuntansi Pemerintahan.

Muntok, 31 Desember 2016

Pengguna Anggaran,

Dinas Pertanian, Perkebunan dan Peternakan

AZMAL AZ,SP.,M.EP Pembina Tingkat I / IV.b NIP. 19690419 199903 1 001

(5)

DAFTAR ISI

Halaman Pengantar …………..………. Pernyataan Tanggungjawab ... Daftar Isi ………... Daftar Lampiran ………..

Bagian I Laporan Keuangan Pokok (Versi SAP) ………...

1. Neraca...……….... 2. Laporan Perubahan Ekuitas (LPE)...…..…... 3. Laporan Operasional (LO)... 4. Laporan Realisasi Anggaran (LRA)... 5. Catatan Atas Laporan Keuangan ………...

BAB I Pendahuluan ...……... 1.1. Maksud dan tujuan penyusunan laporan keuangan ... 1.2. Landasan Hukum penyusunan laporan keuangan ... 1.3. Sistematika penulisan catatan atas laporan keuangan ... BAB II Ekonomi Makro, Kebijakan Keuangan dan Pencapaian Target Kinerja APBD ...……….…...

2.1. Ekonomi makro ………..

2.2. Kebijakan keuangan ………..

2.3. Indikator pencapaian target kinerja APBD ……….. BAB III Ikhtisar Pencapaian Kinerja Keuangan ...………...

3.1. Ikhtisar realisasi pencapaian target kinerja keuangan …...

3.2. Hambatan dan kendala yang ada dalam pencapaian target yang telah ditetapkan ...

BAB IV Kebijakan Akuntansi ...………... 4.1. Entitas Akuntansi / Entitas Pelaporan Keuangan Daerah

SKPD……..………... 4.2. Basis Akuntansi yang mendasari penyusunan

Laporan Keuangan …...………... 4.3. Basis Pengukuran yang mendasari penyusunan Laporan

Keuangan ………...………... 4.4. Penerapan Kebijakan Akuntansi berkaitan dengan ketentuan

yang ada dalam Standar Akuntansi Pemerintahan ... BAB V Penjelasan Pos-Pos Laporan Keuangan ...

5.1. Rincian dan penjelasan masing-masing pos-pos Neraca ...

i iii iv vi 1 1 3 4 5 6 6 6 7 8 10 10 13 17 21 21 22 27 27 28 29 31 37

(6)

5.1.1. Aset... ... 5.1.2. Kewajiban...

5.2. Rincian dan penjelasan masing-masing pos-pos Laporan Perubahan Ekuitas...

5.2.1. Ekuitas Awal... 5.2.2. Surplus/Defisit LO... 5.3. Rincian dan penjelasan masing-masing pos-pos Laporan

Operasional... 5.3.1. Pendapatan... 5.3.2. Beban...

5.4. Rincian dan penjelasan masing-masing pos-pos Laporan Realisasi Anggaran...

5.4.1. Pendapatan... 5.4.2. Belanja... BAB VI Penjelasan atas informasi-informasi non Keuangan SKPD

6.1. Visi dan misi Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Bangka Barat ………...

6.2. Tujuan dan Sasaran Jangka Menengah Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Bangka Barat……… 6.3. Strategi dan Kebijakan………..………... BAB VII Penutup ...………...

37 46 48 48 48 50 50 50 53 53 53 55 59 59 62 68

(7)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran Neraca : I.1 - Stock Opname Barang Pakai Habis per 31 Desember 2016

- Stock Opname Obat-obatan Ternak per 31Desember 2016

- Stock Opname Alat-alat Kedokteran Hewan per 31Desember 2016

- Stock Opname Bibit Tanaman per 31Desember 2016

- Stock Opname Hewan Ternak per 31 Desember 2016

I.2 - Rekapitulasi Buku Inventaris per 31 Desember 2016

- Rekapitulasi Penyusutan dan Akumulasi Penyusutan Aset Tetap per 31 Desember 2016 - Rekapitulasi Daftar Barang Aset Dibawah

Kapitalisasi per 31 Desember 2016

- Rekapitulasi Daftar Barang Aset Lainnya (aset rusak, pinjam pakai, tak berwujud, hilang, yang digunakan masyarakat) per 31 Desember 2016

I.3 - Daftar Utang Belanja per 31 Desember 2016 - Jurnal Penyesuaian per 31 Desember 2106

(8)

3. CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN

BAB I PENDAHULUAN

Catatan atas Laporan Keuangan Dinas Pertanian, Perkebunan dan Peternakan meliputi penjelasan naratif atau rincian dari angka yang tertera dalam Laporan Realisasi Anggaran dan Neraca. Catatan atas Laporan Keuangan ini juga mencakup informasi antara lain tentang kebijakan fiskal/keuangan, ekonomi makro, pencapaian target kinerja APBD SKPD, ikhtisar pencapaian kinerja keuangan selama tahun pelaporan, kebijakan akuntansi yang dipergunakan oleh Dinas Pertanian, Perkebunan dan Peternakan yang diharuskan dan dianjurkan untuk diungkapkan di dalam Standar Akuntansi Pemerintahan serta ungkapan-ungkapan yang diperlukan untuk menghasilkan penyajian

1.1. Maksud dan tujuan penyusunan laporan keuangan SKPD Maksud Pelaporan Keuangan

Laporan Keuangan SKPD Dinas Pertanian, Perkebunan dan Peternakan Kabupaten Bangka Barat disusun untuk menyediakan informasi yang relevan mengenai posisi keuangan dan seluruh transaksi yang dilakukan oleh Dinas Pertanian, Perkebunan dan Peternakan selama satu periode pelaporan. Laporan keuangan Dinas Pertanian, Perkebunan dan Peternakan Kabupaten Bangka Barat terutama digunakan untuk membandingkan realisasi pendapatan dan belanja dengan anggaran yang telah ditetapkan, menilai kondisi keuangan, menilai efisiensi dan efektivitas keuangan, dan membantu menentukan ketaatannya terhadap peraturan perundang-undangan.

(9)

Tujuan Pelaporan Keuangan

Laporan keuangan merupakan laporan yang terstruktur mengenai posisi keuangan dan transaksi-transaksi yang dilakukan oleh suatu entitas akuntansi dalam hal ini adalah SKPD Dinas Pertanian, Perkebunan dan Peternakan. Tujuan umum laporan keuangan adalah menyajikan informasi mengenai posisi keuangan, realisasi anggaran, dan kinerja keuangan suatu entitas pelaporan yang bermanfaat bagi para pengguna dalam membuat dan mengevaluasi keputusan mengenai alokasi sumber daya.

Tujuan spesifik laporan keuangan Dinas Pertanian, Perkebunan dan Peternakan adalah untuk menyajikan informasi yang berguna untuk pengambilan keputusan dan untuk menunjukkan akuntabilitas entitas pelaporan atas sumber daya yang dipercayakan kepadanya, dengan menyediakan informasi mengenai perubahan posisi keuangan , apakah mengalami kenaikan atau penurunan, sebagai akibat kegiatan yang dilakukan selama periode pelaporan.

1.2. Landasan Hukum penyusunan laporan keuangan SKPD

Pelaporan keuangan Dinas Pertanian, Perkebunan dan Peternakan diselenggarakan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang mengatur keuangan pemerintah daerah, antara lain:

1) Undang-undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas Korupsi, Kolusi dan Nepotisme;

2) Undang-undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara; 3) Undang-undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara; 4) Undang-undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan

(10)

5) Undang-undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah;

6) Undang-undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah sebagaimana telah diubah beberapa kali terakhir dengan Undang Nomor 9 Tahun 2015 tentang Perubahan Kedua atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintah Daerah;

7) Peraturan Pemerintah Nomor 56 Tahun 2005 tentang Sistem Informasi Keuangan Daerah;

8) Peraturan Pemerintah Nomor 57 Tahun 2005 tentang Hibah Kepada Daerah;

9) Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah;

10) Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 2014 tentang Pengelolaan Barang Milik Negara / Daerah;

11) Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2006 tentang Pelaporan Keuangan dan Kinerja Instansi Pemerintah;

12) Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2010 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan;

13) Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 21 Tahun 2011 tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah;

14) Peraturan Daerah Kabupaten Bangka Barat Nomor 6 Tahun 2008 tentang Pokok-Pokok Pengelolaan Keuangan Daerah;

(11)

15) Peraturan Bupati Bangka Barat Nomor 33 Tahun 2014 tentang Sistem Akuntansi Pemerintah Kabupaten Bangka Barat;

16) Peraturan Bupati Bangka Barat Nomor 77 Tahun 2016 tentang Kebijakan Akuntansi Pemerintah Kabupaten Bangka Barat.

1.3. Sistematika penulisan catatan atas laporan keuangan SKPD

Sistematika penulisan catatan atas laporan keuangan dapat diuraikan sebagai berikut:

BAB I Pendahuluan

1.1. Maksud dan tujuan penyusunan laporan keuangan 1.2. Landasan Hukum penyusunan laporan keuangan 1.3. Sistematika penulisan catatan atas laporan keuangan BAB II Ekonomi Makro, Kebijakan Keuangan dan Pencapaian

Target Kinerja APBD - SKPD 2.1. Ekonomi makro

2.2. Kebijakan keuangan

2.3. Indikator pencapaian target kinerja APBD BAB III Ikhtisar Pencapaian Kinerja Keuangan

3.1. Ikhtisar realisasi pencapaian target kinerja keuangan

3.2. Hambatan dan kendala yang ada dalam pencapaian target yang telah ditetapkan

BAB IV Kebijakan Akuntansi

4.1. Entitas Pelaporan Keuangan SKPD

4.2. Basis Akuntansi yang mendasari penyusunan Laporan Keuangan 4.3. Basis Pengukuran yang mendasari penyusunan Laporan Keuangan

(12)

4.4. Penerapan Kebijakan Akuntansi berkaitan dengan ketentuan yang ada dalam Standar Akuntansi Pemerintahan

BAB V Penjelasan Pos-Pos Laporan Keuangan

5.1. Rincian dan penjelasan masing-masing pos-pos Neraca 5.1.1. Aset

5.1.2. Kewajiban

5.2. Rincian dan penjelasan masing-masing pos-pos Laporan Perubahan Ekuitas

5.2.1. Ekuitas Awal 5.2.2. Surplus / Defisit LO

5.3. Rincian dan penjelasan masing-masing pos-pos Laporan Operasioan 5.3.1. Pendapatan

5.3.2. Beban

5.4. Rincian dan penjelasan masing-masing pos-pos Laporan Realisasi Anggaran

5.4.1. Pendapatan 5.4.2. Belanja

BAB VI Penjelasan atas informasi-informasi non Keuangan BAB VII Penutup

(13)

BAB II

EKONOMI MAKRO, KEBIJAKAN KEUANGAN DAN PENCAPAIAN TARGET KINERJA APBD SKPD

2.1. Ekonomi makro

Dinas Pertanian, Perkebunan dan Peternakan merupakan salah satu satker di Kabupaten Bangka Barat yang wilayah kerjanya terdiri dari 6 ( enam ) Kecamatan yaitu : Kecamatan Muntok, Kecamatan Simpang Teritip, Kecamatan Jebus, Kecamatan Parit Tiga, Kecamatan Kelapa dan Kecamatan Tempilang dengan luas wilayah kerjanya sekitar 2.855,33 km2.

Pertumbuhan ekonomi ( Economic Growth ) sampai saat ini masih dipakai untuk memantau perbaikan ekonomi suatu daerah. Struktur perekonomian juga menunjukkan besarnya kontribusi masing-masing sektor ekonomi di suatu daerah. Besarnya pengaruh suatu sektor ekonomi, sesuai dengan arah kebijakan baik ekstern maupun intern serta kemampuan daya dukung dalam meningkatkan nilai tambah bruto. Dengan mengamati struktur perekonomian akan tampak sampai seberapa jauh kekuatan ekonomi suatu daerah. Indikator perekonomian makro semacam ini sangat penting bagi pengambilan keputusan untuk mengarahkan sasaran kebijakan pembangunan di masa yang akan datang.

A. Sasaran Kinerja Keuangan Daerah

Proyeksi Pendapatan dan Belanja Tahun 2016 dengan mengacu pada data pendapatan dan laju pertumbuhan dalam APBD tahun sebelumnya adalah sebagai berikut

(14)

Prediksi Pendapatan dan Belanja untuk tahun anggaran 2016

Rp % Rp %

I. Pendapatan 25.235.000,00 100,00 50.000.000,00 198,14 1. PAD 25.235.000,00 100,00 50.000.000,00 198,14 2. Pendapatan Transfer - - - -3. Lain-lain Pendapatan yang Sah - - - -II. Belanja 13.548.251.750,00 100,00 9.765.055.188,00 72,08 1. Belanja Operasi 12.821.121.750,00 94,63 6.043.815.188,00 44,61 2. Belanja Modal 727.130.000,00 5,37 3.721.240.000,00 27,47 3. Bagi Hasil dan Bantuan Keuangan - - - -4. Belanja Tak Terduga - - - -Surplus / Defisit (13.523.016.750,00) (9.715.055.188,00)

No Uraian

Tahun

2016 2015

B. Ringkasan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Tahun Anggaran 2016

Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah / APBD SKPD Tahun 2016 setelah perubahan ditetapkan dengan Peraturan Bupati Bangka Barat No. 13 Tahun 2016 Tentang Perubahan atas peraturan Bupati Bangka Barat No. 59 Tahun 2016 Tentang Penjabaran Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Kabupaten Bangka Barat Tahun 2016 (Berita Daerah Kabupaten Bangka Barat Tahun 2016 No.8 seri A). Ringkasan APBD Tahun 2016 dan APBD tahun 2015 adalah sebagai berikut:

No U R A I A N PERBANDINGAN APBD Anggaran Tahun 2015 Anggaran Tahun 2016 Bertambah (Berkurang) % (1) (2) (3) (4) (5) (6) I PENDAPATAN 50.000.000,00 25.235.000,00 (24.765.000) (49,53)

I.1. PENDAPATAN ASLI DAERAH

(PAD) 50.000.000,00 25.235.000,00 (24.765.000) (49,53)

1.1.1

Pendapatan Pajak Daerah

0,00 0,00 0,00 0,00 1.1.2

Pendapatan Hasil Retribusi Daerah

50.000.000,00 25.235.000,00 (24.765.000)

(49,53)

1.1.3

Pendapatan Hasil Pengelolaan

Kekayaan Daerah yang

Dipisahkan 0,00 0,00

0,00 0,00

(15)

1.1.4

Lain-lain PAD yang Sah 0,00 0,00 0,00 0,00

II. BELANJA 9.765.055.188,00 13.548.251.750,00 3.783.196.562 38,74 II.1 BELANJA OPERASI 6.043.815.188,00 12.821.121.750,00 0 6.777.306.562 112,14 2.1.1 Belanja Pegawai/Personalia 3.816.649.388,00 4.229.951.000,00 413.301.612 10,83

2.1.2 Belanja Barang dan Jasa

2.227.165.800,00 5.065.170.750,00 2.898.004.950,00 127,43 2.1.3 Belanja Hibah 60.000.000,00 3.526.000.000,00 3.466.000.000 5.777 II.2 BELANJA MODAL 3.721.240.000,00 727.130.000,00 (2.994.110.000) (80,46) 2.2.1 Belanja Tanah 0,00 0,00 0,00 0,00

2.2.2 Belanja Peralatan dan Mesin

92.875.000,00 591.715.000,00 498.840.000 537,11 2.2.3

Belanja Gedung dan

Bangunan 924.905.000,00 114.275.000,00 (810.630.000) (87,64) 2.2.4 Belanja Jalan, Irigasi dan

Jaringan 2.702.500.000,00 18.000.000,00 (2.684.500.000) (99,33) 2.2.5 Belanja Aset Tetap Lainnya

960.000,00 3.140.000,00 2.180.000 227,08 II.3

BELANJA TAK TERDUGA 0,00 0,00 0,00 0,00

III.

SURPLUS ( DEFISIT)--> (I - II)

(9.775.055.188,00) (13.523.016.750,00) (3.747.961.562) 38,34

(16)

C. Ringkasan Perubahan APBD Tahun Anggaran 2016 a. Alasan Perubahan APBD

Dalam perjalanan pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Tahun 2016, terjadi perkembangan yang tidak sesuai dengan asumsi awal kebijakan umum APBD, hal ini dikarenakan adanya perubahan aspirasi, tuntutan dan kebutuhan pelayanan kepada masyarakat sehingga perlu disikapi dengan melakukan penyesuaian program dan kegiatan. Perubahan tersebut mengakibatkan perlu dilakukannya penyesuaian atau perubahan APBD tahun 2016. Kondisi yang mendasari perlunya perubahan APBD adalah sebagai berikut:

1. Adanya penambahan, penurunan dan pergeseran belanja;

2. Adanya upaya untuk peningkatan pelayanan kebutuhan dasar masyarakat serta kebutuhan-kebutuhan mendesak yang tidak bisa dihindari;

3. Penetapan alokasi dana DAK yang diterima setelah APBD Kabupaten disyahkan, yang berakibat perubahan anggaran dana pendamping melalui APBD Kabupaten / pada APBD.P terjadi penyesuaian Dana Alokasi Khusus (DAK) yang semula belum terakomodir pada anggaran awal.

b. Ringkasan APBD 2016 Perubahan

Pemerintah Kabupaten Bangka Barat mengajukan Rancangan perubahan APBD Tahun 2016 yang telah mendapat persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Bangka Barat, ditetapkan dengan Peraturan Bupati Bangka Barat No. 13 Tahun 2016 Tentang Perubahan atas peraturan Bupati Bangka Barat No. 59 Tahun 2016 Tentang Penjabaran Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Kabupaten Bangka Barat Tahun 2016 (Berita Daerah Kabupaten Bangka Barat Tahun 2016 No.8 seri A).

Ringkasan APBD 2016 Perubahan sebagai berikut:

No U R A I A N Anggaran Sebelum Perubahan Anggaran Setelah Perubahan Bertambah (Berkurang) Rp % (1) (2) (3) (4) (5) (6) I PENDAPATAN 25.235.000,00 25.235.000,00 0,00 0,00

I.1. PENDAPATAN ASLI DAERAH

(PAD)

25.235.000,00 25.235.000,00

0,00 0,00

1.1.2

(17)

II. BELANJA 20.126.385.317,20 13.548.251.750,00 (6.578.133.567,20) (32,68) II.1 BELANJA OPERASI 19.071.880.317,20 12.821.121.750,00 (6.250.758.567,20) (32,77) 2.1.1 Belanja Pegawai/Personalia 4.057.188.567,20 4.229.951.000,00 172.762.432,80 4,26

2.1.2 Belanja Barang dan Jasa

15.014.691.750,00 8.591.170.750,00 (6.423.521.000,00) (42,78) II.2 BELANJA MODAL 1.054.505.000,00 727.130.000,00 (327.375.000,00) (31,05) 2.2.1 Belanja Tanah 0,00 0,00 0,00 0,00

2.2.2 Belanja Peralatan dan Mesin 837.940.000,00 591.715.000,00 (246.225.000,00) (29,38)

2.2.3 Belanja Gedung dan Bangunan 114.275.000,00 114.275.000,00 0,00 0,00

2.2.4 Belanja Jalan, Irigasi dan

Jaringan 99.150.000,00 18.000.000,00 (81.150.000,00) (81,85)

2.2.5 Belanja Aset Tetap Lainnya 3.140.000,00 3.140.000,00 0,00 0,00

III. SURPLUS ( DEFISIT)--> (I - II) (20.101.150.317,20) (13.523.016.750,00)) 6.578.133.567,20 (32,73)

2.2. Kebijakan keuangan

Pada Tahun Anggaran 2016 kebijakan keuangan yang ditetapkan Dinas Pertanian, Perkebunan dan Peternakan dititiK beratkan pada Program Peningkatan Kesejahteraan Petani, Peningkatan Penerapan Teknologi Pertanian/Perkebunan, Peningkatan Produksi Pertanian/Perkebunan, Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Ternak, Peningkatan Produksi Hasil Peternakan, Peningkatan Pemasaran Hasil Produksi Pertanian/Perkebunan, Peningkatan Penerapan Teknologi Peternakan dan Pengembangan Jaringan Irigasi Pertanian. Pembiayaan kegiatan-kegiatan dititik beratkan untuk kepentingan masyarakat dan bantuan-bantuan berupa bibit-bibit tanaman dan ternak di wilayah Kabupaten Bangka Barat, selain penyediaan sarana prasarana, sarana produksi baik untuk aparatur maupun publik.

Kebijakan ini mempunyai pengaruh terhadap neraca dan laporan realisasi anggaran Tahun 2016, dimana pada neraca menyajikan informasi realisasi

(18)

kebijakan Dinas Pertanian, Perkebunan dan Peternakan dalam penyediaan sarana dan prasarana maupun sarana produksi dan akan meningkatkan jumlah aset yang dimiliki Dinas Pertanian, Perkebunan dan Peternakan khususnya Pemerintah Daerah.

2.2.1. Pengelolaan Pendapatan Dinas Pertanian, Perkebunan dan Peternakan

Kondisi Dan Kebijakan Anggaran Pendapatan Dinas Pertanian, Perkebunan dan Peternakan

A. Kondisi Umum Pendapatan

Pendapatan Daerah meliputi semua penerimaan uang melalui rekening Kas Umum Daerah yang menambah ekuitas dana lancar, yang merupakan hak Pemerintah Daerah dalam 1 (satu) tahun anggaran, yang tidak perlu dibayar kembali oleh Daerah dan dianggarkan secara Bruto.

Berdasarkan ketentuan Peraturan Daerah Kabupaten Bangka Barat Nomor 5 Tahun 2011 tentang Retribusi Rumah Potong Hewan, sumber pendapatan Dinas Pertanian, Perkebunan dan Peternakan berupa :

 Pendapatan Asli Daerah, berupa :

Pendapatan Retribusi Daerah ( Retribusi Rumah Potong Hewan ) B. Permasalahan Utama Pendapatan

Permasalah utama Pendapatan Dinas Pertanian, Perkebunan dan Peternakan Kab. Bangka Barat untuk Tahun Anggaran 2016, berupa :

 Permasalahan yang selalu dirasakan pada tiap tahun adalah belum dapat difungsikan / berjalannya RPH (Rumah Potong Hewan) resmi milik Pemerintah Daerah dikarenakan :

1. Secara teknis bangunan Rumah Potong Hewan (RPH) belum memenuhi standar (belum memenuhi syarat teknis);

2. Belum tersedia akses jalan masuk ke Rumah Potong Hewan (RPH); 3. Sarana dan prasarana pendukung belum tersedia (kandang istirahat,

inslatasi air bersih, sarana pengolah limbah, listrik, peralatan pemotongan dan sarana pelayuan daging yang memadai);

(19)

4. Luas lahan yang tersedia tidak mencukupi untuk penambahan bangunan infrastruktur sarana dan prasarana kelengkapan RPH yang dibutuhkan yang belum tersedia;

5. Status kepemilikan lahan RPH baru selesai pengurusannya pada tahun 2015;

6. Memperhatikan hal-hal poin 1-5 diatas, untuk dapat

memfungsikannya masih diperlukan kajian tentang kelayakan RPH tersebut sebelum dilakukan penambahan prasarana dan sarana yang dibutuhkan agar menjadi RPH yang representatif atau layak digunakan, sehingga penjual daging yang selama ini memotong sapi ditempat pemotongan masing-masing bersedia menggunakan fasilitas RPH milik Pemerintah Daerah.

 Bahwa di Kabupaten Bangka Barat belum ada Rumah Pemotongan Hewan yang dimiliki secara pribadi. Sementara itu yang ada adalah Tempat Pemotongan Hewan. Sedangkan menurut Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2014 tentang Perubahan atas UU No.18 Tahun 2009 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan dan Peraturan Menteri Pertanian RI Nomor 13/Permentan/OT.140/2010 tentang Persyaratan Rumah Potong Hewan dan Unit Peanganan Daging (Meat Cutting Plant) di dalamnya tidak memuat/mengakomodir hal-hal tentang Tempat Pemotongan Hewan, sehingga Pemerintah Daerah tidak dapat menerbitkan regulasi yang memayungi keberadaan Tempat Pemotongan Hewan tersebut.

C. Strategi dan Prioritas Pendapatan

Strategi dalam meningkatkan PAD adalah mengoptimalkan potensi PAD melalui peningkatan peran dan fungsi fasilitas yang potensial dalam memberikan kontribusinya terhadap Pendapatan Daerah.

Guna mencapai sasaran peningkatan per-tahun tersebut perlu dilakukan upaya-upaya sebagai berikut :

 Rencana pembangunan RPH (Rumah Potong Hewan) di lokasi yang strategis  Optimalisasi fungsi fasilitas, sarana dan prasarana yang dapat memberikan

kontribusi terhadap PAD, pasar hewan, pembibitan, holding ground (tempat peristirahatan ternak).

 Pengenaan sumbangan pihak ketiga atas pemasukan ternak dan atau bahan pangan asal hewan lainnya.

(20)

2.2.2. Pengelolaan Belanja Dinas Pertanian, Perkebunan dan Peternakan

Kondisi Dan Kebijakan Anggaran Belanja Dinas Pertanian, Perkebunan dan Peternakan

A. Kondisi Umum Belanja

Belanja Dinas Pertanian, Perkebunan dan Pertenakan merupakan semua kewajiban SKPD yang diakui sebagai pengurang nilai pendapatan bersih dalam periode anggaran bersangkutan, dimana Belanja diprioritaskan dalam rangka pelaksanaan urusan pilihan yang menjadi kewenangan Pemerintah Kabupaten Bangka Barat.

Dalam kaitan itu penyusunan Anggaran Belanja diprioritaskan untuk menunjang efektifitas pelaksanaan tugas dan fungsi masing-masing bidang Dinas Pertanian, Perkebunan dan Peternakan dalam rangka melaksanakan kewajiban yang menjadi tanggungjawabnya, yang berdasarkan pendekatan Prestasi Kerja yang berorientasi pada pencapaian hasil dari input yang direncanakan. Hal tersebut bertujuan untuk meningkatkan akuntabilitas perencanaan anggaran serta memperjelas efektifitas dan efisiensi penggunaan alokasi anggaran dimaksud.

Dalam penyusunan Rancangan Anggaran Belanja, usulan kegiatan diperoleh dari pengajuan Rencana Kerja dan Anggaran dari masing-masing bidang. Usulan tersebut diseleksi berdasarkan skala prioritas, dihitung dan kemudian dijabarkan ke dalam kelompok belanja yang sesuai dengan kegiatan serta sesuai kodering yang ada.

Secara garis besar Belanja di Dinas Pertanian, Perkebunan dan Peternakan dapat diuraikan sebagai berikut:

1. Belanja Tidak Langsung

Belanja Tidak Langsung merupakan belanja yang dianggarkan tidak terkait secara langsung dengan pelaksanaan program dan kegiatan. Berkenaan dengan hal tersebut maka dalam belanja tidak langsung digunakan untuk mencantumkan anggaran :

a. Belanja Pegawai yang merupakan kompensasi dalam bentuk gaji dan tunjangan serta penghasilan lainnya yang diberikan kepada Pegawai

(21)

Negeri Sipil yang ditetapkan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

b. Tambahan penghasilan kepada PNS dalam rangka peningkatan kesejahteraan pegawai berdasarkan beban kerja atau tempat bertugas, kondisi kerja atau kelengkapan profesi atau prestasi kerja.

c. Tambahan penghasilan tersebut berdasarkan pertimbangan yang obyektif lainnya dengan memperhatikan kemampuan keuangan Daerah dan memperoleh persetujuan DPRD sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

2. Belanja Langsung

Belanja Langsung merupakan belanja yang dianggarkan terkait secara langsung dengan pelaksanaan program dan kegiatan. Input belanja yang digunakan untuk menganggarkan belanja dalam rangka pelaksanaan program dan kegiatan, terdiri dari jenis belanja pegawai dalam bentuk honorarium/upah kerja, belanja barang dan jasa serta belanja modal.

B. Permasalahan Utama Belanja

Permasalahan dalam penyusunan Belanja adalah adanya kebijakan anggaran belanja (informasi anggaran belanja Dana Alokasi Khusus) Pemerintah Pusat atau Pemerintah Provinsi yang baru ditetapkan setelah SKPD telah menyusun anggaran program dan kegiatannya, sehingga hal tersebut menyebabkan SKPD harus merevisi kembali program dan kegiatan yang menjadi prioritas untuk dianggarkan.

C. Strategi dan Prioritas Belanja

Adapun prioritas Belanja dititik beratkan pada belanja kegiatan-kegiatan untuk kepentingan masyarakat, seperti berupa pembangunan jalan irigasi tingkat usaha tani, dan bantuan-bantuan berupa bibit-bibit tanaman dan ternak, selain penyediaan sarana prasarana, sarana produksi baik untuk aparatur maupun publik.

(22)

2.3. Indikator pencapaian target kinerja APBD

Secara umum Pencapaian Target Kinerja Dinas Pertanian, Perkebunan dan Peternakan Kabupaten Bangka Barat dapat dikatakan baik karena sebagian besar program kegiatan dari masing – masing PPTK dapat berjalan dengan baik dan sesuai dengan apa yang diharapkan.

Untuk kegiatan yang pencapaian/realisasinya tidak mencapai 100% (terutama proyek – proyek fisik) Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Perubahan Tahun 2016 serta Dana Alokasi Khusus ( DAK ) Tahun 2016, dikarenakan :

1. Program Pelayanan Administrasi Perkantoran dengan kegiatannya antara lain :

1.1 Penyediaan Jasa Komunikasi, Sumber Daya Air dan Listrik (Keg. 01.02). Kegiatan intinya adalah Pembayaran biaya telepon kantor, internet, listrik Kantor Dinas, Laboratorium Kesehatan Hewan dan Kandang Ternak selama 12 bulan dengan pagu anggaran sebesar Rp. 48.000.000,00 realisasi keuangan hanya Rp. 31.617.567,00 atau 65,87 % dari pagu anggaran dikarenakan anggaran dipertanggungjawabkan sesuai dengan kebutuhan, sedangkan untuk penganggaran internet sudah dilakukan survey untuk pemasangan indihome.

1.2 Penyediaan Jasa Perbaikan Peralatan Kerja (Keg. 01.09). Kegiatan intinya adalah perbaikan/pemeliharaan komputer/laptop 15

kali, printer 10 kali, pemeliharaan instalasi listrik kantor 1 kali, ac kantor 13 kali, mesin air 1 kali, dengan pagu anggaran sebesar Rp. 15.400.000,00 realisasi keuangan hanya Rp. 8.594.000,00 atau 55,81 % dari pagu anggaran dikarenakan realisasi belanja pemeliharaan untuk komputer/laptop hanya terserap setengah dari pagu yang ada, dikarenakan perbaikan sesuai dengan kebutuhan.

1.3 Penyediaan Peralatan dan Perlengkapan Kantor (Keg. 01.13)

Kegiatan intinya adalah Pengadaan Brankas, Papan Nama Ruangan/Jabatan, Mesin Potong Rumput, Pengadaan AC, Pengadaan Tangga Aluminium, Pengadaan Printer Multifungsi, Pengadaan Meja Kerja, Pengadaan Meja Rapat, Pengadaan Kursi Kerja, Pengadaan Filling Kabinet, Pengadaan Kamera DSLR dengan pagu anggaran

(23)

sebesar Rp. 99.090.000,00 realisasi keuangan hanya Rp. 75.855.000,00 atau 76,55 % dari pagu anggaran karena untuk belanja modal meja rapat pejabat tidak dilaksanakan karena spesifikasi yang ditawarkan tidak dapat dipenuhi oleh rekanan.

1.4 Penyediaan Bahan Bacaan dan Peraturan Perundang-undangan (Keg. 01.15)

Kegiatan intinya adalah langganan 2 koran lokal, langganan 1 majalah pertanian dan peternakan selama 12 bulan, langganan 1 koran pertanian selama 12 bulan, 1 koran nasional selama 12 bulan serta pembelian buku ilmu pengetahuan dan teknologi 1 paket dengan pagu anggaran sebesar Rp. 8.000.000,00 realisasi keuangan hanya Rp. 5.657.700,00 atau 70,72 % dari pagu anggaran karena untuk koran pertanian dan koran nasional tidak dibelanjakan karena harga satuan yang rendah dari harga dipasaran .

2. Program Peningkatan Sarana dan Prasarana Aparatur dengan salah satu kegiatannya yaitu :

2.1. Pemeliharaan Rutin/Berkala Kendaraan Dinas/Operasional (Keg. 02.24) Kegiatan intinya adalah Belanja jasa servis, Belanja suku cadang kendaraan dinas Roda 2, Roda 3, Roda 4. Traktor roda 4, bahan bakar minyak /gas dan pelumas dengan pagu anggaran sebesar Rp. 154.000.000,00 realisasi keuangan hanya Rp. 87.342.800,00 atau 56,72 % dari pagu anggaran dikarenakan pertanggungjawaban sudah sesuai dengan kebutuhan dan sesuai dengan harga kebutuhan BBM perliternya.

3. Program Peningkatan Penerapan Teknologi Pertanian/Perkebunan dengan salah satu kegiatannya yang tidak terealisasi 100% yaitu :

3.1 sarana dan prasarana teknologi pertanian/perkebunan tepat guna (Keg.18.02).

Kegiatan intinya adalah Pengadaan 2 unit power threasher, 2 unit RMU, 10 unit pedal threasher, 1 unit pengering. Pagu anggaran sebesar Rp. 331.750.000,00 realisasi keuangan hanya Rp.

185.790.000,00 atau 56,00 % dari pagu anggaran dikarenakan untuk pengadaan RMU (Rice Milling Unit) sebanyak 2 unit tidak dapat

(24)

dilaksanakan karena harga di e catalog lebih besar dari harga di DPA karena adanya kenaikan harga di tahun tersebut.

3.2 Penyuluhan penerapan teknologi pertanian/perkebunan tepat guna (Keg. 18.04).

Kegiatan intinya adalah melaksanakan sekolah lapang sebanyak 14 kali pertemuan yang terdiri dari petani padi dengan anggota sebanyak 30 orang. Pagu anggaran sebesar Rp. 89.850.000,00 realisasi keuangan Rp. 74.470.000,00 atau 82,88 % dari pagu anggaran dikarenakan jumlah pertemuan disesuaikan dengan juknis Kementerian Pertanian dari 16 kali pertemuan menjadi 14 kali pertemuan.

4. Program Peningkatan Produksi Pertanian/Perkebunan dengan salah satu kegiatannya yang tidak terealisasi 100% yaitu :

4.1 Penyediaan Sarana Produksi Pertanian/Perkebunan (Keg. 19.02). Kegiatan intinya adalah Pengadaan benih padi 10.000 kg, kapur pertanian 280.000 kg, pupuk organik 280.000 kg. Pagu anggaran sebesar Rp. 1.219.800.000,00 realisasi keuangan Rp. 955.070.000,00

atau 78,30 % dari pagu anggaran dikarenakan harga pasar pupuk lebih rendah dari penganggaran di DPA.

4.2 Pengembangan Bibit Unggul Pertanian/Perkebunan (Keg. 19.03). Kegiatan intinya adalah penyediaan benih padi 375 kg dan saprodi (insektisida, kapur pertanian, pupuk organik). Pagu anggaran sebesar Rp. 37.610.000,00 realisasi keuangan Rp. 29210.000,00 atau 77,67 % dari pagu anggaran dikarenakan harga pasar pupuk dan benih padi lebih rendah dari penganggaran di DPA.

4.3 Pengembangan Pembibitan Unggul Perkebunan (Keg. 19.12).

Kegiatan intinya adalah penyediaan bibit lada stek 1 ruas di 6 kecamatan. Pagu anggaran sebesar Rp. 1.691.590.000,00 realisasi keuangan Rp. 21.815.590.000,00 atau 1,29 % dari pagu anggaran dikarenakan gagal lelang karena tidak adanya penyedia yang lulus evaluasi administrasi tekhnis dan harga.

(25)

5. Program Peningkatan Produksi Hasil Peternakan dengan salah satu kegiatannya yang tidak terealisasi 100% yaitu :

5.1 Pengadaan Hewan Ternak Kepada Masyarakat (Keg. 22.13).

Kegiatan intinya adalah Pengadaan bahan bangunan dan peralatan kadang, pengadaan makanan (dedak) 2300 kg, 20 ekor sapi jantan

bakalan yang didatangkan dari lampung. Pagu anggaran sebesar Rp. 297.995.000,00 realisasi keuangan Rp. 229.571.612,00 atau 77,04

% dari pagu anggaran dikarenakan efisiensi didalam pengadaan hewan ternak dengan nilai penawaran lebih rendah dari pagu yang ditetapkan.

6. Program Peningkatan Penerapan Teknologi Peternakan dengan salah satu kegiatannya yang tidak terealisasi 100% yaitu :

6.1 Kegiatan Pemeliharaan Rutin/Berkala Sarana dan Prasarana Teknologi Peternakan Tepat Guna (Keg. 26.02).

Kegiatan intinya adalah Pengadaan peralatan keswan dan nitrogen cair sebanyak 1200 liter. Pagu anggaran sebesar Rp. 88.340.000,00

realisasi keuangan Rp. 61.420.000,00 atau 69,53 % dari pagu anggaran dikarenakan pembelian sesuai kpasitas tabung nitorgen dan kebutuhan dilapangan, 384 liter nitrogen cair tidak dipergunakan.

(26)

BAB III

IKHTISAR PENCAPAIAN KINERJA KEUANGAN SKPD

3.1 IKHTISAR REALISASI PENCAPAIAN TARGET KINERJA KEUANGAN SKPD; A. Pencapaian Sasaran Kinerja Keuangan

Untuk pencapaian target kinerja kegiatannya Dinas Pertanian, Perkebunan dan Peternakan Kabupaten Bangka Barat pada TA 2016 mendapat alokasi anggaran APBD Kabupaten Bangka Barat, APBN/Tugas Pembantuan (Dirjen sarana dan prasarana pertanian) dan Dana Alokasi Khusus (DAK) sebagaimana rincian berikut ini:

APBD : Rp. 13.548.251.750,00

Dana DAK : Rp. 3.472.500.000,00

Realisasi anggaran untuk tahun 2016 adalah

APBD : Rp. 10.345.795.545,00

Dana DAK : Rp. 3.162.390.193,00

Ikhtisar Pencapaian Sasaran Kinerja Keuangan Dinas Pertanian, Perkebunan dan Peternakan per 31 Desember 2016 adalah sebagai berikut:

No U R A I A N Anggaran Setelah Perubahan Realisasi Anggaran Diatas (Dibawah) Rp % (1) (2) (3) (4) (5) (6) I PENDAPATAN 25.235.000,00 0,00 (25.235.000,00) (100,00)

I.1. PENDAPATAN ASLI DAERAH

(PAD)

25.235.000,00 0,00 (25.235.000,00) (100,00)

1.1.2 Pendapatan Retribusi Daerah 25.235.000,00 0,00 (25.235.000,00) (100,00)

II. BELANJA 13.548.251.750,00

10.345.795.545,00 (3.202.456.205,00) (23,64)

II.1 BELANJA OPERASI 12.821.121.750,00 9.666.748.552,00 (3.154.373.198,00) (24,60)

2.1.1 Belanja Pegawai/Personalia 4.229.951.000,00 3.934.258.445,00 (295.692.555,00) (6,99)

2.1.2 Belanja Barang dan Jasa

(27)

II.2 BELANJA MODAL 727.130.000,00 679.046.993,00 (48.083.007,00) (6,61)

2.2.1 Belanja Tanah 0,00 0,00 0,00 0,00

2.2.2 Belanja Peralatan dan Mesin 591.715.000,00 552.822.293,00 (38.892.707,00) (6,57)

2.2.3 Belanja Gedung dan Bangunan 114.275.000,00 107.827.000,00 (6.448.000,00) (5,64)

2.2.4 Belanja Jalan. Irigasi dan Jaringan 18.000.000,00 15.500.000,00 (2.500.000,00) (13,89)

2.2.5 Belanja Aset Tetap Lainnya 3.140.000,00 2.897.700,00 (242.300,00) (7,72)

II.3 BELANJA TAK TERDUGA 0,00 0,00 0,00 0,00

III. SURPLUS ( DEFISIT)--> (I - II) (13.523.016.750,00) (10.345.795.545,00) 3.177.221.205,00 (23,49)

1. Pendapatan Asli Daerah

Jumlah pendapatan Hasil Retribusi Dinas Pertanian, Perkebunan dan Peternakan selama tahun 2016 adalah sebesar Rp 0,00 atau 0,00 % jika dibandingkan dengan anggaran yang telah ditetapkan sebesar Rp 25.235.000,00.

2. Belanja

Jumlah belanja selama tahun 2016 adalah sebesar Rp 10.345.795.545,00 atau

76,36% jika dibandingkan dengan anggaran yang telah ditetapkan sebesar Rp 13.548.251.750,00.

3.2 HAMBATAN DAN KENDALA YANG ADA DALAM PENCAPAIAN TARGET YANG TELAH DITETAPKAN

Hambatan dan Kendala dalam Pencapaian Target Keuangan (pendapatan) adalah : 1. Belum berjalannya RPH (Rumah Potong Hewan) resmi milik Pemerintah Daerah; 2. Secara teknis bangunan Rumah Potong Hewan (RPH) belum memenuhi standar

(belum memenuhi syarat teknis);

3. Belum tersedia akses jalan masuk ke Rumah Potong Hewan (RPH);

4. Sarana dan prasarana pendukung belum tersedia (kandang istirahat, inslatasi air bersih, sarana pengolah limbah, listrik, peralatan pemotongan dan sarana pelayuan daging yang memadai);

(28)

5. Luas lahan yang tersedia tidak mencukupi untuk penambahan bangunan infrastruktur sarana dan prasarana kelengkapan RPH uang dibutuhkan yang belum tersedia;

6. Status kepemilikan lahan RPH baru selesai pengurusannya pada tahun 2015; 7. Memperhatikan hal-hal diatas, untuk dapat memfungsikannya masih

diperlukan kajian tentang kelayakan RPH tersebut sebelum dilakukan penambahan prasarana dan sarana yang dibutuhkan agar menjadi RPH yang representatif atau layak digunakan, sehingga penjual daging yang selama ini momotong sapi ditempat pemotongan masing-masing bersedia menggunakan fasilitas RPH milik Pemerintah Daerah;

8. Bahwa di Kabupaten Bangka Barat belum ada Rumah Pemotongan Hewan yang dimiliki secara pribadi. Sementara itu yang ada adalah Tempat Pemotongan Hewan. Sedangkan menurut Undang Undang Nomor 41 Tahun 2014 tentang Perubahan atas Undang Undang No.18 Tahun 2009 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan dan Peraturan Menteri Pertanian RI Nomor 13/Permentan/OT.140/2010 tentang Persyaratan Rumah Potong Hewan dan Unit Peanganan Daging (Meat Cutting Plant) di dalamnya tidak memuat/mengakomodir hal-hal tentang Tempat Pemotongan Hewan, sehingga Pemerintah Daerah tidak dapat menerbitkan regulasi yang memayungi keberadaan Tempat Pemotongan Hewan tersebut.

Hambatan dan Kendala dalam Pencapaian Target Keuangan (Belanja) adalah : 7. Program Pelayanan Administrasi Perkantoran dengan kegiatannya antara

lain :

1.5 Penyediaan Jasa Komunikasi, Sumber Daya Air dan Listrik (Keg. 01.02). Kegiatan intinya adalah Pembayaran biaya telepon kantor, internet, listrik Kantor Dinas, Laboratorium Kesehatan Hewan dan Kandang Ternak selama 12 bulan dengan pagu anggaran sebesar Rp. 48.000.000,00 realisasi keuangan hanya Rp. 31.617.567,00 atau 65,87 % dari pagu anggaran dikarenakan anggaran dipertanggungjawabkan sesuai dengan kebutuhan, sedangkan untuk penganggaran internet sudah dilakukan survey untuk pemasangan indihome.

(29)

1.6 Penyediaan Jasa Perbaikan Peralatan Kerja (Keg. 01.09). Kegiatan intinya adalah perbaikan/pemeliharaan komputer/laptop 15

kali, printer 10 kali, pemeliharaan instalasi listrik kantor 1 kali, ac kantor 13 kali, mesin air 1 kali, dengan pagu anggaran sebesar Rp. 15.400.000,00 realisasi keuangan hanya Rp. 8.594.000,00 atau 55,81 % dari pagu anggaran dikarenakan realisasi belanja pemeliharaan untuk komputer/laptop hanya terserap setengah dari pagu yang ada, dikarenakan perbaikan sesuai dengan kebutuhan.

1.7 Penyediaan Peralatan dan Perlengkapan Kantor (Keg. 01.13)

Kegiatan intinya adalah Pengadaan Brankas, Papan Nama Ruangan/Jabatan, Mesin Potong Rumput, Pengadaan AC, Pengadaan Tangga Aluminium, Pengadaan Printer Multifungsi, Pengadaan Meja Kerja, Pengadaan Meja Rapat, Pengadaan Kursi Kerja, Pengadaan Filling Kabinet, Pengadaan Kamera DSLR dengan pagu anggaran sebesar Rp. 99.090.000,00 realisasi keuangan hanya Rp. 75.855.000,00 atau 76,55 % dari pagu anggaran karena untuk belanja modal meja rapat pejabat tidak dilaksanakan karena spesifikasi yang ditawarkan tidak dapat dipenuhi oleh rekanan.

1.8 Penyediaan Bahan Bacaan dan Peraturan Perundang-undangan (Keg. 01.15)

Kegiatan intinya adalah langganan 2 koran lokal, langganan 1 majalah pertanian dan peternakan selama 12 bulan, langganan 1 koran pertanian selama 12 bulan, 1 koran nasional selama 12 bulan serta pembelian buku ilmu pengetahuan dan teknologi 1 paket dengan pagu anggaran sebesar Rp. 8.000.000,00 realisasi keuangan hanya Rp. 5.657.700,00 atau 70,72 % dari pagu anggaran karena untuk koran pertanian dan koran nasional tidak dibelanjakan karena harga satuan yang rendah dari harga dipasaran .

8. Program Peningkatan Sarana dan Prasarana Aparatur dengan salah satu kegiatannya yaitu :

(30)

Kegiatan intinya adalah Belanja jasa servis, Belanja suku cadang kendaraan dinas Roda 2, Roda 3, Roda 4. Traktor roda 4, bahan bakar minyak /gas dan pelumas dengan pagu anggaran sebesar Rp. 154.000.000,00 realisasi keuangan hanya Rp. 87.342.800,00 atau 56,72 % dari pagu anggaran dikarenakan pertanggungjawaban sudah sesuai dengan kebutuhan dan sesuai dengan harga kebutuhan BBM perliternya.

9. Program Peningkatan Penerapan Teknologi Pertanian/Perkebunan dengan salah satu kegiatannya yang tidak terealisasi 100% yaitu :

7.1 sarana dan prasarana teknologi pertanian/perkebunan tepat guna (Keg.18.02).

Kegiatan intinya adalah Pengadaan 2 unit power threasher, 2 unit RMU, 10 unit pedal threasher, 1 unit pengering. Pagu anggaran sebesar Rp. 331.750.000,00 realisasi keuangan hanya Rp.

185.790.000,00 atau 56,00 % dari pagu anggaran dikarenakan untuk pengadaan RMU (Rice Milling Unit) sebanyak 2 unit tidak dapat dilaksanakan karena harga di e catalog lebih besar dari harga di DPA karena adanya kenaikan harga di tahun tersebut.

7.2 Penyuluhan penerapan teknologi pertanian/perkebunan tepat guna (Keg. 18.04).

Kegiatan intinya adalah melaksanakan sekolah lapang sebanyak 14 kali pertemuan yang terdiri dari petani padi dengan anggota sebanyak 30 orang. Pagu anggaran sebesar Rp. 89.850.000,00 realisasi keuangan Rp. 74.470.000,00 atau 82,88 % dari pagu anggaran dikarenakan jumlah pertemuan disesuaikan dengan juknis Kementerian Pertanian dari 16 kali pertemuan menjadi 14 kali pertemuan.

10. Program Peningkatan Produksi Pertanian/Perkebunan dengan salah satu kegiatannya yang tidak terealisasi 100% yaitu :

6.2 Penyediaan Sarana Produksi Pertanian/Perkebunan (Keg. 19.02). Kegiatan intinya adalah Pengadaan benih padi 10.000 kg, kapur pertanian 280.000 kg, pupuk organik 280.000 kg. Pagu anggaran

(31)

sebesar Rp. 1.219.800.000,00 realisasi keuangan Rp. 955.070.000,00

atau 78,30 % dari pagu anggaran dikarenakan harga pasar pupuk lebih rendah dari penganggaran di DPA.

6.3 Pengembangan Bibit Unggul Pertanian/Perkebunan (Keg. 19.03). Kegiatan intinya adalah penyediaan benih padi 375 kg dan saprodi (insektisida, kapur pertanian, pupuk organik). Pagu anggaran sebesar Rp. 37.610.000,00 realisasi keuangan Rp. 29210.000,00 atau 77,67 % dari pagu anggaran dikarenakan harga pasar pupuk dan benih padi lebih rendah dari penganggaran di DPA.

6.4 Pengembangan Pembibitan Unggul Perkebunan (Keg. 19.12).

Kegiatan intinya adalah penyediaan bibit lada stek 1 ruas di 6 kecamatan. Pagu anggaran sebesar Rp. 1.691.590.000,00 realisasi keuangan Rp. 21.815.590.000,00 atau 1,29 % dari pagu anggaran dikarenakan gagal lelang karena tidak adanya penyedia yang lulus evaluasi administrasi tekhnis dan harga.

11. Program Peningkatan Produksi Hasil Peternakan dengan salah satu kegiatannya yang tidak terealisasi 100% yaitu :

9.1 Pengadaan Hewan Ternak Kepada Masyarakat (Keg. 22.13).

Kegiatan intinya adalah Pengadaan bahan bangunan dan peralatan kadang, pengadaan makanan (dedak) 2300 kg, 20 ekor sapi jantan

bakalan yang didatangkan dari lampung. Pagu anggaran sebesar Rp. 297.995.000,00 realisasi keuangan Rp. 229.571.612,00 atau 77,04

% dari pagu anggaran dikarenakan efisiensi didalam pengadaan hewan ternak dengan nilai penawaran lebih rendah dari pagu yang ditetapkan.

12. Program Peningkatan Penerapan Teknologi Peternakan dengan salah satu kegiatannya yang tidak terealisasi 100% yaitu :

8.1 Kegiatan Pemeliharaan Rutin/Berkala Sarana dan Prasarana Teknologi Peternakan Tepat Guna (Keg. 26.02).

Kegiatan intinya adalah Pengadaan peralatan keswan dan nitrogen cair sebanyak 1200 liter. Pagu anggaran sebesar Rp. 88.340.000,00

(32)

realisasi keuangan Rp. 61.420.000,00 atau 69,53 % dari pagu anggaran dikarenakan pembelian sesuai kpasitas tabung nitorgen dan kebutuhan dilapangan, 384 liter nitrogen cair tidak dipergunakan.

(33)

BAB IV

KEBIJAKAN AKUNTANSI

4.5. Entitas Akuntansi / Entitas Pelaporan Keuangan Daerah SKPD

Entitas Pelaporan

Entitas pelaporan adalah unit pemerintahan yang terdiri dari satu atau lebih entitas akuntansi yang menurut ketentuan peraturan perundang-undangan wajib menyampaikan laporan pertanggungjawaban berupa laporan keuangan. Entitas Akuntansi

Entitas akuntansi adalah Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) sebagai

pengguna anggaran/pengguna barang dan oleh karenanya wajib

menyelenggarakan akuntansi dan menyampaikan laporan keuangan sehubungan dengan anggaran/barang yang dikelolanya yang ditujukan kepada entitas pelaporan untuk digabungkan.

Kepala SKPD Dinas Pertanian, Perkebunan dan Peternakan sebagai entitas akuntansi melimpahkan wewenangnya kepada Kepala Subbagian Keuangan di lingkungannya / Pejabat Penatausahaan Keuangan SKPD/PPK-SKPD untuk menyelenggarakan akuntansi pengelolaan keuangan dan secara periodik menyiapkan laporan keuangan berupa Laporan Realisasi Anggaran, Neraca, dan Catatan atas Laporan keuangan.

Laporan keuangan tersebut disampaikan secara intern dan berjenjang kepada unit yang lebih tinggi dalam rangka penggabungan laporan keuangan oleh entitas pelaporan.

Dinas Pertanian, Perkebunan dan Peternakan, terdiri dari 3 Bidang Satuan Kerja. Adapun 3 Bidang Satuan Kerja tersebut terdiri dari:

1. Bidang Pertanian 2. Bidang Perkebunan 3. Bidang Peternakan

Yang mana meliputi 6 wilayah kerja, yaitu : 1. Kecamtan Muntok

2. Kecamatan Simpang Teritip 3. Kecamatan Jebus

(34)

5. Kecamatan Kelapa 6. Kecamatan Tempilang

Masing-masing bidang tersebut merupakan entitas akuntansi. Dimana pada masing-masing bidang tersebut bertanggung jawab terhadap anggaran yang ada pada Dinas Pertanian, Perkebunan dan Peternakan tersebut termasuk dalam pencatatan akuntansinya. Adapun realisasi dari anggaran tersebut disusun dalam Laporan Realisai Anggaran dan Neraca yang harus dilaporkan atau disampaikan kepada Bagian Keuangan.

4.6. Basis Akuntansi yang mendasari penyusunan Laporan Keuangan SKPD Basis Akuntansi

1. Basis akuntansi yang digunakan dalam laporan keuangan SKPD Pemerintah Kabupaten Bangka Barat adalah basis kas untuk pengakuan pendapatan-LRA, belanja dan pembiayaan dalam Laporan Realisasi Anggaran dan basis akrual untuk pengakuan pendapatan-LO, beban, aset, kewajiban, dan ekuitas dana.

2. Basis kas untuk laporan Realisasi Anggaran Pemerintah Kabupaten Bangka Barat berarti bahwa pendapatan dan penerimaan pembiayaan diakui pada saat kas diterima di Rekening Kas Umum Daerah atau oleh entitas pelaporan, serta belanja, transfer dan pengeluaran pembiayaan diakui pada saat kas dikeluarkan dari Rekening Kas Umum Daerah. Namun demikian, bilamana anggaran disusun dan dilaksanakan berdasarkan basis akrual. Pemerintah tidak menggunakan istilah laba, melainkan menggunakan sisa perhitungan anggaran (lebih/kurang) untuk setiap tahun anggaran. Sisa perhitungan anggaran tergantung pada selisih realisasi pendapatan dan penerimaan pembiayaan dengan belanja dan pengeluaran pembiayaan.

3. Basis akrual untuk LO (Laporan Operasional) berarti bahwa pendapatan diakui pada saat hak untuk memperoleh pendapatan telah terpenuhi walaupun kas belum diterima di Rekening Kas Umum Daerah atau oleh entitas pelaporan dan beban diakui pada saat kewajiban yang mengakibatkan penurunan nilai kekayaan bersih telah terpenuhi walaupun kas belum dikeluarkan dari Rekening Kas Umum Daerah atau entitas

(35)

pelaporan. Pendapatan seperti bantuan pihak luar/asing dalam bentuk jasa disajikan pula pada LO.

4. Basis akrual untuk Neraca Pemerintah Kabupaten Bangka Barat berarti bahwa aset, kewajiban dan ekuitas dana diakui dan dicatat saat terjadinya transaksi, atau pada saat kejadian atau kondisi lingkungan berpengaruh pada keuangan Pemerintah Daerah, bukan pada saat kas diterima atau dibayar oleh kas daerah.

5. Jika Pemerintah Kabupaten Bangka Barat menyelenggarakan akuntansi dan menyajikan laporan keuangan berbasih akrual, berdasarkan ketentuan perundang-undangan Pemerintah Kabupaten Bangka Barat tetap menyusun Laporan Realisasi Anggaran yang berbasis kas.

4.7. Basis Pengukuran yang mendasari penyusunan Laporan Keuangan SKPD

1. Nilai Historis (Historical Cost)

Aset dicatat sebesar jumlah kas yang dibayar atau sebesar nilai wajar dari imbalan untuk memperoleh Aset tersebut pada saat perolehan. Utang dicatat sebesar jumlah kas yang diharapkan akan dibayar untuk memenuhi kewajiban dimasa yang akan datang dalam pelaksanaan kegiatan.

Penggunaan nilai perolehan lebih dapat diandalkan daripada nilai yang lain, karena nilai perolehan lebih obyektif dan dapat diverifikasi. Dalam hal tidak terdapat nilai perolehan, dapat digunakan nilai wajar asset atau kewajiban terkait.

2. Realisasi (Realization)

Ketersediaan pendapatan daerah yang telah diotorisasikan melalui APBD selama satu tahun anggaran akan digunakan untuk membiayai belanja daerah dalam periode tahun anggaran dimaksud.

Prinsip layak temu biaya-pendapatan (matching-cost against revenue principle) dalam akuntansi pemerintah tidak mendapat penekanan sebagaimana dipraktikkan dalam akuntansi komersial.

3. Substansi Mengungguli Bentuk Formal (Substance Over Form)

Informasi akuntansi dimaksudkan untuk menyajikan dengan jujur transaksi serta peristiwa lain yang seharusnya disajikan, maka transaksi atau peristiwa lain tersebut harus dicatat dan disajikan sesuai dengan substansi

(36)

dan realitas ekonomi, bukan hanya aspek formalitasnya. Apabila substansi transaksi atau peristiwa lain tidak konsisten/berbeda dengan aspek formalitasnya, maka hal tersebut harus diungkapkan dengan jelas dalam Catatan atas Laporan Keuangan.

4. Periodisitas (Periodicity)

Kegiatan akuntansi dan pelaporan keuangan perlu dibagi menjadi periode-periode semesteran dan tahunan sehingga kinerja entitas dapat diukur dan posisi sumber daya yang dimilikinya dapat ditentukan.

Periode utama yang digunakan adalah tahunan yaitu 1 Januari sampai dengan 31 Desember . Disamping itu baik entitas akuntansi maupun entitas pelaporan wajib menyusun laporan semesteran periode 1 Januari sampai dengan 30 Juni dan periode 1 Juli sampai dengan 31 Desember.

Laporan semesteran merupakan laporan mengenai realisasi pendapatan dan belanja selama enam bulan dan prognosis enam bulan berikutnya yang dilaporkan paling lambat tanggal sepuluh bulan juli tahun berkenaan. Laporan tahunan meliputi laporan ralisasi pendapatan dan belanja selama satu tahun, neraca, dan catatan atas laporan keuangan yang disampaikan paling lambat tanggal tiga puluh satu bulan Januari tahun berikutnya.

5. Konsistensi (Consistency)

Perlakuan akuntansi yang sama harus diterapkan pada kejadian yang serupa dari periode ke periode (prinsip konsistensi internal). Hal ini tidak berarti bahwa tidak boleh terjadi perubahan dari satu metode akuntansi ke metode akuntansi yang lain.

Metode akuntansi yang dipakai dapat diubah dengan syarat bahwa metode yang baru diterapkan mampu memberikan informasi yang lebih baik dibanding metode lama. Pengaruh dan pertimbangan atas perubahan penerapan metode ini diungkapkan dalam Catatan atas Laporan Keuangan.

6. Pengungkapan Lengkap (Full Disclosure)

Laporan keuangan menyajikan secara lengkap informasi yang dibutuhkan oleh pengguna laporan. Informasi yang dibutuhkan oleh pengguna laporan keuangan dapat ditempatkan pada lembar muka (on the face) laporan keuangan atau Catatan atas Laporan Keuangan.

(37)

7. Penyajian Wajar (Fair Presentation)

Laporan keuangan harus menyajikan dengan wajar Laporan Realisasi Anggaran, Neraca, dan Catatan atas Laporan Keuangan.

Faktor pertimbangan sehat bagi penyusun laporan keuangan diperlukan ketika menghadapi ketidakpastian peristiwa dan keadaan tertentu. Ketidakpastian seperti itu diakui dengan mengungkapkan hakikat serta tingkatnya dengan menggunakan pertimbangan sehat dalam penyusunan laporan keuangan. Pertimbangan sehat mengandung unsur kehati-hatian pada saat melakukan prakiraan dalam kondisi ketidakpastian sehingga aset atau pendapatan tidak dinyatakan terlalu tinggi serta kewajiban dan belanja tidak dinyatakan terlalu rendah. Namun demikian, penggunaan pertimbangan sehat tidak diperkenankan, misalnya, pembentukan cadangan tersembunyi, sengaja menetapkan aset atau pendapatan yang terlampau rendah, atau sengaja mencatat kewajiban atau belanja yang terlampau tinggi, sehingga laporan keuangan menjadi tidak netral dan tidak andal.

4.8. Penerapan Kebijakan Akuntansi berkaitan dengan ketentuan yang ada dalam Standar Akuntansi Pemerintahan pada SKPD.

Pemerintah Kabupaten Bangka Barat telah menyusun Peraturan Bupati Bangka Barat nomor 77 Tahun 2016 pengganti Peraturan Bupati Bangka Barat nomor 62 Tahun 2015 tentang Kebijakan Akuntansi Pemerintah Daerah dan mulai berlaku 1 Januari 2016. Untuk menerapkan peraturan bupati tersebut, maka pada neraca per 31 Desember 2016 dilakukan pemisahan aset dengan nilai perolehan di bawah kapitalisasi, yaitu yang kurang dari Rp. 500.000,00 (lima ratus ribu rupiah) untuk peralatan dan mesin, Rp. 10.000.000,00 (sepuluh juta rupiah) untuk tanah, gedung dan bangunan dan Rp. 100.000,00 (seratus ribu rupiah). Sesuai dengan kebijakan akuntansi Pemerintah Daerah kabupaten Bangka Barat, untuk seluruh aset tahun perolehan sampai dengan 2012, tidak dimasukkan dalam aset ataupun neraca namun dijelaskan di catatan atas laporan keuangan.

Pada tahun 2016 Pemerintah Kabupaten Bangka Barat khususnya Dinas Pertanian, Perkebunan dan Peternakan sudah menerapkan penyusutan. Kebijakan akuntansi yang telah diterapkan, secara umum telah sesuai dengan

(38)

ketentuan Standar Akuntansi Pemerintah. Pada penyusunan laporan keuangan tahun 2016 ini, Pemerintah Kabupaten Bangka Barat / Dinas Pertanianan dan Peternakan berpedoman pada Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2010 tentang Standar Akuntansi Pemerintah khususnya lampiran I, dimana sudah menggunakan metode accrual, yaitu basis kas untuk penyusunan Laporan Realisasi Anggaran dan basis akrual untuk penyusunan Laporan Operasional dan Neraca. Laporan yang disusun berupa Neraca, Laporan Perubahan Ekuitas, Laporan Operasional, Laporan Realisasi Anggaran dan Catatan Atas Laporan Keuangan.

KEBIJAKAN AKUNTANSI PER KOMPONEN LAPORAN KEUANGAN

1. Laporan Realisasi Anggaran

Menyajikan ikhtisar sumber, alokasi, dan pemakaian sumber daya ekonomi yang dikelola oleh pemerintah daerah, yang menggambarkan perbandingan antara anggaran dan realisasinya dalam satu periode pelaporan.

Komponen utama Laporan Realisasi Anggaran terdiri dari: a) Pendapatan

b) Belanja

c) Surplus atau defisit

Penjelasan komponen utama Laporan Realisasi Anggaran a) Pendapatan

Pendapatan adalah semua penerimaan uang melalui Rekening Kas Umum Daerah yang menambah ekuitas dana lancar dalam periode tahun anggaran yang bersangkutan yang menjadi hak pemerintah daerah dan tidak perlu dibayar kembali oleh pemerintah daerah.

Kebijakan akuntansi:

(1) Pendapatan diakui pada saat diterima pada Rekening Kas Umum Daerah atau oleh entitas pelaporan.

(2) Akuntansi pendapatan dilaksanakan berdasarkan azas bruto, yaitu dengan membukukan penerimaan bruto, dan tidak mencatat jumlah netonya (setelah dikompensasikan dengan pengeluaran).

(39)

(3) Akuntansi pendapatan di SKPD dilakukan hanya mencatat pendapatan asli daerah yanga dalam wewenang SKPD.

(4) Pengembalian yang sifatnya normal dan berulang (recurring) atas penerimaan pendapatan pada periode penerimaan maupun pada periode sebelumnya dibukukan sebagai pengurang pendapatan. (5) Koreksi atas pengembalian pendapatan yang sifatnya tidak berulang

(non-recurring), yang terjadi pada periode berjalan, dicatat sebagai pengurang pendapatan.

(6) Koreksi atas pengembalian pendapatan yang sifatnya tidak berulang (non-recurring), yang terjadi pada periode-periode sebelumnya, SKPD tidak melakukan pencatatan.

(7) Proses penerimaan pendapatan di satuan kerja dapat dibagi menjadi : Pendapatan Melalui Bendahara Penerimaan, Pendapatan disetor langsung ke Kas Daerah oleh Pihak ketiga, Pendapatan disetor langsung ke Bank Persepsi oleh Pihak ketiga.

b) Belanja

Belanja adalah semua pengeluaran dari Rekening Kas Umum Daerah yang mengurangi ekuitas dana lancar dalam periode tahun anggaran bersangkutan yang tidak akan diperoleh pembayarannya kembali oleh pemerintah.

Kebijakan akuntansi:

(1) Belanja diakui pada saat terjadinya pengeluaran dari Rekening Kas Umum Daerah.

(2) Khusus pengeluaran melalui bendahara pengeluaran, pengakuannya terjadi pada saat pertanggungjawaban atas pengeluaran tersebut disahkan oleh unit yang mempunyai fungsi perbendaharaan.

(3) Akuntansi belanja dilaksanakan berdasarkan azas bruto.

(4) Belanja diklasifikasikan menurut klasifikasi ekonomi (jenis belanja).

Klasifikasi ekonomi adalah pengelompokan belanja yang didasarkan

pada jenis belanja untuk melaksanakan suatu aktivitas. Klasifikasi ekonomi untuk SKPD terdiri dari belanja pegawai, belanja barang, dan belanja modal.

(5) Realisasi anggaran belanja dilaporkan sesuai dengan klasifikasi yang ditetapkan dalam dokumen anggaran.

(40)

c) Surplus atau defisit

Surplus adalah selisih lebih antara pendapatan dan belanja selama satu periode pelaporan. Defisit adalah selisih kurang antara pendapatan dan belanja selama satu periode pelaporan.

Kebijakan akuntansi:

Surplus/Defisit dicatat sebesar Selisih lebih/kurang antara pendapatan dan belanja selama satu periode pelaporan.

2. Neraca

Adalah laporan keuangan yang menyajikan posisi keuangan entitas ekonomi pada saat (tanggal) tertentu. Laporan ini dibuat untuk menyajikan informasi keuangan yang dapat dipercaya mengenai aset, kewajiban dan ekuitas dana.

Komponen utama Neraca SKPD terdiri dari:

a) Aset Lancar b) Aset Tetap c) Aset Lainnya d) Kewajiban e) Ekuitas Dana f) Rekening Koran (RK-PPKD)

Penjelasan komponen utama Neraca a) Aset Lancar

Suatu aset diklasifikasikan sebagai aset lancar jika:

 diharapkan segera dapat dicairkan menjadi kas, dijual atau dipakai habis dalam 1 (satu) periode akuntansi, atau

Aset lancar yang ada di SKPD terdiri dari Kas di Bendahara Pengeluaran, Kas di Bendahara Penerimaan, Bagian lancar dari tagihan penjualan angsuran, bagian lancar TGR, piutang pajak, piutang lain-lain dan persediaan.

(41)

Kebijakan akuntansi:

(a) Kas dicatat sebesar nilai nominal

(b) Tidak termasuk Kas di kas daerah, Perhitungan Fihak (PFK) Ketiga berupa PPh Pasal 21, Iuran Taperum dan iuran wajib pegawai lainnya yang masih harus disetorkan ke kas Negara.

(c) Persediaan diakui pada saat potensi manfaat ekonomi masa depan diperoleh dan mempunyai nilai atau biaya yang dapat diukur dengan andal.

(d) Persediaan diakui pada saat diterima atau hak kepemilikannya dan/atau kepenguasaannya berpindah.

(e) Pada akhir periode akuntansi, persediaan dicatat berdasarkan hasil inventarisasi fisik.

b) Aset Tetap

Aset tetap adalah aset berwujud yang mempunyai masa manfaat lebih dari 1 (satu) periode akuntansi untuk digunakan dalam kegiatan pemerintah atau dimanfaatkan oleh masyarakat umum.

Aset Tetap terdiri dari: a. Tanah

b. Peralatan dan Mesin c. Gedung dan Bangunan d. Jalan, Irigasi dan Jaringan e. Aset Tetap Lainnya, dan f. Konstruksi dalam pengerjaan

Kebijakan akuntansi

(a) Pengakuan aset tetap akan sangat andal bila aset tetap telah diterima atau diserahkan hak kepemilikannya dan atau pada saat penguasaannya berpindah, didukung dengan bukti perpindahan kepemilikannya secara hukum, seperti adanya akta hibah.

(b) Basis akuntansi yang diterapkan oleh pemerintah daerah sesuai dengan SAP adalah kas yang dimodifikasikan sampai dengan Tahun 2014, dan untuk itu transaksi penerimaan dan pengeluaran kas yang mempengaruhi rekening-rekening aset tetap pada neraca datap tercatat maka dibuat jurnal korolari.

(c) Aset tetap dinilai dengan biaya perolehan.

(d) Aset tetap yang diperoleh dari sumbangan (donasi) harus dicatat sebesar nilai wajar pada saat perolehan.

(42)

(e) Suatu aset tetap dapat diperoleh melalui pertukaran atau pertukaran sebagian aset tetap yang tidak serupa atau aset lainnya. Biaya dari pos semacam itu diukur berdasarkan nilai wajar aset yang diperoleh yaitu nilai ekuivalen atas nilai tercatat aset yang dilepas setelah disesuaikan dengan jumlah setiap kas atau setara kas yang ditransfer/diserahkan (f) Aset tetap dieliminasi dari neraca bila tidak lagi digunakan atau tidak

lagi memiliki manfaat ekonomi di masa yang akan datang, dijual/ditukar. Penghapusan dilakukan setalah persetujuan pejabat yang berwenang, jumlah yang dihapus adalah sebesar nilai buku. Sedangkan pengakuan pendapatan apabila dijual adalah sebesar kas yang diterima tanpa melihat nilai buku aset yang dilepas.

(g) Jika penyelesaian pengerjaan suatu aset tetap melebihi dan atau melewati satu periode tahun anggaran, maka aset tetap yang belum selesai tersebut digolongkan dan dilaporkan sebagai konstruksi dalam pengerjaan sampai dengan aset tersebut selesai dan siap dipakai. (h) Konstruksi Dalam Pengerjaan dicatat dengan biaya perolehan.

(i) Nilai konstruksi yang dikerjakan oleh kontraktor melalui kontrak konstruksi meliputi:

 Termin yang telah dibayarkan kepada kontraktor sehubungan dengan tingkat penyelesaian pekerjaan;

 Kewajiban yang masih harus dibayar kepada kontraktor berhubung dengan pekerjaan yang telah diterima tetapi belum dibayar pada tanggal pelaporan;

 Pembayaran klaim kepada kontraktor atau pihak ketiga sehubungan dengan pelaksanaan kontrak konstruksi.

c) Aset Lainnya

Asset lainnya terdiri dari;

(1) Tagihan Penjualan Angsuran (2) Tuntutan Ganti Rugi (TGR) (3) Kemitraan dengan Pihak Ketiga (4) Aset Tak Berwujud

(43)

Kebijakan akuntansi:

(a) Saldo Normal Aset lainnya adalah di sebelah Debet, Penambahan Aset lainnya dicatat disebelah debet sedangkan pengurangannya dicatat disebelah kredit.

(b) Tagihan penjualan angsuran dan Tagihan Tuntutan Ganti Kerugian Daerah dikredit pada akhir tahun sebesar bagian jumlah tagihan piutang yang jatuh tempo tahun anggaran berikutnya, berdasarkan memo penyesuaian.

d) Ekuitas

Merupakan selisih antara asset lancar dengan kewajiban jangka pendek.

3. Catatan Atas Laporan Keuangan

Yaitu meliputi penjelasan naratif atau rincian dari angka yang tertera dalam Laporan Realisasi Anggaran dan Neraca. Catatan atas Laporan Keuangan juga mencakup informasi tentang kebijakan akuntansi yang dipergunakan oleh entitas pelaporan dan informasi lain yang diharuskan dan dianjurkan untuk diungkapkan di dalam Standar Akuntansi Pemerintah serta ungkapan-ungkapan yang diperlukan untuk menghasilkan penyajian laporan keuangan secara wajar.

Secara umum kebijakan akuntansi yang telah diterapkan, telah sesuai dengan ketentuan Standar Akuntansi Pemerintah.

(44)

BAB V

PENJELASAN MASING – MASING POS : LRA

NERACA LPE LO

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan pada hasil dan pembahasan yang telah dibuat maka dapat disimpulkan Ada pengaruh yang signifikan anatara kepuasan kerja dengan OCB Pada karyawan Rumah

Benda koleksi dalam Museum tertata dengan rapi dan menarik P3 Benda koleksi dalam Museum memberikan pesan pendidikan bagi pengunjung P4 Benda koleksi dalam Museum

Jika dari hasil koordinasi komplain terselesaikan maka permohonan akan diproses lebih lanjut sampai ditetapkan Tanda Daftar Usaha Pariwisata (TDUPar) Penyediaan Akomodasi

Hasil Interpretasi terhadap teks hadis liwa dan rayah dengan pendekatan hermeneutika fenomenologi Paul Ricoeur menjelaskan bahwa teks yang menjadi simbol dalam bendera

Skripsi dengan judul “Tinjauan Hukum Islam Terhadap Anak Beda Agama Yang Mendapatkan Harta Peninggalan Berdasarkan Wasiat Wajibah (Analisis Penetapan Pengadilan

Dengan demikian, penelitian kualitatif bersifat semetara dan akan berkembang dengan n banyaknya n data yang didapatkan o di lapangan pada saat overvasi dan

Teknologi GIS dipergunakan dalam memvisualisasikan dan menganalisis seberapa besar tingkat kerawanan dan sebaran genangan yang terjadi dengan menggunakan beberapa

Pada penelitian (Prasetya, 2014) Bangunan pengaman tebing sungai atau dinding penahan tanah adalah suatu konstruksi yang bertujuan untuk menahan tanah agar