• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENDUGAAN PERTUMBUHAN DAN MORTALITAS IKAN CAKALANG

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PENDUGAAN PERTUMBUHAN DAN MORTALITAS IKAN CAKALANG"

Copied!
85
0
0

Teks penuh

(1)

YANG DIDARATKAN DI PPN PALABUHANRATU,

KABUPATEN SUKABUMI, PROVINSI JAWABARAT

LULY NURUL FADHILAH

SKRIPSI

DEPARTEMEN MANAJEMEN SUMBERDAYA PERAIRAN FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR

(2)

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi yang berjudul :

Pendugaan Pertumbuhan dan Mortalitas Ikan Cakalang (Katsuwonus pelamis Linnaeus, 1758) yang Didaratkan di PPN Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat

adalah benar merupakan hasil karya saya sendiri dan belum diajukan dalam bentuk apapun kepada perguruan tinggi manapun. Semua sumber data dan informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka dibagian akhir skripsi ini.

Bogor, Agustus 2010

Luly Nurul Fadhilah C24061295

(3)

Luly Nurul Fadhilah, C24061295. Pendugaan Pertumbuhan dan Mortalitas Ikan Cakalang (Katsuwonus pelamis Linnaeus, 1758) yang Didaratkan di PPN Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat. Dibawah bimbingan Zairion dan Rahmat Kurnia.

Palabuhanratu merupakan lokasi penting bagi perikanan tangkap di daerah pantai selatan Jawa Barat. Salah satu hasil tangkapan yang dominan dan memiliki nilai ekonomis penting yang didaratkan di PPN Palabuhanratu yaitu ikan cakalang (Katsuwonus pelamis Linnaeus 1758). Data statistik perikanan PPN Palabuhanratu tahun 2005-2008 menunjukkan jumlah produksi penangkapan ikan cakalang mengalami penurunan setiap tahunnya. Oleh karena itu diperlukan suatu alternatif pengelolaan yang berkelanjutan agar perikanan cakalang tetap lestari, dengan dilakukannya suatu kajian mengenai pertumbuhan, mortalitas, dan laju eksploitasi ikan cakalang yang didaratkan di PPN Palabuhanratu.

Penelitian dilaksanakan di PPN Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat. Pengambilan data primer dilakukan selama tiga bulan dari tanggal 9 Maret – 18 Mei 2010 dengan interval waktu pengambilan dua minggu. Alat dan bahan yang digunakan yaitu meteran kain dengan ketelitian 0,1 cm, timbangan digital dengan ketelitian 1 gram, kamera digital, alat tulis, kuesioner wawancara, data statistik dan ikan cakalang yang digunakan sebagai contoh. Data dianalisis dengan menggunakan analisis regresi linier hubungan panjang dan bobot untuk menduga pola pertumbuhan diikuti perhitungan faktor kondisi, metode NORMSEP (Normal Separation) dalam program FiSAT II ( FAO-ICLARM Fish Stock Assesment Tool) untuk menganalisis kelompok ukuran, metode ELEFAN I (Electronik Lenght Frequency Analisis) yang terdapat dalam program FiSAT II digunakan untuk menduga parameter pertumbuhan, kemudian mortalitas total (Z) menggunakan metode Jones&Van Zalinge yang juga terdapat pada program FiSAT II, mortalitas alami (M) dengan menggunakan rumus empiris Pauly, mortalitas penangkapan (F) dengan rumus F=Z-M, serta laju eksploitasi menggunakan rumus E=F/Z.

Musim penangkapan ikan cakalang berlangsung antara bulan Juni hingga Oktober, dengan puncaknya pada bulan Agustus hingga September. Ikan cakalang didistribusikan dalam bentuk segar ataupun olahan seperti pindang. Berdasarkan hasil wawancara harga ikan cakalang yang dijual di pasar ikan Palabuhanratu dalam bentuk segar yaitu seharga ± Rp.10.000/kg, sedangkan pindang berkisar antara Rp.15.000-Rp.20.000/kg. Ikan yang memiliki kualitas tinggi di ekspor ke negara Korea dan Jepang.

Hasil analisis diperoleh bahwa persamaan hubungan panjang bobot ikan cakalang selama pengamatan adalah W = 4x10-6L3,1982.Setelah dilakukan uji-t diperoleh

hasil thit>ttab yang berarti tolak H0 yaitu pola pertumbuhan ikan cakalang bersifat

allometrik positif, yaitu pertambahan bobot lebih cepat daripada pertambahan panjangnya. Faktor kondisi rata-rata yang diperoleh yaitu berkisar antara 0,99-1,45.

Modus kelas panjang sebaran ukuran ikan cakalang relatif terjadi pergeseran ke kanan, hal ini menunjukkan adanya pertumbuhan. Persamaan pertumbuhan von Bertalannfy yang diperoleh adalah Lt = 662,03(1-e-0,17(t+0,6909)). Panjang infinitif atau

panjang maksimum teoritis (L∞) diperoleh sebesar 662,03 mm dengan koefisien

pertumbuhan (K) sebesar 0,17 serta umur ikan pada saat panjangnya nol (t0) adalah

(4)

cakalang diakibatkan oleh penangkapan. Dari hasil-hasil analisis tersebut maka diperlukannya suatu alternatif pengelolaan agar perikanan cakalang tetap lestari serta berkelanjutan, dengan pembatasan upaya penangkapan, pengalihan atau perluasan daerah penangkapan, dan penutupan musim penangkapan.

(5)

YANG DIDARATKAN DI PPN PALABUHANRATU,

KABUPATEN SUKABUMI, PROVINSI JAWA BARAT

LULY NURUL FADHILAH

C24061295

Skripsi

sebagai salah satu syarat untuk memperoleh

gelar Sarjana Perikanan pada Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan

DEPARTEMEN MANAJEMEN SUMBERDAYA PERAIRAN FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR

(6)

Judul Skripsi : Pendugaan Pertumbuhan dan Mortalitas Ikan Cakalang (Katsuwonus pelamis Linnaeus, 1758) yang Didaratkan di PPN

Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat Nama : Luly Nurul Fadhilah

N I M : C24061295

Program Studi : Manajemen Sumberdaya Perairan

Menyetujui :

Pembimbing I, Pembimbing II,

Ir. Zairion, M.Sc Ir. Rahmat Kurnia, M.Si NIP. 19640703 199103 1 003 NIP. 19680928 199302 1 001

Mengetahui :

Ketua Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan

Dr. Ir. Yusli Wardiatno, M.Sc NIP. 19660728 199103 1 002

(7)

vii

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas segala rahmat

dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul

Pendugaan Pertumbuhan dan Mortalitas Ikan Cakalang (Katsuwonus

pelamis Linnaeus, 1758) yang Didaratkan di PPN Palabuhanratu,

Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat; disusun berdasarkan hasil

penelitian yang dilaksanakan pada Maret-Mei 2010. Skripsi ini merupakan

salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Perikanan pada Fakultas

Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor.

Tidak lupa penulis ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada

semua pihak yang telah membantu penulis dalam penyusunan skripsi. Penulis

juga menyadari masih banyak kekurangan dalam skripsi ini. Oleh karena itu

penulis mengaharapkan saran dan kritik guna kemajuan penulis dimasa

mendatang. Semoga penyusunan skripsi ini dapat memberikan manfaat bagi

berbagai pihak.

Bogor, Agustus 2010

Penulis

(8)

viii

Pada kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terima kasih yang

sebesar-besarnya kepada :

1. Ir. Zairion, M.Sc dan Ir. Rahmat Kurnia, M.Si selaku pembimbing yang telah banyak memberikan bimbingan, nasehat, saran serta masukan kepada penulis selama pelaksaan penelitian sampai dengan penyusunan skripsi ini.

2. Dr. Ir. Achmad Fachrudin, MS selaku dosen penguji tamu dan Ir. Agustinus M. Samosir, M.Phil selaku dosen penguji dari program studi yang telah memberikan saran bagi penulis.

3. Pengelola PPN Palabuhanratu atas dukungan dan bantuannya selama penulis melaksanakan penelitian.

4. Untuk keluarga tercinta, Ibunda (T. Sukeisih), Ayahanda (Purqon), kakak-kakakku dan kedua keponakanku yang telah memberikan doa, dukungan, semangat dan kasih sayang yang diberikan selama ini.

5. Dany Hidayat atas doa, kesabaran, dukungan, semangat dan kasih sayang yang selama ini diberikan kepada penulis.

6. Mba’ Widar dan staf TU Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan atas bantuan dan dukungannya kepada penulis.

7. Sahabat-sahabatku ADC++, Dinda Zakiyah H, Restu Rahayu B, Dwi Endah W, Astri Ayuningtias, Maretha Isyana, Gafar Abdul K, Khoirul umam, Edwin A Habibun, Deny wahyudi, Danang Dwiananto serta Afifah Hazrina (selaku partner penelitian) yang telah memberikan dukungan, masukkan, dan bantuan kepada penulis selama masa perkuliahan sampai dengan penyusunan skripsi ini.

8. Andreana Friska M, Octavianies S, dan keluarga besar MSP 43 yang tidak dapat disebutkan satu per satu atas dukungan, bantuan dan kebersamaannya selama ini.

(9)

ix

Penulis dilahirkan di Jakarta pada tanggal 18 Mei 1988. Penulis merupakan anak ketiga dari tiga bersaudara dari pasangan Bapak H. Purqon, S.Pd dan Ibu Hj. T. Sukeisih. Penulis menjalani pendidikan formal berawal dari TK Islam Arafah (1993-1994), SDN Menteng Atas 11 (1994-2000), SLTP 67 Jakarta (2000-2003) dan SMAN 3 Teladan Jakarta (2003-2006). Kemudian penulis melanjutkan pendidikan di Institut Pertanian Bogor melalui jalur USMI (Undangan Seleksi Masuk IPB). Penulis diterima di Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Selama mengikuti masa perkuliahan penulis pernah menjadi asisten praktikum mata kuliah Sumberdaya Perikanan (2009/2010).

Untuk memperoleh gelar sarjana di Fakultas Perikanan dan Ilmu kelautan, penulis menyusun skripsi yang berjudul “Pendugaan Pertumbuhan dan Mortalitas Ikan Cakalang (Katsuwonus pelamis Linnaeus, 1758) yang Didaratkan di PPN Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat”.

(10)

x

Halaman

DAFTAR TABEL ... xii

DAFTAR GAMBAR ... xiii

DAFTAR LAMPIRAN ... xiv

1. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang ... 1 1.2. Perumusan Masalah ... 2 1.3. Tujuan ... 3 1.4. Manfaat ... 3 2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Klasifikasi Ikan Cakalang ... 4

2.2. Morfologi Ikan Cakalang ... 4

2.3. Biologi dan Distribusi Ikan Cakalang ... 5

2.4. Pola Migrasi Ikan Cakalang ... 6

2.5. Alat Tangkap Ikan Cakalang ... 8

2.6. Hubungan Panjang dan bobot ... 9

2.7. Faktor Kondisi ... 10

2.8. Sebaran Frekuensi Panjang ... 10

2.9. Pertumbuhan ... 11

2.10. Mortalitas dan Laju Eksploitasi ... 11

2.11. Pengelolaan Perikanan ... 12

2.12. Kondisi Lingkungan Perairan ... 14

3. METODE PENELITIAN 3.1. Lokasi dan Waktu ... 15

3.2. Pengumpulan Data ... 15

3.2.1. Pengumpulan data primer ... 15

3.2.2. Pengumpulan data sekunder ... 17

3.3. Analisis Data ... 17

3.3.1. Hubungan Panjang dan Bobot ... 17

3.3.2. Faktor Kondisi... 18

3.3.3. Sebaran Frekuensi Panjang ... 19

3.3.4. Pertumbuhan ... 19

3.3.5. Mortalitas dan Laju Eksploitasi ... 20

4. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Kondisi Umum Perairan Teluk Palabuhanratu dan Sekitarnya ... 22

4.2. Kondisi Umum Perikanan Cakalang di Palabuhanratu ... 23

4.3. Hubungan Panjang dan Bobot ... 25

4.4. Faktor Kondisi ... 28

4.5. Sebaran Frekuensi Panjang ... 29

4.6. Kelompok Ukuran ... 31

(11)

xi 5. KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan ... 38

5.2. Saran ... 38

DAFTAR PUSTAKA ... 39

(12)

xii

Halaman 1. Data Produksi ikan cakalang (kg) yang di daratkan di Palabuhanratu

Tahun 2005-2008 ... 3 2. Hubungan panjang dan bobot ikan cakalang pada setiap pengamatan

setelah dilakukan uji-t ... 25 3. Pola pertumbuhan ikan cakalang dari beberapa penelitian ... 27 4. Nilai tengah panjang cagak setiap kelompok ukuran ikan cakalang

(Katsuwonus pelamis) pada setiap pengamatan ... 32 5. Parameter pertumbuhan K, L∞ , t0 ikan cakalang (Katsuwonus pelamis)

yang didaratkan di PPN Palabuhanratu ... 33 6. Parameter pertumbuhan ikan cakalang dari dua lokasi penelitian ... 33 7. Laju mortalitas dan laju eksploitasi ikan cakalang (Katsuwonus pelamis)

(13)

xiii

Halaman

1. Ikan cakalang (Katsuwonus pelamis) ... 4

2. Peta lokasi penelitian ... 15

3. Skema pengambilan contoh ... 16

4. Grafik persentase alat tangkap ikan cakalang ... 25

5. Grafik persentase jenis ikan yang ditangkap dengan alat tangkap pancing tonda... 25

6. Grafik hubungan panjang bobot ikan cakalang ... 26

7. Grafik nilai tengah faktor kondisi ... 28

8. Sebaran frekuensi panjang ikan cakalang ... 30

9. Kelompok ukuran ikan cakalang ... 31

10. Kurva pertumbuhan ikan cakalang ... 34

11. Grafik produksi ikan cakalang tahun 2005-2008 ... 36

12. Grafik persentasi ikan cakalang yang belum dan sudah mencapai ukuran matang gonad ... 37

(14)

xiv

Halaman

1. Alat-alat dan bahan yang digunakan... 43

2. Data yang diambil di PPN Palabuhanratu ... 44

3. Alat tangkap ikan cakalang... 45

4. Proses pembongkaran ikan cakalang di PPN Palabuhanratu ... 46

5. Kuesioner nelayan ikan cakalang ... 47

6. Data panjang cagak dan bobot basah ikan cakalang ... 48

7. Perhitungan uji statistik nilai b hubungan panjang bobot ikan cakalang pada seluruh pengamatan ... 52

8. Grafik hubungan panjang bobot ikan cakalang yang didaratkan di PPN Palabuhanratu pada setiap pengamatan ... 53

9. Sebaran frekuensi panjang dengan metode NORMSEP dalam program FiSAT II pada pengambilan contoh 1 ... 55

10. Sebaran frekuensi panjang dengan metode NORMSEP dalam program FiSAT II pada pengambilan contoh 2 ... 57

11. Sebaran frekuensi panjang dengan metode NORMSEP dalam program FiSAT II pada pengambilan contoh 3 ... 59

12. Sebaran frekuensi panjang dengan metode NORMSEP dalam program FiSAT II pada pengambilan contoh 4 ... 61

13. Sebaran frekuensi panjang dengan metode NORMSEP dalam program FiSAT II pada pengambilan contoh 5 ... 63

14. Sebaran frekuensi panjang dengan metode NORMSEP dalam program FiSAT II pada pengambilan contoh 6 ... 65

15. Faktor kondisi (FK) ikan cakalang setiap pengamatan ... 67

16. Pendugaan pertumbuhan dengan metode ELEFAN I dalam program FiSAT II ... 70

(15)

1.1 Latar Belakang

Indonesia merupakan negara yang memiliki sumberdaya perikanan yang sangat besar. Walaupun demikian seiring meningkatnya jumlah penduduk dunia dan kebutuhan akan pangan dan gizi yang lebih baik maka permintaan ikan pun terus meningkat dari tahun ketahun. Hal ini akan mengakibatkan penurunan dari sumberdaya perikanan tersebut.

Di daerah pantai selatan Jawa Barat terdapat lokasi penting bagi perikanan tangkap yaitu Palabuhanratu. Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Palabuhanratu yang berada di kota Palabuhanratu di Teluk Palabuhanratu menghadap ke Samudera Indonesia dipandang sangat strategis karena berada pada posisi dekat dengan daerah penangkapan (fishing ground), yakni Perairan Samudera Indonesia. Potensi sumberdaya ikan di Samudera Indonesia untuk Selatan Jawa dimana Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Palabuhanratu berada cukup besar, yaitu sebesar 80.000 ton per tahun (Ditjen Tangkap-DKP 2000).

Secara geografis Teluk Palabuhanratu terletak pada posisi 60 57’-7007’ LS dan

106022’-106023’ BT dengan panjang pantai lebih kurang 105 km. Perairan tersebut

merupakan perairan pantai selatan Jawa Barat yang memilliki hubungan dengan Samudra Hindia. Kecamatan Palabuhanratu berbatasan dengan Kecamatan Cikedang di sebelah utara, di sebelah barat dengan Kecamatan Cisolok, Samudera Indonesia di sebelah barat daya dan di sebelah timur berbatasan dengan Kecamatan Warung Kiara (Ditjen Tangkap-DKP 2000).

Salah satu hasil tangkapan yang dominan dan memiliki nilai ekonomis penting di Palabuhanratu yaitu ikan cakalang (Katsuwonus pelamis Linnaeus, 1758). Ikan cakalang adalah salah satu hasil tangkapan ikan pelagis besar yang dominan selain ikan tuna dan tongkol. Ikan ini merupakan sumberdaya ikan yang potensial untuk dikembangkan, karena salah satu sumber makanan sehat bagi masyarakat dan juga sebagai sumber devisa negara. Ikan cakalang termasuk kedalam keluarga scombroidae yang tergolong ikan perenang cepat. Ikan ini ditangkap dengan menggunakan alat tangkap gill net, pancing tonda, purse seinne, huhate, rawai tuna dan payang. Wilayah penangkapan ikan cakalang meliputi Ujung Genteng, Cidaun, Ujung Kulon (Perairan Selatan Jawa), dan Samudera Hindia (Ditjen Tangkap-DKP 2000).

(16)

Pertumbuhan merupakan parameter utama untuk ikan-ikan bernilai ekonomis, karena pertumbuhan ini dapat menentukan hasil produksi. Pertumbuhan didefinisikan sebagai pertambahan ukuran panjang atau berat dalam satuan waktu (Effendie 1997). Pertumbuhan merupakan salah satu aspek biologi ikan yang diperlukan dalam pengelolaan perikanan. Mengingat semakin tingginya tingkat eksploitasi sumberdaya ikan cakalang untuk pemenuhan gizi maupun perekonomian. Dengan mengetahui pola pertumbuhan ikan cakalang dapat dijadikan informasi sebagai acuan dalam suatu pengelolaan sumberdaya ikan cakalang yang berkelanjutan di PPN Palabuhanratu.

1.2 Perumusan Masalah

Berdasarkan data Food Outlook (FAO 2007 in Suhana 2009) produksi perikanan tangkap Indonesia mengalami penurunan sebesar 4,55%. Penurunan tersebut lebih besar dari rata-rata penurunan produksi perikanan dari sepuluh negara produser perikanan dunia, yaitu sebesar 2,37%. Pada tahun yang sama (2007), FAO mempublikasikan bahwa kondisi sumberdaya ikan di sekitar perairan Indonesia, terutama di sekitar perairan Samudera Hindia dan Samudera Pasifik sudah menujukan kondisi full exploited. Bahkan di perairan Samudera Hindia kondisinya cenderung mengarah kepada overexploited, dengan demikian dikedua perairan tersebut saat ini sudah tidak memungkinkan lagi untuk dilakukan ekspansi penangkapan ikan secara besar-besaran.

Permintaan ikan yang selalu meningkat tentunya memiliki makna positif bagi pengembangan perikanan. Terlebih bagi negara kepulauan seperti Indonesia yang memiliki potensi perairan yang cukup luas dan potensial untuk pengembangan perikanan baik penangkapan maupun akuakultur. Namun dengan adanya tuntutan pemenuhan kebutuhan akan sumberdaya tersebut maka tekanan eksploitasi terhadap sumberdaya ikan tersebut tidak dapat dihindari.

Penangkapan yang terus meningkat dapat membahayakan kelestarian ikan cakalang di Palabuhanratu (seperti data produksi ikan cakalang tahun 2005-2008 yang disajikan pada Tabel 1). Karena semakin meningkatnya upaya penangkapan terhadap suatu sumberdaya ikan maka akan mengakibatkan menurunnya populasi ikan tersebut dikemudian hari. Oleh karena itu untuk menjaga keberlanjutan sumberdaya ikan cakalang di PPN Palabuhanratu diperlukannya suatu pengkajian mengenai pertumbuhan yang mencakup struktur ukuran panjang dan pola pertumbuhan agar

(17)

dapat mengetahui ukuran ikan cakalang yang sebaiknya ditangkap oleh nelayan agar tidak merusak kelestarian dari populasi ikan cakalang.

Tabel 1. Data produksi ikan cakalang (kg) yang di daratkan di Palabuhanratu Tahun 2005-2008. Tahun Produksi (kg) 2005 1.860.679 2006 1.001.301 2007 742.047 2008 272.577 Sumber : PPN Palabuhanratu 2006-2009 1.3 Tujuan

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui, antara lain :

1. Mengetahui beberapa aspek biologi pertumbuhan ikan cakalang yang didaratkan di PPN Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat. 2. Menduga mortalitas total dan laju eksploitasi.

3. Merumuskan alternatif rencana pengelolaan perikanan cakalang.

1.4 Manfaat

Penelitian mengenai pendugaan pertumbuhan dan mortalitas ikan cakalang ini diharapkan dapat memberikan informasi mengenai pola pertumbuhan serta ukuran ikan cakalang yang sebaiknya ditangkap dalam upaya pengaturan dan pengendalian penangkapan ikan cakalang agar tercapai pemanfaatan sumberdaya ikan yang berkelanjutan di Teluk Palabuhanratu dan sekitarnya, Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat.

(18)

2.1. Klasifikasi Ikan Cakalang

Ikan cakalang (Gambar 1) dikenal sebagai skipjack tuna dengan nama lokal cakalang. Adapun klasifikasi ikan cakalang menurut Saanin (1984) adalah sebagai berikut : Kelas : Chordata Subkelas : Pisces Ordo : Perciformes Subordo : Scombroidei Famili : Scrombridae Subfamili : Thunninae Genus : Katsuwonus

Spesies : Katsumonus pelamis (Linnaeus, 1758) Nama umum : Skipjack tuna

Nama lokal : Cakalang, salur (Palabuhanratu)

Gambar 1. Ikan cakalang (Katsuwonus pelamis) Sumber : www.fishbase.org

2.2. Morfologi Ikan Cakalang

Cakalang termasuk jenis ikan tuna dalam famili Scombridae, species Katsuwonus pelamis (Linnaeus, 1758). Ikan cakalang memiliki bentuk tubuh fusiform, memanjang dan agak bulat. Gigi-giginya kecil dan berbentuk kerucut dalam seri tunggal. Tapis insang (gill rakes) berjumlah 53- 63 pada helai pertama. Mempunyai dua sirip punggung yang terpisah. Pada sirip punggung yang pertama terdapat 14-16

(19)

jari-jari keras, jari-jari lemah pada sirip punggung kedua diikuti oleh 7-9 finlet. Sirip dada pendek, terdapat dua flops diantara sirip perut. Sirip anal diikuti dengan 7-8 finlet. Badan tidak bersisik kecuali pada barut badan (corselets) dan lateral line terdapat titik-titik kecil. Bagian punggung berwarna biru kehitaman (gelap) disisi bawah dan 6 perut keperakan, dengan 4-6 buah garis-garis berwarna hitam yang memanjang pada bagian samping badan. Ukuran fork length maksimum ikan cakalang kurang lebih 108 cm dengan berat 32,5 – 34,5 kg, sedangkan ukuran yang umumnya tertangkap adalah 40 – 80 cm dengan berat 8 – 10 kg (FAO 1983).

2.3. Biologi dan Distribusi Ikan Cakalang

FAO (1983) menyebutkan bahwa makanan utama ikan cakalang adalah ikan-ikan kecil, crustacea, dan moluska. Ikan Cakalang termasuk ikan-ikan perenang cepat dan mempunyai sifat makan yang rakus. Biasanya ikan cakalang luar biasa rakus pada waktu pagi hari (sekitar jam 09.00), kemudian menurun pada tengah hari dan nampak menanjak kembali pada waktu senja (Gunarso 1985).

Pada umumnya ikan cakalang yang berukuran panjang lebih besar dari 50 cm memangsa lebih banyak cephalopoda dan crustacea dibandingkan dengan ikan cakalang yang ukuran panjangnya lebih kecil dari 50 cm. Walaupun demikian ikan-ikan kecil masih merupakan makanan utamanya. Bervariasi berbagai jenis organisme dalam makanan ikan cakalang serta adanya sifat kanibalisme menunjukkan bahwa ikan cakalang tergolong oportunistic feeder, yaitu ikan yang memangsa segala jenis makanan yang tersedia di perairan. Ikan cakalang yang berukuran panjang 41 – 87 cm biasanya sudah mulai memijah dan dapat menghasilkan sekitar 80.000 – 2.000.000 telur (FAO 1983). Namun ukuran ikan cakalang pertama kali matang gonad yaitu pada ukuran 40 – 45 cm (www.fishbase.org).

Penyebaran ikan cakalang umumnya mengikuti penyebaran atau sirkulasi arus garis konvergensi diantara arus dingin dan arus panas yang merupakan daerah kaya akan organisme. Daerah penyebarannya membentang di sekitar 400LU-300LS,

sedangkan daerah penangkapannya yang terbesar berada sepanjang katulistiwa, yaitu antara 100LU-10oLS. Di perairan Indonesia yang padat sering dijumpai pada perairan

sekitar kalimantan, Sulawesi, Halmahera, kepulauan Maluku dan Irian Jaya (Gunarso 1985).

(20)

2.4. Pola Migrasi Ikan Cakalang

Migrasi atau ruaya ikan adalah adalah pergerakan perpindahan dari suatu tempat ke tempat yang lain yang mempunyai arti penyesuaian terhadap kondisi alam yang menguntungkan untuk eksistensi hidup dan keturunannya. Ikan mengadakan migrasi dengan tujuan untuk pemijahan, mencari makanan dan mencari daerah yang cocok untuk kelangsungan hidupnya. Migrasi ikan dipengaruhi oleh beberapa faktor baik faktor eksternal dan faktor internal (Reinnamah 2010). Chusing (1968) in Effendie (1997) mengemukakan bahwa studi ruaya ikan merupakan hal yang fundamental untuk biologi perikanan, karena dengan mengetahui lingkaran ruaya akan diketahui batas-batas daerah mana stok atau sub populasi itu hidup.

Ikan cakalang dapat hidup nyaris di semua lautan yang ada di muka bumi ini karena itulah dapat dikatakan bahwa ikan cakalang termasuk jenis oseanodrom (hidup dan beruaya atau bermigrasi di lautan). Ruaya jenis cakalang dapat dibedakan menjadi dua, yaitu penyebaran secara vertical dan penyebaran secara horizontal. Penyebaran secara vertical berarti penyebaran menurut kedalaman perairan, sedangkan penyebaran horizontal berarti penyebaran berdasarkan letak geografis suatu perairan (www.mei-smart.blogspot.com).

Penyebaran cakalang secara horizontal memiliki tujuan yang berbeda dengan penyebaran secara vertikal. Ruaya vertikal yang dilakukan oleh cakalang dimaksudkan untuk memijah, sedangkan ruaya secara horizontal dilakukan cakalang untuk mencari makan dan melakukan pengungsian. Di Pantai Kulisusu Buton Utara pada bulan September-November jutaan ikan cakalang biasanya melakukan migrasi ke arah pantai untuk memijah (Mukhtar 2009).

Cakalang sering membentuk gerombolan untuk melakukan ruaya atau migrasi jarak jauh dengan melawan arus. Karena biasa bergerombol di perairan pelagis hingga kedalaman 200 m maka cakalang dapat pula dikatakan sebagai brakheadrom yaitu ikan yang beruaya di perairan dangkal. Di samudra Hindia secara terus-menerus dan teratur cakalang bergerak mulai dari pantai Barat Australia, sebelah selatan Kepulauan Nusa Tenggara, sebelah selatan Pulau Jawa, sebelah barat Sumatra, laut Andaman, menuju luar Pantai Bombay, di luar pantai Ceylon, sebelah barat Hindia, Teluk Aden, perbatasan samudra Hindia dengan pantai Sobali, pantai timur dan selatan Afrika dimana pergerakannya dilakukan pada bulan April hingga September. Sementara itu, di kawasan Atlantik ikan cakalang bergerak dari laut Barents menuju pantai utara Inggris Raya hingga ke kepulauan Bermuda pada September hingga Februari (www.mei-smart.blogspot.com).

(21)

Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi ruaya atau migrasi ikan cakalang (Musida 2009) yaitu :

A. Faktor Eksternal  Suhu

Fluktuasi suhu dan perubahan geografis merupakan faktor penting yang merangsang dan menentukan keberadaan ikan. Suhu akan mempengaruhi proses metabolisme, aktifitas gerakan tubuh, dan berfungsi sebagai stimulus saraf.

 Salinitas

Ikan cenderung memilih medium dengan salinitas yang lebih sesuai dengan tekanan osmotik tubuh mereka masing-masing. Perubahan salinitas akan merangsang ikan cakalang dan jenis ikan lainnya untuk melakukan migrasi ke tempat yang memiliki salinitas yang sesuai dengan tekanan osmotik tubuhnya.

 Arus pasang surut

Arus akan mempengaruhi migrasi ikan melalui transport pasif telur ikan dan juvenil dari daerah pemijahan menuju daerah asuhan dan mungkin berorientasi sebagai arus yang berlawanan pada saat spesies dewasa bermigrasi dari daerah makanan menuju ke daerah pemijahan. Ikan dewasa yang baru selesai memijah juga memanfaatkan arus untuk kembali ke daerah makanan. Pasang surut di perairan menyebabkan terjadinya arus di perairan yang disebut arus pasang dan arus surut.  Intensitas cahaya

Perubahan intensitas cahaya sangat mempengaruhi pola penyebaran ikan, tetapi respon ikan terhadap perubahan intensitas cahaya dipengaruhi oleh jenis ikan, suhu, dan tingkat kekeruhan perairan. Ikan cakalang mempunyai kecenderungan membentuk kelompok kecil pada siang hari dan menyebar pada malam hari.

 Musim

Musim akan mempengaruhi migrasi vertikal dan horisontal ikan, migrasi diindikasikan dikontrol oleh suhu dan intensitas cahaya. Ikan pelagis dan ikan demersal mengalami migrasi musiman horisontal, mereka biasanya menuju ke perairan lebih dangkal atau dekat permukaan selama musim panas dan menuju perairan lebih dalam pada musim dingin.

 Matahari

Ikan-ikan pelagis, termasuk cakalang, yang bergerak pada lapisan permukaan diindikasikan menggunakan matahari sebagai kompas.

(22)

 Pencemaran air limbah

Pencemaran air limbah akan mempengaruhi migrasi ikan, penambahan kualitas air limbah dapat menyebabkan perubahan pola migrasi ikan.

B. Faktor internal  Kematangan gonad

Kematangan gonad diduga merupakan salah satu pendorong bagi ikan untuk melakukan migrasi. Akan tetapi, ikan cakalang melakukan migrasi sebagai proses untuk pematangan gonad sehingga mampu memijah.

 Insting

Semua jenis ikan mampu menemukan kembali daerah asal mereka meskipun sebelumnya ikan tersebut menetas dan tumbuh di daerah yang sangat jauh dari tempat asalnya dan belum pernah melewati daerah tersebut. Kemampuan ini diindikasikan merupakan insting yang dimiliki oleh ikan bahkan oleh semua jenis hewan.

 Aktifitas renang

Aktifitas renang ikan meningkat pada malam hari, kebanyakan ikan bertulang rawan (elasmobranch) dan ikan bertulang keras (teleost) lebih aktif berenang pada malam hari daripada di siang hari.

2.5. Alat Tangkap Ikan Cakalang

Nelayan Palabuhanratu dalam melakukan operasi penangkapan ikan menggunakan berbagai alat penangkapan ikan. Ikan cakalang biasanya ditangkap dengan menggunakan alat tangkap gillnet, pancing tonda, purse seinne, huhate, rawai tuna dan payang. Pancing tonda merupakan salah satu alat tangkap ikan pelagis besar yang memiliki nilai ekonomis tinggi, seperti ikan tuna, ikan cakalang dan tongkol sebagai target penangkapannya.

Pancing tonda adalah alat penangkapan ikan yang sederhana dan tidak memerlukan biaya besar dalam pengoperasiannya. Pancing tonda adalah pancing yang diberi tali panjang dan ditarik oleh perahu atau kapal. Pancing diberi umpan ikan segar atau umpan palsu yang karena pengaruh tarikan bergerak di dalam air sehingga merangsang ikan buas menyambarnya. Pengoperasian tonda memerlukan kapal atau perahu yang selalu bergerak di depan gerombolan ikan sasaran. Biasanya pancing ditarik dengan kecepatan 2-6 knot tergantung jenisnya. Ukuran perahu atau kapal yang digunakan berkisar 0,5-10 GT (Sudirman & Mallawa 2004).

(23)

Rumpon biasa juga disebut dengan Fish Agregation Device (FAD) yaitu suatu alat bantu penangkapan yang berfungsi untuk memikat ikan agar berkumpul dalam suatu catchble area (Sudirman & Mallawa 2004).

Ada beberapa prediksi mengapa ikan senang berada di sekitar rumpon :

 Rumpon tempat berkumpulnya plankton dan ikan-ikan kecil lainnya, sehingga mengundang ikan-ikan yang lebih besar untuk tujuan feeding.

 Merupakan suatu tingkah laku dari berbagai jenis ikan untuk berkelompok di sekitar kayu terapung (seperti jenis-jenis tuna dan cakalang). Dengan demikian, tingkah laku ikan ini dimanfaatkan untuk tujuan penangkapan. Kepadatan gerombolan ikan pada rumpon diketahui oleh nelayan berdasarkan buih atau gelembung-gelembung udara yang timbul di permukaan air, warna air yang gelap karena pengaruh gerombolan ikan atau banyaknya ikan-ikan kecil yang bergerak disekitar rumpon. Di Indonesia, nelayan umumnya menggunakan pelampung dari bambu, sedangkan tali temalinya masih menggunakan natural fibres (bahan alamiah) biasanya dari rotan dan pemberatnya menggunakan batu gunung atau batu karang, sedangkan atraktornya dari daun kelapa. Rumpon ini jenis ini biasanya dipasang di perairan dangkal puluhan sampai ratusan meter dengan tujuan untuk mengumpulkan ikan-ikan pelagis kecil. Sedangkan rumpon yang dipasang pada perairan yang lebih dalam (ratusan sampai ribuan meter tali temalinya telah menggunakan sintetic fibres (tali nylon)), dengan tujuan utama mengumpulkan ikan layang, tuna dan cakalang (Sudirman & Mallawa 2004).

2.6. Hubungan Panjang dan Bobot

Analisis hubungan panjang dan bobot bertujuan untuk mengetahui pola pertumbuhan dengan menggunakan parameter panjang dan bobot ikan. Hasil analisis pertumbuhan panjang-bobot akan menghasilkan suatu nilai konstanta (b), yang akan menunjukkan laju pertumbuhan parameter panjang dan bobot. Ikan yang memiliki nilai b=3 (isometrik) menunjukkan pertambahan panjangnya seimbang dengan pertambahan bobot. Sebaliknya jika nilai b≠3 (allometrik) menunjukkan pertambahan panjang tidak seimbang dengan pertambahan bobotnya. Jika pertambahan bobot lebih cepat dibandingkan pertambahan panjang (b>3), maka disebut sebagai pertumbuhan allometrik positif. Sedangkan apabila pertambahan panjang lebih cepat dibandingkan pertambahan bobot (b<3), maka disebut sebagai pertumbuhan allometrik negatif (Effendie 1997).

(24)

2.7. Faktor Kondisi

Faktor kondisi yaitu keadaan atau kemontokan ikan yang dinyatakan dalam angka-angka. Perhitungan faktor kondisi didasarkan pada panjang dan bobot. Perhitungan faktor kondisi ini untuk melihat pada panjang dan bobot berapa ikan mencapai kondisi maksimum atau minimum. Faktor kondisi dapat mengindikasikan musim pemijahan bagi ikan khususnya untuk ikan-ikan betina (Effendie 1997). Nilai faktor kondisi dipengaruhi makanan, umur, jenis kelamin dan kematangan gonad. Selain itu faktor kondisi juga dipengaruhi oleh indeks relatif penting makanan dan pada ikan betina dipengaruhi oleh indeks kematangan gonad. Ikan yang cenderung menggunakan cadangan lemaknya sebagai sumber tenaga selama proses pemijahan, sehingga akibatnya ikan akan mengalami penurunan faktor kondisi (Effendie 1979).

2.8. Sebaran Frekuensi Panjang

Data sebaran frekuensi panjang digunakan untuk mengetahui frekuensi persebaran ikan di perairan berdasarkan ukuran panjangnya. Sebaran frekuensi panjang yang dibuat ini selanjutnya digunakan untuk pendugaan kelompok umur ikan. Analisis data frekuensi panjang ditujukan untuk menentukan umur terhadap kelompok-kelompok panjang tertentu. Analisis ini berguna dalam pemisahan suatu sebaran frekuensi panjang yang kompleks kedalam sejumlah kelompok ukuran (Sparre & Venema 1999). Menurut Busacker et al. (1990) umur ikan dapat ditentukan dari sebaran frekuensi panjang melalui analisis kelompok umur karena panjang ikan dari kelompor umur yang sama cenderung akan membentuk suatu sebaran normal. Dengan mengelompokkan ikan kedalam kelas-kelas panjang dan menggunakan modus panjang kelas tersebut kelompok umur ikan dapat diketahui.

Tanda tahunan pada ikan tropis sangat sulit diamati untuk pendugaan umur karena tanda tahunan pada musim hujan tidak berbeda jelas dengan tanda tahunan pada musim kemarau. Ikan tropis relatif mengalami pertumbuhan sepanjang tahun. Oleh karena itu pendugaan umur ikan tropis umumnya dilakukan dengan metode frekuensi panjang (Tutupoho 2008). Berbeda dengan ikan sub tropis yang mengalami pertumbuhan cepat pada saat musim panas dan mengalami pertumbuhan yang lambat pada musim dingin (Sparre & Venema 1999).

Indeks separasi merupakan kuantitas yang relevan terhadap studi bila dilakukan kemungkinan bagi suatu pemisahan yang berhasil dari dua komponen yang berdekatan, apabila indeks separasi kurang dari dua (I<2) maka tidak mungkin

(25)

dilakukan pemisahan di antara dua kelompok ukuran karena terjadi tumpang tindih yang besar antar kelompok ukuran tersebut (Hasselblad 1969, McNew & Summerflat 1978 dan Clark 1981 in Sparre & Venema 1999).

2.9. Pertumbuhan

Menurut Effendie (1997) pertumbuhan adalah pertambahan ukuran panjang atau berat dalam satu ukuran waktu, sedangkan bagi populasi adalah pertambahan jumlah. Pertumbuhan merupakan proses biologi yang kompleks, dimana banyak faktor yang mempengaruhinya. Faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dibagi menjadi dua bagian besar yaitu faktor dalam dan faktor luar. Faktor dalam adalah faktor yang sukar untuk dikontrol, seperti keturunan, sex, umur, parasit, dan penyakit. Sedangkan faktor luar yang mempengaruhi pertumbuhan antara lain jumlah dan ukuran makanan yang tersedia, suhu, oksigen terlarut, dan faktor kualitas air. Faktor ketersedian makanan sangat berperan dalam proses pertumbuhan. Pertama ikan memanfaatkan makanan untuk memelihara tubuh dan menggantikan sel-sel tubuh yang rusak, kemudian kelebihan makanan yang tersisa baru dimanfaatkan untuk pertumbuhan. Persamaan pertumbuhan Von Bertalanfy merupakan persamaan yang umum digunakan dalam studi pertumbuhan suatu populasi (King 1995).

2.10. Mortalitas dan Laju Eksploitasi

Mortalitas alami adalah mortalitas yang terjadi karena berbagai sebab selain penangkapan seperti pemangsaan, penyakit, stres pemijahan, kelaparan dan usia tua (Sparre & Venema 1999). Laju mortalitas total (Z) adalah penjumlahan laju mortalitas penangkapan (F) dan laju mortalitas alami (M) (King 1995). Nilai laju mortalitas alami berkaitan dengan nilai parameter pertumbuhan von Bertalanffy K dan L∞. Ikan yang

pertumbuhannya cepat (nilai K tinggi) mempunyai M tinggi dan sebaliknya. Nilai M berkaitan dengan nilai L∞ karena pemangsa ikan besar lebih sedikit dari ikan kecil.

Mortalitas penangkapan adalah mortalitas yang terjadi akibat adanya aktivitas penangkapan (Sparre & Venema 1999).

Mortalitas alami dipengaruhi oleh predator, penyakit, dan usia. Selain itu menurut Pauly (1980) in Sparre & Venema (1999) bahwa faktor lingkungan yang mempengaruhi laju mortalitas alami yaitu suhu rata-rata perairan, selain itu panjang maksimum (L∞) dan laju pertumbuhan (K). Laju eksploitasi (E) merupakan bagian

(26)

suatu kelompok umur yang akan ditangkap selama ikan tersebut hidup. Atau dapat diartikan sebagai jumlah ikan yang ditangkap dibandingkan dengan jumlah total ikan yang mati karena semua faktor baik faktor alam maupun faktor penangkapan (Pauly 1984). Gulland (1971) in Pauly (1984) menduga bahwa stok yang dieksploitasi optimal maka laju mortalitas penangkapan (F) akan sama dengan laju mortalitas alami (M) atau laju eksploitasi (E) sama dengan 0,5 ( Foptimum = M atau Eoptimum = 0,5).

2.11. Pengelolaan Perikanan

Pengelolaan perikanan meliputi beberapa aspek termasuk sumberdaya ikan, habitat atau lingkungan, dan manusia serta berbagai faktor eksternalnya. Pengelolaan sumberdaya perikanan saat ini menuntut perhatian penuh dikarenakan oleh semakin meningkatnya tekanan eksploitasi terhadap berbagai stok ikan dan meningkatnya kesadaran dan kepedulian umum untuk memanfaatkan lingkungannya secara bijaksana, yakni dengan upaya pembangunan secara berkelanjutan. Namun demikian, upaya pengelolaan perikanan memiliki beberapa keterbatasan (constraint) karena umum sumberdaya ikan dan pemanfaatnya. Permasalahan dalam pengelolaan perikanan akan ditemui pada tiap bagian atau fungsi manajemen. Kondisi seperti ini membutuhkan berbagai upaya inovasi agar tujuan pengelolaan secara efektif dan efesien dapat tercapai (Widodo & Suadi 2006).

Secara umum tujuan utama dari pengelolaan perikanan adalah untuk menjaga kelestarian produksi terutama melalui berbagai regulasi serta tindakan perbaikan (enhancement) untuk meningkatkan kesejahteraan nelayan serta untuk memenuhi keperluan industri yang memanfaatkan produksi tersebut (mencapai tujuan biologi, ekonomi dan sosial). Untuk mencapai tujuan pengelolaan, pihak yang berwenang mengelola (pengelola) harus mampu merancang, memberikan alasan yang kuat (secara politis), dan melaksanakan sekumpulan jenis pengendalian (menyelenggarakan undang-undang terhadap aktivitas penangkapan) (Widodo & Suadi 2006).

Umumnya kegiatan pengelolaan perikanan mulai bekerja ketika isu-isu ini berkembang. Jarang ditemui upaya pengelolaan diberlakukan sejak awal pengembangan perikanan di suatu wilayah tertentu. Sehingga konsep overfishing sering menjadi acuan akan perlunya berbagai tindakan pengelolaan melalui pengaturan perikanan. Overfishing secara sederhana dapat kita pahami sebagai

(27)

penerapan sejumlah upaya penangkapan yang berlebihan terhadap suatu stok ikan. Menurut Widodo & Suadi (2006) terdapat berbagai bentuk overfishing, yaitu :

a. Growth overfishing

Ikan ditangkap sebelum mereka sempat tumbuh mencapai ukuran dimana peningkatan lebih lanjut dari pertumbuhan akan mampu membuat seimbang dengan penyusutan stok yang diakibatkan oleh mortalitas alami (misalnya pemangsaan). Pencegahan Growth overfishing meliputi pembatasan upaya penangkapan, pengaturan ukuran mata jaring dan penutupan musim atau daerah penangkapan.

b. Recruitment overfishing

Pengurangan melalui penangkapan terhadap suatu stok sehingga jumlah stok induk tidak cukup banyak untuk memproduksi telur yang kemudian menghasilkan rekrut terhadap stok yang sama. Pencegahan terhadap recruitment overfishing meliputi proteksi (misalnya melalui reservasi) terhadap sejumlah stok induk (parental stock, broadstock) yang memadai

c. Biological overfishing

Kombinasi dari growth dan recruitment overfishing akan terjadi apabila tingkat upaya penangkapan dalam suatu perikanan tertentu melampaui tingkat yang diperlukan untuk menghasilkan MSY. Pencegahan terhadap biological overfishing meliputi pengaturan upaya penangkapan dan pola penangkapan (fishing pattern).

d. Economic overfishing

Terjadi bila tingkat upaya penangkapan dalam suatu perikanan melampaui tingkat yang diperlukan untuk menghasilkan MEY, yang dirumuskan sebagai perbedaan maksimum antara nilai kotor dari hasil tangkapan dan seluruh biaya dari tangkapan (tingkat upaya penangkapan MEY lebih kecil daripada tingkat upaya MSY).

e. Ecosystem overfishing

Overfishing jenis ini dapat terjadi sebagai hasil dari suatu perubahan komposisi jenis dari suatu stok sebagai akibat dari upaya penangkapan yang berlebihan, dimana spesies target menghilang dan tidak digantikan secara penuh oleh jenis “pengganti’. Biasanya ecosystem overfishing mengakibatkan timbulnya suatu transisi dari ikan bernilai ekonomi tinggi berukuran besar kepada ikan kurang bernilai ekonomi berukuran kecil, dan akhirnya kepada ikan rucah (trash fish) dan/atau invertebrata non komersial seperti ubur-ubur.

f. Malthusian overfishing

Malthusian overfishing merupakan suatu istilah untuk mengungkapkan masuknya tenaga kerja yang tergusur dari berbagai aktivitas berbasis darat (land-based

(28)

activities) kedalam perikanan pantai dalam jumlah yang berlebihan, yang berkompetisi dengan nelayan tradisional yang telah ada dan yang cenderung menggunakan cara-cara penangkapan yang bersifat merusak, seperti dinamit untuk ikan-ikan pelagis, sianida untuk ikan-ikan di terumbu karang dan/atau insektisida di beberapa perikanan laguna dan estuaria.

Beberapa ciri-ciri yang dapat menjadi patokan suatu perikanan sedang menuju kondisi ini antara lain, waktu melaut menjadi lebih panjang dari biasanya, lokasi penangkapan menjadi lebih jauh dari biasanya, ukuran mata jaring menjadi lebih kecil dari biasanya, yang kemudian diikuti produktivitas (hasil tangkapan per satuan upaya/trip, CPUE) yang menurun, ukuran ikan sasaran yang semakin kecil dan biaya penangkapan (operasional) yang semakin meningkat (Widodo & Suadi 2006).

2.12. Kondisi Lingkungan Perairan

Kondisi lingkungan perairan sangat berpengaruh dengan pola kehidupan ikan. Menurut Gunarso (1985) fluktuasi keadaan lingkungan mempunyai pengaruh yang besar terhadap periode migrasi musiman serta terdapatnya ikan disuatu tempat. Adapun parameter yang relatif mudah untuk diukur adalah suhu perairan. Suhu memiliki pengaruh terhadap proses fisiologi hewan seperti metabolisme dan siklus reproduksi.

Peningkatan suhu dapat mengakibatkan peningkatan kecepatan metabolisme dan respirasi organisme akuatik dan selanjutnya meningkatkan konsumsi oksigen. Effendi (2003) menyatakan peningkatan suhu 10 oC menyebabkan terjadinya

peningkatan konsumsi oksigen oleh organisme akuatik sekitar 2-3 kali lipat. Namun, peningkatan suhu ini disertai dengan penurunan kadar oksigen terlarut (Effendi 2003).

Menurut Gunarso (1985) pada suatu daerah penangkapan ikan cakalang suhu permukaan laut yang disukai biasanya berkisar antara 16-26 oC, walaupun untuk

Indonesia suhu optimumnya adalah berkisar 28-29 oC. Sedangkan suhu untuk

pemijahan berkisar pada 28-29 oC. Setiap ikan mempunyai kisaran suhu tertentu

untuk melakukan pemijahan, bahkan mungkin dengan suatu siklus musiman yang tertentu pula. Selain itu biasanya ikan cakalang hidup pada perairan dengan kadar salinitas antara 33-35o/oo dengan salinitas untuk pemijahan sebesar 33o/oo. Ikan ini

jarang dijumpai pada perairan dengan kadar salinitas yang lebih rendah atau tinggi dari kisaran tersebut.

(29)

3.1. Lokasi dan Waktu

Penelitian dilaksanakan di PPN Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat (Gambar 2). Pengambilan data primer dilakukan selama tiga bulan dari tanggal 9 Maret – 18 Mei 2010 dengan interval waktu pengambilan contoh dua minggu. Daerah penangkapan ikan cakalang bermula dari mulut teluk Palabuhanratu sampai perbatasan Pangandaran (area berwarna kuning). Pada daerah penangkapan tersebut terdapat rumpon sebagai alat bantu pengumpul ikan.

Gambar 2. Peta lokasi penelitian 3.2. Pengumpulan Data

3.2.1 Pengumpulan data primer

Pengumpulan data primer dilakukan dengan cara pengambilan contoh jenis ikan cakalang yang di daratkan di PPN Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat. Metode yang digunakan yaitu dengan melakukan pengukuran panjang cagak dan bobot basah untuk pendugaan parameter pertumbuhan dan pola pertumbuhan ikan cakalang di Palabuhanratu. Panjang ikan diukur dari ujung terdepan bagian kepala sampai dengan lekuk cabang sirip ekor (panjang cagak). Panjang cagak digunakan untuk ikan yang sirip ekornya keras seperti tuna (Sparre & Venema 1999). Pengukuran panjang cagak dilakukan dengan menggunakan meteran kain yang mempunyai ketelitian 0,1 cm. Sedangkan bobot ikan cakalang yang ditimbang adalah bobot basah total yaitu bobot total jaringan tubuh ikan dan air yang

(30)

terdapat di dalamnya dengan menggunakan timbangan digital dengan ketelitian 1 gram.

Ikan cakalang yang digunakan sebagai contoh diambil dari 3 kapal dari beberapa kapal yang mendaratkan ikan cakalang di PPN Palabuhanratu dengan cara meminjam. Pengambilan contoh 3 kapal tersebut dilakukan dengan metode campuran, berdasarkan waktu (kesamaan waktu pengambilan contoh dengan pendaratan 3 kapal tersebut), alat tangkap dan lokasi penangkapan (fishing ground). Kemudian dari 3 kapal diambil contoh ikan ±35 ekor secara acak oleh nelayan dari dalam drum plastik (blong) dengan jumlah seluruh contoh yang digunakan sebanyak ±100 ekor dalam setiap samplingnya, sehingga jumlah contoh yang diambil selama penelitian sebanyak 622 ekor (Gambar 3). Dalam melakukan pengambilan contoh, digunakan kapal-kapal yang sama selama penelitian.

Gambar 3. Skema Pengambilan Contoh

PPN Palabuhanratu

Kapal pancing tonda

Kapal 1

Kapal 3

± 100 contoh ikan cakalang

Pengukuran panjang dan berat

Kapal 2

(31)

Pengumpulan data primer dan informasi lainnya dengan cara mewawancarai nelayan ikan cakalang di Palabuhanratu. Informasi tersebut diantaranya berupa kegiatan operasi penangkapan, dan daerah penangkapan (fishing ground).

3.2.2 Pengumpulan data sekunder

Pengumpulan data sekunder yaitu meliputi data produksi hasil tangkapan ikan cakalang di PPN Palabuhanratu pada tahun 2005-2008 sebagai data penunjang untuk analisis mortalitas dan laju eksploitasi serta pengumpulan data mengenai kondisi lingkungan Teluk Palabuhanratu termasuk data suhu yang akan digunakan untuk analisis mortalitas alami.

3.2.1. Analisis Data

3.3.1 Hubungan Panjang Bobot

Bobot dapat dianggap sebagai suatu fungsi dari panjang. Hubungan panjang dan bobot dapat diketahui dengan rumus (Effendi 1997):

W = aLb

Keterangan : W = bobot ikan (gram)

L = panjang total ikan (milimeter) a, b = konstanta

Jika rumus umum tersebut ditransformasikan ke dalam logaritma, maka akan didapatkan persamaan linier atau persamaan garis lurus sebagai berikut :

Log W = log a + b log L

Untuk mendapatkan nilai konstanta a dan b maka dilakukan analisis regresi dengan menggunakan nilai Log W sebagai y dan Log L sebagai x maka akan didapatkan persamaan sebagai berikut :

y = a + bx

Uji-t dilakukan untuk menguji b = 3 atau b ≠ 3, dengan hipotesis sebagai berikut :

H0: b = 3, isometrik (pertambahan panjang seimbang dengan pertambahan

(32)

H1: b ≠ 3, allometrik (pertambahan panjang tidak sama dengan pertambahan bobot)

dimana :

Bilamana nilai b = 3 menunjukkan bahwa pertumbuhan ikan tidak berubah bentuknya, pertambahan panjang ikan seimbang dengan pertambahan bobotnya (isometrik). Sedangkan apabila b > menunjukkan pertambahan bobot lebih cepat dari pertambahan panjangnya (allometrik positif), dan jika b < 3 menunjukkan pertambahan panjang lebih cepat dari pertambahan bobotnya (allometrik negatif) (Effendi 1997).

Keterangan :

b1 : Nilai b (dari analisis regresi hubungan panjang bobot)

b0 : 3

Sb1 : Simpangan koefisien b

Setelah didapatkan nilai thit dari perhitungan diatas lalu bandingkan dengan

nilai ttab pada selang kepercayaan 95% kemudian untuk mengetahui pola

pertumbuhan ikan, kaidah keputusan yang diambil adalah : thit> ttab : tolak H0 (Hipotesis nol)

thit< ttab: gagal tolak H0(Hipotesis nol)

3.3.2 Faktor Kondisi

Faktor kondisi yaitu keadaan atau kemontokan ikan yang dinyatakan dalam angka-angka. Perhitungan faktor kondisi didasarkan pada panjang dan bobot ikan. Faktor kondisi dapat dihitung dengan rumus (Effendie 1979) sebagai berikut :

Jika nilai b = 3 (isometrik), maka faktor kondisi ditentukan dengan rumus : K(t,s,f)= 3

5

10

L

W

Jika nilai b ≠ 3 (allometrik), maka faktor kondisi ditentukan dengan rumus : K(t,s,f)= b

aL W

(33)

Keterangan : K = faktor kondisi W = bobot ikan (gram)

L = panjang total ikan (milimeter) a, b = konstanta

3.3.3 Sebaran Frekuensi Panjang

Dalam metode sebaran frekuensi panjang data yang digunakan adalah data panjang cagak dari ikan cakalang. Dilakukan pengukuran ikan cakalang dengan menggunakan meteran kain yang memiliki ketelitian 0,1 cm. Adapun langkah-langkah untuk membuat sebaran frekuensi panjang adalah sebagai berikut (Walpole 1992) : Langkah 1 : Menentukan banyaknya selang kelas yang diperlukan

Langkah 2 : Menentukan wilayah data tersebut

Langkah 3 : Bagilah wilayah tersebut dengan banyaknya kelas untuk menduga lebar selang kelasnya

Langkah 4 : Menentukan limit bawah kelas bagi selang yang pertama dan

kemudian batas bawah kelasnya, kemudian tambahkan lebar kelas pada batas bawah kelas untuk mendapatkan batas atas kelasnya Langkah 5 : Mendaftarkan semua limit kelas dan batas kelas dengan cara

menambahkan lebar kelas pada limit dan batas selang sebelumnya Langkah 6 : Menentukan titik tengah kelas bagi masing-masing selang

dengan merata-ratakan limit kelas atau batas kelasnya Langkah 7 : Menentukan frekuensi bagi masing-masing kelas

Langkah 8 : Menjumlahkan kolom frekuensi kemudian periksa apakah hasilnya sama dengan banyaknya total pengamatan

3.3.4 Pertumbuhan

Model pertumbuhan yang berhubungan dengan panjang ikan yang rumusnya dikemukaan oleh Von Bertalanffy yang kemudian disebut Model Von Bertalanffy adalah (Sparre & Venema 1999) :

Lt = L∞(1-e-K(t-to))

atau

(34)

Keterangan : Lt = panjang ikan pada waktu t (milimeter)

L∞ = panjang maksimum (milimeter)

L0 = panjang ikan pada waktu t=0 (milimeter)

K = koefesien pertumbuhan (per tahun) t0 = umur ikan pada waktu panjang nol

Untuk nilai L∞ dan K didapatkan dari hasil perhitungan dengan metode

ELEFAN 1 yang terdapat dalam program FiSAT II. Sedangkan nilai t0 (umur teoretis

ikan pada saat panjang sama dengan nol) dapat diduga dengan persamaan empiris Pauly (Pauly 1984) sebagai berikut :

Log (-t0) = 0,3922 – 0,2752 (Log L∞) – 1,0380 (Log K)

3.3.5 Mortalitas dan laju eksploitasi (E)

Laju mortalitas total (Z) diduga dengan menggunakan metode Jones & Van Zalinge yang dikemas dalam program FiSAT II. Sedangkan untuk menduga laju mortalitas alami (M) menggunakan rumus empiris Pauly (1984). Untuk memperhitungkan jenis ikan yang memiliki kebiasaan bergerombol dikalikan dengan nilai 0,8 sehingga untuk spesies yang bergerombol seperti ikan cakalang nilai dugaan menjadi 20% lebih rendah.

ln M = -0,0152 – 0,279 ln + 0,6543 ln K + 0,463 ln T M = 0,8 e (lnM)

Keterangan : M = mortalitas alami

L∞ = panjang asimtotik pada persamaan pertumbuhan

Von Bartalanffy

K = koefisien pertumbuhan pada persamaan pertumbuhan Von Bertalanffy

T = rata-rata suhu permukaan air (0C)

Laju mortalitas penangkapan (F) dapat ditentukan dengan menggunakan rumus sebagai berikut :

(35)

Laju eksploitasi ditentukan dengan membandingkan mortalitas panangkapan (F) terhadap mortalitas total (Z) (Pauly 1984) :

E = M F F  = Z F

Keterangan : F = Mortalitas penangkapan Z = Mortalitas total

(36)

4.1. Kondisi Umum Perairan Teluk Palabuhanratu dan Sekitarnya

Perairan Teluk Palabuhanratu terletak pada posisi geografis 6057’- 7007’LS dan

106022’-106023’BT dengan panjang pantai lebih kurang 105 km. Batas-batas wilayah

secara administratif di sebelah Utara dengan Kabupaten Bogor, Samudera Indonesia (Samudera Hindia) di sebelah Selatan, Kabupaten Cianjur di sebelah Timur, sedangkan di sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Lebak dan Samudera Indonesia (Samudera Hindia) (Wahyudin 2004). Perairan tersebut merupakan perairan pantai selatan Jawa Barat yang memilliki hubungan dengan Samudra Hindia. Sistem sungai yang bermuara di perairan teluk diketahui ada 7 buah yaitu 2 buah golongan besar: S. Cimandiri dan S. Cibareno dan 5 buah lainnya tergolong sungai kecil: S. Cimaja, Cipalabuhan, Cidadap, Cibutun dan Ciletuh.

Musim sangat berpengaruh terhadap kondisi hidrodinamika perairan teluk. Pada periode Musim Timur (Mei-Agustus) gelombang dan arus relatif lebih tenang dibandingkan pada periode musim barat (November-Februari). Kondisi Teluk Palabuhanratu banyak dipengaruhi oleh kondisi oseanografi Samudera Hindia seperti adanya pengaruh angin yang besar. Perairan Teluk Palabuhanratu mempunyai suhu permukaan laut pada musim barat berkisar 29–30oC dan pada musim timur 26-27oC.

Sedangkan keadaan suhu pada umumnya di Teluk Palabuhanratu dan sekitarnya berkisar antara 28-31 oC sebagaimana suhu permukaan laut di perairan Indonesia

(www.veteriani. blogspot.com). Menurut Gunarso (1985) pada suatu daerah penangkapan ikan cakalang suhu permukaan laut yang disukai biasanya berkisar antara 16-26oC, walaupun di Indonesia suhu optimumnya adalah berkisar 28-29 oC.

Hal ini mengindikasikan bahwa ikan cakalang dapat hidup di perairan Teluk Palabuhanratu dan sekitarnya.

Berdasarkan topografi dasar perairannya, perairan dangkal di Teluk Palabuhanratu dapat dijumpai sampai jarak 300 meter dari garis pantai dengan kedalaman kurang dari 200 meter (Pariwono et al. 1988 in Wahyudin 2004). Perairan Palabuhanratu memiliki kadar salinitas yang cukup tinggi yaitu berkisar 30–33‰. Tingginya kadar salinitas tersebut dipengaruhi oleh curah hujan (presipitasi), penguapan (evaporasi), dan adanya hubungan terbuka dengan Samudera Hindia juga dapat meningkatkan kadar salinitas di Teluk Palabuhanratu. Selain itu salinitas juga

(37)

dipengaruhi oleh keadaan musim dengan faktor utama adanya masukan massa air sungai yang bermuara. Menurut Gunarso (1985) ikan cakalang hidup pada perairan dengan kadar salinitas antara 33-35o/oo dan pada salinitas 33o/oo biasanya ikan

cakalang melakukan pemijahan. Hal ini menunjukkan ikan cakalang dapat hidup di perairan tersebut.

Menurut Widiyanto (2008) terdapat dua pola musim di perairan Palabuhanratu yang berpengaruh terhadap aktivitas penangkapan ikan, yaitu musim timur yang berlangsung dari bulan Juni hingga September dan musim barat yang berlangsung dari bulan Desember hingga februari. Kondisi perairan pada musim timur relatif tenang, angin serta gelombang tidak begitu besar sehingga aktivitas penangkapan ikan cukup tinggi pada musim ini. Periode ini berlangsung pada musim kemarau. Hal yang sebaliknya terjadi pada musim barat. Pada musim ini, angin dan gelombang laut cukup tinggi sehingga menyulitkan nelayan untuk melaut. Pada musim barat umumnya aktivitas penangkapan akan menurun. Diantara kedua musim tersebut terdapat musim peralihan pertama yaitu antara bulan Maret sampai Mei dan musim peralihan kedua yang berlangsung antara bulan Oktober sampai November.

4.2. Kondisi Umum Perikanan Cakalang di PPN Palabuhanratu

Ikan cakalang merupakan salah satu hasil tangkapan ikan pelagis besar yang dominan dan memiliki nilai ekonomis penting di PPN Palabuhanratu selain ikan tuna dan tongkol. Alat tangkap yang digunakan untuk menangkap ikan cakalang yaitu gill net, purse seinne, pancing tonda dan payang. Persentase alat tangkap yang digunakan untuk menangkap ikan cakalang di PPN Palabuhanratu disajikan pada Gambar 4. Pada saat pengambilan contoh selama tiga bulan alat tangkap yang beroperasi adalah pancing tonda dengan bantuan rumpon. Hal ini terkait dengan biaya operasional yang lebih murah menggunakan alat tangkap pancing tonda dibandingkan dengan menggunakan alat tangkap yang lain, selain itu pengoperasian dengan alat tangkap pancing tonda juga relatif lebih mudah dan menghemat waktu.

Pancing tonda terdiri dari mata pancing, tali pancing dan umpan buatan. Berdasarkan hasil wawancara dengan nelayan ketiga kapal pancing tonda, lamanya trip yaitu selama satu minggu dengan biaya operasi penangkapan berkisar Rp. 4.000.000-Rp. 5.000.000. Panjang tali pancing yang digunakan ±110 m, jumlah mata pancing ±20 buah dengan ukuran mata pancing 9 disetiap pancing tonda. Dalam satu kapal biasanya terdiri dari 4-5 orang ABK dan 4-6 buah pancing tonda. Jenis kapal

(38)

motor yang dipakai untuk operasional alat tangkap ini adalah kapal motor dengan ukuran 6 GT. Pengoperasian tonda memerlukan kapal atau perahu yang selalu bergerak di depan gerombolan ikan sasaran. Ukuran perahu atau kapal yang digunakan berkisar 0,5-10 GT (Sudirman & Mallawa 2004).

Pancing tonda di PPN Palabuhanratu digunakan sejak tahun 2004 dengan bantuan rumpon. Rumpon biasa juga disebut dengan Fish Agregation Device (FAD) yaitu suatu alat bantu penangkapan yang berfungsi untuk memikat ikan agar berkumpul dalam suatu catchble area (Sudirman & Mallawa 2004). Rumpon berfungsi juga sebagai sumber makanan dan tempat berlindung ikan kecil dari predator, sedangkan ikan cakalang bermigrasi untuk mencari makanan di daerah rumpon yang banyak terdapat ikan-ikan kecil dan plankton. Kemudian nelayan melakukan penangkapan ikan cakalang di daerah tersebut dengan menggunakan alat tangkap pancing tonda.

Kepadatan gerombolan ikan pada rumpon diketahui oleh nelayan berdasarkan buih atau gelembung-gelembung udara yang timbul di permukaan air, warna air yang gelap karena pengaruh gerombolan ikan atau banyaknya ikan-ikan kecil yang bergerak disekitar rumpon (Sudirman & Mallawa 2004). Persentasen tertinggi jenis ikan yang ditangkap paling banyak dengan menggunakan pancing tonda yaitu cakalang, kemudian tongkol abu-abu, tuna madidihang, tuna mata besar, tongkol lisong dan persentase terendah yaitu layang (Gambar 5).

Berdasarkan hasil wawancara musim penangkapan ikan cakalang berkisar dari bulan Juni-Oktober dengan puncaknya berkisar pada bulan Agustus-September. Ikan cakalang didistribusikan dalam bentuk segar ataupun olahan seperti pindang. Harga ikan cakalang yang dijual di pasar ikan palabuhanratu dalam bentuk segar yaitu seharga Rp.10.000/kg sedangkan yang sudah diolah yaitu dalam bentuk pindang berkisar Rp.15.000 - Rp. 20.000/kg. Umumnya ikan hasil olahan (pindang) ini didistribusikan secara lokal ke daerah Palabuhanratu itu sendiri, Sukabumi, Cianjur, Bogor, Bandung dan Jakarta. Ikan yang memiliki kualitas tinggi di ekspor dengan cara dibekukan dengan tingkat kesegaran tinggi ke negara Korea dan Jepang.

(39)

Gambar 4. Grafik persentase alat tangkap ikan cakalang

Gambar 5. Grafik persentase jenis ikan yang ditangkap dengan alat tangkap pancing tonda

4.3. Hubungan Panjang dan Bobot

Analisis hubungan panjang dan bobot digunakan panjang cagak (mm) dan bobot contoh ikan cakalang. Pada Tabel 2 dapat dilihat persamaan dan pola pertumbuhan berdasarkan hubungan panjang dan bobot ikan cakalang pada setiap pengamatan.

Tabel 2. Hubungan panjang dan bobot ikan cakalang pada setiap pengamatan setelah dilakukan uji-t

Sampling ke- Persamaan hubungan panjang berat Pola pertumbuhan 1 W = 4x10(n = 107; r = 0,9907)-6L3,1962 Allometrik positif 2 W = 8x10(n = 105; r = 0,9765)-7L3,4963 Allometrik positif 3 W = 10(n = 101; r = 0,9598)-5L3,0179 Isometrik 4 W = 2x10(n = 100; r = 0,9363)-5L2,9639 Isometrik 5 W = 7x10(n = 100; r = 0,9676)-6L3,1221 Isometrik 6 W = 2x10(n = 109; r = 0,9382)-6L3,3152 Allometrik positif

(40)

Secara umum hasil analisis pada tabel di atas menunjukkan bahwa hubungan panjang dan bobot ikan cakalang memiliki hubungan yang sangat erat (nilai koefisien korelasi (r) mendeketi satu). Setelah dilakukan uji-t pada sampling pertama, kedua dan keenam ikan cakalang memiliki pola pertumbuhan allometrik positif, dimana nilai b>3 yang memiliki arti bahwa pertambahan bobot lebih dominan dibandingkan pertambahan panjang, sedangkan pada sampling ketiga, keempat dan kelima ikan cakalang memiliki pola pertumbuhan isometrik yang berarti pertambahan panjang seimbang dengan pertambahan bobot (Effendie 1997).

Gambar 6. Grafik hubungan panjang bobot ikan cakalang

Hasil keseluruhan analisis hubungan panjang dan bobot ikan cakalang memiliki persamaan W = 4x10-6L3,1982(Gambar 6), koefisien determinasi (R2) sebesar

0,97 dan dengan nilai koefisien korelasi (r) sebesar 0,9895. Ini menunjukkan bahwa model dugaan menggambarkan 97% model sebenarnya dialam. Untuk hubungan panjang dan bobot pada ikan cakalang memiliki korelasi yang sangat erat (koefisien korelasi (r) mendekati satu).

Berdasarkan uji-t pada selang kepercayaan 95% diperoleh nilai thit>ttabel yang

berarti tolak H0 yaitu pola pertumbuhan ikan cakalang bersifat allometrik positif, yaitu

pertambahan bobot lebih cepat daripada pertambahan panjangnya (pertambahan panjang tidak sama dengan pertambahan bobot) (Effendie 1997). Hal ini diduga karena ketersediaan makanan yang cukup banyak diperairan untuk ikan cakalang. FAO

(41)

(1983) menyebutkan bahwa makanan utama ikan cakalang yaitu ikan-ikan kecil (makanan utama), crustacea dan moluska. Dengan bervariasanya berbagai jenis organisme dalam makanan serta adanya sifat kanibalisme menunjukkan bahwa ikan cakalang tergolong oportunistic feeder, yaitu ikan yang memangsa segala jenis makanan yang tersedia di perairan. Ikan cakalang juga mempunyai sifat makan yang rakus.

Tabel 3. Pola pertumbuhan ikan cakalang dari beberapa penelitian

Sumber Lokasi pertumbuhanPersamaan pertumbuhanPola pengambilan Periode data Uktoselja

(1987) Perairan Indonesia Timur W=1,0773E-05L3,1260 Allometrik positif

Desember 1984-Februari 1986 Mayangsoka (2010) Samudera Hindia Barat (Barat Sumatera) W=0,00001L 3,0449 Isometrik Maret-Mei 2010 Fadhilah (2010) Teluk Palabuhanratu dan sekitarnya W=4x10 6L3,1982 Allometrik positif Maret-Mei 2010

Berdasarkan Tabel 3, dapat dilihat bahwa pola pertumbuhan ikan cakalang yang berlokasi di Perairan Timur Indonesia dengan di Teluk Palabuhanratu dan sekitarnya memiliki kesamaan pola pertumbuhan yaitu allometrik positif, sedangkan pola pertumbuhan ikan cakalang yang berlokasi di Samudera Hindia Barat (Barat Sumatera) memiliki pola pertumbuhan isometrik. Perbedaan pola pertumbuhan diduga karena perbedaan lokasi penangkapan (berkaitan dengan kondisi perairan), waktu penelitian, kepadatan populasi, dan genetik dari ikan cakalang itu sendiri. Selain itu perbedaan pola pertumbuhan dapat disebabkan oleh perbedaan jumlah dan variasi ukuran ikan yang diamati (Moutopoulos & Stergiou 2002 in Kharat et al. 2008). Menurut Effendie (1997) faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dibagi menjadi dua bagian besar yaitu faktor dalam dan faktor luar. Faktor dalam seperti keturunan, sex, umur, parasit, dan penyakit. Sedangkan faktor luar yang mempengaruhi pertumbuhan antara lain jumlah dan ukuran makanan yang tersedia, suhu, oksigen terlarut, dan faktor kualitas air.

(42)

4.4. Faktor Kondisi

Faktor kondisi yaitu keadaan atau kemontokan ikan yang dinyatakan dalam angka-angka. Perhitungan faktor kondisi didasarkan pada panjang dan bobot. Panjang yang digunakan untuk analisis adalah panjang cagak.

Nilai rata-rata faktor kondisi ikan cakalang selama pengamatan berkisar pada 0,99-1,45 (Lampiran 15). Nilai rata-rata faktor kondisi tertinggi terdapat pada sampling ketiga yaitu pada tanggal 6 April 2010 sebesar 1,45 dan nilai rata-rata faktor kondisi terkecil terdapat pada sampling kedua yaitu pada tanggal 23 Maret 2010 sebesar 0,99. Nilai faktor kondisi ikan cakalang selama pengamatan cukup berfluktuatif (Gambar 7). Nilai faktor kondisi tertinggi ikan cakalang terdapat pada sampling ketiga, hal dikarenakan pada sampling ketiga ikan yang digunakan sebagai contoh memiliki ukuran yang besar-besar dibandingkan oleh ikan-ikan yang digunakan pada sampling yang lain. Selain itu hal ini diduga karena kondisi perairan ikan tersebut baik untuk proses pertumbuhan ikan cakalang.

Faktor kondisi dipengaruhi makanan, umur, jenis kelamin dan kematangan gonad. Faktor kondisi juga dipengaruhi oleh indeks relatif penting makanan dan pada ikan betina dipengaruhi oleh indeks kematangan gonad. Ikan yang cenderung menggunakan cadangan lemaknya sebagai sumber tenaga selama proses pemijahan, sehingga akibatnya ikan akan mengalami penurunan faktor kondisi. Faktor kondisi juga akan meningkat apabila kepadatan populasi berkurang sehingga kompetisi dalam mencari makan juga rendah (Effendie 1979).

(43)

4.5. Sebaran Frekuensi Panjang

Sebaran ukuran panjang ikan cakalang selama pengamatan disajikan pada Gambar 8. Untuk panjang yang digunakan yaitu panjang cagak. Ikan cakalang yang diamati selama penelitian sebanyak 622 ekor. Berdasarkan Gambar 8 dapat dilihat bahwa terdapat pergeseran sebaran ukuran panjang. Pada tanggal 9 Maret 2010 panjang ikan cakalang terletak pada selang kelas 246-255 sampai 526-535 dengan frekuensi tertinggi pada selang kelas 396-405. Pada tanggal 23 Maret 2010 panjang ikan cakalang terletak pada selang kelas 276-285 sampai 426-435 dengan frekuensi tertinggi pada selang kelas 366-375. Pada tanggal 6 April 2010 panjang ikan cakalang terletak pada selang kelas 266-275 sampai 486-495 dengan frekuensi tertinggi pada selang kelas 316-325. Pada tanggal 20 April panjang ikan cakalang terletak pada selang kelas 236-246 sampai 416-125 dengan frekuensi tertinggi pada selang kelas 316-325. Pada tanggal 4 Mei 2010 panjang ikan cakalang terletak pada selang kelas 236-245 sampai 526-535 dengan frekuensi tertinggi pada selang kelas 346-355. Pada tanggal 18 Mei 2010 panjang ikan cakalang terletak pada selang kelas 446-455 sampai 625-635 dengan frekuensi tertinggi pada selang kelas 496-505.

Pergeseran selang ukuran panjang ikan ke arah kanan dari tanggal 9 Meret 2010 sampai dengan 6 April 2010 dapat dijadikan sebagai indikasi adanya pertumbuhan ikan cakalang. Namun selang kelas pada tanggal 20 April 2010 sampai dengan tanggal 4 Mei 2010 mengalami pergeseran ke arah kiri, hal ini dapat diduga karena adanya rekruitmen ikan cakalang sehingga masuknya individu baru yang membentuk kelompok ukuran panjang yang baru. Selanjutnya pada sampling terakhir tanggal 18 Mei 2010 selang kelas panjang kembali bergeser ke arah kanan, hal ini diduga karena adanya aktivitas migrasi. Ikan cakalang dapat hidup nyaris di semua lautan yang ada di muka bumi ini karena itulah dapat dikatakan bahwa ikan cakalang termasuk jenis oseanodrom (hidup dan beruaya atau bermigrasi di lautan). Cakalang sering membentuk gerombolan untuk melakukan ruaya atau migrasi jarak jauh dengan melawan arus (www.mei-smart.blogspot.com).

(44)
(45)

4.6. Kelompok Ukuran

Kelompok ukuran adalah sekelompok individu ikan dari jenis yang sama dan berasal dari tempat pemijahan yang sama. Hasil analisis pemisahan kelompok ukuran ikan cakalang dengan menggunkan NORMSEP disajikan pada Gambar 9.

Gambar 9. Kelompok ukuran ikan cakalang

18 Mei 2010 N = 109 23 Maret 2010 N = 105 6 April 2010 N = 101 20 April 2010 N = 100 4 Mei 2010 N = 100 9 Maret 2010 N = 107

Gambar

Tabel 1. Data produksi ikan cakalang (kg) yang di daratkan di Palabuhanratu Tahun 2005-2008
Gambar 1. Ikan cakalang (Katsuwonus pelamis) Sumber : www.fishbase.org
Gambar 2. Peta lokasi penelitian
Gambar 3. Skema Pengambilan Contoh PPN Palabuhanratu
+7

Referensi

Dokumen terkait

Dari penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan, bahwa dari proses pengolahan terjadi penyisihan warna RB 5 pada kondisi optimum menggunakan membran SB/Ag/TiO

Hasil penelitian menunjukkan bahwa penilaian keterampilan siswa pada kelas eksperimen dengan penerapan pendekatan saintifik menggunakan strategi pembelajaran

Penelitian bertujuan untuk memperoleh isolat bakteri yang terdapat di TPA Tamangapa yang mampu mempercepat laju pengomposan pada sampah organik dan beberapa

Adapun yang dimaksud dengan pengawasan intern merupakan seluruh proses kegiatan pengawasan penyelenggaraan tugas dan fungsi organisasi dalam rangka memberikan keyakinan yang

• Pelanggan yang menyatakan puas terhadap variabel Responsiveness (X 5 ) (X=1) mempunyai kecenderungan untuk menyatakan puas secara keseluruhan terhadap pelayanan Cuppa Coffee

Que el treball a què correspon aquesta memòria ha estat realitzat sota la seva direcció per en Josep Bacardit Sáez. I per tal que consti firma

Bagi produsen produk organik diharapkan untuk senantiasa melihat pada persepsi konsumen pada keamanan, kesehatan, keramahan lingkungan dan kesejahteraan hewan serta

Agar tidak menyimpang dari permasalahan, Tugas Akhir ini memiliki batasan masalah antara lain aplikasi dikembangkan berbasis desktop untuk sistem operasi Windows,