PEMIKIRAN NASIONALISME ARAB MUAMMAR QADHAFI (1969-1977)
Dosen Pembimbing: Dr. Istadiyantha, M.S.
Muhammad Yusuf Canarisla
Prodi Sastra Arab Fakultas Ilmu Budaya
Universitas Sebelas Maret Surakarta Email: [email protected]
ABSTRAK
Pemikiran nasionalisme Arab merupakan manifestasi Muammar Qadhafi dalam melawan segala bentuk imperialisme asing di tanah Arab. Penelitian ini membahas bagaimana pemikiran nasionalisme Arab yang dilakukan oleh Muammar Qadhafi serta upaya-upaya yang dilakukan untuk mewujudkan pemikirannnya tersebut. Teori yang digunakan adalah teori sejarah pemikiran yang disajikan secara deskriptif. Hasil penelitian ini adalah bentuk ideologi Qadhafi yang berorientasi kepada tercapainya persatuan bangsa Arab. Pemikiran nasionalisme Arab Muammar Qadhafi muncul sebagai bentuk ketidakpuasan atas imperialisme asing dalam berbagai bidang kehidupan. Upaya mewujudkan pemikiran tersebut dimulai Qadhafi sejak Revolusi Al-Fâtih tahun 1969 hingga terbentuknya Federation of Arab Republic tahun 1972 dan Republik Islam tahun 1974.
Kata Kunci: Nasionalisme Arab, Persatuan Arab.
PENDAHULUAN
Kebangkitan modern di dunia Arab bermula dengan didudukinya Mesir
oleh Perancis pada tahun 1798. Sebelum itu, negara-negara Arab hampir
semuanya tak menyadari kemajuan pesat yang telah dialami oleh Barat pada
abad-abad berikutnya, semenjak perjumpaan terakhir mereka dengan Barat semasa
Perang Salib1. Setelah tahun-tahun tersebut, abad ke 19 menjadi bagian dari awal kebangkitan bangsa Arab melawan penjajahan dari bangsa Barat.
Sebagian besar penduduk negara-negara Arab memandang dirinya dan
dipandang oleh orang lain sebagai bangsa Arab. Sentimen nasionalisme Arab ini
berdasar atas segala sesuatu yang dimiliki bersama, yakni bahasa, budaya,
pengalaman sosial politik, kepentingan ekonomi, dan memori kolektif berkaitan
1Hazem Zaki Nuseibeh, 1969, Gagasan-gagasan Nasionalisme Arab, Jakarta: Bhratara, halaman
dengan posisi dan peranan mereka dalam sejarah2. Sentimen ini kemudian berkembang menjadi semangat perlawanan terhadap imperialisme asing yang
menjangkiti negara-negara Arab.
Dominasi kekuasaan asing di tanah Arab mulai memberikan sinyal negatif
bagi tumbuh kembangnya dunia Arab, persis seperti yang dilakukan oleh Inggris
di Mesir, Amerika Serikat di Arab Saudi, Prancis di Levant (Suriah dan Libanon),
dan Inggris bersama sekutunya Amerika Serikat di Libya. Imperialisme Barat
terhadap negara-negara Timur Tengah di awal abad 19 ini tidak hanya
menimbulkan kekacauan politik dan penindasan semata, tetapi juga
menghilangkan identitas bangsa Arab. Oleh sebab itu, para nasionalis Arab
bergerilya untuk mewacanakan kembali identitas bangsa Arab. Salah satunya
adalah Muammar Qadhafi.
Ia beranggapan bahwa untuk memperkokoh sentemen nasionalisme Arab,
negaranya sendiri harus berada dalam kedaulatan penuh atau menjadi Negara
yang merdeka. Qadhafi kemudian mengubah negara monarki menjadi Negara
Massa atau Jamâhiriyah pada tahun 19773. Fase ini dianggap sebagai fase perlawanan Qadhafi terhadap semua sistem yang dianggapnya merusak sistem
pemerintahan. Mulai dari solusinya memecahkan problem demokrasi dengan
mendirikan sistem pemerintahan Negara Massa, mengatasi problem ekonomi
dengan berpijak pada sosialisme Islam, dan mengedepankan identitas sosial
mendasar sebagai pondasi sebuah bangsa. Qadhafi juga menanamkan semangat
persatuan Arab sejak Revolusi Al-Fâtih tahun 1969 kepada para pengikutnya.
Tujuannya untuk mengintegrasikan seluruh kekuatan Arab dalam melawan
imperialiasme bentuk apa pun.
Oleh sebab itu, penelitian terhadap pemikiran Qadhafi perlu dilakukan
untuk mengkaji pemikiran nasionalisme Arab Muammar Qadhafi terhitung sejak
Revolusi Al-Fâtih 1969 hingga lahirnya Al-Kitâb Al-Akhdar (The Green Book)
2Halim Barakat, 2012, Dunia Arab, Masyarakat, Budaya, dan Negara Bandung: Nusa Media,
halaman 44-45.
3 John L. Esposito, 2001, Ensiklopedia Oxford: Dunia Islam Modern Jilid 6, Bandung: Mizan
tahun 1977. Permasalahan yang diajukan dalam penelitian ini yaitu: Bagaimana
pemikiran nasionalisme Arab Muammar Qadhafi? Bagaimana upaya-upaya yang
dilakukan Muammar Qadhafi dalam mewujudkan pemikiran nasionalisme Arab
tersebut?
Penelitian ini diharapkan dapat menjelaskan bagaimana pemikiran
nasionalisme Arab Muammar Qadhafi serta bagaimana upaya yanng dilakukannya
untuk mengimplementasikan pemikirannya tersebut.
Kerangka Teori
Penulis mencoba menjabarkan penelitian ini menggunakan sebuah
pendekatan sejarah pemikiran. Pendekatan ini dimaksudkan untuk mengkaji lebih
jauh bagaimana pemikiran seseorang tumbuh dan berkembang sesuai dengan
konteks pemikiran tersebut muncul, berkembang, dan mengalami fase perubahan.
Kuntowijoyo menyebutkan sejarah pemikiran dipengaruhi oleh dua hal, yaitu
pelaku sejarah pemikiran dan tugas sejarah pemikiran. Pelaku sejarah pemikiran
ini dapat dilakukan oleh perorangan, gerakan intelektual, dan pemikiran kolektif.
Adapun tugas dari sejarah pemikiran antara lain untuk: membicarakan
pemikiran-pemikiran besar yang berpengaruh pada kejadian sejarah, melihat konteks
sejarahnya muncul, tumbuh, dan berkembang (sejarah di permukaan), dan
pengaruh pemikiran pada masyarakat bawah4.
Sejarah pemikiran dalam tugasnya menggunakan beberapa pendekatan,
yaitu kajian teks, konteks sejarah, dan kajian hubungan antara teks dan
masyarakatnya. Sebagai kajian teks, tugas sejarah pemikiran digunakan untuk
mengkaji genesis pemikiran, konsistensi pemikiran, evolusi pemikiran,
sistematika pemikiran, perkembangan dan perubahan pemikiran, varian
pemikiran, komunikasi pemikiran, dan kesinambungan pemikiran. Lalu sebagai
kajian konteks, digunakan pendekatan konteks sejarah, konteks politik, konteks
budaya, dan konteks sosial. Adapun mengenai hubungan antara pemikiran dengan
masyarakat, meliputi: pengaruh pemikiran, implementasi pemikiran, diseminasi
pemikiran, dan sosialisasi pemikiran5.
Selain itu, pendekatan lain yang digunakan penulis ialah pendekatan
mengenai nasionalisme. Nasionalisme yang dimaksud tersebut akan dipahami
sebagai suatu bahasa dan simbol, suatu gerakan sosiopolitik, dan suatu ideologi
bangsa. Menurut Anthony Smith, definisi nasionalisme adalah suatu gerakan
ideologis untuk mencapai dan memepertahankan otonomi, kesatuan, dan identitas
bagi suatu populasi, yang sejumlah anggotanya bertekad untuk membentuk
sebuah “bangsa” yang aktual atau sebuah “bangsa” yang potensial6. Definisi tersebut merujuk pada sebuah reinterpretasi terhadap pola kenangan, simbol,
mitos, dan tradisi yang membentuk warisan budaya bangsa yang khas.
Metode Penelitian
Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan teknik kepustakaan
(library research). Data diperoleh dengan cara menelaah informasi yang berkaitan
dengan pemikiran nasionalisme Arab maupun biografi Muammar Qadhafi serta
upayanya mengimplementasikan pemikiran nasionalisme Arab sejak tahun
1969-1977. Selain itu, data penelitian ini juga didapatkan dari data-data sekunder yang
diperoleh dari media internet, jurnal, skripsi, thesis, dan penelitian lain yang
dianggap berkaitan. Analisis data dilakukan secara kualitatif
PEMBAHASAN
1. PEMIKIRAN NASIONALISME ARAB MUAMMAR QADHAFI
a) Sejarah Nasionalisme Arab
Dawisha menjelaskan definisi nasionalisme Arab merupakan bentuk
solidaritas kemanusiaan yang mengikat bangsa Arab sebagai usaha mereka
membentuk suatu kebudayaan utuh serta keinginan kuat untuk memisahkan
5Ibid, halaman 191-197.
6 Anthony D Smith, 2003, Nationalism: Theory, Ideology, History. Diterjemahkan oleh Frans
politik dan kekuasaan. Mereka memiliki ikatan emosional yang mengikat
orang Arab karena memiliki bahasa, agama, dan sejarah yang sama7.
Ada beberapa istilah populer yang setara dengan terminologi
nasionalisme Arab tersebut yaitu: al-qawmiya al-‘Arabiya (Arab
nationalism), al-‘Uruba (Arabism), al-Wahda al-‘Arabiya (Arab unity), al -Ittihad al-‘Arabi (Arab union), al-Iqlimiya (regionalism), dan al-Wataniya (state patriotism). Sebutan-sebutan tersebut merupakan yang paling sering
muncul dalam pidato para pemimpin Arab, radio, editorial surat kabar, buku
politik, dan pamflet8.
Sebelum memasuki zaman modern, nasionalisme sebenarnya sudah
tumbuh subur di tanah Arab. Indikasi ini mengacu pada besarnya peradaban
Islam. Sebab, gerakan Islam untuk pertama kalinya dapat mempersatukan
bangsa Arab sehingga nasionalisme Arab berhutang budi kepada Islam9. Selama Islam terbatas pada jazirah Arab, istilah persatuan Arab dan persatuan
Islam menjadi sama artinya. Setelah itu, Islam memasuki masa-masa sulit
ketika perkembangannya mengalami stagnasi di pelbagai bidang kehidupan.
Nasionalisme Arab mulai menghangat di kalangan para nasionalis ketika
isu imigrasi bangsa Yahudi ke Palestina berkembang di kalangan masyarakat
Arab. Akibatnya, pecahlah demonstrasi hingga munculnya gerakan revolusi
menentang kehadiran bangsa Yahudi di tanah Palestina tersebut. Revolusi
tahun 1936-1939 dianggap sebagai pemberontakan terbesar dalam tiga tahun
karena melibatkan kurang lebih 3000 masyarakat Arab, 2000 masyarakat
Yahudi, dan 600 masyarakat Inggris. Konflik ini membawa kesadaran
solidaritas bangsa Arab dan Muslim, meskipun pada akhirnya bangsa Arab
mengalami kekalahan memalukan dengan kelahiran Israel. Setelah
tahun-tahun berikutnya, Israel sebagai bangsa Yahudi tersebut menjadi musuh besar
negara-negara Arab.
Puncak dari nasionalisme Arab modern terjadi pada 1 Februari 1958. Hal
ini ditandai dengan terbentuknya United Arab Republic (UAR) gabungan dari
7 Adeed Dawisha, 2003, Arab Nationalism: In Twentieth Century, United States of America:
Princeton University Press, halaman 13.
8Ibid, halaman 11.
negara Mesir dan Syria. Awalnya calon Perdana Menteri Syria, Khalid
al-‘Azm meminta kepada Presiden Naseer untuk mempersatukan kedua lembaga
dalam bidang pertahanan, ekonomi, dan urusan luar negeri. Akan tetapi,
Naseer berpandangan persatuan bangsa Arab akan mendapat tentangan keras
dari Inggris, Amerika, dan Uni Soviet10. Ide persatuan bangsa Arab ini kemudian mengalami penolakan keras oleh negara-negara monarki seperti
Arab Saudi, Jordania, Libanon, dan Iraq yang notabene sangat dekat dengan
Barat (Amerika).
Tidak sampai satu dekade gelombang nasionalisme Arab mulai
menampakkan kemunduran. Awalnya ditandai dengan konflik yang ada di
tubuh Iraq dan Syria dalam mendukung Naseer. Sebaliknya, Naseer juga
dihinggapi mosi tidak percaya dengan kabinet yang diisi oleh orang-orang Iraq
maupun Syria dalam kabinet UAR. Dampaknya begitu signifikan, serangan
udara Israel dalam Perang Enam Hari Juni 1967 secara cepat berhasil
menghancurkan kekuatan Mesir, Syria, dan Jordania. Tahun-tahun kelam
berikutnya ditandai dengan kematian Naseer dan kelahiran nilai-nilai
Arabisme yang baru. Salah satu nilai-nilai nasionalisme Arab yang baru itu
dibawa oleh Muammar Qadhafi.
b) Pemikiran Nasionalisme Arab Muammar Qadhafi
Nasionalisme Arab Qadhafi merupakan salah satu nilai yang
diperjuangkan Qadhafi ketika melakukan Revolusi Al-Fâtih. Revolusi tersebut
pada awalnya digagas oleh sekelompok perwira pimpinan Qadhafi yang
bertujuan untuk melawan kekuatan monarki rezim Raja Idris11.
Tiga prinsip fundamental yang dibawa dalam revolusi yaitu: kebebasan
(liberty), persatuan (unity), dan sosialisme (socialism). Kebebasan yang
dimaksud adalah kebebasan dari kemiskinan, penjajahan dan dominasi asing
di dalam negeri baik secara militer ataupun lainnya. Persatuan adalah
persatuan rakyat Arab dengan membentuk satu pemerintahan Arab atau
federasi dari berbagai pemerintahan kecil yang disesuaikan dengan keadaan.
10Adeed Dawisha, op.cit, halaman 186-187.
11Lillian Craig Harris, 1986, Libya: Qadhafi’s Revolution and The Modern State, United States of
Adapun sosialisme yang dimaksud merupakan sosialisme Islam12. Revolusi yang digerakkan oleh Qadhafi merupakan kepanjangan gerakan Pan-Arabisme
rintisan Jamal Abdul Naseer. Pemimpin Mesir itu dianggapnya telah berhasil
mewujudkan aspirasi semua bangsa Arab ke dalam wadah Republik Persatuan
Arab. Cita-cita itu kemudian membangkitkan semangat Qadhafi dan menjadi
model pemikiran politiknya.
Revolusi Al-Fâtih sendiri dibagi ke dalam tiga fase. Pertama, fase awal
dan perkembangan, yakni mulai 1 September 1969 hingga 1 April 1973, fase
ini merupakan usaha usaha menuju cita-cita revolusi dengan mengukuhkan
konsolidasi kekuasaan dan merekonstruksi situasi ke arah yang lebih kondusif.
Kedua, terhitung sejak lahirnya Al-Kitâb Al-Akhdar (The Green Book) 15
April 1973 hingga 2 Maret 1977. Ketiga, masa setelah penyusunan buku
tersebut, ketika masa-masa perkembangan dan sejarah baru benar-benar
dimulai13.
The Green Book adalah instrumen utama penulis dalam menganalisis
pemikiran nasionalisme Arab Qadhafi. Bagian pertama buku ini menjabarkan
model penegakkan demokrasi secara utuh yang memberikan kebebasan politik
kepada rakyat. Bagian kedua buku ini menggambarkan pembangunan
ekonomi yang berpijak pada sistem sosialisme Islam. Bagian terakhir
menggambarkan faktor sosial sebagai bentuk ketahanan sebuah negara
dimulai dari sistem sosial terkecil, keluarga hingga negara. Semua bagian
tersebut berlandaskan kepada tiga prinsip fundamental yang dibawa dalam
revolusi.
Awalnya, Qadhafi mengganti semua nama tempat, jalan, kantor, hotel,
dengan bahasa Arab. Selain itu, bahasa Arab juga dijadikan pengantar dalam
sistem pendidikan dan sistem komunikasi sosial rakyat Libya. Reformasi ini
diberlakukan tidak hanya bagi warga Libya, melainkan juga warga asing.
Setiap warga negara yang mengajukan permohonan pembuatan visa
kunjungan ke Libya wajib menggunakan bahasa dan tulisan Arab pada
12 Endang Mintarja, 2006, Politik Berbasis Agama: Perlawanan Muammar Qadhafi terhadap
Kapitalisme. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, halaman 122.
halaman kosong paspor mereka14. Tahapan ini dimaksudkan untuk menumbuhkan kembali semangat nasionalisme Arab dari hal yang paling
dasar, yaitu bahasa. Sebab, bahasa merupakan faktor utama yang mengikat
masyarakat pengguna bahasa Arab.
2. UPAYA MUAMMAR QADHAFI DALAM MEWUJUDKAN
PEMIKIRAN NASIONALISME ARAB
Tujuan Muammar Qadhafi mendorong sentimen nasionalisme Arab yaitu
untuk membuat blok Islam yang bergantung kepada Teori Universal Dunia
Ketiga. Qadhafi menjadikan negara Libya sebagai model percontohan dalam
menerapkan teori tersebut. Rangkaian kreasi tindakannya dimaksudkan untuk
menghukum bangsa Barat yang berlebihan pada masa lalu ketika melawan bangsa
Arab. Ia ingin membawa negara-negara Arab, Afrika, dan negara Non-Blok
menuju kancah internasional dan dalam posisi yang adil dalam menjalankan
aktivitas keagamaan15. Langkah ini menjadi langkah awal Qadhafi dalam mengupayakan pemikiran nasionalisme Arab.
Setelah proklamasi Republik Libya pada 1 September 1969, Qadhafi
menegaskan niatnya untuk mengembalikan kehormatan bangsa Libya. Langkah
pertama yang diambilnya adalah dengan mengusir Italia dari Libya sebagai
manifestasi prinsip kebebasan. Tujuan Qadhafi adalah mengevakuasi bangsa asing
untuk kemudian menciptakan netralitas di antara negara-negara adidaya agar
mudah mewujudkan persatuan nasional dan persatuan bangsa Arab yang ia
cita-citakan16.
Libya adalah sebuah negara, tetapi identitas sebenarnya adalah bagian dari
bangsa Arab. Oleh sebab itu, Muammar Qadhafi selalu berupaya untuk
mempersatukan politik negara Libya dengan negara-negara Arab lain17. Kebijakan luar negeri yang diambilnya harus selalu berlandaskan Al-Kitâb Al-Akhdar dan hal
ini mengizinkannya untuk melawan kebijakan luar negeri yang agresif.
14Agung D H, 2011, Khadafi: Anjing Gila dari Sahara, Yogyakarta: Penerbit Narasi, halaman 25. 15Lillian Craig Harris, op. cit, halaman 54.
Konfrensi Tingkat Tinggi (KTT) Arab di Rabat, Maroko pada Desember
1969 merupakan kali pertama Qadhafi muncul di forum internasional. Ia
berpidato dengan mengungkapkan keinginannya untuk mempersatukan bangsa
Arab dan berjuang membebaskan rakyat Arab Palestina dari pendudukan Israel.
Menurutnya, negara Israel memiliki kepentingan lain di wilayah Arab18.
Beberapa bulan pascarevolusi, Qadhafi mulai mengupayakan
langkah-langkah persatuan Arab. Langkah pertama ia lakukan dengan melakukan
pertemuan segitiga antara Jamal Abdul Naseer (Mesir), Numeri (Sudan), dan
dirinya sebagai perwakilan dari bangsa Libya. Pertemuan tersebut menghasilkan
Pakta Tripoli yang mengarah kepada penyatuan ketiga negara. Tahun yang sama,
Presiden Syria Hafez Al-Asad meminta untuk bergabung dengan kesepakatan tiga
pemimpin tersebut.19 Rencana pertemuan itu dikabarkan untuk melakukan kerjasama dalam bidang ekonomi, militer, dan politik. Mereka bersepakat untuk
membuat sebuah federasi dalam rangka mewujudkan cita-cita luhur persatuan
bangsa Arab.
Tahun 1972 Qadhafi memproklamirkan “Federation of Arab Republic” yang beranggotakan Libya, Mesir, Syria, dan Sudan (saat-saat terakhir
penandatanganan perjanjian Federation of Arab Republic, Sudan mengundurkan
diri karena negaranya mengalami kerusuhan). Akan tetapi, usia federasi ini tidak
bertahan lama karena Presiden Mesir, Anwar Sadat membelot dari Liga Arab dan
merapat ke Washington20. Sadat lebih memilih perundingan damai dengan
mengakui adanya negara Israel. Apa yang Sadat lakukan kontradiktif dengan
tujuan pembentukan federasi pada perjanjian awal, yakni berkoalisi melawan
Israel.
Semangat nasionalisme Qadhafi yang masih tinggi untuk mempersatukan
bangsa Arab ditunjukkan dengan menggandeng Tunisia dalam mendirikan
Republik Islam Arab pada tahun 1974. Namun, usaha ini lagi-lagi gagal. Meski
keinginan Qadhafi untuk mewujudkan persatuan Arab (Pan-Arabisme) merupakan
keinginan mayoritas bangsa Arab juga, beberapa penguasa Arab memandang
bahwa secara prinsip keinginan Qadhafi itu mengancam kedudukan mereka. Oleh
sebab itu, dukungan mereka hanyalah sebuah bentuk kepura-puraan saja.21
Implementasi pemikiran nasionalisme Arab Muammar Qadhafi untuk
menciptakan persatuan bangsa Arab agaknya menemui jalan buntu setelah
tahun-tahun ini.
Minimnya kesadaran akan kemenangan yang dibawa Qadhafi dalam
Revolusi Al-Fâtih menandakan bahwa simbol kebangkitan Islam dan bangsa Arab
belum sepenuhnya terbangun. Rasa persamaan itu hanya dapat dirasakan oleh
beberapa pemimpin Arab yang merasakan buruk dan pedihnya nasib di bawah
imperium asing. Sementara itu, bagi pemimpin Arab lain yang sedang menikmati
kekuasaan atas sokongan asing seperti Amerika dan negara kolonial lainnya,
kemenangan Qadhafi justru menjadi ancaman serius bagi stabilitas kekuasaan
negara mereka. Akibatnya, hubungan Libya dengan negara-negara tersebut
dipenuhi dengan konflik kepentingan dan sarat akan permusuhan.
PENUTUP Kesimpulan
Nasionalisme Arab merupakan murni produk pemikiran Muammar Qadhafi yang
telah diperjuangkan sejak Revolusi Al-Fâtih September 1969. Tujuannya adalah
untuk menciptakan persatuan di antara orang-orang Arab. Pemikiran ini dibangun
melalui (1) persepsi kegemilangan bangsa Arab pada masa lalu, khususnya ketika
Islam berada di puncak peradaban, (2) pembentukan sebuah bangsa yang mandiri
dan kuat, (3) upaya pendirian Federation of Arab Republic bersama Libya, Mesir,
Syiria, (4) upaya pendirian Republik Islam dengan menggandeng Tunisa.
DAFTAR PUSTAKA
21 Lihat Endang Mintarja halaman 125 dikutip dari Mahmud Ayyoub Islam and The Third
Agung, D. H. 2011. Khadafi: Anjing Gila dari Sahara. Yogyakarta: Penerbit Narasi.
Barakat, Halim. 2012. Dunia Arab, Masyarakat, Budaya, dan Negara. Bandung: Nusa Media.
Dawisha, Adeed. 2003. Arab Nationalism: In Twentieth Century. United States of America: Princeton University Press.
Esposito, John L. 1995. The Oxford Encyclopedia of the Modern Islamic World. Oxford University Press. Jilid 6. Terjemahan oleh Eva Y.N, dkk. 2001.
Ensiklopedia Oxford: Dunia Islam Modern. Jilid 3. Bandung: Mizan.
Harris, Lillian Craig. 1986. Libya: Qadhafi’s Revolution and The Modern State.
United States of America: Westview Press.
Kuntowijoyo. 2003. MetodologiSejarah. Yogyakarta: Tiara WacanaYogya.
Mintarja, Endang. 2006. Politik Berbasis Agama: Perlawanan Muammar Qadhafi
terhadap Kapitalisme. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Nuseibeh, Hazem Zaki. 1969. Gagasan-gagasan Nasionalisme Arab. Jakarta: Bhratara.