• Tidak ada hasil yang ditemukan

JURNAL MUHAMMAD YUSUF CANARISLA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "JURNAL MUHAMMAD YUSUF CANARISLA"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

PEMIKIRAN NASIONALISME ARAB MUAMMAR QADHAFI (1969-1977)

Dosen Pembimbing: Dr. Istadiyantha, M.S.

Muhammad Yusuf Canarisla

Prodi Sastra Arab Fakultas Ilmu Budaya

Universitas Sebelas Maret Surakarta Email: [email protected]

ABSTRAK

Pemikiran nasionalisme Arab merupakan manifestasi Muammar Qadhafi dalam melawan segala bentuk imperialisme asing di tanah Arab. Penelitian ini membahas bagaimana pemikiran nasionalisme Arab yang dilakukan oleh Muammar Qadhafi serta upaya-upaya yang dilakukan untuk mewujudkan pemikirannnya tersebut. Teori yang digunakan adalah teori sejarah pemikiran yang disajikan secara deskriptif. Hasil penelitian ini adalah bentuk ideologi Qadhafi yang berorientasi kepada tercapainya persatuan bangsa Arab. Pemikiran nasionalisme Arab Muammar Qadhafi muncul sebagai bentuk ketidakpuasan atas imperialisme asing dalam berbagai bidang kehidupan. Upaya mewujudkan pemikiran tersebut dimulai Qadhafi sejak Revolusi Al-Fâtih tahun 1969 hingga terbentuknya Federation of Arab Republic tahun 1972 dan Republik Islam tahun 1974.

Kata Kunci: Nasionalisme Arab, Persatuan Arab.

PENDAHULUAN

Kebangkitan modern di dunia Arab bermula dengan didudukinya Mesir

oleh Perancis pada tahun 1798. Sebelum itu, negara-negara Arab hampir

semuanya tak menyadari kemajuan pesat yang telah dialami oleh Barat pada

abad-abad berikutnya, semenjak perjumpaan terakhir mereka dengan Barat semasa

Perang Salib1. Setelah tahun-tahun tersebut, abad ke 19 menjadi bagian dari awal kebangkitan bangsa Arab melawan penjajahan dari bangsa Barat.

Sebagian besar penduduk negara-negara Arab memandang dirinya dan

dipandang oleh orang lain sebagai bangsa Arab. Sentimen nasionalisme Arab ini

berdasar atas segala sesuatu yang dimiliki bersama, yakni bahasa, budaya,

pengalaman sosial politik, kepentingan ekonomi, dan memori kolektif berkaitan

1Hazem Zaki Nuseibeh, 1969, Gagasan-gagasan Nasionalisme Arab, Jakarta: Bhratara, halaman

(2)

dengan posisi dan peranan mereka dalam sejarah2. Sentimen ini kemudian berkembang menjadi semangat perlawanan terhadap imperialisme asing yang

menjangkiti negara-negara Arab.

Dominasi kekuasaan asing di tanah Arab mulai memberikan sinyal negatif

bagi tumbuh kembangnya dunia Arab, persis seperti yang dilakukan oleh Inggris

di Mesir, Amerika Serikat di Arab Saudi, Prancis di Levant (Suriah dan Libanon),

dan Inggris bersama sekutunya Amerika Serikat di Libya. Imperialisme Barat

terhadap negara-negara Timur Tengah di awal abad 19 ini tidak hanya

menimbulkan kekacauan politik dan penindasan semata, tetapi juga

menghilangkan identitas bangsa Arab. Oleh sebab itu, para nasionalis Arab

bergerilya untuk mewacanakan kembali identitas bangsa Arab. Salah satunya

adalah Muammar Qadhafi.

Ia beranggapan bahwa untuk memperkokoh sentemen nasionalisme Arab,

negaranya sendiri harus berada dalam kedaulatan penuh atau menjadi Negara

yang merdeka. Qadhafi kemudian mengubah negara monarki menjadi Negara

Massa atau Jamâhiriyah pada tahun 19773. Fase ini dianggap sebagai fase perlawanan Qadhafi terhadap semua sistem yang dianggapnya merusak sistem

pemerintahan. Mulai dari solusinya memecahkan problem demokrasi dengan

mendirikan sistem pemerintahan Negara Massa, mengatasi problem ekonomi

dengan berpijak pada sosialisme Islam, dan mengedepankan identitas sosial

mendasar sebagai pondasi sebuah bangsa. Qadhafi juga menanamkan semangat

persatuan Arab sejak Revolusi Al-Fâtih tahun 1969 kepada para pengikutnya.

Tujuannya untuk mengintegrasikan seluruh kekuatan Arab dalam melawan

imperialiasme bentuk apa pun.

Oleh sebab itu, penelitian terhadap pemikiran Qadhafi perlu dilakukan

untuk mengkaji pemikiran nasionalisme Arab Muammar Qadhafi terhitung sejak

Revolusi Al-Fâtih 1969 hingga lahirnya Al-Kitâb Al-Akhdar (The Green Book)

2Halim Barakat, 2012, Dunia Arab, Masyarakat, Budaya, dan Negara Bandung: Nusa Media,

halaman 44-45.

3 John L. Esposito, 2001, Ensiklopedia Oxford: Dunia Islam Modern Jilid 6, Bandung: Mizan

(3)

tahun 1977. Permasalahan yang diajukan dalam penelitian ini yaitu: Bagaimana

pemikiran nasionalisme Arab Muammar Qadhafi? Bagaimana upaya-upaya yang

dilakukan Muammar Qadhafi dalam mewujudkan pemikiran nasionalisme Arab

tersebut?

Penelitian ini diharapkan dapat menjelaskan bagaimana pemikiran

nasionalisme Arab Muammar Qadhafi serta bagaimana upaya yanng dilakukannya

untuk mengimplementasikan pemikirannya tersebut.

Kerangka Teori

Penulis mencoba menjabarkan penelitian ini menggunakan sebuah

pendekatan sejarah pemikiran. Pendekatan ini dimaksudkan untuk mengkaji lebih

jauh bagaimana pemikiran seseorang tumbuh dan berkembang sesuai dengan

konteks pemikiran tersebut muncul, berkembang, dan mengalami fase perubahan.

Kuntowijoyo menyebutkan sejarah pemikiran dipengaruhi oleh dua hal, yaitu

pelaku sejarah pemikiran dan tugas sejarah pemikiran. Pelaku sejarah pemikiran

ini dapat dilakukan oleh perorangan, gerakan intelektual, dan pemikiran kolektif.

Adapun tugas dari sejarah pemikiran antara lain untuk: membicarakan

pemikiran-pemikiran besar yang berpengaruh pada kejadian sejarah, melihat konteks

sejarahnya muncul, tumbuh, dan berkembang (sejarah di permukaan), dan

pengaruh pemikiran pada masyarakat bawah4.

Sejarah pemikiran dalam tugasnya menggunakan beberapa pendekatan,

yaitu kajian teks, konteks sejarah, dan kajian hubungan antara teks dan

masyarakatnya. Sebagai kajian teks, tugas sejarah pemikiran digunakan untuk

mengkaji genesis pemikiran, konsistensi pemikiran, evolusi pemikiran,

sistematika pemikiran, perkembangan dan perubahan pemikiran, varian

pemikiran, komunikasi pemikiran, dan kesinambungan pemikiran. Lalu sebagai

kajian konteks, digunakan pendekatan konteks sejarah, konteks politik, konteks

budaya, dan konteks sosial. Adapun mengenai hubungan antara pemikiran dengan

(4)

masyarakat, meliputi: pengaruh pemikiran, implementasi pemikiran, diseminasi

pemikiran, dan sosialisasi pemikiran5.

Selain itu, pendekatan lain yang digunakan penulis ialah pendekatan

mengenai nasionalisme. Nasionalisme yang dimaksud tersebut akan dipahami

sebagai suatu bahasa dan simbol, suatu gerakan sosiopolitik, dan suatu ideologi

bangsa. Menurut Anthony Smith, definisi nasionalisme adalah suatu gerakan

ideologis untuk mencapai dan memepertahankan otonomi, kesatuan, dan identitas

bagi suatu populasi, yang sejumlah anggotanya bertekad untuk membentuk

sebuah “bangsa” yang aktual atau sebuah “bangsa” yang potensial6. Definisi tersebut merujuk pada sebuah reinterpretasi terhadap pola kenangan, simbol,

mitos, dan tradisi yang membentuk warisan budaya bangsa yang khas.

Metode Penelitian

Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan teknik kepustakaan

(library research). Data diperoleh dengan cara menelaah informasi yang berkaitan

dengan pemikiran nasionalisme Arab maupun biografi Muammar Qadhafi serta

upayanya mengimplementasikan pemikiran nasionalisme Arab sejak tahun

1969-1977. Selain itu, data penelitian ini juga didapatkan dari data-data sekunder yang

diperoleh dari media internet, jurnal, skripsi, thesis, dan penelitian lain yang

dianggap berkaitan. Analisis data dilakukan secara kualitatif

PEMBAHASAN

1. PEMIKIRAN NASIONALISME ARAB MUAMMAR QADHAFI

a) Sejarah Nasionalisme Arab

Dawisha menjelaskan definisi nasionalisme Arab merupakan bentuk

solidaritas kemanusiaan yang mengikat bangsa Arab sebagai usaha mereka

membentuk suatu kebudayaan utuh serta keinginan kuat untuk memisahkan

5Ibid, halaman 191-197.

6 Anthony D Smith, 2003, Nationalism: Theory, Ideology, History. Diterjemahkan oleh Frans

(5)

politik dan kekuasaan. Mereka memiliki ikatan emosional yang mengikat

orang Arab karena memiliki bahasa, agama, dan sejarah yang sama7.

Ada beberapa istilah populer yang setara dengan terminologi

nasionalisme Arab tersebut yaitu: al-qawmiya al-‘Arabiya (Arab

nationalism), al-‘Uruba (Arabism), al-Wahda al-‘Arabiya (Arab unity), al -Ittihad al-‘Arabi (Arab union), al-Iqlimiya (regionalism), dan al-Wataniya (state patriotism). Sebutan-sebutan tersebut merupakan yang paling sering

muncul dalam pidato para pemimpin Arab, radio, editorial surat kabar, buku

politik, dan pamflet8.

Sebelum memasuki zaman modern, nasionalisme sebenarnya sudah

tumbuh subur di tanah Arab. Indikasi ini mengacu pada besarnya peradaban

Islam. Sebab, gerakan Islam untuk pertama kalinya dapat mempersatukan

bangsa Arab sehingga nasionalisme Arab berhutang budi kepada Islam9. Selama Islam terbatas pada jazirah Arab, istilah persatuan Arab dan persatuan

Islam menjadi sama artinya. Setelah itu, Islam memasuki masa-masa sulit

ketika perkembangannya mengalami stagnasi di pelbagai bidang kehidupan.

Nasionalisme Arab mulai menghangat di kalangan para nasionalis ketika

isu imigrasi bangsa Yahudi ke Palestina berkembang di kalangan masyarakat

Arab. Akibatnya, pecahlah demonstrasi hingga munculnya gerakan revolusi

menentang kehadiran bangsa Yahudi di tanah Palestina tersebut. Revolusi

tahun 1936-1939 dianggap sebagai pemberontakan terbesar dalam tiga tahun

karena melibatkan kurang lebih 3000 masyarakat Arab, 2000 masyarakat

Yahudi, dan 600 masyarakat Inggris. Konflik ini membawa kesadaran

solidaritas bangsa Arab dan Muslim, meskipun pada akhirnya bangsa Arab

mengalami kekalahan memalukan dengan kelahiran Israel. Setelah

tahun-tahun berikutnya, Israel sebagai bangsa Yahudi tersebut menjadi musuh besar

negara-negara Arab.

Puncak dari nasionalisme Arab modern terjadi pada 1 Februari 1958. Hal

ini ditandai dengan terbentuknya United Arab Republic (UAR) gabungan dari

7 Adeed Dawisha, 2003, Arab Nationalism: In Twentieth Century, United States of America:

Princeton University Press, halaman 13.

8Ibid, halaman 11.

(6)

negara Mesir dan Syria. Awalnya calon Perdana Menteri Syria, Khalid

al-‘Azm meminta kepada Presiden Naseer untuk mempersatukan kedua lembaga

dalam bidang pertahanan, ekonomi, dan urusan luar negeri. Akan tetapi,

Naseer berpandangan persatuan bangsa Arab akan mendapat tentangan keras

dari Inggris, Amerika, dan Uni Soviet10. Ide persatuan bangsa Arab ini kemudian mengalami penolakan keras oleh negara-negara monarki seperti

Arab Saudi, Jordania, Libanon, dan Iraq yang notabene sangat dekat dengan

Barat (Amerika).

Tidak sampai satu dekade gelombang nasionalisme Arab mulai

menampakkan kemunduran. Awalnya ditandai dengan konflik yang ada di

tubuh Iraq dan Syria dalam mendukung Naseer. Sebaliknya, Naseer juga

dihinggapi mosi tidak percaya dengan kabinet yang diisi oleh orang-orang Iraq

maupun Syria dalam kabinet UAR. Dampaknya begitu signifikan, serangan

udara Israel dalam Perang Enam Hari Juni 1967 secara cepat berhasil

menghancurkan kekuatan Mesir, Syria, dan Jordania. Tahun-tahun kelam

berikutnya ditandai dengan kematian Naseer dan kelahiran nilai-nilai

Arabisme yang baru. Salah satu nilai-nilai nasionalisme Arab yang baru itu

dibawa oleh Muammar Qadhafi.

b) Pemikiran Nasionalisme Arab Muammar Qadhafi

Nasionalisme Arab Qadhafi merupakan salah satu nilai yang

diperjuangkan Qadhafi ketika melakukan Revolusi Al-Fâtih. Revolusi tersebut

pada awalnya digagas oleh sekelompok perwira pimpinan Qadhafi yang

bertujuan untuk melawan kekuatan monarki rezim Raja Idris11.

Tiga prinsip fundamental yang dibawa dalam revolusi yaitu: kebebasan

(liberty), persatuan (unity), dan sosialisme (socialism). Kebebasan yang

dimaksud adalah kebebasan dari kemiskinan, penjajahan dan dominasi asing

di dalam negeri baik secara militer ataupun lainnya. Persatuan adalah

persatuan rakyat Arab dengan membentuk satu pemerintahan Arab atau

federasi dari berbagai pemerintahan kecil yang disesuaikan dengan keadaan.

10Adeed Dawisha, op.cit, halaman 186-187.

11Lillian Craig Harris, 1986, Libya: Qadhafi’s Revolution and The Modern State, United States of

(7)

Adapun sosialisme yang dimaksud merupakan sosialisme Islam12. Revolusi yang digerakkan oleh Qadhafi merupakan kepanjangan gerakan Pan-Arabisme

rintisan Jamal Abdul Naseer. Pemimpin Mesir itu dianggapnya telah berhasil

mewujudkan aspirasi semua bangsa Arab ke dalam wadah Republik Persatuan

Arab. Cita-cita itu kemudian membangkitkan semangat Qadhafi dan menjadi

model pemikiran politiknya.

Revolusi Al-Fâtih sendiri dibagi ke dalam tiga fase. Pertama, fase awal

dan perkembangan, yakni mulai 1 September 1969 hingga 1 April 1973, fase

ini merupakan usaha usaha menuju cita-cita revolusi dengan mengukuhkan

konsolidasi kekuasaan dan merekonstruksi situasi ke arah yang lebih kondusif.

Kedua, terhitung sejak lahirnya Al-Kitâb Al-Akhdar (The Green Book) 15

April 1973 hingga 2 Maret 1977. Ketiga, masa setelah penyusunan buku

tersebut, ketika masa-masa perkembangan dan sejarah baru benar-benar

dimulai13.

The Green Book adalah instrumen utama penulis dalam menganalisis

pemikiran nasionalisme Arab Qadhafi. Bagian pertama buku ini menjabarkan

model penegakkan demokrasi secara utuh yang memberikan kebebasan politik

kepada rakyat. Bagian kedua buku ini menggambarkan pembangunan

ekonomi yang berpijak pada sistem sosialisme Islam. Bagian terakhir

menggambarkan faktor sosial sebagai bentuk ketahanan sebuah negara

dimulai dari sistem sosial terkecil, keluarga hingga negara. Semua bagian

tersebut berlandaskan kepada tiga prinsip fundamental yang dibawa dalam

revolusi.

Awalnya, Qadhafi mengganti semua nama tempat, jalan, kantor, hotel,

dengan bahasa Arab. Selain itu, bahasa Arab juga dijadikan pengantar dalam

sistem pendidikan dan sistem komunikasi sosial rakyat Libya. Reformasi ini

diberlakukan tidak hanya bagi warga Libya, melainkan juga warga asing.

Setiap warga negara yang mengajukan permohonan pembuatan visa

kunjungan ke Libya wajib menggunakan bahasa dan tulisan Arab pada

12 Endang Mintarja, 2006, Politik Berbasis Agama: Perlawanan Muammar Qadhafi terhadap

Kapitalisme. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, halaman 122.

(8)

halaman kosong paspor mereka14. Tahapan ini dimaksudkan untuk menumbuhkan kembali semangat nasionalisme Arab dari hal yang paling

dasar, yaitu bahasa. Sebab, bahasa merupakan faktor utama yang mengikat

masyarakat pengguna bahasa Arab.

2. UPAYA MUAMMAR QADHAFI DALAM MEWUJUDKAN

PEMIKIRAN NASIONALISME ARAB

Tujuan Muammar Qadhafi mendorong sentimen nasionalisme Arab yaitu

untuk membuat blok Islam yang bergantung kepada Teori Universal Dunia

Ketiga. Qadhafi menjadikan negara Libya sebagai model percontohan dalam

menerapkan teori tersebut. Rangkaian kreasi tindakannya dimaksudkan untuk

menghukum bangsa Barat yang berlebihan pada masa lalu ketika melawan bangsa

Arab. Ia ingin membawa negara-negara Arab, Afrika, dan negara Non-Blok

menuju kancah internasional dan dalam posisi yang adil dalam menjalankan

aktivitas keagamaan15. Langkah ini menjadi langkah awal Qadhafi dalam mengupayakan pemikiran nasionalisme Arab.

Setelah proklamasi Republik Libya pada 1 September 1969, Qadhafi

menegaskan niatnya untuk mengembalikan kehormatan bangsa Libya. Langkah

pertama yang diambilnya adalah dengan mengusir Italia dari Libya sebagai

manifestasi prinsip kebebasan. Tujuan Qadhafi adalah mengevakuasi bangsa asing

untuk kemudian menciptakan netralitas di antara negara-negara adidaya agar

mudah mewujudkan persatuan nasional dan persatuan bangsa Arab yang ia

cita-citakan16.

Libya adalah sebuah negara, tetapi identitas sebenarnya adalah bagian dari

bangsa Arab. Oleh sebab itu, Muammar Qadhafi selalu berupaya untuk

mempersatukan politik negara Libya dengan negara-negara Arab lain17. Kebijakan luar negeri yang diambilnya harus selalu berlandaskan Al-Kitâb Al-Akhdar dan hal

ini mengizinkannya untuk melawan kebijakan luar negeri yang agresif.

14Agung D H, 2011, Khadafi: Anjing Gila dari Sahara, Yogyakarta: Penerbit Narasi, halaman 25. 15Lillian Craig Harris, op. cit, halaman 54.

(9)

Konfrensi Tingkat Tinggi (KTT) Arab di Rabat, Maroko pada Desember

1969 merupakan kali pertama Qadhafi muncul di forum internasional. Ia

berpidato dengan mengungkapkan keinginannya untuk mempersatukan bangsa

Arab dan berjuang membebaskan rakyat Arab Palestina dari pendudukan Israel.

Menurutnya, negara Israel memiliki kepentingan lain di wilayah Arab18.

Beberapa bulan pascarevolusi, Qadhafi mulai mengupayakan

langkah-langkah persatuan Arab. Langkah pertama ia lakukan dengan melakukan

pertemuan segitiga antara Jamal Abdul Naseer (Mesir), Numeri (Sudan), dan

dirinya sebagai perwakilan dari bangsa Libya. Pertemuan tersebut menghasilkan

Pakta Tripoli yang mengarah kepada penyatuan ketiga negara. Tahun yang sama,

Presiden Syria Hafez Al-Asad meminta untuk bergabung dengan kesepakatan tiga

pemimpin tersebut.19 Rencana pertemuan itu dikabarkan untuk melakukan kerjasama dalam bidang ekonomi, militer, dan politik. Mereka bersepakat untuk

membuat sebuah federasi dalam rangka mewujudkan cita-cita luhur persatuan

bangsa Arab.

Tahun 1972 Qadhafi memproklamirkan “Federation of Arab Republic” yang beranggotakan Libya, Mesir, Syria, dan Sudan (saat-saat terakhir

penandatanganan perjanjian Federation of Arab Republic, Sudan mengundurkan

diri karena negaranya mengalami kerusuhan). Akan tetapi, usia federasi ini tidak

bertahan lama karena Presiden Mesir, Anwar Sadat membelot dari Liga Arab dan

merapat ke Washington20. Sadat lebih memilih perundingan damai dengan

mengakui adanya negara Israel. Apa yang Sadat lakukan kontradiktif dengan

tujuan pembentukan federasi pada perjanjian awal, yakni berkoalisi melawan

Israel.

Semangat nasionalisme Qadhafi yang masih tinggi untuk mempersatukan

bangsa Arab ditunjukkan dengan menggandeng Tunisia dalam mendirikan

Republik Islam Arab pada tahun 1974. Namun, usaha ini lagi-lagi gagal. Meski

keinginan Qadhafi untuk mewujudkan persatuan Arab (Pan-Arabisme) merupakan

keinginan mayoritas bangsa Arab juga, beberapa penguasa Arab memandang

(10)

bahwa secara prinsip keinginan Qadhafi itu mengancam kedudukan mereka. Oleh

sebab itu, dukungan mereka hanyalah sebuah bentuk kepura-puraan saja.21

Implementasi pemikiran nasionalisme Arab Muammar Qadhafi untuk

menciptakan persatuan bangsa Arab agaknya menemui jalan buntu setelah

tahun-tahun ini.

Minimnya kesadaran akan kemenangan yang dibawa Qadhafi dalam

Revolusi Al-Fâtih menandakan bahwa simbol kebangkitan Islam dan bangsa Arab

belum sepenuhnya terbangun. Rasa persamaan itu hanya dapat dirasakan oleh

beberapa pemimpin Arab yang merasakan buruk dan pedihnya nasib di bawah

imperium asing. Sementara itu, bagi pemimpin Arab lain yang sedang menikmati

kekuasaan atas sokongan asing seperti Amerika dan negara kolonial lainnya,

kemenangan Qadhafi justru menjadi ancaman serius bagi stabilitas kekuasaan

negara mereka. Akibatnya, hubungan Libya dengan negara-negara tersebut

dipenuhi dengan konflik kepentingan dan sarat akan permusuhan.

PENUTUP Kesimpulan

Nasionalisme Arab merupakan murni produk pemikiran Muammar Qadhafi yang

telah diperjuangkan sejak Revolusi Al-Fâtih September 1969. Tujuannya adalah

untuk menciptakan persatuan di antara orang-orang Arab. Pemikiran ini dibangun

melalui (1) persepsi kegemilangan bangsa Arab pada masa lalu, khususnya ketika

Islam berada di puncak peradaban, (2) pembentukan sebuah bangsa yang mandiri

dan kuat, (3) upaya pendirian Federation of Arab Republic bersama Libya, Mesir,

Syiria, (4) upaya pendirian Republik Islam dengan menggandeng Tunisa.

DAFTAR PUSTAKA

21 Lihat Endang Mintarja halaman 125 dikutip dari Mahmud Ayyoub Islam and The Third

(11)

Agung, D. H. 2011. Khadafi: Anjing Gila dari Sahara. Yogyakarta: Penerbit Narasi.

Barakat, Halim. 2012. Dunia Arab, Masyarakat, Budaya, dan Negara. Bandung: Nusa Media.

Dawisha, Adeed. 2003. Arab Nationalism: In Twentieth Century. United States of America: Princeton University Press.

Esposito, John L. 1995. The Oxford Encyclopedia of the Modern Islamic World. Oxford University Press. Jilid 6. Terjemahan oleh Eva Y.N, dkk. 2001.

Ensiklopedia Oxford: Dunia Islam Modern. Jilid 3. Bandung: Mizan.

Harris, Lillian Craig. 1986. Libya: Qadhafi’s Revolution and The Modern State.

United States of America: Westview Press.

Kuntowijoyo. 2003. MetodologiSejarah. Yogyakarta: Tiara WacanaYogya.

Mintarja, Endang. 2006. Politik Berbasis Agama: Perlawanan Muammar Qadhafi

terhadap Kapitalisme. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Nuseibeh, Hazem Zaki. 1969. Gagasan-gagasan Nasionalisme Arab. Jakarta: Bhratara.

Referensi

Dokumen terkait

Masalah utama yang dikaji dalam skripsi ini adalah bagaimana pokok pemikiran Muammar Gaddafi tentang Sosialisme Islam dan pengaruhnya terhadap sistem pemerintahan

Mata kuliah ini membahas mengenai model-model srategi bisnis dan organisasi yang dapat dilakukan serta membahas bagaimana memformulasikan dan mengimplementasikan serta

(3) pemikiran sosio-nasionalisme & sosio-demokrasi perlu dikaji secara mendalam di era kontekstual sebagai upaya pengembalian hakekat nasionalisme dan demokrasi

Rumusan masalah penelitian ini adalah: “bagaimana strategi dakwah yang dilakukan oleh Dewan Pengurus Daerah Partai Keadilan Sejahtera Kota Pekanbaru dalam upaya

Yang dimaksud dengan kritik nalar Arab al-Jabiri adalah akal Arab dalam kapasitasnya sebagai instrumen pemikiran dan pemahaman berupa produk teoritis yang

Menurut Fanz von Magnis, pekerjaan adalah segala kegiatan yang direncanakan dan memerlukan pemikiran yang khusus dan tidak dapat dilakukan oleh binatang, yang dilakukan

Artikel ini membahas tentang bagaimana perkembangan prosa Arab pada masa permulaan Islam, perkembangan serta karakteristiknya. Dibahas juga macam dan tokoh prosa Arab pada masa

Selain itu, penelitian ini juga membahas konstruksi realitas keterbukaan pemikiran yang dilakukan oleh dosen UIN Raden Fatah Palembang dalam upaya pembentukan sikap toleran pada