MAKALAH
HUKUM PERBURUHAN DAN KETENAGAKERJAAN
“UPAH PEKERJA DI PERUSAHAAN SWASTA”
Disusun Oleh :
Muhammad Aji Burhanuddin
21060115060030
PROGRAM STUDI DIPLOMA III TEKNIK ELEKTRO
DEPARTEMEN TEKNOLOGI INDUSTRI
SEKOLAH VOKASI
i
Kata Pengantar
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan rahmat, karunia, serta taufik dan hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan makalah tentang Hukum Perburuhan dan Ketenagakerjan dengan subtema Upah Pekerja di Perusahaan Swasta ini dengan baik meskipun banyak kekurangan didalamnya. Dan juga kami berterima kasih pada Bapak Eko Julianto selaku Dosen mata kuliah Hukum Perburuhan dan Ketenagakerjaan yang telah memberikan tugas ini kepada kami.
Kami sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah wawasan
serta pengetahuan kita . Kami juga menyadari sepenuhnya bahwa di dalam makalah ini terdapat kekurangan dan jauh dari kata sempurna. Oleh sebab itu, kami berharap adanya kritik, saran dan usulan demi perbaikan makalah yang telah kami buat di masa yang akan datang, mengingat tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa saran yang membangun.
Semoga makalah sederhana ini dapat dipahami bagi siapapun yang membacanya. Sekiranya laporan yang telah disusun ini dapat berguna bagi kami sendiri maupun orang yang membacanya. Sebelumnya kami mohon maaf apabila terdapat kesalahan kata-kata yang kurang berkenan dan kami memohon kritik dan saran yang membangun dari Anda demi perbaikan makalah ini di waktu yang akan datang.
Semarang, 28 Maret 2017
ii
DAFTAR ISI
HALAMAN SAMPUL
KATA PENGANTAR i
DAFTAR ISI ii
BAB I. PENDAHULUAN 1
A. Latar Belakang 1
B. Permasalahan 4
C. Rumusan Masalah 5
D. Tujuan Penulisan 5
BAB II. PEMBAHASAN 6
Definisi Upah 6
Kedudukan Upah 7
Aspek Yang Mempengaruhi Upah 7
Jenis-Jenis Upah 8
Sistem Upah 10
Pengupahan Dalam Undang-Undang Ketenagakerjaan 11
Hak-Hak Pekerja/Buruh 14
Kebijakan Upah Di Perusahaan Swasta 14
Perbandingan Upah Tenaga Kerja Di Indonesia Dan Negara Lain 15
Contoh Kasus Dari Perusahaan BUMS Tentang Pembayan Upah 16
BAB 3. PENUTUP 18
A. Kesimpulan 18
B. Saran 18
1
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pekerja atau buruh adalah setiap orang yang bekerja untuk orang lain karena adanya pekerjaan yang harus dilakukan dimana ada unsur perintah, upah dan waktu. Hubungan kerja ini terjadi antara pekerja atau buruh dengan pemberi kerja yang sifatnya individual.
Perusahaan adalah setiap bentuk usaha yang berbadan hukum atau tidak, milik orang perorangan, persekutuan, atau badan hukum, baik milik swasta maupun milik negara yang mempekerjakan pekerjaatauburuh dengan memberi upah atau imbalan dalam bentuk lain. Sementara itu Pengusaha adalah :
a. Orang perorangan, persekutuan, atau badan hukum yang menjalankan suatu perusahaan milik sendiri.
b. Orang perorangan, persekutuan, atau badan hukum yang secara berdiri sendiri menjalankan perusahaan bukan miliknya.
c. Orang perorangan, persekutuan, atau badan hukum yang berada di Indonesia mewakili perusahaan sebagaimana dimaksud dalam huruf a dan
b diatas yang berkedudukan diluar wilayah Indonesia.
Antara pekerja atau buruh dan pengusaha mempunyai persamaan kepentingan ialah kelangsungan hidup dan kemajuan perusahaan, tetapi di sisi lain hubungan antar keduanya juga memiliki perbedaan dan bahkan potensi konflik, terutama apabila berkaitan dengan persepsi atau interpretasi yang tidak sama tentang kepentingan masing-masing pihak yang pada dasarnya memang ada perbedaan.
2
Upah merupakan hak pekerjaatauburuh yang seharusnya dapat memenuhi kebutuhan mereka dan keluarganya. Sistem pengupahan perlu dikembangkan dengan memperhatikan keseimbangan antara prestasi atau produktivitas kerja, kebutuhan pekerja dan kemampuan perusahaan. Disamping itu perlu dikembangkan struktur upah yang tidak rumit dan adanya komponen upah yang jelas sesuai kebutuhan. Mekanisme penetapan upah dan kenaikan upah sebaiknya diatur didalam perjanjian kerja, peraturan perusahaan atau perjanjian kerja bersama.
Perjanjian kerja bersama (PKB) dibuat oleh dan antara pekerja atau buruh
dengan pengusaha secara musyawarah mufakat. Seluruh hak dan kewajiban antara pekerja atau buruh dan pengusaha termasuk didalamnya upah, perlu diatur dan
disepakati oleh kedua belah pihak. Dengan adanya perjanjian kerja bersama tersebut diharapkan proses hubungan industrial dapat berjalan dengan baik dan harmonis karena segala hak dan kewajiban masing-masing pihak telah disepakati bersama.
Berkaitan dengan upah atau pengupahan, maka perlu dipahami mengenai Upah Minimum Propinsi (UMP) dan Upah Minimum Sektor (UMS). UMP adalah merupakan tingkat upah terendah bagi kabupaten atau kota yang berada di wilayah propinsi yang bersangkutan tanpa mempertimbangkan sektor tertentu. Apabila kabupaten atau kota bermaksud akan mengatur besarnya Upah Minimum untuk daerah yang bersangkutan atau disebut UMK, maka UMK yang bersangkutan ditetapkan oleh Gubernur dan harus lebih tinggi dari UMP.
Sedangkan Upah Minimum sektoral (UMS) adalah Upah Minimum bagi sektor yang bersangkutan dan harus lebih tinggi dari UMP maupun UMK. Oleh karena itu Upah Minimum sektoral hanya diberlakukan terhadap sektor-sektor tertentu yang memiliki kemampuan lebih baik.
Pengaturan pengupahan utamanya perlu mempertimbangkan dapat memenuhi kebutuhan pekerja atau buruh yang dari waktu ke waktu senantiasa meningkat, serta kelangsungan hidup perusahaan. Untuk itu, penetapan Upah Minimum dan kenaikan Upah Minimum perlu dilakukan dan dikaji secara cermat sehingga semua pihak dapat
3
Pada asasnya upah tidak dibayar apabila pekerja atau buruh tidak melaksanakan pekerjaan. Kecuali apabila pekerja atau buruh tidak elakukan pekerjaan karena sakit, waktu haid, melangsungkan pernikahan, mengkhitan anak, melahirkan atau gugur kandungan, menjalankan tugas negara, menjalankan ibadahyang diperintah agamanya, menjalankan tugas pendidikan dari perusahaan dan lain-lain.
Dalam penetapan upah tidak boleh ada diskriminasi antara pekerja atau buruh laki-laki dan perempuan, untuk pekerjaan yang saa nilainya sebgaimana dimkasud dalam Konvensi 100 yang diratifikasi berdasarkan Undang-Undang No 80 Tahun
1957 ( Lembaran Negara No. 171 Tahun 1957). Dengan pengupahan yang sama bagi pekerj atau buruh laki-laki dan perempuan untuk pekerja atau buruh yang sama
nilainya dimaksudkan nilai pengupahan tidak dibedakan berdasarkan jenis kelamin. Untuk itu sangat diperlukan adanya penetapan Upah Minimum sebagai upaya melindungi para pekerja atau buruh sehingga upah yang diterimanya dapat menjamin kesejahteraan bagi dirinya maupun keluarganya dan para pekerja atau buruh tidak diperlakukan semena-mena oleh pengusaha yang mempunyai kewenangan dan kekuasaan dibalik kelemahan-kelemahan yang dimiliki oleh para pekerja atau buruh.
Penetapan Upah Minimum sampai saat ini umumnya masih jauh dibawah Kebutuhan Hidup Minimum (KHM). Upah Minimum setidaknya dapat diarahkan pada pencapaian upah yang sesuai dengan kebutuhan hidup minimum. Hal ini dikarenakan pada faktor kemampuan perusahaan yang masih cukup kesulitan apabila Upah Minimum disesuaikan dengan Kebutuhan Hidup Layak (KHL) sebagaimana yang diamanatkan oleh Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan.
4 B. Permasalahan Upah di Perusahaan Swasta
Semenjak diterbitkannya Peraturan Pemerintah (PP) No. 78 Tahun 2015 tentang Pengupahan, upah selalu menjadi hal yang tak habis-habisnya dipersoalkan kalangan pekerja alias buruh.
Buruh selalu ditempatkan pada kondisi yang tidak menguntungkan. Hak-hak buruh dilabrak oleh regulasi aturan yang berbelit-belit yang dibuat oleh para birokrat di negeri ini. Terkadang kebijakan ekonomi yang dikeluarkan tersebut banyak yang
menerobos ketentuan peraturan perundang-undangan lainnya.
Memang didalam pasal UU. No 13 Tahun 2003 tentang ketenagakerjaan tidak
ditafsirkan secara jelas terkait upah dalam regulasi yang lebih teknis. Perbedaan kepentingan menyulitkan kata sepakat buruh dan pengusaha dalam penentuan skala upah.
Kebijakan dalam PP Pengupahan tersebut ditetapkan bahwa tentang formula pengupahan dan mewajibkan para pekerja membentuk struktur dan skala upah. Formulasi penentuan upah minimum ditentukan oleh faktor pertumbuhan ekonomi dan inflasi.
Terkait dengan formula ‘’baru’’ pengupahan, dengan meniadakan kebutuhan hidup layak (KHL), survei pasar dan dewan pengupahan merupakan kesalahan fatal. Karena menggunakan upah berbasis angka semu dan bukan upah berdasarkan daya beli riil masyarakat.
Selama ini, banyak masalah pengupahan terjadi karena pengusaha tidak transaparan tentang struktur dan skala upah. Jika struktur dan skala upah itu dibuat terbuka dan transparan sehingga diketahui semua pekerja maka para pekerja di perusahaan itu akan tertantang untuk lebih bekerja produktif.
Kedudukan buruh di semua sektor usaha, termasuk buruh non formal, TKI, pembantu rumah tangga adalah kedudukan yang penting di negara Indonesia. Buruh menempati posisi yang strategis mengingat jumlahnya yang sangat besar dan tentunya
5 C. Rumusan Masalah
Berikut adalah rumusan makalah tentang Upah Pekerja di Perusahaan Swasta : A. Apa definisi upah?
B. Bagaimana kedudukan upah di indonesia? C. Apa aspek yang mempengaruhi upah? D. Ada berapa jenis-jenis upah?
E. Bagaimana sistem upah pekerja dalam pekerjaan?
F. Bagaimana pengupahan dalam undang-undang ketenagakerjaan? G. Bagaimana hak-hak pekerja/buruh?
H. Bagaimana kebijakan upah di perusahaan swasta?
I. Bagaimana perbandingan upah tenaga kerja di Indonesia dan Negara Lain?
J. Bagaimana contoh kasus dari Perusahaan BUMS tentang pembayaran upah pekerja?
D. Tujuan Penulisan
Adapun tujuan yang ingin dicapai dalam penulisan makalah ini adalah: 1. Mahasiswa dapat mengetahui definisi dari Upah
2. Mahasiswa dapat mengetahui kedudukan upah
3. Mahasiswa dapat mengetahui aspek yang mempengaruhi Upah 4. Mahasiswa dapat mengetahui jenis-jenis upah yang berlaku
5. Mahasiswa dapat mengetahui sistem Upah pekerja dalam pekerjaan
6. Mahasiswa dapat mengetahui Pengupahan Dalam Undang-Undang Ketenagakerjaan
7. Mahasiswa dapat mengetahui hak-hak pekerja/buruh
8. Mahasiswa dapat mengetahui Kebijakan Upah di Perusahaan Swasta
9. Mahasiswa dapat mengetahui perbandingan upah tenaga kerja di Indonesia dan Negara Lain
10.Mahasiswa dapat mengetahui contoh kasus dari Perusahaan BUMS tentang
6
BAB II
PEMBAHASAN
A. Definisi Upah
Undang-Undang Nomor 13 tentang Ketenagakerjaan yang selanjuta disebut dengan UUKK pada bab 1 pasal 1 ayat 30 yang menyatakan Upah merupakan hak pekerja atau buruh yang diterima dan dinyatakan dalam bentuk uang sebagai imbalan dari pekerja atau buruh yang ditetapkan dan dibayarkan menurut suatu perjanjian kerja, kesepakatan atau perundang-undangan, termasuk tunjangan bagi pekerja atau buruh dan keluarganya atas suatu pekerjaan dan/atau jasa yang telah atau akan dilakukan.
Pekerja memberi upah dari pemberi kerja adalah merupakan hak pekerja yang harus dipenuhi oleh pemberi kerja dan dilindingi undang-undang. Setiap pekerja atau buruh berhak memperoleh penghasilan yang memenuhi penghidupan yang layak bagi kemanusiaan.
Pemerintah menetapkan kebijakan yang melindungi pekerja atau buruh agar pekerja dapat memenuhi kebutuhan hidup maupun keluarganya.
Bentuk perlidungan yang diberikan berupa : • Penetapan upah minimum
• Upah kerja lembur
• Upah masuk kerja karena berhalangan
• Upah tidak masuk kerja karena ada kegiatan lain di luar pekerjaannya • Upah melakukan hak waktu istirahatnya
• Bentuk dan cara pembayaran upah • Denda dan pemotongan upah
• Hal-hal yang dapat diperhitungkan dengan utang • Struktur dan skala pengupahan yang proporsional • Upah untuk pembayaran pesangon; dan
• Upah untuk penghitungan pajak penghasilan
7
Pengusaha dilarang membayar upah lebih rendah dari upah minimum dan kalau pengusaha tidak mampu membayar upah sesuai ketentuan, maka pengusaha tersebut harus mengajukan penangguhan, dan tatacara penangguhan upah minimum adalah melalui keputusan Menteri Tenaga dan Transmigrasi RI Nomor KEP-231/MEN/2003.
Pengusaha tidak boleh memperlakukan diskriminatif terhadap upah pekerja atau buruh laki-laki ataupun permpuan pada jenis pekerjaan yang sama ( sesuai PP no. 8 tahun 1981 pasal 3 tentang Perlindungan Upah). Pengusaha tidak membayar upah apabila pekerja tidak melakukan pekerjaan (no work no pay) sesuai UUKK pasal 93
ayat 1.
B. Kedudukan Upah
Upah mempunyai kedudukan istimewa,hal ini dapat diketahui dari ketentuan pasal 95 ayat (4) Undang-undang ketenagakerjaan 2003 yang berbunyi : Dalam hal perusahaan dinyatakan pailit atau di likuidasi berdasarkan perundangundangan yang berlaku, maka upah dan hak-hak lainnya dari pekerja/buruh merupakan utang yang didahulukan pembayarannya. Maksudnya, upah pekerja/buruh harus dibayar lebih dahulu daripada utang lainnya.
C. Aspek yang Mempengaruhi Upah
1. Aspek kondisi perusahaan
Melalui aspek ini dapat diperoleh dengan kriteria perusahaan kecil, perusahaan menengah dan perusahaan besar, baik di dalam satu sektor atau wilayah/daerah manapun berlainan sektor wilayah/daerah. Kriteria tersebut membawa konsekuensi pada kemampuan perusahaan yang tidak sama dalam memberi upah pekerja/buruh. Hal ini sudah tentu tergantung pada besarnya modal dan kegiatan usaha masing-masing perusahaan dan tingkat produksi, serta produktivitas tenaga kerjanya.
2. Aspek kondisi keterampilan tenaga kerja
8
tenaga kerja tersebut sebagai sumber daya ekonomi dapat dimanfaatkan secara efektif dan efisien.
Tingkat kemampuan tenaga kerja dan pimpinan manajemen dalam suatu perusahaan, memberikan peranan yang menentukan untuk mengubah kondisi perusahaan tersebut menjadi lebih baik dan maju. Kondisi seperti ini memberikan dampak positIf bagi upaya peningkatan kesejahteraan tenaga kerja melalui pemberian upah yang lebih tinggi, serta jaminan-jaminan sosial lainnya.
3. Aspek standar hidup
Peningkatan tingkat upah pekerja/buruh selain dipengaruhi oleh kondisi perusahaan dan ketrampilan tenaga kerjanya, juga dipengaruhi oleh satndar hidup
pada suatu wilayah atau daerah dimana perusahaan ini berada Standar hidup di daerah perkotaan biasanya lebih tinggi dibanding di daerah pedesaan.
Peningkatan upah ini selain didasarkan pada kebutuhan pokok (basic needs) tenaga kerja yang bersangkutan sesuai tingkat perkembangan ekonomi dan sosial di walayah/daerah tertentu. Kebutuhan pokok tersebut tidak hanya terbatas pada persoalan sandang, pangan dan papan, tetpi meliputi juga pendidikan, kesehtan, jaminan sosial, dan sebagainya.
4. Aspek jenis pekerjaan
Perbedaan pada jenis pekerjaan ini mengakibatkan terjadinya perbedaan tingkat upah, baik pada suatu sektor yang sama, maupun pada sektor yang berlainan. Tingkat upah pada sektor industri, tidak sama dengan tingkat upah di sektor pertanian, tidak sama pula dengan sektor perhotelan, dan sebagainya. Tingkat upah pada industri rokok atau pemitalan benang mialnya, tidak sama dengan tingkat upah pada industri mesin, dan sebainya.
Aspek jenis pekerjan mempunyai arti yang khusus, karena diperolehnya pekerjaan dapat membantu tercapainya kebutuhan pokok bagi pekerja/buruh yang bersangkutan. Meningkatnya taraf jenis pekerjaan dapt membantu peningkatan taraf hidup sebagai akibat meningkatnya upah yang diterima pekerja/buruh dari
pekerjaannya itu.
D. Jenis-Jenis Upah
1.
Upah Nominal Upah nominal adalah sejumlah uang yang dibayarkan secara tunai9
pelayanannya sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang terdapat dalam perjanjian kerja.
2.
Upah Nyata (Rill Wages) Upah nyata adalah uang nyata, yang benar-benar harusditerima seorang pekerja/buruh yang berhak.
3.
Upah Hidup Upah hidup yaitu upah yang diterima pekerja/buruh relatif cukupuntuk membiayai keperluan hidupnya secara luas, yang bukan hanya kebutuhan pokoknya, melainkan juga kebutuhan sosial keluarganya, seperti pendidikan, asuransi, rekreasi dan lain-lain.
4.
Upah Minimum Upah minimum adalah upah terendah yang akan dijadikanstandard, oleh pengusaha untuk menentukan upah yang sebenarnya dari pekerja/buruh yang bekerja di perusahaannya. Upah minimum ini biasanya ditentukan oleh pemerintah dan ini kadang-kadang setiap tahunnya berubah sesuai dengan tujuan ditetapkannya upah minimum itu.
5.
Upah Wajar Upah wajar maksudnya adalah upah yang secara relatif di nilai cukupwajar oleh pengusaha dan buruh sebagai imbalan atas jasa-jasanya pada pengusaha.
Faktor-faktor yang mempengaruhi upah wajar adalah sebagai berikut :
a.
Kondisi ekonomi negara secara umumnya.b.
Nilai upah rata-rata di daerah dimana perusahaan tersebut beroperasi. c)Posisi perusahaan dilihat dari struktur ekonomi negara.
c.
Undang-undang terutama yang mengatur masalah upah dan jam kerja.d.
Ketentuan-ketentuan umum yang berlaku dalam lingkungan perusahaan.e.
Peraturan perpajakan.f.
Pengusaha dan organisasi buruh yang mengutamakan gerak saling hargamenghargai dan musyawarah serta mufakat dalam mengatasi segala kesulitan.
g.
Standart hidup dari para buruh itu sendiri.10 E. Sistem Upah
Sistem pembayaran upah adalah bagaimana cara perusahaan biasanya memberikan upah kepada pekerja/buruhnya. Sistem tersebut dalam teori maupun praktik dikenal ada beberapa macam sebagai berikut.
1. Sistem Upah Jangka Waktu Sistem upah jangka waktu adalah sistem pemberian upahmenurut jangka waktu tertentu, misalnya harian, mingguan, atau bulanan. 2. Sistem Upah Potongan Sistem ini umumnya bertujuan untuk mengganti sistem
upah jangka waktu jika hasilnya tidak memuaskan. Sistem upah ini hanya dapat
diberikan jika hasil pekerjaannya dapat dinilai menurutukuran tertentu, misalnya diukur dari banyaknya, beratnya, dan sebaginya.
3. Sistem Upah Permufakatan Sistem upah permufakatan adalah suatu sistem pemberian upah dengan cara memberikan sejumlah upah pada kelompok tertentu. Selanjutnya, kelompok ini akan membagi-bagikan kepada para anggotanya.
4. Sistem Skala Upah Berubah Dalam sistem ini, jumlah upah yang diberikan biaya penghidupan meskipun tidak memengaruhi nilai nyata dari upah.
6. Sistem Pembagian Keuntungan Sistem upah ini dapat disamakan dengan pemberian bonus apabila perusahaan mendapat keuntungan di akhir tahun.
7. Sistem upah borongan Adalah balas jasa yang dibayar untuk suatu pekerjaan yang diborongkan. Cara memperhitungkan upah ini kerap kali dipakai pada suatu pekerjaan yang diselesaikan oleh suatu kelompok pekerja, untuk seluruh pekerjaan ditentukan suatu balas karya yang kemudian di bagi-bagi antara pelaksana.
11
▪ Sesuai dengan prestasi kerja, untuk mengukur prestasi kerja, dewasa ini telah di kembangkan berbagai evaluasi jabatan.
▪ Sesuai dengan kebutuhan karyawan, artinya cukup untuk hidup layak dengan keluarganya.Untuk hidup layak dengan keluarganya.Untuk hidup layak tidak ada satu ukuran umum, tetapi paling sedikit harus cukup untuk memenuhi kebutuhan pokok si pekerja dan keluarganya, terutama dalam inflasi kala harga-harga naik.
▪ Sesuai dengan kemampuan perusahaan. Kalau suatu perusahaan memang tak mampu membayar upah tinggi, maka upah rendah pun sudah adil. Tetapi kalau perusahaan memang mampu membayar upah cukup tinggi
padahal upah yang yang di bayar itu rendah berarti melanggar keadilan dan moral pancasila.
F. Pengupahan dalan Undang-Undang Ketenagakerjaan
Undang-undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan (“UU Ketenagakerjaan”) pada Bab 10 mengatur tentang Pengupahan. Menurut Pasal 88 ayat (1) UU Ketenagakerjaan, setiap pekerja/buruh berhak memperoleh penghasilan yang memenuhi penghidupan yang layak bagi kemanusiaan. Kebijakan pemerintah mengenai pengupahan yang melindungi pekerja/buruh meliputi:
a.
upah minimum;b.
upah kerja lembur;c.
upah tidak masuk kerja karena berhalangan;d.
upah tidak masuk kerja karena melakukan kegiatan lain di luar pekerjaannya;e.
upah karena menjalankan hak waktu istirahat kerjanya;f.
bentuk dan cara pembayaran upahg.
denda dan potongan upah;h.
hal-hal yang dapat diperhitungkan dengan upah;i.
struktur dan skala pengupahan yang proporsional;j.
upah untuk pembayaran pesangon; dank.
upah untuk perhitungan pajak penghasilan.Pasal 89 UU Ketenagakerjaan mengatur bahwa upah minimum ditetapkan pemerintah berdasarkan kebutuhan hidup layak dan dengan memperhatikan produktivitas dan
12
wilayah provinsi atau kabupaten/kota dan upah minimum berdasarkan sektor pada wilayah provinsi atau kabupaten/kota.
Larangan
Pengusaha dilarang membayar upah lebih rendah dari upah minimum sebagaimana yang diatur dalam Pasal 89 UU Ketenagakerjaan. Dalam hal pengusaha yang tidak mampu membayar upah minimum yang telah ditentukan tersebut, dapat dilakukan penangguhan yang tata cara penangguhannya diatur dengan Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik Indonesia Nomor: KEP.231/MEN/2003
tentang Tata Cara Penangguhan Pelaksanaan Upah Minimum.
Kemudian, pengaturan pengupahan yang ditetapkan atas kesepakatan antara pengusaha dan pekerja/buruh atau serikat pekerja/serikat buruh tidak boleh lebih rendah dari ketentuan pengupahan yang ditetapkan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Jika kesepakatan tersebut lebih rendah atau bertentangan dengan peraturan perundang-undangan, maka kesepakatan tersebut batal demi hukum, dan pengusaha wajib membayar upah pekerja/buruh menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Struktur Skala Upah
Pengusaha menyusun struktur dan skala upah dengan memperhatikan golongan, jabatan, masa kerja, pendidikan, dan kompetensi. Peninjauan upah secara berkala tersebut dengan memperhatikan kemampuan perusahaan dan produktivitas. Ketentuan mengenai struktur dan skala upah diatur lebih lanjut dengan Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik Indonesia Nomor : KEP.49/MEN/2004 tentang Ketentuan Struktur dan Skala Upah.
Kewajiban Pembayaran Upah
Upah tidak dibayar apabila pekerja/buruh tidak melakukan pekerjaan. Namun, pengusaha wajib membayar upah apabila:
a) pekerja/buruh sakit sehingga tidak dapat melakukan pekerjaan;
13
c) pekerja/buruh tidak masuk bekerja karena pekerja/buruh menikah, menikahkan, mengkhitankan, membaptiskan anaknya, isteri melahirkan atau keguguran kandungan, suami atau isteri atau anak atau menantu atau orang tua atau mertua atau anggota keluarga dalam satu rumah meninggal dunia;
d) pekerja/buruh tidak dapat melakukan pekerjaannya karena sedang menjalankan kewajiban terhadap negara;
e) pekerja/buruh tidak dapat melakukan pekerjaannya karena menjalankan ibadah yang diperintahkan agamanya;
f) pekerja/buruh bersedia melakukan pekerjaan yang telah dijanjikan tetapi pengusaha tidak mempekerjakannya, baik karena kesalahan sendiri maupun
halangan yang seharusnya dapat dihindari pengusaha; g) pekerja/buruh melaksanakan hak istirahat;
h) pekerja/buruh melaksanakan tugas serikat pekerja/serikat buruh atas persetujuan pengusaha; dan
i) pekerja/buruh melaksanakan tugas pendidikan dari perusahaan.
Pengaturan pelaksanaan ketentuan di atas, ditetapkan dalam Perjanjian Kerja, Peraturan Perusahaan atau Perjanjian Kerja Bersama.
Perhitungan Upah Pokok
Dalam hal komponen upah terdiri dari upah pokok dan tunjangan tetap, maka besarnya upah pokok sedikit-dikitnya 75% (tujuh puluh lima perseratus) dari jumlah upah pokok dan tunjangan tetap.
Sanksi
Pelanggaran yang dilakukan oleh pekerja/buruh karena kesengajaan atau kelalaiannya dapat dikenakan denda. Kemudian, pengusaha yang karena kesengajaan atau kelalaiannya mengakibatkan keterlambatan pembayaran upah, dikenakan denda sesuai dengan persentase tertentu dari upah pekerja/buruh. Pengenaan denda kepada pengusaha dan/atau pekerja/buruh, dalam pembayaran upah diatur oleh Pemerintah.
Dalam hal perusahaan dinyatakan pailit atau dilikuidasi berdasarkan peraturan
14 Kadaluarsa
Tuntutan pembayaran upah pekerja/buruh dan segala pembayaran yang timbul dari hubungan kerja menjadi kadaluarsa, setelah melampaui jangka waktu 2 (dua) tahun sejak timbulnya hak. Ketentuan mengenai penghasilan yang layak, kebijakan pengupahan, kebutuhan hidup yang layak, dan perlindungan pengupahan, penetapan upah minimum, dan pengenaan denda diatur dengan Peraturan Pemerintah.
G. Hak-hak Pekerja/Buruh
1. Hak memperoleh perlakuan yang sama tanpa diskriminasi. 2. Hak memperoleh pelatihan kerja
3. Hak pengakuan kompetensi dan kualifikasi kerja. 4. Hak Memilih penempatan kerja.
5. Hak-Hak pekerja Perempuan dalam UU No 13 Tahun 2003:
6. Hak lamanya waktu bekerja dalam Pasal 77 UU No 13 Tahun 2003 7. Hak bekerja lembur dalam pasal 78 UU No 13 Tahun 2003
8. Hak istirahat dan cuti bekerja dalam pasal 79 ayat 2 UU No 13 Tahun 2003 9. Hak beribadah.
UU No.13 tahun 20013 tentang Ketenagakerjaan Pasal 88 s/d pasal 98 secara khusus memuat tentang upah dn pengupahan. Pada prinsipnya bahwa penetapan upah di suatu perusahaan adalah merupakan otoritas perusahaan, dimana pengusaha diberi mandat untuk menyusun struktur dan skala upah, dengan memperhatikan golongan, masa kerja, pendidikan dan kompetensi ( UUKK pasal 92 ayat 1).
15
Ada beberapa hal yang harus diperhatikan sebagai acuan dalam menetapkan upah yaitu :
1. Mengacu pada perundang-undangan yang berlaku;
2. Mempertimbangkan 2 aspek yaitu : aspek teknis dan aspek ekonomis;
3. Dampaknya terhadap biaya operasional perusahan secara keseluruhan, seperti halnya Jamsotek, Pesangon, Pensiun, Tunjangan Hari Raya, Kerja Lembur, dan lain-lain.
Teknik untuk menyusun struktur dan skala upah setiap perusahaan berbeda-beda bergantung kemampuan keuangan setiap perusahaan. Juga cara pandang dan misi
setiap pengusaha dalam mengelola perusahaan. Ada yang hanya mempertimbangkan hanya dari aspek teknis dan yuridis semata tetapi ada juga perusahaan yang mempertimbangkan sisi manusiawinya.
Tetapi seperti apapun bentuknya penetapan upah yang tersebut minimal acuannya adalah sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
I. Perbandingan Upah Tenaga Kerja di Indonesia dan Negara Lain
Dibandingkan dengan negara-negara lain di Asia, upah tenaga kerja Indonesia paling
murah. Kondisi ini dimanfaatkan pemerintah untuk mengundang investasi-investasi
dari negara asing untuk masuk ke dalam negeri. Di brosur BKPM, upah TKI lebih
rendah dari di China, Thailand, dan India, bahkan Vietnam. Dan sekarang sudah
diakui komunitas internasional upah tenaga kerja China lebih tinggi dari negara Asia
lain. Tinggal penyikapan UU Tenaga Kerja saja, murahnya ongkos tenaga kerja ini
membuat beberapa investor besar berencana untuk membangun basis manufaktur di
Indonesia. Seperti, produsen barang-barang elektronik LG dan produsen sepatu
olahraga yaitu Nike. Nike misalnya, akan kembali memperbesar order sepatunya dari
Indonesia, yakni mencapai 300 juta pasang sepatu atletik dalam satu tahun ini.
Sedangkan LG akan memindahkan basis produksinya ke Asia Tenggara termasuk
16 J. Contoh Kasus dari Perusahaan BUMS tentang Pembayaran Upah
Untuk melindungi hak-hak pekerja maka Pemerintah menetapkan dasar kebijakannya dalam bentuk Undang-Undang No 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan. Seperti halnya adalah Hak untuk mendapatkan upah. Berikut contoh kasus yang terjadi pada tanggal 11 Mei 2011 tentang kenaikan gaji.
[ Ribuan karyawan PT Coca Cola Bottling Indonesia berunjukrasa di depan kantor pusat Wisma Pondok Indah, lantai 14, Jl Raya Oto Iskandar Muda, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, Selasa (10/5).Ribuan buruh tergabung dalam Coca Cola Bottling
Indonesia (CCBI) dan Coca Cola Distribusi Indonesia (CCDI) menuntut kenaikan gaji dan kesejahteraan bersama.
Ketua Serikat Pekerja PT Coca Cola Sejabodetabek, Ruslani mengatakan, aksi ini pernah dilakukan tahun 2009, namun berbeda dengan sekarang. Karena ini tidak sesuai dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) dan kesejahteraan bersama. Sampai pada hasil pertemuan kemarin itu, mereka tidak menanggapi persoalan tuntutan ribuan buruh ini.
"Kami menyampaikan empat tuntutan yaitu penyesuaian atau kenaikan gaji sesuai dengan IHK maupun Upah Minimum Kabupaten (UMK), transparansi, grading posisi yang transparan dan menghapus sistem lumpsum terhadap gaji pekerja karena sangat merugikan pekerja.”Keputusan itu seharusnya ada pada pekerja,” katanya pada wartawan.
Akibat aksi tersebut, pabrik Coca Cola di Cibitung mengalami lumpuh total. Karena semua karyawan tumplek ke kantor pusat menginginkan kenaikan gaji. ’’Perundingan sebelumnya pernah dilakukan, tapi sampai sekarang belum menemui titik terang,” terangnya.
Sedangkan pihak PT Coca Cola Bottling Indonesia belum dapat dimintai keterangan, terkait demonstrasi karyawannya yang banyak meninggalkan sampah usai melakukan aksi di jalanan tersebut. Puluhan petugas polisi setempat dan keamanan setempat melakukan penjagaan dengan menutup gerbang utama.]
17
18
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan uraian pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa:
1. Sistem pengupahan tenaga kerja berdasarkan Upah Minimum Regional (UMR).
2. Tenaga kerja asing masih di gaji besar dibandingkan tenaga kerja Indonesia.
3. Pengupahan belum sesuai dengan Undang-Undang No.13 Tahun 2003
B. Saran
Dengan demikian penyusun memberikan saran sebagai berikut:
1. Seharusnya sebelum tenaga kerja di terima diperusahaan tertentu harus di lakukan
terlebih dahulu pelatihan secara maksimal supaya upah yang didapat oleh tenaga
kerja Indonesia sama dengan upah tenaga kerja asing.
2. Perusahaan sebaiknya memperhatikan Undang-Undang No.13 Tahun 2003 karena
tidak semua tenaga kerja mendapatkan haknya sesuai dengan peraturan yang
berlaku.
3. Pemerintah harus bisa melindungi tenaga kerja rumah tangga yang bekerja di
Negara lain supaya hak mereka terutama dalam pengupahan dan tidak terjadi
19
DAFTAR PUSTAKA
Adisu Editus, Hak Karyawan & Pedoman Menghitung: Gaji Pokok, Uang Lembur, Gaji Sundulan, Insentif-Bonus-THR, Pajak Atas Gaji, Iuran Pensiun-Pesangon, Iuran Jamsostek/Dana Sehat, Penerbit ForumSahabat, 2008.
Firdinata. 2016. “Anda Pekerja? Pahami Hak-Hak Anda Sesuai UU No 13 Tahun 2003”. Tersedia: https://firdinata.wordpress.com/2016/02/23/anda-pekerja-pahami-hak-hak-anda-sesuai-uu-no-13-tahun-2003/ . Diakses tanggal 28 Maret 2017.
IBL. 2011. “Karyawan Coca Cola Tuntut Kenaikan Gaji”. Tersedia: http://www.jpnn.com/news/karyawan-coca-cola-tuntut-kenaikan-gaji . Diakses tanggal 28 Maret 2017.
Kartasapoetra, Hukum Perburuhan di Indonesia Berlandaskan Pancasila, Penerbit PT. Bina Aksara, 2001.
Soepomo Iman, Hukum Perburuhan Bagian 1: Hubungan Kerja, Penerbit P.P.A.K.R.I. Bhayangkara, Jakarta, 2000.
Sofie Widyana P. 2012. “Pengupahan Dalam Undang-Undang Ketenagakerjaan”. Tersedia:
http://www.hukumtenagakerja.com/pengupahan/pengupahan-dalam-undang-undang-ketenagakerjaan/ . Diakses tanggal 28 Maret 2017.
Sutedi Adrian, Hukum Perburuhan, Penerbit Sinar Grafika, Jakarta, 2009.