Peningkatan Kecerdasan Emosi Melalui Metode Simulasi Berupa Sosiodrama Bawang Merah Bawang Putih pada Anak Usia Dini Kelompok
B TK Baitul Mu’min - Surabaya Oleh
Novia Solichah (B77212110) Siti Maisyaroh (B07212030) Siti Auliyatus Sholawati (B07212029)
Fitri Yanuar Aini (B07212050)
(Fakultas Psikologi-Universitas Islam Negeri Surabaya) November, 2015
ABSTRACT
The aim of the research was to investigate the relationship between the rises of emotional intelligence with sociodramatic play as a method for kindergarten children. The subjects of the study are children of TK Baitul Mu’min. The sample size is 30 children, quasi chosen from B1 class and B2 class that were assigned to both experimental and control groups.
Data that were collected within a few days via a post-test only design with nonequivalent groups. The experimental group was taught by the researchers who assessed, using sociodramatic method, and the control group with no assessment. Both groups answered the children worksheet to measure the rise on emotional intelligence.
The research uses children work sheet to measure raising emotional intelligence. Data analysis was done by using two-way anova. The result showed that the experimental group outperformed the control group on the measure. The indicates that the sociodramatic play as a method may have a significant positive effect on the rise of emotional intelligence to children in the sample.
ABSTRAK
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara kenaikan kecerdasan emosi dengan metode sosiodrama untuk anak-anak Taman Kanak-Kanak. Subjek dari penelitian ini adalah siswa-siswa dari TK MELATI Mulyorejo. Sampel terdiri dari 30 siswa, pemilihan dengan kuasi dari kelas B1 dan kelas B2 yang kemudian dipilih keduanya sebagai kelompok eksperimen dan kelompok control.
Pengumpulan data selama beberapa hari dengan post-test only design with nonequivalent group. Kelompok eksperimen yang diberikan perlakuan oleh eksperimenter dengan metode sosiodrama, dan kelompok kontrol tidak diberikan perlakuan. Kedua grup mengisi lembar kerja untuk mengetahui kenaikan dari kecerdasan emosi anak.
Peneliti menggunakan two-way anova. Hasil menunjukkan bahwa kelompok eksperimental menunjukkan kenaikan dari pada kelompok kontrol. Ini menunjukkan bahwa metode sosiodrama menunjukkan signifikansi positif pada kenaikan kecerdasan emosi pada anak-anak yang menjadi sampel.
A. Pendahuluan
Emosi merupakan perasaan yang selalu menyertai perbuatan yang ditandai oleh perubahan-perubahan fisik manusia. Seperti gembira, cinta, marah, takut, cemas, malu, kecewa, dan benci. Setiap manusia dalam segala rentang usia, pada umumnya selalu menyertakan emosi dalam setiap tindakannya.
Sering kali ketika manusia berbuat sesuatu kurang dapat mengendalikan emosinya, sehingga emosi negatiflah yang digunakan dalam menyelesaikan suatu masalah. Emosi negatif itu seperti : marah, benci, dendam, tempramen. Emosi negatif itu menyebabkan akibat yang buruk, seperti: perkelahian antar pelajar, bullying, kekerasan dalam rumah tangga, dan lain-lain.
Akhir-akhir ini banyak pemberitaan tentang kenakalan pelajar karena ketidakmampuan mereka dalam mengendalikan emosi negatifnya. Seperti dilansir pada Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) oleh Davit Setyawan mengatakan bahwa tawuran pelajar memprihatinkan di dunia pendidikan.1
Perkelahian, atau yang sering disebut tawuran, sering terjadi di antara pelajar. Bahkan bukan hanya antar pelajar SMU, tapi juga sudah melanda sampai ke kampus-kampus. Ada yang mengatakan bahwa berkelahi adalah hal yang wajar pada remaja.
Di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, dan Medan, tawuran ini sering terjadi. Data di Jakarta misalnya (Bimmas Polri Metro Jaya), tahun 1992 tercatat 157 kasus perkelahian pelajar. Tahun 1994 meningkat menjadi 183 kasus dengan menewaskan 10 pelajar, tahun 1995 terdapat 194 kasus dengan korban meninggal 13 pelajar dan 2 anggota masyarakat lain. Tahun 1998 ada 230 kasus yang menewaskan 15 pelajar serta 2 anggota Polri, dan tahun berikutnya korban meningkat dengan 37 korban tewas.
Terlihat dari tahun ke tahun jumlah perkelahian dan korban cenderung meningkat. Bahkan sering tercatat dalam satu hari terdapat sampai tiga perkelahian di tiga tempat sekaligus.
Selain emosi negatif yang banyak terjadi pada pelajar, para orang tua sering kali tidak bisa mengontrol emosi negatif yang ada pada dirinya. Hal ini sesuai dengan berita yang dilansir pada Komisi Nasional Perlindungan Anak2 oleh Samsul Ridwan mengatakan bahwa Merujuk data layanan pengaduan masyarakat melalui Hotline Service dalam bentuk pengaduan langsung, telephone, surat menyurat maupun elektronik, sepanjang tahun 2011 KomNas Anak menerima 2.386 kasus. Sama artinya bahwa setiap bulannya KomNas Anak menerima pengaduaan masyarakat kurang lebih 200 (dua ratus) pengaduan pelanggaran terhadap hak anak. Angka ini meningkat 98% jika dibanding dengan pengaduan masyarakat yang di terima Komisi Nasional Perlindungan Anak pada tahun 2010 yakni berjumlah 1.234 pengaduan. Dalam laporan pengaduan tersebut, pelanggaran terhadap hak anak ini tidak semata-mata pada tingkat kuantitas jumlah saja yang meningkat, namun terlihat semakin komplek dan beragamnya modus pelanggaran hak anak itu sendiri. Pengaduan hak asuh (khususnya perebutan anak pasca perceraian) misalnya, mendominasi pengaduan sepanjang tahun 2011 ini.
Sepanjang tahun 2011 ini, kasus tawuran cukup banyak mendapat sorotan dan menjadi topik hangat ditengah-tengah masyrakat. Maraknya peristiwa kekerasan antar sesama anak sekolah merupakan fenomena sosial yang berkembang ditengah-tengah masyarakat remaja. Sementara itu, sepanjang tahun 2011, Komisi Nasional Perlindungan anak mencatat ditemukan 339 kasus tawuran. Kasus tawuran antar pelajar di Jabodetabek meningkat jika dibanding 128 kasus yang terjadi pada ahun 2010.
KomNas Anak mencatat, dari 339 kasus kekerasan antar sesama pelajar SMP dan SMA ditemukan 82 diantaranya meninggal dunia, selebihnya luka berat dan ringan.
Dari beberapa kasus yang dikemukakan di atas, kasus-kasus tersebut terjadi karena ketidak mampuan setiap orang dalam mengontrol emosi negatifnya, untuk itu perlu adanya kecerdasan emosi yang di ajarkan sejak anak usia dini.
Berdasarkan teori perkembangan Piaget (dalam Trianto 2011), maka anak yang berada di TK/RA dan usia kelas awal SD/MI adalah anak yang berada pada rentangan usia dini. Masa usia dini merupakan masa yang pendek tetapi merupakan masa yang sangat penting bagi kehidupan seseorang. Oleh karena itu, pada masa ini seluruh potensi yang dimiliki anak perlu didorong sehingga akan berkembang secara optimal. Hal ini sesuai dengan berita republika.co.id, Surabaya. Faktor Ini Pengaruhi Tingkat Keberhasilan Anak.3
Kecerdasan emosi (Emotional Intelligence) mempengaruhi keberhasilan anak pada masa mendatang karena aspek tersebut dapat mengarahkan pikiran dan tindakan mereka dalam kehidupan sehari-hari.
"Dulu kecerdasan identik dengan Intelectual Quotient (IQ) dan ternyata IQ hanya mempengaruhi 20 persen keberhasilan individu di masyarakat. Sementara, 80 persen ditentukan kecerdasan emosi," kata Psikolog, Rose Mini di Surabaya, Sabtu (21/2).
Romi mengungkapkan ketika kecerdasan emosi anak terasah dengan baik ada beberapa manfaat yang diperoleh seperti bergaul dan menghargai orang lain. Selain itu, anak akan memperlihatkan kasih sayang kepada orang tuanya, lancar berkomunikasi, dan mudah menerima stimulasi lingkungan untuk membentuk multitalentanya.
"Stimulasi kecerdasan emosi pada masa 1.000 hari kehidupan awal anak tentu akan mempersiapkan landasan emosi anak yang lebih stabil pada masa mendatang. Dengan begitu, anak sudah terbiasa mempergunakan kecerdasan emosi itu," ujar Romi.
Hal ini dikuatkan dengan pemberitaan di Indosiar.com yang menyatakan Kecerdasan Emosi Bekal Terpenting Anak.4 indosiar.com - Kecerdasan emosi kini menjadi perhatian dan prioritas. Kecerdasan emosi adalah bekal terpenting dalam mempersiapkan anak menyongsong masa depan, karena dengannya seseorang akan dapat berhasil dalam menghadapi segala macam tantangan, termasuk tantangan untuk berhasil secara akademis. Selain itu, kecerdasan emosi juga sangat penting dalam hubungan pola asuh anak dengan orang tua. Hasil studi Dr. Marvin Berkowitz dari University of Missouri-St. Louis, yang diterbitkan dalam sebuah sebuah buletin, Character Educator, oleh Character Education Partnership, dijelaskan tentang keberhasilan kecerdasan emosi terhadap keberhasilan akademik.
Kecerdasan emosi hendaknya diterapkan sejak dini, karena menurut pendapat Rosmalia Dewi (2005: 3) menyebutkan bahwa Masa usia dini sering disebut sebagai golden age (masa emas). Pada masa emas ini anak sedang dalam masa sangat mudah untuk mengoptimalkan potensi yang ada dalam diri mereka.Masa setiap aspek pengembangan seperti sosial emosional, kognitif, bahasa, motorik halus, motorik kasar, dankreativitas yang ada dalam diri anak dapat berkembang dengan pesat.
Perkembangan emosi anak hingga usia 6 tahun ialah anak dapat mengekspresikan reaksi terhadap orang lain, dapat mengontrol emosi, sudah mampu berpisah dengan orang tua, dan telah mulai belajar tentang benar dan salah. Untuk
perkembangan kecerdasannya anak usia TK/RA ditunjukkan dengan kemampuannya dalam melakukan seriasi, mengelompokkan objek, berminat terhadap angka dan tulisan, meningkatnya perbendaharaan kata, senang berbicara, memahami sebab akibat, dan berkembangnya pemahaman terhadap ruang dan waktu. 5
Namun dalam kenyataan yang diperoleh peneliti, di TK Baitul Mu’min, perkembangan emosi siswa kelompok B masih belum sesuai dengan teori. Sebagian siswa masih belum mampu berpisah dengan orang tua, kira-kira ada 12 siswa. Sebagian lain masih belum mampu mengontrol emosinya, sering bertengkar dan mengejek antar teman. Bahkan ada yang sampai saling memukul sehingga keduanya terluka parah hingga di bawa rumah sakit. Para siswa masih belum mampu membedakan perbuatan yang benar dan yang salah.
Kecerdasan emosi anak perlu ditingkatkan dan dikembangkan sejak dini. Banyak metode yang dapat di aplikasikan dalam pembelajaran di kurikulum TK, salah satu metode yang digunakan adalah metode simulasi. Metode simulasi merupakan salah satu metode mengajar yang cara penyajiannya menggunakan situasi tiruan yakni memperagakan proses terjadinya suatu cerita. Metode simulasi memiliki beberapa jenis, antara lain: sosiodrama, psikodrama, role playing, per teaching, dan simulasi game.
Namun dalam penelitian ini, peneliti memilih menggunakan teknik sosiodramadalam meningkatkan kecerdasan emosi anak, karena berdasarkan penelitian terdahulu teknik sosiodrama sangat efektif untuk meningkatkan keccerdasan emosi.
Berdasarkan uraian di atas, agar penelitian ini tidak terjadi kerancuan, maka penulis dapat membatasi dan merumuskan permasalahan yang akan diangkat dalam penelitian ini sebagai berikut : Bagaimana peningkatan kecerdasan emosi melalui
metode simulasi berupa sosiodrama bawang merah bawang putih pada anak usia dini (paud) kelompok B.
Mengkaji beberapa permasalahan yang telah dikemukakan di atas, Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui peningkatan kecerdasan emosi melalui metode simulasi berupa sosiodrama bawang merah bawang putih pada anak usia dini (paud) kelompok B.
Dari latar belakang diatas, dapat disimpulkan bahwa tujuan dari penelitian ini adalah untuk membantu meningkatkan kecerdasan emosi anak usia dini. Hal ini didukung dari beberapa penelitian terdahulu yang dapat dijadikan landasan penelitian yang dilakukan. Berikut beberapa penelitian pendukung tersebut.
Penelitian yang dilakukan oleh Alfasnur (2013) berjudul “Upaya Meningkatkan Kecerdasan Emosional Melalui Metode Sosiodrama Pada Siswa Kelas VIII Smp Negeri 1 Sleman” mengatakan bahwa kecerdasan emosional dapat ditingkatkan melalui metode Sosiodrama.6
Selain itu, dalam penelitian Darmansyah (2007), terungkap bahwa siswa yang diberikan perlakuan pembelajaran dengan sisipan huor, ternyata kecerdasan emosionalnya lebih tinggi dibandingkan dengan hasil belajar yang dilaksanakan secara normal.7 Nurnaningsih (2011), hasil penelitian enunjukkan bahwa bimbingan kelompok efektif untuk meningkatkan kcerdasan emosional siswa. Program bimbingan kelompok ini direkomendasikan untuk dipertimbangkan sebagai salah satu kerangka kerja dalam pngembangan program bimbingan dan konseling unuk meningkatkan kecerdasan emosional siwa. 8
Baskara dkk (2011), telah melakukan penelitian tentang pengaruh dari keikutsertaan individu dalam program meditasi terhadap kecerdasan emosi. 9Ada
6 Darmansyah. Trategi Pembelajaran Menyenangkan dengan Humor. Jakarta: PT Bumi Aksara. 2012. Hlm.134
7 Darmansyah. Trategi Pembelajaran Menyenangkan dengan Humor. Jakarta: PT Bumi Aksara. 2012. Hlm.134
8 Nurnaningsih. Bimbingan Kelompok untuk meningkatkan kecerdasan emosional siswa. Edisi khusu no.1, Agustus 2011.
juga yang mengatakan bahwa terdapat hubungan antara kecerdasan Emosi dengan kemampuan coping adaptif, yang dibuktikan dalam penelitiannya Saptoto (2010), based on these minor hipotesis, it is concluded hat generally there is correlation between emotional intelligence and adaptive coping ability.10
Dari beberapa penelitian terhadulu tentang upaya meningkatkan kecerdasan emosi di atas, peneliti lebih tertarik dengan upaya meningkatkan kecerdasan emosional melalui metode sosiodrama. Karena menurut teori Albert Bandura telah dijelaskan bahwa anak usia dini adalah masa meniru, sehingga pengoptimalan kognitif-emosional anak usia dini dapat dioptimalkan dengan metode sosiodrama.
Perbedaan penelitian ini dengan penelitian-penelitian sebelumnya adalah dari segi subjek, penelitian kami menggunakan subjek yang berusia prasekolah 6-7, dan dari segi metodenya, meskipun penelitian ini menggunakan metode sosiodrama, namun drama yang akan ditirukan oleh subjek berbeda yakni drama “bawang merah bawang putih”, hal ini dipilih karena dari cerita ini, siswa akan mendapatkan nilai-nilai moral yang baik untuk meningkatkan kecerdasan moralnya.
Berdasarkan uraian diatas, peneliti tertarik untuk meneliti apakah metode pembelajaran simulasi yang berupa sosiodrama dapat meningkatkan kecerdasan emosi anak, dan penelitian yang akan dilakukan ini berjudul “Peningkatan Kecerdasan Emosi Melalui Metode Simulasi Berupa Sosiodrama Bawang Merah Bawang Putih pada Anak Usia Dini Kelompok B TK Baitul Mu’min - Surabaya”. B. Metode Penelitian
a. Design Penelitian
Desain eksperimen yang kami gunakan dalam penelitian ini adalah Posttest-Only Design with Nonequivalent groups.
(KE) x Oe
(KK) Ok
Ke = kelompok eksperimen Kk = kelompok control
O = pengukuran terhadap variable dependen X = pemberian perlakuan
Desain ini disebut static group design (Robinson,1981) atau non-equivalent posttest-only design (Christensen, 2001), karena tidak dilakukan randomisasi untuk membentuk kelompok KE dan KK, sehingga kedua kelompok dianggap tidak setara.
b.Validitas Alat Ukur
Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini berupa lembar kerja siswa, lebih jelasnya terdapat pada lampiran, telah diverifikasi oleh ahli.
c. Validitas Eksperimen
Penelitian ini menggunakan validitas internal.Validitas internal berkaitan dengan sejauhmana hubungan sebab-akibat antara variabel bebas (metode sosiodrama) dan variabel terikat (kecerdasan emosi) yang ada dalam penelitian.
Jenis ancaman pada validitas internal ini adalah demoralisasi imbangan, yakni keuntungan diadakannya penelitian bisa tidak setara karena yang di treatment hanyalah kelompok eksperimen.Sebagai tindakan responsif untuk mengatasi ancaman tersebut, peneliti akan memberikan treatment juga pada kelompok kontrol namun setelah berakhirnya penelitian (debiefing).
Penelitian ini juga menggunakan validitas eksternal.Validitas eksternal berkaitan dengan sejauhmana suatu hasil eksperimen dapat digeneralisasikan atau sejauhmana eksperimen dapat mewakili populasi di luar eksperimen.
di Taman Kanak-Kanak serta sempitnya karakteristik-karakteristik yang ditetapkan dalam memilih partisipan, dalam penelitian ini rentang usia 5-7 tahun dan dengan IQ rata-rata (90-110). Peneliti sering kali tidak mampu menggeneralisasikan treatmen berupa metode simulasi “bawang merah bawang putih” kepada siapa saja yang memiliki salah satu dari karakteristik atau tidak memiliki karakteristik khusus yang telah dikontrol oleh peneliti, sehingga sulit untuk digeneralisasikan.
C. Hasil Penelitian I. Deskripsi Subjek
Dalam observasi metode sosiodrama yang peneliti lakukan, subjek yang diambil merupakan anak-anak usia 5 sampai 7 tahun dengan IQ kategori normal. Mereka adalah anak-anak kelompok B TK Baitul Mu’min Surabaya. Data usia, dan nama siswa ada dalam lampiran.
a. Usia
Usia dapat menjadi tolak ukur kematangan manusia, dalam penelitian ini eksperimenter menentukan batasan usia pada subjek yang akan diteliti yaitu pada anak usia dini antara usia 5 sampai 7 tahun.
dibagikan oleh eksperimenter tanpa menerima penjelasan apa pun mengenai “Perilaku baik dan buruk”. Berbeda dengan pada kelompok eksperimen (B1), pada kelompok ini anak-anak diberikan perlakuan yaitu dengan diberikan penjelasan terlebih dahulu mengenai “Perilaku baik dan buruk” dengan memainkan sosiodrama.
Usia anak-anak di TK B ini merupakan masa dalam usia 5 sampai 7 tahun, dimana pada usia tersebut merupakan masa pre-operational (1,5 sampai 6 tahun) dan contcrete-pre-operational (6 sampai 12 tahun).
Periode Pre-operational (1,5 sampai 6 tahun), anak telah menunjukkan aktivitas kognitif dalam berbagai hal diluar dirinya. Aktivitas berpikirnya belum mempunyai sistem yang terorganisasi. Anak sudah dapat memahami realitas di lingkungan dengan menggunakan tanda-tanda dan simbol. Cara berpikir anak pada masa ini bersifat tidak sistematis, tidak konsisten dan tidak logis. Cara berpikir anak pada fase ini ditandai dengan ciri-ciri:
a. Tansductive reasoning, yaitu cara berpikir yang bukan induktif
dan bukan deduktif tetapi tidak logis.
b. Ketidakjelasan hubungan sebab akibat, yaitu anak mengenal hubungan sebab akibat secara tidak logis.
c. Animism, yaitu menganggap semua benda itu hidup seperti
dirinya.
d. Artificialism, yaitu kepercayaan bahwa segala sesuatu di
lingkungan itu mempunyai jiwaseperti manusia.
e. Perceptually bound, yaitu anak menilai sesuatu berdasarkan
apa yang ia lihat atau dengar.
f. Mental eksperiment, yaitu anak melakukan sesuatu untuk
menemukan jawaban dari persoalan yang dihadapinya.
g. Centration, yaitu anak memusatkan perhatiannya pada sesuatu
ciri yang paling menarik dan mengabaikan ciri yang lainnya.
h. Egocntrism, artinya anak melihat dunia lingkungannya menurut
Periode concrete-operational (6 sampai 12 tahun), anak telah dapat membuat pemikiran tentang situasi atau hal konkrit secara logis. Perkembangan kognitif pada peringkat operasi konkrit, hubungan antara suatu perkara dengan perkara lainnya. Konsep kuantitas yaitu kesadaran anak bahwa suatu kuantitas akan tetap sama meskipun bentuk fisiknya berubah, asalkan tidak ditambah atau dikurangi.
Setelah para siswa mengisi lembar tugas siswa dan bereksperimen, di bawah ini merupakan hasil skor dari kelompok eksperimen dan kelompok kontrol.
Tabel hasil perolehan skor anak kelompok B1 Kelompok Eksperimen (Perlakuan) TK Baitul Mu’min
Tabel 1. Hasil Perolehan skor anak kelompok B1
2
Tabel 3. Hasil Perolehan skor anak kelompok B2
N
eksperimen, anak-anak yang diberikan arahan terlebih dahulu mereka dapat mengerjakan angket dengan hasil rata-rata mendapatkan nilai 10. Berbeda dengan hasil yang terjadi pada kelompok eksperimen, anak-anak yang tidak mendapatkan arahan apa pun didapati banyak mengalami kesalahan ketika mengisi angket, rata-rata perolehan nilai pada kelompok kontrol adalah sebesar 4,5. Pada masa ini anak belum memiliki cara berfikir yang terorganisari dengan baik, serta dalam masa egoentris, sehingga emosi pada anak harus mendapatkan arahan yang tepat.
II. Pengujian Homogenitas
Dari observasi eksperimen sains yang peneliti lakukan, adapun pengujian homogenitas memiliki ketentuan sebagai berikut:
Hipotesis :
Ho : Variansi data hasil perolehan siswa adalah sama/identik
Ha : variansi data hasil perolehan siswa adalah berbeda Keputusan :
- Jika signifikansi > 0,05, maka Ho diterima
- Jika signifikansi < 0,05, maka Ho ditolak
Berdasarkan Levene’s Test of Equality of Error Variances (a), diperoleh signifikansi 0,00 , karena signifikansinya > 0,05 maka Ho ditolak, dan berarti Ha diterima. Dengan demikan dapat disimpulkan bahwa variansi data hasil perolehan siswa adalah tidak sama/identik/homogen. Sehingga dalam penelitian ini usia anak-anak Kelompok control maupun eksperimen adalah tidak sama.
III. Pengujian Hipotesis
- Jika signifikansi > 0,05 Ho diterima, maka tidak terdapat hubungan antara Peningkatan Kreativitas Sains dengan Metode Pembelajaran Demontrasi Eksperimen Sains.
- Jika signifikansi < 0,05 Ho ditolak, maka terdapat hubungan antara Peningkatan Kreativitas Sains dengan Metode Pembelajaran Demontrasi Eksperimen Sains.
Berdasarkan Tests of Between-Subjects Effects tersebut di atas diperoleh harga F sebesar 243,876 dan signifikansinya 0,000, karena signifikansinya < 0,05 maka Ho ditolak, dan berarti Ha diterima. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa rata-rata hasil perolehan siswa bila dilihat dari metode demontrasi yang diberikan adalah berbeda, atau dengan kata lain ada perbedaan yang signifikan rata-rata hasil perolehan siswa antar siswa yang diberikan metode Sosiodrama dan non sosiodrama.
Dari perolehan data yang signifikansinya 0,000 < 0,05 maka Ho ditolak, dan berarti Ha diterima. Jadi terdapat hubungan antara peningkatan kecerdasan emosi dengan metode Sosiodrama. Dari hasil tersebut dapat diketahui bahwa kelompok eksperimen yang diberikan perlakuan memperoleh skor perolehan lebih tinggi dari pada kelompok kontrol yang tidak diberi perlakuan berupa metode sosiodrama.
D. Pembahasan
Dalam penelitian ini, subjek yang kami gunakan adalah anak-anak dengan usia 5 sampai 7 tahun. Menurut Piaget, pada fase ini anak mulai menyadari bahwa pemahamannya terhadap benda-benda yang ada disekitarnya tidak hanya dapat dilakukan melalui aktifitas sensorimotor akan tetapi dapat juga dilakukan melalui aktifitas yang bersifat simbolik.
operasional yaitu suatu proses berpikir yang dilakukan dengan caramenginternalisasikan suatu aktivitas anak yang memungkinkan anak mengaitkan dengan kegiatan yang telah dilakukannya sebelumnya.
Dalam usia ini, anak-anak mulai memahami benda-benda yang ada disekitarnya dengan aktivitas sensorik-motorik, yaitu dengan mengoptimalisasikan pemahaman terhadap alat indra yang kita kenal seperti audio, visual, dan kinestetik. Selain itu Mereka melakukan aktivitas yang bersifat simbolik, yaitu dengan memberikan simbol-simbol pada benda-benda yang ada disekitarnya.
Setelah mengetahui hal tersebut, ada banyak metode yang dapat digunakan untuk menstimulasi kognitif anak usia pra sekolah. Salah satunya adalah metode demontrasi, hal ini sesuai dengan metode yang kami gunakan, yaitu metode sosiodrama. Metode ini merupakan suatu metode pembelajaran bermain peran untuk memecahkan masalah yang berkaitan dengan fenomena sosial, permasalahan yang menyangkut hubungan antarmanusia.
Kegiatan sosiodrama yang dilakukan oleh eksperimenter akan menstimulasi kognitif anak. Karena kegiatan sosiodrama dimulai dengan pemberian cerita oleh eksperimenter, kemudian anak-anak akan mendramakan cerita tersebut. Hal ini akan melibatkan kemampuan sensorik dan motorik anak berupa audio, visual, dan kinestetik. Sehingga anak akan mampu mendramakan cerita dari eksperimenter.
metode tersebut setiap anak di haruskan ikut serta dalam bermain drama.
Menurut piaget ada fase pra operasional dengan beberapa sub. Salah satu sub tersebut adalah sub fase fungsi simbolik yaitu keinginan untuk meniru apa yang dilihat, kemudian anak akan melakukannya. Sub fase egosentris, yaitu anak dalam masa menentang, ketika masa ini anak emosinya belum stabil. Dan sub fase berpikir secara intuitif, yaitu anak mulai dapat untuk mengerti dan memahami sesuatu yang sederhana.
Hal ini sesuai dengan teori Bandura yaitu Social Learning Theory dan disebut pula sebagai teori pembelajaran melalui peniruan. Teori bandura berdasarkan pada tiga asumsi, yaitu: (1) perilaku model (contoh), (2) pengaruh perilaku model, dan (3) proses internal anak.
Aplikasi Metode sosiodrama yang eksperimenter lakukan, anak-anak diberikan stimulus berupa cerita bawang merah bawang putih. Stimulasi-stimulasi yang diberikan oleh eksperimenter tersebut, akan membuat anak mengetahui perbedaan perilaku baik dan perilaku buruk. Dengan demikian, metode sosiodrama dapat meningkatkan kecerdasan emosi anak usia dini.
E. Simpulan
DAFTAR PUSTAKA
Ardy, N.W., &Barnawi. 2012. FORMAT PAUD. Jogjakarta : Ar-Ruz Media.
Baskara dkk. 2011. Kecerdasan Emosi ditinjau dari keikutsertaan dalam program
meditasi. Jurnal psikologi vol. 35, No. 2,juni
Chandra, Julius. 1994. KreativitasBagaimanaMenanam, Membangun, danMengembangkannya. Yogyakarta :Kanisius.
Christiani.E.P, Nyoman.D.,Gede.R.D, 2014. Meningkatkan Kreativitas Dan Keterampilan Motorik Melalui Pengenalan Sains Berbasis Eksperimen Sederhana Pada Anak Tk Tunas Mekar II Dalung, e-Journal Program Pascasarjana Universitas Ganesa, Singaraja.
Creswell, W. J.. 2013. Research Design. Yogyakarta: Pustaka Belajar
Darmansyah. 2012. Trategi Pembelajaran Menyenangkan dengan Humor. Jakarta: PT
Bumi Aksara.
Harlock, E. B. 1980. Psikologi Perkembangan. Jakarta : Erlangga
Indosiar.com yang diakses tanggal 9 April 2015 jam 12:35.
Jatmika,Y. N. Yusep Nur. Profesor Cilik!!! . 2011. Jogjakarta : Diva Press.
Kartono,K. 2011. Kamus Lengkap Psikologi. Jakarta : Rajawali Pers.
Lestari, I Gusti Ayu Dian, 2011.Pengaruh Eksperimen Terbuka (Open –Ended Experiment) Terhadap Pemahaman Konsep Fisika dan Kinerja Ilmiah Siswa, Tesis, Universitas Pendidikan Ganesha, Singaraja.
M. Darwis Hude. 2006. Emosi. Jakarta:Erlangga.
Muhid, A. 2011. Analisis Statistik. Sidoarjo : Zifatama
Nurnaningsih. 2011. Bimbingan Kelompok untuk meningkatkan kecerdasan emosional
siswa. Edisi khusu no.1, Agustus
Panitia Sertifikasi Guru. 2012 MATERI PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PROFESI GURU PAUD. Surabaya : UNESA.
Rahayu, Indar Putri 2011, Hubungan Pola Asuh Orang Tua Dengan Kecerdasan Emosi
Pada Anak Usia Prasekolah(4-6 tahun) Di TK Bina Prestasi Surabaya, Skripsi
Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Keperawatan Universitas Airlangga,
Tidak dipublikasikan.
Ridwan, S. KNPA.comyang diakses tanggal 9 April 2015 jam 12:35.
Romi. Republika Online.com yang diakses tanggal 9 April 2015 jam 12:35.
Santrok,J.W. 2008. Psikologi Pendidikan. Jakarta : kencana
Saptoto. 2010. Hubungan kecerdasan emosi dengan kemampuan coping adapatif. Junal
Psikologi. Volume 37, no. 1, Juni
Sarini, Putri, 2012. Pengaruh Virtual Experiment Terhadap Hasil Belajar Fisika Ditinjau dari Motivasi Belajar Siswa SMA Negeri 1 Singaraja, Tesis, Universitas Pendidikan Ganesha, Singaraja.
Seniati, Liche. 2009. Psikologi Eksperimen. Jakarta: PT Indeks
Setyawan, D. KPAI.com yang diakses tanggal 9 April 2015 jam 12:33.
Solso, R. C.,dkk.2008.psikologiKognitifedisike-8. Jakarta :Erlangga
Solso, R. C.,dkk.2008.psikologiKognitifedisike-8. Jakarta :Erlangga
Stenberg, R. J. 2008. PsikologiKognitif. Yogyakarta: PustakaPelajar.
Surya, M. 2014. Psikologi Guru. Bandung:Alfabeta
Susanto, A. Perkembangan Anak Usia Dini : Pengantar Dalam Berbagai Aspeknya, Jakarta : Kencana. 2011.
Suwama, I Nengah, 2012. Pengaruh Pembelajaran Dengan Starter Experiment Approach Dan Advance Organizer TerhadapHasil Belajar Biologi Dan Keterampilan Berpikir Kritis Siswa SMA, Tesis, Universitas Pendidikan Ganesha, Singaraja.
Suyadi.PsikologiBelajarPaud. 2010,Yogjakarta : PT. Pustaka Insan Madani
Syah, M. 2013. Psikologi Pendidikan. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya
Trianto. 2011. Desain Pengembangan Pembelajaran Tematik Bagi Anak Usia Dini
TK/RA dan Anak Kelas Awal SD/MI. Jakarta : Kencana.