• Tidak ada hasil yang ditemukan

MAKALAH PERATURAN TENTANG STUDY KELAYAKA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "MAKALAH PERATURAN TENTANG STUDY KELAYAKA"

Copied!
20
0
0

Teks penuh

(1)

MAKALAH PERATURAN TENTANG STUDY KELAYAKAN TAMBANG

Tugas Mata Kuliah Lingkungan Tambang

Oleh:

MARDHATILLAH AULIA 1203146 / 2012

PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBNGAN (S1) JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN

FAKULTAS TEKNIK

(2)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, yang telah melimpahkan ridho serta karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini yang berjudul “MAKALAH PERATURAN TENTANG STUDY KELAYAKAN TAMBANG”. Makalah ini disusun untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Lingkungan Tambang.

Penulis menyadari bahwa penyusunan makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, mengingat keterbatasan waktu, pengetahuan, dan kemampuan yang penulis miliki. Namun demikian, dengan segala kemampuan yang ada dan dengan rasa tanggung jawab, akhirnya penulis dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini.

Penulis menyadari bahwa tanpa bantuan, uluran tangan, maupun bimbingan dari berbagai pihak, makalah ini tidak dapat terwujud, untuk itu pada kesempatan kali ini perkenankanlah penulis mengucapkan terima kasih kepada Bapak Drs.Yunasril, M.Si selaku dosen Mata Kuliah Lingkungan Tambang,teman-teman yang telah bersama-sama serta semua membantu dalampenyelesaikan makalah ini.

Semoga semua bantuan yang diberikan dibalas oleh Allah SWT dengan balasan yang setimpal. Amin ya rabbal’alamin.

Akhirnya penulis berharap semoga makalah ini dapat memberikan manfaat bagi penulis khususnya dan umumnya bagi semua pihak.

Padang, 4 Juni 2013 Penulis

(3)

DAFTAR ISI

KATA

PENGANTAR ...

... i

DAFTAR ISI …... ... ii

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Makalah...1

B. Rumusan Makalah...2

C. Batasan Makalah...2

D. Tujuan Penulisan Makalah...2

BAB II PEMBAHASAN A. Pengertian dari study kelayakan...3

B. Fungsi dan tujuan study kelayakan ... 4C. Peraturan Mengenai Study Kelayakan Tambang... 5 D. Manfaat Study Kelayakan ...11

E. Faktor – faktor dilakukannya Study Kelayakan ... 11 BAB 3 PENUTUP

A. Simpulan

... 13

B. Saran

... 14

(4)

ii

BAB I PENDAHULUAN

A.Latar Belakang

Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki kekayaan yang melimpah ruah, baik itu berupa hasil hutan maupun hasil tambang yang berupa bijih, minyak bumi, maupun mineral yang salah satunya adalah batubara,emas,bauksit,tembaga dan hasil tambang lainnya. Study kelayakan merupakan salah satu tahapan yang sangat penting dalan usaha pertambangan.

Studi kelayakan tambang merupakan kegiatan untuk menghitung dan mempertimbangkan suatu endapan bahan galian ditambang dan atau diusahakan secara menguntungkan. Sebelum kegiatan perencanaan dan perancangan tambang diperlukan kegiatan study kelayakan yang menyajikan beberapan informasi. Studi kelayakan bukan hanya mengkaji secara teknis, atau membuat prediksi/ proyeksi ekonomis, juga mengkaji aspek nonteknis lainnya, seperti aspek sosial, budaya, hukum, dan lingkungan.

(5)

melakukan pengawasan, baik yang menyangkut kontrol realisasi produksi, kontrol keselamatan dan kesehatan kerja, dan kontrol pengendalian aspek lingkungan. Dalam kegiatan usaha pertambangan kegiatan studi kelayakan dilakukan setelah kegiatan eksplorasi. Kagiatan eksplorasi bertujuan untuk menemukan endapan atau bahan galian tambang. Mengingat penting studi kelayakan dalam dunia pertambangan maka studi kelayakan yang dilakukan diatur dalam banyak peraturan seperti peraturan pemerintah, peraturan menteri, peraturan daerah.

1.

B. Rumusan Masalah

1) Apa yang dimaksud dengan study kelayakan ?

2) Apa fungsi dan tujuan dari study kelayakan pada pertambangan ? 3) Peraturan – peraturan tentang study kelayakan ?

4) Apa manfaat study kelayakan ?

5) Faktor – faktordilakukannya study kelayakan ?

C. Batasan Masalah

Batasan masalah dibuat untuk membatasi dan menjamin pembahasan masalah agar tidak menyimpang dari tema yang sudah ditetukan. Adapun batasan masalahnya adalah sebagai berikut:

1. Mengetahui dan memahami pengertian study kelayakan

2. Mengetahui dan memahami fungsi dan tujuan dari study kelayakan 3. Mengetahui dan memahami peraturan tentang study kelayakan 4. Mengetahui dan memahami manfaat study kelayakan

(6)

Tujuan penulisan makalah ini adalah agar mahasiswa atau mahasiswi dapat mengetahui tentang apa yang dimaksud dengan study kelayakan Dan juga memahami fungsi dan tujuan dari study kelayakan pada Kontak Kerja (KK) yang diberikan kuasa oleh Pemerintah, sehingga pada perusahaan tersebut memiliki peraturan – peraturan dan tahap – tahap proses pertambangannya.

2. BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian dari Study Kelayakan

Studi kelayakan tambang merupakan kegiatan untuk menghitung dan mempertimbangkan suatu endapan bahan galian ditambang dan atau diusahakan secara menguntungkan. Sebelum kegiatan perencanaan dan perancangan tambang diperlukan kegiatan study kelayakan yang menyajikan beberapan informasi. Studi kelayakan selain merupakan salah satu kewajiban normatif yang harus dipenuhi dan prasyarat untuk memperoleh IUP Operasi Produksi. Sesungguhnya apabila dipahami secara benar, studi kelayakan merupakan dokumen penting yang berguna bagi berbagai pihak, khususnya bagi pelaku usaha, pemerintah, dan investor atau perbankan.

(7)

bukan hanya mengkaji secara teknis, atau membuat prediksi/ proyeksi ekonomis, juga mengkaji aspek nonteknis lainnya, seperti aspek sosial, budaya, hukum, dan lingkungan.

B. Fungsi dan Tujuan Study Kelayakan

Studi kelayakan selain berguna dalam mengambil keputusan jadi atau tidaknya rencana usaha penambangan itu dijalankan, juga berguna pada saat kegiatan itu jadi dilaksanakan, yaitu:

a) Dokumen studi kelayakan berfungsi sebagai acuan pelaksanaan kegiatan, baik acuan kerja di lapangan, maupun acuan bagi staf manajemen di dalam kantor;

3. b) Berfungsi sebagai alat kontrol dan pengendalian berjalannya pekerjaan;

c) Sebagai landasan evaluasi kegiatan dalam mengukur prestasi pekerjaan, sehingga apabila ditemukan kendala teknis ataupun nonteknis, dapat segera ditanggulangi atau dicarikan jalan keluarnya.

d) Bagi pemerintah, dokumen studi kelayakan, merupakan pedoman dalam melakukan pengawasan, baik yang menyangkut kontrol realisasi produksi, kontrol keselamatan dan kesehatan kerja, kontrol pengendalian aspek lingkungan,dan lain – lain.

Dengan aspek sebagai berikut :

a. Umum : lokasi, iklim, topografi sejarah, kepemilikan, status lahan, transportasi,dll

b. Permasalahan lingkungan : kondisi kini, baku, permasalahan yang perlu dilindungi, reklamasi lahan, study khusus, perizinan.

c. Faktor geologi : keberadaan endapan, genesa, struktur, mineralogy dan petrografi.

d. Cadangan bahan galian : prosedur eksplorasi, penemuan bahan galian, perhitungan jumlah cadangan, dan kadar rata-rata.

(8)

g. Bangunan dipermukaan : lokasi dan perencanaan konstruksi

h. Fasilitas pendukung : listrik, pengadaan air, jalan masuk, lokasi tanah buangan, perumahan, dll

i. Karyawan : tenaga kerja dan staff

j. Pemasaran : survey ekonomi terhadap permintaan dan penawaran, harga kontrak jangka panjang, lahan pengganti, dll

k. Biaya : perkiraan biaya development dan biaya eksploitasi baik langsung tidak langsung dan biaya keseluruhan, biaya pengolahan, transportasi, peleburan, dll l. Evaluasi ekonomi : evaluasi cadangan, klarifikasi cadangan dan SDA

4. Tahap – tahap dari Study Kelayakan antara lain

1. Tahap perencanaan tambang 2. Tolak ukur tata lingkungan 3. Tolak ukur keekonomian

4. Rancangan tolak ukur ultimate (penggalian, penimbunan) 5. Rancangan Tambang Sektoral

6. Rencana Investasi 7. Rencana Pemasaran

C. Peraturan Mengenai Study Kelayakan Tambang

1. PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 59 TAHUN 2007 TENTANG KEGIATAN USAHA PANAS BUMI

Bagian Keempat Pasal 15 Ayat 1 sampai 4

(9)

2)Dalam hal Eksplorasi dilakukan oleh Menteri, Badan Usaha

dapat langsung melakukan studi kelayakan setelah mendapatkan IUP 3)Badan Usaha wajib melakukan Studi Kelayakan sesuai dengan kaidah teknik pertambangan yang baik dan benar serta standarStudi Kelayakan Panas Bumi.

4) Studi Kelayakan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) meliputi studi: a) penentuan cadangan layak tambang di seluruh Wilayah Kerja; b) penerapan teknologi yang tepat untuk Eksploitasi dan penangkapan

uap dari sumur produksi; c) lokasi sumur produksi;

d) rancangan sumur produksi dan injeksi; e) rancangan pemipaan sumur produksi

f) perencanaan kapasitas produksi jangka pendek dan jangka panjang; 5. g)sistim pembangkit tenaga listrik.

h) upaya konservasi dan kesinambungan sumber daya Panas Bumi; i)rencana keselamatan dan kesehatan kerja, perlindungan lingkungan dan teknis pertambangan Panas Bumi;

j)rencana pasca tambang sementara.

2. PERATURAN MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL NOMOR TAHUN 2010 TENTANG PEDOMAN PERIZINAN KEGIATAN USAHA PERTAMBANGAN MINERAL BUKAN LOGAM DAN BATUAN

Paragraf 3 Pasal 40 sampai Pasal 43 Pasal 40

1) Paling lambat pada akhir masa tahap eksplorasi, atau pada setiap saat, pemegang IUP Eksplorasi dapat melakukan tahapan kegiatan studi kelayakan pada sebagian atau seluruh WIUP nya setelah menyampaikan dan disetujuinya laporan eksplorasi lengkap, laporan RKAB dan RKTTL tahap studi kelayakan oleh pemberi izin.

(10)

a. Kegiatan yang eksplorasi yang telah dilakukan dan hasil eksplorasi yang diperoleh.

b. Realisasi pengeluaran biaya yang telah dikeluarkan.

c. Rencana kegiatan pada studi kelayakan, meliputi eksplorasi detail untuk meningkatkan status sumberdaya dan cadangan, studi geoteknik, geohidrologi, sampling, analisa contoh, pemboran detail,evaluasi sumberdaya dan cadangan, pengambilan contoh ruah, studi dan atau percobaan pengolahan, studi kelayakan, studi amdal

d. Rencana biaya yang akan dikeluarkan pada tahap studi kelayakan e. jadwal pelaksanaan rencana kegiatan seperti tercantum pada tahap studi kelayakan;

6. Pasal 41

1) Menteri, gubernur, atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya melakukan evaluasi terhadap Laporan Eksplorasi Lengkap, laporan RKAB dan RKTTL sebagaimana dimaksud pada pasal 12 ayat (2) dan (3), dalam jangka waktu 14 (empat belas) hari kerja sejak diterimanya laporan.

2) Apabila dalam jangka waktu 14 (empat belas) hari kerja sejak diterimanya laporan tidak ada tanggapan atas Laporan Eksplorasi Lengkap, RKAB dan RKTTL sebagaimana dimaksud ayat (1), oleh pemberi izin, maka laporan tersebut dianggap memadai dan pemegang IUP dapat melanjutkan kegiatan ke tahap studi kelayakan. Pasal 42

(11)

2) Presentasi hasil studi kelayakan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus dihadiri wakil dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, pemerintah provinsi, dan pemerintah kabupaten/kota.

3) Dalam hal wakil dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tidak hadir, dapat diwakilkan pada pemerintah provinsi. Pasal 43

Menteri, gubernur, atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya harus menerbitkan surat persetujuan hasil evaluasi Laporan Studi Kelayakan, AMDAL, Rencana Reklamasi, Rencana Penutupan Tambang, yang disampaikan pemegang IUP Eksplorasi dalam jangka waktu paling lama 14 (empat belas) hari kerja sejak laporan dinyatakan lengkap dan benar.

7. 3. PERATURAN MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL

NOMOR TAHUN 2011 TENTANG PEDOMAN PERIZINAN KEGIATAN USAHA PERTAMBANGAN MINERAL LOGAM DAN BATUBARA

Paragraf 3 Pasal 50 sampai Pasal 52 Pasal 50

1) Dalam jangka waktu 2 (dua) tahun sejak berakhirnya tahap kegiatan eksplorasi, atau pada setiap saat, pemegang IUP/IUPK Eksplorasi mineral logam atau batubara dapat melakukan tahapan kegiatan studi kelayakan pada sebagian atau seluruh WIUP/WIUPK-nya setelah menyampaikan dan disetujuinya laporan eksplorasi lengkap dan laporan RKAB tahap studi kelayakan oleh pemberi izin. 2) Kegiatan tahap studi kelayakan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi

antara lain: in fill drilling, pembuatan terowongan eksplorasi, uji metalurgi dan/atau pengolahan, studi geotekenik, geohidrologi, studi kelayakan, studi AMDAL uji penambangan dan peralatan tambang, perhitungan cadangan dan perencanaan tambang.

(12)

a. kegiatan eksplorasi yang telah dilakukan dan hasil eksplorasi yang diperoleh;

b. realisasi pengeluaran biaya yang telah dikeluarkan; c. rencana kegiatan pada tahap studi kelayakan;

d. rencana biaya yang akan dikeluarkan pada tahap studi kelayakan; dan e. jadwal pelaksanaan rencana kegiatan seperti tercantum pada tahap studi kelayakan.

Pasal 51

1) Pemegang IUP/IUPK Eksplorasi yang telah selesai melakukan tahap kegiatan studi kelayakan pada sebagian atau seluruh WIUP/WIUPK-nya, atau dalam jangka waktu paling lambat 6 (enam) bulan sebelum tanggal berakhir

8. masa berlakunya IUP/IUPK Eksplorasi, wajib menyampaikan laporan studi kelayakan termasuk laporan studi AMDAL, untuk dipresentasikan dan mendapat persetujuan dari Menteri, Gubernur, atau Bupati/Walikota sesuai kewenangannya atau instansi yang berwenang.

2) Laporan kegiatan studi kelayakan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mencakup antara lain informasi mengenai:

a) hasil penyelidikan geologi yang mendalam dan pembuktian endapan-endapan bijih dalam WIUP/WIUPK termasuk cadangan-cadangan bijih atau batubara yang terukur, terunjuk, dan terkira sepanjang diperlukan bagi kelayakan ekonomis daripada pengusahaan untuk dipertimbangkan dan pengujian-pengujian serta pengambilan contoh endapan-endapan yang bernilai tersebut sesuai dengan rencana kerja yang telah disetujui; b) hasil pengamatan dan informasi yang terinci mengenai lokasi untuk kegiatan operasi produksi yang termasuk dalam pengusahaan berikut penyiapan peta-peta dan gambar-gambar yang berhubungan dengan mengenai lokasi-lokasi tersebut;

(13)

pengangkutan, pemuatan dan pengapalan bijih/batubara, konsentrat-konsentrat dan hasil dalam bentuk lain dari WIUP/WIUPK, termasuk penyelidikan teknis tentang kemungkinan lokasi pelabuhan, jalan-jalan penghubung dari tambang ke pelabuhan sungai dan cara pengangkutan lain yang cocok;

d) hasil penyelidikan tentang setiap kemungkinan pengaruh pengangkutan dengan menggunakan tongkang atau kapal;

e) hasil penyelidikan tentang lokasi dan rancang bangun lapangan terbang dan termasuk fasilitas pelabuhan dan pendaratan, apabila dianggap perlu; f)penyelidikan dan perencanaan bagi pengembangan suatu yang

berhubungan dengan kemungkinan tetap yang sesuai, termasuk rancang bangun fasilitas perumahan dan fasilitas sosial, kebudayaan dan

9. kemasyarakatan sejauh diperlukan untuk memenuhi kebutuhan

masyarakat yang mungkin berkembang akibat kegiatan-kegiatan perusahaan dalam waktu 5 (lima) tahun setelah dimulainya periode operasi;

g) hasil studi tentang kebutuhan tenaga kerja dimeudian hari untuk pengusahaan dengan memperkirakan jenis dan lamanya pelatihan yang diperlukan untuk menjamin penggantian tenaga kerja asing oleh tenaga kerja Indonesia dana penggunaan tenaga kerja setempat semaksimal mungkin sejalan dengan operasi yang aman dan efisien dari

pengusahaan;

h) hasil studi dampak fisik mengenai pengaruh yang akan timbul terhadap lingkungan hidup sebagai akibat kegiatan pengusahaan, studi tersebut

akan dilakukan dengan berkonsultasi dengan konsultan independen yang memenuhi persyaratan;

(14)

(lima) tahun setelah dimulainya kegiatan operasi produksi;

j) penelitian metalurgi dan pemasaran untuk menentukan kemampuan hasil perolehan mineral dan penjualannya serta kontrak penjualannya;

Pasal 52

Menteri, gubernur, atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya harus menerbitkan surat persetujuan hasil evaluasi Laporan kegiatan Studi Kelayakan termasuk AMDAL/UKL-UPL yang disampaikan pemegang IUP Eksplorasi dalam jangka waktu paling lama 14 (empat belas) hari kerja sejak laporan dinyatakan lengkap dan benar.

10. D. Manfaat Study Kelayakan

a. Dokumen studi kelayakan bukan hanya seonggok tumpukan kertas yang di dalamnya memuat konsep, perhitungan angka-angka dan gambar-gambar semata, tetapi merupakan dokumen yang sangat berguna bagi manajemen dalam mengambil keputusan strategik apakah rencana tambang tersebut layak untuk dilanjutkan atau tidak.

b. Studi kelayakan bukan hanya mengkaji secara teknis, atau membuat prediksi/ proyeksi ekonomis, juga mengkaji aspek nonteknis lainnya, seperti aspek sosial, budaya, hukum, dan lingkungan.

E. FAKTOR – FAKTOR DILAKUKANNYA STUDY KELAYAKAN I. KEADAAN UMUM

1 . Lokasi dan Luas Wilayah Kuasa Pertambangan (KP), Kontrak Karya (KK), Perjanjian Karya Pengusahaan Batubara (PKP2B) Eksploitasi yang dimohon.

2.Kesampaian Daerah dan Sarana Perhubungan Setempat

(15)

4 . Topografi dan Morfologi

II. GEOLOGI DAN KEADAAN ENDAPAN 1 . Geologi

2 . Keadaan Endapan

3. Cara Perhitungan Cadangan

4. Klasifikasi dan Jumlah Cadangan (insitu, miniable, marketable.) III. RENCANA PENAMBANGAN

1. Sistem/Metode dan Tata Cara Penambangan (dilengkapi bagan a l i r ) 2 . Tahapan kegiatan Penambangan (termasuk penanganan tanah penutup) 3 . Rencana Produksi (kuantitas, kualitas, cut off grade, stripping r a t i o ) 4 . Peralatan (jenis, jumlah dan kapasitas)

11. 5 . Jadwal Rencana Produksi dan Umur Tambang

6. Rencana Penanganan

7.Rencana Penanganan/Perlakuan Sisa Cadangan pada Pasca Tambang

IV. RENCANA PENGOLAHAN DAN PEMURNIAN ATAU PENCUCIAN

1 . Studi/Percobaan Pengolahan/ Pemurnian 2 . Tatacara Pengolahan dan Pemurnian

3 . Peralatan Pengolahan (jenis, jumlah dan kapasitas)

4 . Hasil Pengolahan dan Rencana Pemanfaatan Mineral Ikutan

V. LINGKUNGAN, KESEHATAN DAN KESELAMATAN KERJA 1. Bagan Organisasi

2. Jumlah dan kriteria Tenaga Kerja Tetap dan Tidak Tetap 3. Tingkat Gaji dan Upah

4. Sistem Kerja (kontrak, borongan dan lain-lain). VI. PEMASARAN

(16)

VII.INVESTASI DAN ANALISIS KELAYAKAN

4) Peralatan (penambangan, pengolahan, pegangkutan dan lain-lain). b. Modal Kerja

2 . Analisis Kelayakan a .Biaya Produksi

b. Pendapatan Penjualan, perhitungan “Break Even Point” (BEP)

c. Waktu Pengembalian Modal dan analisa kepekaan dan resiko

12. BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Studi kelayakan tambang merupakan kegiatan untuk menghitung dan mempertimbangkan suatu endapan bahan galian ditambang dan atau diusahakan secara menguntungkan. Sebelum kegiatan perencanaan dan perancangan tambang diperlukan kegiatan study kelayakan yang menyajikan beberapan informasi.

(17)

perencanaantambang,tolakukur tata lingkungan,tolakukurkeekonomian,rancangan tolak ukur ultimate (penggalian, penimbunan),rancangan tambang sektoral,rencana investasi dan rencana pemasarann.

Peraturan Mengenai Study Kelayakan Tambang

1. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 59 Tahun 2007 Tentang Kegiatan Usaha Panas Bumi Bagian Keempat Pasal 15 Ayat 1 sampai 4,

2. Peraturan Menteri Energidan Sumber Daya Mineral Nomor Tahun 2010 Tentang Pedoman Perizinan Kegiatan Usaha Pertambangan Mineralbukan Logamdan Batuan Paragraf 3 Pasal 40 sampai Pasal 43

3. PeraturanMenteriEnergidan Sumber Daya Mineral Nomor Tahun 2011 Tentang Pedoman Perizinan Kegiatan Usaha Pertambangan Mineral Logamdan BatubaraParagraf 3 Pasal 50 sampai Pasal 52

13. Manfaat study kelayakan :

1. Dokumen studi kelayakan bukan hanya seonggok tumpukan kertas yang di dalamnya memuat konsep, perhitungan angka-angka dan gambar-gambar semata, tetapi merupakan dokumen yang sangat berguna bagi manajemen dalam mengambil keputusan strategik apakah rencana tambang tersebut layak untuk dilanjutkan atau tidak.

2. Studi kelayakan bukan hanya mengkaji secara teknis, atau membuat prediksi/ proyeksi ekonomis, juga mengkaji aspek nonteknis lainnya, seperti aspek sosial, budaya, hukum, dan lingkungan.

B. Saran

(18)

merupakan pedoman dalam melakukan pengawasan, baik yang menyangkut kontrol realisasi produksi, kontrol keselamatan dan kesehatan kerja, kontrol pengendalian aspek lingkungan sehingga perusahaan tambang tidak merusak alam karena adanya study kelayakan yang mengatur kegiatan pertambangan.

(19)

Farrel, Tom, Discussion Paper “Mining Environtmental Management in Indonesia, opportunities for

Collaboration in Science and Technology”, 1 Mei 2000

1. PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 59 TAHUN 2007 TENTANG KEGIATAN USAHA PANAS BUMI

Bagian Keempat Pasal 15 Ayat 1 sampai 4

4. PERATURAN MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL NOMOR TAHUN 2010 TENTANG PEDOMAN PERIZINAN KEGIATAN USAHA PERTAMBANGAN MINERAL BUKAN LOGAM DAN BATUAN

Paragraf 3 Pasal 40 sampai Pasal 43

5. PERATURAN MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL NOMOR TAHUN 2011 TENTANG PEDOMAN PERIZINAN KEGIATAN USAHA PERTAMBANGAN MINERAL LOGAM DAN BATUBARA

Paragraf 3 Pasal 50 sampai Pasal 52

B.Susigit. 2008. Dasar-dasar Pengawasan Teknis Pertambangan Direktorat Teknik

Mineral dan Batubara dan Panas Bumi, Jakarta

T.Ridwan. 2007. Dampak Lingkungan Pertambangan, Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral, Badan Diklat Energi Sumber Daya Mineral, Pusat Diklat Teknologi Mineral dan Batu Bara Bandung,

Peraturan-peraturan

Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004, tentang Pemerintah Daerah.

Peraturan Pemerintah Nomor 25 tahun 2000, tentang Kewenangan Pemerintah dan

(20)

Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor: 1453.K/29/MEM/2000,

tentang Pedoman Teknis Penyelenggaraan Tugas Pemerintahan di Bidang Pertambangan Umum.

Sumarwoto, Otto. 1989. Mengenal Hukum Lingkungan Indonesia. Sinar

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini merupakan studi kuasi eksperimen berdesain kelompok kontrol non-ekiuvalen yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan model pembelajaran

Pelayanan asuhan keperawatan yang optimal akan terus menjadi tuntutan masyarakat bagi organisasi pelayanan kesehatan. Peningkatan mutu asuhan keperawatan harus sesuai dengan

Variabel independen, meliputi adalah intellectual capital diukur dengan VAIC, dengan tiga komponennya yang diukur berdasar efisiensinya yaitu human capital efficiency,

Setiap pilihan jawaban yang kamu pilih tidak akan dinilai salah ataupun benar, juga tidak akan mempengaruhi nama baik, atau nilai kamu di sekolah ataupun di luar sekolah karena

dan akutabel dalam penanganan pelanggaran tindak pidana pemilihan karena tidak memperhatikan dan mempertimbangkan keterangan Pengadu dan keterangan ahli pidana

3) Melalui kegiatan Membuat alat penghemat energy alternative dengan mengkombinasikan generator dan motor listrik siswa dapat merancang alat penghemat listrik alternatif

Emosi, yaitu pelanggan akan merasa bangga dan mendapatkan keyakinan bahwa orang lain akan kagum terhadap dia bila menggunakan produk dengan merek tertentu yang cenderung mempunyai

(3) Apabila jangka waktu sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3) telah dilampaui dan Bupati atau pejabat yang berwenang tidak memberikan suatu