• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENATAAN KAWASAN SELOKAN MATARAM DITINJA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PENATAAN KAWASAN SELOKAN MATARAM DITINJA"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

USULAN PENELITIAN

PENATAAN KAWASAN SELOKAN MATARAM DITINJAU DARI ASPEK HUKUM TATA RUANG DI KABUPATEN SLEMAN

A. Latar Belakang

Ruang adalah suatu wadah yang meliputi ruang daratan, ruang lautan,

dan ruang udara sebagai satu kesatuan wilayah, tempat manusia dan makhluk

lainnya hidup dan melakukan kegiatan serta memelihara kelangsungan

hidupnya. Ruang dan wilayah merupakan suatu masalah yang kompleks.

Unsur-unsur penyusun yang terdiri dari beragam karakter menjadi salah satu

pemicu terjadinya hal tersebut. Manusia sebagai individu ataupun masyarakat

menjadi pelaku utama di dalam pola kehidupan ruang wilayah.

Masing-masing individu memiliki karakter dan kebutuhan yang berbeda. Untuk

memenuhi hal seperti ini terjadilah suatu aktivitas atau yang lebih dikenal

sebagai interaksi. Semakin banyak aktivitas, maka ruang yang digunakan juga

bertambah banyak. Hal ini berimplikasi terhadap pola penggunaan ruang

dalam suatu komunitas. Aktivitas yang terjadi antara lain pola distribusi

penduduk, perekonomian, pemerintahan, lalu lintas, dan berbagai aktivitas

lainnya menggunakan ruang dalam jumlah yang besar. Namun, hal ini

berbanding terbalik dengan jumlah ruang yang terbatas.

Aktivitas yang terus bertambah akan menimbulkan berbagai macam

permasalahan terutama masalah pemanfaatan ruang dalam konteks kehidupan

(2)

melakuan langkah-langah pengaturan akan memperburuk kondisi ruang

tersebut. Misalnya, angka pertumbuhan penduduk yang semakin bertambah

setiap tahunnya jika tidak diikuti dengan penyediaan sarana infrastruktur,

maka pelayanan kebutuhan masyarakat tidak akan optimal. Selain itu,

pertambahan jumlah penduduk membutuhkan lahan yang lebih luas untuk

perumahan bagi mereka. Penyediaan lahan yang terbatas akan menyebabkan

timbulnya konversi lahan berupa pemanfaatan lahan-lahan yang tidak

semestinya diperuntukkan bagi pemukiman penduduk. Suatu kondisi yang

menyebabkan sering timbulnya beragam permasalahan kota yang berdampak

buruk terhadap lingkungan.

Perencanaan ruang menjadi suatu solusi tepat untuk mengurangi

dampak buruk di masa yang akan datang. Aktivitas yang terjadi di dalam

ruang harus diikuti dengan suatu intervensi untuk memperbaiki kondisi yang

ada. Perencanaan adalah suatu proses pencapaian suatu tujuan tertentu.

Pengertian perencanaan memiliki banyak makna sesuai dengan pandangan

masing-masing disiplin ilmu. Perencanaan adalah suatu proses

mempersiapkan secara sistematis kegiatan-kegiatan yang dilakukan untuk

mencapai suatu tujuan tertentu. Perencanaan dapat pula diartikan sebagai

suatu upaya penyusunan program baik program yang sifatnya umum maupun

yang spesifik, baik jangka pendek maupun jangka panjang . Sehingga hakekat

dari perencanaan itu sendiri adalah suatu proses mengkondisikan situasi

(3)

Perencanaan merupakan proyeksi untuk masa depan. Segala tindakan

untuk tujuan masa depan jelas mempunyai hubungan erat dengan apa yang

dimiliki sekarang. Tindakan tersebut di atas didasari oleh pemikiran pragmatis

rasional untuk suatu kurun waktu tertentu. Perencanaan mendasari

pembangunan, karena pembangunan berarti perencanaan dan peleksanaan.

Dengan demikian, perencanaan dan kemudian perancangan merupakan proses

yang mendahului pelaksanaan. Pembangunan dapat pula diartikan sebagai

usaha merubah nilai suatu keadaan ke keadaan lain yang memiliki mutu lebih

baik. Karena perencanaan dimaksudkan untuk waktu yang akan datang,

jelaslah bahwa setiap perencana harus dapat memperkirakan berbagai situasi

yang akan terjadi di kemudian hari.

Perencanaan dipahami sebagai sebuah upaya manusia guna meregulasi

sebuah kondisi di masa yang akan datang. Proses ini dilakukan dengan

menghubungkan pengetahuan atau teknik yang dilandasi kaidah-kaidah ilmiah

ke dalam wilayah praktis, dengan mempertimbangkan kepentingan publik.

Berkembangnya zaman, pertumbuhan kota-kota di dunia semakin pesat.

Terdapat berbagai asumsi pembangunan berupa full employment, equal

productivity, rational-effeciant menjadi paradoks dalam konteks realitas sosial.

Perencanaan adalah suatu siklus yang terdiri kegiatan penyususnan rencana,

pelaksanaan serta monitoring rencana tersebut. Hal inilah yang menyebabkan

perencanaan pembangunan memerlukan suatu aturan main sebagai acuan

(4)

Kabupaten Sleman yang berada di bagian di utara provinsi DIY

merupakan lumbung padi bagi provinsi DIY dan sekitarnya. Letaknya yang

berada di Lereng Gunung Merapi memaksa Kabupaten Sleman menjadi

kawasan resapan air. Namun pada kenyataannya yang tumbuh bukan kawasan

lumbung padi melainkan perumahan-perumahan besar dan

bangunan-bangunan tinggi yang tumbuh disana. Sebenarnya, permasalahan mengenai

pola penggunaan lahan telah diatur dalam dokumen Rencana Tata Ruang

Kabupaten Sleman. Rencana tata ruang tidak hanya menyangkut kawasan

resapan, kawasan perumahan atau kawasan pertanian, namun juga meliputi

juga kawasan jalan sebagai sarana transportasi.

Rencana Tata Ruang Kabupaten Sleman adalah suatu dokumen yang

diharapkan menjadi kerangka bertindak dalam melakukan proses

pembangunan. Dokumen ini diharapkan menjadi suatu bahan pertimbangan

bagi Pemerintah untuk menentukan arah pengembangan kawasan, termasuk

kawasan di sepanjang Selokan Mataram. Dahulu di sepanjang pinggir Selokan

Mataram banyak digunakan atau dimanfaatkan masyarakat untuk membangun

rumah semi permanent, warung atau kios-kios. Namun karena lalu lintas di

sepanjang Selokan Mataram samakin padat, maka dilakukanlah pelebaran

jalan di sepanjang Selokan Mataram. Pelebaran jalan di sepanjang Selokan

Mataram tidak hanya dimaksudkan untuk memperlancar arus lalu lintas,

namun juga dimaksudkan untuk memperindah pemandangan agar tidak

(5)

B. Permasalahan

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, maka permasalahan

yang diketengahkan oleh penulis adalah:

1. Bagaimana pelaksanaan penataan ruang untuk pelebaran jalan di

sepanjang Selokan Mataram Kabupaten Sleman?

2. Apakah kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan penataan ruang untuk

pelebaran jalan di sepanjang Selokan Mataram Kabupaten Sleman?

C. Tujuan Penelitian

Sesuai dengan permasalahan yang dirumuskan, maka penelitian ini

bertujuan:

1. Untuk mengetahui pelaksanaan penataan ruang untuk pelebaran jalan di

sepanjang Selokan Mataram Kabupaten Sleman.

2. Untuk mengetahui kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan penataan

ruang untuk pelebaran jalan di sepanjang Selokan Mataram Kabupaten

Sleman.

D. Tinjauan Pustaka

Menurut istilah geografi umum, yang dimaksud dengan ruang/space

adalah seluruh permukaan bumi yang merupakan lapisan biosfera, tempat

hidup tumbuh-tumbuhan, hewan dan manusia. Menurut geografi regional,

ruang dapat merupakan suatu wilayah yang mempunyai batas geografi, yaitu

(6)

sebagian permukaan bumi dan lapisan tanah di bawahnya serta lapisan udara

di atasnya”.1

Pasal 1 angka 1 Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang

Penataan Ruang, yang dimaksud dengan ruang adalah wadah yang meliputi

ruang daratan, ruang lautan, dan ruang udara sebagai satu kesatuan wilayah

tempat manusia atau makhluk lainnya hidup dan melakukan kegiatan serta

memelihara kelangsungan hidupnya.

Ruang berasal dari bahasa latin spatium, dalam bahasa Inggris space.

Pengertian ruang biasanya dikaitkan dengan suatu tempat yang menunjukkan

benda-benda terletak (seolah-olah sebagai wadah). Dengan demikian dapat

dikatakan bahwa ruang dikaitkan dengan tempat atau wadah. Jika orang

mempunyai ruang berarti mempunyai tempat untuk melakukan kegiatan

dalam rangka mencapai tujuan.

Pengertian ruang menurut penjelasan Pasal 1 butir 1 Undang-Undang

Nomor 26 Tahun 2007 tentang Tata Ruang mencakup:

1) Ruang daratan

adalah ruang yang terletak di atas dan dibawah permukaan daratan, termasuk permukaan perairan darat dan sisi darat dari garis laut terendah.

2) Ruang lautan

adalah ruang yang terletak di atas dan di bawah permukaan laut dimulai dari sisi laut garis laut terendah, termasuk dasar laut dan bagian bumi di bawahnya dimana Republik Indonesia mempunyai hak dan yurisdiksi.

3) Ruang udara

adalah ruang yang terletak di atas ruang daratan dan atau ruang lautan sekitar wilayah Negara dan melekat pada bumi, dimana Republik Indonesia mempunyai hak yurisdiksi.

1 Johana Jayadinata, Tata Guna Tana Dalam Perencanaan Pembangunan Perkotaan dan

(7)

Dalam penjelasan selanjutnya dinyatakan bahwa pengertian ruang

udara (air space) tidak sama dengan pengertian ruang angkasa (outer space).

Ruang angkasa beserta isinya seperti bulan dan benda-benda langit lainnya

adalah bagian dari antariksa, yang merupakan ruang diluar ruang udara.

Ruang daratan, ruang lautan, dan ruang udara merupakan satu

kesatuan ruang yang tidak dapat dipisahkan, ruang-ruang tersebut mempunyai

potensi yang dapat dimanfaatkan sesuai dengan tingkat intensitas yang

berbeda untuk kehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya. Potensi itu

antara lain sebagai tempat melakukan kegiatan pemenuhan kebutuhan pangan,

industri, pertambangan, sebagai jalur perhubungan, sebagai obyek wisata,

sebagai sumber energi, atau sebagai tempat penelitian dan percobaan.

Tata ruang berarti susunan ruang yang teratur. Dalam kata teratur

tercakup pengertian kata serasi dan sederhana sehingga mudah dipahami dan

dilaksanakan. Karena itu, pada tata ruang, yang ditata adalah tempat berbagai

kegiatan serta sarana dan prasarananya. Suatu tata ruang yang baik dapat

dihasilkan dari kegiatan menata ruang yang baik disebut penataan ruang.

Tata ruang didefinisikan sebagai suatau proses kegiatan dalam rangka

menata atau menyusun bentuk struktur dan pola pemanfataan ruang secara

efisien dan efektif. Dalam definisi tersebut ada beberapa makna yang

terkandung di dalamnya:

1. Dalam tata ruang terdapat suatu proses yang terkandung di dalamnya.

(8)

3. Adanya kegiatan yang sifatnya lebih efisien dan efektif, sehingga dapat menghindarkan penggunaan ruang yang berlebihan.2

Rencana tata ruang diharapkan mencakup perencanaan struktur dan

pola pemanfaatan ruang, yang meliputi tata guna tanah, tata guna air, tata guna

udara, dan tata guna sumber daya alam. Aspek-aspek dalam penataan ruang

perkotaan meliputi sebagai berikut:

1. Letak geografis dan fisik kota. Beberapa kota memiliki tata kota yang spesifik karena letak geografis yang khas seperti kota Pontianak yang terletak tepat di garis katulistiwa; kota-kota yang berbatasan langsung dengan laut seperti DKI Jakarta, Surabaya, kota-kota yang dilalui oleh sungai besar seperti Palembang, Samarinda, dan seterusnya.

2. Nilai-nilai sejarah berdirinya suatu kota yang ditandai oleh adanya bangunan-bangunan bersejarah yang ada di kota tersebut. Seperti penataan kota Semarang dan Yogyakarta di antaranya, dalam tata ruang perkotaannya memperhatikan bangunan-bangunan bersejarah yang ada.

3. Adat-istiadat dan nilai-nilai yang hidup dalam masyarakat. Seperti yang dimiliki oleh kota Yogyakarta, Solo, kota-kota di Pulau Bali, dan seterusnya.

4. Potensi alam yang dimiliki dan yang dapat dikembangkan. Seperti pada Kota Bandung yang terletak di daerah pegunungan.

5. Nilai-nilai keagamaan yang kuat dan dapat diperhitungkan dalam penataan ruang perkotaan, seperti pada kota Banda Aceh.

6. Potensi sumberdaya manusia yang dimiliki (termasuk di dalamnya lembaga yang mampu membuat perencanaan tata ruang untuk kotanya). Umumnya yang melatarbelakangi penataan kota-kota metropolitan di Pulau Jawa seperti DKI Jakarta, Semarang, Bandung, Surabaya.3

Sebagaimana yang umum terjadi permasalahan dalam penataan ruang

perkotaan adalah terjadinya penghancuran terhadap tatanan sosial yang sudah

ada. Selain itu perkembangan dan penatan ruang kota-kota di Indonesia pada

dewasa ini, menunjukkan kecenderungan homogenitas yang disebabkan oleh

2 Budi Supriyanto, Tata Ruang Dalam Pembangunan Nasional, Balai Pustaka, Jakarta, 1996, hal.

26.

(9)

keseragaman dalam membuat rencana tata ruang tanpa melihat bahwa

masing-masing kota mempunyai ciri khas sendiri. Hal ini terjadi dikarenakan:

1. Adanya kecenderungan untuk mengutamakan efisiensi dalam setiap investasi tanpa memperhitungkan nilai-nilai lain seperti potensi yang ada di daerah tersebut serta keunikan dari tiap-tiap daerah yang dapat dijadikan aset untuk pengembangan kota di masa depan;

2. Kecenderungan homogenitas kota didorong oleh perwujudan idealisme negara kesatuan, sehingga rencana tata ruang kota di Indonesia harus memperlihatkan ciri kesamaan yang dipandang sebagai cermin dari wujud persatuan;

3. Besarnya peran pemerintah pusat dalam menentukan perencanaan tata ruang daerah, menjadikan produk tata ruang yang dulu sangat homogen;

4. Kurangnya pemanfaatan lembaga lokal dalam membuat rencana tata ruang suatu kota juga sangat mempengaruhi terjadinya keseragaman dalam pembuatan rencana tata ruang kota.4

Beragamnya kondisi fisik kota dan budaya masyarakat Indonesia,

seharusnya permasalahan perbedaan atau keaneka-ragaman yang ada di

masing-masing daerah dapat menjadi suatu kekuatan dalam melakukan

rencana tata ruang dan bukan menjadi kelemahan, sehingga pola yang

digunakan dalam penataan ruang perkotaan yang ada saat ini tidak lagi sama

antara satu kota dengan kota lainnya. Di sisi lain memang masih diperlukan

suatu guidelines (garis yang memberikan arah) dalam membuat rencana tata

ruang yang bersifat makro, namun perlu dibedakan apabila sudah menyangkut

pembuatan rencana tata ruang yang bersifat detail seperti rencana tata ruang

perkotaan.

Perkembangan kota-kota di Indonesia, dapat dilihat dari:

1. Peranan dan fungsi kota, yang dahulu dualistik sebagai

(10)

gerbang kemakmuran bagi daerah pedesaan. Kota telah menjadi indikator untuk mengukur kemakmuran suatu negara. Karenanya, paradigma lama bahwa kota merupakan benteng (fungsi kekuasaan) dan fungsi permukiman (fungsi perlindungan), dalam menghadapi era globalisasi sudah harus ditinggalkan.

2. Perkembangan fisik kota, karena alasan praktis dan efisiensi, telah tumbuh mengikuti perkembangan jalur transportasi dan dirancang dengan tipe bangunan yang homogen. Model perencanaan tata ruang kota yang disusun dengan kriteria yang seragam, turut mendorong pertumbuhan kota menjadi homogen. Padahal sesungguhnya, rancang bangun kota pantai (coastal city) tidak harus sama dengan kota gunung (inland city). Pola perkembangan fisik kota yang demikian, untuk masa depan sudah harus ditinggalkan. Karenanya perlu dicari model-model rancang bangun kota yang mengacu pada kondisi fisik wilayah dan bersumber pada akar budaya masyarakat setempat. Ini menjadi paradigma baru di masa mendatang dan dapat disebut sebagai model rancang bangun yang bernuansa lokal.

3. Pergeseran nilai-nilai sosial budaya masyarakat

perkotaan, cenderung mengarah pada budaya individualistis dan materialistis. Hal ini sering tidak dapat dihindari karena adanya pengaruh dari luar yang berakulturasi dengan nilai yang mentradisi dan berkembang menjadi nilai sosial yang baru. Pergeseran nilai-nilai ini perlu dikendalikan untuk mencegah lunturnya semangat gotong royong dan paguyuban yang menjadi akar dari falsafah kehidupan bermasyarakat Bangsa Indonesia. Oleh karena itu, paradigma baru pembangunan masyarakat perkotaan di masa datang perlu dikendalikan melalui perkuatan jati diri dan falsafah hidup masyarakat setempat.5

Adanya Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan

Daerah, maka pelaksanaan penataan ruang perkotaan di Indonesia diharapkan

tidak lagi sama, dan lebih bervariasi sesuai dengan potensi (sumber daya alam

dan sumber daya manusia) serta keunikan yang ada di daerah tersebut.

Dengan kata lain, pengembangan dan penataan ruang perkotaan yang akan

datang hendaknya mempunyai ciri khas masing-masing daerah.

Pelaksanaan tata ruang kota akan menjadi dasar yang penting untuk

membangun masa depan perkotaan yang lebih terarah dan konkrit. Beberapa

(11)

aspek yang akan mendasari pelaksanaan pembangunan perkotaan di masa

depan adalah:

1. Penghargaan terhadap nilai-nilai sejarah berdirinya kota yang kemudian sekaligus dilestarikan.

2. Penggalian potensi kebhinekaan yang dimiliki oleh Bangsa Indonesia di mana masing-masing kota memiliki sumber daya internal yang perlu dikembangkan.

3. Mendorong perwujudan otonomi daerah yang lebih nyata.

4. Mengantisipasi pengaruh globalisasi, agar tidak terbawa arus globalisasi.

5. Memberdayakan sumber daya lokal maupun lembaga lokal dalam membuat rencana tata ruang kota untuk daerahnya.6

Penataan ruang perkotaan yang bercirikan kedaerahan akan berhasil

apabila:

1. Menghargai ciri khas dari daerah lainnya, sehingga daerah-daerah di satu kota akan selalu saling bergantungan satu dengan lainnya.

2. Melibatkan peran aktif ketiga aktor pembangunan dalam

melakukan kemitraan. Ini merupakan kunci keberhasilan pelaksanaan penataan ruang bercirikan lokal.

3. Menetapkan visi dan misi kota dalam pembangunan yang akan

sangat besar berpengaruh bagi tercapainya penataan ruang perkotaan yang bercirikan lokal di Indonesia.7

Tata ruang kota adalah wujud struktural dan pola pemanfaatan ruang

kota yang mencangkup kawasan lindung dan kawasan budidaya, baik

direncanakan maupun tidak yang menunjukkan jenjang dan keterkaitan

pemanfaatan ruang kota. Penataan ruang kota ini merupakan proses yang

meliputi perencanaan pemanfaatan dan pengendalian tata ruang kota.

Tata ruang dan lingkungan hidup mengandung arti yang sangat luas

tetapi sekaligus juga seringkali punya konotasi sempit terbatas pada

perencanaan dan perancangan fisik semata-mata. Padahal sudah semenjak

(12)

beberapa tahun yang lampau perencanaan kota dan daerah yang menekankan

arti fisik, serba deterministik dan menomorduakan manusia dengan segenap

keunikan perilakunya, telah banyak mendapat kecaman.

Kevin Lynch dalam tulisannya menyatakan bahwa penampilan dan wajah kota bagaikan mimpi buruk, tunggal rupa, serba sama, tak berwajah, lepas dari alam, dan sering tidak terkendali, tidak manusiawi. Air dan udaranya kotor, jalan-jalan sangat berbahaya sangat dipadati kendaraan, papan reklame mengganggu pandangan, pengerasan suara memekakan telinga.8

Jurang kaya miskin makin menganga mencolok mata, komunitas yang

guyub pecah menjelma masyarakat yang patembayan yang dilandasi

penalaran kalkulatif dan kepekaan moral yang disepakati bersama makin

meluntur. “Para perencana kota dituding ikut andil dalam penciptaan

kesemrawutan dan kekacauan”.9

Penataan ruang kota sungguh rumit dan pelik karena mau tidak mau

menyangkut benturan antara pendekatan-pendekatan teknik, komersial dan

kemanusiaan. Selain itu keunikan lain berkaitan dengan proses perkembangan

kota yang statis, melainkan selalu dinamis. Penduduk selalu berubah dan

bergerak, seringkali susah ditebak. Oleh karena itu pola tata ruang kota yang

terlalu ketat dan kaku tidak bisa tanggap terhadap perubahan.

Untuk mengatasi masalah semacam itu disarankan suatu bentuk

perencanaan yang terbuka dengan menentukan bagian-bagian tertentu dari

sistem kota memberikan peluang bagi bagian-bagian lain (termasuk yang

tidak dapat diperkirakan sebelumnya) untuk bergerak secara spontan.

(13)

Perencanaan kota terbuka yang luwes ini memungkinkan penjabaran

nilai, kebutuhan hidup dan gaya hidup yang berbeda dalam suatu lingkungan

yang dinamik. Kelompok-kelompok penghuni kota yang berdatangan dengan

mudah menyesuaikan diri dan membentuk kembali secara kreatif organisasi

ruang, waktu, makna, dan komunikasinya.

Dalam keterlibatannya diperencanaan kota dan lingkungan,

masyarakat seringkali dilihat sekedar sebagai konsumen yang pasif. Memang

mereka diberi tempat untuk aktifitas kehidupan, kerja, rekreasi, belanja dan

bermukim, akan tetapi kurang diberi peluang untuk ikut dalam proses

penentuan kelayakan dan perencanaannya.

Berdasarkan hal-hal tersebut, menurut Eko Budihardjo ada beberapa

kelemahan dalam proses perencanaan, implementasi dan pengelolaan

pembangunan dan lingkungan hidup di Indonesia antara lain:

1. Perencanaan terlalu berorientasi pada pencapaian

tujuan ideal berjangka panjang, yang sering meleset akibat banyaknya ketidak pastian. Di sisi lain terdapat jenis-jenis perencanaan yang disusun dengan landasan pemikiran pemecahan masalah ad hoc yang berjangka pendek, kurang berwawasan luas.

2. Produk akhir berupa rencana tata ruang yang baik tidak

selalu menghasilkan penataan ruang yang baik pula, tetapi didukung oleh para pengelolaan perkotaan dan daerah yang handal, dilengkapi mekanisme pengawasan dan pengendalian pembangunan yang jelas.

3. Terlihat kecenderungan yang kuat bahwa perencanaan

tata ruang terlalu berat ditekankan pada aspek penataan ruang dalam arti fisik dan visual.

4. Keterpaduan dalam perencanaan, pelaksanaan dan

pengawasan pembangunan selama ini terkesan sekadar sebagai slogan atau hiasan bibir belaka.

5. Peran serta masyarakat daklam proses perencanaan tata

ruang dan lingkungan hidup masih sangat terbatas.

(14)

antara perencanaan kota yang berdemensi dua dengan perancangan arsitektur yang berdemensi tiga.

7. Kekurangpekaan para penentu kebijakan, dan juga beberapa kalangan profesional, terhadap warisan peninggalan kuno yang pada hakikatnya merupakan bagian tidak terpisahkan dalam sejarah perkotaan.

8. Penekanan perencanaan kota dan daerah cenderung lebih berat pada aspek lingkungan binaan dan kurang memperhatikan pendayagunaan atau optimalisasi lingkungan alamiah.

9. Tipisnya wibawa dan kekuatan hukum suatu produk rencana tata ruang.10

Pada dasarnya, penataan ruang perlu dilakukan untuk mengelola

konflik dalam alokasi dan/atau distribusi pemanfaatan berbagai sumber daya

secara efisien, adil dan berkelanjutan. Konflik yang dimaksud baik konflik

terpendam maupun yang terbuka karena salah satu pihak telah bertindak untuk

melaksanakan tujuannya yang berbenturan dengan tujuan dan kepentingan

pihak lainnya. Untuk menghindari ataupun mengatasi konflik demikian

diperlukan peran serta semua pihak.

Adapun tujuan peran serta masyarakat dalam penataan ruang adalah:

1. Meningkatkan mutu, proses dan hasil penataan ruang.

2. Meningkatkan kesadaran, pengetahuan dan tanggung jawab masyarakat tentang pemanfaatan dan pengaturan pemanfaatan sumber daya alam.

3. Menciptakan mekanisme keterbukaan tentang kebijaksanaan penataan ruang.11

Peraturan Pemerintah Nomor 69 Tahun 1996 menetapkan bahwa

masyarakat berhak dan wajib berperan serta dalam keseluruhan proses

penataan ruang, yaitu proses perencanaan tata ruang, pemanfaatan ruang dan

pengendalian pemanfaatan ruang. Permendagri Nomor 9 Tahun 1998

menetapkan secara cukup rinci bagaimana dan pada saat mana masyarakat

10 Ibid, hal. 40.

(15)

dapat ikut berperan serta. Secara umum bentuk peran serta masyarakat belum

meliputi keikutsertaan dalam pengambilan keputusan, tetapi lebih berbentuk

pemberian bantuan terhadap proses yang dilaksanakan pemerintah.

E. Metode Penelitian

1. Sifat Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian lapangan, dimana acuan/tolak ukur

dalam permasalahan dilihat dari sudut pandang aturan hukum yang

berkaitan dengan pelaksanaan pengadaan tanah untuk kepentingan umum.

2. Bahan Penelitian

Bahan penelitian diperoleh melalui studi kepustakaan dan penelitian

lapangan:

a. Studi kepustakaan, yaitu: penelitian yang dilakukan dengan cara

melakukan studi pustaka. Berdasarkan studi kepustakaan akan

diperoleh data sekunder dengan berupa:

1) Bahan hukum primer, yaitu: beberapa peraturan

perundang-undangan yang berkaitan dengan permasalahan.

2) Bahan hukum sekunder, yaitu: beberapa teori dan literatur

yang berkaitan dengan permasalahan.

3) Bahan hukum tersier, yaitu: beberapa buku seperti kamus

dan ensiklopedi.

b. Penelitan lapangan, yaitu berupa penelitian dengan meninjau

(16)

1) Lokasi penelitian, yaitu di Kabupaten Sleman.

2) Nara sumber, yaitu: Kepala Dinas Tata Ruang Kabupaten

Sleman.

3) Responden adalah 10 (sepuluh) orang warga masyarakat

yang di sepanjang Selokan Mataram. Metode yang digunakan

dalam penelitian ini adalah menggunakan “Purposive Sampling”,

yaitu pengambilan sampel telah ditentukan terlebih dahulu sesuai

dengan tujuan penelitian.12

2. Metode Pengumpulan Data

a. Data kepustakaan, yaitu data yang diambil diperoleh dari

buku-buku, perundang-undangan, karya ilmiah maupun tulisan-tulisan

ilmiah yang berkaitan dengan permasalahan.

b. Data Lapangan terdiri dari:

Wawancara, yaitu mengadakan tanya jawab secara langsung dengan

nara sumber tentang hal-hal yang berkaitan dengan permasalahan.

3. Analisis Data

Data yang diperoleh dari penelitian, baik dari penelitian kepustakaan

maupun penelitian lapangan, kemudian dianalisis dengan menggunakan

metode deskriptif kualitatif, yaitu data yang diperoleh dilapangan maupun

kepustakaan, disusun secara sistematis setelah diseleksi berdasarkan

permasalahan dan dilihat kesesuaiannya dengan ketentuan yang berlaku,

selanjutnya disimpulkan sehingga diperoleh jawaban atas permasalahan.

Referensi

Dokumen terkait

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rahmat dan anugerah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul

Berdasarkan hasil penelitian dan analisis data yang telah dilakukan, maka dapat disimpulkan sebagai berikut: Perangkat pembelajaran kooperatif tipe TPS pada materi

Berdasarkan rumusan masalah, tujuan dari dilakukanya penelitain ini adalah mengimplementasikan metode Shallow Parsing pada kalimat tanya dan teks dari teknologi

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sistem penjualan kamar hotel yang dapat meningkatkan pengendalian internal dan untuk menganalisis dan merancang Standard Operating

Pengetahuan adalah merupakan hasil mengingat suatu hal, termasuk mengingat kembali kejadian yang pernah dialami baik secara sengaja maupun tidak sengaja dan ini terjadi setelah

Program kegiatan yang tercantum pada dokumen ini adalah mendasar pada Perubahan Rencana Kerja (Renja) Tahun 2017, dimana indikator sasaran Bappeda (IKU Bappeda) berbeda

Kebijakan akuntansi yang dipergunakan dalam penyusunan Laporan Keuangan Pemerintah Kota Surabaya Tahun 2011 berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2010 tentang

Setelah dilakukan pengujian hipotesis dapat disimpulkan bahwa penggunaan model quantum teaching memberikan pengaruh yang lebih baik terhadap peningkatan kemampuan