• Tidak ada hasil yang ditemukan

MEMBENTUK INTEGRITAS MAHASISWA BARU MELA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "MEMBENTUK INTEGRITAS MAHASISWA BARU MELA"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

MEMBENTUK I

MELALUI PEN

KEGIATAN ORIE

FAKULT

UNIV

K INTEGRITAS MAHASISW

ENDIDIKAN KARAKTER D

RIENTASI STUDI DAN PENG

STUDI

Disusun Oleh:

Anggit Budi Pawestri

Akuntansi FEB UGM

15/379308/EK/20368

Paul D. Kimmel (12)

TAS EKONOMIKA DAN BISNI

IVERSITAS GADJAH MADA

TAHUN AJARAN 2015

WA BARU

DALAM

NGENALAN

(2)

ii

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena

atas berkat-Nya penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul,

‘MEMBENTUK INTEGRITAS MAHASISWA BARU MELALUI KEGIATAN

ORIENTASI STUDI DAN PENGENALAN STUDI’

Walaupun terdapat hambatan selama penulisan makalah, seperti kesulitan

mencari info, tapi penulis tetap berusaha untuk menyelesaikan makalah ini

dengan baik.

Makalah ini tidak mungkin selesai tanpa bantuan dan dukungan dari

pihak lain. Untuk itu dalam kesempatan ini, penulis ingin menyampaikan rasa

terimakasih kepada :

1. Orang tua, yang telah memberikan dukungan moril dan materi.

2. Pemandu kelompok 12 Paul D. Kimmel

3. Teman-teman kelompok 12 Paul D. Kimmel

4. Teman–teman program studi Akuntansi FEB UGM 2015.

Penulis mengharapkan kritik dan saran dari para pembaca untuk

memperbaiki kesalahan dalam paper ini. Semoga paper ini dapat bermanfaat bagi

kita semua.

Yogyakarta, 17 Agustus 2015

Anggit Budi Pawestri

(3)

iii DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ………. ii

DAFTAR ISI ……… iii

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ……….. 1

1.2 Rumusan Masalah ………. 1

1.3 Tujuan Penulisan Paper ……….. 2

1.4 Manfaat Penulisan Paper ………. 2

BAB II PEMBAHASAN 2.1 Solusi untuk Menangani Masalah Integritas Melalui Kegiatan Ospek...………...…...………... 2.1.1 Masalah Integritas ....……….. 2.1.2 Ospek ...……….. 2.1.3 Pendidikan Karakter dalam Ospek... 2.2 Pengaruh Pendidikan Karakter dalam Menciptakan Mahasiswa yang Berintegritas... 2.3 Usaha Mewujudkan Mimpi Melalui Cara yang Berintegritas... 3 3 4 5 9 10 BAB III PENUTUP 3.1 Kesimpulan ……… 11

(4)

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Dalam menjalani kehidupan sehari-hari sifat integritas sangat diperlukan.

Khususnya bagi mahasiswa yang kelak menjadi generasi penerus bangsa sekaligus agen

perubahan dalam masyarakat. Untuk mengoptimalkan peran tersebut, mahasiswa harus

bisa mengimplementasikan integritas dalam kegiatan sehari-hari.

Akan tetapi, kenyataannya tidak demikian. Berbagai masalah kecil terjadi di dalam

kebiasaan hidup mahasiswa terkait sifat integritas seperti plagiarisme tugas, menitip

absen dan terlambat. Seketika itu pula, integritas pun menjadi masalah yang pelik ketika

berhubungan dengan mahasiswa.

Tindakan-tindakan semacam ini tidak boleh dibiarkan karena perilaku tersebut

dalam jangka panjang akan memberikan dampak negatif bagi moral para mahasiswa

yang kelak menjadi generasi penerus bangsa ini. Masalah ini harus segera diatasi demi

menciptakan mahasiswa yang berintegritas.

Salah satu kegiatan yang bisa dimanfaatkan sebagai media pembentukan karakter

integritas pada mahasiswa adalah kegiatan Ospek atau Orientasi Studi dan Pengenalan

Kampus. Ospek diberlakukan oleh lembaga pendidikan tinggi bagi para mahasiswa

barunya sebagai media sosialisasi lingkungan kampus berikut segala peraturan dan

hal-hal lainnya. Oleh karena itu, penulis mempunyai gagasan untuk memberikan pendidikan

karakter integritas melalui kegiatan Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus atau

Ospek.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang di atas dapat dirumuskan beberapa masalah

sebagai berikut.

1.2.1 Bagaimana pendidikan karakter menangani masalah integritas di kalangan

mahasiswa melalui kegiatan Ospek?

1.2.2 Bagaimana pengaruh pendidikan karakter dalam menciptakan mahasiswa

(5)

2 1.2.3 Bagaimana usaha dalam mewujudkan mimpi melalui cara yang berintegritas?

1.3 Tujuan Penulisan Paper

Adapun tujuan dalam penulisan paper ini adalah sebagai berikut.

1.3.1 Menjelaskan pendidikan karakter menangani masalah integritas di kalangan

mahasiswa melalui kegiatan Ospek.

1.3.2 Mengetahui pengaruh pendidikan karakter dalam menciptakan mahasiswa

yang berintegritas.

1.3.3 Menjelaskan usaha dalam mewujudkan mimpi melalui cara yang

berintegritas.

1.4 Manfaat Penulisan Paper

Manfaat dari penulisan paper ini adalah untuk mengetahui penanggulangan masalah

(6)

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Pendidikan Karakter untuk Menangani Masalah Integritas Melalui Kegiatan Ospek

2.1.1 Masalah Integritas

Integritas, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1994), adalah mutu, sifat,

atau keadaan yang menunjukkan kesatuan yang utuh sehingga memiliki potensi

dan kemampuan yang memancarkan kewibawaan; kejujuran. Berdasarkan ruang

lingkup, integritas terbagi menjadi dua, yakni integritas akademik dan integritas

nonakademik. Oleh karena topik makalah ditujukan kepada mahasiswa maka,

pembahasan integritas akan terfokus pada integritas dalam lingkup akademik.

Tracey Bretag, seperti yang dilansir oleh ANTARA News (2014),

mengungkapkan bahwa integritas akademik adalah tindakan yang berdasarkan

pada nilai kejujuran, kepercayaan, keadilan, kehormatan, keberanian, dan

tanggung jawab dalam proses pembelajaran, pengajaran, dan penelitian.

Supriyadi (Tidak disebutkan), dalam laman Magister Manajeman Rumah Sakit

Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada menyebutkan jenis-jenis masalah

terkait dengan integritas akademik, yakni:

o Absen, merupakan ketidakhadiran pada kegiatan pembelajaran dengan

ataupun tanpa alasan yang dapat dibuktikan.

o Plagiarisme, yakni menggunakan pemikiran, proses, hasil ataupun tulisan

orang lain, baik yang dipublikasikan ataupun tidak, tanpa memberikan

pengakuan ataupun penghargaan dengan menyebutkan sumber referensinya

secara lengkap.

o Curang, yaitu setiap usaha yang dilakukan oleh mahasiswa atau orang lain

secara tidak jujur yang bertujuan untuk mengambil keuntungan yang tidak

adil dalam proses pembelajaran ataupun penilaian.

o Kolusi, adalah bekerja sama dengan mahasiswa lain untuk mempersiapkan

(7)

4

o Fabrikasi, merupakan tindakan mengarang data atau hasil penelitian ataupun

dalam mencatat atau melaporkan hasil penelitian tersebut.

o Falsifikas, yakni memanipulasi material, peralatan, atau proses penelitian,

atau mengubah atau menghilangkan data atau hasil penelitian sehingga hasil

penelitian tidak tercatat secara akurat.

o Ghosting, adalah meminta jasa orang lain, baik dengan ataupun tanpa

insentif, untuk menuliskan atau mengerjakan penugasan untuk mahasiswa

tertentu.

o Deceit, merupakan pernyataan, tindakan, alat atau piranti yang

dipergunakan secara tidak jujur untuk tujuan berbohong atau memberikan

kesan negatif.

o Gratifikasi, adalah tindakan untuk menyenangkan orang lain yang dapat

memberikan keuntungan bagi mahasiswa tersebut.

2.1.2 Ospek

Ospek atau Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus bertujuan sebagai

media sosialisasi lingkungan kampus berikut segala peraturan dan hal-hal lainnya

yang ditujukan bagi para mahasiswa baru. Tujuan lain Ospek, seperti yang

dilansir Tribun Jabar (2015), yakni sebagai ajang berkenalan lebih jauh pada

mahasiswa yang lain. Tak semua perguruan tinggi menyebut masa pengenalan ini

Ospek, tetapi ada juga yang lainnya namun memiliki tujuan yang serupa.

Algar (2012) mengungkapkan bahwa Ospek sudah dikenal semenjak zaman

kolonial Belanda, dimana sistem feodalisme masih kental. Banyaknya kekerasan

yang terjadi oleh sistem feodalisme, merupakan terjadinya akar dari sebuah

kekerasan dalam bentuk sistem patronase. Dalam konteks kekuasaan yang

memiliki kuasa adalah atasan dan biasanya bawahan menurut perintah bawahan.

Posisi antara atasan dan bawahan menyebabkan terjadinya subordinasi, dalam

konteks hubungan antar mahasiswa berakibat terjadinya hubungan senioritas.

Akan tetapi sekarang bukan lagi zaman bersistem feodalisme, sehingga

sudah tidak seharusnya lagi bila Ospek digunakan secara sewenang-wenang demi

hubungan senioritas belaka.

Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi Mohamad Nasir, seperti

(8)

mengenalkan mahasiswa baru tentang kampus dan kebutuhan kampus, sekaligus

meminta agar pada Ospek ada tambahan materi yang diajarkan kepada

mahasiswa, yaitu memperkenalkan wawasan kebangsaan. Dengan wawasan

kebangsaan yang ditanamkan semenjak dini pada mahasiswa, maka diharapkan

mahasiswa mampu memiliki integritas demi membangun bangsa Indonesia

menjadi semakin baik lagi.

2.1.3 Pendidikan Karakter dalam Ospek

Ospek sebagai kegiatan resmi pertama bagi mahasiswa baru diharapkan

mampu mengenalkan mahasiswa baru selain terhadap lingkungan perkuliahan

tetapi juga peran baru sebagai kaum akademisi dan agen perubahan dalam

masyarakat. Akan tetapi, tanpa adanya integritas, peran mahasiswa baru sebagai

kaum akademisi dan agen perubahan dalam masyarakat tidak akan dapat berjalan

secara optimal.

Cara yang dapat ditempuh dalam usaha menangani masalah integritas, salah

satunya adalah dengan menerapkan pendidikan karakter integritas dalam kegiatan

Ospek.

Dua belas Pilar Keutamaan Pendidikan Karakter menurut Doni Koesoema A

(Tidak disebutkan) adalah sebagai berikut:

a) Penghargaan terhadap tubuh

Penghargaan terhadap tubuh merupakan keutamaan fundamental yang

perlu dikembangkan dalam diri setiap orang. Pendidikan karakter mesti

memprioritaskan tentang bagaimana individu dapat menjaga tubuhnya

satu sama lain, tidak merusaknya, melainkan membuat keberadaan tubuh

tumbuh sehat sesuai dengan perkembangan dan pertumbuhan kodratnya.

Penghargaan terhadap tubuh merupakan ekspresi diri individu untuk

menjadi perawat dan pelindung satu sama lain.

b) Transendental

Pengembangan keutamaan transendental, baik itu yang sifatnya

religius, keagamaan, maupun yang sublim, seperti kepekaan seni,

apresiasi karya-karya manusia yang membangkitkan refleksi serta

(9)

6 bagi pengembangan pembentukan karakter. Setiap individu dianugerahi

kepekaan akan sesuatu yang lembut, halus, yang bekerja secara rohani

mendampingi manusia, kepekaan akan sesuatu yang adikodrati.

Kepekaan akan yang Kudus, yang transenden, yang baik, yang indah,

baik itu dalam diri manusia maupun di alam, merupakan salah satu

sarana untuk membentuk individu menjadi pribadi berkeutamaan.

c) Keunggulan akademik

Keunggulan akademik adalah tujuan dasar sebuah lembaga

pendidikan. Keunggulan akademik mencakup di dalamnya, cinta akan

ilmu, kemampuan berpikir kritis, teguh pada pendirian, serta mau

mengubah pendirian itu setelah memiliki pertimbangan dan argumentasi

yang matang, memiliki keterbukaan akan pemikiran orang lain, berani

terus menerus melakukan evaluasi dan kritik diri, terampil

mengomunikasikan gagasan, pemikiran, melalui bahasa yang berlaku

dalam ruang lingkup dunia akademik, mengembangkan rasa

kepenasaranan intelektual yang menjadi kunci serta pintu pembuka bagi

hadirnya ilmu pengetahuan. Dari kecintaan akan ilmu inilah akan tumbuh

inovasi, kreasi dan pembaharuan dalam bidang keilmuan.

d) Penguasaan diri

Penguasaan diri merupakan kemampuan individu untuk menguasai

emosi dan perasaannya, serta mau menundukkan seluruh dorongan emosi

itu pada tujuan yang benar selaras dengan panduan akal budi. Penguasaan

diri termasuk di dalamnya kesediaan mengolah emosi dan perasaan, mau

menempatkan kecondongan rasa perasaan sesuai dengan konteks dan

tujuan yang tepat sebagaimana akal budi membimbingnya. Penguasaan

diri termasuk di dalamnya kemampuan individu dalam menempatkan

diri, bertindak dan berkata-kata secara bijak dalam ruang dan waktu yang

tertentu.

e) Keberanian

Keberanian merupakan keutamaan yang memungkinkan individu

mampu melakukan sesuatu dan merelisasikan apa yang dicita-citakannya.

(10)

nilai-nilai yang menjadi prinsip hidupnya, tahan banting, gigih, kerja keras,

karena individu tersebut memiliki cita-cita luhur yang ingin dicapai

dalam hidupnya. Keberanian merupakan dorongan yang memungkinkan

individu mewujudnyatakan dan merealisasikan impiannya.

f) Cinta kebenaran

Cinta akan kebenaran merupakan dasar pembentukan karakter yang

baik, bukan sekedar sebagai seorang pembelajar, melainkan juga sebagai

manusia. Manusia merindukan kebenaran dan dengan akal budinya

manusia berusaha mencari, menemukan dan melaksanakan apa yang

diyakini sebagai kebenaran. Prinsip berpegang teguh pada kebenaran

mesti diterapkan bagi praksis individu maupun dalam kehidupan

bersama. Cinta akan kebenaran yang sejati memungkinkan seseorang itu

berani mengorbankan dirinya sendiri demi kebenaran yang diyakininya.

Sebab, keteguhan nilai-nilai akan kebenaran inilah yang menentukan

identitas manusia sebagai pribadi berkarakter.

g) Terampil

Memiliki berbagai macam kompetensi dan keterampilan yang

dibutuhkan, bagi perkembangan individu maupun dalam kerangka

pengembangan profesional menjadi syarat utama pengembangan

pendidikan karakter yang utuh. Memiliki kemampuan dasar

berkomunikasi, baik secara lisan maupun tulisan, kompeten dalam

bidang yang digeluti merupakan dasar bagi keberhasilan hidup di dalam

masyarakat. Melalui kompetensinya ini seorang individu mampu

mengubah dunia.

h) Demokratis

Masyarakat global hidup dalam kebersamaan dengan orang lain. Ada

kebutuhan untuk saling membutuhkan, bahu membahu satu sama lain.

Masyarakat tidak dapat hidup secara tertutup sebab keterhubungan satu

sama lain itu merupakan kondisi faktual manusia. Karena itu, setiap

individu mesti belajar bagaimana hidup bersama, mengatur tatanan

kehidupan secara bersama, sehingga inspirasi dan aspirasi individu dapat

(11)

8 dalam kebersamaan untuk mengatur kehidupannya sehingga individu

dapat bertumbuh sehat dalam kebersamaan. Demokrasi termasuk di

dalamnya pengembangan dan penumbuhan semangat kebangsaan.

i) Menghargai perbedaan

Perbedaan adalah kodrat manusia. Menghargai perbedaan merupakan

sikap fundamental yang mesti ditumbuhkan dalam diri individu. Terlebih

dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia, menghargai

perbedaan mesti ditumbuhkan dalam diri tiap individu, karena negara

kita ini berdiri karena para pendiri bangsa ini menghargai perbedaan, dan

dalam perbedaan itu mereka ingin mempersatukan kekuatan dan tenaga

dalam membangun bangsa.

j) Tanggung jawab

Tanggungjawab merupakan unsur penting bagi pengembangan

pendidikan karakter karena terkait dengan ekspresi kebebasan manusia

terhadap dirinya sendiri dan orang lain. Tanggung jawab ini memiliki

tiga dimensi, yaitu tanggungjawab kepada (relasi antara individu dengan

orang lain), tanggungjawab bagi (hubungan individu dengan dirinya

sendiri), serta tanggungjawab terhadap (hubungan individu terkait

dengan tugas dan tanggungjawabnya di dalam masyarakat).

k) Keadilan

Bersikap adil, serta mau memperjuangkan keadilan adalah sikap dasar

pribadi yang memiliki karakter. Keadilan penting untuk diperjuangkan

karena manusia memiliki kecenderungan untuk antisosial. Untuk itulah

diperlukan komitmen bersama agar masing-masing individu dihargai.

Dalam konteks hidup bersama, keadilan menjadi jiwa bagi sebuah

tatanan masyarakat yang sehat, manusiawi dan bermartabat. Tanpa

keadilan, banyak hak-hak orang lain dilanggar.

l) Integritas moral

Integritas moral merupakan sasaran utama pembentukan individu

dalam pendidikan karakter. Integritas moral inilah yang menjadikan

(12)

bekerjasama memperjuangkan dan merealisasikan apa yang baik, yang

luhur, adil dan bermartabat bagi manusia, apapun perbedaan keyakinan

yang mereka miliki. Integritas moral memberikan penghargaan utama

terhadap kehidupan, harkat dan martabat manusia sebagai makhluk

ciptaan yang bernilai dan berharga apapun keadaan dan kondisinya.

Kehadiran individu yang memiliki integritas moral menjadi dasar bagi

konstruksi sebuah tatanan masyarakat beradab. Integritas moral muncul

jika individu mampu mengambil keputusan melalui proses pertimbangan

rasional yang benar, dan melaksanakannya dalam tindakan secara bijak,

sesuai dengan konteks ruang dan waktu tertentu. Integritas moral

termasuk di dalamnya kemampuan individu untuk membuat kebijakan

praktis yang bermakna bagi hidupnya sendiri dan orang lain.

Ospek yang disinergikan dengan pendidikan karakter untuk membentuk

integritas mahasiswa dapat diusahakan melalui berbagai cara, tidak hanya melulu

pada pemberian materi integritas dan pendidikan karakter pada mahasiswa baru,

akan tetapi juga melalui penugasan-penugasan dan aktivitas kelompok.

Penanaman pendidikan karakter, utamanya pendidikan karakter integritas, sejak

dini akan tertanam dan muncul rasa terbiasa pada diri mahasiswa baru sehingga

diharapkan karakter-karakter unggul tersebut akan terjiwai secara permanen

dalam diri mahasiswa.

2.2 Pengaruh Pendidikan Karakter dalam Menciptakan Mahasiswa yang Berintegritas

Haris et al (2014) menyebutkan bahwa para pakar pendidikan berpendapat bahwa

terlalu menekankan pendidikan akademik (kognitif atau otak kiri) dan mengecilkan

pentingnya pendidikan karakter (kecerdasan emosi atau otak kanan), adalah penyebab

utama gagalnya membangun manusia yang berkualitas. Hal ini dibuktikan dari beberapa

studi yang menunjukkan bahwa keberhasilan manusia dalam dunia kerja 80 persen

ditentukan oleh kualitas karakternya, dan hanya 20 persen ditentukan oleh kemampuan

akademiknya. Sehingga tidak berlebihan untuk menempatkan pendidikan karakter

sebagai fondasi pembangunan sumber daya manusia seutuhnya, dimana karakter adalah

(13)

10 Integritas, yang erat dihubungkan dengan kejujuran merupakan nilai-nilai

kesusilaan yang berasal dari nurani manusia. Pendidikan karakter yang berhasil akan

menumbuhkan akhlak yang mulia pada diri individu sehingga nilai-nilai kebenaran

seperti halnya integritas akan terjiwai. Mahasiswa yang berintegritas akan mewujudkan

dirinya sebagai generasi penerus bangsa dan agen perubahan bagi bangsa Indonesia

yang lebih baik di masa depan.

2.3 Usaha Mewujudkan Mimpi Melalui Cara yang Berintegritas

Usaha mewujudkan mimpi melalui cara yang berintegritas dapat ditempuh dengan

mengaplikasikan pendidikan karakter yang telah didapatkan. Pendidikan karakter

membentuk akhlak mulia pada diri seseorang. Pendidikan karakter penting karena

kecerdasan intelektual tidak akan ada apa-apanya bila tidak disertai dengan akhlak yang

mulia. Akhlak yang mulia akan mewujudkan mahasiswa yang berintegritas sebagai

generasi penerus bangsa dan agen perubahan bagi bangsa Indonesia yang lebih baik di

masa depan.

Mempertinggi iman dan taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Nilai-nilai

ketuhanan dalam diri manusia akan menjadikan manusia selalu berhati-hati dalam

melakukan tindakan, baik tindakan baik maupun juga tindakan buruk. Setiap agama

mengajarkan integritas pada umatnya. Pengamalan integritas merupakan penghargaan

terhadap keagungan Tuhan. Mempertinggi iman dan taqwa akan membantu manusia

untuk menjaga nilai kebenaran dalam dirinya, menjaga integritas diri, dan

mengoptimalkan usaha secara ikhlas demi mewujudkan mimpinya.

Memperluas wawasan kebangsaan. Sebagai mahasiswa yang menjadi generasi

penerus bangsa dan agen perubahan bagi bangsa Indonesia yang lebih baik di masa

depan harus memiliki integritas yang dijiwai pula oleh wawasan kebangsaan dan

(14)

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Berdasarkan pembahasan makalah, maka dapat ditarik kesimpulan:

1. Pendidikan karakter untuk menangani masalah integritas melalui kegiatan Ospek

dapat diwujudkan dengan pemberian materi integritas dan pendidikan karakter

pada mahasiswa baru, akan tetapi juga melalui penugasan-penugasan dan

aktivitas kelompok.

2. Pengaruh pendidikan karakter dalam menciptakan mahasiswa yang berintegritas

adalah menumbuhkan akhlak yang mulia pada diri individu sehingga nilai-nilai

kebenaran seperti halnya integritas akan terjiwai.

3. Usaha mewujudkan mimpi melalui cara yang berintegritas dapat ditempuh

dengan mengaplikasikan pendidikan karakter, mempertinggi iman dan taqwa

(15)

12 DAFTAR PUSTAKA

ALGAR, Rumi. (2012) Perkembangan dan Sejarah Ospek Pada Dewasa Ini. [Online]

Tersedia dari:

http://www.kompasiana.com/roundmind/perkembangan-dan-sejarah-ospek-pada-dewasa-ini_5519ba9e813311997a9de0fc Diakses pada: 13 Agustus 2015

ANONIM. (Tidak Disebutkan). 12 Pilar Pendidikan Karakter Utuh dan Menyeluruh. [Online]

Tersedia dari: http://www.pendidikankarakter.org/12%20Pilar.html Diakses pada: 15 Agustus

2015

HADI, Bambang Sutopo. (2014) Banyak akademisi salahartikan integritas akademik. [Online]

15 Juli 2014. Tersedia dari:

http://www.antaranews.com/berita/444242/banyak-akademisi-salahartikan-integritas-akademik Diakses pada: 14 Agustus 2015

HARIS, Moh. . (2014) Dampak Pendidikan Karakter. [Online] Tersedia dari:

https://www.academia.edu/6968226/MAKALAH_-_Dampak_Pendidikan_Karakter Diakses

pada: 16 Agustus 2015

KURNIAWAN, Gani. (2015) Ternyata Ini Loh Tujuan Ospek! Tribun Jabar. [Online] 21

April 2015 Tersedia dari:

http://jabar.tribunnews.com/2015/04/21/ternyata-ini-loh-tujuan-ospek Diakses pada: 14 Agustus 2015

SUPRIYADI, Didik. (Tidak disebutkan) Integritas Akademik . [Online] Tersedia dari:

http://mmr.ugm.ac.id/index.php/integritas-akademik Diakses pada: 15 Agustus 2015

TARIGAN, Mitra. (2015) Menteri Nasir: Tak Boleh Ada Perpeloncoan dalam Ospek .

Tempo.co.id [Online] 26 Juli 2015. Tersedia dari:

http://nasional.tempo.co/read/news/2015/07/26/079686716/menteri-nasir-tak-boleh-ada-perpeloncoan-dalam-ospek Diakses pada: 15 Agustus 2015

Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. 1994. Kamus Besar

Referensi

Dokumen terkait

36 Deklinabidea bide oin borda bide a oin a bord a bide ak oin ak bord ak Ane Ibon Larraul bide k oin e k borda k bide ak oin ak bord ak bide ek oin ek bord ek Ane k Ibon e k Larraul

Niat konsumen untuk melakukan pembelian secara online dipengaruh oleh beberapa faktor seperti diantaranya dilihat dari kualitas sistem dari website maupun media

Berdasar hasil analisis anava satu jalur (one way anova) diperoleh nilai F = 69,146 dengan taraf signifikansi 0,000 < 0,05 sehingga diketahui ada perbedaan kemampuan motorik

Dari sejumlah percobaan yang dilakukan, hanya 16 buah spesimen yang patut ditampil- kan dan dianalisa dalam makalah ini. Hasil lengkap percobaan diperlihatkan pada tabel 2. Contoh

0,1 M dapat dilihat pada Gambar IV.8 yang menunjukkan bahwa partikel perak yang dihasilkan lebih baik dari hasil nanopartikel dengan konsentrasi prekursor 0.125

Pengujian stabilitas sirup dilakukan berdasarkan percobaan yang dilakukan Djajadisastra dkk., 2009 yaitu dengan cara menyimpan sirup yang dihasilkan dalam Climatic

Berdasarkan tabel 1 diatas menunjukan bahwa dari 83 responden yang datang ke Puskesmas Kecamatan Pondok Gede Kota Bekasi untuk kelompok usia lanjut (60-70 tahun)

Proses pelaksanaan–pelaksanaan eksekusi atas hak tanggungan sebagai jaminan kredit masih banyak yang memiliki kendala-kendala dalam prosesnya yang mana menjadi