• Tidak ada hasil yang ditemukan

Review Buku Potret Birokrasi dan Politik

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Review Buku Potret Birokrasi dan Politik"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

Review Buku kekuasaan yaitu mendapatkan, meningkatkan, memelihara dan memperluas kekuasaan aktor elit atau fraksi politik tertentu. Pada masa Orde Baru sampai menjelang masa transisi tahun 1998, kondisi birokrasi di Indonesia masih tampak mengalami penyakit bureaumania. Birokrasi tampak dijadikan alat kepentingan status quo pemerintah dalam rangka melakukan kooptasi terhadap masyarakat kekuasaannya. Birokrasi yang sehat idealnya menjadi fasilitator dan pelayanan publik yang professional untuk semua golongan and birokrasi tidak partisipan berpolitik saat pemilu dan tidak diskriminatif dalam rangka memobilitasi dukungan publik untuk kemenangan partai atau aktor tertentu. Contoh tekanan politis dan tindakan diskriminatif yaitu terjadi terhadap masyarakat pemilih, antara lain menggunakan dana, program dan fasilitas Negara untuk kepentingan Golkar. Apabila Golkar kalah di suatu daerah, maka fasilitas umum yang akan dibangun ditempat tersebut menjadi gagal.

(2)

orang yang diangkat. Weber memandang birokrasi sebagai unsur pokok dalam rasionalitas dunia modern, suatu birokrasi yang legal rasional, memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

1. Para anggota staf secara pribadi bebas, hanya menjelaskan tugas-tugas impersonal jabatan (berkemampuan memisahkan urusan pribadi dengan urusan dinas).

2. Ada hierarki (penjenjangan, tingkatan) jabatan yang jelas.

3. Fungsi-fungsi jabatan ditentukan secara tegas (pembagian kerja yang jelas).

4. Para pejabat diangkat berdasarkan suatu kontrak.

5. Mereka dipilih berdasarkan kualifikasi professional, berdasarkan suatu diploma (ijazah) yang diperoleh melalui ujian.

6. Mereka memiliki gaji berjenjang menurut kedudukan dalm hierarki dan hak-hak pensiun. Pejabat dapat selalu menempati posnya dan dalam keadaan tertentu dapat juga diberhentikan.

7. Pos jabatan adalah lapangan kerjanya sendiri atau lapangan kerja pokoknya.

8. Pejabat mungkin tidak sesuai dengan posnya, mauoun dengan sumber yang tersedia dalam pos itu

9. Pejabat tunduk pada system disipliner dan control yang seragam

(3)

Teori max weber

Weber menyatakan bahwa birokrasi itu sistem kekuasaan, dimana pemimpin (superordinate) mempraktekkan kontrol atas bawahan (subordinat) sistem birokrasi menekankan pada aspek “disiplin” . sebab itu, weber juga memasukkan birokrasi sebagai sistem legal-rasional. Legal oleh sebab tunduk pada aturan-aturan tertulis dan dapat di simak oleh siapa pun juga. Rasional artinya dapat dipahami, di pelajari, dan jelas penjelasan sebab akibatnya.

 Kelebihan sistem birokrasi max weber:

Ada aturan, norma, dan prosedur untuk mengatur organisasi. Dalam model teori birokrasi max weber, di tekankan mengenai pentingnya peraturan. Weber percaya bahwa peraturan seharusnya diterapkan secara rasional dan harusnya ada peraturan untuk segala hal dalam organisasi. Tentunya peraturan-peraturan itu tertulis. Dengan demikian, organisasi akan mempunyai pedoman dalam menjalankan tugas-tugasnya.

 Kekurangan sistem birokrasi max weber:

(4)

Realita yang terjadi saat ini

Saat ini birokrasi di Indonesia sudah berjalan dengan semestinya. Birokrasi dijadikan sebagai alat untuk mengatur suatu organisasi atau pemerintahan agar berjalan efektif dan teratur. Birokrasi netral yang tidak berpolitik seperti pada saat orde baru. Masyarakat, media massa maupun lembaga memiliki kebebasan dalam memantau berjalannya birokrasi yang dijalankan. Kebebasan Pers di Indonesia menjadikan segala bentuk penyelewengan akan lebih mudah terpublikasi dan diusut. Terdapatnya badan pengawas dalam pemerintahan yang bersifat netral mendorong terjadinya birokrasi netral di Indonesia.

Kritik

(5)

Review Bab 3

Banyak pergerakan yang muncul menginginkan tidak berpolitiknya birokrasi di Indonesia. Pengertian pergerakan disini adalah identic dengan suatu perjuangan kelompok atau individu dalam masyarakat untuk mencapai suatu tujuan atau keadaan tertentu. Bentuk gerakan antara lain bisa berupa pembentukan wacana atau pendapat umum dan upaya mempengaruhi masyarakat. sifat gerakan cenderung sporadis atau menyebar. Ciri utama gerakan cenderung belum ada ikatan resmi atau melembaga antarpelaku yang satu dengan pelaku yang lain dalam mencapai tujuan yang relative sama tersebut. bentuk pergerakan tersebut adalah:

1. Gerakan”keluar dari keanggotaan institusi kooptasi birokrasi

Gerakan yang pertama kali muncul di Salemba dan tampak berpola populis ini adalah “aksi pelepasan baju seragam KORPRI” dan membuat pengumuman di media massa (pers release) bahwa sejumlah dokter PNS (Pegawai Negeri Sipil) di Universitas Indonesia menyatakan diri keluar dari anggota KORPRI. Seragam selanjutnya dikumpulkan oleh FORSAL (Forum Salemba) kemudian dibagikan pada masyarakat kurang mampu di sekitar Jakarta.

2. Gerakan “Rombak Institusi Korporatis Birokrasi”

Gerakan yang dilakukan elit ini terjadi di Departemen Penerangan (DEPPEN) Pusat di Jl. Medan Merdeka Barat, Jakarta yang dipimpin oleh mentri Junus Josphia dan Sekjennya I.G.K. Manila. Substansi gerakan mereka menginginkan pembubaran organisasi birokrasi dalam hal ini KORPRI. Alasan pembubaran KORPRI Unit DEPPEN karena mereka menilai selama ini KORPRI secara umum tidak mempunyai manfaat. Malah tersirat tampak KORPRI menjadi beban, karena itu perlu dibubarkan.

(6)

Gerakan ini juga berpola elitis dan substansinya menginginkan netralitas politik birokrasi. Pada tanggal 1 Juni 1999 menjelang diadakannya pemilihan umum multipartai 1999, Unit KORPRI Departemen Kehutanan menyatakan tidak berafiliasi dengan partai politik manapun. Langkah tersebut bisa dikategorikan menjadi rangkaian gerakan internal yang terjadi dalam tubuh institusi pemerintahan dalam upaya netralitas politik. 4. Gerakan Tokoh Oposisi terhadap Afiliasi Politik KORPRI

Gerakan ini berpola populis karena ditujukan ke institusi KORPRI lewat media massa yang bisa dibaca oleh khalayak ramai. Salah satu tokoh oposisi yang memperhatikan masalah netralitas politik ini adalah Ali Sadikin, seorang mantan petinggi mariner, mantan Gubernur DKI Jakarta, tokoh petisi 50, anggota Forum Demokrasi dan anggota Dewan Penyantun YLBI (Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia). Ali Sadikin melontarkan kritik keras terhadap Korps Pegawai Negeri yang hingga saat itu (1 Januari 1999) tidak mau menyatakan diri keluar dari GOLKAR. Menurutnya kalau selama ini GOLKAR menang pemilu, yang memenangkannya bukan GOLKAR tapi birokrasi.

5. Gerakan Netralitas Politik di Parlemen dan Lembaga Eksekutif

(7)

6. Gerakan Netralitas Birokrasi di Lembaga Ilmiah Nondepartemen Sebagai lembaga non departemen, LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) adalah bagian dari institusi yang garis koordinasinya langsung dibawah lembaga kepresidenan. LIPI mengupayakan untuk mempunyai kebebasan untuk menginformasikan hasil penelitiannya kepada masyarakat. LIPI berusaha untuk objektif dan independen terhadap kepentingan partai politik manapun.

Referensi

Dokumen terkait

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dan mendeskripsikan implementasi metode mubasyiroh dalam pembelajaran bahasa Arab di SMP Muhammadiyah 8 Surakarta,

Berdasarkan dari uraian diatas tersebut, penulis tertarik untuk meneliti bagaimana sistem pengelolaan aplikasi Propam Polda Riau di kota Pekanbaru, Dengan keberadaan

Seperti yang telah diuraikan sebelumnya, jika kita mengetahui faktor- faktor apa yang menyebabkan para remaja bergabung dalam komunitas yang sering melakukan juvenile

26 tahun 2007 tentang penataan ruang perkotaan, bahwa minimal untuk memenuhi ketentuan 20 % Ruang Terbuka Hijau (RTH) publik dan 10 % RTH privat. Tujuan dari penelitian ini

Hasil analisis tersebut akan menjadi dasar kajian dalam menentukan luas area yang dibutuhkan untuk penyediaan Ruang Terbuka Hijau pada lokasi penelitian dengan membandingkan

Hasil penelitian menunjukkan bahwa desain pembelajaran ini mampu menstimulasi siswa untuk mem- berikan karakteristik refleksi dan transformasi geometri lainnya secara

Dengan munculnya terapi IVIG beberapa penelitian menunjukkan peningkatan yang cepat jumlah trombosit dengan efek samping yang minimal pada pengobatan dengan tranfusi

Manajemen medula spinalis, terutama bagian cervical selama operasi dan resusitasi pasien dengan cedera spinal, memiliki banyak pertimbangan penting untuk ahli anestesi, antara