• Tidak ada hasil yang ditemukan

TRIYANA PERPUS PADA PUSKESMAS SEKELOA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "TRIYANA PERPUS PADA PUSKESMAS SEKELOA"

Copied!
35
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Perpustakaan Umum 2.1.1 Pengertian

Perpustakaan Umum Pengertian Perpustakaan sudah ada sejak zaman dahulu, akan tetapi pengertian perpustakaan disesuaikan dengan kesatuannya pada zaman tersebut. Oleh karena itu dapat kita ketahui bahwa pengertian

perpustakaan selalu berkembang seiring dengan perkembanganzaman. Salah satu jenis perpustakaan adalah perpustakaan umum,sesuai dengan namanya maka segala bentuk informasi dan jenis layanan yang dimiliki harusbersifat umum, dengan kata lain tersedianya berbagai bentuk informasi dan memberikan layanan kepada setiap orang tanpa memandang adanya perbedaan. Dalam Keputusan Presiden RI Tahun 2007 Bab VII Bagian Kedua Pasal 22 dinyatakan bahwa “Perpustakaan Umum yang diselenggarakan oleh Pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten/kota, kecamatan dan desa serta dapat diselenggarakan oleh masyarakat”. Menurut Sjahrial – Pamuntjak (2000 : 3) Perpustakaan Umum ialah perpustakaan yang menghimpun koleksi buku, bahan cetakan serta

rekaman lain untuk kepentingan masyarakat umum, dan berdiri sebagai lembaga yang diadakan untuk dan oleh masyarakat. Setiap warga dapat mempergunakan perpustakaan tanpa dibedakan pekerjaan, kedudukan, kebudayaan dan agama. Sedangkan Sutarno (2008 : 26) mengemukakan, bahwa: Perpustakaan Umum yaitu perpustakaan yang di peruntukkan bagi masyarakat luas sebagai sarana pembelajaran sepanjang membedakan umur, jenis kelamin, suku, ras, agama, dan status social-ekonomi, termasuk

penyandang cacat. Hal itu sesuai dengan manifesto unesco tentang

perpustakaan umum, yang mengutamakan kelompok masyarakat marjinal yang harus diberi kesempatan untuk mengakses dan memanfaatkan perpustakaan umum tersebut. Berdasarkan kedua pendapat diatas dapat diketahui bahwa perpustakaan umum adalah perpustakaan yang dibentuk untuk dan oleh masyarakat tanpa membedakan jenis kelamin, ras, suku, agama, kedudukan yang memberikan pelayanan tanpa melihat perbedaan pada pengguna yang dilayani. Universitas Sumatera Utara 2.1.2 Tujuan Perpustakaan Umum Setiap perpustakaan memiliki tujuan sesuai dengan jenis perpustakaannya dan masyarakat yang dilayani, Begitu juga halnya dengan perpustakaan umum memilikitujuan yang ingin dicapai. Berdasarkan manifesto perpustakaan umum Unesco pada tahun 1972 yang disitir oleh Sulistyo-Basuki (1991 : 46)

perpustakaan umum mempunyai 4 tujuan utamayaitu: - Memberikan

kesempatan bagi umum untuk membaca bahan pustaka yang dapatmembantu meningkatkan mereka ke arah kehidupan yang lebih baik. - Menyediakan sumber informasi yang cepat, tepat dan murah bagi masyarakat, terutama informasi mengenai topik yang berguna bagi mereka dan yang sedang hangat dalam kalangan masyarakat. - Membantu warga untuk mengembangkan kemampuan yang dimiliki sehingga yang bersangkutan akan bermanfaat bagi masyarakat sekitarnya, sejauh kemampuan tersebut dapat dikembangkan dengan bantuan bahan pustaka. Fungsi ini sering disebut sebagai fungsi pendidikan perpustakaan umum, lebih tepat disebut sebagai pendidikan

(2)

pameran budaya, ceramah, pemutaran flm, dan penyediaan informasi yang dapat meningkatkan keikutsertaan, kegemaran dan apresiasi masyarakat

terhadap segala bentuk seni budaya. Sedangkan Hermawan dan Zen (2006 : 31) menyatakan bahwa perpustakaan umum bertujuan: 1. Memberikan kesempatan kepada warga masyarakat untuk menggunakan bahanpustaka dalam

meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan kesejahteraan.Menyediakan informasi yang murah, mudah, cepat dan tepat yang berguna bagimasyarakat dalam kehidupan sehari-hari. 2. Membantu dalam pengembangan dan

pemberdayaan komunitas melalui penyedian bahan pustaka dan informasi. 3. Bertindak selaku agen kultural, sehingga menjadi pusat utama kehidupan budaya bagi masyarakat sekitarnya. 4. Memfasilitasi masyarakat untuk belajar sepanjang hayat. Kedua pendapat diatas menyatakan hal yang sama tentang tujuan perpustakaan umum, hanya terdapat sedikit perbedaan pada pendapat Hermawan Universitas Sumatera Utara dan Zen dimana mereka menambahkan tujuan perpustakaan sebagai fasilitasbelajar sepanjang hayat. 2.1.3 Fungsi Perpustakaan Umum Penyelenggaraan suatu perpustakaan tentunya ingin mencapai tujuan yang telahdirumuskan.Perpustakaan umum mempunyai tugas mengumpulkan, menyimpan, memeliharadan mendayagunakan bahan pustaka untuk kepentingan masyarakat umum.Selainmempunyai tujuan dan tugas perpustakaan tentunya juga memiliki fungsi yang harusdilaksanakan. Dalam Standar Nasional Perpustakaan (2011 : 8) dinyatakan bahwa fungsi

perpustakaan umum sebagai berikut: - Mengembangkan koleksi - Menghimpun dan merawat koleksi muatan lokal - Mengorganisasikan materi perpustakaan - Mendayagunakan koleksi - Menyelenggarakan pendidikan pengguna,

menerapkan tekhnologi informasi dan komunikasi - Merawat materi perpustakaan - Membantu peningkatan sumber daya perpustakaan di wilayahnya - Mengkoordinasikan kampanye gerakan pembudayaan gemar membaca di wilayahnya. Sedangkan menurut Yusuf (1996 : 21),

fungsiperpustakaan umum dapat dijabarkan sebagai berikut: - Fungsi Edukatif Perpustakaan umum menyediakan berbagai jenis bahan bacaaan berupa karyacetak dan karya rekam untuk dapat dijadikan sumber belajar dan menambahpengetahuan secara mandiri.Budaya mandiri dapat membentuk masyarakat yangbelajar seumur hidup dan gemar membaca. - Fungsi Informatif Perpustakaan umum sama dengan berbagai jenis perpustakaan lainya,

yaitumenyediakan buku-buku referensi. Bacaan ilmiah populer berupa buku danmajalah ilmiah serta data-data penting lainya yang diperlukan pembaca. - Fungsi Kultural Perpustakaan umum menyediakan berbagai bahan pustaka sebagai hasil budayabangsa yang direkam dalam bentuk tercetak/

terekam.Perpustakaan merupakantempat penyimpanan dan terkumpulnya berbagai karya budaya manusia yang setiap waktu dapat diikuti

perkembangannya melalui koleksi perpustakaan. - Fungsi Rekreasi Perpustakaan umum bukan hanya menyediakan bacaan-bacaan ilmiah, tetapi

(3)

yaitu fungsi edukatif, informatif, kultural, dan fungsi rekreasi, menyelenggarakan pendidikan pengguna, menerapkan tekhnologi informasi dan komunikasi. 2.1.4 Tugas Perpustakaan Umum Sesuai dengan pengertian perpustakaan, maka tugas dari perpustakaan meliputipengumpulan, menyimpan dan menyajikan koleksi yang tersedia kepada pengguna tanpa memandang ras, suku, dan kedudukannya. Dalam Standar Nasional Perpustakaan (2011 : 8) dikemukakan bahwa tugas perpustakaan umum ialah: - Menyediakan sarana pengembangan kebiasaan membaca sejak usia dini. - Menyediakan sarana pendidikan seumur hidup. - Menunjang sistem pendidikan formal, non formal dan informal. - Menyediakan sarana pengembangan kreativitas diri anggota masyararakat - Menunjang terselenggaranya pusat budaya masyarakat setempat sehingga aspirasi budaya lokal apat terpelihara dan berkembang dengan baik. -

Mendayagunakan koleksi termasuk akses informasi koleksi perpustakaan lain serta berbagai situs web. - Menyelenggarakan kerjasama dan membentuk jaringan informasi - Menyediakan fasilitas belajar dan membaca. - Menfasilitasi pengembangan literasi informasi dan computer - Menyelenggarakan perluasan layanan perpustakaan pro aktif antara lain melalui perpustakaan keliling - Melakukan pengembangan dan pembinaan perpustakaan kecamatan dan perpustakaan desa/kelurahan wilayah lainnya. - Menghimpun dan melakukan pemutakhiran data perpustakaan di wilayah dari menginformasikan ke sistem data nasional perpustakaan. Sedangkan Menurut Sutarno (2003 : 78) Tugas utama perpustakaan adalah: - Menyediakan, menyiapkan, mengelola dan memelihara koleksi bahan pustaka siap pakai serta sarana informasi lainnya. Universitas Sumatera Utara - Mendayagunakan koleksi berupa menyediakan sistem layanan penyiapan tenaga manusia, menyediakan sarana dan prasarana, serta menginformasikan/mempromosikan koleksi dan jasa pada masyarakat. - Melaksanakan layanan kepada masyarakat pemakai. - Bekerjasama dengan perpustakaan lain dalam pemanfaatan koleksi - Memasyarakatkan perpustakaan - Melakukan kajian dan pengembangan - Melakukan hal-hal yang berkaitan dengan pengembangan koleksi - Melaksanakan pendidikan masyarakat pemakai - Melaksanakan pengolahan (manajemen) dan tata usaha, termasuk

mengembangan staf dan pegawai serta peningkatan sarana dan prasarana perpustakaan. Dari uraian di atas dapat diketahui bahwa tugas perpustakaan umum adalah melayani pemenuhan kebutuhan informasi pengguna,

meningkatkan minat baca dan meningkatkan taraf hidup masyarakat. 2.1.5 Peranan Perpustakaan Umum Salah satu fungsi perpustakaan adalah membantu pengguna agar minatakaninformasi dan mengajarkan bagaimana cara

menelusuri informasi yang baik. Setiapperpustakaan akan mempunyai makna apabila dapat menjalankan fungsi dan peranannya dengan baik. Sutarno (2003 : 55), menjelaskan ada beberapa peranan yang dapat dijalankan oleh

perpustakaan diantaranya: 1. Perpustakaan merupakan media atau jembatan yang menghubungkan sumberinformasi dan ilmu pengetahuan yang terkandung didalam koleksi perpustakaandengan para pemakainya. 2. Perpustakaan

(4)

membaca, dan budaya baca, melalui penyediaan berbagai bahan bacaan yang sesuai dengan keinginan dan kebutuhan masyarakat. 4. Perpustakaan dapat berperan aktif sebagai fasilitator, mediator dan motivator bagimereka yang ingin mencari, memanfaatkan dan mengembangkan ilmupengetahuan dan

pengalamannya. 5. Perpustakaan merupakan agen perubahan, agen

pembangunan dan agenkebudayaan umat manusia. 6. Perpustakaan berperan sebagai lembaga pendidikan nonformal bagi anggotamasyarakat dan

pengunjung perpustakaan. Selain pendapat di atas mengenai peranan perpustakaan Siregar (2004 : Universitas Sumatera Utara 75) menyatakan bahwa: Perpustakaan umum (public libraries) memainkan peranan yang unik didalammasyarakat.Sebagai suatu lembaga netral, perpustakaan menyediakan informasi danperbedaan pandangan sekaligus disuatu tempat dimana warga masyarakat dapatmemberitahu diri mereka sendiri tanpa paksaan tentang isu-isu mutakhir yang peka. Dari uraian diatas dapat diketahui bahwa peranan perpustakaan umum adalahmedia atau jembatan yang menghubungkan sumber informasi dan ilmu pengetahuan, sebagai sarana untuk menjalin dan

mengembangkan komunikasi antara sesama pemakai, sebagai lembaga untuk mengembangkan minat baca,sebagai fasilitator, mediator dan motivator, agen perubahan, agen pembangunan dan agen kebudayaan umat manusia, sebagai lembaga pendidikan nonformal. 2.2 Perpustakaan Desa 2.2.1 Pengertian

Perpustakaan Desa Perpustakaan Desa merupakan jenis dan bagian dari Perpustakaan Umum.Pada hakikatnya Perpustakaan Desa bagian dari sistem nasional perpustakaan.Pembentukan Perpustakaan Umum desa diseluruh wilayah Indonesia dimaksudkan untuk mendukung upaya pemerintah

mengembangkan kehidupan masyarakat. Dalam Undang- Undang nomor 43 tahun 2007 tentang Perpustakaan Pemerintah Desa berkewajiban

menyelenggarakan perpustakaan umum desa sebagai perangkat dari sistem nasional perpustakaan. Menurut Sutarno (2008 : 23) perpustakaan desa adalah: Lembaga layanan publik yang berada di desa.Sebuah unit layanan yang

dikembangkan dari oleh dan untuk masyarakat tersebut, yang bertujuan untuk memberikan layanan dan memenuhi kebutuhan warga yang berkaitan dengan informasi, ilmu pengetahuan, pendidikan, rekreasi kepada semua lapisan masyarakat. Dalam Standar Nasional Perpustakaan (2011 : 2) dikemukakan bahwa Perpustakaan yang diselenggerakan oleh pemerintah desa/kelurahan yang mempunyai tugas pokok melaksanakan pengembangan perpustakaan di wilayah desa/kelurahan serta melaksanakan layanan perpustakaan kepada masyarakat umum yang tidak membedakan usia, ras, agama, status sosial ekonomi dan gender. Universitas Sumatera Utara Berdasarkan uraian diatas dapat diketahui bahwa perpustakaan desa adalah unit layanan yang diberikan kepada masyarakat untuk memenuhi kebutuhan informasi masyarakat melalui layanan perpustakaan kepada masyarakat umum yang tidak membedakan usia, ras, agama, status sosial ekonomi dan gender. 2.2.2 Tujuan Perpustakaan Desa Salah satu media dan sarana untuk meningkatkan pengetahuan dan

kemampuan membaca guna mencerdaskan kehidupan masyarakat desa/

kelurahan adalah perpustakaan desa. Adapun tujuan Perpustakaan Desa dalam Pedoman Penyelenggaraan Perpustakaan Desa (2000 : 3) yaitu: - Untuk

(5)

seumur hidup bagi masyarakat. - Menyediakan buku-buku pengetahuan, maupun keterampilan untuk mendukung keberhasilan kegiatan masyarakat diberbagai bidang misalnya: pertanian, perikanan, peternakan, perindustrian dan lain-lain. - Menggalakkan minat baca masyarakat dengan memanfaatkan waktu luang untuk membaca agar tercipta masyarakat kreatif, dinamis, produktif dan mandiri. - Menyimpan dan mendayadunakan berbagai dokumen kebudayaan sebagai sumber daya informasi, peneranagan, pembangunan dan menambah wawasan pengetahuan masyarakat. - Memberikan semangat dan hiburan yang sehat dalam pemanfaatan waktu yang senggang dengan hal-hal yang bersifat membangun. - Mendidik masyarakat untuk memelihara dan mamanfaatkan bahan pustaka secara tepat guna. Sedangkan Sutarno (2008 : 27)

mengemukakan bahwa tujuan perpustakaan desa yaitu: - Menunjang program wajib belajar dan program pendidikan ketrampilan masyarakat lainnya. -

Menyediakan wahana mencerdaskan masyarakat desa dan menumbuhkan daya kreasi, prakarsa dan swakarsa masyrakat melalui peningkatan gemar membaca dan semangat belajar masyarakat. - Memberi semangat belajar dan hiburan yang sehat dalam memanfaatkan hal-hal yang bersifat membangun dalam waktu senggang. - Menyediakan berbagai ilmu pengetahuan dan pengalaman kepada masyarakat dalam berbagai bidang. - Menyediakan kebutuhan sarana edukasi, rekreasi, penerangan, informasi dan penelitan bagi warga desar. Universitas Sumatera Utara Berdasarkan uraian diatas dapat dikemukakan bahwa dibentuknya perpustakaan desa dengan tujuan untuk mencerdaskan masyarakat, mendidik masyarakat, menambah wawasan masyarakat,

menunjang program belajar. 2.2.3 Fungsi Perpustakaan Desa Untuk mencapai tujuan yang diuraikan di atas perpustakaan desa harus melaksanakan fungsi dengan baik. Menurut Sutarno (2008 : 42) adapun fungsi perpustakaan desa sebagai berikut: Untuk melaksanakan tugas pokok maka disusun dan dijabarkan kedalam beberapa fungsi-fungsi bebagai berikut: - Pengkajian kebutuhan

informasi dan bahan pustaka bagi para pemakai dan masyarakat. - Menyediakan bahan pustaka yang diperluakan. - Pengelolahan dan penyiapan bahan pustaka. - Penyimpanan dan pelestarian. - Pendayaguanaan koleksi/ bahan pustaka. - Pemberian layanan kepada pemakai. - Pemasyarakatan perpustaan desa. - Pengkajian dana pengembangan semua aspek kepustakawanan. - Pelaksanaan koordinasi dengan pemerintah desa dan intansi terkait. - Menjalin kerjasama dengan perpustakaan lain dalam lembaga lain yang berkepentingan dengan perpustakaan desa. - Pengolahan ketatausahaan perpustakaan desa.

Selanjutnya fungsi perpustakaan Desa/Kelurahan Perpustakaan Desa dijelaskan Dalam Pedoman penyelenggaraan perpustakaan desa (2000 : 4) sebagai berikut: - Mengumpulkan, mengoraganisasikan dan mendayagunakan bahan pustaka tercetak maupun terekam. - Mensosialisasikan manfaat jasa perpustakaan. - Mendekatkan buku dan bahan pustaka lainnya kepada masyarakat. -

(6)

bacaan hiburan sehat. Universitas Sumatera Utara 2.2.4 Tugas Perpustakaan Desa Tugas Perpustakaan Desa adalah melayani dan memenuhi kebutuhan informasi dan ilmu pengetahuan masyarakat desa dimana perpustakaan tersebut berada. Pelayanan akan berjalan baik apabila perpustakaan dapat menghimpun, mengolah, memelihara dan mendayagunakan koleksi bahan pustaka yang dimilikinya. Menurut Sutarno (2008 : 42) adapun tugas

perpustakaan desa adalah sebagai berikut: Tugas pokok perpustakaan desa dapat dikelompokkan menjadi 3 bagian yaitu: - Tugas Manajerial dilakukan oleh pemimpin perpustakaan dengan kepemimpinan menggerakkan, memotivasi dan mengarahkan bawahan. - Tugas tehnik fungsional perpustakaan oleh

perpustakaan dan staf teknis data mengelola dan memberdayakan koleksi. - Tugas administrasi/ ketatausahaan dan urusan dalam dalam oleh staf tata usaha. Sedangkan Dalam Buku Pedoman penyelenggaraan perpustakaan desa (2000 : 4) dinyatakan bahwa: “Tugas pokok Perpustakaan Desa/Kelurahan adalah melayani masyarakat dengan menyediakan bahan pustaka/bacaan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat yang dilayani”. Dari uraian diatas dapat dinyatakan bahwa tugas Perpustakaan Desa adalah melayani masyarakat dengan menyediakan bahan pustaka/bacaan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat yang dilayani, tugas manajerial, tugas teknik fungsional, tugas administrasi. 2.2.5 Peranan Perpustakaan Desa Perpustakaan Desa yang

befungsi dengan baik mempunyai peran yang sangat penting dalam kehidupan budaya umat manusia. Sutarno (2008: 49) mengemukakan peranan

perpustakaan desa adalah sebagai berikut: Perpustakaan desa berperan dalam memberikan sumber aspirasi, inspirasi dan institusi dalam upaya memperkaya, memperluas ilmu pengetahuan, dan pengalaman anggota masyarakat yang mau belajar dan instropeksi atas kekurangannya. Peranan perpustakaan desa dapat dijelaskan sebagai berikut Universitas Sumatera Utara - Sebagai pusat layanan masyarakat, perpustakaan desa yang di kelola dengan baik dapat dikembangkan menjadi pusat pelayanan informasi dan ilmu pengetahuan bagi penduduk

wilayah desa tersebut. Informasi dan ilmu pengetahuan bersumber pada koleksi bahan pustaka dan dokumen resmi perpustakaan desa, data statistik, foto, grafk - Berperan sebagai sarana belajar masyarakat. Perpustakaan desa yang di kelola merupakan salah satu sarana dan tempat untuk belajar, menggali dan

(7)

dinyatakan peranan perpustakaan desa adalah sebagai berikut: - Menumbuhkan, membina dan mengembangkan prakarsa dan swadaya masyarakat

desa/kelurahan di bidang perpustakaan. - Menampung, mengarahkan dan menyalurkan prakarsa swadaya masyarakat desa/kelurahan tersebut dalam perwujudan/pelaksanaan penyelenggaraan perpustakaan desa/kelurahan dengan saling berperan serta sesuai kedudukan, tugas dan fungsi

masing-masing. Dari uraian diatas dapat dinyatakan bahwa peranan perpustakaan desa sebagai pusat layanan masyarakat, sebagai sarana belajar masyarakat, sebagai referensi dalam penelitian sederhana, menumbuhkan dan membina prakarsa swadaya masyarakat. Universitas Sumatera Utara 2.2.6Pengurus Perpustakaan Desa dan Struktur Organisasi Untuk menjalankan Perpustakaan perlu adanya kepengurusan dengan tugas nya masing-masing untuk mengelola perpustakaan tersebut. Dalam Buku Pedoman Penyelenggaran Perpustakaan Desa (2000 : 5) mengemukakan bahwa Susunan keanggotaan pengurus perpustakaan

desa/kelurahan sebagai berikut: 1. Penanggung Jawab adalah Kepala

Desa/Kelurahan sebagai penanggung jawab mendirikan, mengolah, memajukan perpustakaan. 2. Ketua Penyelenggaraan adalah Ketua LKMD dan Wakil

Ketuaadalah Ketua Seksi Pendidikan Kebudayaan P4 LKMD sebagai penanggung jawab atas kegiatan teknis dan administrasi pengelolaan perpustakaan, dan menyusun konsep perencanaan dan program kerja. 3. Penulis adalah Sekretariat sebagai pelaksana kegiatanadministrasi, surat-menyurat, persiapan

perlengakapan pembelian bahan pustaka, penyediaan kartu untuk memproses bahan pustaka maupun perlengkapan lainnya. 4. Anggota adalah Seksi agama, seksi penerangan, seksi pemuda, seksi kesejahteraan sosial yang bertugas pada sektor pengolahan dan layanan. Berdasarkan penjelasan dari buku pedoman penyelenggaraan perpustakaan diatas, dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan perpustakaan desa perlu adanya pengurus perpustakaan tersebut yaitu:

Penanggung jawab, pelaksana kegiatan. STRUKTUR ORGANISASI Gambar. Struktur Organisasi Perpustakaan Desa Sumber: Buku Pedoman Penyelenggara Perpustakaan Desa hal. 5 Ketua Urusan Pengolahan Kepala Desa/ Kelurahan Sekretariat Wakil Ketua Urusan Layanan Universitas Sumatera Utara 2.3 Unsur- Unsur Perpustakaan Desa 2.3.1 Ketenagaan Keberhasilan suatu Perpustakaan Desa/Kelurahan dapat diukur berdasarkan pada tinggi rendahnya kemampuan perpustakaan tersebut dalam melaksanakan fungsinya sebagai pusat kegiatan belajar mandiri serta pusat pelayanan informasi dan rekreasi bagi

masyarakat.Sesuai dengan tujuan dan fungsi Perpustakaan Desa/Kelurahan yang cukup strategis, maka persyaratanpersyaratan tenaga kerja harus berkompeten. Hal ini juga dijelaskan pada buku pedoman penyelenggaraan perpustakaan desa (2000 : 8) mengemukakan bahwa Petugas Perpustakaan Desa dituntut sebagai berikut: - Persyaratan Mental. Seorang petugas perpustakaan harus mempunyai jiwa mengabdi terhadap kepentingan masyarakat. - Persyaratan Pengetahuan. Hal-hal umum yang seyogyanya diketahui dan kadang-kadang mungkin harus dipelajari secara mendalam adalah hal yang menyangkut masyarakat setempat yang dilayani antara lain: tentang mata pencarian, pokok masyarakat, tentang kegemaran dan penggunaan waktu senggang, dan mengenal tokoh-tokoh

(8)

Mengembangkan koleksi baik melalui pembelian, hadiah, tukar menukar dan lain-lain. - Memberikan bimbingan kepada masyarakat, antara lain cara-cara administrasi peminjaman. Pendapat lain dikemukakan oleh Sutarno (2008 : 74) bahwa ketenagaan pada perpustakaan desa adalah sebagai berikut: Tenaga pada perpustakaan sekurang-kurangnya ada dua orang petugas yang bertugas untuk pegolahan dan pelayanan.Tenaga pengelola dapat direkrut dari petugas kelurahan dan relawan, pemuda-pemuda yang bersedia membanti karena tidak dibayar. Berdasarkan kedua pendapat dan penjelasan diatas maka dapat

disimpulkan bahwa petugas atau ketenagaan pada perpustakaan desa harus mempunyai kriteria yang akan memajukan perpustakaan desa tersebut. Adapun kriteria yang harus dimilki oleh tenaga perpustakaan adalah: mempunyai

mentak yang kuat, mempunyai pengetahuan yang luas, dapat membimbing masyarakat, mengembangkan koleksi. Universitas Sumatera Utara 2.3.2 Anggaran Dalam pengelolaan perpustakan desa seyogyanya dana yang dibutuhkan dianggarkan secara teratur, terprogram dan dimasukkan dalam program pembangunan desa/ kelurahan, agar kegiatan operasional layanan perpustakaan dapat terlaksana dengan baik. Dalam buku pedoman

penyelenggaraan perpustakaan desa (2000 : 9) dikemukakan bahwa kebutuhan anggaran perpustakan dapat ditentukan sebagai berikut: - Besar perpustakaan dalam arti luas ruangan, jumlah koleksi, pemakai, staf, layanan perpustakaan - Jenis jasa perpustakaan - Kelompok dan jumlah pemakai yang dilayani -

Jangkauan waktu Adapun sumber dana atau pembiayaan perpustakaan desa/ kelurahan sesuai dengan Instruksi Mentri Dalam Negeri Nomor 28 Tahun 1984 Tentang Pelaksanaan Perpustakaan desa yang berasal dari: - Swadaya

masyarakat desa/ kelurahan - Bantuan Pemerintah (APBD/APBN) - Lain-lain yang sah dan tidak mengikat Sedangkan Sutarno (2008 : 40) mengemukakan hal yang sama tentang anggaran pada perpustakaan desa sebagai berikut: “Penyediaan biaya pada perpustakaan desa adalah sumber dana dari kecamatan dan

kabupaten/kota, dana yang di galang oleh masyarakat yang berasal dari sumbangan para donator dan sponsor yang sah dan tidak mengikat”.

Berdasarkan kedua pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa dalam mengelola perpustakaan desa anggaran dana berasal dari berbagai sumber yaitu: swadaya masyarakat, bantuan pemerintah, sumbangan donator. 2.3.3 Gedung dan

perabot Untuk menyelenggarakan perpustakaan desa/kelurahan harus

mempunyai syarat dan kriteria dalam menentukan gedung bagi perpustakaan desa. Dalam buku pedoman penyelenggaraan perpustakaan desa (2000 : 10) dinyatakan bahwa dalam membangun gedung perpustakaan desa harus memperhatikan faktor-faktor berikut: Universitas Sumatera Utara - Gedung/ ruangan perpustakaan hendaknya memenuhi criteria bersifat teknis demi kelancaran tugas perpustakaan. - Tentang sirkulasi udara, agar diusahakan sirkulasi udara di perpustakaan dapat berjalan baik. - Hindari cahaya langsung dari matahari karena karena dapat mempercepat kerusakan buku-buku dan juga alat atau perlengakapan perpustakaan lainnya serta mengganggu kenyamanan membaca. - Langit-langit perpustakaan jangan terlalu rendah minimal 3 meter. Untuk dapat mewujudkan kelancaran kerja setiap perpustakaan, termasuk perpustakaan desa/kelurahan di perlukan ruangan yang cukup luas dan

(9)

hanya menggunakan salah satu ruangan balai desa/ kelurahan atau LKMD, maka pengelola perpustakaan harus dapat mengatur ruangan sedemikian rupa

sehingga penyelenggaraan perpustakaan desa tidak terganggu. Kalau memungkin ruangan yang disediakan yaitu: - Ruang kerja ( pengolahan dan pelayanan administrasi) Ruang kerja ini digunakan untuk melakukan kegiatan persiapan perpustakaan pelayanan seperti pengadaan, pengolahan,perbaikan buku dll. - Ruang pelayanan Ruang pelayanan terdiri dari tempat koleksi,

layanan sirkulasi dan tempat baca. Sutarno (2008 : 80) mengemukakan hal yang sama tentang kriteria gedung dan ruangan perpustakaan desa yaitu: Ruang perpustakaan desa disesuaikan dengan kondisi fsik lingkungan. Perpustaakaan desa dapat menempati salah satu ruang di ruangan lingkungan kantor desa dengan ukuran 25m2 di bagi menjadi ruang kerja 1/5 bagian, ruang koleksi 2/5 bagian, ruang layanan 2/5 bagian dari seluruh ruangan perpustakaan. Aspek yang harus diperhatikan pada Gedung/ruang perpustakaan desa adalah sebagai berikut: - Lokasi, strategis, mudah dijangkau - Ekonomis - Ditangani masyarakat setempat - Luas tanah yang cukup - Luas gedung dan ruang untuk menampung koleksi - Ruang pembaca dan ruang layanan - Ruang pengolahan, administrasi - Cahaya, sirkulasi udara, kesejukan. Gedung perpustakaan desa sekurang-kurang nya mencakup: - Ruang koleksi bahan pustaka tercetak dan ruang baca

berkapasitas sekitar 10 orang. - Ruang koleksi bahan pustaka anak-anak dengan ruang baca berkapasitas sekitar 6 orang. - Ruang koleksi pandang-dengar (AV) dengan ruang baca berkapasitas sekitar 6 orang. Universitas Sumatera Utara - Ruang kerja untuk 2-5 oranhg. - Ruang layanan ddan hobi - Kamar kecil dan WC secukupnya - Lapangan dan halaman atau fasilitas yang di perlukan.

Berdasarkan kedua penjelasan di atas maka dapat diketahui bahwa dalam membangun gedung perpustakaan desa harus memenuhi kriteria dan hal-hal yang diperhatikan antara lain: ruang koleksi, ruang kerja, ruang baca, kamar kecil, pencahayaan. 2.3.4 Koleksi Dalam menjalankan perpustakaan desa yang berperan untuk berperan mencerdaskan masyarakat, maka harus mempunyai koleksi yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat setempat. Dalam buku pedoman penyelenggaraan perpustakaan desa (2000 : 4), diuraikan bahwa Perpustakaan desa harus memiliki sekurang kurangnya jumlah koleksi 1000 judul (2500 eksemplar). Adapun komposisi jenis koleksi yang dimiliki

perpustakaan desa/keluarahan seyogyanya adalah: dengan perbandingan non fksi 60% dan fksi 40%. Koleksi perpustakaan desa/kelurahan meliputi: - Buku (fksi dan non fksi) buku referensi (kamus, ensiklopedia, almanak, buku

(10)

terjangkau. Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa standar koleksi untuk perpustakaan desa sekurang-kurangnya 1000 judul dan 2500 eksemplar, buku non fksi 60% dan fksi 40%. Universitas Sumatera Utara 2.3.5 Layanan Perpustakaan Layanan perpustakaan berupaya untuk memudahkan akses informasi dan transfer ilmu pengetahuan dari perpustakaan kepada pemakai. Kemudahan, ketepatan, dan kesederhanaan menjadi acuan utama, agar

perpustakaan dapat memenuhi kebutuhan informasi yang pengguna butuhkan. Menurut Sutarno (2008 : 99) layanan perpustakaan adalah sebagai berikut: Layanan perpustakaan mencakup 4 hal yaitu: konsepsi layanan, petugas, peraturan dan pelaksanaan. Prinsip- prinsip layanan perpustakaan adalah: berorientasi kepada pemakai artinya mengutamakan dalam melayani pemakai sehingga segala sesuatu nya dipersiapkan dan diperuntukkan bagi pengunjung, murah biaya artinya jika harus membayar harus terjangkau, cepat waktu artinya pengunjung dilayani dengan cepat tanpa buang-buang waktu untuk mencari buku yang diinginkan, tepat sasaran apakah buku yang disediakan pemakai yang diharapkan, menyenangkan atau memuaskan bagi pengunjung sehingga merasa betah berada di perpustakaan, suasana aman dan nyaman serta tenang, dan berdaya tarik karena desain interior tata ruang dan eksterior/lingkungan yang asri dan padu padan. Layanan perpustakaan terdiri dari: - Layanan

membaca di tempat. Perpustakaan harus punya pelayanan membaca di tempat dengan berkapasitas ruangan yang ada, dan waktu yang memadai. - Layanan peminjaman dan pengembalian, sesuai dengan misi nya maka perpustakaan desa perlu memberikan layanan peminjaman untuk di bawa keluar atau pulang karena mereka berbatas waktu untuk membaca di perpustakaan. - Layanan referensi, koleksi nya bersifat rujukan jadi perpustakaan harus memberikan layanan itu termasuk paduan untuk menggunakannya bagi mereka yang belum berpengalaman. - Fasilitas bimbingan dan penyuluhan. Perpustakaan desa yang berjalan baik dan diperoleh oleh petugas yang berpengalaman, maka mereka dapat memberikan bimbingan dan penyuluhan tentang pembinaandan

pengembangan perpustakaan. Sedangkan Dalam buku pedoman

penyelenggaraan perpustakaan desa (2000 : 36) layanan perpustakaan desa adalah sebagai berikut: Kegiatan layanan perpustakaan adalah upaya untuk memenuhi kebutuhan masyarakat pemakai jasa perpustakaan akan bahan pustaka yang mereka butuhkan: - Layanan membaca diperpustakaan, layanan membaca adalah layanan utama setiap perpustakaan, dimana para pengunjung dapat memanfaatkan bahan perpustakaan yang disediakan perpustakaan

(11)

berorientasi kepada pemakai, murah biaya, cepat waktu, tepat sasaran, menyenangkan, suasana aman, nyaman, asri, dan berdaya tarik. Dan adapun jenis layanan di perpustakaan adalah: layanan sirkulasi, layanan membaca di tempat, layanan referens, layanan bercerita 2.4Pemenuhan Kebutuhan Informasi 2.4.1 Pengertian Informasi Kata informasi sering dijumpai dalam kehidupan sehari-hari dan begitu banyakpengertian dari kata informasi tersebut, hal ini karena pada hakekatnya informasi itu tidakdapat di uraikan. Oxford English Dictionary yang dikutip oleh Sulistyo-Basuki (1991 : 87) dinyatakan informasi... “that of which one is apprised or told ; intelligence, news”, yaitu informasi adalahsesuatu yang dinyatakan atau dikatakan, intelijen, berita. Sedangkan menurut Collin yang dikutip oleh Siregar (2005 : 2), menjelaskan: “Informasi adalah pengetahuan yang disajikan kepada seseorang dalam bentuk yangdapat dipahami, atau data yang telah diproses atau ditata untuk menyajikan fakta yang mengandung arti”. Pendapat lain dikemukakan oleh Yusup (2009 : 11) bahwa “Informasi adalah suatu rekaman fenomena yang diamati, berupa putusan-putusan yang dibuat seseorang”. Berdasarkan uraian di atas dapat diketahui bahwa informasi merupakan sesuatudata, fakta atau keterangan yang mempunyai arti dan dapat dipahami oleh seseorang yangmenjalani proses kehidupan. Universitas Sumatera Utara 2.4.2 Kebutuhan Informasi Konsep kebutuhan informasi dapat diartikan sebagai informasi yang harus dimiliki. Belkin yang disitir oleh Ishak (2006 : 91) menyatakan bahwa “Kebutuhan

informasi terjadi ketika seseorangmenyadari adanya kekurangan dalam tingkat pengetahuannya tentang situasi atau topic tertentu dan berkeinginan mengatasi kekurangan tersebut”. Selanjutnya dijelaskan tentang “Kebutuhan informasi pemakai selalu berubah dan berkembang, sehingga sulit

untukmenentukannyasecara

tepat.Perpustakaanmemilikimasyarakatpenggunayangkebutuhannya terus berubah”. Memahami bagaimana kebutuhan itu berubah merupakan unsur penting dalam perencanaan layanan informasi.Memahami kebutuhan informasi pemakaimemerlukan kerjasama antara pengelola informasi dan pemakai

informasi. Chaudry yang dikutip oleh Ishak (2006 : 91) mengungkapkan: Bila pengelola informasi bisa memahami kebutuhan informasi pemakai, maka akanmembantu dalam pengembangan layanan perpustakaan, diantaranya: - peningkatanapa saja yang dapat dilakukan untuk memanfaatkan layanan yang sudah ada. - usahaapa saja yang harus dilakukan agar layanan dan sumber informasi perpustakaan diketahui secara lebih baik oleh pemakai. - program kerja apa saja yang dapatdijalankan untuk mempertemukan layanan yang ada dengan kebiasaan pencarian informasi pemakai. Sedangkan Menurut Hiller dikutip oleh Ishak (2006 : 91), upaya untuk memahamikebutuhan informasi pengguna berdasarkan pada konsep user center, yaitu: Menyesuaikan koleksi dan sumber informasi dengan kebutuhan pemakai, mengidentifkasi perbedaan kebutuhan informasi pemakai, mendukung pendistribusian dana yang wajar dan adil, menjamin perpustakaan mampu merespon kebutuhan pemakai. Dari uraian di atas dapat diketahui bahwa kebutuhan yang diinginkanmasyarakat pengguna, pihak perpustakaan harus dapat memahami kebutuhan seperti apa

(12)

kebutuhan tersebut melalui ketersedian berbagai jenis Universitas Sumatera Utara koleksi perpustakaan yang dibutuhkan oleh masyarakat pengguna.Jika dikaitkan dengan lingkungan yang mendorong timbulnya kebutuhan

informasi,maka banyak kebutuhan yang dapat dikemukakan. Sedangkan Menurut Katz, Gurevitch dan Haas yang dikutip oleh Yusup (1995 : 3-4) jenis-jenis kebutuhan adalah sebagai berikut: 1. Kebutuhan Kognitif Kebutuhan ini berkaitan erat dengan kebutuhan untuk memperkuat atau menambah informasi, pengetahuan dan pemahaman seseorang akan lingkungan. 2. Kebutuhan Afektif Kebutuhan ini dikaitkan dengan penguatan estetis, hal yang dapat

menyenangkandan pengalaman-pengalaman emosional. 3. Kebutuhan Integrasi Personal (Personal Integrative Needs) Kebutuhan ini sering dikaitkan dengan penguatan kredibilitas, kepercayaan,stabilitas, dan status individu. 4. Kebutuhan Integrasi Sosial (Social Integrative Needs) Kebutuhan ini dikaitkan dengan

penguatan hubungan dengan keluarga, teman danorang lain. 5. Kebutuhan Berkhayal (Escapist Needs) Kebutuhan ini dikaitkan dengan kebutuhan-kebutuhan untuk melarikan diri,melepaskan ketegangan dan hasrat untuk mencari hiburan atau pengalihan(Diversion). Berhubungan dengan tugas pekerjaan, Jarverlin (2003 : 10) memberi klasifkasi terhadap jenis kebutuhan informasi, yaitu: Problem information describes the structure, properties and requirements of the problem at hand. For example, in bridge construction, information on the type and purpose of the bridge and on the building site constitute problem information. It is typically available in the problem

environment, but, in the case of previous problems of the same type, it may also be available in documents. Domain information consists of known facts,

concepts, laws and theories in the domain of the problem. For example, in bridge construction, information on the strength and thermal expansion of steel belongs to domain information. This is, typically, tested scientifc and technological information published in journals andtextbooks. Problem-solving information covers the methods of problem treatment. It describes how problems should be seen and formulated, what problem and domain information should be used (and how) in order to solve the problems. For example,in bridge construction, the design engineer's heuristics concerning the pros and cons of various bridge design types constitute problem-solving information. It is instrumental information and typically available only from knowledgeable persons (or

experts). Universitas Sumatera Utara Pendapat di atas dapat diartikan sebagai berikut: Masalah informasi menggambarkan struktur, sifat, syarat pada masalah tersebut. Misalnya: dalam konstruksi jembatan yang menjadi masalah

informasinya adalah: jenis, tujuan, lokasi dalam membangun jembatan. Wilayah informasi tediri dari fakta, konsep, hukum, dan terdiri di wilayah informasi. Misalnya: kontruksi jembatan informasi yang diperlukan adalah kekuatan dan tingkat pemuaian besi, biasanya dilakukan tes uji ilmiah, tehknologi informasi yang terdapat di jurnal dan buku teks. Pemecahan masalah informasi

mengambarkan bagaimana dan melihat dan memformulasikan masalah dan wilayah informasi bagaimana yang akan digunakan untuk memecahkan

(13)

di atas dapat diketahui bahwa pada dasarnya informasi sangatdibutuhkan oleh banyak orang, dimulai dari kebutuhan dasar sampai pada kebutuhanpenunjang lainnya.Dengan demikian jelas bahwa kebutuhan informasi disesuaikan

dengantugas, kehidupan dan tuntutan kebutuhan pengguna yang selalu

(14)

Muh. Syaiful Karim et al., Implementasi Layanan Perpustakaan Kecamatan Dalam Meningkatkan Minat Baca Masyarakat (studi implementasi layanan perpustakaan kecamatan di Kecamatan Klakah Kabupaten Lumajang) 1. PENDAHULUAN

Dewasa ini muncul anggapan bahwa pengelolaan pendidikan di Indonesia kurang menghasilkan peserta didik yang bisa bersaing. Utamanya saat ini yang cukup menjadi sorotan adalah pendidikan pada tingkat dasar dan pada tingkat

menengah .Namun terlepas dari berbagai persoalan yang dihadapi dalam pendidikan formal yang ada di Indonesia. Kesempatan bagi individu untuk memiliki kemampuan dalam berbagai hal guna bisa bersaing tidaklah semata dapat dilakukan melalui pendidikan formal, namun bisa juga didapat melalui pendidikan non formal. Seperti melalui diskusi, pengetahuan langsung, ataupun melalui membaca. Berkaitan dengan membaca, peneliti memiliki asumsi bahwa hal tersebut memiliki nilai UNEJ JURNAL XXXXXXXXX 2015, I (1): 1-14 1

Implementasi Layanan Perpustakaan Kecamatan Dalam Meningkatkan Minat Baca Masyarakat (Implementation Services District Library Community Read In Increasing Interest) Abstrak Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak

terimplementasikannya beberapa layanan perpustakaan berakibat menurunnya jumlah pengunjung perpustakaan Kecamatan Klakah. Layanan perpustakaan yang dilaksanakan oleh perpustakaan umum Kecamatan Kalakah pada kisaran tahun 2011 hingga 2012 meliputi layanan perpustakaan umum, layanan

pembuatan kartu anggota, layanan buku sistem paket, layanan kunjungan terjadwal, layanan pembinaan rumah baca desa. Hingga pada tahun 2013 tidak diimplementasikan layanan sistem paket cukup berdampak pada jumlah

pengunjung. Namun lebih dari itu tidak adanya kontinuitas penambahan koleksi buku juga mempengaruhi jumlah pengunjung perpustakaan umum Kecamatan Klakah hal tersebut dikarenakan masyarakat lebih cenderung berminat

berkunjung ke perpustakaan ketika terdapat koleksi buku baru. Hasil penelitian tentang layanan perpustakaan kecamatan dalam meningkatkan minat baca di perpustakaan umum Kecamatan Klakah dapat diketahui bahwa terdapat beberapa cara yang bisa dilakukan oleh pihak perpustakaan dalam upaya meningkatkan minat baca masyarakat melalui layanan-layanan yang bisa

(15)

Layanan Perpustakaan Kecamatan Dalam Meningkatkan Minat Baca Masyarakat (studi implementasi layanan perpustakaan kecamatan di Kecamatan Klakah Kabupaten Lumajang) efektiftas yang tinggi dalam menambah ilmu

pengetahuan seperti yang dikatakan Marion Lawrence yang dikutip Wendyataka (2003) dalam Lasa (2009) pada tulisannya yang berjudul Peran Perpustakaan dan Penulis Dalam Peningkatan Minat Baca Masyarakat yang mengemukakan hasil penelitiannya bahwa anak hanya mampu mengingat 10 % dari yang didengarnya, 50 % dari yang dilihat atau baca, 70 % dari yang dikatakannya, dan 90 % dari yang dilakukannya. Berdasarkan penelitian di atas diketahui bahwa membaca cukup memiliki efektiftas dalam peningkatan pengetahuan. Namun persoalan membaca dihadapkan pada akses buku di Indonesia masih tebilang kurang dan harga buku di toko buku masih relatif mahal. Dihadapkan pada persoalan demikian, pemerintah tidaklah tinggal diam melihat kondisi seperti itu. Bersama Dewan Perwakilan Rakyat dengan diterbitkannya Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 43 Tahun 2007 Tentang Perpustakaan. Pada Undang-undang tepatnya pada Bab Kedua Tentang Kewajiban Pasal 6,7,8 yang berisi tentang kewajiban bagi pemerintah pusat dan daerah untuk

menyelenggarakan perpustakaan guna mendukung sistim pendidikan nasional. Pengertian perpustakaan menurut Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2007 adalah institusi pengelola koleksi karya tulis, karya cetak, dan atau karya rekam secara profesional dengan sistem yang baku guna memenuhi kebutuhan pendidikan, penelitian, pelestarian, informasi, dan rekreasi para pemustaka Dalam kancah pendidikan non formal perpustakaan memiliki peran sentral dalam mencapai tujuan pendidikan nasional. Karena hanya dengan perpustakaan, permasalahan akses dan harga buku yang sulit dijangkau oleh sebagaian masyarakat bisa diatasi. Menurut Sutarno NS (2006:67) keberadaan sebuah perpustakaan

merupakan sesuatu yang “conditio sine quanon”, sesuatu yang tidak boleh tidak. Artinya bahwa perpustakaan harus ada dan dibangun di tengah-tengah

masyarakat. Oleh karena setiap orang yang ingin maju dan berkembang, ingin menguasai banyak ilmu pengetahuan, mampu menjelajah dunia dan mampu menembus waktu dapat dilakukan dengan membaca / belajar pada buku dan sumber informasi yang lain. Dengan begitu pentingnya keberadaan

perpustakaan dalam menunjang pendidikan nasional dihadapkan pada

permasalahan kurang proporsionalnya jumlah perpustakaan yang ada dengan jumlah penduduk sehingga mengakibatkan masyarakat tetap kesulitan untuk mengakses sumber baca. UNEJ JURNAL XXXXXXXXX 2015, I (1): 1-14 2 Muh. Syaiful Karim et al., Implementasi Layanan Perpustakaan Kecamatan Dalam Meningkatkan Minat Baca Masyarakat (studi implementasi layanan perpustakaan kecamatan di Kecamatan Klakah Kabupaten Lumajang) Terdapat juga persoalan tentang rendahnya minat baca masyarakat, hal demikian bisa dilihat dari

(16)

internet walaupun yang terakhir ini masih dapat dimasukkan sebagai sarana membaca. Hanya saja apa yang dapat dilihat di internet bukan hanya tulisan tetapi hal-hal visual lainnya yang kadangkala kurang tepat bagi konsumsi anak-anak. 2. Banyaknya tempat hiburan untuk menghabiskan waktu seperti taman rekreasi, tempat karaoke, night club, mall, supermarket. 3. Budaya baca memang belum pernah diwariskan nenek moyang kita. Kita hanya terbiasa mendengar berbagai dongeng, kisah, adat-istiadat secara verbal dikemukakan orang tua, nenek, dan tokoh masyarakat. 4. Sarana untuk memperoleh bacaan, seperti perpustakaan atau taman bacaan, masih merupakan barang aneh dan langka. Berkaitan dengan permasalahan di atas sebagai obyek penelitian yang akan peneliti lakukan, maka peneliti akan mengambil lokasi penelitian di

Kabupaten Lumajang atau tepatnya pada Perpustakaan Umum Kecamatan Klakah Kabupaten Lumajang yang mana perpustakaan ini berada di bawah naungan Kantor Perpustakaan dan Arsip Kabupaten Lumajang yang diatur dengan produk hukum Peraturan Daerah Kabupaten Lumajang Nomor 22 Tahun 2007 Tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja Kantor Perpustakaan dan Arsip Kabupaten Lumajang. Hal tersebut didasarkan pada beberapa argumentasi ilmiah diantaranya adalah berdasarkan hasil observasi yang peneliti lakukan, berdasar uraian data di atas secara nasional permasalahan minat baca memang menjadi persoalan, karena bukan hanya dalam hal konsumsi terhadap sumber baca yang kurang namun persoalan kurangnya sumber baca yang tersedia juga turut menjadi perhatian. Untuk itu perpustakaan sebagai satuan kerja yang UNEJ JURNAL XXXXXXXXX 2015, I (1): 1-14 3 Muh. Syaiful Karim et al., Implementasi Layanan Perpustakaan Kecamatan Dalam Meningkatkan Minat Baca Masyarakat (studi implementasi layanan perpustakaan kecamatan di Kecamatan Klakah Kabupaten Lumajang) memiliki kewenangan dalam peningkatan minat baca turut menjadi perhatian. Berkaitan dengan ini peneliti ingin melihat bagaimana kinerja perpustakaan dalam upaya meningkatkan minat baca masyarakat, yang mana menurut Sutarno NS dalam bukunya Perpustakaan dan Masyarakat minat baca seseorang dapat diartikan sebagai kecenderungan hati yang tinggi orang tersebut kepada suatu sumber bacaan tertentu. Sehingga dalam fokus penelitian yang akan peneliti lakukan nantinya adalah peneliti akan mengambil suatu langkah yang dilakukan oleh perpustakaan daerah dalam upaya meningkatkan minat baca masyarakat yaitu berupa Layanan Perpustakaan Kecamatan, yang mana layanan adalah upaya perpustakaan daerah dalam meningkatkan dan mendekatkan perpustakaan dalam upaya lebih memasyarakatkan perpustakaan kepada masyarakat. Dari sekian layanan yang diberikan oleh Perpustakaan Umum Daerah Lumajang kepada masyarakat, peneliti akan memfokuskan penelitian pada implementasi Layanan Perpustakaan Kecamatan dalam upaya meningkatkan minat baca masyarakat. Peneliti memilih layanan perpustakaan kecamatan karena pelayanan yang diberikan pada layanan ini memiliki

sistematika yang terstruktur dari segi waktu berkunjung, karyawan penjaga perpustakaan maupun pencatatan yang bersifat administratif yang berkaitan dengan operasional perpustakaan terutama yang berkaitan dengan pemustaka maupun koleksi-koleksi buku ketika coba dibandingkan dengan layanan

(17)

akan peneliti lakukan nantinya.. 2. TINJAUAN PUSTAKA Minat baca secara terpisah dapat didefnisikan secara terpisah dimana minat dalam kamus besar bahasa Indonesia memiliki makna kecenderungan hati yang tinggi terhadap sesuatu. Sehingga dalam pemaknaan utuh minat baca menurut Melling (2011) memiliki makna dorongan hati yang tinggi untuk membaca. Masih dalam ranah pengertian minat baca menurut beberapa sumber diantaranya adalah menurut Tampubolon (1993) menjelaskan bahwa minat baca adalah kemauan dan keinginan seseorang untuk mengenali huruf dan dapat menangkap makna dari tulisan tersebut. Lilawati (Sandjaja, 2005) mengartikan minat baca adalah suatu perhatian yang kuat dan mendalam disertai dengan perasaan senang terhadap kegiatan membaca sehingga UNEJ JURNAL XXXXXXXXX 2015, I (1): 1-14 4 Muh. Syaiful Karim et al., Implementasi Layanan Perpustakaan Kecamatan Dalam Meningkatkan Minat Baca Masyarakat (studi implementasi layanan perpustakaan kecamatan di Kecamatan Klakah Kabupaten Lumajang) dapat mengarahkan seseorang untuk membaca dengan kemauannya sendiri (http://mathedu-unila.blogspot.com/2009/10/pengertian-minat-membaca.html diakses pada 27 Juli 2013) Mengimplementasikan suatu layanan adalah suatu cara untuk lebih mendekatkan sumber baca bagi pembaca guna meningkatkan minat baca

masyarakat. Dengan defnisi implementasi kebijakan adalah: “Tahap pembuatan kebijakan antara pembentukan kebijakan dan konsekuensikonsekuensi kebijakan bagi masyarakat yang dipengaruhinya. Jika suatu kebijakan tidak tepat atau tidak mengurangi masalah yang merupakan sasaran dari kebijakan, maka kebijakan itu akan mengalami kegagalan sekalipun kebijakan itu

diimplementasikan dengan sangat baik” menurut George C. Edward III (dalam Winarno, 2002:125-126) Serta Menurut Daniel A. Mazmanian dan Serta Menurut Daniel A. Mazmanian dan Paul A. Sabatier (dalam Wahab, 2008:65) implementasi kebijaksanaan adalah sebagai berikut: “Memahami apa yang senyatanya terjadi sesudah suatu program dinyatakan berlaku atau dirumuskan merupakan fokus perhatian implementasi kebijaksanaan, yakni kejadian-kejadian dan

kegiatankegiatan yang timbul sesudah disahkannya pedoman-pedoman kebijaksanaan negara, yang mencakup baik usaha-usaha untuk

mengadministrasikannya maupun untuk menimbulkan akibat atau dampak nyata pada masyarakat atau kejadian-kejadian”. Dalam konteks layanan perpustakaan, implementasi didasarkan pada standar pelayanan publik yang dikeluarkan oleh pihak Kantor Perpustakaan dan Arsip Kabupaten Lumajang dan ini juga yang dijalankan oleh perpustakaan Kecamatan Klakah sebagai fungsi instruksional dengan Kantor Perpustakaan dan Arsip Kabupaten Lumajang. Adapun Standar Pelayanan Publik yang menjadi acuan dalam mengimplementasikan layanan adalah sebagai berikut: Standar Pelayanan Publik Kantor Perpustakaan dan Arsip Kabupaten Lumajang A. Standar Pelayanan Publik Perpustakaan Umum 1.

(18)

bersifat terbuka yaitu layanan yang memperbolehkan pemakai jasa

perpustakaan memilih dan mengambil sendiri bahan pustaka yang dibutuhkan dari tempat penyimpanan koleksi 3. Sistem, Mekanisme dan Prosedur a.

Pemustaka harus memiliki kartu tanda anggota, selanjutnya pemustaka

menyerahkan buku yang akan dipinjam dan menunjukkan kartu anggota kepada petugas. b. Petugas pelayanan melakukan pencatatan, memasukkan data buku yang dipinjam c. Buku diserahkan kepada peminjam d. Lama peminjamam buku adalah 7 hari dan jika belum selesai dibaca, buku dapat diperpanjang lagi waktu peminjaman dengan maksimal peminjaman 3 kali untuk buku yang sama 4. Jangka Waktu Penyelesaian a. Pemeriksaan buku oleh petugas selama 2 menit b. Pemrosesan administrasi peminjaman selama 5 menit c. Lama peminjaman buku adalah 7 hari 5. Biaya Pelayanan Peminjaman buku perpustakaan tidak di pungut biaya (Gratis) 6. Produk Layanan Produk yang diterima oleh anggota

perpustakaan adalah koleksi buku perpustakaan sejumlah 2 eksemplar untuk masa peminjaman selama 7 hari dan dapat diperpanjang lagi untuk 2 kali masa peminjaman 7. Sarana, Prasarana dan atau Fasilitas a. Perpustakaan umum di empat lokasi (Perpustakaan Umum Kabupaten, Perpustakaan Klakah,

Perpustakaan Pasirian, Perpustakaan Yosowilangun) b. Meja sirkulasi 1 unit c. Meja dan kursi petugas 7 unit d. Komputer 7 unit e. Ruang yang nyaman dan sejuk f. Tersedianya koleksi buku yang sudah terbagi menurut klasifkasi buku g. Tersedianya beberapa meja dan kursi untuk pemustaka 8. Mekanisme

Penanganan Pengaduan a. Untuk penanganan pelayanan informasi publik dilaksanakan oleh fungsional pustakawan atau pejabat lain yang ditunjuk b. Dibentuk tim penanganan pengaduan yang bertugas mengkonfrmasi,

mengefaluasi dan penyelesaian pengaduan c. Pengaduan disampaikan dalam bentuk tulis, lisan, perteleponan maupun website UNEJ JURNAL XXXXXXXXX 2015, I (1): 1-14 6 Muh. Syaiful Karim et al., Implementasi Layanan Perpustakaan Kecamatan Dalam Meningkatkan Minat Baca Masyarakat (studi implementasi layanan perpustakaan kecamatan di Kecamatan Klakah Kabupaten Lumajang) d. Pengaduan dicatat dalam buku agenda pengaduan e. Tim mengkonfrmasi, mengevaluasi, menangani dan menyelesaikan pengaduan B. Standar Pelayanan Publik Pembuatan Kartu Anggota Perpustakaan 1. Persyaratan a. Mengisi

(19)

perpustakaan tidak dipungut biaya 6. Produk layanan Produk yang diterima oleh anggota perpustakaan adalah kartu anggota sebagai syarat memperoleh

peminjaman buku perpustakaan. Masa berlaku kartu anggota perpustakaan adalah 2 tahun. 7. Sarana dan prasarana a. Meja sirkulasi sebanyak 1 unit b. Meja dan kursi petugas sebanyak 4 unit c. Komputer sebanyak 2 unit d. Mesin laminating sebanyak 1 unit e. Ruangan yang nyaman dan sejuk f. Tersedia toilet g. Sarana ibadah UNEJ JURNAL XXXXXXXXX 2015, I (1): 1-14 7 Muh. Syaiful Karim et al., Implementasi Layanan Perpustakaan Kecamatan Dalam Meningkatkan Minat Baca Masyarakat (studi implementasi layanan perpustakaan kecamatan di Kecamatan Klakah Kabupaten Lumajang) C. Standar Pelayanan Publik Buku Sistem Paket 1. Persyaratan a. Perpustakaan bekerjasama dengan lembaga yang dituju (pondok pesantren, kantor desa, lembaga pemasyarakatan, sekolah serta lembaga lain yang disepakati bersama antara perpustakaan dan tempat lainnya) b. Peminjaman buku paling banyak 50 eksemplar 2. Defnisi Pelayanan

perpustakaan sistem paket adalah bentuk kegiatan dari kantor perpustakaan dan arsip dalam rangka untuk mencerdaskan bangsa pada umumnya dan ikut meningkatkan minar baca masyarakat di pedesaan pada khususnya, dengan cara mengunjung masyarakat pedesaan yang lokasinya tidak dapat dijangkau oleh perpustakaan umum. 3. Sistem, mekanisme dan prosedur 1. pemustaka harus memiliki kartu peminjaman, selanjutnya pemustaka menyerahkan buk yang akan dipinjam kepada petugas 2. petugas melakukan pencatatan,

memasukkan data buku yang dipinjam. 3. Buku diserahkan kepada peminjam 4. Jangka waktu penyelesaian 1. Pemeriksaan buku oleh petugas selama 60menit 2. Pemrosesan administrasi peminjamam selama 10 menit 5. Biaya pelayanan Peminjaman buku sistem paket tidak dipungut biaya 6. Produk layanan Produk yang diterima oleh anggota perpustakaan sistem paket adalah koleksi buku perpustakaan sejumlah 50 eksemplar untuk masa peminjaman 1 bulan 7. Sarana dan prasarana 1. Kotak berisi 50 eksemplar buku 2. Kendaraan roda dua untuk membawa kotak

3. METODE PENELITIAN Metode penelitian adalah suatu rangkaian utuh dalam suatu penelitian guna memberikan tuntunan kepada peneliti dalam melakukan suatu penelitian. karena dengan menggunakan metode penelitian diharapkan suatu penelitian dapat dilaksakan dengan tepat, karena penelitian adalah suatu hal ilmiah yang harus juga dilakukan dengan cara-cara ilmiah dan rasional berdasarkan kaidah-kaidah penelitian yang diakui bersama. UNEJ JURNAL

(20)

paradigma penelitian kualitatif yang mana defnisi penelitian kualitatif menurut Kirk dan Miller (1986:9) dalam Moleong (2008:4) adalah tradisi tertentu dalam ilmu pengetahuan sosial yang secara fundamental bergantung dari pengamatan pada manusia baik dalam kawasannya maupun dalam peristilahannya. Adapun yang menjadi lokasi penelitian adalah Perpustakaan Umum Kecamatan Klakah Kabupaten Lumajang yang terletak di Jl. Ranu 281 Kode Pos 67356 Klakah (Eks Kantor Kecamatan Klakah). Menurut Sugiono (2008:91) dalam penentuan informan atau responden terdapat dua teknik yang bisa digunakan yaitu

probability sampling dan nonprobability sampling. Untuk itu peneliti dalam hal ini akan menggunakan teknik nonprobability sampling yang bisa dijabarkan adalah teknik pengambilan sampel yang tidak memberi peluang atau kesempatan sama bagi setiap unsur atau anggota populasi untuk dipilih menjadi sampel. Adapun nonprobability sampling yang peneliti gunakan adalah Sampling Purposive yang pengertiannya adalah tekni penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu. Hal ini peneliti dasarkan pada fokus penelitian yang peneliti ambil yaitu

implementasi layanan perpustakaan kecamatan dalam meningkatkan minat baca masyarakat yang peneliti anggap memungkinkan untuk digunakan sampling purposive karena cakupan organisasinya yang relatif kecil. Dengan teknik pengumpulan data adalah sebagai berikut Pustaka, Dokumen dan Pengamatan, Wawancara serta Catatan Lapangan. Analisis data adalah suatu langakah dalam penelitian yang menitik beratkan pada bagimana seorang peneliti menerjemahkan data-data yang didapat dari lapangan untuk kemudian disusun menjadi suatu rangkaian kalimat yang sistematis sebagai sebuah hasil penelitian. Seperti yang diuraikan oleh Bogdan dan Biklen (1982) dalam Moleong UNEJ JURNAL XXXXXXXXX 2015, I (1): 1-14 9 Muh. Syaiful Karim et al.,

Implementasi Layanan Perpustakaan Kecamatan Dalam Meningkatkan Minat Baca Masyarakat (studi implementasi layanan perpustakaan kecamatan di Kecamatan Klakah Kabupaten Lumajang) (2008:248) analisis data kualitatif adalah upaya yang dilakukan denga jalan bekerja dengan data,

mengorganisasikan data, memilha-milahnya menjadi satuan yang dapat dikelola, mensistesiskannya, mencari dan menentukan pola, menemukan apa yang

penting dan apa yang dipelajari, dan memutuskan apa yang dapat diceritakan kepada orang lain. peneliti akan menggunakan teknik keabsahan data sebagai berikut triangulasi dan pemeriksaan sejawat melalui diskusi.

4. HASIL DAN PEMBAHASAN Perpustakaan Umum Kecamatan Klakah adalah merupakan program dari Kantor Perpustakaan dan Arsip Kabupaten Lumajang yang memiliki tujuan untuk lebih mendekatkan sumber baca kepada

masyarakat. Perpustakaan Umum Kecamatan Klakah terletak di Jl. Raya Klakah (Eks Kantor Kecamatan Klakah). Guna menunjang tugas dan fungsi dari

(21)

anggaran Kantor Perpustakaan dan Arsip Kabupaten Lumajang. Namun untuk perpustakaan umum Kecamatan Klakah penambahan koleksi buku sejak dibuka pada tahun 2008 hanya terjadi pada tahun 2009 dan 2010. Dibawa ini rincian penambahan koleksi buku pada tahun 2009 dan 2010 di perpustakaan umum Kecamatan Klakah. Alasan kenapa perpustakaan umum Kecamatan Klakah hanya mengajukan penambahan buku sampai pada tahun 2012 adalah karena banyak buku koleksi perpustakaan yang sampai saat ini dipinjam dan belum dikembalikan. Sampai saat ini koleksi buku perpustakaan umum Kecamatan Klakah yang dipinjam antara tahun 2008 hingga 2012 yang belum dikembalikan berjumlah 122 eksemplar. Hal tersebut terjadi dikarenakan kurangnya kesadaran dan tanggung jawab pemustaka untuk bersama merawat koleksi buku

perpustakaan Kecamatan Klakah. Seperti yang di ungkapkan Pak Shalal yang merupakan staf UNEJ JURNAL XXXXXXXXX 2015, I (1): 1-14 10 Muh. Syaiful Karim et al., Implementasi Layanan Perpustakaan Kecamatan Dalam Meningkatkan Minat Baca Masyarakat (studi implementasi layanan perpustakaan kecamatan di Kecamatan Klakah Kabupaten Lumajang) teknis pelayanan perpustakaan

Kecamatan Klakah (Pada 7 Juli 2014). “buku-buku yang sudah lama di pinjam dan tidak dikembalikan itu karena kurangnya kesadaran dan tanggung jawab pemustaka untuk mau bersama-sama merawat koleksi buku perpustakaan, sehinggga mereka mungkin merasa enggan dan malu untuk mengembalikan ketika sudah terlalu lama meminjamnya” Namun lebih dari itu kesalahan tidak hanya terletak pada pemustaka sebagai pengguna atau peminjam koleksi buku perpustakaan Kecamatan Klakah, namun bisa juga kesalahan pada petugas perpustakaan pada saat itu, yang mana pada saat itu pembuatan kartu anggota perpustakaan kurang detail dalam mencantumkan identitas dari anggota seperti alamat yang kurang lengkap sehingga hal tersebut menyulitkan petugas

perpustakaan untuk mengkroscek buku yang telah lama belum dikembalikan. Hal tersebut seperti juga yang diungkapkan oleh pak shalal yang merupakan staf teknis pelaksana perpustakaan Kecamatan Klakah (Pada 7 Juli 2014). “untuk yang dulu pembuatan kartu anggota perpustakaan untuk data-datanya kurang lengkap, seperti alamat rumah yang hanya tercantum nama desa. Sehingga hal itu menyulitkan petugas untuk mengkroscek buku yang telah lama dipinjamdan belum dikembalikan”. Sehingga saat ini dimulai tahun 2012 untuk pembuatan kartu anggota perpustakaan lebih diperjelas dengan mencantumkan alamat rumah yang detail dan sekolah yang detail untuk pelajar. Hal tersebut dilakukan untuk lebih meminimalisir buku yang dipinjam agar dikembalikan lagi atau juga untuk memudahkan petugas mengkroscek buku yang dipinjam oleh pemustaka yang telah lama tidak dikembalikan. Perpustakaan kecamatan adalah

perpustakaan yang dibentuk dengan tujuan lebih mendekatkan informasi kepada masyarakat yang tidak terjangkau oleh Perpustakaan Umum Kabupaten

(22)

Layanan Perpustakaan Kecamatan Dalam Meningkatkan Minat Baca Masyarakat (studi implementasi layanan perpustakaan kecamatan di Kecamatan Klakah Kabupaten Lumajang) Layanan perpustakaan umum kecamatan merupakan program salah satu dari beberapa program yang direncanakan oleh Kantor Perpustakaan dan Arsip Kabupaten Lumajang sebagai salah satu implementasi dari tugas yang diberikan oleh Peraturan Daerah Kabupaten Lumajang Nomor 22 Tahun 2007 Tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja Kantor Perpustakaan dan Arsip Kabupaten Lumajang bahwa Kantor Perpustakaan dan Arsip

mempunyai tugas melaksanakan penyusunan dan pelaksanaan kebijakan

dibidang perpustakaan, arsip dan dokumentasi. Berdasarkan standar pelayanan publik pada tahun 2012 perpustakaan umum kecamatan klakah

mengimplementasikan beberapa layanan perpustakaan diantaranya adalah sebagai berikut: 1. Layanan perpustakaan umum 2. Layanan pembuatan kartu anggota 3. Layanan buku sistem paket 4. Layanan kunjungan terjadwal 5. Layanan pembinaan rumah baca desa Sebagai tolok ukur minat baca

masyarakat berdasar stimulus beberapa layanan yang diimplementasikan di atas didapati hasil fluktuasi jumlah anggota baru perpustakaan dalam kurun waktu 2011 hingga 2013 dimana pada tahun 2011 jumlah anggota baru 166 pada tahun 2012 jumlah anggota baru turun menjadi 147 dan pada tahun 2013 jumlah anggota baru naik lagi menjadi 351. Sementara itu berdasarkan jumlah

kunjungan ke perpustakaan pada kurun waktu yang sama terus mengalami penurunan dimana pada tahun 2011 dengan jumlah pengunjung sebanyak 24163 lalu turun pada tahun 2012 menjadi 17454 dan turun lagi pada tahun 2013 menjadi hanya 16823 pengunjung. Jumlah pengunjung ini tidak hanya didefnisikan pemustaka yang datang ke perpustakaan kecamatan namun juga merupakan data akumulasi dari semua layanan yang dilakukan oleh

perpustakaan kecamatan seperti layanan perpustakaan umum, layanan buku sistem paket, layanan kunjungan terjadwal.

(23)

berpengaruh terhadap jumlah pengunjung perpustakaan. Dengan adanya koleksi buku baru akan menarik masyarakat untuk melakukan kunjungan ke

perpustakaan sehingga akan menjadikan perpustakaan akan semakin aktif dan berkembang.

. DAFTAR PUSTAKA Buku : Dunn, Willian N. 2003. Analisis Kebijaksanaan Publik (Kerangka Analisis dan Prosedur Perumusan Masalah). Yogyakarta: PT. Hanindita Graha Widya. Janti, GS., Yulia, Y., Mustafa, B. 2005. Perkembangan Perpustakaan Di Indonesia. Bogor: IPB Press Purwanto, E. A. & Sulistyastuti, D. R. 2007. Metode Penelitian Kuantitatif (Untuk Administrasi Publik dan MasalahMasalah Sosial). Yogyakarta: Gava Media. Sugiyono. 2008. Memahami Penelitian Administrasi. Bandung: Penerbit Alfabeta Sukarna. 1990. Prinsip-Prinsip Administrasi Negara. Bandung: Mandar Maju. Suryabrata, Sumadi. 2008. Metodologi Penelitian. Jakarta: Raja Grafndo. Sutarno, NS. 2006. Perpustakaan dan Masyarakat.

Jakarta: CV. Agung Seto. Suwarno, Wiji. 2010. Pengetahuan Dasar Kepustakaan. Bogor: Ghalia Indonesia Winarno, Budi. 2002. Teori dan Proses Kebijakan Publik. Yogyakarta: Media Pressindo. Peraturan Perundang-undangan: Undang-undang Republik Indonesia Nomor 43 Tentang Perpustakaan. Peraturan Daerah

Kabupaten Lumajang Nomor 22 Tahun 2007 Tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja Kantor Perpustakaan dan Arsip Kabupaten Lumajang. Pera Peraturan Bupati Lumajang Nomor 22 Tahun 2008 Tentang Penjabaran Tugas Dan Fungsi Organisasi Kantor Perpustakaan dan Arsip Kabupaten Lumajang. Website: Kompas. 2012. Indeks Pembangunan Manusia Indonesia Sangat Rendah. 29 Agustus 2013. UNEJ JURNAL XXXXXXXXX 2015, I (1): 1-14 13 Muh. Syaiful Karim et al., Implementasi Layanan Perpustakaan Kecamatan Dalam Meningkatkan Minat Baca Masyarakat (studi implementasi layanan perpustakaan kecamatan di Kecamatan Klakah Kabupaten Lumajang) Visi Pustaka. 2009. Peran Perpustakaan dan Penulis Dalam Peningkatan Minat Baca Masyarakat. 24 April 2013 Visi

Pustaka. 2011. Memaknai Hakikat Baca Untuk Tujuan Praktis. 27 Juli 2013 http:// www.lumajang.go.id/ UNEJ JURNAL XXXXXXXXX 2015, I (1): 1-14 14

(24)

Dia berharap, pemerintah menyediakan perpustakaan di kecamatan. Perpustakaan,

sambung Aziz, sebaiknya tidak hanya ada di perkotaan. Hal itu agar kualitas

pendidikan merata antara di perkotaan dengan di perdesaan. Dia berpendapat,

ketidaktersediaan perpustakaan di desa membuat minat baca warga pelosok

rendah.

Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Sampang Sudarmanta mengatakan,

membangun perpustakaan di kecamatan membutuhkan anggaran besar. Sementara

anggaran yang dimiliki pemkab terbatas. Menyiasati hal itu, pihaknya menerapkan

skala prioritas dalam menjalankan kegiatan. ”Dengan anggaran yang minim, kami

memilih meningkatkan fasilitas yang sudah ada,” katanya.

Untuk menjangkau perdesaan, Sudarmanta mengaku aktif mengoperasikan mobil

perpustakaan keliling yang biasanya ditempatkan di taman kota, kecamatan, dan

balai desa. ”Perpustakaan keliling mempunyai jadwal kunjungan ke semua

kecamatan. Kami harap, masyarakat bisa memanfaatkan mobil perpustakaan

keliling itu,” pintanya. (c8/hud/lu

(25)

Daerah Kota Bandung. Kegiatan tersebut dibuka oleh kepala Kantor Perpustakaan dan Arsip Daerah (KAPUSARDA) Kota Bandung Bapak H. Adin Mukhtarudin, SH. MH. Mewakili Walikota Bandung. Adapun sasaran kegiatan ini melibatkan para pengelola perpustakaan kecamatan se-kota Bandung dengan tujuan memberikan pemahaman secara teori dan praktik mengenai penyelenggaraan perpustakaan. Sehingga, dalam kegiatan bimbingan ini terdapat pematerian tentang penyelenggaraan perpustakaan yang disampaikan oleh Siti Herta Anggia selaku pustakawan selaku Narasumber Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah (BAPUSIPDA) Provinsi Jawa Barat. Materi lainnya diberikan oleh Kapusarda dan Forum Taman Bacaan Masyarakat (TBM)

Setelah pematerian sesi pertama, peserta mendapatkan arahan selanjutnya untuk melakukan praktik secara langsung tentang pengelolaan perpustakaan. Pada thermin berikutnya peserta dibagi menjadi 3 tim, yaitu pengolahan buku, pendataan buku, dan pelayanan perpustakaan. Pada bidang pengolahan buku disampaikan mengenai prosedur pengolahan koleksi dari inventarisasi hingga penomoran buku. Selanjutnya pada bidang pendataan buku disampaikan mengenai tata cara pengolahan buku dengan software INLISLite (Integrated Library

System) yang merupakan pengembangan software Perpustakaan Nasional Republik

Indonesia. Pada bidang pelayanan perpustakaan disampaikan pula mengenai tata cara pendaftaran anggota, peminjaman dan pengembalian buku. Peserta kembali ke ruangan semula untuk memaparkan hasil dari bimbingan teknis pada tiap bidang. Dalam kegiatan ini, peserta sangat antusias dalam mengikuti pelatihan yang diselenggarakan oleh Kantor Perpustakaan dan Arsip Daerah Kota Bandung.

Hasil dari kegiatan ini diharapkan para peserta dapat mengimplementasikan kegiatan bimbingan teknis ini untuk penyelenggaraan perpustakaan di setiap kecamatan, kewilayahan sampai masyarakat yang dimulai dengan perencanaan fasilitas perpustakaan, peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM) perpustakaan, mempromosikan layanan perpustakaan, menyelenggarakan kegiatan untuk menarik minat baca masyarakat, dan dapat mengembangkan perpustakaan secara berkelanjutan.

. KETENTUAN UMUM

1. Perpustakaan desa Majasari adalah pengelola dan peenyedia layanan jasa penyedia informasi pembelajaran dan pengembangan diri bagi masyarakat Desa Majasari.

2. Fasilitas Perpustakaan Umum Desa diperuntukkan bagi warga masyarakat Desa Majasari. 3. Kewajiban Pemustaka/Pengunjung Perpustakaan:

a) Terdaftar sebagai anggota perpustakaan

b) Menjaga dan memelihara koleksi yang sedang dipinjam.

c) Mentaati peraturan yang berlaku di perpustakaan Desa Majasari 4. Keanggotaan PERPUSTAKAAN :

a) Mengisi blanko pendaftaraan.

b) Melampirkan pas foto 3X4 cm sebanyak 2 lembar.

c) Memperoleh kartu anggota yang berlaku selama menjadi warga desa Majasari.

d) Penggantian kartu yang hilang atau rusak harap menyerahkan pas foto ukuran 3X4 sebanyak 1 (satu) lembar.

(26)

a. Peminjam yang merusak, menyobek, menghilangkan koleksi wajib mengganti dengan buku baru sejenis, setara dengan buku yang diganti.

b. Mengambil dan atau membawa buku/ koleksi perpustakaan tanpa melalui prosedur yang berlaku akan dikenakan sanksi administrasi.

c. Keterlambatan pengembalian buku pinjaman dikenakan denda Rp. 500,00/ hari untuk setiap buku. 6. Tata tertib pembaca/ pengunjung.

a. Berpakaian rapi dan sopan.

b. Pembaca/ pengunjung wajib mengisi daftar hadir/ presensi.

c. Menjaga ketertiban, ketenangan dan keamanan selama berada di perpustakaan. d. Tidak makan dan minum di perpustakaan.

B. PELAYANAAN PERPUSTAKAAN

1. Tata cara peminjaman dan pengembalian

a. Peminjaman koleksi perpustakaan dilayani menggunakan kartu anggota dengan cara: 1) Datang sendiri ke perpustakaan

2) Mencari sendiri bahan pustaka yang akan dipinjam/ bertanya kepada petugas. 3) Menyerahkan buku yang akan dipinjam kepada petugas untuk diproses.

4) Mengisi kartu buku dan lembar tanggal kembali dan menyerahkannya kepada petugas untuk diproses.

b. Peminjaman buku paling banyak 2 eksemplar

c. Jangka waktu peminjaman 1 minggu ( 7 hari ) dan dapat diperpanjang 1 kali dengan membawa buku yang dipinjam.

d. Tidak diperkenankan meminjam buku dengan menggunakan kartu anggota milik orang lain e. Tidak mengotori,membuat catatan, menyobek dan atau melipat halaman buku

2. Jam layanan Perpustakaan

Hari Waktu

Senin– Sabtu

Pagi 08.00– 16.30 WIB

Malam 19.30 – 22.00 WIB

enurut Standar Nasional Perpustakaan yang diterbitkan Perpustakaan Nasional RI

(2011), standar Sarpras perpustakaan kecamatan adalah sebagai berikut :

Gedung

a) Luas ruangan/gedung perpustakaan sekurang-kurangnya 56 m2.

b) Memenuhi standar kesehatan, kenyamanan dan keselamatan.

Lokasi perpustakaan

Lokasi perpustakaan terletak dalam satu gedung dengan kantor kecamatan atau di

tempat yang

berdekatan dengan gedung kantor kecamatan.

Ruang perpustakaan

Ruang perpustakaan sekurang-kurangnya meliputi ruang koleksi, ruang baca, dan

ruang kerja.

Sarana layanan dan sarana kerja

Perpustakaan menyediakan sarana perpustakaan sekurang-kurangnya meliputi: rak

buku

(27)

baca (10 buah);

perangkat komputer (2 unit).

MAKALAH PENGEMBANGAN PERPUSTAKAAN DI DAERAH TERPENCIL Makalah Pengelolaan Perpustakaan Pendidikan Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Pengelolaan Perpustakaan Pendidikan Dosen Pengampu : Nanik Arkiyah, M.IP Disusun Oleh : Fransiskus Adi Sasmita / 1300005323 Kelas 7B FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR UNIVERSITAS AHMAD DAHLAN 2016/2017 BAB I PENDAHULUAN A. Latar

(28)

pendidikan yang dimiliki. Bangsa yang berkualitas pada tingkat pendidikan akan mampu membawa bangsanya untuk menjadi sosok yang lebih baik dimasa mendatang. Di sisi lain, rendahnya minat baca masyarakat yang menjadi salah satu tolak ukur kualitas pendidikan seolah tidak kunjung ditemukan penyebab pastinya. Terlebih lagi di daerah yang terpencil sebagian besar penduduknya masih kurang mempedulikan pendidikan. Mereka cenderung menganggap pendidikan sebagai sesuatu yang tidak penting untuk dilestarikan. Mereka merasa lebih mengutamakan pernikahan di usia dini yang dianggap lebih

berguna. Hal ini terjadi karena bermacam-macam faktor. Antara lain kurangnya akses pendidikan dan sulitnya menjangkau informasi global. Yang lebih

memprihatinkan lagi tingkat buta aksara di Indonesia belum sepenuhnya bisa diatasi. Sebagian besar dari mereka berasal dari wilayah terpencil. Wilayah Terpencil merupakan wilayah yang sulit dalam berbagai aspek, dalam hal ini wilayah terpencil bisa juga didefnisikan sebagai wilayah yang masih jauh dari pelayanan umum, harga kebutuhan pokok yang sangat mahal, sarana

komunikasi yang kurang memadai dan sebagaian penduduknya masih kurang memperhatikan kemakmuran hidup. Akibatnya, tingkat kualitas hidup menurun dan kondisi untuk meningkatkan mutu pendidikan mengalami kesulitan. Karena hal ini perpustakaan hadir dikalangan masyarakat yang tinggal di daerah

terpencil, dengan harapan bisa merubah pola pikir dan peningkatan mutu pendidikan. Karena di antara penduduk yang kurang mempunyai minat untuk meningkatkan kualitas pendidikannya, ada pula sebagian masyarakat yang sebenarnya ingin meningkatkan mutu pendidikan. Khususnya bagi mereka yang menduduki sekolah formal di wilayah terpencil. Fasilitas ada namun belum sepenuhnya mendukung. Faktor ini membuat mereka membutuhkan asupan untuk meningkatkan kualitas pendidikan mereka. Dalam permasalahan ini, perpustakaan mengambil peran yang begitu penting. Perpustakaan mampu menjadi akses yang berkualitas dalam mengembangkan pendidikan diluar pendidikan formal. Pendidikan yang berkualitas akan dapat diandalkan dalam persaingan di era globalisasi. Namun, kesadaran pribadi akan hal ini nampaknya sangat kurang, terutama dikalanngan nonakademis. Hingga saat ini kondisi perpustakaan masih sangat dipertanyakan. Di kota besar pun masih banyak perpustakaan yang kondisinya kurang memprihatinkan. Bukan hanya dalam segi fasilitas, namun juga minimnya jumlah pengunjung. Sejauh ini pemerintah telah banyak melakukan upaya untuk membangkitkan dan mengembangkan peran perpustakaan guna merangsang minat baca masyarakat. Menurut Kepala Perpustakaan Nasional usaha itu telah dilakukan melalui penunjukan duta baca maupun sosialisasi kelililing tentang pentingnya budaya membaca hingga di berbagi wilayah. Diharapkan dalam kedepannya pemerintah lebih bisa

menjadikan perpustakaan sebagai wadah yang berkualitas dalam menggali ilmu. Sehingga masyarakat non akademik yang tinggal di daerah terpencil bisa mulai menyadari pentingnya budaya membaca dalam peningkatan kualitas

pendidikan. B. Rumusan Masalah 1. Peran perpustakaan dalam meningkatkan kualitas pendidikan? 2. Peran pemerintah dalam mengembangkan

Referensi

Dokumen terkait

Meningkatkan Minat Baca Masyarakat: Survei pada Perpustakaan Umum Kotamadya Jakarta Selatan.. Berkala Ilmu

Adapun upaya-upaya yang dilakukan KPAD Kabupaten Batu Bara dalam meningkatkan minat baca masyarakat adalah dengan mengadakan perpustakaan keliling, publikasi dan sosialisasi

meningkatkan minat baca masyarakat adalah dengan mengadakan perpustakaan keliling,. publikasi dan sosialisasi minat baca di sekolah-sekolah dan masyarakat

Faktor-faktor yang mempengaruhi rendahnya minat baca masyarakat pada Perpustakaan Desa Insan Kamil di Desa Muara Uwai Kecamatan Bangkinang Kabupaten Kampar

2) Meningkatkan kualitas layanan Perpustakaan guna terwujudnya peningkatan minat baca, dengan program Pengembangan Budaya Baca dan Pembinaan Perpustakaan. Penelaahan Usulan

Salah satu langkah yang dilakukan oleh Perpustakaan Umum Kabupaten Asahan dalam meningkatkan minat baca masyarakat dengan mengaktifkan program dibidang pelayanan

Adapun upaya-upaya yang dilakukan KPAD Kabupaten Batu Bara dalam meningkatkan minat baca masyarakat adalah dengan mengadakan perpustakaan keliling, publikasi dan sosialisasi

Sehingga beberapa upaya yang dilakukan oleh Perpustakaan Daerah Kabupaten Probolinggo dalam Meningkatkan Minat Baca Masyarakat yaitu memberikan sosialisasi kepada masyarakat, Kerja