• Tidak ada hasil yang ditemukan

2 BAB I SYARIAH DAN FIQH Pengertian Syariah

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "2 BAB I SYARIAH DAN FIQH Pengertian Syariah"

Copied!
45
0
0

Teks penuh

(1)

1

FIQH MUAMALAH

oleh

CHANDRA NATADIPURBA

Mata Kuliah ke-2 Kajian Akademik

Islamic Studies of Economics Group (ISEG) Universitas Padjadjaran Bandung

(2)

2 BAB I

SYARIAH DAN FIQH

Pengertian Syariah

Islam dibagi menjadi aqidah (kepercayaan), syariah (aturan) dan akhlak (etika). Ketiganya adalah trilogi yang tidak terpisahkan, sebab jika dimisalkan Islam itu seperti bangunan, maka akidah seperti fondasi, syariah seperti tiang-tiangnya dan akhlak adalah penutup yang memperindah bangunan tersebut. Jadi, Islam bukan hanya menghendaki kekuatan keimanan di dalam hati, namun juga kepatuhan dan ketundukan terhadap aturan-aturannya serta kesesuaian keduanya dengan perilaku (kebiasaan yang nampak secara lahiriah) manusia.

Syara’ berasal dari kata syariat yang secara bahasa (lughawi) adalah “jalan menuju mata air”. Syariah adalah jalan yang ditempuh atau garis yang mesti dilalui. Artinya untuk mencapai “mata air” kita harus mencapainya lewat “jalan”, dengan kaidah analogi (qiyas), hal ini berarti untuk mencapai ridha Allah SWT, kita harus menjalankan syariat Allah SWT.

Walaupun pemahaman ini adalah kesepakatan masyhur ulama-ulama dari zaman ke zaman, tidak semua penafsiran setuju terhadap trilogi ini. Misalnya kelompok-kelompok tarikat-tarikat sufi yang menganggap bahwa jika seseorang sudah mencapai makrifat dengan Tuhannya, maka ia tidak perlu lagi menjalankan syariat. Begitulah, gerakan sufistik ini muncul ketika umat Islam sedang mengalami kekalahan tragis pasca kejatuhan Baghdad yang mengakibatkan sebagian umat muslim mencari “pelarian” kepada gerakan melupakan dunia-fatalistik: sufisme.

Secara terminologis, syariah diartikan menurut Syaikh Mahmud Syalthut sebagai “peraturan dan hukum yang telah digariskan Allah, atau telah digariskan pokok-pokoknya dan dibebankan kepada kaum muslimin supaya mematuhinya, supaya syariah ini diambil oleh orang Islam sebagai penghubung di antaranya dengan Allah dan diantaranya dengan manusia.”

Karakteristik Syariah

(3)

3 1. Syariat berasal dari sisi Allah SWT

Syariat Islam yang diturunkan kepada Rasulullah SAW adalah langsung dari Allah SWT sehingga syariat terbebas dari hawa nafsu karena pembuatnya adalah Allah SWT, Tuhan Alam Semesta yang tidak mempunyai kepentingan terhadap makhluknya.

2. Syariat memiliki kewibawaan dan penghormatan di hati orang mukmin, baik rakyat maupun penguasa.

Syariat Islam sebagai aturan memiliki fondasi akidah yaitu keimanan di dalam hati, sehingga pelaksanaan syariat memang harus didahului oleh penanaman keimanan kepada Allah, Rasul-Nya dan hari akherat, sehingga tanpa ada sanksi dunia sekalipun, syariat tetap akan dilaksanakan akibat ketaatan kepada Allah SWT dan Rasul-Nya serta keyakinan terhadap adanya hari pembalasan.

Gagalnya hukum sekuler yang diterapkan tanpa adanya akidah yang menuntunnya ternyata terbukti di dunia Barat. Misalnya kegagalan undang-undang tentang minuman keras di AS yang diterbitkan tahun 1930. Pada tahun 1933, undang-undang ini ternyata dicabut kembali karena undang-undang-undang-undang ini tidak berpengaruh pada konsumsi minuman keras walaupun sudah menghabiskan banyak biaya.

3. Sanksi dunia dan akherat dalam syariat

Sanksi dunia terbatas sifatnya, karena negara tidak berkuasa untuk urusan akherat, sehingga kedua sanksi ini sesungguhnya saling melengkapi.

4. Syariat berlaku universal dan abadi

(4)

4 Ushul Fiqh

Karena syariah adalah aturan yang diturunkan Allah kepada Rasulullah SAW, maka syariah bersifat sempurna. Sedangkan fiqh adalah tafsiran ulama atas syariah yang pernah berlaku pada zaman Rasulullah SAW, sehingga mungkin sekali timbul perbedaan pada berbagai penafsiran fiqh akibat banyaknya dan beragamnya ulama pada berbagai tempat dan zaman. Walaupun demikian, perbedaan ini tidak muncul pada hal-hal yang pokok, seperti tata cara ibadah shal-halat, melainkan pada hal-hal-hal-hal terperinci saja.

Karena ia adalah tafsiran ulama atas perilaku manusia, maka fiqh berurusan dengan ucapan dan tindakan manusia, yang memang nampak di dalam Islam. Sedangkan niat yang ada di dalam hati berada di luar jangkauan fiqh untuk menilainya.

Dengan demikian, segala ucapan dan perbuatan yang timbul dari manusia maka semua itu mempunyai hukum dalam syariat Islam.1 Implikasi dari hal ini berarti bahwa segala sesuatu yang masih ada dalam pikiran dan perasaaan manusia belum dapat dikenakan aturan-aturan hukum. Hal ini terlihat misalnya dari ayat sebagai berikut:

Ÿ

Dan tidak ada dosa bagi kamu meminang wanita-wanita itu2 dengan sindiran3 atau kamu menyembunyikan (keinginan mengawini mereka) dalam hatimu. (Q.S. Al Baqarah 235)

Definisi Fiqh

Ilmu fiqh adalah pengetahuan tentang hukum-hukum syara’ yang praktis, yang diambil dari dalil-dalilnya secara terinci. Ilmu fiqh adalah kompilasi hukum-hukum syara’ yang bersifat praktis yang diambil dari dalil-dalilnya secara terinci.4

Sedangkan, hukum adalah seluruh peraturan tingkah laku yang ditetapkan pemerintah.5 Cicero, seorang filsuf Yunani, mengartikan hukum dengan cara sebagai berikut

“Hukum yang sesungguhnya adalah akal yang benar yang selalu dengan alam; ia bisa diterapkan dimanapun, tidak berubah dan abadi; ia menuntut kewajiban

1

Abdul Wahhab Khallaf, Ilmu Ushul Fiqh. 1994. Semarang: Dina Utama. h. 1

2

Yang suaminya telah meninggal dan masih dalam 'iddah.

3

Wanita yang boleh dipinang secara sindiran ialah wanita yang dalam 'iddah karena meninggal suaminya, atau karena talak bain, sedang wanita yang dalam 'iddah talak raji'i tidak boleh dipinang walaupun dengan sindiran.

4

Abdul Wahhab Khallaf, ibid.

5

(5)

5

melalui perintah-perintahnya dan mencegah perbuatan yang salah melalui larangan-laranganya. Dan perintah-perintah serta larangan-larangan itu tidaklah akan sia-sia saja jika ditujukan kepada orang baik-baik, sekalipun kepada orang-orang yang sesat ia tidak mempunyai pengaruh. (Bodenheimer, 174: 13 – 14)6

Sejak awal kita sudah menetapkan niat bahwa yang ingin kita ingin raih adalah ridha Allah dengan beribadah kepadaNya. Dan, ibadah itu berupa menerapkan dan menyemai seluruh kehendak-kehendak Allah –yang Ia turunkan dalam bentuk syariat- dalam kehidupan kita sebagai individu, masyarakat dan negara. Maka kerja kita adalah membangun kehidupan berdasarkan desain Allah swt.7

Menurut Imam Syatibi dan Al Ghazali, tujuan syariah (maqashid syariah) adalah memelihara manusia pada agama (dien), jiwa (nafs), akal (aql), keturunan (nasl) dan harta (maal).8 Pada intinya, syariah adalah aturan yang Allah turunkan kepada manusia untuk keselamatan hidup di dunia dan akherat.

Οßγ÷ΨÏΒuρ

Dan di antara mereka ada orang yang berdoa: "Ya Tuhan Kami, berilah Kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah Kami dari siksa neraka"9. (Q.S. Al Baqarah 201)

Perlu dicatat bahwa, syariah tidak diturunkan Allah ke dunia untuk membuat manusia dalam keadaan susah.

Thaahaa10 Kami tidak menurunkan Al Quran ini kepadamu agar kamu menjadi susah; Tetapi sebagai peringatan bagi orang yang takut (kepada Allah), Yaitu diturunkan dari

6

Satjipto Rahardjo, Ilmu Hukum. 2000. Bandung: Citra Aditya Bakti. hlm. 259

7

Anis Matta, Menikmati Demokrasi: Strategi Dakwah Meraih Kemenangan. 2002. Jakarta: Penerbit Pustaka SAKSI, hlm. 7

8

Muhammad Umer Chapra, Relevance and Importance of Islamic Economics, hlm. 105. Disampaikan dalam buku Lessons in Islamic Economic, sebagai proceedings of the seminar pada Teaching of Islamic Economic for University Level in Dhaka, Bangladesh 23 Juli – 5 Agustus 1991, yang dilaksanakan oleh IRTI Islamic Development Bank and Islamic Foundation, Bangladesh. Berbicara mengenai maqasid al-syariah Chapra mengutip pendapat Imam Ghazali bahwa “tujuan dari syariah adalah untuk meningkatkan kesejahteraan dalam hidup manusia yang menjaga agama (dien), jiwa (nafs), akal (aql), keturunan (nasl) dan harta (maal) mereka. Apapun yang menjaga lima hal dasar ini harus disediakan dan menjadi kepentingan publik dan harus diutamakan.” Lihat juga Abu Hamid Al-Ghazali (1937). Vol. I pp. 139 – 140. Leicester, U.K.

9

Inilah doa yang sebaik-baiknya bagi seorang Muslim.

10

(6)

6

Allah yang menciptakan bumi dan langit yang tinggi. (yaitu) Tuhan yang Maha Pemurah. yang bersemayam di atas 'Arsy11. (Q.S. Thaahaa 1 – 5).

Pembagian Islam dan kaitannya dengan muamalah

ISLAM

AKIDAH SYARIAH AKHLAK

IBADAH MUAMALAH

SPECIAL RIGHTS PUBLIC RIGHTS

CRIMINAL LAWS CIVIL LAWS

INTERIOR AFFAIR EXTERIOR AFFAIR

INTERNATIONAL RELATIONS

ADMINISTRATIVE ECONOMY CONSTITUENCY

FINANCE

BANKING

Islam Comprehensive Way of Life, Zarqa: 1959

Fiqh Muamalah

Kata muamalah berasal dari bahasa Arab yang secara etimologi sama dan semakna dengan al-mufa’alah (saling berbuat). Kata ini menggambarkan suatu aktivitas yang dan sebagainya. diantara Ahli-ahli tafsir ada yang menyerahkan pengertiannya kepada Allah karena dipandang Termasuk ayat-ayat mutasyaabihaat, dan ada pula yang menafsirkannya. golongan yang menafsirkannya ada yang memandangnya sebagai nama surat, dan ada pula yang berpendapat bahwa huruf-huruf abjad itu gunanya untuk menarik perhatian Para Pendengar supaya memperhatikan Al Quran itu, dan untuk mengisyaratkan bahwa Al Quran itu diturunkan dari Allah dalam bahasa Arab yang tersusun dari huruf-huruf abjad. kalau mereka tidak percaya bahwa Al Quran diturunkan dari Allah dan hanya buatan Muhammad s.a.w. semata-mata, Maka cobalah mereka buat semacam Al Quran itu.

11

(7)

7

dilakukan oleh seorang dengan seorang atau beberapa orang dalam memenuhi kebutuhan masing-masing. Sedangkan fiqh muamalah didefinisikan sebagai hukum-hukum yang berkaitan dengan tindakan hukum-hukum manusia dalam hal-hal keduniaan.12 Misalnya dalam persoalan jual beli, utang piutang, kerjasama dagang, perserikatan, kerjasama dalam penggarapan tanah, sewa menyewa dan lain sebagainya.

Prinsip Ibadah dan Muamalah

Dalam masalah ibadah, semuanya adalah haram kecuali yang dicontohkan atau diperintahkan oleh Rasulullah. Hal inilah yang dimaksud dengan, “Prinsip dasar dalam bidang ibadah adalah menunggu dalil dan mengikutinya.”13 Sedangkan dalam muamalah, hukum dasarnya adalah boleh sampai ditemukan dalil yang melarangnya. Hal ini didasarkan pada hadits Rasulullah sebagai berikut

“Dari Abi Tsa’labah al-Khutsani berkata dia: Rasullah SAW telah bersabda, “Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla telah memfardhukan beberapa ketentuan, jangan kamu sia-siakan (hilangkan), Dia telah mengharamkan beberapa yang diharamkan jangan kamu langgar, Dia telah menetapkan hudud (batasan-batasan) yang kamu melampauinya, dan dia mendiamkan (tidak menentukan hukum) pada banyak hal bukan (karena) kelupaan, jangan kamu membahasnya (H.R. ad-Daruquthnil).14

Sekalipun demikian, berbagai jenis mumalah yang dilakukan manusia tidak dapat terlepas dari pengabdian kepada Allah sebagai raison d’etre manusia itu sendiri. Oleh karena itu, terdapat beberapa kaidah umum untuk menjaga nilai-nilai syariat Islam dalam perkara muamalah, yaitu

(1) Seluruh tindakan muamalah manusia tidak terlepas dari nilai ketuhanan

(2) Muamalah tidak terlepas juga dari nilai kemanusiaan atas pertimbangan mashlahat pribadi dan mashlahat umum serta persamaan hak dan kewajiban antar sesama manusia

(3) Seluruh yang kotor-kotor adalah haram, baik berupa perbuatan, perkataan seperti penipuan, manipulasi dan eksploitasi dan sebaliknya seluruh yang baik dihalalkan

Kaidah Fiqh Islam

12

Abdullah as-Sattar Fatullah Sa’id, Al-Mu’amlat fi al-Islam, (Mekkah: Rabithah al-Alam al-Islami: Idarah al-Kitab Al Islami, 1402 H), hlm. 12

13

Abdul Hamid, Al Bayan. 1976. Jakarta: Bulan Bintang, hlm. 198 14

(8)

8

Untuk mempermudah pemahaman terhadap fiqh, para ulama telah mengembangkan kaidah-kaidah yang bersifat umum dan dapat digunakan untuk memandu menilai suatu peristiwa-peristiwa khusus. Kaidah-kaidah itu adalah sebagai berikut:

1. Segala perkara tergantung tujuannya.

Kaidah ini didasarkan pada hadits Rasulullah SAW, “Sesungguhnya amal tergantung pada niat, dan bagi setiap orang mendapat apa yang diinginkannya.” (Riyadush Shalihin, Imam Nawawi).

2. Yang teranggap dalam akad adalah tujuan dan makna, bukan lafadzh dan kalimat.

Hukum-hukum dalam akad tidak didasarkan pada lafazh, melainkan didasarkan pada tujuan dan makna hakiki yang dimaksudkan oleh dua orang yang melakukan akad dalam mengucapkan lafazh yang dipergunakan dalam akad, karena tujuan dari sebuah ucapan adalah maknanya.

3. Pada dasarnya ucapan bermakna hakiki.

Bahwa ketentuan yang kuat (rajih) adalah memahami perkataan sesuai maknanya yang hakiki, bukan majazi, kecuali ada halangan untuk memahaminya dengan makna hakiki, sehingga harus dialihkan ke makna majazi.

4. Memberlakukan pembicaraan itu lebih baik daripada mengabaikannya.

Maksudnya adalah tidak boleh mengabaikan pembicaraan dan menganggapnya tanpa makna selama dimungkinkan memahami pembicaraan pada makna hakiki atau majazi. Karena pembicaraan itu pada prinsipnya bermakna hakiki, dan selama tidak ada halangan untuk memahaminya dengan makna hakiki, maka ia tidak boleh dipahami dengan pengertian majazi.

5. Perkataan tidak dinisbantkan kepada orang yang diam, tetapi diam pada saat diperlukan berarti penjelasan.

Maksudnya adalah orang yang diam tidak dianggap berbicara. Namun diam pada saat wajib berbicara berarti pengakuan dan penjelasan.

(9)

9

Ijtihad adalah mempergunakan dan mengerahkan kemampuan untuk mencapai sebuah hukum syar’i dari dalil syar’i. Arti kaidah ini, bahwa ijtihad dilakukan pada masalah-masalah yang tidak dijelaskan oleh nash secara tegas.

7. Keyakinan tidak hilang akibat keraguan.

Makna kaidah ini adalah sesuatu yang diyakini tidak dapat digantikan oleh keraguan yang menghampirinya, melainkan hanya dapat digantikan dengan keyakinan semisalnya.

8. Pada dasarnya bebas tanggungjawab.

Makna kaidah ini adalah pada dasarnya seseorang tidak punya tanggungjawab terhadap orang lain, karena setiap individu dilahirkan dalam keadaan terbebas dari tanggungjawab atas hak orang lain.

9. Bukti wajib bagi penggugat dan sumpah wajib atas orang yang mengingkari. Jika penggugat tidak mampu menetapkan bukti atas kebenaran dakwaannya, dan tergugat mengingkari dakwaannya, maka tergugat dapat bersumpah. Jika tergugat bersumpah, maka ia tidak bertanggungjawab apapun kecuali sumpah itu, dan dakwaan penggugat ditolak karena munculnya kebenaran tergugat.

10. Sesuatu yang haram diambil, haram pula diberikan.

Memberikan sesuatu yang haram kepada orang lain atau mengambilnya sama-sama haram hukumnya, karena yang dituntut syariat adalah menghilangkan perkara munkar, rusak dan haram. Jika seseorang tidak mampu berpartisipasi dalam menghilangkan kerusakan maka paling tidak ia harus menahan diri untuk tidak serta menambah atau membantu terlaksananya kerusakan.

11. Kebijakan menyangkut rakyat terikat dengan kemashlahatan.

(10)

10

Kaidah ini berdasar pada bahwa mudharat merupakan kezhaliman sedangkan kezhaliman diharamkan dalam seluruh syariat. Mudharat yang dilarang adalah mudharat yang secara umum signifikan, meskipun timbul dari perbuatan yang dibolehkan. Pihak yang dirugikan harus merujuk pada keputusan pengadilan untuk penggantian kerugiannya.

13. Mudharat harus dihilangkan.

Tindakan mudharat adalah kezaliman sehingga harus dihilangkan. Caranya adalah mencegahnya dengan sarana yang mungkin dipergunakan untuk mencegahnya.

14. Mudharat yang khusus ditanggung (boleh dilakukan) untuk mencegah mudharat yang umum.

Mudharat umum itu terjadi pada masyarakat luas, sedangkan mudharat yang khusus terjadi pada individu atau kelompok kecil, sehingga mudharat khusus berada di bawah mudharat umum.

15. Mudharat yang lebih berat boleh dihilangkan dengan mudharat yang lebih ringan.

Mudharat boleh dihilangkan dengan mudharat yang lebih ringan, misalnya seseorang yang terancam kematian boleh memakan milik orang lain, selama orang itu tidak terancam kematian juga.

16. Keadaan darurat membolehkan hal yang dilarang.

Darurat merupakan alasan yang karenanya boleh melakukan sesuatu yang dilarang dan melanggar larangan itu. Dharurat merupakan kondisi yang memaksa seseorang melakukan perbuatan yang haram.

17. Hajat menduduki keadaan darurat secara umum dan khusus.

Hajat umum adalah hajat yang tidak khusus pada satu manusia tanpa dirasakan manusia lain, melainkan mencakup seluruh masyarakat.

18. Menolak kerusakan lebih utama daripada menarik manfaat.

(11)

11

mendatangkan mashlahat, karena syariat lebih banyak memperhatikan larangan daripada perintah.

19. Adab kebiasaan bisa dijadikan acuan hukum.

Adat kebiasaan hanya hanya dapat dijadikan hukum jika tidak aturan syar’i yang secara jelas mengaturnya. Adat bisa teranggap jika berlangsung terus menerus dan bersifat dominan.

20. Tidak diingkari adanya perubahan hukum dengan sebab perubahan zaman. Hukum-hukum yang berubah dengan sebab perubahan zaman adalah hukum-hukum yang didasarkan pada urf atau adat, karena dengan berubahnya zaman berubah pula kebutuhan manusia. Berdasarkan perubahan ini, berubah pula urf, dan dengan perubahan urf berubah pula hukum-hukum yang berdasarkan urf itu.

21. Yang teranggap adalah yang dominan dan tersebar luas, bukan yang jarang terjadi.

Maksud yang tersebar luas itu adalah perkara yang sudah diketahui luas oleh masyarakat dan populer di kalangan mereka. Maksud yang jarang adalah yang sedikit terjadi. Hal yang dijadikan sandaran hukum adalah hal yang sering terjadi, bukan hal yang jarang terjadi.

22. Kerugian (risiko) dengan keuntungan.

Maksudnya adalah orang mendapatkan keuntungan sesuatu harus pula menanggung kerugian (risiko)nya.

23. Kejahatan hewan adalah kasus force majeur.

Makasudnya adalah apa yang dirusak oleh binatang atau kerugian yang dialami manusia akibat perbuatan itu dianggap kecelakaan yang kerugiannya tidak ditanggung oleh pemilik binatang, kecuali jika hal tersebut terjadi secara sengaja atau kelalaian pemiliknya. Hal ini karena hewan tak memiliki akal, sehingga tidak dikenai hukum

(12)

12 25. Upah dan jaminan tidak bisa berkumpul.

Maksudnya adalah apa yang wajib diberi jaminan (ganti rugi), maka tidak wajib diberi upah. Karena dalam jaminan ada makna kepemilikan. Orang yang menjamin (membayar ganti rugi) sama dengan pemiliki, sedangkan pemilik tidak harus membayar upah untuk sesuatu yang dimilikinya.

26. Siapa yang terburu-buru mendapatkan sesuatu sebelum waktunya maka dia dihukum dengan tidak memberikannya.

Maknanya adalah bahwa orang yang menggunakan cara-cara atau sarana-sarana yang tidak syar’i karena terburu-buru mencapai tujuannya, maka dia dihalang-halangi dari tujuannya itu sebagai balasan perbuatannya dan sikap terburu-burunya itu.

Periode-Periode Fiqh

1. Masa Nabi

Pada masa Rasulullah SAW masih hidup, fiqh tidak berbeda dengan syariah, karena setiap perbedaan akan dikembalikan kepada Rasulullah SAW, sehingga hukum yang ada bersifat tunggal.

2. Masa Khalifah Rasyidin

Pada masa ini, para sahabat sering bermusyawarah mengenai suatu hukum. Lagipula pada waktu ini banyak sahabat utama yang sering memberi fatwa, yaitu Umar bin Khattab, Ali bin Abi Thalib, Abdullah ibnu Abbas, Abdullah ibnu Mas’ud, Abdullah ibnu Umar, Zaid bin Tsabit dan Aisyah binti Abu Bakar. 3. Masa Daulah Umayyah (tahun 41 H s.d. akhir abad 2 H).

Fiqh pada periode ini mengikuti metode sahabat, karena para tabi’in menerima fiqh dari mereka dan menempuh metode mereka dalam istinbath hukum-hukum. Pada periode ini muncul madrasah ahli hadits yang berpusat di Madinah dan madrasah ahli ra’yu yang berpusat di Iraq. Perkembangan ini disebabkan oleh: (1) meluasnya wilayah fiqh dan banyaknya perbedaan pendapat dalam berbagai masalahnya, (2) tersebarnya periwayatan hadits dan pengaruhnya di bidang fiqh dan lainnya, (3) munculnya berbagai madrasah.

(13)

13

Periode ini adalah puncak kejayaan fiqh. Hasil periode ini sampai sekarang masih menjadi rujukan bagi umat Islam sampai sekarang. Kecemerlangan fiqh ini disebabkan oleh : (1) perhatian para khalifah Abbasiyah terhadap fiqh dan fuqaha, (2) meluasnya negara Islam, (3) lahirnya mujtahid-mujtahid besar yang memiliki kemampuan fiqh yang mendalam. Pada periode ini juga lahir mahzab-mahzab yang diikuti oleh umat Islam di berbagai negara.

5. Abad ke-4 s.d. tahun 656 H.

Pasca kejatuhan Baghdad akibat serangan pasukan Mongol, fiqh semakin mengalami kemunduran yang sangat signifikan. Hal ini disebabkan oleh kehidupan masyarakat yang mengalami penurunan kualitas akibat perang. Penyebab lainnya adalah kecenderungan taklid pada ulama-ulama sebelumnya. Hal yang menjadi latar belakangnya adalah: (1) lemahnya kekuasaan politik para khalifah Abbasiyah, (2) mahzab-mahzab Islam telah dibukukan dengan sempurna, (3) lemahnya kepercayaan diri dan takut melakukan ijtihad.

6. Dari 656 H s.d. sekarang

Pada masa ini ada kerajaan Islam yang kuat bernama Turki Utsmani yang menggunakan hukum Islam sebagai hukum positifnya misalnya dalam kitab undang-undang Majallah Al Ahkam al-Adliyyah, yang diterbitkan pada 26 Sya’ban 1293 H. Sejak kesultanan Turki Utsmani bubar, hukum ini menjadi tidak berlaku lagi.

Namun, hingga hari ini fiqh belum bangkit, karena sebagian besar umat Islam terjebak pada kebodohan, penjajahan dan kejumudan terhadap hukum-hukum Islam. Bahkan, hukum Islam telah secara efektif digantikan dengan hukum sekuler. Penjajahan Barat di tanah umat Islam yang sekarang sudah berakhir, masih menyisakan warisan pemikiran dan hukum yang tidak berlandaskan fiqh Islam.

Mahzab Ahli Fiqh

1. Mahzab Imam Abu Hanifah (ahli ra’yu)

(14)

14

pendalaman perkara dengan menggunakan akal (penalaran). Diantara murid yang terkenal adalah Abu Yusuf, qadi zaman itu, yang menyusun kitab perpajakan dalam Islam, Al Kharaj. Pengikut mahzab ini banyak ditemukan di Irak, Pakistan, Rusia, China dan Mesir.

2. Mahzab Imam Malik bin Anas

Pendiri mahzab ini adalah Imam Malik bin Anas al-Ashbani, lahir 93 H di Madinah dan wafat tahun 179 H. Dikenal sebagai Imam fiqh Madinah, kitabnya yang terkenal adalah Al-Muwatha’ dan Al-Mudawwanah. Pengikut mahzab ini banyak ditemukan di Mesir dan Maroko.

3. Mahzab Imam Syafi’i

Pendiri mahzab ini adalah Imam Abu Abdullah Muhammad bin Idris Asy-Syafii. Ia dilahirkan di Gaza 150 H dan wafat di Mesir 204 H. Beliau belajar di Mekkah dan karena kecerdasannya, diizinkan memberi fatwa pada usia 15 tahun. Ketika tinggal di Irak ia mengeluarkan fatwa yang kemudian dikenal dengan nama qaul qadim, ketika tinggal di Mesir fatwanya dinamakan qaul jadid. Ia menulis kitab Al-Umm dan Ar-Risalah (yang meletakkan dasar-dasar ushul fiqh). Pengikut mahzab ini banyak ditemukan di Indonesia, Mesir, Irak dan Pakistan.

4. Mahzab Ahmad bin Hambal

Pendiri mahzab ini adalah Abu Abdullah bin Ahmad bin Hanbal bin Hilal bin Asad asy-Syaibani, lahir di Baghdad 164 H dan wafat 241 H. Ia menulis kitab Musnad Ibnu Hanbal yang mencakup lebih dari empat puluh ribu hadits. Ia pernah dipaksa Khalifah Al Ma’mun untuk mengatakan bahwa Al Quran adalah makhluk namun ia tidak mau, akibatnya ia dipenjarakan. Pengikut mahzab ini banyak ditemukan di Saudi Arabia, Kuwait, Suriah, Irak dan Emirat Arab. 5. Mahzab Zaid bin Ali

Pendiri mahzab ini adalah Zaid bin Ali Zainal Abidin bin Husain bin Ali bin Abi Thalib, lahir di Madinah 70 H dan mati syahid 122 H. Ia menulis kitab Al Majmu’. Pengikut mahzab ini banyak ditemukan di Yaman.

6. Mahzab Ja’far Ash Shiddiq

(15)

15

tahun. Dalil-dalilnya mencakup Quran, sunnah (Rasul dan Imam Syiah), ijma dan akal. Perbedaannya dengan mahzab Sunni misalnya pada nikah mut’ah (periode tertentu). Pengikut mahzab ini banyak ditemukan di Iran, Irak, India, Pakistan dan Lebanon.

7. Mahzab yang punah: Al-Auzai, Sufyan Ats-Tsauri, Laits bin Sa’d, Daud azh-Zhahiri, Ibnu Jarir ath-Thabari.

Pendirinya masing-masing adalah : (1) Abu Umar Abdurrahman bin Muhammad al Auza’i, lahir di Syam 88 H dan wafat 157 H di Beirut. Menyebar ke Syam dan Andalusia. (2) Abu Abdullah Fusyan bin Said ats-Tsauri al Kufi, lahir di Kufah 97 H dan wafat di Basrah 161 H.

(3) Laits bin Sa’d, lahir di Mesir dan wafat pada tahun 175 H, tidak bertahan menghadapi mahzab Syafi’i yang kuat di Mesir. (4) Abu Sulaiman Daud bin Ali al-Ashfahani, lahir 200 H dan wafat 270 H. Ia tidak menerapkan qiyas dan logika lainnya.

Muridnya yang terkenal adalah Ibnu Hazm al Andalusy, putra seorang menteri yang wafat 456 H), mengarang kitab Al Muhalla dan kitab cinta termashyur Thauqul Hamamah (kalung merpati). (5) Ibnu Jarir ath-Thabari, wafat tahun 310 H yang mengarang Tarikh Thabari (kitab mengenai sejarah) dan Jamiul Bayan Ta’wil Al Quran

(16)

16

DALIL DALAM HUKUM ISLAM

Pentingnya Dalil dalam Hukum Islam

Dalil dalam bahasa Arab adalah yang menunjukkan kepada sesuatu, baik bersifat inderawi ataupun maknawi, baik ataupun buruk. Sedangkan dalil secara terminologis berarti sesuatu yang daripadanya diambil hukum syara’ yang berkenaan dengan perbuatan manusia secara pasti baik dengan jalan pasti (qath’i) atau dengan jalan dugaan kuat (zhanni).15 Dalil menjadi begitu penting dalam Islam salah satunya ditunjukkan oleh ayat berikut ini

È

Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), Maka ketahuilah bahwa Sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan mushibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka. dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik. (Q.S. Al Maidah 49)

Dalil menjadi penting bagi muamalah karena apabila seseorang berpendapat wajiblah ia mendatangkan dalil bagi pendapat itu. Ada 11 jenis dalil yang dikenal dalam Islam, yaitu:

(17)

17 (6) Maslahih Mursalah

(7) ‘Urf (8) Istishab

(9) Syariat Orang Sebelum Kita (10) Mazhab Shahabat

(11) Saaudz Dzarra

Para ulama bersepakat bahwa diantara 11 dalil diatas, empat dalil pertama tidak diragukan lagi untuk menjadi dasar hujjah dalam hukum Islam, sementara tujuh yang lain tidak semua ulama menerima sebagai dasar hukum dalam Islam.

Sumber dalil-dalil itu adalah: (1) Al Quran

Al Quran adalah kalam Allah yang diturunkan oleh-Nya melalui perantaraan malaikat Jibril ke dalam hati Rasulullah Muhammad bin ‘Abdullah dengan lafadz bahasa Arab dan makna-maknanya yang benar, untuk menjadi hujjah bagi Rasul atas pengakuannya sebagai Rasulullah, menjadi undang-undang bagi manusia yang mengikuti petunjuknya, dan menjadi qurbah di mana mereka beribadah dengan membacanya. Al Quran juga adalah yang dihimpun antara tepian lembar mushaf yang dimulai dengan surat Al Fatihah dan ditutup dengan surat An Nas, yang diriwayatkan kepada kita secara mutawatir, baik secara tulisan maupun lisan, dari generasi ke generasi, dan tetap terpelihara dari perubahan dan penggantian apapun.

$¯ΡÎ)

Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya16 (Q.S. Al Hijr 9)

Al Quran menjadi hujjah bagi hukum dikarenakan:

(1) Ketidakmampuan manusia untuk membuat Al Quran (I’jaz)

(2) Keharmonisan struktur redaksinya, maknanya, hukum-hukumnya dan teori-teorinya

(3) Persesuaian Al Quran dengan teori-teori ilmiah (Q.S. Yasiin 39, Q.S. Yunus 5)

(4) Berita-berita Gaib Al Quran

(5) Kefasihan lafazh Al Quran, kepetahan redaksinya dan kuatnya pengaruhnya

16

(18)

18

Hukum yang dikandung oleh Al Quran mencakup pada tiga hal (1) Hukum I’tiqadiyah (Akidah)

(2) Hukum Amaliyah (Syariah) (3) Hukum Moralitas (Akhlak)

Hukum amaliyah terdiri dari dua macam:

(1) Hukum-hukum ibadah: shalat, puasa, zakat, nadzar, sumpah dan ibadah-ibadah lainnya yang dimaksudkan untuk mengatur hubungan manusia dengan Tuhannya

(2) Hukum-hukum muamalah: akad, pembelanjaan, hukuman, pidana dan hubungan lainnya yang bukan ibadah dan yang dimaksudkan untuk mengatur hubungan antara sesama mukallaf, baik sebagai individu, bangsa atau kelompok.

Hukum muamalat ini dibagi menjadi: (1) Hukum-hukum keluarga (70 ayat) (2) Hukum-hukum perdata (70 ayat) (3) Hukum-hukum pidana (30 ayat) (4) Hukum-hukum acara (13 ayat)

(5) Hukum-hukum perundang-undangan (10 ayat) (6) Hukum-hukum tata negara (25 ayat)

(7) Hukum-hukum ekonomi dan keuangan (10 ayat)

Namun demikian, menurut Ali Syariati ayat-ayat Al Quran yang mengatur tentang hukum jumlahnya tidak lebih dari 14% saja.

(2) As Sunah

As Sunah adalah sesuatu yang datang dari Rasulullah, baik berupa perkataan, perbuatan ataupun pengakuan (taqrir). Sunah qauliyah ialah hadits-hadits Rasulullah yang beliau katakan dalam berbagai tujuan dan konteks. Selain ada sunah qauliyah ada juga sunah fi’liyah dan sunah taqririyyah. Dalilnya adalah sebagai berikut:

(19)

19

Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. kemudian jika kamu berlainan Pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (Q.S. An Nisa 59)

Adapun hubungan As-Sunnah dengan Al Quran dari segi hukum yang telah datang di dalamnya, maka sebenarnya sunnah tidak melampaui salah satu dari tiga hal:

(1) Ada kalanya As Sunnah itu menetapkan atau mengukuhkan hukum yang telah ada dalam Quran

(2) Ada kalanya As Sunnah itu memerinci dan menafsirkan terhadap sesuatu yang datang dalam Al Quran secara global, membatasi hal-hal yang ada di dalam Quran secara mutlak, dan mentakhsish sesuatu yang datang di dalamnya secara umum.

(3) Ada kalanya sunnah itu menetapkan dan membentuk hukum yang tidak terdapat di dalam Quran. Hukum ini ditetapkan berdasarkan sunnah dan nash Al Quran tidak menunjukinya.

Pembagian As-Sunnah berdasarkan sanad-nya: (1) Sunnah Mutawatirah

Sunnah mutawatirah adalah sunnah yang diriwayatkan dari Rasulullah saw oleh sekumpulan perawi yang menurut kebiasaannya, individu-individu itu tidak mungkin sepakat untuk berbohong, disebabkan jumlah mereka yang banyak, sikap amanah mereka, dan berlainannya orientasi dan lingkungan mereka, kemudian dari kelompok perawi ini, sejumlah perawi yang sepadan dengannya meriwayatkan sunnah itu, sehingga sunnah itu sampai kepada kita dengan sanad masing-masing tingkatan dari para perawinnya yang merupakan sekumpulan orang yang tidak mungkin mengadakan kesepakatan untuk berdusta, mulai dari penerimaan sunnah itu dari Rasul sampai datang kepada kita.

Contoh:

(20)

20 “Islam bersendikan lima perkara…”

(2) Sunnah Masyhurah

Sunnah Masyhurah adalah sunnah yang diriwayatkan dari Rasulullah saw oleh seorang atau dua orang atau tiga orang sahabatnya yang tidak mencapai jumlah tawatur (perawi hadits mutawatir).

(3) Sunnah Ahad

Sunnah Ahad adalah sunnah yang diriwayatkan dari Rasulullah saw oleh perseorangan yang tidak mencapai jumlah kemutawatiran.

(3) Ijma’

Ijma menurut istilah adalah kesepakatan seluruh para mujtahid di kalangan ummat Islam pada suatu masa setelah Rasulullah saw wafat atas hukum syara’ mengenai suatu kejadian.

Rukun ijtihad adalah:

1) Adanya sejumlah mujtahid pada suatu peristiwa

2) Adanya kesepakatan seluruh mujtahid di kalangan umat Islam terhadap hukum syara’ mengenai suatu kasus/peristiwa pada waktu terjadinya tanpa memandang negeri mereka, kebangsaan mereka, ataupun kelompok mereka.

3) Kesepakatan mereka mereka adalah dengan mengemukakan pendapat mereka masing-masing orang dari para mujtahid itu tentang pendapatnya yang jelas mengenai suatu peristiwa

4) Bahwa kesepakatan dari seluruh mujtahid atas suatu hukum itu terealisasi.

Kehujjahan ijma adalah dalil sebagai berikut:

#sŒÎ)uρ

(21)

21

kepada Rasul dan ulil Amri17 di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan ulil Amri)18. kalau tidaklah karena karunia dan rahmat Allah kepada kamu, tentulah kamu mengikut syaitan, kecuali sebahagian kecil saja (di antaramu). (Q.S. An Nisa 83)

Macam-macam Ijma’ ditinjau dari segi menghasilkannya, maka ia ada dua macam:

Pertama, ijma’ sharih. Kesepakatan para mujtahid suatu masa atas hukum suatu kasus, dengan cara masing-masing dari mereka mengemukakan pendapatnya secara jelas melalui fatwa atau putusan hukum.

Kedua, ijma’ sukuti. Sebagian dari mujtahid suatu masa mengemukakan pendapat mereka dengan jelas mengenai suatu kasus, baik melalui fatwa atau suatu putusan hukum, dan sisa dari mereka tidak memberikan tanggapan terhadap pendapat tersebut, baik merupakan persetujuan terhadap pendapat yang telah dikemukakan atau menentang pendapat itu.

(4) Qiyas

Qiyas adalah mempersamakan suatu kasus yang tidak ada nashnya hukumnya dengan suatu kasus yang ada nash hukumnya, dalam hukum yang ada nashnya, karena persamaan kedua itu dalam illat hukumnya.

Contoh:

(1) Jual beli (Q.S. Al Jumuat 9) dianalogikan dengan “kesibukan yang melalaikan terhadap shalat”

(2) Meminum khamar (Q.S. Al Maidah 90) dianalogikan dengan “memabukkan”

(3) Kertas yang dibubuhi cap jempol mempunyai hujjah yang serupa kertas yang dibubuhi tanda tangan

Rukun qiyas adalah:

(1) Al-ashlu, sesuatu yang ada nash hukumnya (2) Al-far’u, sesuatu yang tidak ada nash hukumnya

17

Tokoh-tokoh sahabat dan para cendekiawan di antara mereka.

18

(22)

22

(3) Hukum ashl, hukum syara’ yang ada nashnya pada al-ashl (pokok)nya dan ia dimaksudkan untuk menjadi hukum pada al-far’u (cabangnya).

(4) Bahwa kesepakatan dari seluruh mujtahid atas suatu hukum itu terealisasi.

Kehujjahan qiyas adalah dalil sebagai berikut:

ô

Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al Quran itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman. (Q.S. Yusuf 111)

(5) Istihsan

Istishan adalah menganggap sesuatu itu baik. Secara terminologi, arti istishan adalah berpalingnya seorang mujtahid dari tuntutan qiyas yang jali (nyata) kepada tuntuta qiyas yang khafiy (samar), atau dari hukum kulli (umum) kepada hkum istisnainy (pengecualian) ada dalil yang menyebabkan dia mencela akalnya dan memenangkan perpalingan ini.

Jenis istishan:

(1) pentarjihan qiyas khafi (yang tersembunyi) atas qiyas jali (nyata) karena suatu dalil

(2) pengecualian kasuistis (juz’iyyah) dari suatu hukum kulli (umum) dengan adanya suatu dalil

Contoh:

(1) Wakaf tanah pertanian (2) Sumpah pada jual beli

(23)

23

ketahui dari tujuan syar’I secara keseluruhan pada berbagai contoh hal yang diajukan, sebagaimana beberapa hal yang menuntut qiyas, hanya saja hal itu akan membawa kepada hilangnya kemashlahatannya dari suatu segi atau dari segi lainnya ia bisa mendatangkan kerusakan.” Di antara Imam yang menolak istishan adalah Imam Syafii.

(6) Mashlahah Mursalah

Mashlahah Mursalah adalah suatu kemaslahatan dimana syar’i tidak mensyariatkan suatu hukum untuk merealisasi kemashlahatan itu, tidak ada dalil yang menunjukkan atas pengakuan atau pembatalannya. Syarat mashlahah mursalah adalah (1) suatu kemashlahatan yang hakiki, (2) kemashlahatan umum dan (3) berdasarkan kemashlahatan ini tidak bertentangan dengan hukum atau prinsip yang telah berdasarkan nash atau ijma’.

Contohnya adalah pembukuan Quran yang dilakukan pada masa khilafaturrasyidin.

(7) ‘Urf

‘Urf adalah sesuatu yang telah dikenal oleh orang banyak dan telah menjadi tradisi mereka, baik berupa perkataan, perbuatan atau keadaan meninggalkan. Ia juga disebut: adat. Urf yang shahih ialah sesuatu yang saling dikenal oleh manusia dan tidak bertentangan dengan dalil syara’, tidak menghalalkan sesuatu yang haram dan tidak pula membatalkan sesuatu yang wajib. Urf yang fasid adalah sesuatu yang sudah menjadi tradisi manusia, akan tetapi tradisi itu bertentangan dengan syara’, atau menghalalkan sesuatu yang diharamkan, atau membatalkan sesuatu yang wajib. Contoh ‘urf yang baik adalah memberikan garansi pada penjualan alat rumah tangga. Contoh urf yang fasid misalnya tahlilan 1000 hari yang dianggap sebagai ritual ibadah.

(8) Istishhab

Istishhab adalah menetapkan hukum atas sesuatu berdasarkan keadaanya sebelumnya, sehingga ada dalil yang menunjukkan atas perubahan keadaan tersebut. Ia juga berarti menetapkan hukum yang telah tetap pada masa yang lalu dan masih tetap pada keadaannya itu sehingga ada dalil yang menunjukkan atas perbuatannya.

(24)

24

Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. dan Dia Maha mengetahui segala sesuatu.

(9) Syariat Orang Sebelum Kita

Jika ada suatu hukum yang disyariatkan kepada kaum sebelum kita dan hukum itu tidak dihapus dalam Al Quran, maka syariat itu berlaku pula untuk kita. Misalnya Q.S. Al Baqarah 183

$y㕃r'¯≈tƒ

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.

(10) Mazhab Sahabat

Para sahabat memiliki perilaku yang berbeda dalam menyikapi sunah Rasulullah saw. Misalnya dua ayah-anak yang berada pada dua kutub ekstrem antara mengikuti secara mutlak dan mengikuti selektif (sesuai dengan perilaku Rasul sebagai nabi saja yang diikuti) yaitu Abdullah Ibnu Umar dan Umar bin Khattab. Sebagai kaum muslimin, kita wajib mengikuti sunah Rasulullah yang bersifat esensial (asasiyah) dan bertolerensi pada perkara yang percabangan (khilafiyah).

(11) Sadd adz-Dzara’i

Dzara’i berarti sarana-sarana. Jika sarana itu membawa kepada haram atau kerusakan, maka sarana itu haram hukumnya.

Penutup

(25)

25

ÉΟó¡Î0

«

!

$

#

Ç⎯≈

u

Η÷q§9

$

#

ÉΟŠÏm§9

$

#

BAB III

HALAL DAN HARAM DALAM ISLAM

ß

‰ƒÌãƒ

ª

!$#

βr&

y

#Ïesƒä†

ö

Νä3Ψtã

4

t

,Î=äzuρ

ß

⎯≈|¡ΡM}$# $Z‹Ïè|Ê

Allah hendak memberikan keringanan kepadamu19, dan manusia dijadikan bersifat lemah. (Q.S. An Nisa 28).

Cakrawala halal dan haram dalam Islam:

Ketika Rasulullah mengutus Muadz bin Jabal ke Yaman, Rasulullah bertanya, “Bagaimana kamu memutuskan suatu hukum ketika kamu diminta untuk menentukan suatu keputusan? Muadz menjawab, “Aku akan memutuskan dengan kitab Allah (Al Quran). Rasulullah bertanya lagi, “Jika kamu tidak menemukan dalam kitab Allah? Muadz menjawab, “Dengan sunnah Rasulullah.” Rasulullah bertanya lagi, “Jika kamu tidak menemukan di dalam sunnah Rasul-Nya?” Muadz menjawab, “Aku akan melakukan ijtihad dan aku tidak akan menyempitkan ijtihadku.”

Definisi

Halal adalah sesuatu yang dengannya terurailah tali yang membahayakan, dan Allah memperbolehkan untuk dikerjakan. Haram adalah sesuatu yang Allah melarang untuk dilakukan dengan tegas. Setiap orang yang menentangnya akan berhadapan dengan siksaan Allah di akherat. Bahkan ia terancam juga sangsi di dunia. Makruh adalah Allah melarang sesuatu namun larangan itu tidak keras. Inilah yang dinamakan dibenci. Ia lebih rendah dari haram dalam peringkat hukumnya dan pelakunya tidak dikenai sangsi

19

(26)

26

hukum haram. Namun orang yang mempermudah dan mengabaikannya, cenderung terjerumus ke dalam keharaman.20

Prinsip Halal dan Haram

Tidak memungkinkan semua hal yang terjadi di dunia ini sudah tersedia hukumnya secara jelas di dalam hukum-hukum Islam. Oleh karena itu kita membutuhkan prinsip-prinsip yang dengannya akan mudah bagi kita memutuskan hal-hal mendasar (asasiyah) dan hal-hal percabangan (furu’iyah) dalam hukum Islam. Sebelas prinsip dibawah ini dikompilasi oleh Yusuf Qardhawi sebagai ijtihad beliau atas berbagai permasalahan dalam hukum Islam.

(1) Pada dasarnya semua hal itu diperbolehkan

Dalam Islam, pada dasarnya semua hal dan manfaat yang Allah ciptakan adalah untuk kepentingan manusia. Oleh karena itu, semuanya diperbolehkan. Tidak ada yang haram kecuali apa yang Allah larang dalam nash21 secara logis dan ekplisit. Jika nash tidak logis, misalnya dalam hadits dhaif (lemah) atau tidak jelas dalam menyatakan larangan, maka yang berlaku adalah prinsip pembolehan.

Dasar prinsip ini adalah sebagai berikut:

ó

Tidakkah kamu perhatikan sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk (kepentingan)mu apa yang di langit dan apa yang di bumi dan menyempurnakan untukmu nikmat-Nya lahir dan batin. dan di antara manusia ada yang membantah tentang (keesaan) Allah tanpa ilmu pengetahuan atau petunjuk dan tanpa kitab yang memberi penerangan. (Q.S. Luqman 20)

Yang halal adalah apa yang Allah halalkan dalam kitab-Nya dan yang haram adalah apa yang Allah larang. Dan termasuk apabila Dia diam berarti dibolehkan sebagai bentuk kasih sayang-Nya. (H.R. Tirmidzi dan Ibnu Majah).

(2) Menghalalkan dan mengharamkan sesuatu hanyalah milik Allah

20

Yusuf Qaradhawi, Halal dan Haram. 2007. Bandung: Penerbit Jabal

21

(27)

27

Prinsip Islam yang mencakup halal dan haram yang kedua adalah Islam membatasi kewenangan untuk memutuskan haram dan halal. Islam mencabut hak itu dari tangan manusia tanpa memandang status manusia tersebut. Islam menetapkan hanya pada Allah saja.

Dasar dari prinsip ini adalah sebagai berikut:

(

Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai Tuhan selain Allah22dan (juga mereka mempertuhankan) Al masih putera Maryam, Padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan yang Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan. (Q.S. At Taubah 31)

Adi bin Hatim, yang beragama Kristen sebelum masuk Islam, sekali waktu datang kepada Rasulullah. Saat dia mendengar Rasulullah membacakan ayat di atas, dia berkata, “Wahai Rasulullah, tetapi mereka tidak menyembahnya.” Nabi menjawab, “Ya, tapi mereka melarang apa yang dihalalkan dan menghalalkan yang haram, kemudian orang-orang yang menaati mereka. Sungguh, ini termasuk bentuk penyembahan kepada mereka.” (H.R. Tirmidzi dan yang lainnya mengatakan hadits ini hasan).

Dalam ayat Al Quran yang lain, Allah berfirman

Ÿ

Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta "Ini halal dan ini haram", untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung. (Q.S. An Nahl (16): 116)

22

Maksudnya adalah mereka mematuhi ajaran-ajaran orang-orang alim dan rahib-rahib mereka dengan membabibuta, biarpun orang-orang alim itu menyuruh membuat maksiat atau mengharamkan yang halal.

(28)

28

(3) Mengharamkan yang halal dan menghalalkan yang haram sama dengan perbuatan syirik

Islam mengecam orang yang menyatakan mana yang halal dan mana yang haram atas dasar kewenangannya sendiri. Islam cenderung mengecam orang yang mengharamkan sesuatu karena hal itu dapat menyebabkan kesulitan dan penderitaan bagi manusia. Tidak dapat dibenarkan jika kita mempersempit apa yang Allah lapangkan untuk makhluk-Nya. Rasulullah melwan orang yang terlalu fanatik dalam beragama dengan bersabda,

“Orang fanatik akan binasa.” Beliau mengulangnya sebanyak tiga kali. (H.R. Muslim, Ahmad dan Abu Dawud). Menyangkut ajarannya Rasulullah mengatakan, “Aku diutus dengan jalan yang lurus dan mudah.” (H.R. Ahmad).

Dasar dari prinsip ini dalam Al Quran adalah

$pκš‰r'¯≈tƒ Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu haramkan apa-apa yang baik yang telah Allah halalkan bagi kamu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang Allah telah rezekikan kepadamu, dan bertakwalah kepada Allah yang kamu beriman kepada-Nya. (Q.S. Al Maidah 87-88)

(4) Larangan atas sesuatu dikarenakan keburukan dan bahayanya

(29)

29

Dan kepada orang-orang Yahudi, Kami haramkan segala binatang yang berkuku23 dan dari sapi dan domba, Kami haramkan atas mereka lemak dari kedua binatang itu, selain lemak yang melekat di punggung keduanya atau yang di perut besar dan usus atau yang bercampur dengan tulang. Demikianlah Kami hukum mereka disebabkan kedurhakaan mereka; dan sesungguhnya Kami adalah Maha Benar. (Q.S. Al An’am 146)

Jika sesuatu benar-benar berbahaya, maka hukumnya haram. Sebaliknya jika sesuatu benar-benar bermanfaat, maka hukumnya halal. Jika bahayanya lebih besar dari manfaatnya, maka hukumnya haram. Jika manfaatnya lebih besar daripada bahayanya, maka hukumnya halal. Prinsip ini dijelaskan dalam Al Quran berkaitan dengan masalah anggur dan judi. Maka, jika ditanya ‘apa yang halal dalam Islam?’ Jawabannya adalah hal yang baik. Apakah definisi hal baik itu? Hal baik adalah apa-apa yang diakui orang berilmu sebagai hal yang bermanfaat (menyehatkan) dan disepakati oleh manusia pada umumnya, terlepas dari kebiasaan kelompok tertentu. Allah SWT berfirman

y

Mereka menanyakan kepadamu: "Apakah yang dihalalkan bagi mereka?". Katakanlah: "Dihalalkan bagimu yang baik-baik dan (buruan yang ditangkap) oleh binatang buas yang telah kamu ajar dengan melatihnya untuk berburu; kamu mengajarnya menurut apa yang telah diajarkan Allah kepadamu24. Maka

23

Yang dimaksud dnegan binatang berkuku di sini ialah binatang-binatang yang jari-jarinya tidak terpisah antara satu dengan yang lain, seperti: unta, itik, angsa dan lain-lain. Sebagian ahli tafsir mengartikan dengan hewan yang berkuku satu seperti kuda, keledai dan lain-lain.

24

(30)

30

makanlah dari apa yang ditangkapnya untukmu25, dan sebutlah nama Allah atas binatang buas itu (waktu melepaskannya)26. dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah amat cepat hisab-Nya. (Q.S. Al Maidah 4)

Seiring berkembangnya ilmu pengetahuan manusia dan adanya penemuan-penemuan baru, hikmah pengharaman dan penghalalan semakin terbuka bagi manusia, misalnya seperti daging babi mengandung cacing pita yang membahayakan manusia.

(5) Yang halal mencukupi kebutuhan manusia, yang haram tidak berguna Allah melarang untuk mengerjakan sesuatu yang tidak berguna dan memberikan pengganti yang lebih baik. “Allah melarang riba tapi membolehkan perdagangan yang menguntungkan. Dia melarang laki-laki memakai sutra tapi memberi pilihan jenis kain lain seperti wool, linen, dan kapas. Dia melarang perzinahan dan homoseksual tapi menganjurkan pernikahan. Dia melarang minuman yang memabukkan agar orang-orang menikmati minuman yang menyehatkan badan dan pikiran. Dia melarang makanan yang tidak sehat tapi menyediakan banyak makanan sehat lainnya.” (Ibnu Qayyim Al Jauziyah, Rawdah Al Muhibbin, hlm. 10 dan Al Muwaaqin, vol. 2, hlm. 111). Dalil dari prinsip kelima ini adalah

ß

Allah hendak menerangkan (hukum syari'at-Nya) kepadamu, dan menunjukimu kepada jalan-jalan orang yang sebelum kamu (para Nabi dan shalihin) dan (hendak) menerima taubatmu. dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana. (Q.S. An Nisa 26)

(6) Apapun yang menyebabkan kepada yang haram, termasuk haram

Islam menutup semua jalan yang mengantarkan kepada yang haram. Contohnya, menyangkut minuman keras, Rasulullah melaknat tidak hanya melaknat orang yang membuatnya, tapi juga orang yang menyajikannya, yang memesannya, dan yang mendapat bayaran darinya. Bisa dilihat dalam juga Al Quran melarang zina dengan cara melarang mendekatinya, apalagi melakukannya.

25

Yaitu buruan yang ditangkap binatang buas semata-mata untukmu dan tidak dimakan sedikitpun oleh binatang itu

26

(31)

31

Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. dan suatu jalan yang buruk.

(7) Menyiasati yang haram, hukumnya haram

Islam melarang menyiasati suatu hukum dengan cara yang bertele-tele maupun dengan cara yang halus sehingga manusia dapat menjalankan hal yang haram dengan suatu cara sehingga perbuatan itu seolah ‘halal’. Contoh dari hal ini adalah larangan Allah atas bangsa Yahudi untuk berburu pada hari Sabtu (sabbath).

Sesungguhnya diwajibkan (menghormati)27 hari Sabtu atas orang-orang (Yahudi) yang berselisih padanya dan sesungguhnya Tuhanmu benar-benar akan memberi putusan di antara mereka di hari kiamat terhadap apa yang telah mereka perselisihkan itu. (Q.S. An Nahl 124)

Agar terlepas dari larangan ini mereka menggali parit pada hari Jumat agar ikan-ikan berjatuhan ke dalam parit itu pada hari Sabtu dan mereka menangkapinya hari Minggu.

Menyebut sesuatu yang haram dengan nama lain agar halal tidak dibenarkan. Sehingga, walaupun riba berganti nama menjadi interest (Amerika Serikat), usury (Inggris) dan bunga (Indonesia) dia tetap haram.28

(7) Niat baik tidak dapat membatalkan yang haram

Dalam Islam, yang dinamakan ibadah harus dilakukan dengan dua rukun: (1) niat yang benar dan (2) cara yang benar. Maksudnya niat yang benar adalah

27

Menghormati hari Sabtu ialah dengan memperbanyak ibadat dan amalan-amalan yang saleh serta meninggalkan pekerjaan sehari-hari.

28

(32)

32

demi untuk Allah semata. Sedangkan cara yang benar adalah mencontoh sunah Rasulullah. Dasarnya adalah sabda Rasulullah, “Amalan itu tergantung niatnya.” (H.R. Bukhari). Sedangkan, cara yang benar adalah cara Rasulullah seperti dalam hadits Rasulullah yang lain, “Shalatlah kalian sebagaimana aku shalat.” Karena hidup ini adalah ibadah berdasarkan dalil

$tΒuρ

Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. (Q.S. Adz Dzariyat 56)

maka tidak mungkin kita mengaku berbuat baik dengan cara yang salah. Dengan demikian pula, maka perilaku Robin Hood sama sekali tidak bisa dibenarkan dalam Islam. Hal ini bersesuaian dengan dalil Al Quran yang mengatakan

$pκš‰r'¯≈tƒ

Hai rasul-rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal yang saleh. Sesungguhnya aku Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Q.S. Al Mu’minun 51)

(9) Hal yang meragukan harus dijauhi

Sesungguhnya hal yang haram sudah jelas dan hal-hal yang halal sudah jelas, namun di antara keduanya ada hal yang meragukan (syubhat). Bagaimana sikap seorang muslim dengan hal-hal yang syubhat? Jawabannya adalah sebagai berikut

“Dari Abu Abdillah, Nu’man bin Basyir radhiyallahu’anhuma, beliau berkata: “Saya mendengar Rasulullah Shallallahu’alayhi wasallam bersabda, ‘Sesungguhnya perkara yang halal itu sudah jelas, dan perkara yang haram juga sudah jelas. Dan di antara keduanya ada perkara-perkara yang samar (syubhat), yang tidak diketahui oleh kebanyakan manusia. Maka siapa yang menjaga diri dari perkara syubhat tersebut, maka sesungguhnya dia telah membersihkan dien (agama) dan kehormatannya. Dan siapa yang terjatuh ke dalam perkara tersebut, maka dia telah terjatuh ke dalam perkara yang haram. Seperti penggembala yang menggembala ternaknya di sekitar hima (tanah khusus yang tidak boleh dimasuki siapapun—ed.), dikhawatirkan dia akan terjatuh ke dalamnya. Ketahuilah bahwa setiap raja itu mempunyai hima, dan ketahuilah bahwa hima Allah (batas-batas yang telah ditetapkan-Nya—ed)

(33)

33

adalah apa-apa yang diharamkan-Nya. Ketahuilah sesungguhnya di dalam tubuh manusia itu ada segumpal daging yang apabila ia baik, maka baiklah seluruh tubuhnya, dan jika daging itu rusak, maka rusak pula seluruh tubuh tersebut. Ketahuilah bahwa itu adalah qalb (jantung hati).”29

(10) Hal yang haram dilarang bagi semua manusia tanpa kecuali

Di dalam Islam tidak ada perkecualian dalam hukum, apakah ia kaum muslimin atau bukan, Arab atau ajam, keluarga Rasulullah atau bukan dan sebagainya. Karena pada hakekatnya Islam adalah agama peradaban semua manusia dan semua zaman yang syariatnya berlaku universal dan total.

!

Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam. (Q.S. Al Anbiya 107)

Hal ini berbeda dengan agama Yahudi yang telah diselewengkan oleh kaum Yahudi sendiri. Contohnya adalah orang Yahudi mengharamkan riba hanya jika hal itu diterapkan pada sesama Yahudi sendiri. Islam menuntut kita berlaku adil tanpa pandang bulu.

(34)

34

Sesungguhnya Kami telah menurunkan kitab kepadamu dengan membawa kebenaran, supaya kamu mengadili antara manusia dengan apa yang telah Allah wahyukan kepadamu, dan janganlah kamu menjadi penantang (orang yang tidak bersalah), karena (membela) orang-orang yang khianat30, Dan mohonlah ampun kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan janganlah kamu berdebat (untuk membela) orang-orang yang mengkhianati dirinya. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang selalu berkhianat lagi bergelimang dosa, Mereka bersembunyi dari manusia, tetapi mereka tidak bersembunyi dari Allah, Padahal Allah beserta mereka, ketika pada suatu malam mereka menetapkan keputusan rahasia yang Allah tidak redlai. dan adalah Allah Maha meliputi (ilmu-Nya) terhadap apa yang mereka kerjakan. Beginilah kamu, kamu sekalian adalah orang-orang yang berdebat untuk (membela) mereka dalam kehidupan dunia ini. Maka siapakah yang akan mendebat Allah untuk (membela) mereka pada hari kiamat? Atau siapakah yang menjadi pelindung mereka (terhadap siksa Allah)? (Q.S. An Nisa 105 – 109)

(11) Hal yang haram diperbolehkan dalam keadaan darurat

Darurat dalam hal ini adalah apabila hal itu tidak dilakukan maka ia akan membahayakan jiwa. Sedangkan kuantitas yang diperbolehkan ditentukan oleh besarnya kepentingan dan memiliki syarat tidak menginginkannya serta tidak juga melampaui batas kebutuhannya. Dalil dari prinsip ini adalah

$yϑ¯ΡÎ)

(35)

35

Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah.31 tetapi Barangsiapa dalam Keadaan terpaksa (memakannya) sedang Dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, Maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Q.S. Al Baqarah 173)

Penutup

Sesungguhnya hukum-hukum dalam Islam sangat masih banyak sekali, namun sebelas prinsip ini memudahkan kita untuk memahami kaidah-kaidah pokok halal dan haram, persis seperti yang Nicholas Gregory Mankiw menyederhanakan ilmu ekonomi Barat dengan “Sepuluh Prinsip Ekonomi”nya yang terkenal itu.32

31

Haram juga menurut ayat ini daging yang berasal dari sembelihan yang menyebut nama Allah tetapi disebut pula nama selain Allah.

32

(36)

36

ÉΟó¡Î0

«

!

$

#

Ç⎯≈

u

Η÷q§9

$

#

ÉΟŠÏm§9

$

#

BAB IV TEORI AKAD

Sistem Kepemilikan

Harta adalah sesuatu yang disukai secara alami dan dapat disimpan untuk dipergunakan saat dibutuhkan. Harta adalah sesuatu yang bisa dimiliki dan dimanfaatkan menurut lazimnya.

Kepemilikan adalah kewenangan memanfaatkan harta secara pribadi. Macam kepemilikan terbagi menjadi: (1) Kepemilikan Sempurna, melalui istila’ (penguasaan harta tak bertuan), akad pengalihan (jual beli dan warisan). (2) Kepemilikan Tidak sempurna, yaitu sewa (kepemilikan manfaat) pinjam (manfaat secara temporer), wakaf dan wasiat dan menggunakan kepentingan umum. Istila’ (harta tak bertuan) dapat dilakukan dengan: (1) perburuan, (2) penguasaan atas rerumputan atau

Pengalihan dapat dilakukan dengan: (1) jual beli, (2) hibah, (3) wasiat dengan benda. Waris adalah peralihan secara paksa berdasarkan hukum syariat yang tidak ada campur tangan manusia dari mayit kepada ahlinya. Syuf’ah adalah hak untuk memiliki harta tak bergerak yang terjual, dari pembelinya meskipun secara paksa dengan harga pembeliannya ditambah biaya transaksi.

Cara untuk memindahkan kepemilikan adalah dengan akad. Pengertian Akad

‘Aqd dari segi bahasa berarti mengikat dan menyimpul. Akad adalah mengikatkan dua ucapan atau menggantikan kedudukannya yang darinya timbul konsekuensi syar’i. Dua ucapan itu adalah ijab dan qabul. Tasharruf adalah setiap hal yang keluar dari individu berdasarkan kehendaknya.

Ijab dan Qabul

(37)

37 Jenis-jenis ijab qabul adalah:

1. Ijab qabul bil lisan, yaitu timbang terima (sighat) yang terdiri dari penawaran (ijab) dari penjamin dan penerimaan (qabul) dari pihak terkait lainnya dalam bentuk ucapan. Contohnya adalah akad nikah.

2. Ijab qabul bil qalam, yaitu timbang terima (sighat) yang terdiri dari penawaran (ijab) dari penjamin dan penerimaan (qabul) dari pihak terkait lainnya dalam bentuk tulisan. Contohnya adalah perjanjian tertulis yang dibuat dihadapan notaris (notaril) maupun dibawah tangan.

3. Ijab qabul bil fi’il, yaitu timbang terima (sighat) yang terdiri dari penawaran (ijab) dari penjamin dan penerimaan (qabul) dari pihak terkait lainnya dalam bentuk perbuatan. Contohnya adalah jual beli di pasar swalayan.

Objek Akad

Objek yang terkena implikasi akad serta hukum-hukumnya. Objek tersebut harus: (1) bisa dikenai secara akad secara syarat. (2) keberadaan objek pada saat akad (tidak mutlak). (3) diketahui. (4) bisa diserahkan.

Pelaku Akad

Pelaku akad disyaratkan: (1) kecakapan mengemban kewajiban (2) kecakapan bertindak, yaitu tidak gila, lemah akal, tidur, pingsan, sakit, mabuk.

Akad yang Cacat

Akad dapat cacat jika terjadi: (1) kekeliruan, (2) penipuan, (3) pemaksaan. Macam-macam Akad

Akad terbagi menjadi tiga macam:

1. Akad yang sah dan tidak sah. Akad yang tidak sah adalah akad yang tidak memenuhi syarat dan rukun.

2. Akad yang terlaksana dan tertangguhkan. Akad tertangguhkan adalah akad yang menunggu izin orang lain.

(38)

38

Akad yang menunjang akad utama adalah khiyar. Khiyar secara harfiah bermakna pilihan. Khiyar terdiri dari:

1. Khiyar al-syart (pilihan dengan syarat), yaitu opsi untuk mengajukan syarat-syarat tertentu sesuai dengan nilai-nilai keadilan dan seimbang dalam suatu transaksi, seperti melakukan uji terhadap barang elektronik yang akan dibeli.

2. Khiyar al-ayb (pilihan kondisi barang), yaitu jenis opsi yang diberikan kepada pihak pembeli dimana barang yang menjadi objek transaksi harus dalam keadaan baik dan bagus sesuai untuk apa dia diciptakan, jika didapati ada cacat pada objek transaksi, maka pihak pembeli berhak untuk mengundurkan diri dan membatalkan diri dan mengambil balik uangnya. Syarat-syaratnya: (1) cacat terjadi barang di tangan penjual, (2) Pembeli tidak mengetahuinya hal itu saat transaksi berlangsung. (3) Ketika menerima barang tersebut, pihak pembeli tidak mengetahui adanya cacat. (4) Cacat tersebut sulit diperbaiki oleh pembeli. (5) Cacat terus berlangsung sampai waktu pembatalan.

3. Khiyar al-ta’yin (pilihan tekad), yaitu hak opsi yang diberikan kepada pihak pembeli dan penjual untuk menentukan sendiri harga barang tertentu dalam transaksi jual beli. Hak ini berlaku pada barang yang diukur dengan harga satuan (qimiyyat), bukan barang dengan harga gabungan atau kiloan.

4. Khiyar al-ru’yah (pilihan pemeriksaan), yaitu jenis opsi yang diberikan kepada pihak pembeli untuk melihat sendiri barang yang menjadi objek transaksi. Bila transaksi terjadi sebelum melihat objek secara langsung, maka pembeli berhak untuk melihatnya dan jika barang tersebut sesuai dengan keinginannya, maka transaksi dapat dituntaskan, dan jika tidak maka pembeli berhak untuk membatalkannya

5. Khiyar kasyf, yaitu transaksi dapat dilanjutkan jika ternyata objek sesuai dengan kriteria yang diinginkan. Jika tidak sesuai maka pembeli berhak untuk membatalkan transaksi tersebut.

6. Khiyar naqd, yaitu jenis opsi yang diberikan kepada pihak bertransaksi dimana pihak penjual meminta kepada pihak pembeli untuk melunaskan semua bayaran pada waktu tertentu saja. Jika tidak maka penjual dpt membatalkan kesepakatan transaksi tersebut.

(39)

39

belum berpisah secara badan. Contohnya adalah di counter bank, nasabah ketika menghitung uang yang diterima harus berada di kawasan konter. Jika sudah keluar konter, maka segala jenis komplain tidak diterima.

Prinsip Akad

Sejak Rasulullah SAW membawa risalah Islam di Mekkah dan akhirnya sampai di Madinah, beliau membawa sistem kehidupan bagi masyarakat secara sempurna, termasuk dalam perikehidupan ekonomi. Bagi umat setelahnya, perilaku ekonomi Islam berasal dari praktik keuangan Nabi sebelum menjadi nabi di Mekkah dan syariat yang diturunkan di Madinah. Dari aturan-aturan yang dilakukan dan diturunkan itu, terdapat dua jenis aturan: (1) aturan yang melarang untuk melakukan suatu jenis transaksi dan (2) aturan yang memperbolehkan atau menganjurkan suatu transaksi.

Hal ini penting sekali untuk kita ketahui, karena dalam praktik atau bentuk operasionalnya kita dapat saja menemukan kesamaan antara keuangan Islam dan yang lainnya, namun yang Islam boleh dan yang lain haram karena dasar transaksinya berbeda.

Transaksi atau aqad adalah pertukaran antara subjek hukum. Objek yang dipertukarkan dapat berupa aset real maupun aset finansial, baik saat ini maupun secara tangguh.

(40)

40

Secara grafik, transaksi yang diperbolehkan dan dilarang adalah:

A. Transaksi-Transaksi yang Dilarang

Pada dasarnya, hak untuk melarang sesuatu adalah hak preogratif Allah SWT, senagai konsekuensi dari sifat ketuhananNya. Namun, jika ditelusuri lebih lanjut, hikmah dari suatu jenis transaksi dilarang adalah ia mempunyai mudharat (potensi kerusakan) lebih besar daripada mashlahatnya (kebaikannya), sedangkan salah satu fungsi utama agama adalah mencegah kerusakan dan mendatangkan manfaat.

Jenis-jenis transaksi yang dilarang dalam Islam adalah: 1. Transaksi yang bersifat riba

Riba secara bahasa berarti tambahan (ziyadah), secara istilah berarti tambahan yang diperoleh secara batil atas pokok atau modal.

Jual Beli

Beli Jual Kelebihan Ket.

100 120 20 Laba

Pinjaman

Pinjam Kembali Kelebihan Ket.

100 120 20 Riba

Riba ada empat jenis, yaitu:

(41)

41

termasuk dalam jenis “barang ribawi”(emas, perak, burr, sya’ir, korma, anggur kering, dan garam).

b. Riba Nasi’ah, yaitu penangguhan penyerahan atau penerimaan jenis barang ribawi dengan jenis barang ribawi lainnya..

c. Riba Jahiliah, yaitu hutang dibayar lebih dari pokoknya, karena si peminjam tidak mampu membayar hutangnya pada waktu yang ditetapkan.

d. Riba Qardh, yaitu suatu manfaat atau tingkat kelebihan tertentu yang disyaratkan terhadap yang berhutang (muqtaridh).

Mengapa riba dilarang? Apakah karena riba adalah larangann pada bunga semata? Menurut Frank Vogel dan Samuel Hayes, hal ini bukan alasan yang sepenuhnya tepat karena jual beli kredit pun lebih besar nilanya dibandingkan jual beli tunai. Artinya, Islam mengakui biaya kesempatan uang.

2. Transaksi yang bersifat maisir

Transaksi maisir yaitu transaksi yang mengandung unsur perjudian, yaitu dimana para pihak yang bertransaksi tidak mempunyai informasi sama sekali mengenai peluang hasil maupun hasil (outcome) yang terjadi. 3. Transaksi yang bersifat gharar

Transaksi gharar yaitu transaksi yang mengandung unsur ketidakjelasan, yaitu dimana para pihak yang bertransaksi tidak mempunyai informasi yang jelas mengenai karakteristik objek transaksi.

4. Transaksi yang bersifat tadlis

Transaksi tadlis yaitu transaksi yang mengandung unsur penipuan, yaitu dimana salah satu pihak yang bertransaksi mempunyai informasi yang berpotensi menguntungkan pihaknya dan merugikan pihak lain, sementara pihak lainnya tidak mempunyai informasi yang setara.

5. Transaksi yang berobjek haram

Transaksi haram yaitu transaksi yang objek transaksinya haram. Penggolongan barang haram adalah sebagai berikut:

(42)

42

Zat yang haram secara jelas dalam Quran dan Sunnah adalah babi, anjing, bangkai, minuman keras dan sembelihan yang disembelih tidak dengan mengucap nama Allah.

b. Haram kandungan zatnya

Zat yang haram secara karena zat kandungannya haram adalah minyak babi, dan penyedap rasa mengandung minyak babi.

c. Haram perolehannya

Haram karena perolehannya dilarang seperti pendapatan yang diperoleh dari pelacuran, perjudian dan penjualan minuman keras. d. Haram akibat saaduuz zarra (sarana bagi mudharat)

Haram karena zat akan menjadi sarana bagi mudharat, seperti percetakan majalah pornografi, perkebunan anggur penyuplai pabrik minuman keras, pembangunan konstruksi tempat hiburan malam. 6. Transaksi yang bersifat ta’alluq

Taalluq adalah suatu transaksi yang tergantung dengan transaksi lainnya, misalnya seorang pedagang beras mengingkari janji kepada pembeli beras karena petani gagal panen.

7. Transaksi yang bersifat bai najasy

Bai najasy adalah sekelompok orang bersepakat dan bertindak secara berpura-pura menawar barang dipasar dengan tujuan untuk menjebak orang lain agar ikut dalam proses tawar menawar tersebut sehingga orang ketiga ini akhirnya membeli barang dengan harga yang jauh lebih mahal dari harga sebenarnya.

8. Transaksi yang bersifat bai al ma’dum

Bai al ma’dum adalah melakukan penjualan atas barang yang belum dimiliki. Misalnya melakukan short selling di pasar saham.

9. Transaksi yang bersifat ikhtikar

Ikhtikar adalah penimbunan barang untuk merekayasa penawaran. Misalnya, tengkulak menimbun beras di waktu panen untuk dijual pada saat beras mulai langka.

10. Transaksi yang bersifat maksiat

Transaksi yang bersifat maksiat misalnya prostitusi, perjudian dan menjual minuman keras.

(43)

43

Risywah adalah suap, yaitu pembayaran kepada seseorang di luar gaji resminya dalam bentuk apapun karena yang bersangkutan memegang jabatan tertentu.

12. Transaksi yang bersifat zalim

Transaksi yang termasuk zalim adalah:

a. Margin trading, yaitu melakukan transaksi pembelian saham dengan menggunakan fasilitas margin yang biasanya tujuan utamanya adalah perjudian.

b. Insider trading, yaitu menyebarluaskan informasi yang menyesatkan atau memakai informasi orang dalam untuk memperoleh keuntungan.

13. Transaksi yang bersifat ghabn

Ghabn adalah penjual menawarkan barang di atas harga rata-rata. Ghabn terbagi menjadi dua, yaitu:

a. Ghabn qalil, yaitu jenis perbedaan harga barang yang tidak terlalu jauh antara harga pasar dan harga penawaran dan masih dalam kategori yang dapat dimaklumi oleh pihak pembeli. Ini masih diperbolehkan oleh syariah Islam.

b. Ghabn fahish, yaitu perbedaan harga penawaran dan harga pasar yang cukup jauh bedanya.

14. Transaksi yang bersifat ikrah

Ikrah adalah segala bentuk tekanan dan pemaksaan dari salah satu pihak untuk melakukan suatu akad tertentu sehingga menghapus komponen mutual free consent. Jenis pemaksaan dapat berupa acaman fisik atau memanfaatkan keadaan seseorang yang sedang butuh atau the state of emergency.

Imam Ibnu Taimiyah ra mengatakan bahwa dalam keadaan emergency seseorang yang memilik stok barang yang dibutuhkan orang banyak harus diperintahkan untuk menjualnya dengan harga pasar, jika dia enggan melakukannya pihak berkuasa dapat memaksanya untuk melakukan hal tersebut demi menyelamatkan nyawa orang banyak. (Majmu al Fatawa, vol. 29 hal.300).

(44)

44

Ghish (withholding relevant information) adalah menyembunyikan fakta-fakta yang seharusnya diketahui oleh pihak yang terkait dalam akad sehingga mereka dapat melakukan kehati-hatian (prudent) dalam melindungi kepentingannya sebelum terjadi transaksi yang mengikat. Dalam Common Law akad seperti ini dikenal dengan sebutan akad Uberrime Fidae Contract dimana semua jenis informasi yang seharusnya diketahui oleh pelanggan sama sekali tidak boleh disembunyikan. Jika ada salah satu informasi berkenaan dengan subject matter akad tidak disampaikan, maka pihak pembeli dapat memilih opsi membatalkan transaksi tersebut.

16. Transaksi yang bersifat bai al mudtarr

Bai al mudtarr adalah jual beli dan pertukaran dimana salah satu pihak dalam keadaan sangat memerlukan (in the state of emergency) sehingga sangat mungkin terjadi eksploitasi oleh pihak yang kuat sehingga terjadi transaksi yang hanya menguntungkan sebelah pihak dan merugikan pihak lainnya.

Jual butuh adalah merupakan contoh klasik yang sering terjadi di tengah-tengah masyarakat sehingga pihak penjual – karena sangat memerlukan uang tunai – terpaksa harus menjual asetnya dengan harga yang jauh dari harga pasar. Sangat dikuatirkan bahwa unsur kerelaan dalam transaksi seperti ini tidak wujud pada pihak penjual sehingga tidak mencerminkan transaksi ‘An Taradin Minkum’ yang sesuai dengan prinsip Syariah.

B. Transaksi Keuangan yang Diperbolehkan

1. Transaksi yang bersifat tolong menolong dalam kebaikan (ta’awun) Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT untuk bertolong-tolongan dalam kebajikan dan takwa serta tidak bertolong-tolongan dalam kejahatan.

“…Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran..” (Q.S. Al Maidah 2)

Pada dasarnya, perekonomian umat manusia terdiri dari jutaan aktivitas yang kaita mengait terdiri dari pertukaran yang melibatkan lebih dari satu pihak, kecuali perekonomian yang bersifat subsisten seperti perekonomian masyarakat badui.

(45)

45

Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT untuk mengerjakan perniagaan yang bersifat saling rela di antara umat manusia. Dalam istilah ekonomi modern, hal ini yang disebut sebagai market quilibrium (clearing), karena bertemunya permintaan dan penawaran secara sukarela.

“…Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu.…” (Q.S. An Nisa 29).

3. Transaksi yang bersifat tidak memastikan sesuatu di masa depan (tawakkal)

Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT untuk tidak memastikan hasil dari perniagaan yang dilakukan manusia, sebab masa depan adalah gaib dan hanya Allah yang mengetahuinya.

“…Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok…” (Q.S. Lukman 34).

Referensi

Dokumen terkait

Aturan tersebut seluruhnya diturunkan dari konsep (Deinisi-7.1) yang telah kita temukan. Aturan tersebut antara lain, cara memfaktorkan, melengkapkan kuadrat sempurna, dan rumus

Ilmu aqidah banyak berbicara tentang hal-hal yang ghaib dan harus diimani sebagai bentuk keimanan kita kepada kitabullah dan sunnah rasulullah SAW, sedangkan ilmu syariah lebih

Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: (1) Bagaimana analisis fiqh muamalah terhadap pelaksanaan perjanjian pembiayaan investasi syariah pada putusan Pengadilan

Hadits sahih menurut Syafi‘i adalah hadits yang diriwayatkan oleh orang yang terpercaya (tsiqah) dan dari orang terpercaya pula hingga sampai pada rasulullah (saw), dengan syarat

Para Ulama Ushul Fiqh dan lainnya sepakat menyatakan bahwa Al-Qur’an itu merupakan sumber utama hukum Islam yang diturunkan Allah dan wajib diamalkan, dan seorang mujtahid

Ketika Rasulullah saw hijrah dari kota Mekkah ke Madinah langkah pertama yang dilakukan Rasulullah adalah membangun masjid, yaitu Masjid Quba dan menjadi pusat

Dalam penelitian ini menyebutkan bahwa label hukum khitan wanita yang ada dalam hukum Islam (fiqh) adalah hasil ijtihad ulama dan bukan perintah atau tuntunan agama secara

Sedangkan material berdasarkan aturan syariah Islam adalah material berupa kain yang tidak tipis atau tidak transparan, sesuai dengan sabda Rasullullah SAW dalam beberapa