• Tidak ada hasil yang ditemukan

LATAR BELAKANG PANCASILA SEBAGAI DASAR N

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "LATAR BELAKANG PANCASILA SEBAGAI DASAR N"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

LATAR BELAKANG PANCASILA SEBAGAI DASAR NEGARA

Manusia adalah insan yang hidup berkelompok (zoon politicon) yang menampilkan insan social ( homo politicus) sekaligus aspek insan usaha ( homo economicus), dalam arti bahwa nalar dan naluri hidup berkelompoknya adalah untuk mencapai kesejahteraan bersama.

Sebagai insan yang berfikir, maka berdasarkan iman, cipta, rasa dan karsanya seseorang akan memiliki pandangan hidup yang akan menjawab permasalahannya yang berkaitan dengan hidupnya.

Didalam kehidupan antar kelompok, apabila terjadi suatu penggabungan kelompok, maka masing-masing anggota kelompok yakin bahwa pandangan hidup kelompoknya merupakan suatu kebenaran sejauh yang dapat dipikirkan manusia sehinggga timbullah falsafah hidup berkelompok.

Falsafah hidup suatu bangsa akan menjelmakan suatu tata nilai yang dicita-citakan bangsa yang bersangkutan, ia akan membentuk keyakinan hidup berkelompok sekaligus menjadi tolak ukur kesejahteraan hidup berkelompok sesuai yang dicita-citakan bangsa yang bersangkutan. Sebagai yang dicita-citakan maka ia membentuk ide-ide dasar dari segala hal aspek kehidupan manusia didalam kelompoknya. Kesatuan yang bulat dan utuh dari ide-ide dasar yang disebut dasar negara.

Salah satu syarat berdirinya suatu Negara adalah mempunyai dasar Negara. Ketika Jepang mulai terdesak oleh Sekutu, Jepang kemudian membentuk BPUPKI pada tanggal 1 Maret 1945 dengan tujuan agar bangsa Indonesia yakin bahwa Jepang akan memberikan kemerdekaan kepada Indonesia. Adapun tugas BPUPKI adalah mempelajari dan menyusun rencana-rencana pembenagunan politik / pemerintahan Indonesia. Sepanjang hayatnya, BPUPKI melakukan dua kali sidang. Sidang pertama berlangsung antara tanggal 29 Mei – 1 Juni 1945. Yang dibahas dalam sidang pertama adalah mengenai dasar Negara. Pada tanggal 1 Juni 1945 Sukarno untuk pertama kalinya memperkenalkan konsepsi dasar negara pancasila.

(2)

Pancasila dijadikan sebagai dasar Negara dan sebagai falsafah hidup bangsa karena Pancasila digali dari nilai-nilai luhur bangsa Indonesia

. Sistem Pemerintahan RI Selayang Pandang

Dalam risalah Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan (BPUPK) dr. Soekiman antara lain menyatakan, “Undang-undang dasar kita memiliki sistem sendiri”.[31] Memang bila kita mencermati tata pemerintahan menurut UUD 1945 (sebelum diubah), tampak bahwa cara yang ditempuh para pendiri republik, adalah: Pemerintahan Presiden Mandataris,[32] yaitu adaptasi (penyesuaian) dari kebaikan parlementer Inggris dan presidensil Amerika Serikat (AS). Duverger menyebutnya model “pemerintahan ketiga” atawa “sistem pertengahan”, ni parlementaire-ni presidentiel –menurut Georges Pompindou.[33]

Galibnya Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia dipilih Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR), UUD 1945, Pasal 6 (2). Kedudukannya sebagai mandataris memiliki

kewajiban melaksanakan Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN), UUD 1945, Pasal 3. Tak urung presiden tunduk dan bertanggung jawab kepada MPR.Dalam menjalankan tugas dan kewajibannya itu, presiden dibantu seorang wakil presiden, para menteri dan dikontrol Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).[34]

Sistem pemerintahan tersebut lazim disebut “semi presidensil” (di antara dua tanda petik). Istilah ini dipakai untuk membedakan dengan sistem presidensil di Amerika Serikat (AS). Di sana presiden sangat berkuasa. Meski pemerintah AS bukan pembentuk undang-undang, namun presiden bisa membatalkan undang-undang yang diputuskan Kongres.Bahkan presiden dapat memberi pengampunan, penangguhan hukuman, mengurangi hukuman dan mengurangi denda, tanpa meminta persetujuan Mahkamah Agung.Hal yang tidak bisa dilakukan Presiden Republik Indonesia.

Dalam sejarah pemerintahan Republik Indonesia, Kabinet Sukarno diumumkan 5 September 1945. Sementara 14 Nopember 1945 Kabinet Syahrir yang bertanggung jawab kepada Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) dibentuk, berarti usia Kabinet Sukarno hanya tiga bulan. Peristiwa tersebut merupakan goncangan politik luar biasa bagi negara baru merdeka. [35]

Tanpa perubahan undang-undang dasar “Ministerial-Parlementer”, yaitu: Pola pemerintahan kepartaian yang bertanggung jawab kepada KNIP berlaku dalam tata-pemerintahan Republik Indonesia.[36] Cara ini juga digunakan Republik Indonesia Serikat (RIS) tahun 1949 (UUD RIS, Pasal 118 (2) dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) tahun 1950 – 1959 (UUDS, Pasal 83 (2).

(3)

Hal menarik adalah terselenggaranya Pemilihan Umum (Pemilu) tahun 1955.Pemilu pertama itu sampai hari ini menduduki tempat terhormat, lantaran pelaksanaannya jujur dan

adil.Calon legislatif dan calon anggota konstituante yang dipilih pun terdiri dari para politisi berkelas. Jika dibandingkan dengan Pemilu sesudahnya apalagi Pemilu 2014, layaknya “itik bersanding dengan merak”.

Meski Pemilu 1955 sangat berkualitas dan bermartabat, tetapi tidak menghasilkan

pemerintahan yang kuat dan efektif.Tak pelak sistem multi partai membawa konsekuensi tidak ada partai dominan di parlemen.Alhasil koalisi jalan satu-satunya untuk menyusun kabinet (pemerintahan). Partai Nasional Indonesia (PNI), Masyumi dan Nahdlatul Ulama merupakan partai-partai yang acap berkoalisi membentuk pemerintahan. Nama kabinetnya pun dikenal dengan sebutan nama tokoh yang mewakili partai, seperti: Kabinet Soekiman-Soewirjo (Masyumi-PNI), Ali-Idham-Rum (PNI-NU-Masyumi), dan sebagainya.

Undang-Undang Dasar Sementara Tahun 1950 Pasal 83

Menteri-menteri bertanggung jawab atas seluruh kebijaksanaan pemerintah baik bersama-sama ataupun masing-masing untuk bagiannya sendiri-sendiri.

Akan hal itu, sekali saja mosi tak percaya dilancarkan salah satu fraksi koalisi di parlemen, kabinet tersungkur dan jatuh diganti kabinet baru.Kabinet “jatuh-bangun” itu berakhir pada tahun 1957,[37] ketika Soewirjo dari PNI sebagai formatur gagal menyusun zakenkabinet (kabinet kerja) yang diamanatkan presiden.

Krisis pemerintahan di era multi partai acap kali terjadi dan tiba gilirannya tidak bisa

ditenggang lagi.Presiden Sukarno 4 April 1957 segera mengambil tindakan tegas, membentuk zakenkabinet. Secara lugas Presiden Sukarno menyatakan bahwa zakenkabinet merupakan kabinet darurat ekstra parlementer, artinya: Pembentukan kabinet berlangsung ketika negara dalam keadaan genting (SOB), tidak berdasarkan aliran (kekuatan) partai politik di parlemen, tetapi dilandasi program kerja pemerintah. Kedudukan para menteri pun mewakili keahlian masing-masing di luar ikatan (kepentingan) partai-partai politik.[38]

Kebijakan Presiden Sukarno mengundang kontroversi.Bahkan ada yang menilai

inkonstitusional. Perkaranya pembentukan zakenkabinet di luar kententuan yang berlaku, sebagaimana diatur:

Undang-Undang Dasar Sementara Tahun 1950 Pasal 51

(1) Presiden menunjuk seseorang atau beberapa orang pembentuk kabinet.

Mengatasi hal itu, Presiden Sukarno menunjuk warga negara Dr. Ir. Sukarno sebagai formatur. Selain itu, dalam keadaan darurat (bahaya) seorang presiden sesuai dengan Sumpahnya memiliki hak prerogatif untuk menyelematkan negara.

(4)

kabinet karya di bawah pimpinan Perdana Menteri Ir. Djuanda mampu menyelenggarakan pemerintahan secara efektif dan dapat membentuk Dewan Nasional, sesuai konsepsi presiden. [39]

Pada bagian lain, Konstituante yang bertugas menyusun undang-undang dasar menghadapi jalan buntu, tidak mencapai kesepakatan mengenai dasar negara. Sementara gerakan separatis dipelbagai daerah, seperti: DI/TII, PRRI dan Permesta membuat negeri ini dalam keadaan darurat. Presiden Sukarno menyebutnya sebagai era liberalisme yang membahayakan keutuhan negara.

Situasi politik bertambah runyam. Rancangan undang-undang dasar yang seyogianya sudah diselesaikan Konstituante dan dikirim ke presiden untuk disahkan pemerintah, tak kunjung rampung. Usul pemerintah agar kembali ke UUD 1945 pembahasannya tidak bisa

dilanjutkan.[40]

Undang-Undang Dasar Sementara Tahun 1950 Pasal 137

(1) Konstituante tidak dapat bermufakat atau mengambil keputusan tentang rancangan Undang-Undang Dasar baru, jika pada rapatnya tidak hadir sekurang-kurangnya dua pertiga dari jumlah anggota sidang;

(2) Undang-Undang Dasar baru berlaku, jika rancangannya telah diterima dengan sekurang-kurangnya dua pertiga dari jumlah suara anggota yang hadir dan kemudian disahkan oleh pemerintah;

(3) Apabila Konstituante sudah menerima rancangan Undang-Undang Dasar, maka

dikirimkannya rancangan itu kepada presiden untuk disahkan oleh pemerintah. Pemerintah harus mengesahkan rancangan itu dengan segera. Pemerintah mengumumkan Undang-Undang Dasar itu dengan keluhuran.

Sementara itu sebagian besar dari fraksi dalam Konstituante berturut-turut menyatakan tidak akan menghadiri sidang lagi. Dalam keadaan seperti itu yang meliputi lembaga negara ini, pemerintah kemudian memberitahukan Pimpinan Konstituante bahwa segera Presiden akan mengeluarkan dekrit. Dan pada tanggal 5 Juli 1959 Presiden mengeluarkan dekritnya yang terkenal itu.[41]

Tindakan tersebut mendapat dukungan dari DPR dan rakyat Indonesia, condition sine qua none telah terpenuhi. Niscaya dukungan rakyat merupakan bukti dan atawa sumber hukum tertinggi: recht-bewuszijn, bagi dekrit presiden.[42]

Tak urung sistem “Ministerial-Parlementer” berahir[43], kita kembali menganut pemerintahan Presiden Mandataris, yaitu: Presiden sebagai kepala negara dan kepala pemerintahan bertanggung jawab kepada MPR serta harus melaksanakan GBHN, sebagaimana diatur UUD 1945, Pasal 3 dan Pasal 6 (2).

(5)

Manifesto Politik Republik Indonesia dan mendapat kekuatan hukum melalui Keputusan Dewan Pertimbangan Agung Tentang Perincian Manifesto Politik Republik Indonesia 17 Agustus 1959 No.3/Kpts/Sd/II/59.

Dua dokumen politik tersebut, ditambah Amanat Presiden Sukarno di Sidang Pleno Dewan Perancang Nasional 23 Agustus 1959, Amanat Presiden Sukarno pada Pembukaan Sidang Pertama MPRS 10 Nopember 1960, Amanat Proklamasi 17 Agustus 1950 bertajuk: Jalannya Revolusi Kita, dan Pidato To Build the World a New di Sidang Umum PBB, 30 September 1960 –menjadi dasar pertimbangan MPRS untuk menetapkan GBHN pada tahun 1960. Ketetapan MPRS No. 1/MPRS/1960 tentang Garis-garis Besar daripada Haluan Negara, merupakan GBHN pertama dalam sejarah ketatanegaraan Republik Indonesia, sebagaimana diamanatkan UUD 1945, Pasal 3.

Akan tetapi sejak empat kali perubahan undang-undang dasar (1999 – 2002), sistem dan struktur ketatanegaraan Republik Indonesia diubah total.UUD 1945 sebagai konstitusi sosial bergeser menjadi konstitusi politik. Golongan fungsional, seperti: Buruh, tani, nelayan, wartawan, seniman, budayawan, cendekiawan, ulama, rohaniawan, pemuda, perempuan, veteran, TNI, dll, tidak lagi memiliki wakil dalam lokus kedaulatan rakyat di MPR. Sila ke 4 Pancasila, Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanan dalam perrmusyawaratan perwakilan, diabaikan.

UUD 1945 semula menganut asas semua harus terwakili diubah menjadi semua harus dipilih. [44] MPR pun tidak lagi berfungsi sebagai lembaga negara tertinggi, kewenangannya dalam hal memilih presiden dan wakil presiden serta menetapkan GBHN sirna. Tak ayal kedudukan presiden pun bukan mandataris MPR.[45]

Bangsa Indonesia tidak lagi memiliki lokus kedaulatan rakyat tertinggi, kecuali pada pesta demokrasi lima tahun sekali, di situlah para politisi mengemis dukungan suara pada rakyat untuk duduk di parlemen dan atawa sebagai presiden dan wakil presiden. Sementara setelah duduk di kursi kekuasaan, tak peduli pada konstituen (rakyat), memori van overgrap diahir jabatan pun tidak pernah disampaikan.

Kini sistem ketetanegaraan kita telah berubah, presiden dan wakil presiden dipilih secara langsung dan sayangnya hanya menghasilkan pemerintahan koalisi (patungan), buah dari stelsel multi partai. Kocaknya dengan bangga rezim patungan produk Pemilu reformasi menyatakan sistem pemerintahannya, adalah: Presidensil.

(6)

meminta persetujuan DPR, dan ada satu wewenang lagi harus menunggu persetujuan Mahkamah Agung (MA).

Tak pelak tugas dan wewenang presiden sebagai kepala negara dan kepala pemerintahan, menurut amandemen UUD 1945, bukan pemerintahan presidensil seperti yang sering kita dengar, apalagi seperti dipraktikan di AS, jauh panggang dari api. Melainkan suatu sistem oplosan, campuran antara“presidensil” dan“parlementaria”, yaitu: Presiden sebagai kepala negara dan kepala pemerintahan, walau tidak bertanggung jawab kepada parlemen dan tidak bisa dijatuhkan,akan tetapi seperti telah diungkap di atas, dalam banyak hal Presiden

Republik Indonesia ketika menjalankan wewenangnya harus mendapat persetujuan dari DPR.Selain itu susunan kabinetnya mencerminkan partai-partai politik pendukung pemerintah di parlemen.

Mengacu pada pembentukan dan praktiknya, sistem tersebut merupakan “pemerintahan stelsel multi partai”.Alhasil stabilitas dan efektifitas pemerintahan tergantung pada dinamika koalisi partai-partai pendukung dan desakan agregasi partai-partai oposisi.

Dalam sistem ini pemerintah tidak memberi pertanggung jawaban atas jalannya pemerintahan negara.Impeachmentadalah sanksi bukan pertanggung jawaban, dilakukan jika presiden sungguh-sungguh melanggar konstitusi/undang-undang dan melakukan tindakan

tercela.Impeacment berlangsung setelah DPR mengajukan usul kepada MPR dan disetujui Mahkamah Konstitusi (MK), maka MPR bisa menggelar Sidang Istimewa.

Apa yang terjadi? Fakta membuktikan pemerintahan koalisi SBY selama dua periode: 2004 – 2009 dan 2009 – 2014 begitu lemah dihadapan DPR dan tidak efektif, ditinjau dari

perspektif Pembukaan UUD 1945. Bahkan telah terjadi: Konflik SARA, perang antar suku dan tawuran antar warga, kekerasan pisik pasca pemilihan kepala daerah yang dianggap curang, korupsi dan patologi sosial merebak di seantero negeri. Tak kalah brutal, “tradisi” pedofilia telah masuk dunia pendidikan sekitar kita.

Dalam Evaluasi Terhadap Implementasi Hasil-Hasil Amandemen UU 1945 dan Urgensi Wacana Amandemen UUD 1945 Yang Kelima, Lembaga Ketahanan Nasional RI, 2007, antara lain mencatat:

Secara realitas kebijaksanaan urusan masalah ketatanegaraan dari pranata aturan hukum dasar hasil amandemen telah menciptakan ketidak stabilan pemerintahan yang berdampak luas sampai dengan terabaikannya keselamatan jiwa manusia Indonesia, dan terancamnya kebersatuan negara NKRI.

….

Sementara itu setelah amandemen, antara Pembukaan UUD 1945 dan Pasal-pasal UUD 1945 dinilai tidak sinkron, dimana Pembukaan UUD 1945 mencerminkan kultur budaya bangsa Pancasila dengan semangat kebersamaan, kegotong-royongan, musyawarah dan mufakat, sedangkan Pasal-pasal UUD 1945 (setelah diamandemen) membuka peluang-peluang terjadinya praktek-praktek liberalisme, kapitalisme dan individualisme …

Demikian qua substansi dan praktik kita menganut sistem “neo-liberal”, dalam rupa: Pasar bebas melalui praktik birokrasi rente dan stelsel multi partai via mekanismedemokrasi

(7)

seremonial kita masih menyatakan: Pancasila sebagai dasar negara dan UUD 1945 sebagai konstitusiNegara Republik Indonesia.

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan rumusan Pasal 7A UUD 1945 setelah amandemen yang menyatakan: Presiden dan/atau Wakil Presiden dapat diberhentikan dalam masa jabatannya oleh Majelis

pemerintahan dipegang oleh presiden dan pemerintah tidak bertanggung jawab kepada

Sebelum amandemen, UUD 1945 telah memberikan kewenangan prerogatif kepada presiden secara luas, baik kaitannya dengan posisinya sebagai kepala negara maupun sebagai kepala

Dengan demikian, Pembukaan UUD 1945 yang memuat dasar falsafah negara Pancasila, merupakan satu kesatuan nilai dan norma yang terpadu yang tidak dapat

Dalam kedudukan selaku Kepala Pemerintahan Republik Indonesia, Presiden memegang kekuasaan Pemerintahan menurut Penjelasan UUD 1945 menegaskan, bahwa meskipun

Berdasarkan rumusan Pasal 7A UUD 1945 setelah amandemen yang menyatakan: Presiden dan/atau Wakil Presiden dapat diberhentikan dalam masa jabatannya oleh Majelis

Ketetapan MPR tidak diatur secara tegas dalam UUD 1945 sebelum amandemen maupun setelah amandemen UUD secara tegas, namun pada masa pemerintahan Orde Lama dan Orde Baru, adanya

Penjabaran Pancasila Dalam Pasal-Pasal UUD NRI 1945 Dalam kaitannya dengan penjabaran Pancasila dalam pasal-pasal UUD 1945, bahwa Pancasila merupakan nilai dasar yang sifatnya