• Tidak ada hasil yang ditemukan

hukum pidana terhadap kekayaan orang.doc

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "hukum pidana terhadap kekayaan orang.doc"

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)

Negara – negara pada umumnya mempunyai KUHP yang memuat pembagian bagian umum dan bagian khusus. Bagian umum memuat dasar – dasar atau prinsip – prinsip yang mempunyai kesamaan pada semua perbuatan yang dapat dihukum, sedangkan bagian khusus memuat perician dan perumusan atas perbuatan – perbuatan yang dapat dihukum serta ancaman hukumannya terhadap setiap perbuatan tersebut.1

Khusus untuk Indonesia KUHP yang berlaku saat ini bukanlah hasil orisinil dari bangsa Indonesia sendir melainkan mengadopsi hukum pidana Belanda, yang sumber hukum terkodfikasinya bernama “Wetboek van Straftrecht voor Nederlandsch-Indie” yang kemudian diubah menjad “Wetboek van Straftrecht” atau “Kitab Undang – undang Hukum Pidana melalu pasal VI UU No 1 Tahun 1946, sehingga dapat dipakai diseluruh Nusantara, adapun sejarah penggunaan hukum pidana Indonesia saat ini berasal dari pertimbangan –

pertimbangan antara peraturan hukum Jepang dengan peraturan hukum Pidana Hindia Belanda yang ada sebelum perang, dengan diadakan penyesuaian – penyesuaian dengan ketatanegaraan yang baru.2 Kedudukan Wetboek van Straftrecht Voor Indonesie dan Kitab

Undang – undang Hukum Pidana setelah berdirinya Konstitusi Republik Indonesia Serikat dan sejak Negara Indonesia menjadi Negara Kesatuan adalah berjalan berdampingan, akan tetapi mengalami kesulitan dalam hal penerapan hukum terhadap tindak pidana yang memenuhi rumusan yang sama, dan juga dalam tindak pidana yang perumusannya sama tetapi ancamannya berbeda.3

KUHP membuat perbedaan atas semua jenis tindak pidana dalam kejahatan dan pelanggaran. Buku II memuat segala jenis – jenis kejahatan, sedangkan buku III segala jenis

1H.A.K Moch. Anwar, hukum pidana bagian khusus (kuhp buku II) jilid I,cetakan keenam, Citra Aditya Bakti, Bandung, 1989,. Hlm. 11.

2 Djoko Prakoso dan Edy Yunianto, Dualisme dalam peraturan hukum pidana sejak berlakunya undang undang no 1 tahun 1986, Bina Aksara, Jakarta, 1986,. Hlm 11.

(2)

pelamggaran. Penggolongan dalam kejahatan dan pelanggaran ini didasarkan atas perbedaan antara rechstdelicten, yang berarti :

Perbuatan – perbuatan yang dirasakan telah memiliki sifat tidak adil, wajar untuk dapat dihukum, meskipun belum terdapat UU yang melarang dan mengancam dengan hukuman.

Kemudian wetsdelicten yang berarti :

Perbuatan – perbuatan dapat dihukum, karena perbuatan – perbuatan tersebut secara tegas dinyatakan didalam UU sebagai terlarang dan diancam dengan hukuman.

Adapun mengenai kepentingan hukum yang harus dilindungi adalah setiap kepentingan yang dapat mempertahankan kepentingan masyarakat tanpa gangguan. Kepentingan hukum terbaagi kedalam 3 jenis yaitu:

 Kepentingan perorangan  Kepentingan hukum masyarakat  Kepentingan hukum Negara

Adaapun kejahatan terhadap perorangan dapat dibedakan lagi menjadi

 Kejahatan terhadap jiwa

 Kejahatan terhadap badan atau tubuh  Kejahatan terhadap kemerdekaan pribadi  Kejahatan terhadap kehormatan

 Kejahatan terhadap harta benda atau kekayaan

Adapun dalam makalah ini, untuk memenuhi tugas yang diberikan penuliakau

(3)

Dalam azas – azas pokok hukum pidana sendiri terdapat beberapa unsur – unsur antara lain unsur obyektif dan unsur subyektif berikut pengertian unsur – unsru tersebut4:

 Unsur obyektif adalah unsur – unsur yang pada umumnya dapat terdiri dari suatu perbuatan ataupun suatu akibat

 Unsur subyektif adalah unsur – unsur yang terdiri dari suatu kehendak atau tujuan, yang terdapat dalam jiwa pelaku, unsur dirumuskan dengan istilah sengaja, niat dan maksud.

Berikut perincian dari kejahatan terhadap harta benda orang :5

1. Pencurian diatur pada BAB XXII KUHP

2. Pemerasan dan Pengancaman diatur pada BAB XXIII KUHP 3. Penggelapan diatur pada BAB XXIV KUHP

4. Penipuan diatur pada BAB XXV KUHP

5. Merugikan orang yang berpiutang dan yang berhak diatur lada BAB XXVI KUHP 6. Perusakan barang diatur pada BAB XXVII KUHP

7. Penadahan diatur pada BAB XXX KUHP

Berikut penjelasan lebih lanjut mengenai kejahatan terhadap harta benda orang.

1. Kejahatan tentang pencurian

Ketentuan mengenai tindak pidana pencurian diatur di dalam Pasal 362 KUHP yang berbunyi

“Barangsiapa mengambil barang yang seluruhnya atau sebagian kepunyaan orang lain, dengan maksud untuk memiliki barang tersebut secara melawan hukum, dihukum karena melakukan pencurian dengan hukuman penjara selama – lamanya lima tahun atau denda sebanyak – banyaknya 15 kali enam puluh rupiah.”

Berdasarkan isi pasal diatas dapat diuraikan unsur – unsur yang terkait dengan azas – azas dasar pokok hukum pidana yang telah dijelaskan diatas antara lain :

4H.A.K Moch. Anwar, hukum pidana bagian khusus (kuhp buku II) jilid I,cetakan keenam, Citra Aditya Bakti, Bandung, 1989,. Hlm 15.

(4)

 Unsur subyektifnya

i. Dengan maksud untuk memliki barang tersebut secara melawan hukum, unsur ini menjelaskan bahwa adanya kesengajaan dari pelaku untuk melakukan hal tersebut yang terwujud dalam kehendak, keinginan atau tujuan untuk memilki barang secara melawan hukum.

ii. Melawan hukum, unsur ini merupakan perbuatan yang dikehendaki tanpa hak dan kekuasaan sendiri para pelaku.6

iii. Untuk memiliki, yang dimaksud unsur ini ialah setiap tindakan penguasaan atas barang yang bersangkutan seolah – olah si pelaku adalah pemiliknya, hal ini dapat berwujud dengan menjual, memakai, memberikan kepada orang lain atau yang lainnya.

 Unsur obyektif

i. Barang yang seluruhnya atau sebagian kepunyaan orang lain, jelas maksud dari unsur barang ini ialah segala suatu benda yang bergerak serta memiliki nilai bagi seseorang yang memiliki hak atasnya baik kepemilikan sepenuhnya maupun sebagian.

ii. Mengambil, unsur ini berarti suatu pengejahwantahan dari tindakan pencurian yaitu melalui tindakan mengambil, menurut KBBI definisi mengambil berasal dari kata pokok “ambil” dimana mengambil itu sendiri definisinya ialah memegang sesuatu lalu dibawa (diangkat, digunakan, disimpan, dan sebagainya); memungut7, yang apabila

dikaitkan dengan hukum tindakan tersebut dengan maksud untuk menguasai seolah – olah barang tersebut miliknya.

2. Kejahatan tentang pemerasan dan pengancaman

Secara bahasa terutama untuk kejahatan pengancaman, masyarakat umum dapat menilai bahwa kejahatan pengancaman ini tidak terkait mengenai kekayaan orang.

6 H.A.K Moch. Anwar, Hukum pidana bagian khusus (kuhp buku II) jilid I,cetakan keenam, Citra Aditya Bakti, Bandung, 1989,. Hlm. 19.

(5)

Namun di dalam pengaturannya pada Pasal 369 KUHP ayat 1 terdapat unsur yang berkaitan dengan kekayaan orang. Berikut akan dijelaskan lebih lanjut mengenai kejahatan tentang pemerasan dan pengancaman.

Mengenai kejahatan tentang pemerasan yang diatur dalam Pasal 368 ayat 1 KUHP berikut isi dari pasal tersebut :

“Barang siapa dengan maksud untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain dengan melawan hukum memaksa orang dengan kekerasan atau ancaman kekerasan supaya orang itu memberikan suatu barang yang seluruhnya atau sebagian kepunyaan orang itu sendiri atau kepunyaan orang lain; atau supaya orang itu membuat hutang atau

menghapuskan piutang, dihukum karena memeras dengan hukuman penjara selama – lamanya sembilan tahun”

Berdasarkan isi pasal 368 ayat 1 KUHP tentang pemerasan dapat diuraikan unsur – unsur yang terkait dengan azas – azas dasar pokok hukum pidana antara lain yaitu :

 Unsur subyektif

i. Dengan maksud untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain secara melawan hukum, maksudnya ialah apabila seseorang pelaku menganggap, bahwa perbuatan itu akan memberikan keuntungan yang bersifat melawan hukum kepada orang pelaku itu, dan kemudian orang pelaku itu melakukan perbuatan melawan hukum tersebut, maka ia mempunyai maksud menguntungkan diri sendiri secara melawan hukum.8

 Unsur obyektif

i. Memaksa orang dengan kekerasan atau ancaman kekerasan agar orang itu menyerahkan barang, hal ini merupakan unsur dimana dalam penyerahan suatu

(6)

barang tidak dilandasi oleh suatu kausa yang halal yaitu dengan paksaan melalui tindakan kekerasan atau ancaman kekerasan yang mana kita ketahui secara bahasa tindakan kekerasan dapat diwakili dengan suatu pemukulan atau sejenisnya namun mengenai kekerasan diatur pula dalam pasal 89 KUHP yaitu membuat orang pingsan atau tidak berdaya disamakan dengan menggunakan kekerasan, kemudian untuk pengancaman kekerasan merupakan suatu bahasa verbal atas suatu tindakan kekerasan yang akan dilakukan si pelaku bilamana si korban tidak menyerahkan barang yang dikehendaki si pelaku.

Namun terlepas dari pembahasan unsur diatas, antara pemerasan dan pencurian dengan kekerasan terdapat perbedaan antara lain dapat didentifikasi dari kedua pasal berikut yaitu :9

 Pasal 365 (1) : Pelaku merebut atau mengambil barang dari kekuasaan korban

 Pasal 368 (1) : Pelaku menerima penyerahan barang dari korban

Mengenai kejahatan tentang pengancaman, diatur di dalam pasal 369 ayat 1 KUHP, berikut isi dari pasal 369 ayat 1 :

“Barang siapa dengan maksud untuk menguntungkan diri sendiri atau rang lain dengan melawan hukum, memaksa orang dengan ancaman akan menista atau menista dengan surat atau dengan ancaman akan membuka rahasia, supaya orang itu memberi

kepadanya sesuatu barang yang seluruhnya atau sebahagian kepunyaan orang lain atau supaya orang itu membuat hutang atau menghapuskan hutang utang dihukum karena mengancam dengan hukuman penjara selama – lamanya empat tahun.”

(7)

 Unsur subyektif

i. Dengan maksud menguntungkan diri sendiri atau orang lan secara melawan hukum, unsur ini merupakan unsur yang sama dengan unsur subyektif dari kejahatan

pemerasan yaitu bahwa perbuatan itu akan memberikan keuntungan yang bersifat melawan hukum kepada orang pelaku itu, dan kemudian orang pelaku itu melakukan perbuatan melawan hukum tersebut, maka ia mempunyai maksud menguntungkan diri sendiri secara melawan hukum.

 Unsur obyektif

i. Adanya pemaksaan, di dalam KUHP tidak diatur mengena definisi istilah dari

pemaksaan, namun dapat ditelaah dengan logika pengertian pemaksaan yaitu suatu tindakan seseorang terhadap orang lain dengan adanya tekanan terhadap orang lain tersebut sementara orang yang ditekan tidak mengingnkan hal tersebut sehingga menimbulkan perasaan yang intimdatif, apabila dikaitkan dengan pasal ini terdapat paksaan dengan menista, menista dengan surat, atau membuka rahasia. Menista disini menurut KBBI ialah suatu perbuatan yang mencela10 begitu pula dengan

menista dengan surat namun perbedaannya hanya media penyampaiannya saja sementara membuka rahasia sudah jelas.

ii. Agar supaya orang itu, unsur ini merupakan tujuan akhir pelaku dari unsur yang telah dibahas sebelumnya dengan paksaan – paksaan yang telah dijelaskan diatas,

kemudian kelanjutan pasal ini ialah “... agar supaya orang itu memberi kepadanya sesuatu barang yang seluruhnya atau sebahagian kepunyaan orang lain atau supaya orang itu membuat hutang atau menghapuskan utang...”

(8)

membuat hutang atau menghapuskan utang” hal ini menjelaskan agar si korban memiliki suatu prestasi kepada si pelaku atau menghapuskan suatu prestasi yang dimiliki si pelaku atau orang lain dengan si korban.

3. Kejahatan terhadap penggelapan

Penggelapan merupakan salah satu kejahatan terhadap kekayaan orang hal ini pun diatur langsung oleh KUHP pada pasal 372 KUHP tentang penggelaan yang mana isinya sebagai berikut :

“Barang siapa dengan sengaja dan dengan melawan hukum memiliki barang yang seluruhnya atau sebahagan kepunyaan orang lain dan yangada padanya bukan karena kejahatan dihukum karena penggelapan dengan hukuman penjara selama- lamanya empat tahun atau denda sebanyak – banyaknya 15 kali enam puluh rupiah.”

Adapun unsur – unsur yang terdapat di dalam is pasal tersebut adalah

 Unsur subyektif

i. Melawan hukum, unsur ini merupakan perbuatan yang dikehendaki tanpa hak dan kekuasaan sendiri para pelaku.

ii. Dengan sengaja, disini ialah berarti ialah orang yang melakukan kegiatan tersebut telah dewasa serta sehat akalnya sehingga mampu mempertanggung jawabkan perbuatannya yang dengan sadar dan memiliki tujuan jelas melakukan hal yang dimaksud.

 Unsur obyektif

(9)

yang bukan miliknya namu barang tersebut hanya dikuasakan sementara pada si pelaku.

ii. Barang yang seluruhnya atau sebagian kepunyaan orang lain unsur ini menjelaskan bahwa adanya kesengajaan dari pelaku untuk melakukan hal tersebut yang terwujud dalam kehendak, keinginan atau tujuan untuk memilki barang secara melawan hukum.

iii. Barang yang dikuasai bukan karena kejahatan, unsur ini menjelaskan bahwa barang yang digelakan si pelaku berasal dari hubungan hukum yang sah bukan karena kejahatan bukan pula karena jual beli, namunyang telah dipercayakan si pelaku, secara perdata barang yang dipercayakan ini dapat melalui perjanjian, baik perjanjian umum maupun perjanjian khusus seperti sewa –beli, gadai, fidusia, serta pinjaman – pinjaman lainnya yang mana memerlukan agunan sehingga agunan yang dimaksud digelapkan.

4. Kejahatan terhadap penipuan

Tindak pidana penipuan merupakan tindak pidana terhadap kekayaan rang yang mana diatur di dalam pasal 378 KUHP yang berbunyi sebagai berikut :

“Barang siapa dengan maksud hendak menguntungkan dirinya atau orang lain dengan melawan hukum, baik dengan memakai nama palsu atau keadaan palsu, baik itu muslihat maupun rangkaian kata – kata bohong membujuk orang supaya memberikan sesuatu barang, atau membuat hutang atau menghauskan piutang, dihukum karena penipuan dengan hukuman penjara selama – lamanya empat tahun.”

Berikut unsur- unsur yang terdpat dalam kejahatan penipuan :

 Unsur subyektif :

(10)

disadari dan dengan sengaja oleh si pelaku agar si pelaku mendapatkan kenikmatan dari aa yang pelaku perbuat atau agar orang lain mendapatkan nikmat atas perbuatan yang dilakukan si pelaku dalam hal ini tndak

kejahatan pencurian.

ii. Dengan melawan hukum, unsur ini merupakan perbuatan yang dikehendaki tanpa hak dan kekuasaan sendiri para pelaku.

 Unsur obyektif :

i. Membujuk orang lain dengan alat pembujuk atau penggerak, unsur ini maksdunya ialah untuk melepaskan setiap hubungan dengan

penyerahan (levering) dalam pengertian hukum perdata11, dimana

sebelum terjadi perbuatan tersebut diakbatkan oleh suatu sikap atau menggunakan media sebagai suatu pemicu agar si korban tergerak untuk melakukan setiap keinginan dari si pelaku hingga keinginan s pelaku tercapai.

ii. Memakai nama palsu, sangat jelas definisi dari unsur ini ialah bukan nama sebenarnya si pelaku

iii. Memakai keadaan palsu, dalam hal ini pelaku merekayasa suatu keadaan kepada si korban

iv. Rangkaian kata – kata bohong, merupakan suatu kata – kata yang memungkinkan timbulnya ceritera akan suatu hal yang terdapat kebohongan seluruhnya maupun sebagian

v. Tipu muslihat, merupakan tindakan – tindakan dari si pelaku yang mengandung kebohongan.

vi. Menyerahkan sesuatu barang, merupakan salah satu tujuan dari si pelaku dari melakukan tindakan – tindakan diatas

vii. Membuat hutang atau menghapuskan piutang, dalam hal ini terkait dengan prestasi si pelaku dengan si korban atau tujuan si pelaku agar si

(11)

korban membuat suatu prestasi dengan si pelaku namun mengandung tindakan – tindakan yang telah dsebutkan diatas.

5. Kejahatan terhadap merugikan orang yang berpiutang atau yang berhak

Kejahatan ini secara umum dibagi menjadi dua kondisi, antara lain bangkrut biasa dan bangkrut tipu, adapun bangkrut biasa diatur dalam Pasal 369 KUHP dan bangkrut tipu diatur dalam pasal 397 KUHP.

Berikut akan dibahas mengenai bangkrut biasa yang diatur di dalam pasal 396 KUHP yang berbunyi :

“seorang pedagang yang dinyatakan pailit atau yang diizinkan menyerahkan harta benda menurut hukum, dapat dihukum, karena bangkrut biasa dengan hukuman penjara selam – lamanya satu tahun dan empat bulan.”

ke 1 Jika telah melakukan pemborosan dalam pengeluaran uangnya; ke 2 Jika dengan maksud mempertangguhkan pailitnya, telah meminjam

uang dengan mengadakan perjanjan yang berat, sedang diketahui, bahwa injaman itu tidak dapat mencegah pailitnya itu ;

ke 3 Jika ia tidak memberikan dalam keadaan baik dan lengkap buku dan surat – surat dimana ia mengadakan catatan menurut Pasal 6 KUHD dan surat – surat itu yang ia simpan menurut pasal itu.

Unsur – unsur bangkrut biasa ialah sebagai berikut :

i. Saudagar/Pedagang yang dinyatakan pailit atau yang diizinkan

(12)

ii. Pada butir ke – 1, yaitu boros perbuatan ini ialah pengeluaran biaya hidup yang terlampau tinggi sehingga membahayakan solvensinya

iii. Pada butir ke – 2, yaitu meminjam uang dengan mengadakan perjanjian yang berat, yaitu seseorang yang sedang dalam keadaan pailit memnjam uang dengan tujuan apapun namun secara matematis si

saudagar/pedagang tidak akan mampu memenuhi prestasi dari perjanjian tersebut sehingga membahayakan solvensinya

iv. Butir ke – 3, yaitu tidak memberikan dalam keadaan baik dan lengkap buku dan surat mengenai catatan menurut pasal 6 KUHD, artinya di si saudagar/pedagang tidak mencatat dengan baik kegiatan – kegiatan tentang keadaan harta perusahaan dan semua yang berhubungan dengan perusahaan selama perusahaan itu berjalan atau tidak menyimpan buku atau catatan – catatan itu dengan baik.12

Kemudian untuk bangkrut tipu di atur di dalam pasal 397 KUHP yang berbunyi sebagai berikut :

“ Saudagar yang dinyatakan pailit atau yang diizinkan menyerahkan harta bendanya menurut hukum, karena bersalalah bangkrut tipu, dihukum dengan hukuman enjara selama – lamanya tujuh tahun, jika untuk mengurangi hak yang berpiutang kepadanya dengan jalan menipu ;

ke 1 : ia mengarang hutang atau menyembunyikan keuntungan atau mencabut barang dari harta bendanya;

ke 2 : ia telah melepaskan barang, baik dengan percuma maupun dengan nyata dibawah harganya;

(13)

ke 3 : ia menguntungkan salah seorang yang berpiutang padanya dengan jalan apapun pada waktu ia pailit atau pada ketika ia tahu, bahwa pailtnya itu tidak dapat dicegah lagi ;

ke 4 : ia tidak mencukup kewajibannya mengadakan catatan menurut pasal 6 ayat ertama Kitab Undang – undang Hukum Dagang dan lengkap tentang memegang dan tentang menyimpan dan mengadakan buku dan surat keterangan dan surat lain yang tersebut dalam ayat ketiga pasal itu.

Unsur – unsur dari Pasal ini ialah :

i. Saudagar/Pedagang yang dinyatakan pailit atau yang diizinkan

menyerahkan harta benda menurut hukum, unsur ini menjelaskan bahwa kejahatan ini hanya berfokus kepada subyek hukum yang berprofesi sabagai saudagar/pedagang yang sedang dalam keadaan pailit.

ii. Pada butir ke – 1, ia mengarang hutang, menyembunyikan keuntungan, ia mencabut barang dari harta bendanya, maksud dari unsur ini ialah bertujuan sama yaitu agar menipu agar dinyatakan pailit sehingga merugikan kreditornya.

(14)

iv. Pada butir ke – 3, yaitu menguntungkan salah seorang berpiutang pada waktu ia pailit, artinya ialah menguntungan para yang berpiutang atau salah seorang.13

v. Pada butir ke – 4, yaitu tidak memberikan dalam keadaan baik dan lengkap buku dan surat mengenai catatan menurut pasal 6 KUHD artinya si saudagar/pedagang tidak memenuhi kewajiban – kewajiban yang ditetapkan oleh pasal 6 ayat 1 dan 3 KUHD.

6. Kejahatan terhadap perusakan barang

Kejahatan terhadap perusakan barang, jelas terkat dengan kejahatan terhadap kekayaan rang, kejahatan ini diatur di dalam pasal 406 KUHP ayat 1 dan ayat 2 yang berbunyi sebagai berikut ;

Pasal 406 ayat 1 yaitu ;

“Barang siapa dengan sengaja dan dengan melawan hukum, menghancurkan, merusakkan, membuat sehingga tak dapat dipakai lagi atau menghilangkan barang yang sama sekali atau sebagian kepunyaan orang lain, dihukum dengan hukuman penjara selama – lamanya dua tahun delapan bulan atau denda sebanyak – banyaknya 15 kali tiga ratus rupiah”

Unsur – unsur dari pasal ini ialah :

 Unsur subyektif :

(15)

akalnya sehingga mampu mempertanggung jawabkan perbuatannya yang dengan sadar dan memiliki tujuan jelas melakukan hal yang dimaksud dan melawan hukum ialah unsur ini merupakan perbuatan yang dikehendaki tanpa hak dan kekuasaan sendiri para pelaku. Adapun penambahan kata “dan” disini menurut Hoge Raad

memberikan arti, bahwa unsur dengan sengaja tidak meliputi unsur dengan melawan hukum, meskipun pelaku tidak mengetahui, bahwa perusakan itu melawan hukum, maka pelaku tetap dapat dipersalahkan karena melanggar pasal 406 (1) KUHP.14

 Unsur Obyektif :

i. Menghancurkan, merusakkan, membuat sehingga tidak dapat dipakai lagi, unsur – unsur ini jelas ditujukan pada benda yang telah dirusakkan ataupun dihancurkan oleh si pelaku.

ii. Menghilangkan, disini juga ditujukan pada bendanya namun dalam hal ini karena perbuatan si pelaku bendanya tidak dapat dipakai lagi ataupun ditampilkan lagi. iii. Sama sekali atau sebagian kepunyaan orang lain, jelas barang yang dirusak oleh si

pelaku merupakan barang yang dimana melekat suatu hak pada si korban yang dimiliki sebagian atau seluruhnya oleh si korban.

Pasal 406 ayat 2 yaitu :

“Hukuman itu juga dijatuhkan kepada orang yang dengan sengaja dan dengan melawan hukum membunuh, merusakkan, membuat sehingga tak dapat dipakai lagi atau

menghilangkan hewan yang sama sekali atau sebagian kepunyaan orang lain.”

Unsur – unsur dari pasal ini adalah :

 Unsur subyektif :

i. Dengan sengaja dan dengan melawan hukum yaitu , dimana dengan sengaja disini ialah berarti ialah orang yang melakukan kegiatan tersebut telah dewasa serta sehat

(16)

akalnya sehingga mampu mempertanggung jawabkan perbuatannya yang dengan sadar dan memiliki tujuan jelas melakukan hal yang dimaksud dan melawan hukum ialah unsur ini merupakan perbuatan yang dikehendaki tanpa hak dan kekuasaan sendiri para pelaku. Adapun penambahan kata “dan” disini menurut Hoge Raad

memberikan arti, bahwa unsur dengan sengaja tidak meliputi unsur dengan melawan hukum, meskipun pelaku tidak mengetahui, bahwa perusakan itu melawan hukum, maka pelaku tetap dapat dipersalahkan karena melanggar pasal 406 (1) KUHP.

 Unsur Obyektif :

i. Menghancurkan, merusakkan, membuat sehingga tidak dapat dipakai lagi, unsur – unsur ini jelas ditujukan pada benda yang telah dirusakkan ataupun dihancurkan oleh si pelaku.

ii. Menghilangkan, disini juga ditujukan pada bendanya namun dalam hal ini karena perbuatan si pelaku bendanya tidak dapat dipakai lagi ataupun ditampilkan lagi. iii. Hewan, merupakan tambahan unsur obyektif di dalam pasal ini yang mana

definisinya sangat jelas.

iv. Sama sekali atau sebagian kepunyaan orang lain, jelas barang yang dirusak oleh si pelaku merupakan barang yang dimana melekat suatu hak pada si korban yang dimiliki sebagian atau seluruhnya oleh si korban.

7. Kejahatan terhadap penadahan

Terhadap kejahatan ini diatur di dalam pasal 480 KUHP yang berbunyi sebagai berikut : “ Dihukum dengan hukuman penjara selama – lamanya empat tahun atau denda sebanyak – banyaknya 15 kali enam puluh rupiah :

(17)

menyembunyikan sesuatu barang yang diketahunya atau dapat disangkanya, bahwa barang itu diperoleh karena kejahatan;

ke 2 Barang siapa mengambil untung dari hasl sesuatu barang, yang diketahuinya atau patut dapat disangkakannya, bahwa barang itu diperoleh karena kejahatannya.

Unsur- unsur yang terdapat dalam pasal ini ialah:

 Unsur obyektif :

i. Yang diketahuinya atau patut disangkanya, unsur ini dapat dibag menjadi unsur sengaja (dolus) yaitu dari kata diketahuinya serta kelalaian (culpose) yaitu dari kata dapat disangkakannya. Yang mana sengaja berarti pelaku mengetahu benar barang yang dimaksud berasal dari kejahatan sementara kelalaian yang berarti yang menurut perhitungan yang layak pelaku daat menduga, bahwa barang yang dimaksud berasal dari kejahatan.

 Unsur subyektif :

i. Mengambil keuntungan dari hasil sesuatu barang,, yang mana unsur ini merupakan unsur penyamaan dengan penadahan, dimana pendapatan yang menghasilkan keuntungan dari hubungan hukum benda tersebut (Jual – bel, sewa – beli, dsb) tersebut berasal dari kejahatan.

ii. Barang diperoleh karena kejahatan, unsur ini ialah hasil perolehan barang yang diterima seseorang untuk mendapatkan keuntungan tersebut merupakan barang yang berasal dari kejahatan, seperti pencurian, penggelapan dsb.

DAFTAR PUSTAKA

1) Anwar , H.A.K Moch, hukum pidana bagian khusus (kuhp buku II) jilid I,cetakan keenam.

(18)

2) Prakoso , Djoko dan Edy Yunianto, Dualisme dalam peraturan hukum pidana sejak

berlakunya undang undang no 1 tahun 1986. Jakarta : Bina Aksara, 1986. 3) Kitab Undang – Undang Hukum Dagang

Referensi

Dokumen terkait

Rencana stratejik Balitsa selama lima tahun telah tertuang dalam Rencana Strategi (Renstra) Balitsa 2010 – 2014 dengan menerapkan Visi yang tercantum yaitu “ Menjadi

Pada unsur latar, diidentifikasi tiga jenis latar yaitu latar tempat, waktu, dan sosial.Latar yang dilukiskan dalam kumpulan cerpen Sepotong Hati yang Baru dapat

mampu menerapkan matematika, sains alam, dan prinsip rekayasa ke dalam prosedur dan praktek teknikal ( technical practice ) untuk menyelesaikan masalah teknologi pada

Seni Grafitti di Kota Makassar merupakan ajang perebutan ruang publik bagi bomber grafitti dan berusaha mengaktualisasikan diri mereka agar dikenal atau

Pada data existing untuk arus gangguan 1 fase ke tanah tidak dapat terdeteksi oleh relay 51N karena nilai arus pickup yang terlalu besar, sedangkan pada hasil perhitungan dengan

Setelah itu, peneliti melakukan analisis data, dengan mengidentifikasi adanya ide/ konsep matematis yang ada dalam sistem penanggalan masyarakat Kampung Naga,

Pada tahun berikutnya (1909) berkembang Sarekat Dagang Islam (SDI), berbeda dengan Budi Utomo, pedukung gerakan adalah para pedagang batik, yang merasa diperlakukan

sebesar 0,39, Artinya adalah bahwa sumbangan pengaruh variabel independen (INVESTASI dan TENAGA KERJA) terhadap variabel dependen (PDRB) adalah sebesar 39%,