• Tidak ada hasil yang ditemukan

PEMBELAJARAN MENULIS ANEKDOT SISWA SMA K

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PEMBELAJARAN MENULIS ANEKDOT SISWA SMA K"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

Nanang Setyo Pamuji ¹ Imam Suyitno ²

Mudjianto ²

Email: [email protected]

Universitas Negeri Malang, Jalan Semarang No. 5 Malang

Abstract :The purpose of this study is to describe the planning, execution, and assessment of learning to write anecdotes class X SMA Negeri 1 Kepanjen. This study used a qualitative approach and descriptive design. The data in this study consisted of planning data, the data implementation, and assessment data. Planning data in the form of the RPP. Implementation data in the form of speech and interaction of teachers and students. Assessment data in the form of implementation of assessment processes and outcomes assessment. Data analysis includes the data collection, data reduction, data presentation, and inference data. The results of this study is the description of learning to write anecdotes in class X in the form of planning, implementation, and assessment.

Key words : learning, writing anecdotes, planning, implementation, and assessment.

Abstrak : Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian pembelajaran menulis anekdot siswa kelas X SMA Negeri 1 Kepanjen. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan desain deskriptif. Data dalam penelitian ini terdiri dari data perencanaan, data pelaksanaan, dan data penilaian. Data perencanaan berupa perangkat RPP. Data pelaksanaan berupa tuturan dan interaksi guru dan siswa. Data penilaian berupa pelaksanaan penilaian proses dan pelaksanaan penilaian hasil. Analisis data meliputi pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penyimpulan data. Hasil penelitian ini adalah deskripsi tentang pembelajaran menulis anekdot di kelas X yang berupa perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian.

Kata-kata kunci : pembelajaran, menulis anekdot, perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian.

Menulis merupakan aspek ketrampilan berbahasa yang lengkap. Menulis merupakan ketrampilan berbahasa yang lengkap karena aspek menulis merupakan hasil kematangan individu dalam aspek mendengar, aspek membaca, dan aspek berbicara sehingga dapat disimpulkan bahwa kualitas tulisan siswa tergantung pada kemampuan individu dalam aspek mendengarkan, aspek membaca, dan aspek berbicara. “Menulis disebut sebagai ketrampilan berbahasa yang kompleks karena berkaitan dengan ketrampilan mendengarkan, berbicara, dan membaca” (Ghazali, 2010:310).

¹ Nanang Setyo Pamuji adalah mahasiswa Universitas Negeri Malang (UM). Artikel ini diangkat dari Skripsi Sarjana Pendidikan Universitas Negeri Malang.

² Imam Suyitno dan Mudjianto adalah Dosen Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang (UM).

(2)

Salah satu mata pelajaran dalam menulis adalah menulis teks anekdot. “Anekdot merupakan cerita lucu yang sengaja dibuat agar dapat menghibur pembaca atau pendengar” (Wachid, 2010:28). Dalam matapelajaran anekdot peserta didik dituntut agar mampu menulis anekdot berdasarkan struktur isi dan ciri teks anekdot. Struktur isi terdiri dari abstraksi, orientasi, krisis, reaksi, dan koda. Ciri teks anekdot bersifat sindiran, lucu, protes sosial, dan dari tokoh penting maupun tokoh rekaan.

Pembelajaran menulis anekdot terbagi menjadi tiga kegiatan, yaitu (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, dan (3) penilaian. Peran pendidik begitu sentral dalam pembelajaran. Pendidik dituntut untuk mampu membuat perencanaan, pelaksanaan, dan juga penilaian yang sesuai dengan tujuan pembelajaran, mengemasnya semenarik mungkin sehingga mampu mendorong motivasi dan membangkitkan semangat belajar siswa. Yusi (2012:4) menyatakan “ketercapaiannya tujuan pembelajaran juga bergantung pada kemampuan guru sebagai perencana, pelaksana, dan penilai”. Selain itu, perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian harus disesuaikan dengan kurikulum yang berlaku hal ini agar tidak terjadi perbedaan dengan tujuan pembelajaran yang ditetapkan pemerintah.

Dalam perencanaan pembelajaran pendidik harus mampu membuat RPP yang lengkap dan sistematis agar pembelajaran berlangsung secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, efisien, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik (Permendikbud no. 65 th 2013). Pada pelaksanaan pembelajaran pendidik harus mampu mengimplementasikan RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran) dalam pelaksanaan pembelajaran. Kegiatan yang harus terpenuhi dalam pelaksanaan pembelajaran adalah adanya kegiatan pendahuluan, kegiatan inti, dan kegiatan penutup. Selain itu, dalam penilaian pembelajaran pendidik melakukan penilaian dari dua aspek yaitu penilaian proses dan penilaian hasil menulis anekdot.

Penelitian pembelajaran menulis anekdot perlu dilakukan karena menulis anekdot adalah materi baru dalam pelajaran Bahasa Indonesia sehingga masih minim penelitian yang menyangkut pembelajaran menulis anekdot. Selain itu, menulis anekdot juga penting bagi siswa setelah lulus nanti hal ini dikarenakan cerita anekdot apabila dibukukan dan diterbitkan dapat bernilai ekonomi bagi siswa yang menekuninya sehingga diperlukan pembelajaran menulis anekdot yang benar-benar mampu menunjang katercapaiannya tujuan pembelajaran tersebut.

(3)

Tujuan dari penelitian ini, yaitu mendeskripsikan tentang (1) perencanaan pembelajaran menulis teks anekdot, (2) pelaksanaan pembelajaran menulis teks anekdot, dan (3) penilaian pembelajaran menulis teks anekdot. Melalui deskripsi tentang perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian ini, akan memberikan inspirasi bagi guru agar lebih kreatif dan inovatif dalam melaksanakan pembelajaran menulis teks anekdot. Selain itu, penelitian ini dapat menjadi bahan refleksi bagi sekolah, khususnya dalam pembelajaran Bahasa Indonesia.

METODE

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis deskriptif. Dalam penelitian ini peneliti mengumpulkan data berdasarkan deskripsi-deskripsi latar alamiah tanpa adanya manipulasi untuk menunjang penelitian. Penelitian ini memaparkan data secara deskriptif, yaitu peneliti berusaha untuk menggambarkan bagaimana perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian dalam pembelajaran menulis anekdot di kelas X. Peneliti bertindak hanya sebagai observer tanpa ikut serta dalam proses belajar mengajar berlangsung pada pembelajaran menulis anekdot mulai dari awal sampai berakhirnya pembelajaran. Dalam melakukan observasi peneliti sebisa mungkin tidak mengganggu proses belajar mengajar berlangsung hal ini sebagai upaya peneliti untuk menciptakan suasana alamiah yang menjadi tolak ukur penelitian ini. Lokasi penelitian ini adalah SMA Negeri 1 Kepanjen kelas X. Penelitian ini berlangsung selama dua hari yaitu pada tanggal 27 - 28 Januari 2014.

Data dalam penelitian ini dibagi atas tiga bagian, yaitu (1) data perencanaan menulis anekdot, (2) data pelaksanaan menulis anekdot, dan (3) data penilaian menulis anekdot. Data perencanaan menulis anekdot berupa komponen RPP, meliputi identitas RPP, kompetensi inti, kompetensi dasar dan indikator, tujuan pembelajaran, materi pembelajaran, pendekatan, model pembelajaran, metode, langkah-langkah pembelajaran, dan penilaian. Data pelaksanaan menulis anekdot berupa informasi saat pelaksanaan pembelajaran meliputi tuturan dan interaksi guru dan siswa. Data penilaian menulis anekdot berupa informasi pelaksanaan penilaian proses dan penilaian hasil. Sumber data dalam penelitian ini, yaitu (1) data perencanaan pembelajaran bersumber dari transkrip wawancara dan hasil studi dokumen komponen RPP, (2) data pelaksanaan pembelajaran bersumber dari hasil observasi dan transkrip dialog guru dan siswa, dan (3) data penilaian pembelajaran bersumber dari hasil studi dokumen perangkat penilaian dan hasil observasi pelaksanaan penilaian.

(4)

penyusunan RPP. Pedoman studi dokumen digunakan untuk mendeskripsikan komponen RPP. Alat perekam audio visual digunakan untuk merekam tuturan dan interaksi antara guru dan siswa. Tahapan dalam prosedur pengumpulan data yaitu peneliti datang langsung untuk melakukan wawancara, perekaman, observasi, analisis RPP pembelajaran menulis anekdot kemudian peneliti melakukan transkrip data terhadap hasil rekaman.

Analisis data dalam penelitian ini bertujuan untuk pemerolehan informasi tentang pembelajaran menulis anekdot di kelas X. Analisis data dilakukan setelah data terkumpul secara keseluruhan. Data analisis diperoleh dari wawancara, lembar observasi, studi dokumen, dan trankrip rekaman. Langkah-langkah analisis data, meliputi (1) pengumpulan data, (2) reduksi data, (3) penyajian data, dan (4) penyimpulan data. Agar keabsahan dapat terjaga peneliti melakukan triangulangi yang berupa (1) mencari bahan referensi dengan membaca, mengecek temuan secara berulang-ulang agar peneliti menemukan kekurangan dan memperbaikinya, (2) Berdiskusi dengan dosen pembimbing, dan (3) berdiskusi dengan guru bahasa Indonesia kelas X. Tahap-tahap penelitian dimulai dari tahap perencanaan, pelaksanaan, dan tahap penyelesaian

HASIL PENELITIAN

Hasil dari penelitian ini terbagi menjadi tiga bagian yaitu, (1) perencanaan pembelajaran menulis anekdot, (2) pelaksanaan pembelajaran menulis anekdot, dan (3) penilaian pembelajaran menulis anekdot.

Perencanaan Pembelajaran Menulis Anekdot

Proses guru dalam menyusun RPP berpedoman pada KI, KD kemudian berdasarkan KI dan KD guru merumuskan indikator dan tujuan pembelajaran setelah indikator dan tujuan pembelajaran dirumuskan barulah guru menyusun materi, metode, media, alat, sumber belajar, kegiatan pembelajaran, dan penilaian. RPP yang disusun oleh guru terdapat upaya untuk menumbuhkan KI 1, membentuk KI 2, mengembangkan KI 3, dan mengaktifkan KI 4. Selain itu, RPP yang disusun oleh guru menerapkan pendekatan saintifik berupa aktivitas mengamati, aktivitas menganalisis, aktivitas membentuk jejaring, aktivitas mencoba, aktivitas mengomunikasikan, aktivitas mengevaluasi, aktivitas menalar, dan aktivitas mencipta.

Pelaksanaan Pembelajaran Menulis Anekdot

(5)

siswa dalam mengomunikasikan, mencoba, menganalisis, mencipta, membentuk jejaring, menalar, dan menanya.

Penilaian Pembelajaran Menulis Anekdot

Pada penilaian proses dilakukan oleh guru sendiri disaat pelaksanaan pembelajaran berlangsung. Nilai proses dicatat sendiri oleh guru. Catatan nilai proses yang dilakukan oleh guru berpedoman pada lembar observasi yang telah dilengkapi dengan kriteria dan deskriptor tetapi guru tidak memberikan catatan khusus tentang kemajuan dan hambatan yang dialami oleh siswa. Aspek yang dinilai pada penilaian proses yaitu aktivitas, antusias, dan partisipasi. Pada penilaian hasil dilakukan oleh guru setelah tugas menulis anekdot dikumpulkan. Dalam penilaian hasil guru tidak memberikan catatan berupa nilai atau tanda tangan pada karangan teks siswa. Penilaian hasil dilaksanakan oleh guru di luar jam pelajaran berpedoman pada rubrik penilaian yang dilengkapi kriteria dan diskriptor. Aspek yang dinilai oleh guru dalam penilaian hasil meliputi: penulisan isi, struktur, kosakata, dan, kalimat.

PEMBAHASAN

Pembahasan pembelajajaran menulis anekdot terbagi menjadi tiga aspek yaitu (1) pembahasan perencanaan pembelajaran, (2) pembahasan pelaksanaan pembelajaran, dan (3) pembahasan penilaian pembelajaran. Pembahasan perencanaan pembelajaran meliputi pembuatan RPP. Pembahasan pelaksanaan pembelajaran meliputi kegiatan awal, kegiatan inti, dan kegiatan penutup. Pembahasan penilaian pembelajaran meliputi penilaian proses dan penilaian hasil.

Pembahasan Perencanaan Pembelajaran Menulis Anedot

Berdasarkan paparan data dan temuan penelitian berupa RPP dapat disimpulkan bahwa RPP guru SMA Negeri 1 Kepanjen Malang terdiri dari komponen (1) identitas RPP, (2) KI, (3) KD dan indikator pencapaian kompetensi, (4) tujuan pembelajaran, (5) metode pembelajaran, (6) media, alat, dan sumber pembelajaran, (7) materi pembelajaran, (8) kegiatan pembelajaran, dan (9) penilaian pembelajaran. Permendikbud no. 65 th 2013 memaparkan komponen dalam RPP, meliputi (1) identitas sekolah, (2) identitas mata pelajaran atau tema/subtema, (3) kelas/semester, (4) materi pokok, (5) alokasi waktu, (6) tujuan pembelajaran, (7) kompetensi dasar dan indikator pencapaian kompetensi, (8) materi pembelajaran, (9) metode pembelajaran, (10) media pembelajaran, (11) sumber belajar, (12) langkah-langkah pembelajaran, (13) penilaian hasil pembelajaran.

KI yang ada dalam RPP SMA Negeri 1 Kepanjen Malang terdiri dari KI 1 yaitu kompetensi inti sikap spiritual, KI 2 yaitu kompetensi inti sikap sosial, KI 3 yaitu kompetensi inti pengetahuan, dan KI 4 kompetensi inti ketrampilan. Dalam RPP guru telah mengambarkan upaya dalam mewujudkan KI 1, KI 2, KI 3, dan KI 4. Permendikbud no. 67 th 2013 memaparkan bahwa dalam menyusun KI guru harus memasukkan keempat KI mulai dari KI 1 untuk sikap religius, KI 2 untuk sikap sosial, KI 3 untuk pengetahuan, dan KI 4 untuk ketrampilan.

(6)

sikap sosial, KD 3 untuk menjabarkan KI 3 dalam aspek pengetahuan, dan KD 4 untuk menjabarkan KI 4 dalam aspek ketrampilan. Permendikbud no. 67 th 2013 memaparkan dengan jelas peran KD dalam kurikulum 2013 sebagai berikut kelompok 1: kelompok kompetensi dasar sikap spiritual dalam rangka menjabarkan KI-1; kelompok 2: kelompok kompetensi dasar sikap sosial dalam rangka menjabarkan KI-2; kelompok 3: kelompok kompetensi dasar pengetahuan dalam rangka menjabarkan KI-3; dan kelompok 4: kelompok kompetensi dasar keterampilan dalam rangka menjabarkan KI-4.

Indikator yang disusun oleh guru berpedoman pada KD kemudian guru menjabarkan KD dalam kompetensi yang lebih terperinci dalam bentuk indikator. Mulyasa (2010:205) menyatakan bahwa “indikator merupakan penjabaran dari KD yang menunjukkan tanda-tanda, perbuatan dan respon yang dilakukan atau ditampilakan oleh peserta didik”. Indikator yang disusun oleh guru berdasarkan empat aspek yang ada pada KD yaitu aspek sikap religius, aspek sikap sosial, aspek pengetahuan, dan aspek ketrampilan. Indikator yang disusun oleh guru juga sudah menggunakan kata-kata operasional yang dapat diukur. Hal ini dapat dilihat dari indikator yang disusun oleh guru telah memuat aspek-aspek yang ingin dicapai sekaligus aspek-aspek yang dinilai dalam pembelajaran menulis anekdot. Selain itu, indikator yang disusun oleh guru telah dipaparkan secara jelas dan sistematis.

Tujuan pembelajaran yang disusun oleh guru berpedoman pada KI, KD, dan indikator tetapi lebih fokus pada tercapainya indikator pembelajaran. Isdissusilo (2012:30) menjelaskan bahwa “tujuan pembelajaran dirumuskan berdasarkan SK, KD, dan indikator yang telah ditentukan”. Tujuan pembelajaran yang disusun oleh guru yaitu dengan menambahkan kata-kata yang menunjukkan tercapainya indikator sehingga dapat disimpulkan tujuan pembelajaran merupakan pencapaian indikator pembelajaran. Seperti indikator sebelumnya tujuan pembelajaran terdiri dari aspek sikap spiritual, aspek sikap sosial, aspek pengetahuan, dan aspek ketrampilan. Arikunto (2003: 132—133) menjelaskan bahwa “tujuan pembelajaran hendaknya menggambarkan pengetahuan, kemampuan, keterampilan, dan sikap yang harus dimiliki oleh siswa sebagai akibat dari hasil pengajaran yang dinyatakan dalam bentuk tingkah laku”. Tujuan pembelajaran yang telah dibuat guru telah mengukur kemampuan, keterampilan, dan sikap/tingkah laku siswa. Selain itu, tujuan pembelajaran yang disusun oleh guru telah disesuaikan dengan karakter peserta didik, kondisi sekolah, dan hasil yang diinginkan.

(7)

benar”. Materi yang disusun oleh guru berupa fakta, konsep, dan prosedur. Materi yang disusun oleh guru masih kurang lengkap yaitu kurang adanya prinsip. Hanfiah & Suhana (2012:121) yang menjelaskan bahwa “materi ajar memuat fakta, konsep, prinsip, dan prosedur yang relevan, serta ditulis dalam butir-butir sesuai dengan rumusan indikator pencapaian kompetensi”.

Guru dalam memilih media yang menarik didasari pada contoh-contoh kongkrit agar siswa menjadi lebih paham. Media yang dipakai guru sudah efektif karena contohnya berupa contoh yang sistematis mulai dari yang lengkap strukturnya sampai yang tidak lengkap. Media yang digunakan oleh guru sudah sesuai dengan materi yang akan diajarkan yaitu menulis anekdot. Slameto (2003:37) menjelaskan bahwa “dengan menggunakan bermacam-macam media akan lebih menarik perhatian siswa, lebih merangsang siswa untuk berfikir, dan diharapkan dapat membina serta membuat alat-alat media yang sederhana, praktis, dan ekonomis, tapi efektif untuk pengajaran”. Alat/bahan yang digunakan oleh guru telah memanfaatkan kondisi kelas yaitu dengan menggunakan lcd proyektor yang ada di dalam kelas. Sumber belajar yang digunakan oleh guru telah menggunakan sumber yang benar yaitu buku yang diterbitkan oleh pemerintah sebagai buku pembelajaran utama Bahasa Indonesia dan beberapa tambahan dari internet.

Metode yang disusun oleh guru berpedoman pada pendekatan saintifik sesuai dengan kurikulum 2013. Selain itu, guru juga menggunakan teknik BTB yaitu baca, tulis, dan bicara. Teknik yang digunakan oleh guru ini sudah mampu membuat siswa antusias untuk belajar dan teknik tersebut sudah disesuaikan dengan kondisi sekolah yaitu dengan memanfaatkan lcd proyektor, disesuaikan dengan kondisi siswa yaitu siswa cukup ramai dalam bicara sehingga guru mengalihkannya pada aktivitas baca dan bicara, sedangkan teknik tulis disesuaikan dengan indikator yang ingin dicapai yaitu menulis anekdot. Metode yang digunakan sudah melibatkan siswa dalam menemukan prosedur, konsep, dan struktur yang ada dalam teks anekdot. Metode yang digunakan juga sudah sesuai dengan materi dan tujuan dari pembelajaran menulis anekdot. Isdissusilo (2012:25-26) menjelaskan bahwa “metode pembelajaran digunakan untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik mencapai KD atau seperangkat indikator yang telah ditetapkan”. Pemilihan metode disesuaikan dengan situasai dan kondisi peserta didik, serta karakter dari setiap indikator dan kompetensi yang hendak dicapai pada setiap matapelajaran.

(8)

siswa secara aktif, karena siswa sebagai subjek didik dan mereka sendiri yang melaksanakan belajar”.

Penilaian yang disusun oleh guru berlandaskan pada kurikulum 2013. Selain itu, guru tidak mencantumkan seluruh aspek penilaian yang ada pada kurikulum 2013. Rencana penilaian pembelajaran yang disusun oleh guru terdiri dari penilaian proses dan penilaian hasil. Pada penilaian proses guru menggunakan teknik observasi dengan instrument lembar observasi. Pada penilaian hasil guru menggunakan teknik proyek dengan instrument rubrik penilaian. Pada penilaian proses aspek yang diamati meliputi keaktifan, antusias, dan partisipasi. Penilaian proses yang disusun oleh guru sudah menyertakan kriteria penilaian dan skor penilaian. Iskandarwassid & Sunendar (2008: 179) menjelaskan bahwa “evaluasi pengajaran diartikan sebagai suatu tindakan atau proses untuk menentukan nilai dari hasil pengajaran atau dari sesuatu yang ada hubungannya dengan dunia pendidikan”. Pada penilaian hasil guru menilai karangan siswa mulai dari aspek isi, struktur, kosakata, dan kalimat. Penilaian hasil yang disusun oleh guru sudah menyertakan kriteria penilaian dan pedoman penyekoran tetapi guru tidak mencantumkan perintah dan petunjuk menulis anekdot pada perangkat penilaian. Wiyono dan Sunarni (2009:2) menjelaskan “kegiatan evaluasi mencangkup kegiatan pengukuran dan penilaian, evaluasi merupakan proses kegiatan menentukan “value” berdasarkan patokan-patokan tertentu, patokan tersebut mengandung pengertian secara kualitatif, misalnya baik-tidak baik, tinggi-rendah, memenuhi kriteria-tidak memenuhi kriteria, dan sejenisnya”. Depdiknas (2003:14) menjelaskan “aspek yang dinilai dalam pembelajaran mencakup tiga ranah (kognitif, afektif, psikomotor) yang meliputi ketrampilan mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis, baik yang berkaitan dengan bahasa maupun sastra Indonesia”.

RPP yang disusun oleh guru juga telah memunculkan karakteristik kurikulum 2013 yaitu pendekatan saintifik. Dalam RPP yang disusun oleh guru pendekatan saintifik berupa aktivitas mengamati, aktivitas menganalisis, aktivitas membentuk jejaring, aktivitas mencoba, aktivitas mengomunikasikan, aktivitas mengevaluasi, dan aktivitas mencipta. Dalam permendikbud no. 65 th 2013 dijelaskan bahwa dalam pendekatan saintifik harus terdapat aspek berupa sikap yang diperoleh melalui aktivitas“ menerima, menjalankan, menghargai, menghayati, dan mengamalkan”. Pengetahuan diperoleh melalui aktivitas“mengingat, memahami, menerapkan, menganalisis, mengevaluasi, mencipta”. Keterampilan diperoleh melalui aktivitas“mengamati, menanya, mencoba, menalar, menyaji, dan mencipta”.

Pembahasan Pelaksanaan Pembelajaan Menulis Anekdot

(9)

mau mengecek kelengkapan struktur teks anekdot, ciri anekdot, dan menulis anekdot secara individu dan kelompok. Sopiatin (2010:46) menjelaskan “aspek dalam proses belajar mengajar, melibatkan siswa secara aktif, karena siswa sebagai subjek didik dan mereka sendiri yang melaksanakan belajar”.

Dalam pelaksanaan pembelajaran guru mengalami kendala dalam penguasaan media pembelajaran guru kurang bisa menguasai lcd proyektor sehingga waktu kurang efektif karena terhenti untuk beberapa waktu. Sopiatin (2010: 80) menjelaskan “media pengajaran berfungsi untuk memudahkan siswa menerima informasi tersebut dengan variasi medote mengajar, kegiatan belajar berfokus pada siswa, dan hal terpenting lainya adalah kemampuan guru dalam menggunakannya”. Dalam proses belajar mengajar guru juga memberi kesempatan kepada siswa yang kurang aktif di kelas dengan menunjuknya untuk membaca dan menjawab perihal struktur yang ada dalam anekdot ketika siswa mengalami kesulitan atau siswa tidak tepat membaca dan menjawab guru membenarkannya. Sopiatin (2010: 46) menjelaskan bahwa “aspek pokok dari proses belajar mengajar, meliputi mengidentifikasi cara belajar yang lebih baik, menciptakan kesempatan belajar, dan mengevaluasai dampak belajar”.

Dalam proses belajar guru juga munggunakan model diskusi untuk siswanya dengan membagi kelas menjadi empat kelompok besar guru memberi tugas kepada kelompok tersebut untuk membuat kerangka anekdot dan kemudian membuat teks anekdot. Kaufeldt (2009:72) menjelaskan bahwa “prestasi dalam akademik akan meningkat karena strategi mengajar melibatkan lebih banyak pengalaman belajar bekerja sama dalam komunitas pebelajar yang penuh perhatian”. Dalam menyampaikan tugas dan juga membagi kelompok guru masih belum bisa membuat siswa paham apa yang harus diperbuat dan yang harus dikerjakan sehingga guru harus mengulangi lagi agar siswa yang bertanya paham. Permendikbud no. 65 th 2013 yang menjelaskan bahwa volume dan intonasi suara guru dalam proses pembelajaran harus dapat didengar dengan baik oleh peserta didik.

Pada pertemuan kedua banyak siswa yang tidak mengerjakan tugas yang diberikan pada pertemuan sebelumnya. Guru ketika mendapati siswanya banyak yang tidak mengerjakan guru dengan sabar menerimanya dan lebih fokus dalam melihat pekerjaan siswa satu-satu. Kaufeldt (2009: 119) menjelaskan bahwa “suasana emosi yang aman dan terjamin yang mendukung strategi untuk menyelesaiakn konflik merupakan kunci pembelajaran”. Agar siswa yang mengerjakan tugas dapat mempertahankan kerajinanya guru memberikan pujian dan kepada siswa yang tidak mengerjakan tugas agar mau mengerjakan guru menyindirnya. Sopiatin (2010:49) menjelaskan bahwa “penggunaan hadiah dapat menimbulkan perilaku siswa yang diinginkan, sedangkan hukuman dapat mencegah perilaku buruk. Jenis-jenis hadiah yang dapat diberikan kepada siswa, seperti pujian akan prestasi intensif dan hak istimewa misalnya diberikan kebebasan atas tugas tertentu”.

(10)

menjelaskan “agar proses belajar mengajar berjalan dengan baik pendidik harus bisa menjauhkan rasa takut siswa pada waktu melaksanakan kegiatan belajar”. Permendikbud no. 65 th 2013 menjelaskan bahwa pengelolaan kelas guru menyesuaikan pengaturan tempat duduk peserta didik sesuai dengan tujuan dan karakteristik proses pembelajaran.

Dalam proses belajar mengajar guru tidak memberikan kejelasan tentang mana yang benar dan mana yang salah perihal materi yang dibahas bersama, guru hanya menyerahkan jawabannya kepada siswa. Isdissusilo (2012:32) menjelaskan “kegiatan inti menggunakan metode yang disesuaikan dengan karakteristik peserta didik dan mata pelajaran yang dapat meliputi proses eksplorasi, elaborasi dan konfirmasi”. Pada akhir kegiatan guru memberikan tindakan lanjutan kepada siswa untuk menyelesaiakan tugasnya menulis anekdot dan dikumpulkan keesokkan harinya. Isdissusilo (2012:35) menjelaskan “bahwa kegiatan penutup guru harus merencakan kegiatan tindak lanjut”.

RPP yang disusun oleh guru terutama pada perencanaan kegiatan pembelajaran ada beberapa ketidaksesuaian dengan kegiatan pelaksanaan pembelajaran. Hal ini terlihat pada kegiatan awal, inti, dan penutup pada pertemuan pertama dan kedua. Permendikbud no. 65 th 2013 menjelaskan bahwa pelaksanaan pembelajaran merupakan implementasi dari RPP yang meliputi kegiatan pendahuluan, kegiatan inti, dan kegaiatan penutup.

Pada pelaksanaan pembelajaran guru telah berupaya mewujudkan KI 1, KI 2, KI 3, dan KI 4 dalam pelaksanaan pembelajaran. Permendikbud no. 67 th 2013 memaparkan bahwa dalam pelaksanaan pembelajaran guru harus mewujudkan keempat KI mulai dari KI 1 untuk sikap religius, KI 2 untuk sikap sosial, KI 3 untuk pengetahuan, dan KI 4 untuk ketrampilan. Selain itu, guru juga memasukkan karakeristik pendekatan saintifik pada pelaksanaan pembelajaran melalui aktivitas siswa dalam mengomunikasikan, mencoba, menganalisis, mencipta, dan membentuk jejaring. Dalam permendikbud no. 65 th 2013 dijelaskan bahwa dalam pendekatan saintifik harus terdapat aspek berupa sikap yang diperoleh melalui aktivitas“ menerima, menjalankan, menghargai, menghayati, dan mengamalkan”. Pengetahuan diperoleh melalui aktivitas “mengingat, memahami, menerapkan, menganalisis, mengevaluasi, mencipta”. Keterampilan diperoleh melalui aktivitas“mengamati, menanya, mencoba, menalar, menyaji, dan mencipta”.

Pembahasan Penilaian Pembelajaran Menulis Anekdot

Berdasarkan paparan data dan temuan penelitian dapat disimpulkan bahwa guru telah melakukan penilaian proses dalam kegiatan pembelajaran. Penilaian proses yang dilakukan oleh guru berpedoman pada pedoman penyekoran dan telah dilengkapi dengan kriteria dan deskriptor tetapi guru tidak memberikan catatan khusus tentang kemajuan dan hambatan yang dialami oleh siswa. Nurgiyantoro (2012:50) menjelaskan “bahwa penilaian proses adalah penilaian yang dilakukan sepanjang dan bersamaan dengan proses pembelajaran lewat berbagai macam cara, penilaian proses juga terkait dengan usaha memberikan umpan balik pembelajaran baik bagi guru maupun peserta didik”.

(11)

Iskandarwassid & Sunendar (2008: 250) menjelaskan bahwa “ada beberapa kriteria yang dapat digunakan sebagai tolak ukur penilaian menulis, diantaranya adalah: kualitas dan ruang lingkup isi, organisasi dan penyajian, komposisi, kohesi dan koherensi, gaya dan bentuk bahasa, mekanik: tata bahasa, ejaan, dan tanda baca, kerapian tulisan dan kebersihan, dan respons afektif pengajar terhadap karya tulis”.

KESIMPULAN DAN SARAN Simpulan

Proses guru dalam menyusun RPP berpedoman pada KI, KD kemudian berdasarkan KI dan KD guru merumuskan indikator dan tujuan pembelajaran setelah indikator dan tujuan pembelajaran dirumuskan barulah guru menyusun materi, metode, media, alat, sumber belajar, kegiatan pembelajaran, dan penilaian. RPP yang disusun oleh guru terdapat upaya dalam mewujudkan KI 1, KI 2, KI 3, dan KI 4. Selain itu, RPP yang disusun oleh guru juga telah memasukkan pendekatan saintifik berupa aktivitas mengamati, aktivitas menganalisis, aktivitas membentuk jejaring, aktivitas mencoba, aktivitas mengomunikasikan, aktivitas mengevaluasi, aktivitas menalar, dan aktivitas mencipta. Dalam pelaksanaan pembelajaran terdapat aktivitas guru dan siswa, keaktifan condong kepada siswa. Terdapat interaksi antara guru dengan siswa dan siswa dengan siswa. Dalam pelaksanaan pembelajaran guru telah mengimplementasikan penerapan untuk KI 1, KI 2, KI 3, dan KI 4. Implementasi pendekatan saintifik pada pelaksanaan pembelajaran meliputi aktivitas mengomunikasikan, aktivitas mencoba, aktivitas menganalisis, aktivitas mencipta, aktivitas membentuk jejaring, aktivitas menalar, dan aktivitas menanya. Penilaian yang dilakukan oleh guru terdiri dari penilaian proses dan penilaian hasil. Pada penilaian proses dilakukan guru saat proses belajar mengajar berlangsung. Hal yang dinilai pada penilaian proses meliputi keaktivan, antusias, dan partisipasi. Pada penilaian proses guru tidak memberikan catatan berupa hambatan dan kemajuan siswa. Pada penilaian hasil dilakukan guru setelah tugas menulis anekdot siswa telah dikumpulkan. Hal yang dinilai pada penilaian hasil adalah struktur isi dan struktur bahasa karangan anekdot siswa. Pada penilaian hasil guru tidak memberikan nilai atau tanda tangan pada karangan siswa.

Saran

Guru dalam pembelajaran menulis anekdot lebih kreatif dan inovatif dalam merencanakan RPP. Dalam pelaksanaan pembelajaran guru harus bisa memotivasi siswa sehingga siswa memiliki semangat dalam belajar. Selain itu, dalam penilaian guru seharusnya berpedoman pada penilaian kurikulum 2013 yang lebih komprehensif. Penelitian ini memiliki kelemahan dalam subjek penelitian sehingga bagi peneliti selanjutnya lebih memilih subjek penelitian yang benar-benar mampu mencerminkan implementasi kurikulum 2013 yang sebenarnya. Selain itu, peneliti selanjutnya sebisa mungkin lebih menambah variasi dalam penelitian pembelajaran agar penelitian tentang pembelajaran tidak monoton.

DAFTAR RUJUKAN

(12)

Dengan Pendekatan Komunikatif-Interaktif. Bandung: Refika Aditama. Hanfiah, N & Suhana, C. 2012. Konsep Strategi Pembelajaran. Bandung: PT.

Refika Aditama.

Isdisusilo. 2012. Panduan Lengkap Membuat Silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran. Magetan: Kata Pena.

Iskandarwassid & Sunendar, P. 2008. Strategi Pembelajaran Bahasa. Bandung: Rosdakarya.

Kaufeldt, Martha. 2009. Berawal dari Otak Menata Kelas yang Berfokus Pada Pebelajar. Jakarta: Indeks.

Maryanto, dkk. 2013. Bahasa Indonesia Ekspresi Diri dan Akademik. Jakarta: Permendikbud.

Mulyasa. 2010. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya Offset.

Nurgiyantoro, B. 2012. Penilaian Pembelajaran Bahasa Berbasis Kompetensi. Yogyakarta: BPFE

Peraturan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan no. 65, 67 th 2013

Slameto. 2003. Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta: PT. Rineka Cipta.

Sopiatin, Popi. 2010. Managemen Belajar Berbasis Kepuasan Siswa. Bogor: Ghalia Indonesia.

Suprapto.1993. Kumpulan Istilah dan Apresiasi Sastra. Surabaya: Indah. Wachid, Sahari Nor. 2010. Peningkatan Kemampuan Menulis Naskah Drama

dengan Menggunakan Anekdot sebagai Sumber Belajar Pada Siswa Kelas XI IPA-1 SMA Brawijaya Smart School (BSS). Skripsi tidak diterbitkan: Universitas Negeri Malang.

Wahyudi, S & Ibrahim, AS. 2012. Asesmen Pembelajaran Bahasa. Bandung: PT. Refika Aditama.

Wiyono, Bambang Budi & Sunarni. 2009. Evaluasi Program Pendidikan dan Pembelajaran. Malang: FIP Universitas Negeri Malang.

Yusi, Anandita Rahmaning. 2011. Pembelajaran Menulis Surat Dinas Siswa Kelas 8C SMP Negeri Kalipare Tahun Pelajaran 2011/2012. Skripsi tidak

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini menghasilkan beberapa pandangan pustakawan Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar terhadap buku-buku kiri dan pelarangan buku-buku kiri di era orde

Pertimbangan klinis : adanya alergi, efek samping, interaksi, kesesuaian (dosis, durasi, jumlah obat dan lain-lain). Jika ada keraguan terhadap resep hendaknya dikonsultasikan kepada

Laporan tugas akhir ini merupakan salah satu laporan untuk memenuhi sebagian persyaratan guna mencapai gelar Ahli Madya Teknologi Hasil Pertanian di Fakultas Pertanian

Hasil penelitian menunjukkan bahwa di Kecamatan Tangse Kabupaten Pidie, adat pumeukleh adalah suatu hal yang sudah dilakukan sejak dahulu, keluarga yang baru melangsungkan

Hubungan sikap kerja dengan kecelakaan kerja Hasil penelitian ini menunjukkan adanya hubungan antara sikap kerja dengan kecelakaan kerja, hal ini dikarenakan sebagian

Sifat formaldehida yang mudah terhidrolisis atau larut dalam air menyebabkan formaldehida yang seharusnya mengikat urea dan tanin agar daya rekat menjadi kuat lebih terikat atau

model pembelajaran TTW (Think Talk Write) adalah usaha untuk mengetahui keterampilan siswa menulis teks eksplanasi. 1) Model pembelajaran TTW ( Think Talk Write )

Dengan diserahkan uang kepada nasabah sebagai wakil dengan akad wakalah maka hutang nasabah kepada bank hanya sebesar uang yang diterima nasabah, hal ini sangat