• Tidak ada hasil yang ditemukan

Respon Filosofis Kelahiran Kehidupan and (1)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Respon Filosofis Kelahiran Kehidupan and (1)"

Copied!
19
0
0

Teks penuh

(1)

Abstraksi

SIKLUS manusia lekat dengan peristiwa-peristiwa agung seperti Kelahiran, Kehidupan, dan Kematian. Peristiwa siklus yang tak henti-henti dilalui oleh sepanjang hidup manusia sampai sekarang bahwa faktanya memang begitulah modelnya. Modelnya itu menjadi pertanyaan besar; Apakah manusia itu lahir, hidup lalu mati semata dan selesai? Apa itu semua? Apa bedanya dengan tumbuhan, binatang dan lainnya? Oleh karena dan untuk apa itu semua terjadi? dan pertanyaan lain seterusnya.

Tanda tanya itu seakan terus mengetuk kepala manusia selagi pagelaran hidupnya berlangsung. Manusia pun berkembang, seiring itu terumuskanlah peristiwa-peristiwa agung kelahiran, kehidupan, kematian yang disaksikannya bukanlah sekedar peristiwa semata melainkan sebagai tanda eksistensial yang penuh keutuhan makna dan sangat orientatif. Dari sinilah mungkin respon filsafat hadir menjadikan peristiwa itu sebagai tema diskursif dalam panggung manusia untuk dapat diungkap sesuai “adanya” –ontologis-, “benar diketahuinya” – epistemologis-, dan “faktanya bernilai” –axiologis-.

Sebagai bahan ulasan untuk terfokusnya dan tidak meracaunya pembahasan kesana kemari dalam tulisan ini, maka tema-tema yang dimaksud tersebut dianalisis dari beberapa pendekatan, diantaranya; tema “kelahiran” melalui pendekatan teologis, tema “kehidupan” melalui pendekatan sosiologis dan tema “kematian” melalui pendekatan eskatologis. Dengan demikian dapat dimaklumi singkatnya, bahwa penulisan dengan sumber terbatas ini setidaknya diharapkan mampu menjawab perihal mengenai “bagaimana respon filsafat dalam pembahasan tema-tema tersebut dari berbagai tinjauannya”. Semoga demikian.

(2)

PEMBAHASAN

BismiLlahirrahmānirrahīm

Mulanya, manusialah yang mampu merumuskan pertanyaan-pertanyaan sederhana akan tetapi cukup mendalam dan sangat eksistensial. Sengaja atau tanpa sengaja rumusan itu isyarat ajakan reflektif, yang muncul dari kalangan Ahli Fikir-Filsuf, ‘Arif-Bijak. Sejarah mencatat, bentangan awal pertanyaan-pertanyaan mendasar-fundamental itu muncul melalui siklus alam hingga selanjutnya memberikan arahan pengertian yang menembus kehidupan alam metafisika-transendental.1 Di sinilah, para filsuf akhirnya menilai lalu sepakat menyatakan bahwa manusia ialah makhluk utama yang berbeda dari makhluk lainnya. Dengan daya-benih yang tertanam dalam diri manusia, yakni Djiwa, Nous, Sukma, Inteleksi.2 Wahyu menyebutnya Ruh3, atau pula

Fithrah,4 yang telah mampu hadir pada Keberadaan-Kesadaran nan “Abadi-Transendental-Ilahiah”. Bila dikerangkakan, maka hasil pembedaan antara manusia dengan makhluk hidup lainnya, sebagai berikut:

Tumbuhan Binatang Manusia

Jiwa Hidup-tumbuh bergerak Jiwa Hidup-tumbuh bergerak Jiwa Hidup-tumbuh bergerak

Jiwa Nabati Jiwa Inderawi-fisikal Jiwa Inderawi-fisikal

___________________________ Jiwa Hewani-Instink-nafsu Jiwa Hewani-Instink-nafsu ___________________________ ___________________________ Jiwa Insani-Rasio-Intelek

Dari diagram di atas menunjukkan bahwa makhluk yang sempurna memiliki kelengkapan jiwa-jiwa makhluk seluruhnya ialah manusia, dengan jiwa tertinggi yakni Intelek yang dari sini disebutlah bahwa manusia makhluk berpengetahuan –Sapiential-.5

1 Sebuah periode manusia yang beratmosferkan system pengetahuan itu tercatat di Yunani sebagai kerajaan fikiran dengan panjang episode 10 abad. Lih, Mohammad Hatta, Alam Pikiran Yunani (Jakarta: UI Press, 1986), h. 175.

2 Sepertinya ini mungkin maksud “yang oleh karenanya” merupakan struktur metafisik fundamental dari manusia. Louis Leahy, Manusia Sebuah Misteri: sintesa filosofis tentang makhluk paradoksal (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1984), h. 15-16

3 Q.S, al-Hijr (15): 28-29)

4 Shahih Bukhari, terj, H. Zainuddin Hamidy, dkk (Jakarta: Widjaya, 1992) cet. XIII. Bab IV, hadist no. 1779

(3)

Dari pengertian ini dapat disimpulkan bahwa setiap manusia memiliki kecenderungan untuk mengetahui dan sifatnya yang mencari tahu itu menjadi suatu kewajaran alamiah dan keniscayaan baginya. Hasrat mengetahui inilah unsur manusiawi. Tak heranlah sifatnya yang terus bertanya sampai pada pertanyaan yang eksistensial, mendasar dan fundamental itu tak kunjung usai bagi manusia tersebut dan tertuntut untuk memperoleh jawabannya.

Mereka para filsuf terkesan memberikan jawaban-jawaban dari persoalan yang diadakan itu, karena mereka telah tahu alamat yang dituju mengenai persoalan-persoalan tersebut. Selain mereka ada pula yang disebut Mutakallim –ahli kalam/teologi/ilmu tentang ketuhanan- yang pula berupaya memberikan pengertian mendasar mengenai hubungan manusia dengan penciptanya. Namun, yang lebih spesial dan sangat langka ialah manusia terpilih yang disebut Nabi-Utusan-Wali di beberapa zaman dan tempat telah memberikan ajaran-ajaran hidup untuk seluruh manusia seutuhnya baik hubungannya dengan alam dan penciptanya, kehadirannya itu tak terbantahkan.

Pada sisi lain, karena begitu luas dan kompleksnya realitas zaman, memungkinkanlah adanya pelbagai bantahan dan perbedaan pandangan terkhusus antara para filsuf juga mutakallim

demi peneguhan keyakinan masing-masing terhadap kebenaran. Sang Mutakallimun mengkaji persoalan kalam dengan mendahulukan nash (teks), sedangkan sang Filsuf membahasnya tanpa melalui nash. Namun, keduanya dapat mencapai titik temu melalui nash. Maka, ada ungkapan bahwa “Mutakallimun meyakini, kemudian mencari argument, sedangkan para filsuf mencari argument kemudian meyakini”. Jadi, sebenarnya antara ilmu kalam dan filsafat tidak bisa dibedakan secara tajam karena keduanya mengandung unsur filosofis. 6

Corak itu dapat diketahui bahwa pandangan-pandangan itu hadir demi upaya memberikan jawaban yang paten dari sebuah disiplin metode yang berbeda, beragam dan unik. Persinggungan pada satu realitas dengan realitas lainnya itu dalam hal ini menunjukkan bahwa manusia pun akhirnya berada dalam dunia yang sangat penuh kemungkinan (potensi) dan penuh keterbatasan (takdir). Kemungkinan dan keterbatasan itu yang kiranya bisa membuka ruang diskursif tema filsafat yang telah pasti dialami langsung oleh manusia itu sendiri, yakni: Kelahiran, Kehidupan, dan Kematian.

(4)

Kelahiran (analisis pendekatan teologis)

Semua makhluk hidup mustahil tanpa proses, satu diantaranya ialah kelahiran. Bersama kelahiran itu pun perkembangan hidup lainnya berlangsung, artinya segala yang terlingkupi dalam kehidupan melewati ruang kelahiran, baik ia berupa tumbuhan, hewan yang jelas berbeda apalagi dengan manusia. Perbedaan itu membuat manusia sadar akan dirinya, maka kesadaran itu memunculkan pertanyaan-pertanyaan mendasar bagi dirinya yang patut ia jawab dan hadapi sebagai makhluk hidup-sadar. Dengan pertanyaan dan jawaban yang dihadirkan melalui kesadarannya secara jernih dan sehat hingga mendapat pertemuan pada ruang fundamen keyakinan –akidah- bahwa dengan mengetahui sebab-akibat yang bersiklus itu pula menghadirkan keyakinan akan adanya yang menciptakan, melahirkan segala sesuatu ini (semesta alam) bermula darimana, dan melalui itu berlangsung pula penegasan akan keberadan yang tak bisa disangkal, yakni Yang Maha Pencipta, Wujud –Tuhan- dengan segala tanda-tandaNya. 7

Siklus manusia pun memiliki sejarah dan tujuan, sebagai disiplin ilmu, dalam hal ini Teologi merupakan sebuah ruang yang bertugas dalam meneruskan dan memperjelas apa yang Tuhan sabdakan sendiri tentang asal dan tujuan terakhir manusia.8 Teologi Islam dalam hal ini Ilmu kalam, terdapat pula beberapa cara-metode untuk dapat mempertegas sabda-sabda itu. 9 Dengan demikian, untuk masuk pada pembahasan utama di sini, perlunya mengetahui sejauh mana tinjauan tema “kelahiran” ini secara teologis itu memungkinkan dilandasinya pada sebuah teks utama, dalam hal ini Agama: Qur’an dan Sunnah, sehingga berikutnya dapat diterima dengan jelas oleh rasio-nalar.

7 Pertanyaan itu inherent dalam diri manusia, seperti “kita berawal dari mana”, “akan kemana tujuan dan berakhir hidup ini” dan pertanyaan-pertanyaan eksistensial lainnya, yang ini tentu membutuhkan jawaban yang meyakinkan untuk mencapai kebahagiaan-nilai, maka filsafat dalam hal ini diperankan. Lih, Mohsen Gharawiyan, Dar Amadi bar Amuzesye Falsafe. Terj, M. Nur Djabir, Pengantar Memahami Buku Daras Filsafat Islam: Penjelasan untuk Mendekati Analisis Teori Filsafat Islam (Jakarta: Sadra Press, 2012), h. 2-3.

8 Louis Leahy, Manusia Sebuah Misteri: sintesa filosofis tentang makhluk paradoksal (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1984), h. 11

(5)

Pengetahuan alam sebagian besar dapat diketahui dari sang pencipta alam itu sendiri, yakni Tuhan dengan melalui sabda-sabdaNya yang diberikan kepada manusia untuk bisa dikenali dan diketahui keberadaan-wujud alam tersebut. Telah dinyatakan bahwa “alam itu –langit dan bumi- diciptakan selama 6 hari,10 dengan benar,11 hingga menciptakan semua makhluk hidup itu berpasang-pasangan12, dengan pasang-pasangan itu dapat menjalin hidup bersama dalam kasih dan cinta yang dicita-citakan, terkhususnya bagi manusia13 yang telah diciptakan dari tanah kemudian dari nuthfah (air mani-sperma) hingga tiada seorang perempuan pun mengandung dan melahirkan melainkan dengan sepengetahuan-Nya, dan sekali-kali tidak dipanjangkan umur seorang yang berumur panjang dan tidak pula dikurangi umurnya, melainkan (sudah ditetapkan) dalam Kitab (Lauh Mahfudz). Sesungguhnya yang demikian itu bagi Allah adalah mudah”.14

Sedemikian rapihnya ayat-ayat Qur’ani Allah yang disampaikan melalui utusanNya dengan menggunakan bahasa manusia untuk bisa difahami betul oleh manusia, artinya segala yang disabdakan ialah demi kebutuhan dan kepentingan manusia. Maka, tegas dalam hal ini segala ketetapan yang diberikan Allah dalam kitab suci al’Qur’an adalah pengetahuan dan petunjuk yang tak terbantahkan.15

Penegasan itu dapat diterima secara penuh keyakinan rasional bahwa memang pada faktanya segala ciptaan ini memiliki pasang-pasangan baik secara materil-wujud (contoh: pria-wanita, ayah-ibu, dst) atau pun nilai-nilai (ex: atas-bawah, terang-cerah, baik-indah, dst), dengan pengetahuanNya pula segala yang terjadi pada diri manusia yang tak mungkin diketahui olehnya seperti kelahiran dapat terwujudkan oleh kuasa Tuhan –pengetahuanNya-. Kelahiran dalam hal ini merupakan kelahiran manusia utuh penuh dimensi, bermula dari biologis-fisikal suatu kelahiran pertama bagi manusia di muka bumi ini, niscaya hadir alami sesuai dengan kehendak-pengetahuan Ilahi sebagai penentunya. Apakah hanya fisikal-tubuh saja? Adakah Jiwa? Beberapa perwujudan hubungan itu sepertinya terdapat pula dalam hadist:

10 Q.S, Yunus: 3 11 Q.S, al-An’am: 73 12 Q.S, az-Zukhruf: 12 13 Q.S, ar-Rum: 21 14 Q.S, Faathir: 11

(6)

“Sesungguhnya setiap kalian dikumpulkan kejadiannya dalam rahim ibunya selama 40 hari berupa nuthfah. Kemudian menjadi segumpal darah selama itu juga, kemudian menjadi gumpalan seperti sekerat daging selama itu juga. Kemudian diutus kepadanya seorang malaikat maka ia meniupkan ruh kepadanya dan ditetapkan empat perkara, ditentukan rezekinya, ajalnya, amalnya, sengsara dan bahagia. Demi Allah yang tiada illah selain Dia, sungguh salah seorang di antara kaian ada yang beramal dengan amalan ahli surga sehingga tidak ada di antara dia dan surga melainkan hanya tinggal sehasta, maka telah mendahuluinya ketetapan takdir, lalu ia beramal dengan amalan ahli neraka sehingga ia memasukinya. Dan sungguh salah seorang di antara kalian ada yang beramal dengan amalan ahli neraka sehingga tidak ada antara dia dan neraka melainkan hanya tinggal sehasta. Maka, telah mendahuluinya ketetapan takdir, lalu ia beramal dengan amalan ahli surga sehingga ia memasukinya”.16

Proses alami yang diterangkan mendetail dalam hadist itu fisikal-empirikal yang sekarang secara teknologi bisa disaksikan. Rasio pun tak membantah, bahwa seorang ibu yang mengandung dapat dideteksi kandungannya akan jenis kelamin bayi itu (pria atau wanita) setelah waktu 4 bulan sesuai dari hitungan di atas. Namun, mengenai ketetapan dan ruh yang ditiupkan itu merupakan hak prerogratif Tuhan, tiga fase itu pun hanya Tuhan yang mengetahui, dan pada ayat lain disinggung bahwa itu merupakan tiga fase kegelapan,17 dan hak prerogratif itu pun mengenai layak tidaknya seseorang itu nanti masuk surga atau neraka, terlepas meski banyak tidaknya amalan-amalan manusia itu sendiri. Nampak di sini menjadi persoalan mengenai antara kebebasan dan determinisme-ketidakberdayaan manusia sebagai makhluk yang dilahirkan. Apakah manusia tidak memiliki kebebasan? untuk apa manusia dilahirkan? Jiwa bagaimana atau Ruh yang ditiupkan itu bagaimana?18

Secara filosofis, terespon pula dari beberapa pandangan filsuf mengenai terciptanya tubuh dan jiwa-ruh yang tertiupkan seperti hadist di atas; Jiwa mewujud sebelum tubuh dan baru setelah tubuh mengemuka, jiwa bergabung dengannya (Plato); Ruh dan tubuh tercipta secara serentak dan terwujud di waktu yang sama (Aristoteles & Ibn Sina); Tubuh dan jiwa-ruh mempunyai substansi yang berbeda-beda (teori Dualisme-Descartes). Yang menakjubkan, pada akhirnya semua diarahkan secara filosofis-metafisis bahwa tubuh akan berubah menjadi ruh (murni) dalam proses penyempurnaannya, maka tidak ada dualisma dan penyatuan -Jiwa dan

16 Hadist ke-1695, dalam Muhammad Fuad Abdul baqi, Al-lu’llu wa al-Marjan, Mutiara hadist Shahih Bukhari dan Muslim. Terj, (Jakarta: Ummul Qura, 1433 H), h. 1043

17 Q.S, az-Zumar: 6

(7)

Tubuh- melainkan yang terjadi semata-mata proses penyempurnaan (Mulla Shadra).19 Perbedaan dalam pandangan ini secara konsekuensi logis pun berbeda pula dalam hal keberlanjutan eskatologinya, apakah jiwa berubah, tetap, atau pula mati?

Gambaran itu menunjukkan adanya yang azali dan paten pada diri manusia hingga ia dilahirkan dan terus hidup sebagai proses penyempurnaan dirinya. Maka, cukup kuat bila dapat pula ditinjau dengan hadist lainnya yang melibatkan keterjagaan seorang manusia baik dari faktor eksternal -peran orang tua- dan internal -fithrah:

Dari Abu Hurairah, ia berkata, RasuluLlah saw bersabda, “Tidakklah seorang anak dilahirkan kecuali dalam keadaan fithrah. Lalu kedua orang tuanyalah yang menjadikan ia Yahudi, Nashrani, dan Majusi, sebagaimana dilahirkannya binatang ternak dengan sempurna, apakah padanya terdapat telinga yang terpotong atau kecacatan lainnya? Kemudian Abu Hurairah membaca, jika engkau mau hendaklah baca, (tetaplah atas) fithrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fithrah itu. Tidak ada perubahan pada fithrah Allah. Itulah agama yang lurus..20

Pada hadist tersebut, menunjukkan keberadaan peranan orang tua kepada anaknya. Namun, yang lebih eksistensial dan universal seorang anak dilahirkan sesuai fitrah -kesempurnaan kesuciannya. Ini merupakan epistemika kelahiran yang azali. Bisa disaksikan realitanya, ada fenomena kelahiran tanpa orang tua pun terjadi -gugur saat melahirkan, pembuangan dll-, akan tetapi kelahiran manusia pun hidup berlangsung, maka “fitrah” kelahiran seperti hadist di atas merupakan aspek epistemologis seorang anak manusia.

Mungkin pula dari sini manusia itu pada dasarnya memang bebas, merdeka dan berkesadaran.21 Oleh fitrah itu, kesadaran tanpa melalui orang tua ini hadir inherent pada diri manusia, pengetahuan-kesadaran ini merupakan epistemology Hudhuri dalam Ilmu filsafat islam.22 Sedangkan epistemologi Hushuli, yang mana tercermin dari luar diri seorang manusia yang terwakili oleh orangtua, sebagai perantara perolehan pengetahuan, apakah ia akan menjadi

Yahudi, Nashrani, atau Majusi dalam melakoni perannya. Faktor eksternal ini merupakan bentuk atau konsepsi wujud mental “dhihn”. Maka, selain dua hal ini (hudhuri dan hushuli) mustahil ada pembagian ketiga dalam hal epistemology-pengetahuan manusia.23

19 Murtadha Muttahari, Filsafat Hikmah: Pengantar Pemikiran Shadra. Tim penerjemah Mizan (Bandung: Mizan, 2002), h. 108-109

20 Hadist riwayat Bukhari-Muslim, ibid

21 Sepertinya agak sepakat dengan faham yang diketengahkan oleh Mu’tazilah, karena beberapa fasal dalam Ushulnya saling terkait dan mendukung satu dengan lainnya. Lihat, Harun Nasution, Teologi Islam, Op.cit, h. 44-46

(8)

Kesadaran berikutnya inilah yang dianggap sebagai kelahiran setelah kelahiran fisikal-biologis-nafsu, yakni kesadaran-kelahiran jiwa-psikologis-ego-mental dan sampai pada kesadaran kelahiran intelektual-bathini-ruhani. Demikian gradasi kelahiran secara filosofis-metafisis itu bersiklus dimensional dan berhierarkis-berderajat, dan ini sangatlah ontologis.24 Dalam ayat juga disinyalir sebagai percontohan yang dilakoni oleh Nabi Adam selaku manusia pertama di muka bumi yang dipindahkan dari “surga”, dan mungkin pula sebagai rangkaian siklus yang berdimensi, ayat itu berbunyi:

     

Allah berfirman, ‘Di sanalah kalian hidup, di sana kalian mati, dan dari sana (pula) kalian akan dibangkitkan,” (QS. al-A’raf [7]: 25)

Siklus hidup, mati lalu dibangkitkan kembali kepada manusia yang hadir di muka bumi ini, secara teologis merupakan keberadaan yang meniscayakan hubungannya dengan Tuhan, yang memberikan konsekuensi logis untuk dapat menyesuaikan dari apa yang termaktub dalam tiap ajaran yang diberikan melalui utusanNya. Dengan itu manusia mampu memberikan penilaian-penilaian dari peristiwa kelahiran tersebut berupa anugerah dan keberkahan dari Tuhan. Praktik ini dapat ditemukan di beberapa tempat sebagai nilai terapan –axiologis- bagi manusia bila mengalami kelahiran akan melakukan persembahan sebagai wujud syukur-kasih kepada Sang Pemberi Kasih sesuai Agama atau Tradisi-adat.25

Dengan adanya semua itu, maka kelahiran manusia sangatlah berarti signifikan sekali di muka bumi ini sebagai pemberian-hadiah, bahkan cikal bakal cerminan-wakil Tuhan yang mampu menciptakan keharmonisan nilai-nilai yang telah dilangsungkan para utusanNya di semesta. Secara eksistensial, hanya manusialah yang menjadi pilihan makhluk Tuhan untuk menjadi wakilNya. Dramatisasi besar itu dideskripsikan sebagaimana yang tertera dalam Al-Qur’an:

24 Bisa diambil sebuah hikayat agung dalam filsafat Islam yakni Hayy bin Yaqzan oleh Filsuf Maghribi Ibn Thufayl. Lih, Dr. Ahmad Fuad Al-Ahwani, Filsafat Islam (Jakarta: Pustaka Firdaus, 1993), h. 79-82

25 Terangnya menjadi sunnah-tradisi di tiap kalangan umat, seperti Islam bila ada yang melahirkan disunnahkan marhabanan-tasyakuran dengan adanya jabang bayi dalam

(9)

“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui."26

Kandungan ayat ini memberikan penegasan bahwa manusia itu memang mesti dilahirkan karena diantaranya ada orientasi tertentu dari Penciptanya sebagai cerminannya yang mampu menerima segala daya ilahiah itu.

Sampai di sini, respon filsafat dalam hal ini menilai bahwa kelahiran merupakan suatu keniscayaan alamiah yang dialami makhluk hidup, terkhusus manusia, yang tidak hanya sekedar reproduksi biologis-materil semata, tetapi merupakan kelahiran yang azali bahwa manusia memiliki wujud “kelahiran-kelahiran” yang dimensional dan bersiklus transformatif, antara lain kelahiran fisikal-bilogis yang dilalui dengan proses hubungan perkawinan fisikal jantan dan betina yang mengakibatkan proses tumbuh kehamilan. Lalu, kelahiran psikologikal-emosional-mental yang tumbuh melalui proses ke-aku-an/ fikiran dari berbagai keadaan-kondisi alam dalam diri maupun luar diri yang sering berubah-ubah. Dan terakhir kelahiran kesadaran intelektual-spiritual yang lahir dari kesadaran azali-fithri melalui keterbukaan-kesucian “hati” dengan hadirnya sifat-sifat Ilahi hingga jiwa tumbuh berkembang menjadi cerminanNya.

Sebab manusia memiliki “kesadaran fitri” Ruh-Jiwa pada dirinya yang berasal dari Sang Maha Ruh Universal. Dengan begitu tiap kelahiran berdimensi itu memiliki orientasi tersendiri pada tingkatan-level keberadaannya masing-masing di muka bumi ini hingga dapat mewakili makhluk lainnya-di luarnya, dengan memiliki kesadaran itulah manusia mampu menciptakan hubungan terhadap alam sekitarnya melalui pengekspresian nilai-nilai yang dicerminkan berasal dari muara dirinya yang azali-fithrah tadi. Maka, kelahiran dalam hal ini bukanlah satu episode yang selesai akan tetapi berangsur meliputi episode selanjutnya yakni mengarungi kehidupan hingga menerapkan laku hidup sesama di dalamnya untuk menjalin peradaban nilai kemanusiaan-alam-Tuhan seutuhnya.

Kehidupan: analisis pendekatan sosiologis

(10)

Pertanyaan-pertanyaan awal seperti di atas secara mental mengenai dari mana alam ini muncul, mengapa ada ciptaan, akan kemana selanjutnya dan bagaimana alam dan manusia ini sepatutnya hidup? merupakan pertanyaan yang dilalui oleh kesadaran manusia.

Kehidupan, sebagai fase pasca kelahiran yang secara eksistensial manusia menyadari keberadaannya hadir di alam ini, dan dengan kesadarannya diakuinya sebagai makhluk pilihan untuk dijadikan wakil Tuhan. Dengan begitu, pada dasarnya manusia memang tak bisa dikelabui bahwa berkeyakinan terlebih dahulu adanya Yang Maha Pencipta-Kuasa atas diri manusia. Secara praktis itulah, manusia dengan sadar sebagai makhluk hidup tidak mungkin ia hidup sendirian. Keniscayaanya, ia lahir atau tercipta tidak sendirian di muka bumi ini, alam menyertainya, yang melingkupi kumpulan sejenisnya. 27 Dari mulai memiliki keluarga (Suami-Isteri dan seterusnya) hingga menjalin keluarga besar dan lalu hidup bersama bertemu dengan keluarga-keluarga besar lainnya yang menciptakan golongan-kumpulan yang sejenis itu disebutlah masyarakat. Di sini manusia berpredikat sebagai makhluk bermasyarakat-sosial.

Masyarakat sebagai kumpulan manusia yang berinteraksi dengan makhluk sejenisnya dengan menjalin hubungan tertentu, baik itu berumah tangga-keluarga, berekonomi, berkebudayaan-pendidikan dan seterusnya itu bukan hanya sekedar jalinan kontrak sosial, tetapi merupakan kesadaran hidup bersama. Menindaklanjuti bahwa manusia hidup tidak bisa berdiri sendiri dan ia memiliki tujuan di muka bumi ini dengan begitu ia membutuhkan sarana-sarana pendukung demi mengatur dan menjaga keutuhan hidup atas dasar kepentingan bersama itu, antara lain terciptanya sumber daya alam lingkungan (sandang, pangan, papan), system kepercayaan, kebudayaan, norma-norma/ aturan-aturan hidup bersama, hukum, adat; pembangunan kesejahteraan –ekonomi-; pembangunan daya manusia, pendidikan-pengetahuan, dan seterusnya demi kepentingan bersama sesama manusia. Contoh kecil yang konkrit, manusia berkomunikasi menggunakan bahasa yang mampu difahami bersama.

Dalam soal hubungan-relasi antar manusia itu, tentu manusia memiliki pandangan-pandangan, yang disebut faham. Sosialisme sebagai faham menyatakan bahwa yang baik itu bermanfaat bagi orang banyak/ masyarakat. Sedang faham individualisme menyatakan bahwa yang baik itu mengantarkan kepentingan pribadi, sehingga kebebasan diri pribadi itu selalu

27 Mungkin sangat tragic peristiwanya bila ditelusuri terus secara kausal –sebab/akibat- ke belakang manusia pertama, yakni Nabi Adam bagaimana ia hidup sendiri lalu bisa

(11)

muncul eksistensinya. Dalam realitanya, memang terjalin kerjasama dengan orang lain, baik langsung atau tidak langsung, namun yang bertindak itu pula ialah diri pribadi, ia memutuskan sendiri, ia melakukan tindakan dan bertanggung jawab sendiri. Untuk itu mesti ada sintesa yang terpolarisasikan, yakni dengan jalan membuat keseimbangan antara kepentingan pribadi dan kepentingan masyarakat.28 Secara konkrit, hal itu pun telah terbentuk dalam suatu system nilai-falsafah bagi manusia yang terhimpun dalam satu Negara Indonesia, yakni Falsafah Bangsa Pancasila dan UUD yang berBhineka Tunggal Ika. 29

Demikian bahwa manusia tidak mungkin menafikan relasi-hubungan antar manusia lainnya, dan ini suatu hal yang lumrah-alamiah, bahwa manusia pun secara sadar tahu sendiri apa yang dibutuhkan, dikehendaki dan dilakukan itu akan melibatkan di luar dirinya. Jika tidak, manusia/ individu itu akan terasing dan disorientasi –tak tahu arah tujuan- dalam hidup. sebagai contoh laku perjalanan hidup kesadaran manusia seperti hikayat Hayy bin Yaqzan, karya besar

filsuf islam klasik Ibn Thufayl yang telah memberikan isyarat-isyarat filsafatnya mengenai realitas kehidupan manusia secara eksistensial bahwa manusia itu tentu hidup dalam kesadaran, maka tanpa adanya kesadaran akan hal itu bukanlah merupakan kehidupan.30

Dalam hikayat itu cukup memberikan pelajaran bagi seseorang dalam kehidupannya. Judulnya saja sudah bermakna filosofis “Kehidupan Anak Kesadaran”. Menurut Majid Fakhry, kehidupan yang dimaksud dalam hal ini ialah keutuhan dimensi manusia yang terus teramati oleh dirinya sendiri, antara lain:31

1. Akibat karakter impulsive dan kebinatangannya, mau tak mau manusia berhubungan dengan alam binatang dan sebagai bagian dari dunia binatang, ia harus memenuhi kebutuhan fisiknya sebatas bisa bertahan hidup untuk lantas mewujudkan tujuan yang utama, yakni merenungi Tuhan;

2. Akibat karakter spiritual-intelektualnya, manusia berhubungan dengan benda-benda langit yang senantiasa merenungkan keindahan dan keteraturan alam sekitarnya;

28 Drs. R. Parmono, Menggali Unsur-Unsur Filsafat Indonesia (Yogyakarta: Andi Offset, 1985), h. 7

29 Drs. R. Parmono, ibid, h. 1-2.

30 Dr. Fuad Al-Ahwani, FIlsafat Islam, ibid, h. 80-82

(12)

3. Akibat kekudusan jiwanya, manusia berhubungan dengan Wujud Mutlak sebagai makhluk yang “dekat dengan Tuhan”.

Pada hikayah ini, kecenderungan manusia dalam berpengetahuan-sapiential sangatlah ontologis dan hingga akhirnya ia mengenal dimensi-dimensi alam dirinya dan di luar dirinya, kesadaran internal dan eksternal, sebagai pelancongan jiwa pribadi dan makhluk sosial-bermasyarakat agar dapat dimaklumi keberadaan masing-masing itu sesuai pada tempatnya.

Kesadaran pengetahuan inilah bagi manusia karena pada prinsipnya yang menjadikan ia disebut manusia berbeda dengan makhluk lainnya ialah kesadaran pengetahuan-ruh-jiwanya. Unsur kesadaran itu terdiri atas akal, rasa dan kehendak itu manusia mengetahui kebenaran/kenyataan, menghargai keindahan, tertuju pada kebaikan. Hasil dari budidaya manusia dan unsur kejiwaan yang lainnya terwujud dalam bentuk pola berfikir dan bertindak di dalam masyarakat itu lahirlah kebudayaan.32

Untuk itu secara sosial, manusia berbudaya-bermasyarakat yang tercipta dengan norma-norma yang menyelaraskan kehidupan manusia satu dengan lainnya, merupakan cerminan dari kesadaran hidup bersama, terlebih lagi kesatuan hidup yang berasal dari Tuhan Yang Maha Esa dengan alam lingkungan habitat itu manusia mampu mengolah sumber-sumber daya dirinya dan alam untuk keberlangsungan hidupnya hingga generasi berikutnya bahkan tanah airnya. Visi hidup sosial manusia demi sustainnya nilai-nilai di muka bumi sebagai cerminan ilahi.

Tersadarilah bahwa manusia hidup di dunia ini hanyalah sementara sebagai persinggahan atau transisi. Dengan dilandasi anugerah dan berkah fitrah tadi, kesadaran manusia meyakini dan mengetahui serta tidak menafikan adanya dimensi lain dalam kehidupan ini, yakni ada alam kehidupan berikutnya setelah selesai panjangnya hidup di dunia ini. Dimensi lain yang manusia refleksikan dan sadari \keberadaannya itu merupakan susulan alam. Ialah kematian sebagai fase peristiwa organis dalam siklus setiap jiwa manusia, karena memang pada prinsipnya secara eksistensial setiap jiwa akan merasakan kematian.33 Seperti apakah kematian yang dimaksud? Kematian; analisis pendekatan eskatologis

32 Drs. R. Parmono, ibid, h. 26

(13)

Telah disinggung di awal bahwa, siklus manusia berdimensi. Dalam hal ini, tak diragukan bahwa realitas –kenyataan- itu secara ontologis berhierarkis begitu pula kesadaran-ilmu-pengetahuan.34 Pada tingkatan ini nampaknya bahwa struktur metafisis ontologis pada realitas-keberadaan sekaligus kesadaran-pengetahuan yang tak terbantahkan itu memang menjadi lokus universum.

Telah disinggung pula di awal, bahwa pada keberadaannya manusia sebagai makhluk yang dimensional di kehidupan dengan berbagai kondisi (ruang dan waktu) dan pengalamannya itu secara sadar dan eksistensial telah menghampiri manusia itu sendiri; fisikal, mental-psikologikal, spiritual pada tingkatan selanjutnya. Fase-fase itu lahir lalu hidup berjalan dan berakhir pada masanya, lalu apa itu kematian sejatinya?

Sekilas dimaknai mungkin ia merupakan lawan dari kehidupan, sesuatu yang sudah tak hidup lagi. Perihal ini merupakan pembahasan mengenai eskatologi. Lalu, apa itu eskatologi? Dalam Kamus Besar, diartikan sebagai ajaran teologi mengenai akhir zaman (hari kiamat, kebangkitan manusia, dlsb).35 Lalu, apanya yang dibangkitkan? Mengingat bahwa manusia tersusun dari struktur fisikal-tubuh, mental-jiwa dan spiritual-ruhani. Sepertinya kelahiran yang dimensional itu merupakan kebangkitan tertentu dalam hal ini.

Telah menjadi persoalan dalam filsafat-teologi. Pada Tahafut al-Falâsifahnya Imam Al-Ghazali, mengenai eskatologi-keabadian jiwa setelah kematian. Dalam hal ini beberapa telah menjadi perdebatan diantara sebagian filsuf, antara lain: 36

1. Tidak benar bahwa jiwa dapat lenyap karena kematian tubuh; tubuh bukanlah tempat bagi jiwa, tetapi sekedar alat yang dipergunakan oleh jiwa, karena jiwa mempunyai tindakan tanpa kesertaan tubuh, seperti pengetahuan tentang objek-objek akal (ma’qûlât) yang luput dari materi. Sedangkan, tindakan beserta tubuh seperti, imajinasi, sensasi, hasrat dan amarah yang semua ini akan rusak karena kerusakan tubuh dan akan menguat karena penguatan tubuh.

34 Kesimpulan yang tepat ini diambil dari sintesa tauẖidi bahwa Ilmu itu sendiri integral dan berhierarkis serta juga sesuai pada derajat kesadaran masing-masing makro-mikro. Bisa dipertajam dalam Osman Bakar, Classification of Knowledge in Islam: A Study in Islamic Philosophical of Science. Terj, Purwanto, Hierarki Ilmu: Membangun Rangka Pikir Islamisasi Ilmu Menurut Al-Farabi, Al-Ghazali, Quthb Al-Din Al-Syirazi (Bandung: Mizan, 1997), h. 61-63. 35 Kamus Bahasa Indonesia (Jakarta: Pusat Bahasa, 2008), h. 399

36 Imam Al-Ghazali, Tahafut al-Falasifah. Terj, Ahmad Maimun, Kerancuan Para Filosof

(14)

2. Tidak benar dikatakan bahwa jiwa bisa lenyap karena keberadaan lawan, karena substansi (jawhar) tidak mempunyai lawan, oleh karena itu tidak ada yang lenyap dari alam ini kecuali aksiden dan bentuk-bentuk melekat pada segala sesuatu. Bentuk air akan lenyap oleh lawannya, yaitu bentuk udara. Sedangkan materi yang merupakan tempat tidak akan lenyap.

3. Tidak benar juga dikatakan bahwa jiwa akan lenyap karena kekuasaan, karena ketiadaan (‘adam) bukanlah sesuatu sehingga bisa dikonsepsikan keberadaannya dengan kekuasaan Yang Maha Kuasa.

Ketiga dalil itu dikomentari oleh Imam Al-Ghazali, dengan kesimpulan berikut: Pertama, karena bukan kondisi pada fisik, dan didasarkan pada masalah pertama jadi kadang tidak bisa diterima. Kedua, adanya hubungan itu ambigu, sesuatu yang tidak diketahui tidak bisa diputuskan apakah ia menuntut suatu korelasi atau tidak, barangkali hubungan tersebut secara niscaya adalah dalam eksistensi jiwa; jika jiwa tidak ada maka hubungan pun tidak ada, sehingga tidak ada keyakinan atas argument ini. Ketiga, tidak mustahil dikatakan bahwa jiwa akan lenyap atas kekuasaan Allah Swt.

Pada bab 20 dalam Tahafut al-Falasifah dibahaskan pula mengenai eskatologi, sebagian filosof mengungkapkan, bahwa: 37

1. Jiwa kekal selamanya setelah kematian raga, baik dalam keadaan senang maupun sengsara. Kesenangan abadi untuk jiwa-jiwa yang suci (surga), dan kesengsaraan abadi untuk jiwa-jiwa yang kotor (neraka) tapi sempurna. Kesempurnaan dengan pengetahuan dan kesucian dengan perbuatan.

2. Kebangkitannya melalui jiwa dengan sesuai ilmu dan amalnya-akhlaknya. Dengan begitu banyak perumpamaan yang digambarkan melaluinya.

3. Mengenai kemustahilannya dibangkitkan raga dalam argument rasional, Karena raga berupa aksiden. Maka, pengertian Ma’ad –kembali- kembalinya jiwa kepada raga yang telah tiada, atau berhimpunnya raga pertama secara utuh dalam bentuk manusia dan diciptakan lagi kehidupan di dalamnya.

Sang Imam pun mersepon, bahwa kebanyakan pandangan dari filosof ini tidak bertentangan dengan syari’at, namun yang menjadi penyangkalan ialah hanya diketahui dengan

(15)

akal saja, beberapa hal yang bertentangan itu antara lain:38 (1) pengingkaran terhadap kebangkitan raga, (2) pengingkaran terhadap kenikmatan-kenikmatan jasmaniah di surga, (3) pengingkaran terhadap penderitaan jasmaniah di neraka, dan (4) pengingkaran terhadap keberadaan surga dan neraka, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an.

Mengenai tepatnya penilaian dalam persoalan ini tidak terlalu dominan diberikan di makalah ini, karena dalam hal ini sang Imam Al-Ghazali pun masih disangsikan kebenarannya dengan argument logika yang dieesuaikannya beberapa dengan dalil-dalil naql.39

Untuk lebih gamblangnya mungkin kabar-kabar atau info mengenai eskatologi ini bisa melacak dari ayat-ayat dalam Islam, cukup banyak ayat-ayat dalam al-Qur’an menunjukkan adanya hari kebangkitan atau disebutnya hari akhir, alam lain selain dunia ini yang juga terdapat Rajanya.40 Mengenai keberakhiran waktu dan tidak ada yang mampu mengubahnya.41 Karena ajal atau hari akhir yang telah ditentukan itu hanya berada di sisi Allah Yang Mengetahui dan Menentukan. 42 dan yang di sisiNya lah yang kekal sedangkan di sisi manusia adalah kelenyapan. 43 Pada ayat ini membutuhkan penafsiran yang baik, diantaranya ‘Allamah Thabathba’I menafsirkan bahwa, ada dua macam ajal: ajal umum yang tidak diketahui kapan datangnya; dan ajal yang berada di sisi Allah, dan ini tidak dapat berubah. Hubungannya antara ajal pertama dan kedua, serupa dengan hubungan antara sesuatu yang mutlak dan bersyarat (bisa jadi tidak terjadi bila syarat tak terpenuhi). “Mutlak” dalam hal ini seperti yang diistilahkan dalam Al-Qur’an, yakni Lauh al-Mahfudz (lembaran ketentuan yang sudah pasti dan tak berubah), dan “Syarat” dalam hal ini Lauh al-Mahwi wa al-Itsbat (lembaran yang dapat ditetapkan dan dapat diubah). 44

Pada ayat-ayat yang ditampilkan menunjukkan bahwa kematian atau ajal berdimensi; ajal bersifat duniawi dan temporal; dan ajal yang merupakan ketetapanNya yang bersifat abadi. Oleh karena itu, Al-Qur’an biasa menyebutnya dengan istilah “kembali sisi Allah”. Kembali ke sisi

38 Imam Al-Ghazzali, ibid, h. 285-297

39 Sulaiman Dunya, Al-Ghazzali; Biografi dan Pemikirannya dalam Tahafut al-Falasifah, ibid, h. 40-41. Dinyatakan bahwa dalam penulisan kitab tahafut ini masih dalam keraguan ringan, dan kondisi prestos sebagai ulama, jadi belum pada kemantapan keyakinan-pencerahan seperi Ghazzali sendiri nyatakan di beberapa karyanya.

40 Q.S, Al-Fatihah [1]: 4 41 Q.S, Al-Hijr [15]: 5 42 Q.S, Al-An’am [6]: 2 43 Q.S, An-Nahl [16]: 96

(16)

Allah Swt. dan keluar dari kehidupan dunia menuju kehidupan “lain” digambarkan Allah Swt. dalam Kitab-Nya dengan istilah maut (kematian) kematian ini berbeda sebagaimana yang sering difahami seperti hilangnya fungsi indera, punahnya kemampuan beraktivitas dan lenyapnya kehidupan (fisik). 45 dinyatakan dalam firman-Nya:





















Dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari darinya (Q.S, Qaf [50]: 19)

Nampak tegas secara eskatologis bahwa kematian merupakan ketetapan ontologis dari yang mematikan, bahwa hakikat yang digambarkan oleh Allah Swt. dengan ungkapan bil Haqq, sehingga kematian bukanlah ketiadaan, kesirnaan, atau kehilangan, melainkan ialah saat semua manusia kembali kepada Allah Swt. sekaligus saat penggiringan setiap makhluk ke sisi-Nya.46

Jadi, bisa dikaitkan dengan tema-tema sebelumnya yang terangkai sebagai sikulus keutuhan manusia baik sebagai individu-partial maupun secara universal, dan itu telah dimaklumi akan keberadaannya yang sangat dimensional. Dalam hal ini, maka kematian merupakan peristiwa perpindahan dari dimensi-dimensi itu, kelahiran-kehidupan lalu kehidupan-kelahiran. Peristiwa ini cukup kompleks dan ambigu serta paradox, bahwa kematian kok dianggap kehidupan. Secara eskatologis, pengertian ini sangatlah berperan penting bagi manusia. Maka, penting mulanya mengenal bahwa Realitas itu Mutlak, dari kemutlakannya itu meniscayakan kerelativitasannya. Contoh yang sederhana ialah ciptaan yang dapat diambil secara universal sebagai alam ciptaan dengan ragamnya makhluk dan benda-benda. Artinya, di sini kematian juga merupakan keniscayaan logis-ontologis relative pada tingkatan-tingkatannya.

Kematian sering difahami sebagai ketiadaan, padahal kematian bukanlah ketiadaan melainkan perkembangan dan perpindahan; musnah dari satu tingkat untuk memulai hidup di tingkat lain. Dengan kata lain kematian adalah eksistensi mutlak. Kematian adalah non-eksistensi relative, yakni non-non-eksistensi dari satu tahap demi non-eksistensi di tahap lain. Manusia tidak akan mengalami kematian mutlak, melainkan hanya akan kehilangan kondisi tertentu dan

(17)

beralih ke kondisi lain. Di sini, kesirnaan itu bersifat relative.47 Tafsiran filosofis-metafisis ini menunjukkan bahwa adanya dinamisasi dalam diri manusia yang mentransform pada dirinya yang mengalami selalu penyempurnaan, seperti apa yang difilsafati oleh Hikmah Mulla Shadra bahwa suatu benda bergerak (untuk menyempurna) dari alam berdimensi tiga atau empat menuju alam yang tidak berdimensi, yakni alam yang tidak memiliki ukuran panjang, lebar, tinggi, luas dan dikotomi yang menyebabkan terjebaknya pada pemikiran dualistik. Rumusannya terungkap dalam kaidah al-nafs jismâniyyah al-ẖudûts rûẖâniyyah al-baqâ’ (jiwa bermula secara material dan berkelanggengan secara spiritual). Dengan demikian, ruh bukanlah sesuatu selain dari keseluruhan tubuh itu sendiri. Ia bukan barang asing yang dikandung tubuh pada masa hidupnya dan menghilang pada waktu matinya. Tidak ada pertentangan antara maujud fisik dan nonfisik. 48 Dapat dimengerti bahwa proses perkembangan-perpindahan itu merupakan bagian dari proses penyempurnaan secara eksistensial yang menelusuri ruhani-alam spirit manusia yang akhirnya ditegaskan sebagai “kembali ke sisi Tuhan”, dengan begitu pemafhuman dalam ayat

Innā liLlaẖi wa innā ilaiẖi râji’ûn itu adalah suatu ketepatan dan kesungguhan yang benar adanya sebagai siklus nyata. Dari sini nampak ontologis dari lahir hingga proses akhir berlangsungnya manusia niscaya untuk sempurna kembali kepadaNya yang Maha Sempurna-Mutlak-Abadi.

Fenomena kematian pun banyak yang menjadikannya kekhawatiran dan ketakutan, itu karena akibat pandangan bahwa kematian ialah ketiadaan, hasrat ini pula merupakan efek dari keidaman akan keabadian maka fikiran-hasrat manusia menolak mati-tiada. Lain halnya dengan binatang yang tak memikirkan apalagi takut mati. Kecenderungan manusia akan menolak ketiadaan itu merupakan bukti bahwa unsur di dalam manusia memiliki sifat yang abadi. 49 Artinya, tidak secara lahir-dhahir saja dimensi manusia di sini, tetapi dimensi bathin-spirit seperti yang telah disinggung sebelumnya.

Dapat disimpulkan di sini, bahwa kematian merupakan perpindahan alam jiwa yang telah melancongkan keberadaannya di alam dunia-alam mulk-eksternal untuk menuju proses

47 Ibid, 16

48 Murtadho Muttahari, Op.Cit, h. 109

(18)

paripurna ke alam akhir.50 Alam akhir yang telah disinggung baik melalui filosofis dan Qur’ani itu ialah tempat kembali sejatinya jiwa itu yakni “Sisi Tuhan”. Secara ontologis, bisa dikatakan berarti kematian ialah fase kebermulaan kehidupan berikutnya di alam menuju paripurna-sempurna. Tak heran maka, banyak hikayat yang memberikan kesaksian akan berita-berita di alam akhirat mengenai jiwa-jiwa yang berbeda di alam itu. Persaksian terhadap alam ini ialah persaksian tidak hanya ma’qulat melainkan juga persaksian syahadat bagi kalangan yang mampu melihatnya.51 Secara epistemik, pengakuan akan hal ini dilalui keimanan dan ilmu yang terberikan. Nilai-nilai yang dapat dijadikan sistem pun terbentuk mengenai dimensi kehidupan; dunia dan akhirat. Jadi, apa-apa yang berkaitan dengan segala peristiwa di dunia (semasa hidup; amal perbuatan –ibadah-, pengetahuan dlsb itu) secara tidak langsung memiliki sistem nilai tersendiri yang dicerminkan jadinya di alam akhir, seperti mencuri nampak wujudnya bagaimana di alam akhir, dan seterusnya. Maka, itu kebangkitan jiwa manusia mempengaruhi segala yang terkait di dalamnya. Akhirnya segala do’a dan harap pun menjadi nilai tersendiri baginya.

Kematian dalam hal ini secara eksistensial ialah matinya kesadaran sekaligus keberadaannya, bukan hanya sekedar matinya fisikal. Sebagaimana keberadaan kelahiran, yang menghadirkan kelahiran jiwa berdimensi fisikal, mental dan spiritual, maka konsekuensi logisnya kematian demikian adanya berdimensikan fisikal, mental dan spiritual. Hal ini seperti dinyatakan oleh beberapa kalangan ahli filsuf hikmah yang memberikan ruang gerak serta tingkatan pada keberadaan-kesadaran untuk menuju pada tempat kembalinya jiwa dengan segala dimensinya sebagai penyempurnaan “ada”nya.

Wallahu a’lam

Pustaka Pilihan

Al-Qur’an dan Terjemah (Departemen Agama)

Louis Leahy, Manusia Sebuah Misteri: sintesa filosofis tentang makhluk paradoksal, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1984.

50 Analogi ini bermula karena melihat eksistensi-keberadaan wujud-maujud itu bergradasi dan bertransformasi menuju sempurna ke depan tidak ke belakang. Lih, Khudori Sholeh, FIlsafat Islam; dari klasik hingga kontemporer (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2013), h. 227-228. Bdk, Murtadho Muttahari, Pengantar Pemikiran Shadra, Op.Cit, h. 80-82. Maka, system mendasar falsafinya disebut Asholatul Wujud –kemendasaran eksistensi-.

(19)

Drs. R. Parmono, Menggali Unsur-Unsur Filsafat Indonesia, Yogyakarta: Andi Offset, 1985. Mohammad Hatta, Alam Pikiran Yunani, Jakarta: UI Press, 1986.

Shahih Bukhari, terj, H. Zainuddin Hamidy, dkk, Jakarta: Widjaya, 1992. cet. XIII. Bab IV Dr. Ahmad Fuad Al-Ahwani, Filsafat Islam, Jakarta: Pustaka Firdaus, 1993.

Osman Bakar, Classification of Knowledge in Islam: A Study in Islamic Philosophical of Science. Terj, Purwanto, Hierarki Ilmu: Membangun Rangka Pikir Islamisasi Ilmu Menurut Al-Farabi, Al-Ghazali, Quthb Al-Din Al-Syirazi, Bandung: Mizan, 1997.

Majid Fakhry, A Short Introduction to Islamic Philosophy, Theology and Mysticism. Terj, Zaimun Am, Sejarah Filsafat Islam: Sebuah Peta Kronologis, Bandung: Mizan, 2002.

Murtadha Muttahari, Filsafat Hikmah: Pengantar Pemikiran Shadra. Tim penerjemah Mizan Bandung: Mizan, 2002.

Afrizal M, Ibn Rusyd: Perdebatan Utama dalam Teologi Islam, Jakarta: Erlangga, 2006. Kamus Bahasa Indonesia, Jakarta: Pusat Bahasa, 2008

Harun Nasution, Teologi Islam; Aliran-Aliran Sejarah Analisa Perbandingan, Jakarta: UI Press, 2008

Imam Ghazali, Tahafut al-Falasifah. Terj, Ahmad Maimun, Kerancuan Para Filosof, Bandung: Marja, 2010

Mohsen Gharawiyan, Dar Amadi bar Amuzesye Falsafe. Terj, M. Nur Djabir, Pengantar Memahami Buku Daras Filsafat Islam: Penjelasan untuk Mendekati Analisis Teori Filsafat Islam, Jakarta: Sadra Press, 2012.

Khudiri Soleh, Filsafat Islam: dari klasik hingga kontemporer, Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2013.

Allamah Sayyid Muhammad Husein Thabathaba’I, Tafsir al-Mizan. Saduran, Musa Kazim,

Referensi

Dokumen terkait

Pada roulette wheel selection, setiap kromosom dalam suatu populasi memiliki tempat yang sesuai dengan proporsinya terhadap total nilai fitness. Kromosom-kromosom dipetakan

Further conservation action for smoked fish processing is strongly supported by local community.The smoked mackerel tuna has high water content, normal

Kesimpulan yang dapat diambil adalah tidak terdapat hubungan antara lama masa kerja dengan prestasi kerja yang dihasilkan oleh pemanen karena pemanen yang bekerja

Kajian dasar mengenai kesan jerebu dalam mengatasi pencemaran udara dijalankan dengan memilih kawasan Kucing sebagai kawasan kajian memandangkan kawasan ini

Konsentrasi yang paling optimal untuk menurunkan kadar fosfat dalam larutan standar fosfat 10 ppm terdapat pada membran khitosan dengan konsentrasi 3% dan waktu kontak maksmum pada

Aspek kompetensi pemberian layanan bimbingan pribadi sosial kepada siswa mempunyai skor rata-rata yang sangat baik yaitu sebesar 3,42. Hal tersebut menunjukan

Hasil yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah terbangunnya sebuah website e-commerce pada Toko Sepatu Rangkayo Casual Sneakers untuk mendukung proses bisnis

Bahwa menurut data perolehan suara yang direkapitulasi oleh Pemohon sebagaimana terbaca dalam tabel di atas Pemohon memperoleh suara terbanyak kedua sebesar 7.749