• Tidak ada hasil yang ditemukan

Studi Tentang Pelaksanaan Pembagian Har Ta Bersama Di Pengadilan Agama Sukoharjo (Studi Putusan No.0910/Pdt.G/2010/Pa.Skh )

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Studi Tentang Pelaksanaan Pembagian Har Ta Bersama Di Pengadilan Agama Sukoharjo (Studi Putusan No.0910/Pdt.G/2010/Pa.Skh )"

Copied!
82
0
0

Teks penuh

(1)

commit to user

i

STUDI TENTANG PELAKSANAAN PEMBAGIAN HAR TA BERSAMA DI PENGADILAN AGAMA SUKOHARJO (STUDI PUTUSAN

NO.0910/PDT.G/2010/PA.SKH )

Penulisan Hukum (Skripsi)

Disusun dan diajukan untuk

Melengkapi sebagian persyaratan guna Memperoleh Derajat Sarjana SI dalam Ilmu Hukum pada Fakultas Universitas Sebelas Maret

Surakarta

Oleh Burhanudin H.A

NIM. E0008129

FAKULTAS HUKUM

(2)

commit to user

ii

PERSETUJUAN PEMBIMBING

Penulisan Hukum (Skripsi)

STUDI TENTANG PELAKSANAAN PEMBAGIAN HARTA BERSAMA DI PENGADILAN AGAMA SUKOHARJO (STUDI PUTUSAN

NO.0910/PDT.G/2010/PA.SKH )

Oleh Burhanudin H.A

NIM. E0008129

Disetujui untuk dipertahankan di hadapan Dewan Penguji Penulisan Hukum (Skripsi) Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret Surakarta

(3)

commit to user

iii

PENGESAHAN PENGUJI

Penulisan Hukum

STUDI TENTANG PELAKSANAAN PEMBAGIAN HARTA BERSAMA DI PENGADILAN AGAMA SUKOHARJO (STUDI PUTUSAN

NO.0910/PDT.G/2010/PA.SKH)

Oleh

Burhanudin H.A

NIM. E0008129

Telah diterima dan dipertahankan dihadapan Dewan Penguji Penulisan Hukum (skripsi) Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret Surakarta

Pada:

Hari : Selasa

Tanggal : 5 Februari 2013

DEWAN PENGUJI

1. Harjono, S.H.,MH ( )

ketua

2. Safrudin Yudowibowo, S.H.,MH ( )

Sekretaris

3. Dr.Soehartono, S.H.,M.Hum ( )

(4)

commit to user

iv

PERNYATAAN

Nama : Burhanudin H.A

Nim : E0008129

Menyatakan dengan sesungguhnya bahwa penulisan hukum (skripsi) berjudul

“STUDI TENTANG PELAKSANAAN PEMBAGIAN HARTA BERASAMA

DI PENGADILAN AGAMA SUKOHARJO (STUDI PUTUSAN

NO.0910/PDT.G/2010/PA.SKH” adalah betul-betul karya sendiri. Hal-hal yang bukan karya saya dalam penulisan hukum (skripsi) ini diberi tanda citasi dan ditujukan dalam daftar pustaka. Apabila kemudian hari terbukti pernyataan saya

tidak benar, maka saya bersedia menerima sanksi akademik berupa pencabutan penulisan hukum (skripsi) dan gelar yang saya peroleh dari penulisan hukum (skripsi) ini.

Surakarta , 5 Februari 2013

Yang membuat pernyataan

Burhanudin H.A

(5)

commit to user

v MOTTO

Man jadda wajada, siapa yang bersungguh-sungguh pasti akan berhasil’’

“jadilah kamu manusia yang pada kelahiranmu semua orang tertawa bahagia, tetapi hanya kamu sendiri yang menangis; dan pada kematianmu semua orang

menangis sedih, tetapi kamu sendiri yang tersenyum (Mahatma Gandhi)”

“Jadilah seperti karang di lautan yang kuat dihantam ombak dan kerjakanlah hal yang bermanfaat untuk diri sendiri dan orang lain, karena hidup hanyalah sekali.

(6)

commit to user

vi

PERSEMBAHAN

Skripsi ini kupersembahkan untuk:

1. Allah SWT atas segala rahmat, nikmat, dan rizkiNYA.

2. Nabi Muhammad SAW.

3. Bapak Ibu, adik dan keluarga besarku

untuk cinta, doa dan kepercayaan yang diberikan.

4. Sahabat-sahabat, teman-teman, dan

teman dekatku yang selalu memberikan dukungan dan doa yang begitu besar.

5. Dan untuk semua yang telah

memberiku semangat dan bantuan hingga skripsi ini terwujud.

(7)

commit to user

vii ABSTRAK

Burhanudin H.A. 2012. STUDI TENTANG PELAKSANAAN PEMBAGIAN HARTA BERSAMA DI PENGADILAN AGAMA SUKOHARJO. Fakultas Hukum UNS.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui secara jelas pelaksanaan pembagian harta bersama di Pengadilan Agama Sukoharjo dan hambatan-hambatan proses pemeriksaan gugatan Pembagian Harta Bersama di Pengadilan Agama Sukoharjo.

Penelitian ini menggunakan metode penelitian hukum empiris bersifat deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Sumber data berasal dari data primer yaitu hasil wawancara dengan hakim di pengadilan agama sukoharjo dan panitera di pengadilan agama sukoharjo. sumber data sekunder berasal dari literature, buku-buku ilmiah, makalah/hasil ilmiah para sarjana, dan dokumen-dokumen yang berhubungan dengan obyek penelitian.

Pembagian harta bersama diatur dalam Pasal 35-37 undang-undang nomor 1 tahun 1974 Selain itu terdapat Kompilasi Hukum Islam, yang berkaitan dengan pembagian harta bersama sebagaimana diatur dalam Pasal 96 dan 97 KHI. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa Pembagian harta bersama dilakukan atas dasar Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan dan Kompilasi Hukum Islam, maka harta kekayaan yang diperoleh baik dari pihak suami atau isteri menjadi hak bersama sepanjang tidak ditentukan lain dalam perjanjian perkawinan dan jika perkawinan putus, masing-masing berhak 1/2 (setengah) dari harta tersebut. Kendala-kendala yang sering muncul dalam pelaksanaan pembagian harta bersama adalah sering sekali para pihak itu tidak punya bukti yang lengkap tentang harta bersama.

(8)

commit to user

viii ABSTRACT

Burhanudin H.A. Of 2012. STUDY ON THE IMPLEMENTATION OF MUTUAL PROPERTY SHARING IN SUKOHARJO RELIGON COURT. Faculty of Law UNS.

Burhanudin H.A ABSTRACT

This research aims to find out obviously how the implementation of Mutual Property Sharing is in Sukoharjo Religion Court and what obstacles do emerge in the implementation of Mutual Property Sharing in Sukoharjo Religon Court.

This study employed an empirical law research method that was descriptive in nature with qualitative approach. The data source derived from primary data including the result of interview with the judge of Sukoharjo Religion Court and registrars of Sukoharjo Religion Court. The secondary data source derived from literature, scientific books, scholars’ scientific paper/work, and documents relevant to the object of research.

The mutual property sharing is governed in articles 35-37 of Law Number 1 of 1974. In addition there is Islamic Law Compilation concerning the mutual property sharing as governed in the Articles 96 and 97 of KHI. Considering the result of research, it could be concluded that the Mutual property sharing was done based on the Law Number 1 of 1974 about Marriage and Islamic Law Compilation; therefore the property obtained, from either husband or wife, becomes the shared right unless determined otherwise in the marriage agreement and if the marriage is broken, each party is entitled for ½ (a half) of the property. The obstacles frequently arising in the implementation of mutual property sharing is that the parties frequently do not have complete evidence about the mutual property.

(9)

commit to user

ix

KATA PENGANTAR

Puji syukur Alhamdulillahirobbil alamin atas kehadirat Allah SWT atas segala rahmat dan karunia-Nya yang telah diberikan kepada penulis dalam pembuatan skripsi ini dari awal dan akhir, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi berjudul “STUDI TENTANG PELAKSANAAN PEMBAGIAN

HARTA BERSAMA DI PENGADILAN AGAMA SUKOHARJO (STUDI PUTUSAN NO.0910/PDT.G/2010/PA.SKH )”.

Skripsi ini membahas tentang pelaksanaan pembagian harta bersama di Pengadilan Agama Sukoharjo dan hambatan-hanbatan pelaksanaan pembagian harta bersama di Pengadilan Agama Sukoharjo.

Dalam penyusunan skripsi ini, Penulis banyak mengalami hambatan dan kesulitan, tetapi atas bantuan, dorongan dan dukungan dari semua pihak yang

telah banyak membantu, akhirnya skripsi ini dapat terselesaikan. Dalam kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya antara lain kepada :

1. Bapak Prof. Dr. Ravik Karsidi, M.S, selaku Rektor Universitas Sebelas

Maret.

2. Ibu Prof. Dr. Hartiniwingsih, S.H., M.Hum., selaku Dekan Fakultas

Hukum Universitas Sebelas Maret.

3. Bapak Edy Herdyanto, S.H., M.H., selaku Ketua Bagian Hukum Acara

4. Bapak Dr.Soehartono,S.H.,M.Hum dan Bapak Safrudin Yudowibowo, S.H.,MH selaku pembimbing skripsi dalam penelitian hukum ini yang telah menyediakan waktu, pikiran, dan petunjuk, bimbingan maupun motivasinya kepada penulis hingga terselaikannya skripsi ini.

5. Bapak Muhammad Jamin, S.H.,M.Hum selaku pembimbing akademik

(10)

commit to user

x

6. Bapak dan Ibu Dosen Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret

Surakarta yang telah memberikan bekal ilmu pengetahuan dan memberikan inspirasi kepada Penulis.

7. Karyawan dan Staff Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret Surakarta

yang telah membantu kelancaran perkuliahan.

8. Bapak Abdul Basyir, bapak Munjid Lughowi, bapak Ahmad Baidlhowi selaku hakim di Pengadilan Agama Sukoharjo dan Drs.amir selaku Panitera Hukum di Pengadilan Agama Sukoharjo yang selalu bersedia memberikan data dan informasi yang berkaitan dengan penelitian penulis serta bersedia membimbing penulis.

9. Seluruh staff karyawan di Pengadilan Agama Sukoharjo yang telah mendukung berlangsungnya penelitian oleh penulis.

10. Bapak Miyadi dan ibu Widayati tercinta, serta adik dan keluarga besar

penulis atas dorongan moril maupun spirituil dan sumber inspirasi serta motivasi sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.

11. Teman-teman seluruh Fakultas Hukum : Abdul, Bambang, Rizky, Toni,

Imron, Bagus, Maulana, Rinof, Khrisna, Yoga, Warih Adi, Wawan, Lisa, Retno, Ardani, Anisa, Bowo, Jaber, Riko, Edo, serta seluruh angkatan, terima kasih atas semangat dan dorongan bagi penulis sehingga dapat menyelasikan penulisan skripsi ini.

12. Sahabat-sahabat karibku : Doel, Yudek, Boncu, Gogon, Junet, Gemboel,

Yunan, Simbah, Kancil, Emo, Pandu, Jack, Catur, Menik, Briliant, Giselle, dan AriCaping yang selalu memberikan dukungan dan doa kepada penulis. 13. Semua pihak yang telah membantu dalam penulisan skripsi ini, yang tidak

(11)

commit to user

xi

Akhirnya penulis berharap semoga Skripsi ini dapat memberikan manfaat pada pihak-pihak yang berkepentingan. Dan demi kesempurnaan penulisan Skripsi ini, segala sumbangan pemikiran dan kritik yang membawa kebaikan dengan senang hati penulis perhatikan.

Surakarta, 5 Februari 2013

(12)

commit to user

xii

DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL... i

HALAMAN PERSETUJUAN... ii

HALAMAN PENGESAHAN... iii

HALAMAN PERNYATAAN... iv

HALAMAN MOTTO... v

HALAMAN PERSEMBAHAN ... .. vi

ABSTRAK... vii

KATA PENGANTAR... ix

DAFTAR ISI... xii

DAFTAR GAMBAR... xiv

DAFTAR LAMPIRAN... xv

BAB I PENDAHULUAN... 1

A. Latar Belakang Masalah……… 1

B. Rumusan Masalah………. 6

C. Tujuan Penelitian………... 6

D. Manfaat Penelitian………. 7

E. Metode Penelitian……….. 7

F. Sistematika………. 11

BAB II TINJAUAN PUSTAKA………... 13

A. KerangkaTeori……… 13

1. Tinjauan Umum Tentang Perkawinan………. 13

a. Pengertian Perkawinan……….. 13

b. Dasar Hukum Perkawinan………. 14

c. Tujuan Melakukan Perkawinan………. 17

2. TinjauanUmumTentangPerceraian……… 17

a. Pengertian Perceraian……… 17

b. Alasan Perceraian………... 18

(13)

commit to user

xiii

d. Tata Cara Perceraian ………....……… 21

e. Akibat Perceraian………..… 23

3. Tinjauan Harta Bersama……… 28

a. Pengertian Harta Bersama………... 28

b. Macam-macam Harta Bersama……… 29

c. Terbentuknya Harta Bersama……….…. 30

d. Pembagian Harta Bersama……… 30

e. Tugas dan Wewenang Pengadilan Agama………. 31

B. Kerangka Pemikiran... 32

BAB III HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN... 34

A. Pelaksanaan Pembagian Harta Bersama di Pengadilan Agama Sukoharjo 34 1. Perkara Pembagian Harta Bersama di Pengadilan Agama Sukoharjo 34 2. Prosedur Pemeriksan Perkara dalam Pelaksanaan Pembagian Harta Bersama... 35

3. Penyelesaian Perkara Pembagian Harta Bersama di Pengadilan Agama Sukoharjo... 36

B. Hambatan-hambatan dalam Pelaksanaan Pembagian Harta Bersama di Pengadilan Agama Sukoharjo... 61

BAB IV PENUTUP... 65

A. Kesimpulan... 65

B. Saran... 66

DAFTAR PUSTAKA

(14)

commit to user

xiv

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1 : Teknik Analisa Data……… 10

Gambar 2 : Kerangka Pemikiran………... 33

(15)

commit to user

xv

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1: Surat Permohonan Ijin Penelitian Dari Fakultas Hukum Universitas Sebelas maret Surakarta kepada Pengadilan Agama Sukoharjo.

(16)

commit to user

1 BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Perkawinan merupakan hal yang sangat penting bagi setiap individu, dalam perkawinan akan terbentuk suatu keluarga yang diharapkan akan tetap bertahan hingga pasangan tersebut dipisahkan oleh keadaan dimana salah satunya meninggal dunia. Perkawinan dianggap penyatuan antara dua jiwa yang sebelumnya hidup sendiri-sendiri, begitu gerbang perkawinan sudah dimasuki, masing-masing individu tidak bisa lagi memikirkan diri sendiri akan tetapi harus memikirkan orang lain yang bergantung hidup kepadanya. Dalam

Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan Pasal 1 menyatakan bahwa perkawinan adalah ikatan lahir bathin antara seorang pria dan wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Dari pengertian tersebut di atas dapat dikatakan bahwa tujuan utama dari perkawinan adalah membentuk keluarga yang bahagia dan kekal sampai ajal memisahkan pasangan suami istri itu dengan berlandaskan kepada Ketuhanan Yang Maha Esa.

Berawal dari perkawinan inilah terbentuk sebuah keluarga yang beranggotakan ayah, ibu dan anak-anak, dimana seorang ayah bertindak sebagai pemimpin keluarga dan memenuhi segala kebutuhan yang diperlukan semua anggota keluarga. Ibu bertindak lebih banyak dalam fungsi pengawasan kepada anak-anak dan membantu suami memenuhi kebutuhan yang diperlukan untuk menjalankan organisasi kecil yang disebut keluarga.

Dalam keluarga suami dan istri merupakan bagian inti, hubungan mereka mencerminkan bagaimana satu manusia dengan manusia yang lainnya berbeda jenis kelamin bersatu membentuk kesatuan untuk mempertahankan hidup dan

(17)

commit to user

2

kesatuan yang lebih besar yaitu suatu Negara hal ini memperlihatkan kepada kita betapa pentingnya perkawinan dalam tatanan kehidupan manusia.

Semua individu yang sudah memasuki kehidupan berumah tangga pasti mengiginkan terciptanya suatu rumah tangga yang bahagia, sejahtera lahir dan batin serta memperoleh keselamatan hidup dunia maupun akhirat nantinya. Tentu saja dari keluarga yang bahagia ini akan tercipta suatu masyarakat yang harmonis dan akan tercipta masyarakat rukun, damai, adil dan makmur.

Tujuan dari perkawinan untuk membentuk keluarga atau rumah tangga yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa merupakan suatu tujuan yang luhur dari perkawinan sehingga diperlukan perjuangan untuk mempertahankan keutuhan rumah tangga sampai ajal menjemput nantinya, hal ini dikarenakan dalam keluarga akan selalu muncul permasalahan yang sangat bisa menggoyahkan persatuan yang dibina tadi,

bahkan keutuhan keluarga yang kuat bisa terancam dan berakibat kepada perceraian. Dalam jurnalnya Betsey Stevenson dan Justin Wolfers “berpendapat bahwa keluarga adalah hasil dari sebuah perkawinan dan bukan merupakan lembaga yang statis. Di mana suami dan istri adalah mempunyai tugas dan tanggung jawab masing-masing dan pada bidang masing-masing. Saling melengkapi dan bekerjasama dalam pemeliharaan anak-anak” (Betsey Stevenson and Justin Wolfers, 2007: 27–52).

(18)

commit to user

3

Pasal 38 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan. Pasal 38 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, berbunyi:

Perkawinan dapat putus karena: a. Kematian;

b. Perceraian; dan

c. atas keputusan Pengadilan.

Hukum Islam membenarkan dan mengizinkan perceraian, kalau perceraian itu lebih baik daripada tetap berada dalam ikatan perkawinan tersebut, Pada prinsipnya perceraian adalah terlarang, banyak larangan Allah dan Rasul mengenai perceraian antara suami istri. Tidak ada sesuatu yang halal yang paling dimarahi oleh Allah selain dari talak. (Al Hadis Rawahul abu Daud, Hadis sahih dan diriwayatkan Nail al authar oleh hakim yang menyahihkan).

Prinsip perkawinan adalah untuk membentuk suatu keluarga atau rumah

tangga yang tentram, damai dan kekal untuk selama-lamanya, makanya proses untuk menuju perceraian itu tidaklah gampang bahkan dipersulit, suami tidak bisa begitu saja menjatuhkan talak kepada istri demikianpun sebaliknya istri tidak bisa langsung meminta cerai kepada suaminya. Baik suami ataupun istri diberikan kesempatan untuk mencari penyelesaian dengan jalan damai yakni dengan jalan musyawarah, jika masih belum terdapat kesepakatan dan merasa tidak bisa melanjutkan keutuhan keluarga maka barulah kedua belah pihak bisa membawa permasalahan ini ke pengadilan untuk dicari jalan keluar yang terbaik. Dalam Journal of Economic Perspectives, Paul Amarto and Denise Previti “perceraian adalah peristiwa kompleks yang dapat dilihat dari berbagai perspektif. Mantan suami dan istri lebih cenderung menyalahkan mantan pasangan mereka daripada diri mereka sendiri untuk masalah yang menyebabkan perceraian. Mereka cenderung melihat faktor-faktor eksternal daripada melihat faktor penyebab perceraian yang berasal dari diri mereka sendiri” (Paul Amarto and Denise Previti, 2003:602-626).

Upaya terakhir yang ditempuh seandainya tidak mendapat jalan keluar yang sesuai melalui musyawarah adalah meminta kepada pengadilan untuk

(19)

commit to user

4

kembali pintu perdamaian kepada para pihak dengan cara musyawarah memakai penengah yakni hakim, untuk orang yang beragama Islam akan membawa permasalahan ini kepada Pengadilan Agama sementara untuk agama lainnya merujuk kepada Pengadilan Negeri tempat mereka tinggal.

Putusnya hubungan perkawinan karena perceraian, akan berpengaruh pula dalam harta bersama yang diperoleh selama dalam ikatan perkawinan, yang biasanya disebut dengan harta bersama suami-istri atau harta gono-gini, baik yang berupa harta bergerak maupun harta yang tidak bergerak.

Undang - Undang Nomor 1 Tahun 1974, Pasal 35-37 mengatur masalah harta benda dalam perkawinan, sebagai berikut:

Pasal 35

(1) Harta benda yang diperoleh selama perkawinan menjadi harta bersama.

(2) Harta bawaan dari masing-masing suami dan istri dan harta benda yang diperoleh masing- masing sebagai hadiah atau warisan, adalah di bawah penguasaan masing-masing sepanjang para pihak tidak menentukan lain.

Pasal 36

(1) Mengenai harta bersama suami atau istri dapat bertindak atas perjanjian kedua belah pihak.

(2) Mengenai harta bawaan masing-masing, suami dan istri mempunyai hak sepenuhnya untuk melakukan perbuatan hukum mengenai harta bendanya.

Pasal 37

(1) Bila perkawinan putus karena perceraian, harta bersama diatur menurut hukumnya masing-masing.

Dalam penjelasan Pasal 37 ditegaskan hukum masing-masing ini ialah hukum agama, hukum adat dan hukum-hukum lainnya yang bersangkutan dengan pembagian harta bersama tersebut. Ketentuan pasal-pasal tersebut, telah memberi batasan bahwa, masing-masing suami-istri berhak menguasai

(20)

commit to user

5

Pembagian harta bersama menurut ketentuan Pasal 37 Undang-Undang Nomor 1 tahun 1974 tentang Perkawinan tidak ditetapkan secara tegas berapa bagian masing-masing suami atau istri yang bercerai baik cerai hidup maupun cerai mati. Selain Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, di Indonesia juga berlaku Kompilasi Hukum Islam, yang berkaitan dengan pembagian harta bersama sebagaimana diatur dalam Pasal 96 dan 97 Kompilasi Hukum Islam, yang menyebutkan bahwa pembagian harta bersama baik cerai hidup maupun cerai mati ini, masing-masing mendapat setengah dari harta bersama tersebut.

Selengkapnya Pasal 96 Kompilasi Hukum Islam berbunyi :

(1) Apabila terjadi cerai mati, maka setengah harta bersama menjadi hak pasangan yang hidup lebih lama.

(2) Pembagian harta bersama bagi seorang suami atau istri yang istri atau

suaminya hilang harus ditanguhkan sampai adanya kepastian matinya yang hakiki atau mati secara hukum atas dasar keputusan Pengadilan Agama.

Pasal 97 Kompilasi Hukum Islam menyatakan:

“Janda atau duda yang cerai hidup masing-masing berhak seperdua dari harta bersama sepanjang tidak ditentukan lain dalam perjanjian perkawinan”

Berdasarkan uraian tersebut, jelaslah bahwa keberadaan harta bersama dalam suatu keluarga sangat diperlukan, baik itu selama masih dalam ikatan perkawinan maupun setelah putusnya hubungan perkawinan yang ditandai dengan adanya perceraian. Dalam pelaksanaannya setelah terjadinya perceraian, harta itu akan menjadi sangat penting artinya bagi suami maupun istri, sehingga mereka menghendaki agar pembagian harta tersebut dilakukan secepatnya. Hal ini dilakukan karena antara suami dan istri sama-sama membutuhkan dan berkepentingan dengan adanya harta bersama tersebut.

Sehubungan dengan hal tersebut, untuk mengetahui tentang keberadaan harta bersama dalam suatu keluarga dalam masyarakat, khususnya setelah

(21)

commit to user

6

perundang-undangan yang berlaku, yaitu Undang - Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang perkawinan, terutama Pasal 35-37 yang mengatur tentang harta benda dalam perkawinan. Selain itu, untuk mengetahui prosedur pembagian harta bersama akibat terjadinya perceraian di Pengadilan Agama Sukoharjo, berkaitan dengan harta bersama akibat perceraian ini, maka penulis ingin mengkaji lebih mendalam dan menyusun penulisan hukum yang berjudul:

“STUDI TENTANG PELAKSANAAN PEMBAGIAN HARTA

BERSAMA DI PENGADILAN AGAMA SUKOHARJO (Studi kasus di Pengadilan Agama Sukoharjo)”.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian dalam latar belakang tersebut, yang menjadi pokok masalah dalam pembahasan skripsi ini, adalah :

1. Bagaimana Pelaksanaan Pembagian Harta Bersama dalam perkara

No.0910/Pdt.G/2010/PA.SKH di Pengadilan Agama Sukoharjo?

2. Apakah Hambatan-Hambatan Proses Pemeriksaaqn Gugatan Pembagian

Harta Bersama dalam Perkara No.0910/Pdt.G/2010/PA.SKH di Pengadilan Agama Sukoharjo ?

C. Tujuan Penelitian

Dalam suatu penelitian, pastilah ada tujuan yang hendak dicapai. Tujuan ini tidak terlepas dari permasalahan yang telah dirumuskan sebelumnya. Tujuan dalam penulisan penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Tujuan Obyektif

a. Untuk mengetahui pembagian harta bersama di wilayah yuridis Pengadilan Agama Sukoharjo.

b. Untuk mengetahui hambatan-hambatan yang timbul dalam pembagian harta bersama serta upaya penyelesaiaannnya di Pengadilan Agama

Sukoharjo. 2. Tujuan Subyektif

a. Untuk mendapatkan data dan informasi sebagai bahan utama dalam

(22)

commit to user

7

b. Untuk memperoleh bahan hukum sebagai bahan utama penyusunan

penulisan hukum guna memenuhi syarat untuk memperoleh gelar kesarjanaan di bidang ilmu hukum pada Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret.

D. Manfaat Penelitian

Penelitian hukum adalah suatu bentuk proses untuk mendapatkan aturan-aturan hukum, prinsip-prinsip hukum, maupun doktrin-doktrin hukum untuk mendapatkan jawaban dari isu-isu hukum yang dihadapi (Peter Mahmud Marzuki 2010 : 35). Penulis berharap bahwa kegiatan penelitian dalam penulisan hukum ini akan mempunyai manfaat bagi penulis dan orang lain. Adapun manfaat yang dapat diperoleh dari penelitian hukum ini antara lain: 1. Manfaat Teoritis

a. Dapat melukiskan tentang hambatan-hambatan dalam pelaksanaan

Pelaksanaan Pembagian Harta Bersama di Pengadilan Agama Sukoharjo.

b. Hasil penelitian ini diharapkan mempunyai manfaat sebagai acuan

untuk penelitian sejenis secara lebih mendalam. 2. Manfaat Praktis

a. Memberikan bahan masukan, saran dan gagasan pemikiran kepada

semua pihak khususnya Pengadilan Agama Sukoharjo.

b. Memperluas dan mengembangkan pola pemikiran dan penalaran

sekaligus untuk mengimplementasikan ilmu penulis yang diperoleh.

E. Metode Penelitian

Penelitian merupakan cara-cara ilmiah untuk memahami dan memecahkan masalah, sehingga didapatkan kebenaran ilmiah (Muhammad Idrus, 2009: 9). Metode pada hakekatnya memberikan pedoman, tentang cara-cara seorang ilmuwan mempelajari, menganalisa, dan memahami lingkungan-lingkungan yang dihadapinya (Soerjono Soekanto, 2006: 6).

(23)

commit to user

8 1. Jenis Penelitian

Pada Penelitian ini penulis menggunakan penelitian yang tergolong dalam penelitian hukum empiris. Penelitian empiris artinya penelitian yang diteliti pada awalnya data sekunder untuk kemudian dilanjutkan dengan penelitian data primer di lapangan terhadap masyarakat (Soerjono Soekanto, 2006: 52).

2. Sifat Penelitian

Sifat dari penelitian hukum ini adalah penelitian deskriptif. Maksudnya untuk memberikan data yang seteliti mungkin tentang manusia, keadaan, gejala-gejala lainnya. Maksudnya adalah terutama mempertegas hipotesa-hipotesa, agar dapat membantu memperkuat teori-teori lama, atau di dalam kerangka penyusun teori-teori baru (Soerjono Soekanto, 2006: 10).

3. Pendekatan Penelitian

Penelitian empiris salah satu model penelitian kualitatif. Ada dua jenis pendekatan dalam penelitian kualitatif, yaitu :

a. Pendekatan holistik, yang mengarahkan studi pada subyeknya secara

menyeluruh dengan berbagai aspeknya, tanpa memilih (etnografis, grounded).

b. Pendekatan terpancang, yang memutuskan studi pada aspek yang

dipilih berdasarkan kepentingan, tujuan, dan minat penelitiannya, yang sering disebut dengan studi kasus (HB. Sutopo, 2002: 90).

Pada penulisan penelitian ini, penulis menggunakan pendekatan terpancang, penulis akan melakukan studi kasus di Pengadilan Agama Sukoharjo. Penulis memilih pendekatan terpancang berdasarkan untuk mengetahui pelaksanaan pembagian harta bersama setelah perceraian dan hambatan pelaksanaan pembagian harta bersama dalam perkara perceraian.

4. Lokasi Penelitian

Untuk memperoleh data yang diperlukan, penulis mengambil lokasi di

(24)

commit to user

9

Pengadilan Agama Sukoharjo sebagai obyek penelitian karena di Pengadilan Agama Sukoharjo penulis dapat memperoleh data yang diperlukan guna membantu penelitian ini.

5. Jenis dan Sumber Data Penelitian a. Jenis Data

1) Data Primer

Data yang diperoleh dari keterangan atau fakta langsung dan segera diperoleh dari sumber-sumber data di lapangan. Data ini diperoleh di Kantor Pengadilan Agama Sukoharjo .

2) Data Sekunder

Data yang tidak diperoleh secara langsung yaitu data yang mendukung dan menunjang kelengkapan data primer melalui bahan kepustakaan, majalah, buku-buku ilmiah dan lain

sebagainya. b. Sumber Data

1) Sumber data primer

Pihak yang terkait langsung dengan masalah yang diteliti. Dalam penelitian ini pihak yang terkait yaitu : Pengadilan Agama Sukoharjo, hakim di lingkungan Pengadilan Agama Sukoharjo. 2) Sumber data sekunder

Jenis data yang mempunyai hubungan erat dan secara langsung mendukung sumber data primer yang diperoleh dari literatur, buku-buku ilmiah, makalah/hasil ilmiah para sarjana,dokumen-dokumen yang berhubungan dengan objek penelitian dan putusan Pengadilan Agama.

6. Teknik Pengumpulan Data

(25)

commit to user

10

data yang digunakan penulis, yaitu studi dokumen atau bahan pustaka, pengamatan atau observasi, wawancara.

a. Studi dokumen atau bahan pustaka

Merupakan teknik pengumpulan data dengan mengumpulkan bahan-bahan dari dokumen, buku-buku, atau bahan-bahan pustaka lainnya berbentuk data tertulis yang menyangkut dengan objek yang diteliti.

b. Wawancara

Merupakan teknik pengumpulan data dengan cara mengadakan wawancara atau tanya jawab secara langsung dengan responden, baik lisan maupun tertulis atas sejumlah data yang diperlukan.

7. Teknik Analisis Data

Menurut Soerjono Soekanto, metode (analisis) kualitatif adalah suatu tata cara penelitian yang menghasilkan data deskriptif analitis yaitu

apa yang dinyatakan oleh responden secara tertulis atau lisan dan juga perilaku yang nyata yang diteliti dan dipelajari sebagai sesuatu yang utuh. Dengan kata lain bahwa seorang peneliti yang menggunakan metode kualitatif tidaklah semata-mata bertujuan untuk mengungkapkan kebenaran belaka, akan tetapi juga untuk memahami kebenaran tersebut. Penelitian ini menggunakan metode analisis kualitatif dengan model interaktif yaitu model analisa yang terdiri dari tiga komponen yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan, maka data-data diproses melalui tiga komponen tersebut (HB. Sutopo, 1988: 37). Selain itu dilakukan pula suatu proses siklus antara tahap-tahap tersebut sehingga data yang terkumpul akan berhubungan satu dengan yang lainnya secara sistematis (HB. Sutopo, 2002: 96).

Gambar 1 : Teknik Analisis Data

PENGUMPULAN DATA

SAJIAN DATA REDUKSI DATA

(26)

commit to user

11 Analisis Interaksi

Dengan model analisis ini, maka peneliti harus bergerak diantara empat sumbu kumparan itu selama pengumpulan data, selanjutnya bolak balik diantara kegiatan reduksi, penyajian dan penarikan kesimpulan selama sisa waktu penelitian. Aktivitas yang dilakukan dengan proses itu komponen-komponen tersebut akan didapat yang benar-benar mewakili dan sesuai dengan permasalahan yang diteliti. Setelah analisis data selesai, maka hasilnya akan disajikan secara diskriptif, yaitu dengan jalan apa adanya sesuai dengan masalah yang diteliti dan data yang diperoleh.

Setelah semua data dikumpulkan, kemudian diambil kesimpulan dan langkah tersebut tidak harus urut tetapi berhubungan terus menerus sehingga membuat siklus (HB, Sutopo, 2002 : 13).

F. Sistematika Penulisan Hukum

Sistematika penulisan hukum memberikan gambaran secara menyeluruh dari penulisan hukum ini. Adapun sistematika penulisan hukum ini terdiri dari empat bab. Sistematika tersebut adalah sebagai berikut :

BAB I PENDAHULUAN

Dalam bab pendahuluan berisi anatara lain : latar belakang masalah, perumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, metode penelitian, sitematika penelitian, jadwal penelitian.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Dalam bab tinjauan pustaka pada sub pertama kerangka teori berisi tentang : tinjauan umum tentang perkawinan, tinjauan umum tentang perceraian, tinjauan umum tentang harta bersama, Pada sub bab kedua berisi tentang kerangka pemikiran.

BAB III HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

(27)

commit to user

12

dalam pelaksanaan pembagian harta bersama dalam perkara perceraian di Pengadilan Agama Sukoharjo.

BAB IV PENUTUP

Dalam bab penutup menguraikan secara singkat tentang kesimpulan akhir dari pembahasan dan jawaban atas rumusan permasalahan, dan diakhiri dengan saran-saran yang didasarkan atas hasil keseluruhan.

(28)

commit to user

13 BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Kerangka Teori

1. Tinjauan Tentang Perkawinan a. Pengertian Perkawinan

Nikah (kawin) menurut arti asli adalah hubungan seksual tetapi menurut arti majazi (mathaporic)atau arti hukum ialah akad (perjanjian) yang menjadikan halal hubungan seksual sebagai suami istri antara seorang pria dengan seorang wanita.

Perkawinan juga didefinisikan sebagai hubungan yang diakui secara sosial antara pria dan wanita yang di dalamnya terdapat hubungan seksual, hak membesarkan anak secara legal dengan membangun suatu divisi pekerjaan dengan pasangan (Quroyzhin Kartika Rini dan

Retnaningsih, 2007: 158).

Adapun beberapa pengertian perkawinan itu sendiri sebagai berikut 1) Berdasarkan Pasal 1 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang

Perkawinan.

Perkawinan adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga atau rumah tangga yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa, ikatan lahir adalah ikatan yang dapat dilihatdan merupakan ikatan yang dapat mengungkapkan adanya hubungan

(29)

commit to user

14 2) Hukum Islam

Pernikahan (perkawinan) adalah akad yang sangat kuat atau

mistaqaan ghalizaan untuk mentaaati perintah Allah dan melaksanakannya merupakan ibadah, perkawinan dalam islam selain untuk memenuhi kebutuhan hidup jasmani dan rohani manusia, juga sekaligus untuk membentuk keluarga dan memelihara serta meneruskan keturunan dalam menjalankan hidup di dunia ini, juga mencegah perzinahan agar tercapai ketenangan dan ketentraman jiwa bagi kedua suami istri, ketentraman keluarga dan masyarakat(H. Helmy Masdar : 12)

3) Kompilasi Hukum Islam

Pasal 3 Kompilasi Hukum Islam menyebutkan bahwa tujuan perkawinan adalah untuk mewujudkan kehidupan rumah tangga yang

sakinah, mawadah dan rahmah. Sakinah berarti suasana dalam kehidupan rumah tangga senantiasa dalam keadaan aman dan tentram tidak terjadi perselisihan paham yang prinsipil. Mawadah dan rahmah yaitu kehidupan rumah tangga selalu harus dijamin, saling mencintai dikala masih muda dan dipupuk terus agar saling menyantuni dikala sudah tua.

4) Menurut Ibrahim Hosein

Nikah (kawin) menurut arti asli adalah dapat juga berati aqad dengannya menjadi halal hubungan kelamin antara pria dan wanita, sedangkan menurut arti lain ialah bersetubuh (Hosein Ibrahim, 1971:65).

b. Dasar Hukum Perkawinan 1) Menurut syariat Islam

2) Sumber-sumber hukum perkawinan dalam Al-Qur’an dapat dilihat

(30)

commit to user

15 a) QS An Nisaa ayat (1)

“Wahai manusia! bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu (Adam), dan (Allah) menciptakan pasangannya (Hawa) dari (diri)-nya; dan dari keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta, dan (peliharalah) hubungan kekeluargaan. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu” (Depag RI, 2005: 77).

b) QS An nisaa ayat (3)

“Dan jika kamu khawatir tidak akan mampu berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kau menikahinya), maka nikahilah perempuan (lain) yang kamu senangi: dua, tiga, atau empat. Tetapi jika kamu khawatir tidak akan mampu berlaku adil, maka (nikahilah) seorang saja, atau hamba sahaya perempuan yang kamu miliki. Yang demikian itu lebih dekat agar kamu tidak berbuat zalim” (Depag RI, 2005: 77).

c) QS An Nisaa ayat (127)

“Dan mereka meminta fatwa kepadamu tentang perempuan. Katakanlah, “Allah memberi fatwa kepadamu tentang mereka, dan apa yang dibacakan kepadamu dalam Al-Qur`an (juga memfatwakan) tentang para perempuan yatim yang tidak kamu berikan sesuatu (maskawin) yang ditetapkan untuk mereka, sedang kamu ingin menikahi mereka dan (tentang) anak-anak yang masih dipandang lemah. Dan (Allah menyuruh kamu) agar mengurus anak-anak yatim secara adil. Dan kebajikan apa saja yang kamu kerjakan, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui” (Depag RI, 2005: 77).

d) Qs Al Nuur ayat (32)

(31)

commit to user

16 e) QS Al Ruum ayat (21)

“Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia Menciptakan pasangan-pasanganmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tentram kepadannya, dan Dia Menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berfikir”(Depag RI, 2005: 77).

Di samping itu juga terdapat beberapa hadist Rasulullah yang berhubungan dengan perkawinan:

a) Hadist Rasulullah yang diriwayatkan oleh Ibnu Majjah yang terjemahannya:

“Nikah itu sunnahku, maka barang siapa yang tidak mengikuti sunnahku, dia bukan umatku” (Slamet Abidin dan Aminudin. 1999: 16).

b) Hadist Riwayat Bukhari dan Muslim

“Wahai para pemuda, barangsiapa mempunyai kemampuan untuk menikah, hendaklah segera menikah. Sebab pernikahan itu

akan lebih menjaga kemaluanmu dan menundukkan pandangan” (Mustafa Husein Atthar, 2003: 109).

3) Berdasarkan Peraturan Perundang-Undangan

a) Undang - undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan; b) Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975 tentang

Pelaksanaan Undang - undang Nomor 1 tahun 1974;

c) Intruksi Presiden RI Nomor 1 Tahun 1991 tentang Kompilasi Hukum Islam;

d) Undang-undang Nomor 7 Tahun 1989 tentang Peradilan

Agama;

e) Peraturan Menteri agama Nomor 2 Tahun 1987 tentang Wali

(32)

commit to user

17 c. Tujuan Melakukan Perkawinan

1) Menurut Undang-undang No. 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan :

Perkawinan bertujuan untuk membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. 2) Menurut Filosof Islam Imam Ghazali, Tujuan perkawinan adalah

sebagai berikut:

(1) Memperoleh keturunan yang sah yang akan melangsungkan keturunan serta memperkembangkan suku-suku bangsa manusia;

(2) Memenuhi tuntutan naluriah hidup kemanusiaan; (3) Memelihara manusia dari kejahatan dan kerusakan;

(4) Membentuk dan mengatur rumah tangga yang menjadi basis pertama dari masyarakat yang besar di atas dasar kecintaan dan

kasih sayang;

(5) Menumbuhkan kesungguhan berusaha mencari rezeki

penghidupan yang halal, dan memperbesar rasa tanggungjawab.

2. Tinjauan Tentang perceraian a. Pengertian Perceraian

Secara harfiah, perceraian adalah pemutusan terhadap ikatan pernikahan secara agama dan hukum (Mardiana Kappara: definisi perceraian ( http://seputarpernikahan.com/favorit/definisi-perceraian-dalam-islam/ di akses pada 26 maret 2012 pukul 11.00).

Beberapa pengertian tentang perceraian:

1) Perceraian adalah cerai hidup antara pasangan suami istri sebagai

akibat dari kegagalan mereka menjalankan obligasi peran masing-masing. Dalam hal ini perceraian dilihat sebagai akhir dari suatu ketidakstabilan perkawinan dimana pasangan suami istri kemudian

hidup terpisah dan secara resmi diakui oleh hukum yang berlaku (http://sukanitha.blogspot.com/2011/01/perceraian.html di akses

(33)

commit to user

18

2) Perceraian adalah berpisahnya suami dan istri, Dalam hal ini

perceraian dilihat sebagai akhir dari suatu ketidakstabilan perkawinan dimana pasangan suami istri kemudian hidup terpisah dan secara resmi diakui oleh hukum yang berlaku. Dan biasanya diakibatkan karena suami maupun istri tidak berperan baik dalam perannya masing-masing

(AjengKomala_http://www.definisi.info/definisiperceraian.html di akses pada 7 agustus 2012 pukul 20.11) );

3) Dalam Pasal 38 Undang-undang Perkawinan Nomor 1 Tahun 1974 menyebutkan perkawinan dapat putus karena :

a. Kematian; b. perceraian dan;

c. atas keputusan Pengadilan.

Berdasarkan Undang–undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang perceraian diatur dalam Pasal 39.

Pasal 39:

(1) Perceraian hanya dapat dilakukan di depan pengadilan setelah

pengadilan yang bersangkutan berusaha dan tidak berhasil mendamaikan kedua belah pihak.

(2) Untuk melakukan perceraian harus ada cukup alasan, bahwa antara suami istri itu tidak dapat hidup sebagai suami istri.

(3) Tata cara perceraian di depan pengadilan diatur dalam peraturan perundangan sendiri.

b. Alasan Perceraian (Pasal 116 Kompilasi Hukum Islam)

1) Salah satu pihak berbuat zina atau menjadi pemabuk, pemadat, penjudi dan lain sebagainya yang sukar dissembuhkan;

2) Salah satu pihak meninggalkan pihak lain selama 2 (dua) tahun berturut-turut tanpa izin pihak lain dan tanpa alasan yang sah atau karena hal lain yang di luar kemampuannya;

3) Salah satu pihak mendapat hukuman penjara 5 (lima) tahun atau hukuman yang lebih berat setelah perkawinan berlangsung;

(34)

commit to user

19

5) Salah satu pihak mendapat cacat bahan atau penyakit dengan akibat tidak dapat menjalankan kewajibannya sebagai suami atau istri;

6) Antara suami dan istri terus-menerus terjadi perselisihan dan pertengkarandan tidak ada harapan akan hidup rukun kembali dalam rumah tannga;

7) Suami melanggar taklik talak;

8) Peralihan agama atau murtad yang menyebabkan terjadinya ketidakrukunan dalam rumah tangga.

c. Macam-macam/klasifikasi perceraian

Menurut Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 jo. Peraturan Pemerintah No. 9 Tahun 1975 jo. Peraturan Menteri agama Nomor 3 Tahun 1975, klasifikasi perceraian adalah sebaagai berikut:

1) Kematian

Kematian suami atau istri dalam arti hukum adalah putusnya ikatan perkawinan. Jika istri yang meninggal dunia, maka seorang suami boleh kawin lagi dengan segera, tetapi seorang janda karena yang meninggal suami, harus menunggu lewat jangka waktunya tertentu

sebelum dapat kawin lagi. Jangka waktu tersebut disebut iddah. Iddah karena kematian suami adalah empat bulan sepuluh hari dari meninggalnya suami dan jika pada akhir waktu ini istri hamil, maka jangka waktu untuk dapat kawin lagi sampai dia melahirkan anaknya. Putusnya perkawinan dengan matinya salah satu pihak dari suami atau istri menimbulkan hak saling waris-mewarisi atas harta peninggalan yang mati manurut hukum waris (faraid), kecuali matinya salah satu pihak itu karena dibunuh oleh salah satu pihak

lain. 2) Perceraian

a) Cerai-thalaq (permohonan)

(35)

commit to user

20

Islam, sebagaimana dirumuskan dalam Pasal 14 Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975:

Seorang suami yang telah melangsungkan perkawinan menurut agama Islam, yang akan menceraikan istrinya, mengajukan surat kepada Pengadilan di tempat tinggalnya, yang berisi pemberitahuan bahwa ia bermaksud menceraikan istrinya disertai dengan alasan-alasannya serta meminta kepada Pengadilan agar diadakan sidang untuk itu.

b) Cerai- gugatan

Perceraian yang disebabkan oleh adanya suatu gugatan oleh salah satu pihak kepada Pengadilan. Dalam penjelasan Peraturan Pemerintah Nomor 9 tahun 1975 ditegaskan bahwa gugatan perceraian dapat dilakukan oleh istri yang melangsungkan perkawinan menurut agama Islam dan oleh seseorang yang suami atau istri yang melangsungkan perkawinannya menurut agamanya dan kepercayaannya itu

selain agama Islam

(http://eprints.undip.ac.id/18035/1/KALANG_JAYADI.pdfdi

akses pada 7 agustus 2012 pada pukul 20.11) c) Keputusan Pengadilan

Pasal 38 butir (c) Undang-undang Nomor 1 tahun 1974 tentang Perkawinan yaitu atas Putusan Pengadilan berbeda dengan keputusan pengadilan dalam rangka perceraian. Putusnya perkawinan dimaksud, yaitu tanpa adanya permohonan pembatalan atau gugat cerai dari pihak suami istri atau

(36)

commit to user

21

berwenang. Sehingga dengan demikian, mungkin saja suami istri tidak ingin bercerai atau membatalkan perceraian tersebut, tetapi oleh pejabat pemerintah yang berwenang dapat mengajukan permohonan pembatalan tersebut. Jika memang perkawinan tidak memenuhi syarat-syarat suatu perkawinan, sesuai dengan bunyi Pasal 22 Undang-undang Nomor 1 tahun 1974 tentang Perkawinan yaitu, perkawinan dapat dibatalkan apabila para pihak tidak memenuhi syarat-syarat untuk melangsungkan perkawinan, misalnya melanggar larangan perkawinan Pasal 8 Undang - undang Nomor 1 tahun 1974 tentang Perkawinan, yaitu suami istri ternyata masih saudara kandung dan perkawinan juga berdasarkan suatu agama tertentu, mungkin pasangan tersebut tidak ingin bercerai tetapi

perkawinan tersebut tidak sah lagi, sehingga pihak yang berwenang perlu mengusahakan melakukan pembatalan (http://eprints.undip.ac.id/17794/1/INDRA_ADITAMA.pdf di akses pada 7 agustus 2012 pada pukul 20.11)

d. Tata Cara Perceraian

Mengenai tata cara perceraian ini diatur oleh Pasal 39 dan 40 Undang Undang Nomor 1 Tahun 1974, yang menyebutkan: Pasal 39 berbunyi:

1) Perceraian hanya dapat dilakukan didepan Sidang Pengadilan setelah Pengadilan yang bersangkutan berusaha dan tidak berhasil mendamaikan kedua belah pihak.

2) Untuk melakukan perceraian harus ada cukup alasan, bahwa antara suami isteri itu tidak akan dapat hidup rukun sebagai suami isteri.

3) Tatacara perceraian didepan sidang Pengadilan diatur dalam peraturan perundangan tersendiri

Pasal 40 menyatakan:

1) Gugatan perceraian diajukan kepada Pengadilan.

(37)

commit to user

22

berdasarkan bunyi pasal tersebut, dapat ditarik kesimpulan bahwa perceraian hanya terjadi dengan sah jika gugatannya diajukan kepada Pengadilan, untuk yang beragama Islam dapat mengajukan kepada Pengadilan Agama, sementara agama yang lain ke Pengadilan Negeri. Sementara Kompilasi

Hukum Islam Pasal 129-131 memuat tentang bagaimana tata cara dan pelaksanaan jika suami dan istri akan bercerai, antara lain:

a) Seorang suami akan menjatuhkan talak kepada istrinya, mengajukan permohonan baik lisan maupun tertulis kepada Pengadilan Agama di wilayah tempat tinggal istri disertai alasan serta meminta agar diadakan sidang;

b) Pengadilan Agama dapat mengabulkan atau menolak permohonan tersebut dan terhadap keputusan tersebut dapat diminta upaya hukum banding dan kasasi;

c) Pengadilan Agama yang bersangkutan mempelajari permohonan dalam waktu selambat-lambatnya tigapuluh hari memanggil pemohon dan istri untuk meminta penjelasan tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan maksud menjatuhkan talak;

d) Setelah Pengadilan Agama tidak berhasil menasehati kedua belah pihak dan ternyata cukup alasan untuk menjatuhkan talak serta yang bersangkutan tidak mungkin lagi hidup rukun dalam rumah tangga, Pengadilan Agama menjatuhkan keputusannya tentang ijin bagi suami untuk mengikrarkan talak;

e) Setelah keputusan mempunyai kekuatan hukum tetap, suami mengikrarkan talaknya di depan sidang Pengadilan Agama, dihadiri oleh istri atau kuasanya;

f) Bila suami tidak mengucapkan talak dalam tempo 6 (enam) bulan terhitung sejak keputusan Pengadilan Agama tentang ijin talak baginya mempunyai kekuatan hukum tetap maka hak suami untuk mengikrarkan talak gugur dan perkawinan tetap utuh;

(38)

commit to user

23

masing-masing diberikan kepada suami istri dan helai keempat disimpan Pengadilan Agama.

e. Akibat perceraian

1) Menurut Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974

Pasal 41 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 menjelaskan tentang akibat putusnya pekawinan karena perceraian : a) Mengenai hubungan suami istri

Akibat pokok dari perceraiaan, maka persetubuhan tidak diperbolehkan antara suami istri, tetapi mereka boleh kawin kembali sepanjang ketentuan hukum masing-masing agama dan kepercayaan yang mengaturnya, dalam perceraiaan diperbolehkan rujuk menurut ketentuan-ketentuan hukum agama islam. Tetapi menurut pasal 41 ayat (3) Undang-Undang No.1 tahun 1974, pengadilan dapat mewajibkan kepada bekas suami untuk memberikan biaya penghidupan dan/atau menentukan suatu kewajiban pada bekas isteri

berdasarkan hukum masing-masing agama dan kepercayaannya.

b) Mengenai anak

(39)

commit to user

24

memelihara dan mendidiknya apabila ada perselisihan di antara keduanya.

c) Mengenai harta benda

Menurut Pasal 35 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 harta dalam perkawinan ada yang disebut harta bersama, yaitu harta benda yang diperoleh selama perkawinan berlangsung. Di samping itu ada pula yang disebut harta bawaan dari masing-masing sebagai hadiah atau warisan sepanjang para pihak tidak menentukan lain. Karena itu Pasal 36 menentukan bahwa mengenai harta bersama, suami isteri dapat bertindak atas persetujuan kedua belah pihak, sedangkan mengenai harta bawaan dan harta yang diperoleh masing-masing sebagai hadiah atau warisan, suami isteri mempunyai hak sepenuhnya untuk perbuatan hukum mengenai harta bendanya.

Menurut penjelasan Pasal 35, apabila perkawinan putus, maka harta bersama itu diatur menurut hukumnya masing-masing. Menurut penjelasan Pasal 35 yang dimaksud dengan hukumnya masing-masing adalah

agama, hukum adat dan hukum lainnya. Apa yang di maksud dengan hukumnya masing-masing pada penjelasan Pasal 37. Jelasnya, baik perkawinan putus karena perceraian maupun karena kematian salah satu pihak, harta bersama diatur menurut hukumnya masing-masing, yaitu hukum agama, hukum adat dan hukum lainnya.

2) Menurut Hukum Islam

Akibat putusnya perkawinan karena perceraian menurut hukum islam adalah sebagai berikut:

(40)

commit to user

25

(1) Pada perceraian yang telah memasuki tingkat tidak mungkin dicabut kembali (talak ba’in), persetubuhan tidak di perbolehkan lagi, tetapi

mereka boleh rujuk kembali asal belum lebih dari dua pernyataan talak.

(2) Dalam hal talak tiga dijatuhkan, perkawinan hanya

dapat dilakukan setelah memenuhi syarat-syarat terentu yang berat, sedangkan dalam perceraian karena li’an, perkawinan kembali tidak mungkin lagi dilakukan untuk selamanya.

(3) Suami isteri yang meninggal dalam waktu

iddah-talak yang dapat dicabut kembali (iddah-talak raj’i), berhak mendapat warisan dari harta peninggalan yang meninggal.

(4) Pada perceraian yang tidak dapat dicabut kembali

(talak ba’in) tidak seorang pun dari suami/isteri berhak mendapat warisan dari harta peninggalan yang meninggal dunia dalam iddah tersebut.

b) Mengenai anak-anak

Kalau perceraian suami isteri telah memasuki tingkat yang tidak mungkin dicabut kembali, maka yang menjadi persoalan adalah anak-anak di bawah umur yaitu, anak yang belum dewasa. Keempat imam madzhab sepakat bahwa ibunyalah yang berhak memelihara dan mengasuh anak tersebut, yang dalam hukum islam disebut hak hadlanah. Hanya mereka berbeda pendapat tentang batas hadlanah ibu terhadap

(41)

commit to user

26

Menurut Maliki : “anak laki-laki sebelum baligh dan anak perempuan sebelum kawin dan telah dicampuri oleh suaminya”, demikian juga hanafi. Dengan

berakhirnya hak hadlanah ibu, maka anak tersebut bebas memilih sendiri di mana ia suka tinggal. Hadis nabi mengatakan : ‘’Engkaulah yang lebih berhak memelihara dan mengasuh anak sebelum engkau bersuamikan orang lain”, adalah sebagai dalil bahwa ibu lebih berhak atas hadlanah anak jika ada sengketa tentang hak tersebut. Walaupun anak itu dipelihara dan diasuh oleh ibunya, biaya pemeliharaan dan pendidikan menjadi tanggungan ayahnya. Semua ulama sepakat bahwa nafkah, kiswah (pakaian) untuk seorang anak dari lahir sampai umur 21 tahun ditanggung oleh ayahnya.

c) Mengenai Harta Benda

Berbeda dengan sistem hukum perdata barat (Pasal 119 BW), maka dalam islam tidak dikenal percampuran harta kekayaan antara suami atau isteri karena

pernikahan. Harta kekayaan isteri menjadi milik isteri dan dikuasai penuh olehnya, demikian pula harta kekayaan suami tetap menjadi milik suami dan dikuasai penuh olehnya. Menurut Hukum Islam perempuan yang bersuami tetap diangggap cakap untuk melakukan perbuatan hukum, sehingga ia dapat melakukan segala perbuatan hukum dalam masyarakat. Perempuan yang bersuami menurut hukum barat tidak cakap untuk

(42)

commit to user

27

3) Menurut Kompilasi Hukum Islam

Menurut kompilasi hukum islam Pasal 156, akibat putusnya perkawinan karena perceraian ialah :

a) Anak yang belum mumayyiz berhak mendapat

hadhanah dari ibunya, kecuali bila ibunya telah meninggal dunia maka kedudukannya digantikan oleh : (1) Wanita-wanita dalam garis lurus dari ibu;

(2) Ayah;

(3) Wanita-wanita dalam garis lurus ke atas dari ayah; (4) Saudara perempuan dari anak yang bersangkutan; (5) Wanita-wanita kerabat sedarah menurut garis

samping dari ibu;

(6) Wanita-wanita kerabat sedarah menurut garis

samping dari ayah.

b) Anak yang sudah mumayyiz berhak memilih untuk

mendapatkan hadhanah dari ayah atau ibu;

c) Apabila pemegang hadlanah ternyata tidak dapat

menjamin keselamatan jasmani dan rohani anak, meskipun biaya nafkah dan hadhanah telah dicukupi,

maka atas permintaan kerabat yang bersangkutan Pengadilan Agama dapat memindahkan hak hadhanah kepada kerabat lain yang mempunyai hak hadhanah pula;

d) Semua biaya hadhanah dan nafkah anak menjadi tanggungan ayah menurut kemampuannya, sekurang-kurangnya sampai anak tersebut dewasa dan dapat mengurus diri sendiri (21 tahun);

e) Bilamana terjadi perselisihan mengenai hadhanah dan

(43)

commit to user

28

f) Pengadilan dengan menginggat kemampuan ayahnya menetapkan jumlah biaya untuk pemeliharan dan pendidikan anak-anaknya yang tidak turut padanya. 3. Tinjauan Harta Bersama

a. Pengertian Harta Bersama

Harta bersama adalah harta kekayaan yang diperoleh selama perkawinan di luar warisan atau hadiah, maksudnya adalah harta yang diperoleh atas usaha mereka atau sendiri-sendiri selama masa ikatan Perkawinan. Harta yang ada baik dari suami dan istri sebelum pernikahan akan tetap menjadi harta mereka masing-masing. Harta bersama menurut Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Pasal 35 ayat (1) dan ayat (2) Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 menyebutkan bahwa harta bersama adalah harta benda yang diperolah selama perkawinan berlangsung. harta bawaan dari masing-masing suami isteri dan harta benda yang diperoleh masing-masing sebagai hadiah atau warisan, adalah di bawah penguasaan masing-masing sepanjang para pihak tidak menentukan lain. Dalam Kompilasi Hukum Islam juga terdapat pengaturan tentang harta bersama ini, antara lain terdapat pada pasal:

1) Pasal 85 yang menyatakan harta bersama dalam perkawinan itu

tidak menutup kemungkinan adanya harta milik masing-masing suami atau istri.

2) Pasal 86 ayat (2), harta istri tetap menjadi hak istri dan dikuasai penuh olehnya demikian juga harta suami tetap menjadi hak suami dan dikuasai penuh olehnya.

3) Pasal 87 ayat (1), harta bawaan dari masing-masing suami dan istri yang diperoleh masing-masing sebagai hadiah atau warisan adalah

dibawah penguasaan masing-masing, sepanjang para pihak tidak menentukan lain dalam perjanjian kawinnya.

4) Pasal 87 ayat (2), suami atau istri mempunyai hak sepenuhnya

(44)

commit to user

29

berupa hibah,hadiah sodakah atau lainnya.

Dengan melihat kedua peraturan tersebut, yakni Kompilasi Hukum Islam dan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan

dapat disimpulkan bahwa kedua aturan tersebut sejalan dalam pengaturan tentang harta bersama ini.

b. Macam-macam Harta Bersama

Kompilasi Hukum Islam Pasal 91 menyatakan bahwa wujud harta bersama itu antara lain :

1) Harta bersama sebagai tersebut dalam Pasal 85 dapat berupa benda

berwujud atau tidak berwujud.

2) Harta Bersama yang berwujud dapat meliputi benda bergerak, tidak

bergerak dan surat-surat berharga lainnya.

3) Harta bersama yang tidak berwujud dapat berupa hak maupun

kewajiban.

4) Harta bersama dapat dijadikan sebagai barang jaminan oleh salah

satu pihak atas persetujuan pihak lain.

Sementara Pasal 92 Kompilasi Hukum Islam berbunyi “Suami atau istri tanpa persetujuan para pihak lain tidak diperbolehkan menjual atau memindahkan harta bersama”. Terhadap harta bersama ini, pihak

suami atau istri mempunyai tanggung jawab yang sama dan harta bersama itu akan dibagi sama apabila perkawinan tersebut sudah putus akibat kematian ataupun perceraian dan karena putusan pengadilan.

Mengenai harta kekayaan yang didapat sepanjang perkawinan inilah yang akan dibagi jika perkawinan itu putus, baik karena perceraian, kematian ataupun putusan pengadilan. Pentingnya ditetapkan harta bersama dalam suatu perkawinan adalah untuk penguasaan dan pembagiannya, penguasaan terhadap harta bersama

(45)

commit to user

30

atas harta tersebut dengan persetujuan pihak lain dan jika perkawinan putus maka menurut Kompilasi Hukum Islam harta itu akan dibagi sama banyak antara suami dan istri.

c. Terbentuknya Harta Bersama

Pasal 35 ayat (1) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 menyebutkan bahwa harta bersama suami isteri hanyalah meliputi harta – harta yang diperoleh selama tenggang waktu, antara saat peresmian perkawinan sampai perkawinan tersebut putus, baik karena cerai mati maupun cerai hidup. Dengan demikian harta yang dipunyai pada saat dibawa masuk kedalam perkawinan terletak di luar harta bersama. Sehingga dapat disimpulkan bahwa harta bersama suami isteri bersumber dari : 1) Harta yang dibeli selama perkawinan;

2) Harta yang dibeli dan dibangun sesudah perceraian yang dibiayai

dari harta bersama;

3) Harta yang dapat dibuktikan diperoleh selama perkawinan, kecuali

berupa harta pribadi suami atau isteri;

4) Penghasilan yang diperoleh dari harta bersama dan harta bawaan /

pribadi suami isteri; 5) Segala penghasilan suami;

6) Segala penghasilan isteri dan/atau;

7) Segala penghasilan harta bersama suami isteri, kecuali dibuktikan

sebaliknya.

Ketentuan tentang satu barang atau benda masuk kedalam harta persatuan atau tidak ditentukan oleh faktor selama perkawinan antara suami dan istri berlangsung, barang menjadi harta bersama kecuali harta yang diperoleh berupa warisan, wasiat dan hibah oleh satu pihak, harta ini menjadi harta pribadi yang menerimanya.

d. Pembagian Harta Bersama

(46)

commit to user

31

hukum masing-masing ditegaskan dalam penjelasan Pasal 37 ialah “hukum agama, hukum adat dan hukum-hukum lainnya,”. Dalam Pasal 37 Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 tidak menegaskan berapa

bagian masing-masing antar suami atau istri, baik cerai mati maupun cerai hidup, tetapi dalam Kompilasi Hukum Islam Pasal 96 dan 97 mengatur tentang pembagian syirkah ini baik cerai hidup maupun cerai mati, yaitu masing-masing mendapat separo dari harta bersama sepanjang tidak ditentukan dalam perjanjian kawin.

Selengkapnya Pasal 96 Kompilasi Hukum Islam berbunyi :

1) Apabila terjadi cerai mati maka separoh harta bersama menjadi hak

pasangan yang hidup lebih lama.

2) Pembagian harta bersama bagi seorang suami atau istri yang istri atau suaminya hilang harus ditangguhkan sampai adanya kepastian matinya yang hakiki atau matinya secara hukum atas dasar putusan Pengadilan Agama.

Pasal 97 Kompilasi Hukum Islam menyatakan, “Janda atau duda yang cerai hidup masing-masing berhak seperdua dari harta bersama sepanjang tidak ditentukan lain dalam perjanjian kawin”. Berdasarkan kedua pasal tersebut, dapat disimpulkan bahwa harta bersama atau

syirkah akan dibagi sama banyak atau seperdua bagian antara suami dan istri, hal ini dapat dilakukan langsung atau dengan bantuan pengadilan.

e. Tugas dan wewenang Pengadilan Agama

Pasal 49 Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2006 jo. Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama, disebutkan bahwa Pengadilan Agama bertugas dan berwenang memeriksa, memutus, dan menyelesaikan perkara di tingkat pertama antara orang-orang yang

beragama Islam di bidang: 1) perkawinan;

(47)

commit to user

32 4) hibah;

5) wakaf; 6) zakat;

7) infaq;

8) shadaqah; dan 9) ekonomi syari'ah.

(48)

commit to user

33 B. Kerangka Pemikiran

Gambar 2: Kerangka Pemikiran Percampuran harta bersama

Dapat Diselesaikan

Tidak Dapat diselesaikan Muncul Konflik

Permohonan Talak/ Gugatan

Cerai Alasan Perceraian

Berdasarkan :

· Pasal 116 KHI

Hambatan hakim dalam pelaksanaan pembagian harta

bersama

Putusan

Pengadilan Agama

Putusan cerai dan pembagian harta bersama

(49)

commit to user

34 Keterangan:

Perkawinan adalah ikatan lahir bathin antara seorang pria dengan wanita sebagai suami isteri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang

bahagia dan kekal berlandaskan Ketuhanan Yang Maha Esa.

Dalam perjalanan rumah tangga tersebut sering kali diwarnai dengan konflik. Apabila konflik tersebut berkepanjangan dan tidak bisa diselesaikan, maka konflik tersebut sesuai dengan Pasal 39 Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 harus diselesaikan di depan persidangan.

(50)

commit to user

35 BAB III

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Pelaksanaan Pembagian Harta Bersama di Pengadilan Agama Sukoharjo

Perkawinan merupakan peristiwa yang sakral bagi pemahaman masyarakat Indonesia, suatu perkawinan diharapkan senantiasa dapat berjalan langgeng sampai hari tua, namun didalam kehidupan perkawinan sering kali terjadi sesuatu hal yang menyebabkan kehidupan perkawinan menjadi tidak harmonis, Seperti perkawinan yang selalu diharapkan berjalan dengan baik dapat saja berakhir dengan suatu perceraian. Perceraian dalam kaca mata hukum merupakan suatu peristiwa hukum yang tentunya akan menimbulkan serangkaian akibat-akibat hukum, termasuk salah satunya dalam ruang lingkup harta kekayaan dalam perkawinan. Pembagian harta bersama dalam perkawinan senantiasa merupakan bagian yang krusial dari suatu perceraian. 1. Perkara Pembagian Harta Bersama di Pengadilan Agama Sukoharjo

Pengadilan Agama Sukoharjo mempunyai wilayah yuridis hukum meliputi 12 kecamatan, dimana berdasarkan sumber yang diperoleh dari hasil penelitian di Pengadilan Agama Sukoharjo, perkara Pembagian

Harta Bersama yang diterima dan diputus pada tahun 2010 dan tahun 2011 adalah sebagai berikut:

Gambar 3 (grafik) Tahun 2010 Tahun 2011

3 3 3

1

Perkara Pembagian Harta Bersama

(51)

commit to user

36

Gambar 3 : Jumlah Perkara Pembagian Harta Bersama di Pengadilan Agama Sukoharjo

Dari data yang penulis sajikan dapat diketahui bahwa di tahun 2010

terdapat 3(tiga) perkara Pembagian Harta Bersama yang telah diterima dan diputus oleh Pengadilan Agama Sukoharjo, dan di tahun 2011 terdapat 2 (dua) perkara yang diterima dan 1(satu) perkara yang telah diputus oleh Pengadilan Agama Sukoharjo, dari data tersebut menunjukkan bahwa pelaksanaan Pembagian Harta Bersama di Pengadilan Agama Sukoharjo cukup sedikit karena disebabkan oleh banyak faktor dan juga karena Pembagian harta bersama lewat Pengadilan Agama, bisa diajukan serempak dengan pengajuan gugatan perceraian (kumulatif) atau dapat pula digugat tersendiri setelah putus perceraian baik secara langsung oleh yang bersangkutan maupun memakai jasa pengacara.

Pemeriksaan pembagian harta bersama dalam hal yang kumulatif dilakukan setelah pemeriksaan gugatan cerai, apabila gugatan cerainya ditolak, maka pembagian harta bersamanya biasanya juga di tolak, Karena Pembagian harta bersama tersebut menginduk pada gugatan cerai, Kecuali apabila salah satu pihak meminta pemisahan harta bersama,

karena salah satu pihak dikuatirkan atau bahkan terbukti menghilangkan harta bersama dengan permohonan tersendiri.

2. Prosedur pemeriksaan Perkara dalam Pelaksanaan Pembagian Harta

Bersama

Semua perkara yang diterima di Pengadilan Agama bermula dari adanya suatu sengketa antara para pihak yang satu dengan pihak yang lainnya, hal ini terjadi karena pihak satu dengan pihak lainnya merasa adanya suatu hak yang dilanggar oleh pihak lainnya sehingga salah satu

(52)

commit to user

37

kedudukan untuk Memeriksa, mengadili dan menyelesaikan perkara yang masuk di Pengadilan Agama termasuk Pembagian Harta Bersama.

Didalam proses persidangan dan pelaksanaan Pembagian Harta

Bersama diawali dengan proses persidangan yang dapat memberikan suatu gambaran yang jelas terhadap suatu peristiwa yang terjadi di persidangan sehingga Hakim dapat menemukan bukti-bukti /atau fakta – fakta untuk dijadikan pertimbangan dalam menjatuhkan putusan dalam pelaksanaan pembagian harta bersama.

Pada prinsipnya proses pemeriksaan perkara perceraian dengan pembagian harta bersama di Pengadilan Agama Sukoharjo adalah sama dengan proses pemeriksaan perkara perdata lainnya yang dilakukan di depan sidang Pengadilan Umum, Proses pemeriksaan perkara perceraian dengan pembagian harta bersama dilakukan melalui tahap-tahap sebagai berikut :

a. Pembacaan gugatan; b. Jawaban gugatan; c. Replik penggugat; d. Duplik tergugat; e. Pembuktian;

f. Kesimpulan; g. Putusan hakim.

Pemeriksaan perkara perceraian dilakukan dalam sidang tertutup. Mengapa dilakukan dalam sidang tertutup, karena menyangkut masalah kesusilaan (wawancara dengan Wakil Panitera PA Sukoharjo, pada Tanggal 23 Nopember 2012 pukul 09.30 – 11.00 ).

3. Penyelesaian Perkara Perceraian dan Pelaksanaan Pembagian Harta Bersama di Pengadilan Agama Sukoharjo.

(53)

commit to user

38

gambaran secara khusus tentang pembagaian harta bersama, yaitu: Putusan Nomor : 0910/PDT.G/2010/PA.SKH. Antara Penggugat berinisial B binti BG umur 38 tahun, agama Islam, pendidikan STM,

pekerjaan Karyawan Swasta, bertempat tinggal di, Kecamatan Grogol, Kabupaten Sukoharjo, selanjutnya disebut sebagai "Pemohon", Tergugat berinisial A binti ST umur 35 tahun, agama Islam, pendidikan SMEA, pekerjaan Mengurus Rumah Tangga, bertempat tinggal di Kecamatan Grogol, Kabupaten Sukoharjo, selanjutnya disebut sebagai "Termohon" yang menikah pada tanggal 13 agustus 1993 bertempat di kantor Urusan Agama kecamatan Grogol, Kabupaten Sukoharjo (kutipan Akta Nikah Nomor : 230/52/VIII/1993).

Dalam gugatannya (posita) Penggugat menyebutkan bahwa selama pernikahan dengan tergugat telah memperoleh harta bersama sebagai berikut:

a. Tanah pekarangan kaplingan seluas ± 100 m2 Serlifikat No. 3087 di

Kwarasan Grogol, Sukoharjo;

b. Sepeda motor Suzuki AD 6486 AK warna merah tahun 2005; c. Sepeda motor Yamaha AD 3714 KK warna hitam tahun 1996;

d. Sepeda motor Yamaha AD 2629 ZB warna hijau tahun 2009.

a. Duduk Perkaranya

Pada tanggal 13 Agustus 1993 pemohon dan Termohon melangsungkan pernikahan yang dicatat oleh pegawai pencatat nikah di kantor Urusan Agama kecamatan Grogol, Kabupaten Sukoharjo (kutipan Akta Nikah Nomor : 230/52/VIII/1993, selanjutnya pemohan dan termohan hidup bersama selama 7 tahun dan dikaruniai 2 (dua)

orang anak yaitu Vendi Permata Putra, Oldri Permata Sari.

Gambar

Gambar 1        : Teknik Analisa Data…………………………………………… 10
Gambar 3 : Jumlah Perkara Pembagian Harta Bersama di Pengadilan

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan pada Pasal 65 ayat (1) Huruf b Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, maka dapat dikatakan bahwa pembagian harta bersama akibat

serta , b agaimanakah pembagian harta bersama dalam hal terjadi putusnya perkawinan poligami menurut Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974

Hasil penelitian adalah Pertimbangan hakim dalam menetapkan pembagian harta bersama terhadap putusan Nomor 0512/Pdt.G/2013/PA.Mtp tersebut didasarkan pada andil dan

Putusan Pengadilan Agama Bukit Tinggi Nomor 618/Pdt.G/2012/PA.Bkt yang menetapkan dalam amar putusannya bahwa harta bersama dalam perkawinan dibagi menjadi 1/3

Pasal 45 Undang Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, dan gugatan pembagian harta bersama tidak dapat diterima, karena Penggugat dan Tergugat telah menggabungkan

Harta Kekayaan Perkawinan menurut Kitab Undang-Undang Hukum Perdata adalah berdasarkan ketentuan Pasal 119 KUH Perdata, apabila calon suami isteri sebelum perkawinan dilangsungkan

Masalah pokok yang diteliti adalah: Pertama, bagaimana wujud penegakan hukum positif Islam di Pengadilan Agama untuk mewujudkan keadilan dalam pembagian harta bersama dalam

Bila perkawinan putus karena perceraian maka harta bersama, menurut Pasal 37 UU No 1 / 1974 diatur menurut hukumnya masing- masing .  Selain dalam Undang-undang