commit to user
i
KAJIAN TENTANG TINDAK PIDANA YANG DILAKUKAN OLEH
DEBT COLLECTOR YANG DIPERINTAH BANK MENAGIH UTANG
NASABAH KARTU KREDIT
90%
Penulisan Hukum
(Skripsi)
Disusun dan Diajukan untuk
Melengkapi Sebagian Persyaratan guna Memperoleh Derajat Sarjana S1
dalam Ilmu Hukum pada Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret
Surakarta
Oleh Mat Rofi’i NIM. E0007162
FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
commit to user
ii
PERSETUJUAN PEMBIMBING
Penulisan Hukum (Skripsi)
KAJIAN TENTANG TINDAK PIDANA YANG DILAKUKAN OLEH
DEBT COLLECTOR YANG DIPERINTAH BANK MENAGIH UTANG
NASABAH KARTU KREDIT
Oleh MAT ROFI’I NIM. E0007162
Disetujui untuk dipertahankan di hadapan Dewan Penguji Penulisan Hukum
commit to user
iii
PENGESAHAN PENGUJI
Penulisan Hukum (Skripsi)
KAJIAN TENTANG TINDAK PIDANA YANG DILAKUKAN OLEH
DEBT COLLECTOR YANG DIPERINTAH BANK MENAGIH UTANG
NASABAH KARTU KREDIT
Oleh: MAT ROFI’I NIM. E0007162
Telah diterima dan disahkan oleh Dewan Penguji Penulisan Hukum (Skripsi)
Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret Surakarta
Pada :
Hari : Jumat
Tanggal : 13 Juli 2012
commit to user
iv
PERNYATAAN
Nama : Mat Rofi’i
NIM : E0007162
Menyatakan dengan sesungguhnya bahwa penulisan hukum (skripsi) berjudul:
KAJIAN TENTANG TINDAK PIDANA YANG DILAKUKAN OLEH
DEBT COLLECTOR YANG DIPERINTAH BANK MENAGIH UTANG
NASABAH KARTU KREDIT adalah betul-betul karya sendiri. Hal-hal yang
bukan karya saya dalam penulisan hukum (skripsi) ini diberi tanda citasi dan
ditunjukkan dalam daftar pustaka. Apabila di kemudian hari terbukti pernyataan
saya tidak benar, maka saya bersedia menerima sanksi akademik berupa
pencabutan penulisan hukum (skripsi) dan gelar yang saya peroleh dari penulisan
hukum (skripsi) ini.
Surakarta, 08 Mei 2012
yang membuat pernyataan
commit to user
v ABSTRAK
MAT ROFI’I. E0007162. KAJIAN TENTANG TINDAK PIDANA YANG
DILAKUKAN OLEH DEBT COLLECTOR YANG DIPERINTAH BANK
MENAGIH UTANG NASABAH KARTU KREDIT. Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret Surakarta.
Penelitian hukum ini bertujuan untuk mengetahui mengenai tentang tinjauan hukum pidana terhadap perbuatan yang dilakukan debt collector kepada nasabah dalam menagih utang kartu kredit dan mengetahui pertanggungjawaban menurut hukum pidana pihak bank sebagai pemberi perintah debt collector apabila penagihan utang kartu kredit dilakukan dengan cara melawan hukum. Penelitian ini merupakan termasuk dalam penelitian hukum normatif dengan menggunakan sumber bahan sekunder. Sumber bahan sekunder terdiri dari bahan hukum primer, bahan hukum sekunder dan bahan hukum tersier. Bahan hukum sekunder diperoleh dari studi kepustakaan yaitu melalui buku-buku teks, kamus-kamus hukum, jurnal-jurnal hukum, dan komentar-komentar atas tindak pidana yang dilakukan oleh debt collector dalam menagih utang kartu kredit.
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan ini, dapat ditarik kesimpulan bahwa perbuatan debt collector dalam menagih utang kartu kredit yang meresahkan nasabah bila dikaji dari hukum pidana termasuk dalam perbuatan pidana yang dapat dijerat dengan pasal didalam Kitab Undang-Undang Pidana. Pasal-pasal itu antara lain adalah Pasal 167 KUHP (memaksa masuk ke dalam rumah, ruangan, atau pekarangan tertutup yang dipakai orang lain dengan melawan hukum), Pasal 333 KUHP (perampasan kemerdekaan, penyanderaan debitur dengan melawan hukum), Pasal 351 KUHP (penganiayaan), Pasal 362, 363, dan 365 KUHP (pencurian, bila debt collector mengambil barang apa saja milik debitur), Pasal 362 dan 369 KUHP, serta Pasal 406 KUHP (perusakan barang).
Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) tidak mengenal pertanggungjawaban pidana korporasi . tetapi dalam dalam Undang-undang Nomor 10 Tahun 1988 tentang Perbankan dan Peraturan Bank Indonesia Nomor 11/2/PBI/2012 pasal 21 ayat (1) Dalam hal Penerbit melakukan kerja sama dengan pihak-pihak di luar pihak maka Penerbit bertanggung jawab atas kerja sama tersebut. Hal ini diperjelas oleh bagian penjelasan yang mengatakan: Yang dimaksud dengan pihak-pihak di luar pihak lain dalam ayat ini misalnya perusahaan jasa pengiriman dokumen, agen pemasaran(sales agent) atau jasa penagihan (debt collector). Sehingga pihak bank, yang merupakan si penyuruh, dapat dikenai pasal 55 KUHP. Menurut ketentuan ini, orang yang menyuruh melakukan tindak pidana (doen plegen) ikut bertanggungjawab atas perbuatan yang dilakukan orang disuruh. Dalam hal ini meskipun majikan tidak melakukan sendiri perbuatan pidana dan yang melakukan adalah bawahannya, maka majikan dipandang sebagai pelaku dan dihukum sebagai pelaku.
commit to user
vi ABSTRACT
MAT ROFI’I. E0007162. THE STUDY OF CRIME BY BANK DEBT
COLLECTOR COLLECT DEBTS GOVERNED CREDIT CARD CUSTOMERS. Faculty of Law University of Sebelas Maret.
The study aims to determine the law on judicial review of criminal acts committed against debt collectors to customers in charge of credit card debt and find criminal liability according to law by the bank as a debt collector giving the orders if the credit card debt collection is done by illegal means. This study is included in the normative legal research using secondary source material. Secondary source material consists of primary legal materials, legal materials and secondary legal materials tertiary. Secondary legal materials obtained from the literature study through textbooks, legal dictionaries, law journals, and comments for the same offenses committed by the debt collector to collect credit card debt.
Based on the results of research and discussion, it can be concluded that the acts of debt collectors collect debts in the credit card customer troubling when examined from the criminal law including the criminal act that can be charged with the article in the Book of Criminal Law. Those articles include Article 167 of the Criminal Code (breaks into the house, room, or enclosed yard which is used by someone else against the law), Article 333 of the Criminal Code (deprivation of liberty, hostage-taking against the debtor with the law), Article 351 of the Criminal Code (abuse ), Article 362, 363, and 365 of the Criminal Code (theft, when a debt collector take away any item owned by the debtor), Article 362 and 369 of the Criminal Code, and Article 406 of the Criminal Code (destruction of the goods).
Book of the Criminal Justice Act (Penal Code) does not recognize corporate criminal liability. but in the Act No. 10 of 1988 concerning Banking and Bank Indonesia Regulation Number 11/2/PBI/2012 article 21 paragraph (1) The Issuer cooperation with parties outside the party, the Issuer is responsible for co-operation them. This is made clear by the explanation that says: What is meant by the parties outside of the other party in this paragraph such as document delivery service companies, marketing agencies (sales agent) or billing services (debt collector). So that the bank, which is the principal, subject to Article 55 of the Criminal Code. According to this provision, the person who ordered a criminal offense (doen plegen) share responsibility for the acts committed were ordered. In this case even if the employer does not conduct its own criminal acts and who is his subordinate, the employer is seen as a principal and punishable as a principal.
commit to user
vii MOTTO
“Dan mintalah pertolongan kepada Allah dengan sabar dan mengerjakan sholat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat,
kecuali bagi orang-orang yang khusyuk”
(QS. Al-Baqarah(2):45)
“Raihlah ilmu, dan untuk meraih ilmu belajarlah untuk tenang dan sabar” (Khalifah Umar Bin Khatab)
“Orang hebat bukan yang berani mati tetapi yang mampu hidup dalam segala situasi” (Penulis)
commit to user
viii
PERSEMBAHAN
Skripsi ini penulis persembahkan kepada:
1. Allah Subhanahu wa-ta'ala
2. Ayah dan Ibuku tersayang
3. Adikku Zahrul Yunus dan Riza Pramiditya
4. Teman-teman yang saya banggakan
commit to user
ix
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT atas segala berkah, rahmat,
serta karunia-Nya yang telah diberikan kepada Penulis, sehingga Penulis mampu
menyelesaikan tugas penulisan hukum (skripsi) dengan judul KAJIAN
TENTANG TINDAK PIDANA YANG DILAKUKAN OLEH DEBT
COLLECTOR YANG DIPERINTAH BANK MENAGIH UTANG
NASABAH KARTU KREDIT Penulisan skripsi ini bertujuan untuk melengkapi
dan memenuhi syarat-syarat untuk memperoleh gelar kesarjanaan dalam Ilmu
Hukum pada Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret Surakarta.
Penulis menyadari bahwa terselesainya penulisan hukum (skripsi) ini tidak
lepas dari bantuan serta dukungan yang telah diberikan oleh berbagai pihak. Oleh
karena itu, dalam kesempatan ini Penulis ingin mengucapkan terima kasih yang
setulus-tulusnya kepada :
1. Prof.Dr.Hartiwiningsih,S.H.,M.Hum., selaku Dekan Fakultas Hukum
Universitas Sebelas Maret Surakarta.
2. Bapak R. Ginting, S.H.,M.H., selaku Ketua Bagian Hukum Pidana.
3. Bapak Ismunarno, S.H.,M.Hum., selaku Dosen Pembimbing Skripsi I yang
telah banyak membantu dan memberikan bimbingan dalam penulisan hukum
ini.
4. Bapak Sabar Slamet, S.H.,M.H. selaku Dosen Pembimbing Skripsi II yang
telah banyak membantu dan memberikan bimbingan serta mengarahkan dalam
penulisan hukum ini.
5. Ibu Sunny Ummul Firdaus, S.H., M.H. selaku Dosen Pembimbing Akademik
penulis.
6. Seluruh Bapak dan Ibu Dosen Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret
Surakarta yang telah memberikan ilmu pengetahuan kepada penulis selama
penulis menempuh studi di Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret
commit to user
x
7. Seluruh karyawan Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret Surakarta yang
telah banyak membantu segala kepentingan Penulis selama Penulis menempuh
studi di Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret Surakarta.
8. Bapak dan Ibuku tercinta, yang tidak pernah lelah untuk memberikan doa,
motivasi dan kasih sayang selama ini.
9. Beta Wulansari yang selalu mendampingi dan memberi dukungan kepada
penulis.
10.Teman-teman angkatan tahun 2007 yang selama ini selalu setia
kebersamaannya serta dalam memberikan dukungan dan masukan.
11.Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu-persatu disini yang telah
membantu Penulis dalam menyelesaikan Penulisan Hukum (skripsi) ini.
Penulis menyadari bahwa penulisan hukum ini masih jauh dari
kesempurnaan, mengingat kemampuan Penulis yang masih sangat terbatas. Oleh
karena itu, dengan besar hati penulis mengharapkan segala kritik dan saran yang
bersifat membangun. Semoga Penulisan Hukum ini dapat bermanfaat bagi penulis
maupun para pembaca.
Surakarta, 2 Mei 2012
Penulis
commit to user
xi DAFTAR ISI
Halaman
Halaman Judul ... i
Halaman Persetujuan Pembimbing ... ii
Halaman Pengesahan Penguji ... iii
Halaman Pernyataan ... iv
Abstrak ... v
Motto ... vii
Persembahan ... viii
Kata Pengantar ... ix
Daftar Isi ... xii
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Rumusan Masalah ... 4
C. Tujuan Penelitian ... 4
D. Manfaat Penelitian ... 5
E. Metode Penelitian ... 6
F. Sistematika Penulisan Hukum ... 10
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 12
A. Kerangka Teori ... 12
1. Tinjauan Umum Tentang Hukum Pidana ... 12
a. Pengertian Hukum Pidana ... 12
b. Pengertian Jenis-Jenis Hukum Pidana ... 13
c. Asas-Asas Hukum Pidana ... 14
2. Tinjauan Umum Tentang ... 18
a. Istilah Tindak Pidana ... 18
commit to user
xii
c. Jenis-Jenis Tindak Pidana ... 19
d. Unsur-Unsur Tindak Pidana... 20
3. Tinjauan Umum Tentang Debt Collector ... 23
a. Pengertian Debt Collector ... 23
b. Dasar Hukum ... 24
c. Cara Kerja Debt Collector ... 25
4. Tinjauan Umum Tentang Bank ... 27
a. Pengertian Bank ... 27
b. Jenis dan Kegiatan Usaha Bank ... 27
c. Larangan Kegiatan Usaha Bank ... 32
5. Tinjauan Umum Tentang Kartu Kredit ... 33
a. Pengertian Kartu Kredit ... 33
b. Dasar Hukum Kartu Kredit ... 34
c. Macam Kartu Kredit ... 36
d. Para Pihak Dalam Kartu Kredit ... 37
B. Kerangka Pemikiran ... 39
BAB III HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 40
A. Tinjauan hukum pidana tentang perbuatan debt collector yang melakukan tindak pidana kepada nasabah dalam menagih utang kartu kredit ... 40
B. Pertanggung Jawaban Pidana Pihak Bank Sebagai Pemberi Perintah Debt Collector Apabila Penagihan Utang Kartu Kredit Dilakukan Dengan Cara Melawan Hukum ... 64
BAB IV PENUTUP ... 82
A. Simpulan ... 82
B. Saran ... 83
Daftar Pustaka ... 85
commit to user
commit to user
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Sejak zaman dahulu manusia menggunakan barang sebagai media
pembayaran yang kita kenal sebagai sistem barter dimana untuk mendapatkan
suatu barang harus ditukarkan dengan barang lain, seiring dengan perkembangan
zaman cara ini mulai ditinggalkan setelah ditemukannya suatu alat pembayaran
yang lebih praktis yang kita kenal saat ini dengan nama uang. Dengan uang kita
bisa membeli semua kebutuhan yang kita inginkan, sehingga tak heran jika setiap
orang berusaha untuk mendapatkan uang.
Kehidupan manusia, ada seseorang yang ketahanan mental yang tinggi dan
stabil, meskipun kondisi ekonominya sulit, ia tidak sampai menempuh jalan yang
menyimpang dan melanggar hukum untuk menghadapi pergaulan sosialnya, akan
tetapi ada komunitas yang gagal menyesuaikan diri dengan norma-norma positif
sehingga untuk menyesuaikan pergaulan sosial digunakanlah cara-cara yang
menyimpang dan melanggar hukum. Perbuatan yang menyimpang ini ada yang
merugikan kehidupan masyarakat secara langsung ke masyarakat. Perusakan
terhadap suatu kawasan hutan misalnya seringkali menimbulkan kerugian pada
masyarakat secara tidak langsung, tetapi kerugiannya dapat dirasakan di kemudian hari. “Begitupun ketika suatu masyarakat gagal beradaptasi di tengah pengaruh informasi global dan menyerah menjadi budak globalisasi. Ada akibat yang langsung dirasakan, namun juga ada yang berjangka panjang” (Yahya Harahap, 2006 : 10).
Perkembangan teknologi baru selalu mempengaruhi evolusi peradaban
manusia. Penemuan-penemuan besar keilmuan telah mengakibatkan perubahan
kebiasaan, sistem nilai, cara pandang sampai ketentuan hukum suatu negara.
Dalam ilmu sosial, perubahan perilaku sosial (social behavior) bukanlah suatu hal
yang harus ditakuti, sebab perubahan sosial itu selalu akan memberi warna baru
commit to user
apakah kemajuan tersebut akan bermanfaat atau malah akan menimbulkan
malapetaka terhadap peradaban manusia itu sendiri.
Modus dalam kejahatan dalam masyarakat merupakan salah satu bentuk kejahatan mengikuti perkembangan teknologi dan cara hidup manusia. Memahami makna dari kejahatan dalam hal perkembangan kehidupan perlu kiranya untuk mencermati perkembangan yang terjadi dalam praktik bisnis dengan berbagai modus di antaranya adalah dalam bidang kompertisi yang dikenal dengan unfair competion berupa tindakan tying contract, exclusive dealing, price discrimination, price fixing, penggabungan perusahaan, false advertising (penipuan iklan) dan kejahatan lingkungan hidup (environmental crime) penyelenggara jasa keuangan dan bank (Endah Lestari,2010:14).
Secara tidak langsung seluruh bidang kehidupan manusia terkena dampak
dari teknologi, tidak terkecuali bidang perdagangan dan perbankan. Teknologi
dimanfaatkan sebagai penunjang dalam transaksi perdagangan dan perbankan
demi mewujudkan sistem perdagangan yang mudah dilakukan dan praktis. Pada
era teknologi ini, alat pembayaran yang efektif dan efisien sangat diperlukan. Alat
pembayaran yang berukuran kecil dan terbuat dari bahan plastik tersebut yang
kemudian dikenal dengan sebutan kartu kredit.
Awal mula pemikiran menciptakan alat pembayaran yang canggih, efektif dan efisien bermula di New York Tahun 1950. Pada saat seorang wiraswastama terkenal mengundang mitra bisnisnya untuk bersantap bersama dalam melakukan negosiasi bisnis. Setelah selesai dan akan melakukan pembayaran, wiraswastawan tersebut mendapati dompetnnya tertinggal. Dengan perasaan malu ia memberikan kartu identitas kepada restoran yang bersangkutan sebagai jaminan untuk ditagih di kantornya keesokan harinya. Kejadian tidak terduga dalam kasus yang direstoran itu kemudian dikenal dengan nama Frank Mc Namara, sehingga mengilhaminya untuk menciptakan mekanisme pembayaran dengan menggunakan instrument kartu. Sejak itulah muncul kartu kredit yang digunakan sebagai alat pembayaran yang menggantikan uang tunai ( Johannes Ibrahim, 2004:13).
Masalah yang timbul saat ini adalah bagaimana jika seseorang tidak
memiliki uang sedangkan harus memenuhi kebutuhan yang terdesak,
Dengan kemajuan yang ada, hal ini dapat diatasi dengan kehadiran suatu sistem
pembayaran yang mana seseorang dapat membeli barang tanpa harus membayar
pada saat itu juga yang dalam kehidupan sehari-hari biasa disebut kredit. Dengan
commit to user
yang dapat disesuaikan , sehingga memudahkan untuk dapat memiliki sesuatu
yang diinginkan tanpa harus mempersiapkan uang tunai dalam jumlah besar.
Hadirnya sistem kredit sangat membantu kehidupan masyarakat bahkan
pertumbuhan ekonomi dalam suatu negara, namun keterbatasan saat ini adalah
tidak semua barang yang dijual di pasar atau toko menawarkan system kredit
terhadap barang yang mereka jual. Kerena disamping faktor kepercayaan ,
faktor-faktor lain dijadikan pedagang sebagai petimbangan untuk lebih nyaman jika
menjual dengan cara tunai daripada kredit. Dalam perkembangannya untuk
mengatasi akan hal ini, pihak perbankan berlomba-lomba menawarkan jasa
pembayaran kredit kepada nasabahnya dimana bank siap menjadi jaminan untuk
membayar barang-barang nasabahnya, yang bisanya nanti akan ditagih pada akhir
bulan. Dengan suatu sistem canggih yang saat ini dikenal dengan kartu kredit.
Kartu kredit merupakan alternative untuk memudahkan pembayaran jika
kita kehabisan uang sewaktu-waktu, hanya dengan sebuah kartu seseorang bisa
membeli kebutuhan-kebutuhan kita ditoko-toko tertentu tanpa harus membawa
uang tunai. Namun dibalik kemudahan-kemudahan tersebut, jika tidak digunakan
secara bertanggung jawab kartu kredit dapat membawa masalah bagi para
pengguna layanan tersebut kerena hadirnya kartu kredit membuat masyarakat
terbiasa dengan sifat hedonisme yang mengarakan ke arah pemborosan dan
akhirnya menghadapkan kepada debt collector bank untuk menagih sejumlah
hutang. Dalam penagihan hutangnya biasanya pihak bank menyerahkan kuasanya
kepada pihak ketiga yang biasa disebut debt collector. Atas kuasa tersebutlah para
debt collector sering melakukan sejumlah cara bahkan sampai menggunakan
ancaman dan kekerasan dalam penagihan hutangnya kepada debitur-debitur nakal.
Terjadinya beberapa kasus tentang tindak pidana yang dilakukan debt
collector beberapa waktu yang lalu membuat profesi ini menjadi pokok
pembicaraan masyarakat, sejumlah seluk beluk profesi ini terus dibahas, mulai
dari kewenangan, kuasa bahkan sampai pengaruh terhadap kepercayaan
masyarakat terkait bank yang mempekerjakan mereka. Atas hal-hal inilah yang
melatarbelakangi penulis untuk membahas seputaran debt collector dalam
commit to user
tertarik untuk menulis penulisan hukum dalam bentuk skripsi dengan judul:
“KAJIAN TENTANG TINDAK PIDANA YANG DILAKUKAN OLEH
DEBT COLLECTOR YANG DIPERINTAH BANK MENAGIH UTANG
NASABAH KARTU KREDIT”.
B. Rumusan Masalah
Perumusan masalah dalam suatu penelitian dimaksudkan untuk membatasi
masalah yang akan dikaji dalam pembahasan agar tidak memberikan penafsiran
yang bermacam-macam serta sebagai upaya pemecahan masalah yang ingin
dicapai dari uraian latar belakang di atas.
Berdasarkan uraian tersebut, maka penulis merumuskan permasalahan
dalam penulisan hukum ini adalah sebagai berikut :
1. Bagaimana tinjauan hukum pidana tentang perbuatan debt collector yang
melakukan tindak pidana kepada nasabah dalam menagih utang kartu kredit?
2. Bagaimana tanggung jawab pidana pihak bank sebagai pemberi perintah debt
collector apabila penagihan utang kartu kredit dilakukan dengan cara melawan
hukum?
C. Tujuan Penelitian
Dalam penyusunan penulisan hukum ini, ada beberapa tujuan yang ingin
dicapai. Tujuan tersebut adalah sebagai berikut:
1. Tujuan Obyektif
a. Untuk mengetahui tentang tinjauan hukum pidana terhadap perbuatan debt
collector yang melakukan tindak pidana terhadap nasabah kartu kredit.
b. Untuk mengetahui pertanggungjawaban menurut hukum pidana pihak bank
sebagai pemberi perintah debt collector apabila penagihan utang kartu kredit
commit to user
2. Tujuan Subyektif
Untuk memperoleh bahan-bahan dan data-data yang diperlukan dalam
menyusun penulisan hukum, sebagai salah satu syarat untuk memperoleh
gelar Sarjana Hukum di Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret.
D. Manfaat Penelitian
Suatu penelitian tentunya diharapkan akan dapat memberikan manfaat
yang berguna terutama pada ilmu pengetahuan di bidang penelitian tersebut.
Adapun manfaat dari penelitian ini sebagai berikut :
1. Manfaat Teoritis
a. Penelitian ini, menggunakan pendekatan normatif maka hasilnya
diharapkan berguna untuk kepentingan pengembangan teori-teori hukum
tentang penegakan hukum yang harus dicapai, strategi penegakan hukum
pidana yang efektif, hubungan peranan penegak hukum dan peran serta
masyarakat dalam mencapai efektivitas hukum.
b. Menambah literatur, referensi, dan bahan-bahan informasi ilmiah serta
pengetahuan bidang hukum yang telah ada sebelumnya, khususnya untuk
memberikan suatu deskripsi jelas mengenai pemecahan permasalah yang
akan di pecahkan penulis.
c. Untuk mendalami dan mempraktekan teori-teori yang telah diperoleh
penulis selama kuliah di Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret
Surakarta.
2. Manfaat Praktis
a. Penelitian ini diharapkan mempunyai nilai kemanfaatan untuk kepentingan
penegakan hukum guna mewujudkan ketertiban hukum dan ketertiban
sosial.
b. Menjadi wahana bagi penulis untuk mengembangkan penalaran,
membentuk pola pikir ilmiah sekaligus mengetahui kemampuan penulis
commit to user
c. Menjadi wawasan dan pengetahuan hukum bagi masyarakat luas terkait
mengenai tindak pidana yang dilakukan oleh debt collector dalam menagih
utang kartu kredit.
E. Metode Penelitian
“Penelitian Hukum adalah suatu proses untuk menemukan aturan hukum, prinsip-prinsip hukum, maupun doktrin-doktrin hukum guna menjawab isu hukum
yang dihadapi” (Peter Mahmud Marzuki, 2009: 35). Penelitian hukum dilakukan
untuk mencari pemecahan atas isu hukum yang timbul. Oleh karena itu, “penelitian hukum merupakan suatu penelitian di dalam kerangka know-how di dalam hukum. Hasil yang dicapai adalah untuk memberikan preskripsi dalam
menyelesaikan masalah yang dihadapi” (Peter Mahmud Marzuki, 2009: 41).
Ada dua syarat yang harus dipenuhi sebelum mengadakan penelitian
dengan baik dan dapat dipertanggungjawabkan adalah “peneliti harus terlebih
dahulu memahami konsep dasar ilmunya dan metodologi penelitian disiplin
ilmunya” (Johnny Ibrahim, 2006: 26). Dalam penelitian hukum, “konsep ilmu
hukum dan metodologi yang digunakan di dalam suatu penelitian memainkan
peran yang sangat signifikan agar ilmu hukum beserta temuan-temuannya tidak
terjebak dalam kemiskinan relevansi dan aktualitasnya” (Johnny Ibrahim, 2006:
28).
Dalam penelitian ini penulis menggunakan metode penelitian sebagai
berikut :
1. Jenis Penelitian
Ditinjau dari sudut penelitian hukum sendiri, maka pada penelitian ini
penulis menggunakan jenis penelitian hukum normatif. Penelitian hukum
normatif memiliki definisi yang sama dengan penelitian doktrinal (doctrinal
research) yaitu penelitian berdasarkan bahan-bahan hukum (library based)
yang fokusnya pada membaca dan mempelajari bahan-baan hukum primer dan
commit to user
prosedur ilmiah untk menemukan kebenaran bedasarkan logika keilmuan
hukum dari sisi normatifnya” (Johnny Ibrahim, 2006: 57).
Pendapat ini kemudian dipertegas oleh Sudikno Mertokusumo yang
menyatakan bahwa disiplin ilmiah dan cara kerja ilmu hukum normatif adalah
pada obyeknya, obyek tersebut adalah hukum yang terutama terdiri atas
kumpulan peraturan-peraturan hukum yang bercampur aduk merupakan chaos:
tidak terbilang banyaknya peraturan perundang-undangan yang dikeluarkan
setiap tahunnya. “Ilmu hukum (normatif) tidak melihat hukum sebagai suatu
chaos atau mass of rules tetapi melihatnya sebagai suatu Istructured whole of
system”(Johnny Ibrahim, 2006: 57).
Penulis memilih penelitian hukum yang normatif, karena menurut
penulis sumber penelitian yang digunakan adalah bahan hukum sekunder, yang
terdiri dari bahan hukum primer, bahan hukum sekunder, dan bahan hukum
tersier. Selain itu, menurut penelitian penulis bahwa sesuai dengan pendapat
Johnny Ibrahim, berkenaan dengan penelitian yang dilakukan penulis
mengenai tindak pidana yang dilakukan debt collector atas perintah bank
kepada nasabah dalam menagih utang kartu kredit, sehingga dibutuhkan “penalaran dari aspek hukum normatif, yang merukan ciri khas hukum normatif” (Johnny Ibrahim, 2006: 127). Jadi berdasarkan uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa jenis penelitian hukum normatif yang dipilih oleh penulis
sudah sesuai dengan obyek kajian atau isu hukum yang diangkat.
2. Sifat Penelitian
“Sifat penelitian hukum ini sejalan dengan sifat ilmu hukum itu sendiri. Ilmu hukum mempunyai sifat sebagai ilmu yang preskriptif, artinya sebagai
ilmu yang bersifat preskriptif ilmu hukum mempelajari tujuan hukum,
konsep-konsep hukum, dan norma-norma hokum” (Peter Mahmud Marzuki, 2009: 22).
Oleh karena itu, dalam penelitian ini penulis akan memberikan
preskriptif mengenai pengaturan tindak pidana yang dilakukan debt collector
commit to user
3. Pendekatan Penelitian
Penelitian merupakan suatu sarana pokok dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, oleh karena penelitian bertujuan untuk mengungkapkan kebenaran untuk mengungkap kebenaran secara sistematis, metodologis dan konsisten, dengan mengadakan analisa dan konstruksi. Penelitian hukum senantiasa harus diserasikan dengan disiplin hukum yang merupakan suatu sistem ajaran tentang hukum sebagai norma dan kenyataan (Soerjono Soekanto, Sri Mamudji, 2003:20).
Menurut Johnny Ibrahim, dalam penelitian hukum terdapat beebeerapa
pendekatan, yaitu “pendekatan perundang-undangan (satute approach),
pendekatan konseptual (conceptual approach), pendekatan analitis (analytical
approach), pendekatan perbandingan (comparative approach), pendekatan
historis (historical approach), pendekatan filsafat (philosophical approach),
dan pendekatan kasus (case approach)” (Johnny Ibrahim, 2006: 300).
Dari ketujuh pendekatan tersebut, pendekatan yang relevan dengan
penelitian hukum ini adalah pendekatan perundang-undangan (satute
approach) dan pendekatan analitis (analytical approach).
4. Jenis dan Sumber Bahan Hukum
Jenis bahan hukum yang digunakan dalam penelitian hukum yang
dilakukan oleh penulis adalah bahan hukum primer dan bahan hukum
sekunder. Bahan hukum primer merupakan bahan hukum yang bersifat
autoriatif yang artinya mempunyai otoritas. Bahan hukum primer terdiri dari
perundang-undangan, catatan-catatan resmi atau risalah dalam pembuatan
perundang-undangan dan putusan hakim. Sedangkan “bahan hukum sekunder
berupa semua publikasi tentang hukum yang bukkan merupakan
dokumen-dokumen resmi, yan meliputi buku-buku teks, kamus-kamus hukum,
jurnal-jurnal hukum dan komentar atas putusan pengadilan” (Peter Mahmud Marzuki,
2009: 141).
Dalam penelitian ini penulis menggunakan bahan hukum primer yakni
perundang-undangan, sedangkan bahan hukum sekunder berupa semua
commit to user
resmi, yang meliputi buku-buku teks, kamus-kamus hukum dan jurnal-jurnal
hukum.
5. Teknik Pengumpulan Bahan Hukum
Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder.
Dalam bukunya, Penelitian Hukum, Peter Mahmud mengatakan, bahwa pada
dasarnya penelitian hukum tidak mengenal adanya data. Sehingga yang
digunakan adalah bahan hukum, dalam hal ini adalah bahan hukum primer dan
bahan hukum sekunder.
a. Bahan Hukum Primer
“Bahan hukum primer merupakan bahan hukum yang bersifat autoriatif, artinya mempunyai otoritas. Bahan-bahan hukum primer terdiri
dari perundang-undangan, catatan-catatan resmi, atau risalah dalam
pembuatan peraturan perundang-undangan dan putusan-putusan hakim”
(Peter Mahmud Marzuki, 2009: 141).
b. Bahan Hukum Sekunder
“Bahan hukum sekunder berupa publikasi tentang hukum yang bukan merupakan dokumen-dokumen resmi” (Peter Mahmud Marzuki,
2009: 141). Bahan hukum sebagai pendukung dari data yang akan
digunakan di dalam penelitian ini yaitu buku-buku teks yang ditulis para
ahli hukum, jurnal hukum, artikel, internet, dan sumber lainnya, yang
memiliki korelasi untuk mendukung penelitian ini.
6. Teknik Analisis Bahan Hukum
Penelitian yang dilakukan oleh penulis merupakan penelitian normatif
dimana teknik analisis yang penulis gunakan adalah dengan metode silogisme
dan interpretasi, dengan menggunakan pola berpikir deduktif. Interpretasi atau
penafsiran merupakan metode penemuan hukum yang memberi penjelasan
yang gamblang terkait teks undang-undang agar lingkup kaidah dapat
commit to user
Dalam penelitian ini, penulis juga akan menggunakan metode silogisme
dengan teknik analisis deduksi. Metode deduksi adalah metode yang
berpangkal dari pengajuan premis mayor, kemudian diajukan premis minor
dari kedua premis ini kemudian ditarik kesimpulan atau conclusion. Artinya
bahwa melakukan pengolahan analisis bahan dengan menarik kesimpulan dari
suatu permasalahan yang bersifat umum terhadap permasalahan konkret yang
diteliti.
F. Sistematika Penulisan Hukum
Sistematika penulisan hukum untuk memberikan gambaran secara
keseluruhan tentang isi dari penelitian sesuai dengan aturan yang sudah ada dalam
penulisan hukum. Sistematika penulisan hukum ini terdiri dari 4 (empat) bab yang
tiap-tiap bab terbagi dalam sub-sub bagian yang saling berhubungan dimaksudkan
untuk memudahkan pemahaman terhadap keseluruhan hasil penelitian ini. Adapun
sistematika penulisan hukum ini adalah sebagai berikut :
BAB I : PENDAHULUAN
Dalam bab satu akan diuraikan mengenai latar belakang masalah,
rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, metodologi
penelitian dan sistematika penulisan hukum untuk memberikan
pemahaman mendalam terhadap isi penelitian secara garis besar.
BAB II : TINJAUAN PUSTAKA
Dalam bab dua penulis akan menguraikan hal-hal yang berhubungan
dengan kerangka teori dan kerangka pemikiran dari penelitian ini.
Dalam kerangka teori, akan diuraikan mengenai tinjauan umum tentang
hukum pidana, yang meliputi pengertian hukum pidana; pemaparan
jenis-jenis hukum pidana, pemaparan asas-asas hukum pidana, tinjauan
umum tentang tindak pidana yang meliputi istilah tindak pidana,
pengertian tindak pidana, pemaparan jenis-jenis tindak pidana dan
pemaparan unsur-unsur tindak pidana. Kemudian, diuraikan mengenai
commit to user
Collector, cara kerja Debt Collector ;. Pemaparan mengenai tinjauan
umum tentang bank, yang meliputi pengertian bank; jenis-jenis dan
kegiatan usaha bank, dan larangan kegiatan usaha bank. Dilanjutkan
dengan tinjauan umum tentang kartu kredit yang meliputi pengertian
kartu kredit, macam kartu kredit dan para pihak dalam kartu kredit.
Keseluruhan uraian dapat memudahkan pembaca untuk membaca dan
memahami mengenai kajian tentang tindak pidana yang dilakukan oleh
Debt Collector atas perintah bank kepada nasabah dalam menagih utang
kartu kredit.
BAB III : HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Dalam bab tiga, penulis akan menyajikan pembahasan dari hasil
penelitian yang telah dilakukan oleh penulis, yaitu berupa kajian
tentang tindak pidana yang dilakukan oleh Debt Collector atas
perintah bank kepada nasabah dalam menagih utang kartu kredit.
Dalam kajian tersebut akan diuraikan tentang tinjauan hukum pidana
terhadap perbuatan yang dilakukan debt collector kepada nasabah
dalam menagih utang kartu kredit dan pertanggungjawaban menurut
hukum pidana pihak bank sebagai pemberi perintah debt collector
apabila penagihan utang kartu kredit dilakukan dengan cara melawan
hukum hokum
BAB IV : PENUTUP
Bab keempat ini merupakan bab terakhir dari keseluruhan penulisan
hukum. Pada bab ini, berisikan simpulan dari pembahasan rumusan
masalah hasil penelitian dalam penulisan hukum dan disertai saran
yang didasari dari simpulan hasil penelitian tersebut.
commit to user
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Kerangka Teori
1. Tinjauan Umum Tentang Hukum Pidana
a. Pengertian Hukum Pidana
Rumusan mengenai pengertian hukum pidana mempunyai lebih dari
satu rumusan. Tidak ada rumusan mengenai pengertian hukum pidana
yang sempurna yang dapat diberlakukan secara umum. Rumusan hukum
pidana ini sulit dibatasi karena isi dari hukum pidana itu sendiri sangat luas
dan mencakup banyak aspek yang tidak mungkin untuk dimuat dalam
suatu batasan dengan suatu kalimat tertentu. Para sarjana ternyata
mempunyai pendapat yang berbeda-beda mengenai pengertian hukum
pidana ini.
Hukum pidana menurut Moeljatno, bahwa hukum pidana adalah
bagian dari pada keseluruhan hukum yang berlaku disuatu negara yang
mengadakan dasar-dasar dan aturan-aturan untuk :
1) Menentukan perbuatan-perbuatan mana yang tidak boleh dilakukan yang dilarang dengan disertai ancaman atau sanksi yang berupa pidana tertentu bagi barang siapa yang melanggar larangan tersebut;
2) Menentukan kapan dan dalam hal-hal apa kepada mereka yang telah melanggar larangan-larangan itu, dapat dikenakan atau dijatuhi pidana sebagaimana yang telah diancamkan;
3) Menentukan dengan cara bagaimana pengenaan pidana itu dapat dilaksanakan apabila ada orang yang disangka telah melanggar larangan tersebut (Moeljatno,2008 : 1).
Sedangkan menurut Lemaire telah merumuskan hukum pidana
sebagai berikut :
commit to user
Artinya adalah Hukum pidana itu terdiri dari norma-norma yang berisi keharusan-keharusan dan larangan-larangan yang (oleh pembentuk undang-undang) telah dikaitkan dengan suatu sanksi berupa hukuman, yakni suatu penderitaan yang bersifat khusus. Dengan demikian dapat juga dikatakan, bahwa hukum pidana itu merupakan suatu sistem norma-norma yang menetukan terhadap tindakan-tindakan yang mana (hal melakukan sesuatu atau tidak melakukan sesuatu dimana terdapat suatu keharusan untuk melakukan sesuatu) dan dalam keadaan-keadan bagaimana hukuman itu dapat dijatuhkan, serta hukuman yang bagaimana yang dapat dijatuhkan bagi tindakan-tindakan tersebut (Lemaire dalam P.A.F. Lamintang, 1996:1).
Sedangkan menurut Wirjono Projodikoro hukum pidana adalah “peraturan hukum mengenai pidana berarti hal yang dipidanakan yaitu yang oleh instansi yang berkuasa dilimpahkan kepada seorang oknum
sebagai hal yang tidak enak dirasakannya” (Wirjono Prodjodikoro,
1999:1).
b. Jenis-Jenis Hukum Pidana
Hukum pidana dapat dibedakan menjadi beberapa jenis antar lain
sebagai berikut :
1) Hukum pidana dalam keadaan diam dan keadaan bergerak yaitu: a) Hukum pidana materiil, memuat aturan-aturan yang menetapkan
dan merumuskan perbuatan-perbuatan yang dapat dipidana, aturan-aturan yang memuat syarat-syarat untuk dapat menjatuhkan pidana dan ketentuan mengenai pidananya.
b) Hukum pidana formil, memuat aturan-aturan bagaimana negara dengan perantaraan alat perlengkapannya melaksanakan haknya untuk mengenakan pidana, hukum pidana formil disebut juga hukum acara pidana.
2) Hukum pidana dalam arti Obyektif dan Subyektif yaitu :
a) Hukum Pidana Obyektif atau Ius Poenale diartikan sebagai hak dari negara atau alat-alat pelengkapan negara untuk mengenakan atau mengancam pidana terhadap perbuatan tertentu.
b) Hukum Pidana Subyektif atau Ius Puniendi hak untuk menuntut perkara-perkara pidana, menjatuhkan dan melaksanakan pidana terhadap orang yang melakukan perbuatan yang dilarang.
3) Hukum pidana atas dasar siapa berlakunya hukum pidana yaitu: a) Hukum Pidana Umum adalah hukum pidana yang ditujukan dan
commit to user
membeda-bedakan kualitas pribadi subjek hukum tertentu, contoh : Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP).
b) Hukum Pidana khusus adalah hukum pidana yang dibentuk oleh negara yang hanya dikhususkan berlaku bagi subjek hukum tertentu saja, contoh : Kitab Undang-Undang Hukum Pidana Tentara (KUHPT).
4) Hukum pidana atas dasar wilayah berlakunya hukum yaitu :
a) Hukum pidana umum adalah hukum pidana yang dibentuk oleh pemerintah negara pusat yang berlaku bagi subjek hukum yang berada dan berbuat melanggar larangan hukum pidana di seluruh wilayah hukum negara.
b) Hukum pidana lokal adalah hukum pidana yang dibuat oleh Pemerintah Daerah yang berlaku bagi subjek hukum yang melakukan perbuatan yang dilarang oleh hukum pidana di dalam wilayah hukum pemerintah daerah tersebut.
Atas dasar wilayah berlakunya hukum, hukum pidana masih juga dapat dibedakan antara hukum pidana nasional dan hukum pidana internasional.
5) Hukum pidana atas dasar bentuknya yaitu :
a) Hukum pidana tertulis disebut juga hukum pidana undang-undang. b) Hukum pidana tidak tertulis atau disebut dengan hukum pidana
adat (Adami Chazawi,2002 : 14).
6) “Hukum Pidana yang dikodifikasikan (KUHP dan KUHPT) dan
hukum pidana yang tidak dikodifikasikan yakni yang terdapat di luar
KUHP tersebar dalam berbagai undang-undang dan peraturan lain”
(Sudarto,1990 : 11).
c. Asas-Asas Hukum Pidana
Hukum pidana disusun dan dibentuk dengan maksud untuk
diberlakukan dalam masyarakat agar dapat dipertahankan segala
kepentingan hukum yang dilindungi dan terjaminnya kedamaian serta
ketertiban. Dalam pemberlakuan hukum pidana di Indonesia terdapat
batasan berlakunya.
Berlakunya hukum pidana tidak hanya dibatasi oleh ruang dan waktu
saja tetapi juga dibatasi oleh tempat atau wilayah hukum tertentu. Dalam
hal mengenai berlakunya hukum pidana terdapat beberapa asas hukum
commit to user
1) Asas Legalitas
Asas ini berlaku mutlak bagi negara-negara yang hukum
pidananya telah dikodifikasi dalam satu wetboek seperti negara yang
menganut sistem hukum Eropa kontinental termasuk Indonesia. Asas
legalitas dirumuskan dalam Pasal 1 ayat (1) Kitab Undang-Undang
Hukum Pidana (KUHP) yang berbunyi :
“Tiada suatu perbuatan dapat dipidana kecuali atas kekuatan aturan pidana dalam perundang-undangan yang telah ada sebelum
perbuatan dilakukan” (R.Soesilo, 1995:27).
Asas legalitas dalam Pasal 1 ayat (1) KUHP tersebut dikenal dengan asas “nulum delictum nulla poena sina praevia legepoenali”
yang artinya tidak ada tindak pidana dan tidak ada pidana tanpa
adanya ketentuan hukum yang lebih dulu menentukan demikian.
Dalam ketentuan Pasal 1 ayat (1) KUHP tersebut, terdapat tiga
pengertian dasar dalam asas legalitas, yaitu :
a) Ketentuan hukum pidana itu harus ditetapkan lebih dulu secara
tertulis;
b) Dalam hal untuk menentukan suatu perbuatan apakah berupa tindak
pidana ataukah bukan tidak boleh menggunakan penafsiran
analogi;
c) Ketentuan hukum pidana tidak berlaku surut (terugwerkend atau
retro aktif).
Berdasarkan asas legalitas ini timbul suatu asas yang disebut
lex temporis delicti, artinya suatu perbuatan pidana harus diadili
berdasarkan peraturan yang ada pada waktu perbuatan tersebut
dilakukan.
2) Asas lex specialis derogate legi generali
Secara sederhana asas ini berarti aturan yang bersifat khusus
(specialis) mengesampingkan aturan yang bersifat umum (generali).
Apabila dihubungkan dengan pandangan Dworkin, dengan asas ini
commit to user
telah ada aturan yang bersifat khusus. Dengan kata lain, aturan yang
khusus itulah sebagai hukum yang valid, dan mempunyai kekuatan
mengikat untuk diterapkan terhadap peristiwa-peristiwa konkrit.
Dalam hukum pidana Indonesia asas ini didasarkan pada
ketentuan Pasal 103 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP)
yang berbunyi :
“ketentuan-ketentuan dalam Bab I sampai dengan Bab VII buku ini berlaku bagi perbuatan-perbuatan yang oleh ketentuan
perundang-undangan yang lainnya diancam dengan pidana,
kecuali jika oleh undang-undang ditentukan lain” (R.Soesilo,
1995:107)
3) Asas geen straf sonder schuld atau asas tiada pidana tanpa kesalahan
Asas tiada pidana tanpa kesalahan artinya untuk dapatnya
dipidana pada seseorang yang perbuatannya nyata melanggar larangan
hukum pidana diisyaratkan bahwa perbuatannya itu dapat
dipersalahkan padanya ialah si pembuat itu mempunyai kesalahan.
Perwujudan dari asas tiada pidana tanpa kesalahan itu terdapat
dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) yakni Pasal 44
tentang tidak mampu bertanggung jawab bagi si pembuat atas
perbuatannya dan Pasal 48 tentang tidak dipidananya si pembuat
karena dalam keadaan daya paksa (overmacht).
4) Asas actus non facit reum nisi mens sit rea
Asas ini mempunyai maksud bahwa sesuatu perbuatan tidak
dapat membuat orang bersalah kecuali bilamana dilakukan dengan
niat jahat. Asas ini meliputi kata actus reus yang artinya menyangkut
perbuatan yang melawan hukum dan kata mens rea mencakup
unsur-unsur pembuat delik yaitu sikap batin.
5) Asas berlakunya hukum pidana menurut tempat, ini dikenal ada empat
commit to user
a) Asas teritorial (territorialiteits-beginsel)
Asas berlakunya hukum pidana suatu negara semata-mata
digantungkan pada tempat dimana suatu tindak pidana itu telah
dilakukan, dan tempat tersebut haruslah terletak di dalam wilayah
negara yang bersangkutan. Asas ini dirumuskan secara tegas dalam
Pasal 2 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP).
b) Asas kebangsaan (personaliteits-beginsel)
Asas berlakunya hukum pidana bergantung atau mengikuti subjek
hukum atau orangnya yakni warga negara di manapun
keberadaannya. Asas ini terdapat dalam Pasal 5 dan Pasal 7 Kitab
Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP).
c) Asas perlindungan atau Asas nasional pasif
(beschermings-beginsel)
Asas berlakunya hukum pidana tidak bergantung pada tempat
seorang pelaku telah melakukan tindak pidananya, melainkan pada
kepentingan hukum yang telah menjadi sasaran tindak pidana
tersebut. Negara yang kepentingan hukumnya menjadi sasaran
tindak pidana itu berwenang menghukum pelaku tindak pidana
tersebut.
d) Asas persamaan (universaliteits-beginsel)
“Asas persamaan bertumpu pada kepentingan hukum yang lebih luas yaitu kepentingan hukum penduduk dunia atau bangsa-bangsa
dunia. Menurut asas ini berlakunya hukum pidana tidak dibatasi
oleh tempat atau wilayah tertentu dan bagi orang-orang tertentu,
melainkan berlaku dimanapun dan terhadap siapapun” (P.A.F.
Lamintang, 1996 : 89-90).
6) Asas ne bis in idem
commit to user
2. Tinjauan Umum Tentang Tindak Pidana
a. Istilah Tindak Pidana
Tindak pidana berasal dari istilah yang dikenal dalam hukum
pidana Belanda yaitu Strafbaar feit. Dalam perundang-undangan dan
kepustakaan Belanda hanya ada satu istilah yaitu Strafbaar feit yang
merupakan istilah resmi dalam KUHP Belanda. Sedangkan dalam
perundang-undangan di Indonesia sering dijumpai istilah tindak pidana
walaupun masih dapat diperdebatkan juga ketepatannya. Banyak istilah
yang pernah digunakan dalam suatu peraturan perundang-undangan yang
ada maupun dalam literatur hukum sebagai terjemahan dan istilah
Strafbaar feit antara lain tindak pidana, peristiwa pidana, delik,
pelanggaran pidana, perbuatan yang boleh dihukum, perbuatan yang dapat
dihukum dan perbuatan pidana.
Strafbaar feit, terdiri dari tiga kata, yakni straf, baar dan feit. Dari istilah yang digunakan sebagai terjemahan dari Strafbaar feit itu, terjemahkan juga dengan hokum ternyata Straf diterjemahkan dengan pidana dan hukum. Perkataan baar diterjemahkan dengan dapat dan boleh. Sementara itu, untuk kata feit diterjemahkan dengan tindak, peristiwa, pelanggaran dan perbuatan (Adami Chazawi, 2002 : 69).
Secara literlijk, kata Straf artinya pidana, baar artinya dapat atau
boleh dan feit adalah perbuatan. Dalam kaitannya dengan istilah Strafbaar
feit secara utuh, ternyata Straf diterjemahkan juga dengan kata hukum.
Padahal sudah lazimnya hukum itu adalah terjemahan dari kata recht,
seolah-olah arti Straf sama dengan recht, yang sebenarnya tidak demikian
halnya. Untuk terjemahan dari kata baar dan feit secara literlijk bisa
diterima secara lazim.
b. Pengertian Tindak Pidana
Para ahli hukum memberikan pengertian yang berbeda-beda
mengenai tindak pidana menurut pandangannya. Pengertian tindak pidana
dalam hukum pidana terdapat dua pandangan yang berbeda yaitu
commit to user
Pandangan monisme merupakan pandangan dari para ahli hukum
mengenai tindak pidana yang tidak memisahkan antara unsur-unsur
mengenai perbuatan dengan-unsur-unsur mengenai diri orangnya. Ada
banyak ahli hukum yang berpandangan monisme ini terhadap tindak
pidana, antara lain adalah :
1) Wirjono Prodjodikoro, menyatakan bahwa tindak pidana itu adalah suatu perbuatan yang pelakunya dapat dikenakan hukuman pidana. 2) Simons, merumuskan Strafbaar feit adalah suatu tindakan melanggar
hukum yang dengan sengaja telah dilakukan oleh seseorang yang dapat dipertanggungjawabkan atas tindakannya, yang dinyatakan sebagai dapat dihukum (Adami Chazawi, 2002 : 72).
Sedangkan pandangan dualisme adalah pandangan yang
memisahkan antara perbuatan dan orang yang melakukan. Pandangan
monisme juga dianut banyak ahli, antara lain adalah :
1) Moeljatno menggunakan istilah perbuatan pidana, yang didefinisikan beliau sebagai perbuatan yang dilarang oleh suatu aturan hukum larangan mana disertai ancaman (sanksi) yang berupa pidana tertentu, bagi barang siapa yang melanggar larangan tersebut.
2) Pompe merumuskan bahwa suatu strafbaar feit itu sebenarnya adalah tidak lain daripada suatu tindakan yang menurut sesuatu rumusan undang-undang telah dinyatakan sebagai tindakan yang dapat dihukum (Adami Chazawi, 2002 : 71-72).
c. Jenis-Jenis Tindak Pidana
Tindak pidana dapat dibeda-bedakan atas dasar-dasar tertentu, yaitu
sebagai berikut :
1) Menurut sistem KUHP, dibedakan antara kejahatan (misdrijven) dimuat dalam buku II dan pelanggaran (overtredingen) dimuat dalam buku III;
2) Menurut cara merumuskannya, dibedakan antara tindak pidana formil (formeel delicten) dan tindak pidana materiil (materieel delicten); 3) Berdasarkan bentuk kesalahannya, dibedakan antara tindak pidana
sengaja (doleus delicten) dan tindak pidana tidak dengan sengaja (culpose delicten);
commit to user
5) Berdasarkan saat dan jangka waktu terjadinya, maka dapat dibedakan antara tindak pidana terjadi seketika dan tindak pidana terjadi dalam waktu lama atau berlangsung lama/berlangsung terus;
6) Berdasarkan sumbernya, dapat dibedakan antara tindak pidana umum dan tindak pidana khusus;
7) Dilihat dari sudut subyek hukumnya, dapat dibedakan antara tindak pidana communia (delicta communia, yang dapat dilakukan oleh siapa saja), dan tindak pidana propria (dapat dilakukan hanya oleh orang memiliki kualitas pribadi tertentu);
8) Berdasarkan perlu tidaknya pengaduan dalam hal penuntutan, maka dibedakan antara tindak pidana biasa (gewone delicten) dan tindak pidana aduan (klacht delicten);
9) Berdasarkan berat ringannya pidana yang diancamkan, maka dapat dibedakan antara tindak pidana bentuk pokok (eenvoudige delicten), tindak pidana yang diperberat (gequalificeerde delicten) dan tindak pidana yang diperingan (gepriviligieerde delicten);
10) Berdasarkan kepentingan hukum yang dilindungi, maka tindak pidana tidak terbatas macamnya bergantung dari kepentingan hukum yang dilindungi, seperti tindak pidana terhadap nyawa dan tubuh, terhadap harta benda, tindak pidana pemalsuan, tindak pidana terhadap nama baik, terhadap kesusilaan dan lain sebagainya;
11) Dari sudut berapa kali perbuatan untuk menjadi suatu larangan, dibedakan antara tindak pidana tunggal (enkelvoudige delicten) dan tindak pidana berangkai (samengestelde delicten.) (Adami Chazawi, 2002 : 121-122).
d. Unsur-Unsur Tindak Pidana
Pada dasarnya agar suatu perbuatan memenuhi syarat-syarat untuk
disebut sebagai tindak pidana, maka harus memenuhi beberapa
unsur-unsur. Unsur-unsur tindak pidana ada yang terdapat di dalam Kitab
Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) dan ada pula yang terdapat diluar
Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) yaitu menurut pendapat
para sarjana.
1) Unsur-Unsur Tindak Pidana Dalam KUHP
Tindak pidana yang terdapat didalam Kitab Undang-Undang
Hukum Pidana (KUHP) itu pada umumnya dapat dijabarkan ke dalam
unsur-unsur subyektif dan unsur-unsur obyektif. Unsur-unsur yang
bersifat subyektif dan obyektif ini juga diperoleh dari rumusan tindak
commit to user
“Unsur yang bersifat subyektif adalah semua unsur yang mengenai batin atau melekat pada keadaan batin orangnya” (Adami Chazawi, 2002 : 83). Unsur-unsur subyektif dari sesuatu tindak pidana
itu adalah :
a) Kesengajaan atau ketidaksengajaan (dolus atau culpa);
b) Maksud atau voornemen pada suatu percobaan atau poging seperti
yang dimaksud di dalam Pasal 53 ayat (1) KUHP;
c) Macam-macam atau oogmerk seperti yang terdapat misalnya di
dalam kejahatan-kejahatan pencurian, penipuan, pemerasan,
pemalsuan dan lain-lain;
d) Merencanakan terlebih dahulu atau voorbedachte raad seperti yang
misalnya yang terdapat di dalam kejahatan pembunuhan menurut
Pasal 340 KUHP;
e) Perasaan takut atau vress seperti yang antara lain terdapat di dalam
rumusan tindak pidana menurut Pasal 308 KUHP.
“Unsur yang bersifat objektif adalah semua unsur yang berada diluar keadan batin manusia atau si pembuat, yakni semua unsur
mengenai perbuatannya, akibat perbuatan dan keadaan-keadaan
tertentu yang melekat (sekitar) pada perbuatan dan obyek tindak pidana” (Adami Chazawi, 2002 : 83). Unsur-unsur obyektif dari suatu tindak pidana itu adalah :
a) Sifat melanggar hukum atau wederrechtelijkheid;
b) Kualitas dari si pelaku misalnya keaadaan sebagai seorang pegawai
negeri di dalam kejahatan jabatan menurut Pasal 415 KUHP atau
kewadaan sebagai pengurus atau komisaris dari suatu perseroan
terbatas di dalam kejahatan menurut Pasal 398 KUHP;
c) Kausalitas yakni hubungan antara sesuatu tindakan sebagai
penyebab dengan sesuatu kenyataan sebagai akibat.
Dari rumusan-rumusan tindak pidana tertentu dalam KUHP
commit to user
a) Unsur tingkah laku; b) Unsur melawan hukum; c) Unsur kesalahan;
d) Unsur akibat konstitutif;
e) Unsur keadaan yang menyertai;
f) Unsur syarat tambahan untuk dapatnya dituntut pidana; g) Unsur syarat tambahan untuk memperberat pidana; h) Unsur syarat tambahan untuk dapatnya dipidana; i) Unsur obyek hukum tindak pidana;
j) Unsur kualitas subyek hukum tindak pidana;
k) Unsur syarat tambahan untuk memperingan pidana (Adami Chazawi, 2002 : 82).
2) Unsur-Unsur Tindak Pidana di Luar KUHP
Unsur-unsur tindak pidana di luar KUHP dibedakan berdasarkan sudut pandang teoritis. Teoritis artinya berdasarkan pendapat para ahli hukum, yang tercermin pada bunyi rumusannya. Menurut Moeljatno, unsur tindak pidana adalah :
a) Perbuatan;
b) Yang dilarang (oleh aturan hukum);
c) Ancaman pidana (bagi yang melanggar larangan) (Adami Chazawi, 2002 : 79).
“Menurut Van Hamel, unsur-unsur strafbaar feit adalah : a) Perbuatan manusia yang dirumuskan dalam undang-undang;
b) Melawan hukum;
c) Dilakukan dengan kesalahan; dan
d) Patut dipidana” (Van Hamel dalam Sudarto, 1990 : 41).
Dari batasan yang dibuat Jonkers dapat dirinci unsur-unsur
tindak pidana adalah :
" a) Perbuatan;
b) Melawan hukum (yang berhubungan dengan);
c) Kesalahan (yang dilakukan oleh orang yang dapat);
commit to user
3. Tinjauan Umum Tentang Debt Collector
a. Pengertian Debt Collector
Kualitas penjualan dapat dikatakan baik apabila penjualan tersebut
dapat menghasilkan dana kembali dari penagihan. Penjualan yang tinggi
tidak akan ada arti apa-apa apabila pada akhirnya tidak bisa dikumpulkan.
Sehingga pada saat ini banyak perusahaan mulai menaruh perhatian besar
terhadap penerimaaan dan penagihan. Fungsi penjualan tidak dapat berdiri
sendiri dengan hanya ingin mencapai target penjualan saja.
Perusahaan harus dapat menyeimbangkan antara target penjualan dan collectibility dari client. Artinya perusahaan harus dapat menganalisa calon dan existing customer/klien.Ada customer yang mampu membayar tetapi tidak mau membayar (bed character). Pengelolaan piutang dan penagihan (collection) bila dilakukan secara profesional akan membantu Lokakarya ini dirancang secara khusus untuk membekali Anda dengan konsep dan metode dalam menganalisa customer (analisa kredit), pengelolaan piutang beserta sistem yang efektif dalam penagihannya sebagai bagian dari penataan arus kas di perusahaan perbankan.
Apabila dalam menyelenggarakan kegiatan APMK Penerbit dan/atau Financial Acquirer melakukan kerjasama dengan pihak lain di luar penerbit dan/atau financial acquirer tersebut, seperti kerjasama dalam kegiatan marketing, penagihan, dan/atau pengoperasian sistem, penerbit dan/atau financial acquirer tersebut wajib memastikan bahwa tata cara, mekanisme, prosedur, dan kualitas pelaksanaan kegiatan oleh pihak lain tersebut sesuai dengan tata cara, mekanisme, prosedur, dan kualitas apabila kegiatan tersebut dilakukan oleh penerbit dan/atau financial acquirer itu sendiri. Debt collector adalah pihak ketiga yang menghubungkan antara kreditur dan debitur dalam hal penagihan kredit. Penagihan tersebut hanya dapat dilakukan apabila kualitas tagihan kartu kredit dimaksud telah termasuk dalam kategori kolektibilitas diragukan atau macet berdasarkan kolektibilitas yang digunakan oleh industri kartu kredit di Indonesia.Hal ini tercantum dalam Surat Edaran Bank Indonesia No.7/60/DASP Tahun 2005 Bab IV angka 1 dan 2 yang isinya berbunyi sebagai berikut :
Dalam hal Penerbit menggunakan jasa pihak lain dalam melakukan penagihan transaksi Kartu Kredit, maka
a. penagihan oleh pihak lain tersebut hanya dapat dilakukan apabila kualitas tagihan Kartu Kredit dimaksud telah termasuk dalam kategori kolektibilitas diragukan atau macet berdasarkan kriteria kolektibilitas yang digunakan oleh industri Kartu Kredit di Indonesia, dan
commit to user
b. Cara Kerja Debt Collector
Pada umumnya dunia collector sering dianggap negatif seperti apa
yang dibayangkan oleh masyarakat pada umumnya. Dunia collector
sebenarnya cukup luas dan memiliki cara kerja yang berbeda pula. Cara
kerja tersebut,berdasarkan pada lama tunggakan debitur.
Cara kerja atau tingkatan collector secara umum adalah sebagai
berikut :
1) Desk collector
Pada level bagian penagihan (desk collector), level ini adalah level yang pertama dari dunia collector, dan cara kerja yang dilakukan oleh collector-collector ini adalah hanya mengingatkan tanggal jatuh tempo dari cicilan debitur dan dilakukan dengan media telepon. Pada level ini collector hanya berfungsi sebagai pengingat (reminder) bagi debitur atas kewajiban membayar cicilan. Bahasa yang di gunakan pun sangat sopan dan halus, mengingat orientasinya sebagai pelayan nasabah.
2) Debt collector
commit to user
3) Collector remedial
Apabila ternyata debitur masih belum melakukan pembayaran, maka tunggakan tersebut akan diberikan kepada level yang selanjutnya yaitu juru sita (collector remedial). Pada level ini yang memberikan kesan negatif mengenai dunia collector, karena pada level ini sistem kerja collector adalah dengan cara mengambil barang jaminan (bila kredit yang disepakati memiliki jaminan) debitur. Cara yang dilakukan dan perilaku collector pada level ini tergantung dari tanggapan debitur mengenai kewajibannya, dan menyerahkan jaminannya dengan penuh kesadaran, maka dapat dipastikan bahwa collector tersebut akan bersikap baik dan sopan. Namun apabila debitur ternyata tidak memnberikan itikad baik untuk menyerahkan barang jaminannya, maka collector tersebut dengan sangat terpaksa akan melakukan kewajibannya dan menghadapi tantangan dari debitur tersebut.Yang dilakukannya pun bervariasi mulai dari membentak, merampas dengan paksa dan lain sebagainya, dalam menggertak debitur (Purbantoro, Debt Collector (http:// purbantoro.wordpress.com /2008/11/13/debt-collector).
4. Tinjauan Umum Tentang Bank
a. Pengertian Bank
“Bank adalah badan usaha di bidang keuangan yang menarik uang dari masyarakat dan menyalurkannya kembali ke masyarakat, terutama
dengan cara memberikan kredit dan jasa-jasa dalam lalu lintas pembayaran dan peredaran uang” (Malayu SP Hasibuan, 2001 : 4). Pada umumnya bank melakukan kegiatan usahanya berupa menghimpun dana dari
masyarakat dan menyalurkan kembali kepada masyarakat dalam bentuk
kredit atau pinjaman maupun dalam bentuk lain.
Dalam Pasal 1 Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang
Perbankan, berbunyi :
commit to user
b. Jenis dan Kegiatan Usaha Bank
1) Jenis Bank
Dalam Pasal 5 angka (1) Undang-Undang Nomor 10 Tahun
1998 tentang Perbankan, dijelaskan bahwa : ”Menurut jenisnya bank terdiri dari :
a) Bank Umum
b) Bank Perkreditan Rakyat”.
Dalam Pasal 1 angka (3) Undang-Undang Nomor 10 Tahun
1998 tentang Perbankan, dijelaskan mengenai bank umum adalah
sebagai berikut :
“Bank Umum adalah bank yang melaksanakan kegiatan usaha secara konvensional dan atau berdasarkan Prinsip Syariah yang dalam
kegiatannya memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran”.
Sedangkan dalam Pasal 1 angka (4) Undang-Undang Nomor
10 Tahun 1998 tentang Perbankan, dijelaskan mengenai bank
perkreditan rakyat adalah sebagai berikut :
“Bank Perkreditan Rakyat adalah bank yang melaksanakan kegiatan usaha secara konvensional atau berdasarkan Prinsip Syariah yang
dalam kegiatannya tidak memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran”.
Berbeda dengan Undang-Undang Perbankan yang hanya
membagi bank menjadi dua jenis seperti yang telah dijelaskan
sebelumnya. Secara umum jenis bank dapat dibedakan menjadi
beberapa jenis berdasarkan karakter bank masing-masing. Jenis
perbankan dewasa ini dapat ditinjau dari berbagai segi karakter antara
lain adalah :
(1)Bank dilihat dari segi fungsinya yaitu :
(a) Bank Umum adalah bank yang melaksanakan kegiatan usaha
commit to user
dalam kegiatannya memberikan jasa dalam lalu lintas
pembayaran.
(b) Bank Perkreditan Rakyat (BPR) adalah bank yang
melaksanakan kegiatan usaha secara konvensional atau
berdasarkan Prinsip Syariah yang dalam kegiatannya tidak
memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran.
(2)Bank dilihat dari segi kepemilikannya yaitu :
(a) Bank Milik Pemerintah adalah dimana baik akte pendririan
maupun modalnya dimiliki oleh pemerintah, sehingga seluruh
keuntungan bank ini dimiliki oleh pemerintah pula. Contoh :
Bank Tabungan Negara (BTN), BRI.
(b) Bank Milik Swasta Nasional adalah seluruh atau sebagian
besarnya dimiliki oleh swasta nasional serta akte pendiriannya
didirikan oleh swasta, begitu pula pembagian keuntungannya
untuk keuntungan swasta pula. Contoh : Bank Central Asia,
Bank Lippo, Bank Danamon.
(c) Bank Milik Koperasi adalah kepemilikan saham-saham bank
ini dimiliki oleh perusahaan yang berbadan hukum koperasi.
Contoh : Bank Umum Koperasi Indonesia.
(d) Bank Milik Asing adalah bank ini merupakan cabang dari
bank yang ada di luar negeri, baik milik swasta asing atau
pemerintah asing. Contoh : City Bank, Bank of Tokyo.
(e) Bank Milik Campuran adalah kepemilikan saham bank
campuran dimiliki oleh pihak asing dan swasta nasional,
kepemilikan sahamnya secara mayoritas dipegang oleh warga
negara Indonesia. Contoh : Ing Bank, Sumitomo Niaga Bank.
(3)Bank dilihat dari segi statusnya yaitu :
(a) Bank Devisa adalah bank yang dapat melaksanakan transaksi
ke luar negeri atau yang berhubungan dengan mata uang asing
commit to user
(b) Bank Non Devisa adalah bank yang belum mempunyai izin
untuk melaksanakan transaksi sebagai bank devisa sehingga
tidak dapat melaksanakan transaksi seperti halnya bank devisa.
(4)Bank dilihat dari segi cara menentukan harga yaitu :
(a) Bank yang berdasarkan prinsip konvensional adalah bank
dalam mencari keuntungan dan menentukan harga kepada para
nasabahnya, bank berdasarkan prinsip konvensional misalnya
menetapkan bunga sebagai harga.
(b) Bank yang berdasarkan prinsip syariah adalah bank dalam
menentukan harga atau mencari keuntungan bagi bank
berdasarkan prinsip syariah misalnya pembiayaan berdasarkan
prinsip bagi hasil (mudharabah), pembiayaan berdasarkan
prinsip penyertaan modal (musharakah) (Kasmir, 2004:36).
2) Kegiatan Usaha Bank
Bagi perbankan sebelum melakukan kegiatannya harus
memperoleh izin dari Bank Indonesia. Artinya jika ingin mendirikan
bank serta melakukan kegiatan usaha bank ataupun pembukaan
cabang baru maka diharuskan untuk memenuhi berbagai persyaratan
yang telah ditentukan Bank Indonesia.
Dalam Pasal 6 Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang
Perbankan, dijelaskan bahwa :
Usaha bank umum meliputi :
a) Menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan berupa giro, deposito berjangka, sertifikat deposito, tabungan, dan/atau bentuk lainnya yang dipersamakan dengan itu;
b) Memberikan kredit;
c) Menerbitkan surat pengakuan hutang;
d) Membeli, menjual atau menjamin atas risiko sendiri maupun untuk kepentingan dan atas perintah nasabahnya: