BAB I PENDAHULUAN. merupakan dasar dari terbentuknya suatu hubungan kerja. Perjanjian kerja adalah

14  Download (0)

Teks penuh

(1)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Perjanjian kerja diatara pengusaha/perusahaan dengan pekerja/buruh merupakan dasar dari terbentuknya suatu hubungan kerja. Perjanjian kerja adalah sah apabila memenuhi syarat sahnya perjanjian dan asas-asas hukum perikatan.1 Hal ini sebagaimana telah diatur dalam Pasal 1320 KUHPerdata.2 Pada perjanjian ini, menimbulkan hubungan kerja diantara pengusaha/perusahaan dengan pekerja/buruh yang mana melahirkan hak dan kewajiban diantara keduanya. Hubungan kerja yang dimaksud adalah hubungan antara buruh dan majikan setelah adanya perjanjian kerja, yaitu suatu perjanjian di mana pihak kesatu, si buruh mengikatkan dirinya pada pihak lain, si majikan untuk bekerja dengan mendapatkan upah; dan majikan menyatakan kesanggupan untuk mempekerjakan si buruh dengan membayar upah.3 Hal ini sesuai dengan apa yang telah diamanatkan dalam Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 28 D ayat (2): “Setiap orang berhak untuk bekerja serta mendapat imbalan dan perlakuan yang adil dan layak dalam hubungan kerja”.

Kewajiban diantara pengusaha/perusahaan dengan pekerja/buruh dalam suatu perjanjian umumnya disebut dengan Prestasi. Pada pekerja/buruh berkewajiban untuk melakukan pekerjaan yang dijanjikan menurut

1 Asri Wijayanti, Hukum Ketenagakerjaan Pasca Reformasi, Sinar Grafika, 2014, hal., 41.

2 Pasal 1320 KUHPerdata, syarat sahnya perjanjian : 1) Sepakat; 2) Cakap; 3) Hal tertentu; dan 4)

Sebab yang halal.

3 Zainal Asikin, Dasar-dasar Hukum Perburuhan, Cetakan Kesembilan, Jakarta, RajaGrafindo

(2)

1

kemampuannya serta taat terhadap peraturan mengenai hal melakukan pekerjaannya. Sedangkan kewajiban umum pada pengusaha/perusahaan sebagai akibat dari lahirnya hubungan kerja yaitu membayar upah. Perusahaan berkewajiban membayarkan upah para pekerja/buruh sesuai dengan upah minimum yang telah diatur dalam Undang-Undang Ketenagakerjaan. Penetapan upah minimum adalah perintah undang-undang, yang dimaksudkan agar pekerja/buruh terhindar dari kesewenang-wenangan pengusaha dalam hal pembayaran upah, atau hanya menjadi tujuan bisnis semata.4

Hal ini secara otomatis melahirkan hak bagi pekerja/buruh dalam mendapatkan pembayaran selama ia melakukan pekerjaan. Apabila salah satu pihak tidak dapat memenuhi hak dan kewajiban yang telah disepakati oleh kedua belah pihak dan pada saat jatuh waktu yang telah ditetapkan, maka pihak tersebut dikatakan telah melakukan wanprestasi. Wanprestasi (breach of contract) seringkali dipersamakan dengan terma cidera janji, ingkar janji, atau prestasi buruk yang artinya tidak melakukan kewajiban kontraktualnya sesuai dengan kesepakatan yang dibuatnya.5

Dalam praktik, hubungan kerja dapat berakhir karena suatu hal tertentu sehingga mengakibatkan berakhirnya hak dan kewajiban antara pekerja/buruh dan pengusaha yang disebut dengan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK).6 Terjadinya pemutusan hubungan kerja antara perusahaan dengan pekerja/buruh berimplikasi

4 Setyo Pamungkas, Diskresi dalam Penetapan Upah Minimum oleh Gubernur, Jurnal Refleksi

Hukum Universitas Kristen Satya Wacana, 2016, hal., 62.

5 Mariske Myeke Tampi, Analisis Teori Keadilan dalam Kontrak Kerja Konstruksi dan Aspek

Penyelesaian Sengketanya, Jurnal Refleksi Hukum Universitas Kristen Satya Wacana, 2015, hal.,

68.

(3)

2

pada hak-hak yang lahir setelah itu. Pada teori hukum perburuhan, pemutusan hubungan kerja dapat berakhir karena berbagai sebab sebagaimana diatur dalam peraturan perundang-undangan, sesuai dengan kelompok jenisnya : a). PHK oleh majikan; b). PHK oleh pekerja/buruh; c). PHK demi hukum; dan d). PHK oleh pengadilan.7 Keempat macam pemutusan hubungan kerja tersebut, memiliki konsekuensi yuridis berbeda. Konsekuensi yuridis tersebut berupa prosedur PHK serta hak-hak normatif8 yang diterima oleh pekerja/buruh.9 Dalam pembahasan ini lebih memfokuskan pada PHK oleh perusahaan dikarenakan perusahaan dalam keadaan pailit.

Kepailitan merupakan putusan pengadilan yang mengakibatkan sita umum atas seluruh kekayaan debitor pailit, baik yang telah ada maupun yang akan ada di kemudian hari.10 Pasal 2 ayat (1) UU No. 37 Tahun 2004 menyatakan bahwa:

“Debitor yang mempunyai dua atau lebih Kreditor dan tidak membayar lunas sedikitnya satu utang yang telah jatuh waktu dan dapat ditagih, dinyatakan pailit dengan putusan Pengadilan, baik atas permohonannya sendiri maupun atas permohonan satu atau lebih kreditornya.”

Yang dimaksud dengan Kreditor dalam ayat ini adalah baik Kreditor Konkuren, Kreditor Separatis, maupun Kreditor Preferen.11

7 Adrian Sutedi, Hukum Perburuhan, Cetakan Kesatu, Sinar Grafika, Jakarta, 2009, hal., 68-69. 8 Hak normatif pekerja adalah hak dasar buruh dalam hubungan kerja yang dilindungi dan

dijamin dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku. Klasifikasi hak normatif buruh, yaitu: Hak yang bersifat ekonomis (seperti upah, THR); yang bersifat politis (membentuk serikat buruh, menjadi atau tidak menjadi anggota serikat buruh, mogok); yang bersifat medis (keselamatan dan kesehatan kerja); yang bersifat sosial (cuti kawin, libur resmi, dll).

9 M. Hadi Shubban, Hukum Kepailitan : Prinsip, Norma, dan Praktik di Peradilan, Cetakan Kedua,

Kencana, Jakarta, 2008, hal., 171.

10Ibid.

11 Penjelasan Pasal 2 ayat (1) Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan

(4)

3

Berdasarkan pada tingkatannya, kreditor terbagi menjadi 3 (tiga) golongan, yaitu kreditor preferen, kreditor separatis dan kreditor konkuren.12 :

1. Kreditor Preferen (istimewa atau privilege);

Kreditor yang memiliki hak istimewa atau hak prioritas yang karena undang-undang diberi tingkatan yang lebih tinggi daripada kreditor lainnya semata-mata berdasarkan sifat piutang. Dalam hal ini buruh/pekerja berkedudukan sebagai kreditor preferen umum.

2. Kreditor Separatis (secured creditor);

Yaitu Kreditor pemegang gadai, jaminan fidusia, hak tanggungan, hipotek, atau hak agunan atau kreditor dengan jaminan. Biasanya kreditor separatis pemegang hak jaminan adalah Bank.

3. Kreditor konkuren;

Yaitu kreditor yang tidak temasuk dalam kreditor separatis atau golongan Preferen atau kreditor biasa (tanpa hak jaminan kebendaan atau hak istimewa). Pelunasan piutang-piutang mereka dicukupkan dari sisa penjualan/pelelangan harta pailit sesudah diambil bagian golongan separatis dan preferen. Kedudukan yang setara dan memiliki hak seimbang atas piutang mereka. (Prinsip paritas creditorium).

Merujuk pada Buku Dua XIX KUHPerdata dan Pasal 21 Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2000 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2007 tentang

(5)

4

Perubahan Ketiga Atas Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan, terdapat urutan peringkat penyelesaian tagihan kreditor. Yang mana, sebagai pemegang hak posisi pertama tergolong sebagai hak istimewa khusus yaitu biaya lelang dan biaya kurator, kemudian setelahnya negara mempunyai hak mendahului diantaranya pokok pajak, bunga, denda administrasi, kenaikan dan biaya penagihan13; diikuti kreditor separatis (pemegang hak tanggungan, gadai, fidusia, hipotek dan kebendaan lainnya); barulah kreditor preferen dengan hak istimewa umum yang mana mengambil pelunasan berdasarkan hasil penjualan harta kekayaan debitor pada saat proses penjualan harta pailit yaitu upah para buruh; dan terakhir kedudukan kreditor konkuren.

Secara teoritis, perlindungan pada pekerja/buruh pada saat terjadi pemutusan hubungan kerja oleh pengadilan dikarenakan perusahaan pailit sudah dijamin dalam UU Ketenagakerjaan. Dalam pasal 156 ayat (1) UU No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan memaparkan hak normatif pekerja setelah pemutusan hubungan kerja, yaitu:

“Dalam hal terjadi pemutusan hubungan kerja, pengusaha diwajibkan membayar uang pesangon dan atau uang penghargaan masa kerja dan uang penggantian hak yang seharusnya diterima.”

Hak-hak pekerja/buruh pada saat pemutusan hubungan kerja dikarenakan perusahaan dalam keadaan pailit dibedakan atas berakhirnya masa kerja, yaitu upah yang seharusnya dibayar sebelum PHK yaitu upah dan pesangon yang

13 Pasal 21 ayat (2) Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2000 tentang Ketentuan Umum dan Tata

Cara Perpajakan sebagaimana telah diubah dengan Undnag-Undang Nomor 28 Tahun 2007 tentang Perubahan Ketiga Atas Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan.

(6)

5

diterima setelah terjadinya PHK. Namun, pada prakteknya tidak semua perusahaan setelah dinyatakan pailit dapat memenuhi kewajiban atas hak-hak pekerja/buruh. Hal ini dilihat dari kedudukan upah pekerja/buruh pada saat pemberesan harta pailit. Di antara kreditor pemegang hak istimewa, pekerja/buruh berada di peringkat kelima setelah tagihan pajak, biaya perkara, biaya lelang, dan biaya kurator.14 Hal ini diatur pula pada UU Kepailitan dan PKPU bahwa pada kreditor pemegang hak jaminan dapat mengeksekusi haknya seolah-olah tidak terjadi keapilitan.

Hal tersebut kemudian membuat beberapa pihak mengajukan permohonan

Judicial Riview atas pemberlakuan ketentuan yang terdapat dalam undang-undang a quo. Oleh karena itu, terdapat tiga pengajuan permohonan uji materiil terhadap

Undang-Undang Kepailitan dan Undang-Undang Ketenagakerjaan yang bertujuan untuk mencari kepastian hukum bagi para pekerja/buruh pada saat terjadi kepailitan, yakni Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 02/PUU-VI/2008; Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 18/PUU-VI/2008; dan Putusan Mahkamah Nomor 67/PUU-XI/2013. Permohonan para Pemohon dalam Putusan Nomor 02/PUU-VI/2008 dan Nomor 18/PUU-VI/2008 memiliki dasar yang sama atas pengajuan uji materiil terhadap pemberlakuan Undang-Undang Kepailitan dan PKPU. Dalam kedua permohonan tersebut Para Pemohon menganggap bahwa atas pemberlakuan 4 (empat) pasal yang terdapat dalam Undang-Undang Kepailitan ini sangat merugikan kepentingan para pekerja/buruh dalam mendapatkan hak mereka, pasal-pasal tersebut diantaranya:

14 Susilo Andi Darma, Kedudukan Pekerja/Buruh dalam Perkara Kepailitan Ditinjau dari

Peraturan Perundang-Undangan dan Teori Keadilan, 2013, hal., 132. Diakses pada internet

(7)

6

a. Pasal 29 UU a quo yang menyatakan:

“Suatu tuntutan hukum di pengadilan yang diajukan terhadap debitor sejauh bertujuan untuk memperoleh pemenuhan kewajiban dari harta pailit dan perkaranya sedang berjalan, gugur demi hukum dengan diucapkan putusan pernyataan pailit terhadap debitor”.

b. Pasal 55 ayat (1) UU a quo yang menyatakan:

“Dengan tetap memperhatikan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 56, Pasal 57, dan Pasal 58, setiap Kreditor pemegang gadai, jaminan fidusia, hak tanggungan, hipotek, atau hak agunan atau kebendaan lainnya, dapat mengeksekusi haknya seolah-olah tidak terjadi kepailitan”.

c. Pasal 59 ayat (1) UU a quo yang menyatakan:

“Dengan tetap memperhatikan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam

Pasal 56, Pasal 57, dan Pasal 58, Kreditor pemegang hak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 55 ayat (1) harus melaksanakan haknya tersebut dalam jangka waktu paling lambat 2 (dua) bulan setelah dimulainya keadaan insolvensi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 178 ayat (1)”.

d. Pasal 138 UU a quo yang menyatakan:

“Kreditor yang piutangnya dijamin dengan gadai, jaminan fidusia, hak tanggungan, hipotek, hak agunan atas kebendaan lainnya, atau yang mempunyai hak yang diistimewakan atas suatu benda tertentu dalam harta pailit dan dapat membuktikan bahwa sebagian piutang tersebut kemungkinan tidak akan dapat dilunasi dari hasil penjualan benda yang menjadi agunan, dapat meminta diberikan hak-hak yang dimiliki kreditor konkuren atas bagian piutang tersebut, tanpa mengurangi hak untuk didahulukan atas benda yang menjadi agunan atas piutangnya”.

Para Pemohon menyatakan bahwa dalam pemberlakuan kententuan pasal-pasal tersebut, telah bertentangan dengan apa yang diklausulakan pada Pasal 28 D ayat (1) dan (2) UUD 1945, yaitu:

Pasal 28 D ayat (1), memuat: “Setiap orang berhak atas pengakuan jaminan,

perlindungan dan kepastian hukum yang adil serta perlakuan yang sama dihadapan hukum”.

(8)

7

Pasal 28 D ayat (2), memuat: “Setiap orang berhak untuk bekerja serta mendapat

imbalan dan perlakuan yang adil dan layak dalam hubungan kerja”.

Kemudian permohonan pada Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 67/PUU-XI/2013. Bertujuan untuk mengajukan judicial riview atas konstitusionalitas frasa “yang didahulukan pembayarannya” yang termuat dalam Pasal 95 ayat (4) UU Ketenagakerjaan yang menyatakan bahwa:

“Dalam hal perusahaan dinyatakan pailit atau dilikuidasi berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku, maka upah dan hak-hak lainnya dari pekerja/buruh merupakan utang yang didahulukan pembayarannya”

Menurut Para Pemohon pemberlakuan pada ketentuan Pasal 95 ayat (4) bertentangan dengan ketentuan yang berlaku Pasal 28D ayat (1) dan ayat (2) UUD 1945 karena berpotensi menimbulkan ketidakpastian hukum bagi para pekerja/buruh dalam mendapatkan hak-hak mereka.

Kemudian dengan adanya ketiga putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 2/PUU-VI/2008; Nomor 18/PUU-VI/2008; dan Nomor 67/PUU-XI/2013 dapat menimbulkan pertanyaan sebatas apa peran Mahkamah Konstitusi dalam memberikan perlindungan yang adil atas pemenuhan hak-hak dan upah buruh pada saat terjadinya kepailitan. Dalam permohonan tersebut, dapat dilihat bahwa terdapat benturan ketentuan antara UU Ketenagakerjaan dengan UU Kepailitan dan PKPU, khususnya pada Pasal 95 ayat (4) UU Ketenagakerjaan dan Pasal 55 ayat (1) UU Kepailitan dan PKPU. Dalam ketentuan UU Ketenagakerjaan menyatakan bahwa hak buruh didahulukan ketika terjadi pailit terhadap perusahaan, sementara dalam ketentuan UU Keapilitan dan PKPU menyatakan

(9)

8

bhawa kreditor separatislah yang menjadi kreditor utama pada saat pelunasan harta pailit.

Mengingat bahwa tujuan kepailitan yang disimpulkan dari pengertian keapilitan dalam Memorie van Toelichting yang menyatakan kepailitan sebagai suatu sitaan berdasarkan hukum atas seluruh harta kekayaan debitor guna kepentingan bersama para kreditornya.15 Hal tersebutlah yang mendorong penulis untuk melakukan penelitian lebih dalam terhadap dasar putusan Hakim Mahkamah Konstitusi terkait dengan perlindungan hak-hak buruh setelah perusahaan pailit, ke dalam penulisan skripsi berjudul:

“Perlindungan Upah Pekerja/Buruh Terhadap Perusahaan yang

Dinyatakan Pailit Pasca Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 2/PUU-VI/2008; 18/PUU-2/PUU-VI/2008; dan 67/PUU-XI/2013”.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan yang telah diuraikan diatas, maka dapat dirumuskan permasalahan yang menjadi pokok penelitian adalah: Bagaimana perlindungan hukum terhadap upah pekerja/buruh di dalam peringkat boedel pailit ditinjau pada putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 2/PUU-VI/2008; 18/PUU-VI/2008; dan 67/PUU-XI/2013 ?

15 Dalam buku, Siti Anisah, Perlindungan Kepentingan Kreditor dan Debitor dalam Hukum

Kepailitan di Indonesia, Cetakan Kedua, Yogyakarta, 2008, Total Media, hal., 2. Dikutip dari

Sudargo Gautama, Komentar Atas Peraturan Kepailitan untuk Indonesia (1998) (Bandung: Citra

(10)

9

C. Tujuan Penelitian

Berdasarkan permasalahan yang telah diuraikan di atas, maka dapat dirumuskan berbagai tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut :

Untuk mengetahui bagaimana perlindungan atas upah pekerja/buruh di dalam peringkat boedel pailit dalam bentuk pengutamaan pelunasan terhadap upah pekerja/buruh.

D. Manfaat Penelitian

Penelitian yang berjudul “Perlindungan Hak Pekerja/Buruh Terhadap Perusahaan yang Dinyatakan Pailit ditinjau dari Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 2/PUU-VI/2008; 18/PUU-VI/2008; dan 67/PUU-XI/2013”, diharapkan akan memberikan manfaat teoritis dan manfaat praktis sebagai berikut:

1. Manfaat teoritis :

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat secara teoritis, sekurang-kurangnya dapat berguna sebagai sumbangan pemikiran bagi pengembangan pengetahuan tentang ilmu hukum khususnya dalam hal kepailitan, menyangkut tentang perlindungan hak-hak pekerja/buruh pada saat perusahaan pailit.

2. Manfaat praktis :

Bagi Pekerja/Buruh, untuk mengetahui sebatas apa undang-undang Kepailitan dan Ketenagakerjaan mengatur tentang perlindungan hak-hak pekerja/buruh pada perusahaan pailit.

(11)

10

E. Metode Penelitian

1. Jenis Penelitian

Penelitian ini merupakan Penelitian yuridis normatif, yang mana meletakkan hukum sebagai sebuah bangunan sistem norma, mengenai asas-asas, norma, kaidah dari peraturan perundangan, putusan pengadilan, perjanjian serta doktrin (ajaran).16

2. Pendekatan

a. Pendekatan Undang-Undang

Pendekatan undang-undang dilakukan dengan menelaah semua undang-undang dan regulasi yang bersangkut-paut dengan kasus yang ditangani,17 yaitu :

1) Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan;

2) Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang.

b. Pendekatan Kasus

Pada pendekatan kasus yang dilakukan dalam penelitian ini, dilakukan dengan cara melakukan telaah terhadap kasus-kasus yang berkaitan dengan isu yang dihadapi dan telah menjadi putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap.18 Terhadap putusan

16 Mukti Fajar Nur Dewata dan Yulianto Achmad, Dualisme Penelitian Hukum Normatif dan

Empiris, Cetakan Ketiga, 2015, Yogyakarta, Pustaka Pelajar, hal., 34.

17Peter Mahmud Marzuki, Penelitian Hukum, 2005, Jakarta: Kencana, hal., 93. 18 Ibid, hal. 134.

(12)

11

Mahkamah Konstirusi: a.) 2/PUU-VI/2008 b.) 018/PUU-VI/2008 dan c.) 67/PUU-XI/2013.

3. Bahan Hukum

a. Jenis Bahan Hukum

Berkaitan dengan data yang digunakan dalam penulisan ini, maka bahan hukum yang digunakan meliputi :

1) Bahan Hukum Primer

Menggunakan bahan hukum primer yang terdiri dari perundang-undangan, catatan-catatan resmi atau risalah dalam pembuatan perundang-undangan dan putusan-putusan hakim19, yaitu :

a) Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan;

b) Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang.

c) Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor a) 2/PUU-VI/2008; b) 018/PUU-VI/2008 dan c) 67/PUU-XI/2013.

2) Bahan Hukum Sekunder

Bahan hukum yang terdiri atas buku atau jurnal hukum yang berisi mengenai prinsip-prinsip dasar (asas hukum), pandangan para ahli hukum (doktrin), hasil penelitian hukum, kamus hukum dan

(13)

12

ensiklopedia hukum.20 Dalam penulisan ini menggunakan buku dan jurnal hukum, pandangan para ahli hukum, kamus hukum, serta putusan Mahkamah Konstitusi.

4. Analisis

20 Mukti Fajar Nur Dewata dan Yulianto Achmad, Dualisme Penelitian Hukum Normatif dan

(14)

13

F. Unit Analisis dan Unit Amatan

1. Unit Amatan

Unit amatannya adalah dalam pengujian UU Kepailitan yang diajukan

Judicial Riview oleh perwakilan Federasi Serikat Buruh Indonesia

kepada Mahkamah Konstitusi, terkait dengan kedudukan atau golongan kreditor preferen (pekerja/buruh) pada saat perusahaan pailit yang diatur dalam UU Kepailitan dan PKPU.

2. Unit Analisis

Unit analisis pada penelitian ini adalah tentang perlindungan hah-hak pekerja/buruh baik pada saat hubungan kerja ataupun setelah pemutusan kerja dalam proses kepailitan perusahan dengan menganalisis undang-undang ketenagakerjaan dan undang-undang kepailitan, serta mengintervensi pada putusan Mahkamah Konstitusi atas Judicial Riview UU Kepailitan dan PKPU terkait dengan perlindungan hak-hak pekerja/buruh.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Pindai kode QR dengan aplikasi 1PDF
untuk diunduh sekarang

Instal aplikasi 1PDF di