• Tidak ada hasil yang ditemukan

Jurnal Mabasindo Volume 1 Nomor 1 Edisi Mei 2017

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Jurnal Mabasindo Volume 1 Nomor 1 Edisi Mei 2017"

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)

TEKS VISI MISI SEKOLAH SMA NEGERI SE-KABUPATEN LOMBOK UTARA: KAJIAN LINGUISTIK FUNGSIONAL SISTEMIK DAN RELEVANSINYA TERHADAP PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA DI

SMA

Denda Puspita Lestari

Program Studi Magister Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Mataram

[email protected]

Abstrak

Dalam berbagai kegiatan, bidang, dan disiplin ilmu ,bahasa memegang peran penting. Karena tujuan pemakaian bahasa menentukan tatabahasa. Setiap bidang atau disiplin ilmu memiliki tata bahasa tertentu. Teks visi misi sekolah termasuk kedalam konteks dan dapat dicermati melalui konteks teks sebagai alat untuk mencapai suatu tujuan yang diharapkan dengan pisau bedah transitivitas dalam teori LFS. Berdasarkan persoalan tersebut, permasalahan dalam penelitian ini adalah : (1) Bagaimanakah sistem transitivitas dalam teks visi misi sekolah? dan (2) Bagaimanakah relevansi teks visi misi sekolah dalam kajian LFS terhadap pembelajaran bahasa Indonesia di SMA? Teknik pengumpulan data menggunakan metode dokumentasi, teknik catat dan teknik wawancara. Hasil penelitian (1) peneliti menemukan lima jenis proses yakni proses material, proses relational, proses mental, proses verbal dan proses wujud. Jenis proses yang paling mendominasi dalam teks visi misi tersebut adalah proses material kemudian proses relational, proses mental, proses wujud dan terakhir proses verbal. (2) apabila dilihat dari sisi tata bahasa tradisional yang menyamaratakan setiap fungsi dari masing-masing komponen bahasa yang mutlak dilabeli dengan S-P-O-K. Sedangkan pada teori LFS setiap klausa memiliki proses yang berbeda. Perbedaan semacam itu dipilah lagi

berdasarkan konsep ini dengan penekanan suatu bahasa dalam penggunaan. Dengan cara ini, tentu memudahkan seseorang dalam memahami makna suatu klausa, dan berapa banyak transitivitas yang digunakan seorang penutur.

Kata kunci: Linguistik Fungsional sistemik (LFS), Teks, visimisi, dan pembelajaran

Abstract

In various activities, fields, and disciplines, language plays an important role. Because the purpose of language use determines grammar. Every field or discipline has a certain grammar. The text of the school mission vision is included into the context and can be examined through the context of the text as a means to achieve an expected goal with a transitivity surgical blade in LFS theory. Based on the problem, the problems in this research are: (1) How is the transitivity system in the vision text of school mission? And (2) How is the relevance of the vision text of the school mission in the LFS study of Indonesian language learning in high school? Technique of collecting data using documentation method, technique of record and interview technique. The results of the research (1) researchers found five types of processes namely material processes,

(2)

relational processes, mental processes, verbal processes and the process of being. The most dominant types of process in mission vision text are material process then relational process, mental process, process of being and last of verbal process. (2) when viewed from the side of the traditional grammar that generalizes every function of each language component absolutely labeled with S-P-O-K. Whereas in LFS theory each clause has a different process. Such distinctions are sorted again based on this concept with the emphasis of a language in usage. In this way, it certainly enables a person to understand the meaning of a clause, and how much transitivity a speaker uses.

Keywords: Systematic Functional Linguistics (LFS), Text, mission vision, and learning

I. Pendahuluan

Pendidikan adalah proses hominisasi dan proses humanisasi seseorang dalam kehidupan keluarga dan masyarakat yang berbudaya kini dan masa depan. Proses hominisasi artinya proses pengintegrasian pendidikan ke dalam budaya masyarakat sehingga peserta didik berkembang menjadi individu yang berbudaya sesuai dengan nilai, norma, dan segala bentuk kebudayaan masyarakat. Proses humanisasi artinya pendidikan adalah usaha untuk mengembangkan semua aspek potensial yang ada dalam diri manusia sehingga potensi yang dimiliki peserta didik dapat berkembang secara optimal. Dengan kata lain, selain mendidik dikatakan membudayakan manusia, mendidik juga dikatakan memanusiakan manusia.

Sekolah sebagai salah satu lembaga pendidikan yang diberikan tugas untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional harus menjalankan perannya dengan baik.Dalam menjalankan peran sebagai lembaga pendidikan ini, sekolah harus dikelola dengan baik agar dapat mewujudkan tujuan pendidikan yang telah dirumuskan dengan optimal. Pengelolaan sekolah yang tidak profesional dapat menghambat proses pendidikan yang sedang berlangsung dan dapat menghambat langkah sekolah dalam menjalankan fungsinya sebagai lembaga pendidikan formal.

Agar pengelolaan sekolah tersebut dapat berjalan dengan baik, maka dibutuhkan rencana yang strategis

sebagai suatu upaya untuk mengendalikan organisasi secara efektif dan efisien, sampai kepada implementasi garis terdepan sehingga tujuan dan sasarannya dapat tercapai. Perencanaan strategis merupakan landasan bagi sekolah dalam menjalankan proses pendidikan. Komponen dalam perencanaan strategis paling tidak terdiri dari visi dan misi sekolah.Perumusan terhadap visi dan misi sekolah harus dilakukan oleh pengelola sekolah agar sekolah memiliki arah dan kebijakan yang dapat menunjang tercapainya tujuan yang diharapkan.

Untuk mencapai tujuan itu, dalam konteks desentralisasi manajemen pendidikan, sinergi sumber daya antara pemerintah, sekolah, dan masyarakat adalah sesuatu yang sangat penting.Sinergi yang dimaksud adalah penyatuan semua potensi yang dimiliki oleh pemerintah, sekolah, dan masyarakat menjadi satu bentuk visi dan misi yang mendukung tercapainya tujuan pendidikan. Sekolah dengan demikian harus mampu menterjemahkan kebijakan pemerintah dibidang pendidikan dan pada saat yang sama sekolah dituntut pula untuk mampu menyesuaikan diri dan mengakomodir aspirasi, harapan, ide-ide, dan kondisi masyarakat lokal tempat sekolah berada.

(3)

Visi adalah model masa depan organisasi yang menjadi komitmen dan milik bersama seluruh anggota organisasi. Rumusan visi merupakan kristalisasi dari rumusan tugas satuan organisasi. Visi juga diartikan sebagai cara pandang jauh ke depan atau gambaran (dream) yang menantang (ideal ) tentang keadaan masa depan ke mana dan bagaimana organisasi diarahkan agar dapat secara konsisten dan tetap eksis, antisipatif, inovatif serta berisi cita-cita dan citra yang ingin diwujudkan.

Misi merupakan aspirasi yang akan dijadikan elemen fundamental dalam pandangan organisasi dengan alasan yang jelas dan konsisten dengan nilai-nilai organisasi yang telah disepakati secara bersama. Pernyataan misi merupakan sebuah kompas yang membantu untuk menemukan arah dan menunjukkan jalan yang tepat dalam menghasilkan lulusan yang berkualitas. Tujuan dari pernyataan misi adalah mengkomunikasikan kepada stakeholder, di dalam ataupun luar lembaga pendidikan sebagai organisasi, tentang alasan pendirian lembaga pendidikan dan ke arah mana lembaga pendidikan akan menuju. Oleh karena itu, rangkaian kalimat dalam misi sebaiknya dinyatakan dalam satu bahasa dan komitmen yang dapat dimengerti dan dirasakan relevansinya oleh semua pihak yang terkait.

Sekolah yang baik harus memiliki visi misi yang kuat dan sesuai dengan kondisi lingkungan tempat sekolah itu berada. Di dalam pembuatan teks visi misi tersebut tentunya harus disesuaikan dengan apa yang menjadi suatu tujuan dan pelaksanaan yang akan dilakukan, sehingga landasan utamanya yang diharapkan sekolah mampu terwujud. Selain itu, visi misi harus dirembukkan dengan melibatkan semua dewan guru serta pihak-pihak penting yang terkait

guna mendapatkan hasil yang lebih optimal.

Visi misi termasuk teks karena teks dapat berupa satu naskah (buku), paragraf, klausa kompleks, klausa, frase, grup, atau bunyi.Oleh sebab itu, visi misi termasuk teks yang berupa klausa. Artinya, teks merupakan suatu proses sosial yang berorientasi pada suatu tujuan sosial. Tujuan sosial yang hendak dicapai memiliki ranah-ranah pemunculan yang disebut konteks situasi. Sementara itu, proses sosial akan berlangsung jika terdapat sarana komunikasi yang disebut bahasa.

Kata teks dalam visi misi sekolah SMA Negeri se-Kabupaten Lombok Utara tidak bisa terlepas dari dinamika sosial yang terjadi di sosiokultural masyarakat Indonesia sebagai pewaris nilai-nilai sosial budaya masyarakat yang disesuaikan dengan kearifan budaya lokal.Teks yang menggunakan bahasa sebagai komunikasi lisan dan tulisan sebagai sumber esensial tidak bisa terpisahkan dari konteks komunikasi yang terjadi dalam visi misi sekolah SMA Negeri se-Kabupaten Lombok Utara.

Teks dalam perspektif Linguistik Fungsional Sistemik (untuk seterusnya disingkat LFS) merupakan produk konteks yang terdiri atas konteks linguistik dan konteks sosial.Makna teks ditentukan oleh konteks dan konteks menentukan teks. Dengan kalimat lain, makna teks tergantung pada konteks. Analisis yang relevan dalam kajian LFS adalah analisis fungsional.Dengan kajian ini dapat ditunjukkan adalah makna suatu klausa tergantung pada konteksnya. Dengan kalimat lain, satu unit linguistik atau teks dapat menyimpan lebih dari satu arti jika konteks unit linguistik itu dirujuk. Satu teks dapat menyampaikan makna paparan pertukaran dan pengorganisasian.

(4)

Kaitannya dengan penjelasan mengenai teks di atas teks visi misi sekolah yang dikaji dalam tulisan ini lebih ditekankan kajiannya pada masalah transitivitas dalam penganalisisan bahasa.Dalam LFS dikenal istilah transitivitas.Jika dibicarakan dalam nuansa kebahasaan, transitivitas dapat dilihat dari berbagai sudut pandang.Ketransitivan suatu klausa dapat diukur jika dilihat dari sudut semantik dan gramatikalnya. Dalam kaitan ini kata kerja yang berperan dalam suatu klausa atau kalimat bisa berupa kata kerja transitif dan intransitif. Berbeda dengan istilah transitivitas yang dibahas dalam tulisan ini.Secara umum transitivitas dapat dikatakan menjelaskan bagaimana suatu makna direpresentasikan dalam suatu kalimat.Transitivitas memiliki peran dalam menunjukkan bagaimana manusia menggambarkan pikiran mereka mengenai kenyataan dan bagaimana mereka menggabungkan pengalaman itu dengan kenyataan sekitar mereka.Namun, dalam linguistik, transitivitas berhubungan dengan makna proporsional dan fungsi elemen-elemen semantik.

Berdasarkan hasil observasi awal di lapangan, ditemukan sistem transitivitas yang menguak dimensi semantis yang mengkonstruksikan

leksikogramatikal.Seperti pada teks misi SMA Negeri 1 Pemenang “Melaksanakan kegiatan imtaq setiap pagi”. Jika dipilah, klausa ini dikonstruksikan oleh melaksanakan yang berfungsi sebagai grup verba dan dikategorikan sebagai proses material, kegiatan imtaq yang berkategori sebagai partisipan kedua yang berfungsi sebagai gol dan setiap pagi berfungsi sebagai sirkumstan lokasi:waktu. Melalui proses seperti ini, maka akan diperoleh gambaran sistem transitivitasnya.

Ihwal cuplikan data di atas, penelitian ini menggunakan teori LFS dan

menganalisis teks yang terdapat pada teks visi misi sekolah SMA Negeri se-Kabupaten Lombok Utara dan relevansinya terhadap pembelajaran bahasa Indonesia di SMA. Analisis tentang teks telah banyak dilakukan apalagi dengan menggunakan teori LFS. Akan tetapi, pengkajian terhadap visi misi yang terdapat di sekolah belum ada yang menelitinya termasuk pengkajian terhadap konten bahasa dan relevansi dengan pembelajaran bahasa Indonesia di SMA. Analisis konten bahasa ini sangat perlu dilakukan karena bahasa yang direalisasikan dalam teks merupakan media penyampai suatu tujuan yang akan dicapai dalam sebuah sekolah. Dengan demikian, peneliti tertarik untuk menganalisis teks visi misi sekolah SMA Negeri se-Kabupaten Lombok Utara: Kajian LFS dan relevansinya terhadap pembelajaran bahasa Indonesia di SMA. II. Kerangka Teori

Pengkajian LFS diperkenalkan oleh Halliday (1994).Disebut sistemic pada pengkajian ini karena berakar pada kata sistem yang artinya representasi dari teori terhadap hubungan paradigmatik.LFS yang berupaya ditelaah dengan bahasa sebagai suatu sistem tanda yang dapat dianalisis

berdasarkan struktur bahasa dan

penggunaan bahasa sebagai suatu sistem arti dan sistem lain (sistem bentuk dan ekspresi).Kajian ini didasarkan pada dua konsep dasar yang berbeda dengan aliran linguistik lainnya, yakni; (a) bahasa merupakan fenomena sosial dan

(b) bahasa merupakan teks yang berkonstruktual (saling menentukan dan saling merujuk) dengan konteks sosial.Dengan demikian, kajian bahasa tidak terlepas dari konteks sosial.

Analisis teks sebagai suatu studi terhadap struktur pesan dalam interaksi penutur (lisan atau tulisan) dalam komunikasi.Teks merupakan unsur utama dalam pengkajian LFS.Halliday

(5)

dan Hasan, (1992:13) teks merupakan bahasa yang berfungsi, yang dimaksudkan bahasa yang sedang melaksanakan tugas tertentu dalam konteks situasi.Teks tidak terlepas dari konteks sosial, keduanya saling berhubungan erat.Hubungan teks dan konteks sosial adalah hubungan konstrual, artinya konteks sosial menentukan dan ditentukan oleh teks. Halliday dan Mathiessen (2004:1) teks haruslah diperhatikan pada dua visi utama; 1) fokus pada teks sebagai objek dalam dirinya sendiri dan 2) fokus pada teks sebagai alat untuk mencari tahu tentang sesuatu yang lain. Artinya, teks dapat menyatakan dirinya melalui isi teks tersebut dan setiap teks dapat mendorong seseorang untuk memahami makna di luar teks, yaitu konteks.Namun, perlukiranya usulan Renkema dalam Hidayat (2014) sesuatu hal bisa dikatan teks, tergantung situasi tertentu.Artinya sesuatu hal bisa dikatakan teks apabila disertai dengan konteks situasi.

Konteks dalam bahasa merupakan representasi teks dalam memaknakan suatu realitas.Teks tidak bermakna apapun tanpa konteks.Eggins (1994) berpandangan bahwa teks tidak dapat ditafsirkan sama sekali, kecuali dengan mengacu pada konteks. Lebih lanjut, teks visi misi sekolah dapat dicermati melalui konteks teks sebagai alat untuk mencapai suatu tujuan yang diharapkan.

Halliday (1994:3, 2004:3) memperikan teks secara mendetail dari sudut pandang semiotik ketika suatu sistem tanda masih berwujud tanda-tanda. Kedua, ketika suatu sistem tanda tadi sudah menjadi suatu klausa atas bantuan beberapa tataran lain di bawahnya. Hal ini tercermin ketika suatu individu berinteraksi dengan orang lain dan lingkungannya.

sejalan dengan pandangan Eggins (1994:3) yang mengatakan secara implisit bahwa definisi teks itu sendiri sebagai segala bentuk aktivitas manusia sehari-hari, baik itu ketika berkomunikasi dengan keluarga, mengatur siswa di sekolah, membaca bacaan, dan lain-lain, merupakan suatu bentuk produksi bahasa. Dengan kalimat lain, manusia senantiasa membutuhkan bahasa dan itulah teks.

Kategori-kategori fungsi

komponen yang dimaksud dalam

pernyataan di atas meliputi partisipan, verba, dan sirkumstan.Setiap partisipan dalam konsep ini bisa berwujud Actor,

Goal, Sayer, dan Behavioral, tergantung

dari jenis klausa dan grup verba yang

melekati suatu klausa. Sementara

komponan verba, terdiri dari proses material yang diperincikan atas beberapa kriteria, proses mental, proses behavioral, dan proses relasional yang dikerucutkan lagi atas beberapa jenis. Demikian pun dengan komponen sirkumstan.

Berangkat dari sirkumstan di atas, perbedaan yang signifikan jelas terlihat jika dibandingkan dengan terminologi tradisional yang menyamaratakan setiap fungsi dari masing-masing komponen yang disebut tadi.

Terlepas dari hal di atas, aplikasi konsep tradisional dalam pendidikan yang menyangkut kebahasaan yang tergolong beraliran Chomsky, sedikit memberi ruang untuk dikembangkan dengan LFS Halliday.Di dalam LFS, perian masing-masing komponen tergambar jelas.Konteks sosial dan konteks situasi yang tidak terlihat pada terminologi sebelumnya menjadi terunggah.

Contoh berdasarkan beberapa komponen yang telah disebutkan di atas.

(6)

memberikan* 1 Cerita lama menangis*

adalah* berkata* *opsional

Dalam terminologi tradisional, klausa di atas mutlak dilabeli dengan S-P-O (verba memberikan), S-P-K (verba menangis), S-K (verba adalah), dan S-P-O (verba berkata). Gambaran ini memperlihatkan adanya kesamaan fungsi dari partisipan yang melekati suatu klausa walau dengan verba yang berbeda.Hal inilah yang dianggap tidak tepat oleh terminologi LFS.Sementara dalam LFS, partisipan /cerita lama/ memiliki fungsi yang berbeda dilihat dari kriteria verba yang melekatinya. Perbedaan-perbedaan label fungsi yang dimaksud akan terlihat seperti, Actor- Material Process-Goal (verba memberikan, Senser-Mental Proces-Mood Tag-Location (verba menangis),

Carrier-Relational

Process-Attribut(verba adalah), dan Sayer-Verbal Process-Projected Clause (verba berkata). Dengan analisis yang demikian, maka akan tercermin konteks sosial dan konteks situasi yang menurut Halliday tidak tampak dalam terminologi tradisional.

III. Metode Penelitian

3.1 Pendekatan (Sifat Penelitian) Pendekatan dalam penelitian ini bersifat kualitatif.Dengan tujuan sebagai upaya pendeskripsian fenomena kebahasaan dalam pengembangan teks visi misi sekolah SMA Negeri se-Kabupaten Lombok Utara.

Selanjutnya, pendekatan linguistik yang akan digunakan sebagai upaya menjawab permasalahan dalam penelitian ini, yaitu pendekatan LFS. Pendekatan ini terbukti mampu

menjawab berbagai persoalan kebahasaan terkait dengan pendidikan

kesan yang fantastis

terisak dalam ingatan guru sejati

“aku tak perlu kau sesali”

bahasa termasuk pada teks visi misi yang terdapat di sekolah.

3.2 Populasi dan Sampel 3.2.1 Populasi

Berkaitan dengan penelitian ini, yang menjadi populasinya adalah teks visi dan misi sekolah SMA Negeri se-Kabupaten Lombok Utara yaitu sebanyak 7 sekolah.

3.2.2 Sampel

Teknik penarikan sampel ini digunakan didasarkan atas adanya tujuan tertentu dalam penelitian.Sampel dalam penelitian ini adalah SMA Negeri 1 Pemenang, SMA Negeri 1 Tanjung, SMA Negeri 1 Gangga dan SMA Negeri 1 Bayan.

3.3 Metode dan Teknik Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data yang digunakan peneliti dalam penelitian ini adalah dokumentasi, teknik catat dan teknik wawancara.

3.3.1 Metode Dokumentasi

Metode dokumentasi merupakan metode utama apabila peneliti melakukan pendekatan analisis isi (Arikunto, 2006:159). Metode dokumentasi digunakan penulis untuk menyelidiki benda-benda tertulis yang dalam hal ini berupa teks dengan cara di foto. Pendokumentasian dilakukan khusus pada teks yang terdapat dalam visi misi sekolah SMA Negeri se-Kabupaten Lombok Utara dalam bentuk kata, klausa dan kalimat.

3.3.2 Teknik Catat

Teknik catat digunakan sebagai upaya pencermatan data-data yang

digunakan untuk menjawab permasalahan dalam penelitian ini (Mahsun, 2014).Teknik ini digunakan

(7)

karena sumber data dari penelitian ini adalah sumber data tulis.

3.3.3 Teknik Wawancara

Teknik wawancara digunakan untuk mengumpulkan data dengan jalan Tanya jawab sepihak yang dilakukan secara sistematis dan berlandaskan pada tujuan penelitian (Nazir, 1988).Dari definisi itu, dapat diketahui bahwa Tanya jawab dilakukan secara sistematis, telah terencana, dan mengacu pada tujuan penelitian yang dilakukan. Dalam hal ini, yang akan diwawancarai adalah kepala sekolah, guru senior, siswa dan orang tua wali.

3.4 Teknik Penganalisisan Data

Penganalisisan data sebagai

upaya yang dilakukan dengan jalan

bekerja dengan data, pengorganisasian data, pemilahan data dengan tujuan penulisan ditarik maknanya, dan pada akhirnya menarik sebuah makna dari data. Berdasarkan persfektif LFS, teks dapat direalisasikan oleh sejumlah klausa, tetapi teks tidak selamanya terjadi dari sejumlah klausa. Dalam penganalisisan teks, dapat dilakukan cara mula-mula teks itu diuraikan menjadi klausa. Kemudian sejumlah klausa diuraikan menjadi grup.Grup dianalisis berdasarkan kata.Selanjutnya, kata diperincikan lagi menjadi morfem.Hal ini dapat dilihat pada contoh klausa “Menjalin kerjasama dengan lembaga dan dunia usaha di industri ke pariwisataan”.

(Menjalin kerjasama) (dengan lembaga dan dunia Strata grup usaha) (di industry kepariwisataan)

((Menjalin) (kerjasama)) ((dengan) (lembaga) (dan) Strata kata (dunia) (usaha)) ((di) (industry) (kepariwisataan))

(((Men)jalin (kerjasama))) (((dengan) (lembaga) (dan) Strata morfem (dunia) (usaha))) (((di) (industry) (ke) pariwisata(an)))

Table 1. Contoh penganalisisan satuan unit bahasa Penganalisisan data dalam

penelitian ini dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut.

a) Tahapan pertama dalam kegiatan penganalisisan data adalah pengkodean dan penomoran data. Pengkodean dan penomoran dimaksudkan guna pemberian identitas klausa yang terdapat pada teks. Contohnya, kode [SMAN1 kygn] (28) artinya, data diambil dari “teks visi misi

sekolah SMA Negeri 1 Kayangan klausa nomor 28”.

b) Tahapan selanjutnya, memilih dan memilah klausa pada teks visi misi yang terdapat di sekolah dengan cara menentukan unsur-unsur transitivitas yang terdapat di dalamnya. Setiap klausa dilihat persentase kemunculan unsur transitivitas. Penganalisisan menggunakan tabel analisis. Bentuk tabel penganalisisan yang digunakan sebagai berikut.

Melaksanakan kegiatan imtaq setiap pagi

Pro: Material Part II: Gol Sirk: lokasi: Label

waktu fungsi

Grup verba Grup nomina Grup adverbia Label kelas Table 2. Contoh tabel penganalisisan unsur transitivitas

(8)

c) Penganalisisan relevansi teks visi misi sekolah SMA Negeri se-Kabupaten Lombok Utara.

Penganalisisan relevansi dilakukan dengan cara melihat kesesuaian unsur-unsur transitivitas yang terdapat pada visi misi sekolah.

d) Penarikan simpulan. IV. Pembahasan

Dalam analisis transitivitas pada teks visi misi sekolah SMA Negeri

se-Kabupaten Lombok Utara, peneliti

menemukan lima jenis proses yakni proses

material, proses relational , proses mental,

proses verbal dan proses wujud. Jenis proses yang paling mendominasi dalam teks visi misi tersebut adalah proses

material kemudian proses relational,

proses mental, proses wujud dan terakhir proses verbal. Berikut ini

Melaksanakan kegiatan imtaq Pro: Material Part II: Gol

Grup nomina Grup verba

Kemunculan proses material pada teks visi misi sekolah SMA Negeri se-Kabupaten Lombok Utara, yang ditampilkan di atas dapat dilihat bahwa proses material ini merupakan proses yang menunjukkan aktivitas. Proses yang menafsirkan kegiatan dan mejawab pertanyaan “apa yang dilakukan oleh Actor? Dan apa yang terjadi? Dari identifikasi Data di atas, dapat dilihat partisipan yang muncul yakni berupa actor, goal dan range. Di dalamteks visi misi sekolah, proses material

direpresentasikan oleh verba

melaksanakan, membudayakan,

melakukan pembinaan, terlaksananya, membantu, memberikan, mengamalkan, dapat membaca, dapat berbahasa, dapat

mengoperasikan, mengadakan,

penjelasan beberapa jenis proses dalam teks visi misi sekolah SMA Negeri se-Kabupaten Lombok Utara:

4.1 Proses Material

Pada teks visi misi sekolah SMA Negeri se-Kabupaten Lombok Utara, proses yang paling mendominasi adalah kemunculan proses material.

Peneliti menemukan 44 jenis proses material pada teks visi misi sekolah SMA Negeri se-Kabupaten Lombok Utara, pada Data 2, 3, 4, 9, 18, 29, 30, 35, 38, 49, 50, 51, 56, 57, 59, 60, 61 62, 64, 69, 70, 71, 72, 73, 74, 75, 76, 77, 78, 79, 80, 81, 85, 87, 91, 93, 94, 95, 98, 99, 100, 103, 106 dan 108. Berikut akan ditampilkan beberapa data yang terdiri atas proses material.

Data (2)

“Melaksanakan kegiatan imtaq setiap pagi”

setiap pagi

Sirk: lokasi: Label

waktu fungsi

Grup adverbia Label kelas

membentuk, mengintensifkan,

memperlakukan, diterapkannya, menggunakan, mampu membaca dan menulis, mampu mengakses, mampu menjaga, meningkatkan, menerapkan, membekali, dan berkata-kata. Ada beberapa proses material pada klausa di atas memiliki verba yang sama, seperti verba melaksanakan, membudayakan, membentuk, mengintensifkan, dan

terlaksananya.Untuk mendapatkan gambaran yang jelas bahwa verba berikut menduduki fungsi proses material, beberapa verba tersebut dapat diperhatikan pada contoh berikut ini.

Data (2) Melaksanakan kegiatan imtaq setiap pagi. Kalimat tersebut menggambarkan proses material atau kejadian. Kata “melaksanakan” dalam

(9)

kalimat tersebut menggambarkan suatu proses mengerjakan sesuatu yang belum terjadi, “melaksanakan‟ dapat dikategorikan sebagai proses material. Pengunaan kata melaksanakan dalam teks misi menandakan bahwa sekolah tersebut menyarankan kepada seluruh warga sekolah untuk mengerjakan suatu harapan yang harus terealisasikan.

kegiatan imtaq yang dikenai objek dan mengalami efek dari proses material yakni “melaksanakan”. Actor tidak di tampakkan dalam klausa tersebut.Akan tetapi partisipan pertama yang berfungsi sebagai pelaku dilesapkan. Bentuk partisipan yang dilesapkan itu adalah semua warga yang berada di dalam lingkup sekolah itu. Actor akan melakukan tindakan berupa kegiatan imtaq.

Data (2) juga memberikan penjelasan tentang kapan realisasi kegiatan imtaq terlaksana dengan adanya sirkumstan location. Sirkumstan location yang merujuk pada waktu dan tempat. “setiap pagi”‟ memberikan penjelasan lebih lengkap kapan proses itu terjadi.

Melaksanakan kegiatan imtaq Pro: Material Part II: Gol

Grup nomina Grup verba

4.2 Proses Relational

Proses relational merupakan proses penghubung, penanda, dalam bahasa inggris disebut dengan proses of being yang artinya sesuatu dianggap memiliki attribute dan penanda identitas.

Proses relational pada Data berada pada urutan ke dua tingkat kemunculannya. Proses relational ditemukan pada Data 6, 7, 15, 16, 17, 19, 20, 21, 22, 23, 24, 26, 28, 31, 32, 33, 36, 37, 41, 43, 45, 46, 48, 52, 55, 65, 66, 67, dan 89.

Jadi dari Data (2) dapat disimpulkan bahwa sekolah tersebut ingin melibatkan seluruh pihak bukan hanya kepala sekolah, guru, dan staf tata usaha saja melainkan semua harus ikut berperan dalam kegiatan imtaq. Sekolah tidak ingin proses itu terjadi hanya pada hari-hari tertentu saja melainkan harus dilaksanakan setiap pagi.

Penggunaan kegiatan imtaq sebagai objek dalam proses material menandakan bahwa yang ingin sekolah tekankan bukan hanya bagaimana proses kegiatan imtaq itu terjadi tetapi untuk meningkatkan iman kepada seluruh warga yang berada di sekolah sehingga terciptanya kerukunan antar warga sekolah.

Dengan demikian, Data (2) merupakan refleksi makna ideasional (pengamalan/kejadian) yang mempunyai struktur kalimat actor + Proses + gol + sirkumstan location.

Uraian di atas dapat dilihat secara ringkas pada uraian di bawah.

“Melaksanakan kegiatan imtaq setiap pagi”

setiap pagi

Sirk: lokasi: Label

waktu fungsi

Grup adverbial Label kelas

Proses relationaldapat digolongkan menjadi tiga jenis, yakni proses relasional identifikasi, proses relasional kepemilikan , dan proses relasional atribut. Di dalam teks visi misi sekolah, proses relasional identifikasi diwujudkan oleh verba melanjutkan, meningkatnya, menjadi, mewujudkan, mengoptimalkan, meningkatkan, membentuk, menggalakkan, diterima, memanfaatkan.Kemudian, proses relasional kepemilikan direpresentasikan oleh verba bersikap, memiliki, mempunyai. Proses relasional atribut

(10)

direalisasikan oleh verba bertindak, menjadi, tamat, dan lulus, terpilihnya, menjadi, memajukan, melibatkan, mengadakan pembinaan, menjunjung tinggi. Dalam klausa, verba-verba

tersebut dapat dilihat pada beberapa contoh berikut.

Data (22)

“Menjadi juara lomba dalam bidang akademik maupun non akademik tingkat kabupaten dan provinsi” Menjadi Juara lomba dalam tingkat

bidang akademik kabupaten maupun non dan provinsi akademik

Pro: Part II: Sirk: Lingkungan Sirk: Label

Relasional: Nilai Lokasi: fungsi

Identifikasi Tempat

Grup verba Grup Grup adverbia Grup Label

nomina adverbia kelas

Pada Data (22) di atas dapat dilihat dari penggunaan istilah untuk proses relational disebut dengan implicit Proses. Implicit Proses dalam hal ini disebut dengan proses yang terkandung di dalamnya meskipun tidak disebutkan secara terang-terangan. Pada Data (22) di atas meskipun tidak disebutkan bahwa siswa pernah menjadi pemenang pada lomba tingkat kabupaten dan provinsi,

tetapi di dalamnya terdapat unsur Proses relasional intensive identifying. Hal inilah yang membedakan antara Data bahasa Indonesia dan Data Bahasa

Inggris dengan menggunakan transitivitas dalam menganalisis Proses relational.

Data (19)

“Siswa memiliki disiplin tinggi dalam belajar dan taat beribadah” Siswa memiliki disiplin tinggi dalam belajar

dan taat beribadah

Part I: Pro: Relasional: Part II: Milik Sirk: Label

Pemilik kepemilikan Lingkungan fungsi

Grup Grup verba Grup nomina Grup adevrbia Label

nomina kelas

Data nomor (19) memiliki verba yang berproses relasional kepemilikan.Verba tersebut adalah bentuk memiliki.Verba ini memiliki dua partisipan, yakni partisipan pemilik dan partisipan milik.Partisipan pemilik diwujudkan oleh bentuk siswa, sedangkan partisipan milik berupa disiplin tinggi. Kemudian, , klausa ini memiliki satu sirkumstan. Sirkumstan tersebut adalah sirkumstan lingkungan

yang direalisasikan oleh bentuk dalam belajar dan taat beribadah.

Selanjutnya, verba memiliki berjenis proses relasional kepemilikan. Verba ini dikatakan berproses relasional kepemilikan dan berpartisipan pemilik dan milik, karena proses ini menghubung dua intensitas yang menunjukkan kepunyaan. Artinya, partisipan milik merupakan milik dari partisipan pemilik.

Klausa ini memiliki dua jenis partisipan.Dengan demikian, verba ini

(11)

dapat berkategori verba yang transitif atau taktraksitif.Jika dilihat partisipan yang hadir setelah verba, nomina tersebut dapat dijadikan sebagai subjek dalam bentuk klausa pasif (paradigma struktural).Jadi, verba yang ada di dalam klausa ini dikelompokkan menjadi verba transitif.

[peserta Menjadi manusia

didik] Indonesia

Part I: Pro: Part II: Penyandang Relasional: Atribut

Atribut

Klausa bernomor data (15) ini mempunyai verba menjadi.Verba ini dikategorikan sebagai verba yang berproses relasional.Verba ini diikuti oleh dua partisipan, yakni partisipan penyandang dan partisipan

atribut.Partisipan penyandang diwujudkan oleh bentuk peserta didik, sedangkan partisipan atribut berupa manusia Indonesia.Kemudian, klausa ini memiliki satu sirkumstan.Sirkumstan tersebut adalah sirkumstan lingkungan yang direalisasikan oleh bentuk yang bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, cakap, kreatif, mandiri dan bertanggung jawab.

Terlepas dari tiga komponen utama, klausa ini diawali oleh konjungsi dan.Konjungsi dan merupakan konjungsi intraklausa, yang dapat menduduki posisi di awal klausa dan ditengah klausa.Pada dasarnya, konjungsi ini bukan mengawalai sebuah klausa melainkan ditengah klausa. Itu artinya ada satu klausa tidak dimunculkan dalam pembahasan proses relasional ini.

Data (15)

“[peserta didik] menjadi manusia Indonesia yang bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, cakap, kreatif, mandiri dan bertanggung jawab”

yang bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, cakap, kreatif, mandiri dan bertanggung jawab

Sirk: Lingkungan Label fungsi Label kelas

Berdasarkan penjelasan itu, verba bertindak berjenis proses relasional atribut. Secara semantic, proses ini menghubungkan dua intensitas yang diwakili oleh dua partisipan. Dalam pada itu, partisipan atribut merupakan bagian dari partisipan penyandang.Hubungan itu adalah hubungan yang menjelaskan tentang sifat atau status yang mengacu kepada penyandang.

Selanjutnya, verba bertindak diikuti oleh dua partisipan.Oleh karena itu, verba ini dapat berkategori verba yang transitif atau taktraksitif.Bentuk yang mengikuti verba merupakan nomina.Akan tetapi, nomina itu tidak dapat sebagai subjek dalam bentuk pasif.Nomina itu berfungsi sebagai pelengkap.Dengan demikian, verba menjadi dikategorikan sebagai verba yang taktransitif.

4.3 Proses Mental

Proses mental menunjukkan kegiatan atau aktivitas yang menyangkut kognisi, emosi dan persepsi yang terjadi dalam diri manusia sendiri (Halliday,

(12)

1994:119)Di dalam teks visi misi sekolah proses mental terdapat pada data nomor 5, 8, 10, 11, 14, 25, 34, 39, 40, 42, 44, 47, 53, 54, 58, 68, 82, 83, 84, 86, 88, 90, 97, 101, 102, 104, 105 dan 109.

Di dalam teks visi misi sekolah, proses mental diwujudkan oleh verba

meningkatkan, diharapkan,

mencerdaskan, tercapainya, mencapai, menanamkan pembiasaan, melakukan

kerjasama, membantu, menjalin, merasa, mengembangkan, membekali, dan mengeksplorasi. Beberapa proses mental yang ditemukan dalam Data adalah sebagai berikut.

Data (42)

“Meningkatkan kemampuan siswa dengan menyelenggarakan lomba-lomba (cerdas cermat) mata pelajaran tingkat sekolah”

Meningkat kemampuan dengan tingkat sekolah kan siswa menyelenggarakan

lomba-lomba (cerdas cermat) mata

pelajaran

Pro: Part II: Sirk: Cara Sirk: lokasi: Label

Mental: Fenomenen tempat fungsi

kognisi

Grup Grup Grup adverbial Grup adverbia Label

verba nomina kelas

Klausa pada nomor (42) memiliki satu verba yang berfungsi sebagai proses mental. Verba itu direpresentasikan oleh bentuk meningkatkan. Verba yang berfungsi sebagai proses mental ini diikuti oleh satu partisipan yakni partisipan fenomenen berupa kemampuan siswa.

Verba meningkatkan merupakan proses mental yang berupa keinginan. Verba tersebut merealisasikan pengalaman manusia dengan proses berpikir sehingga siswa mampu sampai pada tahap keinginan yang akan dicapainya. Proses berpikir itu terkait dengan siswa untuk membuktikan

kinerjanya tentang apa yang dirasakannya, diyakininya, dan apa yang diinginkan.

Selanjutnya, verba meningkatkan dikategorikan sebagai verba yang transitif.Verba ini membutuhkan objek. Apabila verba ini tidak disertai objek,

klausa ini tidak akan berterima. Verba ini membutuhkan apa yang harus ditetapkan. Selain itu, salah satu dasar klaim itu adalah objek atau fenomenen dapat menjadi subjek dalam klausa pasif.

Klausa yang didapatkan tentang proses mental pada penelitian ini hanya memiliki satu verba pada setiap proses yang ditemukan dan berfungsi sebagai proses mental. Dapat dilihat pada Data berikut ini.

4.4 Proses Wujud

Proses wujud berkaitan dengan keberadaan kejadian, keadaan tempat, eksistensi diri pelibat. Dalam teks visi misi sekolah, proses wujud dikodekan oleh verba mencetak, keberadaan,

membentuk, tersedianya, dan menumbuhkan.Berikut disajikan dua contoh analisis klausa berproses wujud. Data (12)

“Keberadaan SMA Negeri 1 Bayan ditengah-tengah masyarakat Bayan”

(13)

Keberadaan SMA Negeri 1 Bayan Pro: Wujud Part I: Maujud

Grup verba Grup nomina

Klausa yang bernomor data 12 di atas memiliki verba yang berfungsi sebagai proses wujud. Verba itu

dikodekan oleh bentuk

keberadaan.Verba ini disertai dengan kehadiran fungsi partisipan maujud, yakni SMA Negeri 1 Bayan.Sirkumstan mengisi bagian akhir klausa ini.

Sirkumstan itu adalah sirkumstan lokasi:tempatditengah-tengah masyarakat Bayan.

Verba keberadaan berfungsi

sebagai proses wujud karena memanisfestasikan adanya sebuah intensitas. Intensitas itu adalah bentuk

ditengah-tengah masyarakat Bayan

Sirk: Lokasi: tempat Label fungsi Grup adverbial Label

kelas

yang berfungsi sebagai partisipan maujud, yakni SMA Negeri 1 Bayan.Kejelasan tentang bentuk yang berfungsi sebagai partisipan wujud di dalam teks diuraikan oleh sirkumstan lokasi.Jadi, adanya keberadaan di dalam teks tersebut adalah mengenai adanya lokasi pembangunan sekolah di antara perkampungan masyarakat Bayan.

Data (96)

”Menumbuhkan semangat penghayatan dan pengamalan terhadap ajaran agama masing-masing melalui kegiatan Imtaq” Menumbuh semangat terhadap ajaran melalui kegiatan

kan penghayatan agama masing- Imtaq

dan masing

pengamalan

Pro: Wujud Part I: Sirk: Masalah Sirk: Cara Label

Maujud fungsi

Grup verba Grup nomina Grup adverbia Grup adverbia Label kelas Klausa di atas mempunyai verba

yang berfungsi sebagai proses wujud. Proses itu dikodekan oleh bentuk menumbuhkan. Kemudian, verba ini diikuti oleh nomina yang berfungsi sebagai partisipan maujud. Bentuknya adalah semangat penghayatan dan pengamalan. Selanjutnya, klausa ini memiliki dua sirkumstan. Sirkumstan yang pertama yakni sirkumstan masalah terhadap ajaran agama masing-masing dan yang kedua yaitu sirkumstan cara melalui kegiatan Imtaq.

Secara semantik, verba menumbuhkan dikatakan sebagai proses wujud karena memanisfestasikan

pengalaman tentang keberadaan sebuah intensitas. Intensitas itu adalah semangat penghayatan dan pengamalan. Keberadaan partisipan maujud semangat penghayatan dan pengamalan di dalam teks dijelaskan oleh sirkumstan masalah dan sirkumstan cara. Jadi, keberadaan menumbuhkan di dalam teks untuk meningkatkan akhlak mulia di dalam diri siswa dengan cara melakukan kegiatan imtaq.

4.5 Proses Verbal

Proses verbal merupakan gabungan proses mental dan relasional yang menggunakan tindakan dalam bentuk verbal. Pada teks visi misi

(14)

sekolah, peneliti menemukan hanya satu berproses verbal.

Data yang termasuk dalam proses verbal, Data (63)

yakni pada Data melaporkan. Berikut “[sekolah] melaporkan kepada orang disajikan contoh analisis klausa yang tua siswa secara berkala”

[sekolah] melaporkan orang tua siswa secara berkala Part I: Pro: Verbal Part II: Penerima Sirk: Rentang: Label

Penyampai waktu fungsi

Grup nomina Grup verba Grup nomina Grup adverbia Label kelas Verba klausa di atas berjenis

proses verbal. Verba tersebut

direpresentasikan oleh bentuk melaporkan.Verba itu disertai dua partisipan, yakni partisipan penyampai dan partisipan penerima.Partisipan penyampai diwujudkan oleh bentuk sekolah, sedangkan partisipan penerima direalisasikan oleh bentuk orang tua siswa.Kemudian, klausa ini memiliki satu sirkumstan waktu, yakni secara berkala.

Secara semantic, verba melaporkan merupakan kegiatan yang mengandung informasi.Dengan demikian, ada yang berfungsi sebagai penyampai informasi dan ada yang disampaikan.Dalam pada itu, partisipan penyampai yang menyampaikan informasi dan partisipan penerima adalah yang mendapatkan informasi tersebut.Selain itu, yang dapat menjadi partisipan penyampai adalah manusia.Dalam klausa ini, bentuk sekolah mewakili sifat itu.

Verba melaporkan dikategorikan menjadi verba transitif.Verba itu diikuti oleh frasa nomina.Frasa nomina ini dapat dijadikan subjek bilamana klausa di atas diubah menjadi bentuk pasif.Sebagai misal, orang tua siswa dilaporkan oleh sekolah.Selain itu, verba melaporkan harus diikuti oleh objek, sebab morfem me-kan membentuk bentuk gramatikal yang membutuhkan objek.

Relevansi Hasil Kajian Teks Visi Misi Sekolah terhadap Pembelajaran Bahasa Indonesia di SMA

Sesuai dengan perumusan masalah, penggunaan sistem transitivitas dan konteks sosial akan direlevansikan dengan pembelajaran bahasa Indonesia di SMA. Dalam hal ini akan dikaitkan dengan menggunakan kurikulum 2013. Kurikulum 2013 merupakan kurikulum baru pengganti KTSP. Sebagaimana diketahui bahwa kurikulum 2013 dalam pembelajaran bahasa Indonesia merupakan kurikulum berbasis pembelajaran teks. Berdasarkan hal tersebut, teks visi misi sekolah akan dijadikan sebagai objek penelitian sekaligus dijadikan sebagai bahan materi pembelajaran.

Peneliti mengambil judul teks visi misi sekolah dengan tujuan untuk membentuk karakter peserta didik. Karakter yang kuat akan menjadikan bangsa ini semakin beradab dan menjadi bangsa cerdas. Hal ini sesuai dengan kurikulum 2013, bahwa salah satu kompetensi yang ingin dicapai pada kurikulum 2013 yakni kompetensi lulusan yang berkarakter mulia.

Sesuai dengan KD yang sudah ditentukan, guru akan membagikan sebuah teks visi misi, kemudian meminta peserta didik untuk menganalisis makna teks deskripsi dengan tema “teks isi visi misi sekolah”. Selanjutnya peserta didik dapat mengemukakan pesan nilai konteks sosial menurut teori LFS. Kemudian peserta

(15)

didik dapat membuat teks deskripsi dengan bahasa dan konjungsi yang tepat.

Relevansinya dengan kajian ini, bahwa kajian ini menitikberatkan pada

penggunaan sistem

transitivitas.Transitivitas merupakan salah satu bagian kajian LFS, namun apabila dilihat dari sisi tata bahasa tradisional yang menyamaratakansetiap fungsi dari masing-masing komponen bahasa yang mutlak dilabeli dengan S-P-O-K. Sedangkan pada teori LFS setiap klausa memiliki proses yang berbeda. Dengan teori fungsional dan keberpijakan pada konteks sosial dalam penganalisisan bahasa, tata bahasa yang berdasarkan LFS relevan untuk semua bidang yang terkait dengan pemakaian bahasa.

Dalam penerapan teknik penganalisisan teks visi misi sekolah menggunakan LFS dalam pembelajaran Bahasa Indonesia di tingkat SMA/MA/sederajat, peneliti telah membuat sebuah Rencana Pelaksanaan Pembelajaran atau disingkat RPP model Kurikulum yang terbaru yaitu Kurikulum 2013 yang meliputi: kompetensi inti; kompetensi dasar; indicator pencapaian kompetensi; materi pembelajaran; pendekatan dan metode pembelajaran; media dan alat pembelajaran; sumber belajar; langkah-langkah pembelajaran; serta penilaian proses dan hasil belajar.

Peneliti menggunakan desain RPP model Kurikulum 2013 ini memiliki sebuah tujuan yang relevan dengan tujuan pemerintah saat ini yaitu pendidikan yang berbasis karakter dan budi pekerti.Dalam pembelajaran berbasis teks (genre) ini bertujuan agar para peserta didik atau siswa mampu untuk menanamkan nilai karakter disiplin dalam berkarya dan belajar, nilai ketegasan, nilai keyakinan tinggi untuk meraih cita-cita dan nilai toleransi dalam kehidupan yang tercermin dalam nilai budaya dan ideologi para peserta didik.

V. Penutup

Berdasarkan pembahasan analisis klausa tipe proses di atas, dapat disimpulkan bahwa pada teks visi misi sekolah terdapat lima proses yang digunakan oleh pemakai bahasa yaitu proses material, relasional, mental, wujud dan verbal.

Maknaeksperiensial yang

direalisasikan sistem transitivitas terutama penggunaan proses dalam teks visi misi sekolah didominasi oleh proses material yang berjumlah 44atau 40,4 %.

Dominasi proses material ini menunjukkan bahwa pemakai bahasa di dalam teks visi misi sekolah lebih condong menggunakan kata-kata yang mengisyaratkan adanya tindakan, kegiatan, dan aktivitas yang nyata dilakukan oleh pelibat teks (partisipan).

Peringkat kedua penggunaan proses pada teks visi misi sekolah adalah proses relasional. Penggunaan proses ini berjumlah 29 atau 26,6 %. Hal ini menunjukkan bahwa pemakai bahasa dalam menulis teks visi misi sekolah berusaha menggunakan kata-kata yang bersifat definisi, menjelaskan atau memaparkan.

Peringkat ketiga penggunaan proses pada teks visi misi sekolah adalah proses mental yang berjumlah 28atau 25,7 %.Proses ini ditunjukkan oleh adanya kegiatan atau aktivitas yang menyangkut indera, kognisi, emosi dan persepsi. Hal ini berarti bahwa pencipta teks menggunakan kata-kata yang

menyangkut pikiran, indera dan perasaan untuk pelibat teks.

Peringkat keempat penggunaan proses pada teks visi misi sekolah adalah proses wujud yang berjumlah 7atau 6,4%. Penggunaan proses ini oleh pemakai bahasa atau pencipta teks pada teks visi misi sekolah ini dengan tujuan memaparkan pengalaman tentang keberadaan suatu tempat dan keberadaan kejadian kepada warga sekolah sehingga

(16)

pembaca teks visi misi sekolah memiliki kemudahan dalam memahami keberadaan sesuatu.

Peringkat kelima penggunaan proses pada teks visi misi sekolah adalah proses verbal yang berjumlah 1 atau 0,9 %. Hal ini membuktikan bahwa pemakai bahasa atau penulis teks visi misi sekolah menggunakan kata-kata oral untuk pelibat teks. Hal ini berarti teks visi misi sekolah bukan teks cerita atau novel tetapi teks deskripsiyangberusaha menggambarkan tentang maksud dan tujuan yang ingin di capai oleh sekolah.

Relevansinya dengan pembelajaran Bahasa Indonesia di SMA, bahwa kajian ini menitikberatkan pada

penggunaan sistem

transitivitas.Transitivitas merupakan salah satu bagian kajian LFS, namun apabila dilihat dari sisi tata bahasa tradisional yang menyamaratakansetiap fungsi dari masing-masing komponen bahasa yang mutlak dilabeli dengan S-P-O-K. Sedangkan pada teori LFS setiap klausa memiliki proses yang berbeda. Dengan teori fungsional dan keberpijakan pada konteks sosial dalam penganalisisan bahasa, tata bahasa yang berdasarkan LFS relevan untuk semua bidang yang terkait dengan pemakaian bahasa.

Daftar Pustaka

Arikunto, Suharsimi. 2006. Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktik (edisi revisi). Jakarta: Rineka Cipta.

Azwar, Saifuddin. 2014. Metode Penelitian. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Chaer, Abdul .2002. Pengantar Semantik Bahasa Indonesia.Jakarta: Rineka Cipta.

Djajasudarman, T.F. 2006. Wacana: Pemahaman dan Hubungan Antarunsur. Bandung: Rafika

Aditama.

Duranti, Alessandro. 1997. Linguistic

Anthropology. Amerika:

Cambridge University Press. Eggins, S. 1994. An Instroduction to

Systemic Functional Linguistics. London: Pinter.

Emzir. 2010. Metode Penelitian Kualitatif: Analisis Data. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Emzir.2012. Metodologi Penelitian Kualitatif Analisis data. Jakarta: Rajawali Pers.

Emzir. 2014. Metodologi Penelitian Pendidikan: Kuantitatif & Kualitatif. Jakarta: RajaGrafindo Persada.

Eriyanto. 2001. Analisis Wacana:Pengantar Analisis Teks Media. Yogyakarta: LKiS

Halliday, M.A.K dan Ruqaiya Hasan. (terjemahan). 1985. Language, Context, and text: aspects of language in a sosial-semiotic perspective. London: Oxford University Press.

Halliday, M.A.K dan Ruqaiya Hasan. (terjemahan). 1992. Bahasa, Konteks, dan Teks: Aspek-aspek Bahasa dalam Pandangan Semiotik Sosial. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Halliday, M.A.K. 1994. An Introduction

to Functional Grammer. 2nd.ed.London: Edward Arnold. Halliday, M.A.K. dan Mattheissen,

C.M.I.M. 2004.And An Introduction to Functional Grammer. London: Edward Arnold.

Halliday, M.A.K. dan Mattheissen, C.M.I.M. 2006.Construing Experience Through Meaning: A Language-Based Approuch to Cognition. London dan New York: Continuum.

Leckie-Tarry. 1995. Language and Context: A Functional Linguistic

(17)

Theory Of Register. London: Pascasarjana Universitas Pinter. Sumatera Utara

Mahsun. 2005. Metode Penelitian Schiffrin, Deborah. 2007. Ancangan Bahasa. Jakarta: Raja Grafindo Persada. Kajian Wacana.Yogyakarta: Mahsun. 2014. Metode Penelitian Pustaka Pelajar.

Bahasa: Tahapan Strategi, Sinar, Tengku Silvana. 2012. Teori dan Metode, dan Tekniknya. Jakarta: Analisis Wacana Pendekatan Rajawali Pers. Linguistik Sistemik-Fungsional. Mahsun.2014. Teks Dalam Pembelajaran Medan: Mitra.

Bahasa Indonesia Kurikulum Sobur, Alex. 2012. Analisis Teks Media: 2013. Jakarta: RajaGrafindo Suatu Pengantar untuk Analisis Persada. Wacana, Analisis Semiotik, dan Matthiessen, C.M.I.M, 1995. Analisis Framing. Bandung:

Lexicogrammatical Of Remaja Rosda Karya.

Cartography English System. Suryosubroto. 2014. Manajemen Sydney: Sydney University. Pendidikan Di Sekolah. Jakarta: Martin, J.R. 1992. English Text: System Adi Mahasatya.

and Structure. Amsterdam: Jhon Verhaar.J.W.M.2004. Asas-Asas Benjamins. Linguistik Umum.Yogyakarta: Moleong, Lexy J. 2012. Metodologi Gadjah Mada University Press.

Penelitian Kualitatif (Edisi Yusuf, Suhendra. 1994. Pengantar Ke Revisi). Bandung: Remaja Arah Pendekatan Linguistik dan Rosdakarya Bandung. Sosiolinguitik. Bandung: Mandar Nazir, Muhammad. 1998. Metode Maju.

Penelitian. Jakarta: Ghalia Indonesia.

Nugroho, Riant. 2008. Pendidikan Indonesia: Harapan, Visi, Dan Strategi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Putra, Nusa. 2012. Metode Penelitian Kualitatif Pendidikan.Jakarta: RajaGrafindo Persada.

Rahardi, Kunjana. 2010. Kalimat Baku Untuk Menyusun Karya Tulis Ilmiah.Yogyakarta: Universitas Atma Jaya Yogyakarta.

Ratna, Nyoman Kutha.2012. Metodologi Penelitian: Kajian Budaya dan Ilmu Sosial Humaniora Pada Umumnya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Saragih, Amrin. 2002. Bahasa dalam Konteks Sosial. Medan: FBS Unimed.

Saragih, Amrin. 2006. Bahasa dalam Konteks Sosial. Medan:

(18)

Gambar

Table 1. Contoh penganalisisan satuan unit bahasa  Penganalisisan  data  dalam

Referensi

Dokumen terkait

Pada tahun 2015, kami meluncurkan identitas baru menjadi Indosat Ooredoo sebagai bagian dari transformasi komprehensif kami menjadi perusahaan terkemuka dalam layanan digital,

Penulis yakin dan percaya bahwa karena berkat dan penyertaanNya maka penulis dimampukan untuk dapat menyelesaikan Penulisan Hukum/Skripsi yang disusun dalam rangka memenuhi

Menyusun kubus menyerupai stupa, digunakan untuk , mengenalkan warna mengenalkan jumlah motorik halus konsentrasi Harga Rp.45.000,- Menara Balok Digunakan untuk :

Dana Desa Yang Bersumber Dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara, (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 168, Tambahan Lembaran Negara Republik

Hasil kajian menunjukkan bahawa pelajar masih lemah dalam pembentukan kata terbitan bagi kata kerja yang berbaris dan tidak berbaris, kata kerja ruba`iy

Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh data pH optimum adsorpsi Pb 2+ , waktu kontak dengan adsorpsi tertinggi dan untuk mengetahui isoterm yang menggambarkan

Governance dalam setiap kegiatan usaha Bank pada seluruh tingkatan atau jenjang organisasi. 5) Direksi dalam penyelenggaraan tugas yang bersifat strategis

Geometrics Shape, terlihat pada layout perancangan ulang BPJS Kesehatan Cabang Bandung, Pada bentuk furniture, ada perbedaan bentuk sesuai konsep visual The