• Tidak ada hasil yang ditemukan

Setitik Harapan dari Ajamu

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Setitik Harapan dari Ajamu"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

Setitik Harapan dari Ajamu

Setitik Harapan dari Ajamu: Pelajaran tentang

Sukses Pemanfaataan “Gambut Dalam” untuk Sawit

Oleh:

Suwardi, Gunawan Djajakirana, Darmawan dan Basuki Sumawinata

(2)

Pro kontra pemanfaatan lahan gambut untuk pertanian sampai saat ini masih menjadi perdebatan. Ada kelompok yang ingin lahan gambut tetap dipertahankan sebagai hutan dan kelompok lainnya ingin sebagian lahan gambut dapat digunakan untuk pertanian. Kelompok pro gambut tetap dipertahankan sebagai hutan

mempunyai argumentasi bahwa lahan gambut kita merupakan gambut tropika yang bersifat unik, memiliki cadangan karbon yang besar, dan mempunyai biodiversitas sangat tinggi sehingga keberadaannya perlu dipertahankan. Pengembangan lahan gambut untuk usaha pertanian akan merusak ekologi gambut.

Banyak contoh lahan gambut yang dikembangkan untuk pertanian mengalami kegagalan. Salah satunya adalah pengembangan lahan gambut untuk daerah

transmigrasi di Sumatera Selatan dan Jambi. Pembukaan lahan gambut pada tahun 70-an untuk transmigrasi dilakukan secara besar-besaran untuk pengembangan padi sawah. Kegiatan itu mendapat bantuan Bank Dunia (World Bank) sehingga dalam pelaksanaannya diawasi dan diarahkan oleh para konsultan asing yang

(3)

sebagian besar berasal dari negara-negara Eropa. Mereka umumnya para ahli ( expert) gambut di negaranya yang beriklim subtropika. Mereka mungkin belum membayangkan bahwa ternyata gambut tropika sangat berbeda dengan gambut subtropika. Mereka memperlakukan gambut tropika sebagaimana yang mereka lakukan di negaranya. Akibatnya, sebagian besar lahan gambut yang dibuka untuk pertanian gagal. Lahan gambut berubah menjadi lahan sulfat masam yang sulit untuk diusahakan untuk pertanian.

Contoh lain yang paling monumental adalah kegagalan proyek pembukaan lahan gambut satu juta hektar di Kalimantan Tengah. Kegagalan proyek tersebut lebih banyak disebabkan karena kesalahan dalam perencanaan tata air. Parit-parit dibuat sangat besar, sangat dalam, dan saling berhubungan dimana sistem transportasi, drainase dan suplai air berada dalam satu sistem yang dikenal dengan nama sistem pengairan pasang surut. Akan tetapi sistem ini tidak bekerja sempurna pada lahan gambut yang cukup tinggi sehingga air pasang tidak dapat menggenangi

permukaan lahan gambut. Sebagai akibatnya, sistem yang berkerja hanyalah sistem drainase, sedangkan 2 subsistem lainnya menjadi terhambat.  Akibat dari sistem pengairan pasang surut, terjadi kekeringan gambut pada musim kemarau yang memicu terjadinya kebakaran lahan. Kekeringan panjang yang terjadi pada tahun 1997 menyebabkan terjadinya kebakaran lahan gambut sehingga memicu terjadinya emisi karbon yang besar dan penurunan permukaan gambut atau dikenal dengan subsidensi.

 

Lahan gambut terbengkelai timbul permasalahan baru

Kegagalan pembukaan lahan gambut di Sumatera dan Kalimantan menyebabkan banyak permasalahan seperti terbengkelainya lahan dan terjadinya kemiskinan. Lahan yang telah dibuka diterlantarkan dan bahkan ditinggalkan oleh para petani transmigran yang didatangkan dari pulau Jawa. Banyak lahan menjadi terbengkelai dan ditumbuhi semak belukar. Pada musim kemarau semak belukar menjadi kering dan mudah sekali terbakar dan menjalar ke lahan lainnya. Asap tebal membubung ke langit mengganggu jarak pandang dan pernafasan.  Lalu lintas darat, laut, dan udara terganggu karena asap yang tebal dan bahkan banyak penerbangan yang membatalkan jadwal penerbangan dari dan ke bandara yang tertutup asap tebal. Aktivitas sehari-hari masyarakat desa dan kota juga terganggu dan bahkan asap yang terbawa angin mengganggu negara tetangga Singapura dan Malaysia.

(4)

Kegagalan pengembangan lahan gambut juga mengakibatkan kemiskinan ratusan ribu transmigran yang telah dipindahkan dari pulau Jawa. Sebagian petani yang masih bertahan menanami lahannya kondisinya sangat memprihatinkan karena hasil panen yang diperoleh tidak mencukupi untuk kehidupan sehari-hari. Banyak petani yang meninggalkan lahannya dan pergi ke kota terdekat untuk bekerja serabutan. Tidak  sedikit dari mereka mencari lahan lahan baru di hutan sehingga mereka dikenal sebagai perambah hutan. Kedatangan para petani ke kota-kota terdekat  menyebabkan tambahan permasalahan bagi kota. Ada juga petani yang merambah hutan di sekitar mereka tinggal. Kegiatan ini menyebabkan hutan-hutan di sekitar daerah transmigrasi gambut menjadi rusak.

Berita mengenai kerusakan lahan gambut Indonesia menyebar ke seluruh penjuru dunia. Para peneliti dari berbagai belahan dunia berdatangan untuk melihat dan meneliti berbagai akibat dari kerusakan lahan gambut. Kekeringan berkepanjangan yang memicu kebakaran gambut menyebabkan emisi CO2 melonjak. Kejadian itu digunakan sebagai dasar untuk menghitung emisi karbon dari lahan gambut. Maka muncullah tuduhan indonesia sebagai negara penemisi gas rumah kaca no 3

terbesar di dunia. Walaupun untuk hal ini tidak ada catatan resmi yang diakui  oleh dunia International.

 

Timbul kebijakan moratorium

Terjadinya kebakaran hutan dan pembakaran lahan untuk pembukaan lahan mendorong Indonesia untuk melakukan sesuatu agar emisi gas rumah kaca dapat dikurangi, oleh karenanya pemerintah Indonesia menunda sementara (moratorium) pemberian izin  baru selama 2 tahun untuk tidak mengkonversi lahan gambut dan hutan alami untuk memperbaiki tata kelola kehutanan dan lahan gambut agar emisi GRK dapat dikurangi. Tekanan masyarakat internasional tentang lahan gambut yang dikaitkan dengan masalah emisi CO2, meskipun sebenarnya sedikit banyak berbau persaingan bisnis. Lahan gambut ternyata sangat potensial dikembangkan dan cukup mengkhawatirkan industri pertanian mereka.

. Hal ini dikarenakan produktivitas tanaman yang berkembang di daerah tropis dimana matahari berlimpah sepanjang tahun sangat tinggi sebagai contoh: Satu

(5)

hektar kebun sawit dapat menghasilkan 5 ton minyak sawit, sementara di negara beriklim empat musim produktivitas minyak nabati per hektar pertahun sangat rendah. Demikian pula untuk HTI yang hasilnya digunakan untuk industri pulp dan kertas. HTI di lahan gambut dengan tanaman Acacia crassicarpa dapat

menghasilkan kayu sebanyak 80-100 ton/ha dalam waktu 5 tahun. Untuk

menghasilkan kayu dengan jumlah yang sama di daerah sub tropika memerlukan waktu 15-25 tahun. Negara-negara beriklim empat musim sebagai penghasil kertas tentu sangat khawatir menghadapi persaingan produk kertas Indonesia.

Lantas apakah dari kegagalan dan keberhasilan pengembangan gambut seperti yang diuraikan di atas, Apakah kita membiarkan sisa lahan gambut yang belum dikembangkan untuk dikonservasi atau sebagian kita kembangkan untuk sawit dan HTI dengan teknologi yang tepat? Kita perlu telusuri sebab-sebab kegagalan dan kiat-kiat mengembangkan gambut agar berhasil. Kita tidak boleh salah yang kedua kali dalam mengambil keputusan.

 

Potensi gambut untuk pertanian

Pemanfaatan gambut di Indonesia untuk pertanian sebenarnya sudah dilakukan sejak awal tahun 1900-an. Para petani Bugis dan Banjar telah berhasil

mengembangkan lahan gambut untuk tanaman pangan seperti padi dan jagung serta untuk tanaman perkebunan seperti karet dan kelapa. Mereka membuka lahan di areal gambut dangkal di pingir-pinggir sungai yang kena pengaruh pasang-surut air laut atau air sungai. Parit-parit dangkal dan sempit dibuat secara manual untuk mengatur irigasi dan drainase. Pengalaman itu telah diturunkan kepada anak cucu mereka dan telah menjadi pengetahuan yang bersifat kearifan lokal atau “local wisdom.” Hasilnya sangat bagus, lahan gambut berubah menjadi lahan sawah dan perkebunan kelapa sebagai sumber penghidupan mereka.

Pengalaman pembukaan lahan gambut oleh orang Banjar dan Bugis menjadi

inspirasi bagi pengembangan gambut yang lebih besar seperti di Tembilahan, Pulau Kijang, Kuala Enok, Kuala Tungkal dan daerah-daerah lain di Sumatera.

Prinsip-prinsip kearifan lokal dijadikan dasar untuk pengembangan gambut.

(6)

dilakukan di lahan gambut sekitar Pontianak, Kalimantan Barat. Gambut dalam di Riau berhasil dikembangkan untuk hutan tanaman industri dengan tanaman Acacia crassicarpa. Di beberapa tempat, lahan gambut juga berhasil dikembangkan untuk tanaman kelapa sawit.

Walaupun pengalaman keberhasilan pembukaan perkebunan pada skala petani sudah terbukti berhasil, dimana menurut sejarah tercatat mereka telah

mengusahakan lahan tersebut sejak awal abad 19, akan tetapi umumnya mereka dalam skala yang relatif kecil. Mereka mengusahakan tanaman pangan pada gambut tipis dengan sistem pasang surut, selanjutnya mereka mengembangkan tanaman perkebunan seperti kelapa pada gambut tebal yang umumnya lahan tersebut tidak terjangkau oleh air pasang dari sungai. Salah satu pelajaran yang menarik adalah keberhasilan pemanfaatan lahan “gambut dalam” skala besar yang telah dikembangkan untuk kelapa sawit hampir  30 tahun atau memasuki  siklus ke-2  di kebun  Ajamu II, Sumatera Utara.

 

Pengalaman Ajamu

Kebun Sawit Ajamu II dikelola oleh PTPN IV terletak di Kabupaten Labuhan Batu, Sumatera Utara. Sebagian kebun sawit dikembangkan sejak 1988 di lahan gambut. Berbeda dengan pembukaan lahan gambut yang dikembangkan dalam skala besar pada umumnya dimana sistem tata air yang dikembangkan untuk memenuhi

kebutuhan sistem drainase, sistem transportasi dan suplai air. Pada sistem tata air di Ajamu II ditujukan benar-benar untuk mengatur ketinggian muka air tanah

seefektif mungkin. Saluran drainase sama sekali tidak ditujukan untuk transportasi. Parit-parit dibuat sempit dan tidak terlalu dalam yang difungsikan untuk drainase dan irigasi dan dibeberapa tempat dibuat tanggul untuk menpertahankan

ketinggian muka air tanah. Untuk tujuan pengangkutan sarana dan hasil produksi, PTPN IV mengembangkan rel untuk lori pengangkut sarana produksi dan hasil sawit. Dengan pengelolaan kebun sawit di gambut seperti itu, kebun sawit Ajamu II yang saat ini pada siklus kedua masih berproduksi sangat baik. Pengamatan kedalaman gambut melalui pemboran menunjukkan kedalaman gambut masih sekitar 4 meter. Dari informasi di atas, “gambut dalam” untuk sawit masih dapat bertahan sampai 30 tahun.

(7)

Dari data pengamatan kami, muka air tanah pada bulan Maret berada pada kedalaman 50-60 cm, sifat gambut pada lapisan atas permukaan air (0-60 cm) sudah sangat berbeda dengan lapisan di bawahnya. Gambut sudah menjadi lebih halus, dan tidak lagi ditemukan potongan-potongan kayu lapuk yang biasa dijumpai pada lapisan di bawahnya yang selalu tergenang. Hasil ini menunjukkan bahwa proses pematangan tanah gambut telah berlangsung. Apabila butiran gambut semakin halus maka pori-pori gambut pun semakin halus sehingga air lebih mudah naik ke permukaan tanah karena gaya kapiler. Hal inilah yang menyebabkan lahan tersebut semakin sesuai untuk tanaman sawit. Oleh karena tanah semakin padat, tanaman akan mampu berdiri dengan tegak tidak miring seperti tanaman pada siklus pertama. Untuk hal ini penulis yakin karena ternyata baru saja kami mendapat informasi dari rekan kami di perusahaan swasta yang telah berhasil mengusahakan tanaman sawit skala besar selama kira-kira 80 tahun atau telah masuk 3 siklus tanaman sawit. Keberhasilan ini akan menginspirasi kita bahwa gambut dapat dikembangkan untuk pertanian jika dilakukan dengan cara yang benar.

 

Penutup

Dari uraian di atas kita dapat mengambil pelajaran apakah kita akan

mempertahankan seluruh hutan gambut atau mengkonversi sebagiannya untuk usaha pertanian yang lebih produktif demi untuk kemakmuran rakyat. Jika masih ada alternatif lahan mineral yang lebih subur dari lahan gambut, maka

mempertahankan seluruh lahan gambut merupakan tindakan yang bijaksana. Namun kenyataannya lahan mineral untuk pengembangan pertanian sangat terbatas sementara itu pertumbuhan penduduk Indonesia masih sangat tinggi.  Untuk memberi makan seluruh penduduk masih memerlukan tambahan lahan untuk usaha pertanian. Maka memanfaatkan lahan gambut dengan cara seperti yang dilakukan di Ajamu II merupakan pilihan yang lebih bijaksana.

Kegagalan pengembangan gambut pada dasarnya disebabkan oleh kesalahan teknik pengembangan seperti yang dilakukan pada pengembangan lahan gambut untuk transmigrasi. Kesalahan seperti itu tidak boleh kita ulangi lagi. Sebaliknya cara-cara yang dilakukan oleh suku Bugis dan Banjar serta cara Ajamu dapat dijadikan patokan, pada akhirnya walaupun pengetahuan lokal telah memberi kita pelajran berharga, akan tetapi kita harus mengambil intisarinya dari teknologi lokal

(8)

tersebut bukan melakukan hanya sekedar copy paste teknologi lokal ke lahan gambut satu ke lahan gambut lainnya.

Referensi

Dokumen terkait

Maka hasil penelitian ini menunjukan bahwa orang, proses, dan bukti fisik secara parsial berpengaruh dan signifikan terhadap kepuasan pelanggan pada PT.. Riau Media Televisi

U Splitsko-dalmatinskoj županije pozitivan utjecaj na broj noćenja turista imaju varijable rast bruto domaćeg proizvoda emitivnih zemalja (BDPPC it ) i finalna potrošnja

Berdasarkan hasil penelitian dan analisis data yang telah dilakukan, maka dapat disimpulkan: Terdapat pengaruh secara parsial pengalaman kerja terhadap kinerja

Setelah dilakukan pengkajian mendalam melalui proses analisis di atas, maka diyakini bahwa hipotesis penelitian yang menyatakan tunjangan profesi dan motivasi

Teknik Selektif Breeding pada Calon Induk Ikan Nila Pandu dan Kunti (Oreochromis niloticus) di Satuan Kerja Perbenihan dan Budidaya Ikan Air Tawar Janti,

(4) Untuk mengetahui ada tidaknya hubungan yang signifikan antara kemampuan penalaran formal siswa dalam proses pembelajaran fisika dengan motivasi belajar fisika

19/Permentan/OT.140/3/2011 tentang Pedoman Perkebunan Kelapa Sawit Berkelanjutan Indonesia ( Indonesian Sustainable Palm Oil – ISPO) yang mewajibkan sertifikasi ISPO

Dari gambaran terhadap waris dan hibah sendiri semuanya sama-sama membicarakan tentang pengalihan harta, dimana yang satunya dilakukan saat masih hidup (hibah) dan