k a a n
D
ig
it
a
l
P roje
ct
MENJADI MUSLIM
DI NEGARA
SEKULER
P
er
p us
t a
D
e
m
oc
ra c
y
Masalah tempat agama, termasuk Islam dan hukum-hukumnya, dalam sistem politik demokrasi modern terus ramai diperbincangkan para ahli dan agamawan. Dalam buku ini, Abdullahi Ahmed An-Na`im menawarkan satu pandangan baru mengenai tempat hukum Islam (Syari`ah) di dalam satu negara demokratis. Dia menolak hukum Islam dijadikan hukum nasional, dengan argumen-argumen yang diambilnya dari ajaran-ajaran dan sejarah Islam sendiri dan dari wawasan tentang sekularisme
yang netral-agama, yang diturunkannya dari khazanah filsafat dan ilmu-ilmu sosial kontemporer. Menurutnya, kaum Muslim justru hanya dapat menjadi Muslim yang seutuhnya di bawah sekularisme modern yang netral-agama.
ABSTRAK
Negotiating the Future of Shari`a
(Cambridge, MA and London, England: Harvard University Press, 2008), 336 halaman.
k a a n
D
ig
it
a
l
P roje
ct
B
eberapa tahun belakangan ini,Abdullahi Ahmed An-Na`im, penulis buku ini, guru besar hukum di Universitas Emory, Amerika Serikat, sibuk berkeliling dunia Islam. Dia sedang mengampanyekan proyeknya yang ambisius, yang
disebutnya “Menegosiasikan Masa Depan Syari`ah,” yang berkisar pada upaya memperoleh rumusan yang masuk akal mengenai hubungan antara Syari`ah dan politik
demokratis di negara modern. Dalam rangka itu dia juga sempat mampir ke Indonesia, untuk menawarkan gagasannya dan berdiskusi dengan kaum Muslim di sini. Sebelum dibukukan, bahan-bahan proyek ini sudah ditayangkan di website-nya, dalam beragam bahasa.
Mengingat rekam jejak kesarjanaan dan aktivismenya,
pandangan-pandangan An-Na`im penting didengar dan diperbincangkan. Dalam bukunya yang sebelumnya, Toward an Islamic Reformation (1990), dia sudah menyerukan
P
er
p us
t a
D
e
m
oc
ra c
y
reformasi Islam, dengan menegaskan kompatibilitas Syari`ah dengan
prinsip-prinsip universal hak asasi manusia HAM). Inilah yang mendorongnya bergiat sebagai wakil Human Rights Watch di Afrika, satu lembaga advokasi HAM yang terkenal. Dia didorong pengalaman traumatis. Mahmud Muhammad
Thaha, guru yang amat dihormatinya, digantung rezim pemerintah Islam Sudan karena dianggap mengajarkan paham Islam yang salah. Sejak itu, dia menjadi pelarian politik di AS. Dalam buku ini, An-Na`im
menyuarakan kembali pandangan lamanya tentang mudarat yang pasti diderita kaum Muslim jika negara diberi hak mengelola Syari`ah. Tapi argumen-argumennya dalam buku lebih kaya dan matang dibanding sebelumnya. Katanya, Syari`ah
terbuka kepada beragam penafsiran, padahal penerapannya oleh negara mengharuskan penunggalan
penafsirannya. Formalisasi Syari`ah juga berarti pemaksaannya. Ini
k a a n
D
ig
it
a
l
P roje
ct
bertentangan dengan ajaran Islam yang menyerukan umatnya untuk menjalankan Syari`ah secara sukarela. Bukankah nanti, di akhirat, kita
ditimbang menurut apa yang kita sendiri lakukan?
Maka tesis dan seruan utama An-Na`im jelas: untuk kebaikan mereka sendiri, masyarakat-masyarakat Muslim perlu membangun sebuah negara sekuler yang “bersikap netral dalam masalah ajaran-ajaran agama” dan “tidak mengklaim atau berpretensi untuk memaksakan penerapan Syari`ah – hukum agama Islam.” Dia mendukung pandangannya ini dengan mengajukan sejumlah argumen yang diyakininya sebagai “argumen-argumen Islam.” Selain itu,
pandangannya juga ditopang oleh berbagai perkembangan mutakhir dalam disiplin filsafat politik, sosiologi dan ilmu politik.
Argumen keislamannya yang paling penting adalah bahwa seorang
P
er
p us
t a
D
e
m
oc
ra c
y
Muslim hanya dapat “menjadi Muslim berdasarkan keyakinan dan pilihannya sendiri.” Karena itu, ketika kekuatan memaksa negara mencoba memaksakan Syari`ah, hal itu pada dasarnya justru memasung kehidupan keagamaan seorang Muslim. Terkait dengan ini,
An-Na`im juga menyatakan bahwa hanya sebuah negara sekuler yang dapat menjamin dan menjadi penengah bagi kehidupan plural dalam masyarakat yang majemuk. Negara sekuler pula yang dapat menjamin “perdamaian di dalam dan di antara komunitas-komunitas keagamaan.”
Argumennya yang lain berasal dari wawasan ilmu politik, yakni bahwa lembaga-lembaga negara itu dikontrol oleh pejabat-pejabat negara. Ketika mereka mengadopsi hukum Islam atau memilih satu di antara beberapa tafsir atas hukum Islam tertentu, maka sebenarnya mereka sedang melakukan itu sebagai aktor-aktor negara. Karenanya, “apa pun yang dilaksanakan negara atas
k a a n
D
ig
it
a
l
P roje
ct
nama Syari`ah, semuanya itu akan dengan sendirinya bersifat sekuler.” An-Na`im juga memperkuat
argumennya dengan tinjauan sejarah. Menurutnya, pada masa Islam pra-kolonial, termasuk di masa kekhalifahan yang awal, agama dan negara juga tidak sepenuhnya bercampur. Di sini berlangsung pemisahan antara kewenangan para ulama dan kewenangan para pemimpin politik. Ada saat-saat di mana para khalifah mencoba mengontrol ulama dan ada saat-saat di mana para ulama memberontak terhadap ketetapan pemimpin politik. Lebih dari itu, dalam sejarah, praktik keagamaan Islam dan aturan-aturan hukum yang menyertainya seringkali jauh lebih beragam dibanding yang mungkin bisa ditoleransi oleh negara-negara modern yang mengklaim monopoli atas pemilihan dan
penerapan hukum. Nah, keragaman hukum Islam di masa lalu itu sulit untuk diterapkan begitu saja di masa
P
er
p us
t a
D
e
m
oc
ra c
y
sekarang, karena sistem kenegaraan modern memerlukan sistem hukum yang lebih menyatukan. Itu sebabnya, bahkan negara-negara yang kini
mengklaim-diri sebagai negara Islam pun, seperti Saudi Arabia, Sudan atau Iran, hanya menerapkan bagian-bagian tertentu dari Syari`ah dan mengadopsi banyak aturan-aturan hukum yang berasal dari Barat untuk urusan-urusan lain.
Maka An-Na`im tegas menyatakan bahwa negara sekuler adalah lembaga terbaik yang bisa menampung gairah umat Islam akan Syari`ah. Karena itu, dia membela sekularisme, sekaligus merehabilitasi nama buruknya di mata banyak kaum Muslim. Baginya, sekularisme adalah paham mengenai pengelolaan negara yang bersifat netral-agama, bukan benci agama. Dan dia menunjukkan bahwa rumusan “pemisahan agama dan negara” ini diterapkan secara berbeda-beda di banyak negara, sesuai dengan kondisi dan latar belakangnya.
k a a n
D
ig
it
a
l
P roje
ct
Mengikuti jejak para pemikir seperti John Rawls dan Jürgen Habermas, An-Na`im lalu berbicara mengenai pentingnya nalar publik (public reason) sebagai satu-satunya prasyarat agar pesan Syari`ah bisa didesakkan ke ruang publik. Di sini seorang Muslim tampil sebagai seorang warga negara yang hendak memperjuangkan kesalehan personalnya ke ruang publik. Dus, butir-butir Syari`ah diterima atau ditolak publik bukan karena ia berasal Tuhan, melainkan karena ia secara demokratis dianggap baik atau buruk oleh publik.
Rumusan menjanjikan An-Na`im ini akan memperoleh reaksi keras dari kaum Muslim yang paternalistik, yang beranggapan bahwa penerapan Syari`ah harus dikontrol lembaga tertentu. Di sini, kewajiban
menjalankan Syari`ah dipahami sebagai kewajiban negara atau ulama mengontrol penerapannya oleh kaum Muslim. Ada jurang lebar antara doktrin Islam yang menegaskan
P
er
p us
t a
D
e
m
oc
ra c
y
pentingnya individu dan realitas aktual banyak kaum Muslim yang terus bersikap paternalistik. Oleh mereka yang diuntungkan sikap ini, An-Na`im akan dituduh melanggar doktrin Islam tentang kewajiban Syari`ah.
Seruan An-Na`im tentang perlunya sekularisme bagi kalangan agamawan juga akan ditentang oleh mereka yang membaca sekularisme sebagai paham yang memang ingin menyingkirkan agama, karena agama dianggap sebagai sumber segala penyakit. Itulah yang mencirikan sejarah
sekularisme modern di negara-negara seperti Perancis. Itu pulalah yang kita simak akhir-akhir ini di Turki, tempat di mana seorang politikus penting ingin digonjang-ganjingkan kariernya hanya karena istri dan kedua putrinya berjilbab.
Sekalipun ambisius, proyek An-Na`im patut didukung. Kita boleh berbeda pendapat dengannya soal detail, tapi secara garis besar
k a a n
D
ig
it
a
l
P roje
ct
proyeknya mencerahkan. Kaum Muslim perlu memperbarui diri, menafsirkan kembali Syari`ah agar sesuai dengan kebutuhan kiwari mereka. Tapi itu hanya mungkin jika wadah penerapannya, negara sekuler modern, juga berbenah diri: tidak perlu menganakemaskan agama, tapi juga tak menganaktirikannya.
P
er
p us
t a
D
e
m
oc
ra c
y
© 2011Review Buku ini diterbitkan oleh Democracy Project,
Yayasan Abad Demokrasi.
Jika Anda berminat mendapatkan buku (ebook) yang direview, silakan isi
form permintaan.