LAPORAN
KINERJA
DIREKTORAT ASIA TIMUR DAN PASIFIK
KEMENTERIAN LUAR NEGERI
ii
Laporan Kinerja (LKj) Direktorat Asia Timur dan Pasifik merupakan salah satu perwujudan komitmen Direktorat Asia Timur dan Pasifik terhadap pelaksanaan good governance di lingkungan Kementerian Luar Negeri RI. Dengan telah berakhirnya Tahun Anggaran 2020, Direktorat Asia Timur dan Pasifik telah menyelesaikan pelaksanaan program dan kegiatannya, yang didasarkan pada Rencana Strategis 2020-2024.
Selama tahun 2020, sejumlah capaian kinerja yang ditargetkan dalam dokumen Rencana Strategis telah berhasil dicapai. Namun demikian, terdapat sejumlah kegiatan lainnya yang belum dapat dilaksanakan karena beberapa faktor seperti kondisi dan situasi di dalam negeri maupun internasional. Capaian kinerja yang telah berhasil dituangkan dalam LKj tahun 2020 secara rinci diuraikan pada Bab III tentang Akuntabilitas Kinerja.
Penyampaian informasi capaian kinerja ini merupakan bentuk pertanggungjawaban Direktorat Asia Timur dan Pasifik kepada para stakeholders. Rencana kinerja yang berhasil dilaksanakan akan terus ditingkatkan dalam upaya memaksimalkan diplomasi Indonesia di kawasan Asia Timur dan Pasifik baik di bidang kerja sama politik, ekonomi, sosial budaya dan promosi pariwisata, perdagangan, investasi.
Kiranya, dokumen LKj tahun 2020 Direktorat Asia Timur dan Pasifik ini selain menjadi media pertanggungjawaban kinerja juga dapat dijadikan tolak ukur dalam peningkatan kinerja Direktorat Asia Timur dan Pasifik di tahun-tahun yang akan datang.
Jakarta, 8 Januari 2021 Direktur Asia Timur dan Pasifik
iii
ada tahun 2020, Laporan Kinerja Direktorat Asia Timur dan Pasifik menguraikan berbagai capaian kinerja selama satu tahun berjalan, yang implementasinya difokuskan sesuai dengan Rencana Strategis Kementerian Luar Negeri 2015-2019. Direktorat Asia Timur dan Pasifik dalam pelaksanaan politik luar negeri khususnya di wilayah Asia Timur dan Pasifik menangani 18 negara, termasuk 5 (lima) negara mitra strategis RI, yaitu Australia, RRT, Jepang, Korea Selatan, dan Papua Nugini dan meliputi 18
Perwakilan RI yaitu 8 KBRI, 8 KJRI dan 2 KRI.
Upaya memainkan peran dan kepemimpinan Indonesia di kawasan dilakukan dengan peningkatan kerja sama dengan negara-negara di kawasan di bidang maritim, politik dan keamanan, perbatasan, ekonomi, dan sosial budaya. Dengan demikian, capaian kinerja Direktorat Asia Timur dan Pasifik diarahkan untuk mencapai Sasaran Strategis Eselon II yaitu:
1. Dukungan diplomasi di kawasan Asia Timur dan Pasifik untuk mewujudkan peningkatan pembangunan nasional;
2. Dukungan dan komitmen nasional yang tinggi atas kesepakatan internasional di kawasan Asia Timur dan Pasifik;
3. Diplomasi maritim, politik dan keamanan serta perbatasan yang kuat di kawasan Asia Timur dan Pasifik; dan
4. Diplomasi ekonomi, sosial dan budaya yang kuat di kawasan Asia Timur dan Pasifik. Dalam mencapai tiap Sasaran Strategis, Direktorat Asia Timur dan Pasifik telah menentukan Indikator Kinerja Utama (IKU) dalam mengukur pencapaian setiap Sasaran Strategis. Dari seluruh IKU yang ditentukan, Direktorat Asia Timur dan Pasifik berhasil mencapai seluruh target dalam IKU tersebut. Secara umum di tahun 2020, Direktorat Asia Timur dan Pasifik berhasil memperoleh nilai capaian kinerja organisasi sebesar 108,58%. Sebagai pembanding, nilai capaian kinerja organisasi di tahun 2019 mencapai 113,3% dan di tahun 2018 sebesar 105,56%.
Untuk mendukung kegiatan diplomasi Indonesia di kawasan Asia Timur dan Pasifik telah dialokasikan anggaran Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) tahun 2020 sebesar
Rp. 5.406.830.000 (lima miliar empat ratus enam juta delapan ratus tiga puluh ribu rupiah). Namun dikarenakan pandemi Covid-19, dilakukan pemotongan anggaran menjadi
sebesar Rp 1.658.436.000 (satu miliar enam ratus lima puluh delapan juta empat ratus
tiga puluh enam ribu rupiah). Realisasi anggaran di tahun 2020 sebesar 97.99 % atau
sebesar Rp 1.627.669.899 (satu miliar enam ratus dua puluh tujuh juta enam ratus enam
puluh sembilan ribu delapan ratus sembilan puluh sembilan rupiah).
Dalam melaksanakan kinerjanya di tahun 2020, Direktorat Asia Timur dan Pasifik juga dihadapkan pada beberapa tantangan eksternal seperti pandemi Covid-19 yang
P
iv
mengakibatkan penutupan perbatasan dari negara-negara mitra sertarefocusing anggaran untuk mitigasi Covid-19 dan pemulihan ekonomi nasional. Tantangan juga ditemui pada faktor internal seperti kurang memadainya jumlah staf di Direktorat Asia Timur dan Pasifik.
Secara garis besar, tantangan, baik yang muncul dari internal maupun eksternal, dapat teratasi sehingga target capaian Direktorat Asia Timur dan Pasifik dapat tercapai dengan baik. Ke depannya, Direktorat Asia Timur dan Pasifik akan dimekarkan menjadi Direktorat Asia Timur serta Direktorat Pasifik dan Oseania. Diharapkan pemekaran tersebut dapat memfokuskan kegiatan diplomasi yang dilakukan di kawasan, sehingga dapat mencapai hasil yang lebih baik dari sisi kinerja maupun penyerapan anggaran, sesuai dengan visi, misi, dan strategi Kementerian Luar Negeri.
v COVER………. KATA PENGANTAR ... RINGKASAN EKSEKUTIF ……… i ii iii DAFTAR ISI ... v/ BAB I PENDAHULUAN ……… 1
BAB II PERENCANAAN KINERJA ………. 3
BAB III AKUNTABILITAS KINERJA ……… 7
A. Capaian Kinerja Organisasi ………... 7
B. Realisasi Anggaran ………. 41
BAB IV PENUTUP ... 43
LAMPIRAN
I. Matriks Perjanjian Kinerja (PK)
II. Matriks Realisasi Rencana Aksi (Renaksi) III. Matriks Informasi Kinerja
IV. Matriks Nilai Capaian Kinerja Organisasi
1
Di awal kepemimpinannya, Presiden Joko Widodo menetapkan visi tahun 2020-2024, yaitu terwujudnya Indonesia maju yang berdaulat, mandiri dan berkepribadian. Hal tersebut menjadi panduan untuk seluruh Kementerian dan Lembaga guna menetapkan Rencana Strategis (renstra) tahun 2020-2024, termasuk Kementerian Luar Negeri.
Sejalan dengan visi Presiden RI, Menteri Luar Negeri telah menetapkan Rencana Strategis Kementerian Luar Negeri 2020-2024, dengan visi “Memimpin diplomasi yang aktif dan efektif untuk mewujudkan Indonesia Maju yang Berdaulat, Mandiri, dan Berkepribadian berlandaskan Gotong Royong”. Selama
tahun 2020, visi tersebut kemudian diterjemahkan menjadi 4+1 prioritas diplomasi, sebagaimana arahan Menteri Luar Negeri pada Pernyataan Pers Tahunan Menteri di awal tahun 2020. 4+1 prioritas diplomasi dimaksud yaitu (i) Penguatan diplomasi ekonomi; (ii) Diplomasi perlindungan; (iii) Diplomasi kedaulatan dan kebangsaan; (iv) Peningkatan kontribusi dan kepemimpinan Indonesia di kawasan dan dunia; serta (v) Penguatan infrastruktur diplomasi.
Dalam pelaksanaan diplomasi, visi Kementerian Luar Negeri tersebut diterjemahkan oleh masing-masing unit kerja sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya ke dalam Rencana Strategis Eselon I masing-masing, termasuk Direktorat Jenderal Asia Pasifik dan Afrika. Visi Direktorat Jenderal Asia Pasifik dan Afrika yang telah ditetapkan dalam Rencana Strategisnya, yaitu “Memimpin diplomasi yang aktif dan efektif di Kawasan Asia Pasifik dan Afrika untuk mewujudkan Indonesia Maju yang Berdaulat, Mandiri, dan Berkepribadian berlandaskan Gotong Royong”. Dalam upaya mencapai visi tersebut, Direktorat Jenderal Asia Pasifik dan Afrika telah menetapkan 3 (tiga) misi yang akan dilaksanakan selama kurun waktu 2020-2024, yaitu: (i) Memberikan nilai manfaat ekonomi yang optimal melalui hubungan luar negeri di Kawasan Asia Pasifik dan Afrika untuk mendukung struktur ekonomi yang produktif, mandiri dan berdaya saing; (ii) Memajukan kepemimpinan dan peran Indonesia yang berpengaruh di Kawasan Asia Pasifik dan Afrika; dan (iii) Meningkatkan infrastruktur diplomasi Direktorat Jenderal Asia Pasifik dan Afrika untuk mendukung peningkatan kualitas manusia Indonesia.
Sebagai bagian dari Kementerian Luar Negeri, Direktorat Asia Timur dan Pasifik sepenuhnya berkomitmen memberikan dukungan diplomasi optimal untuk mewujudkan peningkatan pembangunan nasional di kawasan Asia Timur dan Pasifik. Hal tersebut dilakukan dengan mendorong upaya peningkatan kegiatan pemantapan hubungan dan politik luar negeri di kawasan Asia Timur dan Pasifik.
”Diplomasi Indonesia akan dijalankan berdasarkan prioritas 4+1 yaitu: penguatan
diplomasi ekonomi; diplomasi perlindungan; diplomasi kedaulatan dan kebangsaan; dan
peran Indonesia di kawasan dan global.
Sementara plus satu-nya adalah penguatan
infrastruktur diplomasi.”
2
Asia Timur dan Pasifik merupakan kawasan penting dan strategis di mana negara mitra kunci Indonesia berada di kawasan ini antara lain RRT, Jepang, Korea Selatan, Australia, dan Selandia Baru. Hubungan bilateral yang erat dengan negara-negara di kawasan ini bertujuan untuk meningkatkan nilai perdagangan bilateral, meningkatkan arus investasi ke Indonesia, meningkatkan kunjungan wisatawan asing dari kawasan ke Indonesia serta menjaga keamanan kawasan. Hubungan sosial budaya khususnya interaksi antar masyarakat juga mendukung peningkatan hubungan bilateral secara keseluruhan
Situasi yang berkembang selama tahun 2020, khususnya terkait penyebaran pandemi Covid-19 telah mempengaruhi pelaksanaan diplomasi Indonesia, termasuk di Kawasan Asia Timur dan Pasifik. Sepanjang tahun 2020, kerja sama Indonesia dengan negara-negara di kawasan Asia Timur dan Pasifik memiliki warna dan tantangan tersendiri dengan adanya pandemi Covid-19. Berbagai kerja sama vital guna mendukung pencapaian kebijakan politik luar negeri banyak dilakukan dengan negara-negara mitra di kawasan, seperti kerja sama vaksin, diplomasi kesehatan dan pemberian hibah, termasuk kerja sama ekonomi, salah satunya melalui penandatanganan kerja sama Indonesia-Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement (IA-CEPA) dan Indonesia-Korea Comprehensive Economic Partnership Agreement (IK-CEPA) yang diresmikan di tengah pandemi Covid-19.
Kawasan Asia Timur dan Pasifik terdiri dari 2 (dua) sub-kawasan yang sangat dinamis, yaitu Asia Timur dan Pasifik. Dinamika kedua sub-kawasan tersebut sangat berbeda dari sisi substansi. Asia Timur banyak berfokus pada peningkatan kerja sama dengan mitra-mitra strategis RI, yaitu RRT, Jepang, dan Korea Selatan. Sementara di kawasan Pasifik diperlukan fokus lebih untuk memagari kedaulatan Indonesia dari kelompok separatis yang berpusat di Pasifik.
Untuk dapat memperkuat diplomasi di kedua sub-kawasan dengan dinamika yang sangat berbeda dan sebagai bagian dari peningkatan infrastruktur diplomasi, pimpinan Kementerian Luar Negeri melakukan pemekaran Direktorat Asia Timur dan Pasifik menjadi Direktorat Asia Timur serta Direktorat Pasifik dan Oseania. Pemekaran tersebut direncanakan untuk diimplementasikan di tahun 2021.
3
Seiring dengan meningkatnya realisasi capaian sejumlah IKU dari target yang telah ditentukan pada tahun 2019, Direktorat Asia Timur dan Pasifik pada awal tahun 2020 telah menyusun Perjanjian Kinerja (PK) dengan target yang lebih tinggi. Namun sejalan dengan adanya penyebaran Pandemi Covid-19 yang melanda negara-negara di wilayah kerja di Kawasan Asia Timur dan Pasifik, target yang semula disusun pada awal tahun 2020 harus mengalami perubahan. Target awal Perjanjian Kinerja Direktorat Asia Timur dan Pasifik tahun 2020 adalah sebagai berikut:
Kode
SS
Sasaran Kegiatan
Kode
IKU
Indikator Kinerja Utama
(IKU)
Target
(1)
(2)
(3)
(4)
(5)
Stakeholders
S1
Nilai manfaat Diplomasi Ekonomi
yang Optimal di Kawasan Asia
Timur dan Pasifik
S1.1
Jumlah negara akreditasi di
Kawasan Asia Timur dan
Pasifik yang mencapai target
peningkatan nilai
perdagangan dengan
Indonesia
8
S1.2
Jumlah negara akreditasi di
Kawasan Asia Timur dan
Pasifik yang mencapai target
peningkatan nilai investasi
asing ke Indonesia
6
S1.3
Jumlah negara akreditasi di
Kawasan Asia Timur dan
Pasifik yang mencapai target
peningkatan jumlah
wisatawan mancanegara ke
Indonesia
6
Customer
C1
Dukungan dan Komitmen
Nasional yang Tinggi atas
Kesepakatan Internasional di
Kawasan Asia Timur dan Pasifik
C1.1
Persentase kesepakatan
kerjasama bilateral di
Kawasan Asia Timur dan
Pasifik yang ditindak lanjuti
oleh stakeholder dalam
negeri
85%
4
Kode
SS
Sasaran Kegiatan
Kode
IKU
Indikator Kinerja Utama
(IKU)
Target
B1
Diplomasi Ekonomi, Sosial, dan
Budaya yang Kuat di Kawasan
Asia Timur dan Pasifik
B1.1
Jumlah kesepakatan hasil
perundingan di bidang
ekonomi, sosial dan budaya
di Kawasan Asia Timur dan
Pasifik
11
B1.2
Persentase data economic
intelligence negara atau
wilayah akreditasi di
Kawasan Asia Timur dan
Pasifik yang ditindaklanjuti
stakeholders dalam negeri
100%
B1.3
Jumlah promosi Trade
Tourism and Investment (TTI)
di Kawasan Asia Timur dan
Pasifik
6
B2
Diplomasi Politik dan Keamanan
yang Kuat di Kawasan Asia
Timur dan Pasifik
B2.1
Jumlah kesepakatan hasil
perundingan di bidang
maritim, polkam dan
perbatasan di Kawasan Asia
Timur dan Pasifik
6
Learning & Growth
L1
Infrastruktur
Diplomasi
yang Kuat di
Direktorat
Asia Timur
dan Pasifik
L1.1 Tata Kelola
Organisasi
yang Baik
di
Direktorat
Asia Timur
dan Pasifik
L1.1.1 Nilai evaluasi AKIP Direktorat
Asia Timur dan Pasifik
78
(BB)
Mempertimbangkan penyebaran pandemi Covid-19 serta dampak yang ditimbulkannya secara global, pimpinan Kementerian Luar Negeri memberikan arahan untuk melakukan revisi target Perjanjian Kinerja pada pertengahan tahun 2020. Revisi target tidak bisa dihindari dengan mempertimbangkan kondisi riil di Indonesia serta negara-negara di kawasan yang terimbas dampak negatif dari penyebaran pandemi Covid-19. Selain itu, adanya refocusing pada kegiatan diplomasi selama masa pandemi juga menjadi urgensi revisi target di tahun 2020. Adapun target Perjanjian Kinerja Direktorat Asia Timur dan Pasifik yang telah direvisi sebagai berikut:
Kode
SS
Sasaran Kegiatan
Kode
IKU
Indikator Kinerja Utama
(IKU)
Target
(1)
(2)
(3)
(4)
(5)
5
Kode
SS
Sasaran Kegiatan
Kode
IKU
Indikator Kinerja Utama
(IKU)
Target
S1
Nilai manfaat Diplomasi Ekonomi
yang Optimal di Kawasan Asia
Timur dan Pasifik
S1.1
Jumlah negara akreditasi di
Kawasan Asia Timur dan
Pasifik yang mencapai target
peningkatan nilai
perdagangan dengan
Indonesia
5
S1.2
Jumlah negara akreditasi di
Kawasan Asia Timur dan
Pasifik yang mencapai target
peningkatan nilai investasi
asing ke Indonesia
1
S1.3
Jumlah negara akreditasi di
Kawasan Asia Timur dan
Pasifik yang mencapai target
peningkatan jumlah
wisatawan mancanegara ke
Indonesia
-
Customer
C1
Dukungan dan Komitmen
Nasional yang Tinggi atas
Kesepakatan Internasional di
Kawasan Asia Timur dan Pasifik
C1.1
Persentase kesepakatan
kerjasama bilateral di
Kawasan Asia Timur dan
Pasifik yang ditindak lanjuti
oleh stakeholder dalam
negeri
80.77%
Internal Business Process
B1
Diplomasi Ekonomi, Sosial, dan
Budaya yang Kuat di Kawasan
Asia Timur dan Pasifik
B1.1
Jumlah kesepakatan hasil
perundingan di bidang
ekonomi, sosial dan budaya
di Kawasan Asia Timur dan
Pasifik
5
B1.2
Persentase data economic
intelligence negara atau
wilayah akreditasi di
Kawasan Asia Timur dan
Pasifik yang ditindaklanjuti
stakeholders dalam negeri
100%
B1.3
Jumlah promosi Trade
Tourism and Investment (TTI)
di Kawasan Asia Timur dan
Pasifik
1
B2
Diplomasi Politik dan Keamanan
yang Kuat di Kawasan Asia
Timur dan Pasifik
B2.1
Jumlah kesepakatan hasil
perundingan di bidang
maritim, polkam dan
perbatasan di Kawasan Asia
Timur dan Pasifik
6
Kode
SS
Sasaran Kegiatan
Kode
IKU
Indikator Kinerja Utama
(IKU)
Target
Learning & Growth
L1
Infrastruktur
Diplomasi
yang Kuat di
Direktorat
Asia Timur
dan Pasifik
L1.1 Tata Kelola
Organisasi
yang Baik
di
Direktorat
Asia Timur
dan Pasifik
L1.1.1 Nilai evaluasi AKIP Direktorat
Asia Timur dan Pasifik
78
(BB)
Pandemi Covid-19 memberikan tantangan tersendiri dalam pelaksanaan program yang sudah direncanakan di tahun 2020. Ditutupnya perbatasan antarnegara dan pembatasan sosial berskala besar yang diterapkan di dalam negeri memberikan kesulitan pelaksanaan program. Selain dengan adanya Covid-19, program kegiatan juga terhambat dikarenakan adanya refocusing anggaran ke program baru guna menunjang kebijakan pemerintah, khususnya terkait mitigasi Covid-19 dan percepatan pemulihan ekonomi.
7
Dalam mencapai tiap Sasaran Strategis, Direktorat Asia Timur dan Pasifik telah menentukan Indikator Kinerja Utama (IKU) dalam mengukur pencapaian setiap Sasaran Strategis. Dari seluruh IKU yang ditentukan,
Direktorat Asia Timur dan Pasifik berhasil mencapai seluruh target dalam IKU tersebut.
Selama tahun 2020, Direktorat Asia Timur dan Pasifik berhasil memperoleh nilai capaian kinerja organisasi sebesar 108,58%. Sebagai pembanding, nilai capaian kinerja organisasi di tahun 2019 mencapai 113,3% dan di tahun 2018 sebesar 105,56%.
Di awal tahun anggaran, telah ditetapkan Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) Direktorat Asia Timur dan Pasifik sebesar Rp. 5.406.830.000. Namun dikarenakan pandemi Covid-19, dilakukan pemotongan anggaran menjadi sebesar Rp 1.658.436.000. Realisasi anggaran di tahun 2020 sebesar 97.99 % atau sebesar Rp 1.627.669.899.
“Setiap unsur di lingkungan Kementerian Luar Negeri dan Perwakilan Republik Indonesia dalam melaksanakan tugas dan fungsi harus menerapkan prinsip koordinasi, integrasi, dan
sinkronisasi baik dalam lingkungan Kementerian Luar Negeri dan Perwakilan Republik Indonesia, maupun dalam hubungan
antara kementerian dengan lembaga lain terkait”
— Perpres no. 116 Tahun 2020 tentang Kementerian Luar Negeri.
8
A. CAPAIAN KINERJA ORGANISASI
IKU ini sesuai dengan tujuan keberadaan organisasi Kemenlu dan Perwakilan RI serta melaksanakan amanat Presiden RI dalam RPJMN 2020-2024, yakni capaian kinerja diplomasi perlu diukur relevansinya dengan capaian di bidang investasi agar hasil diplomasi dapat dirasakan secara langsung manfaatnya oleh masyarakat luas di tanah air.
Negara akreditasi adalah tempat kedudukan RI beserta negara/wilayah kerja
rangkapan serta organisasi internasional yang dimandatkan secara resmi untuk mewakili dan memperjuangkan kepentingan bangsa, negara dan Pemerintah RI.
Target Peningkatan adalah memenuhi persentase peningkatan dari tahun sebelumnya
sesuai target yang ditetapkan oleh Kementerian Luar Negeri.
Nilai Investasi Asing adalah nilai Penanaman Modal Asing (PMA) ke Indonesia dalam
kurun waktu satu tahun yang diperoleh dari data BKPM (Badan Koordinasi Penanaman Modal).
9
IKU S.1 Tahun 2019 Tahun 2020
Target Realisasi Capaian Target Awal
Target Revisi
Realisasi Capaian
Jumlah negara akreditasi di kawasan Asia Timur dan Pasifik yang mencapai target peningkatan nilai perdagangan dengan Indonesia (IKU S.1.1)
7 negara 10 negara 142.86% 8 negara 5 negara 6 negara 120%
Jumlah negara akreditasi di kawasan Asia Timur dan Pasifik yang mencapai target
peningkatan nilai investasi asing ke Indonesia (IKU S.1.2) 5 negara 7 negara 140 % 6 negara 1 negara 1 negara 100%
Jumlah negara akreditasi di Kawasan Asia Timur dan Pasifik yang mencapai target
peningkatan jumlah wisatawan mancanegara ke Indonesia (IKU S.1.3) 5 negara 8 negara 120 % 6 negara - - % Total capaian S.1 402,86% 220% Rata-rata capaian S.1 134,28% 110%
10
IKU S.1.1: Jumlah negara akreditasi di kawasan Asia Timur dan Pasifik yang mencapai target peningkatan nilai perdagangan dengan Indonesia
IKU ini sesuai dengan tujuan keberadaan organisasi Kemenlu dan Perwakilan RI serta melaksanakan amanat Presiden RI dalam RPJMN 2020-2024, yakni capaian kinerja diplomasi perlu diukur relevansinya dengan capaian di bidang perdagangan agar hasil diplomasi dapat dirasakan secara langsung manfaatnya oleh masyarakat luas di tanah air.
Negara akreditasi adalah tempat kedudukan RI beserta negara/wilayah kerja
rangkapan serta organisasi internasional yang dimandatkan secara resmi untuk mewakili dan memperjuangkan kepentingan bangsa, negara dan Pemerintah RI.
Target Peningkatan adalah memenuhi persentase peningkatan dari tahun sebelumnya
sesuai target yang ditetapkan oleh Kementerian Luar Negeri.
Nilai Perdagangan adalah nilai ekspor Indonesia ditambah dengan nilai impor (Barang
dan jasa) Indonesia yang diperoleh dari Kemendag atau BPS atau data perdagangan lainnya yang berasal dari sumber resmi.
Adapun data diperoleh dari periode Januari - Oktober tahun berjalan.
Sepanjang tahun 2020, Direktorat Asia Timur dan Pasifik berhasil mencapai target IKU S1.1 yang ditetapkan, yaitu dari target 5 (lima) negara/wilayah tercatat telah terealisasikan peningkatan nilai perdagangan pada 6 (enam) negara. Dengan demikian maka capaian IKU S1.1 yaitu 120 %. Negara yang telah mencapai target IKU S1.1 yaitu sebagai berikut:
11
No Negara 2019
(Dalam Ribu USD)
2020
(Dalam Ribu USD)
Peningkatan % 1. Mongolia 6,783.3 23,180.2 241.73 2. Vanuatu 4,326.4 17,831.1 312.14 3. Samoa 8,148.0 13,352.3 63.87 4. Tonga 3,261.3 3,396.8 4.16 5. Nauru 456.4 580.5 27.21 6. Kaledonia Baru 9,472.1 13,150.0 38.83
*Data: Kemdag (Januari sd Oktober 2020 dibandingkan data perdagangan Januari sd Oktober 2019)
Sebagai perbandingan, pada tahun 2019 jumlah negara akreditasi di kawasan Asia Timur dan Pasifik yang mencapai target peningkatan nilai perdagangan dengan Indonesia dari target capaian 7 negara, tercapai 10 negara yang mengalami peningkatan perdagangan. Di luar capaian target sebagaimana tersebut di atas, meskipun terjadi penurunan nilai perdagangan Indonesia dengan negara mitra di kawasan Asia Timur dan Pasifik, namun terjadi peningkatan ekspor Indonesia pada tahun 2020. Sebagai contoh, ekspor RI dengan RRT mencapai 24,7 miliar pada Oktober 2020, meningkat 8,74% dibandingkan tahun 2019 (USD 22,7 miliar). Peningkatan ekspor juga terjadi dengan Australia mencapai 2,01 miliar pada Oktober 2020, meningkat 2,32% dari tahun 2019 (USD 1,9 miliar)
Terdapat tantangan tersendiri guna melampaui capaian tahun 2019 dikarenakan mayoritas negara di wilayah kerja Direktorat Asia Timur dan Pasifik mengambil kebijakan penutupan sementara perbatasan, penerbangan, dan pelabuhan dimana kebijakan dimaksud masih berlaku di sebagian besar negara. Selain itu, terdapat berbagai tantangan yang dihadapi, antara lain lesunya pertumbuhan ekonomi global akibat pandemi Covid-19 yang menyebabkan turunnya kegiatan perdagangan dengan negara mitra. Pemotongan anggaran tahun 2020 juga menimbulkan kendala dalam penyelenggaraan kegiatan promosi perdagangan secara langsung.
Upaya yang telah dilakukan Direktorat Asia Timur dan Pasifik dalam menghadapi tantangan adalah dengan memanfaatkan teknologi untuk melakukan koordinasi dengan stakeholders maupun menyelenggarakan kegiatan secara virtual, antara lain dengan menggunakan aplikasi video conference. Dengan menggunakan aplikasi tersebut, koordinasi dengan stakeholders dan kegiatan tetap dapat dilakukan.
Dalam mengatasi tantangan yang bersifat jangka panjang, Direktorat Asia Timur dan Pasifik akan mengupayakan berbagai langkah solutif ke depan, antara lain :
(i)
terus berkoordinasi dengan stakeholders terkait di dalam negeri guna memaksimalkan potensi perdagangan dengan negara-negara akreditasi, baik secara virtual maupun secara langsung;(ii)
secara aktif mendorong perwakilan RI di wilayah Direktorat Asia Timur dan Pasifik untuk dapat terus membuka peluang serta meningkatkan kerja sama ekonomi dan perdagangan dengan pihak-pihak terkait di wilayah akreditasi;(iii)
terus mendorong stakeholders terkait untuk dapat memanfaatkan peluang dari trade war AS-RRT dan eskalasi ketegangan hubungan RRT-Australia; relokasi industri dari RRT; serta(iv)
meningkatan sinergi Pusat, Perwakilan dan diaspora Indonesia di negara mitra untuk merumuskan kebijakan luar negeri, khususnya peningkatan perdagangan dan investasi.12
S1.2. Jumlah negara akreditasi di Kawasan Asia Timur Pasifik yang mencapai target peningkatan nilai investasi asing ke Indonesia.
IKU ini sesuai dengan tujuan keberadaan organisasi Kemenlu dan Perwakilan RI serta melaksanakan amanat Presiden RI dalam RPJMN 2020-2024, yakni capaian kinerja diplomasi perlu diukur relevansinya dengan capaian di bidang investasi agar hasil diplomasi dapat dirasakan secara langsung manfaatnya oleh masyarakat luas di tanah air.
Negara akreditasi adalah tempat kedudukan RI beserta negara/wilayah kerja
rangkapan serta organisasi internasional yang dimandatkan secara resmi untuk mewakili dan memperjuangkan kepentingan bangsa, negara dan Pemerintah RI.
Target Peningkatan adalah memenuhi persentase peningkatan dari tahun
sebelumnya sesuai target yang ditetapkan oleh Kementerian Luar Negeri.
Nilai Investasi Asing adalah nilai Penanaman Modal Asing (PMA) ke Indonesia
dalam kurun waktu satu tahun yang diperoleh dari data BKPM (Badan Koordinasi Penanaman Modal).
Data diperoleh dari Januari - September tahun berjalan.
Sepanjang tahun 2020, dari target 1 (satu) negara yang memenuhi IKU S1.2, dari data BPKM, tercatat Korea Selatan yang nilai investasinya meningkat di Indonesia. Dengan demikian maka capaian IKU S1.2 yaitu 100%. Sebagai perbandingan, pada tahun 2019 jumlah negara akreditasi di kawasan Asia Timur dan Pasifik yang mencapai target peningkatan nilai perdagangan dengan Indonesia dari target capaian 5 negara, tercapai 7 negara yang mengalami peningkatan investasi (140%).
13 Negara Nilai Investasi 2019 (dalam juta) Nilai Investasi 2020 (dalam juta) Peningkatan Nilai Investasi Korea Selatan 638,60 1142,40 78,89%
*Data: BKPM periode Jan-Sep
Investasi dari Korea Selatan ini diantaranya berupa investasi dari Hyundai sebesar US$ 1,55 milyar, LG Chem sebesar US$ 9 milyar (hulu-hilir), KCC Glass sebesar US$ 350 juta dan Sejin/Parkland Co sebesar US$ 35 juta.
Di luar peningkatan investasi dari Korea Selatan, terdapat pula peningkatan investasi dengan mitra dagang Indonesia lainnya, yaitu:
No. Wilayah Nilai Investasi 2019 (dalam juta) Nilai Investasi 2020 (dalam juta) Peningkatan Nilai Investasi 1. Taiwan 108,88 159,70 46,68% 2. Hong Kong 1746,74 2480,20 41,99%
Peningkatan investasi Taiwan antara lain dipengaruhi oleh relokasi beberapa pabrik milik perusahaan Taiwan dari Tiongkok ke Indonesia. Investasi Taiwan sebagian besar bergerak di sektor industri tekstil dan garmen, pembangunan kawasan industri, industri alas kaki, elektronik, alat berat dan otomotif. Selama masa pandemi Covid-19, terdapat 2 (dua) perusahaan yang telah membangun pabriknya di Indonesia, yaitu Kenda Tire yang memproduksi ban, serta Meiloon, perusahaan pembuat pengeras suara dan alat-alat terkait sistem audio. Kemajuan kerja sama di sektor investasi dengan Taiwan juga didorong oleh kebijakan Taiwan yang bertajuk Kebijakan Baru ke Arah Selatan (New Southbound Policy). Indonesia merupakan salah satu negara mitra Taiwan dalam merealisasikan kebijakan dimaksud.
Nilai investasi Hongkong di Indonesia mengalami peningkatan cukup signifikan dan berubah posisi dari peringkat 5 (lima) menjadi 3 (tiga) besar investor asing terbesar di tahun 2020. Sektor unggulan investasi Hong Kong di Indonesia antara lain proyek investasi industri logam pelabuhan, real estate, industrial estate, bisnis, industri makanan, pertambangan (di luar migas), perkebunan, hotel dan restoran, serta alat transportasi.
Direktorat Asia Timur dan Pasifik pada awal tahun 2020 mulanya menargetkan 6 negara untuk mencapai IKU S1.2. Namun dengan mempertimbangkan perkembangan penyebaran pandemi Covid-19, target awal diubah menjadi 1 negara. Perubahan tersebut dengan melihat situasi dimana mayoritas negara di wilayah kerja Direktorat Asia Timur dan Pasifik mengambil kebijakan penutupan sementara perbatasan, penerbangan, dan pelabuhan. Kebijakan tersebut masih berlaku di sebagian besar negara. Selain itu, terdapat berbagai tantangan yang dihadapi, antara lain lesunya pertumbuhan ekonomi global akibat pandemi Covid-19 yang menyebabkan turunnya kegiatan investasi dengan negara mitra. Pemotongan anggaran tahun 2020 juga berkontribusi pada kendala penyelenggaraan kegiatan promosi investasi secara langsung.
Upaya yang telah dilakukan Direktorat Asia Timur dan Pasifik dalam menghadapi tantangan yaitu dengan memanfaatkan teknologi untuk melakukan koordinasi dengan stakeholders maupun menyelenggarakan kegiatan secara virtual, antara lain dengan menggunakan aplikasi video conference. Dengan menggunakan aplikasi tersebut, koordinasi dengan stakeholders dan kegiatan tetap dapat dilakukan.
14
Direktorat Asia Timur dan Pasifik akan secara aktif terus mendorong perwakilan RI di wilayah kerja untuk dapat terus membuka peluang serta meningkatkan kerja sama ekonomi dan investasi dengan pihak-pihak terkait di wilayah akreditasi. Hal tersebut sudah terbukti dapat mendorong realokasi perusahaan-perusahaan asing di wilayah akreditasi perwakilan RI ke Indonesia.
15
S1.3. Jumlah negara akreditasi di Kawasan Asia Timur Pasifik yang mencapai target peningkatan jumlah wisatawan mancanegara ke Indonesia
IKU ini sesuai dengan tujuan keberadaan organisasi Kemenlu dan Perwakilan RI serta melaksanakan amanat Presiden RI dalam RPJMN 2020-2024, yakni capaian kinerja diplomasi perlu diukur relevansinya dengan capaian di bidang pariwisata agar hasil diplomasi dapat dirasakan secara langsung manfaatnya oleh masyarakat luas di tanah air.
Target Peningkatan adalah memenuhi persentase peningkatan dari tahun sebelumnya
sesuai target yang ditetapkan oleh Kementerian Luar Negeri atau peningkatan dari dua tahun sebelumnya jika data tahun sebelumnya tidak tersedia.
Jumlah Wisatawan Mancanegara ke Indonesia adalah jumlah total Warga dari
negara asing yang mengadakan perjalanan wisata ke Indonesia.
Data didapatkan melalui Badan Pusat Statistik, Kementerian Pariwisata, data Kantor Imigrasi, atau data statistik lainnya dari periode Januari - Oktober tahun berjalan.
Mempertimbangkan terbitnya Permenkumham No.11 tahun 2020 mengenai Pelarangan Sementara Orang Asing Masuk Wilayah Negara Republik Indonesia, Direktorat Asia Timur dan Pasifik s melakukan revisi dengan tidak menargetkan Jumlah negara akreditasi di
Kawasan Asia Timur Pasifik yang mencapai target peningkatan jumlah wisatawan mancanegara ke Indonesia.
Berdasarkan data statistik Kemenpar sampai dengan Oktober 2020, tidak ada kenaikan jumlah kunjungan wisatawan dari negara di Asia Timur dan Pasifik. Hal ini disebabkan oleh
16
penutupan penerbangan internasional dan perbatasan oleh negara-negara di Kawasan. Selain itu, perjalanan yang diperbolehkan terbatas pada perjalanan esensial, baik pejabat pemerintahan maupun kalangan bisnis, dengan protokol kesehatan ketat dan bukan perjalanan wisata. Kegiatan pariwisata internasional berhenti total pada tahun 2020.
Guna mengatasi kendala tersebut, Pemerintah Indonesia telah mendorong Bali sebagai daerah tujuan wisata yang menerapkan protokol kesehatan secara ketat sehingga diharapkan dapat membantu proses pemulihan kegiatan wisata internasional pasca pandemi serta menjadi kawasan percontohan bagi destinasi wisata lainnya di Indonesia. Pada masa selanjutnya, daerah lain yang telah siap untuk membuka diri dengan mengikuti protokol kesehatan secara ketat juga dapat dipromosikan lebih lanjut.
Dalam kaitan ini, dalam jangka panjang, diperlukan finalisasi kesepakatan kerja sama bidang pariwisata untuk mendorong pulihnya industri wisata segera setelah pandemi berakhir, atau pada saat situasi lebih kondusif.
Pada tahun 2019, dari target 5 negara, terdapat 8 negara yang mencapai target peningkatan jumlah wisatawan mancanegara ke Indonesia. Namun pada tahun 2020, Direktorat Asia Timur dan Pasifik tidak menargetkan peningkatan jumlah wisatawan mancanegara ke Indonesia.Hal ini disebabkan oleh pandemi Covid-19 yang pada awalnya berpusat di kawasan Asia Timur, kemudian menyebabkan kehawatiran adanya penyebaran melalui perjalanan lintas batas. Hal tersebut turut mempengaruhi kebijakan berbagai negara yang kemudian melakukan penutupan perbatasan wilayah dan secara signifikan mengurangi lalu lintas wisatawan mancanegara ke Indonesia.
Menyikapi pembatasan kunjungan wisatawan, Direktorat Asia Timur dan Pasifik fokus pada upaya percepatan pemulihan ekonomi dengan mendorong kerja sama Travel Corridor Arrangement (TCA) bagi kunjungan bisnis essential. Upaya dimaksud tercapai dengan telah disepakatinya kerja sama TCA RI dengan Korea Selatan yang berlaku pada 17 Agustus 2020 dan TCA RI dengan RRT yang disepakati pada 20 September 2020. Adapun kerja sama TCA RI dengan Jepang hingga saat ini masih dalam proses pembahasan, setelah rencana pembentukan kerja sama dimaksud diangkat dalam pertemuan bilateral Presiden RI dan PM Jepang di Bogor, 20 Oktober 2020.
18
Dukungan adalah sokongan/bantuan.
Komitmen adalah (upaya) perjanjian (keterikatan) untuk melakukan sesuatu. Tinggi adalah (mendukung) secara penuh.
Kesepakatan internasional adalah perjanjian dalam bentuk dan sebutan apa pun,
yang diatur oleh hukum internasional dan dibuat secara tertulis oleh Pemerintah Republik Indonesia dengan satu atau lebih negara, organisasi internasional atau subyek hukum internasional lainnya, serta menimbulkan hak dan kewajiban pada Pemerintah Republik Indonesia yang bersifat hukum publik; dan kesepakatan/komitmen pada tingkat Menteri Luar Negeri dan Presiden Republik Indonesia.
Latar belakang:
Pada tingkat bilateral serta forum-forum regional terdapat kesepakatan-kesepakatan yang disetujui bersama oleh Indonesia dan negara-negara lain. Kesepakatan tersebut perlu diimplementasikan agar dapat dirasakan kemanfaatannya oleh rakyat.
Ruang lingkup:
Mengingat tugas Kemenlu bukan sebagai implementing agency, Kemenlu perlu memberikan rekomendasi kepada K/L focal point untuk mengimplementasikan atau menindaklanjuti kesepakatan bilateral, regional, dan multilateral terkait di tingkat nasional. Fungsi yang dilakukan Kemenlu adalah untuk memastikan bahwa kesepakatan tersebut terimplementasi dengan baik.
19
IKU C.1 Tahun 2019 Tahun 2020
Target Realisasi Capaian Target Awal
Target Revisi
Realisasi Capaian
Persentase kesepakatan kerja sama bilateral di Kawasan Asia Timur dan Pasifik yang ditindaklanjuti stakeholder dalam negeri (IKU C.1.1)
85% 125% 147,06 % 85% 80.77% 100% 123%
20
C1.1. Persentase kesepakatan kerja sama bilateral di kawasan Asia Timur dan Pasifik yang ditindaklanjuti stakeholders dalam negeri
Kesepakatan kerja sama bilateral adalah perjanjian dalam bentuk dan sebutan apa
pun, yang diatur oleh hukum internasional dan dibuat secara tertulis oleh 2 negara antara Pemerintah Republik Indonesia dengan negara lain, serta menimbulkan hak dan kewajiban pada Pemerintah Republik Indonesia yang bersifat hukum publik; dan kesepakatan / komitmen pada tingkat Menteri Luar Negeri dan Presiden Republik Indonesia.
Ditindaklanjuti adalah suatu tindakan atau langkah nyata dari rencana aksi yang sudah
disusun secara matang sebagai hasil dari kesepakatan kerja sama oleh para stakeholder, yaitu satker Kemenlu Pusat, kementerian/lembaga teknis terkait, organisasi bisnis, dan sebagainya, dalam periode Januari-Desember. Rencana mapping rencana kesepakatan dilakukan setiap triwulan.
Stakeholders dalam negeri adalah Pemangku Kepentingan Nasional yang merupakan
segenap pihak dalam negeri yang memiliki kepentingan dan terkait dengan isu hubungan luar negeri, diantaranya kementerian/lembaga teknis terkait, organisasi bisnis, dan sebagainya.
Dari sejumlah kesepakatan kerja sama yang telah dicapai di tingkat bilateral dengan negara-negara di kawasan Asia Timur dan Pasifik, Direktorat Asia Timur dan Pasifik telah melakukan koordinasi dengan K/L teknis terkait untuk memastikan bahwa kesepakatan tersebut ditindaklanjuti oleh pemangku kepentingan terkait. Dari hasil rekapitulasi dokumen tindak lanjut kesepakatan, berupa laporan pertemuan/kegiatan, brafaks perwakilan, surat dari/kepada K/L teknis, dan lain sebagainya, tercatat 120% kesepakatan telah dan sedang ditidaklanjuti. Pencapaian tersebut melampaui target 80,77% kesepakatan pada tahun 2020.
21
Sebagai pembanding, pada tahun 2019 persentase kesepakatan kerja sama bilateral di kawasan Asia Timur dan Pasifik yang ditindaklanjuti stakeholders dalam negeri menargetkan 85%, dan terealisasi sebanyak 125%. Adapun kesepakatan yang ditindaklanjuti stakeholders dalam negeri tahun 2020 adalah sebagai berikut:
1. Sosialisasi Repatriasi Kerangka Jepang di Papua, 29-30 Januari 2020, sebagai Implementasi dari Agreement between the Government of the Republic of Indonesia and the Government of Japan on Excavation, Collection and Repatriation of the Remains of Japanese Soldiers Who Died in the Second World War in the Province of Papua and the Province of West Papua, the Republic of Indonesia
2. Pertemuan ke-5 Tingkat Teknis Kerja Sama Program KF-X/IF-X di Jakarta, 23-25 September 2020 untuk menindaklanjuti Kesepakatan Pertemuan Bilateral Presiden RI-Presiden Korsel (25/11/2019) untuk upayakan solusi yang saling menguntungkan dalam keberlanjutan kerja sama KF-X/IF-X
3. Pertemuan dalam rangka persiapan Entry Into Force (EIF) IA-CEPA, 9 Juni 2020 sebagai tindak lanjut kesepakatan IA-CEPA yang ditantangani awal tahun 2020. 4. Counter draft MoU BSSN – CA RRT on Cooperation in Developing Cyber Security
Capacityand Technology in the Cyberspace Administration of China untuk menindaklanjuti hasil pembahasan pada pertemuan ke-6 Dialog Tingkat Tinggi Bidang Polhukam tahun 2017.
5. MoU on China – Indonesia “Two Countries. Twin Parks” Cooperation Project antara Kemenko Marves, MOFCOM dan Pemerintah Fujian sebagai salah satu implementasi konkret MoU on Jointly Promoting Cooperation within the Framework of GMF and BRI yang ditandatangani tahun 2018.
22
6. Penandatangangan full text IK-CEPA di Seoul, 18 Desember 2020 sebagai realisasi
kesepakatan Pertemuan Bilateral Presiden RI-Presiden Korsel (25/11/2019) untuk penandatangan IK-CEPA pada 2020.
7. Sosialisasi Kerja Sama Ekonomi IA-CEPA Economic Cooperation Program (ECP), 8 Juni 2020. Kegiatan ini merupakan salah satu dtindak lanjut dari kesepakatan IA-CEPA.
8. Serah Terima Hibah Avigan Jepang kepada Kemkes, 19 Mei 2020. Merupakan tindak lanjut dari kesepakatan antara KBRI Tokyo dengan Kemlu Jepang dan UNOPS
9. Draft MoU on Cooperation in the Field of Education and Culture antara Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI dan Kementerian Pendidikan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kepulauan Solomon untuk menindaklanjuti rencana kerja sama bidang dimaksud yang sempat pending dari pihak Kep. Solomon.
10. Draft Agreement on Visa Exemption for Holders of Diplomatic and Service Passport RI-Kepulauan Solomon untuk menindaklanjuti penandatanganan Agreement on the Framework of Development Cooperation tahun 2019. Agreement bebas visa ini kembali diajukan oleh Pemerintah Kep. Solomon pada Agustus 2020 setelah sempat beberapa tahun pending.
11. Draft Memorandum of Understanding between the Indonesian National Police and the Nauru Police Force on Cooperation in Preventing and Combating Transnational Crimes and Capacity Building untuk menindaklanjuti usulan kerja sama kepolisian dari Pemerintah Nauru.
23
12. Pembahasan Preferential Trade Agreement RI – Fiji untuk menindaklanjuti penandatanganan Joint Statement on the Establishment of Negotiation on Preferential Trade Agreement RI – Fiji pada Desember 2019.
13. Pembahasan Preferential Trade Agreement RI – PNG untuk menindaklanjuti penandatanganan Joint Statement on the Establishment of Negotiation on Preferential Trade Agreement RI – PNG pada Desember 2019.
14. Draft Memorandum of Understanding on Cooperation in the Field of Small Medium Enterprise RI-Fiji untuk menindaklanjuti permintaan kerja sama bidang SME dari pihak Fiji yang saat ini telah membentuk badan SME di bawah Kementerian Industri, Perdagangan dan Pariwisata Fiji.
15. MoU antara BP2MI dan JICWELS tentang Penempatan dan Penerimaan Kandidat Indonesia untuk "Kangoshi", Kandidat Indonesia untuk "Kaigofukushishi", "Kangoshi" Indonesia, dan "Kaigofukushishi" Indonesia sebagai tindak lanjut I-Jepa untuk penempatan nurse dan careworker Indonesia di Jepang.
16. MoU between Directorate General of Customs and Excise of the Ministry of Finance of the Republic of Indonesia and the Commonwealth of Australia as represented by the Department of Home Affairs (incorporating the Australian Border Force) on Cooperation and Mutual Administrative Assistance in Customs Matters) sebagai perjanjian payung untuk kerja sama kepabeanan RI dengan Australian Border Force. 17. Subsidiary Arrangement between the Government of the Republic of Indonesia and
the Government of Australia relating to the Australia Indonesia Health Security Partnership (AIHSP) Human Health Component sebagai finalisasi workplan untuk program subsidiary arrangement.
Keberhasilan Direktorat Asia Timur dan Pasifik dalam mencapai target didukung oleh upaya koordinasi yang baik antara unit internal Kementerian Luar Negeri maupun dengan K/L teknis dan pemerintah daerah. Upaya koordinasi tersebut ditunjukkan dengan pertemuan interkem yang rutin dilaksanakan.
24
Diplomasi Ekonomi adalah aktivitas diplomasi untuk mencapai tujuan-tujuan ekonomi
melalui berbagai kerja sama seperti perdagangan, investasi, energi, perhubungan, pariwisata, pertanian, perikanan, perindustrian, keuangan, perpajakan, kerja sama ekonomi teknik.
Diplomasi sosial adalah aktivitas diplomasi untuk mencapai tujuan-tujuan sosial
melalui berbagai kerja sama seperti pembangunan kesejahteraan, kesehatan dan pendidikan
Diplomasi budaya adalah aktivitas diplomasi untuk mencapai tujuan-tujuan pelestarian
dan pengenalan budaya Indonesia kepada dunia internasional, dengan penggunaan aset budaya nasional untuk mendukung pemenuhan tujuan kebijakan luar negeri Indonesia.
Kuat adalah mempunyai keunggulan untuk bersaing dengan negara lain.
IKU B.1 Tahun 2019 Tahun 2020
Target Realisasi Capaian Target Awal Target Revisi
Realisasi Capaian
Jumlah Kesepakatan di Bidang Ekonomi, Sosial dan Budaya di kawasan Asia Timur dan Pasifik (IKU B.1.1)
10 13 130% 11
kesepakatan
25 Persentase Data
Economic Intelligence Negara atau Wilayah Akreditasi di kawasan Asia Timur dan Pasifik yang Ditindaklanjuti Stakeholders Dalam Negeri (IKU B.1.2) 70% 100% 134.91% 100% 100% 100% 100%
Jumlah Promosi Trade Tourism and Investment (TTI) di kawasan Asia Timur dan Pasifik (IKU B.1.3)
8 10 125 % 6 1 1 100%
Total capaian B.1 389,91% 320%
Rata-rata capaian B.1 129,97% 106,66
Batas toleransi capaian B.1
26
B1.1. Jumlah kesepakatan perundingan di bidang ekonomi, sosial dan budaya di kawasan Asia Timur dan Pasifik
Kesepakatan adalah hasil kesepakatan pada setiap proses perundingan di bidang
ekonomi, sosial dan budaya
Ruang lingkup:
• Bidang ekonomi mencakup antara lain: perdagangan, investasi, energi, perhubungan, pariwisata, pertanian, perikanan, perindustrian, keuangan, perpajakan, kerja sama ekonomi teknik
• Bidang sosial mencakup antara lain: kesejateraan, kesehatan dan pendidikan • Bidang budaya antara lain: pertukaran budaya, pelestarian aset-aset budaya
Batas waktu:
Jumlah kesepakatan yang disepakati selama satu periode anggaran.
Sepanjang tahun 2020, dalam hal capaian IKU B1.1. mengenai jumlah kesepakatan hasil perundingan di bidang ekonomi, sosial dan budaya di Kawasan Asia Timur dan Pasifik, Direktorat Asia Timur dan Pasifik mencapai 6 kesepakatan kerja sama, melebihi target yang ditetapkan sebanyak 5 kesepakatan (120%).
Sementara pada tahun 2019, jumlah kesepakatan hasil perundingan di bidang ekonomi, sosial dan budaya di kawasan Asia Timur dan Pasifik terealisasi sejumlah 13 kesepakatan dari target 10 kesepakatan.
27
1. Pengesahan Indonesia-Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement (IA-CEPA)
2. Plan of Action for the Indonesia – New Zealand Comprehensive Partnership for the Periode 2020-2024
3. PoA RI-Australia Comprehensive Partnership
4. Exchange of Notes untuk Covid-19 Active Response and Expenditure Support Program Loan
28
5. Exchange of Notes untuk Economic and Social Development Programme berupa hibah mobile x-ray
6. Agreed Minutes the 7th Senior Officials’ Meeting on Trade and Investment Framework Indonesia-New Zealand
Dalam pencapaian IKU B.1.1, Direktorat Asia Timur dan Pasifik tidak menghadapi kendala yang sebelumnya pada awal tahun 2020 sempat dikhawatirkan akan tidak tercapai, khususnya terkait proses negosiasi atas perjanjian/kesepakatan dengan negara di wilayah kerja. Seiring dengan adanya inisiatif untuk melakukan negosiasi secara virtual, proses perundingan kemudian dapat berjalan secara normal dan melebihi target yang telah ditetapkan sebelumnya.
Direktorat Asia Timur dan Pasifik juga terus mendorong K/L yang sedang dalam proses negosiasi kesepakatan untuk tetap mengupayakan proses negosiasi dan mengawal proses penyusunan draft kesepakatan hingga dapat disepakati oleh kedua pihak.
Faktor-faktor yang berkontribusi terhadap pencapaian target ini, antara lain semakin aktifnya upaya yang dilakukan Indonesia dengan negara-negara mitra di kawasan Asia Timur dan Pasifik dalam mengoptimalisasi kemitraan yang dimiliki. Khusus untuk bidang kerja sama ekonomi, semakin banyak kesepakatan terealisasi sebagai bentuk upaya untuk mengambil peluang atas kondisi global yang juga sedang terpengaruh oleh dampak dari perang dagang antara Amerika Serikat dengan Tiongkok.
29
B.1.2. Persentase data economic intelligence negara atau wilayah akreditasi di kawasan Asia Timur dan Pasifik yang ditindaklanjuti stakeholders dalam negeri
Latar Belakang:
Dalam menjalankan diplomasi ekonomi, Perwakilan RI harus mencermati potensi ekonomi yang dimiliki masing-masing negara yang dapat dimanfaatkan oleh Indonesia.
Definisi:
Data economic intelligence adalah informasi dan kajian hasil analisis di bidang ekonomi (perdagangan, keuangan, investasi, pariwisata, dan jasa) termasuk informasi peluang produk spesifik yang bersifat strategis bagi pengambilan keputusan dan perumusan kebijakan diplomasi ekonomi Indonesia terhadap negara/wilayah akreditasi. Data economic intelligence disusun dan dimutakhirkan secara berkala setiap tahun dari masing-masing negara/wilayah kerja dan rangkapannya. Contoh: KJRI Melbourne menyusun dua data economic intelligence untuk Negara Bagian Victoria dan Negara Bagian Tazmania.
Ditindaklanjuti adalah suatu tindakan atau langkah nyata dari rencana aksi yang sudah
disusun secara matang sebagai langkah lebih lanjut atas penerimaan data economic intelligence dari Perwakilan RI oleh stakeholders dalam negeri.
Stakeholders dalam negeri adalah Pemangku Kepentingan Nasional yang merupakan
segenap pihak dalam negeri yang memiliki kepentingan dan terkait dengan isu diplomasi ekonomi hubungan luar negeri, diantaranya satker Kemenlu Pusat, kementerian/lembaga teknis terkait, pemerintah daerah, organisasi bisnis, pelaku usaha, dan sebagainya.
Ruang lingkup kegiatan tindak lanjut data economic intelligence antara lain: 1. Pengolahan data economic intelligence
30
2. Publikasi hasil pengolahan data economic intelligence 3. Diseminasi informasi data economic intelligence
4. Pembahasan data economic intelligence dengan stakeholders
5. Penyampaian rekomendasi hasil pengolahan data economic intelligence dan lain sebagainya
Sepanjang tahun 2020, dalam hal capaian B2.2. jumlah data economic intelligence negara atau wilayah akreditasi di kawasan Asia Timur dan Pasifik, kami mencatat bahwa dari 100% target yang ingin dicapai, sebanyak 100% realisasi data economic intelligence ditindaklanjuti oleh stakeholders. Sebagai pembanding, di tahun 2019, dari target 100% maka 70% data economic intelligence telah ditindaklanjuti stakeholders dalam negeri.
Sebagai tindak lanjut atas penyampaian laporan data economic intelligence oleh perwakilan RI di Kawasan Asia Timur dan Pasifik, Direktorat Asia Timur dan Pasifik melalui rapat-rapat interkem maupun pada saat kegiatan sosialisasi potensi kerja sama dengan negara di Kawasan, senantiasa menyampaikan potensi yang ada di tiap negara kepada stakeholders di Indonesia.
Adapun data rincian data economic intelligence yang disampaikan oleh Perwakilan RI Kawasan Asia Timur dan Pasifik yang telah dimanfaatkan/ditindaklanjuti stakeholders adalah sebagai berikut:
No. Perwakilan Keterangan
1 KBRI Beijing Dit. Astimpas dan KBRI Beijing telah fasilitasi kerja sama untuk membuka akses produk unggulan Indonesia ke Tiongkok seperti kelapa sawit, sarang burung walet, buah tropis dan produk akuatik, dan perikanan. Kedua negara juga sepakati kerja sama investasi Tiongkok ke Indonesia seperti pada Proyek Strategis Nasional (seperti Kereta Api Cepat Jakarta-Bandung, PLTA Batang Toru, proyek dalam rangka Regional Comprehensive Economic Corridors dan proyek investasi lainnya serta mendorong dukungan RRT bagi kelanjutan komitmen pendanaan dari Bank-bank Tiongkok atas proyek-proyek strategis tersebut. 2 KJRI Shanghai Kalangan pengusaha/importir Sarang Burung Walet
(SBW) yang tergabung dalam Birds’ Nest and Gum Protein Industry — China National Food Industry Association (BNGPI-CNFIA) berencana mengembangkan
proyek investasi pabrik pengolahan SBW di Jambi, dengan nilai investasi awal sebesar Rp. 100 miliar dan pengembangan investasi sebesar Rp. 200 miliar. 3 KJRI Guangzhou Data economic intelligence telah memberikan manfaat
bagi penjajakan investasi biodisel oleh Leoking Environmental Group yang berencana untuk diversifikasi pabrik biodiesel dengan kapasitas 200.000 ton per tahun.
4 KJRI Hong Kong Data economic intelligence telah memberikan manfaat bagi peningkatan nilai investasi. Tercatat investasi Hong Kong pada Januari - September 2020 sebesar
31
US$ 2480 juta (naik 41.9%) dibanding periode 2019 sebesar US$1.746.74 juta.
5 KBRI Tokyo Data economic intelligence telah dimanfaatkan stakeholders. Kedua negara sepakat untuk meningkatkan kontribusi Jepang di bidang industri otomotif terutama investasi, SDM, teknologi, pengalaman dan sertifikasi otomotif. Kedua negara juga menyepakati kerja sama sovereign wealth fund melalui JCBC. Jepang juga mendukung proyek infrastruktur di Indonesia seperti MRT Fase 2, Blok Masela dan finalisasi pembangunan Pelabuhan Patimban.
7 KBRI Seoul Pihak BKPM akan adakan pertemuan dengan Hyundai Motor Group, KCC Glass Corporation, LG Chern dan Minister of Trade and Industry sebagai finalisasi realisasi investasi sejumlah perusahaan potensial asal Korsel di Indonesia.
8 KBRI Canberra Data economic intelligence telah ditindaklanjuti dengan dengan penandatanganan shareholder agreement yang merupakan perjanjian kerja sama investasi untuk membangun infrasturktur kesehatan di Jawa Barat antara PT Jasa sarana dan Aspen Docta senilai US$ 1 Milyar.
9 KJRI Sydney Data economic intelligence telah dimanfaatkan stakeholers. Direktur the 2 Tang Australia akan melakukan penetrasi pasar produk the 2 tang ke Australia sebagai pemanfaatan momentum IA-CEPA.
10 KJRI Perth Data economic intelligence telah
dimanfaatkan/ditindaklanjuti stakeholders. KJRI Perth telah fasilitasi pertemuan secara virtual antara BKPM dengan Fortescue Metal Group terkait realisasi kerja sama investasi di bidang pengembangan green industry melalui pembangunan hydropower di provinsi Papua, Kaltim dan Kaltara.
11 KJRI Melbourne Data economic intelligence telah ditindaklanjuti dengan adanya inbound investment dari Citilink di Melbourne (pembukaan rute penerbangan Denpasar-Melbourne, selama 1x per minggu); pembukaan Garuda Maintenance Facility di Bandara Melbourne serta pembukaan Jabarano Cafe di Melbourne. Sementara untuk outbound investment telah tercatat adanya minat perusahaan Cataman Global untuk berinvestasi di Flores untuk bidang infrastruktur. Selain itu telah ditandatangani 3 MoU antara Berdi Australia Plt.Lth dengan 3 mitranya di Indonesia terkait produk UMKM. Jumlah transaksi sebesar US$ 1.200.484.95.
12 KRI Darwin Terdapat peningkatan nilai ekspor dari Indonesia ke Nothern Territory dari periode Juli 2019 hingga 30 Juni 2020 dari US$ 3 juta menjadi US$15 juta (kenaikan sebesar 400%).
32
13 KBRI Wellington Potensi investasi inbound/outbound yang saat ini sedang dijajaki berupa biotanex-Aneka Rimba (Kayu). Linax Circular Material, Putri Ayu Tenun (Biodegradable Shoes), Southstar Technology Indonesia (Agriculture), proyek penyemaian bibit rumput nutrisi di Lampung, Kritocurrency dan Geotermal.
14 KBRI Port Moresby Data economic intelligence telah memberikan manfaat bagi rencana pembentukan PTA RI-PNG. Selain itu, PT WIKA juga akan memulai pekerjaan dalam desain dan pembangunan Multi Purpose Futsal Complex Hall di Honiara sebagai kontraktor bagi proyek hibah RI dalam rangka posisi Solomon sebagai tuan rumah Pacific Games 2023
15 KJRI Noumea Pada Mei 2020, telah ditandatangani kontrak kerja sama antara Sofaplast dengan dengan PT. Sofanusa dan ditindaklanjuti dengan pengiriman perdana bahan baku tisu ke Noumea sebesar 20ft. Selain itu Sofaplast saat ini sedang lakukan penjajakan dengan PT Greenhope Indonesia untuk produk kantong ramah lingkungan dan PT Satyamitra Kemas Lestari untuk kotak tisu.
Tantangan utama yang dihadapi Dit. Astimpas dalam pencapaian target IKU B.2.2 antara lain belum tepat waktunya penyampaian laporan economic intelligence dari Perwakilan RI. Dalam mengatasi tantangan tersebut, Dit. Astimpas berupaya untuk terus aktif mendorong Perwakilan RI di Luar Negeri untuk melakukan kegiatan economic intelligence di wilayah akreditasi dan menyampaikan hasil laporan ke Pusat secara tepat waktu untuk dapat ditindaklanjuti oleh stakeholders terkait.
Faktor-faktor yang berkontribusi terhadap keberhasilan target adalah koordinasi yang baik antara Kemlu dan Perwakilan RI dalam melakukan pendekatan dan penyebaran informasi/sosialisasi terkait potensi kerja sama ekonomi dan perdagangan di wilayah kerja masing-masing berupa data economic intelligence kepada stakeholders terkait baik dari pihak Pemerintah Pusat dan Daerah, maupun para pelaku usaha.
33
B.1.3. Jumlah Promosi Trade, Tourism, Investment (TTI) di kawasan Asia Timur dan Pasifik)
Sepanjang tahun 2020, dalam hal capaian jumlah promosi TTI di kawasan Asia Timur dan Pasifik, tercatat dari 1 target yang ditetapkan sebanyak 1 kegiatan telah dilaksanakan (120%). Sedangkan pada tahun 2019, jumlah promosi Trade, Tourism, Investment (TTI) di kawasan Asia Timur dan Pasifik terealisasi 10 kegiatan promosi dari target 8 kegiatan promosi TTI.
Adapun rincian dari kegiatan promosi TTI di kawasan Asia Timur dan Pasifik yang berhasil dilaksanakan melalui kerja sama dengan berbagai pihak yaitu sebagai berikut: 1. Berpartisipasi pada kegiatan First Indonesia-China Dragon Fruits Online Business
Matching dengan host kegiatan adalah Ditjen PEN Kemdag dengan melibatkan dukungan fasilitasi KBRI Beijing cq. Atase Perdagangan dan China Agricultural Wholesale Market Association (CAWA).
Catatan: Kegiatan diikuti oleh K/L dan pihak terkait seperti Kementan dan Kemendag, Perwakilan RI di Tiongkok, serta kalangan pengusaha yang terdiri dari 5 registered exporters/packing houses buah naga dan 6 registered exporters/packing houses buah manggis.
Dalam mengatasi tantangan terkait penyebaran pandemi Covid-19 yang menyebabkan promosi TTI secara luring tidak dapat dilaksanakan, Direktorat Asia Timur dan Pasifik secara aktif mendukung upaya promosi TTI secara virtual. Selain itu, juga terus berupaya mendorong perwakilan RI di Kawasan Astimpas dan stakeholders untuk mengintensifkan kegiatan promosi TTI yang dilakukan tidak hanya di kawasan Asia Timur namun juga di kawasan Pasifik. Adanya koordinasi yang erat antara Kemlu c.q Direktorat Asia Timur dan Pasifik, Perwakilan RI di wilayah kerja dan stakeholders terkait menjadi salah satu faktor yang berkontribusi bagi tercapainya kegiatan promosi TTI dan pencapaian target kinerja Dit. Astimpas pada IKU B1.3.
34
Diplomasi Maritim adalah pelaksanaan polugri yang berhubungan dengan
penyelenggaraan hubungan antar negara di bidang kelautan dalam rangka mewujudkan keselamatan pelayaran, keamanan maritim, perlindungan lingkungan laut dan pengelolaan sumber daya kelautan serta pembangunan infrastruktur kemaritiman.
Diplomasi Politik dan Keamanan adalah Negosiasi atau perundingan yang dilakukan
oleh dua Negara atau lebih mengenai hubungan politik antara dua negara atau lebih, juga mengenai keamanan pada masing-masing negara.
Diplomasi perbatasan adalah pelaksanaan polugri dalam rangka penetapan dan
pengelolaan batas negara yang meliputi penetapan batas maritim, penegasan batas darat, manajemen pengelolaan perbatasan, serta penanganan isu udara dan antariksa.
Kuat adalah mempunyai keunggulan/tidak mudah goyah. Latar belakang:
Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia. Dalam kaitan ini, pelaksanaan perundingan penetapan batas maritim, penegasan batas darat serta penanganan isu kelautan, darat, udara dan antariksa merupakan manifestasi polugri bebas aktif dalam upaya mengamankan kepentingan nasional dan memperkuat jati diri sebagai negara maritim khususnya terkait dengan batas negara, kedaulatan dan sumberdaya alam. Sebagai bagian dari Nawa Cita Presiden Jokowi, isu maritim dan perbatasan menjadi salah satu isu prioritas yang menjadi tanggung jawab Kemenlu, sehingga Indonesia akan menonjolkan karakter sebagai negara maritim dalam diplomasi dan kebijakan politik luar negerinya.
35
IKU B.2 Tahun 2019 Tahun 2020
Target Realisasi Capaian Target Awal
Target Revisi
Realisasi Capaian
Jumlah Kesepakatan Hasil Perundingan di Bidang Kemaritiman, Polkam dan Perbatasan di Kawasan Asia Timur dan Pasifik (IKU B.2.1)
36
B2.1. Jumlah kesepakatan hasil perundingan di Kemaritiman, Polkam dan Perbatasan
Kesepakatan hasil perundingan adalah hasil kesepakatan pada setiap proses
perundingan di bidang diplomasi maritim, polkam dan perbatasan.
Ruang lingkup:
• Bidang maritim meliputi: keselamatan pelayaran, keamanan maritim, perlindungan lingkungan laut dan pengelolaan sumber daya kelautan serta pembangunan infrastruktur kemaritiman.
• Bidang politik dan Keamanan meliputi: hubungan politik antara dua negara atau lebih, juga mengenai keamanan pada masing-masing negara.
• Bidang perbatasan meliputi: penetapan batas maritim, penegasan batas darat, manajemen pengelolaan perbatasan, serta penanganan isu udara dan antariksa
Batas waktu:
Jumlah kesepakatan yang disepakati selama satu periode anggaran.
Dalam hal capaian IKU B2.1. mengenai jumlah kesepakatan hasil perundingan di bidang kemaritiman, polkam dan perbatasan di Kawasan Asia Timur dan Pasifik di tahun 2020 tercapai 7 kesepakatan kerja sama, melebihi target yang ditetapkan sebanyak 6 kesepakatan. Sedangkan pada tahun 2019, dari target 6 kesepakatan, berhasil dicapai 21 kesepakatan.
37
Kesepakatan kerja sama di bidang Kemaritim, Polkam dan Perbatasan yang berhasil dicapai oleh Direktorat Asia Timur dan Pasifik tahun 2020 sebagai berikut:
1. Joint Statement Annual Leaders Meeting RI – Australia, Februari 2020
2. Plan of Action for the Indonesia-Australia Comprehensive Strategic Partnership (2020-2024)
38
39
4. Joint Statement by the Foreign Ministers of the Republic of Indonesia and New Zealand at the 9th Joint Ministerial Commission
5. MoU on Cooperation in Preventing and Combating Transational Crimes and Enhanching Capacity Building between Indonesia National Police and Ministry of Defence, National Security and Immigration of the Republic of Fiji
6. Perpanjangan Arrangement between Badan Keamanan Laut Republik Indonesia (the Maritime Security Agency of the Republic of Indonesia) and the Department of Immigration and Border Protection as represented by the Australian Border Force on Maritime Security Cooperation.
7. Tanggapan atas Rencana Kesepakatan Kerja Sama Cooperation Plan between the Government of the Republic of Indonesia and the Government of People’s Republic of China on Jointly Promoting GMF-BRI.
40
Dalam pencapaian IKU B2.1, Direktorat Asia Timur dan Pasifik tidak menghadapi kendala dimana pada awal tahun 2020 sempat dikhawatirkan akan sulit tercapai, khususnya terkait proses negosiasi atas perjanjian/kesepakatan dengan negara di wilayah kerja. Namun, seiring dengan adanya berbagai penyesuaian, termasuk inisiatif negosiasi secara virtual, maka proses perundingan dapat berjalan secara normal bahkan melebihi target yang telah ditetapkan sebelumnya.
Direktorat Asia Timur dan Pasifik juga terus mendorong K/L yang sedang dalam proses negosiasi kesepakatan untuk tetap mengupayakan proses negosiasi dan mengawal proses penyusunan draft kesepakatan hingga dapat disepakati kedua pihak.
Faktor-faktor yang berkontribusi terhadap pencapaian target ini antara lain berkaitan dengan semakin aktifnya upaya yang dilakukan Indonesia dengan negara-negara mitra di kawasan Asia Timur dan Pasifik dalam memanfaatkan secara optimal kemitraan yang dimiliki.
41
B. REALISASI ANGGARAN
Untuk mendukung kegiatan diplomasi Indonesia di kawasan Asia Timur dan Pasifik telah dialokasikan anggaran Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) tahun 2020 sebesar
Rp. 5.406.830.000 (lima miliar empat ratus enam juta delapan ratus tiga puluh ribu rupiah). Namun dikarenakan pandemi Covid-19, dilakukan pemotongan anggaran menjadi
sebesar Rp 1.658.436.000 (satu miliar enam ratus lima puluh delapan juta empat ratus
tiga puluh enam ribu rupiah). Adapun realisasi anggaran di tahun 2020 sebesar 97.99 %
atau sebesar Rp 1.627.669.899 (satu miliar enam ratus dua puluh tujuh juta enam ratus
enam puluh sembilan ribu delapan ratus Sembilan puluh sembilan rupiah).
Sebagai perbandingan, anggaran Direktorat Asia Timur dan Pasifik di tahun 2019 adalah Rp. 6.555.689.000 (enam miliar lima ratus lima puluh lima juta enam ratus delapan puluh sembilan rupiah) dengan realisasi sebesar 98.88% atau sebesar RP 6.493.982.341 (enam miliar empat ratus Sembilan puluh tiga juta sembilan ratus delapan puluh dua ribu tiga ratus empat puluh satu rupiah).
Anggaran tahun 2018 adalah Rp. 7.398.971.000 (tujuh miliar tiga ratus sembilan puluh delapan juta sembilan ratus tujuh puluh satu ribu rupiah) dengan realisasi sebesar 99,76% atau sebesar Rp. 7.381.431.000 (tujuh miliar tiga ratus delapan puluh satu juta empat ratus tiga puluh satu ribu rupiah).
Adapun anggaran tahun 2017 adalah Rp 5.638.435.000 (Lima miliar enam ratus tiga puluh delapan juta empat ratus tiga puluh lima ribu Rupiah) dengan realisasi sebesar 99.39% atau sebesar 5.603.929.238,- (lima miliar enam ratus tiga juta sembilan ratus dua puluh puluh sembilan ribu dua ratus tiga puluh delapan Rupiah).
Dengan demikian, dapat ditarik kesimpulan bahwa terdapat penurunan serapan di tahun 2020 dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Turunnya serapan diakibatkan sulitnya
42
pelaksanaan kegiatan di masa pandemi, baik dikarenakan pembatasan sosial berskala besar yang diterapkan pemerintah secara nasional maupunpenutupan perbatasan negara-negara mitra. Dalam menghadapi tantangan tersebut, pelaksanaan kegiatan dialihkan dari pelaksanaan secara fisik menjadi pelaksanaan secara virtual melalui video conference. Pelaksanaan kegiatan secara virtual membuat Direktorat Asia Timur dan Pasifik tetap dapat menjalankan kinerjanya, namun serapan anggaran menjadi kurang maksimal.