• Tidak ada hasil yang ditemukan

Oleh: ALDA SYAVIRA NIM

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Oleh: ALDA SYAVIRA NIM"

Copied!
116
0
0

Teks penuh

(1)

HUBUNGAN DUKUNGAN SOSIAL PETUGAS DENGAN KESADARAN BERIBADAH PENYANDANG DISABILITAS TUNA DAKSA DI BALAI BESAR REHABILITASI VOKASIONAL PENYANDANG

DISABILITAS (BBRVPD) CIBINONG

Skripsi

Diajukan Kepada Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Sosial

(S.Sos)

Oleh:

ALDA SYAVIRA NIM. 11160520000003

PROGRAM STUDI BIMBINGAN PENYULUHAN ISLAM FAKULTAS ILMU DAKWAH DAN ILMU KOMUNIKASI

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

(2)
(3)
(4)
(5)

i ABSTRAK

Alda Syavira, 11160520000003, Hubungan Dukungan Sosial Petugas Dengan Kesadaran Beribadah Penyandang Disabilitas Tuna Daksa Di Balai Besar Rehabilitasi Vokasional Penyandang Disabilitas (BBRVPD) Cibinong, Di Bawah Bimbingan Ir. Noor Bekti Negoro, SE., M.Si

Manusia selain disebut sebagai makhluk sosial juga dapat disebut sebagai makhluk yang beragama. Penyandang disabilitas pada dasarnya sangat membutuhkan bantuan dari orang lain. Ibadah merupakan salah satu ajaran Allah SWT yang wajib dikerjakan. Kesadaran beribadah akan memunculkan sikap keagamaan yang dijalankan seseorang yang mendorong untuk bertikah laku. Sebagai makhluk sosial manusia senantiasa membutuhkan dukungan dan bantuan dari orang lain terutama pada penyandang disabilitas tuna daksa. Maka adanya dukungan sosial yang dilakukan oleh petugas lembaga penting adanya guna meningkatkan kualitas hidup penyandang disabilitas tuna daksa terutama dalam hal beribadah.

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahuin hubungan Dukungan Sosial Petugas dengan Kesadaran Beribadah Penyandang Disabilitas tuna daksa. Penelitian ini menggunakan pendekatan metodologi kuantitatif dengan metode survei dan kuesioner sebagai instrumen pengumpulan data. Jumlah sampel penelitian ini sebanyak 45 responden. Teknik analisis data menggunakan korelasi Pearson Product. Program yang digunakan untuk mengolah data adalah Microsoft Excel dan SPSS for

Windows 20.0.

Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara dukungan sosial petugas dengan kesadaran beribadah di BBRVPD Cibinong. Hal tersebut terbukti dari hasil Uji Korelasi Pearson Product dengan nilai signifikansi sebesar 0,000 < 0,5 dan nilai koefisien korelasi sedang (0,617**). Hal ini berarti semakin tinggi dukungan sosial yang diberikan oleh petugas maka semakin tinggi kesadaran beribadah penyandang disabilitas tuna daksa di Balai Besar Rehabilitasi Vokasional Penyandang Disabilitas (BBRVPD) Cibinong.

Kata Kunci: Dukungan Sosial, Kesadaran Beribadah, Penyandang Disabilitas Tuna Daksa

(6)

ii

Assalamu’alaikum Warahmatullahi wabarakatuh

Bismillahirahmannirahim Dengan menyebut nama Allah

yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Shalawat serta salam disampaikan kepada Nabi Muhammad SAW. Segala Puji dan syukur selalu dipanjatkan ke hadirat Allah SWT yang selalu melimpahkan hidayah, taufik, serta rahmat dan berkahnya kepada peneliti atas izin-Nya sehingga peneliti bisa menyelesaikan skripsi dengan judul “Dukungan Sosial Petugas dengan Kesadaran Beribadah Penyandang Disabilitas Tuna Daksa Di Balai Besar Rehabilitasi Vokasional Penyandang Disabilitas (BBRVPD) Cibinong” yang merupakan syarat memperoleh gelar Sarjana Sosial (S.Sos) di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi, Jurusan Bimbingan Penyuluhan Islam.

Penulis menyadari bahwa dalam menyelesaikan skripsi ini tidak luput dari kekurangan dan kesalahan, namun penulis berharap, skripsi ini dapat bermanfaat untuk memberikan informasi maupun berbagi ilmu pengetahuan. Penulis mengharapkan koreksi dan saran untuk menyempurnakan skrisi ini agar lebih bermanfaat bagi pembaca.

Dalam penyusunan skripsi ini penulis juga mendapatkan banyak bantuan dari berbagai pihak, baik berupa moril maupun materil. Maka pada kesempatan ini penulis mengucapkan terimakasih kepada segenap orang yang membantu penulis dalam

(7)

iii menyelesaikan skripsi ini, diantaranya:

1. Suparto, M.Ed., Ph.D selaku Dekan Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Dr. Siti Napsiyah Ariefuzzaman, MSW selaku Wakil Dekan I Bidang Akademik, Dr. Sihabuddin Noor, MA selaku Wakil Dekan II Bidang Administrasi Umum, Drs, Cecep Castrawijaya, MA selaku Wakil Dekan III Bidang Kemahasiswaan, Alumni dan Kerjasama.

2. Ir. Noor Bekti Negoro, SE, M.Si selaku Ketua Program Studi Bimbingan Penyuluhan Islam Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, sekaligus Dosen Pembimbing yang senantiasa meluangkan waktu, tenaga dan pikiran untuk memberikkan masukkan dan arahan dalam menyusun skripsi ini.

3. Artiarini Puspita Arwan, M.Psi selaku Sekretaris Program Studi Bimbingan Penyuluhan Islam Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta 4. Tasman, M.Si selaku Dosen Penasehat Akademik Penulis,

yang telah membimbing dan memotivasi penulis selama penyusunan skripsi.

5. Seluruh Dosen Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi khusunya Jurusan Bimbingan Penyuluhan Islam, yang telah memberikan ilmunya serta bimbingannya selama perkuliahan.

6. Kedua Orang Tua Penulis, Bapak dan Mama yang selalu mendoakan dan memberikan dukungan yang tak terhitung

(8)

iv

Serta kakak dan adik penulis, Mba Gita, Lia dan Bang Edo. 7. Pihak Balai Besar Rehabilitasi Vokasional Penyandang

Disabilitas (BBRVPD) Cibinong, Bapak Manggana Lubis selaku kepala Balai yang telah mengizinkan penulis untuk mengadakan penelitian di Balai tersebut. Bapak Rangga, Ibu Puji dan Ibu Ocha selaku perantara perizinan juga administrasi sekaligus pembimbing di Balai Besar Rehabilitasi Vokasional Penyandang Disabilitas (BBRVPD) Cibinong.

8. Sahabat dan Kerabat penulis yang senantiasa memberikan semangat dan doa kepada penulis. TeaterTeman: Nia, Billa, Dhita, Arfan, Farhan, Agus dan Mas Eka. Seluruh temen-temen BPI angakatan 2016 khususnya, Debbie, Ufai, Rizka, Difa, Farah, Mute, Mala, Ula, Sarah, Mahran, Anwar dan Imey.

Penulis mendoakan semoga bantuan, dukungan, semangat, perhatian dan bimbingan dari pihak mendapatkan pahala dan berkah dari Allah SWT. Penulis mengucapkan syukur, terimaksih dan permohonan maaf apabila selama ini terdapat banyak kesalahan. Semoga skripsi ini bermanfaat bagi pihak manapun tanpa terkecuali.

Jakarta, 21 Juli 2020

(9)

v

DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESAHAN DOSEN PEMBIMBING LEMBAR PENGESAHAN

ABSTRAK ... i

KATA PENGANTAR ... ii

DAFTAR ISI ... v

DAFTAR TABEL ... viii

DAFTAR LAMPIRAN ... x

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... 1

B. Identifikasi Masalah ... 9

C. Batasan dan Rumusan Masalah ... 10

D. Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 11

E. Tinjauan Kajian Terdahulu ... 12

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Dukungan Sosial ... 19

1. Pengertian Dukungan Sosial ... 19

2. Aspek-aspek Dukungan Sosial ... 20

3. Manfaat Dukungan Sosial ... 22

4. Faktor Terbentuknya Dukungan Sosial ... 23

5. Sumber-sumber Dukungan Sosial ... 23

B. Kesadaran Beribadah ... 24

1. Pengertian Kesadaran ... 24

(10)

vi

D. Kerangka Pemikiran ... 35

E. Hipotesis Penelitian ... 38

BAB III Metode Penelitian A. Jenis Penelitian ... 39

B. Populasi dan Sampel Penelitian ... 39

C. Waktu dan Tempat Penelitian ... 41

D. Sumber Data ... 41

E. Instrumen Penelitian... 43

F. Teknik Pengumpulan Data ... 48

G. Teknik Analisis Data ... 50

BAB IV TEMUAN PELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Gambaran Umum Balai Besar Rehabilitasi Vokasional Penyandang Disabilitas (BBRVPD) Cibinong-Bogor .. 52

1. Sejarah Singkat BBRVPD Cibinong-Bogor ... 52

2. Visi, Misi dan Moto BBRVPD Cibinong-Bogor .... 53

3. Struktur kepala BBRVPD Cibinong-Bogor ... 54

B. Temuan dan Hasil Analisis Data ... 55

1. Karakteristik Responden ... 55

2. Deskripsi Hasil Penelitian ... 58

a. Uji Validitas ... 58

b. Uji Reliabilitas ... 66

3. Analisis Data Penelitian ... 67

a. Uji Normalitas Kolmogorov-Smirnov ... 67

(11)

vii

BAB V SIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan ... 78 B. Saran ... 79

(12)

viii

2. Tabel 2. Skala Likert 44

3. Tabel 3. Blue Print Skala Variabel Dukungan 46 Sosial sebelum uji instrumen

4. Tabel 4. Blue Print Skala Variabel Dukungan 46 Sosial Setelah uji insturmen

5. Tabel. 5 Blue Print Skala Variabel Kesadaran 47 Beribadah Sebelum uji instrumen

6. Tabel. 6 Blue Print Skala Variabel Kesadaran 47 Beribadah Setelah uji instrumen

7. Tabel. 7 Kekuatan Korelasi 51

8. Tabel. 8 Struktur Kepala Balai 54

9. Tabel. 9 Karakteristik Responden Berdasarkan Usia 56 10. Tabel. 10 Karakteristik Responden Berdasarkan 57 Jenis Kelamin

11. Tabel. 11 Karakteristik Responden Berdasarkan 57 Pendidikan Terakhir

12. Tabel. 12 Hasil Uji Validitas Dukungan Sosial (X) 59 Dan Kesadaran Beribadah (Y)

13. Tabel. 13 Hasil Output Uji Reliabilitas Skala 66 Dukungan Sosial (X)

14. Tabel. 14 Hasil Output Uji Reliabilitas Skala 67 Kesadaran Beribadah (Y)

15. Tabel. 15 Hasil Uji Normalitas 68

(13)

ix

17. Tabel. 17 Nilai Koefisien antara Bagian dari 71 Dukungan Sosial dengan Kesadaran

Kesadaran Beribadah Penyandang Disabilitas Tuna Daksa

(14)

x Lampiran 2 Data Skor Responden Lampiran 3 Dokumentasi

(15)

1

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pada dasarnya setiap manusia ingin dilahirkan dengan tubuh yang sempurna, sehat dan utuh tanpa kekurangan satupun dari bagian tubuhnya. Manusia diciptakan oleh Tuhan sebagai makhluk yang paling sempurna baik jasmani maupun rohani. Dalam kehidupan sehari-hari setiap individu banyak melakukan penyesuaian. Individu menggunakan caranya sendiri untuk mengatasi masalah, cobaan dan perubahan dalam hidupnya.

Berdasarkan uraian di atas, salah satu cobaan atau perubahan hidup yang sulit diterima dan terasa berat adalah yang mengalami kecacatan fisik (penyandang disabilitas tuna daksa). Adapun penyebab yang dapat menimbulkan kecacatan fisik (kerusakan) pada manusia yang menyababkan terjadinya tuna daksa antara lain akibat kecelakaan, akibat keturunan, cacat sejak lahir, kelayunan otot dan sebagainya. Disabilitas adalah cacat atau ketidak mampuan organ tubuh yang cacat dan tidak berfungsi (rusak), terganggu, juga berkaitan dengan gangguan fungsional1.

Seorang yang mengalami disabilitas khususnya tuna daksa memiliki kesamaan hak seperti manusia pada umumnya. Terdapat dalam Undang-Undang Republik Indonesia tahun 2016 bagian kesepuluh hak keagamaan Pasal 14 point (D) meliputi “mendapatkan pelayanan sesuai dengan kebutuhan pada saat

1 J.P Chaplin, Terjemah Kartini Kartono, Kamus Lengkap

(16)

menjalankan ibadat menurut agama dan kepercayaannya”2. Pasal ini menjelaskan bahwa seorang penyandang disabilitas membutuhkan penanaman keagamaan terutama ibadah dari orang lain sesuai kebutuhannya.

Menurut Pusdatin dan Direktorat orang dengan kecacatan pada tahun 2009 terdapat 2.126.000 penyandang disabilitas di Indonesia, 717.312 diantaranya penyandang disabilitas tuna daksa dengan presentase 33,74% penduduk dari 24 provinsi yang mengalami disabilitas tuna daksa. Sementara jika merujuk dari data Pusdatin dari Kementrian Sosial tahun 2010, jumlah penyandang disabilitas di Indonesia sebanyak 11.580.117 yang terdiri dari penyandang disabilitas tuna rungu wicara, tuna daksa, penyandang disabilitas mental, serta kronis3. Merujuk pada konteks ketenagakerjaan dan transmigrasi RI menyatakan jumlah penyandang disabilitas di tahun 2015 sebanyak 7.126.409 jiwa, sedangkan jumlah penyandang disabilitas tuna daksa berjumlah 1.852.866 jiwa.

Lembaga Balai Besar Rehabilitasi Vokasional Penyandang Disabilitas (BBRVPD) ini didirikan pada tahun 1997, dibawah naungan kementrian sosial yang berlokasi di jalan keradenan Cibinong Bogor. Selain memberikkan program vokasional berupa pelatihan keterampilan untuk penyandang

2 UU RI No. 69 Tahun 2016,Tentang Penyandang Disabilitas, 2016 (https://ngada.org/uu8-2016bt.htm), diakses pada tanggal 13 Juni 2020 pukul 16.29 WIB

3 Kementrian Sosial Republik Indonesia, tentang Kementrian Sosial

dalam Angka Pembangunan Kesejateraan Sosial, Tahun 2012, h. 54

(http://perpustakaan.bappenas.go.id). Diakses pada tanggal 13 Juni 2020 pukul 16.39 WIB

(17)

3

disabilitas agar dapat terjun langsung ke lapangan pekerjaan, dukungan sosial juga diberikkan oleh petugas yang berada di dalam balai ini yaitu oleh pembina agama, pembimbing rohani, pembimbing mental, pramu sosial, pekerja sosial, instruktur, staff dan lain-lain.

Pada dasarnya penyandang disabilitas mengalami ketidak yakinan, tidak percaya diri, cenderung merasa malu dan rendah diri untuk melakukan hal-hal yang dapat dikerjakan orang normal fisik pada umumnya. Dalam pelaksaan ibadah terutama ibadah yang mengandalkan fisik seperti Shalat dengan cara tiduran, berada dikursi roda, shalat dengan keadaan tangan hanya satu, duduk hingga pengerjaan shalat hanya berdiri tidak melakukan gerakkan shalat dengan semestinya penyandang disabilitas biasanya cenderung merasa tidak percaya diri dengan ibadah yang dikerjakan, maka penyandang disabilitas tuna daksa maka penyandang disabilitas tuna daksa memerlukan dukungan guna menjalankan kehidupan sehari-hari layaknya orang normal pada umumnya.

Manusia selain disebut sebagai makhluk sosial juga dapat disebut sebagai makhluk yang beragama. Agama dapat dijadikan suatu kekuatan yang dapat melindungi, membimbing dan mendorong penyandang disabilitas. Setiap muslim baik dalam berfikir maupun bertindak harus diperhatikan agar dilandasi oleh nilai keislaman.

Kesadaran adalah kesiagaan (awarness) seseorang terhadap peristiwa-peristiwa di lingkungannya seperti pemandangan dan suara-suara dari lingkungan sekitarnya serta

(18)

peristiwa-peristiwa yang meliputi kognitif yang meliputi memori, pikiran, perasaan dan sensasi fisik4. Kesadaran diri seseorang diperoleh melalui puncak spiritual. Untuk itu seorang muslim tidak sekedar memberikan pemahan berkaitan denganajaran-ajaran islam, tetapi juga menggugah kesadaran manusia bahwa sudah menjadi kodratnya bahwa diciptakan manusia hanya untuk beribadah kepada Allah5.

Ibadah merupakan salah satu ajaran Allah SWT yang wajib dikerjakan. Hal ini terdapat di dalam ajaran-ajaran yang terkadung dalam Al-Qur’an, ibadah kepada Allah SWT berlangsung atas dasar rasa cinta kepada Allah beserta ajaran-Nya diiringi dengan kerendahan hati dan diri yang sempurna. Ibadah yaitu peraturan yang mengatur hubungan langsung dengan Allah SWT.

Pengertian ibadah mencakup pelaksanaan aturan, hukum, ketentuan, tata cara, perintah, kewajiban dan larangan dalam hubungannya dengan Tuhan, manusia, masyarakat dan alam. Ibadah dalam arti luas mencakup seluruh kehendak, cita-cita, sikap dan tingkah laku manusia berdasarkan penghayatan ke-Tuhanan disertai niat dengan ikhlas karena Allah6. Seperti halnya dalam surat Adz-Zariyat (51) ayat 56 yang berbunyi:

ِنو ُد ُبْع َي ِل

َّلَِّإ َسْنِ ْلْاَو َّن ِج ْلا ُت ْقَل َخ اَمَو

4 Robert L, Solso, dkk., Psikologi Kognitif (Jakarta: Erlangga, 2007), h. 240

5 Muhktar Solihin, dkk., Hakikat Manusia, (Bandung: CV Pustaka Setia, 2004), h. 22

6 Abdul Aziz Ahyadi, Psikologi Agama Kepribadian Muslim

(19)

5

Artinya: “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan

supaya mereka beribadah kepada-Ku.”

Dari ayat tersebut terlihat bahwa tujuan Allah menciptakan jin dan manusia adalah untuk beribadah kepada-Nya. Ibadah yang dijalankan harus sesuai dengan apa yang diperintahkan dengan penuh ketaatan dan ketundukkan kepada Allah SWT. Tugas utama manusia hidup di dunia adalah untuk beribadah, jadi segala sesuatu yang ingin dilakukan harus didasarkan dan diniatkan untuk beribadah serta mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Kesadaran beribadah merupakan kecenderungan manusia mengamalkan norma atau peraturan yang mengatur hubungan manusia dengan Allah SWT, kesadaran beribadah hakikatnya adalah usaha mempertahankan, memperbaiki dan menyempurnakan yang telah ada sesuai dengan harapan7. Hal ini menunjukkan bahwa kesadaran beribadah menyangkut dengan segala kejiwaan8. Dari uraian tersebut dapat diartikan bahwa dari kesadaran beribadah tersebut akan muncul sikap keagamaan yang dijalankan seseorang yang mendorong untuk bertingkah laku sesuai dengan anjuran dan ketaatan agama yang diyakininya.

Menjalankan ibadah yang diwajibkan kepada umat islam tidak hanya mengandung nilai spiritual, dalam realitas sehari-hari

7 Reza Kurnia Akbar, Skripsi: “Pengaruh menonton Sinetron Azab di

Indosiar terhadap Tingkat Kesadaran Beribadah Ibu Rumah Tangga di Kecamatan Tampan Pekanbaru” (Riau: UIN Sultan Syarif Kasim Riau, 2019)

h. 5

8 Sururin, Ilmu Jiwa Agama (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2004), h. 21

(20)

ibadah membentuk kepribadian dan sikap mental yang mulia. Sesuai dengan konteks penciptaan manusia yang dijadikan Allah sebagai makhluk paling mulia9. Kesadaran adalah sebab dari perilaku, tingkah laku ditentukan oleh keseluruhan pengalaman yang disadari oleh pribadi10 mencakup aspek kognitif, aspek afektif dan aspek motorik.

Sebagai makhluk sosial manusia senantiasa membutuhkan dukungan dan bantuan dari orang lain. Terciptanya dukungan sosial dari petugas yang berada di balai membuat penyandang disabilitas daksa merasa dicintai, diperhatikan, dihargai dan menjadi bagian dalam kelompok atau dapat dikatakan bahwa individu mendapatkan kenyamanan secara fisik dan psikologis.

Sekolah merupakan lembaga pendidikan formal yang mempunyai program yang sistematik dalam melaksanakan bimbingan, pengajaran dan latihan kepada anak agar mereka berkembang sesuai dengan potensinya11. Menurut Hurlock sekolah mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap kepribadian anak. Balai Besar Rehabilitasi Vokasional Penyandang Disabilitas (BBRVPD) dapat dikatakan lembaga pendidikan karena mempunyai sistematik pelaksanaan program yang sama dengan lembaga pendidikan formal.

9 Khairunnas Rajab, Psikologi Ibadah: Memakmurkan Kerajaan Ilahi

di Hati Manusia, (Jakarta: Amzah, 2018), h. 77

10 Jalaluddin Rahmat, Psikologi Agama, (Jakarta: Raja Grafindo, 1998 ), h. 165

11 Syamsu Yusuf, Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2014), h. 140

(21)

7

Rock dalam Smet (1994) mengatakan bahwa dukungan sosial merupakan fungsi dari ikatan sosial. Dukungan sosial sebagai segala bentuk bantuan atau pertolongan yang didapat sepanjang kehidupan seseorang yang bertujuan untuk membantu seseorang mencapai kebahagiaan12, meliputi aspek dukungan emosional, dukungan informasi dan dukungan instrumental.

Beribadah memiliki berbagai manfaat bagi penyandang disabilitas dalam kehidupan, seperti bahagia dalam hidupnya, menghargai dirinya, mensyukuri nikmat yang diberikan oleh Allah walaupun terdapat kekurangan fisik yang dirasakan dan lain sebagainya. Maka adanya dukungan sosial yang dilakukan oleh petugas lembaga diharapkan memiliki hubungan dengan kesadaran beribadah guna meningkatkan kualitas hidup penyandang disabilitas tuna daksa.

Dukungan sosial digunakan untuk meningkatkan kesadaran, pengetahuan, keterampilan dan sikap penyandang disabilitas agar memiliki kemampuan untuk memecahkan masalah yang dihadapinya. Dari sekian banyaknya manfaat beribadah, maka dapat muncul kesadaran beribadah. Dukungan sosial bertujuan untuk meningkatkan kesadaran, kesadaran dalam islam merupakan hal yang penting. Maka kesadaran beribadah dapat diartikan bagian yang hadir dan terasa dalam pikiran setiap manusia untuk mendekatkan diri dan menjalankan apa yang diperintahkan oleh Allah SWT guna mencapai situasi kehidupan yang lebih baik. Ketika didalam lingkungan tercipta keadaan

12 Istiqomah Wibowo, dkk.., Psikologi Komunitas, (Depok: LPSP3,2011), h. 33

(22)

penanaman nilai-nilai agama yang baik, maka akan terbentuk kesadaran beribadah dengan sendirinya.

Berdasarkan hasil observasi di Balai Besar Rehabilitasi Vokasional Penyandang Disabilitas (BBRVPD) menunjukkan lembaga berusaha memberikkan dan menanamkan nilai-nilai keagamaan guna mencapai kesadaran beribadah penyandang disabilitas tuna daksa, hasil pengamatan yang telah dilakukan bahwa tingkat kesadaran beribadah pada penyandang disabilitas daksa masih terbilang rendah, seperti halnya tidak semua penyandang disabilitas daksa yang bergegas pergi kemasjid untuk melaksanakan sholat berjamaah yang rutin dilaksanakan di lembaga, lalu hanya terlihat segelintir penyandang disabilitas yang melakukan tadarus Al-Qur’an setelah pelaksanaan shalat berjamaah di masjid, tetapi lain halnya dengan membatu sesama, penyandang disabilitas daksa mempunyai simpati yang cukup tinggi terhadap sesama. Mereka tidak segan untuk menolong temannya ataupun petugas yang membutuhkan bantuan mereka, ramah terhadap orang baru dan tidak malu untuk memberikkan senyuman karena sesungguhnya senyum merupakan sebagian dari iman. Namun ada kalanya mereka merasa malu serta rendah diri untuk membantu sesama yang berada diluar balai karena keterbatasan fisik yang mereka punya.

Petugas memberikkan pengetahuan serta arahan tentang keutamaan menerapkan ibadah mahdah dan ghairu mahdah, apakah terdapat perubahan sikap setelah diberi nasehat, masukkan dan pengetahuan. Dukungan sosial dari petugas dalam meningkatkan kesadaran beribadah penyandang disabilitas

(23)

9

dianggap penting, karena petugas yang ada di lembaga BBRVPD adalah sosok panutan yang dapat memberikkan arahan terhadap persoalan yang dihadapi setiap penyandang disabilitas daksa terutama dalam hal ibadah, maka dukungan sosial petugas sebagai upaya untuk membangun kesadaran beribadah para penyandang disabilitas tuna daksa melalui pemberian arahan serta keutamaan menjalankan ibadah dengan teknik tertentu untuk mencapai hasil yang ditentukan.

Agama terutama ibadah berkaitan langsung dengan penguatan yang ada didalam diri mereka biasanya berupa rasa syukur. Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, menjadi penting dan menarik untuk melakukan penelitian tentang “Hubungan Dukungan Sosial Petugas Dengan Kesadaran

Beribadah Penyandang Disabilitas Tuna Daksa Di Balai Besar Rehabilitas Vokasional Penyandang Disabilitas (BBRVPD) Cibinong”

B. Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah diatas, maka masalah yang teridentifikasi adalah:

1. Dukungan sosial sebagai upaya untuk membangun kesadaran beribadah para penyandang disabilitas tuna daksa melalui sebuah proses pemberian arahan dengan cara tertentu untuk mencapai hasil yang ditentukan

2. Berdasarkan hasil observasi, rendahnya kesadaran beribadah pada penyandang disabilitas tuna daksa, salah satu faktor ialah merasa malu serta rendah diri jika ingin melaksanakan

(24)

ibadah wajib maupun menolong orang lain karena keterbatasan fisik yang dimilikinya.

C. Batasan dan Rumusan Masalah

1. Batasan Masalah

Suatu penelitian ilmiah diperlukan adanya pembatasan masalah, hal ini bertujuan agar penulis membatasi masalah agar lebih terarah. Pembatasannya sebagai berikut:

a. Dukungan Sosial, hubungan interpersonal yang didalamnya berisi bantuan yang melibatkan aspek 1) dukungan emosional; dukungan kasih sayang, dukungan berupa rasa emapti, 2) dukungan informasi; nasehat dan saran. 3) dukungan instrumental; berupa bantuan nyata. b. Kesadaran beribadah merupakan rangkaian perbuatan

yang didasari oleh alam bawah sadar untuk mengerjakan perintah Allah meliputi aspek kognitif, afektif dan motorik. Ibadah yang dimaksud dalam penelitian ini terdiri dari ibadah mahdah dan ghairu mahdah

c. Subjek penelitian ini adalah penyandang disabilitas tuna daksa yang berada di Balai Besar Rehabilitasi Vokasional Penyandang Disabilitas (BBRVPD) – Cibinong

2. Rumusan Masalah

Agar perumusan penelitian ini lebih terarah, maka masalah yang akan diteliti dirumuskan sebagai berikut:

(25)

11

1) Bagaimana hubungan antara dukungan sosial petugas dengan kesadaran beribadah penyandang disabilitas tuna daksa Di Balai Besar Rehabilitasi Vokasional Penyandang Disabilitas (BBRVPD) – Cibinong ?

D. Tujuan dan Manfaat Penelitian

1. Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:

1) Untuk mengetahui bagaimana hubungan antara dukungan sosial petugas dengan kesadaran beribadah penyandang disabilitas tuna daksa di Balai Besar Rehabilitasi Vokasional Penyandang Disabilitas BBRVPD Cibinong

2. Manfaat penelitian a. Manfaat akademis

1) Diharapkan penelitian ini dapat menambah pengetahuan baru mengenai dukungan sosial bagi penyandang disabilitas tuna daksa

2) Diharapkan penelitian ini dapat memberikan sumbangan pemikiran yang dapat dijadikan bahan acuan tentang disabilitas yang berkaitan dengan kesadaran beribadah penyandang disabilatas tuna daksa khususnya di Balai Besar Rehabilitasi Vokasional Penyandang Disabilitas (BBRVPD) Cibinong.

(26)

b. Manfaat praktis

1) Untuk mengembangkan ilmu pengetahuan sosial khususnya dalam bidang ilmu dakwah dan ilmu komunikasi

2) Agar lebih memahami dan mendalami ilmu pengetahuan penulis khususnya dalam hal bimbingan dan penyuluhan Islam mengenai pemberian dukungan sosial untuk meningkatkan kesadaran beribadah penyandang disabilitas di Balai Besar Rehabilitasi Vokasional Penyandang Disabilitas

3) Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi sumbangan pemikiran yang akan menjadi masukan kepada Balai Besar Rehabilitasi Vokasional Penyandang Disabilitas dalam menentukkan dukungan sosial untuk meningkatkan kesadaran beribadah penyandang disabilitas tuna daksa.

E. Tinjauan kajian Terdahulu

1. Dukungan Sosial Dan Motivasi Dalam Beribadah Pada Lansia Di Pondok Lansia Berdikari Tangerang

Disusun oleh Syifa Akmalia Kholilurohmah, mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi, Jurusan Bimbingan Penyuluhan Islam, tahun 2019. Skripsi ini berfokus pada pengaruh dukungan sosial bagi motivasi lanjut usia dalam beribadah. Metode penelitian yang digunakan metode

(27)

13

kualitatif berupa pengamatan terhadap suatu pesistiwa dengan pendekatan fenomenologi yaitu menggambarkan fenomena serta pengalaman lanjut usia mengenai dukungan sosial serta motivasinya dalam beribadah.

Hasil dari penilitian ini ialah hanya sebagian kecil lansia yang mendapatkan dan merasakan dukungan sosial keluarga, sehingga dukungan tersebut menjadi kurang maksimal padahal motivasi lansia dalam beribadah cukup membantu dengan adanya dukungan sosial.

Terdapat sedikit kesamaan pada penelitian Syifa dengan penelitian ini yaitu pada variabel dukungan sosial, meskipun demikian subjek dan metode penelitian ini berbeda. Syifa menggunakan subjek lansia dan metode kualitatif, sedangkan penelitian ini menggunakan subjek penyandang disabilitas daksa dengan metode kuantitatif.

2. Hubungan Antara Dukungan Sosial Dengan Kesiapan Mental Berkarir Penyandang Disabilitas Daksa Di Balai Besar Rehabilitasi Sosial Bina Daksa (BBRSBD) Prof. Dr. Soeharso Surakarta

Disusun oleh Nur Rahmah Mutia Ardzi, mahasiswi Fakultas Ushuluddin dan Dakwah Jurusan Bimbingan Konseling Islam, tahun 2018. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif korelasi. Hasil dari penelitian ini menyatakan adanya hubungan positif dan signifikan antara dukungan sosial dengan kesiapan mental berkarir pada penyandang disabilitas daksa karna hasil yang diperoleh r

(28)

hitung (0,580) > r tabel (0,278), tetapi penulis memberikan kesimpulan bahwa tidak adanya hubungan pada variable dukungan sosial dengan variabel kesiapan mental.

Kelebihan dari penelitian ini terdapat kerangka berfikir yang menjadikan penelitian ini lebih terarah dan jelas tujuan penelitian ini. penelitian ini memiliki kesamaan pada variabel bebas dan subjek penelitian, meskipun demikian pada variabel terikat yang akan diteliti oleh peneliti berbeda.

3. Pengaruh Dukungan Sosial Dan Bimbingan Agama Islam Terhadap Kepercayaan Diri Penyandang Tunadaksa Di Yayasan Pembinaan Anak Cacat (YPAC) Kebayoran Baru Jakarta Selatan

Disusun oleh Abdul Muis, mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi, Jurusan Bimbingan Penyuluhan Islam, tahun 2015. Hasil dari penelitian ini adalah dukungan sosial tidak berpengaruh secara signifikan terhadap kepercayaan diri penyandang tuna daksa, sedangkan bimbingan agama islam mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap kepercayaan diri penyandang tuna daksa. Jika kedua variabel diuji secara bersama dukungan sosial dengan bimbingan agamana menujukan hasil terdapat pengaruh terhadap kepercayaan diri.

Penelitian ini terdapat kesamaan pada variabel bebas 1 (dukungan sosial) dan subjek penelitian

(29)

15

(penyandang disabilitas tuna daksa). Meskipun demikian variabel terikat berbeda yaitu pada penelitian ini menggunakan variabel terikat kesadaran beribadah sedangkan penelitian Abdul Muis menggunakan variabel terikat kepercayaan diri.

4. Pengaruh Lingkungan Keluarga dan Keaktifan Mengikuti

Kegiatan Malam Bina Iman dan Takwa Terhadap Kesadran Beribadah siswa di MA Muhammadiyah Bandar Pacitan Tahun 2017/2018

Disusun oleh Lusi Widi, mahasiswi IAIN Ponorogo Jurusan Pendidikan Agama. Tujuan penlitian ini untuk mengetahui kondisi lingkungan keluarga siswa di MA Muhammadiyah, mengetahui keatifakn siswa dalam mengikuti kegiatan malam bina iman dan takwa, mengetahui kesadaran beribadah pada siswa Muhammadiyah dan pengaruh faktor lingkungan keluarga, lingkungan sekolah dan lingkungan masyarakat .

Penelitian ini menggunakan penelitian kuantitatif

Expost Facto, dengan menggunakan teknik random sampling. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa

kondisi lingkungan keluarga siswa MA Muhammadiyah dalam kondisi sedang dengan presentase 69,2%. Sedangkan kesadaran beribadah dalam kondisi sedang dengan presentase sebesar 67,3%. Sedangkan terdapat pengaruh yang signifikan dari lingkungan keluarga dan

(30)

keaktifan mengikuti kegiatan mabit terhadap kesadaran beribadah.

Kekurangan dari penelitian Lusi adalah pada Definisi Operasional (DO) tidak adanya tabel yang menyajikan teori yang digunakan, indikator beserta sub-indikator. Definisi Operasional disajikan dalam bentuk paragraf dimana kurang dapat dipahami oleh pembaca. Kelebihan penelitian ini menjelaskan hasil temuan secara rinci dan menggunakan kalimat yang mudah dimengerti oleh pembaca.

Perbedaan penelitian tersebut dengan penelitian penulis ialah jika penelitian tersebut membahas tentang pengaruh lingkungan keluarga pada siswa Muhammadiyah dengan kesadaran beribadah, sedangkan pada penelitian ini membahas dukungan sosial petugas dengan kesadaran beribadah penyandang disabilitas tuna daksa.

5. Hubungan Intensitas Menonton Film Dengan Kesadaran Akan Nilai-Nilai Ibadah Dalam Film Pendek Cinta Subuh Di Youtube

Disusun oleh Putri Dwi Pangestiningtiyas, mahasiswi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam, Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi, tahun 2019. Skripsi ini berfokus pada fenomena sosial yang dialami anak muda dengan bentuk perbaikan kesadaran akan nilai-nilai ibadah yang dialami oleh mahasiswa Lembaga Dakwah Kampus.

(31)

17

Penelitian ini menggunakan penelitian kuantitatif dengan pendekatan kuantitatif korelasional. Hasil dari penelitian ini menunjukan hubungan yang lemah dan tidak sugnifikan antara intensitas menonton film dengan kesadaran akan nilai-nilai ibadah dalam film pendek cinta subuh.

Kekurangan dalam penelitain ini ialah pada pembagian dimensi variabel kesadaran beribadah, penelitian ini hanya menurunkan teori hanya pada teori kesadaran, kurang sesuai dengan variabel yang digunakan yaitu kesadaran beribadah. Sedangkan kelebihan dari penelitian ini ialah menjelaskan hasil temuan secara rinci serta menggunakan kalimat yang sederhana dan dapat dipahami dengan mudah oleh pembaca.

Penelitian ini memiliki kesamaan pada variabel terikat yaitu kesadaran beribadah, tetapi terdapat perbedaan pada variabel Y pada penelitian Putri yaitu intensitas menonton sedangkan peneliti meneliti dukungan sosial

6. Pengaruh Intensitas Menonton Sinetron Azab di Indosiar terhadap Tingkat Kesadaran Beribadah Ibu Rumah Tangga di Kecamatan Tampan Pekan Baru

Disusun oleh Reza Kurnia Akbar, mahasiswa UIN Sultan Syarif Kasim Riau, Fakultas Dakwah dan Komunikasi, Jurusan Ilmu Komunikasi, tahun 2019. Penelitian ini berfokus pada pengaruh sinetron televisi (sinetron azab) terhadap kehidupan masyarakat terhadap

(32)

kesadaran beribadah khususnya ibu-ibu rumah tangga. Penelitian ini menggunakan pedekatan kuantitatif dengan metode survei.

Hasil yang didapatkan dalam penelitian ini adanya pengaruh menonton sinetron Azab di Indosiar terhadap tingkat kesadaran beribadah dengan menggunakan uji korelasi Product Moment dengan hasil 0,766 dan uji regresi linier sederhana sebesar 58,6%, sedangkan 41,4% yang dipengaruhi oleh variabel lain. maka dapat disimpulkan bahwa jika frekuensi menonton sinetron azab semakin sering dapat meningkatkan kesadaran beribadah ibu rumah tangga.

Kekurangannya dalam penelitian ini adalah pada definisi operasional dan indikator, tidak ada tabel yang menyajikan teori dan definisi operasional, hanya mencantumkan variabel dan indikator saja. Kelebihan dalam penelitian ini ialah dijelaskan secara rinci hasil penelitian yang sudah diujikan.

Perbedaan penelitian Reza dengan penelitian ini adalah jika pada penelitian Reza membahas tentang pengaruh intensitas menonton sinetron azab di indosiar terhadap tingkat kesadaran beribadah ibu rumah tangga, sedangkan pada penelitian ini membahas tentang dukungan dukungan sosial dengan kesadaran beribadah penyandang disabilitas tuna daksa.

(33)

19

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA A. Dukungan Sosial

1. Pengertian Dukungan Sosial

Manusia pada dasarnya adalah makhluk sosial yang tidak bisa hidup sendiri, bersama yang lain mereka membentuk suatu komunitas. Didalam komunitas inilah manusia mendapat dukungan sosial (social support).

Di dalam buku “Psikologi Komunitas” dukungan sosial sebenarnya dapat diidentifikasikan sebagai pertukaran sumber daya antara dua orang, ditujukan untuk meningkatkan kesejahteraan penerima sumber daya tersebut. Dukungan sosial adalah sebagai segala bantuan atau pertolongan yang didapat sepanjang kehidupan seseorang yang bertujuan untuk membantu seseorang mencapai kebahagiaaan1.

Pendapat lain yang menguatkan juga terdapat dalam jurnal

Tazkiya of Psychology yang menyatakan bahwa dukungan sosial

merupakan kumpulan informasi yang menyebabkan individu percaya bahwa ia diperhatikan, bernilai, dan akan mendapat pertolongan ketika ia membutuhkan. Dukungan sosial terdiri dari atas dukungan instrumental, dukungan informasi, dukungan emosi, dan dukungan penghargaan2

1 Istiqomah Wibowo, dkk.., Psikologi Komunitas, (Depok: LPSP3,2011), h. 33

2 Amalia Dianah & Ratri Virianita, Dukungan Sosial dan Konsep Diri

Pekerja Anak dalam Journal Tazkiya of psychology (Fakultas Psikologi UIN

(34)

Rook dalam Smet (1994) mengatakan dukungan sosial merupakan salah satu fungsi dari ikatan sosial, dan ikatan-ikatan sosial tersebut menggaambarkan tingkat kualitas umum dari hubungan interpersonal. Ikatan dan persahabatan dengan orang lain dianggap sebagai aspek yang memberikkan kepuasan secara emosional dalam kehidupan individu. Saat seseorang didukung oleh lingkungan maka segala sesuatu akan terasa mudah3.

Sarason & Shaerin (1986) mendefinisikan dukungan sosial sebagai keadaan yang bermanfaat bagi individu yang diperoleh dari orang lain yang dapat dipercaya4. Dari interaksi ini individu menjadi tahu bahwa orang lain memperhatikan, menghargai dan mencintai dirinya. Individu membutuhkan dukungan, terutama dari orang-orang terdekat, apalagi dengan individu yang mengalami ketuna daksaan.

2. Aspek-Aspek Dukungan Sosial

Terdapat tiga aspek dukungan sosial yang diperlukan seseorang guna mengatasi masakah yang ada didaam hidupnya, sumber yang dikemukakan oleh Dr. Istiqomah dkk., dalam buku Psikologi komunitas menyebutkan ada tiga bentuk dukungan sosial yang mengarah pada problem-focus coping, yaitu5:

3 Smet Bart, Psikologi Kesehatan, (Jakarta: PT. Gramedia Widiasarna Indonesia, 1994) h. 134

4 Fitriana Dyah Sandhaningrum, dkk.., Hubungan Antara Konsep Diri

Dan Dukungan Sosial Dengan Penyesuaian Sosial Pada Penyandang Cacat Tubuh Di Balai Besar Rehabilitasi Sosial Bina Daksa Prof. Dr. Soeharso Surakarta, Jurnal Psikologi Vol. 2 No. 1 Tahun 2010, h. 6

5 Istiqomah Wibowo, dkk.., Psikologi Komunitas, (Depok: LPSP3 UI, cet-3 2017), h. 46

(35)

21

a. Dukungan emosional : merujuk pada kenyamanan dan kepedulian dalam hubungan interpersonal (berupa dorongan dan pemberian semangat)

b. Dukungan infomasi : dukungan yang diberikan berupa nasehat, petunjuk atau pengetahuan

c. Dukungan instrumental : meliputi bantuan secara langsung sesuai dengan apa yang dibutuhkan oleh individu, misalnya memberikan apa yang dibutuhkan oleh individu.

Penelitian ini berfokus pada teori yang berasal dari buku Istiqomah Wibowo dkk. Karena memiliki kesamaan pada hasil observasi yang telah dilakukan dan diturunkan menjadi rumusan masalah.

Didalam buku “Psikologi Kesehatan “ aspek dukungan sosial dibedakan menjadi empat dimensi dukungan sosial6:

a. Dukungan emosional: Mencakup ungkapan empati, kepedulian dan perhatian terhadap orang yang bersangkutan (misalnya: umpan balik, penegasan),

b. Dukungan pengahargaan: Terjadi lewat ungkapan hormat (penghargaan) positif untuk orang itu, dorongan maju atau persetujuan dengan gagasan atau perasaan individu, dan perbandingan positif orang itu dengan orang-orang lain, seperti orang-orang yang kurang mampu atau lebih buruk keadaannya (menambah penghargaan diri).

6 Bart Smet, Psikologi Kesehatan, (Jakarta: PT Grasindo, 1994), h. 136-137

(36)

c. Dukungan instrumental: mencangkup bantuan langsung, seperti orang- orang memberi pinjaman uang kepada orang itu atau menolong dengan pekerjaan pada waktu mengalami stress.

d. Dukungan informatif: mencakup member nasehat, petunjuk- petunjuk, saran-saran atau umpan balik.

3. Manfaat Dukungan Sosial

Manurut Brownell Schumaker ada tiga pengaruh atau manfaat dari dukungan sosial diantaranya, pengaruh langsung, tidak langsung dan interaktif7.

a. Pengaruh langsung: yaitu terciptanya hubunga interpersonal dan hubungan yang bersifat menolong dan hubungan tersebut dapat memfasilitasi terbentuknya perilaku yang lebih sehat. b. Pengaruh tidak langsung: yaitu membantu individu

mengadapi dan mengatasi stressor yang datang dengan cara membatu individu mempelajari cara pemecahan masalah dan mengontrol masalah-masalah kecil sebelum menjadi besar. c. Pengaruh interaktif: berupa dampak yang diinterpretasikan

untuk meredam atau memperbaiki dampak-dampak yang merugikan dengan mempengaruhi kualitas dan kuantitas terhadap sumber-sumber coping.

7 Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial (STKS), Tekonlogi Pengembangan Masyarakat (Bandung: STKS, 2008), h. 63

(37)

23

4. Faktor Terbentuknya Dukungan Sosial

Menurut Myers dalam Maslihah (2011) ada tiga faktor penting terbentuknya dukungan soisal8, diantaranya:

a. Empati, yaitu turut merasakan kesusahan orang lain dengan tujuan mengantisipasi emosi dan motivasi tingkah laku untuk mengurani kesusahan dan meningkatkan kesejahteraan orang lain

b. Norma dan nilai sosial, yang berguna membimbing individu untuk menjalankan kewajiban dalam kehidupannya.

c. Pertukaran sosial, yaitu hubungan timbal balik perilaku sosial antara cinta, pelayanan, informasi, keseimbangan dalam pertukaran akan menghasilkan hubungan interpersonal yang memuaskan. Pengalaman akan pertukaran secara timbal balik ini membuat individu lebih percaya bahwa orang lain akan menyediakan bantuan.

5. Sumber - Sumber Dukungan Sosial

Dukungan sosial yang kita terima dapat bersumber dari berbagai pihak. Kahn&Antonoucci dalam Siti Nurhidayah dan

8 Sri Maslihah, Studi Tentang Hubungan Dukungan Sosial,

Penyesuaian Sosial Di Lingkungan Sekolah Dan Prestasi Akademik Siswa Smpit Assyfa Boarding School Subang Jawa Barat, Jurnal Psikologi Undip Vol. 10

(38)

Rini Agustini membagi sumber-sumber dukungan sosial menjadi 3 katagori, yaitu9:

a. Sumber dukungan sosial yang berasal dari orang-orang yang selalu ada sepanjang hidupnya, yang selalu beersama dengannya dan mendukungannya. Misalnya, keluarga dekat, pasangan (suami atau istri), atau teman dekat

b. Sumber dukungan sosial yang berasal dari individu lain yang sedikit berperan dalam kehidupan dan cenderung berubah, misalnya teman kerja, tetangga, sanak keluarga dan sepergaulan.

c. Sumber dukungan sosial yang berasal dari individu lain yang sangat jarang memberi dukungan dan memiliki peran yang sangat cepat berubah.

B. Kesadaran Beribadah 1. Pengertian Kesadaran

Kata “kesadaran” berasal dari kata dasar “sadar” yang mendapatkan ibuhan “ke-an”. Kata ini dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia memiliki pengertian insyaf, tahu dan mengerti, ingat kembali. Kesadaran adalah kesiagaan seseorang terhadap peistiwa-peistiwa di lingkungannya seperti pemandangan dan suara- suara dari lngkungan sekitarnya, serta

9 Siti Nurhidayah dan Rini, “Kebahagiaan Lansia di Tinjau Dari

Dukungan Sosial dan Spiritualitas”, Jurnal Soul, Vol. 5, No. 2, september 2012,

(39)

25

peristiwa- peristiwa kognitif yang meliputi memori, pikiran, perasaan, dan sensasi-sensai fisik10.

Kesadaran merupakan individu mengadakan hubungan dengan lingkungannya serta dengan dirinya sendiri (melalui panca indranya) dan mengadakan pembatasan terhadap lingkungannya serta terhadap dirinya sendiri (melalui perhatian)11.

Secara harfiah, kesadaran memiliki arti yang sama dengan mawas diri (awareness). Kesadaran juga diartikan sebagai sebuah kondisi dimana seorang individu memiliki kendali penuh terhadap stimulus internal maupun eksternal12. Joseph Murphy dalam bukunya Amos Neolaka mengartikan kesadaran yaitu siuman atau sadar akan tingkah laku dimana pikiran sadar mengatur akal dan menentukan pilihan terhadap yang diinginkan misalnya baik dan buruk, indah dan jelek dan sebagainya. Menurut Hurssel dalam bukunya Amos Neolaka, kesadaran adalah pikiran sadar (pengetahuan) yang mengatur akal. Pikiran inilah yang menggugah jiwa untuk membuat pilihan baik-buruk, indah-jelek dan lainnya13.

Dalam teori Eksistensial Humanistik yang dikemukakan oleh Carl Rogers bahwa teori ini menjelaskan aspek kesadaran

10 Robert L. solso, dkk.., Psikologi Kognitif, (Jakarta: Erlangga, 2007), H. 241

11 Sunaryo, Psikologi Untuk Keperawatan, (Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC, 2002), H. 77

12 Imam Malik, Pengantar Psikolgi Umum, (Yogyakarta: Teras, 2005), h. 45

13 Amos Neolaka, Kesadaran Lingkungan, (Jakarta: Rineka Cipta, 2008), h. 18

(40)

dan tanggung jawab. Menurut konsep ini manusia memiliki kesanggupan untuk menyadari dirinya sendiri. Semakin kuat kesadaran diri itu pada seseorang, maka akan semakin besar pula kebebasan yang ada pada orang itu.14 Pada intinya keberadaan manusia, membukakan kesadaran bahwa:

a. Manusia adalah makhluk yang terbatas, dan tidak selamanya mampu mengaktualkan potensi-potensi dirinya

b. Manusia memiliki potensi mengambil atau tidak mengambil suatu tindakan

c. Manusia memiliki suatu ukuran pilihan tentang tindakan-tindakan yang akan diambil, karena itu manusia menciptakan sebagian dari nasibnya sendiri.

d. Manusia pada dasarnya sedirian, tetapi memiliki kebutuhan untuk berhubungan dengan orang lain; manusia menyadari bahwa terpisah tetapi juga terkait dengan orang lain.

e. Makna adalah sesuatu yang tidak diperoleh begitu saja, tetapi merupakan hasil pencarian manusia dan dari penciptaan tujuan manusia yang unik.

f. Kecemasan eksistensial adalah bagian hidup esensial sebab dengan meningkatnya kesadaran atas keharusan memilih, maka manusia mengalami peningkatan tanggung jawab atas konsekuensi - konsekuensi tindakan memilih.

g. Kecemasan timbul dari penerimaan ketidak pastian masa depan. Manusia bisa mengalami kondisi-kondisi kesepian, ketidak bermaknaan, kekosongan, rasa berdosa, dan isolasi,

14 Gerald Corey, Teori dan Praktek Konseling dan Psikoterapi, (Bandung: Refika Aditama, 2007), h. 54

(41)

27

sebab kesadaran adalah kesanggupan yang mendorong kita untuk mengenal kondidi-kondisi tersebut15.

Menurut Soekanto terdapat empat indikator kesadaran yang masing-masing menunjukan pada tingkat kesadaran tertentu, dimulai dari yang terendah sampai dengan yang tertinggi. Keempat indikator tersebut yaitu: pengetahuan, pemahaman, sikap dan pola perilaku (tindakan)16.

2. Pengertian Ibadah

Ibadah menurut istilah bahasa Arab ialah berbakti, berkhidmat, tunduk, patuh, mengesakan dan merendahkan diri17. Ibadah diartikan sebagai perbuatan untuk menyatakan bakti kepada Allah SWT yang didasari ketaatan untuk mengerjakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Segala bentuk sikap pengabdian dan kepatuhan merupakan ibadah. Berdasarkan agama, Ibadah merupakan ketundukan diri kepada Allah SWT.

Ibadah berasal dari kata Abada-ya’budu ibadatan yang berarti beribadah/menyembah. Ibadah adalah menyembah kepada Allah atau tunduk kepada Allah seolah-olah kamu melihat-Nya dan jika tidak bisa seolah-olah kamu dilihat-Nya18.

15 ibid.h. 65

16 Atha Zhafira, Pengaruh Program Mamah dan Aa Beraksi Episode

‘Nisatanya Zina dan Penyimpangan Seksual’ Terhadap Tingkat Kesadaran Remaja Akan Bahaya Zina (Survey Pada Siswa-siswi SMAN 87 Jakarta),

Skripsi, (UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 2017)

17 Amir Syarifuddin, Garis-Garis Besar Fiqh: Edisi Pertama, (Jakarta: Kencana, 2003), h. 17-18

18 Sidi Gazalba , Masjid Pusat Ibadah dan Kebudayaan Islam ( Jakarta : Pustaka Antara , 1975 ), h. 14.

(42)

Pengertian ibadah menurut Hasby Ash Shiddieqy yaitu segala taat yang dikerjakan untuk mencapai keridhaan Allah dan mengharap pahala-Nya di akhirat19.

Ibadah juga sebagai upaya baik lahir maupun batin sesuai dengan perintah Allah SWT untuk mendapatkan kebahagiaan dan keselarasan hidup, baik pada diri sendiri maupun individu lain serta alam semesta. Ibadah meliputi semua bentuk kegiatan manusia yang dilakukan dengan niat mengabdi dan menghamba hanya kepada Allah20.

Ibadah juga sebagai upaya baik lahir maupun batin sesuai dengan perintah Allah SWT untuk mendapatkan kebahagiaan dan keselarasan hidup, baik pada diri sendiri maupun individu lain serta alam semesta. Ibadah meliputi semua bentuk kegiatan manusia yang dilakukan dengan niat mengabdi dan menghamba hanya kepada Allah21.

Menurut kamus istilah fiqih, ibadah yaitu memperhambakan diri kepada Allah dengan taat melaksanakan segala perintahnya dan anjurannya, serta menjauhi segala larangan-Nya karena Allah semata, baik dalam bentuk kepercayaan, perkataan maupun perbuatan. Orang beribadah berusaha melengkapi dirinya dengan perasaan cinta, tunduk dan

19 Hasby Ash Shiedieqy, Kuliah Ibadah, (Semarang : PT Pustaka Rizki Putra, 2000), h. 5

20 Dedi Selamet Riyadi, Buku Induk Rahasia dan Makna Ibadah, (Jakarta: Zaman, 2012), h. 155

(43)

29

patuh kepada Allah Swt.22 Dalam ilmu fiqih ibadah terbagi menjadi dua macam23:

a. Ibadah Mahdah: ibadah yang mengandung hubungan dengan Allah swt semata-mata, yakni hubungan vertikal. Ibadah ini hanya sebatas pada ibadah-ibadah khusus. Ciri-ciri ibadah mahdah adalah semua ketentuan dan atuaran pelaksanaannya telah ditetapkan secara rinci melalui penjelasan-penjelasan Al-Qurían dan hadits. Ibadah

mahdah dilakukan semata-mata bertujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt. Ibadah mahdah yang tercermin dari 5 rukun islam yaitu syahadat, sholat, zakat, puasa dan haji ke baitullah.

b. Ibadah ghairu mahdah: ialah ibadah yang tidak hanya sekedar menyangkut hubungan dengan Allah SWT, tetapi juga berkaitan dengan sesama makhluk (hablun minalllāhi

wa hablun minan nās), disamping hubungan vertikal juga

ada hubungan horizontal. Hubungan sesama makhluk ini tidak hanya terbatas pada hubungan antar manusia, tetapi juga hubungan manusia dengan lingkungannya. Ibadah

ghairu mahdah.

3. Pengertian Kesadaran beribadah

Beribadah adalah tugas pokok dari tujuan penciptaan manusia diatas bumi ini. ia merupakan proses untuk mencapai

22 M. Abdul Majieb et. el, Kamus Istilah Fikih, (Jakarta : PT Pustaka Firdaus, 1995), h. 109

(44)

kebahagiaan, kedamaian hidup, ketenangan jiwa, kenyamanan dan kesehatan mental. Pada aspek lain, ibadah mengajak manusia agar memahami orang lain dalam suatu panduan hidup dan kehidupan yang terencana24.

kesadaran beribadah berarti segala tindakan itu perbuatan atau ucapan yang dilakukan sesorang, sedangkan perbuatan atau tindakan serta ucapan tadi akan keterkaitannya dengan agama, semuanya dilakukan karena adanya kepercayaan kepada Tuhan dengan ajaran, kebaktian, dan kewajiban-kewajiban yang bertalian dengan kepercayaan25.

Dalam beribadah, secara khusus ditanamkan kesadaran akan pengawasan Allah terhadap semua manusia dan makhluk-Nya, dengan kesadaran akan pengawasan Allah yang tumbuh dan berkembang dalam pribadi anak, maka akan masuklah unsur pengendali terkuat dalam dirinya.26

Tingkat kesadaran beribadah sama halnya dengan tingkah laku keagamaan. Tingkah laku keagamaan adalah sebagai aktivitas manusia dalam kehidupan didasarkan atas nilai-nilai agama yang diyakininya. Tingkah laku keagamaan tersebut merupakan perwujudan dari rasa dan jiwa keagamaan

24 Khairunnas Rajab, Psikologi Ibadah Memakmurkan kerajaan Ilahi

di Hati Manusia, (Jakarta: Amzah, 2018), h. 77

25 Reza Kurnia Akbar, Skripsi: “Pengaruh Menonton Sinetron Azab di

Indosiar Terhadap Tingkat Kesadaran Beribadah Ibu Rumah Tangga di Kecamatan Tampan Pekanbaru” (Riau: UIN Suska Riau, 2019), h. 16

26 Zakiah Daradjat, Pendidikan Islam Dalam Keluarga Dan Sekolah, (Jakarta: Ruhama, 1995), h. 63

(45)

31

berdasarkan kesadaran dan pengalaman beragama pada diri sendiri27

Di antara berbagai faktor yang membantu membangkitkan dorongan beragama dalam diri seseorang ialah berbagai bahaya yang dalam sebagian keadaan mengancam kehidupannya, menutup semua pintu keselamatannya, dan tiada jalan berlindung kecuali hanya kepada Allah. Maka dengan dorongan alamiah yang dimilikinya ia kembali kepada Allah guna meminta pertolongan.28

Menjalankan ibadah yang diwajibkan kepada umat islam tidak hanya mengandung nilai spiritual, dalam realitas sehari-hari ibadah membentuk kepribadian dan sikap mental yang mulia. Sesuai dengan konteks penciptaan manusia yang dijadikan Allah sebagai makhluk paling mulia29. Kesadaran beribadah akan muncul tergantung kepada kepribadian setiap individu.

Untuk melaksanakan ibadah-ibadah tersebut, diperlukan adanya kesadaran. Pengertian kesadaran keagamaan meliputi rasa keagamaan, pengalaman ketuhanan, keimanan, sikap dan tingkah laku keagamaan yang terorganisasi dalam sistem mental dan kepribadian. Karena agama melibatkan seluruh jiwa

27 Ramayulis, Psikologi Agama, (Jakarta: Kalam Mulia, 2018), h. 28 Muhammad Utsman Najati, Al-Qur’an Dan Ilmu Jiwa, (Bandung; Pustaka, 1997), h. 41

29 Khairunnas Rajab, Psikologi Ibadah: Memakmurkan Kerajaan Ilahi

(46)

raga manusia, maka kesadaran beribadah pun meliputi aspek-aspek afektif, kognitif dan psikomotorik30.

Didalam buku Abdul Aziz Ahyadi Para ahli psikologi memberikan penekanan bahwa yang dipelajari oleh psikologi bukanlah jiwa tetapi tingkah laku (kepribadian) manusia. Kepribadian manusia dianalisis kedalam tiga aspek yang dapat memunculkan kesadaran, terutama dalam hal ibadah, yaitu:

a. Aspek kognitif (pengetahuan) yaitu pemikiran, pengamatan dan pemahaman. Fungsi aspek ini menunjukkan, mengarahkan serta mengendalikan tingkah laku

b. Aspek afektif (sikap) yaitu merasakan, menyukai dan merespon. Fungsi aspek ini berhubungan dengan perasaan atau emosi

c. Aspek motorik (tindakan) yaitu berfungsi sebagai pelaksanaan tingkah laku manusia seperti perbuatan dan gerakan jasmaniah lainnya.

Menurut Jalaluddin Kesadaran adalah sebab dari perilaku, tingkah laku ditentukan oleh keseluruhan pengalaman yang disadari oleh pribadi31 maliputi aspek kognitif, afektif dan motorik. kesadaran beribadah adalah rangkaian perbuatan atau tindakan yang didasari oleh alam bawah sadar untuk mengerjakan perintah Allah sesuai dengan agama islam32.

30 Abdul Aziz Ahyadi, Psikologi Agama Kepribadian Muslim

Pancasila, (Bandung: Sinar Baru Algensindo, 1995), h. 37

31 Jalaluddin Rahmat, Psikologi Agama, (Jakarta: Raja Grafindo, 1998 ), h. 165

(47)

33

Kesadaran beribadah perlu dilandasi dengan niat dan ikhlas, niat adalah pendorong kehendak manusia untuk menunjukkan suatu tujuan tertentu yang dituju. Penelitian ini berfokus pada teori yang berasal dari buku Jalaludin Rakhmat. Karena memiliki kesamaan dan cocok pada hasil observasi yang telah dilakukan dan diturunkan menjadi rumusan masalah.

C. Penyandang Disabilitas Tuna Daksa

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia penyandang diartikan dengan orang yang menyandang (menderita) sesuatu. Sedangkan disabilitas yang berarti cacat atau ketidak mampuan33. Istilah disabilitas berasal dari bahasa inggris dengan asal kata

different ability, yang bermakna manusia memiliki kemampuan

yang berbeda. Istilah tersebut digunakan sebagai pengganti istilah penyandang cacat yang mempunyai nilai rasa negatif dan terkesan diskriminatif. Istilah disabilitas didasarkan pada realita bahwa setiap manusia diciptakan berbeda. Sehingga yang ada sebenarnya hanyalah sebuah perbedaan bukan kecacatan maupun keabnormalan34.

Penyandang disabilitas daksa sering disebut dengan istilah anak cacat tubuh, cacat fisik, tuna tubuh, cacat ortopedi, atau penyandang disabilitas. Istilah tunadaksa berasal dari kata “tuna” yang berarti rugi atau kurang dan “daksa” yang berarti

33 Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2008, Edisi Ke empat.Jakarta 34 Sugi Rahayu, dkk.., Pelayanan Publik Bidang Transportasi Bagi

Difabel Di Daerah Istimewa Yogyakarta, Jurnal Ilmu Sosial , Vol 10, No. 2,

(48)

tubuh. Menurut Somantri (2006) tuna daksa adalah suatu keadaan rusak atau terganggu sebagai akibat gangguan bentuk atau hambatan pada tulang, otot dan sendi pada fungsinya yang normal. Kondisi ini dapat disebabkan oleh penyakit, kecelakaan atau dapat juga disebabkan oleh pembawaan dari lahir35.

Sedangkan menurut Mohammad Efendi (2006), seseorang yang diidentifikasi mengalami ketuna daksaan, yaitu seseorang yang mengalami kesulitan dalam mengoptimalkan fungsi anggota tubuh akibat luka, penyakit, pertumbuhan yang salah bentuk dan akibat melakukan gerakan tubuh tertentu yang mengalami penurunan. Secara definisi, pengertian tuna daksa adalah ketidak mampuan anggota tubuh untuk melaksanakan fungsinya secara normal akibat luka, penyakit atau pertumbuhan yang kurang sempurna, sehingga untuk kepentingan pembelajaran diperlukan pelayanan secara khusus36.

Geniofam (2010) Tuna daksa adalah penderita kelainan fisik, khususnya anggota badan, seperti tangan, kaki, atau bentuk tubuh. Penyimpangan perkembangan terjadi pada ukuran, bentuk, atau kondisi lainnya Sebenarnya, secara umum mereka memiliki 35 peluang yang sama untuk melakukan aktualisasi diri37. Namun, karena lingkungan kurang mempercayai kemampuannya, terlalu menaruh rasa iba, maka anak-anak tuna

35 Somantri Sujihati, Psikologi Anak Luar Biasa, ( Bandung : PT. Refika Aditama, 2006), h. 121

36 Mohammad Efendi, Pengantar Psikopedagogik Anak Berkelainan, (Jakarta: Bumi Aksara, 2006), h. 114

37 Geonifam, Mengasuh Anak Berkebutuhan Khusus, (Yogyakarta: Gara Ilmu, 2010), h. 21

(49)

35

daksa sedikit memiliki hambatan psikologis, seperti tidak percaya diri dan tertanggung pada orang lain. Akibatnya, penampilan dan keberadaan mereka dikehidupan umum kurang diperhitungkan. Oleh karena itu, perlakuan yang selama ini menganggap penderita tuna daksa adalah orang yang tidak mampu memenuhi kebutuhan untuk hidup perlu ditinjau lagi.

Bedasarkan dari beberapa pengertian diatas bahwa dapat disimpulkan bahwa tunadaksa merupakan ke tidak mampuan anggota tubuh untuk melaksanakan fungsinya secara normal, sehingga mengakibatkan ganggunan pada mobilitas untuk melakukan peran fungsi sosial dalam masyarakat yang dapat dinilai orang lain tidak berguna dan dapat merendahkan kemampuan dalam keterbatasan fisik38.

D. Kerangka Pemikiran

Balai Besar Rehabilitasi Vokasional Penyandang Disabilitas (BBRVPD) yang bertempatan di Cibinong ini adalah lembaga dibawah naungan Kementrian Sosial RI. Keterbatasan fisik yang dialami penyandang disabilitas daksa membuat penyandang disabilitas daksa seringkali mendapatkan perlakuan diskriminasi dari kondisi lingkungan karena kondisi fisiknya yang tidak sempurna.

Penyandang disabilitas sering kali mengalami ketidak yakinan, tidak percaya diri dan cenderung merasa malu dengan

38 Dewi Murni, Skripsi, Konseling Kelompok Dalam Menumbuhkan

Aktualisasi Diri Pada Penyandang Disabilitas Daksa Akibat Kecelakaan Di Balai Besar Rehabilitasi Sosial Bina Daksa (BBRSBD) Prof. Dr. Soeharso Surakarta, Fakultas Ushuluddin Dan Dakwah, Iain Surakarta, h. 35

(50)

keadaan fisik yang dipunya. Manusia selain disebut sebagai makhluk sosial juga dapat disebut sebagai makhluk yang beragama. Agama dapat dijadikan suatu kekuatan yang dapat melindungi, membimbing dan mendorong penyandang disabilitas.

Beribadah memiliki berbagai manfaat bagi penyandang disabilitas dalam kehidupan, seperti bahagia dalam hidupnya, menghargai dirinya, mensyukuri nikmat yang diberikan oleh Allah walaupun terdapat kekurangan fisik yang dirasakan dan lain sebagainya. Menjalankan ibadah yang diwajibkan kepada umat islam tidak hanya mengandung nilai spiritual, dalam realitas sehari-hari ibadah membentuk kepribadian dan sikap mental yang mulia. Sesuai dengan konteks penciptaan manusia yang dijadikan Allah sebagai makhluk paling mulia39.

Kesadaran beribadah merupakan aktivitas beribadah, yang mana dalam penelitian ini difokuskan pada ibadah mahdah (Rukun Islam) dan ibadah ghairu mahdah (hubungan sesama manusia yang memiliki nilai ibadah). Maka kesadaran beribadah dapat diartikan bagian yang hadir dan terasa dalam pikiran setiap manusia untuk mendekatkan diri dan menjalankan apa yang diperintahkan oleh Allah SWT guna mencapai situasi kehidupan yang lebih baik.

Menjadi manusia yang berbeda tentu membuat seseorang takut untuk masuk kedalam suatu lingkungan, perasaan tersebut sering kali menjadikan penyandang disabilitas tuna daksa tidak

39 Khairunnas Rajab, Psikologi Ibadah: Memakmurkan Kerajaan Ilahi

(51)

37

memiliki kepercayaan diri ketika berada di lingkungan balai dan lingkungan masyarakat.

Terciptanya dukungan sosial dari petugas yang berada di balai membuat penyandang disabilitas daksa merasa dicintai, diperhatikan, dihargai dan menjadi bagian dalam kelompok atau dapat dikatakan bahwa individu mendapatkan kenyamanan secara fisik dan psikologis.

Dukungan sosial digunakan untuk meningkatkan kesadaran, pengetahuan, keterampilan dan sikap penyandang disabilitas agar memiliki kemampuan untuk memecahkan masalah yang dihadapinya. Dukungan sosial menurut Jhomson adalah keberadaan orang lain yang dapat diandalkan untuk memberikkan bantuan, semangat, penerimaan dan perhatian sehingga bisa meningkatkan kesejahteraan atau kualitas hidup bagi individu yang bersangkutan40.

Dukungan sosial dari petugas dalam meningkatkan kesadaran beribadah penyandang disabilitas dianggap penting, karena petugas yang ada di lembaga BBRVPD adalah sosok panutan, ditiru perilaku serta sikapnya dan dapat memberikkan arahan terhadap persoalan yang dihadapi setiap penyandang disabilitas daksa terutama dalam hal ibadah.

Melalui uraian tersebut penulis tertarik dengan variabel dukungan sosial dimana dukungan sosial menurut Istiqomah adalah segala bentuk bantuan atau pertolongan yang didapat

40 Azwan, Herlina dan Darwin, “Hubungan Dukungan Sosial Teman

Sebaya Dengan Kualitas Hidup Lansia Di Panti Sosial Tresna Werdha”, Jurnal

(52)

sepanjang kehidupan seseorang dengan aspek: dukungan emosional, dukungan informasi dan dukungan instrumental.

Sedangkan teori yang digunakan pada kesadaran beribadah menurut Jalaludin Rakhmat yaitu Kesadaran beribadah adalah rangkaian perbuatan atau tindakan yang didasari oleh alam bawah sadar untuk mengerjakan perintah Allah sesuai dengan ajaran agama islam, dengan dimensi sesuai dengan tingkah laku (kepribadian) manusia yaitu aspek kognitif, afektif dan motorik.

Kerangka penelitian ini dapat digambarkan sebagai berikut:

Tabel 1. Kerangka Pemikiran

E. Hipotesis Penelitian

H0 : Tidak ada hubungan yang signifikan antara dukungan sosial petugas dengan kesadaran beribadah penyandang disabilitas tuna daksa di BBRVPD - Cibinong

Ha : Ada hubungan yang signifikan antara dukungan sosial petugas dengan kesadaran beribadah penyandang disabilitas tuna daksa di BBRVPD - Cibinong

Kesadaran beribadah (Y) - Aspek kognitif - Aspek afektiif - Aspek motorik Dukungan sosial (X) - Dukungan emosional - Dukungan informasi - Dukungan instrumental

(53)

39

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kuatitatif dengan metode survei. Metode penelitian kuantitatif digunakan untuk meneliti pada populasi atau sampel tertentu, pengumpulan data menggunakan instrumen penelitian, analisis data bersifat statistik dengan tujuan untuk menguji hipotesis yang telah ditetapkan1.

Metode kuantitatif merupakan metode untuk menguji teori-teori tertentu untuk dengan cara meneliti hubungan antar variabel2. Adapun alasan peneliti menggunakan penelitian kuantitatif adalah karena penelitian kuantitatif bersifat mutlak sesuai dengan tata cara perhitungan statistik yang terukur.

B. Populasi dan Sampel Penelitian

1. Populasi Penelitian

Populasi adalah serumpun atau sekelompok subjek yang menjadi sasaran penelitian3. Populasi merupakan jumlah dari

1 Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan, Pendekatan Kuantitatif,

Kualitatif, dan R&D, (Bandung:

Alfabeta, 2014), h. 14.

2 Nurmayasari, Skripsi, “Pengaruh Bimbingan Agama terhadap

Kesadaran Beragama Narapidana di Lembaga Pemasyarakatan Klas II A Salemba Jakarta Pusat”, (Jakarta: UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 2018), h.

43

3 Singgih Santoso, Buku Latihan SPSS Statistik Parametrik, ( Jakarta: PT. Elek Media Komutindo 2004), h. 34

(54)

keseluruhan objek yang karakteristiknya hendak diduga4 atau keseluruhan subjek penelitian untuk keperluan penelitian. Sesuai judul penelitian diatas, maka populasi dalam penelitian ini adalah penyandang disabilitas yang berada di Balai Besar Rehabilitasi Vokasional Penyandang Disabilitas (BBRVPD) – Cibinong sebanyak 105 orang.

2. Sampel Penelitian

Sampel adalah bagian dari kumpulan objek penelitian (populasi) yang dipelajari dan diamati5. Sampel juga merupakan sejumlah anggota yang dipilih dari populasi6. Berdasarkan populasi diatas maka penetapan sampel dilakukan dengan teknik

purposive sampling, adalah salah satu teknik sampling non

random sampling dimana peneliti menentukan pengambilan sampel dengan cara menetapkan ciri-ciri khusus yang sesuai dengan tujuan penelitian sehingga diharapkan dapat menjawab permasalahan penelitian7. Teknik ini dapat dilakukan dengan kriteria yang peneliti inginkan

Adapun kriteria sampel dalam penelitian ini adalah: a. Beragama islam

b. Penyendang disabilitas tuna daksa

4 Pangestu Subagyo dan Djarwanto, Statistik Induktif, (Yogyakarta: BPFE, 2009), Cet ke-2, h. 94

5 Jalaludin Rahmat, Metode Penelitian Komunikasi, (Bandung: PT Remaja RosdaKarya, 1994), h. 78.

6 Juliansyah Noor, Metodelogi Penelitian Skripsi, Tesis, Disertasi dan

Karya Ilmiah, (Jakarta: Prenadmedia Group, 2011), cet ke-1, h. 147

7 Syofuan Siregar, Statistik Deskriptif untuk Penelitian, (Jakarta: Rajawali Pres, 2011), edisi 1-2, h. 145

(55)

41

Dalam menentukan sampel menurut Arikunto apabila jumlah populasi kurang dari 100 maka dapat diambil keseluruhan untuk dijadikan sebagai sampel penelitian8. Berdasarkan kriteria tersebut dan menentukan sampel menurut Arikunto, maka sampel yang terambil dari hasil observasi yaitu sebanyak 45 responden

C. Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian lapangan dilaksanakan pada bulan Februari 2020. Penelitian ini bertempatan di Balai Besar Rehabilitasi Vokasional Penyandang Disabilitas (BBRVPD) di Jalan SKB No.5, Karadenan, Cibinong, Bogor, Jawa Barat 16913. Adapun alasan peneliti memilih tempat ini didasarkan pada fakta dan karakteristik permasalahan yang ada dan pihak lembaga mengizinkan peneliti untuk melakukan penelitian di lokasi tersebut dan bersedia memberikan data penyandang disabilitas.

D. Sumber Data

Sumber data adalah subjek dari mana data itu dapat diperoleh9. Pada penelitian ini peneliti mengguakan dua macam sumber data yaitu:

1. Data Primer

Data primer adalah data yang dikumpulkan sendiri oleh peneliti secara langsung dari sumber pertama tempat penelitian

8 Rully Indarawan dan Poppy Yuniawati, Metodologi Penelitian:

Kuantitatif, Kualitatif dab Campuran untuk Manajemen, Pembangunan dan Pendidikan, (Bandung: Refika Aditama, 2014) h. 103

9 Iqbal Hasan, Metodologi Penelitian dan Aplikasinya, (Jakarta: Ghalia Indonesia, 2002), h. 82

Gambar

Tabel 1. Kerangka Pemikiran
Table 2. Skala Likert  Pilihan  Sangat  Tidak  Setuju  (STS)  Tidak  Setuju (TS)  Setuju  (S)  Sangat Setuju (SS)  Skor  Postif  1  2  3  4  Skor  Negatif  4  3  2  1
Tabel  3  menunjukkan  Blue  Print  skala  variabel  Dukungan  Sosial sebelum uji instrumen
Tabel 5. Blue Print skala variabel kesadaran beribadah  sebelum uji instrumen:
+7

Referensi

Dokumen terkait

ola Alur Be 1359 jang ar sungai n dengan pe ondolayu sa la alur yang ir daya tam ini menunj kecepatan a itu materia semakin yang intens butuhkan da figurasi da atan aliran

Hasil identifikasi cacing dari 60 sampel ikan yang telah diperiksa pada saluran pencernaan ikan salem ( scomber japonicus ) di Pangkalan Pendaratan Ikan.. Muara Angke

optimasi konsentrasi NaCl yang ditambahkan ke dalam nanopartikel perak termodifikasi L-sistein serta perbandingan volumenya, untuk mendapatkan larutan indikator

bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, perlu menetapkan Peraturan Bupati tentang Tata Cara Pemakaiaan Mobil Jenazah, Mess Pemerintah

Tetapi ia juga ingin menata hubungan sosial sesama mereka di satu pihak agar menjadi masyarakat yang bertauhid, bertaqwa dan bermoral serta menata hubungan antara muslim

Penelitian ini bertujuan untuk menentukan golongan senyawa metabolit sekunder pada jaringan kayu batang tumbuhan paliasa (Kleinhovia hospita L.) dari ekstrak

“Pengaruh Mekanisme Good Corporate Governance Terhadap Kinerja Perbankan Nasional Studi pada Perusahaan Perbankan yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode

Pengaruh Pemberdayaan dan kebutuhan untuk berprestasi terhadap Organizational Citizenship Behavior dengan Kebutuhan untuk berprestasi sebagai Variabel Pemoderasi.