BAB I. Pendahuluan
1.1 Latar Belakang Masalah.Indonesia mempunyai kekayaan tradisi berupa budaya tulis (kitab, nota-perjanjian, stempel) dan budaya tutur (pantun, puisi tradisional,dongeng). Penikmat budaya tulis dan tutur secara umum dapat dibedakan dari segi umur, gender, tingkat lapisan masyarakat maupun suku bangsanya. Budaya tutur merupakan budaya yang bersifat nir-literatur dan budaya tulis bersifat literatur, oleh karena itu keduanya mempunyai keunikan dan kelebihan sendiri. Di seluruh penjuru Nusantara ada ribuan budaya tutur Indonesia. Budaya tutur merupakan ajaran tersirat menyangkut pembelajaran moral, seperti yang disampaikan di dalam pantun, lagu tradisional, fabel (dongeng tentang binatang), legenda (dongeng tentang asal mula kejadian), epik (kisah tentang para pahlawan, bangsawan ataupun kesatria) maupun cerita rakyat lainnya. Pembelajaran moral yang tersirat ini merupakan metoda efektif, khususnya dalam mendidik anak-anak lewat penceritaan dongeng.
Pada kajian budaya tutur dalam Tugas Akhir ini, penulis akan fokus membahas dongeng. Dongeng adalah cerita pendek kolektif kesusasteraan lisan. Atau dalam pengertian lain dongeng adalah cerita prosa rakyat yang tidak dianggap benar-benar terjadi.
Cerita yang ada di dalam dongeng tradisional Indonesia sangat menarik untuk dikaji lebih lanjut, serta menurut hemat penulis dapat dipopulerkan dalam bentuk yang mengikuti trend multimedia/visual komunikasi seperti sekarang. Disini penulis mencoba memperkenalkan media baru berupa novel visual.
Novel visual (visual graphic novel) adalah salah satu aplikasi multimedia yang dapat digunakan oleh siapa saja, dan dibuat dengan sangat user-friendly. Salah satu kendala dalam menjalankan program Multimedia adalah perlu memiliki perangkat keras yang memadai untuk menjalankan programnya. Untuk itu agar tujuan dapat digunakan oleh siapa saja, maka program ini dibuat untuk dapat dijalankan di komputer. minimal dengan Microsoft Windows XP ke atas, prosesor Pentium III, dan 128 MB RAM. Spesifikasi komputer ini menurut survey penulis, umum dipunyai sekolah-sekolah dasar di Bandung maupun di rumah.
Prinsip dasar dari novel visual sendiri sangat sederhana, lebih berupa ke arah ‘gambar bercerita’; mirip buku cerita versi cetak, tetapi berbentuk digital dan dapat ditambahkan beberapa content multimedia seperti suara, musik, animasi, ataupun unsur interaktif sederhana. Novel visual bisa diartikan sebagai cerita bergambar digital yang menggunakan unsur multimedia lebih dari satu,
Target yang dibidik adalah anak-anak. Dan difokuskan ke anak-anak usia sekolah dasar (6 hingga 10 tahun) yang berasal dari keluarga menengah ke atas di Bandung. Bandung adalah kota yang dominan aktualisasi KeSundaannya (Parsudi, 1980), sehingga untuk kasus TA ini saya memilih dongeng yang berciri khas Sunda, yaitu Mundinglaya di Kusumah.
Dongeng Mundinglaya Di Kusumah belum sepopuler cerita rakyat lainnya. Ketika survey, semua anak-anak menjawab tahu, ketika ditanya tentang Sangkuriang, Bawang Merah Bawang Putih, atau Malin Kundang. Tapi mereka menjawab tidak tahu, ketika ditanya mengenai dongeng Mundinglaya Di Kusumah. Selain dongeng Mundinglaya, penulis juga menanyakan dongeng tentang Si Anok Lumang dan Panglima Bambu Kuning, namun anak-anak juga tidak mengetahui.
Dongeng ‘Mundinglaya Di Kusumah’ yang berasal dari daerah Jawa Barat ini merupakan kisah kepahlawanan dan mengajarkan mengenai sifat pantang menyerah. Jadi dongeng ini saya pilih karena karena anak-anak dapat belajar tentang kepahlawan dan sifat pantang menyerah, sekaligus belajar tentang sejarah Pajajaran. Untuk itu walau tidak sepopuler legenda Sangkuriang, maka dongeng Mungdinglaya Di Kusumah patut diangkat dan dipopulerkan. 1.2 Identifikasi Masalah
Di seluruh penjuru Nusantara, setiap daerah memiliki cerita dongengnya masing-masing. Sesuai dengan nilai-nilai yang dijunjung dalam setiap masyarakatnya, dongeng yang diceritakan kepada anak-anak mereka senantiasa diturunkan lewat cerita pengantar tidur atau bercerita saat anak-anak sedang bermain sore-sore.
Sayang sekali, orang mulai melupakan dongeng tradisional Indonesia. Walaupun sebenarnya masing ada yang cukup populer seperti Sangkuriang, Jaka Tarub, atau Si Malin Kundang. 1.2.1 Dongeng makin dilupakan
Seiring berkembangnya waktu, masyarakat modern perlahan mulai meninggalkan budaya mendongeng. Hingga saat ini tinggal sedikit sekali pendongeng yang masih bertahan dengan profesinya. Dan itupun terbatas di kalangan tertentu saja. Dengan keadaan yang seperti ini maka dongeng tradisional Indonesia kini berada dalam kondisi terancam dilupakan.
Dari hasil survey on site di beberapa gerai Toko Buku Gramedia, para orang tua dari kalangan menengah ke atas di Bandung cenderung membelikan anak anak mereka buku cerita
Kecenderungan ini terlihat dari ramainya tempat khusus penjualan buku cerita bergambar oleh orang tua dan anak-anak. Tetapi rak penjualan buku cerita rakyat yang terletak di pojok lantai teratas terlihat begitu lengang. Hanya terlihat satu orang laki-laki dewasa yang tengah membaca gratis di tempat itu. Sama sekali tidak terlihat anak-anak maupun orang dewasa yang tengah memperkenalkan dongeng tradisional kepada anak-anak mereka di tempat itu.
Terutama bagi anak-anak kalangan menengah ke atas yang memiliki akses dalam media teknologi informasi. Dengan sedikit penyesuaian pada media, diharapkan mereka dapat menemukan atmosfer baru mengenai moral dan pembelajaran melalui dongeng.
1.2.2 Program Novel visual
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, novel visual adalah salah satu media yang paling sederhana di antara perangkat lunak multimedia lainnya. Tidak memerlukan kondisi khusus terhadap perangkat keras yang hendak digunakan, novel visual adalah salah satu perangkat lunak yang paling fleksibel.
Selain itu karena dibuat sangat sederhana, maka anak-anak bisa dengan mudah mempergunakannya sendiri tanpa bantuan orang tua lebih lanjut setelah mencoba memakainya sekali. Bagi anak-anak yang telah mendapatkan pengajaran mengenai perangkat komputer sejak dini oleh orang tua mereka akan dengan mudah dapat menguasainya. Sedangkan bagi anak-anak usia lebih muda bisa didampingi oleh orang tua untuk bisa mengaksesnya.
Novel visual tidak memiliki kapasitas yang besar dan tidak memberatkan kinerja komputer. Selain itu karena bentuknya digital maka bisa dengan mudah disimpan dalam format digital apapun sehingga daya tahannya lebih lama.
1.3 Tujuan
Mencegah punahnya dongeng tradisional Indonesia dengan mengangkatnya kembali dengan cara novel visual.
Memperkenalkan media novel visual kepada anak-anak, terutama bagi yang berasal dari kalangan menengah atas yang memerlukan pengetahuan mengenai dongeng tradisional Indonesia dalam bentuk yang lebih mudah diterima oleh mereka.
Memperluas pengetahuan anak-anak mengenai daerah Sunda, khususnya Pajajaran, karena dongeng Mundinglaya Di Kusumah sangat kental menceritakan daerah tempat kejadian itu berlangsung.
Menggugah para orang tua untuk juga turut memperkenalkan dongeng tradisional kepada anak-anak mereka. Program novel visual formatnya dibuat fleksibel sehingga bisa juga dinikmati oleh anak remaja maupun para orang tua yang hendak bernostalgia dengan dongeng yang dituturkan kepada mereka saat kecil.
1.4 Sumber Dan Teknik Pengumpulan Data ¾ Internet
Media untuk mencari definisi dari berbagai teori dan istilah yang dipergunakan.
Juga media utama untuk berkonsultasi dengan dua orang konsultan saya yang keduanya berdomisili di Jakarta. Saya biasa berkonsultasi melalui media Yahoo Messenger dan e-mail.
¾ Studi literatur
Perpustakaan museum Sri Baduga dan toko buku, serta buku-buku koleksi pribadi untuk mencari jenis-jenis dongeng tradisional Indonesia non-populer untuk dicari judul yang menarik dan layak untuk diangkat kembali ke permukaan.
¾ Survey on- site
Melakukan survey langsung ke beberapa toko buku besar di kota Bandung, dan meneliti kecenderungan pemilihan jenis buku bergambar yang dibelikan oleh para orang tua kepada anak-anak mereka.
Di dalam survey, pertanyaan yang langsung ditanyakan kepada anak-anak adalah mengenai sejauh mana mereka mengetahui tentang dongeng tradisional Indonesia. Hasilnya 90% dari anak-anak usia 6-10 tahun menjawab tahu tentang dongeng Sangkuriang, tetapi 100% menjawab tidak tahu tentang dongeng lain (Mundinglaya, Gunung Tampomas, dsb).
Dan merupakan temuan yang sangat menarik, bahwa ternyata para orang dewasa yang memiliki anak-anak usia sekolah; mereka kebanyakan menjawab tidak tahu saat mendengar judul ‘Mundinglaya Di Kusumah’. Hal ini menguatkan fakta tentang kecenderungan melupakan dongeng sudah terjadi sejak kurun waktu satu generasi ke belakang, tidak hanya terjadi pada generasi kontemporer.