• Tidak ada hasil yang ditemukan

SAGACIOUS JURNAL ILMIAH PENDIDIKAN DAN SOSIAL 2020, Vol. 6, No. 2, 79 88, ISSN: Ramadi, Muhammad Ilhami*

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "SAGACIOUS JURNAL ILMIAH PENDIDIKAN DAN SOSIAL 2020, Vol. 6, No. 2, 79 88, ISSN: Ramadi, Muhammad Ilhami*"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

Artikel Penelitian

Meningkatkan Aktivitas Belajar dan Hasil Belajar Aspek Membaca Teks

Cerita Nonfiksi Tema 8 Menggunakan Kombinasi Model Cooperative

Inte-grated, Reading and Composition (CIRC), Numberd Head Together (NHT),

dan Scramble di Kelas 5 SDN Anjir Muara Kota 1 Barito Kuala

Ramadi, Muhammad Ilhami*

Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin, Kalimantan Selatan Histori artikel: Pengiriman: Februari 2020 Revisi: Maret 2020 Diterima: April 2020 ABSTRAK

Tujuan dari artikel ini adalah mendeskripsikan peningkatan hasil belajar dalam aspek membaca teks cerita nonfiksi tema 8 dengan menggunakan model coopeerative integrated, reading and composition numbered head together dan scramble. Penelitian ini memakai metode peneliitan PTK, dan subjek penelitiannya yakni SDN Anjir Muara Kota 1 Barito Kuala. Dengan siswa yang jumlahnya 10, 6 laki-laki dan 4 perempuan. Dan juga hasil dari skripsi/penelitian ini yang menggunakan model coopeerative integrated, reading composition numbered head together dan scramble dapat meningktakan aktivitas belajar siswa dalam aspek membaca teks pada siswa kelas 5 SDN Anjir Muara Kota 1 Barito Kuala.

Kata Kunci: aktivitas hasil belajar, teks cerita nonpiksi, model cooperatived integrated reading and composition, numbered head together, scramble *Email korespondensi:

[email protected]

Pendahuluan

Sekolah dasar bertujuan untuk

memberikan bekal kemampuan dasar baca tulis-hitung, pengetahuan dan keterampilan dasar yang bermanfaat bagi siswa sesuai dengan tingkat perkembangannya serta mempersiapkan mereka untuk mengikuti pendidikan di SMP (Wardani, 2014).

Salah satu pendidikan formal yang menuntut siswa diminta agar lebih aktif, kreatif serta inovatif dalam pembelajaran adalah pembelajaran bahasa. Pembelajaran bahasa menjadi sangat penting karena fungsi bahasa sebagai media komunikasi dimana sifatnya adalah universal. Karena dengan komunikasi, siswa bisa lebih aktif, kreatif serta inovatif pada semua penyelesaian permasalahan (Tristiantri & Sumantri, 2016). Sampai tercapainya kemahirwacanaan (di kelas-kelas tinggi)”. Hasil dari observasi dan

pengmpulan data dari wali kelas, kenyaataan

yang ada di lapangan terkhusus

matapelajaran Bahasa indonesiya.

Mengalami msalah dalm aktivitas beljarnya yang berdmpak pada rendahnya prestasi belajajar sebagian siswa.

Apabila masalah ini tidak dapat

dipecahkan maka tidak menutup

kemungkinan jika siswa nanti akan pasif

secara terus menerus dan semakin

memperburuk hasil belajar siswa-siswa, Penyebabnya, banyak pengamat yang menilai pengajaran sastra selama ini berlangsung monoton, tidak menarik, bahkan membosankan. Siswa cenderung pasif pada kegiatan belajar mengajar, dan siswa kurang banyak memiliki pengetahuan mengenai kosa kata, sehingga dalam pembelajaran siswa cenderung tidak begitu memahami mengenai suatu teks wacana yang mereka

(2)

baca dan hal tersebut menyebabkan

rendahnya aktivitas siswa dalam

pembelajaran dan menyebabkan rendahnya hasil belajar siswa pada materi teks nonfiksi

Selain permasalahan di atas, banyak juga faktor-faktor lain yang berpengaruh terhadap proses pembelajaran pada materi teks nonfiksi. Di antaranya kondisi pendidik, siswa, dan penjabaran materi itu sendiri dalam pembelajaran di kelas. Hal-hal tersebut menjadi sangat berperan dalam keberhasilan proses pembelajaran di kelas,

terutama pembelajaran dengan aspek

keterampilan membaca pemahaman.

Permasalahan tersebut harus dapat diatasi dengan sedemikian rupa agar kondisi ini tidak terus berlanjut. Dampak yang mungkin terjadi adalah pemahaman siswa terhadap pembelajaran teks narasi sangat kecil, siswa akan sangat mudah melupakan pembelajaran, siswa tidak memiliki kosa kata yang banyak, siswa tidak dapat memahami dengan baik, siswa sulit dalam memahami kata-kata yang sukar, siswa akan terus tidak paham makna-makna suatu kalimat sukar, siswa tidak bisa mengembangkan ide atau kata-kata untuk memahami suatu teks narasi atau membuat suatu teks narasi, siswa tidak bisa menulis karangan teks narasi, siswa akan selalu berbicara sesama temannya. Semua hal tersebut akan berimbas pada proses belajar anak yang akan mengganggu pengetahuannya.

Berdasarkan permasalahan yang telah dijelaskan diatas, diperlukan suatu strategi pembelajaran yang tepat dan relevan dengan materi yang akan diberikan. Maka dari itu dipilihlah alternatif kombinasi model yang dapat membuat pelajaran menjadi lebih menarik, aktif, menyenangkan, kreatif, percaya diri, berpikir kritis, dan bermakna yaitu dengan menggunakan kombinasi model Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC),

Model pembelajaran Coopertive

Integrated Reading and Composition (CIRC)

merupakan model pembelajaran yang

memakai prinsip belajar kelompok.

Pembelajaran kooperatif tipe CIRC secara bahasa berarti sebuah model pembelajaran

kooperatif yang mengintegrasikan suatu

bacaan secara menyeluruh kemudian

mengkomposisikannya menjadi

bagian-bagian yang memiliki peran strategis. Model pembelajaran kooperatif CIRC diharapkan bisa menghadirkan motivasi bagi siswa agar

bisa berkomunikasi serta melakukan

eksplorasi tentang bahan ajar pembelajaran yang ada, saling membantu, bekerja sama,

berdiskusi dan berargumentasi

mengemukakan idenya (Jenisa & Lubis, 2016).

Suprijono (2011) mengatakan pembelajaran dengan menggunakan metode number head together di awali dengan numbering.

Model Scramble adalah metode

pembelajaran yang berbentuk permainan

acak kata, kalimat, atau paragraf.

Pembelajaran kooperatif metode Scramble merupakan suatu cara yang menekankan permasalahan dalam bentuk permainan acak kata, kalimat, atau paragraf yang dikerjakan secara berkelompok. Metode pembelajaran scramble ini harus memerlukan adanya kerjasama antar anggota kelompok untuk saling membantu teman satu kelompok dalam menyelesaikan soal dalam permainan acak tersebut (Risnawati, 2008).

Untuk mengatasi hal tersebut dan juga untuk meningkatkan hasil pembelajaran siswa kelas 5 SDN Anjir Muara Kota 1 dalam pembeljaran Bahasa indonesia dengan tema menulis teks cerita pengalaman, perlu digunaakanya kombinasi model pembelajran yang telah dipaparkan diatas seperti judul yang telah ada.

Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan peneliti, masalah yang sering ditemui guru pada siswa kelas V SDN Anjir muara kota 1 Barito. Pada pembelajaran Bahasa Indonesia materi teks nonfiksi, Guru

menilai siswa masih belum mampu

memahami dengan baik apa yang dibacakan oleh guru atau temannya mengenai teks narasi, beberapa siswa sulit memahami karena menemukan kata-kata sukar yang membuatnya tidak mengerti isi teks narasi, siswa tidak paham makna-makna suatu kalimat sukar yang terdapat dalam teks

(3)

nonfiksi, siswa tidak memiliki banyak pengetahuan mengenai kosa kata, siswa kurang mampu mengembangkan ide atau kata-kata untuk memahami suatu teks non fiksi atau untuk membuat suatu teks narasi, siswa tidak begitu paham mengenai menulis karangan teks narasi, siswa sering berbicara sesama temannya, siswa merasa bosan saat mendengarkan cerita atau teks yang panjang, mayoritas siswa mentalnya masih rendah yang berimbas pada terganggunya proses belajar mengajar karena anak tidak aktif dalam belajar.

Berdasarkan permasalahan yang

diuraikan diatas maka dicarilah 1 solusi yang mampu mengatasi permasalahan tersebut agar proses pembelajaran menjadi lebih bermakna, menyenangkan, Salah satu cara atau jalan keluar yang dapat digunakan yakni memakai kombinasi model coopeerative integrated, reading and komposition NHT, dan scramble.

Rumasan masaalah dan tujuan nyaini ada;alah bagaimana aktivitas guru, aktivitas siswa dan hasil belajar siswa dalama melaksanakan pembelajaran pada muatan BHS Indonesia menggunakan kombinasi model-models coopeerative integrated, reading and composition numbered head together. Untuk meningkatkan shasil belajar BHS IDN pada siswaa kelas V SDN SDN Anjir Muara Kota 1 Barito Kuala.

Berikut beberapa penelitian yang juga menjadi bebrapa acuan dalam penelituan yakni yang pertama adalah Supriatine Meida yang dimana peneliti tersebut juga membuat sebuah penelitian dengan mata pelajaran yang sama yakni Bahasa Indonesia dan juga menggunakan model yang kurang lebih sama

dan hasil dari penelitian tersebut

menunjukkan keberhasilan. Kedua Hafiza yunisa yang dimana peneliti kedua ini juga

mengangkat mara pelajaran Bahasa

Indonesia dan juga menggunakan model yang sama dan hasil yang didapatkan juga mendparkan keberhasilan atau Tuntas. Selanjutnta yang ketiga dari riniyati dimana peneliti ini juga menggunakan mta pelajaran yg sama dn juga model yang jurng lebih sama, dan hasil dari penelitian tersebut

adalah mendapatkan keberhasilan dlm

meningjtkan pembelajran.

Sehingga dari beberpa penelitian

tersebutlah saya tertarik juga dalam meneliti pada siswa saya dan ternyata seperti yg suah saya jelaskan ternyata bnyak siswa yang belum dapat mendaptakan keberhasilan setelah saya menggunakan model yg sudah di rancang dan di pikirkan ternyata siswa saya dapat dan mampu meningktakan hasil belajarnya.

Metodologi Penelitian

Dalam penelitian ini memakai pendekatan

kualitatip yakni dengan jeniss

penelitantindakan kelas. Memlilih pendekatan ini berdasarkan pada tujuan yang peneliti

ingin capai yakni dengan cara

mengmuppulkan data, memperrbaiki dan juga menguatkan kualitas kuantititas pada saat pembelajaran di kelas. Hal tersebut berdasarkan penelitian tindakan kelas, yakni mencermat dalam bentuk action terhadap kegiatan yang dilakukan dan ada di dalam kelas ataupun diluar kelas.

Penelitian ini karena adanya kegiatan pembelajaran yang peneliti rasa tidak puas dan membuat siswa hrus memebrikan hasil yang terbaik. Dan juga membuat percobaan

terus menerus yang dimana saat

melakukannya sambil di amaati dan siswa mealakukannya dengan sangat benar-benar sehingga dapat memberikan hasil yang memuaskan dari awal hingga akhir.

Penelitian tindakan kelas dapat di asumsikan sebagai sebuah proses maslah pembelajaran di dalam sebuah kelas melalui refleksii yakni upaya untuk memcahkan masalah tersebut dengan cara membuatn berbagai tindakan yang sudah terencana

dalam keadaan nyata dan juga

mengeanalisis setiap dampak dari hal tersebut. Dan juga penelitan ini bertujuan untuk memperbaiki dan juga menguatkan meningkatkan semua proses pembelajaran. Serta dapat membantu memberdayakan guru yakni dalam menguak sebuah masalah pembelajaran disekoolah. Dapat diketahui penelitan tinkan kelas ini yang wajib dilalui

(4)

yakni: rencana, pelaksamaan, pengamtan, dan juga pengulangan.

Pendekatan ini menggunakan pendeka-tan kualitatif yang dimana maksdunya adalah penelitian ini bermaksud memahami sebuah kejadian dialami oleh pelaku, persepri, moti-vation action dan lainnya secara holistik dengan cara dan bentukan kata-kata dan juga bahasa pada sebuah konteks khusus yang alami serta juga memanfaatkn berbagai phenomena perlika seorang pendidik, pe-serta didiik dan juga proses pendidiikan dan juga pembelajaran.

Denziin & Lincolon (2009) berpendapat bahwa penelitian adalah focus pada sebuah perhatian dan juga dengan metode yang be-ragam, yang juga mencakup berbagai pen-dekatan dan naturallistik pada subjek kajian. Hal tersebut, berarti peneliti kualitatif mengajarkan dan mempelajari benda dida-lam konteks adida-laminya, yang berupaya me-mahami fenomena yang terlihat dari berbagai sisi yang di dekatkan pada manusia. Penelitian kuali mencakup subjek yang dikaji sepetti experience self, introspeksi perjalanan hidup, wawancara teks hasil penalaahan se-jarah, interaksi dan visuali yang menunjukkan saat-saat dengan makna harian.

Dan juga problem dalam setiap kehidupan berbagai orang. Sejalan dengan hal tersebut, semua peneliti merapkan berbagai metode yang saling berkaitan dengan juga selalu menginginkan keberhasilan yang lebih baik lagi dari sebelumnya yang terdapat pada subjek kajian yang sedang dilakukan.

Setelah data yang dikumpulkan maka, tahap selanjutnya adalah menganalisisis data yang sudah di dapat. Dalam Penelitain tinda-kan ada 2 jenis data yang di kumpul yakni, data kualitatif dan data kauntitatif. Dan be-berapa infromasi hasil amatan aktivitas ter-hadap guru dan juga terter-hadap siswa selama proses pembelajaran berlangsung mulai dari kegitan awal, kegiatan inti, dan juga akhir dengan menggunkan kombinasi model model coopeerative integrated, reading and compo-sition, numbered head together dan scram-ble. Aktivitas seorang guru dapat dikatakan berhasil jika hasilnya dan dalam pelaksanaan

menggunakan kombinasi model model

coopeerative integrated, reading and kompo-sition numbered head together dan scramble mencpai kriteria yg di inginkan yakni dengan sangat baik. Dan aktvitas siwa dikataka ber-hasil jika secra klasikal mncapai ber-hasil yang di-ingnkan yakni sangtaaktif. Dan juga hasil belajar dapat dikatakan berhasil secara indi-viudu dan secara berkembang dikatakan apa-bila mencapai persentase ≥ 70 yakni sesuai dengan kriteria yang diinginkan dan sudah di tetapkan. Dan juga secara klasikal hasil bela-jar siswa dikatakan TUNTAS.

Hasil dan Pembahasan

Berdasarkan hasil observasi dari observer terhadap pembelajaran yang telah dilakukan oleh guru dalam pelaksanaan menggunakan kombinasis model models coopeerative inte-grated, reading and composition NHT, adanya kenaikan diberbgai pertemuannya. Sehingga di tandai adanya kenaikan skor yang di peroleh guru di setiap pertemuannya. Peningkatan aktivitas kualitas guru dapat digambarkan sebagai berikut:

Tabel 1. Rekapitulasi aktivitas guru Per-temuan Skor Kriteria 1 20 Cukup Baik 2 25 Cukup Baik 3 30 Baik 4 37 Sangat Baik

Aktivitas guru menunjukkan adanya suatu perbaikan yang bagus pada aktivitas guru yang dilakukan guru dalam setiap kegiatan pembelajran. Hal tersebut di pengaruhi oleh beberapa faktor, yakni cntohnya guru bnyak menguasai pelajaran dan materi yg akan

diberikan. Keberhasilan guru dalam

melaksanakan proses pembelajran ini tidak lepas dari kecekatan dan ketepatan guru da-lam memilih dan juga menggunkann model coopeerative integrated, reading and kompo-sition numbered head together dan scramble dalam pembelajaran Bahasa Indonesia.

(5)

Gambar 1. Trend Peningkatan Aktivitas Guru, Aktivitas dan Hasil Belajar Siswa

Aktivitas guru telah terlaksana dalam 4 pertemuan, yang dimana perteemuan I guru hanya mendapat skor 20 kriteria “CB”, per-temuan II mendapat skor 25 dengan dikriteria

“CB” serta pada pertemuan keIII

mendapatskor 30 kriteria “Baik” dan per-temuan IV mendapat skor 37 kriteria “Sangat Baik”. Pada pertemuanI, II, III dan IV guru su-dah berhasil, kemudian guru terus melakukan usaha mempertahankan dan meningkatkan yang pada akhirnya pertemuan IV guru mendapat skor 37 dengan kriteria “Sangat baik”. Peningkatan aktivitas siswa dalam pembelajaran terjadi karena siswa tidak hanya mendengarkan apa yang dijelaskan oleh guru saja, namun peran siswa dalam kegiatan pembelajaran lebih besar dan medapat skor akhir 92. Besarnya peran siswa dalam kegiatan pembelajaran menunjukka n adanya keterlibatan siswa secara aktif dalam pembelajaran. Meningkatnya aktivitas guru dan aktivitas anak disetiap pertemuan mem-beri dampak pada peningkatan hasil belajar anak pada setiap pertemuan. Jadi dapat disimpulkan bahwa adanya kolerasi antara aktivitas guru, aktivitas anak, dan hasil bela-jar.

Aktivtas Guru

Aktivitas guru memperlihatkan adanya perbaikan yang signifikan pada aktivitas pem-belajaran oleh guru dalam prses pembela-jran. Hal ini dipengaruhi oleh beberapa factor seperti guru lebih menguasai materi yang akan disampaikan. Selain perencanaan yang baik, guru itu sendiri yang menjadi penentu berhasil tidaknya proses pembelajaran, maka dari itu guru harus mempersiapkan dengan matang apa yang perlu disiapkan dalam memberikan pengajaran kepada siswa agar

di mata pelajaran Bahasa Indonesia tentang Teks Narasi siswa dapat menjadi sangat aktif dan tuntas dalam belajar.

Peningkatan ini dilakukan sebagai upaya menghadirrkan peningkatan pada kualitas kegitatan belajar mengajar yaitu dari segi kegiatan siswa juga hasil belajar. Hal ini dikarenakan berhasilnya seorang guru pada suatu pembelajaran bakal mendukung ber-hasilnya siswa pada suatu kegiatan pembela-jaran. Suriansyah, dkk. (2014) menyatakan, guru adalah satu diantara beberapa kompo-nen yang berperan penting pada penerapan sebuah strategi pembelajaran pada sebuah kelas. Guru yang beranggapan bahwa mengajar cukup hanya menyajikan materi pelajaran tidaklah sama dengan guru yang beranggapan bahwa belajar merupakan se-buah proses penyampaian bantuan untuk pe-serta didik. Setiap perbedaan itu bisa mem-berikan pengaruh pada pembentukan strategi atau implementasi.

Langkah-langkah penerapan model pem-belajaran kooperatif CIRC adalah siswa duduk berkelompok secara heterogen, guru memberikan wacana sesuai materi pembela-jaran, siswa bekerja sama dalam kelompok (membaca bergantian, menemukan kata kunci, memberikan tanggapan terhadap wacana kemudiam menuliskan hasil kolabo-ratifnya), presentasi hasil kelompok, dan re-fleksi. (Suyatno, 2009:68).

Suyitno (2005) menyatakan bahwa

kegiatan pokok dalam CIRC meliputi se-rangkaian kegiatan spesifik yaitu: (1) salah satu anggota atau beberapa kelompok mem-baca soal, (2) membuat prediksi atau menafsirkan isi soal pemecahan masalah, termasuk menuliskan apa yang diketahui, apa yang ditanyakan dan memisalkan yang ditanyakan dengan suatu variabel, (3) saling membuat ikhtisar/rencana penyelesaian soal

pemecahan masalah, (4) menuliskan

penyelesaian soal pemecahan masalah secara urut, dan (5) saling memeriksa hasil pekerjaan/penyelesaian.

CIRC atau cooperative Integreted Read-ing and Composition merupakan model kooperatif yang memperkenalkan teknik baru latihan kurikulum mengenai pembelajaran

(6)

praktis membaca dan menulis. Pengem-bangan CIRC dihasilkan dari sebuah analisis masalah-masalah tradisional dalam pembela-jaran pelapembela-jaran membaca, menulis dan seni membaca (Slavin, 2005: 200).

Agar dapat meningkatkan aktivitas siswa pada aktivitas pembelajaran secara menye-luruh beserta kegiatan siswa pada suatu grup, serta bisa memunculkan peningkatan hasil belajar siswa. Karena berhasilnya guru pada suatu aktivitas pembelajaran bakal mendukung berhasilnya siswa pada pem-belajarannya. Hal di atas menunjukkan bahwa aktivitas guru didalam proses mengajar dengan kombinasi model pembela-jaran CIRC, NHT, dan Scramble berada dengan kriterianya sangat baik. Keberhasilan guru dalam melaksanakan proses pembelaja-ran ini tidak terlepas dari ketepatan guru da-lam memilih dan menerapkan kombinasi models coopeerative integrated, reading and composition numbered head together dan scramble dalam pembelajran Bahasa Indone-sia. Sebagaimana proses belajar mengajar perlu direncanakan agar dalam pelaksa-naannyaa pembelajran dapat berlangsung dengan baik, dan juga dapat mencapai hasil sesuai yang diharapkan.

Aktivitas Siswa

Peningkatan aktivitas siswa dalam pem-belajaran terjadi karena siswa tidak hanya mendengarkan apa yang dijelaskan oleh gurru saja, namun peran siswa dalam kegiatan pembelajaran lebih besar. Berdasar-kan hasil pengamatan pada aktivitas siswa ketika belajar diketahui telah berhasil men-capai kriteria sangat aktif. Termen-capainya aktivi-tas siswa tersebut berhubungan dengan strategi yang dilaksanakan guru guna me-rangsang siswa supaya lebih aktif pada kegiatan belajar mengajar. Model pembelaja-ran yang dipakai guru pada proses pembela-jaran memunculkan bukti bahwa ia bisa men-goptimalkan partisipasi siswa pada proses pembelajaran. Pemilihan model pembelaja-ran tidak terlepas dari karakteristik siswa SD, semua aktivitas siswa akan selalu di-pengaruhi dengan apa yang mereka lakukan

dan bakal memberikan dampak atas hasil belajar ketika mencari pengetahuan.

Upaya memunculkan peningkatan pada aktivitas belajar siswa adalah tantangan yang seringkali ditemui semua individu yang ber-profesi sebagai guru dan pendidik. Proses pembelajaran dikatakan berlangsung, apabila ada aktivitas siswa di dalamnya. Sardiman (2010) berpendapat bahwa pada suatu kegiatan belajar aktivitas adalah suatu hal yang harus ada, dengan tanpa aktivitas, bela-jar tidak dapat dijalankan dengan lancar dan secara maksimal.

Slavin (Nur, 2005) bahwa model pembela-jaran kooperatif tipe CIRC merupakan suatu program pembelajaran keterampilan mem-baca dan menulis yang dilakukan secara berkelompok. Siswa ditempatkan dalam ke-lompokkelompok belajar yang heterogen. Siswa diberikan sebuah teks dan dibaca. Sambil membaca, siswa memikirkan cerita-cerita naratif yang muncul, kemudian menu-liskannya dalam bentuk ikhtisar-ikhtisar dan penguraian kosakata. Setelah itu, siswa

menuntaskan tulisannya, dilakukan

pengeditan, dan perevisian tulisan.

Menurut Istarani & Ridwan (2014) sebagai ciri khas dari CIRC (Cooperative Integrated Reading and Composition) adalah :1) ke-lompok belajar terdiri dari empat orang dalam satu kelompok belajar; 2) terpadunya mem-baca dan menulis secara kooperatif-ke-lompok secara bersamaan; 3) menekankan pembelajaran membaca, menulis dan tata bahasa dalam proses belajar mengajar; 4) para siswa saling menilai kemampuan mem-baca, dan tata bahasa, baik secara tertulis maupun lisan dalam kelompoknya.

Adapun pembelajaran kooperatif tipe NHT (Numbered Heads Together) dikembangkan oleh Spencer Kagen untuk melibatkan lebih banyak siswa dalam menelaah materi yang tercakup dalam satu pelajaran dan mengecek pemahaman mereka terhadap isi pelajaran tersebut. Sebagai gantinya mengajukan per-tanyaan kepada seluruh kelas. Siswa lebih banyak dilibatkan dalam menelaah materi yang tercakup dalam suatu pelajaran dan menguji pemahaman mereka terhadap isi pelajaran, selain itu model pembelajaran

(7)

kooperatif tipe Numbered Head Together (NHT) dapat digunakan untuk meningkatkan penguasaan akademik. (Nurhadi, dkk., 2004:66).

Kagan (2012; Ibrahim, dkk., 2000:28) Pembelajaran kooperatif tipe NHT merupa-kan salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang menekankan pada struktur khusus yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa dan memiliki tujuan untuk meningkat-kan penguasaan akademik. Tipe ini dikem-bangkan, dengan melibatkan para siswa da-lam menelaah bahan yang tercakup dada-lam suatu pelajaran dan mengecek pemahaman mereka terhadap isi pelajaran tersebut

Karakteristik pembelajaran kooperatif tipe Numbered heads Together (NHT) yaitu; Ke-lompok bersifat heterogen, setiap anggota kelompok memiliki nomor kepala yang ber-beda-beda dan berpikir bersama (Heads To-gether) (Yulia, 2012).

Selanjutnya, Artini, dkk. (2014) menya-takan bahwa model pembelajaran scramble dalam pelaksanaannya dengan cara berke-lompok yang menekankan perebutan dan perjuangan. Thata (2012) menyatakan bahwa model scramble adalah model pembelajaran yang menungkinkan semua siswa mempu-nyai tanggung jawab bersama dan bisa aktif serta materi yang diberikan akan terasa berkesan dan sulit dilupakan oleh siswa.

Ngalimun (2012) menyebutkan bahwa model pembelajaran scramble dilakukan dengan membuat kartu soal sesuai materi ba-han ajar, buat kartu jawaban dengan diacak nomornya sajikan materi, membagi kartu soal. Siswa berkelompok mengerjakan soal dan mencari kartu soal untuk jawaban yang cocok.

Dari pemahaman tersebut dapat dipahami bahwa belajar harus melibatkan seluruh tensi yang dimiliki siswa, yang meliputi po-tensi gerakan fisik, popo-tensi panca indra dan potensi kemampuan intelektual maupun emo-sional.

Jadi, diperoleh kesimpulan pembelajaran bukanlah komunikasi oneway communication transformasi dari guru kepada siswa. Siswa dituntut untuk dapat menemukan caranya sendiri untuk mengeksplorasi apa yang ia

pelajari. Diharapkan akan tumbuh dan berkembang segala potensi yang dimiliki siswa. Besarnya peran siswa dalam kegiatan pembelajaran menunjukkkan keterlibatan siswa secara aktif dalam pembelajaran.

Hasil Belajar

Peningkatan hasil belajar disebabkan oleh 2 faktor, pertama faktor lnternal ialah faktr dari dalam siswa yang mempengaruhi kemampuan belajarnya meliputi, kecerdasan. Kedua factor eksternal adalah faktor yang be-rasal dari kemampuan siswa (peserta didik). Berdasarkan capaian belajar siswa tentang kemampuan siswa secara individual maupun klasikal dari nilai evaluasi akhir siswa pada PTK ini, diketahui bahwa telah terjadi pening-katan dan mencapai indikator ketuntasan yang telah ditetapkan terhadap hasil belajar siswa dalam pembelajaran melalui kombinasi model Cooperative Intergrated Reading and Composition (CIRC), Number head tgether (NHT), dan Scramble.

Peningkatan ini dikarenakan adanya model pembelajaran yang digunakan oleh guru dalam kegiatan belajar mengajar. Model tersebut adalah kombinasi model Coopera-tive Intergrated Reading and Composition (CIRC), Number head together (NHT), dan Scramble. Penerapan kombinasi model ini mengakibatkan siswa bisa lebih berperan serta dalam kegiatan belajar mengajar se-hingga membuat pembelajaran lebih ber-makna dan berpengaruh terhadap hasil bela-jar yang dicapai.

Hasil belajar: Perubahan-perubahan yang muncul dalam diri pelajar, yaitu berhubungan dengan aspek kognitif, afektif, serta psikomo-torik, yang merupakan input dari aktivitas belajar. Setiap proses belajar mengajar keberhasilannya akan diukur dari seberapa jauh siswa memperoleh hasil belajar sebaik mungkin. Peningkatan hasil belajar terjadi disebabkan guru ketika mengajar tidak se-batas menggunakan ceramah, namun guru mementingkan proses diskusi kelompok se-bagai sarana membangun informasi dan

pengetahuan (Trianto, 2014). Yang

berdannpak pada hasil belajarnya yaitu keluarga, sekolah, dan juga masyarakat.

(8)

Berdasarkan hail penelitian Arsini, dkk. (2015) menyatakan bahwa penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Head Together (NHT) berpengaruh terhadap hasil belajar siswa. Penggunaan model pembelaja-ran kooperatif tipe Numbered Head Together (NHT) dapat meningkatkan keaktifan siswa dalam belajar. Sejalan dengan Kholis (2017) yang menyebutkan bahwa pengimplementa-sian model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Head Together pada pembelaja-ran dapat meningkatkan hasil belajar siswa.

Peningkatan pada proses pembelajaran dalam pembelajaran dapat dlihat dari aktivi-tasnya dalam pembelajaran. Pada awal pem-belajaran tidak aktif atau terlihat pasif, tetapi setelah penggunaan model CIRC menjadi ak-tif dan kreaak-tif. Peningkatan lain dapat dilihat dari hasil tulisan. Model CIRC membantu un-tuk lebih memahami unsur esai dan langkah-langkah menulis esai. Setelah menggunakan model CIRC, struktur tulisan lebih sistematis dan lengkap dibandingkan sebelumnya. Pola pengembangan pada setiap bagian sudah lebih terfokus. Hal tersebut terbukti dari skor nilai yang semakin meningkat (Mustyka, 2016). Dengan menggunakan model pem-belajaran CIRC (Cooperative Integrated Reading and Composition) dapat meningkat-kan kemampuan membaca pemahaman pada siswa (Simbolon & Khoir, 2016).

Yanti, dkk. (2016) menyebutkan bahwa pada saat guru memberikan pertanyaan semua siswa aktif angkat tangan dan mau berbicara untuk mengemukakan pendapat. Dalam proses pembelajaran semua siswa berantusias dan memiliki semangat untuk mengikuti kegiatan belajar, sehingga terlihat semua siswa aktif untuk mengikuti pembela-jaran yang berlangsung. Sadirman (2011:97) menyatakan bahwa, dalam kegiatan belajar, siswa harus aktif berbuat, dengan kata lain bahwa dalam proses belajar sangat diper-lukan adanya aktivitas.

Kelebihan model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Head Together yaitu; Setiap siswa menjadi siap semua, siswa dapat melakukan diskusi dengan sungguhsungguh, siswa yang pandai dapat mengajari siswa yang kurang pandai. Sedangkan kelemahan

dari model pembelajaran kooperatif tipe Num-bered Head Together yaitu; Kemungkinan no-mor yang sudah dipanggil pendidik akan panggil lagi dan tidak semua kelompok di-panggil oleh pendidik (Hamdani, 2011).

Adapun Rahmaniati, Bulkani & Pujianti

(2018) menyatakan berdasarkan hasil

penelitiannya bahwa dengan penerapan model pembelajaran scramble peserta didik lebih aktif dalam pembelajaran dan ada pen-ingkatan hasil belajar peserta didik.

Ramadani (2014) menyebutkan bahwa model pembelajaran scramble dapat mem-bantu siswa menumbuhkan keaktifan dan keantusiasan dalam mengikuti pembelajaran. Selanjutnya, Berdasarkan pengamatan yang dilakukan Atu & Barutu (2019) penerapan model pembelajaran scramble dapat mening-katkan hasil belajar siswa.

Penerapan model pembelajaran scramble untuk meningkat hasil belajar siswa dapat meningkatkan hasil belajarnya. Siswa sangat aktif mempersiapkan diri menerima pelajaran, dapat mengikuti arahan dari guru, tidak ber-main saat guru menjelaskan materi, siswa juga mampu bekerja sama saat berlang-sungnya pembelajaran, siswa aktif menjawab pertanyaan yang diajukan guru, siswa mampu membuat kesimpulan. Sehingga hasil belajar yang diperoleh siswa terlihat baik (Sari, dkk., 2017).

Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pemba-hasn sebelumnya, secara umum dapat disim-pulkan bahwa penerapan pembelajaran menggunakan combinasi model models coo-peerative integrated, reading and composi-tion numbered head together dan scramble dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada muatan Bahasa Indonesia membaca teks cerita nonfiksi SDN Anjir Muara Kota 1 Barito Kuala. Kepada kepala sekolah, disarankan agar memberikan sesuatu yang baru dalam strategi belajar, dan mengajar dengan mem-berikan bimbingan dan arahan kepada semua guru dan dalam model coopeerative integrated, reading and composition num-bered head together dan scramble agar dapat

(9)

meningkatkan kualitas guru dalam pembela-jran.

Dan juga sebagai salah satu pilihan dalam meningkatkan hasil belajar siwa serta mewujudkan pemikiran-pemkiran dan ide-ide kreatifnya dalam meningkatkan mutu pen-didikan di SD. Bagi peneliti kedepannya dis-arankan agar dapat memanfaatkan hasil penelitian dengan sebaik-baiknya.

Referensi

Arsini, Ni N., Parmiti, D. P., & Sumantri, Made. (2015). Pengaruh Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Numbered Head Together (NHT) Terhadap Hasil Belajar IPS Siswa Kelas IV Semester II SD Gugus VI Kecamatan Kintamanitahun Pelajaran 2014/2015. e-Journal PGSD Universitas Pendidikan Ganesha Jurusan PGSD. Vol. 3 No. 1 h. 1-10.

Artini, Vidya, A. S., Sujana, W. & Wiyasa, N. (2014). Pengaruh Model Pembelajaran Scramble Berbantuan Media Semi Konkret Terhadap Hasil Belajar IPS Siswa Kelas V SD Gugus Kapten Komping Sujana. Jurnal Vol 2 No. 1 http://ejournal.undiksha.ac.id/i

ndex.php/JJPGSD/aricle/viewF ile/1180/1632.

Atu, W. & Barutu, F. A. (2019). Penerapan Model Pembelajaran Scramble Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Kelas VIII MTS Al-Hidayah Sungaitohor Barat. Jurnal Online Mahasiswa : Pendidikan Matematika Vol 1 No 1 h. 55-73.

Denzin, N. K., & Lincoln, Y. S., (Ed.). (2009). Handbook Of Qualitative Research. 2nd Editions. New Delhi: Teller Road Thousand Oaks. California, USA: Sage Publication, Inc.

Hamdani. (2011). Strategi Belajar Mengajar. Bandung: CV. Pustaka Seria.

Ibrahim, M., dkk. (2000). Pembelajaran Kooperatif. Surabaya: UNESA.

Istarani & Ridwan, M. (2014). 50 tipe pembelajaran kooperatif. Medan: Media Persada.

Jenisa, K. & Lubis, Asri. (2016). Penerapan Model Pembelajaran Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC) Untuk Meningkatkan Motivasi dan Hasil Belajar Konstruksi Bangunan Siswa Kelas X TGB SMK Negeri 1 Lubuk Pakam. Jurnal Education Buuilding. Volume 2, Nomor 1, h. 77-86.

Kagan. (2012). Model Pemblajaran Kooperatif tipe NHT.

Tersedia pada

http://mi1kelayu.blogspot.com/2012/06/model-pembelajaran-kooperatif-tipen.html.

Kholis, N. (2017). Penggunaan Model Pembelajaran Numbered Head Together Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa. Iqra’ (Jurnal Kajian Ilmu Pendidikan). Vol. 2. No.1, pp. 69-88.

Mustyka, O. (2016). Peningkatan Keterampilan Menulis Esai Melalui Model Cooperative Integrated Reading And Composition (CIRC). Jurnal Pendidikan Rokania Vol. I (No. 2/2016) 9 – 18.

Ngalimun. 2012. Strategi dan model pembelajaran.sleman Yogyakarta: aswaja pressindo.

Nur, M. (20050. Pembelajaran Kooperatif. Surabaya: Pusat Sains dan Matematika Sekolah UNESA.

Nurhadi, dkk. (2004). Pembelajaran Konstektual (Contextual Teaching and Learnin/CTL) dan Penerapannya dalam KBK Malang: Universitas Negeri Malang.

Rahmaniati, R., Bulkani & Pujianti, F. (2018). Model Pembelajaran Scramble Menggunakan Media Wayang Pahlawan Untuk Meningkatkan Hasil Belajar IPS Peserta Didik Kelas V-A SDN 1 Sabaru Palangka Raya. Anterior Jurnal, Volume 17 Issue 2, June 2018, Page 79 – 85.

Ramadani, T. (2014). Pengaruh Model Pembelajaran Scramble Berbantuan Kartu Pertanyaan Terhadap Hasil Belajar IPA Siswa Kelas V SD. Jurnal Vol 2 No. 1 https://www.google.com/search?q=jurnal+pengaruh+m odel+pembelajaran+scramble+berbantuan+kartu+perta nyaan+terha dap+hasil+belajar+ipa

Risnawati. (2008). Strategi Pembelajaran Matematika. Pekanbaru: Suska Press.

Sadirman, A. M. (2011). Interaksi Dan Motivasi Belajar-Mengajar. Jakarta: Rajawali Pers.

Sardiman, A.M. (2010). Interaksi & Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: Rajawali Pers.

Sari, D. D., Sore, A. D. & Suriyanti, Y. (2017). Implementasi Model Pembelajaran Scramble Dalam Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Pada Materi Negara Berkembang dan Negara Maju di Kelas IX A. Jurnal Ilmiah Ilmu Pendidikan Vol. 8 No. 2 h. 94-100.

Simbolon, N. & Khoir, C. (2016). Meningkatkan Kemampuan Membaca Pemahaman Dengan Menggunakan Model Pembelajaran CIRC (Cooperative Integrated Reading and Composition) Pada Pelajaran Bahasa Indonesia di Sekolah Dasar. Jurnal Mutiara Pendidikan Indonesia, 10/08 (2016), 56-66.

Slavin, R. E. (2005). Cooperative Learning: Theory, Research and Practice. London: Allymand Bacon.

Suprijono, A. (2011). Cooperative Learning: Teori dan Aplikasi PAIKEM. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Suriansyah, A., Sulaiman, Aslamiah, & Norhafizah. (2014). Strategi Pembelajaran. Jakarta : PT. Rajawali Pers.

(10)

Suyatno. (2009). Menjelajah Pembelajaran Inovatif. Sidoarjo: Masmedia Buana Pustaka.

Suyitno, A. (2005). Mengadopsi Pembelajaran CIRC dalam Meningkatkan Keterampilan Siswa Menyelesaikan Soal Cerita. Seminar Nasional F.MIPA UNNES.

Thata, V. (2012). Pengaruh Model Scramble Didukung Media Gambar Terhadap Kemampuan Mengenal Jenisjenis Pekerjaan Pada Siswa Kelas III Semester II SDN Tamanan Kecamatan Mojoroto Kota Kediri. https://simki.unpkediri.ac.id/m

ahasiswa/file_artikel/2016/12.1 .01.10.00.pdf .

Trianto. (2014). Model Pembelajaran Terpadu. Jakarta : Bumi Aksara.

Tristiantari, N. K. D., & Sumantri, I M. (2016). Model Pembelajaran Cooperatif Integrated Reading Composition Berpola Lesson Study Meningkatkan Keterampilan Membaca dan Menulis. Jurnal Pendidikan Indonesia Vol. 5, No. 2, h. 203-211.

Wardani, I. (2014). Penelitian Tindakan Kelas. Tangerang Selatan: Universitas Terbuka.

Yanti, K. D., Parmiti, D. P., & Suwatra, Ignatius I W. (2016). Pengaruh Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Numbered Head Together (NHT) Terhadap Hasil Belajar IPA. e-Journal PGSD Universitas Pendidikan Ganesha Jurusan PGSD. Vol. 4 No. 1 h. 1-10.

Yulia, M. (2012). Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Numbered heads Together (NHT)

Gambar

Tabel 1. Rekapitulasi aktivitas guru   Per-temuan  Skor  Kriteria  1  20  Cukup Baik  2  25  Cukup Baik  3  30  Baik  4  37  Sangat Baik
Gambar 1.  Trend Peningkatan Aktivitas  Guru, Aktivitas dan Hasil Belajar Siswa

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini adalah penelitian tindakan sekolah (PTS) yang bertujuan untuk melakukan suatu pendekatan terhadap proses pendidikan mulai dari rencana pengembangan

Inisialisasi target yang dimaksudkan disini merupakan penginisialisasian target klasifikasi yang akan dilakukan. Karena tujuan akhir dalam penelitian ini adalah

dibayarkan pada waktunya. Manfaat Asuransi akan dibayarkan kepada Pemegang Polis, kecuali jika pengajuan klaim didasarkan pada meninggalnya Tertanggung maka manfaat

Akibat dari sifat racun yang dimilikinya, maka logam tembaga (II) juga berdampak buruk bagi tubuh, yaitu dalam jumlah besar dapat menyebabkan rasa yang tidak enak pada lidah..

Bila duduk posisi kedua tangan pasien dipaha atau dipinggang, bila tidur terlentang posisi kedua tangan disamping dan sejajar dengan badan4. Tentukan ruang antar iga ke-5 kiri

Analisis data menggunakan analisis varian klasifikasi tunggal (ANAVA) dan dilanjut uji Tukey untuk menganilisis uji inderawi, serta rerata untuk menganalisis uji

Berbeda dengan penelitian oleh Saleh, Rachmad dan Susilowati (2004), Hilmi dan Ali (2008), Renata (2011) dan Awalludin (2011) menyatakan bahwa ukuran perusahaan

Maka digunakan beberapa indikator lain yang memiliki perubahan warna berbeda jika pH atau kekuatan asamnya berbeda, misalnya methyl orange (metil jingga) yang